You are on page 1of 12

Minggu, 15 April 2012

Makalah K3 Industri Sektor Informal "Pedagang Martabak"

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Batasan mengenai sektor informal sebagai sebuah fenomena yang sering muncul diperkotaan
masih dirasakan kurang jelas, karena kegiatan-kegiatan perekonomian yang tidak memenuhi
kriteria sektor formal—terorganisir, terdaftar, dan dilindungi oleh hukum—dimasukkan kedalam
sektor informal, yaitu suatu istilah yang mencakup pengertian berbagai kegiatan yang seringkali
tercakup dalam istilah umum “usaha sendiri”. Dengan kata lain, sektor informal merupakan jenis
kesempatan kerja yang kurang terorganisir, sulit dicacah, dan sering dilupakan dalam sensus
resmi, serta merupakan kesempatan kerja yang persyaratan kerjanya jarang dijangkau oleh
aturan-aturan hukum.
Agar tetap dapat bertahan hidup ( survive ), para migran yang tinggal dikota melakukan
aktifitas-aktifitas informal (baik yang sah dan tidak sah) sebagai sumber mata pencaharian
mereka. Hal tersebut dilakukan dengan pertimbangan daripada menjadi pengangguran yang tidak
memiliki penghasilan atau memiliki penghasilan tetapi rendah dan tidak tetap.
Belum ada pembagian yang jelas antara jenis dan tempat kerja dari kegiatan pekerjaan formal
dan informal. Sementara ini sekotr informal dan formal dibedakan karena ketidakberadaannya
hubllngan kerja atau kontrak kerja yang jelas. Pada umumnya sifat pekerjaan informal hanya
berdasarkan perintah dan perolehan upah. Hubungan yang ada hanya sebatas majikan dan buruh
(tenaga kerja), dengan minimnya perlindungan K3.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu perlindungan tenaga kerja di
segala jenis kegiatan usaha, baik formal maupun informal. Kegiatan dan penerapan K3 terhadap
tenaga kerja di sector formal, pada umumnya sudah diterapkan dengan baik. Sedangkan
penerapan di sector informal belum diketahui dengan baik. Kegiatan pekerjaan dan tempat kerja
sector informal sangat banyak dan belum diklasifikasikan atas jenis usaha , jenis pekerjaan, dan
tempat kerja Bila ditinjau dari ketiganya, nampaknya tidak jauh berbeda. Namun bila dilihat
kondisi tempat kerja dan K3 nya sangat berbeda (sangat berbeda). Secara langsung maupun tidak
langsung aktivitas kerja secara manual apabila tidak dilakukan secara ergonomis akan
menimbulkan kecelakaan kerja.

B. TUJUAN
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka tujuan dari penulisan
makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui pengetahuan tentang kesehatan dan keselamatan kerja.
2. Untuk mengetahui kondisi lingkungan kerja khususnya pedagang martabak
3. Untuk mengetahui penggunaan APD di tempat kerja khususnya pedagang martabak.
4. Untuk mengetahui pengendalian / pencecegahan kecelakaan kerja khususnya pada pedagang
martabak.
5. Untuk mengetahui fasilitas kesehatan yang ada di tempat kerja khususnya pada pedagang
martabak

C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang dan tujuan diatas maka rumusan masalah dari makalah ini
yaitu ;
1. Bagaimana pengetahuan tentang kesehatan dan keselamatan kerja?.
2. Bagaiamana kondisi lingkungan kerja khususnya pedagang martabak?.
3. Bagaimana penggunaan APD di tempat kerja khususnya pedagang martabak?.
4. Bagaimana pengendalian / pencecegahan kecelakaan kerja khususnya pada pedagang martabak?.
5. Bagaiamana fasilitas kesehatan yang ada di tempat kerja khususnya pada pedagang martabak?.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. GAMBARAN LOKASI
Usaha Martabak “Gudang Rasa’ berada di Jalan Paccerakkang, Daya Makassar Sulawesi
Selatan. Tempat usahanya berupa gerobak sederhana dengan berbagai jenis bahan pembuat
martabak dan peralatan menggoreng seperti kompor dan penggorengan.

1. Sejarah Pendirian
Produksi pangan yang baik merupakan salah satu faktor yang penting untuk memenuhi
standar mutu atau persyaratan yang ditetapkan untuk pangan. Cara produksi pangan yang baik
sangat berguna bagi kelangsungan hidup industri pangan baik yang berskala kecil, sedang,
maupun yang berskala besar. Melalui cara produksi pangan yang baik industri pangan dapat
menghasilkan pangan yang bermutu, layak dikonsumsi, dan aman bagi kesehatan. Dengan
menghasilkan pangan yang bermutu dan aman untuk dikonsumsi, kepercayaan masyarakat
niscaya akan meningkat, dan industri pangan yang bersangkutan akan berkembang dengan pesat.
Dengan berkembangnya industri pangan yang menghasilkan pangan yang bermutu dan aman
untuk dikonsumsi, maka masyarakat pada umumnya akan terlindung dari penyimpangan mutu
pangan dan bahaya yang mengancam kesehatan.(BPOM; 2004).
Adapun sejarah berdirinya, usaha Martabak “Gudang Rasa’ mulai dijalankan pada tahun
2008. Berawal dari coba-coba dengan modal seadanya, namun seiring berjalannya waktu
langganan konsumen semakin banyak sehingga usaha ini masih bisa bertahan sampai sekarang
dan mampu membuka cabangnya dimana-mana.
Lokasi dari Martabak “Gudang Rasa’ ini cukup strategis karena berada di pinggir jalan
raya. Selain itu, akses transportasi juga cukup lancar.

2. Jumlah Tenaga Kerja


Berdasarkan hasil observasi dan hasil wawancara yang telah dilakukan, jumlah tenaga kerja
dari usaha ini ada 3 orang yaitu penanggung jawab cabang usaha, Mas Fajar, beserta 2 orang
anggotanya, Kevin dan Iwan. Ketentuan jam kerja pada usaha ini tidak menentu tergantung dari
banyaknya pesanan. Namun, berdasarkan hasil wawancara rata-rata jam kerjanya yaitu kurang 8
jam kerja setiap hari. Mulai buka pukul 17.00 (5 sore) sampai pukul 24.00 (12 malam).
3. Proses Produksi
a. Bahan Baku
Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan dalam pembuatan produk, ikut dalam
proses produksi dan memiliki persentase yang besar dibandingkan bahan-bahan lainnya. Jadi,
bahan baku ini dapat disebut sebagai bahan utama. Adapun bahan baku yang digunakan adalah
sebagai berikut :
 Tepung, sebagai bahan dasar pembuat adonan,
 Telur,
b. Bahan Tambahan
Bahan tambahan adalah bahan yang digunakan dalam proses produksi dan ditambahkan
kedalam proses pembuatan produk dalam rangka meningkatkan mutu produk yang mana
komponennya merupakan bagian dari produk akhir. Bahan tambahan yang digunakan adalah
sebagai berikut :
 Isian martabak, seperti jamur, telur, sosis, daging ayam.
 Daun bawang.

c. Uraian Proses Produksi


Proses produksi adalah metode atau teknik untuk membuat suatu barang atau jasa bertambah
nilainya dengan menggunakan sumber tenaga kerja, mesin, bahan baku, bahan tambahan dan
dana yang ada.Sedangkan proses adalah suatu cara, metode dan teknik bagaimana mengubah
sumber daya (material, tenaga kerja, mesin, dana dan metode) yang ada untuk memperoleh hasil.
Sedangkan untuk produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu
barang atau jasa. Dari definisi diatas maka dapat dibuat kesimpulan bahwa proses produksi
adalah cara, metode, dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau
jasa dengan menggunakan sumber daya material, tenaga kerja, mesin, dana, dan metode yang
ada.
Jenis-jenis produksi sangat banyak, tergantung dari metode, dan cara yang digunakan untuk
menghasilkan produk. Namun secara garis besar dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu :
1. Proses produksi yang terus menerus (Continue)
2. Proses produksi yang terputus-putus (Intermittent)
Dalam aktivitas produksinya sehari-hari Martabak “Gudang Rasa’ menggunakan jenis proses
produksi yang terputus-putus Intermittent. Hal ini dikarenakan kegiatan produksi tersebut
berlangsung untuk memenuhi permintaan atau tergantung pesanan dari konsumen. Proses
produksi Martabak “Gudang Rasa’ adalah sebagai berikut :

Pesanan konsumen
Pengemasan dan transaksi
Pembuatan isian martabak
Pembuatan kulit martabak dari adonan
penggorengan
Adonan di isi dengan isian martabak

B. TINJAUAN UMUM
Upaya kesehatan kerja adalah upaya penyerasian kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan
kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun
lingkungan agar diperoleh produktifitas kerja yang optimal.
Ruang lingkup kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan
pekerja dan lingkungan kerjanya baik secara fisik maupun psikis dalam hal cara/metoda kerja,
proses kerja dan kondisi kerja yang bertujuan untuk :
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di semua lapangan
pekerjaan yang setinggi-tingginya baik secara fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya.
2. Mencegah gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh keadaan/kondisi
lingkungan kerjanya.
3. Memberikan perlindungan bagi pekerja didalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang
disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaannya yang sesuai dengan
kemampuan fisik dan psikis pekerjaannya.

Kapsitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam
kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan
menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal. Kapasitas kerja yang baik seperti status
kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar
seseorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya secara baik.
Beban kerja meliputi beban kerja fisik maupun mental. Akibat beban kerja yang terlalu berat
atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja menderita
gangguan atau penyakit akibat kerja. Kondisi lingkungan kerja (misalnya panas, bising, debu, zat
kimia, dll) dapat merupakan beban tambahan terhadap pekerja. Beban tambahan tersebut secara
sendiri-sendiri maupun bersama-sama dapat menimbulkan gangguan atau penyakit akibatnya.
Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan
pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
Penyakit akibat kerja dan atau penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan dapat
disebabkan oleh pemaparan terhadap lingkungan kerja. Dewasa ini terhadap kesenjangan antara
pengetahuan ilmiah tentang bagaimana bahaya-bahaya kesehatan berperan dan usaha-usaha
untuk mencegahnya. Juga masih terdapat pendapat yang sesat bahwa dengan mendiagnosis
secara benar penyakit-penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh zat/bahan yang berbahaya
dilingkungan kerja, sudah membuat sutuasi terkendalikan.
Walaupun merupakan langkah yang penting namun hal ini bukan memecahkan masalah
yang sebenarnya. Pendekatan tersebut tetap membiarkan lingkungan kerja yang tidak sehat tetap
tidak berubah, dengan demikian potensi untuk menimbulkan gangguan kesehatan yang tidak
diinginkan juga tidak berubah' Hanya dengan "diagnosa" dan "pengobatan/ penyembuhan" dari
lingkungan kerja, yang dalam hal ini disetarakan berturut-turut dengan "pengenalan/evaluasi"
dan "pengendalian efektif" dari bahaya-bahaya kesehatan yang ada dapat membuat lingkungan
kerja yang sebelumnya tidak sehat menjadi sehat.
Untuk dapat mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya-bahaya dilingkungan kerja
yang diperkirakan dapat menimbulkan penyakit akibat kerja utamanya terhadap para pekerja,
ditempuh 3 langkah utama yaitu : Pengenalan lingkungan kerja, evaluasi lingkungan kerja dan
pengendalian lingkungan dari berbagai bahaya dan resiko kerja.
1. Pengenalan lingkungan kerja
Pengenalan dari berbagai bahaya dan resiko kesehatan dilingkungan kerja biasanya pada waktu
survai pendahuluan dengan cara melihat dan mengenal ("walk-through survey"), yang salah satu
langkah dasar yang pertama-tama harus dilakukan dalam upaya program kesehatan kerja.
Beberapa diantara bahaya dan resiko tersebut dapat dengan mudah dikenali, seperti masalah
kebisingan disuatu tempat, bilamana sebuah percakapan sulit untuk didengar, atau masalah panas
disekitar tungku pembakaran atau peleburan yang dengan segara dapat kita rasakan. Beberapa
hal lainnya yang tidak jelas atau sulit untuk dikenali seperti zat-zat kimia yang berbentuk dari
suatu rangkaian proses produksi tanpa adanya tanda-tanda sebelumnya. Untuk dapat mengenal
bahaya dan resiko lingkungan kerja dengan baik dan tepat, sebelum dilakukan survai
pendahuluan perlu didapatkan segala informasi mengenai proses dan cara kerja yang digunakan,
bahan baku dan bahan tambahan lainnya, hasil antara hasil akhir hasil sampingan serta limbah
yang dihasilkan. Kemungkinankemungkinan terbentuknya zat-zat kimia yang berbahaya secara
tak terduga perlu pula dipertimbangkan. Hal-hal lain yang harus diperhatikan pula yaitu efek-
efek terhadap kesehatan dari semua bahaya-bahaya dilingkungan kerja termasuk pula jumlah
pekerja yang potensial terpapar, sehingga langkah yang ditempuh, evaluasi serta
pengandaliannya dapat dilakukan sesuai dengan prioritas kenyataan yang ada.
2. Evaluasi Lingkungan kerja
Evaluasi ini akan menguatkan dugaan adanya zat/bahan yang berbahaya dilingkungan kerja,
menetapkan karakteristik-karakteristiknya serta memberikan gambaran cakupan besar dan
luasnya pemajanan. Tingkat pemajanan dari zat/bahan yang berbahaya dilingkungan kerja yang
terkendali selama survai pendahuluan harus ditentukan secara kualitatif dan atau kuantitatif,
melalui berbagai teknik misalnya pengukuran kebisingan, penentuan indeks tekanan panas,
pengumpulan dan analisis dari sampel udara untuk zat-zat kimia dan partikelpartikel (termasuk
ukuran partikel) dan lain-lain. Hanya setelah didapatkan gambaran yang lengkap dan menyeluruh
dari proses pemajanan kemudian dapat dibandingkan dengan standar kesehatan kerja yang
berlaku, maka penilaian dari bahaya atau resiko yang sebenarnya terdapat dilingkungan kerja
yang telah tercapai.
Perilaku dan sikap para pekerja yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kesehatan dapat
mempengaruhi status kesehatan pekerja yang bersangkutan. Beberapa contoh perilaku dan sikap
tersebut adalah :
 Merokok, terlebih lagi bekerja sambil merokok.
 Pola makan yang tidak terartur dan tidak seimbang.
 Ceroboh dan tidak mengindahkan aturan kerja yang berlaku misalnya menolak anjuran
menggunakan alat pelindung diri, bercanda dengan teman sekerja pada waktu bekerja.
 Menggunakan obat-obat terlarang atau minum-minuman keras (bir atau sejenis minuman
beralkohol lainnya).
 Dan Lain-lain.

C. TINJAUAN KHUSUS
Sektor informal adalah segala jenis pekerjaan yang tidak menghasilkan pendapatan
yang tetap, tempat pekerjaan yang tidak terdapat keamanan kerja (job security), tempat bekerja
yang tidak ada status permanen atas pekerjaan tersebut dan unit usaha atau lembaga yang tidak
berbadan hukum. Sedangkan ciri-ciri kegiatan-kegiatan informal adalah mudah masuk, artinya
setiap orang dapat kapan saja masuk ke jenis usaha informal ini, bersandar pada sumber daya
lokal, biasanya usaha milik keluarga, operasi skala kecil, padat karya, keterampilan diperoleh
dari luar sistem formal sekolah dan tidak diatur dan pasar yang kompetitif. Contoh dari jenis
kegiatan sektor informal antara lain pedagang kaki lima (PKL), becak, penata parkir, pengamen
dan anak jalanan, pedagang pasar, buruh tani dan lainnya. ( Fatmawati,2012).
Menurut Departemen Kesehatan RI (2002), sektor informal adalah kegiatan ekonomi
tradisional yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pola kegiatannya tidak teratur, baik dalam arti waktu, permodalan, maupun penerimaanya.
2. Pada umumnya tidak tersentuh oleh peraturan dan ketentuan yang diterapkan oleh pemerintah.
3. Modal, peraturan dan perlengkapan maupun pemasukan biasanya kecil dan diusahakan atas
dasar hitungan harian.
4. Pada umumnya tidak mempunyai tempat usaha yang permanen dan tidak terpisah dengan tempat
tinggal.
5. Tidak mempunyai keterikatan dengan usaha lain yang besar.
6. Pada umumnya dilakukan oleh golongan masyarakat yang berpendapatan rendah.
7. Tidak selalu membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus, sehingga secara luwes dapat
menyerap tenaga kerja dengan bermacam-macam tingkat pendidikan.
Menurut Notoatmodjo (1989) dalam Departemen Kesehatan RI (1994) menjelaskan bahwa
sektor informal berasal dari terminologi ekonomi, yang dikenal sebagai sektor kegiatan ekonomi
marginal atau kegiatan ekonomi kecil-kecilan. Biasanya dikaitkan dengan usaha kerajinan tangan
dagang, atau usaha lain secara kecil-kecilan.
Sedangkan menurut Simanjuntak (1985) dalam DepKes RI (1994), sector informal adalah
kegiatan ekonomi tradisional, yaitu usaha-usaha ekonomi di luar sektor modern atau sektor
formal seperti perusahaan, pabrik dan sebagainya, yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Kegiatan usaha biasanya sederhana, tidak tergantung pada kerja sama banyak orang bahkan
kadang-kadang usaha perorangan dan sistem pembagian kerja yang tidak ketat.
2. Skala usaha relatif kecil, biasanya dimulai dengan modal dan usaha-usaha kecilkecilan.
3. Biasanya tidak mempunyai izin usaha seperti halnya Firma, Perseroan Terbatas atau CV.
4. Sebagai akibat yang pertama, kedua dan ketiga membuka usaha disektor informal relatif lebih
mudah daripada formal.
Timbulnya sektor informal adalah akibat dari meluapnya atau membengkaknya angkatan
kerja disatu pihak dan menyempitnya lapangan kerja dipihak yang lain. Hal ini berarti bahwa
lapangan kerja yang tersedia tidak cukup menampung angkatan kerja yang ada. Permasalahan ini
menimbulkan banyaknya penganggur dan setengan penganggur. Oleh karenanya, secara naluri
masyarakat ini berusaha kecil-kecilan sesuai dengan kebiasaan mereka. Inilah yang
memunculkan usaha sektor informal (DepKes RI, 1994).
Pedagang Martabak “Gudang Rasa’ adalah salah satu usaha makanan cepat saji yang
menyajikan berbagai jenis varian martabak.
Dalam usaha Martabak “Gudang Rasa’ terdapat resiko dan bahaya bagi pekerjanya.
Bahaya (Hazard) adalah sesuatu yang berpotensi menjadi penyebab kerusakan. Ini dapat
mencakup substansi, prose kerja, dan atau aspek lainnya dari lingkungan kerja. Sedangkan resiko
adalah peluang atau sesuatu hal yang berpeluang untuk terjadinya kematian, kerusakan, atau
sakit yang dihasilkan karena bahaya.

BAB III
PEMBAHASAN

1. Pengetahuan Tentang K3
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa
informan mempunyai sedikit pengetahuan tentang kesehatan dan keselamatan kerja.Tapi karena
faktor kebiasaan, hal tersebut tidak dihiraukan bahkan tidak diaplikasikan.
2. Kondisi Lingkungan Kerja
a. POTENSIAL HAZARD LINGKUNGAN FISIK
Faktor fisik yang terdapat pada usaha Martabak “Gudang Rasa’ yaitu suhu yang panas dari
penggorengan.
b. POTENSIAL HAZARD LINGKUNGAN KIMIA
Api yang berpotensi untuk mengakibatkan luka bakar dan minyak akan membuat lingkungan
kerja jadi licin. Dan minyak panas pada penggorengan akan menyebabkan tangan melepuh.
c. POTENSIAL HAZARD LINGKUNGAN FISIOLOGI
Tidak ergonomis. Karena selama mereka bekerja mereka terus saja berdiri.
d. POTENSIAL HAZARD LINGKUNGAN BIOLOGI
Karena posisi usaha martabak berada di pinggir jalan, debu akibat asap kendaraan dan debu-debu
lainnya dapat hinggap pada jajanan tersebut.
3. Penggunaan APD
Pengelolah usaha Martabak “Gudang Rasa’ itu sama sekali tidak menggunakan alat
pelindung diri karena menurutnya hanya dapat memperlambat pekerjaanya dan mereka jadi
terganggu dalam mengerjakan tugasnya. APD yang harus digunakan pada usaha martabak ini
adalah menggunakan celemek saat menggoreng dan sarung tangan saat membuat adonan. APD
lain yang dapat digunakan adalah penutup kepala untuk menghindarkan kotoran dari kepala
masuk dalam makanan.
4. Pengendalian Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja
Pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja yaitu :
1. Membersihkan lantai atau permukaan lingkungan kerja yang terkena minyak ketika hendak
membereskan jualan
2. Menggunakan celemek ketika menggoreng
3. Jika tidak ada pembeli, istirahatlah dengan kata lain duduk.
4. Hygiene pribadi juga harus diperhatikan oleh penjamah makanan, seperti, tidak membiarkan
kuku panjang, penggunaan celemek, alas kaki, serta penutup kepala

BAB IV
PENUTUP
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di industri nonformal khususnya di
industri penjahit dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut ;
1. Pengetahuan tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang dimiliki pekerja di industri ini
masih kurang memadai karena dia sedikit tahu tentang kesehatannya saja tanpa memperhatikan
aspek keselamatannya.
2. Kondisi lingkungan kerja memberikan kontribusi terhadap beberapa potensial hazard. Seperti ;
potensial hazard lingkungan fisik (panas), potensial hazard lingkungan fisiologis ( ergonomi ),
serta potensial hazard lingkungan biologi (debu dan mikroorganisme)
3. Pada penggunaan Alat Pelindung Diri, tidak digunakan karena faktor kebiasaan.
4. Pencegahan / pengendaliaan kecelakaan kerja di tempat ini yaitu jika pekerja merasa sudah lelah
dia berhenti bekerja kemudian beristirahat sejenak.Ini dapat mengurangi resiko kecelakaan kerja
akibat kelelahan. Membersihkan lantai atau permukaan lingkungan kerja yang terkena minyak
ketika hendak membereskan jualan Menggunakan celemek ketika menggoreng

A. Saran
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, maka saran yang dapat disampaikan
penulis yaitu untuk pemerintah agar lebih memperhatikan penerapan kesehatan dan keselamatan
kerja di industri khususnya industri sektor informal. Dan kepada pengusaha ini sebaiknya
menmperhatikan hygiene dan aspek sanitasinya.

DAFTAR PUSTAKA

 (http://www.pondokinfo.com/index.php/pondok-realita/45-masyarakat/64-sektor-informal-
permasalahan-dan-upaya-mengatasinya.html
 http://sanitationhealth.blogspot.com/2012/01/usaha-kesehatan-kerja-bagi-pekerja.html
 Pdf-kesehatan dan keselamatan kerja-sektor informal
 Suardi, Rudi. 2007. Sistem manajemen dan kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta : PPM
 Subaris, Heru. 2007. Hygiene Lingkungan Kerja. Jogjakarta : Mitra Cendikia Press
Suma’mur. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja ( Hiperkes ). Jakarta : sagung seto