You are on page 1of 21

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI ANALITIK

SPEKTROFOTOMETRI UV-1700 SHIMADZU
SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2016/2017

MODUL : SPEKTROFOTOMETRI UV-1700
SHIMADZU

PEMBIMBING : BEVI LIDYA, Dra., Apt., M.Si.

DISUSUN OLEH

KELOMPOK : 2

BAYU RAVIK NUGRAHA 161411069

BRIGITA GRACERIA 161411070

FAKHIRA RIZQIA 161411071

GANDI PRATAMA 161411072

KELAS : 1C – TKI

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2017

LAPORAN INSTRUMENTASI ANALITIK

MODUL PRAKTIKUM : SPEKTROFOTOMETRI UV

NAMA PEMBIMBING : BEVI LIDYA, Dra., Apt., M.Si.

TANGGAL PRAKTEK : 23 MARET 2017

TANGGAL PENYERAHAN : 30 MARET 2017

A. TUJUAN PRAKTIKUM
Setelah melakukan percobaan diharapkan mahasiswa mampu :
1. Mengetahui konsentrasi kafein.
2. Menggunakan spektrofotometri UV-1700 Shimadzu dengan benar.

B. LANDASAN TEORI
Spektrofotometri UV-VIS adalah pengukuran serapan cahaya di daerah
ultraviolet(200 – 350 nm) dan sinar tampak (350 – 800 nm) oleh suatu senyawa. Serapan
cahaya UV atau VIS (cahaya tampak) mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi
elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan
tereksitasi berenergi lebih tinggi.Panjang gelombang cahaya UV-VIS bergantung pada
mudahnya promosielektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi
untuk promosielektron, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek.
Molekul yangmemerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang
yang lebih panjang. Prinsip dari spektrofotometri UV-VIS senyawa yang menyerap cahaya
dalamdaerah tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah
dipromosikandari pada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih pendek.
Jika radiasielektromagnetik dilewatkan pada suatu media yang homogen, maka sebagian
radiasi ituada yang dipantulkan, diabsorpsi, dan ada yang transmisikan. Radiasi yang
dipantulkandapat diabaikan, sedangkan radiasi yang dilewatkan sebagian diabsorpsi dan
sebagian lagi ditransmisikan.

Radiasi ultraviolet dan sinar tampak diabsorpsi oleh molekul organik aromatik. perbedaan energi antara keadaan dasar dan keadaan tereksitasi menjadi lebih kecil sehingga penyerapan terjadi pada panjang gelombang yang lebih besar. Molekul ini secara alami terjadi dalam banyak jenis tanaman sebagi metabolik sekunder. dan biji kola(2. pada tahun 1820. Friedrich Ferdinand Runge. 2004). Kafein ditemukan oleh seorang kimiawan Jerman. yang dalam bahasa inggeris menjadi “caffeine”(Hays. misalnya pada >C=C< dan -C≡C-. 2011). menyebabkan transisi elektron di orbital terluarnya dari tingkat energi elektron dasar ke tingkat energi elektron tereksitasi lebih tinggi.7-3.6 %).5 %). Kafein juga digunakan sebagai penguat rasa atau bumbu pada berbagai industri makanan (Misra et al. Kafein diproduksi secara komersial dengan cara ekstraksi dari tanaman tertentu serta diproduksi secara sintetis.8 %). Khromofor ini merupakan tipe transisi dari sistem yang mengandung elektron π pada orbital molekulnya. Pada khromofor jenis ini transisi terjadi dari π  π*. suatu senyawa kimia dalam kopi. yang menyerap pada λmaks kecil dari 200 nm (tidak terkonjugasi). Besarnya serapan radiasi tersebut sebanding dengan banyaknya molekul analit yang mengabsorpsi sehingga dapar digunakan untuk analisis kuantitatif (Satiadarma. Untuk senyawa yang mempunyai sistem konjugasi. Fungsinya dalam tumbuhan adalah sebagai pestisida alami yang melumpuhkan dan membunuh serangga yang memakan tumbuhan tersebut. yang menurut definisi berarti senyawa organik yang mengandung nirogen dengan struktur dua-cincin atau dual-siklik. moeluk yang mengandung elektron-π terkonjugasi dan atau atom yang menfandung elektron-n. Dia menciptakan istilah “kaffein”. Gugus fungsi yang menyerap radiasi di daerah ultraviolet dekat dan daerah tampak disebut khromofor dan hampir semua khromofor mempunyai ikatan tak jenuh. Kafein merupakan sejenis alkaloid heterosiklik dalam golongan methylxanthine. 2008). Zat ini . kopi (1-1.4. Kebanyakan produksi kafein bertujuan untuk memenuhi kebutuhan industri minuman. Kafein merupakan senyawa kimia alkaloid terkandung secara alami pada lebih dari 60 jenis tanaman terutama teh (1.

3. titik leleh : 227–228 °C (anhydrous) 234–235 °C (monohydrate). termasuk daun teh biasa (Camellia sinensis). momen dipole : 3. ALAT DAN BAHAN ALAT BAHAN Spektrofotometer UV-1700 Shimadzu Larutan induk kafein Kuvet kuarsa Larutan HCl 0.6-dione (Erowid. kacang-kacangan dan buah-buahan lebih dari 60 tanaman. densitas : 1. keasaman : -0. kelarutan dalam air : 2.1 N Labu takar Aquades Gelas kimia Pipet ukur Pipet tetes Batang pengaduk Bola hisap Botol semprot D. antara lain berat molekul : 194. 2006).64 D (Mumin et al.0 g/100 ml (80 °C) 67.7-dihydro-1. Kafein dalam bentuk murni muncul sebagai bedak kristal putih yang pahit dan tidak berbau (Brain.3.3. solid. C. dihasilkan secara eksklusif dalam daun. PROSEDUR KERJA a.7H)-dione. titik didih : 178 °C subl. Pembuatan Larutan . 2009).7-trimethyl-1H-purine-2. kacang koko (Theobroma cacao).17 g/100 ml (25 °C) 18. 2011).0 g/100 ml (100 °C).7-trimethyl-1H-purine- 2.6(3H. Beberapa sifat fisik kafein. kacang kola (Cola acuminata) dan berbagai macam berry (Reinhardt.13 – 1. Nama IUPAC untuk kafein adalah 1.7-trimethylxanthine.3. 2000). kopi (Coffea arabica)..23 g/cm3. Rumus kimianya adalah C₈H₁₀N₄O₂ dan memiliki nama kimia 1.22 pKa.19 g/mol.

gelombang (dari 380-190 nm). b. initialization. 8. 4. kanan bawah). sampping monitor tampak "mode menu".1N.1N dari (100ppm) dalam larutan HCl 0. ditunggu hingga dikeluarkan dinyalakan (di tombol sebelah kanan selesai dan akan dari "sample bagian diputar hingga pada keluar tampilan compartment". Bila Proses inisialisasi Silika gel Shimadzu layer tampak biru. c. masing masing dalam labu takar 50 ml. 12 ppm dalam HCl 0. larutan induk diatas. Pengukuran Spektrum (Penentuan Panjang Gelombang Maksimum) . Tentukan oanjang gelombang Ukur serapan berbagai konsentrasi maksimum dengan cara: ukur larutan standar pada panjang serapannya (ambil larutan standar gelombang yang sudah ditentukan 8ppm) dari berbagai panjang (3). Buat 50 ml larutan induk kafein 10. Buat sederetan larutan standar kefein dengan konsentrasi 2. Menyalakan Alat Spektrofotometri-1700 Shimadzu Spektrofotomet Monitor dibuka ri UV-1700 perlahan-lahan.

rec. menekan tombol Start. Setelah muncul wavelength & absorbance. scanning sample pada sample range. speed. Memilih menu spektrum. ‘Peak’(3) untuk mengetahui panjang gelombang maksimum dan absorbansi. Menekan tombol “data procc”F2. display mode. no.000A kuvet isi larutan standar (terdengar bunyi bip yang diingikan. menunggu pada posisi sampel dengan sampai dengan 0. Masukkan kuvet yang menekan angka 2 untuk berisi larutan belangko mengatur parameter seperti pada kedua reference setting meas mode. bip). tampilan kurva A vs lamda. of. Menekan tombol Base Mengganti kuvet blanko Corr F1. Pengukuran Photometric . d. Scan. Lalu. compartement..

larutan blanko tunggu sampai dua duanya pada dengan A: 0. isikan nilai dianalisis.000 A sample dan alat berbunyi compartement. lalu akan WL. Photometric. Ganti kuvet Pilih menu Ganti kuvet isi sampel dengan Photometric. lalu tekan muncul tabel panjang tombol start. bip bip. Masukkan kuvet Tekan tombol yang berisi ‘auto zero’. Go to standar yang lain. yaitu blanko dengan kuvet berisi larutan larutan sampel tekan 1. . gelombang.

masukkan nilai keluar nilai ABS. isi jumlah larutan kedua sisi reference Quantitative standar yang digunakan sample. enter larutan blanko pada Pilih menu Method: multi point (3).000A Data print NO Tekan “start”. Pengukuran Quantitative Atur parameter : Meas. tekan (3) No of meas.e. larutan standar. maka akan Tekan ‘meas’ (2). Tekan start. Ganti Muncul Ganti kuvet blanko kuvet dengan larutan konsentrasi tampilan: NO | dengan larutan standar berikutnya. lalu Tekan dengan cara tombol ‘auto zero’. Conc | ABS standar yang tekan “start” sampai tekan “enter” pertama pengukuran selesai Tekan ‘cal curve’ F1 untuk melihat . 1 Lamda : isikan nilai panjng Masukkan kuvet isi gelombang.1 tunggu sampai dengan Unit ppm 0.

Konsentrasi 2 ppm 0.2867 A 2.4468 446.2817 281. DATA PENGAMATAN 1.3575 357.54 5.78 . Pengukuran Photometric No. Konsentrasi 4 ppm 0.0597 59. f. Pengukuran Konsentrasi Sampel Menekan ‘return’ sampai ke menu ‘quantitative’ Mengganti kuvet larutan standar di bagian depan dengan kurvet sampel ‘start’ Ulangi pekerjaan itu jika sampel lebih dari satu E.2 nm Absorbansi = 0.692 2. Konsentrasi 12 ppm 0. Larutan Standar ABS K*ABS 1.39 3. Konsentrasi 10 ppm 0. Konsentrasi 8 ppm 0.1294 129.74 4. Pengukuran Spektrum Besar panjang gelombang maksimum ( λ maks ) = 280.

001 2.2404 7. Pengukuran Kuantitatif Larutan Sampel No Larutan Sampel ABS Konsentrasi 1.3. Konsentrasi 10 ppm 0. Konsentrasi 8 ppm 0.63 2.9503 ppm . Konsentrasi 0 ppm 0. Sampel 1 0. Konsentrasi 2 ppm 0.431 5.49 4. Pengukuran Quantitative Larutan Standar No Larutan Standar ABS 1. Sampel 1 0.3545 354.2496 249.263 5.045 3. Sampel 2 0.3409 9. Konsnetrasi 4 ppm 0. Konsentrasi 12 ppm 0.111 4. Larutan Sampel Absorbansi K*ABS 1.0147 ppm 2.343 6. Sampel 2 0. Data Penentuan Sampel No.

Membuat larutan blanko ( 0 ppm ) N1 x V1 = N2 x V2 N1 x V1 = N2 x V2 100 ppm x V1 = 10 ppm x 50 ml 100 ppm x V1 = 0 ppm x 50 ml V1 = 5 ml V1 = 0 ml f. Membuat larutan kafein 8 ppm N1 x V1 = N2 x V2 N1 x V1 = N2 x V2 1000 ppm x V1 = 100 ppm x 100 ml 100 ppm x V1 = 8 ppm x 50 ml V1 = 10 ml V1 = 4 ml 2. Pengenceran larutan kafein 1000ppm menjadi larutan kafein 100 ppm d. Membuat larutan kafein 4 ppm N1 x V1 = N2 x V2 100 ppm x V1 = 4 ppm x 50 ml V1 = 2 ml . PENGOLAHAN DATA 1. Membuat larutan kafein 12 ppm b. Membuat larutan kafein 2 ppm N1 x V1 = N2 x V2 N1 x V1 = N2 x V2 100 ppm x V1 = 12 ppm x 50 ml 100 ppm x V1 = 2 ppm x 50 ml V1 = 6 ml V1 = 1 ml c. Membuat larutan kafein 10 ppm a. F. Membuat larutan standar kafein e.

0081 R² = 0.9982 0. 3.0369x .0081 y = 0.1 0.0081 0.00 ppm X = 9.0.4468 0.0.0081 0.2496 = 0.3545 Persamaan : y = 0.1294 0.0081 y = 0.0081 Persamaan : y = 0.3575 0.0.0.0.0369x .1 konsentrasi ( ppm) .0369x .0369x .0597 0 0.0369x .2 0.3545= y = 0.2817 absorbansi 0.5 0.0369x .83 ppm Kurva Pengukuran Photometric grafik photometric 0.4 y = 0.0065 0 2 4 8 10 12 -0.3 0.0369x .0.0. Penentuan konsentrasi sampel dengan kurva pengukuran photometric  Sampel 1  Sampel 2 Absorbansi = 0.2496 Absorbansi = 0.0081 X = 7.

0193 y = 0.5 0.0363x .0363x .2 0.154 ppm X = 9.1 konsentrasi ( ppm) .0.2404 Absorbansi = 0.4 y = 0.2404 = 0.0363x .0193 X = 7.431 0.1 0.0.0363x .343 0.923 ppm Kurva Pengukuran Quantitative grafik quantitative 0.263 0. 4.0193 y = 0.3409 = 0.0193 0.0.001 0 2 4 8 10 12 -0.0193 0.0363x .0363x .3409 Persamaan : y = 0.111 0.3 absorbansi 0.0.0.0193 R² = 0.0363x .0. Penentuan konsentrasi sampel dengan kurva pengukuran quantitative  Sampel 1  Sampel 2 Absorbansi = 0.0193 Persamaan : y = 0.0.9967 0.045 0 0.

10. Stuktur kimia dari kafein: Pada praktikum penentuan kadar kafein dengan metoda spektrofotometri dengan menggunakan spektrofotometer Shimadzu.G.19 g/mol. Larutan blanko ini berfungsi sebagai pengkondisian (pengkalibrasi) agar ketika pengukuran sampel preaksi yang ditambahkan pada sampel tidak mengubah harga absorban pengukuran. PEMBAHASAN 1. prisma heksagonal dan memiliki berat molekul 194. Kemudian dibuat larutan standar kafein dengan konsentrasi 2. Kafein memiliki berat molekul 194. karena adanya faktor koreksi dengan blanko. Praktikum ini bertujuan menentukan kadar atau konsetrasi kafein dalam sampel dengan alat Spektrofotometri UV-1700 Shimadzu.1 N. Kafein memiliki titik leleh 238oC dan mengalami sublimasi pada suhu 178oC. Bayu Ravik Nugraha (161411069) Kafein merupakan senyawa bahan alam yang tersebar luas dan tergolong dalam senyawa alkaloid. 4. Alat ini hanya dapat mengukur absorbansi dan konsentrasi larutan yang memiliki ikatan rangkap yang berselang-seling seperti kafein. 8. Pertama. bersifat basa lemah berbentuk serbuk putih yaitu kristal-kristal panjang. Selanjutnya dilakukan pengukuran panjang gelombang maksimum dengan menggunakan larutan standar kafein menggunakan larutan standar 8 ppm untuk menentukan panjang gelombang maksimum dari panjang gelombang 190-380nm. Bentuk alami kafein adalah kristal putih. dibuat terlebih dahulu 50mL larutan induk kafein 100 ppm dalam HCL 0. biji coklat serta daun teh. 12 ppm dalam HCl 0. .19 g/mol. Kemudian dibuat juga larutan blanko yang berisi HCl 0. rasanya pahit dan memiliki titik leleh sebesar 234-2390C serta menyublin pada temperatur 180-2000C. dengan rumus molekul C8H10N4O2.Kafein dikenal sebagai trimethylxantine dengan rumus kimia C8H10N4O2 dan termasuk jenis alkaloida.Kafein terdapat secara alami pada biji kopi.1 N dari larutan induk.1 N.

8 ppm. 2005). Dari persamaan tersebut. maka blanko dimasukkan ke no.0. 12 ppm 0.111 .2 nm. 2ppm 0. Dalam literatur nilai panjang gelombang maksimum kafein adalah 210 nm (Oxford Higher Education. Pengukuran photometric ini dilakukan dengan memasukkan larutan standar pada tempat sample bagian depan.1 pada saat pengisian nilai konsentrasi. maka panjang gelombang ini digunakan untuk pengukuran absorbansi larutan deret standar dan sampel.sehingga didapatkan panjang gelombang maksimum sebesar 280.0). 4 ppm 0.9982 Dari persamaan ini dapat dicari nilai konsentrasi sampel 1 sebesar 7.4 ppm. Agar kurva kalibrasi berbentuk linear melalui (0.83 ppm.12 ppm serta 2 larutan sample .343 . Persamaan kurva yang didapat y = 0. Dilihat dari hasil pengukuran diketahui bahwa nilai absorbansi untuk masing-masing deret standar adalah 0 ppm 0.431.1 ppm sedangkan untuk sampel 2 sebesar 9.00 ppm sedangkan sampel 2 sebesar 9.0193 dengan nilai regresi sebesar 0.10 ppm. 8ppm 0. 10 ppm 0.0363x .9967. Regresi linear adalah ketelitian pembuatan standar yang dipergunakan untuk pengukuran dan regresi linear yang baik adalah mendekati 1. Dari metode Photometric didapat nilai persamaan kurva kalibrasi y = y = 0. .001. Setelah panjang gelombang maksimum sudah diketahui.263 . Pada pengukuran ini dimasukkan larutan standar mulai dari konsentrasi 2 ppm.0369x .0. Dengan didapatnya panjang gelombang maksimum sebesar 280.0081 nilai regresi linier sebesar 0.923 ppm. kemudian dilakukan pengukuran photometric untuk mengetahui nilai absorbansi. Langkah selanjutanya dilakukan pengukuran quantitative untuk membuat kurava kalibrasi dengan cara memasukan larutan standar satu persatu mulai dari konsentrasi 2 ppm hingga 12 ppm.045.2 nm. .nilai konsentrasi sampel 1 sebesar 7. ).

0081 dengan nilai regresi linier 0.1294 . Selanjutnya. 12ppm). 12 ppm. Larutan induk yang digunakan adalah larutan kafein dengan konsentrasi 1000 ppm karena pada konsentrasi tersebut akan stabil sehingga dapat disimpan untuk waktu yang lama. 10.00 ppm sedangkan sampel 2 sebesar 9.0). 4ppm.2 nm. Nantinya larutan induk tersebut diencerkan menjadi 100 ppm dan dari larutan yang berkonsentrasi 100 ppm tersebut akan diencerkan kembali menjadi 2. 4 ppm sebesar 0. 8 ppm sebesar 0. Setelah melakukan pengukuran. tahap selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan kalibrasi pada alat Spektrofotometer UV-1700 Shimadzu dengan cara mengisi 3 kedua kuvet dengan larutan blanko HCl 0. Langkah selanjutnya adalah pengukuran konsentrasi sampel dengan cara memasukkan satu persatu larutan sampel kedalam spektrofotometer dan dari persamaan ini dapat dicari nilai konsentrasi sampel 1 sebesar 7. Hal pertama yang dilakukan adalah menyalakan alat Spektrofotometer UV-1700 Shimadzu.1 N sebanyak 4 bagian.2. panjang gelombang maksimum ditentukan dengan cara mengukur serapan dari berbagai panjang gelombang menggunakan larutan standar kafein yang memiliki konsentrasi sebesar 8ppm. 10ppm. maka blanko dimasukkan ke no.0597. Setelah menentukan panjang gelombang maksimum. Didapat nilai persamaan kurva kalibrasi dari kurva kalibrasi sebesar y = 0. dibuat kurva kalibrasi dari ke-6 konsentrasi larutan kafein standar tersebut (0ppm. Dari bermacam-macam konsentrasi larutan standar kafein yang telah dibuat. Dari hasil percobaan menggunakan metode photometric didapatkan nilai absorbansi untuk larutan kafein 2 ppm sebesar 0.9982. Brigita Graceria Medi Kusuma (161411070) Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan untuk menentukan kadar kafein menggunakan alat spektrofotometri UV 1700 Shimadzu. Supaya kurva kalibrasi berbentuk linear melalui (0. Setelah proses inisialisasi selesai.4468 .83 . Langkah selanjutanya dilakukan pengukuran photometric untuk membuat kurva kalibrasi dengan memasukan larutan standar satu persatu mulai dari konsentrasi 2 ppm hingga 12 ppm. 12 ppm sebesar 0.0369x . 8ppm.1 pada saat pengisian nilai konsentrasi.3575. 10 ppm sebesar 0.2817. 8. Didapatkan hasil pengukuran panjang gelombang maksimum sebesar 280. 2ppm. 4. ditentukan panjang gelombang maksimum dari larutan kafein.0. Kuvet bagian depan diganti isinya dengan larutan kafein 8 ppm.

Dari pengukuran ini akan didapatkan nilai absorbansi larutan standar. 0. 0.2817.0081dengan nilai regresi linier sebesar 0. panjang gelombang maksimum ditentukan dengan cara mengukur serapan dari berbagai panjang gelombang menggunakan larutan standar kafein yang memiliki konsentrasi 8ppm.Persamaan ini digunakan untuk menentukan konsentrasi .2 nm.9982 .3575.Nilai absorbansi yang didapat dengan pengukuran photometric adalah 0.0. Pada praktikum ini digunakanlah alat spektrofotometer Shimadzu yang memiliki 2 sumber lampu yaitu sinar tampak dan UV. dilakukan dengan metoda spektrofotometri dengan sumber lampu UV (lampu yang digunakan biasanya lampu denterium).0369x .4468 Kemudian dibuat kurva kalibrasi. Persamaan kurva kalibrasi yang didapat adalah y = 0. 3. Dan diperoleh hasil pengukuran panjang gelombang maksimum sebesar 280. Selnajutnya penentuan kurva kalibrasi dilakukan dengan mencari nilai absorbansi dari larutan standar dengan konsentrasi rendah (2 ppm) sampai larutan standar dengan konsentrasi paling tinggi (12 ppm) dengan menggunakan pengukuran photometric. sedang sinar tak tampak sering disebut Ultra Violet (UV). ppm. 0. untuk sumber lampunya yang digunakan adalah wolfram. karena larutan hasil ekstraksi kafein yang telah terpisah tidak berwarna.1294 . hal pertama yang dilakukan adalah dengan menentukan panjang gelombang maksimum dari larutan kafein. sehingga semakin besar konsentrasi analit (kafein) maka semakin besar pula nilai absorbansinya. 0. Absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi analit. sehingga spektrofotometer Shimadzu sering disebut spektrofotometer UV-vis (Ultra Violet – Visible) Pada praktikum spektrofotometri ini.0597. sehingga diperlukan lampu dengan panjang gelombang dibawah 350 nm (UV) untuk mengetahui besarnya absorban sampel dan standar kafein. Dari berbagai macam konsentrasi larutan standar kafein yang telah dibuat. Regresi linear adalah ketelitian pembuatan standar yang dipergunakan untuk pengukuran dan regresi linear yang baik adalah mendekati 1. Kuvet bagian depan diganti isinya dengan larutan kafein 8 ppm. Fakhira Rizqia Mulyandani (161411071) Pada praktikum ini penentuan kadar kafein.

8. Larutan 100 ppm ini dibuat dari larutan induk 1000 ppm. 0.154ppm dengan nilai absorbansi 0. perbedaan energi antara keadaan dasar dan keadaan tereksitasi menjadi lebih kecil sehingga penyerapan terjadi pada panjang gelombang yang lebih besar.1 N. Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan pengukuran konsentrasi sampel.3409. sampel dengan memasukkan nilai y yang merupakan nilai absorbansi sampel dan nilai x untuk mentukan konsentrasi sampel. 0. dan 12.Konsentrasi yang didapat untuk sampel 1 sebesar 7 ppm sedangkan sampel 2 sebesar 9. Kuvet yang berisi larutan kafein standar (bagian depan) diganti dengan larutan sampel yang akan dianalisis.83 ppm.0000. Kemudian. Pekerjaan ini dilakukan sebanyak 2 kali karena ada 2 sampel yang dibuat. 10. larutan blanko pada kuvet kuarsa yang ke-2 diganti dengan larutan standar yang .2404 dan nilai konsentrasi sampel 2 sebesar 9. 4. 0.923ppm dengan nilai absorbansi 0.263 . Didapat nilai absorbansi setiap konentrasi adalah 0.111 . Untuk senyawa yang mempunyai sistem konjugasi.0363x - 0. Kafein adalah senyawa yang mempunyai ikatan konjugasi sehingga dapat digunakan dalam penggunaan spektrofotometri UV. kita membuat larutan kafein standar dengan konsentrasi (dalam ppm) 0.045.9967.0193 dengan nilai regresi sebesar 0. Cara pengukuran konsentrasi juga dilakukan dengan metode quantitative untuk 6 konsentrasi larutan kafein tersebut.001. Larutan standar dibuat dengan mengencerkan larutan induk 100 ppm dalam HCl 0. percobaan dimulai dengan menyalakan spektrofotometri UV. Gandi Pratama (161411072 ) Senyawa yang digunakan dalam pengukuran menggunakan spektrofotometri UV adalah senyawa-senyawa yang mampu menyerap sinar UV. 0. 4. Gugus fungsi yang menyerap radiasi di daerah ultraviolet dan daerah tampak disebut khromofor dan hampir semua khromofor mempunyai ikatan tak jenuh. Kemudian. 2. 0. Dari hasil pengukuran menggunakan alat Spektrofotometer UV-1700 Shimadzu didapatkan nilai konsentrasi sampel 1 sebesar 7. kuvet kuarsa diisi dengan larutan blanko (0 ppm) untuk melakukan kalibrasi alat yaitu dengan mengatur agar nilai absorbansi alat A=0.431 Persamaan kurva yang didapat adalah y = 0. Kemudian.343 . Pada praktikum spektrofotometri ini.

2404 dan nilai absorbansi larutan sampel 2 adalah 0.2817. Diperoleh panjang gelombang maksimumnya adalah 280. Persamaan kurva kalibrasi metode photometric adalah y = 0.83 ppm. H.2817. Persamaan kurva kalibrasi metode quantitative adalah y = 0. larutan 4 ppm adalah 0. Larutan sampel yang diukur adalah dari larutan standar yang dicampur secara acak. larutan 12ppm adalah 0. Langkah selanjutnya adalah pengukuran konsentrasi larutan sampel.923 ppm. Nilai regresi pengukuran photometric lebih mendekati 1 dibandingkan dengan nilai regresi pengukuran quantitative sehingga hasil pengukuran photometric lebih akurat dibandingkan pengukuran secara quantitative. larutan 4 ppm 0.0369x .2 nm.0193 sehingga dapat diperoleh bahwa konsentrasi larutan secara quantitative sampel 1 adalah 7.2496 dan nilai absorbansi larutan sampel 2 adalah 0.0363x . Konsentrasi larutan sampel (x) dapat diperoleh dengan memasukkan nilai absorbansi (y) ke dalam persamaan kurva kalibrasi dari masing-masing metode percobaan (photometric dan quantitative). Diperoleh nilai absorbansi larutan standar 2 ppm adalah 0. larutan 12 ppm adalah 0. larutan 8 ppm 0.3409.3545.0597. Nilai panjang gelombang maksimum berdasarkan pengukuran terhadap larutan standar kafein 8ppm menggunakan alat Spektrofotometer UV-1700 sebesar 280.0. Diperoleh bahwa nilai absorbansi secara photometric larutan sampel 1 adalah 0.0597. nilai absorbansi tiap larutan standar diukur untuk membuat kurva kalibrasi. KESIMPULAN Semakin besar konsentrasi larutan maka semakin besar pula nilai absorbansi larutan tersebut.1294. Pengukuran konsentrasi larutan sampel dilakukan secara photometric dan quantitative.0.3575. absorbansi sampel 1 adalah 0. . Sedangkan secara quantitative.154 ppm sedangkan konsentrasi sampel 2 adalah 9.2 nm. 0.4468. larutan 10 ppm 0. larutan 10 ppm adalah 0. konsentrasinya sedang untuk menentukan panjang gelombang maksimum.4468. larutan 8 ppm adalah 0.0081 sehingga diperoleh bahwa konsentrasi larutan secara photometric sampel 1 adalah 7. Setelah itu.1294.00 ppm sedangkan konsentrasi sampel 2 adalah 9.3575. Nilai absorbansi larutan kafein standar melalui metode photometric adalah 2 ppm.

154 ppm dan sampel 2 sebesar 9. 8ppm 0. Berdasarkan pengukuran menggunakan alat Spektrofotometer UV-1700 Shimadzu.3409. Dengan pengukuran menggunakan alat spektrofotometer uv-1700 shimadzu diperoleh konsentrasi sampel pada gambar berikut Absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi analit.111 . 10 ppm 0. 2ppm 0.001. Dengan pengukuran quantitative (dengan persamaan ms.923ppm dengan nilai absorbansi 0.2404 dan nilai konsentrasi sampel 2 sebesar 9.0147 ppm dan sampel 2 sebesar 9.Dengan pengukuran photometric.431. Sedangkan jika dilihat langsung dari spektrofotometri UV diperoleh konsentrasi sampel 1 sebesar 7. . Semakin tinggi nilai absorbansi maka semakin tinggi pula konsentrasi suati larutan. 4 ppm 0. Nilai absorbansi larutan kafein standar melalui metode 0 ppm 0.67 ppm.343 . metode quantitative berturut turut adalah.exel) .263 . 12 ppm 0.0154ppm 0. konsentrasi sampel 1 yang didapat sebesar 7.045. konsentrasi larutan sampel 1 sebesar 7. sehingga semakin besar konsentrasi analit maka semakin besar pula nilai absorbansinya.00 ppm dan sampel 2 sebesar 9.83 ppm. konsentrasi sampel 1 yang didapat sebesar 7. metode photometric.95 ppm. Nilai absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi larutan.

Skripsi Sarjana pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Raihan Adlin. Rina Afriyana. Medan. “Penerapan Metode Spektrofotometri Ultraviolet pada Penetapan Kadar Nifedipin dalam Sediaan Tablet”. 2009. 2014. Medan. Karya Tulis Ilmiah untuk memperoleh Sarjana Kedokteran Universitas Sumatera Utara. “Efek Kafein terhadap Kejadian Tremor Tangan pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Angakatan Tahun 2010”. Ruzaidi. . DAFTAR PUSTAKA Sirait.