You are on page 1of 3

BAB IV

PEMBAHASAN

1. Pada tanggal 13 Desember 2017, seorang wanita Ny. RW, 39 tahun, datang ke IGD
Rumah Sakit HM Rabain Muara Enim dengan keluhan keluar flek sejak ± 2 hari
SMRS. Flek berwarna merah kehitaman banyaknya 2 kali ganti pembalut. Pasien juga
mengeluhkan nyeri pada perut bagian bawah dan mules. Riwayat keluar jaringan
seperti hati ayam disangkal. Riwayat keluar jaringan seperti mata ikan disangkal.
Pasien mengaku hamil muda sudah pernah melakukan test pack kehamilan hasilnya (+)
& HPHT 17-09-2017 (Hamil 12-13 minggu). Dari anamnesis, ditemukan gejala dari
abortus berupa perdarahan pervaginam dengan usia kehamilan < 20 minggu, nyeri perut
bagian bawah & riwayat keluar jaringan seperti ayam dan mata ikan disangkal, hal ini
menunjukan telah terjadi proses yang mengancam kondisi janin dan jika tidak diatasi
segera bisa memasuki fase berlangsungnya abortus (abortus insipien) serta tanda-tanda
pengeluaran hasil konsepsi secara inkomplit & komplit. Riwayat keputihan ada (+),
warna putih dan berbau (+), hal ini menunjukan salah satu penyebab terjadinya abortus
adalah faktor infeksi berupa bakterial vaginosis. Mikroorganisme yang paling sering
dijumpai yaitu Treponema Pallidum, Chlamydia Trachomatis, Nisseria Gonorrhoeae.
Infeksi maternal dapat membawa risiko bagi janin yang sedang berkembang, terutama
pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua untuk mekanismenya tidak
diketahui secara pasti. Riwayat nyeri perut bagian bawah (+), hal ini menunjukkan
terlepas janin sebagian atau seluruhnya diinterpretasikan sebagai benda asing dalam
rahim menyebabkan kontraksi uterus dimulai untuk ekspulsi (pendorongan). Dari
anamnesis didapatkan G3P0A2 pasien telah mengalami 2 kali keguguran, dimana
keguguran berlangsung sebelum usia kehamilan <8 minggu dan tidak dilakukan
kuretase, hal ini termasuk kejadian abortus berulang (recurrent pregnancy loss).
2. Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran kompos mentis, tekanan darah 110/80
mmHg, nadi 90 x/menit, laju pernapasan 20x/ menit dan T 36,6 menunjukkan dalam
batas normal. Pada mata tidak ditemukan konjungtiva anemis sehingga tanda-tanda
anemis akibat perdarahan tidak dijumpai. Dari pemeriksaan obstetrik berupa
pemeriksaan luar didapatkan abdomen cembung, lemas, simetris, massa (-), nyeri tekan
(-), TCB (-), FUT 1/3 diatas simfisis pubis, hal ini menunjukkan perkiraan kehamilan

35
36

12 minggu, karena tinggi fundus uteri 1/3 diatas simfisis pubis setara dengan kehamilan
12-13 minggu. Sedangkan pada pemeriksaan inspekulo didapatkan portio livide, OUE
tertutup, diameter 2 cm, fluor(-), fluxus(+) darah tidak aktif, E/L/P(-), hal ini
menunjukkan tanda kehamilan (+) dilihat dari portio berwarna livide, OUE tertutup
dapat kita curigai abortus imminens (mengancam), abortus komplit atau kehamilan
ektopik. Dari pemeriksaan vaginal toucher didapatkan mukosa licin, portio lunak, OUE
tertutup, nyeri goyang (-), AP kanan / kiri lemas, CD tidak menonjol, hal ini
menunjukkan kehamilan ektopik dapat disingkirkan dari diagnosis.
3. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan laboratorium
dimana hasil dalam batas normal, dan plano tes (+) memperkuat diagnosis. Selain itu
dilakukan pemeriksaan USG didapatkan tampak janin tunggal hidup intrauterin,
ketuban cukup, placenta corpus anterior, fetus pulse (+) dan subchorionic bleeding
kesan: Hamil 12-13 Minggu JTH Intrauterin dengan Subchorionic Bleeding. Hal ini
menunjukkan janin masih hidup dan terdapat perdarahan di subkorion.
4. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan obstetrik dan pemeriksaan penunjang
dapat ditegakkan diagnosis abortus, jenis abortus pada kasus yaitu abortus imminens.
Dimana dari anamnesis dijumpai perdarahan pervaginam sedikit, nyeri perut, tidak ada
tanda-tanda keluar jaringan termasuk jenis mengancam, diperkuat dari pemeriksaan
obstetrik tanda kehamilan (+) dilihat dari portio bewarna livide, OUE tertutup, tidak
ada tanda-tanda jaringan keluar dari OUE, nyeri goyang (-), AP kanan / kiri lemas, CD
tidak menonjol, sehingga dapat disingkirkan diagnosa abortus insipien, inkomplit dan
komplit serta kehamilan ektopik terganggu dari diagnosa kerja pada kasus ini. Dari
pemeriksaan USG menunjukkan janin masih hidup dan terdapat perdarahan sub korion,
hal ini menunjukkan blighted ovum dapat disingkirkan dari diagnosis kerja. Perdarahan
subkorion menggambarkan permulaan terjadinya abortus (mengancam) jika tidak
diatasi segera maka masuk ke abortus insipien (berlangsung) yang menyebabkan
kematian janin dan berlangsung proses nekrosis hingga ekpulsi. Pasien memiliki
riwayat kehamilan G3P0A2 menunjukan keguguran berulang, Pada kasus ini abortus
berulang termasuk kedalam jenis “kegagalan kehamilan lanjut/ keguguran janin”
dimana onset kehamilan 8-20 minggu, aktivitas denyut jantung janin pernah ada tapi
hilang, kemudian dari USG tampak CRL dan tampak aktivitas denyut jantung
sebelumnya serta kadar beta HCG biasanya meningkat kemudian menetap atau
menurun. Untuk kemungkinan penyebab abortus bisa disebabkan banyak faktor bisa
kelainan abnormalitas kromosom dan faktor maternal berupa infeksi bakterial vaginosis
37

atau faktor kelainan anatomi hingga faktor hormonal, perlu dilakukan pemeriksaan
lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya seperti pemeriksaan analisis kromosom,
pemeriksaan hormonal dan imunologis dll.
5. Prinsip penatalaksanaan abortus imminens, yaitu mempertahankan kehamilan, tidak
perlu pengobatan khusus dan jangan melakukan aktivitas fisik berlebihan seperti
hubungan seksual (bedrest total). Perlu diperhatikan perdarahan, jika perdarahan
berhenti: pantau kondisi ibu selanjutnya pada pemeriksaan ANC serta nilai ulang bila
perdarahan terjadi lagi. Akan tetapi jika perdarahan tidak berhenti: nilai kondisi janin
dengan USG dan curigai kemungkinan adanya penyebab lain. Selain itu perlu diberikan
obat spasmolitik agar uterus tidak berkontraksi atau diberi obat progesteron untuk
memperkuat kandungan. Pada kasus ini telah diedukasi untuk bedrest total dan
diberikan 2 macam obat yaitu, utrogestan dan hystolan. Uterogestan merupakan derivat
hormon progesteron, sedangkan hystolan merupakan golongan isoxsuprine dimana
kerja obat tersebut dapat merelaksasikan uterus (agen spasmolitik) sehingga menekan
kontraksi uterus yang berlebihan dimana membuat proses ekspulsi tidak terjadi dan
kehamilan dapat dipertahankan.
6. Sedangkan, penatalaksanaan untuk abortus berulang (recurrent pregnancy loss)
ditujukan sesuai penyebab, jika kelainan kromosom maka perlu diberikan skrining
prenatal & konseling, jika disebabkan kelainan endokrin maka perlu dikoreksi
hormonal, dan faktor anatomi misal terdapat kelainan uterus & serviks perlu dilakukan
tindakan pembedahan & sirklase, atau jika terdapat tanda-tanda infeksi maka perlu
diberikan antibiotik.