You are on page 1of 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bio-oil
Salah satu hasil pengolahan minyak nabati yang merupakan bahan bakar
alternatif adalah Bio-oil. Bio-oil adalah bahan bakar cair berwarna gelap, beraroma
seperti asap, dan diproduksi dari biomassa seperti kayu, kulit kayu, kertas atau
biomassa lainnya melalui teknologi pirolisis ( pyrolysis ) atau pirolisis cepat
(fast pyrolysis ). Fast Pyrolysis (pirolisis cepat) adalah dekomposisi thermal dari
komponen organik tanpa kehadiran oksigen dengan cara mengalirkan N2 dalam
prosesnya untuk menghasilkan cairan, gas dan arang. Cairan yang dihasilkan ini
lebih lanjut kita kenal sebagai Bio-oil. Produk yang dihasilkan dalam proses pirolisis
cepat tergantung dari komposisi biomassa yang digunakan sebagai bahan baku,
kecepatan serta lama pemanasan. Rendemen cairan tertinggi yang dapat dihasilkan
dari proses pirolisis cepat berkisar 78 % dengan lama pemanasan 0,5 – 2 detik, pada
o
suhu 400-600 C dan proses pendinginan yang cepat pada akhir proses. Pendinginan
yang cepat sangat penting untuk memperoleh produk dengan berat molekul tinggi
sebelum akhirnya terkonversi menjadi senyawa gas yang memiliki berat molekul
rendah. Produksi bio oil sangat menguntungkan karena dengan pengorvensian bio oil
maka akan didapatkan produk berupa bahan bakar minyak bio, misalnya:
biokerosene, biodiesel dan lain-lain (Hambali, 2007).
Produk yang dihasilkan dalam proses fast pyrolisis tergantung dari komposisi
biomassa yang digunakan sebagai bahan baku, kecepatan, serta lama pemanasan.
Gambar 2.1 dibawah ini merupakan struktur kimia Bio – oil.

Gambar 2.1 Struktur Kimia Bio – Oil ( Hambali, 2007)

Universitas Sumatera Utara


2.2 Spesifikasi Bio – Oil Untuk Bahan Bakar
Bio – oil terdiri dari karbon, hidrogen, dan oksigen dengan sedikit kandungan
nitrogen dan sulfur. Hanya saja kandungan sulfur dan nitrogen dalam Bio – oil dapat
ditiadakan ( tidak begitu berarti ). Komponen organik terbesar dalam Bio oil adalah
lignin, alkohol, asam organik, dan karbonil. Karakteristik Bio – oil tersebut
menjadikan bio – oil sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan. Selain itu, Bio–oil
memiliki nilai bakar yang lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar oksigen
lainnya ( seperti metanol ) dan nilainya hanya lebih rendah sedikit dibandingkan
dengan diesel dan light fuel oil lainnya ( Hambali dkk, 2007). Tabel 2.1 dibawah ini
merupakan spesifikasi bio-oil untuk bahan bakar.
Tabel 2.1 Spesifikasi bio – oil untuk bahan bakar
Properties Spesifikasi Keterangan
HHV > 70.000 BTU / gal Metode DINS 51900

Titrasi Karl Fisher berdasarkan


Kandungan Air < 25 %
ASTM D 1744
Kandungan padatan < 1% Dihitung berdasarkan kandungan
etanol yang insoluble dengan
Metode Filtrasi
Viskositas 10-150 Cst pada 50 ASTM D445
0
C
Spesifik 1,2 ( pada 15 0C ) ASTM D405
Grafity(densitas)
Karbon 51,5 % - 58,3 % 54,5 %
Hidrogen 0,1 % - 0,4 % 0,4 %
Nitrogen 0,07 % - 0,40 % 0,2 %
Sulfur 0,00 % - 0,07 % 0,0005 %
Debu 0,13 % - 0,21 % 0,16 %

Universitas Sumatera Utara


2.3 Perbandingan karakteristik Bio – oil dengan Diesel-oil
Pengembangan Bio – oil dapat menggantikan posisi bahan bakar hidrokarbon
dalam industri, seperti untuk mesin pembakaran, boiler, mesin diesel statis, dan gas
turbin. Bio – oil sangat efektif digunakan sebagai pensubstitusi diesel, heavy fuel oil,
light fuel oil, dan untuk berbagai macam boiler. Bio –oil bersifat larut sempurna
dalam alkohol, seperti dalam metanol dan etanol. Pencampuran Bio – oil dalam
alkohol dapat meningkatkan stabilitas dan menurunkan nilai viskositas bahan bakar.
Bio – oil bersifat tidak larut dalam diesel, tetapi dapat diemulsifikasi dengan diesel.
Emulsifikasi 10 – 30 % Bio - oil dalam diesel dapat memperbaiki stabilitas bahan
bakar, memperbaiki viskositas, mengurangi tingkat korosifitas, dan meningkatkan
nilai bilangan setana (Hambali, 2007). Tabel 2.2 merupakan perbandingan
karakteristik Bio-oil dengan Diesel-oil
Tabel 2.2 Perbandingan karakteristik Bio – oil dengan Diesel-oil
Parameter Bio – Oil Diesel-oil
Angka Setana 51 45-48
Flash point >110 0C >110 0C
Spesifik Grafity (200C) 0,97 0,87
Sulfur (%) < 0,06 0,35
Densitas 1,2 0,84
Viskosity (cp) 10-150 pada 50 0C 35-50 pada 40 0C

2.4 Potensi Batang Jagung Menjadi Bio – Oil


Jagung termasuk ke dalam famili rumput – rumputan. Tanaman jagung
tumbuh tegak dengan tinggi bervariasi. Pada varietas tertentu, tinggi tanaman saat
dewasa kurang dari 60 cm dan tipe yang lain dapat mencapai 6 m atau lebih. Batang
jagung ( corn strover ) merupakan limbah jagung, setelah masa produktif jagung
habis, limbah batang jagung yang dihasilkan cukup besar. Hampir setengah dari
tanaman jagung terdiri dari corn stover. Selama ini, pemanfaatan limbah jagung
hanya terbatas sebagai pakan ternak. Kandungan serat yang tinggi dalam batang
jagung menjadikannya berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku Bio – oil
( Hambali, 2007). Tabel 2.4 merupakan komposisi organik batang jagung.

Universitas Sumatera Utara


Tabel 2.3 Komposisi Organik Batang Jagung
Komponen Kandungan ( % bk )
Batang Jagung
Sellulosa 53
Hemisellulosa 15
Lignin 16
Impuritis 16
Sumber : (Hambali, 2007)
Bahan yang mengandung selulosa berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan
baku Bio – oil. Bahan – bahan tersebut diantaranya kayu, kulit kayu, bagas, batang
jagung dan biomassa lainnya. Tabel 2.5 memperlihatkan rendemen Bio – oil yang
dihasilkan dari beberapa jenis bahan baku
Tabel 2.4 Rendemen Bio – oil yang dihasilkan dari beberapa jenis bahan baku
Bahan baku Kayu Kulit kayu Bagas batang Kelobot Limbah
jagung kertas
Rendemen
Bio – oil 71 – 80 60 – 67 75 – 81 71 – 76 71 – 93
Arang 12 – 20 16 – 28 12 – 14 7 – 14 4 – 20
Gas 5 – 12 8 – 17 5 – 10 10 – 17 2 – 12
Sumber : (Hambali,2007).

2.5 Sifat – sifat bahan baku dan Produk


2.5.1 Bahan Baku yang digunakan
Batang Jagung (Corn Stover)
- Bentuk : Padat
- Penampilan : Berwarna Hijau (basah)
Berwarna kecoklatan (kering)
- HHV (High Heating Value) : 19 MJ / kg
- Kadar air : 76 % dari massa basah
23 % dari massa kering (Hambali, 2007)

Universitas Sumatera Utara


2.5.2 Produk Utama
Bio – oil (C3H8O)
- Bentuk : Cair
- Hight Heating Valve (HHV) : 18 MJ / Kg
- Flash Point : 48 – 55 0 C
- Pour Point : - 33 0C
- Dew Point : 28 – 32 0C
- Viskosity : 50 cp (pada 40 0 C)
- Kelembaban : 20 – 25 Wt %
- Kadar abu : 0 Wt %
- Densitas : 1,2 Kg / L
- Tegangan Permukaan : 35 – 39 mN / m
- Keasaman (pH) : 2,5
- Kandungan Padatan :<1%
- Kemurnian : 96 %
(Anonim,2010)
2.5.3 Produk Samping
1. Karbon Aktif (C)
- Bentuk : Padat
- Penampilan : Berwarna hitam (grafit)
- Massa Jenis : 2,267 g / cm3
- Titik Lebur : 4300 – 4700 K
- Titik Didih : 4000 K
- Kalor Peleburan : 100 kJ / mol
- Kalor Penguapan : 355,8 kJ / mol
- Kapasitas Kalor : 8,517 J / (mol K) pada 25 0C
- Elektronegatifitas : 2,55 (skala pauling)
- Konduktivitas termal : 119 – 165 W / m K (pada 300 K)
(http://id.wikipedia.org/wiki/karbon)

Universitas Sumatera Utara


2. Karbon Monoksida (CO)
- Bentuk : Gas
- Massa molar : 28,0101 g/mol
- Penampilan : Gas tidak berwarna
- Densitas : 1,250 g / L
- Titik Leleh : 205 0C (68 K)
- Titik Didih : - 192 0 C
- Kelarutan dalam air : 0,0026 g / L
- Momen dipol : 0,112 D (3,74 X 10 -31C m)
(http://id.wikipedia.org./wiki/CO)
3. Karbon dioksida (CO2)
- Bentuk : Gas
- Massa molar : 44,0095 g/ mol
- Penampilan : Gas tidak berwarna
- Densitas : 1,98 g/ L
- Titik Leleh : - 57 0C
- Titik Didih : - 78 0C (menyublim)
- Kelarutan dalam air : 1,4 g/ L
- Keasaman (pKa) : 6,35 dan 10,33
- Viskositas : 0,07 cP (- 78 0C)
- Momen dipol : nol
(http://id.wikipedia.org/wiki/CO2)
4. Metan (CH4)
- Bentuk : Gas
- Massa molar : 16.042 g/ mol
- Penampilan : Gas tidak berwarna
- Densitas : 0,717 kg/ m3
- Titik Leleh : - 182,5 0C
- Titik Didih : - 161,6 0C
- Kelarutan dalam air : 3,5 mg/ 100 ml (pada 17 0C)
- Titik nyala : - 188 0C
(http://id.wikipedia.org/wiki/CH4)

Universitas Sumatera Utara


5. Hidrogen (H2)
- Bentuk : Gas
- Struktur kristal : Heksagonal
- Densitas : 0,08988 g/L (pada 0 0C)
- Titik Leleh : - 259,14 0C
- Titik Didih : - 252,87 0C
- Titik Tripel : 13,8033 K
- Titik Kritis : 32,97 K
- Bahan beku : 0,117 kJ mol -1
- Bahan penguapan : 0,904 k J mol -1
- Kapasitas bahan : 28,836 J mol-1K-1 (pada 25 0C)
- Elektronegativitas : 2,20 (skala pauling)
- Energi ionisasi : 1312,0 Kj mol-1
- Kondukrivitas termal : 180,5 m W m-1K-1 (pada 300 K)
(http://id.wikipedia.org/wiki/hidrogen
6. H2O
- Berat molekul : 18,015
- Densitas : 0,917 gr/cm3
- Titik Lebur : 0 0C
- Titik Didih : 100 0C
- Viskositas : 8,949 Mp
- Spesifik gravitas : 32,97 K
- Kapasitas panas : 75,291 J mol-1K-1 )
- Elektronegativitas : 2,20 (skala pauling)
(http://id.wikipedia.org/wiki/H2O).
7. Nitrogen (N2)
- Bentuk : Gas
- Berat molekulbbb : 28,02 g/mol
- Titik Lebur : - 209,86 0C
- Titik Didih : - 195,8 0C
- Tekanan kritis : 13,8033 K
- Titik Kritis : 126 K (http://id.wikipedia.org/wiki/nitrogen).

Universitas Sumatera Utara


2.6 Proses Pembuatan Bio – Oil
Proses yang ada pada pembuatan Bio – Oil adalah Fast Pyrolisis yang
merupakan dekomposisi termal dari komponen organik tanpa kehadiran oksigen
dalam prosesnya untuk menghasilkan cairan, gas, dan arang. Cairan yang dihasilkan
ini lebih lanjut dikenal sebagai Bio – oil. Produk yang dihasilkan dalam proses Fast
Pyrolisis tergantung dari komposisi biomassa yang digunakan sebagai bahan baku,
kecepatan, serta lama pemanasan. Rendemen cairan tertinggi yang dapat dihasilkan
dari prose Fast Pyrolisis berkisar 78 % dengan lama pemanasan 2 detik, suhu 4800
C, dan proses kondensasi yang cepat pada akhir proses. Kondensasi yang cepat
sangat penting untuk memperoleh produk dengan berat molekul tinggi sebelum
akhirnya terkonversi menjadi senyawa gas yang memiliki berat molekul rendah.
Proses pyrolisis yang cepat (Fast Pyrolisis ) dilakukan di dalam reaktor pyrolisis,
awalnya lignoselulosa yang sudah diperoses secara fisis diumpankan ke reaktor dan
akan mengalami proses pemanasan sampai temperatur reaksi yaitu 4800 C. Kecuali
bahan pengotor, lignoselulosa terkonversi menjadi Bio – oil, karbon, hidrogen,
karbon monoksida, karbon dioksida dan metana. Proses pyrolisis lignoselulosa
berdasarkan sistem reaksinya dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu : Circulating
fluid bed, Fluidized bed dan vacum pyrolizer ( Hambali, 2007).

2.7.1 Tipe Circulating Fluid Bed


Circulating Fluid Bed, dimana serbuk lignoselulosa berukuran antara 3 – 30
mm diumpankan dari atas reaktor dan akan menumpuk karena gaya beratnya. Gas
CO2 dihembuskan dari bawah berlawanan dengan memasukan lignoselulosa akan
bereaksi membentuk gas. Hal ini menyebabkan lignoselulosa turun secara berlahan
selama proses hingga waktu tinggal ( residence time ) lignoselulosa adalah lama,
yaitu sekitar 1 jam serta menghasilkan produk sisa berupa abu
( Brown, 2003 dalam Hambali 2007 ).

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.2 Tipe Reaktor Circulating Fluid Bed
(Brown, 2003).

0
Reaktor model ini beroperasi pada 500 C untuk mendekomposisi
lignoselulosa, maka lignoselulosa yang akan dipirolisis harus memiliki ( char fusion
temperatur ) yang tinggi. Hal ini dimaksudkan agar arang tidak meleleh yang
akhirnya mengumpul di bagian bawah alat sehingga dapat menyumbat bagian
tersebut. Produk utama proses ini adalah Bio – oil, Arang (C) dan gas sintetis.
Reaktor Circulating Fluid Bed sesuai untuk produksi uap, karbon, dan gas sistesis
dengan tingkat konversi karbon pada tipe Circulating Fluid Bed maksimum
mencapai 12 % (Brown, 2003 dalam Hambali 2007).

2.7.2 Tipe Fluidized Bed (Unggun Terfluidisasi)


Tipe Fluidized Bed, dimana pemasukan batang jagung dari samping ( side
feeding ), gas N2 dari bagian bawah. Gaya dorong dari gas N2 akan setimbang
dengan gaya gravitasi sehingga serbuk batang jagung dalam keadaan mengambang
pada saat terjadi proses pyrolisis. Serbuk batang jagung yang digunakan lebih halus
dan berukuran kurang dari 1mm. Tekanan Operasi pada proses ini kurang lebih 5 atm
(Brown, 2003 dalam Hambali 2007).

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.3 Reaktor Pyrolisis Unggun Fluidisasi (Fluidized bed)
(Brown, 2003).

Biomassa yang akan diperoses pada reaktor pyrolisis, fluidized bed harus
memiliki ( softening temperatur ) diatas suhu operasional tersebut, hal ini bertujuan
agar arang yang dihasilkan selama proses tidak meleleh yang dapat mengakibatkan
terganggunya kondisi lapisan mengambang dan karena suhu operasi yang relatif
rendah maka reaktor ini banyak digunakan untuk memproses lignoselulosa yang
memiliki sifat lebih reaktif (Brown, 2003 dalam Hambali 2007).

2.7.3 Tipe Vacuum Pyrolizer


Pyrolisis vacum menggunakan bahan yang dapat diperbaharui untuk
dijadikan produk, yaitu bio – oil dan carbon black, bio – oil murni yang berharga
tinggi di pasaran. Dekomposisi dari biomassa kompleks pada temperatur 420 0C,
temperatur tersebut tidak berubah untuk membentuk produk minyak, karbon black
dan gas. Karbon black sebagai produk dari reaktor menuju tangki penampungan.
Tipe produk yang dihasilkan dari proses pirolisis vacuum ini adalah 55 % oil, 35 %
karbon black dan 10 % gas. Tekanan operasi pada proses ini antara 10 – 15 atm
(Brown, 2003 dalam Hambali 2007).

Universitas Sumatera Utara


Gambar 2.4 Vacuum Pyrolizer
(Sumber : Brown, 2003)
2.8 Pemilihan Proses
Berdasarkan keunggulan dan kelemahan jenis proses yang telah dijelaskan di
atas maka proses yang dipilih pada produksi bio- oil melalui fast pirolisis ini adalah
menggunakan reaktor unggun terfluidisasi (Fluidized Bed).
Proses unggun terfluidisasi (Fluidized Bed) memiliki kapasitas paling besar
per satuan volume dibandingkan kedua proses lainnya. Selain itu proses ini mampu
menangani segala jenis biomassa yang mengandung lignoselulosa dan menghasilkan
bio – oil. Gas yang didorong menyebabkan partikel – partikel terpyrolisis dengan
cepat (±2 detik) sehingga tidak sempat menggumpal. (Hambali,2007).

2.9 Deskripsi Proses


Pembuatan bio-oil dari batang jagung diawali dari penghalusan batang jagung
menjadi berukuran kurang dari 1 mm, tujuannya agar mempercepat reaksi di dalam
reaktor. Setelah ukuran batang jagung telah halus, maka akan di masukkan ke dalam
reaktor dengan menggunakan belt-conveyor. Di dalam reaktor terjadi proses fast
pyrolysis dengan kondisi operasi yaitu suhu 480 0C dan tekanan 4 atm. Reaksi yang
terjadi adalah
480
0
(C10H12O4)10 C 6,203C3H8 O (l)+ 66,976C(s)+ (6,404CO2 + 3,852CO +4,159CH4+
9,734H2) (g) + 17,136 H2O
(Simulation of Olive Pits Pyrolysis in a Rotary Kiln Plant thermal scienc, 2011).
Keluaran dari reaktor pyrolysis yaitu berupa gas yang dapat dikondensasi, gas yang
tidak dapat dikondensasi dan padatan arang selanjutnya akan diteruskan ke cooler
tujuannya untuk menurunkan suhu dari 480 0C menjadi 1950C dan tekanan dari 4 atm

Universitas Sumatera Utara


menjadi 1,8 atm dengan bantuan air pendingin pada suhu 30 0C dan tekanan 1 atm.
Kemudian keluaran dari cooler akan di teruskan ke cyclone. Di cyclone arang di
pisahkan dari gas yang dapat dikondensasi dan gas yang tidak dapat dikondensasi.
Pemisahan tersebut terjadi karena pengaruh gaya gravitasi. Arang tersebut
dikeluarkan dari bagian bawah cyclone dan di tampung di penampungan arang ( TK-
206) sedangkan gas yang dapat dikondensasi dan gas yang tidak dapat dikondensasi
akan keluar dari atas dan di teruskan ke kondensor. Di dalam kondensor suhu di
turunkan dari 195 0C menjadi 35 0C dan gas yang dapat dikondensasi akan
dikondensasikan menjadi bio-oil sedangkan gas yang tidak dapat dikondensasi akan
diteruskan ke combuster yang berguna sebagai bahan bakar. Hasil kondensasi akan
dipisahkan di dalam Knock Out Drum (KO-208). Bio-oil yang terbentuk akan keluar
dari bawah dan di pompakan ke tangki penampungan Bio-oil (TK-302).

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara