You are on page 1of 7

AKUNTANSI PEMERINTAHAN:

PERUBAHAN STATUS PUSKESMAS MENJADI BLUD DALAM ASPEK AKUNTANSI

Disusun Oleh : Fahmi Achmad Faisal (15321060)

Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)


Badan Layanan Umum Daerah atau disingkat BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) atau Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah
daerah di Indonesia yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa
penyediaan barang/jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam
melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.
BLUD merupakan bagian dari perangkat pemerintah daerah, dengan status hokum tidak
terpisah dari pemerintah daerah. Berbeda dengan SKPD pada umumnya, pola pengelolaan
keuangan BLUD memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktik-praktik
bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada 11 masyarakat, seperti pengecualian
dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya. Sebuah satuan kerja atau unit kerja
dapat ditingkatkan statusnya sebagai BLUD. Berdasarkan PP Nomor 23 Tahun 2005
(sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 74 Tahun 2012), BLUD bertujuan untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan
berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas, dan penerapan praktek bisnis yang sehat. Suatu
satuan kerja instansi pemerintah dapat diizinkan mengelola keuangan dengan PPK-BLUD
apabila memenuhi persyaratan substantif, teknis, dan administratif. Persyaratan substantif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terpenuhi apabila instansi pemerintah yang bersangkutan
menyelenggarakan layanan umum yang berhubungan
dengan:
a. Penyediaan barang dan/atau jasa layanan umum;
b. Pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan meningkatkan perekonomian
masyarakat atau layanan umum; dan/atau
c. Pengelolaan dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi dan/ataupelayanan
kepada masyarakat.

Persyaratan teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terpenuhi apabila:


a. Kinerja pelayanan di bidang tugas pokok dan fungsinya layak dikelola dan ditingkatkan
pencapaiannya melalui BLU sebagaimana direkomendasikan oleh menteri/pimpinan
lembaga/kepala SKPD scsuai dengan kewenangannya; dan
b. Kinerja keuangan satuan kerja instansi yang bersangkutan adalah sehat sebagaimana
ditunjukkan dalam dokumen usulan penetapan BLU.
Persyaratan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terpenuhi apabila
instansi pemerintah yang bersangkutan dapat menyajikan seluruh dokumen berikut:
a. Pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan, keuangan, dan manfaat
bagi masyarakat;
b. Pola tata kelola;
c. Rencana strategis bisnis;
d. Laporan keuangan pokok;
e. Standar pelayanan minimum; dan
f. Laporan audit terakhir atau pernyataan bersedia untuk diaudit secara independen.
Menteri/pimpinan lembaga mengusulkan instansi pemerintah yang memenuhi persyaratan
substantif, teknis, dan administratif untuk menerapkan PK-BLU kepada Menteri Keuangan.
Menteri Keuangan melakukan penilaian atas usulann tersebut dan apabila telah memenuhi
semua persyaratan di atas, maka Menteri Keuangan menetapkan instansi pemerintah
bersangkutan untuk menerapkan PK-BLU berupa pemberian status BLU secara penuh atau
bertahap. Dalam rangka penilaian usulan PK-BLU, Menteri Keuangan dapat membentuk Tim
Penilai yang terdiri dari unsur di lingkungan Kementerian Keuangan yang terkait dengan
kegiatan satker BLU yang diusulkan, antara lain Ditjen Perbendaharaan, Sekretariat Jenderal
Kementerian Keuangan, dan Ditjen Anggaran. Tim Penilai tersebut dapat menggunakan
narasumber yang berasal dari lingkungan pemerintahan maupun masyarakat. Berdasarkan
penilaian yang dilakukan oleh Tim Penilai, usulan penetapan BLU dapat ditolak atau ditetapkan
dengan status BLU penuh maupun BLU bertahap. Status BLU penuh diberikan apabila
persyaratan substantif, teknis dan administrative telah dipenuhi dengan memuaskan sesuai
dengan kriteria SOP penilaian. Satker yang berstatus BLU Penuh diberikan seluruh fleksibilitas
pengelolaan keuangan BLU, yaitu:
a. Pengelolaan Pendapatan
b. Pengelolaan Belanja
c. Pengadaan Barang/Jasa
d. Pengelolaan Barang
e. Pengelolaan Kas
f. Pengelolaan Utang dan Piutang
g. Pengelolaan Investasi
h. Perumusan Kebijakan, Sistem, dan Prosedur Pengelolaan Keuangan.
Status BLU Bertahap
Status BLU Bertahap diberikan apabila persyaratan substantif, teknis, dan administratif telah
terpenuhi, namun persyaratan administratif kurang memuaskan sesuai dengan kriteria SOP
penilaian. Status BLU Bertahap berlaku paling lama tiga tahun dan apabila persyaratan terpenuhi
secara memuaskan dapat diusulkan untuk menjadi BLU Penuh. Fleksibilitas yang diberikan
kepada satker berstatus BLU bertahap dibatasi:
1. Penggunaan langsung pendapatan dibatasi jumlahnya, sisanya harus disetorkan ke kas
negara sesuai prosedur PNBP.
2. Tidak diperbolehkan mengelola investasi;
3. Tidak diperbolehkan mengelola utang;
4. Pengadaan barang/jasa mengikuti ketentuan umum pengadaan barang/jasa pemerintah
yang berlaku.
5. Tidak diterapkan flexible budget.
Adanya desentralisasi dan otonomi daerah dengan berlakunya UU tentang
Pemerintahan Daerah (UU No. 32 Tahun 2004, terakhir diubah dengan UU No. 12 Tahun
2008), UU No.33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan
Daerah, serta Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Umum
Penyusunan APBD, kemudian PP No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum, PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, dan
Permendagri No. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum Daerah, membuat rumah sakit pemerintah daerah harus melakukan banyak
penyesuaian khususnya dalam pengelolaan keuangan maupun penganggarannya, termasuk
penentuan biaya.
Dengan terbitnya PP No. 23 Tahun 2005, rumah sakit pemerintah daerah mengalami
perubahan menjadi BLU. Perubahan ini berimbas pada pertanggungjawaban keuangan tidak
lagi kepada Departemen Kesehatan tetapi kepada Departemen Keuangan, sehingga harus
mengikuti standar akuntansi keuangan yang pengelolaannya mengacu pada prinsip-
prinsip akuntabilitas, transparansi dan efisiensi. Anggaran yang akan disusun pun harus
berbasis kinerja (sesual dengan Kepmendagri No. 29 Tahun 2002).
Penyusunan anggaran rumah sakit harus berbasis akuntansi biaya yang didasari dari indikator
input, indikator proses dan indikator output, sebagaimana diatur berdasarkan PP No. 23 Tahun
2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, PMK No. 76/PMK.05/2008
tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum.

Pelaporan dan pertanggungjawaban


BLU sebagai Instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa
mengutamakan mencari keuntungan merupakan organisasi pemerintahan yang bersifat nirlaba.
Sesuai dengan Pasal 26 ayat (2) pp No. 23 Tahun 2005 yang menyebutkan bahwa “Akuntansi
dan laporan keuangan BLU diselenggarakan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang
diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia”. Ketentuan ini menimbulkan
inkonsistensi, karena BLU merupakan badan/unit atau organisasi pemerintahan yang
seharusnya menggunakan PSAP atau Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana diatur
menurut PP No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, namun dalam PP
No. 23 Tahun 2005 menggunakan PSAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang berasal dan IAI.
Sebagai organisasi kepemenintahan yang bersifat nirlaba, maka rumah sakit pemerintah daerah
semestinya juga menggunakan SAP bukan SAK.
Laporan keuangan puskesmas merupakan laporan yang disusun oleh pihak manajemen
sebagai bentuk penyampaian laporan keuangan suatu entitas. Laporan keuangan tersebut
merupakan penyampaian informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap entitas
tersebut, sehingga isi pelaporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah harus mengikuti
ketentuan untuk pelaporan keuangan sebagaimana diatur menurut SAK, yaitu sebagal
organisasi nirlaba (PSAK No. 45) dan menyanggupi untuk laporan keuangannya tersebut
diaudit oleh auditor independen. Laporan keuangan rumah sakit yang harus diaudit oleh
auditor independen.
Adapun Laporan Keuangan puskesmas daerah sebagai BLU yang disusun harus menyediakan
informasi untuk:
· mengukur jasa atau manfaat bagi entitas yang bersangkutan;
· pertanggungjawaban manajemen Puskesmas (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas dan
laporan arus kas);
· mengetahul kontinuitas pemberian jasa (disajikan dalam bentuk laporan posisi keuangan);
· mengetahui perubahan aktiva bersih (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas).
Laporan keuangan puskesmas daerah mencakup sebagai berikut:
1. Laporan posisi keuangan (aktiva, utang dan aktiva bersih, tidak disebut neraca).
Kiasifikasi aktiva dan kewajiban sesuai dengan perusahaan pada umumnya. Sedangkan
aktiva bersih diklasifikasikan aktiva bersih tidak terikat, terikat kontemporer dan
terikat permanen. Yang dimaksud pembatasan permanen adalah pembatasan
penggunaan sumber daya yang ditetapkan oleh penyumbang.
Sedangkan pembatasan temporer adalah pembatasan penggunaan sumber daya oleh
penyumbang yang menetapkan agar sumber daya tersebut dipertahankan sampai pada
periode tertentu atau sampai dengan terpenuhinya keadaan tertentu;
2. Laporan aktivitas (yaitu penghasilan, beban dan kerugian dan perubahan dalan aktiva
bersih);
3. Laporan arus kas yang mencakup arus kas dan aktivitas operasi, aktivitas investasi dan
aktivitas pendanaan;
4. Catatan atas laporan keuangan, antara lain sifat dan jumlah pembatasan permanen atau
temporer. dan perubahan klasifikasi aktiva bersih.

Bagi instansi pemerintahan yang masih menggunakan praktik akuntansi tradisional,


perubahan instansi pemerintahan menjadi Badan Layanan Umum Daerah juga diikuti dengan
perubahan akuntabilitas dan transaparansi (Prakoso, 2014). Perubahan akuntabilitas dan
transaparansi sebagai dampak dari perubahan instansi pemerintahan menjadi BLUD harus dapat
dilihat dari perubahan sistem perakuntansian, yang semula berbasis kas menjadi berbasis akrual,
serta penganggaran tradisional menjadi penganggaran berbasis kinerja. Akan tetapi, pada
Puskesmas X belum ditemukan adanya upaya perintisan/persiapan menuju perubahan yang
diharapkan dalam hal perakuntansian. Artinya, kondisi sistem perakuntansian Puskesmas X saat
ini masih menggunakan praktik tradisional.
Kondisi perakuntansian Puskesmas X yang menggunakan praktik tradisional tersebut
teridentifikasi dari pernyataan “...jadi untuk membuat target ya berarti itu satu tahun itu kita
berpatokan dengan tahun-tahun yang sebelumnya...” (AK. 9), “...nanti itu Juni itu membuat
anggaran (RKA) untuk tahun 2018, kita membuat dari puskemas sendiri. Trus asalnya dari mana,
ya sesuai dengan pendapatan yang tahun yang sudah berlalu kemarin untuk patokan ya...” (AK.
9), dan “...Nah sering itu Dinas tanya ke saya “program iki kok metu maneh mbak?”, ya saya
jawab saja lek itu kan program dasare jadi ada lagi. Lek gak gitu ya tak jawab programe tahun
lalu belum selesai” (AK. 10). Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, anggaran yang
digunakan
Puskesmas X saat ini merupakan anggaran inkremental. Anggaran inkremental merupakan
system penganggaran dengan menggunakan anggaran tahun sebelumnya sebagai dasar
pembuatan anggaran, kemudian dilakukan perubahan kecil di dalamnya (Syarifuddin, 2003).
Oleh sebab ciri ciri tersebut, maka anggaran inkremental dikategorikan sebagai anggaran
tradisional (Mardiasmo 2004).
Menurut Widyantoro (2009), kemunculan NPM mempengaruhi konsep anggaran suatu
negara, yaitu memicu perubahan sistem anggaran dari anggaran tradisional menjadi anggaran
yang lebih berorientasi kinerja. Oleh karena itu, BLUD sebagai perwujudan dari NPM di
Indonesia menghendaki penggunaan anggaran berbasis kinerja (Permendagri No 61 Tahun
Tahun 2007). Hal ini menyebabkan setiap instansi pemerintahan yang masih menggunakan
anggaran inkremental, termasuk Puskesmas X, jika menjadi BLUD seharusnya wajib
meninggalkan praktik penggunaan anggaran inkremental dan beralih ke penggunaan anggaran
berbasis kinerja.
Anggaran yang berorientasi kinerja atau yang umum dikenal sebagai anggaran berbasis
kinerja (performance based budgeting) secara prinsip menghubungkan pengeluaran negara
dengan hasil yang ingin dicapai oleh pemerintah (output/outcome) (Sancoko dalam Widyantoro,
2009: 2). Artinya, penyusunan, pembahasan, penetapan sampai pengawasan pelaksanaan
anggaran tidak cukup dengan hanya melihat besar kecilnya anggaran yang merupakan masukan,
tapi juga harus memperhatikan kinerja anggaran tersebut yang meliputi capaian kinerja,
keluaran, hasil dan manfaat serta tepat tidaknya kelompok sasaran kegiatan yang dibiayai
anggaran tadi (Natsir dalam Kurrohman, 2013: 2). Maka dengan begitu setiap rupiah yang
dikeluarkan jelas penggunaannya dan dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini juga yang menjadi
alasan dibalik BLUD mewajibkan penggunaan anggaran berbasis kinerja dibanding anggaran
tradisional seperti anggaran inkremental.
SIMPULAN
Badan Layanan Umum Daerah atau disingkat BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) atau Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan
pemerintah daerah di Indonesia yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat berupa penyediaan barang/jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari
keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan
produktivitas.
BLUD merupakan bagian dari perangkat pemerintah daerah, dengan status hukum tidak
terpisah dari pemerintah daerah. Berbeda dengan SKPD pada umumnya, pola pengelolaan
keuangan BLUD memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek-
praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, seperti
pengecualian dari ketentuan pengelolaan keuangan daerah pada umumnya. Sebuah satuan kerja
atau unit kerja dapat ditingkatkan statusnya sebagai BLUD.
Bagi instansi pemerintahan yang masih menggunakan praktik akuntansi tradisional,
perubahan instansi pemerintahan menjadi Badan Layanan Umum Daerah juga diikuti dengan
perubahan akuntabilitas dan transaparansiPerubahan akuntabilitas dan transaparansi sebagai
dampak dari perubahan instansi pemerintahan menjadi BLUD harus dapat dilihat dari perubahan
sistem perakuntansian, yang semula berbasis kas menjadi berbasis akrual, serta penganggaran
tradisional menjadi penganggaran berbasis kinerja

DAFTAR PUSTAKA

Firdausi, R. Y., & Pujiningsih, S. (2018). PEMAKNAAN PERUBAHAN PUSKESMAS X


MENUJU BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD) DALAM ASPEK LAYANAN
DAN AKUNTANSI. Jurnal Akuntansi Aktual, 5(1), 92-107.

SASDLI, R. (2015). ANALISIS KINERJA BADAN LAYANAN UMUM DAERAH (BLUD) UNIT
PELAKSANA TEKNIS (UPT) DENGAN PENDEKATAN BALANCED SCORECARD (Studi
Kasus pada BLUD UPT Puskesmas Rawat Inap di kota Bandar Lampung) (Doctoral
dissertation, Fakultas Ekonomi dan Bisnis).

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2012


TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 23 TAHUN
2005 TENTANG PENGELOLAAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM

Nizar, Dicky. “IMPLEMENTASI PPK BLUD PUSKESMAS DI KABUPATEN CIANJUR”


10 januari 2014. http://dicky-nizar.blogspot.co.id/2015/02/blud-puskesmas-di-kabupaten-
cianjur.html