You are on page 1of 17

ASUHAN EPERAWATAN PADA PENDERITA TUMOR MATA

Oleh :

Asfin novia ramadhani (P27820714010)

Deffy allif umami huda (P27820714013)

Arif rahmahabimantara (P27820714017)

Addib auladana farekha el-berra (P27820714029)

PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN SURABAYA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SURABAYA

TAHUN 2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas Rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyusun makalah ini yang berjudul “Kperawatan
Medikal Bedah : Asuhan Keperawatan pada Penderita Tumor Mata”.
Dalam proses penyusunan makalah ini, penyusun mengalami banyak
permasalahan. Namun, berkat arahan dan dukungan dari berbagai pihak akhirnya
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Pada kesempatan ini, dengan
segala kerendahan hati, penyusun mengucapkan terima kasih kepada Dosen
Pembimbing Kesehatan Keselamatan Kerja yaitu Bu Siswari Yuniarti SST.p,
SPd.,M.Kes. yang telah membimbing kami dalam proses penyusunan makalah ini.
Penyusun menyadari makalah ini masih belum sempurna, baik dari isi
maupun sistematika penulisannya. Maka dari itu, penyusun berterima kasih apabila
ada kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan rekan-
rekan seperjuangan, khususnya rekan-rekan Program Studi DIV Keperawatan
Gawat Darurat.

Surabaya, 15 Maret 2016

Penyusun
LAPORAN PENDAHULUAN

1. Definisi

Tumor adalah pertumbuhan atau tonjolan abnormal di tubuh. Tumor sendiri


dibagi menjadi jinak dan ganas. Tumor ganas disebut sebagai kanker.
Tumor orbita mata adalah tumor yang menyerang rongga orbita (tempat
bola mata) sehingga merusak jaringan lunak mata, seperti otot mata, syaraf
mata dan kelenjar air mata. Rongga orbital dibatasi sebelah medial oleh tulang
yang membentuk dinding luar sinus ethmoid dan sfenoid. Sebelah superior
oleh lantai fossa anterior, dan sebelah lateral oleh zigoma, tulang frontal dan
sayap sfenoid besar. Sebelah inferior oleh atap sinus maksilaris. (Dr. Syaiful
Saanin, Neurosurgeon)

2. Etiologi

Gejala tumor orbita sulit diketahui karena tumbuh di belakang bola mata.
Umumnya diketahui setelah terjadi penonjolan pada mata, gangguan
pergerakan mata, atau terasa sakit. Tumor orbita dapat disebabkan oleh
berbagai faktor. Penyebab tumor mata terutama faktor genetik. Selain itu sinar
matahari, terutama sinar ultraviolet dan infeksi virus Papiloma. Tumor mata
juga bisa akibat penjalaran dari organ tubuh lain, seperti dari paru, ginjal,
payudara, otak sinus, juga leukemia dan getah bening. Sebaliknya, sel tumor
mata yang terbawa aliran darah sering mencapai organ vital lain seperti paru,
hati atau otak, dan menyebabkan kanker di organ itu. Penderita tumor mata,
kecuali retino blastoma, umumnya berusia 24-85 tahun.Sebagian besar tumor
orbita pada anak-anak bersifat jinak dan karena perkembangan abnormal.
Tumor ganas pada anak-anak jarang, tetapi bila ada akan menyebabkan
pertumbuhan tumor yang cepat dan prognosisnya jelek.

1. Mutasi gen pengendali pertumbuhan (kehilangan kedua kromosom dari satu


pasang alel dominan protektif yang berada dalam pita kromosom 13q14)
2. Malformasi congenital
3. Kelainan metabolism
4. Penyakit vaskuler
5. Inflamasi intraokuler
6. Neoplasma. dapat bersifat ganas atau jinak Neoplasma jinak tumbuh dengan
batas tegas dan tidak menyusup, tidak merusak tetapi menekan jaringan
disekitarnya dan biasanya tidak mengalami metastasis
7. Trauma
3. Patofisiologi

Tumor orbita dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor


genetik yang diyakini ikut berpengaruh terhadap tumbuhnya tumor. Sebagian
besar tumor orbita pada anak-anak bersifat jinak dan karena perkembangan
abnormal. Tumor ganas pada anak-anak jarang, tetapi bila ada akan
menyebabkan pertumbuhan tumor yang cepat dan prognosisnya jelek.

Tumor Orbita meningkatkan volume intraokular dan mempengaruhi masa.


Meskipun masa secara histologis jinak, itu dapat mengganggu pada struktur
orbital atau yang berdekatan dengan mata. Dan bisa juga dianggap ganas
apabila mengenai struktur anatomis. Ketajaman visual atau kompromi
lapangan, diplopia, gangguan motilitas luar mata, atau kelainan pupil dapat
terjadi dari invasi atau kompresi isi intraorbital sekunder untuk tumor padat
atau perdarahan. Tidak berfungsinya katup mata atau disfungsi kelenjar
lakrimal dapat menyebabkan keratopati eksposur, keratitis, dan penipisan
kornea.Pertumbuhan tumor ini dapat menyebabkan metastasis dengan invasi
tumor melalui nervus optikus ke otak, melalui sklera ke jaringan orbita dan
sinus paranasal, dan metastasis jauh ke sumsum tulang melalui pembuluh
darah. Pada fundus terlihat bercak kuning mengkilat, dapatmenonjol ke dalam
badan kaca. Di permukaan terdapat neovaskularisasi dan pendarahan. Warna
iris tidak normal.

4. Klasifikasi

Berdasarkan posisinya tumor mata/orbita dikelompokkan sebagai berikut:

1. Tumor eksternal yaitu tumor yang tumbuh di bagian luar mata seperti:
a. Tumor palpebra yaitu tumor yang tumbuh pada kelopak mata
Misalnya : Tumor Adeneksa, tumor menyerang kelopak mata
(bagian kulit yang dapat membuka dan menutup)
b. Tumor konjungtiva yaitu tumor yang tumbuh pada lapisan
konjungtiva yang melapisi mata bagian depan
2. Tumor intraokuler yaitu tumor yang tumbuh di dalam bola mata
Contoh : Retinoblastoma(RB). Jenis ini adalah tumor ganas retina dan
merupakan tumor primer bola mata terbanyak pada anak.
3. Tumor retrobulber yaitu tumor yang tumbuh di belakang bola mata
5. Manifestasi Klinik

Beberapa tanda dan gejala tumor mata yaitu :

1. Nyeri orbital: jelas pada tumor ganas yang tumbuh cepat, namun juga
merupakan gambaran khas 'pseudotumor' jinak dan fistula karotid-kavernosa
2. Proptosis: pergeseran bola mata kedepan adalah gambaran yang sering
dijumpai, berjalan bertahap dan tak nyeri dalam beberapa bulan atau tahun
(tumor jinak) atau cepat (lesi ganas).
3. Pembengkakan kelopak: mungkin jelas pada pseudotumor, eksoftalmos
endokrin atau fistula karotid-kavernosa
4. Palpasi: bisa menunjukkan massa yang menyebabkan distorsi kelopak atau
bola mata, terutama dengan tumor kelenjar lakrimal atau dengan mukosel.
5. Gerak mata: sering terbatas oleh sebab mekanis, namun bila nyata, mungkin
akibat oftalmoplegia endokrin atau dari lesi saraf III, IV, dan VI pada fisura
orbital (misalnya sindroma Tolosa Hunt) atau sinus kavernosus
6. Ketajaman penglihatan: mungkin terganggu langsung akibat terkenanya saraf
optik atau retina, atau tak langsung akibat kerusakan vaskuler. (Dr. Syaiful
Saanin, Neurosurgeon)
6. Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik
1. Foto polos orbit: mungkin menunjukkan erosi lokal (keganasan), dilatasi
foramen optik (meningioma, glioma saraf optik) dan terkadang kalsifikasi
(retinoblastoma, tumor kelenjar lakrimal). Meningioma sering menyebabkan
sklerosis lokal.
2. CT scan orbit: menunjukkan lokasi tepat patologi intraorbital dan
memperlihatkan adanya setiap perluasan keintrakranial.
3. Venografi orbital: mungkin membantu.

Pemeriksaan diagnostic pada mata secara umum sebagai berikut :

1. Kartu mata Snellen/ mesin telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan


sentral penglihatan) ; mungkin terganggu dengan kerusaakan kornea, lensa,
aqueus atau vitreus Humour, kesalahan refraksi atau penyakit system saraf
atau penglihatan ke retina atau jalan optic.
2. Lapang penglihatan ; penurunanan yang disebabkan oleh CSV, massa tumor
pada hipofisis/ otak, karotis atau patologis arteri serebral atau Glaukoma.
3. Tonografi ; mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg)
4. Gonioskopi ; membantu membedakan sudut terbuka dan sudut tertutup pada
glaukoma.
5. Oftalmoskopi ; mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng
optic, papiledema, perdarahan retina dan mikroanurisme.
6. Pemeriksaan darah lengkah, laju sedimentasi (LED) ; menunjukkan anemia
sistemik / infeksi.
7. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan

Penatalaksanaan tumor orbita bervariasi bergantung pada ukuran, lokasi, dan


tipe tumor seperti :

1. terapi medis (obat-obatan)


2. tindakan yang lebih radikal yaitu mengangkat secara total massa tumor
3. lainnya tidak membutuhkan terapi.
4. radioterapi (sinar) dan kemoterapi.

Penatalaksanaan tumor berdasarkan ganas atau tidaknya tumor yaitu :

1. Tumor jinak memerlukan eksisi, namun bila kehilangan penglihatan


merupakan hasil yang tak dapat dihindarkan, dipikirkan pendekatan
konservatif
2. Tumor ganas: memerlukan biopsi dan radioterapi. Limfoma juga bereaksi
baik dengan kemoterapi. Terkadang lesi terbatas (misal karsinoma kelenjar
lakrimal) memerlukan reseksi radikal.

Pendekatan operatif :
1. Orbital medial, untuk tumor anterior, terletak dimedial saraf optik.
2. Transkranial-frontal, untuk tumor dengan perluasan intrakranial atau
terletak posterior dan medial dari saraf optik.
3. Lateral, untuk tumor yang terletak superior, lateral, atau inferior dari
saraf optik.
8. Komplikasi
1. Glaukoma, adalah suatu keadaan dimana tekanan bola mata tidak normal
atau lebih tinggi dari pada normal yang mengakibatkan kerusakan saraf
penglihatan dan kebutaan.
2. Keratitis ulseratif, yang lebih dikenal sebagai ulserasi kornea yaitu
terdapatnya destruksi (kerusakan) pada bagian epitel kornea.
3. Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada
kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

A. Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Apakah klien mengalami gangguan penglihatan/adanya benjolan pada
mata.
b. Riwayat kesehatan Sekarang
Apakah ada benjolan pada daerah sekitar mata/dahi, ada perasaan yang
tidak nyaman akibat adanya benjolan, nyeri, takut. Tampak benjolan pada
daerah orbita, kaji ukuran benjolan, jenis benjolan (keras, lunak,
mobile/tidak ).
c. Riwayat kesehatan yang lalu
Apakah klien punya riwayat trauma pada mata atau riwayat penyakit
tumor, memiliki faktor resiko penyakit mata (memiliki diabetes, tekanan
darah tinggi, riwayat penyakit mata dalam keluarga seperti glaukoma, atau
mengkonsumsi obat-obatan yang mempengaruhi mata).
d. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang juga pernah terkena penyakit tumor
mata, tumor lain, atau penyakit degeneratif lainnya

2. Pemeriksaan Fisik Fokus


Pemeriksaan Mata : Status lokalis (Visus, koreksi, skiaskopi, tonometri,
kedudukan, pergerakan, Palpebrae Superior, Palpebrae inferior,
Konjungtiva palpabrae, Konjungtiva bulbi, Konjungtiva forniks, skera, iris,
pupil, lensa, funduskopi, refleks fundus, Corpus Vitreum, tens oculi, Sistem
Lakrimalis
3. Pengkajian 11 Fungsional Gordon
a. Berdasarkan pola fungsional Gordon pre operasi
1) Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
a) Tanyakan pada klien bagaimana pemahaman pasien dan keluarga tentang
rencana prosedur bedah dan kemungkinan gejala sisanya yang dikaji
bersamaan dengan reaksi pasien terhadap rencana pembedahan mata.
b) Menanyakan pada klien tentang pengalaman pembedahan, pengalaman
anestesi, riwayat pemakaian tembakau, alkohol, obat-obatan.
c) Biasanya klien mengalami perubahan status kognitif karena pembedahan
yang akan dihadapi.
2) Pola nutrisi metabolik
a) Tanyakan kepada klien bagaimana pola makannya sebelum sakit dan
pola makan setelah sakit?
b) Apakah ada perubahan pola makan klien?
c) Kaji apa makanan kesukaan klien?
d) Kaji riwayat alergi makanan maupun obat-obatan tertentu.
e) Tanyakan kebiasaan makanan yang dikonsumsi klien, apakah klien
sebelumnya jarang mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin
A, dan vitamin E
f) Biasanya klien dengan glaukoma akut akan merasa mual / muntah
3) Pola eliminasi
a) Kaji bagaimana pola miksi dan defekasi klien apakah mengalami
gangguan?
b) Kaji apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi nya?.
4) Pola aktivas latihan
a) Kaji bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari sebelum
menghadapi pembedahan, apakah klien dapat melakukannya sendiri
atau malah dibantu keluarga?
b) Apakah aktivitas terganggu karena gangguan penglihatan yang
dihadapinya?
5) Pola istirahat tidur
a) Kaji perubahan pola tidur klien sebelum menghadapi oprasi, berapa
lama klien tidur dalam sehari?
b) Apakah klien mengalami gangguan dalam tidur, seperti nyeri pada
mata, pusing, dan lain lain.
c) Keadaan pasien yang cemas akan mempengaruhi kebutuhan tidur dan
istirahat (Ruth F. Craven, Costance J Himle, 2000). Pada pasien
preoperasi yang terencana mengalami kecemasan yang
mengakibatkan terjadinya gangguan pola tidur antara 3 – 5 jam,
sedangkan kebutuhan tidur dan istirahat normal adalah antara 7 – 8
jam. (Gunawan L, 2001).
6) Pola kognitif persepsi
a) Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan
penglihatan
b) Apakah klien mengalami kesulitan saat membaca atau melihat
c) Apakah menggunakan alat bantu melihat
d) Bagaimana hasil visus
e) Apakah ada keluhan pusing dan bagaimana gambarannya
f) Klien akan mengalami gangguan penglihatan (kabur/ tak jelas), sinar
terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan
perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa di ruang
gelap. Penglihatan berawan/ kabur, tampak lingkaran cahaya/ pelangi
sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotofobia. Perubahan
kacamata / pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
g) Pada mata tampak kecoklatan atau putih susu pada pupil (katarak).
Pupil menyempit dan merah / mata keras dengan kornea berawan
(glaucoma akut). Peningkatan air mata.
h) Adanya ketidaknyamanan ringan/ mata berair (glaukoma kronis).
Nyeri tiba-tiba/ berat menetap atau tekanan pada sekitar mata, sakit
kepala (glaucoma akut)
7) Pola persepsi diri dan konsep diri
a) Kaji bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang
dideritanya apakah klien merasa rendah diri ?
b) Biasanya klien akan takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan
setelah operasi.
c) Apakah sering merasa marah, cemas, takut, depresi, karena terjadi
perubahan dalam penglihatan.
8) Pola peran hubugan
a) Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama
dirawat di Rumah Sakit dan bagaimana hubungan sosial klien dengan
masyarakat sekitarnya?
b) Pola peran hubungan klien dengan orang lain tergantung dengan
kepribadiannya. Klien dengan kepribadian tipe ekstrovert pada orang
biasanya memiliki ciri-ciri mudah bergaul, terbuka, hubungan dengan
orang lain lancar dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
sekitar. Hal ini akan menyebabkan seseorang lebih terbuka, lebih
tenang serta dapat mengurangi rasa cemas dalam menghadapi pra
operasi.
9) Pola reproduksi dan seksualitas
a) Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan?
b) Apakah ada perubahan kepuasan pada klien berkaitan dengan
kecemasan dan ketakutan sebelum operasi?
c) Pada pasien baik preoperasi maupun postoperasi terkadang mengalami
masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksualnya
10) Pola koping dan toleransi stress
a) Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah?
b) Apakah klien menggunakan obat-obatan untuk menghilangkan stres?
c) Pada pasien pre operasi dapat mengalami berbagai ketakutan . Takut
terhadap anestesi, takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang
ketidaktahuaan atau takut tentang derformitas atau ancaman lain
terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau
ansietas (Smeltzer and Bare, 2002).
11) Pola nilai dan kepercayaan
Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi pembedahan?
b. Pengkajian pola fungsional Gordon Post operasi
1) Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
a) Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang
dideritanya dan pentingnya kesehatan bagi klien?
b) Bagaimana pandangan klien tentang penyakitnya setelah pembedahan?
c) Apakah klien merasa lebih baik setelah pembedahan?
d) Apakah klien mengetahui cara merawat matanya pasca operasi?
2) Pola nutrisi metabolik
a) Tanyakan kepada klien bagaimana pola makannya sebelum sakit dan
pola makan setelah sakit?
b) Apakah ada perubahan pola makan klien?
c) Kaji apa makanan kesukaan klien?
d) Kaji riwayat alergi klien.
e) Kaji apakah klien mengetahui makanan yang dapat mempengaruhi
proses kesembuhan matanya?
f) Biasanya klien akan dipasangi infus, monitor, respirator pasca operasi
3) Pola eliminasi
a) Kaji bagaimana pola miksi dan defekasi klien setelah pembedahan?
b) Apakah mengalami gangguan?
c) Kaji apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi nya?.
4) Pola aktivas latihan
a) Kaji bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari, apakah klien
dapat melakukannya sendiri atau malah dibantu keluarga?
b) Ada beberapa aktivitas atau kegiatan yang dilarang dalam waktu
tertentu pasca operasi.
c) pasca operasi klien dalam posisi tertelentang dan monitor jika terjadi
perdarahan dan adanya penurunan kesadaran
5) Pola istirahat tidur
a) Kaji perubahan pola tidur klien selama sehat dan sakit, berapa lama
klien tidur dalam sehari?
b) Apakah klien mengalami gangguan dalam tidur pasca operasi seperti
nyeri dan lain lain. Biasanya pasien mengalami gangguan tidur karena
nyeri pasca operasi dan menjaga posisi saat tidur.
6) Pola kognitif persepsi
Kaji apakah ada komplikasi pada kognitif, sensorik, maupun motorik
setelah pembedahan, terutama pada mata klien.
7) Pola persepsi diri dan konsep diri
a) Kaji bagaimana klien memandang dirinya pasca operasi?
b) Apakah klien merasa optimis dengan kesembuhan pada matanya?
8) Pola peran hubugan
a) Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama
dirawat di Rumah Sakit pasca operasi?
b) agaimana hubungan social klien dengan masyarakat sekitarnya?
9) Pola reproduksi dan seksualitas
a) Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan?
b) Apakah ada perubahan kepuasan pada klien?
c) Pada klien baik preoperasi maupun postoperasi terkadang mengalami
masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksualnya
10) Pola koping dan toleransi stress
a) Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah, terutama cemas
karena tidak tahu kepastian kesembuhan matanya?
b) Apakah klien menggunakan obat-obatan untuk menghilangkan stres?
11) Pola nilai dan kepercayaan
a) Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi
penyakitnya?
b) Apakah ada pantangan agama dalam proses penyembuhan klien?
No Diagnose Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1 Nyeri b.d adanya setelah mendapat 1. Klien 1. Pantau nyeri secara 1. Mengevaluasi dan memantau nyeri
massa pada mata tindakan melaporkan nyeri komprehensif (lokasi, yang dirasakan klien
keperawatan berkurang dg karakteristik, durasi,
selama 3x24 jam, scala 2-3 frekuensi, kualitas dan faktor
nyeri klien 2. Ekspresi wajah presipitasi).
berkurang atau tenang 2. Gunakan teknik komunikasi 2. Memantau keadaan nyeri klien
hilang 3. klien dapat terapeutik untuk mengetahui
istirahat dan tidur pengalaman nyeri klien
v/s dbn sebelumnya
3. Ajarkan teknik non 3. Mengalihkan rasa nyeri klien
farmakologis (relaksasi,
distraksi dll) untuk mengatasi
nyeri.
4. Memantau keadaan TTV 4. Memantau keadaan klien
klien
5. Kolaborasi pemberian 5. Terapi yang tepat
analgetik untuk mengurangi
nyeri.
2 Gangguan persepsi Setelah mendapat 1. Berpartisipasi 1. Orientasikan pasien terhadap 1. Memberikan peningkatan,
sensori penglihatan tindakan dalam program lingkungan, staf, orang lain di kenyamanan, dan kekeluargaan, serta
berhubungan dengan keperawatan pengobatan. areanya. mampu menurunkan cemas.
gangguan penerimaan selama 3x24 jam, 2. Mengenal 2. Letakkan barang yang 2. Memungkinkan pasien melihat objek
sensori dari organ klien dapat gagguan sensori dibutuhkan atau posisi bell lebih muda dan memudahkan
penerima. mempertahankan dan pemanggil dalam jankauan. panggilan untuk pertolongan bila
ketajaman lapang berkompensasi dibutuhkan.
ketajaman terhadap 3. Dorong mengekspresikan 3. Sementara intervensi dini mencegah
penglihatan tanpa pengobatan. perasaan tentang kehilangan kebutaan, pasien menghadapi
kehilangan lebih 3. Mengidentifikasi/ atau kemungkinan kemungkinan atau mengalami
lanjut. memperbaiki kehilangan penglihatan. pengalaman kehilangan penglihatan
potensial bahaya sebagian atau total. Kehilangan lebih
dalam lanjut dapat dicegah.
lingkungan. 4. Lakukan tindakan untuk 4. Menurunkan bahaya, keamanan,
4. Tanda-tanda vital membantu pasien menangani berhubungan dengan perubahan
normal (Tekanan keterbatasan penglihatan, lapang pandang atau kehilangan
darah: 110-130 contoh: atur perabot/ penglihatan dan akomodasi pupil
mmHg, suhu: permainan, terutama perbaiki terhadap sinar lingkungan.
36,5-37,5 derajat
Celsius, nadi: 60- sinar suram dan masalah
90 x/menit, penglihatan malam.
Respirasi rate:
16-24x/menit)

3 Gangguan citra tubuh setelah dilakukan Menyatakan penerimaan 1. Gali perasaan dan perhatian 1. meningkatkan keterbukaan klien
berhubungan dengan tindakan selama situasi diri. anak terhadap
pembedahan, efek 3x24 jam, klien 2) Memasukkan penampilannya.
samping penanganan, tidak terjadi perubahan konsep 2. Dukung sosialisasi dengan 2. meningkatkan harga diri klien.
factor budaya atau gangguan citra diri diri tanpa harga diri orang-orang disekitar klien.
spiritual yang negatif. 3. Anjurakan untuk memakai 3. menutupi kekurangan dan
berpengaruh pada 3) Tanda-tanda kacamata hitam. meningkatkan citra diri klien
perubahan penampilan. vital normal 4. Beriakan umpan balik positif 4. umpan balik dapat membuat klien
(Tekanan darah: 110- terhadap perasaan anak. berusaha lebih keras lagi mengatasi
130 mmHg, suhu: masalahnya.
36,5-37,5 derajat
Celsius, nadi: 60-90
x/menit, Respirasi
rate: 16-24x/menit)
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth’s. 2008. Textbook of Medical-Surgical Nursing.


Penerbit : LWW, Philadelphia

Carpenito ,Lynda Juall.2006.Buku Saku Diagnosis Keperawatan Ed 10.


Jakarta:EGC

Istiqomah,Indriana N.2005.Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata.


Jakarta:EGC

Sidarta, ilyas.2002.Dasar teknik pemeriksaan dalam ilmu penyakit mata.


Fakultas Kedokteran UI:Jakarta.

Sidarta, ilyas.2002.Ilmu penyakit mata Edisi ke-2 hal. 88-89. Sagung


seto:Jakarta.

Sidarta, ilyas.2005. Kedaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata hal 179-180.


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:Jakarta.