You are on page 1of 13

TUGAS LONG CASE

Oleh:
Novtiara Dwita Putri, S.Ked

Pembimbing:
dr. Andri Sudjatmoko, Sp.KJ

BAGIAN/SMF ILMU PSIKIATRI


RSJKO. SOEPRAPTO BENGKULU
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2018

1. Perbedaan Gangguan Somatoform dan F.54 Faktor psikologis dan perilaku yang
berhubungan dengan gangguan atau penyakit YDK.

Gangguan Somatoform berdasarkan PPDGJ III dibagi menjadi :


F.45.0 gangguan somatisasi
F.45.1 gangguan somatoform tak terperinci
F.45.2 gangguan hipokondriasis
F.45.3 disfungsi otonomik somatoform
F.45.4 gangguan nyeri somatoform menetap
F.45.5 gangguan somatoform lainnya
F.45.6 gangguan somayoform YTT
DSM-IV, ada tujuh kelompok, lima sama dengan klasifikasi awal dari PPDGJ
ditambah dengan gangguan konversi, dan gangguan dismorfik tubuh. Pada bagian
psikiatri, gangguan yang sering ditemukan di klinik adalah gangguian somatisasi dan
hipokondriasis

1) F. 45.0 Gangguan Somatisasi


Definisi
Gangguan somatisasi (somatization disorder) dicirikan dengan keluhan
somatik yang beragam dan berulang yang bermula sebelum usia 30 tahun (namun
biasanya pada usia remaja), bertahan paling tidak selama beberapa tahun, dan
berakibat antara menuntut perhatian medis atau mengalami hendaya yang berarti
dalam memenuhi peran sosial atau pekerjaan.
Keluhan-keluhan yang diutarakan biasanya mencakup sistem-sistem organ
yang berbeda seperti nyeri yang samar dan tidak dapat didefinisikan, problem
menstruasi/seksual, orgasme terhambat, penyakit-penyakit neurologik,
gastrointestinal, genitourinaria, kardiopulmonar, pergantian status kesadaran yang
sulit ditandai dan lain sebagainya. Jarang dalam setahun berlalu tanpa munculnya
beberapa keluhan fisik yang mengawali kunjungan ke dokter. Orang dengan
gangguan somatisasi adalah orang yang sangat sering memanfaatkan pelayanan
medis. Keluhan-keluhannya tidak dapat dijelaskan oleh penyebab fisik atau melebihi
apa yang dapat diharapkan dari suatu masalah fisik yang diketahui. Keluhan tersebut
juga tampak meragukan atau dibesar-besarkan, dan orang itu sering kali menerima
perawatan medis dari sejumlah dokter, terkadang pada saat yang sama.

Etiologi
Belum diketahui. Teori yang ada, teori belajar, terjadi karena individu belajar untuk
mensomatisasikan dirinya untuk mengekspresikan keinginan dan kebutuhan akan
perhatian dari keluarga dan orang lain

Epidemiologi
 wanita : pria = 10 :1, bermula pada masa remaja atau dewasa muda
 rasio tertinggi usia 20- 30 tahun
 pasien dengan riwayat keluarga pernah menderita gangguan somatoform
(beresiko 10-20x > besar dibanding yang tidak ada riwayat).

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi


Untuk gangguan somatisasi, diagnosis pasti memerlukan semua hal berikut:
a) Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang tidak dapat
dijelaskan atas dasar adanya kelainan fisik, yang sudah berlangsung sedikitnya 2
tahun.
b) Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak
ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhan-keluhannya.
c) Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang berkaitan
dengan sifat keluhan-keluhannya dan dampak dari perilakunya.
Atau :
a) Keluhan fisik dimulai sebelum usia 30 tahun, terjadi selama periode beberapa
tahun
b) Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan,
 4 gejala (G) nyeri: sekurangnya empat tempat atau fungsi yang berlainan
(misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak, dada, rektum,
selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau selama miksi)
 2 G gastrointestinal: sekurangnya dua gejala selain nyeri (misalnya mual,
kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare, atau intoleransi
terhadap beberapa jenis makanan)
 1 G seksual: sekurangnya satu gejala selain dari nyeri (misalnya indiferensi
seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi, menstruasi tidak teratur, perdarahan
menstruasi berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).
 1 G pseudoneurologis: sekurangnya satu gejala atau deficit yang mengarahkan
pada kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri (gangguan koordinasi
atau keseimbangan, paralisis, sulit menelan, retensi urin, halusinasi, hilangnya
sensasi atau nyeri, pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala
disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).
 Salah satu (1)atau (2):
 Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria B tidak dapat
dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau
efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau
alkohol)
c) Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan sosial atau
pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa yang diperkirakan dari
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium.
d) Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti gangguan
buatan atau pura-pura).

Prognosis
Dubia et malam. Pasien susah sembuh walau sudah mengikuti pedoman pengobatan.
Sering kali pada pasien wanita berakhir pada percobaan bunuh diri.

2) F.45.1 Gangguan Somatoform Tak Terperinci


Etiologi : unknown

Epidemiologi
Bervariasi, di USA 10%-12% terjadi pada usia dewasa, dan 20 % menyerang wanita.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak Digolongkan


a) Keluhan-keluhan fisik bersifat multipel, bervariasi dan menetap, akan tetapi
gambaran klinis yang khas dan lengkap dari gangguan somatisasi tidak terpenuhi
b) Kemungkinan ada ataupun tidak faktor penyebab psikologis belum jelas, akan
tetapi tidak boleh ada penyeba fisik dari keluhan-keluhannya.
Atau :
a) Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya kelelahan, hilangnya nafsu makan,
keluhan gastrointestinal atau saluran kemih)
Salah satu (1)atau (2)
 Setelah pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat dijelaskan sepenuhnya
oleh kondisi medis umum yang diketahui atau oleh efek langsung dari suatu
zat (misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
 Jika terdapat kondisi medis umum yang berhubungan, keluhan fisik atau
gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa
yang diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau
temuan laboratonium.
b) Gejala menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya. Durasi gangguan
sekurangnya enam bulan.
c) Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain
(misalnya gangguan somatoform, disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan
kecemasan, gangguan tidur, atau gangguan psikotik).
d) Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat (seperti pada
gangguan buatan atau berpura-pura)

Prognosis
Bervariasi, sulit diprediksi karena prognosisnya bergantung pada gejala yang lebih
dominan.

3) F.45.2 Gangguan Hipokondriasis


Definisi
Hipokondriasis adalah keterpakuan (PREOKUPASI) pada ketakutan
menderita, atau keyakinan bahwa seseorang memiliki penyakit medis yang serius,
meski tidak ada dasar medis untuk keluhan yang dapat ditemukan. Berbeda dengan
gangguan somatisasi dimana pasien biasanya meminta pengobatan terhadap
penyakitnya yang seringkali menyebabkan terjadinya penyalahgunaan obat, maka
pada gangguan hipokondrik pasien malah takut untuk makan obat karena dikira
dapat menambah keparahan dari sakitnya.
Ciri utama dari hipokondriasis adalah fokus atau ketakutan bahwa simtom
fisik yang dialami seseorang merupakan akibat dari suatu penyakit serius yang
mendasarinya, seperti kanker atau masalah jantung. Rasa takut tetap ada meskipun
telah diyakinkan secara medis bahwa ketakutan itu tidak berdasar. Gangguan ini
paling sering muncul antara usia 20 dan 30 tahun, meski dapat terjadi di usia berapa
pun.
Orang dengan hipokondriasis tidak secara sadar berpura-pura akan simptom
fisiknya. Mereka umumnya mengalami ketidaknyamanan fisik, seringkali
melibatkan sistem pencernaan atau campuran antara rasa sakit dan nyeri. Berbeda
dengan gangguan konversi yang biasanya ditemukan sikap ketidakpedulian terhadap
simtom yang muncul, orang dengan hipokondriasis sangat peduli, bahkan benar-
benar terlalu peduli pada simtom dan hal-hal yang mungkin mewakili apa yang ia
takutkan.
Pada gangguan ini, orang menjadi sangat sensitif terhadap perubahan ringan
dalam sensasi fisik, seperti sedikit perubahan dalam detak jantung dan sedikit sakit
serta nyeri. Padahal kecemasan akan simtom fisik dapat menimbulkan sensasi fisik
itu sendiri, misalnya keringat berlebihan dan pusing, bahkan pingsan. Mereka
memiliki lebih lanjut kekhawatiran akan kesehatan, lebih banyak simtom psikiatrik,
dan memersepsikan kesehatan yang lebih buruk daripada orang lain. Sebagian besar
juga memiliki gangguan psikologis lain, terutama depresi mayor dan gangguan
kecemasan.

Etiologi : masih belum jelas

Epidemiologi
Biasanya terjadi pada usia dewasa, rasio antara wanita dan pria sama

Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis


Untuk diagnosis pasti gangguan hipokondrik, kedua hal ini harus ada:
a) Keyakinan yang menetap adanya sekurang-kurangnya satu penyakit fisik yang
serius yang melandasi keluhan-keluhannya, meskipun pemeriksaan yang
berulang-ulang tidak menunjang adanya alasan fisik yang memadai, ataupun
adanya preokupasi yang menetap kemungkinan deformitas atau perubahan
bentuk penampakan fisiknya (tidak sampai waham)
b) Tidak mau menerima nasehat atau dukungan penjelasan dari beberapa dokter
bahwa tidak ditemukan penyakit atau abnormalitas fisik yang melandasi
keluhan-keluhannya.
Ciri-ciri diagnostik dari hipokondriasis
a) Perokupasi (keterpakuan) dengan ketakutan menderita, ide bahwa ia menderita
suatu penyakit serius didasarkan pada interpretasi keliru orang tersebut terhadap
gejala-gejala tubuh.
b) Perokupasi menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan medis yang tepat
c) Tidak disertai dengan waham dan tidak terbatas pada kekhawatiran tentang
penampilan (seperti pada gangguan dismorfik tubuh).
d) Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain. Lama
gangguan sekurangnya 6 bulan.
e) Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan kecemasan umum,
gangguan obsesif-kompulsif, gangguan panik, gangguan depresif berat, cemas
perpisahan, atau gangguan somatoform lain.

Prognosis
10 % pasien bisa sembuh, 65 % berlanjut manjadi kronik dengan onset yang
berfluktuasi, 25 % prognosisinya buruk.

4) F.45.3 Gangguan Disfungsi Otonomik Somatoform


Kriteria diagnostik yang diperlukan :
a) ada gejala bangkitan otonomik ex, palpitasi, berkeringat, tremor, muka panas,
yang sifatnya menetap dan mengganggu
b) gejala subjektif tambahan mengacu pada sistem atau organ tertentu (tidak khas)
c) preokupasi dengan penderitaan mengenai kemungkinan adanya gangguan yang
serius yang menimpanya, yang tidak terpengaruh oleh hasil Px maupun
penjelasan dari dokter
d) tidak terbukti adanya gangguan tang cukup berarti pada struktur/fungsi dari
sistem/organ yang dimaksud
e) kriteria ke 5, ditambahkan :
F.45.30 = Jantung Dan Sistem Kardiovaskular
F.45.31 = Saluran Pencernaan Bgn Atas
F.45.32 = Saluran Pencernaan Bgn Bawah
F.45.33 = Sistem Pernapasan
F.45.34 = Sistem Genito-Urinaria
F.45.38 = Sistem Atau Organ Lainnya

5) F. 45.4 . Gangguan Nyeri Yang Menetap


Definisi
Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan
dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
Pasien sering wanita yang merasa mengalami nyeri yang penyebabnya tidak dapat
ditemukan. Munculnya secara tiba-tiba, biasanya setelah suatu stres dan dapat hilang
dalam beberapa hari atau berlangsung bertahun-tahun. Biasanya disertai penyakit
organik yang walaupun demikian tidak dapat menerangkan secara adekuat
keparahan nyerinya (Tomb, 2004). Individu yang merasakan nyeri akibat gangguan
fisik, menunjukkan lokasi rasa nyeri yang dialaminya dengan lebih spesifik, lebih
detail dalam memberikan gambaran sensoris dari rasa nyeri yang dialaminya, dan
menjelaskan situasi dimana rasa nyeri yang dirasakan menjadi lebih sakit atau lebih
berkurang (Adler et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Sedangkan pada nyeri
somatoform, pasien malah bertindak sebaliknya.

Etiologi,
tidak diketahui

Epidemiologi
Terjadi pada semua tingkatan usia, di USA 10-15% pasien datang dengan keluhan
nyeri punggung.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri


a) Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis
b) Nyeri menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan
dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.
c) Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam onset, kemarahan,
eksaserbasi atau bertahannnya nyeri.
d) Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti
pada gangguan buatan atau berpura-pura).
e) Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mood, kecemasan, atau
gangguan psikotik dan tidak memenuhi kriteria dispareunia.
Prognosis :
jika gejala terjadi < 6 bulan, cenderung baik, dan jika gejala terjadi > 6 bulan,
cenderung buruk (cenderung menjadi kronik).

6) F.45.8 Gangguan Somatoform Lainnya


Pedoman Diagnostik :
a) keluhan yang ada tidak melalui saraf otonom, terbatas secara spesifik pd bgn
tubuh/sistem tertentu
b) tidak ada kaitan dengan adanya kerusakan jaringan
termasuk didalamnya, pruritus psikogenik, ”globus histericus”(perasaan ad
benjolan di kerongkongan>>>disfagia) dan dismenore psikogenik
7) Faktor psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan gangguan atau
penyakit YDK
Kategori ini harus digunakan untuk mencatat adanya pengaruh psikologis
atau perilaku yang diperhitungkan mempunyai perasaan besar dalam
etiologi terjadinya gangguan fisik yang diklasifikasi di tempat lain.
Contoh :
 Asma à penyakit kronis dimana saluran udara bronkus di paru-paru
menjadi menyempit dan bengkak, sehingga individu menjadi sulit
untuk bernapas.
 Dermatritis à peradangan hebat yang menyebabkan pembentukan
lepuh atau gelembung kecil (vesikel) pada kulit hingga akhirnya
pecah dan mengeluarkan cairan.
 Peptic ulcer à luka terbuka yang terjadi di dalam lapisan perut,
bagian atas usus kecil atau esophagus.
 Irritable bowel syndrome (IBS) à gangguan umum pada usus besar.
 Ulcerative colitis à penyakit peradangan usus yang menyebabkan
peradangan kronis pada saluran pencernaan.
 Urticaria à suatu reaksi pada kulit yang timbul mendadak (akut)
karena pengeluaran histamin yang mengakibatkan pelebaran
pembuluh darah dan perembesan cairan dari pembuluh darah.

2. Prinsip pemeriksaan dalam psikiatri


PSIKIATRI adalah bidang Ilmu Kedokteran yang berfokus pada pendekatan
komprehensif dalam Ilmu Kedokteran dengan konsep bio-psikososial, dengan
pendekatan eklektik holistik.
1) Pendekatan komprehensif Mencakup:
 Siklus kehidupan manusia
 Otak dan perilaku
 Ilmu-ilmu Psikososial
 Teori-teori Perkembangan & kepribadian: Freud, Jung, Adler, Horney,
Erikson, Piaget, Gestalt Therapy, Existential Psychiatry, Behavior
Therapy, Cognitive Therapy, Terapi keluarga
2) Pemeriksaan Psikiatri
3) Gangguan mental, psikiatri anak dan remaja, psikiatri geriatri, psikiatri
forensik
4) Terapi psikiatri: Terapi biologik Konseling / Psikoterapi
5) Masalah Kesehatan Mental

3. Farmakoterapi untuk tindakan kompulsi


Obat medis yang digunakan dalam pengobatan OCD seperti;
 Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) yang dapat mengubah
level serotonin dalam otak, jenis obat SSRIs ini adalah Fluoxetine
(Prozac), sertraline (Zoloft), escitalopram (Lexapro), paroxetine (Paxil),
dan citalopram (Celexa)
 Trisiklik (Tricyclics) Obat jenis trisiklik berupa clomipramine (Anafranil).
Trisiklik merupakan obat-obatan lama dibandingkan SSRIs dan bekerja
sama baiknya dengan SSRIs. Pemberian obat ini dimulai dengan dosis
rendah. Beberapa efek pemberian jenis obat ini adalah peningkatan berat
badan, mulut kering, pusing dan perasaan mengantuk.
 Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs). Jenis obat ini adalah phenelzine
(Nardil), tranylcypromine (Parnate) dan isocarboxazid (Marplan).
Pemberian MAOIs harus diikuti pantangan makanan yang berkeju atau
anggur merah, penggunaan pil KB, obat penghilang rasa sakit (seperti
Advil, Motrin, Tylenol), obat alergi dan jenis suplemen. Kontradiksi
dengan MOAIs dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. 2013. Media Aesculapicus : Fakultas


Kedokteran Universitas Tanjungpura.
2. Departemen Kesehatan R.I. 1993.Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III cetakan pertama. Direktorat Jenderal
Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI : Jakarta
3. Kaplan, B.J., Sadock, V.A, 2007, Kaplan & Sadock’s Synopsis of
Psychiatry :Behavioral
4. Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa cetakan kesembilan.
Airlangga University Press : Surabaya
5. Nevid, J.S., dkk. 2005. Psikologi Abnormal Jilid I.Edisi 5.
PenerbitErlangga :Jakarta
6. Pardamean E. 2007. Simposium Sehari Kesehatan Jiwa Dalam Rangka
Menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia : Gangguan Somatoform. Ikatan
Dokter Indonesia Cabang Jakarta Barat.
7. Tomb, D. A. 2004.Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. EGC : Jakarta