You are on page 1of 32

GRANULOMA INGUINAL SINISTRA

Oleh:

Vicki Jessika

Pembimbing:

dr. Eko Purwanto Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI

RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN

BANDAR LAMPUNG

TAHUN 2018
BAB I

PENDAHULUAN

Granuloma inguinale pertama kali ditemukan oleh MC LEOD pada tahun 1882

di madras, india, dengan nama ulkus serpiginosa. CONYERS dan DANIELS pada

tahun 1896 menemukan penyakit berbentuk lupoid pada ulkus di lipat paha. LAL dan

NICHOLAS tidak menyetujui penggunaan nama granuloma inguinale, karena lesi

tidak selalu terdapat di daerah inguinal, karena itu di anjurkan memakai nama

granuloma Donovani.[1]

Penyakit ini termasuk penyakit kelamin, meskipun timbul keragu-raguan

mengenai cara penularan, karena pada banyak kasus penyakit tidak menular ke mitra

seksualnya. Hal-hal menyokong bahwa penyakit ini di tularkan melalui hubungan

seksual ialah :[1]

1. Pada anamnesis terdapat kontak seksual sebelumnya lesi.

2. Insidensnya tinggi pada kelompok umur dengan aktivitas seksual paling banyak;

lesi terdapat pada genitalia interna seperti serviks, tanpa di sertai lesi lain.

3. Lesi terdapat hanya di sekitar anus pada orang homoseksual yang pasif.

4. Lesi terdapat pada daerah genital atau perigenital.

Selain di tularkan melalui hubungan seksual, calymatobacterium granulomatis

dapat ditemukan pada intestin, dan pada keadaan higiene buruk terjadi autoinokulasi

feses pada kulit yang mudah terkena trauma atau inflamasi bakteri. Suatu jenis

organisme yang menyerupai C. Granulomatis dapat di isolasikan dari feses.


Orang yang memiliki kontak seksual dengan pasien yang memiliki granuloma

inguinale dalam 60 hari sebelum timbulnya gejala pasien harus diperiksa dan

menawarkan terapi. Namun, nilai terapi empiris tanpa adanya tanda-tanda dan gejala

klinis belum ditetapkan.[2]


BAB II

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN

 MR : 108522

 Nama : Nn. RMP

 Jenis Kelamin : Laki-laki

 Tempat,Tanggal Lahir : 24 October 1995

 Umur : 22 Tahun

 Status Perkawinan : Belum Menikah

 Agama : Islam

 Pekerjaan : satpam

 Pendidikan terakhir : SMK

II. Anamnesa

Diambil dari : Autoanamnesis dan alloanamnesia

MRS : 14 mei 2018

Pukul : 15.00 WIB

a. Keluhan Utama

Os datang dengan keluhan terdapat benjolan pada lipat paha kiri


b. Keluhan Tambahan

Os mengatakan benjolan terasa nyeri, berwarna kemerahan, dan

demam.

c. Riwayat penyakit sekarang

Benjolan pada lipat paha kiri

d. Riwayat Perjalanan Penyakit

Seminggu sebelum os MRS, yaitu pada hari sabtu 5 mei 2018, os

merasakan gatal-gatal pada bagian lipat paha kiri, os memberi bedak anti gatal

untuk mengurangi rasa gatal tersebut. Pada hari senin 7 mei 2018, os

mengatakan muncul benjolan kecil pada lipat paha kirinya, benjolan tersebut

tidak nyeri. Pada hari selasa 8 mei 2018, os mengeluhkan demam sampai

dengan hari jum’at. Pada hari rabu os mengatakan benjolan pada lipat paha

kirinya membesar menjadi sebesar telur ayam dengan konsistensi lunak

(lembek), berwarna kemerahan, dan terasa nyeri, pada bagian tengah benjolan

terdapat nanah kecil (pustule tunggal). Os mengatakan tidak ada keluhan pada

BAK. Jum’at 11 mei 2018, os datang berobat ke poli klinik bedah RSPBA dan

disarankan untuk dirawat inap dan direncanakan untuk operasi, os mengatakan

bahwa os rajin membersihkan daerah genitalnya.14 mei 2014 os di rawat inap,

benjolan teraba padat (keras), dan direncanakan operasi pada 15 mei 2018

pukul 13.00 WIB oleh dr. Teguh Sp.B.


e. Riwayat Penyakit

 Penyakit Terdahulu (-)

 Trauma Terdahulu (-)

 Operasi (-)

 Sistem Saraf (-)

 Sistem Kardiovaskular (-)

 Sistem Urinarius (-)

 Sistem Genitalia (-)

 Sistem Musculoskeletal (-)

 Sistem Endokrin (-)

f. Riwayat Penyakit Keluarga

os mengaku tidak ada keluarga yang mengalami hal yang sama

g. Riwayat kebiasaan

Os menyangkal mengkonsumsi alcohol (-), merokok +

h. Riwayat alergi

Tidak ada riwayat alergi.

i. Riwayat Makanan

Frekuensi / Hari : 1-2 X/ Hari

Jumlah / Hari : 2 Porsi

Variasi / Hari : Bervariasi

Nafsu Makan : Normal


III. Status Present

Pemeriksaan fisik

Status generalis

Keadaan umum : Tampak sakit sedang

Keadaan Umum : Compos Mentis

Tekanan darah : 110/80 mmHg

Nadi : 88 x/menit, reguler, isi, tegangan cukup

Suhu : 36.3⁰C

Pernapasan : 20 x/menit

a. Kulit

 Warna : sawo matang

 Efloresensi : tidak ada

 Jaringan parut : tidak ada

 Pigmentasi : tidak ada

 Pertumbuhan rambut : normal

 Pembuluh darah : normal

 Suhu raba : hangat

 Lembab/kering : normal

 Keringat : normal

 Turgor : normal
b. Kelenjar Getah Bening

 Submandibula : tidak teraba

 Leher :tidak teraba

 Supraklavikula : tidak teraba

 Ketiak : tidak teraba

 Lipat paha :tampak benjolaah sebesar telur ayam pada lipat paha

kiri

c. Kepala

 Ekspresi wajah : normal

 Simetris muka : simetris

 Rambut : normal

 Pembuluh temporal : tidak teraba

d. Mata

 Eksolftalmus : tidak ada

 Enoftalmus : tidak ada

 Kelopak : normal

 Konjungtiva : normal

 Sklera : normal

 Visus : normal

 Gerakan mata : normal

 Lap.penglihatan : normal
 Tekanan bola mata : normal

 Deviatio konjungtiva : tidak ada

 Nistagmus : tidak ada

e. Hidung

 Bentuk : normal

 Septum : sedikit deviasi ke kanan

 Mukosa hidung : hiperemis (-), bulu hidung (+)

f. Telinga

 Tuli : tidak tuli

 Lubang : normal

 Selaput telinga : normal

 Penyumbatan : tidak ada

 Serumen : normal

 Perdarahan : tidak ada

g. Mulut

 Bibir : tidak sianonis

 Tonsil : normal

 Langit-langit : normal

 Bau nafas : tidak bau

 Trismus : normal

 Lidah : normal
 Faring : tidak hiperemis

h. Leher

 Kelenjar tiroid : normal, tidak ada pembesaran

 Kelenjar limfe : normal, tidak ada pembesaran

i. Dada

 Bentuk : simetris

 Buah dada : normal

 Sela iga : normal

j. Paru-Paru Depan Belakang

 Inspeksi, Kanan : simetris, retraksi (-), spidernevi (-), KGB (-)

Kiri : Simetris, retraksi (-), spidernevi (-), KGB (-)

 Palpasi : Vokal fremitus kanan dan kiri dalam batas normal

 Perkusi, Kanan : vokal fremitus normal pada kedua lapang dada

Kiri : Sonor pada kedua lapang dada

batas paru hepar: redup pada ICS VI

Batas paru lambung: timpani pada ICS VII

 Auskultasi, Kanan : vesikuler normal pada kedua lapang dada

k. Jantung

 Inspeksi : Ictus kordis tidak tampak

 Palpasi : Ictus kordis tidak teraba

 Perkusi, Atas : ics II linea parasternalis sinistra


Kanan : ics II linea parasternalis dextra

Kiri : ics VI linea midclavicularis sinistra

 Auskultasi : BJ I-II, S3 Galop (-), Murmur (-)

l. Abdomen

 Inspeksi : asites (-), distended (-), venektasi(-), caput medusa (-),

ikterik (-),

 stretchmark (-)

 Auskultasi : Bising usus (+), 6 x/menit, bruit hepar (-)

 Palpasi : Nyeri tekan epigastrium

 Hati : Tidak teraba, nyeri tekan (-)

 Limpa : Tidak teraba

 Ginjal : Nyeri ketok cva (-)

 Perkusi : Timpani, shifting dullnes (-)

m. Extremitas

 Ekstremitas superior dextra dan sinistra:

Oedem pitting (-), Deformitas (-) Bengkak (-)

Sianosis (-), Nyeri sendi (-),Ptekie (-)

 Ekstremitas inferior dextra dan sinistra:

Oedem pitting (-), Deformitas(-), Bengkak (-),

Sianosis (-), Nyeri sendi (-), Ptekie (-)


n. Status lokalis

Ditemukan benjolan sebesar telur ayam, konsistensi keras dengan

permukaan rata, berwarna kemerahan dan terdapat pustule tunggal pada bagian

tengah benjolan. Bising usus (-).

IV. Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium

HEMATOLOGI
Hemoglobin 14,8 Lk 14-18 wn 12-16
Leukosit 12.500 4.500-10.700
Hit. Jenis leukosit basophil 0 0-1
Hit. Jenis leukosit 0 0-3
eosinophil
Hit. Jenis leukosit batang 1 2-6
Hit. Jenis leukosit segmen 75 50-70
Hit. Jenis leukosit limfosit 16 20-40
Hit. Jensi leukosit monosit 8 2-8
Eritrosot 5,1 Lk 4,6-6,2 wn 4,2-6,4
Hematokrit 43 Lk 50-54 wn 38-47
trombosis 491.000 150.000-400.000
mcv 82 80-96
Mch 29 27-31
Mchc 35 32-36
IMUNOLOGI
HBsAg Non reaktif
KIMIA DARAH
Gula darah sewaktu 91 <200
Urea 21 10-50
creatinin 1,3 Lk 0,6-1,1 wn 0,5-0,9

V. Daftar Masalah

 Benjolan pada lipat paha kiri

 Peningkatan leukosit
VI. Anjuran pemeriksaan

 Darah lengkap

 Biakan /Kultur jaringan

 Tes kulit

VII. Resume

Laki-laki 22 tahun datang dengan keluhan terdapat benjolan pada lipat

paha kiri, benjolan semula berukuran kecil, keras dan tidak terasa nyeri, namun

benjolan tersebut berubah menjadi sebesar telur ayam, berwarna kemerahan,

terdapat bintik putih (pustule) pada bagian tengah benjolan, dan terasa nyeri,os

juga mnegeluhkan demam, tidak ada keluhan pada BAK. Os mengatakan tidak

pernah mengalami hal yang sama sebelumnya dan rajin membersihkan daerah

genitalnya. Bising usus (-).

VIII. Diagnosis

a. Diagnosis Kerja:

Granuloma Inguinalis Sinistra

b. Diagnosis Banding

Lymphogranuloma Venereum Sinistra

Limfadenitis TB

Hernia Inguinalis Medialis Irresponsible


IX. Penatalaksanaan

a. Nonfarmakologi:

 Bedrest

b. Farmakologi

Terapi Teori
IVFD RL XX tpm (makro) IVFD RL XX tpm (makro)
Ceftriaxone (profilaksis) Pertama:
 Azithromycin 500 mg 1x1 selama
1 minggu
Rencana operasi Kedua:
Ketorolac > asam mefenamat  Doxycycline 100 mg 2x1 selama
Ranitidine minimal 3 minggu
Metronidazole flash  Trimethoprim/sulfamethoxazole
800 mg atau 160 mg 2x1 selama
3 minggu
 Ciprofloxacin 750 mg 2x1
selama 3 minggu
 Erytromycin 500 mg/oral 4x1
selama 3 minggu

X. Prognosis

Pada kasus dini, prognosis baik untuk kesembuhan total dan dapat kambuh

setelah 6-18 bulan diberikan pengobatan, oleh karena itu diperlukan kontrol dalam

jangka waktu yang lama yakni beberapa bulan sampai beberapa tahun setelah

pengobatan berhasil.6,7 Pada kasus yang sudah lanjut dapat terjadi destruksi jaringan

yang memerlukan pembedahan radikal.7


BAB III

ANALISA KASUS

TEMUAN TEORI

Benjolan kecil (papul) dan tidak terasa Pada permulaan penyakit ini berbentuk

nyeri papul atau nodul subkutan tunggal atau

multipel yang tidak nyeri yang kemudian

secara perlahan-lahan menjadi ulkus

granulomatosa berbentuk bulat, menimbul

seperti blundru

Benjolan limfa nodus inguinal yang Lesi primer di mulai sebagai satu nodus yang

keras keras (berindurasi), kalau terjadi kerusakan

pada eprmukaannya terjadi ulkus yang

berwarna seperti daging dan granulomatosa

Pustul tunggal pada bagian tengah Adanya pustule menandakan bahwa

benjolan terdapatnya akumulasi pus atau nanah pada

benjolan tersebut

Benjolan berwarna kemerahan Gambaran klinis yang paling utama adalah

lesi kulit yang fleshy, kemerahan atau merah

daging, exuberant granulation tissue yang

lunak, tanpa nyeri tekan dan mudah berdarah


Demam Granuloma inguinal merupakan penyakit

infeksi menular seksual, sehingga sering

timbul demam

Peningkatan leukosit Kelainan laboratorium pada pasien ini

didapatkan adanya leukositosis yang berarti

adanya suatu peradang / infeksi supuratif.


BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

A. PENDAHULUAN

Granuloma inguinale pertama kali ditemukan oleh MC LEOD pada

tahun 1882 di madras, india, dengan nama ulkus serpiginosa. CONYERS dan

DANIELS pada tahun 1896 menemukan penyakit berbentuk lupoid pada ulkus

di lipat paha. LAL dan NICHOLAS tidak menyetujui penggunaan nama

granuloma inguinale, karena lesi tidak selalu terdapat di daerah inguinal,

karena itu di anjurkan memakai nama granuloma Donovani.[1]

Penyakit ini termasuk penyakit kelamin, meskipun timbul keragu-

raguan mengenai cara penularan, karena pada banyak kasus penyakit tidak

menular ke mitra seksualnya. Hal-hal menyokong bahwa penyakit ini di

tularkan melalui hubungan seksual ialah :[1]

a. Pada anamnesis terdapat kontak seksual sebelumnya lesi.

b. Insidensnya tinggi pada kelompok umur dengan aktivitas seksual paling

banyak; lesi terdapat pada genitalia interna seperti serviks, tanpa di sertai

lesi lain.

c. Lesi terdapat hanya di sekitar anus pada orang homoseksual yang pasif.

d. Lesi terdapat pada daerah genital atau perigenital.

Selain di tularkan melalui hubungan seksual, calymatobacterium

granulomatis dapat ditemukan pada intestin, dan pada keadaan higiene buruk
terjadi autoinokulasi feses pada kulit yang mudah terkena trauma atau

inflamasi bakteri. Suatu jenis organisme yang menyerupai C. Granulomatis

dapat di isolasikan dari feses.

Orang yang memiliki kontak seksual dengan pasien yang memiliki

granuloma inguinale dalam 60 hari sebelum timbulnya gejala pasien harus

diperiksa dan menawarkan terapi. Namun, nilai terapi empiris tanpa adanya

tanda-tanda dan gejala klinis belum ditetapkan.[2]

B. DEFINISI

Granuloma inguinale adalah suatu penyakit infeksi bakteri kronis/

destruktif yang bersifat progresif, disertai pembentukan granuloma di kulit dan

jaringan subkutan di daerah genital dan perigenital, umumnya ditularkan

melalui hubungan seksual, disebabkan oleh Calymmatobacterium

granulomatis, suatu bakteri gram negatif dengan ukuran 1,5 x 0,7 mm,

pleomorphic, berada dalam histiosit yang berukuran 80-90 μm, bipolar

densities, dan suatu kapsul sering terlihat,serta nonmotil. Penyakit ini dikenal

dengan nama serpiginous ulceration of the groin, lupoid form of groin

ulceration, ulcerating granuloma of the pudenda, granuloma genitoguinale,

granuloma venereum genitoguinale, infective granuloma, granuloma

inguinale tropicum, chronic venereal sores, dan ulcerating sclerosing granul,

Donovanosis.[3, 4]
C. EPIDEMIOLOGI

Penyakit ini terutama terdapat di daerah tropis dan subtropis dan

lebih banyak mengenai ras kulit berwarna. Insiden puncak pada

umumnya terjadi pada dekade ketiga masa hidup, dimana lebih dari 70%

kasus terjadi pada usia 20-40 tahun. Prevalensi pada laki-laki dua kali

dari pada wanita. dengan tingkat sosial-ekonomi yang rendah dan

higiene yang buruk.[1, 4]

Pada tahun 1954 penyakit ini di laporkan bersifat endemik di

pantai timur india selatan, cina selatan, india timur dan barat, Australia

utara, Afrika Tengah dan Barat, beberapa negara bagian di Amerika

Utara, serta Amerika Tengah dan Selatan. Banyak kasus terdapat di

Papua New Guinea. [1]

Di Amerika Serikat dan negara-negara industri jarang dan semakin

jarang di negara-negara berkembang; sebagian besar terkena pada populasi

yang memiliki tingkat kesehatan yang rendah. di Amerika Serikat sejak tahun

2000 Tidak ada kasus yang dilaporkan. Sebagian besar kasus di negara-negara

industri yang berasal dari daerah endemik. Mungkin melalui kontak seksual,

tetapi sebagian besar pasangan seks ternyata tidak terinfeksi. Beberapa kasus

dapat ditularkan oleh nonseksual, mungkin melalui kontak kulit atau kulit yang

terkelupas.[5]
D. ETIOLOGI

Pada tahun 1905 Mayor DONOVAN mencatat adanya badan

intraselular pada sedian hapus bahan yang diambil dari ulkus penderita

granuloma inguinale. Badan-badan ini dilukiskan sebagai gigantic bacilli with

rounded ends, yang pada umumnyadisebut badn-badan Donovan. Setelah

organisme penyebab dapat dibiak pada yolk sac embrio ayam, di nyatakan

bahwa badan-badan Donovan adalah basil dan di usulkan namanya Donovania

granulomatis. Bakteri ini disebut juga Calymatobacterium granulomatis,

berbentuk batang pendek, tebal, tidak membentuk spora, negatif-gram dan

pada pewarnaan membentuk gambaran bipolar seperti peniti, meskipun sering

juga terjadi pleomorfi. Kuman ini termasuk famili Brucellaceae dan

mempunyai hubungan serologik dengan beberapa golongan

Enterobacteriaceae. Selain dapat dibiak pada yolk sac embrio ayam, bakteri

tersebut juga dapat di tanampada medium sintetik, tetapi agak sukar

tumbuhnya.[1,4]

Basil di kelilingi oleh kapsul yang berbatas tegas, dapat di lihat dengan

pewarnaan Wright, merupakan parasit intraseluler dalam vakuol pada histiosit

jaringan yang besar, kadang-kadang terdapat dalam leukosit polimorfonuklear

atau sel plasma, dengan ukuran 1,5-2,5 u. Dengan pewarnaan Wright kapsul

berwarna merah muda dan kuman berbentuk bipolar. Reproduksi bakteri

terjadi dalam fokus multiple pada sel-sel tersebut sampai vakuol berisi 20-30

organisme, kemudian pecah dan keluar organisme matang.[1


E. PATOGENESIS

Lesi primer di mulai sebagai satu nodus yang keras (berindurasi), kalau

terjadi kerusakan pada eprmukaannya terjadi ulkus yang berwarna seperti

daging dan granulomatosa. Biasanya berkembang perlahan-lahan, sering

menjadi satu dengan lesi yang berhubungan atau membentuk lesi baru dengan

autoinokulasi, terutama pada daerah perianal. Timbul akantosis hebat dan

terdapat banyak histiosit. Beberapa leukosit PMN terdapat dalam fokus infiltrat

atau tersebar, limfoeit jarang di temukan. Proliferasi epitel marginal

menyerupai gejala epiteliomatosa permulaan. [1]

Gambaran patognomonik donovanosis adalah sel mononuklear besar yang

terinfeksi, berisi banyak kista intrasitoplasmik yang di isi oleh badan-badan

donovan. Kadang terjadi penyebaran hematogen, metastatik ke tulang-tulang ,

sendi-sendi, atau hati. Infeksi sekunder akan menimbulakan desktruksi

jaringan kemudian terjadi sikatriks. [1]

Ulserasi hipertrofi meluas dan jaringan parut di perineum, dan skrotum.[6]


F. GEJALA KLINIS

Masa inkubasi pasti. Perkiraan berkisar antara 1-360 hari, 3-40 hari,14-

28 hari, dan 17 hari. Lesi dapat dimulai pada daerah genitalia eksterna, paha,

lipatan paha, atau perineum. Pada permulaan penyakit ini berbentuk papul

atau nodul subkutan tunggal atau multipel yang tidak nyeri yang kemudian

secara perlahan-lahan menjadi ulkus granulomatosa berbentuk bulat,

menimbul seperti blundru. Gambaran klinis yang paling utama adalah lesi kulit

yang fleshy, merah daging, exuberant granulation tissue yang lunak, tanpa

nyeri tekan dan mudah berdarah. Gambarab klinis yang umum berupa lesi

primer meluas perlahan melalui penyebaran lansung; autoinkulasi, yang

mengakibatkan lesi baru pada kulit yang berdekatan (“Kissing” lesion).

Melalui mekanisme ini, suatu lesi primer pada glans penis dapat menimbulkan

fokus infeksi baru pada skrotum, paha atau dinding abdomen. Pembengkakan

di daerah inguinale dapat timbul menyertai lesi genital sebagai masa induratif

atau abses yang akhirnya pecah menimbulkan ulkus yang khas. Kelainan ini

disebut pseudobubo, karna pada kenyataannya merupakan sebuah granuloma

subkutan yang terjadi superfisial pada daerah kelenjar getah bening inguinal

bukan kelenjar getah bening yang membesar. Infeksi sekunder terutamaoleh

organisme Vincent, yang di ikuti timbulnya ulkus fagedenikum dengan

kerusakan jaringan yang hebat, berbau busukdan di sertai gejala konstitusi.

Akhirnya timbul jaringan parut luas dengan distorsi, mungkin dapat pula

terjadi elefantiasis genital. [1, 7]


Tipe granuloma inguinale dari gambaran klinis terdiri dari :[1]

1. Tipe nodular

2. Tipe ulsero-vegetatif

3. Tipe hipertrofik

4. Tipe sikatriksial

Klasikasi ada empat jenis donovanosis:

1. Ulcerogranulomatous

jenis yang paling umum, merah daging, jaringan lunak yang mudah

berdarah , tanpa nyeri tekan dan dapat menjadi cukup luas jika tidak

ditangani.

2. Ulkus hipertrofik atau verrucous

pertumbuhan biasanya dengan tepi tidak teratur, kadang-kadang benar-

benar kering.
3. Nekrotik

Ulkus berbau busuk yang mendalam menyebabkan kerusakan jaringan,

4. Kering, sklerotik, atau lesi sikatriks dengan jaringan fibrosa dan jaringan

parut.

Daerah genital terkena 90% kasus dan daerah inguinal terkena 10%. Daerah

anatomi yang terkena dampak paling sering adalah pada pria, sulkus koronal,

wilayah subpreputial, dan anus. Pada wanita, labia minora, fourchette, dan

kadang-kadang di leher rahim dan saluran kelamin bagian atas. Ulkus lebih

sering terjadi pada pria yang tidak disunat dengan standar miskin kebersihan

kelamin. Lesi ekstragenital mencapai 6% kasus dan merupakan masalah yang

semakin meningkat jumlah laporan kasus. Lokasi infeksi termasuk bibir, gusi,

pipi, langit-langit mulut, faring, leher, hidung, laring, dan dada. Jarang sekali

terjadi donovanosis menyebar ke tulang dan hati dan biasanya berkaitan

dengan kehamilan dan infeksi serviks.[7]

G. DIAGNOSIS

Diagnosis di tegakkan atas dasar :[1,8]

1. Anamnesis

2. Pemeriksaan fisis
Untuk melihat gambaran klinis dari granuloma inguinal

3. Hapusan jaringan (Tissue Smears)

Mencari D. Granulomatis dalam sel-sel mononuklear yang besar. Bahan

terdiri atas jaringan granulasi yang tipis, diambil dengan biopsi atau skalpel dari

lesi bagian dalam. Setelah kering bahan di warnai dengan Giemsa, Wright

Leishman atau Gram. Dapat juga di pakai bahan dari biopsi parafin yang di

warnai dengan H.E. atau pewarnaan perak.[1]

Jika memungkinkan diagnosis donovanosis harus dikonfirmasi sebelum

antibiotik diberikan. Konfirmasi adalah dengan identifikasi badan Donovan

intraseluler khas dalam sel mononuklear besar baik dalam hapusan diperoleh

secara langsung dari jaringan atau biopsi sampel. Sel-sel karakteristik berada di

diameter 25-90 μm sedangkan badan Donovan adalah 0,5-0,7 oleh 1-1,5 μm dan

berkapsul atau mungkin tidak berkapsul.[7]


Hapusan Jaringan di warnai dengan pewarnaan Giemsa (RapiDiff) dengan teknik

menunjukkan banyak badan Donovan dalam sebuah monosit[7]

Hapusan jaringan di warnai dengan pewarnaan Giemsa (RapiDiff) dengan teknik

menunjukkan banyak badan Donovan di monosit termasuk beberapa dalam kista

intracytoplasmic (panah). [7]

4. Biakan /Kultur jaringan

D. granulomatis tidak dapat tumbuh pada media biasa.padat digunakan

biakan jaringan dan telur dengan hasil terbatas.

5. Biopsi

Biopsi dapat dilakukan di bawah anestesi lokal dan diperiksa oleh histologi.

Gambaran histologik terdiri atas : epidermis di tengah lesi hilang,

sedangkan pada tepi lesi terjadi akantosis yang kemudian menunjukan

gambaran hiperplasi pseudokarsinomatosa. Dalam dermis terlihat infiltrat

padat terutama terdiri atas histiosit dan sel plasma. Diantara infiltrat
tersebar abses kecil terdiri atas neutrofil dan sedikit sel limfoid. Badan

inklusi intrasitoplamik ( Badan donovan) terdapat dalam histiosit. Untuk

melihat badan-badan ini dapat di gunakan pewarnaan Giemsa atau

pewarnaan perak daripada hematoksilin dan eosin (H.E).

Biopsi biasanya diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis

untuk varian nekrotik dan sklerotik dan kadang-kadang untuk lesi

hipertrofik. Pada tipe hipertrofik dan sikatrisial tampak jaringan ikat

bertambah. [1, 7]

6. Serologi

Sebuah teknik immunofluoresensi tidak langsung dikembangkan

menggunakan bagian tipis dari lesi donovanosis sebagai sumber antigen

dengan hasil yang baik untuk lesi yang di bentuk namun dengan sensitivitas

rendah untuk infeksi awal, dapat di temukan antibodi ikatan komplemen

terhadap D.granulomatis, tetapi sensitivitas dan spesifitas terbatas .

Sementara tes mungkin dapat berguna dalam studi populasi di daerah

endemik itu tidak cukup akurat pada tingkat individu sehingga dapat

diterima untuk diagnosis konfirmasi. [1,7]

7. Tes kulit

Di gunakan antigen D.granulomatis, di suntikan intradermal dan di baca

setelah 72 jam, sering terjadi reaksi positif semu.[1,7]


H. PENGOBATAN

Ulsers diobati tidak sembuh secara spontan . Sebaliknya akan

memburuk dengan waktu , dan pengobatan antibiotik yang lebih baik dimulai

sejak dini . [9]

Azithromycin 500 mg 1x1 selama 1


Pertama
minggu

Doxycycline 100 mg 2x1 selama

minimal 3 minggu

Trimethoprim/sulfamethoxazole 800 mg atau 160 mg

2x1 selama 3 minggu


Kedua
Ciprofloxacin 750 mg 2x1 selama 3

minggu

Erytromycin 500 mg/oral 4x1

selama 3 minggu

Pasien harus melanjutkan pengobatan sampai semua gejala klinis

terlihat telah benar-benar sembuh . Spesimen biopsi Serial mungkin diperlukan

. Jika pasien tidak membaik dalam beberapa hari pertama pengobatan ,

penambahan gentamisin 1 mg / kg intravena setiap 8 jam perlu

dipertimbangkan .
Pusat-pusat kontrol penyakit dan pencegahan merekomendasikan

rejimen pengobatan yang sama untuk pasien HIV - positif dengan GI ,

meskipun ada beberapa laporan dari kegagalan pengobatan tersebut . pusat

untuk pengendalian penyakit dan pencegahan juga sangat menyarankan

gentamisin 1 mg / kg intravena setiap 8 jam bagi pasien terinfeksi HIV dengan

GI jika tidak ada perbaikan dalam beberapa hari pertama .

Relaps mungkin terjadi 8-16 bulan setelah tampaknya pengobatan

efektif, sehingga memerlukan tindak lanjut oleh dokter . Kasus lama dapat

komplikasi oleh infeksi bakteri sekunder atau dengan fistula dan pembentukan

abses , yang memerlukan intervensi bedah dan membuat pengobatan antibiotik

saja tidak efektif .

Pasien hamil atau menyusui dengan GI adalah untuk menghindari

doxycycline dan ciprofloxacin dalam rejimen pengobatan mereka.[9]

I. PENCEGAHAN[10]

1. Menjauhkan diri dari seks (oral, anal, atau vaginal seks) sampai Anda berada

dalam hubungan dengan hanya satu orang, berhubungan seks dengan hanya

satu sama lain, dan masing-masing tahu IMS yang lain, termasuk HIV.

2. Jika memiliki, atau berencana untuk memiliki, lebih dari satu pasangan seks

Gunakan kondom lateks dan pelumas setiap kali Anda melakukan hubungan

seks.

3. Melakukan tes untuk PMS termasuk HIV tanpa gejala.


4. Jika Anda seorang pria yang telah berhubungan seks dengan pria lain, dites

setidaknya sekali setahun.

5. Jika seorang wanita yang berencana untuk hamil atau yang sedang hamil ,

dites sifilis dan HIV sesegera mungkin , sebelum memiliki bayi.

6. Bicara tentang PMS , termasuk HIV , dengan masing-masing pasangan

sebelum berhubungan seks .

7. Pelajari sebanyak mungkin tentang perilaku masa lalu masing-masing

pasangan ( seks dan penggunaan narkoba ) .

8. Tanyakan pasangan jika mereka baru-baru ini dirawat karena PMS atau

telah diuji untuk HIV .

9. Mencari individu-individu berdasarkan informasi yang diberikan oleh

pasien dan memberikan penyuluhan dan pendidikan tentang paparan serta

layanan untuk mencegah infeksi atau , jika terinfeksi , hubungan peduli.

sangat penting untuk mengurangi penyebaran penyakit menular seksual

dan HIV dan memastikan bahwa mereka yang berisiko tertinggi tertular

atau menularkan penyakit ini diberi alat yang diperlukan untuk melindungi

diri mereka sendiri dan orang lain dari infeksi HIV . Pencegahan meliputi

pendidikan ditargetkan kesehatan dan pengurangan risiko , program

komunikasi kesehatan , dan program informasi publik untuk populasi

berisiko dan masyarakat umum .[10]


BAB V

KESIMPULAN

Setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik pada pasien dengan

keluhan demam, terdapat benjolan pada lipat paha kiri, benjolan semula kecil dan tidak

terasa nyeri, namun berubah menjadi sebesar telur ayam dengan konsistensi kenyal

dan permukaan rata, benjolan berwarna kemerahan dan terasa nyeri, os mengatakan

tidak ada keluhan dalam BAK. Dari pemeriksaan penunjang darah lengkap didapatkan

hasil Hb: 14,8 leukosit 12.500, eritrosit: 5,1 hematokit 43 dan trombosit 491.000.

Dari hasil pemeriksaan meliputi anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

penunjang, pasien ini di diagnosa granuloma inguinal. Terapi yang diberikan meliputi

terapi nonfarmakologi dan farmakologi. Prognosis bonam.


DAFTAR PUSTAKA

1. J udanarso Jubianto, 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi keenam.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

2. Morbidity and mortality Weekly Report.2010. Sexually Transmitted


Diseases Treatment Guidelines. Departement of Health and human services
centers for disease control and prevention.

3. FerrriraVelho PEN dkk.2008. Donovanosis. Brazilian Journal of Infectioud


Diseases. Division of Dermatologi , campinas University; Campinas,
SP,Brazil.

4. Murtiastutik D. 2007. Buku Ajar Infeksi Menular seksual. Fakultas


kedokteran Universitas Airlangga; Rumah sakit umum dr. Soetomo
Surabaya.

5. O’Farrell N. Donovanosis.2013.Color Atlas and synopsis of Sexually


transmitted Diseases.Donovanosis Chapter 7

6. Wolff K, Johnson RA.2009. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of


Clinical Dermatology. 6th ed. New York, NY:McGraw-Hill.

7. O'Farrell N. 2002. Donovanosis. Sex Transm Infect;78:452-7

8. Pedoman Penatalaksaan penyakit Menular Seksual. Direktorat Jenderal


PPM & PLP Departemen Kesehatan RI, Kelompok Studi PMSI.

9. Klaus wolff & Richard Allen Johnson.2003. Dermatologi in General


Medicine Edisi 7 Volume 2. Mc Graw Hill.

10. Doh. 2012. Granuloma Inguinal. Washington State Departement Of Health