You are on page 1of 52

LAPORAN PRAKTIK BELAJAR LAPANGAN

ANALISIS ​LENGTH OF STAY ​(LOS) BERDASARKAN ​CLINICAL PATHWAY

DI RUMAH SAKIT X JAKARTA

Disusun oleh :
ANASTASIA CYNTIA DEWI KURNIAWATI
20160310035

PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN


FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN
UNIVERSITA SESA UNGGUL
JAKARTA
2018

1
PERSETUJUAN UJIAN PRAKTIK BELAJAR LAPANGAN

Judul :
ANALISIS ​LENGTH OF STAY ​(LOS) BERDASARKAN ​CLINICAL PATHWAY​ DI
RUMAH SAKIT X JAKARTA

Lapora PBL telah disetujui untuk dipertahankan dalam ujian PBL Program Studi S1
Manajemen Informasi Kesehatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul Jakarta

Jakarta,..................

Penguji Pembimbing

Dr. Hosizah, M.KM Nauri Anggita T, SKM., MKM


NIDN: 0319027101 NIDN:

Mengetahui,
Ketua Program Studi S1 Manajemen Informasi Kesehatan

2
Dr. Hosizah, M.KM
NIDN: 031902710

PENGESAHAN

Dipertahankan di depan Tim Penguji Praktik Belajar Lapangan


Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan dan diterima untuk memenuhi Persyaratan dalam
mendapatkan Gelar Sarjana​ ​Manajemen Informasi Kesehatan

Jakarta,..................

Penguji Pembimbing

Dr. Hosizah, M.KM Nauri Anggita T, SKM., MKM


NIDN: 0319027101 NIDN:

Mengetahui,
Ketua Program Studi S1 Manajemen Informasi Kesehatan

3
Dr. Hosizah, M.KM
NIDN: 031902710

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan rahmat-Nya, penulis mampu menyelesaikan Praktik Belajar Lapangan dengan judul
“ANALISIS ​LENGTH OF STAY ​(LOS) BERDASARKAN ​CLINICAL PATHWAY DI
RUMAH SAKIT X JAKARTA”​ sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
praktik belajar lapangan ini, lebih khusus juga ditujukan ditujukan kepada:
1. Dr. Hosizah, SKM, MKM selaku Ketua Prodi S1 Manajemen Informassi Kesehatan
2. Direktur RS X Jakarta yang telah memberi izin kepada penulis untuk melakukan praktik
belajar lapangan
3. Kepala Bagian Instalasi Rekam Medis RS X Jakarta dan staf-staf yang telah memberi
informasi yang dibutuhkan penulis
4. Ibu Ns. Erni S.Kep selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan arahan saat
melakukan kegiatan praktek beljar lapangan di RS X Jakarta
5. Ibu Nauri Anggita Tameswari, SKM., MKM selaku pembimbing yang telah memberikan
bimbingan, koreksi, dan saran dalam penyusunan praktik belajar lapangan ini.
6. Kedua orang tua, kedua adik dan keluarga peneliti, yang selalu memberi dukungan baik
secara moril, material, dan doa.
Penulis menyadari bahwa praktik belajar lapangan ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran guna perbaikan praktik belajar
lapangan ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih atas perhatiaanya.

4
Jakarta, 23 April 2018

Penulis

RINGKASAN

ANALISIS ​LENGTH OF STAY ​(LOS) BERDASARKAN ​CLINICAL


PATHWAY​ DI RUMAH SAKIT X JAKARTA

Anastasia Cyntia Dewi Kurniawati

Program Studi S1 Manajemen Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan


Universitas Esa Unggul

Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan


kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan
gawat darurat. Mutu suatu Rumah Sakit yang baik tercermin pada tingkat kepatuhan tindakan,
lama dirawat serta obat yang diberikan kepada pasien sesuai dengan yang tertuang pada
instumen ​clinical pathway.
Clinical Pathway adalah suatu konsep perencanaan pelayanan terpadu yang merangkum
setiap langkah yang diberikan kepada pasien berdasarkan standar pelayanan medis dan asuhan
keperawatan yang berbasis bukti dengan hasil yang terukur dan dalam jangka waktu tertentu
selama di rumah sakit. Rekam medis menjadi salah satu sumber data untuk melihat apakah
terapi, jenis obat serta lama dirawat seorang pasien sesuai dengan ​clinical pathway yang telah
disusun oleh rumah sakit.
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit X Jakarta dengan keseluruhan populasi sebanyak
201 rekam medis pasien yang melakukan tindakan Appendectomy selama tahun 2017. Dari hasil
penelitian didapatkan bahwa kesesuaian LOS kasus pasien appendectomy selama Tahun 2017
sebesar 59% dengan tingkat ketidaksesuaian LOS Kasus Pasien Appendectomy selama tahun
2017 sebesar 41 %. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya varian kelompok klinis,
serta dari mana pasien sebelum masuk rawat inap dari IGD atau IRJ.

5
Kata Kunci :​ ​Length of Stay , Clinical Pathway​, Rekam Medis

6
DAFTAR ISI

Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
Halaman Persetujuan iii
Kata Pengantar iv
Ringkasan v
Daftar Isi vi
Daftar Gambar vii
Daftar Lampiran viii
Dafrar Singkatan ix

BAB 1PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 1


1.2. Rumusan Masalah 2
1.3. Tujuan Umum 2
1.4. Tujuan Khusus 2
1.5. Manfaat PBL 3
1.5.1. ManfaBagi Pengembangan Ilmu Secara Teoritis 3
1.5.2. Manfaat Bagi Pelayanan 3
1.5.3. Manfaat Bagi Rumah Sakit 3
1.5.4. Manfaat Bagi Pendidikan 3
1.5.5. Manfaat Bagi Mahasiswa 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


1.1. Pengertian Rumah Sakit 5
1.1.1. Definisi Rumah Sakit 5
1.1.2. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit 5
1.2. Pengertian Rekam Medis 6
1.2.1. Definisi Rekam Medis 6
1.2.2. Tujuan Rekam Medis 6
1.2.3. Kegunaan Rekam Medis 6
1.3. Pengertian ​Clinical pathway 7
1.3.1. Definisi ​Clinical pathway 7
1.3.2. Tujuan ​Clinical pathway 7
1.3.3. Pinsip Penyusunan ​Clinical pathway 8
1.3.4. Komponen ​Clinical pathway 9
1.3.5. Langkah-Langkah Penyusunan ​Clinical pathway 10
1.4. Pengertian Appendicitis 10

7
1.4.1. Definisi Appendicitis 10
1.4.2. Manifestasi Klinis 12
1.4.3. Evaluasi Appendicitis 13
1.4.4. Penatalaksanaan Appendictis 13

BAB 3 KERANGKA OPERASIONAL


3.1. Tempat dan Waktu PBL 14
3.2. Model Kerangka Kerja PBL 14
3.3. Definisi Operasional 14
3.4. Populasi dan Sampel 14
3.5. Prosedur Pengumpulan Data dan Instrumen PBL 16
3.5.1. Prosedur Pengumpulan Data 16
3.5.2. Instrumen Pengumpulan Data 16
3.6. Pengolahan dan Analisis Data 17

DAFTAR PUSTAKA 18

8
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Tabel Halaman


Tabel 3.1 Tabel Definsi Operasional Penelitian -
Tabel 4.1 Kesesuaian LOS Pada Pasien Appendectomy tahun -
2017 di Rumah Sakit X Jakarta
Tabel 4.2 -
Tabel 4.3

9
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Tabel Halaman


Gambar 3.1 Gambar Kerangka PBL Penelitian -
Gambar 4.1 -
Gambar 4.2 -
Gambar 4.3

10
DAFTAR SINGKATAN

CP : ​Clinical Pathway
DHF : Dengue Haemorrhagic Fever
LOS : ​Length Of Stay
PERMENKES : Peraturan Menteri Kesehatan
PBL : Praktik Belajar Lapangan
RM : Rekam Medis
RS : Rumh Sakit

11
12
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Berdasarkan Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, yang

dimaksudkan dengan rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan

pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Mutu suatu Rumah Sakit yang baik

tercermin pada tingkat kepatuhan tindakan, lama dirawat serta obat yang diberikan

kepada pasien sesuai dengan yang tertuang pada instumen ​clinical pathway

(Kemenkes,2009)

Definisi ​clinical pathway adalah suatu konsep perencanaan pelayanan terpadu yang

merangkum setiap langkah yang diberikan kepada pasien berdasarkan standar pelayanan

medis dan asuhan keperawatan yang berbasis bukti dengan hasil yang terukur dan dalam

jangka waktu tertentu selama di rumah sakit (Firmanda,2005). Pada era Jaminan

Kesehatan Nasional ​Clinical pathway menjadi salah satu komponen dari Sistem

DRG-Casemix yang terdiri dari kodefikasi penyakit dan prosedur tindakan (ICD 10 dan

ICD 9-CM) dan perhitungan biaya (baik secara top down costing atau activity based

costing maupun kombinasi keduanya). Oleh karena itu implementasi ​Clinical

pathway​s berkaitan erat dengan Clinical Governance dalam hubungannya menjaga dan

meningkatkan mutu pelayanan dengan biaya yang dapat diestimasikan dan terjangkau.

Rekam medis menjadi salah satu sumber data untuk melihat apakah terapi, jenis

obat serta lama dirawat seorang pasien sesuai dengan ​clinical pathway yang telah disusun

13
oleh rumah sakit. Berdasarkan Permenkes No.269/Menteri Kesehatan/Per/III/2008 Bab I

pasal 1 rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dokumen tentang identitas

pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien. Pengisian

rekam medis yang lengkap dapat mendukung pelaporan internal maupun eksternal rumah

sakit untuk pengambilan keputusan (PERMENKES, 2008)

Mengingat pentingnya ​clinical pathway sebagai salah satu instrument untuk

kendali mutu dan kendali biaya rumah sakit maka penulis ingin meninjau lebih dalam

lagi mengenai ​Analisis ​Length Of Stay ​(Los) Berdasarkan ​Clinical Pathway Di

Rumah Sakit X Jakarta.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang ada, timbul pertanyaan Adakah Perbedaan LOS Pada ​Clinical

pathway​ Kasus Di Rumah Sakit X Jakarta?”

1.3. Tujuan Umum:

Mengidentifikasi kesesuaian ​length of stay ​pada rumah sakit dengan length of stay ​pada ​clinical

pathway pasien appendectomy dengan sistem pembayaran Jaminan Kesehatan asional

di Rumah Sakit X Jakarta

1.4. ​Tujuan Khusus:

a. Mengidentifikasi implementasi ​clinical pathway pasien appendectomy di Rumah

Sakit X di Jakarta

b. Mengidentifikasi kesesuaian ​length of stay ​pada rumah sakit dengan ​clinical pathway

pasien appendectomy

14
c. Mengidentifikasi faktor kesenjangan ​length of stay ​pada rumah sakit dengan dengan

length of stay clinical pathway​ pasien appendectomy

1.5. Manfaat

1.5.1. Bagi Pengembangan Ilmu Secara Teoritis

Hasil penulisan ini diharapkan dapat memperkaya konsep atau teori dalam

perkembangan ilmu pengetahuan khususnya rekam medis dan case mix

terutama yang berkaitan dengan perbedaan lama dirawat pasien di rumah sakit

dengan lama dirawat pada ​clinical pathway​ kasus appendectomy.

1.5.2. Bagi Pelayanan

Dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk evaluasi terkait perbedaan lama dirawat

pasien di rumah sakit dengan lama dirawat pada ​clinical pathway kasus

appendectomy.

1.5.3. Bagi Rumah Sakit

Diharapkan bisa member masukan bagi pihak rumah sakit untuk dijadikan bahan pertimbagan

dan untuk evaluasi terkait perbedaan lama dirawat pasien di rumah sakit dengan

lama dirawat pada ​clinical pathway​ kasus appendectomy.

1.5.4. Bagi Pendidikan

Dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi pendidikan dan penelitian serta informasi

yang berguna bagi mahasiswa Rekam medis dan Informasi Kesehatan khususnya

maupun mahasiswa dibidang Kesehatan lainnya.

1.5.5. Bagi Mahasiswa

15
a. Dapat digunakan sebagai salah satu bahan pembelajaran untuk

meningkatkan pengetahuan dan keilmuan terkait perbedaan lama dirawat

pasien di rumah sakit dengan lama dirawat pada ​clinical pathway kasus

appendectomy.

b. Sebagai sarana dalam menerapkan ilmu yang didapat di perkuliahan pada

lahan praktik.

16
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Rumah Sakit

2.1.1. Definisi Rumah Sakit

Undang-Undang No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, menyatakan bahwa

“Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang pelayanan kesehatan

perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,

dan gawat darurat.”

2.1.2. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit

Rumah sakit mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan

yangbermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat. Tugas rumah sakit adalah melaksanakan upaya kesehatan

secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan penyembuhan dan

pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan peningkatan dan

pencegahan serta pelaksanakan upaya rujukan.

Undang-Undang Republik Indonesia (No. 44 Tahun 2009 Pasal 5 tentang

rumah sakit, fungsi rumah sakit adalah:

1. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai

dengan standar pelayanan rumah sakit.

2. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan

kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai dengan kebutuhan

medis.

17
3. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam

rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.

4. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan sertapenyaringan teknologi

bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan

memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan. (UU,2009)

2.2. Pengertian Rekam Medis

2.2.1. Definisi Rekam Medis

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republaik Indonesia Nomor :

269/Menkes/SK/III/2008 tentang Rekam Medis menyatakan bahwa rekam medis

adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien,

pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada

pasien.

2.2.2. Tujuan Rekam Medis

Tujuan rekam medis adalah menunjang tercapainya tertib administrasi dalam

rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tanpa didukung

suatu sistem pengelolaan rekam medis yang baik dan benar, mustahil tertib

administrasi rumah sakit akan berhasil sebagaimana yang diharapkan (Pedoman

Pengelolaan Rekam Medik di Indoonesia Revisi I, 1997:7).

2.2.3. Kegunaan Rekam Medis

Pedoman Pengelolaan Rekam Medik di Indonesia Revisi I (1997)

meyatakan kegunaan rekam medis secara umum adalah :

18
1. Sebagai alat komunikasi antar dokter dengan tenaga ahli lainya yang ikut ambil

bagian didalam proses pemberian pelayanan, pengobatan dan perawatan

kepada pasien.

2. Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan atau perawatan yang harus

diberikan kepada seorang pasien.

3. Sebagai bukti tertulis maupun terekam atas segala tindakan pelayanan,

pengobatan dan perkembangan penyakit selama pasien berkunjung atau dirawat

di rumah sakit.

4. Sebagai bahan yang berguna untuk analisa, penelitian dan evaluasi terhadap

kualitas pelayanan yag telah diberikan kepada pasien.

5. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun tenaga dokter

dan tenaga kesehatan lainya.

6. Menyediakan data khusus yang sangat berharga untuk penelitian dan

pendidikan.

7. Sebagai dasar penghitungan biaya pembayaran pelayanan medis yang diterima

pasien.

8. Sebagai sumber ingatan yang harus di dokumentasikan, serta sebagai bahan

pertanggungjawaban dan laporan. (Pedoman Pengelolaan Rekam Medik, 1997)

2.3. Pengertian ​Clinical pathway

2.3.1. Definisi ​Clinical pathway

Konsep ​Clinical pathway Definisi ​clinical pathway menurut Firmanda (2005)

adalah suatu konsep perencanaan pelayanan terpadu yang merangkum setiap langkah

19
yang diberikan kepada pasien berdasarkan standar pelayanan medis dan asuhan

keperawatan yang berbasis bukti dengan hasil yang terukur dan dalam jangka waktu

tertentu selama di rumah sakit (Firmanda, 2005)

Menurut Marelli (2000) ​Clinical pathway merupakan pedoman kolaboratif

untuk merawat pasien yang berfokus pada diagnosis, masalah klinis dan tahapan

pelayanan. ​Clinical pathway menggabungkan standar asuhan setiap tenaga kesehatan

secara sistematik. Tindakan yang diberikan diseragamkan dalam suatu standar asuhan,

namun tetap memperhatikan aspek individu dari pasien. (Mareli, 2000)

2.3.2. Tujuan ​Clinical pathway

Tujuan dari penerapan ​clinical pathway​ adalah menjamin tidak ada aspek-aspek

penting dari pelayanan yang dilupakan. ​Clinical pathway​ memastikan semua

intervensi dilakukan secara tepat waktu dengan mendorong staf klinik untuk bersikap

pro-aktif dalam perencanaan pelayanan. ​Clinical pathway​ diharapkan dapat

mengurangi biaya dengan menurunkan ​length of stay, ​dan tetap memelihara mutu

pelayanan (Djasri, 2006).

2.3.3. Prinsip Penyusunan ​Clinical pathway

Firmanda (2005) mengatakan bahwa prinsip dalam dalam penyusunan ​clinical pathway​,

memenuhi beberapa hal mendasar, seperti:

1 Seluruh kegiatan pelayanan yang diberikan harus secara integrasi dan berorientasi

fokus terhadap pasien serta berkesinambungan.

2 Melibatkan seluruh profesi yang terlibat dalam pelayanan rumah sakit terhadap

pasien.

20
3 Dalam batasan waktu yang telah ditentukan sesuai dengan keadaan perjalanan

penyakit pasien dan dicatat dalam bentuk periode harian untuk kasus rawat inap

atau jam untuk kasus kegawat daruratan.

4 Mencatat seluruh kegiatan pelayanan yang diberikan kepada pasien secara

terintegrasi dan berkesinambungan ke dalam dokumen rekam medis.

5 Setiap penyimpangan langkah dalam penerapan ​clinical pathway dicatat sebagai

varians dan dilakukan kajian analisis dalam bentuk audit.

6 Varians tersebut dapat karena kondisi perjalanan penyakit, penyakit penyerta atau

komplikasi maupun kesalahan medis.

7 Varians tersebut dipergunakan sebagai salah satu parameter dalam rangka

mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan (Firmanda, 2005)

2.3.4. Komponen ​Clinical Pathway

Feuth dan Claes (2008) mengemukakan bahwa ada 4 komponen utama ​clinical pathway​, yaitu

meliputi:

1 Kerangka waktu, kategori asuhan, kriteria hasil dan pencatatan varian.

2 Kerangka waktu menggambarkan tahapan berdasarkan pada hari perawatan atau

berdasarkan tahapan pelayanan seperti: fase pre-operasi, intraoperasi dan

pasca-operasi.

3 Kategori asuhan berisi aktivitas yang menggambarkan asuhan seluruh tim kesehatan

yang diberikan kepada pasien.

4 Aktivitas dikelompokkan berdasarkan jenis tindakan pada jangka waktu tertentu.

5 Kriteria hasil memuat hasil yang diharapkan dari standar asuhan yang diberikan,

meliputi kriteria jangka panjang yaitu menggambarkan kriteria hasil dari keseluruhan

21
asuhan dan jangka pendek, yaitu menggambarkan kriteria hasil pada setiap tahapan

pelayanan pada jangka waktu tertentu. Lembaran varian mencatat dan menganalisis

deviasi dari standar yang ditetapkan dalam ​clinical pathway​.

6 Kondisi pasien yang tidak sesuai 9 dengan standar asuhan atau standar yang tidak bisa

dilakukan dicatat dalam lembar varian (Feuth dan Claes, 2008)

2.3.5. Kasus-kasus yang diprioritaskan untuk ​clinical pathway

a. Commond Conditions

b. High Volume Case Type

c. High Cost

d. Predictable Course and Outcome

e. Potensial untuk meningkatkan LOS

f. Clinical Protocol Guildeline sudah jelas ( SOP dan standar pelayanan medik

sudah jelas )

g. Dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya sudah ada komitmen. (Depkes,

2006)

2.3.6. Kebijakan

a. Setiap RS wajib mempunyai CP. CP minimal yang harus dipunyai RS adalah

untuk kasus yang paling banyak di rumah sakit yang memerlukan biaya mahal dan

outcomenya dapat diprediksi dan kasus tersebut sudah ada SOP dan standar

pelayanan medis

b. Setiap RS wajib mempunyai streering committee/ tim CP yang anggotanya terdiri

dari tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga farmasi dan tenaga kesehatan

lainnya.

22
c. Setiap unit pelayanan kerja di rumah sakit (instansi, bagian departemen, divisi)

wajib membuat langkah-langkah persiapan kerja untuk pengembangan clinical

pathway yang meliputi :

- Adanya dukungan tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga farmasi dan

tenaga kesehatan lainnya untuk CP

- Adanya tenaga medis yang bertanggug jawab dalam penyusuan CP

- Adanya “master” untuk template format CP

- Adanya prioritas mengembangka CP

- Adanya metodologi pengembangan, implementasi dan evaluasi CP

- Adanya akuntabilitas staff dalam melakukan CP

d. Clinical Pathway yang disusun isinya wajib merupakan refleksi dari interdisiplin

tim meliputi staff medis, tenaga keperawatan, tenaga farmasi, dan tenaga kesehata

lainnya.

e. Clinical Pathway wjib direview setiap 2 tahun sekali. (Depkes, 2006)

2.3.7. Langkah – langkah Penyusunan ​Clinical Pathway

Langkah-langkah penyusunan format ​clinical pathway​ memenuhi hal-hal sebagai berikut:

1 Komponen yang mencakup definisi dari ​clinical pathway​.

2 Memanfaatkan data yang ada di lapangan rumah sakit dan kondisi setempat yaitu

data laporan morbiditas pasien yang dibuat setiap rumah sakit berdasarkan buku

petunjuk pengisian, pengolahan dan penyajian data rumah sakit dan sensus harian

untuk penetapan topik ​clinical pathway​ yang akan dibuat dan lama hari rawat.

23
3 Variabel tindakan dan obat-obatan mengacu kepada standar pelayanan medis,

standar prosedur operasional dan daftar standar formularium yang telah ada di

rumah sakit (DEPKES, 2006)

2.3.8. Pengembangan CP diRumah Sakit

1. Tingakat Pusat

- Mengembangkan standar dan pedoman

- Melakukan peltihan

- Melakukan monitoring dan evaluasi

2. Tingkat Provinsi

- Melakukan sosialisasi

- Melakukan monitoring dan evaluasi tingkat propinsi

3. Tingkat Rumah Sakit

- Membentuk tim CP

- Membuat rencana kerja

- Membuat SOP per kasus operasi dan non operasi

- Memilih sample CP yang akan dikembangkan ( operasi dan non operasi)

- Menetapkan format dan template untuk CP

- Mengembangkan CP

a. Observasi alur dan proses apa yang telah dilakuakan selama ini

b. Indentifikasi aktivitas, konfirmasi dengan rekam medis

c. Konfirmasi dengan SOP standar pelayanan medis, standar asuhan

keperawatan

24
d. Identifikasi tindakan peraktifitas dalam CP sesuai SOP

e. Perhitungan jenis dan jumlah tindakan peraktifitas

f. Perhitungan ​unit cost ​pertindakan berdasarkan ​activity based costing​.

(Depkes, 2006)

- Implentaasi CP

- Evaluasi CP

- Pendokumentasian CP

2.3.9. Masalah dan Hambatan Pengembangan CP

1. Masalah dan Hambatan dalam Pemahaman CP

− Senior level tidak komitmen terhadap pathway

− Menghabiskan waktu dan sumber daya dalam proses penyusunan

− Tidak ada respon yang baik untuk perubahan yang tidak diharapkan dalam kondisi

pasien

− Faktor kultur juga hambatan dalam mengembangkan daaan implementasi CP

Kurangnya pengertian terhadap pendekatan pathway

2. Masalah dan Hambatan dalam Implementasi CP

− Kurangnya dorongan

− Kurangnya keterlibatan pasien

− Pasien pathway tidak disediakan mulai dari masuk

− Resisten untuk perubahan

− Tidak jelasnya diagnosa masuk

− Adanya Co-Morbiditas

25
− Sistem dari rumah sakit yang kurang efisien (tenaga dn peralatan) (Depkes,

2006)

2.4. Appendicitis

2.4.1. Pengertian Appendicitis

Pengertian Apendisitis Apendisitis adalah peradangan pada apendiks

vermiformis atau peradangan infeksi pada usus buntu (apendiks) yang terletak di perut

kuadran kanan bawah (Smeltzer, 2002). Patofisiologi Secara patogenesis faktor

penting terjadinya apendisitis adalah adanya obstruksi lumen apendiks yang biasanya

disebabkan oleh fekalit. Obstruksi lumen apendiks merupakan faktor penyebab

dominan pada apendisitis akut. Peradangan pada apendiks berawal di mukosa dan

kemudian melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam.

Obstruksi pada bagian yang lebih proksimal dari lumen menyebabkan stasis bagian

distal apendiks, sehingga mukus yang terbentuk secara terus menerus akan

terakumulasi. Selanjutnya akan menyebabkan tekanan intraluminal meningkat, kondisi

ini akan memacu proses translokasi kuman dan terjadi peningkatan jumlah kuman

didalam lumen 9 apendiks. Selanjutnya terjadi gangguan sirkulasi limfe yang

menyebabkan edema. Kondisi ini memudahkan invasi bakteri dari dalam lumen

menembus mukosa dan menyebabkan ulserasi mukosa apendiks maka terjadi keadaan

yang disebut apendiks fokal. (Pieter, 2005; Jaffe & Berger, 2005) Obstruksi yang terus

menerus menyebabkan tekanan intraluminer semakin tinggi dan menyebabkan

terjadinya gangguan sirkulasi vaskuler. Keadaan ini akan menyebabkan edema

bertambah berat, terjadi iskemia, dan invasi bakteri semakin berat sehingga terjadi

26
penumpukan nanah pada dinding apendiks atau disebut dengan apendisitis akut

supuratif.

Pada keadaan yang lebih lanjut, dimana tekanan intraluminer semakin tinggi,

edema menjadi lebih hebat, terjadi gangguan sirkulasi arterial. Hal ini menyebabkan

terjadi gangren. Gangren biasanya di tengah-tengah apendiks dan berbentuk ellipsoid,

keadaan ini disebut apendisitis gangrenosa. Bila tekanan terus meningkat, maka akan

terjadi perforasi yang mengakibatkan cairan rongga apendiks akan tercurah ke rongga

peritoneum dan terjadilah peritonitis lokal (Marijata,2009)

2.4.2. Tinjauan Anatomi dan Fisiologi

Apendiks (umbai cacing) merupakan perluasan sekum yang rata-rata panjangnya

adalah 10 cm. Ujung apendiks dapat terletak diberbagai lokasi terutama dibelakang

sekum. Arteri appendisialis mengalirkan darah ke apendiks dan merupakan cabang

arteri dari ileokolik (Gruendemann,2006)

Secara fisiologis apendiks menghasilkan lendir 1-2 ml per hari. Lendir terssebut

normalnya dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan

aliran lendir di muara apendiks tampakny a berperan pada patogenesis apendisitis.

Imunoglobin sekretoar yang dihasilkan oleh Gut Associated Lymphoid Tissue (GALT)

yang terdapat disepanjang saluran cerna termasuk apendiks adalah IgA. Imunoglobin

tersebut sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian,

pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistenm imun tubuh karena jumlah

jaringan limfe disini sangatlah kecil jika dibandingkan dengan jumlahnya disaluran

cerna dan diseluruh tubuh (Katz,2009)

27
Istilah usus buntu yang dikenal dimasyarakat sebenarny kurang tepat karena usus

buntu sebenarnya adalah sekum. Apendisk diperkirakan ikut serta dalam sistem imun

sekretorik disaluran pencernaan,; namun pengangkatan apendiks tidak menimbulkan

defek fungsi sistem imun yang jelas (Sjamsuhidayat,2005). Peradangan pada apendiks

selain mendapat intervensi farmakologik juga memrlukan tindakan bedah segera untuk

mencegah komplikasi dan memberikan implikasi pada perawat dalam bentuk asuhan

keperawatan.

2.4.3. Epidemiologi

Insiden apendiksitis dinegara maju lebih tinggi dari pada di negara berkembang.

Namun, dalam tiga-empat dasawarsa terakir kejadiannya menurun secara bermakna.

Hal ini diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat pada diet

harian. Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak-anak kurang

dari satu tahu terjadi. Insiden tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu

menurun. Insidens pada pria dengan perbandingan 1,4 lebih banyak dari pada wanita

(Santacroce, 2009)

2.4.4. Etiologi dan Patofisiologi

Penyebab apendiksitis adalah obstruksi pada lumen appendikeal oleh apendikolit,

hiperplasia, folikel limfoid submukosa, fekalit (material garam kalsium, debris fekal)

atau parasit (Katz,2009)

Studi epdidemiologi menunjukan peran kebiasaan makan makanan rendah serat

dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendiksitis. Konstipasi akan menaikan

28
tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan

meningkatkan pertumbuhan kuma flora kolon biasa (Sjamsuhidayat,2005) Pengkajian

Berlanjutnya kondisi apendiksitis akan meningkatkan resiko terjadinya perforasi dan

pembentukan massa periappendikular. Perforasi dengan cairan inflamasi dan bakteri

masuk ke rongga abdomen lalu memberikan respons inflamasi permukaan peritoneum

atau terjadi peritonitis

Apabila perforasi disertai dengan material abses maka akan memberikan

manifetasi nyeri lokal akibat akumulasi abses dn kemudian juga akan respons

peritonitis. Manifestasi yang kha dari perforasi apendiks adalah nyeri hebat yang

tiba-tiba datang dari abdomen kanan bawah (Tzanakis, 2005)

2.4.5. Manifestasi Klinis

Nyeri kuadran bawah terasa dan disertai oleh demam ringan, mual, muntah dan

hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada titik Mc Burney bila dilakukan

tekanan. Nyeri tekan lepas (hasil atau intensifikasi dari nyeri bila tekanan dilepaskan)

mungkin dijumpai. Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat atau

tidaknya konstipasi dan diare tidak tergantung dari beratnya infeksi dan lokasi

apendiks. Bila apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan nyeri 10 tekan dapat

terasa di daerah lumbar bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini dapat diketahui

hanya pada pemeriksaan rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan ujung apendiks

berada dekat dengan rektum. Sedangkan nyeri pada saat berkemih menunjukkan

bahwa ujung apendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan

pada bagian bawah otot rektus dapat terjadi. Tanda rovsing dapat timbul dengan

29
melakukan palpasi daerah kuadran bawah kiri , yang secara paradoksial menyebabkan

nyeri yang terasa di kuadran kanan bawah. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri

menjadi lebih menyebar; distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik, dan kondisi

pasien memburuk.

Pada pasien lansia tanda dan gejala apendisitis dapat sangat bervariasi.

Tandatanda tersebut dapat sangat meragukan, menunjukan obstruksi usus atau

penyakit infeksi lainnya. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai ia mengalami

ruptur apendiks. Insiden perforasi pada apendiks lebih tinggi pada lansia karena

banyak dari pasien-pasien ini mencari bantuan perawatan kesehatan tidak secepat

pasien-pasien yang lebih muda (Brunner & Suddarth, 2002)

2.4.6. Evaluasi Diagnostik

Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan fisik lengkap dan tes laboratorium dan

sinar x. Hitung darah lengkap akan dilakukan dan akan menunjukkan peningkatan

jumlah darah putih. Jumlah leukosit mungkin lebih besar dari 10.000/mm3 dan

pemeriksaan ultrasound dapat menunjukkan densitas kuadran kanan bawah atau kadar

aliran udara terlokalisasi. (E-Journal UAJY)

2.4.7. Pengkajian Medis

Pengakajian Medis pada pasien apendisitis meliputi :

1. Anamnesis, pada anamnesis keluhan utama yang ditemukan adalah nyeri.

2. Pemeriksaan Fisik, pada pemeriksaan fisik survei umum akan didapatkan adanya aktivitas

kesakitan hebat dan ketidaknyamanan abdominal. Pemeriksaan TTV didapatkan

30
takikardia dan peningkatan frekuensi nafas. Sementara itu utuk kondisi pediatrik

didapatkan perubahan fisik lebih berat dari pada orang dewasa. Tanda lainnya dari

apendisiis adalah tanda dunphy (nyeri tajam pada kuadran kanan bawah abdomen yang

didapatkan pada setelah batuk tiba-tiba). Tanda ini dapat membantu menjadi tanda

klinik penting yang berhubungan dengan peritonitas yang terlokalisasi. Umumnya

nyeri kanan bawah merupakan respons dari perkusi pada bagian kuadran lainnya dan

dijadikan sugesti terjadinya peradangan peritoneal (Katz. 2009)

3. Pengkajian Diagnostik dan Pengkajian Penatalaksanaan Medik, pengkajian diagnostik pada

apendisitis yang diperlukan meliputi pemeriksaan Laboratorium, USG dan CT Scan .

1, Hitung sel darah komplet

Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-20.000/ml

(leukositosis) dan neutrofil diatas 75%

2. C-Reactive Protein (CRP)

C-Reactive Protein (CRP) adalah sintesis dari reaksi fse akut oleh hati sebagai respon dari

infeksi atau inflamasi. Pada apendisitis didapatkan peningkatan kadar CRP.

3. Pemeriksaan USG

Pemeriksaan USG digunakan untuk menilai peradangan/ inflamasi dari apendiks.

4. Pemeriksaan CT Scan

Pemeriksaan CT Scan pada abdomen untuk mendeteksi apendisitis dan adanya kemungkinan

perforasi (Rao, 1999). CT Scan menggambarkan penipisan dinding apendiks (Rao PM

Rhea Jt, Rattner DW et al,1999)

2.4.8. Penatalaksanaan

31
Menurut Brunner & Suddarth (2002) pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah

ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan.

Analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan. Appendectomy (pembedahan

untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko

perforasi. Appendectomy dapat dilakukan dibawah anastesi umum maupun spinal

dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi, yang memberikan metode

baru yang sangat efektif (Brunner & Suddarth , 2002).

Menurut Mutaqqin, Arif dan Kumalasari penatalaksanaan medis pada apendiksitis meliputi

penata laksanaan pada unit gawat darurat, terapi farmakologis, dan terapi bedah

1. Intervensi pada unit gawat darurat

a. Tujuan dilakukan intervensi pada pasien apendiks adalah memberikan

cairan untuk mencegah dehidrasi dan speticaemia

b. Pasien dipuasakan dan tidak ada asupan apapun secara oral

c. Pemberian analgeti dan antibiotik melalui intravena

2. Terapi Farmakologis

Preoperatif antibiotik untuk menurunkan resiko infeksi pascabedah

3. Terapi bedah

Bila diagnosa klinik sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah pembedahan/ apendektomi

dan merupakan satu-satunya pilihan terbaik. Penundaan tidak bedah sambil

pemberian antibiotik dapat meningkatkan abses atau perforata

(Sjamsuhidayat,2005).

32
Gambar

Apendectomi . Proses pengangkatan apendiksiti dengan cara terbuka

33
BAB III

KERANGKA OPERASIONAL

3.1 Tempat dan Waktu PBL

Praktik belajar lapangan ini dilaksanakan dari tangal 26 Maret 2018 sampai dengan 21 April

2018 di Unit Rekam Medis di Rumah Sakit X Jakarta.

3.2 Model Kerangka Kerja PBL

Bagan 3.1 Model Kerangka Kerja Perbedaan Lama Dirawat Rumah Sakit Dengan Lama Dirawat

Clinical pathway​ Kasus Appendectomy Di Rumah Sakit X Jakarta

Gambar 3.1

Gambar Model Kerangka PBL Penelitian

34
3.3 Definisi Operasional

Tabel 3.1
Tabel Definsi Operasional Penelitian

No Nama Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur


Operasional
1 Rekam medis Rekam medis - Observasi - Pedoman Jumlah
rawat inap rawat inap - Wawancara Wawancara rekam medis
kasus adalah rekam - Telaah pasien yang
appendectom medis dari melakukan
y setiap pasien tindakan
rawat inap appendectom
yang di y
lakukan
tindakan atau
procedure
Appendectom
y.

2 Length of Rata rata - Telaah Chek List Jumlah Hari


stay lama dirawat - Observasi Lama
pasien yang Dirawat
terdapat pada
rekam medis.
Standar yang
ada pada
Rumah Sakit

35
X LOS untuk
pasien
appendctomy
adalah 4 hari.
3 Ketidaksesuai Kesenjangan Telaah Check List Jumlah
an ​Length of antara lama Kesenjangan
stay pada dirawat pada Length of
Clinical clinical stay
pathway pathway
dengan lama
dirawat
rumah sakit
4 Kesesuaian Ketepatan Telaah Check List Jumlah
Length of LOS yang Kesesuaian
stay pada ada dengan Length of
Clinical yang stay
pathway ditetapkan
sesuai dengan
CP
Appendectom
y

No Nama Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur


Operasional
5 Varian Merupakan Telaah Check List Jumlah
diagnosa Varian yang

36
tambahan ada pada
yang pasien
memerlukan dengan kasus
perawat lain appendectom
dan dapat y
meningkatka
n LOS

6 Jenis Cara pasien Telaah Check LIst Jumlah


Pembayaran melakukan pasien
pembayaran berdarkan
saat cara bayar.
mendapatkan
perawatan
rawat inap.
Terbagi atas
dua jenis cara
yakni JKN
dan Non JKN
7 Cara Masuk Cara masuk Telaah Check List Jumlah
pasien saat pasien yang
akan masuk masuk ke
ke ruang ruang rawat
rawat inap. inap melalui
Terbagi atas IGD atau IRJ
dua jenis
yakni melalui

37
IGD dan
melalui IRJ

3.4. Populasi dan Sampel

Pada penelitian ini penulis tidak mengambil sampel secara spesifik tetapi seluruh populasi dari

semua kasus pasien yang dilakukan prosedur appendectomy selama satu tahun pada

tahun 2017

3.5. Prosedur Pengumpulan Data dan Instrumen PBL

3.5.1. Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh data dalam PBL ini adalah :

1 Observasi

Proses pengamatan secara langsung terhadap rekam medis pasien yang di lakukan prosedur

appendectomy selama tahun 2017 di Rumah Sakit X Jakarta.

2 Wawancara

Wawancara kepada perawat yang ditunjuk sebagai auditor ​clinical pathway di Rumah Sakit

X Jakarta terkait kesesuaian, varian dan hasil audit yang telah di lakukan selama tahun

2017.

3 Telaah dokumen

Telaah dokumen untuk mendapatkan data tentang kesesuaian ​length of stay rumah sakit

dengan ​length of stay​ ​clinical pathway​ di Rumah Sakit X Jakarta.

3.5.2. Instrumen Pengumpulan Data

38
Untuk mendukung penyusunan laporan PBL instrumen yaqng digunakan penulis

untuk pengumpulan data adalah :

1) Checklist kesesuaian ​length of stay rumah sakit dengan ​length of stay pada form

clinical pathway​ di Rumah Sakit X Jakarta.

2) Lembar observasi kesesuaian ​length of stay rumah sakit dengan ​length of stay

pada form ​clinical pathway​ di Rumah Sakit X Jakarta

3) Pedoman wawancara

3.6. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan dan analisis data hasil Praktik Belajar Lapangan ini dilakukan secara manual dengan

mengumpulkan data hasil Praktik Belajar Lapangan lalu dideskripsikan dalam bentuk

narasi.

39
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PBL

4.1. Mengidentifikasi implementasi ​clinical pathway pasien appendectomy di Rumah Sakit

X di Jakarta

Pada Rumah Sakit X sendiri memiliki clinical pathway berjumlah 7 jenis diantaranya:

- Clinical Pathway DHF (Dengue Hemorragic Fever) Anak dan Dewasa

- Clinical Pathway TKR (Total Knee Replacment)

- Clinical Pathway Sectio Caesarean

- Clinical Pathway Appendectomy

- Clinical Pathway Hiperbillirubin

- Clinical Pathway Thypoid Fever

- Clinical Pathway Herniotomy

Pada Rumah Sakit X juga telah dibentuk tim Clinical Pathway dimana tim ini dibentuk untuk

membuat format clinical pathway setiap tahunnya dan untuk melakukan audit klinis clinical

pathway yang ada di rumah sakit. Audit dilakukan setiap 6 bulan sekali dan peloporan audit

di sampaikan pertahun untuk di presentasikan pada Direktur dan Dokter yang ada di rumah

sakit. Pada CP appendectomy sendiri tim audit juga melakukan audit dengan form yang

telah disiapkan oleh tim dan dilakukan setiap 6 bulan sekali. Komponen yang diaudit adalah

kesesuaian LOS, kesesuaian hari operasi, kesesuaian penunjang medik, kesesuaian

laboratorium serta kesesuaian medikamentosa. Berikut merupakan susuna anggota Tim

Clinical Pathway:

40
4.2. Mengidentifikasi kesesuaian ​length of stay ​pada rumah sakit dengan ​clinical pathway

pasien appendectomy

1. Kesesuaian LOS

Kesesuaian LOS pada pasien dengan kasus appendectomy dilihat

menenggunakan lembar audit yang telah dibuat oleh penulis. Untuk melihat kesesuaian

dari LOS dari masing masing pasien penulis melihat dengan cara membandingkan lama

dirawat yang ada dengan ketentuan yang ada di rumah sakit sesuai dengan clinical

pathway yang ada. Pada Rumah Sakit X sendiri ketentuan LOS untuk pasien dengan

kasus appendectomy adalah 4 hari.

Setelah dilakukan penelitian terhadap 201 pasien dengan kasus appendectomy

didapatkan jumlah kesesuaian LOS pada pasien Appendectomy masih belum sesuai. Hal

ini dapat dilihat dari jumlah kesesuaian LOS pada pasien appendectomy sebesar 59 %.

Untuk lebih jelasnya posentase kesesuaian LOS pada pasien appendectomy tahun 2017 di

Rumah Sakit X Jakarta ditampilkan di bawah tabel ini

Tabel 4.1

Tabel Kesesuaian LOS Pada Pasien Appendectomy tahun 2017 di Rumah Sakit X Jakarta

Los Jumlah Prosentase


Sesuai 118 59%
Tidak Sesuai 83 41%
Total 201 100%

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah kesuaian LOS Pasien dengan kasus

appendectomy sebesar 59% dan ketidaksesuain LOS pasien dengan kasus appendectomy

41
sebesar 41% dari semua jenis pembayaran. Di bawah ini akan ditampilkan grafik

kesesuaian LOS pada pasien appendectomy tahun 2017 menurut kelompok bulan di

Rumah Sakit X Jakarta

Gambar 4.1

Kesesuaian LOS Pada Kasus Appendectomy Tahun 2017

di Rumah Sakit X Jakarta

Dari gambar diatas dapat kita lihat bahwa kesesuaian LOS Kasus Appendectomy di bulan Januari

hanya terdapat 7 pasien yang LOSnya sesuai dengan standar yang ada di CP dengan total

pasien yang melakukan appendectomy sebanyak 23 pasien, pada bulan Febuari jumlah

LOS yang sesuai berjumlah 8 orang pasien dengan jumlah pasien total yang melakukan

42
appendectomy sebesar 23 pasien, pada bulan Maret jumlah LOS yang sesuai dengan hanya

ada 6 pasien dari total pasien yang melakukan appendectomy sebesar 21 pasien. Pada

bulan april jumlah LOS yang sesuai sebesar 19 pasien dengan total pasien yang melakukan

appendectomy sebanyak 43 pasien. Pada Bulan mei jumlah LOS yang sesuai sebesar 6

pasien dari total pasien yang melakukan tindakan appendectomy sebanyak 15 pasien. Pada

bulan Juni mei jumlah LOS yang sesuai sebesar 9 pasien dari total pasien yang melakukan

tindakan appendectomy sebanyak 12 pasien Pada bulan Juli jumlah LOS yang sesuai

sebesar 10 pasien dari total pasien yang melakukan tindakan appendectomy sebanyak 21

pasien Pada bulan Agustus jumlah LOS yang sesuai sebesar 9 pasien dari total pasien

yang melakukan tindakan appendectomy sebanyak 20 pasien. Pada bulan September

jumlah LOS yang sesuai sebesar 9 pasien dari total pasien yang melakukan tindakan

appendectomy sebanyak 21 pasien. Pada bulan Oktober jumlah LOS yang sesuai sebesar

14 pasien dari total pasien yang melakukan tindakan appendectomy sebanyak 23 pasien.

Pada bulan November jumlah LOS yang sesuai sebesar 12 pasien dari total pasien yang

melakukan tindakan appendectomy sebanyak 26 pasien. Dan pada bulan Desember

jumlah LOS yang sesuai sebesar 6 pasien dari total pasien yang melakukan tindakan

appendectomy sebanyak 14 pasien.

2. Cara Masuk Rumah Sakit

Salah satu faktor ketidakesesuaian LOS pada pasien dengan kasus appendectomy dapat

dipengaruhi oleh cara masuk pasien sebelum ke Rawat Inap. Dari hasil penellitian yang

telah dilakukan dari 201 rekam medis pasien yang melaukan tindakan appendectomy

selama tahun 2017 di peroleh cara masuk pasien melalui IGD sebesar 50 % sedangkan

43
untuk cara masuk rawat inap melalui IRJ sebesar 50 %. Untuk lebih jelasnya data dapat

dilihat pada tabel yang ada dibawah ini

Tabel 4.2

Tabel Pasien Appendectomy Berdasarkan Cara Masuk tahun 2017 di Rumah Sakit X Jakarta

Pasien MRS Jumlah Prosentase


IGD 101 50%
IRJ 100 50%
Total 201 100%

Pada tabel diatas terlihat bahwa untuk prosentase jenis cara masuk pasien ke rawat inap baik dari

IGD maupun dari IRJ memiliki nilai yang sama yakni 50 %.

3. Jumlah Varian Pasien Appendectomy

Varian menurut hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis terhadap petugas audit clinical

pathway yang ada di Rumah Sakit X sendiri merupakan diagnosa penyerta yang

memerlukan perawatan lain selain appenicitis. Varian sendiri menurut petugas audit

clinical pathway yang ada di RS X merupakan diagnosa yang bukan merupakan alasan

pasien tersebut dilakukan pembedahan. Salah satu contoh nya pasien atas nama Tn. AYD

datang melalui IGD dilakukann pemeriksaan penunjang untuk memastikan dignosa yang

dialami Tn. AYD setelah di lakukan pemeriksaan ternyata pasien tersebut di diagnosa

dengan Batu Ureter namun saat dilakukan pembedan ternyata pasien juga mengalami

peradangan pada umbai cacing (appendix) oleh karena itu dilakukan appendectomy.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap 201 rekam medis, diperoleh bahwa pasien yang dilakukan

appendectomy dengan varian sebanyak 40 pasien atau sama dengan 20 %\sedangkan untuk

44
pasien yang dilkukan appendectomy tanpa varian sebanyak 161 pasien atau sama dengan

80 %. Untuk lebih jelasnya data dapat dilihat pada tabel yang ada dibawah ini.

Tabel 4.3

Tabel Jumlah Varian Pasien Appendectomy Tahun 2017 di Rumah Sakit X Jakarta

Varian Jumlah Prosentase


Ada 40 20%
Tdak 161 80%
Total 201 100%

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa jumlah varian appendectomy tahun 201 di Rumah Sakit X

hanya terdapat 20 % dari total pasien appendectomy sebanyak 201 pasien tanpa varian.

4. Jenis Pembayaran

Jenis pembayaran merupakan cara bayar yang digunakan saat pasien mendapatkan pelayanan

rawat inap di Rumah Sakit X Jakarta. Pada enis pembayaran penulis mengelompokkan

jenis pembayaran atas 2 jenis yakni JKN dan Non JKN. Untuk jumlah pasien yang

menggunakan jenis pembayaran JKN sebesar 36 % sedangkan untuk pasien yang

mengunaka jenis pembayarn Non JKN sebesar 64 % persen

Tabel 4.4

Tabel Jumlah Pasien Berdasarkan Jenis Pembayaran Tahun 2017 di Rumah Sakit X Jakarta

Jenis Pasien Jumlah Prosentase


JKN 72 36%
Non JKN 129 64%
Total 201 100%

45
Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa pasien yang menggunkan jenis pembayaran

Non JKN lebih mendominasi dengan nilai 64 %. Pembayaran Non JKN adalah setiap

pasien yang melakukan pebayaran rawat inap secara pribadi tau menggunakan asuransi

yang telah bekerja sama dengan Rumah Sakit X. Jumlah pasien JKN sendiri cenderung

lebih sedikit dengan nilai 36 % hal ini dipengaruhi karen Rumah Sait X merupakan

rumah sakit dengan tipe B karena dalam JKN sendiri menerapkan sistem rujukan

berjenjang maka tidak semua pasien dapat melakukan perawatan rawat inap disini. Untuk

lebih jelasnya jumlah pasien yang menggunakan jenis pembayaran JKN dan Non JKN

dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Gambar 4.2

Gambar Jumlah Pasien Berdasarkan Jenis Pembayaran Tahun 2017

di Rumah Sakit X Jakarta

5. Kesesuaian Jenis Cara Bayar Pasien dengan LOS

46
Salah satu variabel yang diamati oleh penulis adalah kesesuai LOS dengan cara bayar. Pada tabel

dibawah dapat kita lihat bahwa pasien yang menggunakan cara bayar JKN meiliki

kesesuain LOS sebanyak 58 pasien atau sebesar 49 % sedangkan untuk pasien Non JKN

kesesuain Los untuk kasus pasien Appendectomy sebanyak 60 psien atau sebesar 51%.

Tabel 4.5

Tabel Kesesuaian Jenis Cara Bayar Pasien dengan LOS Kasus Appendectoy Tahun 2017

di Rumah Sakit X Jakarta

Kesesuaian Jenis
Pasien dengan LOS Jumlah Prosentase
JKN 58 49%
Non JKN 60 51%
Total 118 100%

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa ternya pasien dengan cara pembayarn non JKN cenderung

memiliki nilai lebh besar dibandikan pasien yang menggunakan cara bayar JKN untuk

kesesuain LOS pada pasien Appendectomy selama tahun 2017 di Rumah Sakit X Jakarta.

4.3. Mengidentifikasi faktor kesenjangan ​length of stay ​pada rumah sakit dengan dengan

length of stay clinical pathway​ pasien appendectomy

Setelah dilakukan observasi, wawancara dan penelitian pada Rumah Sakit X di Jakarta dengan

jumlah populasi pasien yang dilakukan appendectomy sebanyak 201 pasien selama tahun

2017 didapatkan kesesuaian LOS kasus appendectomy untuk pasien dengan jenis

pembayaran JKN sebesar 49 % sedangkan untuk pasien dengan Non JKN sebesar 51 %. Hal

ini dipengaruhi oleh varian kelompok klinis, serta dari mana pasien sebelum masuk rawat

inap dari IGD atau IRJ menurut wawancara yang telah dilakukan dengan petugas audit yang

47
telah ditunjuk salah satu faktor utama penyebab ketidaksesuaian LOS adalah asal pasien

sebelum masuk rawat inap, salah satu contohnya adalah jika pasien masuk ke rawat inap

melalui IGD akan memungkinkan banyak pemeriksaan yang dilakukan ketika pasien

tersebut dirawat inap sebelum memutuskan untuk dilakukan pembedahan. Hal ini akan

berdampak pada panjangnya LOS pasien dengan kasus appendectomy di Rumah Sakit X.

Selain faktor cara pasien masuk sebelum ke ruang rawat inap salah satu faktor dominan yang

lain adalah varian klinis, varian klinis merupakan diagnosa tambahan yang memerlukan

perawatan lebih lanjut sebelum atau sesudah pasien mendapatkan tindakan appendectomy.

Semakin banyak varian pasien maka akan semakin lama pula LOS pasien tersebuh sampai

pasien tersebut benar-benar boleh dinyatakan sehat dan diijinkan pulang oleh dokter.

48
BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan
1. Pada Rumah Sakit X telah dibentuk tim Clinical Pathway yang terdiri dari tim
komite medik, dokter serta perawat .Pada Rumah Sakit X memiliiki 7 jenis clinical
pathway diantaranya clinical pathway pada pasien DHF, clinical pathway pasien
TKR, clinical pathway pasien Appendectomy, clinical pathway pasien Sectio
Caesaren, clinical pathway Hiperbilirubin, clinical pathway Thypoid Fever, clinical
pathway Herniotomy.
2. Kesesuaian LOS Kasus Pasien Appendectomy selama Tahun 2017 sebesar 59%
dengan tingkat ketidaksesuain LOS Kasus Pasien Appendectomy selama tahun 2017
sebesar 41 %.
3. Faktor ketidaksesuaian LOS dipengaruhi oleh varian kelompok klinis, serta dari
mana pasien sebelum masuk rawat inap dari IGD atau IRJ
5.2 Saran
1. Perlu adanya evaluasi lebih lanjut mengenai faktor ketidaksesuaian LOS kasus
Appendectomy
2. Perlu adanya sosialisasi mengenai CP Appendectomy mengenai kepatuhan
tindakan, penunjang medik serta obat yang diberikan pada pasien.

49
50
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth. (2002). ​Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume

2​. Jakarta : EGC.

Djasri, H. (2006). ​Konsep dasar dan manfaat​ ​clinical pathway​. ​Pelatihan clinical

pathway untuk rumah sakit.​ Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan UGM,

Jakarta, Indonesia

Firmanda, (2005). Makalah ​: Penerapan Sistem Manajemen Mutu di Rumah Sakit​.

Jakarta.

Feuth, S., Claes, L., 2008, ​Introducing clinical pathways as a strategy for improving

care, International Journal of Care Coordination​, DOI: 10.1258 /

JICP.2008.008008 vol. 12 no. 2 56-60. Diakses 25 Maret 2018

http://www.bmj.com/cgi/content/full/316/7125/133

Jaffe Bernard M., Berger David H. 2005. ​The Appendix In : Brunicardi F. Charles,

Andersen Dana K., Billiar Timothy R, Dunn David L, Hunter John G, Pollock

Raphael E. Schwartz’s Principles Of Surgery. 8th ed. New York : The Mc

GrawHill Companies. p.1119-1137

Mareli, T.M.2000.​Nursing Documentation Book3​ rd ​Edition. ​St. Louis : Mosby Inc

Marijata. Apendisitis Akut. In: ​Nyeri Abdomen Akut. Yogyakarta:Sub Bagian Bedah

Digesti Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada​; 2009.

p.27-38

51
NN, Tanpa Judul, diakses 25 Maret 2018

http://e-journal.uajy.ac.id/7923/3/MM201877.pdf

NN, Tanpa Judul, diakses 25 Maret 2018

http://erepo.unud.ac.id/9948/3/1aff2455d6d050a98e13e902ad293913.pdf

Smeltzer, Suzanne C. dan Bare, Brenda G, 2002, ​Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah

Brunner dan Suddarth (Ed.8, Vol. 1,2), Alih bahasa oleh Agung Waluyo…(dkk),

Jakarta : EGC.

52