You are on page 1of 24

ada dasarnya hukum muamalah adalah mubah (diperbolehkan) sebagaimana yang telah

disepakati oleh mayoritas ulama fiqih dalam kitab-kitab mereka dengan menetapkan sebuah
kaidah fiqhiyah yang berbunyi ‘Al-Ashlu Fil Asy-ya-i Wal A’yani Al-Ibahatu’. Kaidah ini
berlandaskan beberapa dalil syar’i, di antaranya adalah firman Allah:

‫ض َج ِميعًا‬ ْ ‫ه َُو الَّذِي َخلَقَ لَ ُك ْم َما فِي‬
ِ ‫األر‬

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu.” (QS. Al-Baqarah:
29)

Dan jual beli (perdagangan) adalah termasuk dalam katagori muamalah yang dihalalkan oleh
Allah, sebagaimana firman-Nya:

‫َّللاُ ْال َب ْي َع‬
َّ ‫َوأَ َح َّل‬

“Dan Allah telah menghalalkan jual beli.” (Q.S. Al Baqarah: 275).

Al-Hafizh Ibnu katsir dalam tafsir ayat diatas mengatakan: “Apa-apa yang bermanfaat bagi
hamba-Nya maka Allah memperbolehkannya dan apa-apa yang memadharatkannya maka
Dia melarangnya bagi mereka”.

Dari ayat ini para ulama mengambil sebuah kaidah bahwa seluruh bentuk jual beli hukum
asalnya boleh kecuali jual beli yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Yaitu setiap transaksi
jual beli yang tidak memenuhi syarat sahnya atau terdapat larangan dalam unsur jual-beli
tersebut.

PENGERTIAN JUAL BELI

Jual Beli bisa didefinisikan sebagai: Suatu transaksi pemindahan pemilikan suatu barang dari
satu pihak (penjual) ke pihak lain (pembeli) dengan imbalan suatu barang lain atau uang.

Atau dengan kata lain, jual beli itu adalah ijab dan qabul,yaitu suatu proses penyerahan dan
penerimaan dalam transaksi barang atau jasa.

Islam mensyaratkan adanya saling rela antara kedua belah pihak yang bertransaksi. Hadits
riwayat Ibnu Hibban dan Ibnu Majah menjelaskan hal tersebut:

‫ِإنَّ َما ْال َب ْي ُع َع ْن ت ََراض‬

“Sesungguhnya Jual Beli itu haruslah dengan saling suka sama suka.”

Oleh karena kerelaan adalah perkara yang tersembunyi, maka ketergantungan hukum sah
tidaknya jual beli itu dilihat dari cara-cara yang nampak (dhahir) yang menunjukkan suka
sama suka, seperti adanya ucapan penyerahan dan penerimaan.

MACAM-MACAM JUAL BELI

Beberapa macam jual beli yang diakui Islam antara lain adalah:

1. Jual beli barang dengan uang tunai

2. Jual Beli barang dengan barang (muqayadlah/barter)

3. Jual beli uang dengan uang (Sharf)

4. Jual Utang dengan barang, yaitu jual beli Salam (penjualan barang dengan hanya
menyebutkan ciri-ciri dan sifatnya kepada pembeli dengan uang kontan dan barangnya
diserahkan kemudian)

5. Jual beli Murabahah ( Suatu penjualan barang seharga barang tersebut ditambah
keuntungan yang disepakati. Misalnya seseorang membeli barang kemudian menjualnya
kembali dengan keuntungan tertentu. Karakteristik Murabahah adalah si penjual harus
memberitahu pembeli tentang harga pembelian barang dan menyatakan jumlah keuntungan
yang ditambahkan pada biaya tersebut.”

Untuk dapat mengetahui dan memahami bentuk-bentuk transaksi jual beli yang dilakukan
oleh umumnya manusia, apakah hukumnya sah atau tidak, penghasilan yang diperolehnya
halal atau tidak, maka berikut ini kami akan sebutkan rukun-rukun dan syarat-syarat sahnya
jual beli.

RUKUN JUAL BELI:

Jual beli memiliki 3 (tiga) rukun:

1.Al- ‘Aqid (orang yang melakukan transaksi/penjual dan pembeli),

2. Al-‘Aqd (transaksi),

3. Al-Ma’qud ‘Alaihi ( objek transaksi mencakup barang dan uang).

Masing-masing rukun memiliki syarat;

1. Al- ‘Aqid (penjual dan pembeli) haruslah seorang yang merdeka, berakal (tidak gila), dan
baligh atau mumayyiz (sudah dapat membedakan baik/buruk atau najis/suci, mengerti
hitungan harga).

Seorang budak apabila melakukan transaksi jual beli tidak sah kecuali atas izin dari tuannya,
karena ia dan harta yang ada di tangannya adalah milik tuannya. Hal ini berdasarkan sabda
Nabi: “Barangsiapa menjual seorang budak yang memiliki harta, maka hartanya itu milik
penjualnya, kecuali jika pembeli mensyaratkan juga membeli apa yang dimiliki oleh budak
itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian pula orang gila dan anak kecil (belum baligh) tidak sah jual-belinya, berdasarkan
firman Allah:

‫َوا ْبتَلُوا ْاليَت َا َمى َحتَّى إِذَا بَلَغُوا النِكَا َح فَإ ِ ْن آنَ ْست ُ ْم ِم ْن ُه ْم ُر ْشدًا فَادْفَعُوا إِلَ ْي ِه ْم أَ ْم َوالَ ُه ْم‬

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut
pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada
mereka harta-hartanya”. (QS. An-Nisaa’: 6).

2185 dan Ibnu Hibban no. Akan tetapi di sana ada kondisi tertentu yang mana boleh seseorang dipaksa menjual harta miliknya. Maka dia berhak diberikan sanksi. Rasulullah bersabda: ‫إِنَّ َما ْالبَ ْي ُع َع ْن ت ََراض‬ “Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan dengan suka rela.S. 3384. Juga dikarenakan tidak terdapat unsur keterpaksaan.‫ى‬ َ ‫ض‬ ُّ ِ‫نَ َهى النَّب‬ “Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang membeli barang dari orang yang sedang kepepet”. diriwayatkan oleh Abu Daud no. Abu Daud) Masalah: Hukum membeli barang dengan harga miring dari seseorang yang butuh uang tunai karena kepepet (terpaksa) Dalam masalah ini ada tiga pendapat para ulama fiqih. lalu membayarkan hutangnya. adalah hadits dho’if (lemah). Nabi bersabda: “Orang kaya yang sengaja menunda-nunda pembayaran hutangnya telah berbuat zhalim. An-Nisaa’: 29).” (HR. (lihat Shohih Fiqhis Sunnah IV/271) . Allah berfirman: ِ َ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ال تَأْ ُكلُوا أ َ ْم َوالَ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم بِ ْالب‬ َ ‫اط ِل إِال أ َ ْن تَ ُكونَ تِ َج‬ ‫ارة ً َع ْن ت ََراض ِم ْن ُك ْم‬ “Hai orang-orang yang beriman. Dan di dalam ayat ini juga Allah melarang menyerahkan harta kepada orang yang tidak bisa mengendalikan harta. maka pihak yang berwenang boleh memaksa orang tersebut untuk menjual hartanya. (Q. dengan demikian anak-anak yang belum memiliki kecakapan dalam melakukan transaksi tidak diperbolehkan melakukannya hingga ia baligh. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”. karena orang ini akan menjual barangnya kepada siapapun dengan harga miring. tetapi pendapat yang rojih (terkuat) ialah yang mengatakan dibolehkan dan bahkan dianjurkannya jual beli seperti ini dalam rangka membantu saudara seiman yang membutuhkan uang tunai secepatnya. bila dia tetap tidak mau menjualnya maka dia boleh melaporkan kepada pihak yang berwenang agar menyelesaikan kasusnya atau memberikan hukuman kepadanya (bisa dengan penjara atau selainnya).” (HR. 4967) Maka tidak sah jual-beli orang yang dipaksa. Adapun hadits yang berbunyi: ‫ط ِر‬ ْ ‫ َع ْن بَيْعِ ْال ُم‬-‫صلى هللا عليه وسلم‬. seperti bila seseorang memiliki hutang kepada pihak lain dan sengaja tidak mau membayarnya. Ibnu Majah II/737 no. Penjual dan pembeli harus saling ridha dan tidak ada unsur keterpaksaan dari pihak manapun meskipun tidak diungkapkan.Para ulama ahli tafsir mengatakan:“Ujilah mereka supaya kalian mengetahui kepintarannya”. 2. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. Namun sebagian ulama dalam mazhab hanbali memakruhkan membeli barang tersebut meskipun transaksinya sah.

melemahkan pendapat pertama dan memilih pendapat yang tidak mensyaratkan ijab-qabul dalam aqad jual beli yang merupakan mazhab maliki dan hanbali.3. Al-‘Aqdu (transaksi/ijab-qabul) dari penjual dan pembeli. Raudhatuthalibin 3/5). Wallahu a’lam. Dengan demikian boleh membeli barang dengan meletakkan uang pada mesin lalu barangnya keluar dan diambil atau mengambil barang dari rak di super market dan membayar di kasir tanpa ada lafaz ijab-qabul. Hasyiyah Ibnu Qasim 1/507). agar tidak berdosa orang yang tidak mengucapkannya… malah orang yang mengucapkan lafaz ijab-qabul saat berjual beli akan ditertawakan…” (lihat. Ijab (penawaran) yaitu si penjual mengatakan. Di dalam hal ini ada dua pendapat: Pendapat pertama: Mayoritas ulama dalam mazhab Syafi’i mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul dalam setiap bentuk jual-beli. Dan saling ridha antara penjual dan pembeli sebagaimana diketahui dengan lafaz ijab- qabul juga dapat diketahui dengan adanya qarinah (perbuatan seseorang dengan mengambil barang lalu membayarnya tanpa ada ucapan apa-apa dari kedua belah pihak). maka Dia pasti mengharamkan harganya”. (lihat. Al-Ma’qud ‘Alaihi memiliki beberapa syarat: A. Kifayatul akhyar hal. karena Allah dalam surat An-Nisa’ hanya mensyaratkan saling ridha antara penjual dan pembeli dan tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab- qabul. andaikan lafaz tersebut merupakan syarat tentulah akan diriwayatkan. Pendapat kedua: Tidak mensyaratkan mengucapkan lafaz ijab-qabul dalam setiap bentuk jual-beli. “mengikuti pendapat yang mengatakan lafaz ijab-qabul tidak wajib sangat baik. Al-Ma’qud ‘Alaihi ( objek transaksi mencakup barang dan uang ). maka tidak sah jual-beli yang dilakukan tanpa mengucapkan lafaz “saya jual… dan saya beli…”.berkata. Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad shahih) . (lihat. “saya terima atau saya beli”. Dan tidak ada riwayat dari nabi atau para sahabat yang menjelaskan lafaz ijab-qabul. Dalil pendapat kedua sangat kuat. bukan najis dan bukan benda yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. “saya jual barang ini dengan harga sekian”. Imam Baijuri –seorang ulama dalam mazhab Syafi’i.283. Dan Qabul (penerimaan) yaitu si pembeli mengatakan. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: ُ‫ىء َح َّر َم َعلَ ْي ِه ْم ث َ َمنَه‬ َ ‫َّللاَ ِإذَا َح َّر َم َعلَى قَ ْوم أ َ ْك َل‬ ْ ‫ش‬ َّ ‫ِإ َّن‬ “Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan atas suatu kaum untuk memakan sesuatu. 3. Bahkan imam Nawawi -pemuka ulama dalam mazhab Syafi’i. Al Mumti’ 8/106). (HR.Barang yang diperjual-belikan memiliki manfaat yang dibenarkan syariat.

“hai keponakanku! Bila engkau membeli barang jangan dijual sebelum terjadi serah terima”. khamr dan alat musik”. “aku bertanya kepada rasulullah. babi dan patung”. anjing dan patung. Bukhari no. karena musik telah diharamkan Allah dan rasul-Nya. sutera. Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam.3503) Dan tidak boleh hukumnya menjual barang yang telah dibeli namun belum terjadi serah- terima barang. Abu Daud II/305 no. dia bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang seseorang yang datang ke tokonya untuk membeli suatu barang. motor atau handphone miliknya yang dicuri oleh orang lain dan belum kembali. babi.Oleh karena itu tidak halal uang hasil penjualan barang-barang haram sebagai berikut: Minuman keras dengan berbagai macam jenisnya. (HR. Maka uang hasil keuntungan menjual barang ini tidak halal dan tentunya tidak berkah. maka tidak sah menjual mobil. kemudian dia mengambil uang orang tersebut dan membeli barang yang diinginkan dari toko lain. ia berkata. bangkai. jual-beli apakah yang diharamkan dan yang dihalalkan? Beliau bersabda. Barang yang dijual bisa diserahkan kepada sipembeli. hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang . maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: َ ‫الَ تَبِ ْع َما لَي‬ َ‫ْس ِع ْندَك‬ “jangan engkau jual barang yang tidak engkau miliki!” (HR. Demikian tidak sah menjual burung di udara atau ikan di kolam yang belum di tangkap. Bukhari dan Muslim) Termasuk dalam barang-barang yang haram diperjual-belikan ialah Kaset atau VCD musik dan porno. bayaran pelacur dan hasil perdukunan”. Dan kepemilikan sebuah barang dari hasil pembelian sebuah barang menjadi sempurna dengan terjadinya transaksi dan serah- terima. kebetulan barang tersebut sedang tidak ada di tokonya. Bukhari dan Muslim) Dalam hadist yang lain riwayat Ibnu Mas’ud beliau berkata: “Sesungguhnya Nabi Saw melarang (makan) harga anjing. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‫ف‬ َ ‫از‬ َ ‫لَيَ ُكون ََّن ِم ْن أ ُ َّمتِى أ َ ْق َوا ٌم يَ ْست َِحلُّونَ ْال ِح َر َو ْال َح ِر‬ ِ ‫ير َو ْال َخ ْم َر َو ْال َم َع‬ “Akan ada diantara umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina. (HR. Ahmad) C. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‫صن َِام‬ ِ ‫سولَهُ َح َّر َم بَ ْي َع ْال َخ ْم ِر َو ْال َم ْيتَ ِة َو ْال ِخ ْن ِز‬ ْ َ ‫ير َواأل‬ َّ ‫ِإ َّن‬ ُ ‫َّللاَ َو َر‬ “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan jual beli khamer. bangkai. Barang yang dijual harus barang yang telah dimilikinya. (HR.5590) B. Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam. (HR.

(HR. durian. kecuali untuk barang yang bila dibuka bungkusnya akan menjadi rusak seperti. atau jeruk yang manis rasanya dan memajangnya sebagai contoh padahal dia tahu bahwa sebagian besar semangka dan jeruk yang dimilikinya bukan dari jenis contoh yang dipajang.Ahmad) D. Maka ini termasuk jual-beli gharar (penipuan) yang diharamkan syariat. atau mendengar penjelasan dari si penjual. Amiin. semangka dan selainnya. Muslim) Adapun harga barang bisa diketahui dengan cara menanyakan langsung kepada si penjual atau dengan melihat harga yang tertera pada barang.diriwayatkan Abu Said.wordpress. 2010 3481 Share on Facebook Tweet on Twitter Pertanyaan: Apakah kita boleh membeli secara borongan. kecuali bila harga yang ditulis pada barang tersebut direkayasa dan bukan harga sesungguhnya. kelapa.com/2011/04/22/memahami-rukun-dan-syarat-sahnya-jual-beli/ Apa Hukum Jual Beli Borongan? By adminC - Apr 30. telur. Demikianlah penjelasan singkat tentang rukun dan syarat sahnya jual beli. (HR. ini juga termasuk jual-beli gharar (penipuan). Semoga dapat difahami dan bermanfaat bagi kita semua. Karena nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang jual beli yang mengandung unsur gharar (ketidak jelasan/penipuan). Barang yang diperjual-belikan dan harganya harus diketahui oleh pembeli dan penjual. seperti kentang yang sudah nyata tuanya? Sebagian orang berkata tidak boleh. ia berkata: “Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang membeli hamba sahaya yang kabur”. wallahu a’lamu bish-showab. Barang bisa diketahui dengan cara melihat fisiknya. Mana pendapat yang rajih? . Maka sah jual beli tanpa melihat isinya dan si pembeli tidak berhak mengembalikan barang yang dibelinya seandainya didapati isi rusak kecuali dia mensyaratkan di saat akad jual-beli akan mengembalikan barang tersebut bilamana isinya rusak atau si penjual bermaksud menipu si pembeli dengan cara membuka sebuah semangka yang bagus. https://abufawaz.

Para ulama sepakat atas bolehnya jual-beli secara borongan atau taksiran. ُ‫سلَّ َم أ َ ْن نَبِ ْيعَه‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫ان ِجزَ افًا فَنَ َهانَا َر‬ َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ ِ َ‫الر ْكب‬ ُّ َ‫ام ِمن‬ َّ ‫ ُكنَّا نَ ْشت َِري ال‬:َ‫ي هللاُ َع ْن ُه َما قَال‬ َ َ‫طع‬ َ ‫ض‬ ِ ‫ع َم َر َر‬ ُ ‫َع ِن ب ِْن‬ ‫َحتَّى نَ ْنقُلَهُ ِم ْن َمكَا ِن ِه‬ Dari Abdullah bin Umar. hukumnya boleh. Hanya saja. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah dan murid beliau Ibnul Qayyim. Berdasarkan hadits.Jawaban: Pertanyaan ini mengandung dua sisi masalah: hukum jual-beli secara borongan dan hukum jual-beli kentang yang sudah nyata tuanya secara borongan. 2. dan lainnya) sudah dipanen dan sudah berada di atas tanah. ”Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini. Seandainya terlarang. Akan tetapi menggunakan sistem taksiran. dan inilah makna jual-beli borongan. Muslim: 1526) Makna dari ‫ ِجزَ افًا‬adalah jual-beli makanan tanpa ditakar. adalah bahwa jual beli sistem borongan itu merupakan salah satu sistem jual-beli yang dilakukan oleh para sahabat pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak melarangnya.” (Lihat pula Mausu’ah al-Manahi Syar’iyyah oleh Syekh Salim al-Hilali 2/233) Kedua: Jual beli kentang yang sudah nyata tuanya secara borongan. dia berkata. maka hukumnya sebagaimana di atas. Imam Syafi’i. misalnya kacang tanah. maka ada perselisihan di kalangan para ulama. ada dua kemungkinan. ditimbang. Sisi pengambilan hukum dari hadits ini. beliau melarang untuk menjualnya kembali sampai memindahkannya dari tempat semula. dan tanpa ukuran tertentu. Letak permasalahannya adalah: . singkong.” (Fathul Bari: 4351) Imam Ibnu Qudamah berkata. “Hadits ini menunjukkan bahwa jual-beli makanan dengan sistem taksiran. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata.” (HR. pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melarangnya dan tidak hanya menyatakan hal di atas. “Dahulu kami (para sahabat) membeli makanan secara taksiran. yaitu: 1. dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad tidak memperbolehkan jual beli tersebut. Untuk masalah ini. Pertama: Hukum jual-beli secara borongan. Imam Abu Hanifah. maka Rasulullah melarang kami menjual lagi sampai kami memindahkannya dari tempat belinya. Namun Imam Malik dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad berpendapat bahwa hal itu boleh. Jika jual beli itu dilakukan saat kentang (atau tanaman yang sejenisnya. Ini merupakan taqriri (persetujuan) beliau atas bolehnya jual-beli sistem tersebut. Jika masih berada dalam tanah.

berdasarkan beberapa sebab. dengan melihat batang dan daunnya maka bisa diprediksikan apakah biji-bijian tersebut bagus ataukah tidak. Al- Hajj: 78) (Lihat Majmu’ Fatawa Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah: 29/33. pada Majalah Al-Furqon.com/1828-apa-hukum-jual-beli-borongan. (Lihat al-Manahi Syariyyah: 2/205) Pendapat yang rajih (kuat) –insya Allah– adalah yang membolehkan. kalau diharamkan. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencabut sesuatu yang berat dari syariat ini.com/1828-apa-hukum-jual-beli-borongan. Oleh karena itu.html Jual Beli Tebasan dan Permasalahannya Advertisements Report this ad .html https://konsultasisyariah.” (HR. ‫ع ْن بَيْعِ ْالغ ََر ِر‬ َ ‫سلَّ َم َع ْن بَيْعِ ْال َح‬ َ ‫صاةِ َو‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫ي هللاُ َع ْنهُ قَا َل نَ َهى َر‬ َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ ِ ‫َع ْن أَبِ ْي ه َُري َْرة َ َر‬ َ ‫ض‬ Dari Abu Hurairah. terutama yang mempunyai lahan luas. dia berkata.konsultasisyariah. maka akan sangat memberatkan. … ‫الدي ِْن ِم ْن َح َرج‬ “…Dan tidaklah Allah menjadikan dalam agama Islam kesulitan bagi kalian…” (Qs. karena orang yang sudah berpengalaman akan mampu untuk mengetahui isi dan kadar tanaman tersebut meskipun belum dicabut. (Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www. juga dengan mencabut satu atau dua tanaman akan bisa diprediksikan berapa jumlah yang akan dihasilkan dalam kebun atau ladang tersebut. 1428 H/2007 M.com) Read more https://konsultasisyariah. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar. 227. 487. dan Zadul Ma’ad oleh Imam Ibnul Qayyim: 5/920) Dijawab oleh Ust. edisi 6. ِ ‫… َو َما َجعَ َل َعلَ ْي ُك ْم فِي‬. di antaranya:  Jual-beli tersebut tidak termasuk dalam jual beli gharar. tahun ke-8. Misalnya. Allah berfirman.  Jual-beli tersebut sangat dibutuhkan manusia.Apakah jual-beli kentang dan semisalnya yang masih berada dalam tanah termasuk jual -beli yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut. yang akan sangat menyulitkan sekali kalau diharuskan memanennya sendiri. Muslim: 1513) Gharar adalah jual beli yang terdapat unsur yang tidak jelas.Ahmad Sabiq.

Kesepahaman ini muncul karena tradisi atau karena harga yang disepakati mengindikasikan bahwa si tengkulak memang bermaksud membeli gabah dan bukan batang padi (jawa:dami). Lalu. jual beli tebasan telah dilakukan masyarakat. maka uang itu hangus. Pertama. Pengertian membeli dalam hal ini bisa diartikan dua hal. kedua belah pihak telah memiliki kesepahaman bahwa padi baru diambil si tengkulak setelah layak panen. Jika kelak barang jadi diambil maka uang yang diserahkan diperhitungkan sebagai bagian dari pembayaran. Ditinjau dari sudut prinsip-prinsip muamalah dalam Islam. biasanya oleh tengkulak. dengan cara membeli hasil pertanian atau perkebunan sebelum masa penen. di mana pembeli telah menyerahkan uang muka sebagai pengikat. bagaimanakah pandangan ulama terhadap jual beli tebasan? Dalil Jual Beli Tebasan dari Hadis Jual beli tebasan bukanlah fenomena baru. Kedua. Panjer dalam hal ini berfungsi sebagai pengikat bagi si petani. dalam pengertian bahwa si petani tidak boleh menjual hasil panennya kepada orang lain. Kedua. tengkulak benar-benar melakukan transaksi jual-beli dengan petani pada saat biji tanaman atau buah dari pohon sudah tampak tetapi belum layak panen. Dan pada saat itulah tengkulak baru mengambil biji atau buah yang sudah dibelinya. dan jika tidak jadi diambil. transaksi tersebut diatas mengandung beberapa kemungkinan fasad. Contoh kasus: seorang tengkulak mendatangi petani pada saat tanaman padi sudah mengeluarkan bulirnya tetapi belum berisi. Dengan demikian dalam transaksi tersebut mabi’ dijual tanpa takaran (jizaf). jika tebasan dilakukan dengan cara barter dengan komoditas sejenis. tebasan dilakukan. maka akan terjadi riba fadl.Di kalangan petani lazim dikenal penjualan hasil penen dengan cara tebasan. jikajual tebas dilakukan dengan modus kedua. tebasan adalah pembelian hasil tanaman sebelum dipetik. maka memungkinkan terjadinya shofqotain fi shofqotin wahid[1] atau bai’ bi sayrtin jaraa naf’an[2]. Al-Bukhory menuturkan Hadis-Hadis yang terkait dengan jual tebasan dimulai dari larangan muzabanah: . Dengan atau tanpa diucapkan dalam transaksi. jika buah atau padi sudah dibeli tetapi masih dibiarkan. maka akan terjadi mukhotoroh atau memungut harta orang lain tanpa imbalan. atau sudah berisi tetapi belum cukup keras untuk bisa dipanen. Keempat. tengkulak tidak langsung memanen biji atau buah tersebut. buah yang masih di atas pohon atau padi yang masih berada di tangkainya tidak diketahui jumlahnya. melainkan menunggu hingga biji atau buah sudah layak panen. Pertama. dan karenanya masih memanfaatkan pohon atau tanah petani. Ketiga. Setelah transaksi. tengkulak membeli dengan menyerahkan sejumlah uang sebagai uang muka (jawa:panjer). Setelah bernegosiasi akhirnya tengkulak dan petani sepakat untuk mengadakan transaki jual-beli tanaman padi seluas sekian hektar dengan harga sekian juta rupiah. Dalam praktik. seperti padi ditukar dengan gabah. Sehingga tidak mengherankan jika jual beli tebasan banyak disinggung dalam Hadis. Dari tinjauan bahasa. Sejak awal Islam.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bary memberikan komentar bahwa al-Bukhory tidak menggunakan redaksi yang mengindikasikan kepastian hukum jual-beli buah sebelum masak. setidaknya dapat digambarkan bahwa para ulama terdahulu telah membicarakan hukum jual beli buah yang masih di atas pohon.‫س َّل َم َع ْن‬ َّ ‫صلَّى‬ َ ‫َللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ٌ َ‫ب ِب ْالك َْر ِم َو َب ْي ُع ْال َع َرايَا قَا َل أَن‬ ُّ ‫س َن َهى النَّ ِب‬ َ ‫ي‬ َ ‫بَاب بَي ِْع ْال ُمزَ ابَنَ ِة َوه‬ َّ ‫ِي بَ ْي ُع الث َّ َم ِر ِبالت َّ ْم ِر َو َب ْي ُع‬ ِ ‫الز ِبي‬ ‫ْال ُمزَ ابَنَ ِة َو ْال ُم َحاقَلَ ِة‬ Kemudian dalam salah satu Hadis disebutkan bahwa salah satu penafsiran muzabanah adalah menjual buah kurma yang masih di pohon dengan kurma kering. yaitu: ‫َارثَةَ أَنَّهُ َح َّدثَهُ ع َْن َز ْي ِد‬ ِ ‫ي ِ ِم ْن بَنِي ح‬ ِ ‫س ْه ِل ب ِْن أ َ ِبي َحثْ َمةَ ْاْل َ ْنص‬ ِّ ‫َار‬ َ ‫ِّث ع َْن‬ ُّ ُ‫الزنَا ِد كَانَ ع ُْر َوةُ ْبن‬ ُ ‫الزبَي ِْر يُ َح ِد‬ ِّ ِ ‫ْث ع َْن أ َ ِبي‬ ُ ‫َوقَا َل اللَّي‬ ‫اس َو َحض ََر‬ َّ َ ُ ‫ار ف ِإذا َج َّد الن‬ َ ِّ َ ‫سل َم َيتَبَايَعُونَ الثِ َم‬ َّ َ َ ‫عل ْي ِه َو‬ َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫صلى‬ َّ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ِل‬ ُ ‫ع ْه ِد َر‬ َ ‫اس فِي‬ َّ ُ ‫عنهُ قا َل كَانَ الن‬ َ ْ َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫ت َر ِض َي‬ ٍ ِ‫ب ِْن ثَاب‬ َّ ‫ص َّلى‬ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫َاب الث َّ َم َر ال ُّد َمانُ أَصَابَهُ ُم َراضٌ أَصَابَهُ قُشَا ٌم عَا َهاتٌ يَحْ ت َ ُّجونَ ِبهَا َفقَا َل َر‬ َ ‫ع إِنَّهُ أَص‬ ُ ‫يه ْم قَا َل ا ْل ُم ْبتَا‬ِ ‫اض‬ ِ َ‫تَق‬ ْ ‫ِير بِهَا ِل َكث َر ِة‬ُ ‫ُور ِة يُش‬ ْ َ ‫ح الث َم ِر كَال َمش‬ َّ َ َّ َ َ َ َ َ ُ ‫صو َمة فِي ذ ِل ف ِإ َّما َل فَل تتبَا َيعُوا َحتى يَ ْبد َُو صََل‬ َ َ‫ك‬ َ ُ ُ ْ ْ ُ ُ ‫سل َم ل َّما َكث َرتْ ِعن َدهُ الخ‬ َ َّ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ‫صفَ ُر ِم ْن‬ َ َ ْ ‫ار أ ْر ِض ِه َحتَّى تَ ْطلُ َع الث ُّ َريَّا فيَتَبَيَّنَ ْاْل‬ َ َ ‫ت لَ ْم يَك ُْن يَ ِبي ُع ثِ َم‬ َ ٍ ‫ت أنَّ َز ْي َد ْبنَ ثَا ِب‬ ُ َ ٍ ‫صو َمتِ ِه ْم َوأ ْخبَ َرنِي َخ ِارجَة ْبنُ َز ْي ِد ب ِْن ثَا ِب‬ ُ ‫ُخ‬ ‫س ْه ٍل ع َْن‬ َ ‫الزنَا ِد ع َْن ع ُْر َوةَ ع َْن‬ ِّ ِ ‫سةُ ع َْن َزك َِر َّيا َء ع َْن أ َ ِبي‬ َ ‫ع ْن َب‬َ ‫ع ِل ُّي ْبنُ بَحْ ٍر َح َّدثَ َنا َحكَّا ٌم َح َّدثَنَا‬ َ ‫َّللاِ َر َوا ُه‬ َّ ‫عبْد‬ َ ‫ْاْلَحْ َم ِر قَا َل أَبُو‬ ‫َز ْي ٍد‬ . Mula-mula al-Bukhory membuat bab dengan judul “”‫( بيع الثمار قبل بدو الصالح‬Jual-Beli Buah Sebelum Masak). Pada bab selanjutnya. al-Bukhory menuturkan: َّ ‫ب أَ ْو ْال ِف‬ ‫ض ِة‬ ِ ‫بَاب َبيْعِ الث َّ َم ِر َعلَى ُر ُء‬ ِ ‫وس النَّ ْخ ِل بِالذَّ َه‬ َ‫َللاُ َع ْنهُ قَال‬ َّ ‫ي‬ ِ ‫الزبَي ِْر َع ْن َجابِ ٍر َر‬ َ ‫ض‬ ُّ ‫طاءٍ َوأَبِي‬ َ ‫ب أ َ ْخبَ َرنَا ا ْبنُ ُج َريْجٍ َع ْن َع‬ ٍ ‫سلَ ْي َمانَ َحدَّثَنَا ا ْبنُ َو ْه‬ُ ُ‫ – َحدَّثَنَا يَحْ يَى ْبن‬2040 ْ ‫َار َوال ِد ِّْره َِم إِ ََّل العَ َرايَا‬ ِ ‫ش ْي ٌء ِم ْنهُ إِ ََّل بِال ِدِّين‬ َ ‫ع‬ َّ َ ‫ع ْن بَيْعِ الث َم ِر َحتَّى يَ ِط‬ ُ ‫يب َو ََل يُبَا‬ َ ‫سل َم‬َّ َّ ‫صلَّى‬ َ ‫َللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ‫ي‬ُّ ِ‫نَ َهى النَّب‬ Dari Hadis ini sesuai dengan judul bab yang disampaikan al-Bukhory. Tentang hal ini Badrul Aini dalam Umdatul Qory Sayrh Shohih al-Bukhory mengatakan: ‫المراد من قوله بيع الثمر أي الثمر الكائن على رؤس الشجر يدل عليه قوله حتى يطيب فإن الثمر الذي هو الرطب َل يطيب‬ ‫إَل على رؤس الشجر‬ Dan dalam bab selanjutnya al-Bukhory menuturkan beberpa Hadis yang terkait penjualan buah sebelum “masak” (‫)بدو الصالح‬. yang diberi judul “jual-beli kurma basah yang masih di atas pohon dengan emas dan perak”. Hadis pertama dalam bab ini disebutkan al-Bukhory secara mu’allaq. Setidaknya ada empat redaksi Hadis yang kemudian menjadi pangkal perbedaan ulama tentang hukum jual beli buah atau tanaman yang belum “layak petik”. karena adanya perbedaan pendapat yang kuat tentang masalah ini. dapat dicatat bahwa al- Bukhori mengartikan ‫يب‬ َ ‫ َبي ِْع الث َّ َم ِر َحتَّى َي ِط‬sebagai penjualan buah yang belum masak dan masih di atas pohon. َ ‫ع ْن أَبِي‬ ‫س ِعي ٍد‬ َ َ‫س ْفيَانَ َم ْولَى اب ِْن أَبِي أَحْ َمد‬ ُ ‫صي ِْن َع ْن أَبِي‬ َ ‫ف أ َ ْخبَ َرنَا َما ِلكٌ َع ْن دَ ُاودَ ب ِْن ْال ُح‬ ُ ‫َللاِ ْبنُ يُو‬ َ ‫س‬ َّ ُ‫ – َحدَّثَنَا َع ْبد‬2037 ‫سلَّ َم َن َهى َع ْن ْال ُمزَ ا َبنَ ِة َو ْال ُم َحاقَلَ ِة َو ْال ُمزَ ا َبنَة ُ ا ْش ِت َرا ُء الثَّ َم ِر ِبالتَّ ْم ِر ِفي‬ ‫و‬ ‫ه‬ َ َ ِ َ ُ‫ي‬ ْ َ ‫ل‬ ‫ع‬ َّ ‫َللا‬ ‫ى‬ َّ ‫ل‬ ‫ص‬ َّ ‫َللا‬ ‫ل‬ َ ِ َ ُ َ ‫و‬ ‫س‬‫ر‬ َّ ‫ن‬ َ ‫أ‬ ُ ‫ه‬ ‫َللاُ َع ْن‬ َّ ‫ي‬َ ‫ض‬ ِ ‫ي َر‬ ِِّ ‫ْال ُخد ِْر‬ ‫وس النَّ ْخ ِل‬ ِ ‫ُر ُء‬ Terlepas dari apakah penafsiran muzabanah yang saya garis bawahi dalam Hadis tersebut merupakan penafsiran langsung dari Nabi atau dari Sahabat atau bahkan dari perawi.

meskipun mu’allaq dalam riwayat al-Bukhory. Empat Hadis inilah yang menjadi dalil pokok para ulama dalam memutuskan persoalan jual- beli buah sebelum masak. ulama sepakat bahwa menjual buah atau tanaman yang belum terlihat hukumnya haram dan tidak sah.Hadis ini juga diriwayatkan secara maushul oleh Abu Daud (Abu Daud:2928). Dan Hadis inilah yang dijadikan salah satu dasar oleh para ulama dalam memperbolehkan jual-beli buah sebelum masak. Hadis ini disamping menyebutkan larangan jual-beli buah sebelum masak juga menuturkan latar belakang larangan. Sebab syarat tersebut tidak sejalan dengan kepentingan transaksi dan syarat tersebut memberikan keuntungan salah satu pihak yang . Sebab. Kedua. Dalam kondisi seperti ini hanafiah memperbolehkan sepanjang tidak ada syarat. Sehingga. Untuk klasifikasi pertama. Dan Hadis inilah yang menjadi dasar pelarangan jual-beli buah sebelum masak. buah atau bulir padi sudah terlihat dan sudah layak panen. redaksi Hadis ini shohih berdasarkan riwayat Abu Daud. buah atau bulir padi belum terlihat. Redaksi Hadis kedua adalah beberapa Hadis yang menyebutkan larangan jual-beli buah sebelum masak. “ ُ‫ار قَ ْب َل أ َ ْن يَ ْبد َُو ص َََل ُحهَا ث ُ َّم أَصَابَتْه‬ َ ‫بَاب إِذَا بَا‬ َ ‫ع الثِ ِّ َم‬ ٌ ‫“ عَا َهة فَ ُه َو ِم ْن ا ْل َبائِ ِع‬. Tentang judul bab ini Ibnu Hajar dalam Fathul Bary berkomentar bahwa al-Bukhory condong kepada pendapat yang memperbolehkan jual-beli buah sebelum masak. Salah satunya adalah : َّ ‫صلَّى‬ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫ع ْن ُه َما أَنَّ َر‬ َّ ‫سو َل‬ َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫ع َم َر َر ِض َي‬ ُ ‫َّللاِ ب ِْن‬ َّ ‫ع ْب ِد‬ َ ‫ف أ َ ْخ َب َرنَا َما ِلكٌ ع َْن نَا ِف ٍع ع َْن‬ ُ ‫َّللاِ ْبنُ يُو‬ َ ‫س‬ َ ‫ – َح َّدثَنَا‬2044 َّ ‫ع ْب ُد‬ )‫ع (البخاري‬ ْ ْ َ ‫ص ََل ُحهَا نَهَى البَائِ َع َوال ُم ْبتَا‬ ِّ َ ‫سلَّ َم نَهَى ع َْن بَي ِْع الثِ َم ِار َحتَّى يَ ْبد َُو‬َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ Hadis ini secara eksplisit dan tegas meceritakan larangan jual-beli buah sebelum masak dan bahwa larangan ini berlaku bagi penjual maupun pembeli. jual beli tersebut termasuk menjual sesuatu yang tidak ada (‫)بيع المعدوم‬. Pertama. Salah satunya adalah: ‫َارة‬ َّ ‫صلَّى‬ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫ع ْن ُه َما أَنَّ َر‬ َّ ‫سو َل‬ َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫ع َم َر َر ِض َي‬ ُ ‫َّللاِ ب ِْن‬ َّ ‫ع ْب ِد‬َ ‫ف أ َ ْخبَ َرنَا َما ِلكٌ ع َْن نَافِ ٍع ع َْن‬َ ‫س‬ُ ‫َّللاِ ْبنُ يُو‬ َ ‫ َح َّدثَنَا‬-2052 َّ ‫ع ْب ُد‬ )‫ع (البخاري‬ َ ْ َ ُ ‫شت ِرط ال ُم ْبتا‬َ ْ َ َّ ْ َ َ َ ُ َ ‫ا‬ ْ َ ْ َ‫ع نخَل ق ْد أبِِّ َرتْ فث َم ُرها ِلل َبائِعِ إَِل أن ي‬ َ ‫سلَّ َم َقا َل َمن بَا‬ ْ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ Dan Hadis ini juga menjadi dasar bagi sebagian ulama dalam memperbolehkan jual-beli buah sebelum masak. buah atau padi tetap dibiarkan pada pohonnya atau tanamannya (syart tabqiyah). Dua bab berikutnya al-Bukhory membuat judul bab. Dan satu-satunya Hadis yang diangkat dalam bab ini adalah : ‫علَ ْي ِه‬ َّ ‫صلَّى‬ َ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو َل‬ ُ ‫ع ْنهُ أَنَّ َر‬ َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫ف أ َ ْخبَ َرنَا َما ِلكٌ ع َْن ُح َم ْي ٍد ع َْن أ َ َن ِس ب ِْن َمالِكٍ َر ِض َي‬ َ ‫س‬ ُ ‫َّللا ْبنُ يُو‬ ِ َّ ‫ع ْب ُد‬ َ ‫ – حَ َّدثَنَا‬2048 ‫سلَّ َم أَ َرأَيْتَ ِإذَا‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫ص َّلى‬ َ ُ‫َّللا‬ َ ‫َّللا‬ِ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫سلَّ َم نَهَى ع َْن َبي ِْع ال ِث ِّ َم ِار َحتَّى ت ُْز ِه َي فَ ِقي َل لَهُ َو َما ت ُْز ِهي قَا َل َحتَّى تَحْ َم َّر فَقَا َل َر‬ َ ‫َو‬ َ َ ‫ع ث َم ارا ق ْب َل أ ْن يَ ْبد َُو‬ َ َ َ َ ‫ب قا َل ل ْو أنَّ َر ُج اَل ا ْبتَا‬ َ ٍ ‫شهَا‬ِ ‫س ع َْن اب ِْن‬ َ ُ ُ‫ْث َح َّدثنِي يُون‬ َّ َ َ َ ُ ْ ُ ‫َّللاُ الث َم َرة بِ َم يَأ ُخذ أ َح ُد ُك ْم َما َل أ ِخي ِه قا َل اللي‬ َ َّ َّ ‫َمنَ َع‬ ‫َّللا‬ ِ َّ ‫ل‬ َ ‫و‬ ‫س‬ ُ َ‫ر‬ َّ‫ن‬ َ ‫أ‬ ‫ا‬‫م‬َ ‫ه‬ ُ ْ ‫ن‬ ‫ع‬ َ ‫َّللا‬ ‫ي‬ ‫ض‬ ‫ر‬ ُ َّ َ ِ َ َ َ ِ ‫ر‬ ‫م‬ ‫ع‬ ُ ‫ْن‬ ‫ب‬‫ا‬ ْ ‫َن‬ ‫ع‬ ‫َّللا‬ ِ َّ ‫د‬ ِ ‫ب‬ ْ ‫ع‬ َ ُ‫ن‬ ‫ب‬ ْ ‫م‬ ‫ل‬ ِ ُ َ ‫ا‬ ‫س‬ ‫ي‬ ‫ن‬ ِ ‫ر‬ َ ‫ب‬ َ ْ ‫خ‬ َ ‫أ‬ ‫ه‬ ِ ‫ب‬ ِّ َِ ‫ر‬ ‫ى‬َ ‫ل‬‫ع‬َ ُ ‫ه‬ ‫ب‬ َ ‫َا‬ ‫ص‬ َ ‫أ‬ ‫ا‬ ‫م‬ َ َ‫َان‬ ‫ك‬ ٌ ‫ة‬ َ ‫ه‬ ‫َا‬ ‫ع‬ ُ ‫ه‬ ْ ‫ت‬‫ب‬ َ ‫َا‬ ‫ص‬َ ‫أ‬ ‫م‬ ُ َّ ‫ص َََل ُح‬ ‫ث‬ ُ ‫ه‬ َّ َّ )‫سل َم قا َل ََل تَتَبَايَعُوا الث َم َر َحتَّى يَ ْبد َُو ص َََل ُحهَا َو ََل تَبِيعُوا الث َم َر بِالتَّ ْم ِر (البخاري‬ َ َّ َ ‫عل ْي ِه َو‬َ َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫صلَّى‬ َ Dan tiga bab setelah Hadis ini al-Bukhory mengkat dua Hadis di bawah judul bab “ ‫ع‬ َ ‫بَاب َم ْن بَا‬ َ ‫“نَ ْخ اَل قَ ْد أ ُ ِِّب َرتْ أ َ ْو أ َ ْرضاا َم ْز ُروعَةا أَ ْو ِب ِإج‬. Pendapat Ulama Tentang Jual Beli Tebasan Jual tebasan berdasarkan kondisi tanaman atau buahnya diklasifikasikan menjadi tiga.

maka menurut hanafiah diperbolehkan dan menurut malikiyah. maka ulama sepakat memperbolehkan. Dan hadis ini tidak mencakup larangan jual-beli buah sebelum masak dengan syarat qoth’I. Sedangkan hadis nomer 2052 mengisyaratkan diperbolehkannya jual beli tersebut. Sebab dalam hadis tersebut di katakan bahwa barangsiapa yang menjual pohon kurma setelah dikawinkan maka buahnya menjadi milik penjual kecuali ada perjanjian buah menjadi milik pembeli. Dalam kasus penjualan dilakukan dengan syarat qoth’i. buah atau bulir padi sudah terlihat tetapi belum layak panen. Sebab syarat yang tidak berlaku jika sesuai adat yang berlaku maka syarat menjadi berlaku. Dan jika penjualan dilakukan tanpa syarat. Mengutip Ibnu Abidin az-Zuhayly dalam Fiqhul Islam berkata: ‫ورجح ابن عابدين في رسالته نشر العرف جوازه بيع الثمار مطلقا ً قبل بدو الصالح أو بعده إذا جرى العرف بترك ذلك؛‬ )‫ألن الشرط الفاسد إذا جرى به العرف صار صحيحا ً ويصح العقد معه استحسانا ً (الفقه اإلسالمس وأدلته‬ Cara menghitung jumlah Seperti telah saya sebutkan di atas bahwa salah satu kemungkinan tidak sahnya jual beli tebasan adalah tidak diketahuinya jumlah barang yang dijual. syafi’iyah dan hanabilah tidak diperbolehkan. Dan dengan dipanen sebelum waktunya (qoth’u) maka kekhawatiran tersebut hilang. maka hukumnya boleh. Dalam hal jual tebasan barang . baik dengan syarat tabqiyah atau qoth’I ataupun tanpa syarat. sebelum atau sesudah matang (buduwus sholah). kedua belah pihak boleh menyepakati dibiarkannya buah atau padi hingga layak petik. Pendapat paling tasamuh adalahpendapat Ibnu Abidin al-Hanafy yang memperbolehkan jual beli buah atau tanaman secara mutlak. Dan jika dalam kasus jual pohon kurma buah bisa menjadi milik pembeli dengan adanya perjanjian. berarti buah bisa dimiliki pembeli dengan transaksi terpisah. sebab sebagaimana disebutkan dalam hadis 2048 pelarangan ini dilatarbelakangi kekhawatiran terjadinya gagal panen sebelum sampai ke tangan pembeli. Dalam hadis mu’allaq larangan jual-beli buah sebelum masak tidak bersifat tegas dan karenanya hukumnya tidak sampai haram. baik dengan atau tanpa syarat. Sedangkan menurut malikiyah. dan karenanya jual beli diperbolehkan. An-Nawawi berkata: ‫ضيَا َعلَى إِ ْبقَائِ ِه َجازَ (شرح النووي‬ ْ َ‫ص ِحيح َويَ ْلزَ مهُ ْالبَائِع بِ ْالق‬ َ ‫ فَإِ ْن ت ََرا‬، ِ‫طع‬ َ ‫طع فَ ْالبَيْع‬ ْ َ‫ط ْالق‬ َ ‫طع ث ُ َّم لَ ْم يَ ْق‬ ْ َ ‫قَا َل أ‬ َ ‫ َولَ ْو ش ََر‬: ‫ص َحابنَا‬ )‫على مسلم‬ Jika penjualan dilakukan dengan syarat tabqiyah. pohon atau padi dipanen (syartul qoth’i). penjualan buah atau padi yang belum layak panen diperbolehkan. maka ulama sepakat tidak memperbolehkan. Dengan demikian jika penjualan dilakukan tanpa syarat atau dengan syarat. jika penjualan dilakukan dengan syarat qoth’i. Disamping hanafiah ada pula beberapa ulama yang memperbolehkan diantaranya adalah: Awza’iy dan al-Bukhory seperti telah saya singgung di atas. Untuk klasifikasi ketiga. Sedangkan argumentasi yang melarang adalah hadis nomer 2044 yang secara tegas melarang jual-beli buah sebelum masak. Argumentasi yang diajukan ulama yang memperbolehkan adalah hadis mu’allaq dan hadis nomer 2052 dari shohih bukhory di atas. Ketiga.bertransaksi. syafi’iyyah dan hanabilah.

Berdasarkan hal tersebut. Jika waktu kewajiban zakat terjadi sebelum penjualan. Kesimpulan . Muslim meriwayatkan : ‫ي قَا َل‬ ِِّ ‫ش ْعبَةُ َع ْن َع ْم ِرو ب ِْن ُم َّرة َ َع ْن أَبِي ْالبَ ْخت َِر‬ ُ ‫ار قَ َاَل َحدَّثَنَا ُم َح َّمدُ ْبنُ َج ْعفَ ٍر َحدَّثَنَا‬ َّ َ‫ – َحدَّثَنَا ُم َح َّمد ُ ْبنُ ْال ُمثَنَّى َوا ْبنُ ب‬2833 ٍ ‫ش‬ َ ْ َ‫سل َم َع ْن بَيْعِ النَّ ْخ ِل َحتَّى يَأ ُك َل ِم ْنهُ أ ْو يُؤْ َك َل َو َحتَّى يُوزَ ن‬ َّ َ ‫َللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ َّ ‫صلى‬ َّ ‫سو ُل‬ َ ِ‫َللا‬ ُ ‫َّاس َع ْن بَيْعِ النَّ ْخ ِل فَقَا َل نَ َهى َر‬ ٍ ‫سأ َ ْلتُ ابْنَ َعب‬ َ َ‫ز‬ َّ ْ ) ‫فقا َل َر ُجل ِعندَهُ َحتى يُحْ َر ( مسلم‬ٌ َ َ ُ‫ن‬ َ‫ُوز‬ ُ‫ت‬ ْ ُ ‫قَا َل فقل َما ي‬ َ An-Naway mengomentari hadis tersebut dengan mengatakan : )‫ط ِريق ِإلَى َم ْع ِرفَة قَدْره َو َكذَا ْال َو ْزن (شرح النووي على مسلم‬ َ ‫ ِأل َ َّن ْال َح ْزر‬، ‫ظاهِر‬ َ َ‫َوأَ َّما ت َ ْفسِيره يُوزَ ن َب َيحْ ُز َر ف‬ Kemungkinan Terjadinya Riba atau Muzabanah Menurut Syafi’iy. maka zakat dikeluarkan oleh penjual dan jika waktu kewajiban terjadi setelah penjualan. setiap barang yang dijual tanpa takaran dengan barang sejenis yang ditakar. maka zakat menjadi kewajiban penjual. Salah satu bentuknya adalah. jika penjualan dilakukan setelah masa panen.yang dijual tidak harus diketahui secara pasti dengan cara ditimbang. Sebab buah ataupun padi sudah menjadi milik pembeli ketika rusak. Kewajiban Zakat Jika tanaman atau buah yang dijual wajib zakat. baik berlaku riba di dalamnya atau tidak. Sedangkan menurut Malik muzabanah mencakup hal yang lebih luas yaitu. Dan menurut Malik resiko ditanggung penjual. tetapi boleh diketahui dengan cara taksiran. Sedankan menurut Ahmad. Dan menurut Hanafiah. maka yang mengeluarkan zakat adalah pembeli. Tanggung Jawab Perawatan dan Resiko Dalam hal penjualan dilakukan dengan syarat tabqiyah atau tanpa syarat. An-Nawawy berkata: ‫س َقايَتِهَا ِإلَى أَ َوان ا ْل ُجذَاذ ِْلَنَّ ذَ ِلكَ ه َُو ا ْل َعادَة فِيهَا (شرح النووي على‬ ِ ‫ث ُ َّم ِإذَا ِبي َعتْ ِبش َْر ِط التَّ ْب ِقيَة أ َ ْو ُم ْطلَ اقا يَ ْل َزم ا ْل َبائِع ِب‬ )‫مسلم‬ Dan jika terjadi gagal penen karena alam maka menurut qoul jadid Syafi’iy dan Abu Hanifah resiko ditanggung pembeli. maka penjual berkewajiban merawat hingga saatnya panen. maka menurut malikiyah dan hanabilah jika penjualan dilakukan setelah matang (buduwwus sholah) maka yang wajib mengeluarkan zakat adalah penjual. termasuk muzabanah adalah menjual barang yang tidak diketahui jumlahnya dengan barang yang juga tidak diketahui atau dengan barang sejenis yang diketahui jumlahnya dan berlaku hukum riba di dalamnya. muzabanah bisa terjadi dalam jual tebasan. jika tanaman padi yang jumalhnya diketahui berdasarkan taksiran dibarter dengan gabah atau beras dalam takaran yang pasti. jika kurang dari sepertiga maka resiko ditanggung pembeli. kewajiban zakat bergantung kapan waktu kewajiban zakat itu terjadi. Sedangkan menurut Syafi’iyyah.

Disamping jual-beli transaksi ini juga menganduk maksud transaksi lain yaitu pinjam-meminjam atau sewa-menyewa. maka seluruh uang harus dikembalikan kepada pembeli sesuai dengan hadis nomer 2048 4. maka perawatan menjadi tanggung jawab penjual. Wallahua’lamu bishowab©2010 [1] Satu transaksi tetapi mengandung dua maksud transaksi. Dalam hal ini transaksi eksplisitnya adalah jual-beli. 3. 2. Jika terjadi puso. Selama menunggu masa panen. Menurut saya zakat menjadi kewajiban penjual. namun pada dasarnya keuntungan nama’ dimiliki oleh penjual. yaitu keuntungan memanfaatkan tanah bahkan perawatan dari pihak penjual. maka harus diperhatikan hal-hal berikut: 1. https://mazinov. Dengan demikian terjadi jual beli dengan persyaratan yang menguntunkan tengkulak. Jika kita mengikuti pendapat yang memperbolehkan.wordpress. 2010 3482 Share on Facebook Tweet on Twitter .com/2012/11/01/jual-beli-tebasan-dan-permasalahannya/ Apa Hukum Jual Beli Borongan? By adminC - Apr 30. dan saya mengikuti pendapat yang memperbolehkan. barang yang dibeli harus dibiarkan di tempatnya hingga layak petik. dan bukan dengan menghitung nilai tanaman pada saat penjualan. Sebab dalam jual tebasan penjualan dilakukan dengan menaksir hasil saat panen. Seperti penebasan padi dibayar dengan gabah atau beras dalam satuan kilogram. [2] Dalam transaksi ini dimugnkinkan tengkulak mensyaratkan. Untuk menghindari riba atau muzabanah maka jual tebas tidak boleh dilakukan dengan cara barter dengan komoditas sejenis. Sehingga meskipun proses nama’ terjadi di tangan pembeli.Hukum jual beli tebasan adalah khilaf.

Para ulama sepakat atas bolehnya jual-beli secara borongan atau taksiran. Muslim: 1526) Makna dari ‫ ِجزَ افًا‬adalah jual-beli makanan tanpa ditakar. ada dua kemungkinan. yaitu: 1. beliau melarang untuk menjualnya kembali sampai memindahkannya dari tempat semula.Pertanyaan: Apakah kita boleh membeli secara borongan. Pertama: Hukum jual-beli secara borongan. Sisi pengambilan hukum dari hadits ini. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata. singkong. “Dahulu kami (para sahabat) membeli makanan secara taksiran.” (Lihat pula Mausu’ah al-Manahi Syar’iyyah oleh Syekh Salim al-Hilali 2/233) Kedua: Jual beli kentang yang sudah nyata tuanya secara borongan. hukumnya boleh. “Hadits ini menunjukkan bahwa jual-beli makanan dengan sistem taksiran. dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad tidak memperbolehkan jual beli tersebut. Ini merupakan taqriri (persetujuan) beliau atas bolehnya jual-beli sistem tersebut. maka Rasulullah melarang kami menjual lagi sampai kami memindahkannya dari tempat belinya. seperti kentang yang sudah nyata tuanya? Sebagian orang berkata tidak boleh. Seandainya terlarang.” (Fathul Bari: 4351) Imam Ibnu Qudamah berkata. dan inilah makna jual-beli borongan. 2. pasti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melarangnya dan tidak hanya menyatakan hal di atas. Imam Abu Hanifah. ditimbang. Hanya saja. Mana pendapat yang rajih? Jawaban: Pertanyaan ini mengandung dua sisi masalah: hukum jual-beli secara borongan dan hukum jual-beli kentang yang sudah nyata tuanya secara borongan. misalnya kacang tanah. Jika masih berada dalam tanah. Akan tetapi menggunakan sistem taksiran. Namun Imam Malik dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad berpendapat bahwa hal itu boleh. maka ada perselisihan di kalangan para ulama. adalah bahwa jual beli sistem borongan itu merupakan salah satu sistem jual-beli yang dilakukan oleh para sahabat pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak melarangnya. Imam Syafi’i. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah dan murid beliau Ibnul Qayyim. dan tanpa ukuran tertentu. maka hukumnya sebagaimana di atas. ”Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam masalah ini. Untuk masalah ini. Berdasarkan hadits. dia berkata. . Jika jual beli itu dilakukan saat kentang (atau tanaman yang sejenisnya.” (HR. ُ‫سلَّ َم أ َ ْن نَبِ ْيعَه‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫ان ِجزَ افًا فَنَ َهانَا َر‬ َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ ِ َ‫الر ْكب‬ ُّ َ‫ام ِمن‬ َّ ‫ ُكنَّا نَ ْشت َِري ال‬:َ‫ي هللاُ َع ْن ُه َما قَال‬ َ َ‫طع‬ َ ‫ض‬ ِ ‫ع َم َر َر‬ ُ ‫َع ِن ب ِْن‬ ‫َحتَّى نَ ْنقُلَهُ ِم ْن َمكَانِ ِه‬ Dari Abdullah bin Umar. dan lainnya) sudah dipanen dan sudah berada di atas tanah.

Jawa Timur. dia berkata." kata Jumono. Oleh karena itu. tahun ke-8.” (HR. tanaman melon ‘secara borongan’.  Jual-beli tersebut sangat dibutuhkan manusia. di antaranya:  Jual-beli tersebut tidak termasuk dalam jual beli gharar.Letak permasalahannya adalah: Apakah jual-beli kentang dan semisalnya yang masih berada dalam tanah termasuk jual -beli yang dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut. penebas dari Pasar Jl. ‫ع ْن بَيْعِ ْالغ ََر ِر‬ َ ‫سلَّ َم َع ْن بَيْعِ ْال َح‬ َ ‫صاةِ َو‬ َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫ي هللاُ َع ْنهُ قَا َل نَ َهى َر‬ َ ِ‫س ْو ُل هللا‬ ِ ‫َع ْن أَبِ ْي ه َُري َْرة َ َر‬ َ ‫ض‬ Dari Abu Hurairah. 487. yang akan sangat menyulitkan sekali kalau diharuskan memanennya sendiri. karena orang yang sudah berpengalaman akan mampu untuk mengetahui isi dan kadar tanaman tersebut meskipun belum dicabut.konsultasisyariah. ada yang sekitar 3 kg. dalam satu musim. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencabut sesuatu yang berat dari syariat ini. bobotnya bisa 4 kg lebih. dan . Al- Hajj: 78) (Lihat Majmu’ Fatawa Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah: 29/33. Muslim: 1513) Gharar adalah jual beli yang terdapat unsur yang tidak jelas. Jumono menebas 4. edisi 6. Allah berfirman. … ‫الدي ِْن ِم ْن َح َرج‬ “…Dan tidaklah Allah menjadikan dalam agama Islam kesulitan bagi kalian…” (Qs. maka akan sangat memberatkan. [caption id="attachment_120274" align="aligncenter" width="300" caption="Diangkut ke pasar induk"][/caption] Hari itu saja. ketika bertemu penulis saat menunggui panenan melon yang ditebasnya di desa Paron. kecamatan Paron. Cepu Surabaya. kalau diharamkan. (Lihat al-Manahi Syariyyah: 2/205) Pendapat yang rajih (kuat) –insya Allah– adalah yang membolehkan. dan Zadul Ma’ad oleh Imam Ibnul Qayyim: 5/920) Dijawab oleh Ust.Ahmad Sabiq. (Dengan beberapa pengubahan tata bahasa dan aksara oleh redaksi www. Ngawi.com) "Dari Paron saja.000. 227. juga dengan mencabut satu atau dua tanaman akan bisa diprediksikan berapa jumlah yang akan dihasilkan dalam kebun atau ladang tersebut. pada Majalah Al-Furqon. berdasarkan beberapa sebab. dengan melihat batang dan daunnya maka bisa diprediksikan apakah biji-bijian tersebut bagus ataukah tidak. Buah melon yang ditebasnya ada yang berukuran besar. ِ ‫… َو َما َجعَ َل َعلَ ْي ُك ْم فِي‬. bisa miliaran rupiah yang berada di tangan petani. 1428 H/2007 M. terutama yang mempunyai lahan luas. Misalnya. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar.

untuk kecamatan Paron. ada banyak lokasi pertanaman melon dengan jumlah tanaman yang ratusan ribu tanaman. Yang Kelas A bobot buah paling besar 4 kg 7 ons. Harga tebasannya Rp.4.5 ton Kelas A dan0. Jadi hasil penjualan 10. Melon itu dihargai Rp.30 juta ! Sedangkan Kelas B yang tidak ikut diambil. “Sebetulnya pemilik tanaman mengharapkan bisa mengantongi Rp.50 hari. harga tebasan secara borongan untuk melon orang tua Andi itu Rp. yang lokasinya tidak jauh dari lokasi di atas. tanaman harga tebasan Rp.13. juta maka 130 ribu tanaman nilainya Rp. melonnya sebanyak 9.55 juta. rata-rata bobot perbuah 1. tanaman. Survei atau kontrol dilakukan saat buah melon mulai mengeluarkan “jaring” (net) pada permukaan kulit buah.juta. Jumlah tanamannya 6.800. perkilogram.13.000. Teknisi lapangan yang menangani lahan melon ini. juta atau kurang dari Rp.menebas ‘secara kiloan’ tanaman milik petani lain.000 tanaman juga ditebas secara borongan oleh penebas dari Sragen sebesar Rp. Tapi target ini tidak tercapai.5 ton Kelas B. Kalau 4. mengatakan.6 – 1. penebas melakukan survei dulu. buah melon yang akan ditebas dan kini sedang dipanen.500. dan Mantingan.000. dan yang terendah 2 kg 7 ons. Yang Kelas B bobot buahnya karung dari ini. masih di Paron.000 tanaman.3.000.banyak juga yang di bawahnya. [caption id="attachment_120276" align="aligncenter" width="300" caption="Dari pasar induk dikirim ke pengecer"] .18. jutaalias Rp. DIY. Itupun yang diambil penebas hanya yang Kelas A saja. konon penebas dari Surabaya juga. pemilik tanaman melon menerima harga tebasan tak kurang dari Rp. Menurut Naryo.5 ton melon hanya Rp. yang mengaku dari Purworejo dan membantu pamannya menebas melon untuk mengisi Pasar Gamping. Umur tanaman saat itu antara 40.total buah yang dipanen 10. tambah kedua nara sumber di atas. Dua hari sebelumnya.585 juta ! Sementara dari 20 kecamatan di Ngawi.37 juta. Tafsiran Jumono.5 miliar ! Yang untung dan yang rugi Sebelum tawaran dijatuhkan. akan dijual secara borongan untuk mengisi pasar lokal. Pitu. Data yang tercatat tahun 2003/2004 di kecamatan Paron tidak kurang dari 130 ribu tanaman melon. Padahal. Total jumlah tanaman hanya untuk Paron dan Geneng saja kira-kira 3 jutaan tanaman dengan nilai tebasan kurang lebih Rp. Kendal.2.18. Jadi. Baik Jumono maupun Naryo menyeritakan hal yang tidak berbeda. SementaraKatno. Geneng.37 juta.7 kg atau totalnya 6 – 7 ton. perkilogram. ditebas secara borongan sebebesar Rp. yang menengah 3 kg 9 ons. Andi namanya. tanaman.000. Eko danMardianto namanya. Dari beberapa petani di atas sudah ratusan juta rupiah yang beredar di satu lokasi pertanaman. Petani lain.” ini kata teknisi tersebut. berhasil memanen kurang lebih 13 ton dari 7. yang memiliki12. Tetangganya.38 juta. lima kecamatan tercatat menanam melon yaitu Paron. Karena itu ia menyiapkan satu truk untuk mengangkut melon ini meluncur ke Surabaya.29.

bervariasi antara Rp. Namun. tidak banyak yang rusak atau cacat. – Rp. sebagaimana dikatakan Jumono dan Naryo. Kata Suprapto. juta. untuk setiap tanamannya. Sebagai contoh.” ujar Suprapto.7. saat petani menerima harga kurang lebihnya Rp. pertanaman. minimal 3 kg. Bobot buah berdasarkan catatan di atas rata-rata dalam kisaran 1.3. ia hanya mengantongi kurang dari Rp. penebas menyurvei setiap larikantanaman. Kalau Andi sebesar Rp. dari 4. ketuaan. Turunnya hujan ternyata membuat tanaman rentan terhadap hama penyakit. pertanaman. ! Artinya. kemudian semuanya dibagi rata. bercerita. juta atau kurang lebih Rp. Kalau harga grosir turun. kondisi.24.13110419571527185074 [/caption] Untuk menentukan besarnya tebasan.000.. tanaman.5. termasuk kios buah di dekat alon-alon Ngawi.14. .500. Sementara harga melon di kios-kios buah.500. petani melon di Kwadungan.85. juta.4. Dari biaya produksi Rp. Dengan harga itu.000. Dua tahun yang lalu. harga grosir di pasar-pasar penampung seperti Surabaya. perkilogram. Kemudian masing- masing buah diperkirakan bobotnya.5.500. soal harga juga harus disesuaikan dengan harga pasaran.800. harga di kios-kios buah juga turun. Dalam satu tanaman hanya berisi satu buah. harganya memang paling rendah. Hal ini karena saat melon ditanam hujan masih turun. ia rugi besar.16. bisa mengantongi uang lebih antara Rp. panen antara April-Mei-Juni. kg – 1. hasil panenannya hanya memberikan Rp. Apakah setiap panen petani selalu mengantongi nilai lebih ? Suprapto. Pada panenan tengah tahun ini (Mei-Juni). perkilogram.670. – Rp. Karena.2. perkilogram. – Rp.000. petani melon Ngawi yang memanen buahnya pada hari-hari itu.480. yang sedang dan yangpaling kecil.4. total seluruh biaya produksi untuk 6. Karena itu. Gamping.2. 1. pertanaman. Ngawi. – Rp.500. “Terutama ‘jamur daun’ dan ‘lalat buah’. pertanaman.000.500. Jadi setiap tanaman menghasilkan Rp.2. dan akhirnya ditemukan bobot atau besar yang rata-rata. sementara Katnosebesar Rp. petani melon masih menerima keuntungan lumayan. Dari larikan ini dipilih buah yang paling besar.050.2. Kalau buahnya besar-besar. dan tentu saja harga di tingkat petani bisa dipastikan turun juga. kualitas buah yang dipanen jauh di bawah standar. seperti yang dijelaskan Eko dan Mardianto. dsb.000. akhirnya harga yang diterima petani menjadi rendah. 6.3. Karena satu tanaman ada satu buah maka hasil perkiraan itu dikalikan jumlah tanaman.000. ia mengantongi Rp.1. dalam satu lahan buah memiliki keseragaman baik dalam ukuran. Jakarta dan sekitarnya dalam kisaran Rp. kg pertanaman sementara harga tebasan perkilogram jatuhnya Rp. harga tebasan bisa tinggi. harga tebasan (baik secara borongan maupun kiloan). – Rp.3.5.2. Hama penyakit ini mengakibatkan tanaman mati pelan-pelan. tanaman sebesar Rp.810.tergantung dari kondisi buah.550. pertanaman. Malahan pada panen bulan sebelumnya (Maret-April).000.

di mata penebas seperti Jumono.Jawa Barat. Jumono mengaku. Jadi. Harga melon terancam turun bila terjadi keserentakan musim panen melon dan musim panen buah lain (khususnya mangga dan blewah). mengawali penanaman melon justru pada awal musim hujan. karenaproduksi /pemasokan melimpah. Banyuwangi. seterusnya Jember. ada dua garis batas wilayah pemasaran melon. Menurut Jumono. Yang menjadi masalah. merupakan garis batas wilayah pemasaran ke Jakarta dan sekitarnya (Wilayah Pemasaran Barat). lalu Nganjuk. khususnya daerahtadah hujan.Ramalan para penebas Namun yang membuat harga rendah. Untuk itu penebas harus bisa memrediksi permelonan saat itu. musim panen melon jatuh pada musim hujan (Oktober-April). penebas harus mengetahui. dan berapa besar harga yang diterima petani. Garis batas dua: dari Nganjuk ke Barat sampai ke daerah produsen Jawa Tengah – DIY . akan mengawali penanaman melon pada akhir musim hujan. Mengenai rantai pemasaran secara garis besar alurnya sebagai berikut: Petani ke penebas lalu dikirim ke pedagang penampung atau pemilik lapak di pasar penampung atau pasar induk terus disalurkan ke pedagang pengecer lalu dijual kepada konsumen. Daerah dataran rendah. atau daerah rawan banjir. sebagai penebas ia memang harus pinter-pinter membaca situasi. daerah dekat aliran sungai. buah melon selalu ada di pasaran. di Jawa. Wilayah pemasarannya sendiri. Garis batas satu: dari Nganjuk ke Timur sampai Banyuwangi merupakan garis batas wilayah pemasaran keSurabaya (Wilayah Pemasaran Timur) dan sekitarnya. Yang menjadi patokan penebas adalah kapan musim panen raya di masing-masing daerah produsen melon. Tetapi musim panen semangka tidak menjadi saingan. bila terjadi kejenuhan pemasokan. Karena . Harga pasaran sendiri dipengaruhi oleh rantai pemasaran. Ketika musim kemarau tiba. Bila melanggar batas wilayah pemasaran Harga pasaran berpengaruh terhadap harga yang diterima petani. Sehingga. Pedagang buah K-5 malahan memajang melon-semangka di atas meja pajangan kiosnya. bukan semata-mata hama penyakit. baik di salah satu wilayah maupun kedua wilayah garis batas pemasaran. Penebas juga harus mengetahui bahwa dalam satu tahun tidak ada bulan kosong tanpa melon. di segala musim. daerah dataran tinggi. Bagaimana harga pasar. Setelah Ngawi menyusul Panorogo. Sebaliknya. Biasanya harga melon terancam turun bila terjadi panenan secara serentak (pada bulan yang sama) dari beberapa daerah produsen. daerah ini memasuki musim panen (April-Oktober). misalnya panen raya melon di Ngawi berlangsung sekitar Agustus-September. Lumajang.

Juga sebaliknya. Maksudnya.5. Berarti harga yang dibayar konsumen sekitar Rp.200. Untuk contoh. untukmencegah terjadi kehancuran harga.1. ketika musim panen melon Mei-Juni di Kwadungan (Ngawi).000.3. sesampai di Surabaya menemui banyak kendala.1. Ngawi. Pengalaman Andi petani melon di atas bisa dijadikan contoh. Bila harga di pasar induk sebesar itu.000. seperti yang diterima Suprapto petani melon di Kwadungan itu. pada Mei-Juni lalu melepas harga melon yang diambil pedagang pengecer sebesar Rp. Ia tidak menceritakan secara detil namun yang pasti. [caption id="attachment_120277" align="aligncenter" width="300" caption="Melon ngawi di Lapak K-5"] 13110420861251045438 [/caption] Menurut Muslim.2. jalan yang ditempuh dengan melempar melon ke pasar penampung yang lain. – Rp.1. Petani sangat tidak mudah bila berhubungan langsung dengan pedagang penampung alias pemilik lapak di pasar induk. perkilogram (bobot melon 2 kg ke bawah). perkilogram (bobot melon 2 kg ke bawah).2. harga melonnya jatuh dan ia mengalami kerugian. Jumlahnya tak kurang dari 4 truk perhari. perkilogram.1. bulan Mei-Juni lalu. “Banyak biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran macam-macam.melimpah.4. perkilogram. menurut Muslim lagi.000. Melon Ngawi yang memang masuk ke dalam wilayah pemasaran bagian Barat (Jakarta) ternyata juga masuk ke wilayah pemasaran bagian Timur (Surabaya).000. – Rp.700. bahkan bias Rp. – Rp.2.500. melon hasil panen daerah produsen di wilayah pemasaran garis batas satu masuk kewilayah pemasaran garis batas dua atau sebaliknya. perkilogram (bobot melon 2 kg ke atas) dan Rp. Susahnya menjual sendiri Dijelaskan Muslim.4. penebas ‘langganan’nyamemasok melon dari Nganjuk. ia dikenai beban macam-macam sehingga uang hasil penjualannya melonnya yang seharusnya Rp.000. sistem pemasaran melon sudah terbentuk seperti sekarang ini.1. dan Ponorogo. Akhirnya. – Rp. . perkilogram namun yang diterima hanya Rp. Pedagang penampung atau pemilik lapak di pasar induk tidak bisa langsung berhubungan dengan petani melainkan harus berhubungan dengan pedagang daerah alias para penebas tersebut. harga di tingkat petani Rp.000. Pernah mengirim sendiri ke Surabaya.700.500. perkilogram (bobot melon 2 kg ke atas) dan kurang dari Rp.250. Sementara melon Nganjuk yang seharusnya masuk wilayah pemasaran Surabaya juga masuk ke Bekasi (masuk wilayah pemasaran Jakarta dan sekitarnya). Muslim yang pedagang penampung dan pemilik lapak di Kios Buah Pasar Induk Cibitung (Bekasi).” katanya. bersamaan dengan musim panen di Jember dan Banyuwangi.

37 juta. Kalau sudah saling kenal dan saling percaya. Kalau harga jatuh dan penebasnya nakal. petani melon yang sudah kita jumpai di atas. Bila pemasokan melebihi daya tampung pemilik lapak. Setelah itu mencoba mencari kenalan dengan pemilik lapak di pasar induk atau pasar penampung di kota-kota besar. setelah penebas melakukan survei.7 juta. penebas menawar sekian dan sudah memberikan keuntungan. Petani harus membina hubungan dulu dengan pedagang daerah atau para penebas itu. Bandung. Pengalaman serupa juga pernah dialami Suprapto ketika ingin mengirim sendiri melonnya ke Pasar Induk Caringin. Ceritanya. di samping kapok dengan pengalamannya itu.Atau kalau transaksi dengan petani sudah terlanjur dilakukan. penebas menjadikan pemilik lapak sebagai informan untuk mengetahui situasi permelonan di kota besar (pasar induk). Padahal ongkos produksi untuk 7.000. Ia tergiur bisa mendapatkan harga lebih tinggi tetapi yang diterima sebaliknya karena beban biaya macam-macam dan akhirnya malah rugi. Bahkan tidak sedikit pemilik lapak ‘memasang anak buah’ di desa-desa produsen melon sebagai penebas juga. Pertama. sebelum langsung turun ke pasar induk. Misalnya tebasan 7. maka tanaman itu tidak akan dipanen. Jadi bias dihitung sendiri berapa besar kerugian petani. ada cerita dari Katno. Sebaliknya pemilik lapak menjadikan penebas sebagai informan untuk mengetahui seberapa banyak melon yang dipanen saat itu.3. penebas tetap memanen melon namun dilakukan ‘peninjauan kembali’ terhadap masalah tawaran harga yang sudah disepakati. Sementara petani ruginya puluhan juta rupiah. tanaman sebesar Rp. kesepakatan harga sudah terjadi. Makanya.Karena itu.24. kalau biaya produksinya sekian. Bila produksi dan pasokan ‘melimpah’ Pemilik lapak di pasar induk sudah jauh-jauh hari melakukan hubungan (kerjasama) yang saling menguntungkan dengan penebas di desa-desa. sebelum mengirim dalam jumlah besar. pemanenannya ditunda sampai situasi kembali normal.5 juta. baik dalam hal pemasokan maupun harga pasaran. Andi lebih suka berhubungan dengan penebas saja. Biasanya harga tawaran ‘peninjauan kembali’ ini di bawah harga yang sudah disepakati sebelumnya. Alasannya. . Jadi cara tebasan bisa dihitung berapa untung-ruginya. petani harus belajar dulu dengan mereka ang sudah berpengalaman. Terlepas dari masalah anak buah atau bukan.000. juga karena ia bisa menghitung. tanaman bisa Rp. penebas melakukan beberapa hal. Uang muka hanya Rp. Kaitan dengan hal di atas. Setelah menerima ‘uang muka’ petani tidak bisa panen karena tanaman itu sudah dipersekoti alias sudah menjadi milik penebas. mulailah mengirim sendiri sedikit demi sedikit. Kedua. melonnya akan dilepas. petani menerima ‘uang muka’ yang besarnya rata-rata 10%. berdasarkan informasi dari pemilik lapak sendiri. Penebas memang rugi tetapi hanya sebesar pembayaran uang muka yang 10% itu. kata Muslim di Cibitung. penebas menunda turun ke lapangan atau melakukan transaksi dengan petani.

5 juta.18 juta.000. Biaya memanen dan mengangkut sampai melon naik ke atas truk Rp. Bila transaksi belum dilakukan. biaya yang dikeluarkan penebas juga tidak kecil. melainkan juga biaya untuk memanen dan mengangkut hasil panen sampai naik truk.. Dari cerita itu. Mengenai hal ini.Biaya tebasan Rp18..22 juta dikurangi Rp.3 juta ditambah biaya . Sebab. Alasannya. petani tidak ingin bangkrut total karena melon yang seharusnya sudah dipanen tidak dipanen sebab tidak ada yang menawar. penebas dan petani bersepakat. juta. tanaman yang hasil buahnya 6 – 7 ton atau satu truk. ribu.500. Ongkos memanen dan mengangkut ke truk Rp. Misalnya harga tebasan Rp. Makanya. Kalau melon dikirim ke Bekasi misalnya. tentu harga di tingkat petani bisa kurang dari Rp. biaya menurunkan dan mengangkutbuah dari truk sampai ke lapak. melainkan bisa di atas Rp. Ambil contoh biaya yang dikeluarkan Jumono ketika menebas 4.500.3. Setelah harga turun.500. biaya restribusi. menurut petani melon umumnya. biaya yang ditanggung penebas lebih tinggi lagi.3. petani tidak mendapat kenaikan harga di atas harga yang sudah disepakati. perkilogram. Kalau harga pasaran tinggi.20. petani dalam posisi lemah.000. kalau harga pasar di Surabaya turun sampai di bawah Rp. Muslim merinci biaya pengeluaran yang ditanggung pedagang daerah atau pengirim melon ke Pasar Induk Cibitung.5 juta.Tetapi ada juga penebas yang tidak nakal. Misalnya harga tebasan 27 juta.2. dan biaya lain-lain. Total biaya yang dikeluarkan Rp. ‘uang muka’ Rp. juta.20. Sewa truk dan lain-lain bisa lebih dari Rp.000. Biaya ini masih ditambah lagi biaya parkir di pasar. bahkan Rp.27 juta dikurangi 5 juta tetapi Rp.1. juta. perkilogram. petani terpaksa menerima harga tawaran terendah."] 13110424471679484182 [/caption] Beban yang ditanggung penebas Menurut salah seorang penebas.2. Bekasi.000. Jadi sampai di pasar Surabaya nilah buah melon tidak lagi Rp.3.500. dsbnya. ribu. [caption id="attachment_120278" align="aligncenter" width="300" caption="Bila menumpuk di pasar induk . petani tidak ingin rugi besar. Biaya macam-macam itu ditambah biaya tebasan bisa lebih Rp. tetapi kalau harga turun petani bisa menerima harga di bawah harga yang sudah disepakati sebelumnya.8 juta. penebas juga demikian. perkilogram. Ongkos truk (6 ton) Rp. uang tebasan yang diterima petani tidak Rp. Penebas tidak hanya mengeluarkan biaya tebasan saja. biaya sewa truk.1.

juta.500.21. Untuk pedagang daerah hanya menerima kiriman uang terlambat dan pengiriman buah menjadi lambat juga. beban biaya perkilogram buah buah dari desa sampai buah keluar dari pasar induk bisa mencapai Rp.000. perhari pertempat.315. perkilogram.1. perkilogram (bobot melon 2 kg ke bawah). pertruk.250. Kalau di pasar induk tahu-tahu barang berhari-hari tidak habis itu tanggungan pemilik lapak. Sebaiknya penebas daerah mempunyai anak buah yang bisa membantu kelancaran lapak di Jakarta. – Rp. pertruk.015.3.25.1. barang kiriman yang lalu dibayar dipotong 10%. Selain biaya itu ada biaya untuk tenaga kerja dan biaya lain-lain tak terduga sehingga beban biaya yang ditanggung pemilik lapak bisa mencapai total Rp. buah busuk.300.000. Dengan demikian. restribusi atau sewa tempat Rp.000.70. tanggung jawab penebas karena yang dihitung adalah buah yang laku dipotong komisi. ongkos muat kalau buah keluar pasar induk Rp.rusak.3.000. Biasanya hubungan ini dilakukan secara ‘oper nota’maksudnya kalau misalnya penebas sudah menebas melon milik petani seharga Rp. Sistem komisi. pemilik lapak yang harus menanggung beban biaya ongkos bongkar Rp. Tetapi kalau melon tidak habis dalam sehari keesokan harinya perlu membayar restribusi lagi.13.000. Setelah di pasar induk menjadi urusan pemilik lapak.000. harga di tingkat petani Rp. Sistem yang sudah terbentuk Jadi prinsipnya. Berikut beberapa catatan yang diberikan Jumono dan Muslim. bahkan bisa Rp. perkilogram. artinya harus menunggu buah habis terjual. kalau sudah ada kesepakatan. – Rp.1. Untuk keamanan pembayaran penebas daerah harus mencari kenalan sampai betul-betul kenal dan bisa saling percaya. Kalau barang habis dikirim lagi. pertruk.000. saat panen yang memanen bukan . Dari kenalan akan dilanjutkan dengan hubungan bisnis misalnya menelpon untuk meminta kiriman barang.4. juta) atau Rp. perkilogram.1. perkilogram (bobot melon 2 kg ke atas) dan kurang dari Rp.000. Setelah masuk ke pasar. perkilogram. Jadi kenapa ketika harga di Cibitung Rp. pedagang daerah menerima pembayaran berdasarkan buah sampai di tempat (pasar induk).lain-lain 5% (Rp.70.700.3.000. lalu pedagang di Jakarta berani menawar berapa. perkilogram.2. baru hasil penjualan diberikan dipotong komisi.1.553. parkir Rp. Jadi nilai buah melon setibanya di Bekasi menjadi Rp.

penebas mengirim sendiri ke Jakarta dan pedagang atau pemilik lapak di Jakarta tidak mengambil untung tetapi menerima komisi biasanya 10% dari total hasil penjualan. Kalau tidak ‘oper nota’ sistem komisi itu yang sudah berlangsung selama ini.-***. yaitu.penebas bersangkutan tetapi ‘anak buah’ pedagang Jakarta dengan membayar harga berdasarkan kesepakatan dengan penebas dikurangi ‘uang muka’ yang sudah diterima petani.-Set.kompasiana.(Bahan dikumpulkan pada musim tanam dan panen atau sekitar Triwulan I dan II tahun 2009 dan 2010) https://www.com/tyo-setiadi/pasar-dan-perdagangan-sistem- tebas-oper-nota-dan-komisi-pengalaman-dari-kasus-pemasaran-melon- ngawi_55010661a333118d73512622 .