You are on page 1of 21

1.

Letak Sungsang
a) Definisi
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang
dengan kepala di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri.
Tipe letak sungsang yaitu: Frank breech (50-70%) yaitu kedua tungkai fleksi ;
Complete breech (5-10%) yaitu tungkai atas lurus keatas, tungkai bawah ekstensi ;
Footling (10-30%) yaitu satu atau kedua tungkai atas ekstensi, presentasi kaki.1
b) Etiologi
Faktor predisposisi dari letak sungsang adalah prematuritas, abnormalitas
uterus (malformasi, fibroid), abnormalitas janin (malformasi CNS, massa pada
leher, aneploid), overdistensi uterus (kehamilan ganda, polihidramnion), multipara
dengan berkurangnya kekuatan otot uterus, dan obstruksi pelvis (plasenta previa,
myoma, tumor pelvis lain). Dengan pemeriksaan USG, prevalensi letak sungsang
tinggi pada implantasi plasenta pada cornu-fundal. Lebih dari 50 % kasus tidak
ditemukan faktor yang menyebabkan terjadinya letak sungsang.2
c) Diagnosis
Diagnosis letak bokong dapat ditentukan dengan persepsi gerakan janin oleh
ibu, pemeriksaan Leopold, auskultasi denyut jantung janin di atas umbilikus,
pemeriksaan dalam, USG dan Foto sinar-X.2
d) Penatalaksanaan
Untuk memilih jenis persalinan pada letak sungsang Zatuchni dan Andros
telah membuat suatu indeks prognosis untuk menilai apakah persalinan dapat
dilahirkan pervaginam atau perabdominan. Jika nilai kurang atau sama dengan 3
dilakukan persalinan perabdominan, jika nilai 4 dilakukan evaluasi kembali secara
cermat, khususnya berat badan janin; bila nilai tetap dapat dilahirkan pervaginam,
jika nilai lebih dari 5 dilahirkan pervaginam. ALARM memberikan kriteria seleksi
untuk partus pervaginam yaitu jenis letak sungsang adalah frank atau bokong
komplit, kepala fetus tidak hiperekstensi dan taksiran berat janin 2500-3600 gram
serta tindakan augmentasi dan induksi persalinan diperbolehkan pada janin letak
sungsang.3,4
Zatuchni dan Andros telah membuat suatu indeks prognosis untuk menilai
lebih tepat apakah persalinan dapat dilahirkan pervaginam atau perabdominan,
sebagai berikut1
0 1 2
Paritas Primigravida Multigravida
Umur >39 minggu 38 minggu < 37 minggu
Kehamilan
Taksiran >3630 gr 3629 gr -3176 gr < 3176 gr
berat janin
Pernah Tidak 1x >2x
letak
sungsang
Pembukaan <2 cm 3 cm >4cm
serviks
Station <3 <2 1 atau lebih
rendah

Arti nilai :
< 3 : persalinan perabdomen
4 : evaluasi kembali secara cermat, khususnya berat badan janin bila
nilainya tetap maka dapat dilahirkan pervaginam
> 5 : dilahirkan pervaginam
Prosedur persalinan sungsang secara spontan :
a. Tahap lambat : mulai lahirnya bokong sampai pusar merupakan fase yang
tidak berbahaya.
b. Tahap cepat : dari lahirnya pusar sampai mulut, pada fase ini kepala janin
masuk PAP, sehingga kemungkinan tali pusat terjepit.
c. Tahap lama : lahirnya mulut sampai seluruh bagian kepala, kepala keluar
dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang tekanannya lebih
rendah sehingga kepala harus dilahirkan perlahan-lahan untuk menghindari
pendarahan intrakranial (adanya tentorium cerebellum).
Teknik persalinan
a. Persiapan ibu, janin, penolong dan alat yaitu cunam piper.
b. Ibu tidur dalam posisi litotomi, penolong berdiri di depan vulva saat
bokong mulai membuka vulva, disuntikkan 2-5 unit oksitosin intramuskulus.
Dilakukan episiotomi.
c. Segera setelah bokong lahir, bokong dicengkram dengan cara Bracht, yaitu
kedua ibu jari penolong sejajar sumbu panjang paha, sedangkan jari-jari lain
memegang panggul. Saat tali pusat lahir dan tampak teregang, tali pusat
dikendorkan terlebih dahulu.
d. Penolong melakukan hiperlordosis badan janin untuk menutupi gerakan
rotasi anterior, yaitu punggung janin didekatkan ke perut ibu, gerakan ini
disesuaikan dengan gaya berat badan janin. Bersamaan dengan hiperlordosis,
seorang asisten melakukan ekspresi kristeller. Maksudnya agar tenaga mengejan
lebih kuat sehingga fase cepat dapat diselesaikan. Menjaga kepala janin tetap
dalam posisi fleksi, dan menghindari ruang kosong antara fundus uterus dan
kepala janin, sehingga tidak teradi lengan menjungkit.
e. Dengan gerakan hiperlordosis, berturut-turut lahir pusar, perut, bahu,
lengan, dagu, mulut dan akhirnya seluruh kepala.
f. Janin yang baru lahir diletakkan diperut ibu.
Prosedur manual aid (partial breech extraction) :
Indikasi : jika persalinan secara bracht mengalami kegagalan misalnya
terjadi kemacetan saat melahirkan bahu atau kepala.
Tahapan :
a. Lahirnya bokong sampai pusar yang dilahirkan dengan tenaga ibu
sendiri.
b. Lahirnya bahu dan lengan yang memakai tenaga penolong dengan cara
klasik (Deventer), Mueller, Louvset, Bickenbach.
c. Lahirnya kepala dengan cara Mauriceau (Veit Smellie), Wajouk, Wid
and Martin Winctel, Prague Terbalik, Cunan Piper.
Cara klasik :
a. Prinsip-prinsip melahirkan lengan belakang lebih dahulu karena lengan
belakang berada di ruangan yang lebih besar (sacrum), baru kemudian
melahirkan lengan depan di bawah simpisis tetapi jika lengan depan
sulit dilahirkan maka lengan depan diputar menjadi lengan belakang,
yaitu dengan memutar gelang bahu ke arah belakang dan kemudian
lengan belakang dilahirkan.
b. Kedua kaki janin dilahirkan dan tangan kanan menolong pada
pergelangan kakinya dan dielevasi ke atau sejauh mungkin sehingga
perut janin mendekati perut ibu.
c. Bersamaan dengan itu tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam jalan
lahir dan dengan jari tengah dan telunjuk menelusuri bahu janin sampai
fossa cubiti kemudian lengan bawah dilahirkan dengan gerakan seolah-
olah lengan bawah mengusap muka janin.
d. Untuk melahirkan lengan depan, pegangan pada pergelangan kaki janin
diganti dengan tangan kanan penolong dan ditarik curam ke bawah
sehingga punggung janin mendekati punggung ibu.
e. Dengan cara yang sama lengan depan dilahirkan.
f. Jika lengan depan sukar dilahirkan, maka harus diputar menjadi lengan
belakang. Gelang bahu dan lengan yang sudah lahir dicengkram dengan
kedua tangan penolong sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari tangan
penolong terletak di punggung dan sejajar dengan sumbu badan janin
sedang jari-jari lain mencengkram dada. Putaran diarahkan ke perut dan
dada janin sehingga lengan depan terletak di belakang kemudian lengan
dilahirkan dengan cara yang sama.
Cara Mueller
a. Prinsipnya : melahirkan bahu dan lengan depan lebih dahulu dengan
ekstraksi, baru kemudian melahirkan bahu dan lengan belakang.
b. Bokong janin dipegang secara femuro-pelviks, yaitu kedua ibu jari
penolong diletakkan sejajar spina sacralis media dan jari telunjuk pada
crista illiaca dan jari-jari lain mencengkram paha bagian depan. Badan
janin ditarik curam ke bawah sejauh mungkin sampai bahu depan
tampak dibawah simpisis, dan lengan depan dilahirkan dengan mengait
lengan di bawahnya.
c. Setelah bahu depan dan lengan depan lahir, maka badan janin yang
masih dipegang secara femuro-pelviks ditarik ke atas sampai bahu ke
belakang lahir. Bila bahu belakang tak lahir dengan sendirinya, maka
lengan belakang dilahirkan dengan mengait lengan bawah dengan
kedua jari penolong.
Cara louvset :
a. Prinsipnya : memutar badan janin dalam setengah lingkaran bolak-balik
sambil dilakukan traksi awam ke bawah sehingga bahu yang
sebelumnya berada dibelakang akhirnya lahir dibawah simpisis.
b. Badan janin dipegang secara femuro-pelviks dan sambil dilakukan
traksi curam ke bawah, badan janin diputar setengah lingkaran,
sehingga bahu belakang menjadi bahu depan. Kemudian sambil
dilakukan traksi, badan janin diputar lagi ke arah yang berlawanan
setengah lingkaran. Demikian seterusnya bolak-balik sehingga bahu
belakang tampak di bawah simpisis dan lengan dapat dilahirkan.
Cara Mauriceau (Veit-Smellie) :
a. Tangan penolong yang sesuai dengan muka janin dimasukkan ke dalam
jalan lahir. Jari tengah dimasukkan ke dalam mulut dan jari telunjuk dan
jari ke 4 mencengkram fossa kanina, sedangkan jari lain mencengkeram
leher. Badan anak diletakkan di atas lengan bawah penolong, seolah-
olah janin menunggang kuda. Jari telunjuk dan jari ke 3 penolong yang
lain mencengkeram leher janin dari arah punggung.
b. Kedua tangan penolong menarik kepala janin curam ke bawah sambil
seorang asisten melakukan ekspresi kristeller. Tenaga tarikan terutama
dilakukan oleh tangan penolong yang mencengkeram leher janin dari
arah punggung. Jika suboksiput tampak di bawah simpisis, kepala janin
diekspasi ke atas dengan suboksiput sebagai hipomoklion sehingga
berturut-turut lahir dagu, mulut, hidung, mata, dahi, ubun-ubun besar
dan akhirnya lahir seluruh kepala janin.
Cara cunam piper :
Pemasangan cunam pada after coming head tekniknya sama dengan
pemasangan lengan pada letak belakang kepala. Hanya pada kasus ini, cunam
dimasukkan pada arah bawah, yaitu sejajar pelipatan paha belakang. Hanya
pada kasus ini cunam dimasukkan dari arah bawah, yaitu sejajar pelipatan paha
belakang. Setelah suboksiput tampak dibawah simpisis, maka cunam dielevasi
ke atas dan dengan suboksiput sebagai hipomoklion berturut-turut lahir dagu,
mulut, muka, dahi dan akhirnya seluruh kepala lahir.

2. Sectio Caesarea
2.1. Definisi Sectio Caesarea
Sectio caesarea merupakan hal yang tidak asing lagi terutama
masyarakat golongan menengah ke atas sehingga sebagian mereka memilih
persalinan sectio caesarea pada proses persalinannya.5 Sectio caesarea adalah
suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat insisi pada dinding abdomen
dan uterus.6
Sectio caesarea adalah tindakan untuk melahirkan bayi melalui
pembedahan abdomen dan dinding uterus.7 Sectio caesarea adalah suatu
persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding
perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat
di atas 500 gram.8
2.2 Indikasi Sectio Caesarea
Indikasi sectio caesarea 6 :
1. Indikasi pada ibu
a. Panggul sempit dan distosia mekanis
1) Disproporsi fetopelvik
Disproporsi fetopelvik mencakup panggul sempit (contracted
pelvis), fetus yang tumbuhnya terlampau besar, atau adanya ketidak-
imbangan relative antara ukuran bayi dan ukuran pelvis. Yang ikut
menimbulkan masalah disproporsi adalah bentuk pelvis, presentasi fetus
serta kemampuannya untuk moulage dan masuk panggul, kemampuan
berdilatasi pada cervix, dan keefektifan kontraksi uterus.
2) Malposisi dan malpresentasi
Abnormalitas ini dapat menyebabkan perlunya sectio caesarea pada
bayi yang dalam posisi normal dapat dilahirkan pervaginam. Bagian
terbesar dari peningkatan insidensi sectio caesarea dalam kelompok ini
berkaitan dengan presentasi bokong. Barangkali sepertiga dari presentasi
bokong harus dilahirkan lewat abdomen. Bukan saja akibat langsung
kelahiran vaginal terhadap janin lebih buruk pada presentasi bokong
disbanding pada presentasi kepala, tetapi juga terbukti adanya pengaruh
jangka panjang sekalipun kelahiran tersebut tanpa abnormalitas. Ada
perkiraan bahwa persalinan kaki dan bokong bayi premature yang viable
paling baik dilakukan melalui sectio caesarea.
3) Disfungsi uterus
Disfungsi uterus mencakup kerja uterus yang tidak
terkoordinasikan, inertia, cincin konstriksi dan ketidakmampuan dilatasi
cervix. Partus menjadi lama dan kemajuannya mungkin terhenti sama
sekali. Keadaan ini sering disertai disproporsi dan malpresentasi.
4) Distosia jaringan lunak
Distosia jaringan lunak (soft tissue dystocia) dapat menghalangi
atau mempersulit kelahiran yang normal. Ini mencakup keadaan seperti
cicatrix pada saluran genitalia, kekakuan cervix akibat cedera atau
pembedahan, dan atresia atau stenosis vagina. Kelahiran vaginal yang
dipaksa akan mengakibatkan laserasi yang luas dan perdarahan.
5) Neoplasma
Neoplasma yang menyumbat pelvis menyebabkan persalinan
normal tidak mungkin terlaksana. Kanker invasive cervix yang
didiagnosis pada trimester ketiga kehamilan dapat diatasi dengan sectio
caesarea yang dilanjutkan dengan terapi radiasi, pembedahan radikal
ataupun keduanya.
6) Persalinan yang tidak dapat maju
Dalam kelompok ini termasuk keadaan – keadaan seperti
disproporsi cephalopelvik, kontraksi uterus yang tidak efektif, pelvis
yang jelek, bayi yang besar dan defleksi kepala bayi. Sering diagnosis
tepat tidak dapat dibuat dan pada setiap kasus merupakan diagnosis
akademik. Keputusan ke arah sectio caesarea dibuat berdasarkan
kegagalan persalinan untuk mencapai dilatasi cervix dan atau turunnya
fetus, tanpa mempertimbangkan etiologinya.
b. Pembedahan sebelumnya pada uterus
1) Sectio caesarea
Pada sebagian besar Negara ada kebiasaan yang dipraktekkan
akhir-akhir ini, yaitu setelah prosedur pembedahan caesarea dikerjakan,
maka semua kehamilan yang mendatang harus diakhiri dengan cara yang
sama. Bahaya rupture lewat tempat insisi sebelumnya dirasakan terlalu
besar. Akan tetapi, pada kondisi tertentu ternyata bisa dilakukan trial of
labor dengan kemungkinan persalinan lewat vagina. Kalau upaya ini
berhasil, baik morbiditas maternal maupun lamanya rawat tinggal akan
berkurang.
2) Histerotomi
Kehamilan dalam uterus akan disertai bahaya rupture uteri bila
kehamilan sebelumnya diakhiri dengan histerotomi. Resikonya sama
seperti resiko sectio caesarea klasik. Histerotomi kalau mungkin harus
dihindari dengan pertimbangan bahwa kehamilan berikutnya akan
mengharuskan sectio caesarea.
c. Perdarahan
1) Plasenta previa
Sectio caesarea untuk placenta previa centralis dan lateralis telah
menurunkan mortalitas fetal dan maternal. Keputusan akhir diambil
melalui pemeriksaan vaginal dalam kamar operasi dengan
menggunakan double setup. Darah sudah tersedia dan sudah
dicocokkan (cross-matching). Team dokter bedah harus sudah siap
sedia. Jika pada pemeriksaan vaginal ditemukan placenta previa
centralis atau partialis, sectio caesarea segera dikerjakan.
2) Abruptio plasenta
Abruptio placentae yang terjadi sebelum atau selama persalinan
awal dapat diatasi dengan pemecahan ketuban dan pemberian tetesan
oxytocin. Kalau perdarahannya hebat, cervix mengeras dan menutup
atau kalau ada kecurigaan apoplexia uteroplacental, maka diperlukan
sectio caesarea untuk menyelamatkan bayi, mengendalikan perdarahan,
mencegah afibrinogenemia dan untuk mengamati keadaan uterus serta
kemampuannya berkontraksi dan mengendalikan perdarahan. Pada
sebagian kasus diperlukan tindakan histeroktomi.
3) Toxemia gravidarum
Toxemia gravidarum dapat menyebabkan pengakhiran kehamilan
sebelum waktunya. Pada sebagian besar kasus, pilihan metodenya
adalah induksi persalinan. Kalau cervix belum matang dan induksi
sukar terlaksana, sebaiknya dikerjakan sectio caesarea.
4) Lain-lain
a) Primigraviditas usia lanjut
Primigraviditas usia lanjut sulit didefinisikan. Sementara umur
bervariasi dari 35 hingga 40 tahun, factor – factor lain juga sama
pentingnya. Factor – factor ini mencakup ada tidaknya segmen bawah
uterus yang baik, kelenturan atau kekakuan cervix dan jaringan lunak
jalan lahir, kemudahan menjadi hamil, jumlah abortus, presentasi anak
dan koordinasi kekuatan his. Kalau semua hal ini menguntungkan,
kelahiran per vaginam harus dipertimbangkan. Kalau factor – factor
yang merugikan terdapat, maka sectio caesarea merupakan prosedur
yang lebih aman dan lebih bijaksana.
b) Bekas jahitan pada vagina
Dikerjakan sectio caesarea efektif kalau ada kekhawatiran bahwa
kelahiran lewat vagina yang pernah dijahit akan menimbulkan
cystocele, rectocele dan prolapsus uteri.
c) Anomali uteri congenital
Bukan saja uterus yang abnormal itu fungsinya jelek, tetapi juga
pada kasus anomali seperti uterus bicornuata, salah satu ujungnya dapat
merintangi jalannya bayi dari ujung yang lain. Pada keadaan seperti ini
harus dikerjakan section caesarea.
d) Riwayat obsetric yang jelek
Kalau kelahiran sebelumnya berlangsung dengan sukar dan
menimbulkan cedera luas pada cervix, vagina serta perineum, atau
kalau bayinya pernah cedera, maka dipilih sectio caesarea bagi
kelahiran berikutnya.
e) Forceps yang gagal
Forceps yang gagal merupakan indikasi dilakukannya sectio
caesarea. Lebih bijaksana bila beralih ke kelahiran per abdominam
daripada menarik bayi lewat panggul dengan paksa.
f) Inveksi virus herpes pada traktus genetalis
Virus herpes menyebabkan infeksi serius yang sering fatal pada
bayi baru lahir. Kalau dalam jalan lahir terdapat virus herpes pada saat
kelahiran, maka sedikitnya 50% dari bayi – bayi yang lahir akan
terinfeksi dan separuh diantaranya akan cacat berat, bila tidak
meninggal, akibat infeksi herpetic ini. Bahaya terbesar timbul kalau
infeksi primer genital terjadi 2 hingga 4 minggu sebelum kelahiran.
Transmisi lewat placenta tidak begitu penting bila dibandingkan dengan
kontak langsung selama persalinan dan kelahiran. Pada kontak
langsung, kontaminasi terjadi pada mata, kulit, kulit kepala, tali
pusat dan traktus respiratorius atas dari bayi yang dilahirkan.
2. Indukasi pada janin
a. Gawat janin
Gawat janin, yang ditunjukkan dengan adanya bradycardia berat,
irregularitas denyut jantung anak atau adanya pola deselerasi yang
terlambat, kadang – kadang menyebabkan perlunya sectio caesarea
darurat.
b. Cacat atau kematian janin sebelumnya
Khususnya pada ibu – ibu yang pernah melahirkan bayi yang cacat atau
mati dilakukan sectio caesarea efektif.
c. Prolapsus funiculus umbicalis
Prolapsus funiculus umbilicalis dengan cervix yang tidak berdilatasi
sebaiknya diatasi dengan sectio caesarea, asalkan bayinya berada dalam
keadaan baik.
d. Insufisiensi plasenta
Pada kasus retardasi pertumbuhan intrauterine atau kehamilan post
mature dengan pemeriksaan klinis dan berbagai test menunjukkan bahwa
bayi dalam keadaan bahaya, maka kelahiran harus dilaksanakan. Jika
induksi tidak mungkin terlaksana atau mengalami kegagalan, sectio
caesarea menjadi indikasi. Dengan meningkatnya kemampuan dokter –
dokter anak untuk menyelamatkan bayi – bayi yang kecil dan kalau
memang diperlukan, sectio caesarea dapat memberikan kesempatan
hidup dan kesempatan untuk berkembang secara normal kepada bayi –
bayi ini.
e. Diabetes maternal
Fetus dari ibu diabetic cenderung lebih besar daripada bayi normal ;
keadaan ini bisa mengakibatkan kesulitan persalinan dan kelahiran.
Meskipun bayi – bayi ini berukuran besar, namun perilakunya
menyerupai bayi premature dan tidak bisa bertahan dengan baik terhadap
beban persalinan lama. Kematian selama persalinan dan pascalahir sering
terjadi. Disamping itu, sejumlah bayi meninggal dalam kandungan
sebelum maturitasnya tercapai. Karena adanya bahaya terhadap
keselamatan fetus ini dan karena proporsi timbulnya toxemia yang tinggi
pada ibu hamil yang menderita diabetes, maka kehamilan perlu diakhiri
sebelum waktunya. Jika keadaannya menguntungkan dan persalinan
diperkirakan berlangsung mudah serta cepat, maka dapat dilakukan
induksi persalinan. Akan tetapi pada primigravida dan multipara dengan
cervix yang panjang dan tertutup atau dengan riwayat obstetric yang
jelek, sectio caesarea adalah metode yang dipilih.
f. Inkompatibilitas rhesus
Kalau janin mengalami cacat berat akibat antibody dari ibu Rh-negatif
yang menjadi peka dan kalau induksi serta persalinan per vaginam sukar
terlaksana, maka kehamilan dapat diakhiri dengan sectio caesarea bagi
kasus – kasus yang terpilih demi keselamatan janin.
g. Postmortem caesarean
Kadang – kadang bayi masih hidup bilamana sectio caesarea segera
dikerjakan pada ibu hamil yang baru saja meninggal dunia.
2.3 Jenis Sectio Caesarea
Jenis sectio caesarea9 :
1. Sectio caesarea transperitonealis profunda
Pembedahan ini dilakukan dengan insisi di segmen bawah uterus.
Keunggulannya :
a. Perdarahan luka insisi tidak seberapa banyak
b. Bahaya peritonitis tidak besar.
c. Perut pada uterus umumnya kuat, sehingga bahaya rupture uteri di
kemudian hari tidak besar karena dalam masa nifas segmen bawah
uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri,
sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.
2. Sectio caesarea klasik / sectio caesarea korporal
Pembedahan ini yang agak lebih mudah dilakukan dan
dilakukan pada korpus uteri serta hanya diselenggarakan apabila ada
halangan untuk melakukan seksio csesarea transperitonealis profunda
(misal melekat eratnya uterus pada dinding perut karena sectio caesaria
yang sudah-sudah, insisi di segmen bawah uterus mengandung bahaya
perdarahan banyak berhubung dengan letaknya plasenta pada plasenta
previa).
3. Sectio caesarea ekstraperitoneal
Pembedahan ini dilakukan untuk mengurangi bahaya infeksi puerperal,
akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap infeksi.Pembedahan
tersebut sulit dalam tekniknya dan sering terjadi robekan peritoneum
yang tidak dapat dihindarkan.
2.4 Komplikasi Sectio Caesarea
Komplikasi sectio caesarea10 :
1. Pada ibu
a. Infeksi puerperal
Komplikasi ini bisa bersifat ringan seperti kenaikan suhu tubuh selama
beberapa hari dalam masa nifas, bersifat berat seperti peritonitis, sepsis,
dan sebagainya.
b. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-
cabang arteri ikut terbuka, atau karena atonia uteri.
c. Komplikasi lain seperti luka kandung kemih, emboli paru.
d. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang kuatnya
perut pada dinding uterus, sehinga pada kehamilan berikutnya bisa
terjadi ruptur uteri. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan
sesudah seksio sesarea klasik.
2. Pada janin
Seperti halnya dengan ibunya, nasib anak yang dilahirkan dengan sectio
caesarea banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk
melakukan sectio caesarea. Menurut statistik di negara – negara dengan
pengawasan antenatal dan intra natal yang baik, kematian perinatal pasca
sectio caesarea berkisar antara 4 – 7 %.
2.5 Keuntungan dan Kerugian Sectio Caesarea
Keuntungan dan kerugian :
1. Keuntungan
a. Ibu
1) Tidak terasa sakit saat bersalin.
2) Dapat mengatur jadwal melahirkan.
3) Waktu persalinan lebih cepat.
4) Resiko rendah prolaps uteri dan robekan jalan lahir.
b. Janin
1) Tidak ada after coming head (pada letak sungsang).
2) Tidak ada trauma kepala.
2. Kerugian
a. Ibu
1) Ada nyeri bekas luka.
2) Resiko infeksi rahim.
3) Resiko seksio sesarea berulang.
4) Tidak bisa melahirkan dalam jumlah banyak.
5) Perdarahan lebih banyak.
6) Resiko rupture uteri.
7) Luka pada dinding perut dan rahim.
8) Resiko plasenta low laying
9) Resiko retensio plasenta.
10) Biaya mahal.
b. Janin
1) Tidak ada poses pemerasan pada dada janin pada saat melewati
panggul ibu.
BAB 3

LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. Deffitri Analta
Usia : 30 tahun
No. RM : 01017228

2. ANAMNESIS PASIEN (Autoanamnesis, tanggal 26 Mei 2018)


Seorang pasien wanita berusia 30 tahun masuk IGD RSUP Dr. M. Djamil
Padang pada tanggal 26 Mei 2018 sebagai rujukan dari RSUD Painan
dengan diagnosis G2P1A0H1 gravid aterm 38-39 minggu + plasenta previa
totalis + suspek akreta

Riwayat Penyakit Sekarang


- Keluar darah dari kemaluan sejak ± 2 hari yang yang lalu
- Keluar air-air yang banyak dari kemaluan tidak ada
- Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan
- Nyeri pinggang menjalar ke ari-ari tidak ada
- Tidak haid sejak ±9 bulan yang lalu.
- HPHT : 2/9/2017 TP : 9/6/2018
- Gerak anak dirasakan sejak ±5 bulan yang lalu.
- RHM : Mual (-) Muntah (-) Pendarahan (+) Trauma (-)
- ANC : kontrol teratur ke dokter setiap usia kehamilan 2, 4, 6 dan 9 bulan.
- RHT : Mual (-) Muntah (-) Pendarahan (+) Trauma (-)
- Riwayat Menstruasi : Menarche umur 13 th, siklus haid teratur 1 x 28
hari, lamanya 5-6 hari, banyaknya 2-3x ganti duk/hari, nyeri (-)

Riwayat Penyakit Dahulu


- Tidak pernah menderita penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM,
hipertensi, dan alergi
Riwayat Penyakit Keluarga
- Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit keturunan, menular,
keganasan dan kejiwaan
-
Riwayat Sosial Ekonomi dan lain-lain
- Riwayat Pendidikan: SMA
- Riwayat pekerjaan: IRT
- Riwayat kebiasaan: merokok (-), minum alkohol (-), penyalahgunaan obat
(-)
- Riwayat perkawinan: menikah 1x pada tahun 2014
- Riwayat kontrasepsi: tidak ada

3. PEMERIKSAAN FISIK
- Keadaan umum : Sedang
- Kesadaran : Komposmentis kooperatif
- Tekanan darah : 110/70 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
- Pernafasan : 18 x/menit
- Suhu : 36,5C
- TB : 155 cm
- BB : 50 kg
- BMI : 20,8 Kg/cm2 (Normoweight)
- Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
- Leher : tidak teraba pembesaran KGB
- Thorak : jantung dan paru dalam batas normal
 Jantung
Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : iktus kordis teraba 1 jari medial LMCS RIC IV
Perkusi : atas (RIC II), kanan (LSD), kiri (1 jari medial
LMCS RIC IV)
Auskultasi : S1S2 reguler, murmur (-), bising (-)
 Paru
Inspeksi : simetris kiri = kanan
Palpasi : fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor
Auskultasi : Suara napas vesikular, Rh -/-, Wh -/-
 Muka : chloasma gravidarum (+)
 Mamae : membesar, tegang, aerola dan papila
hiperpgimentasi (+)
 Abdomen
Inspeksi : tampak membuncit kurang dari usia kehamilan, linea
nigra (+), striae gravidarum (+), sikatrik (-)
Palpasi :
- Leopold 1 : FUT 3 jari di bawah proccesus xyphoideus, ,
teraba massa besar, lunak noduler
- Leopold 2 : Teraba tahanan besar di sebelah kiri dan
bagian-bagian kecil di sebelah kanan ibu
- Leopold 3 : Teraba massa bulat dan keras
- Leopold 4 : Paralel
TFU = 28 cm TBA : 2635 gr His: 3-4x /35”/sedang
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus normal, BJA 140-150 x/menit
 Genitalia :
Inspeksi : V/U tenang,
VT
- Pembukaan serviks : 2 cm
- Ketuban (-)
- Teraba Kepala
 Ekstremitas : Edema -/-, akral hangat
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Hb : 11,5 g/dl (Nilai rujukan: wanita 12-16 g/dl)
Ht : 34 % (Nilai rujukan: wanita 37-43%)
Leukosit : 12.440/mm3 (Nilai rujukan: 5000-10000)
Trombosit : 226.000/mm3 (Nilai rujukan: 150000-
400000)
Eritrosit : 4,41 juta ((Nilai rujukan: wanita 4-4.5 juta)
PT : 9,6 detik
APTT : 30,4 detik

5. DIAGNOSIS
G2P1A0H1 gravid aterm 38-39 minggu + plasenta previa totalis + IUGR
Janin hidup tunggal intrauterine presentasi bokong

6. PENATALAKSANAAN
- Kontrol KU, VS, DJJ, His
- IVFD RL 28 tetes permenit
- Antibiotik profilaksis: Cefotaxime 1gr
- Kontrol KU, vital sign, bja, HIS

PERJALANAN PENYAKIT

Tanggal 26 Mei 2018 Jam 15.00 WIB


A : G2P1A0H1 gravid aterm 38-39 minggu + plasenta previa totalis +
IUGR
Janin hidup tunggal intrauterine presentasi bokong
Rencana : Kontrol KU,VS, His, DJJ
Cek darah rutin, PT, APTT
Konsul anastesi
SC cito

Jam 18.00 wib

Telah dilakukan SCTPP atas indikasi plasenta previa totalis + IUGR + letak
sungsang. Lahir bayi perempuan, BB : 2300 gram, PB : 47 cm, A/S : 4/6. Plasenta
lahir lengkap dengan tarikan, 1 buah, insersi parasentralis. Ukuran 15x11x4 cm,
berat 410 gram. Perdarahan ± 200 cc
A : P2A0H2 post SCTPP atas indikasi plasenta previa totalis + IUGR
Rencana : Kontrol KU, VS, PPV
IUFD RL drip oksitosisn : metergin 1:1 20 tpm
Injeksi cefotaxime 2 x 1 gram
Pronalges sup bila perlu

Tanggal 27 Mei 2018 Jam 07.00 WIB

S : Demam (-), PPV (-), ASI (+/+), BAK (+) via kateter, BAB,
Nyeri luka operasi (+)
O : KU Kes TD Nd Nfs T
Sdg CMC 110/70 80x/m 23x/m 37 0
Abdomen : Luka operasi tertutup verban, FUT teraba 3 jari bawah
pusat, kontraksi (+)
Genitalia : V/U tenang, PPV (-)
Hb : 9,7 g/dl
Ht : 28 %
Leukosit : 15,350/mm3
Trombosit : 145.000/mm3

A : P2A0H2 post SCTPP atas indikasi plasenta previa totalis + IUGR


NH 1
Rencana : Kontrol KU, VS, PPV
IUFD RL 20 tpm
Injeksi ceftriaxon 2x1 gram
Asam mefenamat 3x500 mg
Vit C 3x1
SF 1x1
Transfusi PRC 1 unit
BAB 4
DISKUSI
DAFTAR PUSTAKA

1. Cuningham F G, Norman F, Kenneth J, Larry C, John C, Katharine D, et al..


Williams Obstetrics 22nd Edition. Thw Mc Graw-Hill Companies, New
York. 2005
2. Schiara J, et al. 1997. Breech Presentation. Gynecology and Obstetric 6th
edition, Lippincot-Raven Publisher, Chicago.
3. Setjalilakusuma L. 2000. Induksi Persalinan, dalam Ilmu Bedah Kebidanan,
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.
4. Winkjosastro, Hanifa, 2006. Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
5. Kasdu, Dini. 2003. Operasi Caesar Masalah dan Solusinya.Jakarta: Puspa
Swara.
6. Oxorn, Harry dan William R. Forte.2010.Ilmu Kebidanan, Patologi dan
Fisiologi
7. Nugroho, Taufan. 2011. Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah,
Penyakit Dalam.Yogyakarta: Nuha Medika Persalinan.Yogyakarta: Yayasan
Esentia Medika YEM.
8. Mitayani. 2011 .Asuhan Keperawatan Maternitas.Jakarta: Salemba Medika
9. Wiknjosastro, Hanifa.2007.Ilmu Kebidanan.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
10. Jitowiyono, Sugeng dan Weni Kristiyanasari. 2010 .Asuhan Keperawatan
Post Operasi. Yogyakarta : Nuha Medika: Yayasan Bina Pustaka.