You are on page 1of 9

Davit Nugraha : Penetapan Kadar Kafein Kopi Bubuk Hitam Merek “K”

Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis

PENETAPAN KADAR KAFEIN KOPI BUBUK HITAM MEREK “K”
DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

Davit Nugraha, Anna L Yusuf, Lismayani
Prodi Farmasi STIKes Muhammadiyah Ciamis

Email: davitnugraha@gmail.com

ABSTRAK

Kopi adalah sejenis minuman yang berasal dari dari proses
pengolahan dan ekstraksi biji tanaman kopi, adapun zat yang terkandung
didalam kopi ini adalah berupa kafein. Kafein adalah salah satu jenis
alkaloid yang banyak terdapat dalam biji kopi, daun teh dan biji coklat.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa kadar kafein
yang terdapat pada kopi bubuk hitam dengan metode spektrofotometri
UV-Vis. Sampel merupakan satu jenis kopi bubuk yang dengan tiga no
batch yang berbeda.
Uji pendahuluan dilakukan dengan menggunakan KLT. Hasil
penelitian uji pendahuluan menunjukkan adanya noda yang terjadi berwarna
ungu dengan latar belakang kuning. Kopi bubuk hitam ini positif
mengandung kafein. Penetapan kadar dengan metode spektrofotometri UV-
Vis diukur pada panjang gelombang 287,5 nm.
Hasil uji kuantitatif kafein dapat disimpulkan bahwa kadar rata-rata
kafein dalam sampel 07 yaitu 2,120 mg/1 gram, sampel 08 yaitu 2,122 mg/1
gram dan sampel 09 2,299 mg/1 gram. Jumlah maksimum kopi bubuk
yang dapat dikonsumsi masyarakat per hari berdasarkan SNI yaitu
65,25 gram-70,75 gram.

Kata kunci : Kafein, kopi bubuk hitam, spektrofotometri UV-Vis

Volume 1 | Nomor 2 | Agustus 2014 ISSN:2089-3906 10

5 nm. UV-Vis spectrophotometry. Lismayani Prodi DIII Farmasi STIKes Muhammadiyah Ciamis Email: davitnugraha@gmail. Keywords : Caffeine.75 gram. 08 samples is 2. Anna L Yusuf. The maximum amount of ground coffee that can be consumed by people per day by SNI is 65.Davit Nugraha : Penetapan Kadar Kafein Kopi Bubuk Hitam Merek “K” Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis CONTENT DETERMINATION OF CAFFEINE POWDER BLACK COFFEE BRAND "K" WITH UV-VIS SPECTROPHOTOMETRY METHOD Davit Nugraha. as for the substance contained in the form of coffee is caffeine. Volume 1 | Nomor 2 | Agustus 2014 ISSN:2089-3906 11 .25 gram – 70.com ABSTRACT Coffee is a beverage derived from a type of processing and extraction of the coffee plant seeds. Preliminary test performed using KLT. tea leaves and cocoa beans.122 mg / 1 gram and 09 samples of 2. The purpose of this study was to determine how many levels of caffeine found in coffee black powder with UV-Vis spectrophotometry method. The results of the preliminary test study shows streaks that occur purple with a yellow background. Caffeine is one of many types of alkaloids found in coffee beans. Caffeine quantitative test results it can be concluded that the average caffeine levels in 07 samples is 2. The sample is a type of ground coffee with three different batches no. This black powder coffee contain caffeine positive.299 mg / 1 gram. Assay with UV-Vis spectrophotometry method was measured at a wavelength of 287. coffee black powder.120 mg / 1 gram.

Penelitian tentang analisis mengurangi kelelahan. chamber. Kafein juga penulis tertarik untuk melakukan memiliki rangsangan pada sistem penelitian tentang kandungan kafein saraf dan fungsi otak (Fulder. adalah 272 – 276 nm (Egan. perasaan terganggu atau sakit kepala gelas kimia. memperoleh informasi tentang kadar Konsumsi kafein sebaiknya kafein yang terdapat dalam kopi dari tidak melebihi 150 mg sehari (SNI.Tapi. sesak pengolahan biji tanaman kopi. gelisah. Maksudnya. seseorang dapat Corong pisah. mengalami gejala seperti rasa lelah. Menurut SNI 01-7152-2006 dilakukan masyarakat. lama Kopi bubuk hitam merek “K”. Kafein dapat minum kopi 3-5 cangkir setiap hari. dalam kopi merek K.Davit Nugraha : Penetapan Kadar Kafein Kopi Bubuk Hitam Merek “K” Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis tanda dan gejala seperti gangguan PENDAHULUAN pencernaan makanan (dispepsia). pinset. 1985). bila Bahan: mengkonsumsi 600 mg kafein. jika ia tiba – tiba berhenti penangas air. DA. cara menyeduh kopi yang biasa 2006). Vis merupakan metode yang baik Kafein adalah salah satu jenis digunakan dan dapat menghasilkan alkaloid yang banyak terdapat dalam ketelitian dan ketetapan yang tinggi biji kopi. psikostimulant yang akan menyebabkan orang tetap terjaga. tidak Kopi merupakan sejenis nafsu makan. kafein. bingung. kafein murni. dapat (Coffeefag. Ketergantungan tersebut disebabkan Metode spektrofotometri UV- oleh kandungan kafein dalam kopi. memberikan efekfisiologis berupa penentuan kadar kafein dapat peningkatan energi (Bhara L. digunakan untuk senyawa organik. NaOH Volume 1 | Nomor 2 | Agustus 2014 ISSN:2089-3906 12 . sakit kepala. sukar tidur. rasa lelah. spektrofotometri UV-Vis ( Penikmat kopi biasanya Wulandari dkk. Kafein mudah larut dalam air anorganik dan biokimia yang panas. corong kaca. gelas ukur. 2010). dan biji coklat serta penggunaannya luas. Pipet tets. batas maksimum kafein adalah 150 mg/hari dan 50 mg/sajian. daun teh. dengan harapan 2004). dan kadang sukar buang air dapat digolongkan sebagai minuman besar (Dalimartha. kelamaan akan memperlihatkan Kloroform. 2008). METODE PENELITIAN mengkonsumsi kafein sebanyak 100 Alat : mg tiap hari dapat menyebabkan Spektrofotometri UV-Vis. labu ukur. dideteksi pada panjang gelombang Hal ini menyebabkan seseorang absorbsi maksimum secara teori dapat ketergantungan minuman kopi. Keracuran kafein kronis. maka ketika kopi diseduh selama 1-2 menit pertama semua Berdasarkan penelitian ini kafein akan larut. Kopi nafas. cawan porselen. dan kafein sudah banyak dilakukan. larut. spatula.A.M. mengkonsumsi kafein (Siswono. hampir semua sifat kafein diabsropsi di daerah UV-Vis terkandung di dalam kopi mudah (Skoog. 2002). berdebar. Neraca individu tersebut tergantung pada analitik. pusing minuman yang berasal dari proses (vertigo).. Pipet volum. dilakukan dengan metode 2005). 2001). 1981).

Masukkan larutan standar kafein kemudian diencerkan tersebut kedalam corong pisah dan oleh akuades menjadi beberapa seri ektrasi 3 kali masing-masing dengan kadar larutan yaitu 25 ppm. ukur larutan tersebut kedalam corong Rf kafein (SNI. Timbang kafein murni sebanyak Prosedur penelitian 100 mg larutkan dengan 100 ml Pengambilan Sampel akuades panas kemudian uapkan Kopi yang digunakan adalah pada suhu kamar sampai didapat kopibubuk hitam merek “K” volume kurang lebih 5 ml. 1992). Volume 1 | Nomor 2 | Agustus 2014 ISSN:2089-3906 13 . Iodium. kertas pH. etil penambahan kloroform. 1992). Aquades. pisah dan ektraksi 3 kali masing- masing dengan penambahan Pembuatan Larutan Standar kloroform. (operatingtime) Uji Pendahuluan/ Uji Kualitatif Pipet 5 ml dari larutan standar Kafein kafein masukan kedalam labu ukur Pembuatan larutan sampel 100 ml encerkan dengan akuades untuk uji kualitatif KLT yaitu dengan sampai garis tanda dan homogenkan. Keringkan 100 ml kedalam beker glass lalu pada suhu kamar kemudian aduk hingga merata.0 : 0. metanol. pada suhu sampai didapat volume Kertas sarimg. glass lalu diaduk hingga merata kemudian disaring dengan kertas Pembuatan Larutan Seri Standar saring. lalu ditambahkan beberapa Kafein untuk Pembuatan tetes NaOH 10% sampel larutan Ambil sejumlah larutan sampel alkalis. HCl 25%. 30 ppm.Davit Nugraha : Penetapan Kadar Kafein Kopi Bubuk Hitam Merek “K” Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis 10%. kafein dari kloroform dan uapkan Alkohol 95%. Masukan dengan latar belakang kuning. lalu KI dalam alkohol. Kemudian kafein dalam akuades 800C sampai dilarutkan dengan akuades 80°C dan 1000 ml. KI. Setelah kering dipipet sampel sebanyak 100 ml disemprotkan lagi dengan campuran kedalam gelas kimia. HCl 12N. kemudian disemprotkan dengan larutan I2 dan saring dengan kertas saring.05. kurang lebih 5 m l(SNI.Kemudian uji kualitatif dengan KLT dilakukan yang diambil di pasar Ciamis. Pisahkan kafein dari Kafein kloroform dan uapkan pada suhu Larutan standar kafein dibuat 100 kamar hingga didapat ektrak kafein ppm dengan melarutkan 100 mg bebas pelarut. dengan cara totolkan larutan sampel pada KLT dengan pelapis silica gel Pembuatan Larutan Sampel 60 dan elusi dengan campuran Timbang 1 gram sampel lalu etilasetat : methanol : larutan HCL ditambahkan dengan aquadest panas 12 N = 18 : 2. encerkan dengan akuadessampai Penentuan Waktu Operasional garis tanda dan dihomogenkan. beberapa tetes NaOH 10% sampai Noda yang terjadi berwarna ungu larutan sampel alkalis. cara menimbang sampel Kemudian dilakukan pembacaan kemudian ditambahkan dengan dengan spektrofotometer UV setiap akuades panas 100 ml kedalam beker 10 menit sekali selama 1 jam. tambahkan HCL 25% : alkohol 95% (1 : 1). Pisahkan asetat. masukan kedalam labu ukur 100 ml. Silica Gel GF254 nm.

Catat panjang gelombang Penentuan panjang gelombang yang memiliki absorbansi tertinggi. Hasil pengukuran diperoleh HASIL PENELITIAN DAN menunjukkan panjang gelombang PEMBAHASAN maksimum yang tidak sama dengan Penentuan Operating Time literatur dan penetapan kadar Tahap ini dicari hubungan antara selanjutnya dilakukan pada panjang serapan dan waktu. encerkan mcg/ml. dan 50 ppm. maksimum Pembuatan Kurva Kalibrasi Tahap ini dicari hubungan antara serapan dan panjang gelombang Larutan seri standar kafein yang bertujuan untuk menganalisa diatas kemudian dibaca pada spektrum kafein. memperoleh waktu yang tepat pada pembacaan serapan dari larutan yang diperiksa pada saat serapan stabil. Catat nilai absorbansi serapan maksimumnya karena pada yang muncul dari 5 seri kadar larutan panjang gelombang maksimal. Dalam gelombang serapan maksimum dan penelitian ini. Dari Penentuan operating time pada kelima seri tersebut dapat dibuat spektrofotometri UV dilakukan kurva baku untuk mencari nilai dengan caramengamati absorbansi regresi linier sesuai dengan hukum larutan standar kafeindan dicatat tiap lambert-beer. Sampel Pada penentuan panjang Dari 100 ml larutan sampel diatas gelombang maksimum larutan kafein diambil 5 ml kemudian dimasukan dibuat dengan konsentrasi 100 kedalam labu ukur 50 ml. 40 ppm. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Pipet 5 ml dari larutan standar kafein. 10 menit sekali selama 1 jam. diatas dan dibuat kurva kalibrasi kepekaan juga maksimal sehingga serta persamaan regeresinya.5 nm. pengukuran serapan catat nilai maksimum kafein diperoleh 287.5 nm. diencerkan dengan akuades hingga garis tanda dan dihomogenkan. Dari hasil absorbansi di atas dapat besarnya absorbansi yang diperoleh diketahui bahwa larutan standar dari larutan diukur dengan kafein stabil sampai waktu 1 jam. serapan maksimum pada panjang Kemudian dibaca pada panjang gelombang 272-276 nm. akan meminimalisir kesalahan pengukuran apabila dilakukan Penetapan Kadar Kafein pada pengukuran ulang. nm. lalu dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml. Kafein memberikan dengan akuades dan dihomogenkan. sehingga dapat panjang gelombang serapan diketahui panjang gelombang maksimum.Davit Nugraha : Penetapan Kadar Kafein Kopi Bubuk Hitam Merek “K” Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis 35 ppm. spektrofotometri UV-Vis karena penurunan absorbansinya padapanjanggelombang 200-400 tidak terlalu signifikan. Volume 1 | Nomor 2 | Agustus 2014 ISSN:2089-3906 14 . sebagai uji blanko digunakan akuades. Bertujuan untuk gelombang maksimum 287.

04 dan CV 1. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Kadar rata-rata kafein dalam sampel dengan no batch W07KWG yaitu 2.00874. Hasil Penetapan kadar Kafein dalam Sampel.122 mg dalam 1 gram kopi dan pada sampel dengan no batch W09KWG yaitu 2.1999x+0. sampel 08 SD = 0.120 mg dalam 1 gram kopi.89 %. sehingga masih dibawah batas yaitu dengan membuat lima seri maksimum kafein yang kadar larutan standar kafein.Hasil penelitian pada kadar dalam sampel.79 mg percangkir. Biasanya seseorang mengkonsumsi kopi bubuk tiap kali disajikan sekitar 6 gram dalam satu cangkir.0087. Pada kadar grafik diperoleh nilai R = 0. artinya pada sampel kopi 07 yaitu 12. nilai B = 0. rata-rata sampel secara nilai A = 0. sampel08 12.59%.067 dan CV 2.5 nm). Dari analisis data hasil penelitian diperoleh kadar rata-rata kafein sampel 07 adalah 2.126 dan CV 0.122 mg/1 Volume 1 | Nomor 2 | Agustus 2014 ISSN:2089-3906 15 .993. sampel dengan no batch W08KWG 2.73 mg maksimum kafein percangkir dan sampel 09 13.Hasil penetapan kemudian baca serapannya pada kadar kafein dalam sampel secara panjang gelombang maksimum Spektrofotometri UV telah didapat (287. dan sampel 09 SD = 0.299 mg/1 gram.299 mg dalam 1 gram kopi.120 m/g1 gram.72 mg Spektrum Panjang gelombang percangkir.91 %. 0. Menurut SNI 01- 7152-2006batas maksimum kafein adalah 150 mg/hari dan 50 mg/sajian.1999. spektrofotometri UV diperolehnilai persamaan regresinya adalah y= SD untuk sampel 07= 0. diperbolehkan. sampel 08 adalah 2. Ini menunjukan apabila Penentuan Kurva Kalibrasi Kafein mengkonsumsi kopi paling sedikit 4 cangkir sehari maka seseorang telah Tahap ini dicari hubungan mengkonsumsi kafein 50-55 mg/hari antara konsentrasi dengan serapan.Davit Nugraha : Penetapan Kadar Kafein Kopi Bubuk Hitam Merek “K” Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis gram dan pada sampel 09 adalah 2.

1995.(1995). Davit Nugraha : Penetapan Kadar Kafein Kopi Bubuk Hitam Merek “K” Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis Questions about Caffeine. Pengaruh Scientific & Technical. PrestasiPustakaraya. DepartemenKesehatan. Saran Diakses 26Maret 2013. 2009 Kimia Farmasi Analisis. Sumatera Utara. Jakarta: (vertigo). pusing Edisi IV. Histologi Hepar Tikus. sesak nafas. lanjutdengan metode yang lain. Ibnu Gholib Gandjar. 3. Chemistry. 1985. Frequently Asked Pelajar. Jakarta. Prosedur Egan. Penelitian. 2004. Farmakope Teh. S. Fakultas Matematika Indonesia Edisi III. 258. Pengaruh Berat dan Waktu Penyeduhan terhadap DAFTAR PUSTAKA KadarKafein dari Bubuk Anonim. Jakarta : PT. bingung. berdebar. H.J. Krik. Semarang. gelisah. Kopi : mengkonsumsi kafein karena Budidaya dan Penanganan dengan mengkonsumsi kafein yang Pasca Panen. Person’s Chemical Cipta Analisys of Food. R. Arikunto. tidak nafsu Farmakope Indonesia makan. Khasiat terhadap Gambaran Teh Hijau. 2004. Indonesia. Eight Edition.Macrae. Setiawan. 2005. Pemberian Kopi Dosis Bertingkat Per Oral Fulder. London : Longman Bhara L. Indonesia : Jakarta. Universitas Diponegoro. memperlihatkan tanda dan gejala seperti gangguan pencernaan makanan (dispesia). sakit kepala. Jilid I. S. Stephen. Farmakope Indonesia. Perlu adanya penelitian lebih Trubus Agriwidya. rasa lemah. S (2006). 2001. dan kadang sukar buang air besar.Universitas Clarke. Volume 1 | Nomor 2 | Agustus 2014 ISSN:2089-3906 16 .M. Sawyer. Abdul Rohman. London. Elsevier Applied Science Publishers. R. Fitri.A. Universitas Republik Indonesia. dan Ilmu Pengetahuan Departemen Kesehatan Alam. Perlu adanya penelitian lebih Dalimartha. Altas lanjut tentang kandungan kadar Tumbuhan Obat kafein dalam kopi bubuk jenis lain. 1. Penebar berlebih lama kelamaan akan Swadaya. 2008. Novianty Syah. 2002. Coffee Volume I.. Yogyakarta. and R. Untuk masyarakat sebaiknya ada pembatasan dalam Danarti dan Najayati. Jakarta.Jakarta : 2. Ganiswara. Farmakologi Dan Terapi edisi IV. sukar tidur. Jakarta : Rineka 1981. R. 1979. Pustaka Coffefag.

Perangkat Perkuliahan (Satuan Acara Perkuliahan. M. Medan. UV Methode for Estimation http//www. Kusrijadi. S.D. Study of Extraction and HPTLC – Siswono.M. Penetapan Terapi.K. 2008. Spektroskopi. B. D III Farmasi STIKes Misra H. 2013. Kimia Kadar Kafein Pada Minuman Fakultas MIPA Universitas Teh Kemasan Yang Beredar Mulawarman. 2003. UPI Bandung: tidak Sunaryo. 1991. Pradnya Volume 1 | Nomor 2 | Agustus 2014 ISSN:2089-3906 17 . 2011. Serbuk Yang Beredar Di 226-233. 47-51 Fundamental of Analytical Chemistry5thed. D. Golden Sunburst Series. dan Fatimah SitiSoja. D Suriani. H. 2005. Jain.Davit Nugraha : Penetapan Kadar Kafein Kopi Bubuk Hitam Merek “K” Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis 2006. Subur P. Edisi pertama. 1992.. Muhammadiyah Ciamis. Phytomedical technologies. Caffeine. Irna.M1985. Philadelphia. Sastrohamidjojo. Hal. Jakarta: Sekretaris Anorganik. Muhammadiyah Ciamis.Jurusan DewanStandardisasi Pendidikan Kimia FP MIPA Nasional. Sounders Mudzakir. Jakarta : PT. Sastromihadjojo. Bahan Ajar.co. Ali. Flora. Van Steenis.C. Vinanda. Rita. Mehta.Yogyakarta. Soni. International Journal of Green Pharmacy : Skoog. (Camellia sinensis) Granules. Pasaran Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. of Caffeine in Marketed Tea Diakses 12 mei 2008. PS. Standard Nasional Presentasi) Praktikum Kimia Indonesia. Terjemahan A. Yogyakarta Maramis. 1997. (1995). Analisis Kandungan III Farmasi STIKes Kofeina Dalam Kopi Instan. Ahmad. Optimasi Liberty. Jakarta. 2008.. Penetapan Kinerja Tinggi. dan Bahan SNI. Dalam: Farmakologi dan Nuryani. West. 1999.. Saptorahardjo. Realita Kesia. H. UI Press. Nisma. 2008.id. Hal: 14- Kinerja Analitik Pada 15 Penentuan Kadar Kafein Dengan Kromatografi Cairan Silvania. D. Hairani. Kadar Kafein Pada Teh Jakarta: FK UI Press. Spektroskopi Inframerah. Liberty. Mehta. D.A. Merin. Di Pasaran Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Pasaribu. 2013. Diakses Khopkar. Samarinda. Perangsang diterbitkan. Edisi keempat.republika. Konsep Tanggal 20 April 2006 Dasar Kimia Analitik. Susunan Saraf Pusat.

2005. hal 243-258. Regina dan Chistine.. M. and Indriyanyo. 2010. Wulandari M. Wilson and Gisvold. Ed): Profil of Drugs Substances.Davit Nugraha : Penetapan Kadar Kafein Kopi Bubuk Hitam Merek “K” Dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis Paramita. G. In : (Brittain. 1992. Excipients Related Methodology. Yuwono. Validation of Chromatographic Methods of Analysis. Salisil Amida dan Kafein secaraSpektrofotometri Derivatif. Penetapan Kada Kafein Dalam Cmapuran Parasetamol. Volume 1 | Nomor 2 | Agustus 2014 ISSN:2089-3906 18 . Texboox of Organic Medical and Pharmaceutical Chemistry Philadelphia : JB Lippincolt Company. Yogyakarta. Universitas Sanata Dharma. Volume 32.G. H.D.