You are on page 1of 34

BAGIAN IKFR LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN JANUARI 2018


UNIVERSITAS HASANUDDIN

FROZEN SHOULDER ET CAUSA POST IMOBILISASI

OLEH :
1. Nur Irma Safitri (C11113039)
2. Faizah Afifah Salim (C11113111)
3. Zulfatul Ain binti Zulkefli (C11113860)

SUPERVISOR PEMBIMBING:
Dr. Imran Safei, Sp.KFR

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018

i
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa:

Nama :
1. Nur Irma Safitri (C11113039)
2. Faizah Afifah Salim (C11113111)
3. Zulfatul Ain binti Zulkefli (C11113860)

Judul Laporan Kasus : Frozen Shoulder Et Causa Post Imobilisasi

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka Kepaniteraan Klinik pada bagian Ilmu Kedokteran

Fisik dan Rehabilitasi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Makassar, Januari 2018


Mengetahui,

Supervisor,

Dr. Imran Safei, Sp.KFR

Koordinator Pendidikan Mahasiswa IKFR

dr. Husnul Mubarak, Sp. KFR

ii
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN …………………………………………………………… ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………… iii
BAB I: PENDAHULUAN ………………………………………….………………..… 1
BAB II: TINJAUAN KEPUSTAKAAN ….…………….……..………………………. 2
II.1 Definisi ..............................…….……………………………………………... 2
II.2 Epidemiologi dan faktor resiko……………………………………………... 3
II.3 Anatomi dan Fisiologi …………………..…………………………………... 4
II.4 Patofisiologi Frozen Shoulder..........……………………………………........ 8
II.5 Klasifikasi…………………………………………………………………..... 9
II.6Tanda dan Gejala……......…………………………………………………... 9
II.7 Diagnosis……………………..…………………………………………….... 11
II.8 Pemeriksaan penunjang……………………………………………….…… 13
II.9 Penatalaksanaan………………………………………………………….... 13
II.10 Komplikasi…………………………………………………………...……. 21
II.11 Prognosis……………………………………………………………....…… 21
DAFTAR PUSTAKA …………………........................................................................ ... 22
BAB III: LAPORAN KASUS …………………………………………………….…… 24
III.1 Identitas Pasien ……………………………………………………….…... 24
III.2 Riwayat penyakit sekarang ………………………………………………. 24
III.3 Riwayat penyakit dahulu ....……………….……………………………… 24
III.4 Status generalis … ……………………………….…….................................. 25
III.5 Diagnosis ……………………………………………………...…………… 28
III.6 Daftar Masalah …………………………………………………………… 29
III.7 Planning Terapi …………………………………………………………..... 29
III.8 Prognosis ……………………………………………….……………….…. 29
III.9 Resume ……………………………………………………………………. 30

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

Frozen shoulder merupakan rasa nyeri yang mengakibatkan keterbatasan lingkup gerak
sendi (LGS) pada bahu. Mungkin timbul karena adanya trauma, mungkin juga timbul secara
perlahan-lahan tanpa tanda-tanda atau riwayat trauma. Keluhan utama yang dialami adalah nyeri
dan penurunan kekuatan otot penggerak sendi bahu dan keterbatasan LGS terjadi baik secara
aktif atau pasif. Frozen shoulder diperkirakan memiliki insidensi 3-5% pada populasi umum dan
sampai 20% pada mereka dengan diabetes. Kejadian puncaknya di antaranya usia 40 dan 60 dan
jarang di luar usia ini kelompok dan pekerja manual dan umum pada wanita. Diabetes adalah
yang paling umum dikaitkan penyakit dengan frozen shoulder dan penderita diabetes memiliki
risiko seumur hidup sebesar 10% -20% dari pengembangan ini kondisi. Pasien dengan bahu beku
memiliki risiko lebih tinggi memiliki beberapa bentuk kondisi prediabetikdengan glukosa puasa
abnormal atau glukosa terganggu uji toleransi (Uppal H S, 2015)

Rehabilitasi merupakan satu cabang ilmu kedokteran yang mengelola secara


komprehensif kecacatan atau keterbatasan fisik akibat penyakit atau cedera yang mengenai
sistem neuromuskuloskeletal dan kardiorespirasi serta gangguan psiko-sosio-vokasional yang
menyertainya. Kecacatan menurut definisi WHO, terdiri dari impairment yaitu gangguan pada
tingkat organ, jaringan atau sistem, disability yaitu gangguan terjadi pada tingkat manusia akibat
dari impairment dan handicap yaitu gangguan atau masalah yang terjadi pada tingkat lingkungan
dan sosial. Rehabilitasi medik merupakan satu tim yang terdiri dari dokter spesialis KFR,
fisioterapis, terapis okupasional, terapis wicara, ahli pembuat ortesa dan protesa, psikolog,
perawat dan pekerja sosial medis. Dokter spesialis KFR dalam menangani penderita dengan
kecacatan fisik memberikan terapi medikamentosa, terapi modalitas dan sarana fisik, alat bantu
jalan dan berbagai macam teknik latihan terapeutik serta tindakan intervensi seperti injeksi
intraartikular dan lain-lain bagi membantu penderita untuk mengembalikan fungsi ke tahap yang
optimal (Hening L, et all, 2015).

1
BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

II.1 Definisi

Frozen shoulder adalah gangguan yang ditandai dengan progresif nyeri dan kekakuan
bahu yang biasanya sembuh secara spontan setelah sekitar 18 bulan. Itu Penyebabnya tetap tidak
diketahui. Fitur histologisnya adalah mengingatkan pada penyakit Dupuytren, dengan aktif
proliferasi fibroblastik pada interval rotator, anterior kapsul dan lintah korosi-humeral. Kondisi
ini terutama terkait dengan diabetes, penyakit Dupuytren, hiperlipidemia, hipertiroidisme,
penyakit jantung dan hemiplegia dan kadang muncul setelah sembuh dari bedah saraf.
(Solomon,2010)

Frozen shoulder dimulai dengan fase yang menyakitkan menyebabkan kekakuan yang
menunjukkan bahwa ada yang awal respon inflamasi yang berkembang menjadi reaksi fibrotik.
Ada beberapa bukti ini terjadi secara histlogi dan ada beberapa kesamaan dengan kontraktur
dalam penyakit Dupuytren. Model saat ini menunjukkan bahwa proliferasi fibroblastik aktif awal
di kapsul sendi bahu nantinya disertai beberapa transformasi fibroblast ke myofibroblast. Hal ini
menyebabkan inflamasi kontraktur bahu mengurangi volume kapsular dan akhirnya membatasi
gerakan glenohumeral. Faktor awal yang menyebabkan pathoanatomi ini kurang dipahami.
Pendekatan saat ini mempertimbangkan peran matriks metaloproteinase dalam konstruksi dari
matriks ekstraselular dan berbagai sitokin yang mengendalikan deposisi kolagen. (Uppal HS,
2015)

Kriteria untuk mendiagnosis seseorang dengan Frozen Shoulder bervariasi, dan ini
menyebabkan masuknya kondisi seperti bursitis subakromial, kalsifikasi tendinitis, dan robekan
rotator cuff parsial. Namun penting bahwa definisi konsensus saat ini tentang Frozen Shoulder
oleh American Shoulder and Elbow Surgeons adalah kondisi etiologi yang tidak pasti yang
ditandai dengan pembatasan gerak aktif bahu dan pasif yang terjadi tanpa adanya bahu intrinsik
yang diketahui. (Zuckerman, 2011)

2
Tidak semua bahu yang kaku atau menyakitkan adalah bahu yang membeku, dan
memang ada beberapa kontroversi mengenai kriteria tersebut untuk mendiagnosis frozen
shoulder kekakuan terjadi dalam berbagai kondisi seperti rematik, pasca trauma dan pasca
operasi. Diagnosis frozen shoulder bersifat klinis, tergantung pada dua ciri khas: (1) pembatasan
gerakan disebabkan nyeri dengan adanya x-ray normal; dan (2) perkembangan alami sampai tiga
kali berturut-turut fase. Saat pasien pertama kali terlihat, sejumlah kondisi harus dikecualikan
seperti infeksi pada penderita diabetes. Sangat penting untuk mengecualikan infeksi. Pada hari
pertama atau dua, tanda-tanda peradangan mungkin tidak ada. Adanya kekakuan pasca trauma.
Setelah bahu parah cedera, kekakuan bisa bertahan selama beberapa bulan. Ini maksimal di awal
dan sedikit demi sedikit berkurang, tidak seperti pola bahu pada frozen shoulder. Kemudian
kekakuan difuse. Jika lengan itu dirawat dengan hati-hati (misalnya setelah fraktur lengan
bawah) bahu mungkin menjadi kaku. Ini menyingkirkan pola karakteristik pada frozen shoulder.
Refleks simpatik distrofi contohnya nyeri bahu dan kekakuan bisa terjadi saat serangan infark
miokard atau stroke. Itu ciri khas yang mirip dengan frozen shoulder tetapi gejala ini adalah
bentuk refleks distrofi simpatik. (Solomon,2010)

II.2 Epidemiologi dan Faktor Resiko

Etiologi dari frozen shoulder akibat capsulitis adhesiva masih belum diketahui dengan
pasti. Adapun faktor predisposisinya antara lain periode immobilisasi yang lama,
akibat trauma, over use, injuries atau operasi pada sendi, hyperthyroidisme,
penyakit cardiovascular,clinical depression dan Parkinson.

Adapun beberapa teori yang dikemukakan AAOS tahun 2007 mengenai frozen shoulder,
teori tersebut adalah :

a. Teori hormonal.

Pada umumnya frozen shoulder terjadi 60% pada wanita bersamaan dengan
datangnya menopause.

b. Teori genetik.

3
Beberapa studi mempunyai komponen genetik dari frozen shoulder, contohnya ada
beberapa kasus dimana kembar identik pasti menderita pada saat yang sama.

c. Teori auto immuno.

Diduga penyakit ini merupakan respon auto immuno terhadap hasil-hasil rusaknya
jaringan lokal.

d. Teori postur.

Banyak studi yang belum diyakini bahwa berdiri lama dan berpostur tegap menyebabkan
pemendekan pada salah satu ligamen bahu.

Frozen Shoulder dapat mempengaruhi kedua bahu, baik secara simultan atau berurutan,
mempunyai prevalensi sebanyak 16% daripada penderita tersebut. Frekuensi Frozen Shoulder
bilateral lebih tinggi pada penderita diabetes daripada mereka yang tidak menderita diabetes.
Pada 14% daripada penderita, walaupunFrozen Shoulder masih aktif di bahu awal, bahu
kontralateral juga terpengaruh. Frozen Shoulder kontralateral biasanya terjadi dalam waktu 5
tahun setelah onset penyakit. Frozen Shoulder yang relaps di bahu yang sama adalah jarang.
Sebagian besar cerebrovascular accident (CVA) yang menyebabkan hemiplegia mengalami
kekakuan pada bahu. Frozen Shoulder paling sering mempengaruhi orang yang berusia lebih dari
40 tahun, dan 70% penderita dengan Frozen Shoulder adalah perempuan.

II.3 Anatomi dan fisiologi bahu.

Bahu manusia adalah sendi paling mobile di tubuh. Mobilitas ini memberikan ekstremitas
atas dengan rentang gerak yang luar biasa seperti adduksi, penculikan, fleksi, ekstensi, rotasi
internal, rotasi eksternal, dan pelepasan 360 ° pada bidang sagital. Sendi bahu (glenohumeral
joint) merupakan persendian pada ekstremitas superior yang memiliki ROM (Range of
Movement) yang sangat luas karena fungsinya yang vital terhadap kehidupan sehari-hari. Sendi
bahu secara anatomi merupakan sendi peluru (synovial ball and socket joint) yang terdiri atas
bonggol sendi dan mangkok sendi. Cavitas sendi bahu sangat dangkal sehingga memungkinkan
seseorang untuk dapat menggerakan lengannya secara bebas. Sendi bahu dibentuk oleh tulang
scapula dan humerus.

4
Sendi glenohumeral dibentuk oleh caput humerus dan cavitas glenoidalis yang diperluas
dengan adanya jaringan fibrokartilago (labrum glenoidalis) pada tepi cavitas glenoidalis. Kapsul
sendi yang longgar ini memungkinkan terjadinya gerakan yang luas. Proteksi terhadap sendi ini
dilakukan oleh acromion, procecus coracoideus, dan ligamen-ligamen. Tegangan otot diperlukan
untuk mempertahankan agar caput humerus selalu terjaga pada cavitas glenoidalisnya. Ligamen-
ligamen yang memperkuat sendi glenohumeral, yaitu ligamen glenoidalis, ligamen humeral
transversum, ligamen coracohumeral, dan ligamen coracoacromiale, serta kapsul sendi yang
melekat pada cavitas glenoidalis dan collum anatomicum humerus.

Gambar II.3 1 : Anatomi sendi bahu

5
Gerakan dari kompleks sendi bahu adalah fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, rotasi internal, dan
rotasi ekstrnal (Reese N B, 2017).

Gambar II.3.2 : Gerakan Abduksi dan Adduksi

Abduksi : Elevasi humerus pada glenoid (bidang frontal). Normal 165-190 derajat

Adduksi : Gerakan humerus pada glenoid (arah medial). Normal 25 derajat

Gambar II.3.3 : Gerakan fleksi

Gerakan Fleksi : Gerakan humerus ke depan, ke atas pada glenoid (bidang sagittal).

Normal 160- 190 derajat.

6
Gambar II.3.4: Gerakan Ekstensi.

Gerakan Ekstensi : Gerakan humerus ke belakang, ke atas pada glenoid (bidang


sagittal). Normal 60-90 derajat

Gambar II.3.5 : Gerakan rotasi internal dan eksternal

Gerakan Rotasi Internal : Gerakan rotasi humerus pada glenoid (ke medial). Normal 90
derajat.

Gerakan Rotasi Eksternal : Gerakan rotasi humerus pada glenoid (ke lateral). Normal
70-90 derajat.

7
II.4 Patofisiologi Frozen Shoulder

a. Kapsul dan ligamen sendi

Penyebab utama pembatasan pergerakan nyeri pada Frozen Shoulder adalah kontraktur
inflamasi dari kapsul sendi. Ini bisa terjadi selama pelepasan kapsul arthroskopik pada pasien
dengan Frozen Shoulder yang rekalsitran. Seseorang yang mengalami inflamasi pada sinovium
paling sering terjadi di daerah interval rotator dan kapsul sendi menebal. Peningkatan jumlah
kolagen dalam kapsul sendi, dan peradangan merupakan faktor penting yang mengarah kepada
kekakuan, nyeri, dan fibrosis kapsul. Fibrosis, degenerasi fibrinoid, dan hyalinisasi dalam kapsul
interval rotator dan coracohumeral ligamen pasien dengan kekakuan bahu yang rekalsitran.
Dalam sebuah studi imunohistokimia, ditemukan kolagen tipe-III di kapsul anterosuperior
Frozen Shoulder, menunjukkan pengendapan baru kolagen. Mereka juga melaporkan pewarnaan
sel dan matriks untuk ‘transforminggrowth factor’(TGF)-beta, faktor pertumbuhan turunan
trombosit atau ‘platelet-derived growth factor’(PDGF), dan faktor pertumbuhan hepatosit lebih
besar pada Frozen Shoulder daripada nonspesifik sinovitis, menunjukkan proses fibrotik di
Frozen Shoulder. (Tamai, 2014)

b. Synovium

Terdapat sejumlah besar penelitian yang telah dilakukan untuk mengkarakterisasi


mikroskopis patologi dan temuan histokimia glenohumeral (tendonitis bicipitalis, inflamasi
rotator cuff, fracture) dan sinovium subakromial di Frozen Shoulder. Tidak ada multiplasi
lapisan sinovial superfisial mahupun sinoviosit interleukin (IL) -1a-positif, dan tidak ada
peradangan di sinovium pada Frozen Shoulder primer. Sebaliknya, berbagai sitokin pro-
inflamasi seperti faktor nekrosis tumor (TNF) -alpha, IL-1 alpha, IL-1 beta, dan IL-6 pada
sinovium Frozen Shoulder, selain itu faktor pertumbuhan yang berhubungan dengan proses
fibrotic seperti TGF-beta, PDGF, dan faktor pertumbuhan fibroblst (AFGF, dan bFGF). Sitokin
pro-inflamasi dikenalpasti muncul dalam glenohumeral dan sinovium subakromial. Adanya sel
sistem kekebalan tubuh, yaitu, B-limfosit,T-limfosit dan makrofag, serta adanya sel mast pada
synovium dan kapsul rotator memberi cadangan imunologis di Frozen Shoulder. Angiogenesis
dan neurogenesis diketahui terjadi pada lapisan subsynovial. Molekul yang berhubungan dengan
mekanik stres juga muncul di sinovium Frozen Shoulder. (Tamai, 2014)

8
Meskipun melibatkan kapsul sinovial dan glenohumeral, sebagian besar penyakit ini juga
melibatkan struktur di luar sendi glenohumeral. Struktur ini dapat mencakup ligamen
coracohumeral, interval rotator, unit otot sel subskapular dan bursa subakromial. (Laubscher,
2009)

II.5 Klasifikasi

Lundberg mengklasifikasikan frozen shoulder menjadi dua, yaitu primer dan sekunder.

Kelompok primer : adalah yang paling sering terjadi dan bersifat idiopatik. Bahu dapat
dielevasi <135 deg dan gerakan terbatas ada articulation gleno-humeral. Hasil radiologi
selalunya didapatkan normal dan penyebab lain adalah disebabkan oleh osteoarthritis,
rheumatoid arthritis, hemiplegia dan lain-lain.

Kelompok sekunder: diakibatkan oleh perkembangan suatu penyakit yang meliputi


sistem saraf pusat, immobilisasi extremitas atas, trauma lengan, kanker atau infeksi pulmonari,
infark myocard, infus IV yang terlalu lama, diabetes mellitus, rheumatoid arthritis, dan lainnya.
Trauma minor atau suatu serangan inflamasi dapat menyebabkan nyeri yang nantinya
menyebabkan restriksi gerakan pada frozen shoulder. Dari sekian penyebab tersebut, yang paling
sering berhubungan dengan frozen shoulder sekunder adalah diabetes mellitus (10%-36%).
Insidensinya baik pada DM tipe 1 dan 2 adalah sama. Frozen shoulder pada pasien pengidap DM
lebih parah dan resisten terhadap terapi.

II.6 Tanda dan gejala

Berdasarkan artikel dari American Academy of Orthopaedic Surgeon, frozen shoulder


dibahagikan pada tiga fase yaitu fase freeze,frozen dan thawing.

Fasa Penerangan
Pain (freezing) Ditandai dengan adanya nyeri hebat
bahkan saat istirahat, memberat saat
malam hari, gerak sendi bahu menjadi
terbatas selama 2-3 minggu dan masa akut
ini berakhir sampai 10- 36 minggu.

9
Stifness (frozen) Ditandai dengan rasa nyeri saat bergerak,
kekakuan atau perlengketan yang nyata
dan keterbatasan gerak dari glenohumeral
yang di ikuti oleh keterbatasan gerak
scapula. Fase ini berakhir 4-12 bulan.
Recovery (thawing) Pada fase ini tidak ditemukan adanya rasa
nyeri dan tidak ada synovitis tetapi
terdapat keterbatasan gerak karena
perlengketan yang nyata. Fase ini berakhir
6-24 bulan atau lebih.

10
II.7 Diagnosis

1. Anamnesis

Pada penderita ‘frozen shoulder’ didapatkan keluhan nyeri di bagian depan dan samping
bahu,sehingga penderita tidak dapat menyisir rambut maupun keluhan keterbatasan gerak
lainnya.

2. Pemeriksaan fisik

Frozen shoulder merupakan gangguan pada kapsul sendi,maka gerakan aktif maupun
pasif terbatas dan nyeri. Nyeri dapat menjalar ke leher, lengan atas dan punggung, perlu dilihat
faktor pencetus timbulnya nyeri. Gerakan pasif dan aktif terbatas, pertama – tama pada gerakan
elevasi dan rotasi interna lengan, tetapi kemudian untuk semua gerakan sendi bahu (Roberts J,
2017).

3. Pemeriksaan spesifik

Tes Appley scratch merupakan tes yang berguna untuk mengevaluasi lingkup gerak sendi
aktif pasien. Pasien diminta menggaruk daerah angulus medialis scapula dengan tangan sisi
kontra lateral melewati belakang kepala (Woodward dan Best, 2005). Pada Frozen shoulder
pasien tidak dapat melakukan gerakan ini. Bila sendi dapat bergerak penuh pada bidang geraknya
secara pasif, tetapi terbatas pada gerak aktif, maka kemungkinan kelemahan otot bahu sebagai
penyebab keterbatasan (Malanga, 2017).

Gambar II.7.1 : Appley’s scratch test

11
Jobe (empty can) test merupakan pemeriksaan untuk mengevaluasi kekuatan otot
supraspinatus. Pemeriksaan ini dilakukan dengan posisi kedua bahu pasien abduksi 90 derajat,
kemudian adduksi secara horizontal sebanyak 30 derajat, dan kemudian internal rotasi supaya
ibu jari menunjukkan ke bawah. Pemeriksa akan memberi tahanan yang berlawanan pada pasien
daripada melakukan gerakan abduksi. Tes positif apabila pasien mengeluhkan rasa nyeri dan ada
kelemahan otot pada posisi ini. (Malanga, 2017)

Gambar II.7.2 : Jobe (empty can) test

Speed test merupakan pemeriksaan untuk mengevaluasi ada tidaknya tendinitis biceps.
Pemeriksa akan memberikan tahanan terhadap pergerakan fleksi lengan yang dilakukan oleh
pasien dengan posisi siku ekstensi dan supinasi pada lengan. Tes positif apabila nyeri dirasakan.
(Frontera,2015)

Gambar II.7.3: Speed Test

12
II.8 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Radiologi

Berdasarkan artikel dari American Academy of Orthopaedics Surgeon , pemeriksaan


radiologi pada pasien dengan nyeri bahu di indikasikan sebagai pemeriksaan yang mendukung
diagnosis. Terdapat dua jenis pemeriksaan yaitu radiologi awal dan radiologi lanjutan.
Pemeriksaan radiologi awal berupa radiografi atau foto polos standar posisi anteroposterior,
scapular Y, dan axillary view. Foto polos merupakan pilihan untuk melihat adanya osteoarthritis
sendi AC atau sendi glenohumeral, tendinitis kalsifikasi, sclerosis subacromion akibat kelainan
rotator cuff kronik, dan fraktur avulsi glenoid inferior. Pemeriksaan radiologi lainnya jika
diperlukan adalah pemeriksaan MRI bahu.

II.9 Penatalaksanaan

Frozen shoulder biasanya akan sembuh dengan sendiriya namun akan memakan waktu
yang lama, kadang hingga 2-3 tahun. Pengobatan untuk mengontrol nyeri dan memulihkan
pergerakan.

Edukasi yang baik kepada pasien dapat membantu mengurangi rasa frustasi dan memberikan
semangat. Suatu penjelasan bahwa kondisi tersebut akan secara spontan teratasi dan kekakuan
akan menghilang seiring waktu terbukti membantu psikologi pasien. Namun perlu juga
diingatkan bahwa cakupan gerak bahu tidak akan dapat pulih sepenuhnya.

1. Terapi Medikamentosa

-Anti inflamasi NSAID

Beberapa peneliti telah melaporkan adanya komponen inflamasi pada frozen shoulder
syndrome. Oleh karena itu, penggunaan obat-obat nonsteroid dalam tahap pengobatan awal
frozen shoulder dianjurkan. Pemberian obat-obatan nonsteroid dapat mengurangi peradangan dan
nyeri dan pasien lebih mampu mentolerir terapi fisik yang agresif. Sebelum pasien yang
diresepkan obat, sebaiknya dilakukan anamsesis terlebih dahulu apakah pasien kontraindikasi
terhadap obat-obatan nonsteroid (Roberts J, 2017)

13
-Kortikosteroid oral

Kortikosteroid oral dapat diresepkan sebagai pengganti NSAID, karena memberi efek
antiinflamasi yang lebih kuat, namun sebaiknya tidak diberikan secara rutin karena potensi efek
sampingnya. Penggunaan kortikosteroid oral dosis rendah direkomendasikan hanya pada kasus
frozen shulder refraktori parah yang telah ada untuk jangka waktu lama (yaitu lebih dari 2
bulan) atau menyebabkan rasa sakit yang signifikan. Meskipun kortikosteroid oral memberikan
manfaat jangka pendek yang signifikan, efeknya mungkin tidak dipertahankan melebihi 6
minggu.

Karena potensi efek samping kortikosteroid, pasien harus benar-benar ditanyai mengenai
riwayat kesehatan masa lalu, termasuk diabetes mellitus. Diabetes mellitus bukanlah
kontraindikasi mutlak terhadap penggunaan kortikosteroid oral, namun mengingat potensi efek
hiperglikemik dari kortikosteroid, agen ini harus digunakan dengan bijaksana dan glukosa darah
pasien harus dipantau secara ketat.

Steroid oral biasanya diberikan dalam kursus prednisone 3 minggu yang meruncing,
meskipun pengobatannya mungkin berkisar 2-6 minggu. (Roberts J,2017)

-Suntikan kortikosteroid

Injeksi kortikosteroid lokal dapat digunakan bersamaan dengan NSAID oral atau
kortikosteroid oral. Penelitian telah menunjukkan 20 mg triamcinolone sebagai dosis optimal.
Injeksi intra-artikular atau subakromial memiliki khasiat yang sama. Sampai saat ini, tidak ada
penelitian yang menunjukkan bahwa suntikan yang dipandu gambar memiliki hasil yang
superior. Suntikan kortikosteroid memberikan penghilang nyeri yang cepat yang biasanya
berlangsung selama 6 minggu. Hasil jangka panjang serupa dengan plasebo. Efek samping harus
dipertimbangkan. Injeksi triamcinolonone dapat menyebabkan sindrom Cushing pada pasien
protease inhibitor (ritonavir / norvir). Berikan suntikan dengan hati-hati pada pasien yang
menderita diabetes. (Roberts J,2017)

14
-Terapi Panas

Efek terapi dari pemberian panas lokal, baik dangkal maupun dalam, terjadi oleh adanya
produksi atau perpindahan panas. Pada umumnya reaksi fisiologis yang dapat diterima sebagai
dasar aplikasi terapi panas adalah bahwa panas akan meningkatkan viskoelastik jaringan kolagen
dan mengurangi kekakuan sendi. Panas mengurangi rasa nyeri dengan jalan meningkatkan nilai
ambang nyeri serabut-serabut saraf. Efek lain adalah memperbaiki spasme otot, meningkatkan
aliran darah, juga membantu resolusi infiltrat radang, edema, dan efek eksudasi (Goldfried,
2008).

Modalitas lain yang digunakan adalah short wave diathermy. Disini digunakan arus listrik
dengan frekuensi tinggi dengan panjang gelombang 11m yang diubah menjadi panas sewaktu
melewati jaringan.Pada umumnya pemanasan ini paling banyak diserap jaringan dibawah kulit
dan otot yang terletak dipermukaan (Goldfried, 2008).

2.Terapi Bedah

Terapi bedah disediakan untuk pasien yang tidak menanggapi manajemen konservatif dan
harus ditunda selama mungkin.

Sebuah subkelompok pasien dengan sindroma frozen shoulder gagal membaik meski diobati
dengan terapi nonsurgical agresif dan pengobatan. Pasien ini sering disebut memiliki frozen
shoulder refraktori atau kaku. Secara khusus, pasien-pasien ini menunjukkan sedikit perbaikan
pada nyeri bahu dan gerak selama periode 3 bulan, meskipun menggunakan tindakan nonoperatif
yang agresif, termasuk pengobatan dan terapi fisik. Dalam kasus refrakter ini, teknik yang lebih
invasif (misalnya manipulasi, artritis distensi, pelepasan bedah terbuka) mungkin diperlukan.
Namun, hasil dengan prosedur invasif ini terbukti setara dengan pengobatan konservatif (Roberts
J, 2017).

3. Terapi non medikamentosa

Berdasarkan artikel dari Harvard Health Publishing, latihan peregangan biasanya merupakan
batu penjuru untuk mengobati bahu beku. Selalu hangatkan bahumu sebelum melakukan latihan.

15
Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mandi air hangat atau mandi selama 10
sampai 15 menit. Anda juga bisa menggunakan pad pemanas lembab atau handuk basah yang
dipanaskan di microwave, tapi mungkin tidak efektif. Dalam melakukan latihan berikut,
peregangan sampai titik tegang tapi tidak terasa sakit.

a) Peregangan pendulum

Lakukan latihan ini dulu. Tenanglah bahumu. Berdiri dan ramping sedikit, membiarkan
lengan yang terkena untuk menggantung. Ayunkan lengan ke dalam lingkaran kecil - sekitar satu
kaki dengan diameter. Lakukan 10 putaran di setiap arah, sekali sehari. Saat gejala Anda
membaik, tingkatkan diameter ayunan Anda, tapi jangan memaksakannya. Bila Anda siap untuk
lebih, tingkatkan peregangan dengan menahan bobot ringan (tiga sampai lima pon) di lengan
ayun.

Gambar II.9.1 : peregangan pendulum

b) Peregangan handuk

Pegang satu ujung handuk tiga kaki di belakang punggung Anda dan ambil ujung yang
berlawanan dengan tangan Anda yang lain. Pegang handuk pada posisi horizontal. Gunakan

16
lengan baik Anda untuk menarik lengan yang terkena ke atas untuk meregangkannya. Anda juga
bisa melakukan versi lanjutan dari latihan ini dengan handuk yang menutupi bahu Anda. Pegang
bagian bawah handuk dengan lengan yang terkena dan tarik ke arah punggung bawah dengan
lengan yang tidak terpengaruh. Lakukan ini 10 sampai 20 kali sehari.

Gambar II.9.2: Peregangan Handuk

c) Jari-jari berjalan

Pandanglah dinding tiga perempat dari jarak lengan. Jangkau dan sentuh dinding di tingkat
pinggang dengan ujung jari lengan yang terkena. Dengan siku sedikit membungkuk, pelan-pelan
turunkan jari ke dinding, seperti laba-laba, sampai Anda mengangkat lengan sejauh mungkin.
Jari Anda seharusnya melakukan pekerjaan, bukan otot bahu Anda. Perlahan turunkan lengan
(dengan bantuan lengan yang baik, jika perlu) dan ulangi. Lakukan latihan ini 10 sampai 20 kali
sehari.

17
Gambar II.9.3 : Jari Berjalan

d) Cross-body reach

Duduk atau berdiri. Gunakan tangan kanan Anda untuk mengangkat lengan yang terkena
pada siku, dan pasang ke atas dan ke seluruh tubuh Anda, dengan menggunakan tekanan lembut
untuk meregangkan bahu. Tahan peregangan selama 15 sampai 20 detik. Lakukan ini 10 sampai
20 kali per hari.

Gambar II.9.4 : Cross Body Reach

18
e) Peregangan ketiak

Dengan menggunakan lengan Anda yang baik, angkat lengan yang terkena ke rak sekitar
payudara. Perlahan tekuk lutut Anda, buka ketiak. Kuatkan lutut Anda sedikit, dengan lembut
peregangan ketiak, lalu luruskan. Dengan setiap tikungan lutut, rentangkan sedikit lebih jauh,
tapi jangan memaksanya. Lakukan ini 10 sampai 20 kali setiap hari.

Seiring rentang gerak anda meningkat, tambahkan latihan penguatan manset rotator. Pastikan
untuk menghangatkan bahu dan melakukan latihan peregangan sebelum melakukan latihan
penguatan.

Gambar II.9.5 : Peregangan ketiak

f) Rotasi ke luar

Pegang pita latihan karet di antara tangan Anda dengan siku di sudut 90 derajat di dekat sisi
tubuh Anda. Putar bagian bawah lengan yang terkena ke luar dua atau tiga inci dan tahan selama
lima detik. Ulangi 10 sampai 15 kali, sekali sehari.

19
Gambar II.9.6 : Rotasi ke luar

g) Rotasi ke dalam

Berdirilah di samping pintu yang tertutup, dan kaitkan salah satu ujung pita latihan karet di
sekitar kenop pintu. Pegang ujung satunya dengan tangan lengan yang terkena, pegang siku
Anda pada sudut 90 derajat. Tarik pita ke tubuh Anda dua atau tiga inci dan tahan selama lima
detik. Ulangi 10 sampai 15 kali, sekali sehari.

Gambar II.9.7 : Rotasi ke dalam

20
II.10 Komplikasi

Komplikasi utama yang timbul dari capsulitis perekat adalah kekakuan atau nyeri bahu
residual. Beberapa laporan menunjukkan bahwa kebanyakan pasien mungkin terus mengalami
nyeri dan / atau kekakuan hingga 3 tahun setelah perawatan konservatif. Selain itu, fraktur
humerus, pecah tendon biseps, dan ruptur tendon subskapular telah dilaporkan setelah
manipulasi bahu. (Roberts J, 2017)

II.11 Prognosis

Hasil pengobatan konservatif bersifat subyektif baik, sebagian besar pasien akhirnya
sembuh tanpa rasa sakit dan fungsi yang memuaskan; Namun, pemeriksaannya adalah cenderung
menunjukkan beberapa pembatasan sisa gerakan (terutama rotasi eksternal) di lebih dari 50
persen kasus (Solomon,2010).

21
DAFTAR PUSTAKA

American Association Orthopaedic Surgeon, 2011, Frozen Shoulder,


http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=a00071 pada 17 oktober 2017

Frontera R W, 2015. Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation. Musculoskeletal


Disorders, Pain and Rehabilitation. Third Edition. Elseviers,Saunders.

Harvard Health Publishing. 7 stretching and strengthening exercises for frozen shoulder.
https://www.health.harvard.edu/shoulders/stretching-exercises-frozen-shoulder Pada17 Oktober
2017

Hening L, 2013. Buku Ajar Dokter Muda. Ilmu Kedokteran Fisik Dan Rehabilitasi. Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya.

Hoffman C, Rice D, Sung HY. Person with chronic conditions: their prevalence and costs.
JAMA 1996;276: 1473-9.

Kartika Dewi, 2011. Akupunktur Sebagai Terapi Pada Frozen Shoulder. Jurnal Fisoterapi. Studi
Akupunktur/Biologi, FakultasKedokteran, Universitas KristenMaranatha

Laubscher PH. Frozen shoulder: A review.SA Orthopaedic Journal 2009;25(1):1-3

Lundberg BJ. Frozen Shoulder: Lundberg Classification 1969; 119: 1-59.

Malanga G A, 2017. Musculoskeletal Physical Examination. An Evidence Based Approach. 2nd


Edition. Elsevier.

Mudatsir, 2002, Penulisan Pengaruh TENS dan Latihan Konvensral Pada Nyeri Frozen
Shoulder diROSS.

Roberts J R. Adhesive Capsulitis : Frozen Shoulder.


https://emedicine.medscape.com/article/1261598-treatment#d13 pada 17 oktober 2017

Sudarma, 2011. Penambahan Traksi MaximalyLose Pack Position Glenohumeral Pada


Intervensi Micro Wave Diathermy Dan Ultrasound Mengurangi Nyeri Frozen Shoulder, Jurnal

22
fisioterapi, Program StudiFisoterapi, Fakultas Kedokteran
Universitas Udayana Denpasar.

Pearce, C.E. 2002 ;Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis ; PT Gramedia PustakaUmum.

Reese N B, 2017. Joint Range of Motion and Muscle Length Testing. 3rd Edition. Elsevier.

Stanley & Beare. 2007. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Edisi 2.Jakarta: EGC.

Solomon L, 2010. Apley’s System of Orthopaedics and Fractures. United Kingdom,UK,


Hachette UK Company.

Tamai K, Akutsu M, Yano Y. Primary Frozen Shoulder: Brief Review Of Pathology And
Imaging Abnormalities. The Japanese Orthopaedic Association 2014; 19:1–5

Thomson, Ann M., 1991. Tidy’s physiotherapy, 12th ed,Butterworth-Heinemann. Ware JE,
Sherbourne CD. The MOS 36 - Item Short Form Health Survey (SF 36). Conceptual
Framework and Item selection. Medical Care. 1992; 30:473.

Uppal H S. Frozen Shoulder : A systemic review of therapeutic options. 2015 March. 18; 6 (2):
263-268

Zuckerman JD, Rokito A. Frozen Shoulder: A Consensus Definition. J Shoulder Elbow Surg.
2011 Mar. 20 (2):322-5

23
BAB III
LAPORAN KASUS

III.1 Identitas Pasien


• Nama : Ny. S
• Umur : 35 tahun
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Alamat : Tamalanrea
• Pendidikan : S1
• Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
• Suku : Bugis
• Agama : Islam
• Tgl pemeriksaan : 5 Januari 2018

III.2 Anamnesis
a. Keluhan Utama: Nyeri Bahu Kiri
b. Riwayat penyakit sekarang:
Nyeri bahu kiri dirasakan sejak ± 6 bulan yang lalu. Nyeri hilang timbul, nyeri
muncul saat mengangkat tangan dan hilang/berkurang saat tangan diturunkan. Nyeri
menjalar ke belakang siku. Nyeri mulai dirasakan di bahu kanan setelah pasien terjatuh
dengan posisi bahu kiri di bawah dan menyebabkan patah tulang lengan atas kiri pada
bulan Mei 2017. Kemudian pasien menjalani operasi pada bahunya karena mengalami
patah tulang pada bulan Mei 2017 juga. Dari bulan Mei sampai Juli 2017 pasien tidak
pernah menggerakkan bahunya karena merasa takut akan terjadi patah tulang kembali.
Sebelumnya pasien sering melakukan pekerjaan di rumah sebagai ibu rumah tangga
seperti mencuci piring. Saat ini pasien sudah tidak mengonsumsi anti nyeri.

c. Riwayat penyakit dahulu


 Hipertensi tidak ada
 DM dan penyakit jantung disangkal
 Riwayat berobat TB tidak ada

24
d. Riwayat penyakit keluarga
 Riwayat Hipertensi, DM, dan penyakit jantung disangkal
 Riwayat keluhan yang sama tidak ada

III.3 Anamnesis Fungsional


a. Barthel Index (Pasien right handed)
1. Makan : Perlu bantuan (1)
2. Mandi : Mandiri (1)
3. Merawat diri : Mandiri untuk wajah/rambut/gigi (1)
4. Berpakaian : Perlu bantuan (1)
5. Buang air besar : Tidak mandiri (0)
6. Buang air kencing : Tidak mandiri (0)
7. Menggunakan toilet : Kadang-kadang mandiri (1)
8. Bergerak : Mandiri (3)
9. Mobilitas : Mandiri (3)
10. Tangga : Mandiri (2)
Total : 13

III.4 Pemeriksaan Fisis


a. Status generalis
• Keadaan umum: Sakit ringan
• Kesadaran : Compos Mentis, GCS 15 (E4M6V5)
• Tanda Vital :
▫ Tekanan darah = 120/80 mmHg;
▫ Nadi = 88 x/menit;
▫ Respirasi = 20 x/menit;
▫ Suhu = 36,7 oC
• VAS skor : 3/10

25
• Tinggi Badan : 160 cm
• Berat Badan : 58 Kg
• IMT : 22,6 (normal)
• Kepala : Anemis (-) Ikterus (-)
• Jantung : BJ I/II murni reguler, bising(-)
• Paru : BP vesikuler, RH/WH (-)
• Abdomen : Peristaltik (+) kesan normal, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
• Ekstremitas :
▫ Ekstremitas atas:
 Shoulder: atrofi (-/-), deformitas (-/-), udem (-/-), kalor (-/-), nyeri
tekan (-/-)
 Elbow, wrist, finger: normal
▫ Ekstremitas bawah: normal

b. Pemeriksaan Muskuloskleletal
PART OF MM
MOVEMENT ROM MUSCLES
BODY T
Upper Extremity
0
Shoulder Flexion Limited (0-130 )/Full (0-1650) Flexor 5/5
0 0
Extension Full (0-60 )/Full (0-60 ) Extensor 5/5
0 0
Abduction Limited (0-150 )/Full (0-170 ) Abductor 5/5
0 0
Adduction Full (0-50 )/Full (0-50 ) Adductor 5/5
0 0
External Rotation Limited (0-60 )/Full (0-85 ) External Rotator 5/5
0 0
Internal Rotation Limited (0-60 )/Full (0-80 ) Internal Rotator 5/5

26
Elbow Flexion 145° / 145° Flexor 5/5
Extension 180° / 180° Extensor 5/5
Supination 80° / 80° Supinator 5/5
Pronation 75° / 75° Pronator 5/5
Flexion 75° / 75° Flexor 5/5
Wrist Extension 75° / 75° Extensor 5/5
Radial Deviation 20° / 20° Deviator Radial 5/5
Ulnar Deviation 35° / 35° Deviator Ulnar 5/5
Fingers I IP 85-90° / 85-90°
Flexion Flexor 5/5
MCP 50-55° / 50-55°
IP 0-5° / 0-5°
Extension Extensor 5/5
MCP 0° / 0°
Abduction 60-70° / 60-70° Abductor 5/5
Adduction 30° / 30° Adductor 5/5
II DIP 80-90° / 80-90°
Flexion PIP 100-115° / 100-115° Flexor 5/5
MCP 85-90° / 85-90°
DIP 20° / 20°
Extension PIP 0° / 0° Extensor 5/5
MCP 30-45° / 30-45°
Abduction 20-30° / 20-30° Abductor 5/5
Adduction 0° / 0° Adductor 5/5
DIP 80-90° / 80-90°
III Flexion PIP 100-115° / 100-115° Flexor 5/5
MCP 85-90° / 85-90°
DIP 20° / 20°
Extension PIP 0° / 0° Extensor 5/5
MCP 30-45° / 30-45°
Abduction 20-30° / 20-30° Abductor 5/5
Adduction 0° / 0° Adductor 5/5

27
DIP 80-90° / 80-90°
Flexion PIP 100-115° / 100-115° Flexor 5/5
MCP 85-90° / 85-90°
DIP 20° / 20°
IV
Extension PIP 0° / 0° Extensor 5/5
MCP 30-45° / 30-45°
Abduction 20-30° / 20-30° Abductor 5/5
Adduction 0° / 0° Adductor 5/5
DIP 80-90° / 80-90°
Flexion PIP 100-115° / 100-115° Flexor 5/5
MCP 85-90° / 85-90°
DIP 20° / 20°
V
Extension PIP 0° / 0° Extensor 5/5
MCP 30-45° / 30-45°
Abduction 20-30° / 20-30° Abductor 5/5
Adduction 0° / 0° Adductor 5/5

c. Status Neurologi
• Refleks Fisiologis : BPR N/N, KPR N/N, TPR N/N, dan APR N/N
• Refleks Patologis : Babinski : (-)/(-), Chaddock : (-), dan Hoffman-Tromner : (-)
• Defisit sensoris : (-)

d. Pemeriksaan Provokatif
 Apley’s scratch test full: Nyeri

III.5 Diagnosis
• Diagnosis klinis : Frozen shoulder et causa post imobilisasi
• Diagnosis fungsional :
▫ Impairment : nyeri bahu kiri

28
▫ Disabilitas : keterbatasan mengangkat barang berat
▫ Handicap : keterbatasan dalam melakukan aktivitas sebagai ibu
rumah tangga

III.6 Daftar Masalah


• R1:Nyeri bahu kiri
• R2: ADL: ada gangguan saat aktivitas
• R3 Komunikasi dan Feeding: tidak ada gangguan
• R4 Psikologis: cemas akan terjadi fraktur lagi
• R5 Vokasional: tidak ada gangguan
• R6 Sosioekonomi cultural: ditanggung BPJS
• R7 VAS: 3

III.7 Planning Terapi


• Dokter spesialis KFR/dokter umum
▫ Edukasi penjelasan kondisi pasien dan perjalanannya
▫ Rutin melakukan exercise di rumah
▫ Modifikasi gaya hidup sehat
▫ Hindari stress
▫ Farmakoterapi : Meloxicam 500mg tab 3x1 sehari (bila nyeri)
• Nurse/Care giver
▫ Perawatan general hygiene
• Rehabilitasi Medik
▫ Modalitas : SWD (Short Wave Diatermhy) dan TENS (Transcutaneus
Electrical Nerve Stimulation)
▫ Fisioterapi : ROM exercise (latihan flexibilitas dan stretching ektremitas
secara pasif/ungulasi )
Penguatan otot-otot bahu

29
III.9 Prognosis
• Quo ad Vitam : dubia ad bonam
• Quo ad functionam : dubia ad bonam
• Quo ad sanationam : dubia ad bonam

III.10 Resume
Seorang perempuan berusia 35 tahun datang ke poli KFR RS Faisal dengan keluhan nyeri
pada shoulder sinistra yang dialami sejak 6 bulan yang lalu. Nyeri hilang timbul. Nyeri muncul
saat mengangkat tangan ke atas dan hilang/berkurang saat diturunkan. Nyeri dirasakan menjalar
ke belakang siku. Riwayat trauma (+), fraktur 1/3 proksimal humerus dan di imobilisasi selama 2
bulan. Dari pemeriksaan fisis didapatkan adanya limited ROM shoulder sinistra dan apley
scratch test (+). Rehabilitasi medik yang sesuai untuk pasien adalah TENS, SWD, ROM
exercise, dan strenghthening exercise.

30