You are on page 1of 48

STRUKTUR KALIMAT TEMPORAL BAHASA INDONESIA

DALAM NOVEL JANGAN MERIBUTKAN MASALAH KECIL


BUAT PARA REMAJA KARYA RICHARD CARLON

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian syarat-syarat Ujian


guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

O LE H :
YUSRI PARURA
STAMBUK: 212111090

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TORAJA

2016
STRUKTUR KALIMAT TEMPORAL BAHASA INDONESIA
DALAM NOVEL JANGAN MERIBUTKAN MASALAH KECIL
BUAT PARA REMAJA KARYA RICHARD CARLON

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan kepada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni


Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
untuk Diseminarkan
dalam Rangka Penulisan Skripsi

O LE H :
YUSRI PARURA
STAMBUK: 212111090

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TORAJA

2016
BAB I

PE N DAHU LUAN

A.Latar Belakang Masalah

Manusia dalam kehidupannya menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi.

Melalui bahasa, manusia dapat menguasai alam, sehingga manusia dapat mengubah

alam itu sesuai dengan kebutuhannya. Bahasa merupakan alat untuk merumuskan apa

yang dipikirkan, apa yang dialami, apa yang dirasakan, dan apa yang dikehendaki.

Apa yang dipikirkan itu disampaikan kepada orang lain melalui bahasa sehingga

dapat diciptakan kerja sama antarsetiap individu. Dengan bahasa pulalah manusia

dapat mengatur kegiatannya yang berhubungan dengan kegiatan kemasyarakatan.

oleh karena itu betapa pentingnya bahasa bagi manusia kiranya tidak perlu diragukan

lagi.” Selanjutnya beliau mengatakan bahwa fungsi bahasa terdiri atas (1) sebagai alat

komunikasi, (2) sebagai alat mengekspresikan diri, (3) sebagai alat berintegrasi dan

beradaptasi sosial; dan (4) sebagai alat kontrol sosial.”

Berdasarkan gambaran di atas, maka salah salah fungsi dari bahasa yang

sangat penting adalah sebagai alat komunikasi. Pada hakikatnya manusia adalah

makhluk sosial yang memiliki rasa ingin tahu, diketahui dan diperhatikan. Sarana

yang dapat digunakan untuk mewujudkan semua itu adalah bahasa sebagai alat

komunikasi. Dengan demikian, bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan

manusia karena bersifat alami. Manusia berbahasa karena hidup. Cabang ilmu

bahasa yang membicarakan tentang kalimat adalah sintaksis. Sintaksis menurut

Verhaar dalam Putarayasa (2008:1) adalah “Sebagai cabang tatabahasa yang


membahas hubungan antarkata dalam tuturan.” Selanjutnya Ramlan (dalam Ida

Putrayasa 2008:1) adalah “Cabang ilmu bahasa yang membicakan seluk beluk

wacana, kalimat,klausa, dan frase.” Satuan sintaksis seperti kalimat bukanlah deretan

kata yang dirangkaikan sesuka hati oleh pemakainya melainkan suatu rangkaian yang

berpola atau berstruktur. Ini berarti bahwa untuk menghasilkan ujaran yang dapat

dipahami teman bicara, orang tidak sekedar memperhatikan kata-kata beserta

maknanya tetapi lebih dari itu, yang tak kalah pentingnya adalah syarat-syarat

struktur yang menentukan makna gramatikal arus ujaran itu.

Seseorang dapat menyampaikan segala sesuatu yang tersirat dalam

pikirannya, perasaannya, dan keinginannya, dengan menggunakan bahasa melalui

kalimat. Salah satu jenis kalimat dalam bahasa Indonesia adalah kalimat temporal.

Kalimat temporal itu mempunyai keunikan bila dibanding dengan jenis kalimat yang

lain. Keunikan kalimat temporal yaitu (1) untuk menyiarkan informasi kepada lawan

bicara kita, (2) memiliki keterangan watu, (3) dibentuk oleh unsur-unsur pembentuk

kalimat. Unsur pembentuk kalimat itu sangat erat hubungannya dengan satuan

kalimat. Satuan kalimat itu berupa kata, frase, dan klausa sehingga dapat menduduki

fungsi seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan, bergantung kepada unsur

ujaran tersebut. Misalnya Dia berjalan kaki selama lima jam. Kalimat tersebut

dibangun oleh sejumlah kata. Unsur dia berfungsi sebagai subjek, unsur berjalan

berfungsi sebagai predikat, unsur kaki berfungsi sebagai pelengkap, dan unsur lima

jam berfungsi sebagai keterangan waktu. Dengan demikian, maka struktur kalimat

tersebut adalah SPPelK (subjek, predikat, pelengkap, dan keterangan waktu )


Setelah penulis membaca dan mencermati penggunaan kalimat dalam novel

Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D.

ternyata bahwa dalam novel tersebut banyak menggunakan jenis-jenis kalimat. Jenis-

jenis kalimat yang digunakan dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat

Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D. yaitu kalimat temporal, kalimat

pernyataan, kalimat perintah, kalimat berita, kalimat seru, kalimat majemuk setara,

kalimat majemuk bertingkat, kalimat transitif dan sebagainya. Kalimat temporal

bahasa Indonesia cukup tinggi frekuensi pemakaiannya dalam novel tersebut.

Berdasarkan kenyataan di atas, maka kalimat temporal sangat menarik untuk

diteliti. Oleh karena itu, penulis akan meneliti tentang struktur kalimat temporal

bahasa Indonesia dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat Para Remaja,

karya Richard Carlon, Ph.D.

Berdasarkan uraian di atas, maka kalimat temporal dalam bahasa Indonesia

sangat menarik untuk diteliti dari segi strukturnya. Oleh karena itu, penulis akan

meneliti kalimat temporal bahasa Indonesia dalam novel Jangan Meributkan

Masalah Kecil Buat Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D.

B. Batasan Masalah

Novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat Para Remaja, karya Richard

Carlon, Ph.D, menggunakan berbagai jenis kalimat, yaitu kalimat temporal, kalimat
pernyataan, kalimat perintah, kalimat berita, kalimat seru, kalimat majemuk setara,

kalimat majemuk bertingkat, kalimat transitif dan sebagainya. Penelitian ini hanya

difokuskan pada masalah struktur kalimat temporal bahasa Indonesia yang digunakan

dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat Para Remaja, karya Richard

Carlon, Ph.D.

C. Rumusan Masalah

Masalah penelitian ini, dapat dirumuskan sebagai berikut “Struktur kalimat

temporal apa sajakah yang digunakan dalam novel Jangan Meributkan Masalah

Kecil Buat Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D”?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan struktur

kalimat temporal yang digunakan di dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil

Buat Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D.

E. Manfaat Hasil Penelitian

Manfaat hasil penelitian yang diharapkan adalah:

1. Memberikan pengetahuan kebahasaan bagi penulis sendiri tentang kalimat

temporal bahasa Indonesia dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil

Buat Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D.


2. Memberikan pengetahuan kebahasaan bagi orang yang berkecimpung di

bidang bahasa dan sastra Indonesia mengenai struktur kalimat Berita Bahasa

Indonesia yang digunakan dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil

Buat Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D.

3. Dapat dijadikan bahan bacaan bagi pemerhati bahasa Indonesia.

4. Dapat dijadikan bahan masukan bagi peneliti bahasa Indonesia, khususnya

penelitian berbagai jenis kalimat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Kalimat

Kalimat menurut Ramlan ( dalam Putrayasa 2006: 2), “Kalimat adalah satuan

gramatik yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir turun

naik.” Demikian juga Cook (dalam Putrayasa 2006: 2) mendefenisikan, “Kalimat


merupakan satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai pola

intonasi akhir dan terdiri atas klausa.” Sementara itu Arifin dan Yunaiyah ( 2009: 5 )

adalah “Satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, mempunyai intonasi

final ( kalimat lisan ) dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa.”

Selanjutnya kalimat menurut Elson dan Pikett ( dalam Taringan 2009: 5 ) “Kalimat

adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, yang mempunyai pola

intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa.”

Berdasarkan definisi di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa kalimat dapat

berdiri sendiri, berintonasi final, dan harus terdiri atas beberapa kata.

B. Ciri-Ciri Kalimat Bahasa Indonesia

Ciri-ciri kalimat menurut Suhardi dkk. (1997: 3.4 ) adalah sebagai berikut:

1. Berupa satuan bahasa ( satuan gramatikal atau satuan ujaran )

Kalimat terdiri atas satuan bahasa yaitu berupa kata atau untaian beberapa

kata. Oleh karena itu kalimat dalam bahasa Indonesia ada yang terdiri atas

satu kata, dua kata, tiga kata, empat kata dan seterusnya. Misalnya (1) Ali!, (2)

Mina berdandan, (3) Mince berbelanja di pasar, (4) Anton mencuci mobil tadi

pagi, (5) Ibu membeli tiga buah sepeda baru di toko itu dsb.

2. Secara relatif dapat berdiri sendiri.

Kalimat yang dibangun oleh sejumlah kata, pada dasarnya dapat berdiri

sendiri. Oleh karena itu, maka sebuah kalimat harus memiliki makna atau arti.

3. Mempunyai pola intonasi akhir ( selesai atau final )


Sebuah kalimat harus berintonasi temporal. Oleh karena itu intonasi dalam

sebuah kalimat sangat penting. Salah memberikan intonasi, maka makna

kalimat itu akan berbeda. Misalnya (1) Ibu guru saya akan berangkat ke

Jakarta. (2) Ibu guru saya akan berangkat ke Jakarta. Kalau pada kalimat

nomor satu diberi intonasi pada kata Ibu guru saya, maka yang berangkat

adalah Ibu guru saya. Pada kalimat nomor (2) Kalau yang diberi intonasi

adalah saya, maka yang berangkat adalah saya dan bukan Ibu guru saya.

Berdasarkan hal tersebut, maka unsur intonasi dalam kalimat memegang

peranan yang sangat penting.

4. Dibatasi oleh keseyapan awal dan kesenyapan akhir

Dalam kalimat terdapat dua unsur penting yaitu (1) unsur segmental dan (2)

unsur suprasegmental. Unsur segmental kalimat pada umumnya berupa kata,

frase, dan klausa. Unsur suprasegmental terdiri atas jeda, nada atau intonasi

pula. Ada kesenyapan awal dan ada kesenyapan akhir. Ada intonasi kalimat

tanya, kalimat berita, dan kalimat perintah.

Contoh:

1. Pergi! ( kalimat perintah )

2. Buku saya. ( jawaban atas pertayaan buku milik siapa ini?

3. Anak itu sangat rajin. ( kalimat berita )

4. Para siswa membersihkan ruangan kelas. ( kalimat berita )

5. Ketika orang tuaku datang saya sedang mandi.


C. Unsur Fungsi dalam Kalimat

Fungsi menurut Chaer (2008: 20) adalah “ Semacam “kotak-kotak” atau

“tempat-tempat” dalam struktur sintaksis yang ke dalamnya akan diisikan kategori-

kategori tertentu. Kotak-kotak itu bernama subjek (S), predikat (P), objek (0),

pelengkap (pel.) dan keterangan (K).” Senada dengan definisi tersebut dikemukakan

oleh Arifin dan Yunaiyah (2009:10), yaitu “Berdasarkan fungsinya, unsur-unsur

kalimat ada yang berupa subjek, predikat, objek, pelengkap, serta keterangan.”

Berdasarkan definisi tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan fungsi

dalam kalimat adalah subjek, predikat (transitif, intransitif) pelengkap, dan

keterangan. Berikut ini akan diuraikan secara singkat satu per satu:

1. Subjek

a. Pengertian Subjek

Subjek menurut Finosa (2007: 152) adalah “Bagian-bagian kalimat yang

menunjuk pelaku, tokoh, sosok, suatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pokok

pembicaraan.” Subjek menurut Arifin dan Junaiyah (2009: 35) adalah “Bagian klausa

yang berwujud nomina atau frasa nominal yang menandai apa yang dinyatakan oleh

pembicara atau penulis.” Subjek menurut Maimunah ( 2011: 2 ) adalah “ Subjek

adalah bagian kalimat yang menunjuk pelaku yang menjadi pangkal / pokok

pembicaraan.”

Berdasarkan defenisi di atas maka subjek adalah bagian kalimat yang

menunjuk pelaku, tokoh, sosok, suatu hal atau masalah yang menjadi pokok
pembicaraan. Oleh karena itu, subjek adalah pokok pembicaraan sehingga subjek

harus ada dalam setiap kalimat.

b. Ciri-Ciri Subjek

Wirjosudarmo ( 1985: 231 ) membicarakan mengenai ciri-ciri Subjek. Adapun

ciri-ciri subjek adalah sebagai berikut:

1. Bertanya apa?

Contoh:

6. Rambutnya / agak kuning.

S P

7. Gambar itu / sangat bagus.

S P

2. Bertanya siapa

Contoh:

8. Nurul / duduk / di sampingku.

S P K

9. Nenek / berjalan-jalan / di halaman /dengan tongkat.

S P K K

3. Berlingkungan sempit

Contoh:

10. Gajah / berbelalai.

S P
11. Kuda / meringkik.

S P

4. Berkata penunjuk ini

Contoh:

12. Kebijakan ini / merupakan / langkah penting.

S P pel.

13. Paman saya / polisi

S P

5. Berkata Penunjuk itu

Contoh:

14. Gedung itu / gedung DPRD.

S P

15. Botol itu / telah berisi / air bersih.

S P Pel.

6. Yang terletak di muka

Contoh:

16. Ibu / berbelanja.

S P

17. Rudi / belajar / matematika.

S P Pel.

7. Berpartikel pun
Contoh:

18. Nuri pun / datang / agak terlambat.

S P K

19. Dia pun / hendak pergi.

S P

8. Berkata sandang yang

Contoh:

20. Yang membaca majalah itu / dia.

S P

21. Yang mencoret-coret tembok ini / dia.

S P

9. Berkata sandang nya

Contoh:

22. Kelakuannya / menjadi / buah bibir.

S P Pel.

23. Pekerjaanya / baik sekali.

S P

10. Kadang-kadang berpatikel lah

Contoh:

24. Berangkatlah / mereka / dengan segera.

P S K
25. Belajarlah /mereka /dengan baik.

P S K

Di samping ciri-ciri subjek di atas oleh Sukini ( 2010: 61) diberikan ciri-ciri

subjek sebagai berikut:

1. Pada umumnya subjek berupa nomina;

2. Berupa frase nominal; dan

3. Terletak di sebelah kiri predikat

Contoh:

26. Anak-anak / sedang bermain.

S P

27. Orang tua itu / ayahnya.

S P

28. Yang tidak mendapat PR / mendapat / sanksi.

S P O

2. Predikat

a. Pengertian Predikat

Predikat menurut Putrayasa ( 2006: 65) adalah “Bagian yang memberi

keterangan tentang sesuatu yang berdiri sendiri atau subjek itu.” Selanjutnya

Bloomfield ( dalam Putrayasa 2006: 65) “Menyebut predikat dengan verba vinit

yang berarti melaksanakan perbuatan.” Predikat menurut Finosa (2007: 150) adalah
“Bagian kalimat yang memberi tahu melakukan perbuatan (action).” Predikat

menurut Lion (dalam Putrayasa 2006: 65 ) “Predikat adalah keterangan yang dibuat

mengenai orang atau barang itu.” Menurut Sakri ( dalam Putrayasa 2006: 65) adalah

sebagai puncak kerja yang menduduki jabatan uraian dan menyatakan tindakan atau

perbuatan.” Selanjutnya predikat menurut Maimunah ( 2011: 4 ) adalah “Bagian

kalimat yang memberi tahu tindakan apa atau dalam keadaan bagaimanakah subjek,

pelaku atau benda dalam suatu kalimat.”

Contoh:

29. Kuda / meringkik.

S P

30. Ibu/ sedang tidur siang.

S P

31. Putrinya / cantik jelita.

S P

b. Ciri-Ciri Predikat

Ciri-Ciri predikat menurut Putrayasa (2006: 65) adalah

1. Memberi keterangan tentang sesuatu yang berdiri sendiri atau subjek itu.

2. Memberi keterangan tentang sesuatu yang berdiri sendiri tentulah

menyatakan apa yang dikerjakan atau dalam keadaan apakah subjek itu.

3. Predikat terjadi dari kata kerja atau keadaan, kita selalu bertanya dengan

memakai kata tanya mengapa, artinya dalam keadaan apa, bagaimana atau

mengerjakan apa.
Ciri-ciri predikat menurut Wirjosudarmo ( 1985: 269) adalah

1. bertanya: bagaimana, mengapa, dalam keadaan apa atau mengerjakan apa?

Contoh:

32. Ia / sehat.

S P

33. Adik / merajuk.

S P

34. Kakaknya / sakit.

S P

2.Berlingkungan luas

Contoh:

32.Manusia / adalah makhluk social.

S P

33. Semua harimau / adalah binatang.

S P

3. Yang terletak di belakang

Contoh:

34. Anaknya / menangis.

S P

35. Bu Ijah / berbelanja / sayuran.

S P pel.
4. Berpartikel lah

Contoh:

36. Membacalah / mereka / di meja tamu.

P S K

37. Menangislah / anak kecil itu.

P S

3. Objek

a. Pengertian Objek

Objek menurut Finosa (2007: 153) adalah “Bagian kalimat yang melengkapi

predikat. Objek pada umumnya diisi oleh nomina, frase nominal atau klausa.” Objek

menurut Chaer (2006: 264), “Adalah bagian yang melengkapi dan memberikan

penjelasan terhadap predikat.” Objek menurut Wirjosudarmo (1985: 280) adalah “

Objek yang dikenai atau menderita pekerjaan, baik secara langsung atau menyatakan

hasil atau akibat pekerjaan yang dinyatakan oleh predikat.” Selanjutnya Maimunah

( 2011: 5 ) “Objek adalah Bagian kalimat yang melengkapi predikat, diisi oleh

nomina, frase nominal atau klausa.”

Contoh :

38. Presiden / menyetujui / penyelenggaraan kongres.

S P O

39. Paman / akan membeli / rumah.

S P 0

b. Ciri-Ciri Objek
Ciri-ciri objek menurut Suhardi dkk. (1998: 4.7) adalah “(1) Fungsi objek ada

apabila unsur pengisi predikatnya adalah berkategori verba aktif intransitif, (2) Posisi

fungsi objek berada di sebelah kanan fungsi predikat, (3) Unsur pengisi fungsi objek

bergolongan nomina, dan (4) Fungsi objek dapat berubah menjadi fungsi subjek

dalam kalimat pasif.

Ciri-ciri objek menurut Putrayasa (2006: 67) mengemukakan bahwa ciri-ciri

objek adalah:

1. Berwujud frase nominal, nomina, klausa.

2. Berada langsung di belakang predikat

3. Menjadi subjek akibat pemasifan kalimat.

4. Dapat diganti dengan pronomina –nya.

5. Dapat menjawab atas kata tanya apa yang terletak di belakang

predikat.

Objek berupa frase nominal, nomina, klausa. Objek sebagai salah satu fungsi

dalam kalimat dapat dibentuk oleh frase nomina, misalnya / Kami membeli sayur dan

ikan. Unsur kami berfungsi sebagai subjek, unsur membeli berfungsi sebagai

predikat, dan unsur sayur dan ikan berfungsi sebagai objek yang dogolongkan ke

dalam frase nomina. Objek dapat dibentuk oleh nomina, misalnya /Ayah membeli

mobil. Unsur ayah berfungsi sebagai subjek, unsur membeli berfungsi sebagai

predikat, dan unsur mobil berfungsi sebagai objek yang digolongkan ke dalam

nomina. Objek dapat dibentuk oleh klausa, misalnya gula, terigu, sayur, dan ikan

sebagai jawaban atas kalimat tanya apa yang dibeli oleh ibu di pasar?
Berada langsung di belakang predikat. Objek berada langsung di belakang

predikat, misalnya /Ibu menjahit baju./ Unsur ibu berfungsi sebagai subjek, unsure

menjahit berfungsi sebagai predikat, dan unsur baju berfungsi sebagai objek.

Objeknya di belakang predikat, dan tidak pernah objek mendahului predikat,

misalnya kalimat di atas tidak bisa menjadi baju menjahit ibu.

Menjadi subjek akibat pemasifan kalimat. Kalau kalimat aktif dijadikan

kalimat pasif, maka objek menjadi subjek dalam kalimat pasif, dan subjek dalam

kalimat aktif menjadi objek dalam kalimat pasif, misalnya:

(1) Ali / memukul / anjing.

S P O

(2) Anjing / dipukul / oleh Ali.

S P O

Objek dapat diganti dengan pronominal –nya, misalnya Ia memukulnya. Unsur

nya pada kalimat di atas adalah objek.

Dapat menjawab atas kata tanya apa yang terletak di belakang predikat,

misalnya pada kalimat /Ayah / mencangkul / sawah /. Kalau kita bertanya apakah

yang dicangkul oleh ayah, maka jawabannya adalah sawah. Unsur sawah berfungsi

sebagai objek dan terdapat di belakang predikat.

4. Pelengkap

a. Pengertian Pelengkap
Pelengkap menurut Finosa (2007:154) adalah “Bagian kalimat yang

melengkapi predikat.” Selanjutnya menurut Maimunah ( 2011: 6) adalah “Bagian

kalimat yang melengkapi predikat.”

b. Ciri-Ciri Pelengkap

Ciri-ciri pelengkap menurut Suhardi dkk. (1998: 4.8) adalah

(1) Berdasarkan posisinya fungsi pelengkap berada di sebelah kanan predikat,


tepatnya setelah fungsi objek pada kalimat pasif, (2) Unsur pengisi Fungsi
pelengkap adalah golongan nomina, (3) Fungsi ini tidak hanya terdapat pada
kalimat yang predikatnya verba aktif transitif dan verba intransitif tetapi juga
terdapat pada kalimat verba pasif, dan (4) Apabila kalimatnya dipasifkan
fungsi pelengkap tidak mengalami perubahan fungsi seperti pada fungsi
objek.

Adapun Ciri-ciri pelengkap menurut Putrayasa (2006: 67):

1 Berwujud frase nominal, frase verbal, frase ajektival, frase preposisional, atau

klausa.

2. Berada langsung di belakang predikat jika tidak ada objek dan dibelakang objek

jika unsur ini hadir.

3. Tidak dapat menjadi subjek atau pemasifan kalimat.

4. Tidak dapat diganti dengan –nya kecuali dalam kombinasi preposisi selain di, ke,

dari, dan akan.

Berdasarkan ciri-ciri pelengkap di atas, maka berikut ini diberikan contohnya:

40. Ia / mencarikan / adiknya / pekerjaan sampingan.

S P O Pel.

41. Para pejabat / akan memberi / fakir miskin / bingkisan lebaran.


S P O pel

5. Keterangan

a. Pengertian Keterangan

Menurut Maimunah ( 2011: 4 ) adalah “Bagian kalimat yang menerangkan

berbagai hal mengenai bagian kalimat lainnya. Posisi keterangan manasuka dapat di

awal. Di tengah, atau di akhir kalimat.” Menurut Ramlan (2001: 98). “Keterangan

dapat diketahui dengan jalan mengajukan pertayaan siapa, di mana, kapan

dilakukan.” Keterangan menurut Finosa (2007: 155) adalah “Bagian kalimat yang

menerangkan predikat dalam sebuah kalimat.” Definisi lain dikemukakan oleh

Putrayasa ( 2006: 69) adalah “Fungsi sintaksis yang paling beragam dan paling

mudah berpindah letaknya. Keterangan dapat berada di awal, di akhir, dan bahkan di

tengah kalimat. Kehadiran keterangan dalam kalimat bersifat manasuka.”

Berikut ini diberikan contohnya :

42. Anak itu / dibuatkan / boneka / oleh Pak Karto.

S P Pel. K

43. Anak itu / dibuatkan / baju baru / oleh Pak Tono.

S P Pel. K

b. Ciri-Ciri Keterangan

Ciri-Ciri keterangan menurut Putrayasa ( 2006: 69 ) adalah

1. Keterangan dapat berada di awal, di akhir, bahkan di tengah kalimat.

2. Kehadiran keterangan dapat bersifat manasuka.


3. Biasanya konstituen keterangan dapat berupa frase nomina, frase

preposisional, atau frase adverbial.

c. Penanda keterangan dalam Bahasa Indonesia

Makna keterangan ditentukan oleh perpaduan makna unsur-unsurnya. Kalimat

/ Ia berdandan di dalam kamar /. Unsur Ia berfungsi sebagai subjek, unsur berdandan

berfungsi sebagai predikat, dan unsur di dalam kamar berfungsi sebagai keterangan

tempat, dan mengandung makna tempat. Kalimat /Ia menikam musuhnya dengan

keris. Unsur Ia berfungsi sebagai subjek, unsur menikam berfungsi sebagai predikat,

unsur musuhnya berfungsi sebagai objek, dan dengan keris berfungsi sebagai

keterangan alat. dan mengandung makna alat.

Menurut Putrayasa ( 2006: 69) “Keterangan berdasarkan maknanya terdapat

bermacam- macam keterangan beserta dengan penandanya.”

Penanda keterangan adalah sebagai berikut:

1. Keterangan Tempat

Keterangan tempat menurut Putrayasa (2006: 43) adalah”Ketrangan yang

menunjukkan tempat terjadinya suatu peristiwa atau kedaan.” Kata keterangan tempat

ditandai oleh di, ke, dari, dalam, dan pada

Contoh:

44. Pertempuran / terjadi / di Iran.

S P Ket.tempat

45. Kami / akan berangkat / ke Toraja.


S P Ket.tempat

2.Keterangan Waktu

Keterangan waktu menurut Muslich (2010:148) adalah “Menjelaskan kapan

terjadinya suatu peristiwa.”

Contoh:

46. Kami / akan datang / nanti sore.

S p Ket. Waktu

47. Tadi Pagi / kami / tidak sarapan.

Ket. Waktu S P

3.Keterangan Alat

Keterangan alat menurut Muslich (2010:151) adalah “Menyatakan ada

tidaknya alat yang digunakan untuk melakukan perbuatan.” Keterangan alat ditandai

oleh kata dengan.

Contoh:

48. Adik / menggambar / dengan pensil.

S P Ket.alat.

49. Kami / membantu / dengan doa.

S P Ket.alat.

4.Keterangan Tujuan
Keterangan tujuan menurut Muslich (2010:149) adalah “Menyatakan tujuan

atau maksud perbuatan.” Keterangan tujuan ditandai oleh agar /supaya, untuk, bagi,

dan demi.

Contoh:

50. Dia / tekun belajar / agar lulus ujian,

S p Ket. Tujuan.

51. Kami / datang / untuk membantu.

S P Ket.tujuan

5.Keterangan Cara

Keterangan cara menurut Muslich (2010:148) adalah “Menyatakan cara

untuk peristiwa terjadi.” Keterangan cara ditandai oleh dengan dan secara.

Contoh:

52. Dengan senang / kami / pergi / ke Palopo.

Ket.cara S P Ket.tempat.

53. Dengan hati gembira / kami / menyambut /tamu itu.

Ket. cara S P O

6.Keterangan Sebab

Keterangan sebab menurut Putrayasa (2006: 49) adalah “yang menyatakan

sebab terjadinya P (predikat ). Keterangan sebab ditandai oleh karena, dan sebab.”

Contoh:

54. Dia / tidak datang / karena sakit.


S P Ket.sebab

55. Karena terlambat, / dia / dimarahi /guru.

Ket.sebab S P O

7. Keterangan Perwatasan

Keterangan perwatasan menurut Putrayasa (2006: 51) adalah, “Yang

menyatakan batas P (predikat).” Keterangan perwatasan ditandai oleh sampai, dan

hingga.

Contoh:

56. Dia / berjalan kaki / sampai stasiun.

S P Ket.Perwatasan

57. Mereka / mengobrol / hingga larut malam.

S P Ket.Perwatasan

8. Keterangan Perkecualian

Keterangan perkecualian menurut Chaer (2009: 25) adalah, “Yang

menyatakan sesuatu yang tidak dilakukan P (predikat).” Keterangan perkecualian

ditandai oleh selain dan kecuali.

Contoh:

58. Selain nomor 5,/ semua soal / dapat dikerjakan.

Ket.Perkecualian S P
59. Semua / sudah hadir / kecuali Amin dan Ali.

S P Ket.perkecualian

9. Keterangan Perlawanan

Keterangan perlawanan menurut Chaer (2009: 26) adalah, “Yang menyatakan

keadaan atau peristiwa yang berlawanan dengan yang disebut dalam P (predikat).”

Keterangan perlawanan ditandai oleh meskipun dan walaupun.

Contoh:

60. Meskipun dilarang / dia / pergi juga.

Ket.Perlawanan S P

61. Dia / datang juga, / walaupun tidak diundang.

S P Ket.perlawanan

10. Keterangan Kualitas

Keterangan kualitas menurut Putrayasa (2006: 50) adalah “Yang menyatakan

bagaimana atau dalam keadaan apa P itu berlangsung.” Keterangan kualitas ditandai

oleh cepat dan perlahan-lahan.

Contoh :

62. Dia / berjalan / cepat.

S P ket.kualitas

63. Kami / membaca / perlahan-lahan.

S P ket.kualitas
11. Keterangan Kuantitas

Keterangan kuantitas menurut Putrayasa (2006: 50) adalah, “Yang

menyatakan jumlah, derajat, kekerapan, atau perbandingan akan P.” Keterangan

kuantitas ditandai oleh sudah, banyak sekali, sedikit sekali.

Contoh:

64. Dia / membawa / uang / banyak sekali.

S P O ket. kuantitas

65. Sudah bekali-kali / dia / terlambat.


Ket.kuantitas S P

12. Keterangan Modalitas

Keterangan modalitas menurut Putrayasa (2006: 50) adalah,”Yang

menyatakan kepastian, kemungkinan, harapan, dan kesangsian.” Keterangan

modalitas ditandai oleh barangkali, dan sudah.

Contoh:

66. Barangkali / dia / sakit.

Ket.modal. S P

67. Sudah tentu / kami / mau menolong.

Ket.modal S P
D Jenis Kalimat Berdasarkan Keterangan Predikatnya

Kalimat dalam bahasa Indonesia terdiri atas berbagai jenis, bergantung dari

tujuan komunikasi. Jenis kalimat berdasarkan keterangan predikatnya menurut

Wirjosudarmo (1985: 245) dibedakan atas:

1. kalimat kausal

2. Kalimat Alasan

3. Kalimat konsekutif.

4. Kalimat intrumental.

5. Kalimat ablatif.

6. Kalimat kondisiona

7. kalimat kualitatif

8. Kalimat sirkumstansi.

9. Kalimat kuantitatif

10. Kalimat gradius

11. Kalimat Modalitas

12. Kalimat Komperatif

13. Kalimat Limitif

14. Kalimat temporal

Agar jenis- jenis kalimat di atas lebih jelas, maka berikut ini diuraikan satu

per satu:

a. Kalimat Kausal
Kalimat kausal menurut Wirjosudarmo (1985: 246) adalah “Kalimat yang

mempunyai keterangan sebab.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Inri / tidak bersekolah / karena malas.

S P K

2. Tadi pagi / Sandi / meninggal / karena keracunan.

K S P K

3. Bapak Marthen / tidak datang / sebab mobilnya / rusak.

S P S P

b. Kalimat Alasan

Menurut Wirjosudarmo kalimat alasan (1985: 246) adalah “Kalimat yang

mempunyai keterangan alasan.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Milna / tidak bersekolah / karena hujan.

S P K

2. Melihat cakapnya / mereka / orang baik- baik.

K S P

3. Melihat gayanya / dia / orang kaya.

K S P
c. Kalimat Konsekutif

Menurut Wirjosudarmo (1985: 246) kalimat konsekutif adalah “ Kalimat

yang mempunyai keterangan akibat.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Polisi / dipukul / sangat keras, / sehingga meninggal.

S P K K

2. Menjelang ujian / mereka / belajar / siang dan malam / sehingga letih.

K S P K K

3. Sindi / dicubit / sehingga berdarah.

S P K

d. Kalimat Instrumentalis

Kalimat instrumentalis menurut Wirjosudarmo (1985: 246) adalah “Kalimat

yang mempunyai keterangan alat.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Mereka / menikam / orang itu / dengan keris.

S P O K

2. Oleh tindakannya yang tepat, / pencoleng ekonomi itu / tertangkap.

K S P

3. Polisi / menempeleng / orang itu / dengan tongkat.

S P 0 K
e. Kalimat Ablatif

Kalimat ablatif menurut Wirjosudarmo (1985: 246) adalah “ Kalimat yang

mempunyai keterangan asal.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Tas ini / terbuat / dari kulit.

S P K

2. Arloji itu / terbuat / dari emas murni.

S P K

3. Cincin itu / terbuat / dari emas putih.

S P K

f. Kalimat Kondisional

kalimat Kondisional menurut Wirjosudarmo (1985: 246) adalah “ Kalimat

yang mempunyai keterangan syarat.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Kalau ada waktu / kami / akan berkunjung / ke rumahmu.

K S P K

2. Kalian / boleh ikut asal/ tidak nakal.

S P K

3. Kau / boleh lulus / asal kerjakan tugas ini.

S P K
g. Kalimat Kualitatif

Kalimat kualitif menurut Wirjosudarmo adalah “Kalimat yang mempunyai

keterangan kualitas atau keterangan keadaan.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Ibu guru itu / sakit keras.

S P

2. Uang ini / harus dikirimkan segera.

S P

3. Si Joni / sakit demam berdarah.

S P

h. Kalimat Sirkumstansi

Kalimat sirkumstansi menurut Wirjosudarmo (1985: 247) adalah “Kalimat

yang mempunyai keterangan perihal.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Dengan tertawa / ia / menjawab / pertemporalan itu.

K S P 0

2. Perkataan itu / diucapkan / sambil terseyum.

S P K

3. Dengan marah / ia / mencubit / anak itu

K S P O
i. Kalimat Kuantitatif

Kalimat kuantitatif menurut Wirjosudarmo (1985: 247) adalah “Kalimat yang

mempunyai keterangan kuantitatif atau keterangan jumlah.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Adiknya / dilecuti / dua kali.

S P K

2. Hari ini / kami / akan berjalan / sepuluh jam.

K S P K

3. Kambing itu / sudah beranak / dua kali.

S P K

j. Kalimat Gradius

Kalimat gradius menurut Wirjosudarmo (1985: 247) adalah “Kalimat yang

mempunyai keterangan derajat.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Hari / hampir hujan.

S P

2. Ia / sudah agak tua / sekarang.

S P K

k. Kalimat Modalitas
Kalimat modalitas menurut Wirjosudarmo (1985: 248) adalah “Kalimat yang

mempunyai keterangan modalitas.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Barangkali / ia / sakit.

K S P

2. Ia / tidak datang.

S P

3. Moga-moga / Allah / selalu melindungiku / dalam perjalanan ini.

K S P K

l. Kalimat Komparatif

Kalimat komparatif menurut Wirjosudarmo (1985: 248) adalah “Kalimat yang

mempunyai keterangan perbandingan.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Masing-masing / diberi / ala kadarnya.

S P K
2. Novel-novel itu / disusun / menurut besarnya.

S P K
3. Tangannya / terkulai / bagaikan dikoyak.

S P K

m. Kalimat Limiatif
Kalimat limiatif menurut Wirjosudarmo, (1985: 248) adalah “Kalimat yang

mempunyai keterangan perwatasan.”

Perhatikan contoh berikut:

1. Saya / tidak mendengar lagi / tentang perselisihan itu.

S P K

2. Semua tahanan / dibebaskan, / kecuali Ali.

S P K

3. Semua / telah pergi / kecuali kekasihnya.

S P K

E. Kalimat Temporal

1. Pengertian Kalimat Temporal

Kalimat temporal menurut Wirjosudarmo (1985:245) adalah “Kalimat yang

mempunyai keterangan waktu.”

Contoh:

1. Sejak di Palopo / Mereka / sakit.

K S P

2. Dia / berjalan kaki / lima jam.

S P K

3. Dia / menangis / selama satu jam.

S P K
2.Ciri-Ciri Kalimat Temporal

Pakar bahasa Indonesia yang berbicara kalimat temporal bahasa Indonesia

hanyalah Wirjosudarmo. Oleh karena itu, ciri-Ciri kalimat temporal bahasa Indonesia

didasarkan saja pada definisi yang dikemukan oleh Wirjosudarmo bahwa kalimat

temporal bahasa Indonesia adalah kalimat yang ditandai oleh keterangan waktu.

Keterangan waktu menurut Putrayasa ( 2006: 69 ) adalah

Memberikan informasi saat terjadinya suatu peristiwa. Pada umumnya


keterangan waktu ditempatkan di belakang kalimat, tetapi ada pula di tengah
atau di depan.” Kata keterangan waktu yaitu: sering, pernah, selalu, kadang-
kadang, kemarin, sekarang, besok, lusa, tadi malam, tadi pagi, nanti, pagi-
pagi, malam-malam, siang-siang, dan sore-sore.”

Berdasarkan keterangan tujuan yang dikemukakan oleh Putrayasa ( 2006:69)

maka berikut ini dikemukakan ciri-cirinya.

a. Dibentuk oleh beberapa kata

Agar masalah di atas lebih jelas, maka berikut ini diberikan contohnya:

1. Dia pergi tadi pagi.

Kalimat nomor (1) di atas digolongkan ke dalam kalimat temporal karena

mempunyai keterangan waktu. Kalimat tersebut dibentuk oleh empat kata yaitu dia

sebagai kata ganti, pergi sebagai kata kerja, dan tadi sebagai kata keterangan, yaitu

kata keterangan waktu.

b. Kami berjalan selama dua jam.

Kalimat nomor (2) di atas digolongkan ke dalam kalimat temporal karena

mempunyai keterangan waktu. Kalimat tersebut dibentuk oleh lima kata yaitu kami
sebagai kata ganti, berjalan sebagai kata kerja, selama sebagai kata keterangan, dua

sebagai kata bilangan, dan jam sebagai kata benda.

c. Kalimat temporal dibangun subjek, predikat, objek, pelengkap, dan

keterangan

Contoh:

1. Tadi malam kami berjalan selama satu jam.

Kalimat (1) di atas digolongkan ke dalam kalimat temporal karena

mempunyai keterangan waktu. Kalimat tersebut dibentuk oleh lima kata yaitu Tadi

pagi berfungsi sebagai keterangan waktu, kami berfungsi sebagai subjek, dam unsur

berjalan sebagai predikat.

c. Kalimat temporal bahasa Indonesia mempunyai keterangan waktu.

Contoh:

1. Saya menunggu polisi selama lima jam di ruang ini.

Kalimat nomor (1) di atas digolongkan ke dalam kalimat temporal karena

mempunyai keterangan waktu. Kalimat tersebut dibentuk oleh Sembilan kata yaitu

saya sebagai kata ganti, menunggu, sebagai kata kerja, polisi sebagai kata benda,

selama sebagai kata keterangan, lima sebagai kata bilangan, jam sebagai kata benda,

di sebagai kata depan, dan sini sebagai kata keterangan.

3.Struktur Kalimat Temporal Bahasa Indonesia

Struktur kalimat temporal berdasarkan contoh yang dikemukakan oleh

Putrayasa (2006: 42) adalah:

a. Kalimat temporal berstruktur S + P + O + K


Contoh:

1. Dekan / mengumumkan / acara rapat itu / kemarin.

Kalimat di atas berstruktur SPOK. Unsur dekan berfungsi sebagai subjek,

unsur mengumumkan berfungsi predikat, unsur acara rapat berfungsi sebagai objek,

dan unsur kemarin berfungsi sebagai keterangan waktu.

b. Kalimat temporal berstruktur S + P + K

2. Rombongan pasti datang sekarang.

Kalimat di atas berstruktur SPK. Unsur rombongan berfungsi sebagai

subjek, unsur pasti datang berfungsi predikat, dan unsur sekarang berfungsi sebagai

keterangan waktu.

c. Kalimat temporal yang berstruktur KSPO

3. Tadi dia menanyakan masalah itu.

Kalimat di atas berstruktur KSPO. Unsur tadi berfungsi sebagai keterangan

waktu, unsur dia berfungsi sebagai subjek, unsur menanyakan berfungsi predikat,

dan unsur masalah itu berfungsi sebagai objek.

d. Kalimat temporal yang berstruktur SPKK

4. Rektor biasanya datang ke kantor pagi-pagi.

Kalimat di atas berstruktur SPK. Unsur rektor berfungsi sebagai subjek,

unsur biasanya datang berfungsi predikat, unsur ke kantor berfungsi sebagai

keterangan tempat, dan unsure pagi-pagi berfungsi sebagai keterangan waktu.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dugunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif.

Penelitian kualitatif atau naturalistik menurut Sukidin dan Mundir (2005: 23), adalah

“Penelitian yang datanya dinyatakan dalam keadaan sewajarnya atau apa adanya

(naturalistic, natural setting), tidak diubah dalam bentuk simbol-simbol atau bilangan

dengan maksud untuk menemukan kebenaran dibalik data yang objektif dan cukup.”

Data yang diperoleh dalam penelitian ini, dianalisis secara deskriptif. Artinya data

mengenai kalimat dianalisis apa adanya. Dengan demikian, maka akan tergambarlah

struktur kalimat temporal yang digunakan dalam novel Jangan Meributkan Masalah

Kecil Buat Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D.


B. Sumber Data

Sumber data menurut Arikunto (2002: 107) adalah “ Dari mana data itu

diperoleh.” Data penelitian ini bersumber dari novel Jangan Meributkan Masalah

Kecil Buat Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D. Novel tersebut diterbitkan

tahun 2001. Novel tersebut diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,

dan tebal novel tersebut adalah 231 halaman.

C. Jenis Data

1. Data Primer

Data primer menurut Sukidin dan Mundir (2005: 87) adalah “ Data utama,

yaitu data yang menjadi tumpuan perhatian dalam suatu penelitian.” Dengan

demikian maka data primer dalam penelitian ini berupa data tentang kalimat temporal

yang terdapat dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat Para Remaja,

karya Richard Carlon, Ph.D.

2. Data Sekunder

Data sekunder menurut Sukidin dan Mundir (2005: 87) adalah “Data

tambahan.” Berdasarkan definisi ini, maka data sekunder dalam penelitian ini diambil

dari buku-buku tatabahasa Indonesia dan sintaksis yang membicarakan tentang

berbagai jenis kalimat, dan lebih khusus kalimat temporal bahasa Indonesia.

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi
Populasi menurut Arikunto ( 2002:108 ) “Populasi adalah keseluruhan subjek

penelitian.” Populasi bisa berupa orang, atau benda, dan dalam penelitian bahasa

populasi bisa berupa kalimat, frase, klausa, kata, morfem, vokal, konsonan dan

sebagainya.

Populasi dalam penelitian ini adalah semua kalimat temporal bahasa

Indonesia yang digunakan dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat

Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D.

2. Sampel

Sampel menurut Sukidin dan Mundir (2005: 186)

Dalam sasaran penelitian kadang-kadang populasi sangat besar jumlahnya,


sehingga dengan keterbatasan waktu, fasilitas, dana, dan kesempatan
penelitian lebih praktis dilakukan pada sampel. Sampel adalah bagian-bagian
kecil atau sub-sub kelompok dari sebuah populasi. Sampel yang diambil
haruslah representatif, artinya benar-benar dapat mewakili karakteristik
populasi yang terwakili.

Selanjutnya sampel menurut Arikunto (1997:108) adalah “Wakil dari

populasi yang dijadikan sasaran penelitian.” Menurut Arikunto (2002: 111) ada

beberapa keuntungan jika menggunakan sampel yaitu, (1) Karena subjek pada sampel

lebih sedikit dibandingkan dengan populasi maka kerepotannya tentu kurang, (2)

Apabila populasinya terlalu besar, maka dikhawatirkan ada yang terlewati, dan (3)

Dengan penelitian sampel, maka akan lebih efisien ( dalam arti uang, waktu, dan

tempat).”

Sampel penelitian ini adalah sebagian kalimat temporal bahasa Indonesia

dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat Para Remaja, karya Richard
Carlon, Ph.D. Jadi, sampel diambil berdasarkan Purposive Sampling artinya, data

diambil sesuai dengan kebutuhan analisis data.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka sampel dalam penelitian ini berjumlah

………………. kalimat temporal dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil

Buat Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D.

E. Teknik Pengumpulan Data

Ada beberapa teknik pengumpulan data yang digunakan penulis untuk

mengumpulkan data, sebagai berikut:

1. Teknik Observasi

Teknik observasi menurut Sukidin dan Mundir (2005:218) adalah “

Pengamatan atau penginderaan langsung terhadap suatu benda, situasi, proses, atau

perilaku.” Teknik observasi dilakukan untuk mengamati penggunaan kalimat

temporal bahasa Indonesia dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat

Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D.

2. Teknik Dokumentasi

Istilah dokumentasi atau dokumenter menurut Sukidin dan Mundir (2005:

218) “Berasal dari kata dokumen yang berarti barang-barang yang tertulis.”

Dokumentasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini novel Jangan Meributkan

Masalah Kecil Buat Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D. Novel tersebut dibaca

dengan saksama, lalu dicatat sejumlah kalimat temporal bahasa Indonesia yang

digunakan dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat Para Remaja, karya
Richard Carlon, Ph.D.. Data yang telah terkumpul dicatat pada kartu yang telah

disediakan oleh peneliti sendiri.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut.

1. Mengidentifikasi kalimat temporal yang digunakan dalam novel Jangan

Meributkan Masalah Kecil Buat Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D.

2. Mengklasifikasi setiap kalimat temporal bahasa Indonesia yang digunakan

dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat Para Remaja, karya

Richard Carlon, Ph.D.

3. Menganalisis dan mendeskripsikan struktur kalimat temporal bahasa

Indonesia yang terdapat dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat

Para Remaja, karya Richard Carlon, Ph.D.

4. Mendeskripsikan struktur kalimat temporal bahasa Indonesia yang terdapat

dalam novel Jangan Meributkan Masalah Kecil Buat Para Remaja,karya

Richard Carlon, Ph.D.

5. Memaparkan hasil penelitian.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: Rineka Cipta.

Arifin, Zaenal, dan Junaiyah. 2009. Sintaksis.Jakarta: PT Grasindo.

Chaer, A. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka


Cipta.

----------------- 2008. Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Charlon, Richard. 2001. Jangan meributkan Masalah Kecil Buat Para Remaja.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Finosa, Lamuddin. 2007. Komosisi Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.

Masnur, Muslich. 2010. Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia. Bandung: Aditama.

Maimunah, Sitti Annijat. 2011. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi.Malang:


UIN Maliki Press.

Putrayasa, Bagus, Ida.2006. Analisis Kalimat.Bandung: Refika Aditama.

Ramlan, M. 2001. Sintaksis Bahasa Indonesia. Yogyakarta : Andi Offset

Sukidin dan Mundir, 2005. Metode Penelitian. Surabaya: Insan Cendekia.


Suhardi, dkk. 1997. Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen pendidikan
dan Kebudayaan.

Tarigan, H.G. 2009. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Angkasa.


Wirjosudarmo, S. 1985. Tata Bahasa Indonesia. Surabaya: Sinar Wijaya.