You are on page 1of 1

Pemaksimalan Kinerja Bumn Di Sektor Pertambangan

Terkhusus di bidang pertambangan BUMN masih sangat minim dalam


penguasaan sumber daya alam negara. Perusahaan asing lebih berkuasa di bidang
pengelolahan sumber daya alam itu sendiri. Seperti batubara dan nikel.
”Pertambangan yang dikuasai BUMN sangat kecil. Untuk batubara hanya 10
sampai 12 persen, produksinya hanya 4 persen. Sedangkan emas dan tembaga,
masih kosong, atau kecil. Kemudian nikel hanya 11 persen. Bouksit kecil juga.
Kalau timah agak besar. Persoalannya timah harganya kecil,” ujar Deputi Bidang
Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Fajar
Harry Sampurno, disela-sela diskusi Holding Pertambangan, di kantor
Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (24/11) lalu.
Hal ini sangat bertentangan dengan peraturan negara yang tertuang dalam UUD
1945 pasal 33, menyatakan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya, dikuasai negara. Dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat.
Untuk memaksimalkan peran BUMN pertambangan, Kementerian BUMN
kemudian membentuk Holding Pertambangan. Serta telah terbit PP nomor 47
tahun 2017 yang diikuti proses administrasi termasuk akta inbreng.Persetujuan
Holding BUMN Industri Pertambangan, akan dibawa ke Rapat Umum Pemegang
Saham Luar Biasa (RUPSLB) Antam, Bukti Asam dan Timah pada 29 November
2017. Pemerintah memegang mayoritas saham di tiga BUMN yang sudah go
public tersebut. Yakni ANTM 65 persen, PTBA 65,02 persen, dan TINS 65 persen.
Saham mayoritas pemerintah tersebut akan dialihkan ke PT Inalum (Persero),
yang 100 persen sahamnya dimiliki negara.