You are on page 1of 7

Laporan Praktikum Hari, tanggal : Selasa, 13 Maret 2018

Nutrisi Ternak Pedaging Tempat Praktikum :
Asisten :

PENGUKURAN BCS (Body Condition Score)

Rahma Dhani Dwi Prasetya
D24160015
Kelompok 9

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
PENDAHULUAN

Latar Belakang

BCS (Body Condition Score) merupakan suatu metode untuk memberi
skor kondisi tubuh ternak baik secara visual maupun dengan perabaaa. BCS
mudah untuk dipelajari, tidak memerlukan peralatan khusus, cukup akurat, murah
dan sederhana. Penilaian BCS ternak yang ideal tergantung pada tujuan
pemeliharaan. Ternak yang dipelihara untuk ternak pedaging/ penggemukan bila
BCS tubuh semakin besar maka akan semakin baik. Ternak dengan tujuan
pembibitan tidak memerlukan kondisi tubuh yang terlalu gemuk. Ternak yang
cocok untuk bibit yang ideal adalah mempunyai nilai kondisi tubuh ternak nilai 3
atau ternak tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus (Kellog 2008).
Body condition produksi mempengaruhi produksi, reproduksi, dan
kesehatan. Ternak yang mempunyai kondisi tubuh sangat kurus atau sangat gemuk
dapat disebabkan oleh kekurangan nutrisi, kelebihan nutrisi, masalah kesehatan
maupun management yang tidak tepat. Mengevaluasi kondisi tubuh ternak secara
teratur dapat menghindarkan atau membantu mengatasi kondisi tubuh yang
ekstrim ( tidak normal ), dan meningkatkan produktivitas dan probabilitas. Ternak
yang sehat dapat dipilih dengan melakukan penilaian melalui pandangan dari
samping, belakang, dan depan atas ternak tersebut. Untuk mengetahui bahwa
ternak dalam kondisi sehat, maka perlu diketahui karakteristik ternak yang sehat.
Selanjutnya, penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan tulang-tulang rusuk
untuk memilih ternak yang gemuk. Oleh sebab itu, BCS sangat dibutuhkan untuk
mengoptimalkan produksi dan penggunaan makanan, serta mengevaluasi
kesehatan ternak.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan menganalisa penilaian BCS ternak ruminansia
pedaging secara langsung pada ternak hidup. Mengevaluasi status kecukupan
nutrisi ternak berdasarkan nilai BCS yang diperoleh.
TINJAUAN PUSTAKA

Judging atau penjurian pada domba dilakukan untuk memilih domba yang
memiliki kondisi badan yang baik untuk dibeli sebagai domba untuk dikonsumsi
maupun untuk dipilih sebagai bibit unggul. Penilaian terhadap tubuh domba
cenderung lebih sulit dibandingkan ternak-ternak lainnya karena adanya wool
yang menutupitubuh sehingga kondisi badan asli sukar terlihat secara sekilas
(Gibson 2005).
Penilaian tubuh terhadap domba dilakukan seperti pada ternak umumnya
yakni melihat secara keseluruhan dari tubuh domba tersebut dengan
memperhatikan beberapa poin penting untuk diamati seperti konformasi, bentuk
kaki, dan bentuk badan. Penilaian pada domba dibagi menjadi dua kelas, yakni
dombauntuk breeding (jantan dan betina) dan anak domba. Penilaian terhadap
domba untuk breeding meliputi sturuktur badan, volume dan perototan, panjang
badan, feminitas bagi domba betina, dan ukuran testis bagi domba jantan.
Penilaian bagi anak domba untuk konsumsi meliputi perototan, kondisi badan,
panjang badan dan keseimbangan.Struktur badan merupakan salah satu poin
pertama yang cukup mudah dilihatdan harus dievaluasi untuk semua jenis domba
baik jantan maupun betina. Domba yang baik akan memiliki struktur badan yang
baik dan seimbang. Struktur kaki ideal dinyatakan ideal apabila membentuk garis
lurus dan domba dapat berdiri tegap sempurna. Kaki yang baik akan memiliki
proporsi paha dan betis yang seimbang (Bruns 2003).
Tubuh domba yang baik memiliki proporsional yang baik. Tubuh domba
yang baik berukuran panjang dan memiliki bagian loin yang panjang, lebar, dan
tulang pinggul yang lebar, leher yang panjang, dan berbentuk agak kotak. .Bentuk
tulang rusuk mengembang dengan baik dan memiliki dada yang lebar dan
seimbang, pada domba jantan bentuk muka yang maskulin yang ditandai dengan
muzzle yang lebar, tulang punggung yang baik, loinyang tebal, dan bahu yang
baik memiliki potensi yang baik untuk dijadikan sebagai pejantan maupun untuk
digemukkan. Anak domba untuk dikonsumsi memiliki penilaian yang sedikit beda
dengan penilaian domba dewasa. Anak domba konsumsi harus memiliki loin yang
tebal dengan bagian rump yang terlihat padat dan berotot (Bruns 2003).
Pemberian Body Condition Score (BCS) pada domba berguna
untuk mengetahui apakah domba sudah sesuai ukurannya pada beberapa fase
produksi seperti laktasi, siap kawin, dan siap dipotong. Body Condition Score
bersifat menduga perkembangan perototan dan lemak dari domba. Pemberian
angka berdasarkan perkiraan perototan dibagian tulang belakang pada wilayah
loin, rusuk, dan melihat badan secara keseluruhan. Pemeriksaan loin dilakukan
dengan menempelkan tangan pada keseluruhan bagian loin belakang baik dari
samping maupun atas. Body Condition Score domba menjadi limakelas yakni
dengan angka 1-5. Semakin rendah skala, maka akan semakin rendah pula bobot
badan (Tames 2010).

MATERI DAN METODE
Materi

Alat yang digunakan dalam kegiatan praktikum BCS (Body Condition
Score) adalah tabel pengantar, alat tulis, dan alat hitung. Bahan yang digunakan
adalah 4 ekor domba jantan dan 4 ekor domba betina.

Metode

Setiap domba diamati dengan cara meraba bagian tulang rusuk, tulang
ekor dan tulang punggung. Hasil pengamatan ditulis pada tabel. BCS masing-
masing domba ditentukan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Penilaian BCS dilakukan dengan melihat (meraba, menekan atau palpasi):
bentuk khusus atau penonjolan tulang, jumlah otot daging (perdagingan) dan
perlemakan (penutupan lemak). BCS dapat menentukan perbedaan kebutuhan
nutrisi setiap ekor ternak dalam suatu kelompok. Berdasarkan praktikum nutrisi
ternak pedaging mengenai BCS (Body Condition Score) pada beberapa domba
yang berada pada kandang didapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 1. BCS (Body Condition Score) pada beberapa domba
Jumlah
Jenis Tulang Prosesus Tulang
No
Kelamin rusuk yang Spinosus punggung BCS
terlihat
1 2 3 4 5
1 Betina 5 +++ +++
2 Betina 8 + ++

3 Jantan 6 + +

4 Betina 7 + +

5 Betina 6 + +

6 Jantan 6 +++ ++

7 Jantan 6 ++ ++
8 Jantan 5 +++ +++
Keterangan : BCS, + = sangat kurus; ++ = kurus; +++ = sedang; ++++ = gemuk; ++++
+=sangat gemuk.

Pembahasan

Body Condition Score adalah metode untuk memberi nilai kondisi tubuh
ternak baik secara visual maupun dengan perabaan pada timbunan lemak tubuh
dibawah kulit sekitar pangkal ekor, tulang punggung dan pinggul. BCS digunakan
untuk mengevaluasi manajemen pemberian pakan, menilai status kesehatan
individu ternak dan membangun kondisi ternak pada waktu manajemen ternak
yang rutin. BCS telah terbukti menjadi alat praktis yang penting dalam menilai
kondisi tubuh ternak karena BCS adalah indikator sederhana terbaik dari
cadangan lemak yang tersedia yang dapat digunakan oleh ternak dalam periode
apapun (Susilorini et al. 2007).
Informasi mengenai performa ternak sangat diperlukan dalam rangka
mempertahankan dan mengembangkan produktivitas domba. Salah satu indikator
yang dapat digunakan yaitu penilaian Body Condition Score (BCS). BCS
merupakan suatu metode penilaian kondisi tubuh ternak baik secara visual
(inspeksi) maupun dengan perabaan (palpasi) terhadap lemak tubuh pada bagian
tertentu. BCS dapat menggambarkan bobot badan dan cadangan lemak yang
digunakan domba sebagai sumber energi untuk mengoptimalkan produktivitas
selama periode pertumbuhan, kebuntingan dan laktasi. Penaksiran bobot badan
juga dilakukan sebagai alternatif untuk mengetahui bobot badan ternak secara
praktis. Ukuran-ukuran linear tubuh dapat digunakan untuk menaksir bobot
badan. Lingkar dada merupakan ukuran linear tubuh yang berkorelasi positif
dengan bobot badan domba sehingga dimanfaatkan untuk menaksir bobot badan
pada kelompok ternak domba.
Pengaruh BCS terhadap fisiologis pada kualitas ternak domba baik itu
secara mikroskopis maupun secara makroskopis. Respon fisiologis pada ternak
merupakan suatu tanggapan atau reespon seekor ternak terhadap berbagai factor
baik itu secara fisik, kimia maupun lingkungan sekitar dimana rangkaian dari
respon fisiologis tersebut mempengaruhi kondisi dalam tubuh ternak yang
berkaitan dengan faktor cuaca, nutrisi dan manajemen kondisi fisiologis domba
sebagai respon terhadap lingkungannya deapat ditunjukkan dengan nilai suhu
tubuh,laju denyut jantung, dan laju respirasi. (Awabien 2007).
Sistem Body Condition Score (BCS) digunakan untuk menilai kondisi
tubuh ternak. Sistem BCS menggunakan angka skala yang bervariasi, salah
satunya menggunakan skala 1 sampai 5 (1=sangat kurus, 3=sedang dan 5=sangat
gemuk) dengan nilai 0,25 atau 0,50 angka diantara selang itu. Body Condition
Score (BCS) menggambarkan sejumlah energi metabolik yang tersimpan sebagai
lemak subcutan dan otot pada ternak. Skor 1 memiliki ciri-ciri terlihat yaitu tidak
adanya lemak pada pangkal ekor dan iga pendek. Ternak dengan penampilan
seperti ini dapat dikatakan terlalu kurus, bermutu rendah, dan mungkin
sebelumnya pernah sakit. Skor 2 yaitu iga pendek terlihat dan terasa sudah agak
tumpul, pada pangkal ekor terdapat sedikit lemak. Ternak seperti ini dapat
dikategorikan bermutu cukup atau sedang. Skor 3 yaitu iga pendek sulit dirasakan
dan pangkal ekor mulai gemuk. Skor 4 yaitu ternak telah mencapai tingkat gemuk
sehingga penambahan berat signifikan (Montiel dan Ahuja 2005). Berdasarkan
penilaian (BCS) Body Condition Score yang dilakukan pada praktikum Nutrisi
Ternak Pedaging terhadap delapan ekor domba di laboratorium Ruminansia Kecil
dengan tiga parameter diantaranya jumlah tulang rusuk yang terlihat, proseus
spinosus (tulang duduk) dan tulang punggung. Maka hasil pengamatan pada
domba nomor 1 dan 8 didapat BCS 3 dengan tulang rusuk yang teraba sebanyak 5
dan 8 pasang , tulang duduk yang kurang terasa saat diraba dan tulang punggung
yang kurang terasa saat diraba. Penilaian domba nomor 2,3,4 dan 5 didapat BCS
1 dengan tulang rusuk yang teraba sebanyak 8,6,7 dan 6 pasang, tulang duduk
yang dapat diraba dan tulang punggung yang dapat diraba. Domba nomor 6 dan 7
didapat BCS 2 dengan tulang rusuk yang berjumlah 6 pasang masing-masing
domba pada saat diraba, tulang duduk yang terasa dan tulang punggung yang
terasa saat teraba. Pada penilaian BCS dengan delapan ekor domba tersebut hanya
terdapat dua ekor domba yang sedang, kemudian dua ekor domba kurus dan
empat ekor domba lagi sangat kurus. Dapat disimpulkan bahwa domba yang ada
di kandang B IPB cukup baik.

SIMPULAN

Berdasarkan nilai BCS nya domba yang ada di kendang B IPB dapat
dikategorikan cukup baik, dengan 3 domba yang mendapat nilai BCS 1, 2 domba
yang mendapat nilai BCS 2 dan 2 domba yang mendapat nilai BCS. BCS juga
menentukan kondisi atau kecukupan nutrisi ternak, sehingga semakin tinggi nilai
BCS maka domba tersebut semakin gemuk.
DAFTAR PUSTAKA

Awabien L R 2007. Respon Fisiologis Domba Yang Diberi Minyak Ikan Dalam
Bentuk Sabun Klaium [Skripsi]. Fakultas Peternakan Bogor (ID): Institut
Pertanian Bogor.
Hayati S et al. 2002. Hubungan Antara Pre-partum Body Condition Score Dengan
Panjangnya Puncak Laktasi Sapi Perah FH di BPT-HMT Batu Raden.
Jurnal Peternakan. Halaman 39-46 Fakultas Peternakan Universitas
Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Kellog W. 2008. Body Condition Scoring With Dairy Cattle. Arkansas (ID):
Division of Agriculture Univercity of Arkansas.
Taufik et al 2013. The Relationsip between Body Condition Score for Production
and Milk Quality on Dairy Cows. Malang (ID): Fakultas Peternakan
Universitas Brawijaya.
Susilorini TE, Sawitri ME, Muharlien. 2007. Budidaya Ternak Potensial. Jakarta
(ID): Penebar Swadaya.

LAMPIRAN