You are on page 1of 87

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis spinal terhitung kurang lebih 3 juta kematian terjadi
setiap tahun. Di waktu yang lampau, spondilitis tuberkulosa merupakan istilah yang
dipergunakan untuk penyakit pada masa anak-anak, terutama yang berusia 3-5 tahun. Saat ini
dengan adanya perbaikan pelayanan kesehatan, maka insidensi usia ini mengalami perubahan
sehingga golongan umur dewasa menjadi lebih sering terkena dibandingkan anak-anak.
Insidensi spondilitis tuberkulosa bervariasi diseluruh dunia dan biasanya berhubungan
dengan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang tersedia serta kondisi sosial di
negara tersebut. Saat ini spondilitis tuberkulosa merupakan sumber morniditas dan mortalitas
utama pada negara yang belum dan sedang berkembang, terutama di Asia, dimana malnutrisi
dan kepadatan penduduk masih menjadi masalah utama.

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan yang didapatkan antara lain:
a. Agar dapat mengetahui definisi dari spondilitis tuberkulosa
b. Agar dapat mengetahui penyebab dari spondilitis tuberkulosa
c. Agar dapat mengetahui patofisiologi terjadinya spondilitis tuberkulosa
d. Agar dapat mengetahui gejala dan tanda spondilitis tuberkulosa
e. Agar dapat mengetahui pemeriksaan fisik dan diagnostik untuk spondilitis tuberkulosa
f. Agar dapat mengetahui penatalaksanaan spondilitis tuberkulosa

1.3 Manfaat Penulisan


Adapun tujuan yang didapatkan antara lain:
a. Mengetahui definisi dari spondilitis tuberkulosa
b. Mengetahui penyebab dari spondilitis tuberkulosa
c. Mengetahui patofisiologi terjadinya spondilitis tuberkulosa
d. Mengetahui gejala dan tanda spondilitis tuberkulosa
e. Mengetahui pemeriksaan fisik dan diagnostik untuk spondilitis tuberkulosa
f. Mengetahui penatalaksanaan spondilitis tuberkulosa

Terakhir diubah oleh ADMIN tanggal 29th March 2014, 8:54 pm, total 1 kali diubah

ADMIN Subyek: Re: Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Spondilitis


COMMANDER Tuberkulosa 29th March 2014, 8:52 pm
BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitis
tuberkulosa merupakan peradangan granulomatosa yang bersifat kronik
Jumlah posting : destruktif oleh Mycobacterium tuberculosa.
1675 Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi
Join date : granulomatosis di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycobacterium
20.10.10 tuberculosa yang mengenai tulang vertebra. Tuberkulosis tulang belakang
Age : 22 selalu merupakan infeksi sekunder dari fokus di tempat lain dalam tubuh.
Lokasi : Lamongan Percivall Pott (1973) yang pertama kali menulis tentang penyakit ini dan
menyatakan bahwa terdapat hubungan antara penyakit ini dengan
deformitas tulang belakang yang terjadi, sehingga penyakit ini disebut
juga sebagai penyakit Pott (Rasjad, 2007).
2.2 Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh karena bakteri berbentuk basil. Bakteri yang
paling sering menjadi penyebabnya adalah Mycobacterium tuberculosis.
(Brooks, 2008)
Spondilitis tuberkulosa merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di
tempat lain di tubuh, 90-95% disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosa typic (2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin) dan 5-10%
oleh Mycobacterium tuberculosa atypic. Lokalisasi spondilitis
tuberkulosa terutama pada daerah vertebra torakal bawah dan lumbal atas,
sehingga diduga adanya infeksi sekunder dari suatu tuberkulosis traktus
urinarius, yang penyebarannya melalui pleksus Batson pada vena
paravertebralis (Rasjad, 2007).
2.3 Patofisiologi
Patogenesis penyakit ini sangat tergantung dari kemampuan bakteri
menahan cernaan enzim lisosomal dan kemampuan host untuk
memobilisasi imunitas seluler. Jika bakteri tidak dapat diinaktivasi, maka
bakteri akan bermultiplikasi dalam sel dan membunuh sel itu. Komponen
lipid, protein serta polisakarida sel basil tuberkulosa bersifat
immunogenik, sehingga akan merangsang pembentukan granuloma dan
mengaktivasi makrofag. Beberapa antigen yang dihasilkannya dapat juga
bersifat immunosupresif (Mansjoer, 2000)
Infeksi mycobacterium tuuberculosis pada tulang selalu merupakan
infeksi sekunder. Berkembnagnya kuman dalam tubuh tergantung pada
keganasan kuman dan ketahanan tubuh klien. Lima stadium perjalanan
penyakit spondilitis tuberkulosa, antara lain: (Rasjad, 2007)
1. Stadium I (implantasi)
Setelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan tubuh klien
menurun, bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung
selama 6-8 minggu. Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah
torakolumbal.
2. Stadium destruksi awal
Setelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra
serta penyempitan yang ringan pada diskus. Proses ini berlangsung
selama 3-6 minggu.
3. Stadium destruksi lanjut
Pada stadium ini terjadi destruksi yang masif, kolaps vertebra dan
terbentuk massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses
dingin), yang terjadi 23 bulan setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya
dapat terbentuk sekuestrum serta kerusakan diskus intervertebralis. Pada
saat ini terbentuk tulang baji terutama di sebelah depan (wedging
anterior) akibat kerusakan korpus vertebra, yang menyebabkan terjadinya
kifosis atau gibus.
4. Stadium gangguan neurologis
Tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi, tetapi terutama
ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. Gangguan ini
ditemukan 10% dari seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosa. Vertebra
torakalis mempunyai kanalis spinalis yang lebih kecil sehingga gangguan
neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini.
5. Stadium deformitas residual
Stadium ini terjadi kurang lebih 35 tahun setelah timbulnya stadium
implantasi. Kifosis atau gibus bersifat permanen oleh karena kerusakan
vertebra yang masif di sebelah depan.

ADMIN Subyek: Re: Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Spondilitis


COMMANDER Tuberkulosa 29th March 2014, 8:55 pm
2.4 Manifestasi Klinis
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan
gejala tuberkulosis pada umumnya, yaitu: (Mansjoer, 2000)
- Badan lemah/ lesu
- Penurunan berat badan
Jumlah posting : - Nafsu makan berkurang
1675 - Demam subfebris
Join date : - Nyeri vertebra/lokal pada lokasi infeksi sering dijumpai dan menghilang
20.10.10 bila istirahat.
Age : 22 - Deformitas tulang belakang
Lokasi : Lamongan - Adanya spasme otot paravertebralis
- Nyeri ketok tulang vertebra
- Gangguan motorik
- Adanya gibus/kifosis
2.5 Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi
Pada klien spondilitis kelihatan lemah, pucat, dan tulang belakang terlihat
bentuk kifosis (membungkuk)
- Palpasi
Ditemukan adanya gibus pada area tulang yang mengalami infeksi
- Perkusi
Terdapat nyeri ketok pada tulang belakang yang mengalami infeksi
- Auskultasi
Tidak ditemukan adanya kelainan paru

2.6 Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik Penunjang


Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penyakit
spondilitis tuberkulosa antara lain: (Rasjad, 2007)
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Peningkatan laju endap darah dan mungkin disertai leukositosis
b. Uji Mantoux : positif tb
c. Pada pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan Mycobacterium
d. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional
e. Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel
2. Pemeriksaan radiologis
a. Pemeriksaan foto toraks untuk melihat adanya tuberkulosis paru
b. Foto polos vertebra, ditemukan osteoporosis, osteolitik, dan destruksi
korpus vertebra, disertai penyempitan diskus intervertebralis yang berada
diantara korpus tersebut dan mungkin dapat ditemukan adanya massa
abses paravertebral
c. Pada stadium lanjut terjadi destruksi vertebra yang hebat sehingga
timbul kifosis
d. Pemeriksaan mielografi dilakukan bila terdapat gejala-gejala
penekanan sumsum tulang
e. Pemeriksaan CT scan
f. Pemeriksaan MRI
2.7 Penatalaksanaan
Pada prinsipnya pengobatan spondilitis tuberkulosis harus dilakukan
sesegera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta
mencegah paraplegia. Pengobatan terdiri atas: (Rasjad, 2007)
1. Terapi konservatif, berupa:
a. Tirah baring (bed rest)
b. Memperbaiki keadaan umum klien
c. Pemasangan brace pada klien, baik yang dioperasi ataupun yang tidak
dioperasi
d. Pemberian obat antituberkulosa
Obat-obatan yang diberikan terdiri atas:
a. Isonikotinik hidrasit (INH) dengan dosis oral 5 mg/kg berat badan per
hari dengan dosis maksimal 300 mg. Dosis oral pada anak-anak 10 mg/kg
berat badan.
b. Asam para amino salisilat. Dosis oral 8-12 mg/kg berat badan
c. Etambutol. Dosis per oral 15-25 mg/kg berat badan per hari
d. Rifampisin. Dosis oral 10 mg/kg berat badan diberikan pada anak-
anak. Pada orang dewasa 300-400 mg per hari.
e. Streptomisin, pada saat ini tidak digunakan lagi.
2. Terapi operatif
Indikasi operasi yaitu:
a. Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau
malah semakin berat. Biasanya tiga minggu sebelum tindakan operasi
dilakukan, setiap spondilitis tuberkulosa diberikan obat tuberkulostatik.
b. Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara
terbuka dan sekaligus debrideman serta bone graft.
c. Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi
ataupun pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan
langsung pada medulla spinalis.
Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi
klien tuberkulosis tulang belakang, namun tindakan operatif masih
memegang peranan penting dalam beberapa hal, yaitu bila terdapat cold
abses (abses dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia, dan kifosis.
2.8 Diagnosa, Intervensi, Dan Rasional
Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien Spondilitis tuberkulosa
adalah:
- Gangguan mobilitas fisik
- Gangguan rasa nyaman ; nyeri sendi dan otot.
- Perubahan konsep diri : Body image.
- Kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah.
1. Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan
muskuloskeletal dan nyeri.
a. Tujuan : Klien dapat melakukan mobilisasi secara optimal.
b. Kriteria hasil
- Klien dapat ikut serta dalam program latihan
- Mencari bantuan sesuai kebutuhan
- Mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai tingkat optimal.
c. Rencana tindakan
- Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan.
- Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.
- Memelihara bentuk spinal yaitu dengan cara :
a) mattress
b) Bed Board ( tempat tidur dengan alas kayu, atau kasur busa yang keras
yang tidak menimbulkan lekukan saat klien tidur.
- mempertahankan postur tubuh yang baik dan latihan pernapasan
d. Rasional
- Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
- Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.
- Mempertahankan posisi tulang belakang tetap rata.
- Di lakukan untuk menegakkan postur dan menguatkan otot – otot
paraspinal.
- Untuk mendeteksi perubahan pada klien.

2. Gangguan rasa nyaman : nyeri sendi dan otot sehubungan dengan


adanya peradangan sendi.
a. Tujuan
- Rasa nyaman terpenuhi
- Nyeri berkurang / hilang
a. Kriteria hasil
- klien melaporkan penurunan nyeri
- menunjukkan perilaku yang lebih relaks
- memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang dipelajari dengan
peningkatan keberhasilan.
b. Rencana tindakan
- Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri; observasi terhadap kemajuan nyeri
ke daerah yang baru.
- Berikan analgesik sesuai terapi dokter dan kaji efektivitasnya terhadap
nyeri.
- Gunakan brace punggung atau korset bila di rencanakan demikian.
- Berikan dorongan untuk mengubah posisi ringan dan sering untuk
meningkatkan rasa nyaman.
- Ajarkan dan bantu dalam teknik alternatif penatalaksanaan nyeri.
c. Rasional.
- Nyeri adalah pengalaman subjek yang hanya dapat di gambarkan oleh
klien sendiri.
- Analgesik adalah obat untuk mengurangi rasa nyeri dan bagaimana
reaksinya terhadap nyeri klien.
- Korset untuk mempertahankan posisi punggung.
- Dengan ganti – ganti posisi agar otot – otot tidak terus spasme dan
tegang sehingga otot menjadi lemas dan nyeri berkurang.
- Metode alternatif seperti relaksasi kadang lebih cepat menghilangkan
nyeri atau dengan mengalihkan perhatian klien sehingga nyeri berkurang.

3. Gangguan citra tubuh sehubungan dengan gangguan struktur tubuh.


a. Tujuan
Klien dapat mengekspresikan perasaannya dan dapat menggunakan
koping yang adaptif.
b. Kriteria hasil
Klien dapat mengungkapkan perasaan / perhatian dan menggunakan
keterampilan koping yang positif dalam mengatasi perubahan citra.
c. Rencana tindakan
- Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan.
Perawat harus mendengarkan dengan penuh perhatian.
- Bersama – sama klien mencari alternatif koping yang positif.
- Kembangkan komunikasi dan bina hubungan antara klien keluarga dan
teman serta berikan aktivitas rekreasi dan permainan guna mengatasi
perubahan body image.
d. Rasional
- meningkatkan harga diri klien dan membina hubungan saling percaya
dan dengan ungkapan perasaan dapat membantu penerimaan diri.
- Dukungan perawat pada klien dapat meningkatkan rasa percaya diri
klien.
- Memberikan semangat bagi klien agar dapat memandang dirinya secara
positif dan tidak merasa rendah diri.

4. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang


penatalaksanaan perawatan di rumah.
a. Tujuan : Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan di rumah.
b. Kriteria hasil
- Klien dapat memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau
korset
- Mengekspresikan pengertian tentang jadwal pengobatan
- Klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana
pengobatan, dan gejala kemajuan penyakit.
c. Rencana tindakan
- Diskusikan tentang pengobatan : nama, jadwal, tujuan, dosis dan efek
sampingnya.
- Peragakan pemasangan dan perawatan brace atau korset.
- Perbanyak diet nutrisi dan masukan cairan yang adekuat.
- Tekankan pentingnya lingkungan yang aman untuk mencegah fraktur.
- Diskusikan tanda dan gejala kemajuan penyakit, peningkatan nyeri dan
mobilitas.
- Tingkatkan kunjungan tindak lanjut dengan dokter.

ADMIN Subyek: Re: Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Spondilitis


COMMANDER Tuberkulosa 29th March 2014, 8:55 pm
2.4 Manifestasi Klinis
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan
gejala tuberkulosis pada umumnya, yaitu: (Mansjoer, 2000)
- Badan lemah/ lesu
- Penurunan berat badan
Jumlah posting : - Nafsu makan berkurang
1675 - Demam subfebris
Join date : - Nyeri vertebra/lokal pada lokasi infeksi sering dijumpai dan menghilang
20.10.10 bila istirahat.
Age : 22 - Deformitas tulang belakang
Lokasi : Lamongan - Adanya spasme otot paravertebralis
- Nyeri ketok tulang vertebra
- Gangguan motorik
- Adanya gibus/kifosis
2.5 Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi
Pada klien spondilitis kelihatan lemah, pucat, dan tulang belakang terlihat
bentuk kifosis (membungkuk)
- Palpasi
Ditemukan adanya gibus pada area tulang yang mengalami infeksi
- Perkusi
Terdapat nyeri ketok pada tulang belakang yang mengalami infeksi
- Auskultasi
Tidak ditemukan adanya kelainan paru

2.6 Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik Penunjang


Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penyakit
spondilitis tuberkulosa antara lain: (Rasjad, 2007)
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Peningkatan laju endap darah dan mungkin disertai leukositosis
b. Uji Mantoux : positif tb
c. Pada pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan Mycobacterium
d. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional
e. Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel
2. Pemeriksaan radiologis
a. Pemeriksaan foto toraks untuk melihat adanya tuberkulosis paru
b. Foto polos vertebra, ditemukan osteoporosis, osteolitik, dan destruksi
korpus vertebra, disertai penyempitan diskus intervertebralis yang berada
diantara korpus tersebut dan mungkin dapat ditemukan adanya massa
abses paravertebral
c. Pada stadium lanjut terjadi destruksi vertebra yang hebat sehingga
timbul kifosis
d. Pemeriksaan mielografi dilakukan bila terdapat gejala-gejala
penekanan sumsum tulang
e. Pemeriksaan CT scan
f. Pemeriksaan MRI
2.7 Penatalaksanaan
Pada prinsipnya pengobatan spondilitis tuberkulosis harus dilakukan
sesegera mungkin untuk menghentikan progresivitas penyakit serta
mencegah paraplegia. Pengobatan terdiri atas: (Rasjad, 2007)
1. Terapi konservatif, berupa:
a. Tirah baring (bed rest)
b. Memperbaiki keadaan umum klien
c. Pemasangan brace pada klien, baik yang dioperasi ataupun yang tidak
dioperasi
d. Pemberian obat antituberkulosa
Obat-obatan yang diberikan terdiri atas:
a. Isonikotinik hidrasit (INH) dengan dosis oral 5 mg/kg berat badan per
hari dengan dosis maksimal 300 mg. Dosis oral pada anak-anak 10 mg/kg
berat badan.
b. Asam para amino salisilat. Dosis oral 8-12 mg/kg berat badan
c. Etambutol. Dosis per oral 15-25 mg/kg berat badan per hari
d. Rifampisin. Dosis oral 10 mg/kg berat badan diberikan pada anak-
anak. Pada orang dewasa 300-400 mg per hari.
e. Streptomisin, pada saat ini tidak digunakan lagi.
2. Terapi operatif
Indikasi operasi yaitu:
a. Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau
malah semakin berat. Biasanya tiga minggu sebelum tindakan operasi
dilakukan, setiap spondilitis tuberkulosa diberikan obat tuberkulostatik.
b. Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara
terbuka dan sekaligus debrideman serta bone graft.
c. Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi
ataupun pemeriksaan CT dan MRI ditemukan adanya penekanan
langsung pada medulla spinalis.
Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi
klien tuberkulosis tulang belakang, namun tindakan operatif masih
memegang peranan penting dalam beberapa hal, yaitu bila terdapat cold
abses (abses dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia, dan kifosis.
2.8 Diagnosa, Intervensi, Dan Rasional
Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien Spondilitis tuberkulosa
adalah:
- Gangguan mobilitas fisik
- Gangguan rasa nyaman ; nyeri sendi dan otot.
- Perubahan konsep diri : Body image.
- Kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah.
1. Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan
muskuloskeletal dan nyeri.
a. Tujuan : Klien dapat melakukan mobilisasi secara optimal.
b. Kriteria hasil
- Klien dapat ikut serta dalam program latihan
- Mencari bantuan sesuai kebutuhan
- Mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai tingkat optimal.
c. Rencana tindakan
- Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan.
- Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.
- Memelihara bentuk spinal yaitu dengan cara :
a) mattress
b) Bed Board ( tempat tidur dengan alas kayu, atau kasur busa yang keras
yang tidak menimbulkan lekukan saat klien tidur.
- mempertahankan postur tubuh yang baik dan latihan pernapasan
d. Rasional
- Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
- Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.
- Mempertahankan posisi tulang belakang tetap rata.
- Di lakukan untuk menegakkan postur dan menguatkan otot – otot
paraspinal.
- Untuk mendeteksi perubahan pada klien.
2. Gangguan rasa nyaman : nyeri sendi dan otot sehubungan dengan
adanya peradangan sendi.
a. Tujuan
- Rasa nyaman terpenuhi
- Nyeri berkurang / hilang
a. Kriteria hasil
- klien melaporkan penurunan nyeri
- menunjukkan perilaku yang lebih relaks
- memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang dipelajari dengan
peningkatan keberhasilan.
b. Rencana tindakan
- Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri; observasi terhadap kemajuan nyeri
ke daerah yang baru.
- Berikan analgesik sesuai terapi dokter dan kaji efektivitasnya terhadap
nyeri.
- Gunakan brace punggung atau korset bila di rencanakan demikian.
- Berikan dorongan untuk mengubah posisi ringan dan sering untuk
meningkatkan rasa nyaman.
- Ajarkan dan bantu dalam teknik alternatif penatalaksanaan nyeri.
c. Rasional.
- Nyeri adalah pengalaman subjek yang hanya dapat di gambarkan oleh
klien sendiri.
- Analgesik adalah obat untuk mengurangi rasa nyeri dan bagaimana
reaksinya terhadap nyeri klien.
- Korset untuk mempertahankan posisi punggung.
- Dengan ganti – ganti posisi agar otot – otot tidak terus spasme dan
tegang sehingga otot menjadi lemas dan nyeri berkurang.
- Metode alternatif seperti relaksasi kadang lebih cepat menghilangkan
nyeri atau dengan mengalihkan perhatian klien sehingga nyeri berkurang.

3. Gangguan citra tubuh sehubungan dengan gangguan struktur tubuh.


a. Tujuan
Klien dapat mengekspresikan perasaannya dan dapat menggunakan
koping yang adaptif.
b. Kriteria hasil
Klien dapat mengungkapkan perasaan / perhatian dan menggunakan
keterampilan koping yang positif dalam mengatasi perubahan citra.
c. Rencana tindakan
- Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan.
Perawat harus mendengarkan dengan penuh perhatian.
- Bersama – sama klien mencari alternatif koping yang positif.
- Kembangkan komunikasi dan bina hubungan antara klien keluarga dan
teman serta berikan aktivitas rekreasi dan permainan guna mengatasi
perubahan body image.
d. Rasional
- meningkatkan harga diri klien dan membina hubungan saling percaya
dan dengan ungkapan perasaan dapat membantu penerimaan diri.
- Dukungan perawat pada klien dapat meningkatkan rasa percaya diri
klien.
- Memberikan semangat bagi klien agar dapat memandang dirinya secara
positif dan tidak merasa rendah diri.

4. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang


penatalaksanaan perawatan di rumah.
a. Tujuan : Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan di rumah.
b. Kriteria hasil
- Klien dapat memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau
korset
- Mengekspresikan pengertian tentang jadwal pengobatan
- Klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana
pengobatan, dan gejala kemajuan penyakit.
c. Rencana tindakan
- Diskusikan tentang pengobatan : nama, jadwal, tujuan, dosis dan efek
sampingnya.
- Peragakan pemasangan dan perawatan brace atau korset.
- Perbanyak diet nutrisi dan masukan cairan yang adekuat.
- Tekankan pentingnya lingkungan yang aman untuk mencegah fraktur.
- Diskusikan tanda dan gejala kemajuan penyakit, peningkatan nyeri dan
mobilitas.
- Tingkatkan kunjungan tindak lanjut dengan dokter.

ADMIN Subyek: Re: Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Spondilitis


COMMANDER Tuberkulosa 29th March 2014, 8:56 pm
3.2.5 Pemeriksaan Fisik
· Tanda-tanda Vital
TD : 100/70 Suhu : 36,6ºC
Nadi : 80/i Pernapasan : 20/i
· Tinggi Badan : -
Jumlah posting : · Berat Badan :
1675
Join date : 1. Kepala
20.10.10 · Rambut : panjang/pendek/tanpa rambut/ kotor/ mudah rontok/ gatal-
Age : 22 gatal
Lokasi : Lamongan Lain-lain : t.a.k
Masalah keperawatan : t.a.k

· Mata : ikterik/ midriasi/ pakai kacamata/ contact lens/ gangguan


penglihatan
Lain-lain : t.a.k
Masalah keperawatan: t.a.k

· Hidung : perdarahan/ sinusitas/ gangguan penciuman/ malformasi/


terpasang NGT
Lain-lain : t.a.k
Masalah keperawatan : t.a.k

· Mulut : kotor/ bau/ terpasang ETT/ gudel/ perdarahan/ lidah kotor/


gangguan pengecapan
Lain-lain : t.a.k
Masalah keperawatan : t.a.k

· Gigi : gigi palsu/ kotor/ kawat gigi/ karies/ tidak ada gigi
Lain-lain : pasien tidak memiliki gigi (tidak sempurna)
Masalah keperawatan : ganguan pertumbuhan dan perkembangan
Gangguan pemenuhan nutrisi

· Telinga : perdarahan/ terpasang alat bantu dengar/ infeksi/ gangguan


pendengaran
Lain-lain : t.a.k
Masalah keperawatan : t.a.k

2. Leher : pembesaran KGB/ kaku kuduk/ terpasang trakeostomi/ JVP


Lain-lain : t.a.k
Masalah keperawatan : t.a.k

3. Dada
Inspeksi : simetris
Palpasi : nyeri (-)
Perkusi : dullness
Auskultasi : bunyi jantung normal
Masalah keperawatan: t.a.k

4. Tangan : luka/ utuh/ lecet/ sianosis/ capillary feril/ clubbing finger/


dingin/ fraktur/ edema
Lain-lain : t.a.k
Masalah keperawatan : t.a.k

5. Abdomen
Inspeksi : simetris
Palpasi : nyeri (-)
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus(+)

6. Genitalia : perdarahan/ terpasang kateter/ trauma/ malformasi/


menstruasi/ infeksi/dll
Lain-lain : t.a.k
Masalah keperawatan : t.a.k

7. Kaki : fraktur/ edema/malformasi/ luka/infeksi/ keganasan/ sianosis/


dingin
Lain-lain : kaki klien lemah kesulitan berjalan
Masalah keperawatan : gangguan mobilitas fisik

8. Punggung : lordosis/kiposis/ skoliosis/ luka/ dekubitus/ infeksi


Lain-lain : luka, nyeri(+), sedikit membungkuk
Masalah keperawatan : gangguan rasa nyaman:nyeri
3.2.7 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Dan Diagnostik
Tanggal 14 Januari 2013 Nilai Normal
Hb : 12,3 g/dL Hb : 11-16 g/dL (anak-anak)
Ht : 35,2 % Ht : 29-40%
Leu : 11.900/µl Leu: 10.000 sel/
Trombosit : 275.000/µl Trombosit : 150.000-450.000sel/

3.2.7 Medikasi/Obat-Obatan Yang Diberikan Saat Ini


- Ceftriaxone 2x1
- Ranitidine 2x1
- Genta 2x1

ADMIN Subyek: Re: Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Spondilitis


COMMANDER Tuberkulosa 29th March 2014, 8:57 pm
3.3 Diagnosa Keperawatan, Intervensi, Dan Rasional
N Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
o keperawata
n

Jumlah posting : 1 Gangguan Setelah Kaji tingkat Mengetahui


1675 rasa dilakukan nyeri, karakteristik nyeri
Join date : nyaman : asuhan frekuensi,
20.10.10 nyeri bd keperawata durasi, dan
Age : 22 luka post n 3x6 jam karekteristik
Lokasi : Lamongan operasi klien nyeri
mampu Berikan posisi Posisi yg nyaman ↑
mengontrol yang nyaman relaksasi otot
nyeri dan Ajarkan klien Mengontrol dan
menunjukk teknik mengurangi nyeri
an tingakat relaksasi napas
nyeri dalam
Monitor Mengetahui tingkat
kenyamanan kenyamanan,
klien dan mengurangi resiko
perubahan dekubitus
posisi
2 Gangguan Setelah Kaji tingkat Mengetahui tingkat
mobilitas dilakukan mobilitas klien kemampuan klien
fisik bd tindakan dalam melakukan
nyeri, keperawata aktivitas
kelemahan n 4x6 jam Berikan alih Menghindari posisi
pada klien dapat baring sesuai yang menyebabkan
ekstremitas melakukan kondisi klien ketidaknyamanan
bawah mobilissi dan spasme otot
secara Bantu klien Kebutuhan klien
optimal dalam dapat terpenuhi
memenuhi
kebutuhan
Bantu klien Memelihara
mengoptimalk fleksibilitas sendi
an gerak sendi sesuai kemampuan
Jaga keamanan Memberikan rasa
klien aman bagi klien
3 Resiko Setelah Inspeksi kulit Melihat tanda-tanda
tinggi dilakukan adanya infeksi, kemerahan,
penyebaran tindakan iritasi/kontuinit bengkak
infeksi bd keperawaya as
pembentuk n 3x6 jam Kaji sisi kulit Mengetahui
an abses resiko adanya penyebaran infeksi
tulang penyebaran peningkatan
infeksi nyeri, edema,
berkurang, bau
suhu badan Berikan Menjaga luka tidak
normal perawatan luka infeksi
Observasi luka Tidak terjadi tanda-
tanda infeksi
Berikan obat Menghindari/mengu
antibiotik rari penyebaran
sesuai indikasi infeksi

3.4 Implementasi dan Evaluasi


Dx Tanggal Implementasi Evaluasi
1 14 Januari Mengkaji tingkat nyeri S : klien mengatakan
2013 klien nyeri pada tulang
punggung sedikit
berkurang
Memberikan posisi tang O:
nyaman Klien terlihat meringis
saat berganti posisi
Skala nyeri 3
Mengajarkan klien A: masalah teratasi
teknik relaksasi napas sebagian
dalam P : lanjutkan intervensi
2 14 januari Mengkaji tingakat S : klien mengatakan
2013 mobilitas klien belum bisa duduk dan
berjalan semenjak post
op
Memberikan alih baring O:
sesuai kondisi klien Klien bisa
menggearakkan tangan,
kaki klien masih lemah
Segala kebutuhan klien
dibantu oleh keluarga

Menganjurkan klien A: masalah belum


membantu memenuhi teratasi
kebutuhan klien
Menganjurkan keluarga P : lanjutkan intervensi
menjaga keamanan
klien
3 14 januari Melihat adanya infeksi S: klien mengatakan
2013 pada luka lukanyanyeri, tidak
panas
Mengkaji adanya nyeri, O:warna permukaan kulit
edema, pus/abses, bau klien merah muda, tidak
terdapat
pembengkakan/pus, dan
tidak bau
TD:110/70 N: 80
RR:20x/i T:36,7C
Melihat adanya A: masakah teratasi
pembengkakan, warna sebagian
kulit
Mengukur TTV klien P: lanjutkan intervensi
selanjutnya

ADMIN Subyek: Re: Asuhan Keperawatan dan Laporan Pendahuluan Spondilitis


COMMANDER Tuberkulosa 29th March 2014, 8:58 pm
BAB 4
PEMBAHASAN

Dari gambaran kasus diatas kita dapat mengetahui bahwa kuman


mycobacterium tuberculosa tidak hanya menyerang paru-paru tetapi juga
Jumlah posting : bisa menyerang bagian tubuh lainnya. Salah satunya adalah tulang
1675 belakang. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :
Join date : - Mempunyai riwayat penyakit TB paru
20.10.10 Dalam kasus ini klien tidak memilik riwayat TB paru, klien juga tidak
Age : 22 mempunyai keluarga yang mempunyai penyakit yang sama. Tetapi klien
Lokasi : Lamongan mempunyai riwayat merokok 1 tahun yang lalu.
- Menurunnya sistem imun tubuh sehingga kuman bangkit, beredar
didalam darah dan menyerang bagian tubuh yang lemah.
Pada kasus ini klien pernah terjatuh dalam posisi terduduk beberapa kali
namun tidak langsung diobati, sehingga terjadi infeksi pada pada tulang
punggung klien. Pada pemeriksaan radiologi, ditemukan penyempitan
diskus intervertebralis yang berada di antara korpus dan mungkin
ditemukan adanya massa abses paravertebral.sehingga dilakukan operasi
debridemen spinal.
Berdasarkan teori klien seharusnya dilakukan pemasangan brace/korset
untuk membantu meluruskan tulang punggung. Namun pada kasus ini
klien belum menggunakan brace/korset.
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Spondilitis tulang adalah peradangan granulomatosa yang bersifat kronik
destruktif yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa. Penyakit ini
merupakan infeksi sekunder dari fokus di tempat lain. Gejalanya mirip
tuberkulosis paru, ditambah dengan adanya gibbus/kifosis, nyeri pada
punggung, dan gangguan pergerakan tulang belakang. Pemeriksaan kadar
LED diperlukan untuk melihat adanya infeksi. Sedangkan pada
pemeriksaan radiologis ditemukan penyempitan diskus intervertebralis.
Pengobatannya dapat diberikan terapi konservatif dan operatif.
5.2 Saran
Adapun saran-saran yang dapat diberikan berdasarkan gambaran kasus
adalah:
- Hindari kotak langsung orang dengan klien penyakit menular
- Kurangi/ berhenti merokok
- Periksakan diri secepatnya apabila terdapat keluhan yang sama
- Berikan obat pada klien secara teratur dan sesuai dosis
- Habiskan minum obat antibiotik

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah .


Jakarta : EGC
Davey, Pattrick. 2005. At a Glace Medicine. Jakarta : Erlangga
Nanda Internasional. 2011. Diagnosis Keperwatan Definisi & Klasifikasi
2012. Jakarta : EGC
Ningsih, Nurna. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika
Price & Wilson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta : EGC
Rasyad, Chairuddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar :
Bintang Lamumpatue
Wim de Jong, Spondilitis TBC, Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta;
hal. 1226-1229
http://jovian.yours.tv/t1288-asuhan-keperawatan-dan-laporan-pendahuluan-spondilitis-tuberkulosa

Sabtu, 03 Oktober 2015


makalah spondilitis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitis tuberkulosa
merupakan peradangan granulomatosa yang bersifat kronik destruktif yang disebabkan oleh
mikrobakterium tuberkulosa. Spondilitis tuberkulosa dikenal juga sebagai penyakit Pott atau
paraplegi Poot. Penyakit ini merupakan penyebab paraplegia terbanyak setelah trauma, dan
banyak dijumpai di Negara berkembang.
Tuberkulosis tulang dan sendi 50% merupakan spondilitis tuberkulosa. Pada negara
yang sedang berkembang, sekitar 60% kasus terjadi pada usia dibawah usia 20 tahun.
Sedangkan pada negara maju, lebih sering mengenai pada usia yang lebih tua. Meskipun
perbandingan antara pria dan wanita hampir sama, namun biasanya pria lebih sering terkena
dibanding wanita yaitu 1,5:2,1. Di Indonesia tercatat 70% spondilitis tuberkulosis dari
seluruh tuberkulosis tulang yang terbanyak di daerah Ujung Pandang. Umumnya penyakit ini
menyerang orang-orang yang berada dalam keadaan sosial ekonomi rendah.
Seseorang yang menderita spondilitis akan mengalami kelemahan bahkan
kelumpuhan atau paling kurang mengalami kelemahan tulang, dimana dampak tersebut akan
mempengaruhi aktifitas klien, baik sebagai individu maupun masyarakat.. Perawat berperan
penting dalam mengidentifikasikan masalah-masalah dan mampu mengambil keputusan
secara kritis menangani masalah tersebut serta mampu berkolaborasi dengan tim kesehatan
yang lain untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang optimal.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana anatomi dan fisiologi musculoskeletal dan tulang belakang?
2. Apa definisi penyakit spondilitis TB?
3. Apa etiologi penyakit spondilitis TB?
4. Bagaimana prognosis spondilitis TB?
5. Bagaimana patofisiologi spondilitis TB?
6. Apa saja klasifikasi penyakit spondilitis TB?
7. Apa saja manifestasi klinis penyakit spondilitis TB?
8. Apa saja komplikasi spondilitis TB?
9. Bagaimana penatalaksanaan penyakit spondilitis TB?
10. Bagaimana asuhan keperawatan klien dengan spondilitis TB

1.3 Tujuan
1. mengetahui anatomi dan fisiologi musculoskeletal dan tulang belakang.
2. mengetahui dan memahami definisi spondilitis TB.
3. mengetahui dan memahami etiologi spondilitis TB.
4. mengetahui dan memahami prognosis spondilitis TB.
5. mengetahui dan memahami patofisiologi spondilitis TB.
6. mengetahui dan memahami klasifikasi spondilitis TB.
7. mengetahui dan memahami manifestasi klinis spondilitis TB.
8. mengetahui dan memahami komplikasi spondilitis TB.
9. mengetahui dan memahami penatalaksanaan spondilitis TB.
10. mengetahui dan memahami asuhan keperawatan klien dengan spondilitis TB.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI


Sistem muskuloskeletal adalah penunjang bentuk tubuh dan berperan dalam pergerakan.
Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligoment, bursa dan jaringan-
jaringan khusus yang menghubungkan struktur tersebut.
 Tulang
Yaitu jaringan ikat yang keras, yang zat-zat intersekulernya keras, terutama mengandung
banyak mineral yang mengandung zat perekat dan zat kapur.
Fungsi jaringan tulang :
a) Menjaga berdirinya tubuh
b) Membentuk rongga untuk menyimpan (melindungi) organ-organ yang halus
c) Membentuk persendian dan sebagai tempat melekatnya ligamen dan otot.

 Sendi
Sendi adalah pertemuan dua buah tulang atau beberapa tulang dari kerangka, tulang ini
dipadukan dengan berbagai cara, misalnya dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligamen tendon,
fasia atau otot.
Ada tiga tipe sendi, yaitu :
1) Sendi Fibrosa (Sinar throida)
Merupakan sendi yang tidak dapat bergerak. Misalnya : sendi tulang gerigi, sendi tibia dan
fibula inferior
2) Sendi Kartiloginosa (amphiar throida)
Merupakan sendi yang sedikit bergerak. Misalnya : sendi simfisis pubis, sendi manubrium
sterni dan karpus sterni
3) Sendi Sinovial (diar thyroidal)
Merupakan sendi yang dapat bergerak dengan bebas. Misalnya : sendi putar (sendi panggul
dan bahu), sendikondiloid (pergelangan kaki dan tangan), sendi engsel (sendi siku dan lutut),
sendi berporos / sendi putar (ulna, radius sejajar dan radius menyilang) dan sendi pelana /
sendi timbal balik (sendi pergelangan tangan).

 Otot
suatu organ/alat yang memungkinkan tubuh dapat bergerak, ini adalah suatu sifat penting
bagi organisme, sebagian besar otot tubuh ini melekat pada kerangka dalam suatu letak yang
tertentu. Jadi otot, khususnya otot kerangka merupakan sebuah alat yang menguasai gerak
aktif dan memelihara sikap tubuh. Dalam keadaanistirahat keadaannya tidak kendur sama
sekali tetapi mempunyai ketegangan sedikit yang disebut tanus. Pada masing-masing organ
berlainan tergantung pada umur, jenis kelamin dan keadaan tubuh.
Fungsi gerak tanus otot adalah :
a) Memelihara sikap dan posisi tubuh
b) Pada otot dinding perut berguna untuk menahan rongga perut
c) Pada otot-otot dinding perut pembuluh darah berguna untuk menahan tekanan darah.
* Otot tungkai atas (otot pada paha), mempunyai pembungkus yang sangat kuat dan dibagi
atas dua golongan, yaitu :
a) Otot Abduktor, terdiri dari :
1.Muskulus abduktor maldarus sebelah dalam
2.Muskulus abduktor brevis sebelah tengah
3.Muskulus abduktor longus sebelah luar

b) Otot ekstensor (Quadriseps femaris) otot berkepala empat


Otot ini merupakan otot terbesar, terdiri dari :
1.Muskulus rektus femoris
2.Muskulus vastus lateralis eksternal
3.Muskulus vastus medialis internal
4.Muskulus vastus inter medial.

Anatomi dan Fisiologi Tulang Belakang


Kolumna vertebralis atau rangkaian tulang belakang adalah sebuah stuktur lentur yang
terbentuk oleh sejumlah tulang yang disebut dengan ruas tulang belakang dimana
berhubungan kokoh satu sama lain, tetapi tetap dapat menghasilkan gerakan terbatas satu
sama lain.. Diantara tiap dua ruas tulang belakang terdapat bantalan tulang rawan. Panjang
rangkaian tulang belakang pada orang dewasa dapat mencapai 57 sampai 67 sentimeter.
Seluruhnya terdapat 33 ruas tulang, 24 buah diantaranya adalah tulang-tulang terpisah dan 9
ruas sisanya bergabung membentuk 2 tulang (Price C. Evelyn, 2002, hlm 56 dan Watson
Roger, 2002, hlm 156).
Bagian dari ruas tulang belakang meliputi :
a. Vetebra servikalis (tulang leher) ada 7 ruas
Ketujuh vertebra servikalis merupakan vertebra terkecil dan dapat dengan mudah
dikenali karena proseksus tranversusnya mengandung foramina untuk tempat lewatnya arteri
vertebralis.
Ruas pertama vertebra servikalis disebut atlas yang memungkinkan kepala untuk
menganguk. Ruas kedua disebut prosesus odontoid (aksis) yang memungkinkan kepala untuk
berputar kekiri dan kekanan. Ruas ketujuh mempunyai taju yan disebut prosesus Prominan.
b. Vertebra torakalis (tulang punggung) terdiri dari 12 ruas
Kedua belas vertebra torakalis lebih besar dari vertebra servikalis dan ukurannya
semakin besar dari atas ke bawah, pada bagian dataran sendi sebelah atas, bawah, kiri, dan
kanan membentuk persendian dari tulang iga.
c. Vertebra lumbalis (tulang pinggang) terdiri dari 5 ruas
Kelima vertebra lumbalis merupakan vertebra paling besar dan tidak mempunyai segi
untuk berartikulasi dengan iga. Prosesus spinosusnya besar dan kuat dan merupakan
perlekatan otot.
d. Vertebra sakralis (tulang kelangkangan) terdiri dari 5 ruas
Kelima vertebralis sakralis bergabung menjadi satu tulang besar yang disebut sacrum.
Di samping kiri dan kanannya terdapat lubang-lubang kecil 5 buah yang disebut foramen
sakralis. Os sacrum menjadi dinding bagian tulang belakang dari rongga panggul.
e. Vertebra koksigilis (tulang ekor) terdiri dari 4 ruas
Tulang koksiges merupakan tulang kecil berbentuk segitiga yang terdiri dari rongga
panggul, dapat bergerak sedikit karena membentuk persendian dengan sakrum (Watson
Roger, 2002, hlm 158-163 dan Syaifuddin, 1997, hlm 21-22).
Secara anatomis setiap ruas tulang belakang akan terdiri dari dua bagian :

1. Bagian depan
Bagian ini struktur utamanya adalah badan tulang belakang (corpus vertebrae).
Bagian ini fungsi utamanya adalah untuk menyangga berat badan. Di antara dua
korpus vertebra yang berdekatan dihubungkan oleh struktur yang disebut diskus
intervertebralis yang bentuknya seperti cakram, konsistensinya kenyal dan berfungsi
sebagai peredam kejut (shock absorber).

2. Bagian belakang
Bagian belakang dari ruas tulang belakang ini fungsinya untuk :
 Memungkinkan terjadinya pergerakan tulang belakang itu sendiri. Hal ini dimungkinkan
oleh karena di bagian ini terdapat dua persendian.
 Fungsi perlindungan, oleh karena bagian ini bentuknya seperti cincin dari tulang yang
amat kuat dimana di dalam lubang di tengahnya terletak sumsum tulang belakang
(medulla spinalis/spinal cord).
 Fungsi stabilisasi. Karena fungsi tulang belakang untuk manusia adalah sangat penting,
maka fungsi stabilisasi ini juga penting sekali.Fungsi ini didapat oleh kuatnya
persendian di bagian belakang yang diperkuat oleh adanya ligamen dan otot-otot yang
sangat kuat. Kedua struktur terakhir ini menghubungkan tulang belakang baik dari
ruas ke ruas yang berdekatan maupun sepanjang tulang belakang mulai dari servikal
sampai kogsigeal.

Vaskularisasi kolumna vertebralis

 Arteria spinalis yang mengantar darah kepada vertebra, adalah cabang dari :
 Arteria vertebralis dan arteria servikalis ascendens di leher
 Arteria interkostalis posterior di daerah thorakal
 Arteria subkostalis dan arteria lumbalis di abdomen
 Arteria iliolumbalis dan arteria sakralis lateralis
 Arteria spinalis memasuki foramen intervertebralis dan bercabang menjadi cabang akhir
dan cabang radikular. Beberapa dari cabang-cabang ini beranastomosis dengan arteri-
arteri medulla spinalis.
 Vena spinalis membentuk pleksus vena yang meluas sepanjang kolumna vertebralis,
baik di sebelah dalam (pleksus venosi vertebralis profundus) dan juga di sebelah luar
(pleksus venosi vertebralis superficialis) kanalis vertebralis. Vena basivertebralis terletak
dalam korpus vertebra
B. Definisi Spondilitis TB
Spondilitis tuberkulosa adalah infeksi tuberkulosis ekstra pulmonal yang bersifat kronis
berupa infeksi granulomatosis disebabkan oleh kuman spesifik yaitu Mycobacterium
tuberculosa yang mengenai tulang vertebra sehingga dapat menyebabkan destruksi tulang,
deformitas dan paraplegia (Tandiyo, 2010).
Tuberkulosis tulang belakang selalu merupakan infeksi sekunder dari fokus ditempat lain
dalam tubuh. Percivall Pott (1793) yang pertama kali menulis tentang penyakit ini dan
menyatakan, bahwa terdapat hubungan antara penyakit ini dengan deformitas tulang belakang
yang terjadi, sehingga penyakit ini disebut juga sebagai penyakit Pott. (pengantar ilmu bedah
ortopedi). Spondilitis ini paling sering ditemukan pada vertebra T8 - L3 dan paling jarang
pada vertebra C1 – 2. Spondilitis tuberkulosis biasanya mengenai korpus vertebra, tetapi
jarang menyerang arkus vertebrae.

C. Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh karena bakteri berbentuk basil (basilus). Bakteri yang
paling sering menjadi penyebabnya adalah Mycobacterium tuberculosis, walaupun spesies
Mycobacterium yang lainpun dapat juga bertanggung jawab sebagai penyebabnya, seperti
Mycobacterium fricanum (penyebab paling sering tuberkulosa di Afrika Barat), bovine
tubercle baccilus, ataupun non-tuberculous mycobacteria (banyak ditemukan pada penderita
HIV). Bakteri ini bersifat pleimorfik, tidak bergerak dan tidak membentuk spora serta
memiliki panjang sekitar 2-4 μm.
Mycobacterium tuberculosis bersifat acid-fastnon-motile dan tidak dapat diwarnai
dengan baik melalui cara yang konvensional. Dipergunakan teknik Ziehl-Nielson untuk
memvisualisasikannya. Bakteri tubuh secara lambat dalam media egg-enriched dengan
periode 6-8 minggu. Produksi niasin merupakan karakteristik Mycobacterium tuberculosis
dan dapat membantu untuk membedakannnya dengan spesies lain.
Meskipun menular, tetapi orang tertular tuberculosis tidak semudah tertular flu.
Penularan penyakit ini memerlukan waktu pemaparan yg cukup lama dan intensif dengan
sumber penyakit (penular). Menurut Mayoclinic, seseorang yg kesehatan fisiknya baik,
memerlukan kontak dengan penderita TB aktif setidaknya 8 jam sehari selama 6 bulan, untuk
dapat terinfeksi. Sementara masa inkubasi TB sendiri, yaitu waktu yg diperlukan dari mulai
terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan. Bakteri TB akan cepat mati bila
terkena sinar matahari langsung. Tetapi dalam tempat yg lembab, gelap, dan pada suhu
kamar, kuman dapat bertahan hidup selama beberapa jam. Dalam tubuh, kuman ini dapat
tertidur lama (dorman) selama beberapa tahun.
D. Prognosis
Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit menahun dan apabila dapat sembuh secara
spontan akan memberikan cacat pembengkokan pada tulang punggung. Dengan jalan radikal
operatif, penyakit ini dapat sembuh dalam waktu singkat sekitar 6 bulan (Tachdjian, 2005).
Prognosis dari spondilitis tuberkulosa bergantung dari cepatnya dilakukan terapi dan ada
tidaknya komplikasi neurologis. Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang tepat,
prognosisnya baik walaupun tanpa operasi. Penyakit dapat kambuh apabila pengobatan tidak
teratur atau tidak dilanjutkan setelah beberapa saat karena terjadi resistensi terhadap
pengobatan (Lindsay, 2008).
Untuk spondilitis dengan paraplegia awal, prognosis untuk kesembuhan saraf lebih baik
sedangkan spondilitis dengan paraplegia akhir, prognosis biasanya kurang baik. Apabila
paraplegia disebabkan oleh mielitis tuberkulosa prognosisnya ad functionam juga buruk
(Lindsay, 2008).
E. Patofisiologi
Basil TB masuk ke dalam tubuh sebagian besar melalui traktus respiratorius.
Penyebaran terjadi secara hematogen, bakteri berkembang biak umumnya di tempat aliran
darah yg menyebabkan bakteri berkumpul banyak (ujung pembuluh). Terutama di tulang
belakang, di sekitar tulang thorakal (dada) dan lumbal (pinggang) kuman bersarang. Penyakit
ini pada umumnya mengenai lebih dari satu vertebra. Infeksi berawal dari bagian sentral,
bagian depan, atau daerah epifisial korpus vertebra. Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi
yang menyebabkan osteoporosis dan perlunakan korpus. Selanjutnya terjadi kerusakan pada
korteks epifise, discus intervertebralis dan vertebra sekitarnya. Kerusakan pada bagian depan
korpus ini akan menyebabkan terjadinya kifosis yang dikenal sebagai gibbus. Berbeda
dengan infeksi lain yang cenderung menetap pada vertebra yang bersangkutan, tuberkulosis
akan terus menghancurkan vertebra di dekatnya.
Kemudian eksudat (yang terdiri atas serum, leukosit, kaseosa, tulang yang fibrosis
serta basil tuberkulosa) menyebar ke depan, di bawah ligamentum longitudinal anterior dan
mendesak aliran darah vertebra di dekatnya. Eksudat ini dapat menembus ligamentum dan
berekspansi ke berbagai arah di sepanjang garis ligament yang lemah (Alfarisi, 2011). Pada
daerah servikal, eksudat terkumpul di belakang fasia paravertebralis dan menyebar ke lateral
di belakang muskulus sternokleidomastoideus. Eksudat dapat mengalami protrusi ke depan
dan menonjol ke dalam faring yang dikenal sebagai abses faringeal. Abses dapat berjalan ke
mediastinum mengisi tempat trakea, esophagus, atau kavum pleura. Abses pada vertebra
torakalis biasanya tetap tinggal pada daerah toraks setempat menempati daerah paravertebral,
berbentuk massa yang menonjol dan fusiform. Abses pada daerah ini dapat menekan medulla
spinalis sehingga timbul paraplegia. Abses pada daerah lumbal dapat menyebar masuk
mengikuti muskulus psoas dan muncul di bawah ligamentum inguinal pada bagian medial
paha. Eksudat juga dapat menyebar ke daerah krista iliaka dan mungkin dapat mengikuti
pembuluh darah femoralis pada trigonum skarpei atau regio glutea (Qittun, 2008).
Terbentuknya abses dan badan tulang belakang yg hancur, bisa menyebabkan tulang
belakang jadi kolaps dan miring ke arah depan. Kedua hal ini bisa menyebabkan penekanan
syaraf-syaraf sekitar tulang belakang yg mengurus tungkai bawah, sehingga gejalanya bisa
terasa kesemutan dan timbul rasa baal bahkan bisa sampai kelumpuhan. Badan tulang
belakang yg kolaps dan miring ke depan menyebabkan tulang belakang dapat diraba dan
menonjol di belakang dan nyeri bila tertekan, sering sebut sebagai gibbus. Bahaya yg terberat
adalah kelumpuhan tungkai bawah, karena penekanan batang syaraf di tulang belakang yg
dapat disertai lumpuhnya syaraf yg mengurus organ yg lain, seperti saluran kencing dan anus
(saluran pembuangan).
F. Klasifikasi
Berdasarkan lokasi infeksi awal pada korpus vertebra dikenal empat bentuk spondilitis:
1. Peridiskal / paradiskal
Infeksi pada daerah yang bersebelahan dengan diskus (di area metafise di bawah
ligamentum longitudinal anterior / area subkondral). Banyak ditemukan pada orang dewasa.
Dapat menimbulkan kompresi, iskemia dan nekrosis diskus. Terbanyak ditemukan di regio
lumbal.
2. Sentral
Infeksi terjadi pada bagian sentral korpus vertebra, terisolasi sehingga disalahartikan
sebagai tumor. Sering terjadi pada anak-anak. Keadaan ini sering menimbulkan kolaps
vertebra lebih dini dibandingkan dengan tipe lain sehingga menghasilkan deformitas spinal
yang lebih hebat. Dapat terjadi kompresi yang bersifat spontan atau akibat trauma. Terbanyak
di temukan di regio torakal.
3. Anterior
Infeksi yang terjadi karena perjalanan perkontinuitatum dari vertebra di atas dan
dibawahnya. Gambaran radiologisnya mencakup adanya scalloped karena erosi di bagian
anterior dari sejumlah vertebra (berbentuk baji). Pola ini diduga disebabkan karena adanya
pulsasi aortik yang ditransmisikan melalui abses prevertebral dibawah ligamentum
longitudinal anterior atau karena adanya perubahan lokal dari suplai darah vertebral.
4. Bentuk atipikal
Dikatakan atipikal karena terlalu tersebar luas dan fokus primernya tidak dapat
diidentifikasikan. Termasuk didalamnya adalah tuberkulosa spinal dengan keterlibatan
lengkung syaraf saja dan granuloma yang terjadi di canalis spinalis tanpa keterlibatan tulang
(tuberkuloma), lesi di pedikel, lamina, prosesus transversus dan spinosus, serta lesi artikuler
yang berada di sendi intervertebral posterior. Insidensi tuberkulosa yang melibatkan elemen
posterior tidak diketahui tetapi diperkirakan berkisar antara 2%-10%.
perjalanan penyakit spondilitis TB ada lima stadium menurut kumar, yaitu :
1.Stadium implantasi
Setelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan tubuh penderita menurun,
bakteri akan berduplikasi membentuk oloni yang berlangsung selama 6 – 8 minggu. Kedaan
ini umumnya terjadi pada daerah paradiskus dan pada anak – anak umumnya pada daerah
sentral vertebrata.

2.Stadium destruksi awal


Setelah stadium implantasi, selanjutnya terjai destruksi korpus vertebra serta
penyempitan yang ringan pada diskus. Proses ini berlangsung selama 3 – 6 minggu.
3.Stadium destruksi lanjut
Pada stadium ini terjadi destruksi yang masih, kolaps vertebra yang terbentuk masa
kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses (abses dingin), yang terjadi 2-3 bulan setelah
stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat berebentuk sekuestrum serta kerusakan diskus
intervertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama disebelah depan (wedging
anterior) akibat kerusakan korpus vertebra, yang menyebabkan terjadinya kifosis atau gibus.
4.Stadium gangguan neurologis
Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi, tetapi
terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. Gangguan ini ditemukan 10% dari
seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosa. Vertebra torakalis mempunyai kanalis spinalis
yang lebih kecil sehingga gangguan neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini.
Bila terjadi gangguan neurologis, maka perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia,
yaitu :
Derajat I : kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi setelah melakukan aktivitas atau
setelah berjalan jauh. Pada tahap ini belum terjadi gangguan saraf sensoris.
Derajat II : terdapa kelemahan pada anggota gerak bawah tai penderita masih dapat
melakukan pekerjaannya.
Derajat III : terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi gerak atau
aktifitas penderita serta hipestesia atau anestesia.
Derajat IV : terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris ,disertai gangguan defekasi dan
miksi. Tuberkulosis paraplegi atau pott paraplegia dapat terjadi suara dini atau lambat
tergantung dari keadaan penyakitnya.
Pada penyakit yang masih aktif, paraplegia terjadi oleh karena tekanan ekstradural
dari abses paravetbral atau akibat kerusakan langsung sumsum tulang belakang oleh adanya
granulasi jaringan. Paraplegia pada penyakit yang sudah tidak aktif atau sembuh terjadi oleh
karena tekanan pada jembatan tulang kanalis spinalis atau oleh pembentukan jaringan fibrosis
yang progresif dari jaringan granulasi tuberkulosa. Tubrkulosis paraplegia terjadi secara
perlahan dan dapat terjadi destruksi tulang disertai angulasi dan gangguan vesikuler vertebra.
Derajat I – III disebut sebagai paraparesis dan derajat IV disebut sebagai paraplegia.
5. Stadium deformitas residual
Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah stadium implantasi. Kifosis atau gibbus
bersifat permanen karena kerusakan vertebra yang masif di depan (Savant, 2007).
G. Manifestasi Klinis
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberkulosis
pada umumnya, yaitu badan lemah/lesu, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, suhu
sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta sakit pada punggung. Pada
anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari. Pada awal dapat dijumpai nyeri
radikuler yang mengelilingi dada atau perut, kemudian diikuti dengan paraparesis yang
lambat laun makin memberat, spastisitas, klonus, hiper-refleksia dan refleks babinski bilateral
(Hidalgo, 2006).

Manifestasi klinis lainnya pada spondilitis TB yaitu:


a. Suhu subfebril terutama pada malam hari dan sakit (kaku) pada punggung. Pada anak-anak
sering disertai dengan menangis pada malam hari.
b. Pada awal dijumpai nyeri interkostal, nyeri yang menjalar dari tulang belakang ke garis
tengah atas dada melalui ruang interkostal. Hal ini disebabkan oleh tertekannya radiks
dorsalis di tingkat torakal.
c. Nyeri spinal menetap dan terbatasnya pergerakan spinal
d. Deformitas pada punggung (gibbus)
e. Pembengkakan setempat (abses)
f. Adanya proses tbc (Tachdjian, 2005).
Kelainan neurologis yang terjadi pada 50 % kasus spondilitis tuberkulosa termasuk akibat
penekanan medulla spinalis yang menyebabkan:
 Paraplegia, paraparesis, atau nyeri radix saraf akibat penekanan medula spinalis yang
menyebabkan kekakuan pada gerakan berjalan dan nyeri.
 Gambaran paraplegia inferior kedua tungkai dan adanya batas defisit sensorik setinggi
tempat gibbus atau lokalisasi nyeri interkostal
H. Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh spondilitis tuberkulosa yaitu:
1. Pott’s paraplegia
a. Muncul pada stadium awal disebabkan tekanan ekstradural oleh pus maupun sequester atau
invasi jaringan granulasi pada medula spinalis. Paraplegia ini membutuhkan tindakan operatif
dengan cara dekompresi medula spinalis dan saraf.
b. Muncul pada stadium lanjut disebabkan oleh terbentuknya fibrosis dari jaringan granulasi
atau perlekatan tulang (ankilosing) di atas kanalis spinalis.
2. Ruptur abses paravertebra
a. Pada vertebra torakal maka nanah akan turun ke dalam pleura sehingga menyebabkan
empiema tuberkulosis.
b. Pada vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot iliopsoas membentuk psoas abses yang
merupakan cold absces (Lindsay, 2008).
3. Cedera corda spinalis (spinal cord injury). Dapat terjadi karena adanya tekanan ekstradural
sekunder karena pus tuberkulosa, sekuestra tulang, sekuester dari diskus intervertebralis
(contoh : Pott’s paraplegia – prognosa baik) atau dapat juga langsung karena keterlibatan
korda spinalis oleh jaringan granulasi tuberkulosa (contoh : menigomyelitis – prognosa
buruk). Jika cepat diterapi sering berespon baik (berbeda dengan kondisi paralisis pada
tumor). MRI dan mielografi dapat membantu membedakan paraplegi karena tekanan atau
karena invasi dura dan corda spinalis.
I. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada spondilitis tuberkulosa yaitu:
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan darah lengkap didapatkan leukositosis dan LED meningkat.
b. Uji mantoux positif tuberkulosis.
c. Uji kultur biakan bakteri dan BTA ditemukan Mycobacterium.
d. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional.
e. Pemeriksaan hispatologis ditemukan tuberkel.
f. Pungsi lumbal didapati tekanan cairan serebrospinalis rendah.
g. Peningkatan CRP (C-Reaktif Protein).
h. Pemeriksaan serologi dengan deteksi antibodi spesifik dalam sirkulasi.
i. Pemeriksaan ELISA (Enzyme-Linked Immunoadsorbent Assay) tetapi menghasilkan negatif
palsu pada penderita dengan alergi.
j. Identifikasi PCR (Polymerase Chain Reaction) meliputi denaturasi DNA kuman tuberkulosis
melekatkan nukleotida tertentu pada fragmen DNA dan amplifikasi menggunakan DNA
polimerase sampai terbentuk rantai DNA utuh yang diidentifikasi dengan gel.
2. Pemeriksaan radiologis
a) Foto toraks atau X-ray untuk melihat adanya tuberculosis pada paru. Abses dingin tampak
sebagai suatu bayangan yang berbentuk spindle.
b) Pemeriksaan foto dengan zat kontras.
c) Foto polos vertebra ditemukan osteoporosis, osteolitik, destruksi korpus vertebra,
penyempitan diskus intervertebralis, dan mungkin ditemukan adanya massa abses
paravertebral.
d) Pemeriksaan mielografi.
e) CT scan memberi gambaran tulang secara lebih detail dari lesi
irreguler, skelerosis, kolaps diskus, dan gangguan sirkumferensi tulang.
f) MRI mengevaluasi infeksi diskus intervertebralis dan osteomielitis tulang belakang serta
menunjukkan adanya penekanan saraf (Lauerman, 2006).
J. Penatalaksanaan
1.Terapi Konservatif
a) Berupa istirahat di tempat tidur untuk mencegah paraplegia dan pemberian
tuberkulostatik.
b) Dengan memberikan corset yang mencegah gerak vertebrae/membatasi gerak vertebrae.
Corset tadi dapat dibikin dari gips, dari kulit/plastik, dengan corset tadi pasien dapat
duduk/berjalan sehingga tidak memerlukan perawatan di rumah sakit namun tetap di kontrol.
2.Terapi Operatif
a) Bedah Kostotransversektomi yang dilakukan berupa debrideman dan penggantian korpus
vertebra yang rusak dengan tulang spongiosa / kortikospongiosa.
b) Operasi kifosis dilakukan apabila terjadi deformitas hebat. Kifosis bertendensi untuk
bertambah berat, terutama pada anak. Tindakan operatif berupa fusi posterior atau operasi
radikal (Graham, 2007).
BAB III
SKENARIO KASUS

Kasus:
Tn. I (21 Tahun) beragama islam, lahir pada tanggal 11 Juni 1992 dan belum menikah masuk
ruang rawat pada tanggal 24 April 2013 dengan diagnosa medis spondilitis tuberculosis pada
vertebra torakal IV hingga lumbal I. selama pengkajian sumber informasi berasal dari klien,
keluarga klien (Ayah dan ibu klien) serta rekam medis klien.
Klien memiliki riwayat tuberculosis paru pada tahun 2007 dan menjalani pengobatan dengan
OAT 9 bulan namun tidak tuntas (putus obat sekitar 7 atau 8 bulan). Kemudian sekitar 3
tahun lalu sudah muncul pembengkakkan kelenjar getah bening hingga mengeluarkan nanah
(disekitar leher). Sejak itu klien sakit-sakitan namun tidak pernah berobat ke RS. Kemudian
sekitar 3 tahun lalu klien jatuh disekolah, dan langsung tidak dapat berjalan selama 1 tahun.
Selama itu klien hanya beraktivitas dirumah dengan bantuan keluarga. Setelah itu lama
kelamaan terjadi pembesaran skrotum/orchitis (infeksi sekunder TB yang metastase hingga
ke saluran reproduksi).
Pembesaran sempat pecah dan mengeluarkan darah, namun kembali membesar dan lama
kelamaan terasa nyeri. Jarak kurang lebih 3 bulan kemudian mulai muncul benjolan di tulang
belakang. Pada mulanya kecil dan tidak terlalu mengganggu sehingga klien dan keluarga
tidak melakukan apa-apa. Tapi berangsur-angsur tonjolan semakin besar hingga membuat
tubuh klien melengkung. Meski begitu klien dan keluarga belum memeriksakannya ke
dokter/RS, namun hanya meminum obat ramuan cina. Hingga akhirnya klien merasa sangat
nyeri dibagian tonjolan tersebut saat digerakkan maupun hanya disentuh, sakit bertambah
ketika dibawa berjalan. Sekarang rasa nyeri hampir dirasakan setiap waktu dengan skala 2-4
dan masih bisa ditahan. Klien memiliki riwayat merokok sejak kelas 2 SMP hingga 2 SMA.
Klien tinggal dipesantren (Santri) sejak SMP.
Saat dilakukan pengkajian klien menunjukkan status mental/tingkat kesadaran composmentis
(CM). reaksi pupil baik, klien tidak memakai alat bantu pendengaran dan penglihatan. Klien
mampu makan sendiri sesuai dengan porsi yang diberikan diruangan,klien tidak ada
gangguan muntah dan mual, klien tidak memiliki alergi terhadap makanan tertentu, klien
makan 3x per hari, berat badan klien 47 kg dengan tinggi badan 167 cm. klien mampu dalam
beradaptasi dan sangat menerima kondisinya, Klien mengatakan memikirkan penyakit yang
dideritanya namun cukup mampu mengatasi emosinya, klien mengatakan cemas dengan
tindakan operasi yang akan dilakukan karena merupakan pertama kali bagi klien.
klien cukup mandiri dalam beraktivitas dengan keadaan tulang yang mengalami skoliosis dan
kifosis, namun aktivitas klien lebih banyak dihabiskan dengan duduk di kursi atau tempat
tidur karena klien tidak terlalu kuat untuk berdiri lama, klien sering merasa kesemutaan pada
kedua ekstremitas bawah. Klien tidak mengalami masalah kesulitan tidur, namun posisi tidur
tidak mampu telentang sepenuhnya, biasanya punggung harus disangga oleh bantal atau klien
tidur dengan posisi miring atau duduk. Berdasarkan pemeriksaan langsung, kekuatan otot
klien normal dan mampu bergerak maksimal. klien mengatakan pergerakan tulang
belakang sangat terbatas (terdapat gibbus di tulang belakang sekitar torakolumbar). klien
mampu berjalan-jalan dan tidak menggunakan alat bantu.
Klien mengatakan defekasi 1x sehari,klien mengatakan tidak sakit, tidak berdarah saat
defekasi, klien hanya sesekali mengeluhkan nyeri saat buang air kecil karena klien
mengalami pembesaran testis akibat infeksi sekunder dari TB, klien mengatakan biasanya
BAK >5x sehari.
Klien tidak melanjutkan pendidikan semenjak sakit. Klien anak pertama dari empat
bersaudara. Klien berhubungan baik dengan orang tua dan saudara nya terlihat dari setiap
keluarga menjaga klien dengan cara bergantian. Klien cukup kooperatif dengan perawat,
klien saling mengenal dan bercengkrama dengan sesama pasien satu ruangan. ibu klien
mengatakan klien adalah seorang yang taat beribadah.
Berdasarkan hasil laboratorium, pemeriksaan darah lengkap didapatkan leukositosis dan LED
meningkat hingga 100mm dan globulin mencapai 4,10gr/dl, albumin cenderung rendah (nilai
albumin 3,30 gr/dl), klien mengalami anemia karena Hb hanya berkisar 9-10g/dl.
Berdasarkan pemeriksaan hematologi klien didiagnosis mengalami anemia mikrositik
hipokrom. Pada pemeriksaan MRI di tunjukkan gibbus sudah sampai menekan sumsum
tulang belakang.

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
A. Daftar Riwayat Hidup
Nama : Tn. I
Masuk ke RS : 24 April 2013
Usia : 21 tahun
Tanggal lahir : 11 Juni 1992
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaaan : pelajar
Status : belum menikah
Anak ke- : satu dari empat bersaudara
Diagnosa Medis : Spondilitis TB

B. Daftar Riwayat Kesehatan


RKD:
 Klien memiliki riwayat tuberculosis paru pada tahun 2007 dan menjalani pengobatan dengan
OAT 9 bulan namun tidak tuntas (putus obat sekitar 7 atau 8 bulan).
 3 tahun lalu sudah muncul pembengkakkan kelenjar getah bening hingga mengeluarkan nanah
(disekitar leher). Sejak itu klien sakit-sakitan namun tidak pernah berobat ke RS
 sekitar 3 tahun lalu klien jatuh disekolah, dan langsung tidak dapat berjalan selama 1 tahun.
Selama itu klien hanya beraktivitas dirumah dengan bantuan keluarga. Setelah itu lama
kelamaan terjadi pembesaran skrotum/orchitis. Pembesaran sempat pecah dan mengeluarkan
darah, namun kembali membesar dan lama kelamaan terasa nyeri.
 Jarak kurang lebih 3 bulan kemudian mulai muncul benjolan di tulang belakang. Pada
mulanya kecil dan tidak terlalu mengganggu sehingga klien dan keluarga tidak melakukan
apa-apa.
 berangsur-angsur tonjolan semakin besar hingga membuat tubuh klien melengkung. Meski
begitu klien dan keluarga belum memeriksakannya ke dokter/RS, namun hanya meminum
obat ramuan cina.
RKS :
 klien mengatakan kadang merasa sangat nyeri dibagian tonjolan tersebut saat digerakkan
maupun hanya disentuh, sakit bertambah ketika dibawa berjalan.
 Klien mengatakan rasa nyeri hampir dirasakan setiap waktu dengan skala 2-4 dan masih bisa
ditahan.
 Pergerakan tulang belakang sangat terbatas karena terdapat gibbus di tulang belakang sekitar
torakolumbar
 Klien mengatakan mengalami pembesaran skrotum/orchitis
 Berat badan klien 47 kg dengan tinggi badan 167 cm (Klien mengalami kekurangan berat
badan)

RKK :
Tidak terkaji

C. Pengkajian Pola Gordon


a. persepsi kesehatan dan manajemen kesehatan
 Klien memiliki riwayat tuberculosis paru pada tahun 2007 dan menjalani pengobatan
dengan OAT 9 bulan namun tidak tuntas (putus obat sekitar 7 atau 8 bulan).
 sekitar 3 tahun lalu sudah muncul pembengkakkan kelenjar getah bening hingga
mengeluarkan nanah (disekitar leher). Sejak itu klien sakit-sakitan namun tidak pernah
berobat ke RS.
 sekitar 3 tahun lalu klien jatuh disekolah, dan langsung tidak dapat berjalan selama 1 tahun.
Selama itu klien hanya beraktivitas dirumah dengan bantuan keluarga. Setelah itu lama
kelamaan terjadi pembesaran skrotum/orchitis.
 Pembesaran sempat pecah dan mengeluarkan darah, namun kembali membesar dan lama
kelamaan terasa nyeri.
 Jarak kurang lebih 3 bulan kemudian mulai muncul benjolan di tulang belakang. Pada
mulanya kecil dan tidak terlalu mengganggu sehingga klien dan keluarga tidak melakukan
apa-apa.
 berangsur-angsur tonjolan semakin besar hingga membuat tubuh klien melengkung. Meski
begitu klien dan keluarga belum memeriksakannya ke dokter/RS, namun hanya meminum
obat ramuan cina.
 Hingga akhirnya klien merasa sangat nyeri dibagian tonjolan tersebut saat digerakkan
maupun hanya disentuh, sakit bertambah ketika dibawa berjalan. Rasa nyeri hampir dirasakn
setiap waktu.
 Klien memiliki riwayat merokok sejak kelas 2 SMP hingga 2 SMA.
b. Nutrisi dan Metabolic
 Klien mampu makan sendiri sesuai dengan porsi yang diberikan diruangan
 klien tidak ada gangguan muntah dan mual serta tidak memiliki alergi terhadap makanan
tertentu
 klien makan 3x per hari
 berat badan klien 47 kg dengan tinggi badan 167 cm. (termasuk golongan berat badan
kurang)
c. Eliminasi
 Klien mengatakan defekasi 1x sehari
 Klien mengatakan tidak sakit, tidak berdarah saat defekasi.
 klien hanya sesekali mengeluhkan nyeri saat buang air kecil karena klien mengalami
pembesaran testis akibat infeksi sekunder dari TB.
 klien mengatakan biasanya BAK >5x sehari
d. Aktivitas dan latihan
 klien cukup mandiri dalam beraktivitas dengan keadaan tulang yang mengalami skoliosis
dan kifosis, namun aktivitas klien lebih banyak dihabiskan dengan duduk di kursi atau tempat
tidur karena klien tidak terlalu kuat untuk berdiri lama
 klien sering merasa kesemutaan pada kedua ekstremitas bawah
 Pergerakan tulang belakang sangat terbatas karena terdapat gibbus di tulang belakang sekitar
torakolumbar
 Berdasarkan pemeriksaan langsung, kekuatan otot klien normal dan mampu bergerak
maksimal
 klien mampu berjalan-jalan dan tidak menggunakan alat bantu
 klien mengatakan merasakan nyeri hampir setiap waktu dengan skala 2-4 dan masih bisa
ditahan.
e. Istirahat dan tidur
 Klien tidak mengalami masalah kesulitan tidur
 posisi tidur tidak mampu telentang sepenuhnya, biasanya punggung harus disangga oleh
bantal
 klien tidur dengan posisi miring atau duduk.
f. Kognitif dan Perceptual
 klien menunjukkan status mental/tingkat kesadaran composmentis (CM).
 reaksi pupil baik
 klien tidak memakai alat bantu pendengaran ataupun penglihatan
g. Persepsi diri dan Konsep diri
 klien mampu dalam beradaptasi dan sangat menerima kondisinya
 Klien mengatakan memikirkan penyakit yang dideritanya namun cukup mampu mengatasi
emosinya
 klien mengatakan cemas dengan tindakan operasi yang akan dilakukan karena merupakan
pertama kali bagi klien
h. Peran dan hubungan
 Klien tidak melanjutkan pendidikan semenjak sakit
 Klien anak pertama dari empat bersaudara.
 Klien berhubungan baik dengan orang tua dan saudara nya terlihat dari setiap keluarga
menjaga klien dengan cara bergantian
 Klien cukup kooperatif dengan perawat, klien saling mengenal dan bercengkrama dengan
sesama pasien satu ruangan.
i. seksual dan reproduksi
 Klien seorang laki – laki dan belum menikah
 Klien mengalami pembesaran skrotum/orchitis (infeksi sekunder TB yang metastase hingga
ke saluran reproduksi).
j. Koping dan toleransi stress
 klien mampu dalam beradaptasi dan sangat menerima kondisinya
 Klien mengatakan memikirkan penyakit yang dideritanya namun cukup mampu mengatasi
emosinya
k. Nilai dan kepercayaan
 Klien beragama islam
 ibu klien mengatakan klien adalah seorang yang taat beribadah

D. Pemeriksaan penunjang
Berdasarkan hasil laboratorium, pemeriksaan darah lengkap didapatkan leukositosis dan LED
meningkat hingga 100mm dan globulin mencapai 4,10gr/dl, albumin cenderung rendah (nilai
albumin 3,30 gr/dl), klien mengalami anemia karena Hb hanya berkisar 9-10g/dl.
Berdasarkan pemeriksaan hematologi klien didiagnosis mengalami anemia mikrositik
hipokrom. Pada pemeriksaan MRI di tunjukkan gibbus sudah sampai menekan sumsum
tulang belakang, dimana salah satu fungsi nya adalah produksi sel darah merah

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri kronik b.d Ketidakmampuan fisik secara terus menerus
b. Resiko cidera b.d keterbatasan gerak dan anemia
c. Hambatan mobilitas Fisik

3. Asuhan Keperawatan Spondilitis TB


No. NANDA NOC NIC
1. Nyeri kronik b.d 1. Kontrol nyeri 1. Managemen nyeri
Ketidakmampuan fisik Definisi: Perilaku Defenisi :
secara terus menerus seseorang untuk Pengurangan rasa nyeri
mengontrol nyeri. serta peningkatan
Gambaran Karakteristik: Setelah dilakukan kenyamanan yang bisa
 Menggunakan simbol ( tindakan keperawatan diterima oleh pasien
seperti menggunakan skala selama …x 24
nyeri) jam,daya tahan pasien Aktivitas:
 Mengubah 
kemampuan akan meningkat dengan Lakukan penilaian nyeri
untuk melanjutkan aktivitas indikator: secara komprehensif
terdahulu. dimulai dari lokasi,
 Melaporkan nyeri - Dapat mengontrol karakteristik, durasi,
nyeri. frekuensi, kualitas,
- Gunakan catatan nyeri intensitas dan penyebab.
- 
Melaporkan Gunakan komunikasi
tanda/gejala nyeri pada yang terapeutik agar
tenaga kesehatan pasien dapat menyatakan
- Melaporkan bila nyeri pengalamannya terhadap
terkontrol nyeri serta dukungan
- Penggunaan non dalam merespon nyeri
analgesic 
untuk Tentukan dampak nyeri
mengurangi nyeri. terhadap kehidupan
- sehari-hari (tidur, nafsu
makan, aktivitas,
kesadaran, mood,
hubungan sosial,
performance kerja dan
melakukan tanggung
jawab sehari-hari)
 Bantu pasien dan
keluarga mencari dan
menyediakan dukungan.
 Gunakan metoda
penilaian yang
berkembang untuk
memonitor perubahan
nyeri serta
mengidentifikasi faktor
aktual dan potensial
dalam mempercepat
penyembuhan
 Tentukan tingkat
kebutuhan pasien yang
dapat memberikan
kenyamanan pada pasien
dan rencana keperawatan
 Menyediakan informasi
tentang nyeri, contohnya
penyebab nyeri,
bagaimana kejadiannya,
mengantisipasi
ketidaknyamanan
terhadap prosedur
 Kontrol faktor
lingkungan yang dapat
menimbulkan
ketidaknyamanan pada
pasien (suhu ruangan,
pencahayaan, keributan)
 Ajari untuk
menggunakan tehnik
non-farmakologi (spt:
biofeddback, TENS,
hypnosis, relaksasi, terapi
musik, distraksi, terapi
bermain, acupressure,
apikasi hangat/dingin,
dan pijatan ) sebelum,
sesudah dan jika
memungkinkan, selama
puncak nyeri , sebelum
nyeri terjadi atau
meningkat, dan
sepanjang nyeri itu masih
terukur.
 Pastikan pasien
mendapatkan perawatan
dengan analgesic

2.Administrasi
Analgesik.
Defenisi :
Penggunaan agen
farmakologi untuk
menghentikan atau
mengurangi nyeri.
Aktivitas :
 tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas,
dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat
 cek instruksi dokter
tentang jenis obat, dosis
dan frekuensi
 cek riwayat alergi
 pilih analgetik yang
diperlukan atau
kombinasi dari analgetik
ketika pemberian lebih
dari satu
 monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgetik
pertama kali
 berikan analgetik tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
 evaluasi efektifitas
analgetik, tanda dan
gejala (efek samping)
 mengelola analgesic
sekitar jam untuk
mencegah puncak dan
melalui analgesia,
terutama dengan sakit
parah
 Mengevaluasi efektivitas
analgesic pada interval
yang sering rutin setelah
setiap administrasi, tetapi
terutama setelah dosis
awal, juga mengamati
untuk tanda-tanda dan
gejala efek tak
diinginkan (misalnya,
depresi pernapasan, mual
dan muntah, mulut
kering, dan sembelit)

2. Resiko Cidera Perilaku pencegahan Pencegahan Pasien


Faktor resiko: jatuh Jatuh
Definisi: Definisi:
 Darah yang
Tindakan pasien atau Tindakan pencegahan
abnormal
keluarga untuk khusus untuk pasien
(leukositosis
meminimalkan faktor dengan resiko luka
atau
resiko jatuh di karena terjatuh.
leukopenia,
lingkungan. Aktivitas:
perubahan
Setelah 
dilakukan Identifikasi kelemahan
faktor
tindakan keperawatan kognitif atau fisik pasien
penggumpala
selama …x 24 yang dapat meningkatkan
n darah,
jam,daya tahan pasien kemungkinan jatuh pada
trombosiope
akan meningkat dengan lingkungan tertentu
nia, sel
indikator:  Identifikasi perilaku dan
berbentuk - Menggunakan handrail faktor – faktor yang
bulan sabit, jika dibutuhkan beresiko menyebabkan
thalasemia, - Sediakan bantuan jatuh
menurunnya- 
Penggunaan alat bantu Kaji pengalaman jatuh
kadar dengan benar bersama pasien dan
hemoglobin)- Kontrol kelemahan keluarga
 Identifikasi karakteristik
 Fisik
lingkungan yang dapat
(desain,
menigkatkan
struktur, dan
kemungkinan jatuh
penataan
(seperti lantai yang licin)
komunitas,
 Monitor cara berjalan,
bangunan,
keseimbangan, dan
dan
tingkat kelelahan klien
/perlengkapa
saat berjalan
n)
 Latih pasien untuk
 Biologis (
beradaptasi dengan
tingkat
perubahan cara berjalan
imunisasi
 Kunci roda pada kursi
komunitas,
roda atau tempat tidur
mikroorganis
saat akan memindahkan
me)
pasien
 Penyakit  Monitor kemampuan
imun / berpindah pasien dari
autoimun tempat tidur ke kursi
 Gunakan pembatas pada
sisi tempat tidur untuk
mencegah pasien jatuh
dari tempat tidur, jika
diperlukan
 Sediakan alat pemanggil
bagi pasien yang
memerlukan bantuan
(seperti bel atau cahaya
lampu) jika perawat
sedang tidak berada di
dekat pasien
 Bantu pasien mencari
kegiatan yang aman
untuk menghabiskan
waktu luang

 Pasang
tanda
untuk
memberi
tahu staf
lain
bahwa
pasien
beresiko
tinggi
terjatuh

4. Evaluasi Tindakan Keperawatan


A. Nyeri kronik b.d Ketidakmampuan fisik secara terus menerus
S: Klien mengeluhkan nyeri yang dirasakan setiap waktu dengan skala 2-4
Klien mengatakan terkadang nyeri sangat hebat di bagian pembesaran skrotum.
O: klien tampak meringis
A: Masalah teratasi
P: lanjut ke pelaksanaan diagnosa selanjutnya
B. Resiko cidera b.d keterbatasan gerak dan anemia
S: klien mengatakan pergerakkan tulang belakang terbatas (terdapat gibbus)
O: tulang belakang klien terlihat melengkung sehingga klien membungkuk
A: Masalah teratasi
P: lanjut ke pelaksanaan diagnosa selanjutnya
BAB IV
PEMBAHASAN JURNAL

Judul Jurnal: COMPARISON OF EXTRAPLEURAL ANTEROLATERAL


DECOMPRESSION AND TRANSTHORACIC ANTERIOR
DECOMPRESSION FOR TUBERCULOSIS OF THE DORSAL SPINE
Penulis : Navin KumarKarn, Ranjeev Jha, PrakashSitoula, MahipalSingh, Anil Kumar Jain
Publikasi : -
Penelaah : Kelompok 1 Mata Kuliah Keperawatan Komunitas II, Fakultas Keperawatan,
Universitas Andalas
Tanggal Telaah: 17 Agustus 2015
I. Deskripsi Jurnal

1. Tujuan Utama Penelitian


Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk membandingkan dekompresi
anterolateral extrapleural dan dekompresi anterior transthoracic untuk TB punggung tulang
belakang.

2. Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60 pasien yang tersisa setelah


pengecualian. Kami menemukan durasi operasi, jumlah kehilangan darah secara signifikan
lebih tinggi pada kelompok dekompresi anterior transthoracic. Ada satu kasus infeksi luka
(3,3%) pada kelompok dekompresi anterior transthoracic. 3 kasus dekompresi anterior
transthoracic harus mengkonversi ke dekompresi anterolateral karena adhesi pleura paru-
paru. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam pemulihan neurologis dan pengembangan
deformitas kyphotic.

3. Kesimpulan Penelitian

Ditemukan bahwa dekompresi anterolateral melakukan lebih baik daripada dekompresi


anterior transthoracic dalam hal durasi operasi, jumlah kehilangan darah, morbiditas pasca
operasi tetapi tingkat pemulihan neurologis yang sama.

II. Telaah Jurnal

A. Fokus Utama Penelitian


Fokus utama penelitian di dadasarkan pada durasi operasi, jumlah kehilangan darah,
pemulihan neurologis dan tingkat komplikasi.
B. Elemen yang Mempengaruhi Tingkat Kepercayaan Suatu Penelitian

1. Gaya penulisan

a. Sistematika penulisan
Sitematika penulisan yang digunakan pada jurnal yang kita analisis sudah cukup bagus.
Sudah mencakup hal-hal yang harus ada pada sistem penulisan jurnal. Diantaranya judul
artikel, nama penulis, abstrak, pendahuluan, metode penelitian, hasil dan pembahasan,
kesimpulan, serta yang terakhir daftar pustaka.
b. Tata bahasa
Tata bahasa yang digunakan pada penulisan jurnal yang berjudul Comparison of Extrapleural
Anterolateral Decompression and Transthoracic Anterior Decompression for Tuberculosis of
The Dorsal Spine ini sudah baik, karena pembaca sudah bisa menangkap isi yang ditulis.
2. Penulis

a. Kualifikasi penulis
Penulis dalam jurnal ini sudah expert di bidangnya, terbukti dengan alamat yang disertakan
dibawahnya (Associate Professor Department of Orthopaedics Nobel Medical College &
Teaching Hospital, Biratnagar, Nepal).
3. Judul

a. Kelebihan
Judul yang digunakan cukup menarik sehingga mendorong pembaca untuk mengetahui
lebih lanjut mengenai isi jurnal
b. Kekurangan
Judul yang digunakan bahasanya terlalu ilmiah. Jadi, hanya kalangan tertentu yang bisa
memahaminya, umumnya tenaga kesehatan.
4. Abstrak

a. Kelebihan
Abstrak yang ditulis jelas, karena sudah menunjukkan data dari hasil penelitian. Selain
itu, abstrak ini mudah dibaca dan dipahami oleh pembaca.
b. Kekurangan

Dalam abstrak ini belum dijelaskan secara mendalam tentang sebab dari masalah yang
ditulis pada artikel jurnal.

C. Elemen yang Mempengaruhi Kekuatan Suatu Penelitian

1. Masalah dan Tujuan Penelitian


a. Masalah Penelitian
Masalah yang diangkat dalam penelitian ini sudah sesuai dengan topik bahasan, yaitu
masalah pendekatan anterolateral extrapleural untuk TB punggung tulang belakang.
b. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian telah sesuai dengan masalah yang diangkat dalam penelitian ini,
yaitu menilai efek dari dekompresi anterolateral extrapleural untuk TB punggung tulang
belakang dan membandingkannya dengan melakukan penilaian juga terhadap efek an
dekompresi anterior transthoracic. Juga ntuk membandingkan durasi operasi, jumlah
kehilangan darah, pemulihan neurologis dan tingkat komplikasi.

2. Sistematika penulisan
Sistematika penulisan jurnal penelitian ini cukup sistematis, runtut, dan padu. Hampir
tidak ada bagian yang terputus, karena antar bagian dalam jurnal saling berhubungan satu
sama lain. Penulisan jurnal penelitian ini juga telah memenuhi kriteria logis dan konsisten.

3. Kerangka teori
Jurnal yang berisi hasil riset ini telah mengintegrasikan berbagai macam teori untuk
membahas hasil penelitian, sehingga hasil penelitian tentang dekompresi anterolateral
extrapleural untuk TB punggung tulang belakang yang dibahas dalam riset ini dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Alur pikir peneliti juga dengan cukup bagus
dipaparkan dan diperkuat dengan beberapa teori dan riset sebelumnya.

4. Sasaran
Sasaran pada penelitian sudah jelas yaitu ditujukan untuk pengembangan ilmu medis atau
kesehatan dan dapat secara langsung diketahui oleh pembaca hanya dengan membaca judul
pada review artikel tersebut yaitu “Comparison of Extrapleural Anterolateral Decompression
and Transthoracic Anterior Decompression for Tuberculosis of The Dorsal Spine”.

5. Definisi operasional
Dalam jurnal, peneliti telah menjelaskan dengan baik mengenai material dan metode mulai
dari mencari strategi dan memperoleh sampel. Selain itu juga dijelaskan tahapan-tahapan
melakukan penelitian yang dilakukan terhadap beberapa pasien

6. Data analisis/hasil

a. Analisis statistik yang digunakan


Analisis statistik Data yang dimasukkan menggunakan Microsoft EXCEL versi 8
(Microsoft Corporation, Redmond, Washington). Keberhasilan pengacakan diuji dengan
membandingkan variabel deskriptif seperti usia, jenis kelamin, parameter hematologi,
neurologi deficeit dll Setiap perbedaan diukur sebagai perbedaan antara sarana pada kedua
kelompok. Signifikansi perbedaan ini diukur dengan menggunakan analisis parametrik dari
varians (ANOVA) atau uji non-parametrik Kruskall-Wallis berasal dari program komputer
Epi Info (Lingkungan Sistem Research Inc, New Delhi, India)

b. Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kehilangan darah dan durasi operasi secara
signifikan lebih tinggi pada kelompok transthoracic. 21 pasien dalam kelompok anterolateral
extrapleural dan 20 pasien di transthoracic kelompok transpleural menunjukkan pemulihan
neurologis dalam waktu 6 minggu operasi. Semua pasien yang tidak bisa menunjukkan
pemulihan neurologis dalam 6 minggu operasi menjalani myelography yang mengungkapkan
tidak ada blok. Hal ini menunjukkan bahwa dekompresi bedah yang memadai telah
tercapai. 3 pasien dalam kelompok anterolateral extrapleural dan 2 pasien dalam kelompok
anterior transthoracic menunjukkan tanda pertama pemulihan neurologis pada 3 bulan. 2
pasien dalam kelompok anterolateral dan 2 pasien dalam kelompok transthoracic tidak
menunjukkan pemulihan neurologis. Pada akhir satu tahun tidak ada perubahan yang
signifikan dalam kyphosis. Satu pasien dalam kelompok transthoracic telah luka dehiscence
yang debridement itu selesai diikuti oleh penjahitan sekunder.
Kesimpulannya, faktor yang menentukan untuk pendekatan tertentu yang preferensi,
keterampilan teknis ahli bedah, ketersediaan fasilitas perawatan bedah dan intensif dan
cadangan paru dari patient.We ditemukan dekompresi anterolateral melakukan lebih baik
daripada dekompresi anterior transthoracic dalam hal durasi operasi, jumlah kehilangan
darah, morbiditas pasca operasi tetapi tingkat pemulihan neurologis yang sama.
Pembahasan temuan hasil penelitian

a. Kelebihan
- Dalam penelitian ini hasil dari setiap penelitian dalam telah dijelaskan secara rinci dan
sistematis. Penelitian telah jelas mengungkapkan populasi yang diteliti, kelompok pembandig
dan hasil akhir dari penelitian.
- Isi dari jurnal serta cara penulisannya sudah relevan dengan kaidah penulisan jurnal ilmiah.
Pembahasan dalam jurnal juga sesuai dengan tema yang diangkat.
- Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data resmi dan dapat dipertanggung
jawabkan
b. Kekurangan
- Pada jurnal tidak dicantumkan tahun terbit dan kapan jurnal tersebut dipublikasikan.

BAB V
PENUTUP

1. Kesimpulan
 Spondilitis tuberkulosa adalah infeksi tuberkulosis ekstra pulmonal yang bersifat kronis
berupa infeksi granulomatosis disebabkan oleh kuman spesifik yaitu Mycobacterium
tuberculosa.
 Prognosis dari spondilitis tuberkulosa bergantung dari cepatnya dilakukan terapi dan ada
tidaknya komplikasi neurologis.
 Berdasarkan lokasi infeksi awal pada korpus vertebra dikenal tiga bentuk
spondilitis yaitu, Peridiskal / paradiskal, Sentral, Anterior dan Bentuk atipikal
 Manifestasi klinis pada spondilitis TB yaitu, sakit (kaku) pada punggung, pada
anak-anak sering disertai dengan menangis pada malam hari, pada awal
dijumpai nyeri interkostal, nyeri spinal menetap dan terbatasnya pergerakan
spinal, deformitas pada punggung (gibbus), pembengkakan setempat (abses),
paraplegia, paraparesis, atau nyeri radix saraf.

 Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh spondilitis tuberkulosa yaitu, Pott’s paraplegia,
ruptur abses paravertebra, cedera corda spinalis (spinal cord injury).
 Penatalaksanaan yang dapat dilakukan terbagi dua diantaranya terapi konservatif dan terapi
operatif.

Daftar Pustaka

Syaifuddin.2009.Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa


Keperawatan. Jakarta:EGC.
Nanda. (2012) Nursing Diagnoses: Definitions and Classification (NANDA) 2012-
2014. Willey-Blackwell.
Bulechek,Gloria M.. (et al.).2008. Nursing Intervention Classification (NIC) 6th
edition. Elsevier.
Moorhead, sue.2008. Nursing outcome Classification (NOC) 5th edition. Elsevier.
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20351541-PR-Marhamatunnisa.pdf kasus
spondilitis TB pdf.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28161/5/Chapter%20I.pdf.
Diposkan oleh qori husnul mulqiah di 06.46
http://qorihusnul.blogspot.co.id/2015/10/makalah-spondilitis.html

Desiyadi

 Home
 Video
 Kesehatan
 Konsultasi
 Tips Bagi Wanita Hamil
 About

For Solution Health

SPONDILITIS TUBERKULOSA

December 4, 2011

A. DEFINISI

Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis tulang belakang adalah peradangan granulomatosa


yg bersifat kronisdestruktif olehMycobacterium tuberculosis. Dikenal pula dengan nama
Pottds disease of the spine atau tuberculousvertebral osteomyelitis. Spondilitis ini paling
sering ditemukan pada vertebraT8 – L3dan paling jarang pada vertebraC1 2. Spondilitis
tuberkulosis biasanya mengenai korpus vertebra, tetapi jarang menyerang arkus vertebrae.

B. ETIOLOGI

Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri berbentuk batang yg bersifatacid-fastnon-


motile ( tahanterhadap asam pada pewarnaan, sehingga sering disebut juga sebagai
Basil/bakteri Tahan Asam (BTA))dan tidakdapat diwarnai dengan baik melalui cara yg
konvensional. Dipergunakanteknik Ziehl-Nielsonuntuk memvisualisasikannya.Bakteri tubuh
secara lambat dalam media egg-enriched dengan periode 6-8 minggu.

Produksi niasinmerupakankarakteristik Mycobacterium tuberculosis dan dapat membantu


untuk membedakannnya dengan spesies lainSpondilitis tuberkulosa merupakan infeksi
sekunder dari tuberkulosis di tempat lain di tubuh, 5 95 % disebabkan oleh mikobakterium
tuberkulosis tipik ( 2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin ) dan 5 10 % oleh
mikobakterium tuberkulosa atipik.

Lokalisasi spondilitis tuberkulosa terutama pada daerah vertebra torakal bawah dan lumbal
atas, sehingga didugaadanya infeksi sekunder dari suatu tuberkulosa traktus urinarius, yg
penyebarannyamelalui pleksus Batson pada vena paravertebralis.Meskipun menular, tetapi
orang tertular tuberculosis tidak semudah tertularflu.

Penularan penyakit ini memerlukan waktu pemaparan yg cukup lama dan intensifdengan
sumber penyakit (penular). Menurut Mayoclinic, seseorang yg kesehatanfisiknya baik,
memerlukan kontak dengan penderita TB aktif setidaknya 8 jam sehariselama 6 bulan, untuk
dapat terinfeksi.

Sementara masa inkubasi TB sendiri, yaituwaktu yg diperlukan dari mula terinfeksi sampai
menjadi sakit, diperkirakan sekitar6 bulan. Bakteri TB akan cepat mati bila terkena sinar
matahari langsung. Tetapidalam tempat yg lembab, gelap, dan pada suhu kamar, kuman dapat
bertahan hidupselama beberapa jam. Dalam tubuh, kuman ini dapat tertidur lama (dorman)
selamabeberapa tahun

C. PATOGENESIS/KLASIFIKASI

Spondilitis tuberkulosa merupakan suatu tuberkulosis tulang yang sifatnya sekunder dari
TBC tempat lain di dalamtubuh. Penyebarannya secara hematogen, diduga terjadinya
penyakit ini sering karena penyebaran hematogen dariinfeksi traktus urinarius melalui
pleksus Batson. Infeksi TBC vertebra ditandai dengan proses destruksi tulangprogresif tetapi
lambat di bagian depan (anterior vertebral body).

Penyebaran dari jaringan yang mengalami perkejuanakan menghalangi proses pembentukan


tulang sehingga berbentuk tuberculos squestra. Sedang jaringan granulasi TBCakan penetrasi
ke korteks dan terbentuk abses paravertebral yang dapat menjalar ke atas atau bawah
lewatligamentum longitudinal anterior dan posterior.

Sedangkan diskus intervertebralis karena avaskular lebih resisten tetapiakan mengalami


dehidrasi dan penyempitan karena dirusak oleh jaringan granulasi TBC. Kerusakan progresif
bagiananterior vertebra akan menimbulkan kifosis (Savant, 2007).Perjalanan penyakit
spondilitis tuberkulosa terdiri dari lima stadium yaitu:

1. Stadium implantasi Setelah bakteri berada dalam tulang, apabila daya tahan tubuh
penderita menurun, bakteri akan berduplikasimembentuk koloni yang berlangsung selama 6-8
minggu. Keadaan ini umumnya terjadi pada daerah paradiskus danpada anak-anak pada
daerah sentral vertebra.

2. Stadium destruksi awalSelanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra dan penyempitan yang
ringan pada diskus. Proses ini berlangsungselama 3-6 minggu.

3. Stadium destruksi lanjutPada stadium ini terjadi destruksi yang massif, kolaps vertebra,
dan terbentuk massa kaseosa serta pus yangberbentuk cold abses, yang tejadi 2-3 bulan
setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat terbentuksekuestrum dan kerusakan diskus
intervertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama di depan (wedginganterior)
akibat kerusakan korpus vertebra sehingga menyebabkan terjadinya kifosis atau gibbus.

4. Stadium gangguan neurologisGangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis


yang terjadi tetapi ditentukan oleh tekanan abses kekanalis spinalis. Vertebra torakalis
mempunyai kanalis spinalis yang kecil sehingga gangguan neurologis lebih mudahterjadi di
daerah ini. Apabila terjadi gangguan neurologis, perlu dicatat derajat kerusakan paraplegia
yaitu:

i. Derajat IKelemahan pada anggota gerak bawah setelah beraktivitas atau berjalan jauh. Pada
tahap ini belum terjadigangguan saraf sensoris.
ii. Derajat IIKelemahan pada anggota gerak bawah tetapi penderita masih dapat melakukan
pekerjaannya.

iii. Derajat IIIKelemahan pada anggota gerak bawah yang membatasi gerak atau aktivitas
penderita disertai denganhipoestesia atau anestesia.

iv. Derajat IVGangguan saraf sensoris dan motoris disertai dengan gangguan defekasi dan
miksi.TBC paraplegia atau Pott paraplegia dapat terjadi secara dini atau lambat tergantung
dari keadaan penyakitnya.Pada penyakit yang masih aktif, paraplegia terjadi karena tekanan
ekstradural dari abses paravertebral ataukerusakan langsung sumsum tulang belakang oleh
adanya granulasi jaringan. Paraplegia pada penyakit yang tidakaktif atau sembuh terjadi
karena tekanan pada jembatan tulang kanalis spinalis atau pembentukan jaringan fibrosisyang
progresif dari jaringan granulasi tuberkulosa. TBC paraplegia terjadi secara perlahan dan
dapat terjadidestruksi tulang disertai dengan angulasi dan gangguan vaskuler vertebra.

5. Stadium deformitas residua, Stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun setelah stadium
implantasi. Kifosis atau gibbus bersifat permanen karenakerusakan vertebra yang massif di
depan (Savant, 2007)

D. PATOFISIOLOGI

Kuman yg “bangun” kembali dari paru-paru akan menyebar mengikuti aliran darah ke
pembuluh tulang belakang dekatdengan ginjal. Kuman berkembang biak umumnya di tempat
aliran darah yg menyebabkan kuman berkumpul banyak (ujungpembuluh). Terutama di
tulang belakang, di sekitar tulang thorakal (dada) dan lumbal (pinggang) kuman
bersarang.Kemudian kuman tersebut akan menggerogoti badan tulang belakang, membentuk
kantung nanah (abses) yg bisamenyebar sepanjang otot pinggang sampai bisa mencapai
daerah lipat paha.

Dapat pula memacu terjadinya de “ormitas.Gejala awalnya adalah perkaratan “ umumnya


disebut pengapuran “ tulang belakang, sendi-sendi bahu, lutut, panggul.Tulang rawan ini
akan terkikis menipis hingga tak lagi ber” pungsi. Persendian terasa kaku dan nyeri,
kerusakan padatulang rawan sendi, pelapis ujung tulang yg ber”

ungsi sebagai bantalan dan peredam kejut bila dua ruang tulangberbenturan saat sendi
digerakkan.Terbentuknya abses dan badan tulang belakang yg hancur, bisa menyebabkan
tulang belakang jadi kolaps dan miring kearah depan. Kedua hal ini bisa menyebabkan
penekanan syara

“-syara” sekitar tulang belakang yg mengurus tungkaibawah, sehingga gejalanya bisa


kesemutan, baal-baal, bahkan bisa sampai kelumpuhan.Badan tulang belakang yg kolaps dan
miring ke depan menyebabkan tulang belakang dapat diraba dan menonjol dibelakang dan
nyeri bila tertekan, sering sebut sebagai gibbus Bahaya yg terberat adalah kelumpuhan
tungkai bawah, karena penekanan batang syara” di tulang belakang yg dapatdisertai
lumpuhnya syara” yg mengurus organ yg lain, seperti saluran kencing dan anus (saluran
pembuangan).

Tuberkulosis tulang adalah suatu proses peradangan yg kronik dan destrukti “yg disebabkan
basil tuberkulosis ygmenyebar secara hematogen dari” okus jauh, dan hampir selalu berasal
dari paru-paru. Penyebaran basil ini dapatterjadi pada waktu ineksi pri-mer atau pasca primer.
Penyakit ini sering ter-jadi pada anak-anak. Basil tuberkulosisbiasanya menyangkut dalam
spongiosa tulang. Pada tempat in “eksi timbul osteitis, kaseasi clan likui” aksi
denganpembentukan pus yg kemudian dapat mengalami kalsi“ ikasi. Berbeda dengan
osteomielitis piogenik, maka pembentukantulang baru pada tuberkulosis tulang sangat sedikit
atau tidak ada sama sekali. Di samping itu, periostitis dansekwester hampir tidak ada. Pada
tuberkulosis tulang ada kecenderungan terjadi perusakan tulang rawan sendi ataudiskus
intervertebra.Dari pemeriksaan”

isik Pada pemeriksaan re” leks” isiologis normal. Ditemukan hipestesia (raba) setinggi VT6.
Tidakditemukan adanya re” leks patologis. Pada pemeriksaan nervi cranialis tidak ditemukan
adanya kelainan.

E. PATOLOGI

Tuberkulosa pada tulang belakang dapat terjadi karena penyebaran hematogen atau
penyebaran langsung noduslimfatikus para aorta atau melalui jalur limfatik ke tulang dari
fokus tuberkulosa yang sudah ada sebelumnya di luartulang belakang. Pada penampakannya,
fokus infeksi primer tuberkulosa dapat bersifat tenang. Sumber infeksi yangpaling sering
adalah berasal dari sistem pulmoner dan genitourinarius.Pada anak-anak biasanya infeksi
tuberkulosa tulang belakang berasal dari fokus primer di paru-paru sementarapada orang
dewasa penyebaran terjadi dari fokus ekstrapulmoner (usus, ginjal, tonsil).

Penyebaran basil dapat terjadimelalui arteri intercostal atau lumbar yang memberikan suplai
darah ke dua vertebrae yang berdekatan, yaitusetengah bagian bawah vertebra diatasnya dan
bagian atas vertebra di bawahnya atau melalui pleksus Batsondsyang mengelilingi columna
vertebralis yang menyebabkan banyak vertebra yang terkena. Hal inilah yang
menyebabkanpada kurang lebih 70% kasus, penyakit ini diawali dengan terkenanya dua
vertebra yang berdekatan, sementara pada20% kasus melibatkan tiga atau lebih
vertebra.Berdasarkan lokasi infeksi awal pada korpus vertebra dikenal tiga bentuk spondilitis:

1. Peridiskal / paradiskalInfeksi pada daerah yang bersebelahan dengan diskus (di area
metafise di bawah ligamentum longitudinal anterior /area subkondral). Banyak ditemukan
pada orang dewasa. Dapat menimbulkan kompresi, iskemia dan nekrosis diskus.Terbanyak
ditemukan di regio lumbal.

2. SentralInfeksi terjadi pada bagian sentral korpus vertebra, terisolasi sehingga


disalahartikan sebagai tumor. Sering terjadipada anak-anak. Keadaan ini sering menimbulkan
kolaps vertebra lebih dini dibandingkan dengan tipe lain sehinggamenghasilkan deformitas
spinal yang lebih hebat. Dapat terjadi kompresi yang bersifat spontan atau akibat
trauma.Terbanyak di temukan di regio torakal.

3. AnteriorInfeksi yang terjadi karena perjalanan perkontinuitatum dari vertebra di atas dan
dibawahnya. Gambaranradiologisnya mencakup adanya scalloped karena erosi di bagian
anterior dari sejumlah vertebra (berbentuk baji).Pola ini diduga disebabkan karena adanya
pulsasi aortik yang ditransmisikan melalui abses prevertebral dibawahligamentum
longitudinal anterior atau karena adanya perubahan lokal dari suplai darah vertebral.

4. Bentuk atipikalDikatakan atipikal karena terlalu tersebar luas dan fokus primernya tidak
dapat diidentifikasikan. Termasukdidalamnya adalah tuberkulosa spinal dengan keterlibatan
lengkung syaraf saja dan granuloma yang terjadi di canalisspinalis tanpa keterlibatan tulang
(tuberkuloma), lesi di pedikel, lamina, prosesus transversus dan spinosus, sertalesi artikuler
yang berada di sendi intervertebral posterior. Insidensi tuberkulosa yang melibatkan elemen
posteriortidak diketahui tetapi diperkirakan berkisar antara 2%-10%.

F. MANIFESTASI KLINIS

Gambaran klinis spondilitis tuberkulosa yaitu:

a. Badan lemah, lesu, nafsu makan berkurang, dan berat badan menurun.

b. Suhu subfebril terutama pada malam hari dan sakit (kaku) pada punggung. Pada anak-anak
sering disertai denganmenangis pada malam hari.

c. Pada awal dijumpai nyeri interkostal, nyeri yang menjalar dari tulang belakang ke garis
tengah atas dada melaluiruang interkostal. Hal ini disebabkan oleh tertekannya radiks dorsalis
di tingkat torakal.

d. Nyeri spinal menetap dan terbatasnya pergerakan spinale. Deformitas pada punggung
(gibbus)

f. Pembengkakan setempat (abses)

g. Adanya proses tbc (Tachdjian, 2005).Kelainan neurologis yang terjadi pada 50 % kasus
spondilitis tuberkulosa karena proses destruksi lanjut berupa:

a. Paraplegia, paraparesis, atau nyeri radix saraf akibat penekanan medula spinalis yang
menyebabkan kekakuan padagerakan berjalan dan nyeri.

b. Gambaran paraplegia inferior kedua tungkai yang bersifat UMN dan adanya batas defisit
sensorik setinggi tempatgibbus atau lokalisasi nyeri interkostal (Tachdjian, 2005).

G. DIAGNOSIS SPONDILITIS TUBERKULOSA

Diagnosis pada spondilitis tuberkulosa meliputi:

1. Anamnesis

Anamnesis dilakukan untuk mendapatkan keterangan dari pasien, meliputi keluhan utama,
keluhan sistem badan,riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat
penyakit keluarga atau lingkungan.

2. Pemeriksaan fisika

a. Inspeksi Pada klien dengan spondilitis tuberkulosa kelihatan lemah, pucat, dan pada tulang
belakang terlihat bentukkiposis.

b. PalpasiSesuai dengan yang terlihat pada inspeksi, keadaan tulang belakang terdapat adanya
gibbus pada area tulangyang mengalami infeksi.

c. PerkusiPada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri ketok.


d. AuskultasiPada pemeriksaan auskultasi, keadaan paru tidak ditemukan kelainan.

3. Pemeriksaan medis dan laboratorium (Lauerman, 2006).

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG SPONDILITIS TUBERKULOSA

Pemeriksaan penunjang pada spondilitis tuberkulosa yaitu:

1. Pemeriksaan laboratoriuma.

Pemeriksaan darah lengkap didapatkan leukositosis dan LED meningkat.

b. Uji mantoux positif tuberkulosis.

c. Uji kultur biakan bakteri dan BTA ditemukan Mycobacterium.

d. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional.

e. Pemeriksaan hispatologis ditemukan tuberkel.

f. Pungsi lumbal didapati tekanan cairan serebrospinalis rendah.

g. Peningkatan CRP (C-Reaktif Protein).

h. Pemeriksaan serologi dengan deteksi antibodi spesifik dalam sirkulasi.

i. Pemeriksaan ELISA (Enzyme-Linked Immunoadsorbent Assay) tetapi menghasilkan


negatif palsu pada penderitadengan alergi.

j. Identifikasi PCR (Polymerase Chain Reaction) meliputi denaturasi DNA kuman


tuberkulosis melekatkannukleotida tertentu pada fragmen DNA dan amplifikasi
menggunakan DNA polimerase sampai terbentuk rantaiDNA utuh yang diidentifikasi dengan
gel.

2. Pemeriksaan radiologisa.

a. Foto toraks atau X-ray untuk melihat adanya tuberculosis pada paru. Abses dingin tampak
sebagai suatubayangan yang berbentuk spindle.

b. Pemeriksaan foto dengan zat kontras.

c. Foto polos vertebra ditemukan osteoporosis, osteolitik, destruksi korpus vertebra,


penyempitan diskusintervertebralis, dan mungkin ditemukan adanya massa abses
paravertebral.

d. Pemeriksaan mielografi.

e. CT scan memberi gambaran tulang secara lebih detail dari lesiirreguler, skelerosis, kolaps
diskus, dan gangguan sirkumferensi tulang.
f. MRI mengevaluasi infeksi diskus intervertebralis dan osteomielitis tulang belakang serta
menunjukkan adanyapenekanan saraf (Lauerman, 2006).

I. DIAGNOSIS BANDING SPONDILITIS TUBERKULOSA

Diagnosis banding pada spondilitis tuberkulosa yaitu:

1. Fraktur kompresi traumatik akibat tumor medulla spinalis.

2. Metastasis tulang belakang dengan tidak mengenai diskus dan terdapat karsinoma prostat.

3. Osteitis piogen dengan demam yang lebih cepat timbul.

4. Poliomielitis dengan paresis atau paralisis tungkai dan skoliosis.

5. Skoliosis idiopatik tanpa gibbus dan tanda paralisis.

6. Kifosis senilis berupa kifosis tidak lokal dan osteoporosis seluruh kerangka.

7. Penyakit paru dengan bekas empiema tulang belakang bebas penyakit.

8. Infeksi kronik non tuberkulosis seperti infeksi jamur (blastomikosis).

9. Proses yang berakibat kifosis dengan atau tanpa skoliosis (Currier, 2004).KET:

a. Infeksi piogenik (contoh : karena staphylococcal/suppurative spondylitis). Adanya


sklerosis atau pembentukan tulangbaru pada foto rontgen menunjukkan adanya infeksi
piogenik. Selain itu keterlibatan dua atau lebih corpus vertebrayang berdekatan lebih
menunjukkan adanya infeksi tuberkulosa daripada infeksi bakterial lain.

b. Infeksi enterik (contoh typhoid, parathypoid). Dapat dibedakan dari pemeriksaan


laboratorium.

c. Tumor/penyakit keganasan (leukemia, Hodgkinds disease, eosinophilic granuloma,


aneurysma bone cyst danEwingds sarcoma) Metastase dapat menyebabkan destruksi dan
kolapsnya corpus vertebra tetapi berbedadengan spondilitis tuberkulosa karena ruang
diskusnya tetap dipertahankan. Secara radiologis kelainan karenainfeksi mempunyai bentuk
yang lebih difus sementara untuk tumor tampak suatu lesi yang berbatas jelas.

d. Scheuermannds disease mudah dibedakan dari spondilitis tuberkulosa oleh karena tidak
adanya penipisan korpusvertebrae kecuali di bagian sudut superior dan inferior bagian
anterior dan tidak terbentuk abses paraspinal.

J. PROGNOSIS SPONDILITIS TUBERKULOSA

Spondilitis tuberkulosa merupakan penyakit menahun dan apabila dapat sembuh secara
spontan akan memberikancacat pembengkokan pada tulang punggung. Dengan jalan radikal
operatif, penyakit ini dapat sembuh dalam waktusingkat sekitar 6 bulan (Tachdjian,
2005).Prognosis dari spondilitis tuberkulosa bergantung dari cepatnya dilakukan terapi dan
ada tidaknya komplikasineurologis. Diagnosis sedini mungkin dan pengobatan yang tepat,
prognosisnya baik walaupun tanpa operasi. Penyakitdapat kambuh apabila pengobatan tidak
teratur atau tidak dilanjutkan setelah beberapa saat karena terjadi resistensiterhadap
pengobatan (Lindsay, 2008).Untuk spondilitis dengan paraplegia awal, prognosis untuk
kesembuhan saraf lebih baik sedangkan spondilitis denganparaplegia akhir, prognosis
biasanya kurang baik. Apabila paraplegia disebabkan oleh mielitis tuberkulosa
prognosisnyaad functionam juga buruk (Lindsay, 2008)..

K. KOMPLIKASI SPONDILITIS TUBERKULOSA

Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh spondilitis tuberkulosa yaitu:

1. Pottds paraplegiaa.

a. Muncul pada stadium awal disebabkan tekanan ekstradural oleh pus maupun sequester atau
invasi jaringangranulasi pada medula spinalis. Paraplegia ini membutuhkan tindakan operatif
dengan cara dekompresi medulaspinalis dan saraf.

b. Muncul pada stadium lanjut disebabkan oleh terbentuknya fibrosis dari jaringan granulasi
atau perlekatantulang (ankilosing) di atas kanalis spinalis.

2. Ruptur abses paravertebraa.

a. Pada vertebra torakal maka nanah akan turun ke dalam pleura sehingga menyebabkan
empiema tuberculosis

b. Pada vertebra lumbal maka nanah akan turun ke otot iliopsoas membentuk psoas abses
yang merupakan coldabsces (Lindsay, 2008).

3. Cedera corda spinalis (spinal cord injury). Dapat terjadi karena adanya tekanan ekstradural
sekunder karena pustuberkulosa, sekuestra tulang, sekuester dari diskus intervertebralis
(contoh : Pottds paraplegia “ prognosabaik) atau dapat juga langsung karena keterlibatan
korda spinalis oleh jaringan granulasi tuberkulosa (contoh :menigomyelitis “ prognosa
buruk). Jika cepat diterapi sering berespon baik (berbeda dengan kondisi paralisis
padatumor). MRI dan mielografi dapat membantu membedakan paraplegi karena tekanan
atau karena invasi dura dancorda spinalis.

L. PENATALAKSANAAN SPONDILITIS TUBERKULOSA

Pada prinsipnya pengobatan spondilitis tuberkulosa harus dilakukan segera untuk


menghentikan progresivitaspenyakit dan mencegah atau mengkoreksi paraplegia atau defisit
neurologis. Prinsip pengobatan Pottds paraplegiayaitu:

1. Pemberian obat antituberkulosis.

2. Dekompresi medula spinalis.

3. Menghilangkan atau menyingkirkan produk infeksi.

4. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft) (Graham, 2007).


Pengobatan pada spondilitis tuberkulosa terdiri dari:

1. Terapi konservatifa.

a. Tirah baring (bed rest).

b. Memberi korset yang mencegah atau membatasi gerak vertebra.

c. Memperbaiki keadaan umum penderita.

d. Pengobatan antituberkulosa.Standar pengobatan berdasarkan program P2TB paru yaitu:

i. Kategori I untuk penderita baru BTA (+/-) atau rontgen (+).

a) Tahap 1 diberikan Rifampisin 450 mg, Etambutol 750 mg, INH 300 mg, dan Pirazinamid
1.500 mgsetiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali).

b) Tahap 2 diberikan Rifampisin 450 mg dan INH 600 mg 3 kali seminggu selama 4 bulan
(54 kali).

ii. Kategori II untuk penderita BTA (+) yang sudah pernah minum obat selama sebulan,
termasuk penderitayang kambuh.

1. Tahap 1 diberikan Streptomisin 750 mg, INH 300 mg, Rifampisin 450 mg, Pirazinamid
1500 mg, danEtambutol 750 mg setiap hari. Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60
kali) dan obat lainnyaselama 3 bulan (90 kali).

2. Tahap 2 diberikan INH 600 mg, Rifampisin 450 mg, dan Etambutol 1250 mg 3 kali
seminggu selama 5bulan (66 kali).Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan
umum penderita bertambah baik, LED menurun danmenetap, gejala-gejala klinis berupa
nyeri dan spasme berkurang, serta gambaran radiologis ditemukanadanya union pada
vertebra.

2. Terapi operatifa.

a. Apabila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau malah semakin
berat. Biasanya 3minggu sebelum operasi, penderita diberikan obat tuberkulostatik.

b. Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka, debrideman,
dan bone graft.

c. Pada pemeriksaan radiologis baik foto polos, mielografi, CT, atau MRI ditemukan adanya
penekanan padamedula spinalis (Ombregt, 2005).Walaupun pengobatan kemoterapi
merupakan pengobatan utama bagi penderita spondilitis tuberkulosa tetapioperasi masih
memegang peranan penting dalam beberapa hal seperti apabila terdapat cold absces (abses
dingin),lesi tuberkulosa, paraplegia, dan kifosis.

a. Cold abscesCold absces yang kecil tidak memerlukan operasi karena dapat terjadi resorbsi
spontan dengan pemberiantuberkulostatik. Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah.
b. Lesi tuberkulosa

1) Debrideman fokal.

2) Kosto-transveresektomi.

3) Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan.

c. Kifosis

1) Pengobatan dengan kemoterapi.

2) Laminektomi.

3) Kosto-transveresektomi.

4) Operasi radikal.

5) Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang.Operasi kifosis dilakukan apabila
terjadi deformitas hebat. Kifosis bertendensi untuk bertambah berat,terutama pada anak.
Tindakan operatif berupa fusi posterior atau operasi radikal (Graham, 2007)

GAMBARAN KLINIS PADA SPONDILITIS TUBERKULOSIS

Abstrak
Spondilitis tuberkulosa merupakan peradangan granulomatosa yang bersifat kronik
destruktif yang disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosa. Pada awal dapat dijumpai nyeri
radikuler yang mengelilingi dada atau perut,kemudian diikuti dengan paraparesis yang
lambat laun makin memberat, spastisitas, klonus, hiperrefleksia dan refleks Babinski
bilateral. Nyeri spinal yang menetap, terbatasnya pergerakan spinal, dan komplikasi
neurologis merupakan tanda terjadinya destruksi yang lebih lanjut. Pasien datang dengan
keluhan utama sesak, nyeri tulang belakang, kelemahan anggota gerak bawah. Dari
pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan refleks fisiologis normal. Ditemukan hipestesia (raba)
setinggi VT6. Tidak ditemukan adanya refleks patologis. Pada pemeriksaan nervi cranialis
tidak ditemukan adanya kelainan.

Kasus
Seorang laki-laki berumur 31 tahun dirawat di RSUD Temanggung dengan keluhan utama
sesak, nyeri tulang belakang, dan keterbatasan gerak. 8 bulan sebelum masuk rumah sakit,
pasien mengeluh nyeri punggung yang dirasakan terutama saat berjalan dan bangun tidur.
Namun pasien masih sanggup untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari dan tidak ada
keluhan lainnya. Selama itu pasien belum pernah mendapatkan pengobatan apapun.
7 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien merasakan keluhan nyeri punggungnya semakin
bertambah berat. Kemudian pasien memeriksakan ke RSUD Temanggung. Pasien diusulkan
untuk melakukan foto rontgen. Dari hasil foto rontgen, pasien diberitahu bahwa terdapat
tumor ditulang belakangnya dan disarankan untuk pindah ke RS yang lebih baik. Kemudian
pasien mengikuti saran tersebut dan berobat ke RS Karyadi Semarang dengan menggunakan
mobil sewaan sendiri. Dalam awal perjalanannya ke RS, pasien masih dapat duduk, namun
ditengah perjalanan pasien seperti kecetit dan merasakan nyeri yang hebat dan tidak bisa
duduk. Di RS Karyadi, pasien menolak pengobatan lebih lanjut dan selama itu pasien hanya
bisa berbaring dan mendapatkan perawatan seadanya dan hanya dipijat. Dan selama itu
pasien masih bisa menggerakkan tangan dan kakinya.
3 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien mulai mengalami penurunan berat badan, nafsu
makan yang menurun dan sering mual. Pasien juga mengeluh batuk disertai demam namun
hanya beberapa hari saja. Pasien juga mulai merasakan sesak nafas. Selama sakit, pasien
hanya bisa berbaring dan miring kanan-kiri saja.
1 minggu sebelum masuk rumah sakit, pasien mulai merasakan sesak nafas, nyeri tulang
belakangnya semakin berat dan kaki tidak bisa digerakkan dan hanya bisa berbaring ke
kanan. Pasien tidak bisa makan dan hanya minum saja. Berat badannya semakin menurun
drastis. BAK/BAB biasa.
1 hari setelah masuk rumah sakit, pasien mengeluh mual dan muntah 1x. Kemudian pasien
pingsan dan dilarikan ke IGD RSUD Temanggung dan dirawat di ICU.
3 hari setelah MRS pasien sudah sadar dan dalam keadaan cukup baik. Pasien mengeluh
badan lemes, pusing, mual dan sering cegukan. Pasien juga masih merasakan sesak nafas,
nyeri tulang belakangnya dan kelemahan anggota gerak bawah dan belum BAB.
Tidak ada riwayat batuk lama, hipertensi, diabetes melitus, demam tinggi, trauma maupun
kejang.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak lemah dan kurus, kesadaran
compos mentis, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 82 x/menit, pernafasan 28 x/menit
ireguler, status gizi kurang. Dari pemeriksaan Thorax, paru-paru asimetris, perkusi redup dan
didapatkan ronkhi. Pada jantung, suara jantung S1-S2 ireguler. Pemeriksaan abdomen tidak
ditemukan kelainan. Pada ekstremitas bawah terdapat keterbatasan gerak, hipotonus dan
atrofi. Dari status neurologis, pada pemeriksaan leher, tanda meningeal tidak dapat dilakukan
karena ada keterbatasan gerak dan nyeri yang hebat pada pasien.
Pada pemeriksaan refleks fisiologis normal. Ditemukan hipestesia (raba) setinggi VT6. Tidak
ditemukan adanya refleks patologis. Pada pemeriksaan nervi cranialis tidak ditemukan
adanya kelainan.
Pada pemeriksaan darah rutin dan kimia darah didapatkan hasil hemoglobin 11.4 g/dl (L),
hematokrit 36 % (L), angka leukosit 20 103/Ul (H), jumlah trombosit 660.106/Ul (H), MCV
78,1 fl (L), MCH 25 pg (L), limfosit 8,4 % (L), neutrofil 70,8 % (H), LED 1 Jam 60 mm (H),
LED 2 Jam 82 mm (H), Kreatinin 0,44 mg/dl (L).

Pada pemeriksaan foto rontgen thorax anteroposterior asimetris, didapatkan kesan efusi
pleura bilateral dan osteodestruksi os costae VI dekstra aspect posterior, corpus VTh VI-VII
dan VIII dengan pedikel menghilang curiga proses primer.

Diagnosis
– Diagnosa Klinik : low back pain dg paraparesis inferior flaksid dan hipestesia setinggi
VT 6 disertai dispneu, dispepsia, dan cephalgia
– Diagnosis topik : kornu anterior dan kornu dorsalis
– Diagnosis etiologi :
– Spondilitis tb dd
– neoplasma – tumor ekstradural (sarkoma, fibroma, lipoma, angiolipoma, neurinoma)
– tumor intradural ekstramedular(meningioma, neurinoma, ependimoma ektopik)

Terapi
Terdapat dua aspek penatalaksanaan yang harus diberikan pada pasien yaitu secara
medikamentosa, diberikan O2 2-3l/m, infus RL 20 tpm, FDC 3 kali 1 sehari, Cefotaxime
injeksi 2 kali 1 gram, Ketorolac injeksi 3 kali 30 mg, Ranitidin injeksi 2 kali 1 ampul, dan
mecobalamin injeksi 1 kali 1 ampul. Secara non medikamentosa dilakukan tirah baring pada
pasien, memberi korset yang mencegah gerakan vertebra/membatasi gerak vertebra,
mengedukasi terhadap pasien dan keluarga tentang penyakit pasien, dilakukan fisioterapi, dan
tetap menjaga dan memenuhi kebutuhan gizi yang baik pada pasien.

Diskusi
Spondilitis tuberkulosa atau yang dikenal juga sebagai penyakit Pott, paraplegi Pott,
merupakan 50% dari seluruh tuberkulosis tulang dan sendi. Pada negara yang sedang
berkembang, sekitar 60% kasus terjadi pada usia dibawah usia 20 tahun sedangkan pada
negara maju, lebih sering mengenai pada usia yang lebih tua. Tuberkulosis tulang belakang
merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain di tubuh, 90-95% disebabkan
oleh mikobakterium tuberkulosis tipik (2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe bovin) dan 5-
10% oleh mikobakterium tuberkulosa atipik.
Kerusakan medulla spinalis akibat penyakit Pott terjadi melalui kombinasi 4 faktor yaitu
adanya penekanan oleh abses dingin, iskemia akibat penekanan pada arteri spinalis,
terjadinya endarteritis tuberkulosa setinggi blokade spinalnya, penyempitan kanalis spinalis
akibat angulasi korpus vertebra yang rusak.
Menurut Kumar perjalanan penyakit ini terbagi dalam 5 stadium yaitu : Stadium implantasi,
dimana setelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan tubuh penderita menurun,
bakteri akan berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung selama 6-8 minggu, kemudian
stadium destruksi awal dimana setelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi
korpus vertebra serta penyempitan yang ringan pada discus. Proses ini berlangsung selama 3-
6 minggu. Selanjutnya Stadium destruksi lanjut, pada stadium ini terjadi destruksi yang
masif, kolaps vertebra dan terbentuk massa kaseosa serta pus yang berbentuk cold abses
(abses dingin), yang tejadi 2-3 bulan setelah stadium destruksi awal. Selanjutnya dapat
terbentuk sekuestrum serta kerusakan diskus intervertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang
baji terutama di sebelah depan (wedging anterior) akibat kerusakan korpus vertebra, yang
menyebabkan terjadinya kifosis atau gibbus. Selanjutnya stadium dimana terjadi gangguan
neurologis. Gangguan neurologis tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi, tetapi
terutama ditentukan oleh tekanan abses ke kanalis spinalis. Gangguan ini ditemukan 10% dari
seluruh komplikasi spondilitis tuberkulosa. Vertebra torakalis mempunyai kanalis spinalis
yang lebih kecil sehingga gangguan neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini. Terakhir
adalah stadium deformitas residual dimana pada stadium ini terjadi kurang lebih 3-5 tahun
setelah timbulnya stadium implantasi. Kifosis atau gibbus bersifat permanen oleh karena
kerusakan vertebra yang massif di sebelah depan.
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberkulosis
pada umumnya, yaitu badan lemah/lesu, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, suhu
sedikit meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta sakit pada punggung. Pada awal
dapat dijumpai nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut,kemudian diikuti dengan
paraparesis yang lambat laun makin memberat, spastisitas, klonus, hiperrefleksia dan refleks
Babinski bilateral. Nyeri spinal yang menetap, terbatasnya pergerakan spinal, dan komplikasi
neurologis merupakan tanda terjadinya destruksi yang lebih lanjut. Kelainan neurologis
terjadi pada sekitar 50% kasus,termasuk akibat penekanan medulla spinalis yang
menyebabkan paraplegia, paraparesis, ataupun nyeri radiks saraf. Tanda yang biasa
ditemukan di antaranya adalah adanya kifosis (gibbus), bengkak pada daerah paravertebra,
dan tanda-tanda defisit neurologis seperti yang sudah disebutkan di atas. Pada tuberkulosis
vertebra servikal dapat ditemukan nyeri di daerah belakang kepala, gangguan menelan dan
gangguan pernapasan akibat adanya abses retrofaring.
Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik didapatkan data-data seperti penjelasan diatas
yang menunjang terhadap penegakkan diagnosis spondilitis tuberkulosis. Adanya badan
lemah/lesu, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, suhu sedikit meningkat (subfebril)
serta sakit pada punggung dan gangguan dalam defekasi merupakan gejala yang terdapat
pada pasien ini. Adanya nyeri spinal, hipestesia, keterbatasan gerak, hipotonus dan atrofi
pada ekstremitas bawah merupakan beberapa tanda yang ditemukan pada pasien ini.
Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan sesegera mungkin
untuk menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah paraplegia. Prinsip pengobatan
paraplegia Pott yaitu memberikan obat antituberkulosis, dekompresi medulla spinalis,
menghilangkan/ menyingkirkan produk infeksi, stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone
graft). Terapinya sendiri terdiri dari terapi konservatif dan terapi operatif.

Kesimpulan
Spondilitis tuberkulosa merupakan peradangan granulomatosa yang bersifat kronik
destruktif yang disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosa. Spondilitis tuberkulosa atau
yang dikenal juga sebagai penyakit Pott, paraplegi Pott, merupakan 50% dari seluruh
tuberkulosis tulang dan sendi. Nyeri spinal yang menetap, terbatasnya pergerakan spinal, dan
komplikasi neurologis merupakan tanda terjadinya destruksi yang lebih lanjut. Pengobatan
tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan sesegera mungkin untuk menghentikan
progresivitas penyakit serta mencegah paraplegia

Referensi

1.Anonim, 2007. Spondylitis Tuberkulosa. Diakses tanggal 25 Agustus 2010 dari


http://www.medlinux.blogspot.com
2. Harsono, 2003. Spondilitis Tuberkulosa dalam Kapita Selekta Neurologi. Ed. II.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press. p. 195-197
3. Hidalgo, J.A., 2005. Pott Disease. Diakses tanggal 25 Agustus 2010 dari
http://www.eMedicine.com/med/topic
4. Rasjad C., 2003. Spondilitis Tuberkulosa dalam Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Ed.II.
Makassar: Bintang Lamumpatue. p. 144-149
5. Tamburaf, V., 2006. Spinal Tuberculosis. Diakses tanggal 25 Agustus 2010 dari
http://www.infeksi.com

Faktor resiko

•Endemic tuberculosis

•Kondisi sosio-ekonomi yang kurang

•Infeksi HIV

•Tempat tinggal yang padat

•Malnutrisi

•Alkoholisme

•Penggunaan obat – obatan kortikosteroid

•Diabetes mellitus

•Gelandangan
https://desiyunistia.wordpress.com/2011/12/04/spondilitis-tuberkulosa/

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN SPONDILITIS

Pengertian
Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi granulomatosis di sebabkan
oleh kuman spesifik yaitu mycubacterium tuberculosa yang mengenai tulang vertebra
(Abdurrahman, et al 1994; 144 )

Spondilitis TB adalah peradangan granulonatosa yang bersifat kronis, destruktif oleh mikrobakterium
TB. TB tulang belakang selalu merupakan infeksi sekunder dari focus ditempat lain dalam tubuh.
Percivall (1973) adalah penulis pertama tentang penyakit ini dan menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara penyakit ini dengan deformitas tulnag belakang yang terjadi, sehingga penyakit ini
disebut juga sebagai penyakit Pott. (Rasjad, 1998).

Spondilitis TB disebut juga penyakit Pott bila disertai paraplegi atau defisit neurologis. Spondilitis ini
paling sering ditemukan pada vertebra Th 8-L3 dan paling jarang pada vertebra C2. Spondilitis TB
biasanya mengenai korpus vertebra, sehingga jarang menyerang arkus vertebra (Mansjoer, 2000).

Penyakit Pott adalah osteomielitis tuberculosis yang mengenai tulang belakang. (Brooker. 2001)

Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitis tuberkulosa merupakan
peradangan granulomatosa yang bersifat kronik destruktif yang disebabkan oleh mikobakterium
tuberkulosa.

Tuberkulosis yang muncul pada tulang belakang merupakan tuberkulosis sekunder yang biasanya
berasal dari tuberkulosis ginjal. Berdasarkan statistik, spondilitis tuberkulosis atau Pott’s disease
paling sering ditemukan pada vertebra torakalis segmen posterior dan vertebra lumbalis segmen
anterior (T8-L3), coxae dan lutut serta paling jarang pada vertebra C1-2. (1,2,3,4)

Tuberkulosis pada vertebra ini sering terlambat dideteksi karena hanya terasa nyeri
punggung/pinggang yang ringan. Pasien baru memeriksakan penyakitnya bila sudah timbul abses
ataupun kifosis.

Etiologi
Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain di tubuh,
90-95% disebabkan oleh mikobakterium tuberkulosis tipik (2/3 dari tipe human dan 1/3 dari tipe
bovin) dan 5-10% oleh mikobakterium tuberkulosa atipik. Kuman ini berbentuk batang, mempunyai
sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil
Tahan Asam (BTA). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan
hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat
dorman, tertidur lama selama beberapa tahun. (Rasjad. 1998)
Manifestasi Klinis
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberkulosis pada
umumnya, yaitu badan lemah/lesu, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, suhu sedikit
meningkat (subfebril) terutama pada malam hari serta sakit pada punggung. Pada anak-anak sering
disertai dengan menangis pada malam hari. (Rasjad. 1998)

Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler yang mengelilingi dada atau perut,kemudian diikuti dengan
paraparesis yang lambat laun makin memberat, spastisitas, klonus,, hiper-refleksia dan refleks
Babinski bilateral. Pada stadium awal ini belum ditemukan deformitas tulang vertebra, demikian
pula belum terdapat nyeri ketok pada vertebra yang bersangkutan. Nyeri spinal yang menetap,
terbatasnya pergerakan spinal, dan komplikasi neurologis merupakan tanda terjadinya destruksi
yang lebih lanjut. Kelainan neurologis terjadi pada sekitar 50% kasus,termasuk akibat penekanan
medulla spinalis yang menyebabkan paraplegia, paraparesis, ataupun nyeri radix saraf. Tanda yang
biasa ditemukan di antaranya adalah adanya kifosis (gibbus), bengkak pada daerah paravertebra,
dan tanda-tanda defisit neurologis seperti yang sudah disebutkan di atas. (Harsono,2003)

Pada tuberkulosis vertebra servikal dapat ditemukan nyeri di daerah belakang kepala, gangguan
menelan dan gangguan pernapasan akibat adanya abses retrofaring. Harus diingat pada mulanya
penekanan mulai dari bagian anterior sehingga gejala klinis yang muncul terutama gangguan
motorik. Gangguan sensorik pada stadium awal jarang dijumpai kecuali bila bagian posterior tulang
juga terlibat. (Harsono,2003)

Patofisiologi
Spondilitis tuberkulosa merupakan suatu tuberkulosis tulang yang sifatnya sekunder dari TBC tempat
lain di tubuh. Penyebarannya secara hematogen, di duga terjadinya penyakit tersebut sering karena
penyebaran hematogen dari infeksi traktus urinarius melalui leksus Batson. Infeksi TBC vertebra di
tandai dengan proses destruksi tulang progresif tetapi lambat di bagian depan (anterior vertebral
body).Penyebaran dari jaringan yang mengalami pengejuan akan menghalangi proses pembentukan
tulang sehingga berbentuk "tuberculos squestra". Sedang jaringan granulasi TBC akan penetrasi ke
korteks dan terbentuk abses para vertebral yang dapat menjalar ke atas / bawah lewat ligamentum
longitudinal anterior dan posterior. Sedang diskus Intervertebralis oleh karena avaskular lebih
resisten tetapi akan mengalami dehidrasi dan terjadi penyempitan oleh karenadirusak jaringan
granulasi TBC. Kerusakan progresif bagian anterior vertebra akan menimbulkan kiposis.

Pathways
5.Komplikasi
Komplikasi dari spondilitis tuberkulosis yang paling serius adalah Pott’s paraplegia yang apabila
muncul pada stadium awal disebabkan tekanan ekstradural oleh pus maupun sequester, atau invasi
jaringan granulasi pada medula spinalis dan bila muncul pada stadium lanjut disebabkan oleh
terbentuknya fibrosis dari jaringan granulasi atau perlekatan tulang (ankilosing) di atas kanalis
spinalis.

Mielografi dan MRI sangatlah bermanfaat untuk membedakan penyebab paraplegi ini. Paraplegi
yang disebabkan oleh tekanan ekstradural oleh pus ataupun sequester membutuhkan tindakan
operatif dengan cara dekompresi medulla spinalis dan saraf.

Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah ruptur dari abses paravertebra torakal ke dalam pleura
sehingga menyebabkan empiema tuberkulosis, sedangkan pada vertebra lumbal maka nanah akan
turun ke otot iliopsoas membentuk psoas abses yang merupakan cold abscess.
6. Pemeriksaan Penunjang

A. Pemeriksaan laboratorium

1) Pemeriksaan darah lengkap :leukositosis, LED meningkat

2) Uji mantoux (+) TB

3) Uji kultur : biakan batkeri

4) Biopsi, jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional

5) Pemeriksaan hispatologis : dapat ditemukan tuberkel

B. Pemeriksaan Radiologis

a) Foto toraks / X – ray

b) Pemeriksaan foto dengan zat kontras

c) Foto polos vertebra

d) Pemeriksaan mielografi

e) CT scan atau CT dengan mielografi

f) MRI

7.Penatalaksanaan Medis

Pada prinsipnya pengobatan tuberkulosis tulang belakang harus dilakukan sesegera mungkin untuk
menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah paraplegia.

Prinsip pengobatan paraplegia Pott sebagai berikut :

1. Pemberian obat antituberkulosis


2. Dekompresi medulla spinalis
3. Menghilangkan/ menyingkirkan produk infeksi
4. Stabilisasi vertebra dengan graft tulang (bone graft)
Pengobatan terdiri atas :
1. Terapi konservatif berupa:

Tirah baring (bed rest)


Memberi korset yang mencegah gerakan vertebra /membatasi gerak vertebra
Memperbaiki keadaan umum penderita
Pengobatan antituberkulosa

Standar pengobatan di indonesia berdasarkan program P2TB paru adalah :


- Kategori 1

Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA(-)/rontgen (+), diberikan dalam 2 tahap ;

Tahap 1 : Rifampisin 450 mg, Etambutol 750 mg, INH 300 mg dan Pirazinamid 1.500 mg. Obat ini
diberikan setiap hari selama 2 bulan pertama (60 kali).

Tahap 2: Rifampisin 450 mg, INH 600 mg, diberikan 3 kali seminggu (intermitten) selama 4 bulan (54
kali).

- Kategori 2

Untuk penderita BTA(+) yang sudah pernah minum obat selama sebulan, termasuk penderita dengan
BTA (+) yang kambuh/gagal yang diberikan dalam 2 tahap yaitu :

· Tahap I diberikan Streptomisin 750 mg , INH 300 mg, Rifampisin 450 mg, Pirazinamid 1500mg dan
Etambutol 750 mg. Obat ini diberikan setiap hari , Streptomisin injeksi hanya 2 bulan pertama (60
kali) dan obat lainnya selama 3 bulan (90 kali).

· Tahap 2 diberikan INH 600 mg, Rifampisin 450 mg dan Etambutol 1250 mg. Obat diberikan 3 kali
seminggu (intermitten) selama 5 bulan (66 kali).
Kriteria penghentian pengobatan yaitu apabila keadaan umum penderita bertambah baik, laju endap
darah menurun dan menetap, gejala-gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang serta
gambaran radiologik ditemukan adanya union pada vertebra.

2. Terapi operatif

Indikasi operasi yaitu:

• Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau malah semakin berat.
Biasanya tiga minggu sebelum tindakan operasi dilakukan, setiap spondilitis tuberkulosa diberikan
obat tuberkulostatik.

• Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka dan sekaligus
debrideman serta bone graft.

• Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi ataupun pemeriksaan CT dan MRI
ditemukan adanya penekanan langsung pada medulla spinalis.

Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi penderita tuberkulosis


tulang belakang, namun tindakan operatif masih memegang peranan penting dalam beberapa hal,
yaitu bila terdapat cold abses (abses dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia dan kifosis.

Abses Dingin (Cold Abses)

Cold abses yang kecil tidak memerlukan tindakan operatif oleh karena dapat terjadi resorbsi spontan
dengan pemberian tuberkulostatik. Pada abses yang besar dilakukan drainase bedah. Ada tiga cara
menghilangkan lesi tuberkulosa, yaitu:

a. Debrideman fokal

b. Kosto-transveresektomi

c. Debrideman fokal radikal yang disertai bone graft di bagian depan.


Paraplegia

Penanganan yang dapat dilakukan pada paraplegia, yaitu:

a. Pengobatan dengan kemoterapi semata-mata

b. Laminektomi

c. Kosto-transveresektomi

d. Operasi radikal

e. Osteotomi pada tulang baji secara tertutup dari belakang

Operasi kifosis

Operasi kifosis dilakukan bila terjadi deformitas yang hebat,. Kifosis mempunyai tendensi untuk
bertambah berat terutama pada anak-anak. Tindakan operatif dapat berupa fusi posterior atau
melalui operasi radikal.

Operasi PSSW
Operasi PSSW adalah operasi fraktur tulang belakang dan pengobatan tbc tulang belakang yang
disebut total treatment (1989).
Metode ini mengobati tbc tulang belakang berdasarkan masalah dan bukan hanya sebagai infeksi tbc
yang dapat dilakukan oleh semua dokter. Tujuannya, penyembuhan TBC tulang belakang dengan
tulang belakang yang stabil, tidak ada rasa nyeri, tanpa deformitas yang menyolok dan dengan
kembalinya fungsi tulang belakang, penderita dapat kembali ke dalam masyarakat, kembali pada
pekerjaan dan keluarganya.

8.Dampak Masalah

a) Terhadap Individu.

Sebagai orang sakit, khusus klien spondilitis tuberkolosa akan mengalami suatau perubahan, baik iru
bio, psiko sosial dan spiritual yang akan selalu menimbulkan dampak yang di karenakan baik itu oleh
proses penyakit ataupun pengobatan dan perawatan oelh karena adanya perubahan tersebut akan
mempengaruhi pola - pola fungsi kesehatan antara lain :

1. Pola nutrisi dan metabolisme.

Akibat proses penyakitnya klien merasakan tubuhnya menjadi lemah dan anoreksia, sedangkan
kebutuhan metabolisme tubuh semakin meningkat sehingga klien akan mengalami gangguan pada
status nutrisinya.

2. Pola aktifitas.

Sehubungan dengan adanya kelemahan fisik nyeri pada punggung menyebabkan klien membatasi
aktifitas fisik dan berkurangnya kemampuan dalam melaksanakan aktifitas fisik tersebut.

3. Pola persepsi dan konsep diri.

Klien dengan Spondilitis teberkulosa seringkali merasa malu terhadap bentuk tubuhnya dan kadang -
kadang mengisolasi diri.

b) Dampak terhadap keluarga.

Dalam sebuah keluarga, jika salah satu anggota keluarga sakit, maka yang lain akan merasakan
akibatnya yang akan mempengaruhi atau merubah segala kondisi aktivitas rutin dalam keluarga itu.

A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Spondilitis


Proses keperawatan adalah suatu sistem dalam merencanakan pelayanan asuhan keperawatan dan
juga sebagai alat dalam melaksanakan praktek keperawatan yang terdiri dari lima tahap yang
meliputi : pengkajian, penentuan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. (
Lismidar, 1990 : IX ).

1. Pengkajian.

Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan. Pengkajian di lakukan dengan
cermat untuk mengenal masalah klien, agar dapat memeri arah kepada tindakan keperawatan.
Keberhasilan proses keperawatan sangat tergantung pada kecermatan dan ketelitian dalam tahap
pengkajian. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan yaitu : pengumpulan data, pengelompokan
data, perumusan diagnosa keperawatan. ( Lismidar 1990 : 1)

a. Pengumpulan data.

Secara tehnis pengumpulan data di lakukan melalui anamnesa baik pada klien, keluarga maupun
orang terdekat dengan klien. Pemeriksaan fisik di lakukan dengan cara , inspeksi, palpasi, perkusi
dan auskultasi.

1) Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan, agama, suku
bangsa, pendidikan, alamat, tanggal/jam MRS dan diagnosa medis.

2) Riwayat penyakit sekarang.

Keluhan utama pada klien Spodilitis tuberkulosa terdapat nyeri pada punggung bagian bawah,
sehingga mendorong klien berobat kerumah sakit. Pada awal dapat dijumpai nyeri radikuler yang
mengelilingi dada atau perut. Nyeri dirasakan meningkat pada malam hari dan bertambah berat
terutama pada saat pergerakan tulang belakang. Selain adanya keluhan utama tersebut klien bisa
mengeluh, nafsu makan menurun, badan terasa lemah, sumer-sumer (Jawa) , keringat dingin dan
penurunan berat badan.

3) Riwayat penyakit dahulu

Tentang terjadinya penyakit Spondilitis tuberkulosa biasany pada klien di dahului dengan adanya
riwayat pernah menderita penyakit tuberkulosis paru. ( R. Sjamsu hidajat, 1997 : 20).

4) Riwayat kesehatan keluarga.

Pada klien dengan penyakit Spondilitis tuberkulosa salah satu penyebab timbulnya adalah klien
pernah atau masih kontak dengan penderita lain yang menderita penyakit tuberkulosis atau pada
lingkungan keluarga ada yang menderita penyakit menular tersebut.

5) Riwayat psikososial
Klien akan merasa cemas terhadap penyakit yang di derita, sehingga kan kelihatan sedih, dengan
kurangnya pengetahuan tentang penyakit, pengobatan dan perawatan terhadapnya maka penderita
akan merasa takut dan bertambah cemas sehingga emosinya akan tidak stabil dan mempengaruhi
sosialisai penderita.

6) Pola - pola fungsi kesehatan

a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.

Adanya tindakan medis serta perawatan di rumah sakit akan mempengaruhi persepsi klien tentang
kebiasaan merawat diri , yang dikarenakan tidak semua klien mengerti benar perjalanan
penyakitnya.Sehingga menimbulkan salah persepsi dalam pemeliharaan kesehatan. Dan juga
kemungkinan terdapatnya riwayat tentang keadaan perumahan, gizi dan tingkat ekonomi klien yang
mempengaruhi keadaan kesehatan klien.

b. Pola nutrisi dan metabolisme.

Akibat dari proses penyakitnya klien merasakan tubuhnya menjadi lemah dan amnesia. Sedangkan
kebutuhan metabolisme tubuh semakin meningkat, sehingga klien akan mengalami gangguan pada
status nutrisinya. ( Abdurahman, et al 1994 : 144)

c. Pola eliminasi.

Klien akan mengalami perubahan dalam cara eliminasi yang semula bisa ke kamar mandi, karena
lemah dan nyeri pada punggung serta dengan adanya penata laksanaan perawatan imobilisasi,
sehingga kalau mau BAB dan BAK harus ditempat tidur dengan suatu alat. Dengan adanya
perubahan tersebut klien tidak terbiasa sehingga akan mengganggu proses aliminasi.

d. Pola aktivitas.

Sehubungan dengan adanya kelemahan fisik dan nyeri pada punggung serta penatalaksanaan
perawatan imobilisasi akan menyebabkan klien membatasi aktivitas fisik dan berkurangnya
kemampuan dalam melaksanakan aktivitas fisik tersebut.

e. Pola tidur dan istirahat.

Adanya nyeri pada punggung dan perubahan lingkungan atau dampak hospitalisasi akan
menyebabkan masalah dalam pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat.

f. Pola hubungan dan peran.

Sejak sakit dan masuk rumah sakit klien mengalami perubahan peran atau tidak mampu menjalani
peran sebagai mana mestinya, baik itu peran dalam keluarga ataupun masyarakat. Hal tersebut
berdampak terganggunya hubungan interpersonal.

g. Pola persepsi dan konsep diri.

Klien dengan Spondilitis tuberkulosa seringkali merasa malu terhadap bentuk tubuhnya dan kadang -
kadang mengisolasi diri.

h. Pola sensori dan kognitif.

Fungsi panca indera klien tidak mengalami gangguan terkecuali bila terjadi komplikasi paraplegi.

i. Pola reproduksi seksual.

Kebutuhan seksual klien dalam hal melakukan hubungan badan akan terganggu untuk sementara
waktu, karena di rumah sakit. Tetapi dalam hal curahan kasih sayang dan perhatian dari pasangan
hidupnya melalui cara merawat sehari - hari tidak terganggu atau dapat dilaksanakan.

j. Pola penaggulangan stres.

Dalam penanggulangan stres bagi klien yang belum mengerti penyakitnya , akan mengalami stres.
Untuk mengatasi rasa cemas yang menimbulkan rasa stres, klien akan bertanya - tanya tentang
penyakitnya untuk mengurangi stres.

k. Pola tata nilai dan kepercayaan.

Pada klien yang dalam kehidupan sehari - hari selalu taat menjalankan ibadah, maka semasa dia sakit
ia akan menjalankan ibadah pula sesuai dengan kemampuannya. Dalam hal ini ibadah bagi mereka di
jalankan pula sebagai penaggulangan stres dengan percaya pada tuhannya.

7) Pemeriksaan fisik.

a. Inspeksi.

Pada klien dengan Spondilitis tuberkulosa kelihatan lemah, pucat, dan pada tulang belakang terlihat
bentuk kiposis.

b. Palpasi.

Sesuai dengan yang terlihat pada inspeksi keadaan tulang belakang terdapat adanya gibus pada area
tulang yang mengalami infeksi.

c. Perkusi.

Pada tulang belakang yang mengalami infeksi terdapat nyeri ketok.


d. Auskultasi.

Pada pemeriksaan auskultasi keadaan paru tidak di temukan kelainan.

(Abdurahman, et al 1994 : 145 ).

8) Hasil pemeriksaan medik dan laboratorium.

a. Radiologi

- Terlihat gambaran distruksi vertebra terutama bagian anterior, sangat jarang menyerang area
posterior.

- Terdapat penyempitan diskus.

- Gambaran abses para vertebral ( fusi form ).

b. Laboratorium

- Laju endap darah meningkat

c. Tes tuberkulin.

- Reaksi tuberkulin biasanya positif.

b. Analisa.

Setelah data di kumpulkan kemudian dikelompokkan menurut data subjektif yaitu data yang didapat
dari pasien sendiri dalm hal komukasi atau data verbal dan objektiv yaitu data yang didapat dari
pengamatan, observasi, pengukuran dan hasil pemeriksaan radiologi maupun laboratorium. Dari
hasil analisa data dapat disimpulkan masalah yang di alami oleh klien. ( Mi Ja Kim,et al 1994 ).

c. Diagnosa Keperawatan.

Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan dari masalah klien yang nyata ataupun
potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan, yang pemecahannya dapat dilakukan dalam
batas wewenang perawat untuk melakukannya. ( Tim Departemen Kesehatan RI, 1991 : 17 ).

Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien Spondilitis tuberkulosa adalah:

a. Gangguan mobilitas fisik

b. Gangguan rasa nyaman ; nyeri sendi dan otot.


c. Perubahan konsep diri : Body image.

d. Kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah.

( Susan Martin Tucker, 1998 : 445 )

d. Perencanaan Keperawatan.

Perencanaan keperawatan adalah menyusun rencana tindakan keperawatan yang akan di


laksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah di
tentukan dengan tujuan terpenuhinya kebutuhan klien.

( Tim Departemen Kesehatan RI, 1991 :20 ).

Adapun perencanaan masalah yang penulis susun sebagai berikut :

a. Diagnosa Perawatan I

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal dan nyeri.

1. Tujuan

Klien dapat melakukan mobilisasi secara optimal.

2. Kriteria hasil

a) Klien dapat ikut serta dalam program latihan

b) Mencari bantuan sesuai kebutuhan

c) Mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai tingkat optimal.

3. Rencana tindakan

a) Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan.

b) Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.

c) Memelihara bentuk spinal yaitu dengan cara :

1) mattress
2) Bed Board ( tempat tidur dengan alas kayu, atau kasur busa yang keras yang tidak menimbulkan
lekukan saat klien tidur.

d) mempertahankan postur tubuh yang baik dan latihan pernapasan ;

1) Latihan ekstensi batang tubuh baik posisi berdiri ( bersandar pada tembok ) maupun posisi
menelungkup dengan cara mengangkat ekstremitas atas dan kepala serta ekstremitas bawah secara
bersamaan.

2) Menelungkup sebanyak 3 – 4 kali sehari selama 15 – 30 menit.

3) Latihan pernapasan yang akan dapat meningkatkan kapasitas pernapasan.

e) monitor tanda –tanda vital setiap 4 jam.

f) Pantau kulit dan membran mukosa terhadap iritasi, kemerahan atau lecet – lecet.

g) Perbanyak masukan cairan sampai 2500 ml/hari bila tidak ada kontra indikasi.

h) Berikan anti inflamasi sesuai program dokter. Observasi terhadap efek samping : bisa tak nyaman
pada lambung atau diare.

4. Rasional

a) Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.

b) Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.

c) Mempertahankan posisi tulang belakang tetap rata.

d) Di lakukan untuk menegakkan postur dan menguatkan otot – otot paraspinal.

e) Untuk mendeteksi perubahan pada klien.

f) Deteksi diri dari kemungkinan komplikasi imobilisasi.

g) Cairan membantu menjaga faeces tetap lunak.

h) Obat anti inflamasi adalah suatu obat untuk mengurangi peradangan dan dapat menimbulkan
efek samping.

b. Diagnosa Keperawatan II

Gangguan rasa nyaman : nyeri sendi dan otot sehubungan dengan adanya peradangan sendi.
1) Tujuan

a. Rasa nyaman terpenuhi

b. Nyeri berkurang / hilang

2) Kriteria hasil

a. klien melaporkan penurunan nyeri

b. menunjukkan perilaku yang lebih relaks

c. memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang dipelajari dengan peningkatan keberhasilan.

3) Rencana tindakan

a. Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri; observasi terhadap kemajuan nyeri ke daerah yang baru.

b. Berikan analgesik sesuai terapi dokter dan kaji efektivitasnya terhadap nyeri.

c. Gunakan brace punggung atau korset bila di rencanakan demikian.

d. Berikan dorongan untuk mengubah posisi ringan dan sering untuk meningkatkan rasa nyaman.

e. Ajarkan dan bantu dalam teknik alternatif penatalaksanaan nyeri.

4) Rasional.

a. Nyeri adalah pengalaman subjek yang hanya dapat di gambarkan oleh klien sendiri.

b. Analgesik adalah obat untuk mengurangi rasa nyeri dan bagaimana reaksinya terhadap nyeri klien.

c. Korset untuk mempertahankan posisi punggung.

d. Dengan ganti – ganti posisi agar otot – otot tidak terus spasme dan tegang sehingga otot menjadi
lemas dan nyeri berkurang.

e. Metode alternatif seperti relaksasi kadang lebih cepat menghilangkan nyeri atau dengan
mengalihkan perhatian klien sehingga nyeri berkurang.

c. Diagnosa Keperawatan III

Gangguan citra tubuh sehubungan dengan gangguan struktur tubuh.


1) Tujuan

Klien dapa mengekspresikan perasaannya dan dapat menggunakan koping yang adaptif.

2) Kriteria hasil

Klien dapat mengungkapkan perasaan / perhatian dan menggunakan keterampilan koping yang
positif dalam mengatasi perubahan citra.

3) Rencana tindakan

a. Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan. Perawat harus mendengarkan
dengan penuh perhatian.

b. Bersama – sama klien mencari alternatif koping yang positif.

c. Kembangkan komunikasi dan bina hubungan antara klien keluarga dan teman serta berikan
aktivitas rekreasi dan permainan guna mengatasi perubahan body image.

4) Rasional

a. meningkatkan harga diri klien dan membina hubungan saling percaya dan dengan ungkapan
perasaan dapat membantu penerimaan diri.

b. Dukungan perawat pada klien dapat meningkatkan rasa percaya diri klien.

c. Memberikan semangat bagi klien agar dapat memandang dirinya secara positif dan tidak merasa
rendah diri.

d. Diagnosa Keperawatan IV

Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang penatalaksanaan perawatan


di rumah.

1) Tujuan

Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan di rumah.

2) Kriteria hasil

a. Klien dapat memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau korset


b. Mengekspresikan pengertian tentang jadwal pengobatan

c. Klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana pengobatan, dan gejala
kemajuan penyakit.

3) Rencana tindakan

a. Diskusikan tentang pengobatan : nama, jadwal, tujuan, dosis dan efek sampingnya.

b. Peragakan pemasangan dan perawatan brace atau korset.

c. Perbanyak diet nutrisi dan masukan cairan yang adekuat.

d. Tekankan pentingnya lingkungan yang aman untuk mencegah fraktur.

e. Diskusikan tanda dan gejala kemajuan penyakit, peningkatan nyeri dan mobilitas.

f. Tingkatkan kunjungan tindak lanjut dengan dokter.

e. Pelaksanaan

Yaitu perawat melaksanakan rencana asuhan keperawatan. Instruksi keperawatan di


implementasikan untuk membantu klien memenuhi kriteria hasil.

Komponen tahap Implementasi:

a. tindakan keperawatan mandiri

b. tindakan keperawatan kolaboratif

c. dokumentasi tindakan keperawatan dan respon klien terhadap asuhan keperawatan.

( Carol vestal Allen, 1998 : 105 )

f. Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan hasil – hasil yang di amati dengan kriteria hasil yang dibuat pada tahap
perencanaan komponen tahap evaluasi.

a. pencapaian kriteria hasil

b. ke efektipan tahap – tahap proses keperawatan


c. revisi atau terminasi rencana asuhan keperawatan.

Adapun kriteria hasil yang di harapkan pada klien Spondilitis tuberkulosa adalah:

1. Adanya peningkatan kegiatan sehari –hari ( ADL) tanpa menimbulkan gangguan rasa nyaman .

2. Tidak terjadinya deformitas spinal lebih lanjut.

3. Nyeri dapat teratasi

4. Tidak terjadi komplikasi.

5. Memahami cara perawatan dirumah

posting by mbah bejo di 10/03/2008 07:24:00 AM

http://anakkomik.blogspot.co.id/2008/10/askep-spondilitis.html

Monday, April 8, 2013


askep spondilitis tuberculosa

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Spondilitis tuberkulosa atau tuberkulosis spinal terhitung kurang lebih 3 juta kematian
terjadi setiap tahun. Di waktu yang lampau, spondilitis tuberkulosa merupakan istilah yang
dipergunakan untuk penyakit pada masa anak-anak, terutama yang berusia 3-5 tahun. Saat ini
dengan adanya perbaikan pelayanan kesehatan, maka insidensi usia ini mengalami perubahan
sehingga golongan umur dewasa menjadi lebih sering terkena dibandingkan anak-anak.
Insidensi spondilitis tuberkulosa bervariasi diseluruh dunia dan biasanya berhubungan
dengan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang tersedia serta kondisi sosial di
negara tersebut. Saat ini spondilitis tuberkulosa merupakan sumber morniditas dan mortalitas
utama pada negara yang belum dan sedang berkembang, terutama di Asia, dimana malnutrisi
dan kepadatan penduduk masih menjadi masalah utama.
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang didapatkan antara lain:
a. Agar dapat mengetahui definisi dari spondilitis tuberkulosa
b. Agar dapat mengetahui penyebab dari spondilitis tuberkulosa
c. Agar dapat mengetahui patofisiologi terjadinya spondilitis tuberkulosa
d. Agar dapat mengetahui gejala dan tanda spondilitis tuberkulosa
e. Agar dapat mengetahui pemeriksaan fisik dan diagnostik untuk spondilitis tuberkulosa
f. Agar dapat mengetahui penatalaksanaan spondilitis tuberkulosa

1.3 Manfaat Penulisan


Adapun tujuan yang didapatkan antara lain:
a. Mengetahui definisi dari spondilitis tuberkulosa
b. Mengetahui penyebab dari spondilitis tuberkulosa
c. Mengetahui patofisiologi terjadinya spondilitis tuberkulosa
d. Mengetahui gejala dan tanda spondilitis tuberkulosa
e. Mengetahui pemeriksaan fisik dan diagnostik untuk spondilitis tuberkulosa
f. Mengetahui penatalaksanaan spondilitis tuberkulosa
BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi
Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitis tuberkulosa
merupakan peradangan granulomatosa yang bersifat kronik destruktif oleh Mycobacterium
tuberculosa.
Spondilitis tuberculosa adalah infeksi yang sifatnya kronis berupa infeksi
granulomatosis di sebabkan oleh kuman spesifik yaitu mycobacterium tuberculosa yang
mengenai tulang vertebra. Tuberkulosis tulang belakang selalu merupakan infeksi sekunder
dari fokus di tempat lain dalam tubuh.
Percivall Pott (1973) yang pertama kali menulis tentang penyakit ini dan menyatakan
bahwa terdapat hubungan antara penyakit ini dengan deformitas tulang belakang yang terjadi,
sehingga penyakit ini disebut juga sebagai penyakit Pott (Rasjad, 2007).
2.2 Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh karena bakteri berbentuk basil. Bakteri yang paling
sering menjadi penyebabnya adalah Mycobacterium tuberculosis. (Brooks, 2008)
Spondilitis tuberkulosa merupakan infeksi sekunder dari tuberkulosis di tempat lain di
tubuh, 90-95% disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa typic (2/3 dari tipe human dan
1/3 dari tipe bovin) dan 5-10% oleh Mycobacterium tuberculosa atypic. Lokalisasi spondilitis
tuberkulosa terutama pada daerah vertebra torakal bawah dan lumbal atas, sehingga diduga
adanya infeksi sekunder dari suatu tuberkulosis traktus urinarius, yang penyebarannya
melalui pleksus Batson pada vena paravertebralis (Rasjad, 2007).
2.3 Patofisiologi
Patogenesis penyakit ini sangat tergantung dari kemampuan bakteri menahan cernaan
enzim lisosomal dan kemampuan host untuk memobilisasi imunitas seluler. Jika bakteri tidak
dapat diinaktivasi, maka bakteri akan bermultiplikasi dalam sel dan membunuh sel itu.
Komponen lipid, protein serta polisakarida sel basil tuberkulosa bersifat immunogenik,
sehingga akan merangsang pembentukan granuloma dan mengaktivasi makrofag. Beberapa
antigen yang dihasilkannya dapat juga bersifat immunosupresif (Mansjoer, 2000)
Infeksi mycobacterium tuuberculosis pada tulang selalu merupakan infeksi sekunder.
Berkembnagnya kuman dalam tubuh tergantung pada keganasan kuman dan ketahanan tubuh
klien. Lima stadium perjalanan penyakit spondilitis tuberkulosa, antara lain: (Rasjad, 2007)
1. Stadium I (implantasi)
Setelah bakteri berada dalam tulang, maka bila daya tahan tubuh klien menurun, bakteri akan
berduplikasi membentuk koloni yang berlangsung selama 6-8 minggu. Keadaan ini umumnya
terjadi pada daerah torakolumbal.
2. Stadium destruksi awal
Setelah stadium implantasi, selanjutnya terjadi destruksi korpus vertebra serta penyempitan
yang ringan pada diskus. Proses ini berlangsung selama 3-6 minggu.
3. Stadium destruksi lanjut
Pada stadium ini terjadi destruksi yang masif, kolaps vertebra dan terbentuk massa kaseosa
serta pus yang berbentuk cold abses (abses dingin), yang terjadi 23 bulan setelah stadium
destruksi awal. Selanjutnya dapat terbentuk sekuestrum serta kerusakan diskus
intervertebralis. Pada saat ini terbentuk tulang baji terutama di sebelah depan (wedging
anterior) akibat kerusakan korpus vertebra, yang menyebabkan terjadinya kifosis atau gibus.
4. Stadium gangguan neurologis
Tidak berkaitan dengan beratnya kifosis yang terjadi, tetapi terutama ditentukan oleh tekanan
abses ke kanalis spinalis. Gangguan ini ditemukan 10% dari seluruh komplikasi spondilitis
tuberkulosa. Vertebra torakalis mempunyai kanalis spinalis yang lebih kecil sehingga
gangguan neurologis lebih mudah terjadi pada daerah ini.
5. Stadium deformitas residual
Stadium ini terjadi kurang lebih 35 tahun setelah timbulnya stadium implantasi. Kifosis atau
gibus bersifat permanen oleh karena kerusakan vertebra yang masif di sebelah depan.

WOC

Kuman TB

Reaksi sistem immunologi

Infalamsi sendi, korpus vertebra


Akumulasi eksudat , sel darah putih

Edema

Suplai O2 & nutrisi ↓

Nekrosis kartilago sendi

Gg muskulo punggung ankilosis tlg punggung menekan


nociceptor talamus

Pergerakan terbatas perubahan spinal kifosis (mmbungkuk)

perubahan postur perubahan


sikap tubuh

rongga dada
2.4 Manifestasi Klinis
Secara klinik gejala tuberkulosis tulang belakang hampir sama dengan gejala tuberkulosis
pada umumnya, yaitu: (Mansjoer, 2000)
- Badan lemah/ lesu
- Penurunan berat badan
- Nafsu makan berkurang
- Demam subfebris
- Nyeri vertebra/lokal pada lokasi infeksi sering dijumpai dan menghilang bila istirahat.
- Deformitas tulang belakang
- Adanya spasme otot paravertebralis
- Nyeri ketok tulang vertebra
- Gangguan motorik
- Adanya gibus/kifosis
2.5 Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi
Pada klien spondilitis kelihatan lemah, pucat, dan tulang belakang terlihat bentuk kifosis
(membungkuk)
- Palpasi
Ditemukan adanya gibus pada area tulang yang mengalami infeksi
- Perkusi
Terdapat nyeri ketok pada tulang belakang yang mengalami infeksi
- Auskultasi
Tidak ditemukan adanya kelainan paru

2.6 Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik Penunjang


Adapun pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penyakit spondilitis tuberkulosa
antara lain: (Rasjad, 2007)
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Peningkatan laju endap darah dan mungkin disertai leukositosis
b. Uji Mantoux : positif tb
c. Pada pemeriksaan biakan kuman mungkin ditemukan Mycobacterium
d. Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe regional
e. Pemeriksaan histopatologis dapat ditemukan tuberkel
2. Pemeriksaan radiologis
a. Pemeriksaan foto toraks untuk melihat adanya tuberkulosis paru
b. Foto polos vertebra, ditemukan osteoporosis, osteolitik, dan destruksi korpus vertebra,
disertai penyempitan diskus intervertebralis yang berada diantara korpus tersebut dan
mungkin dapat ditemukan adanya massa abses paravertebral
c. Pada stadium lanjut terjadi destruksi vertebra yang hebat sehingga timbul kifosis
d. Pemeriksaan mielografi dilakukan bila terdapat gejala-gejala penekanan sumsum tulang
e. Pemeriksaan CT scan
f. Pemeriksaan MRI
2.7 Penatalaksanaan
Pada prinsipnya pengobatan spondilitis tuberkulosis harus dilakukan sesegera mungkin
untuk menghentikan progresivitas penyakit serta mencegah paraplegia. Pengobatan terdiri
atas: (Rasjad, 2007)
1. Terapi konservatif, berupa:
a. Tirah baring (bed rest)
b. Memperbaiki keadaan umum klien
c. Pemasangan brace pada klien, baik yang dioperasi ataupun yang tidak dioperasi
d. Pemberian obat antituberkulosa
Obat-obatan yang diberikan terdiri atas:
a. Isonikotinik hidrasit (INH) dengan dosis oral 5 mg/kg berat badan per hari dengan dosis
maksimal 300 mg. Dosis oral pada anak-anak 10 mg/kg berat badan.
b. Asam para amino salisilat. Dosis oral 8-12 mg/kg berat badan
c. Etambutol. Dosis per oral 15-25 mg/kg berat badan per hari
d. Rifampisin. Dosis oral 10 mg/kg berat badan diberikan pada anak-anak. Pada orang dewasa
300-400 mg per hari.
e. Streptomisin, pada saat ini tidak digunakan lagi.
2. Terapi operatif
Indikasi operasi yaitu:
a. Bila dengan terapi konservatif tidak terjadi perbaikan paraplegia atau malah semakin berat.
Biasanya tiga minggu sebelum tindakan operasi dilakukan, setiap spondilitis tuberkulosa
diberikan obat tuberkulostatik.
b. Adanya abses yang besar sehingga diperlukan drainase abses secara terbuka dan sekaligus
debrideman serta bone graft.
c. Pada pemeriksaan radiologis baik dengan foto polos, mielografi ataupun pemeriksaan CT
dan MRI ditemukan adanya penekanan langsung pada medulla spinalis.
Walaupun pengobatan kemoterapi merupakan pengobatan utama bagi klien tuberkulosis
tulang belakang, namun tindakan operatif masih memegang peranan penting dalam beberapa
hal, yaitu bila terdapat cold abses (abses dingin), lesi tuberkulosa, paraplegia, dan kifosis.
2.8 Diagnosa, Intervensi, Dan Rasional
Diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien Spondilitis tuberkulosa adalah:
- Gangguan mobilitas fisik
- Gangguan rasa nyaman ; nyeri sendi dan otot.

- Perubahan konsep diri : Body image.


- Kurang pengetahuan tentang perawatan di rumah.
1. Gangguan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan muskuloskeletal dan nyeri.
a. Tujuan : Klien dapat melakukan mobilisasi secara optimal.
b. Kriteria hasil
- Klien dapat ikut serta dalam program latihan
- Mencari bantuan sesuai kebutuhan
- Mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai tingkat optimal.
c. Rencana tindakan
- Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan.
- Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi.
- Memelihara bentuk spinal yaitu dengan cara :
a) mattress
b) Bed Board ( tempat tidur dengan alas kayu, atau kasur busa yang keras yang tidak
menimbulkan lekukan saat klien tidur.
- mempertahankan postur tubuh yang baik dan latihan pernapasan
d. Rasional
- Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktivitas.
- Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai kemampuan.
- Mempertahankan posisi tulang belakang tetap rata.
- Di lakukan untuk menegakkan postur dan menguatkan otot – otot paraspinal.
- Untuk mendeteksi perubahan pada klien.

2. Gangguan rasa nyaman : nyeri sendi dan otot sehubungan dengan adanya peradangan sendi.
a. Tujuan
- Rasa nyaman terpenuhi
- Nyeri berkurang / hilang
a. Kriteria hasil
- klien melaporkan penurunan nyeri
- menunjukkan perilaku yang lebih relaks
- memperagakan keterampilan reduksi nyeri yang dipelajari dengan peningkatan keberhasilan.
b. Rencana tindakan
- Kaji lokasi, intensitas dan tipe nyeri; observasi terhadap kemajuan nyeri ke daerah yang
baru.
- Berikan analgesik sesuai terapi dokter dan kaji efektivitasnya terhadap nyeri.
- Gunakan brace punggung atau korset bila di rencanakan demikian.
- Berikan dorongan untuk mengubah posisi ringan dan sering untuk meningkatkan rasa
nyaman.
- Ajarkan dan bantu dalam teknik alternatif penatalaksanaan nyeri.
c. Rasional.
- Nyeri adalah pengalaman subjek yang hanya dapat di gambarkan oleh klien sendiri.
- Analgesik adalah obat untuk mengurangi rasa nyeri dan bagaimana reaksinya terhadap nyeri
klien.
- Korset untuk mempertahankan posisi punggung.
- Dengan ganti – ganti posisi agar otot – otot tidak terus spasme dan tegang sehingga otot
menjadi lemas dan nyeri berkurang.
- Metode alternatif seperti relaksasi kadang lebih cepat menghilangkan nyeri atau dengan
mengalihkan perhatian klien sehingga nyeri berkurang.

3. Gangguan citra tubuh sehubungan dengan gangguan struktur tubuh.


a. Tujuan
Klien dapat mengekspresikan perasaannya dan dapat menggunakan koping yang adaptif.
b. Kriteria hasil
Klien dapat mengungkapkan perasaan / perhatian dan menggunakan keterampilan koping
yang positif dalam mengatasi perubahan citra.
c. Rencana tindakan
- Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaan. Perawat harus
mendengarkan dengan penuh perhatian.
- Bersama – sama klien mencari alternatif koping yang positif.
- Kembangkan komunikasi dan bina hubungan antara klien keluarga dan teman serta berikan
aktivitas rekreasi dan permainan guna mengatasi perubahan body image.
d. Rasional
- meningkatkan harga diri klien dan membina hubungan saling percaya dan dengan ungkapan
perasaan dapat membantu penerimaan diri.
- Dukungan perawat pada klien dapat meningkatkan rasa percaya diri klien.
- Memberikan semangat bagi klien agar dapat memandang dirinya secara positif dan tidak
merasa rendah diri.

4. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang penatalaksanaan


perawatan di rumah.
a. Tujuan : Klien dan keluarga dapat memahami cara perawatan di rumah.
b. Kriteria hasil
- Klien dapat memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau korset
- Mengekspresikan pengertian tentang jadwal pengobatan
- Klien mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana pengobatan, dan gejala
kemajuan penyakit.
c. Rencana tindakan
- Diskusikan tentang pengobatan : nama, jadwal, tujuan, dosis dan efek sampingnya.
- Peragakan pemasangan dan perawatan brace atau korset.
- Perbanyak diet nutrisi dan masukan cairan yang adekuat.
- Tekankan pentingnya lingkungan yang aman untuk mencegah fraktur.
- Diskusikan tanda dan gejala kemajuan penyakit, peningkatan nyeri dan mobilitas.
- Tingkatkan kunjungan tindak lanjut dengan dokter.
http://nopriafrilaa.blogspot.co.id/2013/04/askep-spondilitis-tuberculosa.html