You are on page 1of 9

PERENCANAAN AUDIT, TIPE PENGUJIAN AUDIT dan MATERIALITAS

Perencanaan audit adalah total lamanya waktu yang dibutuhkan oleh auditor untuk
melakukan perencanaan audit awal sampai pada pengembangan rencana audit dan program
audit menyeluruh. Keberhasilan perikatan audit sangat ditentukan oleh kualitas perencanaan
audit yang dibuat oleh auditor SA Seksi 310.

Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan lingkup


audit yang diharapkan. Sifat, lingkup, dan saat perencanaan bervariasi dengan ukuran dan
kompleksitas entitas, pengalaman mengenai entitas dan pengetahuan tentang bisnis entitas.
Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan, antara lain :

1. Masalah yang berkaitan dengan bisnis entitas dan industri yang menjadi tempat entitas
tersebut.
2. Kebijakan dan prosedur akuntansi entitas tersebut.
3. Metode yang digunakan oleh entitas tersebut dalam mengolah informasi akuntansi yang
signifikan, termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar untuk mengolah informasi
akuntansi pokok perusahaan.
4. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
5. Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit.
6. Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian (adjustment)
7. Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian audit, seperti
risiko kekeliuran atau kecurangan yang material atau adanya transaksi antar pihak –
pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
8. Sifat laporan auditor yang diharapkan akan diserahkan (sebagai contoh, laporan auditor
tentang laporan keuangan konsolidasi, laporan keuangan yang diserahkan ke Bapepam,
laporan khusus untuk menggambarkan kepatuhan klien terhadap kontrak perjanjian)

TAHAP – TAHAP PERENCANAAN AUDITING

Page 1|9
PROSEDUR PERENCAAN AUDIT
Isi Perencanaan Audit :
1. Hal – hal mengenai klien
Pengetahuan tentang bisnis klien membantu auditor dalam mengidentifikasi bidang
yang memerlukan pertimbangan khusus, menilai kondisi yang didalamnya data
akuntansi yang dihasilkan, diolah, direview dan dikumpulkan dalam organisasi.
2. Hal – hal yang mempengaruhi klien
3. Rencana kerja auditor

ELEMEN – ELEMEN PERENCANAAN AUDIT


Ruang lingkup dari perencanaan pemeriksaan ini adalah bervariasi sesuai dengan besarnya
dan kompleksitas permasalahan objek yang diperiksa dan pengetahuan mengenai jenis usaha
objek yang diperiksa. Adapun elemen – elemen perencanaan audit menurut Arens and
Loebbecke (2000:219) adalah :
1. Pra Plan ( Perencanaan Awal)
Menyangkut informasi mengenai alasan klien untuk diaudit, menerima atau menolak
klien baru maupun klien lama, mengidentifikasi alasan klien untuk diaudit, menetukan
staf untuk penugasan dan memperoleh surat penugasan.
2. Memperoleh Informasi Mengenai Latar Belakang Klien
Auditor harus memiliki tentang ciri – ciri lingkungan kegiatan perusahaan klien yang
akan diaudit yang berguna sebagai acuan dalam menentukan surat penugasan atau perlu
tidaknya prosedur –prosedur audit khusus.
3. Memperoleh Informasi Mengenai Kewajiban Hukum Klien
Dokumen hukum yang penting utnutk diperiksa oleh auditor yaitu : akta pendirian
perusahaan, anggaran dasar perusahaan, masalah rapat dewan komisiaris dan dokumen
mengenai kontrak penjualan maupun pembelian.
4. Melaksanakan Prosedur Menurut Penelitian Persiapan
Melakukan analisis ini sangat penting artinya karena dengan demikian keseluruhan
kegiatan pemeriksaan dapat tergambar di dalamnya.
5. Menentukan Materialitas dalam menetapkan risiko audit yang dapat diterima
6. Memahami Struktur Pengawasan Intern dan Menilai Resiko Kendali
7. Mengembangkan Program Audit dan Rencana Audit

TIPE PENGUJIAN AUDIT


Untuk audit keuangan, Arens dan Loebbecke menjelaskan bahwa dalam menyusun rencana
audit secara menyeluruh, auditor memiliki 5 jenis pengujian, antara lain :
1. Prosedur pemahaman atas pengendalian intern
Fungsi utamanya untuk memperkirakan risiko pengendalian dalam setiap tujuan audit
berkait.
2. Pengujian pengendalian intern
3. Pengujian substantif atas transaksi
Tujuannnya yaitu untuk menentukan apakah semua tujuan audit berkaitan dengan
transaksi telah terpenuhi untuk setiap kelas transaksi.
4. Prosedur analitis
Page 2|9
Prosedur analitis mencakuo perbandingan – perbandingan dari jumlah jumlah yang
dicatat dengan jumlah yang diharapkan yang disusun oleh auditor. Pada tahap
perencanaan auditor mungkin menghitung rasio dengan menggunakan data intern,
sedangkan pada tahap pengujian saldo akhir, auditor akan menghitung kembali rasio
itu dengan menggunakan data setahun penuh.
5. Pengujian terinci atas saldo
Pengujian terinci atas saldo memusatkan perhatian atas saldo – saldo akhir buku besar
untuk laporan realisasi pendapatan dan belanja serta neraca.

Prosedur pemahaman atas pengendalian intern dan pengujian pengendalian intern


digunakan untuk mengurangi resiko pengendalian (control risk), sedangkan prosedur analitis
dan pengujian terinci atas saldo digunakan untuk memenuhi resiko deteksi yang direncanakan.

KONSEP MATERIALITAS
Adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat
dari keadaan yang melingkupnya, dapat mengakibatkan perubahan atas suatu pengaruh
terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi itu, karena
adanya penghilangan atau salah saji itu.

Page 3|9
PENUNJUKKAN AUDITOR INDEPENDEN
Pertimbangan atas standar pekerjaan lapangan pertama memicu kesadaran bahwa
penunjukan auditor independen secara dini akan memberikan banyak manfaat bagi auditor
maupun klien. Penunjukan secara dini memungkinkan auditor merencanaan pekerjaannya
sedemikian rupa sehingga pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan dengan cepat dan efisien serta
dengan cepat dan efisien serta dapat menentukan seberapa jauh pekerjaan tersebut dapat
dilaksanakan sebelum tanggal neraca.

MEMBANGUN PEMAHAMAN DENGAN KLIEN

Auditor harus membangun pemahaman dengan klien tentang jasa yang akan
dilaksanakan untuk setiap kerjasama. Pemahaman tersebut mengurangi risiko terjadinya salah
interpretasi kebutuhan atau harapan pihak lain, baik dipihak auditor maupun klien. Pemahaman
tersebut harus mencakup tujuan kerjasama, tanggung jawab manajemen, tanggung jawab
auditor, dan batasan kerjasama. Auditor harus mendokumentasikan pemahaman tersebut dalam
kertas kerjanya, lebih baik dalam bentuk komunikasi tertulis dengan klien. Jika auditor yakin
bahwa pemahaman dengan klien belum terbentuk, ia harus menolak untuk menerima atau
menolak untuk melaksanakan kerjasama.

Pemahaman dengan klien tentang audit atas laporan keuangan umunya mencakup hal – hal
berikut ini :

1. Tujuan audit adalah untuk menyatakan suatu pendapat atas laporan keuangan
2. Manajemen bertanggungjawab untuk membangun dan mempertahankan pengendalian
intern yang efektif terhadap pelaporan keuangan.
3. Manajemen bertanggungjawab untuk mengidentifikasi dan menjamin bahwa entitas
mematuhi peraturan perundang – undangan yang berlaku terhadap aktivitasnya.
4. Manajemen bertanggung jawab untuk membuat semua catatan keuangan dan informasi
yang berkaitan tersedia bagi auditor
5. Pada akhir kerjasama, manajemen akan menyediakan suatu surat bagi auditor yang
menegaskan respresentasi tertentu yang dibuat selama audit berlangsung
6. Auditor bertanggungjawab untuk melaksanakan audit berdasarkan standart auditing
yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standart tersebut mensyaratkan bahwa
auditor memperoleh keyakinan memadai, bukan mutlak, tentang apakah laporan
keuangan bebas dari salah saji material, yang disebabkan oleh kekeliruan atau
kecurangan. Oleh karena itu, salah saji material mungkin akan tetap tidak terdeteksi.
Begitu pula, suatu audit tidak didesain untuk mendeteksi kekeliruan atau kecurangan
yang tidak material terhadap laporan keuangan. Jika, oleh karena sebab apa pun, auditor
tidak dapat menyelesaikan auditnya atau tidak dapat merumuskan atau tidak
merumuskan suatu pendapat, ia dapat menolak menyatakan suatu pendapat atau
menolak untuk menerbitkan suatu laporan sebagai hasil kerjasama tersebut.
7. Suatu audit mencakup pemerolehan pemahaman atas pengendalian intern yang cukup
untuk merencanakan audit dan untuk menentukan sifat, saat, dan luasnya prosedur audit
yang harus dilaksanakan. Suatu audit tidak didesain untuk memberikan keyakinan atas
pengendalian intern atau untuk mengidentifikasi semua kondisi yang dapat dilaporkan.
Page 4|9
Namun, auditor bertanggungjawab untuk menjamin bahwa komite audit atau pihak lain
yang memiliki kewenangan dan tanggungjawab setara akan menyadari adanya kondisi
yang dapat dilaporkan yang diketahui oleh auditor.

Hal – hal tersebut diatas dapat dikomunikasikan dalam bentuk surat perikatan (kerjasama).
Pemahaman dengan klien juga mencakup hal – hal lain seperti berikut ini :

1. Pengaturan mengenai pelaksanaan kerjasama (sebagai contoh : waktu, bantuan klien


berkaitan dengan pembuatan skedul, dan penyediaan dokumen)
2. Pengaturan tentang keikutsertaan spesialis atau auditor intern (jika diperlukan)
3. Pengaturan tentang keikutsertaan auditor pendahulu
4. Pengaturan tentang fee dan penagihan
5. Adanya pembatasan atau pengaturan lain tentang kewajiban auditor atau klien, seperti
ganti rugi kepada auditor untuk kewajiban yang timbul dari representasi salah yang
dilakukan dengan sepengetahuan manajemen kepada auditor.
6. Kondisi yang memungkinkan pihak lain diperbolehkan untuk melakukan akses ke
kertas kerja auditor
7. Jasa tambahan yang disedikan oleh auditor berkaitan dengan pemenehan persyaratan
badan pengatur
8. Pengaturan tentang jasa lain yang harus disediakan oleh auditor dalam hubungannya
dengan kerjasama.

Page 5|9
PERENCANAAN dan SUPERVISE

ISA PROSES AUDIT TAHAP 1 : MENERIMA dan MELANJUTKAN PENUGASAN,


STRATEGI AUDIT MENYELUH
MENERIMA DAN MELANJUTKAN PENUGASAN

Sebelum KAP memutuskan untuk menerima atau mempertahankan suatu penugasan


auditor harus :

1. Memutuskan dapat diterimanya kerangka pelaporan keuangan yang disusulkan atau


digunakan entitas
2. Menilai apakah KAP dapat mentaati ketentuan etika relevan
3. Dapatkan persetujuan manajemen bahwa ia memahami sepenuhnya akan
tanggungjawab berkenaan dengan :
a. Penyusunan laporan keuangan entitas sesuai dengan FRF yang diterapkan
b. Pengendalian internal sebagaimana dianggap seperlu oleh manajemen untuk
menyusun laporan keuangan yang bebas dari salah saji yang material, apakah
yang disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan
c. Memberikan kepada auditor akses kepada semua informasi yang relevan dan
informasi tambahan yang dapat diminta auditor
d. Prosedur menerima dan melanjutkan penugasan

Penelian atas risioko penugasan ditahun pertama dan tahun – tahun selanjutnya, membantu
memastikan bahwa KAP :

1. Independen dan tidak mempunyai benturan kepentingan


2. Kompeten untuk melaksanakan tugasnya dengan sumberdaya yang diperlukan dan
dalam batas waktu yang tersedia
3. Tidak mempunyai informasi baru mengenai klien yang dapat menyebabkan KAP
menolak penugasan.

Sesudah diputuskan untuk menerima atau melanjutkan penugasan maka langkah


selanjutnya adalah :

1. Memastikan apakah persyaratan awal atau prakondisi bagi suatu audit


2. Menegaskan pemahaman bersama antara auditor dan manajemen mengenai syarat –
syarat perikatan audit.

Menerima Penugasan
Langkah pertama dalam proses menerima atau melanjutkan klien adalah menilai
kemampuan KAP melaksanakan penugasan dan risiko terkait.

Page 6|9
Pengecekan Latar Belakang (Background Check)
Sebelum menghubungi pihak ke tiga untuk mengumpulkan informasi mengenai calon
klien, pastikan bahwa semua partner menyadari dan memahami :

1. Kebijakan KAP untuk menjaga kerahasiaan informasi klien dan calon klien
2. Ketentuan perundangan mengenai hak dan kerahasian pribadi
3. Kode etik berlaku

Prokondisi Untuk Suatu Audit


Untuk memastikan prokondisi bagi suatu audit memang ada, auditor wajib :

1. Menentukan apakah kerangka pelaporan keuangan (financial reporting framework,


FRF) yang digunakan untuk membuat laporan keuangan dapat diterima
2. Dapat persetujuan manajemen bahwa ia sadar dan memahami sepenuhnya akan
tanggungjawab berkenaan dengan :
a. Penyusunan laporan keuangan entitas sesuai dengan FRF yang diterapkan,
termasuk ketentuan mengenai penyajian yang wajar
b. Pengetahuan internal sebagaimana dianggap perlu oleh manajemen untuk
menyusun laporan keuangan yang bebas dari salah saji yang material
Menyepakati syarat- syarat perikatan (kerjasama)

1. Jika manajemen membatasi lingkup kerja auditor akan mengakibatkan penolakan opini
atas laporan keuangan keuangan, auditor tidak diperkenankan menerima penugasan
dengan pembatasan, kecuali jika diharuskan oleh ketentuan perundang – undangan
2. Auditor wajib menyepakati syarat – syarat dalam penugasan audit dengan manajemen
3. Dalam audit yang berulang, auditor wajib menilai apakah situasi mengharuskan syarat
perikatan audit revisi dan apakah perlu mengingatkan kembali entitas itu akan syarat
perikatan audit yang ada
Kemutakiran Surat Penugasan

KAP mungkin menerima penugasan untuk beberapa perode audit, tentunya dengan
memperhatikan ketentuan tentang rotasi KAP. Jika tidak ada perubahan, auditor wajib menilai
apakah ada kebutuhan untuk mengingat kembali syarat – syarat perikatan audit yang disepakati.
Syarat – syarat ini disepakati kembali tanpa perlu meminta surat perikatan audit baru untuk
setiap periode. Namun, surat perikatan audit harus direvisi jika terjadi perubahan keadaan.
Salah satu hal yang merupakan perubahan keadaan adalah setiap perubahan syarat penugasan
atau diperlukannya syarat penugasan yang khusus untuk periode tersebut.
Perubahan Syarat Penugasan

Jika manajemen meminta perubahan dalam syarat – syarat perikatan audit, auditor perlu
mempertimbangkan apakah permintaan mempunyai dasar dan apakah implikasi terhadap
lingkungan penugasan. Permintaan untuk mengubah syarat perikatan audit, layak

Page 7|9
dipertimbangkan misalnya karena perubahan dalam situasi yang dihadapi klien atau
kesalahpahaman mengenai sifat dari jasa yang diminta sebelumnya.
STRATEGI AUDIT MENYELURUH
Tinjauan Umum

Perencanaan merupakan proses yang berkesinambungan dan iteratif yang dimulai segera
sesudah berakhirnya audit sebelumnya, dan berlangsung terus sampai penyelesaian audit yang
sedang berlangsung. Sebagai proses yang berkesinambungan, perencanaan dilaksanakan pada
ketiga tahap audit : menilai risiko, menanggapi risiko dan pelaporan.

Perencanaan dilakukan pada dua tingkat. Tingkat pertama adalah strategi audit secara
menyeluruh. Tingkat kedua adalah rencana audit terinci.

Penyusunan audit secara menyeluruh dimulai pada awal penugasan, kemudian diselesaikan dan
dimutakhirkan sesuai informasi yang diperoleh dari :

1. Pengalaman dimasa lalu dengan entitas tersebut


2. Kegiatan – kegiatan pendahuluan
3. Pembahasan dengan klien mengenai perubahan – perubahan seja periode yang lalu

Rencana audit terinci dimulai sedikit lebih belakangan, ketika prosedur penilaian risiko
spesifik direncanakan dan ketika ada cukup informasi menegnai risiko yang dinilai untuk
memberikan tanggapan audit yang tepat.

Waktu yang diperlukan untuk menyusun strategi audit yang meyeluruh bervariasi antara
satu audit dengan audit lainnya dan tergantung dari :

1. Ukuran dan kompleksitas


2. Komposisi dan ukuran tim audit
3. Pengalaman dimasa lalu dengan entitas itu
4. Situasi yang dihadapi dalam melaksanakan kesulitan

Page 8|9
KESIMPULAN

Penetpan perencanaan yang tepat meupakan pekerjaan yang cukup sulit dalam
melaksanakan audit yang efektif dan efisien. Tahapan-tahapan perencanaan meliputi
pekerjaan mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan industri klien, melaksanakan prosedur
analitis, menentukan pertimbangan awal, tingkat meterialitas, mempertimbangkan resiko
audit, mengembangkan strategi awal audit untuk asersi-asersi signifikan, dan mendapatkan
pengalaman mengenai struktur pengendalian intern klien.
Dalam menyusun rencana audit secara menyeluruh, auditor memiliki 5 jenis pengujian
yaitu : Prosedur pemahaman atas pengendalian intern, Pengujian pengendalian intern,
pengujian subtansif atas transaksi, prosedur analitis dan pengujian terinci atas saldo.
Materialitas adalah dasar penerapan standar auditing, terutama standar pekerjaan
lapangan dan standar pelaporan. Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah
saji informasi akuntansi.

DAFTAR PUSTAKA

https://hanggaryudha.wordpress.com/2012/11/06/perencanaan-auditing/
https://www.e-akuntansi.com/2015/09/berbagai-macam-pengujian-audit.html
https://yuvinella.wordpress.com/2012/10/21/materialitas-risiko-dan-strategi-audit-awal/
https://alengwee.files.wordpress.com/2011/10/sa-seksi-310.pdf

Page 9|9