You are on page 1of 17

LAPORAN PENDAHULUAN ATRESIA ANI

DISUSUN OLEH:

ABI TAUFIK BASTIAN

176410100

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

INSAN CENDEKIA MEDIKA

JOMBANG

2018
LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan keperawatan jiwa ini telah disetujui untuk dipresentasikan pada :

Hari :

Tanggal :

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Kepala Ruangan
ATRESIA ANI

PENGERTIAN
Atresia ani adalah kelainan congenital anus dimana anus tidak mempunyai
lubang untuk mengeluarkan feses karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang
terjadi saat kehamilan.
Menurut Ladd dan Gross (1966) anus imperforata dalam 4 golongan, yaitu:
1. Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus
2. Membran anus yang menetap
3. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada bermacam-
macam jarak dari peritoneum
4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung

ETIOLOGI
Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi
lahir tanpa lubang dubur
2. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/ 3
bulan
3. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah
usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara
minggu keempat sampai keenam usia kehamilan
PATOFISIOLOGI
Anus dan rectum berkembang dari embrionik bagian belakang. Ujung ekor
dari bagian belakang berkembang menjadi kloaka yang merupakan bakal genitoury
dan struktur anorektal. Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal
anorektal. Terjadi atresia anal karena tidak ada kelengkapan migrasi dan
perkembangan struktur kolon antara 7 dan 10 mingggu dalam perkembangan fetal.
Kegagalan migrasi dapat juga karena kegagalan dalam agenesis sacral dan
abnormalitas pada uretra dan vagina. Tidak ada pembukaan usus besar yang keluar
anus menyebabkan fecal tidak dapat dikeluarkan sehungga intestinal mengalami
obstrksi.
PHATWAY
MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinis yang terjadi pada atresia ani adalah kegagalan lewatnya
mekonium setelah bayi lahir, tidak ada atau stenosis kanal rectal, adanya membran
anal dan fistula eksternal pada perineum (Suriadi,2001). Gejala lain yang nampak
diketahui adalah jika bayi tidak dapat buang air besar sampai 24 jam setelah lahir,
gangguan intestinal, pembesaran abdomen, pembuluh darah di kulir abdomen akan
terlihat menonjol.
Bayi muntah – muntah pada usia 24 – 48 jam setelah lahir juga merupakan
salah satu manifestasi klinis atresia ani. Cairan muntahan akan dapat berwarna hijau
karena cairan empedu atau juga berwarna hitam kehijauan karena cairan mekonium.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai
berikut :
1. Pemeriksaan radiologis
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
2. Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk
mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya.
3. Ultrasound terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system
pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena
massa tumor.
4. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
5. Pyelografi intra vena
Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
6. Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang
atau jari.
7. Rontgenogram abdomen dan pelvis
Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan
dengan traktus urinarius.

PENATALAKSANAAN
Untuk mengetahui adanya atresia ani secara dini maka pada semua bayi baru
lahir harus dilakukan colok anus dengan menggunakan termometer yang
dimasukkaan sampai sepanjang 2 cm ke dalam anus. Atau dapat juga dengan jari
kelingking yang memakai sarung tangan. Jika terdapat kelainan maka termometer
atau jari tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal dan penyumbatan terdapat lebih
tinggi dari peritoneum, maka gejala akan timbul dalam 24-48 jam setelah lahir berupa
perut kembung, muntah berwarna hijau.

Pembedahan
1. Eksisi membran anus
2. Operasi, yaitu kolostomi sementara dan setelah 3 bulan dilakukan repair
sekaligus
Perawatan prabedah dan paska bedah:
- Pasang Infus
- Aspirasi cairan lambung
- Observasi tanda vital
- Dukungan Orang Tua.
- Berilah pengertian bahwa operasi ini dilakukan 2 tahap. Pertama membuat
anus buatan dan setelah 3 bulan dilakukan operasi kedua penyambungan
kembali. Orang tua diharapkan dapat menjaga kebersihan daerah operasi
tersebut dan kesehatan anak
- Perawatan rutin
DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Gangguan eliminasi BAK b/d dysuria
2. Gangguan rasa nyaman b/d vistel rektovaginal, dysuria
3. Resti infeksi b/d feses masuk ke uretra, mikroorganisme masuk saluran kemih
4. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b/d mual, muntah, anoreksia
5. Gangguan rasa nyaman, nyeri b/d trauma jaringan post operasi
6. Resti infeksi b/d perawatan tidak adekuat, trauma jaringan post operasi
7. Resti kerusakan integritas kulit b/d perubahan pola defekasi, pengeluaran
tidak terkontrol

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ATRESIA ANI


A. PENGKAJIAN
1. Pengkajian Pada Anak
a. Kaji biodata pasien.
b. Tanpa mekonium dalam 24 jam setelah lahir.
c. Kaji adanya pasase mekonium.
Perhatikan bila mekonium tampak pada orifisium yang tidak tepat.
d. Kaji feses yang seperti korban pada bayi yang lebih besar atau anak
kecil yang mempunyai riwayat kesulitan defekasi atau distensi
abdomen.
e. Kaji adanya tinja dalam urine dan vagina.
2. Pengkajian Pada Orang Tua
a. Kaji riwayat kehamilan
b. Kaji riwayat infeksi
c. Kaji psikososial keluarga
d. Kaji pengetahuan keluarga
3. Pemeriksaan Fisik
a. Periksa keadaan anus
Adanya malformasi anorektal tidak terbentuk anus.
b. Perikasa ada atau tidaknya pistula rektovaginal dan fistula rekburetra
Pada pengkajian kperawatan pasien dengan atresia ani akan ditemukan
data-data sebagai berikut:
1. Penyumbatan anus ( anus tidak normal ).
2. Adanya kembung dan muntah pada 24-28 jam setelah lahir.
3. Pada bayi laki-laki dengan fistula urinary didapatkan mekonium
pada urine dan pada bayi perempuan dengan fistula urogenital
ditemukan mekonium dalam vagina.
4. Pada pemeriksaan fisik ( dengan memasukkan jari kelingking
dengan memakai sarung tangan atau juga dengan memasukkan
thermometer sepanjang ± 2cm ) tidak ditemukan anus secara
normal.
5. Adanya berbagai bentuk seperti stinosis rectum yang lebih rendah
atau juga pada anus.
6. Membrane anus yang menetap.
7. Adanya fistula antara rectum dan tractus urinaria.
8. Adanya fistula antara rectum, vagina atau perineum pada
perampuan.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Pra bedah
1. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan
melalui rute abnormal.
2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan.
b. Pasca bedah
1. Resiko infeksi berhubungan dengan trauma post op colostomy.
2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
ketidakmampuan dalam mencerna makanan.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan immobilisasi.
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya insisi pembedahan.
C. INTERVENSI
Menurut NIC ; 1996 dan NOC ; 1997
a. Pra bedah
1. Dx 1 : Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan melalui rute abnormal.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses
Keperawatan diharapkan kebutuhan cairan dan elektrolit pasien adekuat.
NOC : Fluid Balance
Kriteria Hasil :
a. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, Bj urine
normal HT normal
b. TD, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
c. Tidak ada tanda, dehidrasi, alstisitas turgor kulit baik, membrane
mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
Keterangan skala:
1 : Tidak pernah menunjukkan.
2 : Jarang menunjukkan
3 : Kadang menunjukkan
4 : Sering menunjukkan
5 : Selalu menunjukkan
NIC : Fluid Management
Intervensi :
a. Timbang popok / pembalut jika diperlukan
b. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
c. Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat,
tekanan darah ortostatik)
d. Monitor TTV
e. Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
f. Kolaborasi pemberian cairan IV
g. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
h. Tawarkan snack / jus buah segar

2. Dx 2 : Kurang pengetahuan berhubunagn dengan keterbatasan paparan


Tujuan : Setelah dilakuakn tindakan keperawatan selama proses
keperawatan diharapkan pasien tidak mengalami tanda-tanda infeksi.
NOC : Knowledge : Disease Process
Kriteria Hasil :
a. Pasien dan keluarga mengatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi,
prognosis dan program pengobatan
b. Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan
secara benar.
c. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan
perawat / tim kesehatan lainnya.
Keterangan Skala
1 : Tidak pernah dilakukan
2 : Jarang dilakukan
3 : Kadang dilakukan
4 : Sering dilakukan
5 : Selalu dilakukan

NIC : Teaching : Disease Process


Intervensi :
a. Jelaskan patofisiolagi dari penyakit.
b. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit dengan
cara yang benar.
c. Gambarkan proses penyakit dengan cara yang tepat..
d. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi dengan cara yang tepat.
e. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi dimasa yang akan datang dan proses
pengontrolan penyakit
c. Pasca bedah
1. Dx 1 : Resiko infeksi berhubungan dengan trauma post op
colostomy
Tujuan : Setelah dilakuakn tindakan keperawatan selama
proses keperawatan diharapkan pasien tidak mengalami tanda-
tanda infeksi.
NOC : Knowledge : Infection Control
Kriteria Hasil :
a. Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi
b. Mendeskripsikan proses penularan penyakit, factor yang
mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya.
c. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.
d. Jumlah leukosit dalam batas normal.
e. Menunjukkan perilaku hidup sehat.
Keterangan Skala :
1 : Tidak pernah dilakukan
2 : Jarang dilakukan
3 : Kadang dilakukan
4 : Sering dilakukan
5 : Selalu dilakukan
NIC : Infection Control
Intervensi :
a. Batasi pengunjung bila perlu.
b. Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan.
c. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
keperawatan.
d. Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung.
e. Tingkatkan intake nutrisi.
f. Berikan terapi antibiotic bila perlu.
2. Dx 2 : Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik
Tujuan : Setelah dilakuakn tindakan keperawatan selama proses
keperawatan diharapkan nyeri berkurang / hilang.
NOC : Pain Control
Kriteria Hasil :
a. Mengenal faktor penyebab
b. Mengenal serangan nyeri
c. Gunakan tindakan preventif
d. Gunakan tindakan pertolongan non analgetik
e. Gunakan analgetik yang tepat
Keterangan Skala
1 : Tidak pernah dilakukan
2 : Jarang dilakukan
3 : Kadang dilakukan
4 : Sering dilakukan
5 : Selalu dilakukan

NIC : Pain Management


Intervensi :
a. Kaji secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan
faktor presipitasi.
b. Gunakan komunikasi terapeutik agar pasien dapat
mengekspresikan.
c. Berikan dukungan terhadap pasien dan keluarga.
d. Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab, berapa
lama terjadi dan tindakan pencegahan.
e. Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi
f. Berikan analgetik sesuai anjuran
g. Tingkatkan tidur istirahat yang cukup
h. Monitor kenyamanan pasien terhadap management nyeri.
i. Libatkan keluarga untuk mengurangi nyeri.

3. Dx 3 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan


berhubungan dengan ketidakmampuan dalam mencerna makanan
Tujuan : Setelah dilakuakn tindakan keperawatan selama proses
keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
NOC : Nutritional Status
Kriteria Hasil :
a. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan.
b. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan.
c. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi.
d. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Keterangan Skala :
1 : Tidak pernah menunjukkan.
2 :Jarang menunjukkan
3 : Kadang menunjukkan
4 : Sering menunjukkan
5 : Selalu menunjukkan

NIC : Nutrition Management


Intervensi :
a. Kaji adanya alergi makanan.
b. Anjurkan pasien untuk meningkat intake Fe.
c. Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake protein.
d. Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.
e. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.
f. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori
dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
4. Dx 4 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan immobilisasi.
Tujuan : Setelah dilakuakn tindakan keperawatan selama
proses keperawatan diharapkan tidak terjadi intoleransi aktivitas.
NOC : Activity Tolerance
Kriteria Hasil :
a. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan
TD,Nadi,RR.
b. Mampu melakukan aktivitas sehari-hari (ADLs) secara
mandiri.
Keterangan Skala :
1 : Tidak dilakukan sama sekali.
2 : Jarang dilakukan
4 : Kadang dilakukan
5 : Sering dilakukan
5 : Selalu dilakukan
NIC : Activity Theraphy
Intervensi :
a. Kolaborasi dengan tenaga rehabilitas medik dalam
merencanakan program terapi yang tepat.
b. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang dapat
dilakukan.
c. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas.
d. Bantu klien membuat jadwal latihan di waktu luang

5. Dx 5 : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya


insisi pembedahan.
Tujuan : Setelah dilakuakn tindakan keperawatan selama proses
keperawatan diharapkan integritas kulit kembali baik / normal.
NOC : Tissue Integrity : Skin and Mucous Membranes
Kriteria Hasil :
a. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
b. Tidak ada luka / lesi pada kulit
c. Perfusi jaringan baik
d. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan
mencegah terjadinya cedera berulang
e. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban
kulit dan perawatan alami
Keterangan Skala :
1 : Tidak pernah menunjukkan.
2 : Jarang menunjukkan
3 : Kadang menunjukkan
4 : Sering menunjukkan
5 : Selalu menunjukkan
NIC : Pressure Management
Intervensi :
a. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
b. Hindari kerutan pada tempat tidur
c. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
d. Mobilisasi pasien setiap 2 jam sekali
e. Monitor kulit akan adanya kemerahan
f. Oleskan lotion / minyak / baby oil pada daerah yang
tertekan
g. Mandikan pasien dengan sabun dan air hangat.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito,L.J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta : EGC.

Doengoes,M.E. 1999. Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian

Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.

Mansjoer,Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta: Media

Aescullapius.

Markum,AH. 1999. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid 2. Jakarta : FKUI.

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.