You are on page 1of 8

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Cahaya memang menarik untuk dipelajari. Sejak berabad-abad yang lalu banyak ahli
yang tertarik untuk meneliti cahaya. Sebagai contoh adalah Newton dan Maxwell. Teori
Newton tentang cahaya terkenal dengan teori partikel cahaya sedangkan teori Maxwell
terkenal dengan gelombang elektromagnetik. Fisikawan lain yang juga tertarik akan cahaya
adalah Huygens, Thomas Young, dan Fresnell. Tokoh-tokoh fisika ini cukup banyak
memberikan sumbangan terhadap perkembangan teori tentang cahaya.
Cahaya merupakan radiasi gelombang elektromagnetik yang dapat dideteksi mata
manusia dengan panjang gelombang sekitar 380-750 nm. Karena itu, cahaya selain memiliki
sifat-sifat gelombang secara umum misal dispersi, interferensi, difraksi, dan polarisasi, juga
memiliki sifat- sifat gelombang elektromagnetik, yaitu dapat merambat melalui ruang hampa.
Cahaya dapat dianggap bergerak secara langsung dan instan. Namun, untuk jarak yang sangat
jauh, batas kelajuan cahaya akan memberikan dampak pada pengamatan yang terpantau.
Kecepatan cahaya dalam ruang bebas adalah konstanta dasar alam yang paling penting
dan menarik. Kecepatan cahaya pertama kali diteliti oleh Albert Einstein dalam teori
relativitas khusus, dimana kecepatan cahaya menetapkan batas atas untuk kecepatan yang
dapat diberikan ke objek apapun dan objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya
mengikuti serangkaian hukum-hukum fisika yang jauh berbeda, tidak hanya dari Hukum
Newton, tetapi dari asumsi dasar intuisi manusia. Banyak waktu dan usaha telah
diinvestasikan dalam mengukur kecepatan cahaya. Beberapa pengukuran yang paling akurat
dibuat oleh Albert Michelson antara tahun 1926 dan 1929 menggunakan metode Foucault.
Michelson mengukur kecepatan cahaya dalam udara menjadi 2.99712 x 108 m/detik.
Sehingga dapat disimpulkan kecepatan pada ruang vakum menjadi 2.99796 x 10 8 m/detik.
Oleh karena itu, untuk lebih memahami proses penentuan kecepatan cahaya, maka kami
melakukan eksperimen yang berjudul “Kecepatan Cahaya”.
+

2. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah cara mengukur kecepatan cahaya dengan menggunakan metode Foucault?
2. Berapakah besar kecepatan cahaya yang diukur menggunakan metode Foucault?

3. Tujuan
1. Untuk mengetahui cara mengukur kecepatan cahaya dengan menggunakan metode
Foucault
2. Untuk membuktikan bahwa besarnya kecepatan cahaya dapat diukur dengan
menggunakan metode focault

BAB II
DASAR TEORI
Kecepatan cahaya dalam ruang bebas adalah salah satu konstanta alam paling penting
dan menarik. Berdasarkan sejarah, besarnya kecepatan cahaya yang diperoleh dari
pengukuran yang paling akurat yaitu 2,99712 x 10 8 m/detik. Pengukuran yang dilakukan
yaitu dengan menggunakan metode Foucault, dimana pada percobaan ini menggunakan
cermin putar untuk mengirim cahaya yang telah focus ke cermin tetap. Gambar metode
Foucault dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini
Gambar 1
Metode Foucault

Dalam menggunakan metode Foucault untuk mengukur kecepatan cahaya, perlu


untuk menentukan hubungan yang tepat antara kecepatan cahaya dan perpindahan dari
bayangan titik. Selain itu, variabel eksperimen lain yang berpengaruh yaitu:
 Laju rotasi MR
 Jarak antara MR dan MF
 Perbesaran L2, yang tergantung pada titik fokus L2 dan juga jarak antara L2, L1, and MF.
Untuk pembahasan secara kualitatif dari metode ini dimulai dari penurunan seberkas cahaya
yang meninggalkan laser dan menempuh jalur yang dijelaskan dalam deskripsi kualitatif di atas.
Pertama berkas sinar terfokus ke satu titik di s, kemudian dipantulkan dari MR ke MF dan
kembali ke MR. Sinar kemudian kembali melalui pemecah berkas dan difokuskan kembali ke
suatu titik pada titik s´, yang dapat dilihat melalui mikroskop. Sinar cahaya ini dipantulkan dari
titik tertentu pada MF. Sebagai langkah pertama dalam penurunan, kita harus menentukan
bagaimana titik pantulan pada MF berkaitan dengan sudut rotasi MR.

Gambar 2a
Gambar tersebut menunjukkan jalur dari berkas cahaya, dari laser ke MF, ketika MR
pada sudut θ. Dalam kasus ini, sudut datang yang membentur MR juga θ dan, karena sudut
datang sama dengan sudut pantul, sudut antara sinar datang dan sinar pantul hanya 2 θ .
Seperti ditunjukkan dalam diagram, gelombang cahaya mengenai MF pada titik yang telah
diberi label S.

Gambar 2b

menunjukkan lintasan gelombang cahaya jika cahaya meninggalkan laser pada waktu yang
sedikit terlambat, ketika MR berada di sudut θ 1 = θ + ∆ θ . Sudut datang menjadi θ 1 = θ +
∆ θ, sehingga sudut antara sinar datang dan sinar pantul menjadi 2 θ 1 = 2(θ + ∆ θ). Kali
ini titik dimana gelombang mengenai MF diberi label S1. Jika kita mendefinisikan D sebagai
jarak antara MF dan MR, maka jarak antara S dan S1 dapat dihitung :
S1 - S = D(2 θ 1 - 2 ∆ θ) = D[2(θ + ∆ θ) – 2 θ] = 2D ∆ θ ......................
(1)
Analisis bayangan virtual dari proses tersebut sebagai berikut :
Gambar 3

Dengan MR di sudut θ1, titik S1 berada pada sumbu fokus lensa L2. Titik S berada di
bidang fokus lensa L2, tetapi berjarak ∆ S = S1 - S jauhnya dari sumbu fokus. Dari teori
lensa tipis, kita tahu bahwa objek dengan tinggi ∆ S di bidang fokus L2 akan difokuskan di
bidang pada titik s dengan tinggi (-i/o) ∆ S. Di sini i dan o adalah jarak lensa dari bayangan
dan objek, masing-masing, dan tanda minus berhubungan dengan pembalikan bayangan. Maka,
persamaan untuk perpindahan ( ∆ s´) dari bayangan titik:

Δs '= Δs= ( oi ) ΔS= D+A B ΔS ...................... (2)

∆ S = S1 - S, perpindahan dari bayangan titik yang berkaitan dengan posisi awal dan posisi
selanjutnya dari MR dinyatakan oleh rumus:
2 DA Δθ
Δs '=
D+B ...................... (3)

Karena sudut ∆ θ bergantung pada kecepatan rotasi MR. Maka persamaannya adalah
1 Dω
Δθ=
c
di mana c adalah kecepatan cahaya dan ω adalah kecepatan rotasi cermin dalam radian per
detik. (2D/c adalah waktu yang dibutuhkan gelombang cahaya untuk menempuh jarak dari MR
ke MF dan kembali lagi.
Menggunakan persamaan 4 untuk menggantikan ∆ θ dalam persamaan 3 menghasilkan:
2
4 AD ω
Δs '=
c( D+B) ...................... (5)
Persamaan 5 dapat disusun kembali untuk menghasilkan persamaan akhir dari kecepatan
cahaya :

4 AD 2 ω
c=
( D+B )Δs ' ...................... (6)
dimana:
c = kecepatan cahaya
ω = kecepatan rotasi cermin putar (MR)
A = jarak antara lensa L2 dan lensa L1, dikurangi titik fokus L1
B = jarak antara lensa L2 dan cermin putar (MR)
D = jarak antara cermin putar (MR) dan cermin tetap (MF)
∆ s´ = perpindahan dari bayangan titik

BAB III

METODE PERCOBAAN

1. Alat dan Bahan

OS- 9261 Peralatan Kecepatan cahaya terdiri dari :


1. OS-9263A High Speed Rotating Mirror Assembly
2. Fixed Mirror
3. Measuring Microscope
4. SE-9367 0.5 mW He-Ne Laser
5. OS-9103 One Meter Optics Bench
6. OS-9172 Laser Aligment Bench
7. OS-9142 Optics Bench Couplers
8. OS-9133 Lens (48 mm FL)
9. OS-9135 Lens (252 mm FL)
10. OS-9109 Calibrated Polarized (2)
11. OS-9107 Component Holders (3)
12. OS-8514 Laser Adapter Kit
13. Aligment Jigs (2) – Part Number 648-02230
2. Rancangan Percobaan

3. Variabel-Variabel
1. Variabel Kontrol =
 Jarak antara cermin putar (MR) dengan cermin tetap (MF) atau D
 Jarak antara lensa L2 dan lensa L1 (A), dan
 Jarak antara lensa L2 dan cermin putar (MR) yang disimbolkan dengan B
2. Variabel Manipulasi = Kecepatan rotasi cermin putar (MR)
 Definisi operasional variabel manipulasi:
Kecepatan rotasi cermin merupakan kecepatan cermin setelah diputar secara rotasi
yang diukur dengan menggunakan Basic speed of light apparatus.
3. Variabel Respon = Berkas cahaya yang tertangkap oleh mikroskop pengukur.
 Definisi operasional variabel respon:
Berkas cahaya yang tertangkap oleh mikroskop merupakan hasil dari cahaya yang
telah dipantulkan oleh cermin putar ke cermin tetap dan sebaliknya yang kemudian
terukur dengan menggunakan mikrometer pada mikroskop.
4. Langkah Percobaan
1. Mengatur rangkaian eksperimen sesuai dengan rancangan percobaan yang telah
ditentukan.
2. Dengan peralatan yang telah selaras dan berkas bayangan dari laser sudah dalam
kondisi fokus yang tajam, cermin rotasi diputar kearah CW atau searah jarum jam.
3. Menyesuaikan mikroskop pengukur. Selain itu , mengubah L2 agak miring (sekitar 1-2
° ) untuk mendapatkan bayangan-bayangan yang lebih baik.
4. Memanaskan motor sekitar 600 putaran/detik selama 3 menit.
5. Perlahan-lahan menambah keeceptan rotasi.
6. Menggunakan tombol ADJUST untuk membawa kecepatan rotasi hingga sekitar
1.000/sec. Kemudian menekan tombol MAX REV/SEC dan ditahan. Ketika
kecepatan rotasi stabil, knop mikrometer di mikroskop diputar untuk menyelaraskan
bayangan sinar dengan salib di mikroskopyang tegak lurus dengan arah defleksi.
Merekam kecepatan putaran motor, mematikan motor dan mencatat pembacaan pada
skala mikrometer.
7. Kemudian membalik arah rotasi cermin dengan membalik arah ke CCW. Mmbiarkan
cermin berhenti total sebelum membalik arah. Kemudian mengulangi langkah-
langkah yang sudah dilakukan diatas.
 Hal yang harus diperhatikan.
Tidak melihat langsung ke dalam sinar laser, baik secara langsung maupun yang
direfleksikan dari cermin, juga ketika merubah peralatan, memastikan beam path tidak
berada pada garis melintang di mana seseorang mungkin.