You are on page 1of 47

Kuliah-7

Teknik Produksi II
(3 SKS)

ESP

Dosen : Ir. Andry Halim, MM


STT MIGAS, Balikpapan
Objective/Sasaran
• Overview Electric Submersible Pump
(ESP)
Apakah ESP itu?

 Pompa centrifugal yang daya angkatnya (lifting


head) mudah diatur
 Dirancang untuk beroperasi didalam lubang
sumur
 Berpenggerak motor listrik induksi
Ciri-ciri ESP

 Diameter kecil, sesuai dengan lubang sumur yang


terbatas
 Panjang, untuk mengimbangi diameter yang kecil
untuk menghasilkan daya angkat yang mencukupi
 Jumlah stage sangat mudah diatur. Pompa dan
motor bisa ditandem untuk menghasilkan daya
angkat hidrolika untuk mengatasi kedalaman sumur
dan tekanan pipa alir produksi
Pemakaian ESP
Skematik Komponen ESP
Konstruksi ESP

CASING

TUBING

PUMP

CABLE

INTAKE
PROTECTOR

MOTOR

SENSOR (OPT.)
Konstruksi ESP –Coiled Tubing Deployed ESP
Unit Tandem dan Single
Rangkaian Komponen ESP
 Atas Tanah:
 Transformer
 Switchboard/Controller
 Junction Box
 Surface Cable
 Dalam Lubang Sumur
 Cable
 Pompa
 Intake / Gas Separator
 Protector
 Motor
POMPA
 Type pompa menentukan laju alir (debit); contoh DN-
440, DN-1300, JN-21000. Kode huruf berhubungan
dengan diameter housing, kode angka menyatakan
debit median dalam BPD untuk pemasangan pada
listrik 60HZ
 Panjang housing berbagai macam, banyaknya stage
(pasangan impeller dan diffuser) berbanding
langsung dengan panjang housing, housing bisa
ditandem
Pompa ESP
Posisi Impeller
SAMPLE : DN-750, NI-RESIST
Improved, double down thrust pad, high
resistance and high nickel contain

Old type single down


thrust pad, low resistance

Other product. Low


nickel contain
Pengaruh Putaran Pada Pompa

 Laju alir berbanding langsung dengan


putaran: Q2/Q1 = N2/N1
 Daya angkat berbanding kwadrat
dengan putaran: H2/H1 = (N2/N1)2
 Daya (horse power) berbanding pangkat
tiga dengan putaran: P2/P1 = (N2/N1)3
Chart Pompa Pada 60Hz
Chart Pompa Pada 50Hz
Chart Pompa pada Frekwensi Bervariasi
Housing DN – 1300 dan Jumlah Stage
Protector
 Ruang expansi minyak motor
 Untuk mencegah cairan dari formasi masuk
kedalam motor
 Tempat peletakan thrust bearing (untuk
menopang tekanan dari as akibat tekanan
hidraulik)
Motor
 Motor listrik induksi 2 kutub
 Putaran = frekwensi listrik x 60 x (1 – s)
(jumlah kutub/2)
 S = slip, besarnya sesuai dengan beban motor
 Memanfaatkan aliran fluida dalam annulus sebagai media
pendingin
 Bisa ditandem dengan hubungan seri, tegangan masuk
berbanding langsung dengan jumlah motor yang ditandem
Kurva Torsi Motor Induksi

Torsi

Torsi Motor

Beban Pompa

Putaran

Putaran 0, Putaran sinkron,


slip = 1 slip = 0
Pengaruh Variasi Tegangan Listrik Terhadap
Motor

Torsi

Torsi Motor
V2
V1 Beban Pompa

V3

Putaran

Putaran 0, Putaran sinkron,


slip = 1 slip = 0
Pengaruh Variasi Frekwensi Listrik Terhadap
Motor
Torsi

Torsi Motor

Beban Pompa

Putaran

Putaran 0,
Ns2Ns1Ns3
slip = 1
Pengaruh Variasi Beban Pompa Terhadap
Motor

Torsi

Torsi Motor Beban Pompa

P2
P1
P3

Putaran

Putaran 0, Putaran sinkron,


slip = 1 slip = 0
Tabel Motor
Kabel
 Secara bentuk geometris ada dua macam, flat dan round
 Round cable lebih murah, konstruksinya lebih kuat dan
simetris secara geometris sehingga sifat-sifat listriknya
seimbang antar fasa
 Flat cable memberi ruang bebas lebih baik antara rangkaian
pompa dan lubang sumur/pipa selubung
 Rugi2 tegangan dan kapasitas ampere untuk menentukan
ukuran kabel
 Kondisi dalam sumur: tekanan, temperatur dan adanya
unsur korosive dalam fluida (H2S, CO2) menentukan
pilihan jenis kabel
Intake dan Peralatan Optional
 Intake Normal
 Gas Separator
 Reverse Flow Separator
 Rotary Separator
 Peralatan Optional
 Advance Gas Handler (AGH), dipasang diantara intake/gas
separator dan pompa
 Bottom Hole Monitor, dipasang pada bagian paling bawah
dar rangkaian pompa
 Variable Speed Drive (VSD), dipasang menggantikan
Switchboard atas tanah
Peralatan Atas Tanah
DISAIN ESP
Perancangan Pompa
 Set kedalaman
 Static fluid level, PI, SG, W/C, laju produksi yang diinginkan
untuk mendapatkan flowing fluid level
 Kedalaman pompa harus dibawah flowing fluid level tetapi
sebaiknya cukup jauh diatas perforasi untuk mengurangi
kecenderungan pasir masuk intake pompa, optimasi
kedalaman
 Pompa
 Motor
 Cable
 Switchboard/Controller
 Transformer
Parameter Perancangan Pompa
 Kriteria Perancangan
 Laju Produksi, menentukan jenis pompa
 Flowing Fluid Level dan tekanan pipa produksi,
menentukan jumlah stage
 Kombinasi Laju Produksi dan Head menentukan
horsepower untuk penentuan pompa, kabel,
switchboard dan transformer
• Batasan
• Diameter Pipa Selubung, membatasi pilihan jenis
pompa
 Kekuatan Housing, membatasi besarnya daya angkat
 Kekuatan As, membatasi besarnya horsepower
Hubungan Kedalaman Fluida dan Laju Alir

Q d e s ire d Q m ax
L aju Alir

F L s ta tic

F L flo w ing

D pompa

D p e rf.

K ed alam an
Gradient Fluida Sumur
 SGminyak = 141.5
(131.5 + APIgravity)
 SGfluida = (w/c) SGbrine + (1 – w/c) SGminyak

• Phidro = head (ft) x 0.433 x SGfluida

• Pr – Pwf = Q/PI

• Untuk Pwf<Pb,
Q/Qmax = 1 – 0.2(Pwf/Pr) – 0.8 (Pwf/Pr)2
Rugi-rugi Tekanan Dalam Tubing
Inventory
 Tujuan: memakai jenis barang sesedikit mungkin untuk
menekan biaya inventory
 Laju alir setiap pompa adalah dalam range, artinya satu
jenis pompa bisa untuk beberapa laju produksi yang
berdekatan
 Perbedaan ukuran cable tidak berpengaruh banyak
terhadap harga cable, pakai satu ukuran cable saja,
misalnya #1AWG
 Tandem memungkinkan pengurangan inventory housing
dari pompa dan motor
Operasi ESP
 Tidak ada scheduled maintenance kecuali monitor kondisi
kerja ESP
 Informasi untuk diagnostik: ampchart/data log, fluid level
dan pressure gauge
 Tidak boleh over capacity, pump off
 Cermat dalam operasi penurunan dan pengangkatan
pompa
 Kualitas listrik harus baik, mengurangi start-stop operation
 Penyambungan listrik harus dilakukan dengan benar
Ampacity dan Seting Proteksi

 Start Up 400 – 600% Name Plate


 Overload Setting 120% Name
Plate
 Underload 80% Full
Load
 Pump-off 60% Full Load
 Idle (Patah Shaft) 30% Full
Load
 Automatic Restart Delay 5 - 15
menit
Real Life Statistical Data – ESP Operation

16
Mtr burnt 15
14 RC damage 6
FC damage 2
12 Splicing 7
Pig tail 2
10 Worn pump 5
Shaft brk. 5
8 Gas sep. 1
Protector 8
6 Sizing 8
Scale 13
4 Low PI 5
High GOR 2
2 Other 9

0
Mtr burnt RC damage FC damage Splicing Pig tail Worn pump Shaft brk. Gas sep. Protector Sizing Scale Low PI High GOR Other
INPUT DATA ESP
END OF LECTURE
QUESTIONS ?
SOAL LATIHAN (Tdk perlu dikumpulkan)

6500-6600 ft