You are on page 1of 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ibu hamil harus mendapatkan cukup nutrisi dan selalu dalam keadaan yang sehat agar
bisa menghasilkan keturunan yang baik. Namun jika ibu sampai terkena penyakit maka akan
sangat berbahaya bagi perkembangan janin sehingga generasi yang dihasilkan menjadi tidak
baik. Salah satunya ibu harus terhindar dari TORCH, yaitu infeksi yang terdiri dari
toksoplasmosis, rubella, CMV, dan Herpes. Dan yang akan dibahas kali ini adalah mengenai
Herpes, terutama herpes genital. Herpes genitalis adalah infeksi virus yang menyebabkan lesi
(lepuh) pada serviks, vagina, dan genetalia eksterna. (Brunner & Suddarth, 2002: 1543)
Herpes genital termasuk penyakit menular seksual yang ditakuti oleh setiap orang.
Torres melaporkan bahwa HSV-II telah menginfeksi lebih dari 40% penduduk dunia.
Syahputra, dkk, di Amerika, Inggris, dan Australia ditemukan kurang lebih 50% wanita
dengan HSV-II positif. Di Eropa, HSV-II berkisar antara 7-16%, Afrika 30-40%, oleh karena
itu dikatakan bahwa saat ini herpes genitalis sudah merupakan endemik di banyak negara. Di
Indonesia sampai saat ini belum ada angka yang pasti, dari 13 rumah sakit, disebutkan bahwa
herpes genitalis merupakan penyakit menular seksual dengan gejala ulkus genital adalah
kasus yang sering dijumpai. Kelompok resiko yang rentan terinfeksi tentunya adalah
seseorang dengan perilaku yang tidak sehat.
Lesi genitalia pada herpes genitalis terasa sangat nyeri pada penderita dengan
gangguan sistem imunologi. Serangan herpes genitalis sering menyebabkan stres pada
penderita yang menyadari bila dia terkena infeksi herpes genitalis. Herpes genitalis pada
kehamilan dapat menimbulkan kelainan atau kematian janin, terutama bila terjadi infeksi
primer saat kehamilan. Kelainan yang timbul pada bayi dapat berupa ensefalitis,
keratokonjungtivitis, atau hepatitis; dapat pula timbul lesi pada kulit. Bila transmisi terjadi
pada trisemester I cenderung terjadi abortus, sedangkan bila terjadi pada trisemester II, terjadi
prematuritas. Selain itu dapat terjadi transmisi pada saat intrapartum. Herpes genitalis
berperan dalam penyebaran HIV, virus penyebab AIDS. Herpes genitalis menyebabkan
seseorang menjadi rentan terhadap serngan infeksi HIV dan membuat individu yang
terinfeksi dengan HIV menjadi sangat infeksius.
Untuk mengatasi peningkatan prevalensi penderita herpes genetalis diperlukan adanya
pendidikan terhadap pasien tentang bahaya PMS dan komplikasinya, pentingnya mematuhi
pengobatan yang diberikan, cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan
seks tetapnya, dan cara-cara menghindari infeksi PMS di masa dating. Selain itu untuk wanita
hamil dengan infeksi herpes genitalis harus melaksanakan kultur virus tiap minggu dari
serviks dan genitalia eksterna sebagai jalan lahir. Persalinan secara sectio caesaria
direkomendasikan untuk mencegah infeksi bayi baru lahir.
Herpes genitalis merupakan salah satu penyakit menular seksual yang masih sering di
jumpai di Indonesia. Setiap orang dewasa mempunyai kesempatan untuk terjangkit penyakit
ini dan penularannya pun sangat mudah, yaitu kontak langsung atau melalui hubungan
seksual, maka dari itu penulis tertarik untuk menulis tentang penatalaksaan herpes genitalis.

1.2 Rumusan Masalah


Besar dan banyaknya orang yang terserang penyakit herpes genitalis membuat kita
harus mempunyai solusi untuk mencegah dan mengobati penyakit ini, maka pada penulisan
karya ilmiah ini, penulis ingin mengetahui apa dan bagaimana penatalaksanaan pada penyakit
herpes genitalis.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengeksplorasi tentang herpes genitalis beserta penatalaksanaannya.
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Mengetahui definisi dari Herpes Genitalis
2) Mengetahui ethiologi dari Herpes Genitalis
3) Mengetahui patogenesis dari Herpes Genitalis
4) Mengetahui WoC dari Herpes Genitalis
5) Mengetahui gejala klinis dari Herpes Genitalis
6) Mengetahui komplikasi dari Herpes Genitalis
7) Mengetahui pemeriksaan laboratorium untuk Herpes Genitalis
8) Mengetahui penatalaksanaan dari Herpes Genitalis

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Penulis
Setelah menyelesaikan karya ilmiah ini kami sebagai mahasiswa dapat meningkatkan
pengetahuan dan wawasan mengenai penyebab serta penatalaksanaan penyakit herpes
genitalis agar terciptanya kesehatan masyarakat yang lebih baik.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menambah informasi tentang herpes genitalis sehingga tercipta proses belajar mengajar
yang efektif.
1.4.3 Bagi Pembaca
Dapat mengetahui tentang penyakit herpes genitalis lebih dalam sehingga dapat mencegah
serta mengantisipasi diri dari penyakit herpes genitalis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Herpes genitalis adalah infeksi pada genital yang disebabkan oleh Herpes Simplex
Virus (HSV) dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritema dan
bersifat rekurens. (Daili, 2001: 110)
Herpes genitalis adalah infeksi virus yang menyebabkan lesi (lepuh) pada serviks,
vagina, dan genetalia eksterna. (Brunner & Suddarth, 2002: 1543)
Herpes genitalis merupakan infeksi akut oleh virus herpes simpleks tipe I atau tipe II
yang ditandai adanya vesikel berkelompok di atas kulit yang eritematosa di daerah
mukokutan. Dapat berlangsung primer maupun rekurens. (Mansjoer, 2003: 151)
Dapat disimpulkan bahwa herpes genitalis merupakan penyakit menular seksual yang
disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I atau tipe II yang ditandai adanya vesikel yang
berkelompok di atas kulit yang sembab dan merah. Vesikel ini paling sering terdapat di
sekitar mulut, hidung, daerah genital dan pantat, walaupun dapat juga terjadi di bagian tubuh
lain.

2.2 Ethiologi
Herpes genitalis disebabkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) atau Herpes Virus
Hominis (HVH). UNNA (1883) yang pertama kali mengetahui bahwa penyakit ini dapat
ditularkan melalui hubungan seksual, sedangkan SHARLITT pada tahun 1940 membedakan
antara HSV tipe 1 (HSV-1) dan HSV tipe 2 (HSV-2). Sebagian besar penyebabnya adalah
HSV-2, tetapi walaupun demikian dapat juga disebabkan oleh HSV-1 (± 16,1 %) akibat
adanya hubungan kelamin secara orogenital atau penularan melalui tangan. (Daili, 2001: 110)

2.3 Patogenesis
Bila seseorang terpajan HSV, maka infeksi dapat berbentuk episode I infeksi primer
(inisial), episode I non infeksi primer, infeksi rekurens, asimptomatik atau tidak terjadi
infeksi sama sekali. Pada episode I infeksi primer, virus yang berasal dari luar masuk ke
dalam tubuh hospes. Kemudian terjadi penggabungan dengan DNA hospes didalam tubuh
hospes tersebut dan mengadakan multipikasi/ repikasi serta menimbulkan kelainan pada
kulit. Pada waktu itu hospes sendiri belum ada antibodi spesifik, ini bisa mengakibatkan
timbulnya lesi pada daerah yang luas dengan gejala konstitusi berat. Selanjutnya virus
menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional (ganglion sakralis), dan
berdiam disana serta bersifat laten.
Pada episode I non infeksi primer, infeksi sudah lama berlangsung tetapi belum
menimbulkan gejala klinis, tubuh sudah membentuk zat anti sehingga pada waktu terjadinya
episode I ini kelainan yang timbul tidak seberat episode I dengan infeksi primer.
Bila pada suatu waktu ada faktor pencetus (trigger factor), virus akan mengalami
reaktivitas dan multipikasi kembali sehingga terjadilah infeksi rekurens. Pada saat ini di
dalam tubuh hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang timbul dan gejala
konstitusinya tidak seberat pada waktu infeksi primer. Trigger factor tersebut antara lain
trauma, koitus yang berlebihan, demam, gangguan pencernaan, stres emosi, kelelahan,
makanan yang merangsang, alkohol, obat- obatan (imunosupresif, kortikosteroid), dan pada
beberapa kasus sukar diketahui dengan jelas penyebabnya. Ada beberapa pendapat mengenai
terjadinya infeksi rekurens:
1) Faktor pencetus akan mengakibatkan reaktivasi virus dalam ganglion dan virus akan turun
melalui akson saraf perifer ke sel epitel kulit yang dipersarafinya dan disana akan mengalami
replikasi dan multipikasi serta menimbulkan lesi.
2) Virus secara terus menerus dilepaskan ke sel- sel epitel dan adanya faktor pencetus ini
menyebabkan kelemahan setempat dan menimbulkan lesi rekurens. (Daili, 2001: 111).

2.4 WoC

Kontak langsung: kontak seksual

Virus Herpes Simplex

Ansietas

Masuk ke tubuh hospes


Hipertermi Respon tubuh Kurangnya informasi

Infeksi

Daerah Genital

Pecah Lesi
Vesikel Multiple

Kerusakan
Integritas Kulit

Kontak urin Erupsi kulit

G3 Istirahat/
tidur

Disuria Nyeri Gatal

G3 Eliminasi Urine G3 Rasa Nyaman:


Nyeri
2.5 Gejala Klinis
2.5.1 Timbul erupsi bintik kemerahan disertai rasa panas dan gatal pada kulit region genitalis.
2.5.2 Kadang disertai demam seperti influenza dan setelah 2-3 hari bintik kemerahan tersebut
berubah menjadi vesikel disertai rasa nyeri.
2.5.3 5-7 hari kemudian, vesikel pecah dan keluar cairan jernih dan pada lokasi vesikel yang pecah
timbul koropeng (atau ditutupi lapisan kekuningan bila terkena infeksi sekunder).
2.5.4 Bila mengenai region genetalia yang cukup luas dapar menyebabkan gangguan mobilitas,
vaginitis, urethritis, sistitis, dan fisura ani hepetika.
(http://khanzima.wordpress.com/2010/10/21/Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil dengan
Infeksi Herpes Genital).

2.6 Komplikasi
2.6.1 Komplikasi pada daerah genital seperti: genital neuralgia (terjadi pada beberapa remaja),
striktur uretra, fusi dari labium, limpatik supuratif.
2.6.2 Pada wanita hamil, virus dapat sampai ke sirkulasi fetal melalui plasenta dan dapat
menyebabkan kerusakan dan kematian janin (abortus). Infeksi neonatal ( 0-20 hari) angka
mortalitasnya 60%, jika dapat bertahan hidup setengahnya mempunyai kemungkinan cacat
neurologis yang nantinya juga berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan serta
menyebabkan kelainan mata. Kelainan yang timbul pada bayi dapat berupa kelainan
ensefalitis, mikro/hidrosephalus, koriodorenitis, keratokonjungtivitis.
2.6.3 Pada orang tua: hepatitis, meningitis, ensefalitis, hipersensitifitas terhadap virus, sehingga
timbul reaksi pada kulit berupa eritema eksudativum multiforme.

2.7 Pemeriksaan Laboratorium


Dalam menangani kasus herpes genitalis, langkah pertama adalah menegakkan
diagnosis yang bila memungkinkan ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis
secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan
dasar eritem dan bersifat rekuren.
1) Pemeriksaan tes Tzank yang diwarnai dengan pengecatan Giemsa atau Wright, akan terlihat
sel raksasa birinti banyak. Sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan ini umumnya rendah.
2) Pemeriksaan langsung dengan mikroskop elektron, hasilnya sudah dapat dilihat dalam waktu
2 jam, tetapi tidak spesifik karena dengan tekhnik ini kelompok virus herpes tidak dapat
dibedakan.
3) Kultur jaringan merupakan cara yang paling baik karena paling sensitif dan spesifik
dibandingkan dengan cara-cara lain. Bila titer virus dalam spesimen cukup tinggi, maka hasil
positif dapat dilihat dalam jangka waktu 24-48 jam. Pertumbuhan virus dalam sel ditunjukkan
dengan terjadinya granulasi sitopasmik, degenerasi balon dan sel raksasa berinti banyak.
Namun cara ini memiliki kekurangan dalam lamanya waktu pemeriksaan dan biaya yang
mahal.
4) Pemeriksaan imunoperoksidase tak langsung dan imunofluoresensi langsung memakai
antibodi poliklonal memberikan kemungkinan hasil positif palsu dan negatif palsu. Dengan
demikian antibodi monoklonal pada pemeriksaan imunofluoresensi, dapat ditentukan tipe
virus. Pemeriksaan imunoflouresensi memerlukan tenaga yang terlatih, dan mikroskop
khusus. Pemeriksaan antibodi monoklonal dengan cara mikroskopik imunofluoresensi tak
langsung dari kerokan lesi, sensitivitasnya 78% sampai 88%.
5) Pemeriksaan dengan cara ELISA (enzyme linked immunosorbent assays) adalah
pemeriksaan untuk menentukan adanya antigen HSV. Pemeriksaan ini sensitivitasnya 95%
dan sangat spesifik, tapi dapat berkurang jika spesimen tidak segera diperiksa. Tes ini
memerlukan waktu 4-5 jam. Tes ini juga dapat dipakai untuk mendeteksi adanya antibodi
terhadap HSV dalam serum penderita. Tes ELISA ini merupakan tes alternatif yang terbaik
disamping kultur, karena mempunyai beberapa keuntungan seperti hasilnya cepat dibaca, dan
tidak memerlukan tenaga yang terlatih.
(Daili, 2001: 114-115)

2.8 Penatalaksanaan
Setelah diagnosis ditegakkan, baik secara klinis, dengan maupun tanpa pemeriksaan
penunjang, maka langkah selanjutnya adalah memberikan pengobatan. Pengobatan dapat
dibagi menjadi tiga kategori, yaitu profilaksis, pengobatan non spesifik dan pengobatan
spesifik.
2.8.1 Tindakan Profilaksis
1) Penderita diberi penerangan tentang sifat penyakitnya yang dapat menular terutama bila
sedang terkena serangan, karena itu sebaiknya melaksanakan abstinensia.
2) Proteksi individual. Digunakan dua macam alat perintang, yaitu busa spermisidal dan
kondom. Kombinasi tersebut, bila diikuti dengan pencucian alat kelamin memakai air dan
sabun pasca koitus, dapat mencegah transmisi herpes genitalis hampir 100% (RAAB dan
LORINCZ, 1981). Busa spermisidal secara invitro ternyata mempunyai sifat virisidal, dan
kondom dapat mengurangi penetrasi virus.
3) Faktor- faktor pencetus sedapat mungkin dihindari.
4) Konsultasi psikiatrik dapat membantu karena faktor psikis mempunyai peranan untuk
timbulnya serangan.

2.8.2 Pengobatan Non- Spesifik


1) Rasa nyeri dan gejala lain bervariasi, sehingga pemberian analgetik, antipiretik, dan anti
pruritus disesuaikan dengan kebutuhan individual.
2) Zat- zat pengering antiseptik, seperti yodium povidon secara topikal mengeringkan lesi,
mencegah infeksi sekunder dan mempercepat waktu penyembuhan.
3) Antibiotika atau kotrimoksasol dapat diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.

2.8.3 Pengobatan Spesifik


Berbagai macam obat antivirus telah pernah dipakai untuk mengatasi penyakit herpes
genitalis, misalnya idoksuridin topikal, sitarabin (Ara-C) dan vidarabin (Ara- A) secara
intravena, inosimpleks (isoprinosin) dan interferon. Obat antivirus yang kini telah banyak
dipakai ialah asiklovir dan saat ini terdapat 2 macam lagi obat antivirus baru yaitu
valasiklovir dan famsiklovir.
1) Asiklovir
Merupakan obat anti virus yang spesifik terhadap virus herpes, dapat diberikan pada
penderita dengan infeksi mukokutan disertai defisiensi imunitas. Obat ini hanya bekerja
terhadap sel- sel yang terkena infeksi. Tidak mempunyai efek teratogenik. Toeransi obat baik,
tidak ada toksisitas akut dan tidak menimbulkan penekanan sumsum tulang, hati dan ginjal.
Tetapi walaupun demikian pernah dilaporkan efek samping seperti kolik ginjal, kenaikan
kadar ureum/ kreatinin dalam serum, reaksi setempat pada suntikan, nausea dan vornitus.
Asiklovir dapat diberikan secara intravena, oral dan topikal. Cara pemberian intravena
harus perlahan- lahan dan perlu pengawasan.oleh karena itu sebaiknya diberikan di Rumah
Sakit. Dosis setiap kali pemberian adalah 5mg/kg BB, dengan interval 8 jam. Pengobatan
asiklovir secara intravena pada herpes genital episode pertama, yang memerlukan waktu
selama 5- 10 hari, ternyata tidak dapat mengurangi rekurensi. Bila secara oral, obat diberikan
dengan dosis 200mg 5kali sehari selama 5-10 hari. Seperti secara intravena, pengobatan per
oral mengurangi viral shedding secara dramatis.

2) Valasiklovir
Obat ini merupakan derivat ester L-valil dari asiklovir. Bahan aktif anti virusnya ialah
asiklovir, sehingga kemanjuran dan spesifitasnya berhubungan dengan cara kerja asiklovir.
Setelah diabsorbsi, valasiklovir dengan cepat dan hampir seluruhnya, diubah menjadi
asiklovir dan L-Valin. Bioavailabilitasnya 3-5 kali lebih tinggi daripada yang dapat dicapai
oleh asiklovir oral dosis tinggi. Kadar dalam plasma setelah valasiklovir oral 100mg
mendekati kadar yang dapat dicapai oleh asiklovir yang diberikan secara intravena.
Pada uji klinik yang membandingkan valasiklovir 2x500 – 1000mg/ hari, dengan
asiklovir oral 5x200mg/ hari, dan plasebo dalam waktu 24 jam setelah timbulnya keluhan dan
gejala klinis pertama episode herpes genitalis rekurens menunjukkan bahwa terapi
valasiklovir secara bermakna mengurangi rasa nyeri dan mempercepat penyembuhan lesi,
serta dengan cepat memperpendek masa virus shedding. Efek samping yang paling sering
dilaporkan ialah nyeri kepala dan mual.

3) Famsiklovir
Obat antivirus baru saat ini ialah famsiklovir (famciclovir), yang merupakan derivat
diasetil- 6- deoksi pensiklovir. Sedangkan pensiklovir sendiri merupakan golongan antivirus
dengan komponen guanin, yang dapat diberikan secara topikal dan intravena. Famsiklovir,
dikembangkan untuk pengobatan infeksi virus herpes, dengan cara pemberian peroral. Cara
kerja famsiklovir sama seperti asiklovir, yaitu menghambat sintesis DNA.
Pada penderita herpes genitalis episode pertama, pemberian famsiklovir 3x500
mg/hari selama 5 hari, ternyata mempersingkat viral shedding dan waktu penyembuhan,
dibandingkan plasebo. Bila dibandingkan dengan pengobatan asiklovir 5x200mg/ hari selama
5 hari, pemberian famsiklovir 3x750mg/ hari dalam waktu yang sama, secara statistik tidak
menunjukkan perbedaan dalam lamanya viral shedding, waktu menghilangnya vesikel dan
ulkus, serta terjadinya krustasi dan hilangnya rasa sakit.
Pada pengobatan herpes genitalis rekurens, pemberian famsiklovir 3x500mg selama 5
hari dibandingkan asiklovir 5x200mg/hari selama 5 hari, tidak berbeda dalam hal
mempersingkat waktu viral shedding. Dari hasil- hasil tersebut diatas, pengobatan dengan
famsiklovir ternyata sama efektivitasnya dengan asiklovir pada kasus herpes genitalis, namun
frekuensi pemberiannya lebih jarang.

2.8.4 Penatalaksanaan Wanita Hamil dengan Herpes Genitalis


Wanita hamil yang menderita herpes genitalis primer dalam 6 minggu terakhir masa
kehamilannya dianjurkan untuk dilakukan seksio sesarea sebelum atau dalam 4 jam sesudah
pecahnya ketuban.
Seksio sesarea tidak dilakukan secara rutin pada wanita yang menderita herpes
genitalis rekurens. Hanya wanita dengan viral shedding pada saat atau hampir melahirkan
memerlukan seksio sesarea. Disarankan untuk melakukan pemeriksaan virologik dan
sitologik sejak kehamilan 32 dan 36 minggu. Setelah itu, sekurang-kurangnya setiap minggu
dilakukan kultur sekret serviks dan genital eksterna. Bila kultur virus yang diinkubisi
minimal 4 hari, memberikan hasil negatif dua kali berturut- turut, serta tidak ada lesi genital
pada saat melahirkan, maka dianjurkan partus pervaginam.
Kontak yang lama dengan sekret yang infeksius, serta relatif dapat meningkatkan
resiko penularan penyakit. Oleh karena itu banyak penulis menganjurkan, sebaiknya seksio
sesarea dilakukan sebelum atau dalam 4 jam sesudah pecahnya ketuban untuk mencegah bayi
ditulari.
Pemberian asiklovir pada wanita hamil dapat dipertimbangkan, terutama pada infeksi
primer. Pada pertemuan Internasional Herpes Management Forum di San Fransisco AS
tanggal 13- 15 November 1994 yang baru lalu, telah disetujui penatalaksanaan herpes
genitalis pada wanita hamil dengan mempertimbangkan apakah merupakan infeksi primer
atau rekurens, serta usia kehamilannya. Episode awal herpes genitalis pada kehamilan dengan
gejala yang berat, dianjurkan untuk diberikan asiklovir oral 5x200mg/ hari selama 7-10 hari.
Asiklovir oral dosis supresif secara rutin tidak dianjurkan untuk herpes genitalis rekurens
selama kehamilan atau dekat akhir kehamilan.

2.8.5 Penatalaksanaan Bayi Lahir dari Ibu dengan Herpes Genitalis


Banyak rumah sakit yang menganjurkan isolasi untuk bayi yang lahir dari ibu dengan
herpes genitalis. Kultur virus, pemeriksaan fungsi hati dan cairan serebrospinalis harus
dilakukan, serta bayi harus diawasi ketat dalam satu bulan pertama kehidupannya. Spesimen
untuk pemeriksaan kultur virus diambil dari konjungtiva, umbilikus, nasofaring, dan setiap
lesi kulit yang dicurigai, pada 24-48 jam pertama.
Bila ibu mengidap herpes genitalis primer pada saat persalinan pervaginam, harus
diberikan profilaksis asiklovir intravena kepada bayi selama 5-7 hari dengan dosis 3x10
mg/kg BB/hari.
Infeksi herpes simpleks pada neonatus prognosisnya buruk bila tidak diobati.
Penelitian pengobatan dengan asiklovir 10mg/kg BB tiap 8 jam selama 10-21 hari, atau Ara-
A 30mg/kg BB/hari menurunkan angka kematian dibandingkan dengan penderita yang tidak
mendapat pengobatan. Cara pengobatan ini juga dapat mencegah progresivitas penyakit
(infeksi herpes pada susunan saraf pusat atau infeksi diseminata). Oleh karena itu identifikasi
lesi kulit sangat penting untuk menentukan ada/ tidaknya infeksi HSV pada neonatus.

2.8.6 Penatalaksanaan Herpes Genitalis pada Immunocompromised


Pada penderita immunocompromised, pengobatan infeksi herpes simpleks
memerlukan waktu yang lebih lama. Asiklovir oral dapat diberikan dengan dosis 5x200mg-
400mg/hari selama 5-10 hari. Pada beresiko tinggi untuk menjadi diseminata, atau yang tidak
dapat menerima pengobatan oral, maka asiklovir diberikan secara intravena 3x 5mg/kg
BB/hari selama 7-14 hari. Bila terdapat bukti terjadinya infeksi sistemik, dianjurkan terapi
asiklovir intravena 3x10mg/kg BB/ hari selama paling sedikit 10 hari.
Oleh karena pada keadaan tersebut lebih sering terjadi rekurensi, pengobatan supresif
lebih dianjurkan, dengan dosis asiklovir paling sedikit harus 2x400 mg/ hari hingga keadaan
imunokompromisnya hilang (jika mungkin).
Untuk penderita infeksi HIV simptomatik atau AIDS, digunakan asiklovir oral 4-5x
400 mg/hari hingga lesi sembuh, setelah itu dapat diberikan terapi supresif.
(Daili, 2005: 115-120)

2.9 Pencegahan
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran herpes simpleks
antara lain:
1) Hindari berhubungan seksual dengan orang lain bila masih terdapat vesikel
2) Hindari pinjam meminjam barang pribadi seperti handuk
3) Hindari pencetus terjadinya episode rekuren seperti kurang tidur, stress berlebihan.
http://yuliannerzluphyan.blogspot.co.id/2012/01/herpes-genitalis.html

Latar Belakang
Herpes genitalis merupakan infeksi pada genital dengan gejala khas berupa vesikel yang
berkelompok dengan dasar eritem bersifat rekuren. Herpes genitalis terjadi pada alat genital
dan sekitarnya (bokong, daerah anal dan paha).
Ada dua macam tipe HSV yaitu : HSV-1 dan HSV-2 dan keduanya dapat menyebabkan
herpes genital. Infeksi HSV-2 sering ditularkan melalui hubungan seks dan dapat
menyebabkan rekurensi dan ulserasi genital yang nyeri. Tipe 1 biasanya mengenai mulut dan
tipe 2 mengenai daerah genital. (1-4)
HSV dapat menimbulkan serangkaian penyakit, mulai dari ginggivostomatitis sampai
keratokonjungtivitis, ensefalitis, penyakit kelamin dan infeksi pada neonatus. Komplikasi
tersebut menjadi bahan pemikiran dan perhatian dari beberapa ahli, seperti : ahli penyakit
kulit dan kelamin, ahli kandungan, ahli mikrobiologi dan lain sebagainya. Infeksi primer oleh
HSV lebih berat dan mempunyai riwayat yang berbeda dengan infeksi rekuren.
Setelah terjadinya infeksi primer virus mengalami masa laten atau stadium dorman, dan
infeksi rekuren disebabkan oleh reaktivasi virus dorman ini yang kemudian menimbulkan
kelainan pada kulit. Infeksi herpes simpleks fasial-oral rekuren atau herpes labialis dikenali
sebagai fever blister atau cold sore dan ditemukan pada 25-40% dari penderita Amerika yang
telah terinfeksi.
Herpes simpleks fasial-oral biasanya sembuh sendiri. Tetapi pada penderita dengan
imunitas yang rendah, dapat ditemukan lesi berat dan luas berupa ulkus yang nyeri pada
mulut dan esofagus.(3-6)
Virus herpes merupakan sekelompok virus yang termasuk dalam famili herpesviridae yang
mempunyai morfologi yang identik dan mempunyai kemampuan untuk berada dalam
keadaan laten dalam sel hospes setelah infeksi primer. Virus yang berada dalam keadaan
laten dapat bertahan untuk periode yang lama bahkan seumur hidup penderita. Virus tersebut
tetap mempunyai kemampuan untuk mengadakan reaktivasi kembali sehingga dapat terjadi
infeksi yang rekuren. (4,5)
Prevalensi yang dilaporkan dari herpes genitalis bergantung pada karakteristik demografis,
sosial ekonomi dan klinis dari populasi pasien yang pernah diteliti dan teknik pemeriksaan
laboratorium dan klinik digunakan untuk mendiagnosa. Studi seroepidemiologi
menunjukkan disparitas yang lebar antara prevalensi antibodi dan infeksi klinis, ini
mengindikasikan bahwa banyak orang mendapat infeksi subklinik.

Epidemiologi
Prevalensi anti bodi dari HSV-1 pada sebuah populasi bergantung pada faktor-faktor seperti
negara, kelas sosial ekonomi dan usia. HSV-1 umumnya ditemukan pada daerah oral pada
masa kanak-kanak, terlebih lagi pada kondisi sosial ekonomi terbelakang.
Kebiasaan, orientasi seksual dan gender mempengaruhi HSV-2. HSV-2 prevalensinya lebih
rendah dibanding HSV-1 dan lebih sering ditemukan pada usia dewasa yang terjadi karena
kontak seksual. Prevalensi HSV-2 pada usia dewasa meningkat dan secara signifikan lebih
tinggi Amerika Serikat dari pada Eropa dan kelompok etnik kulit hitam dibanding kulit putih.
Seroprevalensi HSV-2 adalah 5 % pada populasi wanita secara umum di inggris, tetapi
mencapai 80% pada wanita Afro-Amerika yang berusia antara 60-69 tahun di USA.
Herpes genital mengalami peningkatan antara awal tahun 1960-an dan 1990-an. Di inggris
laporan pasien dengan herpes genital pada klinik PMS meningkat enam kali lipat antara tahun
1972-1994. Kunjungan awal pada dokter yang dilakukan oleh pasien di Amerika Serikat
untuk episode pertama dari herpes genital meningkat sepuluh kali lipat mulai dari 16.986
pasien di tahun 1970 menjadi 160.000 di tahun 1995 per 100.000 pasien yang berkunjung.(7)
Disamping itu lebih banyaknya golongan wanita dibandingkan pria disebabkan oleh anatomi
alat genital (permukaan mukosa lebih luas pada wanita), seringnya rekurensi pada pria dan
lebih ringannya gejala pada pria. Walaupun demikian, dari jumlah tersebut di atas hanya 9%
yang menyadari akan penyakitnya.
Studi pada tahun 1960 menunjukkan bahwa HSV-1 lebih sering berhubungan dengan
kelainan oral dan HSV-2 berhubungan dengan kelainan genital. Atau dikatakan HSV-1
menyebabkan kelainan di atas pinggang dan VHS-2 menyebabkan kelainan di bawah
pinggang. Tetapi didapatkan juga jumlah signifikan genital herpes 30-40% disebabkan HSV-
1.
HSV-2 juga kadang-kadang menyebabkan kelainan oral, diduga karena meningkatnya kasus
hubungan seks oral. Jarang didapatkan kelainan oral karena VHS-2 tanpa infeksi genital. Di
Indonesia, sampai saat ini belum ada angka yang pasti, akan tetapi dari 13 RS pendidikan
Herpes genitalis merupakan PMS (Penyakit Menular Seksual) dengan gejala ulkus genital
yang paling sering dijumpai.

Etiologi
Herpes genitalis disebabkan oleh HSV atau herpes virus hominis (HVH), yang merupakan
anggota dari famili herpesviridae. Adapun tipe-tipe dari HSV :

1. Herpes simplex virus tipe I : pada umunya menyebabkan lesi atau luka pada sekitar
wajah, bibir, mukosa mulut, dan leher.
2. Herpes simplex virus tipe II : umumnya menyebabkan lesi pada genital dan
sekitarnya (bokong, daerah anal dan paha).

Herpes simplex virus tergolong dalam famili herpes virus, selain HSV yang juga termasuk
dalam golongan ini adalah Epstein Barr (mono) dan varisela zoster yang menyebabkan
herpes zoster dan varicella. Sebagian besar kasus herpes genitalis disebabkan oleh HSV-2,
namun tidak menutup kemungkinan HSV-1 menyebabkan kelainan yang sama.(1,4,5)
Pada umumnya disebabkan oleh HSV-2 yang penularannya secara utama melalui vaginal
atau anal seks. Beberapa tahun ini, HSV-1 telah lebih sering juga menyebabkan herpes
genital. HSV-1 genital menyebar lewat oral seks yang memiliki cold sore pada mulut atau
bibir, tetapi beberapa kasus dihasilkan dari vaginal atau anal seks.
Patogenesis
HSV-1 dan HSV-2 adalah termasuk dalam famili herphesviridae, sebuah grup virus DNA
rantai ganda lipid-enveloped yang berperanan secara luas pada infeksi manusia. Kedua
serotipe HSV dan virus varicella zoster mempunyai hubungan dekat sebagai subfamili virus
alpha-herpesviridae.
Alfa herpes virus menginfeksi tipe sel multiple, bertumbuh cepat dan secara efisien
menghancurkan sel host dan infeksi pada sel host. Infeksi pada natural host ditandai oleh lesi
epidermis, seringkali melibatkan permukaan mukosa dengan penyebaran virus pada sistem
saraf dan menetap sebagai infeksi laten pada neuron, dimana dapat aktif kembali secara
periodik. Transmisi infeksi HSV seringkali berlangsung lewat kontak erat dengan pasien
yang dapat menularkan virus lewat permukaan mukosa.(5,7)
Infeksi HSV-1 biasanya terbatas pada orofaring, virus menyebar melalui droplet pernapasan,
atau melalui kontak langsung dengan saliva yang terinfeksi. HSV-2 biasanya ditularkan
secara seksual. Setelah virus masuk ke dalam tubuh hospes, terjadi penggabungan dengan
DNA hospes dan mengadakan multiplikasi serta menimbulkan kelainan pada kulit.
Waktu itu pada hospes itu sendiri belum ada antibodi spesifik. Keadaan ini dapat
mengakibatkan timbulnya lesi pada daerah yang luas dengan gejala konstitusi berat.
Selanjutnya virus menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional dan
berdiam di sana serta bersifat laten. Infeksi orofaring HSV-1 menimbulkan infeksi laten di
ganglia trigeminal, sedangkan infeksi genital HSV-2 menimbulkan infeksi laten di ganglion
sakral.
Bila pada suatu waktu ada faktor pencetus (trigger factor), virus akan mengalami reaktivasi
dan multiplikasi kembali sehingga terjadilah infeksi rekuren. Pada saat ini dalam tubuh
hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang timbul dan gejala konstitusinya
tidak seberat pada waktu infeksi primer.
Faktor pencetus tersebut antara lain adalah trauma atau koitus, demam, stres fisik atau
emosi, sinar UV, gangguan pencernaan, alergi makanan dan obat-obatan dan beberapa kasus
tidak diketahui dengan jelas penyebabnya. Penularan hampir selalu melalui hubungan seksul
baik genito genital, ano genital maupun oro genital.
Infeksi oleh HSV dapat bersifat laten tanpa gejala klinis dan kelompok ini bertanggung jawab
terhadap penyebaran penyakit. Infeksi dengan HSV dimulai dari kontak virus dengan mukosa
(orofaring, serviks, konjungtiva) atau kulit yang abrasi. Replikasi virus dalam sel epidermis
daan dermis menyebabkan destruksi seluler dan keradangan.

Tanda dan Gejala


Infeksi awal dari 63% HSV-2 dan 37% HSV-1 adalah asimptomatik. Simptom dari infeksi
awal (saat inisial episode berlangsung pada saat infeksi awal) simptom khas muncul antara 3
hingga 9 hari setelah infeksi, meskipun infeksi asimptomatik berlangsung perlahan dalam
tahun pertama setelah diagnosa di lakukan pada sekitar 15% kasus HSV-2. Inisial episode
yang juga merupakan infeksi primer dapat berlangsung menjadi lebih berat. Infeksi HSV-1
dan HSV-2 agak susah dibedakan.
Tanda utama dari genital herpes adalah luka di sekitar vagina, penis, atau di daerah anus.
Kadang-kadang luka dari herpes genital muncul di skrotum, bokong atau paha. Luka dapat
muncul sekitar 4-7 hari setelah infeksi.
Gejala dari herpes disebut juga outbreaks, muncul dalam dua minggu setelah orang
terinfeksi dan dapat saja berlangsung untuk beberapa minggu. Adapun gejalanya sebagai
berikut : (1,4,6,12)

 Nyeri dan disuria


 Uretral dan vaginal discharge
 Gejala sistemik (malaise, demam, mialgia, sakit kepala)
 Limfadenopati yang nyeri pada daerah inguinal
 Nyeri pada rektum, tenesmus

Tanda (sign) :

 Eritem, vesikel, pustul, ulserasi multipel, erosi, lesi dengan krusta tergantung pada
tingkat infeksi.
 Limfadenopati inguinal
 Faringitis
 Cervisitis

a. Herpes genital primer


Infeksi primer biasanya terjadi seminggu setelah hubungan seksual (termasuk hubungan oral
atau anal). Tetapi lebih banyak terjadi setelah interval yang lama dan biasanya setengah dari
kasus tidak menampakkan gejala.
Erupsi dapat didahului dengan gejala prodormal, yang menyebabkan salah diagnosis sebagai
influenza. Lesi berupa papul kecil dengan dasar eritem dan berkembang menjadi vesikel dan
cepat membentuk erosi superfisial atau ulkus yang tidak nyeri, lebih sering pada glans penis,
preputium, dan frenulum, korpus penis lebih jarang terlihat.(1)
b. Herpes genital rekuren
Setelah terjadinya infeksi primer klinis atau subklinis, pada suatu waktu bila ada faktor
pencetus, virus akan menjalani reaktivasi dan multiplikasi kembali sehingga terjadilah lagi
rekuren, pada saat itu di dalam hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang
timbul dan gejala tidak seberat infeksi primer.
Faktor pencetus antara lain: trauma, koitus yang berlebihan, demam, gangguan pencernaan,
kelelahan, makanan yang merangsang, alkohol, dan beberapa kasus sukar diketahui
penyebabnya. Pada sebagian besar orang, virus dapat menjadi aktif dan menyebabkan
outbreaks beberapa kali dalam setahun. HSV berdiam dalam sel saraf di tubuh kita, ketika
virus terpicu untuk aktif, maka akan bergerak dari saraf ke kulit kita. Lalu memperbanyak diri
dan dapat timbul luka di tempat terjadinya outbreaks (1,4,12).
Mengenai gambaran klinis dari herpes progenitalis : gejaia klinis herpes progenital dapat
ringan sampai berat tergantung dari stadium penyakit dan imunitas dari pejamu. Stadium
penyakit meliputi :
Infeksi primer —- stadium laten —- replikasi virus —- stadium rekuren
Manifestasi klinik dari infeksi HSV tergantung pada tempat infeksi, dan status imunitas
host. Infeksi primer dengan HSV berkembang pada orang yang belum punya kekebalan
sebelumnya terhadap HSV-1 atau HSV -2, yang biasanya menjadi lebih berat, dengan gejala
dan tanda sistemik dan sering menyebabkan komplikasi.
Berbagai macam manifestasi klinis:
1. infeksi oro-fasia
2. infeksi genital
3. infeksi kulit lainnya
4. infeksi okular
5. kelainan neurologis
6. penurunan imunitas
7. herpes neonatal
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana adalah Tes Tzank diwarnai dengan
pengecatan giemsa atau wright, akan terlihat sel raksasa berinti banyak. Sensitifitas dan
spesifitas pemeriksaan ini umumnya rendah. Cara pemeriksaan laboratorium yang lain adalah
sebagai berikut.(1,4)
A. Histopatologis
Vesikel herpes simpleks terletak intraepidermal, epidermis yang terpengaruh dan inflamasi
pada dermis menjadi infiltrat dengan leukosit dan eksudat sereus yang merupakan kumpulan
sel yang terakumulasi di dalam stratum korneum membentuk vesikel.(1)
B. Pemeriksaan serologis ( ELISA dan Tes POCK )
Beberapa pemeriksaan serologis yang digunakan:(1)
1. ELISA mendeteksi adanya antibodi HSV-1 dan HSV-2
2. Tes POCK untuk HSV-2 yang sekarang mempunyai sensitivitas yang tinggi.
C. Kultur virus
Kultur virus yang diperoleh dari spesimen pada lesi yang dicurigai masih merupakan
prosedur pilihan yang merupakan gold standard pada stadium awal infeksi. Bahan
pemeriksaan diambil dari lesi mukokutaneus pada stadium awal (vesikel atau pustul),
hasilnya lebih baik dari pada bila diambil dari lesi ulkus atau krusta.
Pada herpes genitalis rekuren hasil kultur cepat menjadi negatif, biasanya hari keempat
timbulnya lesi, ini terjadi karena kurangnya pelepasan virus, perubahan imun virus yang
cepat, teknik yang kurang tepat atau keterlambatan memproses sampel. Jika titer dalam
spesimen cukup tinggi, maka hasil positif dapat terlihat dalam waktu 24-48 jam.

Diagnosis
Secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan
dasar eritem dan bersifat rekuren. Gejala dan tanda dihubungkan dengan HSV-2. diagnosis
dapat ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisis jika gejalanya khas dan melalui
pengambilan contoh dari luka (lesi) dan dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Tes darah yang mendeteksi HSV-1 dan HSV-2 dapat menolong meskipun hasilnya tidak
terlalu memuaskan. Virus kadangkala, namun tak selalu, dapat dideteksi lewat tes
laboratorium yaitu kultur. Kultur dikerjakan dengan menggunakan swab untuk memperoleh
material yang akan dipelajari dari luka yang dicurigai sebagai herpes.(1,11,12)
Pada stadium dini erupsi vesikel sangat khas, akan tetapi pada stadium yang lanjut tidak khas
lagi, penderita harus dideteksi dengan kemungkinan penyakit lain, termasuk chancroid dan
kandidiasis. Konfirmasi virus dapat dilakukan melalui mikroskop elektron atau kultur
jaringan.
Komplikasi yang timbul pada penyakit herpes genitalis anatara lain neuralgia, retensi urine,
meningitis aseptik dan infeksi anal. Sedangkan komplikasi herpes genitalis pada kehamilan
dapat menyebabkan abortus pada kehamilan trimester pertama, partus prematur dan
pertumbuhan janin terhambat pada trimester kedua kehamilan dan pada neonatus dapat
terjadi lesi kulit, ensefalitis, makrosefali dan keratokonjungtivitis.
Herpes genital primer HSV 2 dan infeksi HSV-1 ditandai oleh kekerapan gejala lokal dan
sistemik prolong. Demam, sakit kepala, malaise, dan mialgia dilaporkan mendekati 40 % dari
kaum pria dan 70% dari wanita dengan penyakit HSV-2 primer. Berbeda dengan infeksi
genital episode pertama, gejala, tanda dan lokasi anatomi infeksi rekuren terlokalisir pada
genital

 Ulkus durum : ulkus indolen dan teraba indurasi


 Ulkus mole : ulkus kotor, merah dan nyeri
 Sifilis : ulkus lebih besar, bersih dan ada indurasi
 Balanopostitis : biasanya disertai tanda-tanda radang yang jelas
 Skabies : rasa gatal lebih berat, kebanyakan pada anak-anak
 Limfogranuloma venereum : ulkus sangat nyeri didahului pembengkakan kelenjar
inguinal.

Komplikasi
Infeksi herpes genital biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan yang serius pada orang
dewasa. Pada sejumlah orang dengan sistem imunitasnya tidak bekerja baik, bisa terjadi
outbreaks herpes genital yang bisa saja berlangsung parah dalam waktu yang lama. Orang
dengan sistem imun yang normal bisa terjadi infeksi herpes pada mata yang disebut herpes
okuler. Herpes okuler biasanya disebabkan oleh HSV-1 namun terkadang dapat juga
disebabkan HSV-2. Herpes dapat menyebabkan penyakit mata yang serius termasuk
kebutaan.
Wanita hamil yang menderita herpes dapat menginfeksi bayinya. Bayi yang lahir dengan
herpes dapat meninggal atau mengalami gangguan pada otak, kulit atau mata.(12) Bila pada
kehamilan timbul herpes genital, hal ini perlu mendapat perhatian serius karena virus dapat
melalui plasenta sampai ke sirkulasi fetal serta dapat menimbulkan kerusakan atau kematian
pada janin. Infeksi neonatal mempunyai angka mortalitas 60%, separuh dari yang hidup
menderita cacat neurologis atau kelainan pada mata.

Penatalaksanaan
Sampai sekarang belum ada obat yang memuaskan untuk terapi herpes genitalis, namun
pengobatan secara umum perlu diperhatikan, seperti :

 menjaga kebersihan lokal


 menghindari trauma atau faktor pencetus

Penggunaan idoxuridine mengobati lesi herpes simpleks secara lokal sebesar 5% sampai 40%
dalam dimethyl sulphoxide sangat bermanfaat. Namun, pengobatan ini memiliki beberapa
efek samping, di antaranya pasien akan mengalami rasa nyeri hebat, maserasi kulit dapat juga
terjadi.
Meskipun tidak ada obat herpes genital, penyediaan layanan kesehatan anda akan meresepkan
obat anti viral untuk menangani gejala dan membantu mencegah terjadinya outbreaks. Hal ini
akan mengurangi resiko menularnya herpes pada partner seksual. Obat-obatan untuk
menangani herpes genital adalah :
 Asiklovir (Zovirus)
 Famsiklovir
 Valasiklovir (Valtres)

Asiklovir
Pada infeksi HVS genitalis primer, asiklovir intravena (5 mg/kg BB/8 jam selama 5 hari),
asiklovir oral 200 mg (5 kali/hari saelama 10-14 hari) dan asiklovir topikal (5% dalam salf
propilen glikol) dsapat mengurangi lamanya gejala dan ekskresi virus serta mempercepat
penyembuhan.(4,5)
Valasiklovir
Valasiklovir adalah suatu ester dari asiklovir yang secara cepat dan hampir lengkap berubah
menjadi asiklovir oleh enzim hepar dan meningkatkan bioavaibilitas asiklovir sampai
54%.oleh karena itu dosis oral 1000 mg valasiklovir menghasilkan kadar obat dalam darah
yang sama dengan asiklovir intravena. Valasiklovir 1000 mg telah dibandingkan asiklovir
200 mg 5 kali sehari selama 10 hari untuk terapi herpes genitalis episode awal.(4,5,9)
Famsiklovir
Adalah jenis pensiklovir, suatu analog nukleosida yang efektif menghambat replikasi HSV-1
dan HSV-2. Sama dengan asiklovir, pensiklovir memerlukan timidin kinase virus untuk
fosforilase menjadi monofosfat dan sering terjadi resistensi silang dengan asiklovir. Waktu
paruh intrasel pensiklovir lebih panjang daripada asiklovir (>10 jam) sehingga memiliki
potensi pemberian dosis satu kali sehari. Absorbsi peroral 70% dan dimetabolisme dengan
cepat menjadi pensiklovir. Obat ini di metabolisme dengan baik.(4,5)
Herpes genitalis adalah kondisi umum terjadi yang dapat membuat penderitanya tertekan.
Pada penelitian in vitro yang dilakukan Plotkin (1972), Amstey dan Metcalf (1975), serta
penelitian in vivo oleh Friedrich dan Matsukawa (1975), povidone iodine terbukti merupakan
agen efektif melawan virus tersebut. Friedrich dan Matsukawa juga mendapatkan hasil
memuaskan secara klinis dari povidone iodine dalam larutan aqua untuk mengobati herpes
genital. (15)
Pusat pengawasan dan pencegahan penyakit/ CDC (Center For Disease Control and
Prevention), merekomendasikan penanganan supresif bagi herpes genital untuk orang yang
mengalami enam kali atau lebih outbreak per tahun.(16)
Beberapa ahli kandungan mengambil sikap partus dengan cara sectio caesaria bila pada saat
melahirkan diketahui ibu menderita infeksi ini. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum
ketuban pecah atau paling lambat 6 jam setelah ketuban pecah. Pemakaian asiklovir pada ibu
hamil tidak dianjurkan. (3,10)
Sejauh ini pilihan sectio caesaria itu cukup tinggi dan studi yang dilakukan menggarisbawahi
apakah penggunaan antiviral rutin efektif menurunkan herpes genital yang subklinis, namun
hingga studi tersebut selesai, tak ada rekomendasi yang dapat diberikan. (7)
Pencegahan
Hingga saat ini tidak ada satupun bahan yang efektif mencegah HSV. Kondom dapat
menurunkan transmisi penyakit, tetapi penularan masih dapat terjadi pada daerah yang tidak
tertutup kondom ketika terjadi ekskresi virus. Spermatisida yang berisi surfaktan nonoxynol-
9 menyebabkan HSV menjadi inaktif secara invitro. Di samping itu yang terbaik, jangan
melakukan kontak oral genital pada keadaan dimana ada gejala atau ditemukan herpes oral.
Secara ringkas ada 5 langkah utama untuk pencegahan herpes genital yaitu (1)
1. Mendidik seseorang yang berisiko tinggi untuk mendapatkan herpes genitalis dan
PMS lainnya untuk mengurangi transmisi penularan.
2. Mendeteksi kasus yang tidak diterapi, baik simtomatik atau asimptomatik.
3. Mendiagnosis, konsul dan mengobati individu yang terinfeksi dan follow up dengan
tepat.
4. Evaluasi, konsul dan mengobati pasangan seksual dari individu yang terinfeksi.
5. Skrining disertai diagnosis dini, konseling dan pengobatan sangat berperan dalam
pencegahan.

Prognosis

Kematian oleh infeksi HSV jarang terjadi. Infeksi inisial dini yang segera diobati mempunyai
prognosis lebih baik, sedangkan infeksi rekuren hanya dapat dibatasi frekuensi kambuhnya.
Pada orang dengan gangguan imunitas, misalnya penyakit-penyakit dengan tumor di sistem
retikuloendotelial, pengobatan dengan imunosupresan yang lama, menyebabkan infeksi ini
dapat menyebar ke alat-alat dalam dan fatal. Prognosis akan lebih baik seiring dengan
meningkatnya usia seperti pada orang dewasa. Terapi antivirus efektif menurunkan
manifestasi klinis herpes genitalis.

Kesimpulan
Herpes genital merupakan penyakit infeksi akut pada genital dengan gambaran khas berupa
vesikel berkelompok pada dasar eritematosa, dan cenderung bersifat rekuren. Umumnya
disebabkan oleh herpes simpleks virus tipe 2 (HSV-2), tetapi sebagian kecil dapat pula oleh
tipe 1.
Perjalanan Penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan. Umumnya kelainan
klinis/keluhan utama adalah timbulnya sekumpulan vesikel pada kulit atau mukosa dengan
rasa terbakar dan gatal pada tempat lesi, kadang-kadang disertai gejala konstitusi seperti
malaise, demam, dan nyeri otot.
Diagnosis herpes genital secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel
berkelompok dengan dasar eritem dan bersifat rekuren. Diagnosis dapat ditegakkan melalui
anamnesa, pemeriksaan fisisk jika gejalanya khas dan pemeriksaan laboratorium.
Pengobatan dari herpes genital secara umum bisa dengan menjaga kebersihan lokal,
menghindari trauma atau faktor pencetus. Adapun obat-obat yang dapat menangani herpes
genital adalah asiklovir, valasiklovir, famsiklovir.
Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia seperti pada orang dewasa.
http://yoseph-dmc21.blogspot.co.id/2012/03/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan.html

Gejala Herpes Genital (Herpes Simplex)


Terkadang virus herpes simpleks (HSV) tidak menyebabkan gejala karena virus ini mampu
‘bersembunyi’ di dalam tubuh atau bersifat laten. Virus bersembunyi dari sistem kekebalan
tubuh di dalam sel-sel saraf. Ketika kambuh, virus akan aktif kembali dan bergerak menuju
kulit melalui saraf hingga menyebabkan luka baru. Bagi yang baru pertama kali terinfeksi
herpes, mungkin tidak akan memperlihatkan adanya gejala-gejala dan sebagai akibatnya
mereka tidak tahu bahwa dirinya telah terinfeksi virus ini. Gejala-gejala herpes genital bisa
berupa:
 Luka yang terbuka dan terlihat merah tanpa sensasi rasa sakit, gatal, atau geli.
 Sensasi rasa sakit, gatal, atau geli di sekitar daerah genital atau daerah anal.
 Luka melepuh yang kemudian pecah dan terbuka di sekitar genital, rektum, paha, dan
bokong.
 Merasakan sakit saat membuang air kecil.
 Sakit punggung bawah.
 Mengalami gejala-gejala flu seperti demam, kehilangan nafsu makan, dan kelelahan.
 Luka terbuka atau melepuh pada leher rahim.
 Adanya cairan yang keluar dari vagina.

Virus ini bisa menjadi laten atau tidak aktif di dalam tubuh untuk beberapa waktu. Tapi virus
dapat aktif lagi dan menyebabkan gejala herpes kembali. Dengan kata lain, setelah gejala dari
infeksi pertama menghilang, bukan berarti virus juga menghilang dari tubuh kita.

Sebenarnya ketika infeksi pertama kali terjadi, tubuh kita akan menghasilkan antibodi untuk
melawan infeksi. Tubuh menjadi bisa mengenali virus dan kekuatan yang dibutuhkan untuk
melawan HSV dengan lebih efektif. Maka sebagai efeknya, infeksi-infeksi yang terjadi tidak
akan separah infeksi yang pertama. Frekuensi juga akan berkurang dan gejalanya akan lebih
cepat hilang.

PENGERTIAN

Herpes genital adalah infeksi pada alat kelamin yang bisa menulari pria dan wanita. Penyakit
ini salah satu dari Infeksi Menular Seksual atau IMS karena umumnya ditularkan melalui
hubungan seksual (vagina, anal, dan oral).

Infeksi yang terjadi disebabkan oleh virus herpes simpleks atau sering disebut sebagai HSV.
Ketika aktif, virus ini akan berkembang dan bergerak di antara sel-sel saraf. HSV dapat
menular dan masuk ke dalam tubuh melalui berbagai membran mukosa. Membran mukosa
adalah jaringan lunak basah yang melapisi bagian terbuka tubuh. Membran mukosa berada di
beberapa bagian tubuh dan bersinggungan langsung dengan kulit, yaitu pada dinding mulut,
bagian dalam kelopak mata, di dalam telinga, dalam saluran urin, di dinding vagina dan anus.

Penyebab Herpes Genital (Herpes Simplex)


Herpes genital disebabkan oleh virus herpes simpleks atau HSV yang umumnya disebarkan
melalui hubungan seks vagina, oral, dan anal. Dua jenis virus yang menyebabkan herpes
genital adalah HSV-1 dan HSV-2.

Penyebaran virus ini melalui kontak langsung dengan pasangan yang terinfeksi oleh HSV.
Hal ini bisa terjadi meski orang yang terinfeksi tidak mengalami gejala apapun. Virus ini
menyebar melalui bagian yang lembap dari dinding kulit genital, mulut, dan anus. Selain itu,
virus ini juga bisa menyebar melalui luka herpes dan bisa terjadi di sekitar mulut, mata,dan
bagian tubuh lain.

Herpes genital tidak bisa menyebar melalui benda perantara. Virus tidak akan sanggup
bertahan lama jika terlepas dari kulit. Peralatan seperti handuk, alat makan, dansikat gigi
biasanya tidak bisa menjadi perantara penyebaran virus ini.
Herpes genital sangat mudah menular. Setelah terinfeksi, tubuh penderitanya akan selamanya
memiliki virus ini. HSV bisa bersifat laten untuk beberapa waktu sebelum menjadi aktif lagi.
Inilah yang menyebabkan herpes genital bisa kambuh.

Virus HSV akan kembali aktif ketika sistem pertahanan tubuh menurun. Hal ini bisa terjadi
ketika penderita sedang mengalami infeksi, sedang mengalami masa-masa stres, sedang
menjalani kemoterapi sebagai langkah pengobatan kanker, atau akibat terkena virus HIV.
Selain itu, konsumsi alkohol yang berlebihan juga dapat memicu virus HSV untuk kembali
aktif.

Komplikasi Herpes Genital (Herpes


Simplex)
Komplikasi yang mungkin bisa terjadi bersamaan dengan herpes genital akan dijelaskan di
bawah ini:

Infeksi Menular Seksual Lainnya

Dengan luka terbuka yang disebabkan oleh herpes genital, Anda memiliki risiko lebih tinggi
untuk menyebarkan atau tertular penyakit menular seksual lainnya, terutama jika
berhubungan seksual tanpa pengaman. Yang paling parah adalah terjadinya komplikasi
dengan HIV/AIDS. Penyakit ini menurunkan sistem kekebalan tubuh manusia. Jika hal ini
terjadi, kecenderungan terhadap kambuhnya herpes akan lebih sering dan dengan gejala yang
lebih parah.

Inflamasi atau Peradangan

Pada beberapa kasus, herpes genital bisa menyebabkan inflamasi atau peradangan di saluran
kemih. Pembengkakan yang terjadi bisa menutup jalur uretra selama beberapa hari. Dalam
kasus ini, kateter harus dimasukkan untuk menyedot isi kandung kemih. Selain pada uretra,
peradangan juga bisa terjadi pada bagian rektal. Inflamasi pada dinding rektum ini lebih
sering terjadi pada pria yang berhubungan seksual dengan pria lainnya. Pada kasus yang
sangat langka, virus herpes simpleks juga bisa mengakibatkan meningitis atau radang pada
selaput otak.

Pada Masa Kehamilan

Virus herpes simpleks atau HSV bisa menyebabkan masalah pada kehamilan dan bisa
ditularkan pada bayi saat melahirkan. Jika infeksi HSV terjadi sebelum kehamilan,
kemungkinan penularan pada sang bayi sangatlah kecil. Beberapa bulan terakhir masa
kehamilan, sang ibu akan melepaskan banyak antibodi pelindung kepada bayinya. Antibodi
inilah yang akan melindungi sang bayi dari berbagai mikroorganisme termasuk HSV.
Antibodi ini dapat bertahan pada saat melahirkan hingga beberapa bulan setelahnya. Jika
terjadi kemunculan ulang gejala herpes, obat asiklovir mungkin perlu dikonsumsi. Tanyakan
kepada dokter kandungan tentang penanganan yang Anda bisa dapatkan, termasuk di
dalamnya dosis dan aturan pakai obat tersebut. Jika Anda mengalami infeksi pertama pada
awal 3-6 bulan masa kehamilan, maka risiko infeksi menular pada bayi dan bahkan
keguguran akan meningkat. Oleh karena itu, asiklovir mungkin perlu dikonsumsi. Virus bisa
menular pada saat proses persalinan. Infeksi pertama HSV di atas 6 bulan usia kehamilan
menjadikan risiko menulari infeksi pada bayi sangat tinggi. Hal ini karena tubuh sang ibu
memerlukan waktu untuk menghasilkan antibodi sebelum sang bayi dilahirkan. Untuk
menghindarinya, perlu dilakukan operasi caesar. Kelahiran normal akan meningkatkan risiko
penularan infeksi pada bayi yang dilahirkan sebanyak 40 persen lebih tinggi.

Infeksi pada Bayi dalam Proses Persalinan

Bagi bayi yang terinfeksi HSV pada saat proses persalinan, infeksi yang terjadi bisa sangat
berbahaya dan terkadang mematikan. Ini dikenal sebagai neonatal herpes. Herpes yang
terjadi pada saat melahirkan ini dapat berdampak buruk kepada organ tubuh seperti pada
mata, mulut, dan kulit. Selain itu, otak dan sistem saraf lainnya juga bisa terkena dampak dari
infeksi ini. Pada kasus neonatal herpes yang parah, berbagai organ tubuh lainnya seperti
paru-paru dan hati juga bisa terserang hingga dapat menyebabkan kematian.

Herpes Genital (Herpes Simplex)

 Pengertian
 Gejala
 Penyebab
 Diagnosis
 Pengobatan
 Komplikasi
 Pencegahan

Pencegahan Herpes Genital (Herpes


Simplex)
Virus herpes simpleks dapat menular dari penderita tanpa gejala apa pun. Tapi tingkat
penularan virus ini akan lebih tinggi jika infeksi sedang kambuh. Penderita herpes simpleks
disarankan untuk tidak berhubungan seksual ketika sedang memiliki luka terbuka.

Jika terdapat luka terbuka atau melepuh pada mulut, jangan mencium pasangan Anda.
Berbagi mainan seksual juga bisa menularkan virus ini. Jika ingin berbagi, pastikan untuk
mencucinya terlebih dahulu.

Walau tidak sepenuhnya menghilangkan risiko terkena herpes genital, kondom dapat
membantu menghambat penularannya. Penggunaan kondom dapat melindungi diri dan
pasangan Anda. Tapi perlu diingat bahwa kondom hanya menutupi penis saja. HSV dapat
menular melalui kontak dengan bagian tubuh lain seperti mulut saat seks oral atau anus saat
seks anal.

Jika Anda atau pasangan merasa berisiko terinfeksi HSV, segeralah lakukan tes untuk
memastikan diagnosis. Perlu diingat bahwa gejalanya sangat ringan, sehingga banyak orang
yang tidak menyadari sedang terinfeksi virus ini.
Virus herpes simpleks tidak bisa bertahan lama pada benda di luar tubuh manusia. Virus ini
membutuhkan tubuh manusia untuk bertahan hidup. Tapi tidak ada salahnya untuk
menghindari risiko penularan dengan tidak berbagi handuk atau pun pakaian.

Pada Wanita Hamil

Bagi wanita yang merencanakan kehamilan atau sedang hamil dan dicurigai mengidap
herpes, disarankan untuk melakukan tes infeksi TORCH. TORCH adalah sekelompok virus
yang terdiri dari virus toksoplasmosis, rubela, sitomegalovirus, virus herpes simpleks, dan
virus lain (misalnya sifilis, cacar air, gondongan, parvovirus dan HIV). Tes infeksi TORCH
dilakukan untuk memastikan status herpes pada ibu sehingga jika terdiagnosis positif,
penanganan bisa dilakukan agar janin tidak terinfeksi virus.

Pengobatan Herpes Genital (Herpes


Simplex)
Untuk mengurangi gejala infeksi herpes genital, obat-obatan antivirus seperti asiklovir,
famsiklovir dan valasiklovir akan diberikan. Obat-obatan ini hanya berfungsi mencegah virus
herpes simpleks untuk menggandakan diri, tapi tidak bisa menghilangkan virus dari tubuh
secara sepenuhnya.

Jika gejala infeksi tidak terlalu parah, konsumsi obat antivirus mungkin tidak diperlukan.
Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan di rumah untuk membantu meredakan
gejala yang muncul:

 Untuk mempercepat proses penyembuhan dan meringankan rasa sakit, tutup luka dengan
es batu yang dibalut dengan kain. Jangan menempelkan es secara langsung pada permukaan
yang terluka.
 Bersihkan daerah yang terinfeksi secara teratur.
 Gunakan krim penghilang rasa sakit pada luka melepuh atau tukak. Selain itu perbanyaklah
minum air mineral. Kedua hal ini bertujuan untuk memudahkan dan meringankan rasa sakit
saat buang air kecil.
 Gunakan pakaian yang longgar untuk mengurangi rasa sakit pada luka melepuh di kulit yang
terinfeksi.

Penanganan Herpes Genital pada Pengidap HIV

Kemunculan ulang herpes genital yang terlalu sering bisa disebabkan karena sistem
kekebalan tubuh melemah. Ini berarti jumlah antibodi yang dihasilkan tubuh untuk melawan
infeksi akan berkurang. Alhasil, gejala herpes lebih sering terjadi dan tingkat keparahannya
menjadi lebih serius. Bagi yang mengalami infeksi herpes cukup sering, disarankan untuk
melakukan tes HIV. Penderita HIV memiliki kekebalan tubuh yang jauh lebih lemah daripada
orang yang sehat. Dokter spesialis akan menangani herpes genital yang terjadi pada penderita
HIV.

http://www.alodokter.com/herpes-genital/pengobatan/
Herpes genitalis merupakan infeksi pada genital dengan gejala khas berupa vesikel yang
berkelompok dengan dasar eritem bersifat rekuren. Herpes genitalis terjadi pada alat genital
dan sekitarnya (bokong, daerah anal dan paha).

Ada dua macam tipe HSV yaitu : HSV-1 dan HSV-2 dan keduanya dapat menyebabkan
herpes genital. Infeksi HSV-2 sering ditularkan melalui hubungan seks dan dapat
menyebabkan rekurensi dan ulserasi genital yang nyeri. Tipe 1 biasanya mengenai mulut dan
tipe 2 mengenai daerah genital.

HSV dapat menimbulkan serangkaian penyakit, mulai dari ginggivostomatitis sampai


keratokonjungtivitis, ensefalitis, penyakit kelamin dan infeksi pada neonatus. Komplikasi
tersebut menjadi bahan pemikiran dan perhatian dari beberapa ahli, seperti ahli penyakit kulit
dan kelamin, ahli kandungan, ahli mikrobiologi dan lain sebagainya. Infeksi primer oleh HSV
lebih berat dan mempunyai riwayat yang berbeda dengan infeksi rekuren.

Setelah terjadinya infeksi primer virus mengalami masa laten atau stadium dorman, dan
infeksi rekuren disebabkan oleh reaktivasi virus dorman ini yang kemudian menimbulkan
kelainan pada kulit.

Infeksi herpes simpleks fasial-oral rekuren atau herpes labialis dikenali sebagai fever blister
atau cold sore dan ditemukan pada 25-40% dari penderita Amerika yang telah terinfeksi.

Herpes simpleks fasial-oral biasanya sembuh sendiri. Tetapi pada penderita dengan
imunitas yang rendah, dapat ditemukan lesi berat dan luas berupa ulkus yang nyeri pada
mulut dan esofagus.

Virus herpes merupakan sekelompok virus yang termasuk dalam famili herpesviridae yang
mempunyai morfologi yang identik dan mempunyai kemampuan untuk berada dalam
keadaan laten dalam sel hospes setelah infeksi primer.

Virus yang berada dalam keadaan laten dapat bertahan untuk periode yang lama bahkan
seumur hidup penderita. Virus tersebut tetap mempunyai kemampuan untuk mengadakan
reaktivasi kembali sehingga dapat terjadi infeksi yang rekuren.

Prevalensi yang dilaporkan dari herpes genitalis bergantung pada karakteristik demografis,
sosial ekonomi dan klinis dari populasi pasien yang pernah diteliti dan teknik pemeriksaan
laboratorium dan klinik digunakan untuk mendiagnosa.

Studi seroepidemiologi menunjukkan disparitas yang lebar antara prevalensi antibodi dan
infeksi klinis, ini mengindikasikan bahwa banyak orang mendapat infeksi subklinik.

EPIDEMIOLOGI HERPES GENITALIS

Prevalensi anti bodi dari HSV-1 pada sebuah populasi bergantung pada faktor-faktor seperti
negara, kelas sosial ekonomi dan usia. HSV-1 umumnya ditemukan pada daerah oral pada
masa kanak-kanak, terlebih lagi pada kondisi sosial ekonomi terbelakang.

Kebiasaan, orientasi seksual dan gender mempengaruhi HSV-2. HSV-2 prevalensinya lebih
rendah dibanding HSV-1 dan lebih sering ditemukan pada usia dewasa yang terjadi karena
kontak seksual.
Prevalensi HSV-2 pada usia dewasa meningkat dan secara signifikan lebih tinggi Amerika
Serikat dari pada Eropa dan kelompok etnik kulit hitam dibanding kulit putih. Seroprevalensi
HSV-2 adalah 5 % pada populasi wanita secara umum di inggris, tetapi mencapai 80% pada
wanita Afro-Amerika yang berusia antara 60-69 tahun di USA.

Herpes genital mengalami peningkatan antara awal tahun 1960-an dan 1990-an. Di inggris
laporan pasien dengan herpes genital pada klinik PMS meningkat enam kali lipat antara tahun
1972-1994.

Kunjungan awal pada dokter yang dilakukan oleh pasien di Amerika Serikat untuk episode
pertama dari herpes genital meningkat sepuluh kali lipat mulai dari 16.986 pasien di tahun
1970 menjadi 160.000 di tahun 1995 per 100.000 pasien yang berkunjung.

Disamping itu lebih banyaknya golongan wanita dibandingkan pria disebabkan oleh anatomi
alat genital (permukaan mukosa lebih luas pada wanita), seringnya rekurensi pada pria dan
lebih ringannya gejala pada pria. Walaupun demikian, dari jumlah tersebut di atas hanya 9%
yang menyadari akan penyakitnya.

Studi pada tahun 1960 menunjukkan bahwa HSV-1 lebih sering berhubungan dengan
kelainan oral dan HSV-2 berhubungan dengan kelainan genital. Atau dikatakan HSV-1
menyebabkan kelainan di atas pinggang dan VHS-2 menyebabkan kelainan di bawah
pinggang. Tetapi didapatkan juga jumlah signifikan genital herpes 30-40% disebabkan HSV-
1.

HSV-2 juga kadang-kadang menyebabkan kelainan oral, diduga karena meningkatnya kasus
hubungan seks oral. Jarang didapatkan kelainan oral karena VHS-2 tanpa infeksi genital. Di
Indonesia, sampai saat ini belum ada angka yang pasti, akan tetapi dari 13 RS pendidikan
Herpes genitalis merupakan PMS (Penyakit Menular Seksual) dengan gejala ulkus genital
yang paling sering dijumpai.

ETIOLOGI HERPES GENITALIS

Herpes genitalis disebabkan oleh HSV atau herpes virus hominis (HVH), yang merupakan
anggota dari famili herpesviridae. Adapun tipe-tipe dari HSV :

1. Herpes simplex virus tipe I : pada umunya menyebabkan lesi atau luka pada sekitar wajah,
bibir, mukosa mulut, dan leher.
2. Herpes simplex virus tipe II : umumnya menyebabkan lesi pada genital dan sekitarnya
(bokong, daerah anal dan paha).

Herpes simplex virus tergolong dalam famili herpes virus, selain HSV yang juga termasuk
dalam golongan ini adalah Epstein Barr (mono) dan varisela zoster yang menyebabkan
herpes zoster dan varicella. Sebagian besar kasus herpes genitalis disebabkan oleh HSV-2,
namun tidak menutup kemungkinan HSV-1 menyebabkan kelainan yang sama.

Pada umumnya disebabkan oleh HSV-2 yang penularannya secara utama melalui vaginal
atau anal seks. Beberapa tahun ini, HSV-1 telah lebih sering juga menyebabkan herpes
genital. HSV-1 genital menyebar lewat oral seks yang memiliki cold sore pada mulut atau
bibir, tetapi beberapa kasus dihasilkan dari vaginal atau anal seks.
PATOGENESIS HERPES GENITALIS

HSV-1 dan HSV-2 adalah termasuk dalam famili herphesviridae, sebuah grup virus DNA
rantai ganda lipid-enveloped yang berperanan secara luas pada infeksi manusia. Kedua
serotipe HSV dan virus varicella zoster mempunyai hubungan dekat sebagai subfamili virus
alpha-herpesviridae.

Alfa herpes virus menginfeksi tipe sel multiple, bertumbuh cepat dan secara efisien
menghancurkan sel host dan infeksi pada sel host. Infeksi pada natural host ditandai oleh lesi
epidermis, seringkali melibatkan permukaan mukosa dengan penyebaran virus pada sistem
saraf dan menetap sebagai infeksi laten pada neuron, dimana dapat aktif kembali secara
periodik. Transmisi infeksi HSV seringkali berlangsung lewat kontak erat dengan pasien
yang dapat menularkan virus lewat permukaan mukosa.

Infeksi HSV-1 biasanya terbatas pada orofaring, virus menyebar melalui droplet pernapasan,
atau melalui kontak langsung dengan saliva yang terinfeksi. HSV-2 biasanya ditularkan
secara seksual. Setelah virus masuk ke dalam tubuh hospes, terjadi penggabungan dengan
DNA hospes dan mengadakan multiplikasi serta menimbulkan kelainan pada kulit.

Waktu itu pada hospes itu sendiri belum ada antibodi spesifik. Keadaan ini dapat
mengakibatkan timbulnya lesi pada daerah yang luas dengan gejala konstitusi berat.

Selanjutnya virus menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional dan
berdiam di sana serta bersifat laten. Infeksi orofaring HSV-1 menimbulkan infeksi laten di
ganglia trigeminal, sedangkan infeksi genital HSV-2 menimbulkan infeksi laten di ganglion
sakral.

Bila pada suatu waktu ada faktor pencetus (trigger factor), virus akan mengalami reaktivasi
dan multiplikasi kembali sehingga terjadilah infeksi rekuren. Pada saat ini dalam tubuh
hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang timbul dan gejala konstitusinya
tidak seberat pada waktu infeksi primer.

Faktor pencetus tersebut antara lain adalah trauma atau koitus, demam, stres fisik atau
emosi, sinar UV, gangguan pencernaan, alergi makanan dan obat-obatan dan beberapa kasus
tidak diketahui dengan jelas penyebabnya. Penularan hampir selalu melalui hubungan seksul
baik genito genital, ano genital maupun oro genital.

Infeksi oleh HSV dapat bersifat laten tanpa gejala klinis dan kelompok ini bertanggung jawab
terhadap penyebaran penyakit. Infeksi dengan HSV dimulai dari kontak virus dengan mukosa
(orofaring, serviks, konjungtiva) atau kulit yang abrasi. Replikasi virus dalam sel epidermis
daan dermis menyebabkan destruksi seluler dan keradangan.

GEJALA KLINIK HERPES GENITALIS

Infeksi awal dari 63% HSV-2 dan 37% HSV-1 adalah asimptomatik. Simptom dari infeksi
awal (saat inisial episode berlangsung pada saat infeksi awal) simptom khas muncul antara 3
hingga 9 hari setelah infeksi, meskipun infeksi asimptomatik berlangsung perlahan dalam
tahun pertama setelah diagnosa di lakukan pada sekitar 15% kasus HSV-2. Inisial episode
yang juga merupakan infeksi primer dapat berlangsung menjadi lebih berat. Infeksi HSV-1
dan HSV-2 agak susah dibedakan.
Tanda utama dari genital herpes adalah luka di sekitar vagina, penis, atau di daerah anus.
Kadang-kadang luka dari herpes genital muncul di skrotum, bokong atau paha. Luka dapat
muncul sekitar 4-7 hari setelah infeksi.

Gejala dari herpes disebut juga outbreaks, muncul dalam dua minggu setelah orang
terinfeksi dan dapat saja berlangsung untuk beberapa minggu. Adapun gejalanya sebagai
berikut:

 Nyeri dan disuria


 Uretral dan vaginal discharge
 Gejala sistemik (malaise, demam, mialgia, sakit kepala)
 Limfadenopati yang nyeri pada daerah inguinal
 Nyeri pada rektum, tenesmus

Tanda (sign) :

 Eritem, vesikel, pustul, ulserasi multipel, erosi, lesi dengan krusta tergantung pada tingkat
infeksi.
 Limfadenopati inguinal
 Faringitis
 Cervisitis

a. Herpes genital primer

Infeksi primer biasanya terjadi seminggu setelah hubungan seksual (termasuk hubungan oral
atau anal). Tetapi lebih banyak terjadi setelah interval yang lama dan biasanya setengah dari
kasus tidak menampakkan gejala.

Erupsi dapat didahului dengan gejala prodormal, yang menyebabkan salah diagnosis sebagai
influenza. Lesi berupa papul kecil dengan dasar eritem dan berkembang menjadi vesikel dan
cepat membentuk erosi superfisial atau ulkus yang tidak nyeri, lebih sering pada glans penis,
preputium, dan frenulum, korpus penis lebih jarang terlihat.

b. Herpes genital rekuren

Setelah terjadinya infeksi primer klinis atau subklinis, pada suatu waktu bila ada faktor
pencetus, virus akan menjalani reaktivasi dan multiplikasi kembali sehingga terjadilah lagi
rekuren, pada saat itu di dalam hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang
timbul dan gejala tidak seberat infeksi primer.

Faktor pencetus antara lain: trauma, koitus yang berlebihan, demam, gangguan pencernaan,
kelelahan, makanan yang merangsang, alkohol, dan beberapa kasus sukar diketahui
penyebabnya.

Pada sebagian besar orang, virus dapat menjadi aktif dan menyebabkan outbreaks beberapa
kali dalam setahun. HSV berdiam dalam sel saraf di tubuh kita, ketika virus terpicu untuk
aktif, maka akan bergerak dari saraf ke kulit kita. Lalu memperbanyak diri dan dapat timbul
luka di tempat terjadinya outbreaks.
Mengenai gambaran klinis dari herpes progenitalis : gejaia klinis herpes progenital dapat
ringan sampai berat tergantung dari stadium penyakit dan imunitas dari pejamu. Stadium
penyakit meliputi :

Infeksi primer —- stadium laten —- replikasi virus —- stadium rekuren

Manifestasi klinik dari infeksi HSV tergantung pada tempat infeksi, dan status imunitas
host. Infeksi primer dengan HSV berkembang pada orang yang belum punya kekebalan
sebelumnya terhadap HSV-1 atau HSV -2, yang biasanya menjadi lebih berat, dengan gejala
dan tanda sistemik dan sering menyebabkan komplikasi.

Berbagai macam manifestasi klinis:


1. infeksi oro-fasial
2. infeksi genital
3. infeksi kulit lainnya
4. infeksi okular
5. kelainan neurologist
6. penurunan imunitas
7. herpes neonatal

PEMERIKSAAN LABORATORIUM HERPES GENITALIS

Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana adalah Tes Tzank diwarnai dengan
pengecatan giemsa atau wright, akan terlihat sel raksasa berinti banyak. Sensitifitas dan
spesifitas pemeriksaan ini umumnya rendah. Cara pemeriksaan laboratorium yang lain adalah
sebagai berikut.

A. Histopatologis
Vesikel herpes simpleks terletak intraepidermal, epidermis yang terpengaruh dan inflamasi
pada dermis menjadi infiltrat dengan leukosit dan eksudat sereus yang merupakan kumpulan
sel yang terakumulasi di dalam stratum korneum membentuk vesikel.

B. Pemeriksaan serologis ( ELISA dan Tes POCK )


Beberapa pemeriksaan serologis yang digunakan:
1. ELISA mendeteksi adanya antibodi HSV-1 dan HSV-2.
2. Tes POCK untuk HSV-2 yang sekarang mempunyai sensitivitas yang tinggi.

C. Kultur virus
Kultur virus yang diperoleh dari spesimen pada lesi yang dicurigai masih merupakan
prosedur pilihan yang merupakan gold standard pada stadium awal infeksi. Bahan
pemeriksaan diambil dari lesi mukokutaneus pada stadium awal (vesikel atau pustul),
hasilnya lebih baik dari pada bila diambil dari lesi ulkus atau krusta.

Pada herpes genitalis rekuren hasil kultur cepat menjadi negatif, biasanya hari keempat
timbulnya lesi, ini terjadi karena kurangnya pelepasan virus, perubahan imun virus yang
cepat, teknik yang kurang tepat atau keterlambatan memproses sampel. Jika titer dalam
spesimen cukup tinggi, maka hasil positif dapat terlihat dalam waktu 24-48 jam.
DIAGNOSIS HERPES GENITALIS

Secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan
dasar eritem dan bersifat rekuren. Gejala dan tanda dihubungkan dengan HSV-2. diagnosis
dapat ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisis jika gejalanya khas dan melalui
pengambilan contoh dari luka (lesi) dan dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Tes darah yang mendeteksi HSV-1 dan HSV-2 dapat menolong meskipun hasilnya tidak
terlalu memuaskan. Virus kadangkala, namun tak selalu, dapat dideteksi lewat tes
laboratorium yaitu kultur. Kultur dikerjakan dengan menggunakan swab untuk memperoleh
material yang akan dipelajari dari luka yang dicurigai sebagai herpes.

Pada stadium dini erupsi vesikel sangat khas, akan tetapi pada stadium yang lanjut tidak khas
lagi, penderita harus dideteksi dengan kemungkinan penyakit lain, termasuk chancroid dan
kandidiasis. Konfirmasi virus dapat dilakukan melalui mikroskop elektron atau kultur
jaringan.

Komplikasi yang timbul pada penyakit herpes genitalis anatara lain neuralgia, retensi urine,
meningitis aseptik dan infeksi anal. Sedangkan komplikasi herpes genitalis pada kehamilan
dapat menyebabkan abortus pada kehamilan trimester pertama, partus prematur dan
pertumbuhan janin terhambat pada trimester kedua kehamilan dan pada neonatus dapat
terjadi lesi kulit, ensefalitis, makrosefali dan keratokonjungtivitis.

Herpes genital primer HSV 2 dan infeksi HSV-1 ditandai oleh kekerapan gejala lokal dan
sistemik prolong. Demam, sakit kepala, malaise, dan mialgia dilaporkan mendekati 40 % dari
kaum pria dan 70% dari wanita dengan penyakit HSV-2 primer. Berbeda dengan infeksi
genital episode pertama, gejala, tanda dan lokasi anatomi infeksi rekuren terlokalisir pada
genital.

DIAGNOSA BANDING HERPES GENITALIS

 Ulkus durum : ulkus indolen dan teraba indurasi


 Ulkus mole : ulkus kotor, merah dan nyeri
 Sifilis : ulkus lebih besar, bersih dan ada indurasi
 Balanopostitis : biasanya disertai tanda-tanda radang yang jelas
 Skabies : rasa gatal lebih berat, kebanyakan pada anak-anak
 Limfogranuloma venereum : ulkus sangat nyeri didahului pembengkakan kelenjar inguinal.

KOMPLIKASI HERPES GENITALIS

Infeksi herpes genital biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan yang serius pada orang
dewasa. Pada sejumlah orang dengan sistem imunitasnya tidak bekerja baik, bisa terjadi
outbreaks herpes genital yang bisa saja berlangsung parah dalam waktu yang lama.

Orang dengan sistem imun yang normal bisa terjadi infeksi herpes pada mata yang disebut
herpes okuler. Herpes okuler biasanya disebabkan oleh HSV-1 namun terkadang dapat juga
disebabkan HSV-2. Herpes dapat menyebabkan penyakit mata yang serius termasuk
kebutaan.
Wanita hamil yang menderita herpes dapat menginfeksi bayinya. Bayi yang lahir dengan
herpes dapat meninggal atau mengalami gangguan pada otak, kulit atau mata.

Bila pada kehamilan timbul herpes genital, hal ini perlu mendapat perhatian serius karena
virus dapat melalui plasenta sampai ke sirkulasi fetal serta dapat menimbulkan kerusakan
atau kematian pada janin. Infeksi neonatal mempunyai angka mortalitas 60%, separuh dari
yang hidup menderita cacat neurologis atau kelainan pada mata.

PENATALAKSANAAN HERPES GENITALIS

Sampai sekarang belum ada obat yang memuaskan untuk terapi herpes genitalis, namun
pengobatan secara umum perlu diperhatikan, seperti :

 menjaga kebersihan lokal


 menghindari trauma atau faktor pencetus.

Penggunaan idoxuridine mengobati lesi herpes simpleks secara lokal sebesar 5% sampai 40%
dalam dimethyl sulphoxide sangat bermanfaat. Namun, pengobatan ini memiliki beberapa
efek samping, di antaranya pasien akan mengalami rasa nyeri hebat, maserasi kulit dapat juga
terjadi.

Meskipun tidak ada obat herpes genital, penyediaan layanan kesehatan anda akan meresepkan
obat anti viral untuk menangani gejala dan membantu mencegah terjadinya outbreaks. Hal ini
akan mengurangi resiko menularnya herpes pada partner seksual. Obat-obatan untuk
menangani herpes genital adalah:

 Asiklovir (Zovirus)
 Famsiklovir
 Valasiklovir (Valtres)

Asiklovir
Pada infeksi HVS genitalis primer, asiklovir intravena (5 mg/kg BB/8 jam selama 5 hari),
asiklovir oral 200 mg (5 kali/hari saelama 10-14 hari) dan asiklovir topikal (5% dalam salf
propilen glikol) dsapat mengurangi lamanya gejala dan ekskresi virus serta mempercepat
penyembuhan.

Valasiklovir
Valasiklovir adalah suatu ester dari asiklovir yang secara cepat dan hampir lengkap berubah
menjadi asiklovir oleh enzim hepar dan meningkatkan bioavaibilitas asiklovir sampai
54%.oleh karena itu dosis oral 1000 mg valasiklovir menghasilkan kadar obat dalam darah
yang sama dengan asiklovir intravena. Valasiklovir 1000 mg telah dibandingkan asiklovir
200 mg 5 kali sehari selama 10 hari untuk terapi herpes genitalis episode awal.

Famsiklovir
Adalah jenis pensiklovir, suatu analog nukleosida yang efektif menghambat replikasi HSV-1
dan HSV-2. Sama dengan asiklovir, pensiklovir memerlukan timidin kinase virus untuk
fosforilase menjadi monofosfat dan sering terjadi resistensi silang dengan asiklovir. Waktu
paruh intrasel pensiklovir lebih panjang daripada asiklovir (>10 jam) sehingga memiliki
potensi pemberian dosis satu kali sehari. Absorbsi peroral 70% dan dimetabolisme dengan
cepat menjadi pensiklovir. Obat ini di metabolisme dengan baik.
Herpes genitalis adalah kondisi umum terjadi yang dapat membuat penderitanya tertekan.
Pada penelitian in vitro yang dilakukan Plotkin (1972), Amstey dan Metcalf (1975), serta
penelitian in vivo oleh Friedrich dan Matsukawa (1975), povidone iodine terbukti merupakan
agen efektif melawan virus tersebut. Friedrich dan Matsukawa juga mendapatkan hasil
memuaskan secara klinis dari povidone iodine dalam larutan aqua untuk mengobati herpes
genital.

Pusat pengawasan dan pencegahan penyakit/CDC (Center For Disease Control and
Prevention), merekomendasikan penanganan supresif bagi herpes genital untuk orang yang
mengalami enam kali atau lebih outbreak per tahun.

Beberapa ahli kandungan mengambil sikap partus dengan cara sectio caesaria bila pada saat
melahirkan diketahui ibu menderita infeksi ini. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum
ketuban pecah atau paling lambat 6 jam setelah ketuban pecah. Pemakaian asiklovir pada ibu
hamil tidak dianjurkan.

Sejauh ini pilihan sectio caesaria itu cukup tinggi dan studi yang dilakukan menggarisbawahi
apakah penggunaan antiviral rutin efektif menurunkan herpes genital yang subklinis, namun
hingga studi tersebut selesai, tak ada rekomendasi yang dapat diberikan.

PENCEGAHAN HERPES GENITALIS

Hingga saat ini tidak ada satupun bahan yang efektif mencegah HSV. Kondom dapat
menurunkan transmisi penyakit, tetapi penularan masih dapat terjadi pada daerah yang tidak
tertutup kondom ketika terjadi ekskresi virus.

Spermatisida yang berisi surfaktan nonoxynol-9 menyebabkan HSV menjadi inaktif secara
invitro. Di samping itu yang terbaik, jangan melakukan kontak oral genital pada keadaan
dimana ada gejala atau ditemukan herpes oral.

Secara ringkas ada 5 langkah utama untuk pencegahan herpes genital yaitu:

1. Mendidik seseorang yang berisiko tinggi untuk mendapatkan herpes genitalis dan PMS
lainnya untuk mengurangi transmisi penularan.
2. Mendeteksi kasus yang tidak diterapi, baik simtomatik atau asimptomatik.
3. Mendiagnosis, konsul dan mengobati individu yang terinfeksi dan follow up dengan tepat.
4. Evaluasi, konsul dan mengobati pasangan seksual dari individu yang terinfeksi.
5. Skrining disertai diagnosis dini, konseling dan pengobatan sangat berperan dalam
pencegahan.

PROGNOSIS HERPES GENITALIS

Kematian oleh infeksi HSV jarang terjadi. Infeksi inisial dini yang segera diobati mempunyai
prognosis lebih baik, sedangkan infeksi rekuren hanya dapat dibatasi frekuensi kambuhnya.

Pada orang dengan gangguan imunitas, misalnya penyakit-penyakit dengan tumor di sistem
retikuloendotelial, pengobatan dengan imunosupresan yang lama, menyebabkan infeksi ini
dapat menyebar ke alat-alat dalam dan fatal.
Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia seperti pada orang dewasa.
Terapi antivirus efektif menurunkan manifestasi klinis herpes genitalis.

KESIMPULAN tentang HERPES GENITALIS

Herpes genital merupakan penyakit infeksi akut pada genital dengan gambaran khas berupa
vesikel berkelompok pada dasar eritematosa, dan cenderung bersifat rekuren. Umumnya
disebabkan oleh herpes simpleks virus tipe 2 (HSV-2), tetapi sebagian kecil dapat pula oleh
tipe 1.

Perjalanan Penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan. Umumnya kelainan
klinis/keluhan utama adalah timbulnya sekumpulan vesikel pada kulit atau mukosa dengan
rasa terbakar dan gatal pada tempat lesi, kadang-kadang disertai gejala konstitusi seperti
malaise, demam, dan nyeri otot.

Diagnosis herpes genital secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel
berkelompok dengan dasar eritem dan bersifat rekuren. Diagnosis dapat ditegakkan melalui
anamnesa, pemeriksaan fisisk jika gejalanya khas dan pemeriksaan laboratorium.

Pengobatan dari herpes genital secara umum bisa dengan menjaga kebersihan lokal,
menghindari trauma atau faktor pencetus. Adapun obat-obat yang dapat menangani herpes
genital adalah asiklovir, valasiklovir, famsiklovir.

Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia seperti pada orang dewasa.

http://www.astaqauliyah.com/blog/read/177/referat-herpes-genitalis.html