You are on page 1of 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembedahan adalah semua tindakan pengobatan yang menggunakan cara
invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani.
Pembukaan bagian tubuh ini pada umumnya menggunakan sayatan. Setelah bagian
yang ditangani ditampilkan dilakukan tindakan perbaikan yang diakhiri dengan
penutupan dan penjahitan (Sjamsuhidayat, 2005). Bedah atau operasi merupakan
tindakan pembedahan cara dokter untuk mengobati kondisi yang sulit atau tidak
mungkin disembuhkan hanya dengan obat-obatan sederhana (Potter and Perry, 2006).
Laparatomi merupakan pembedahan perut, membuka selaput perut dengan
operasi yang dilakukan untuk memeriksa organ-organ perut dan membantu diagnosis
masalah termasuk menyembuhkan penyakit-penyakit pada perut (Mansjoer, 2007).
Berdasarkan penelitian di RSUD Dr. Moewardi banyak terdapat pasien yang
dilakukan pembedahan. Pembedahan atau operasi yang sering dilakukan selama
bulan Agustus sampai November 2012 kasus laparotomi 230 (60%) kasus, pada bulan
Januari sampai November 2012 pasien dengan kasus post operasi apendisitis sekitar
kurang lebih 252 orang, dengan kasus laparatomi apendisitis 78 orang.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Dapat mengetahui asuhan keperawatan pada post laparatomi
2. Tujuan Khusus
a. Untuk menegetahui definisi laparatomi
b. Untuk mengetahui etiologi laparatomi
c. Untuk mengetahui manifestasi klinis laparatomi
d. Untuk mengetahui komplikasi laparatomi
e. Untuk mengetahui patofisiologi dan pathway laparatomi
f. Untuk mengetahui penatalaksanaan laparatomi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN
Laparatomi adalah pembedahan yang dilakukan pada usus akibat terjadinya
perleketan usus dan biasanya terjadi pada usus halus (Arif Mansjoer, 2010)
Laparatomi adalah pembedahan perut, membuka selaput perut dengan operasi
(Lakaman, 2011)
Jenis-jenis laparatomi menurut Jitowiyono (2010) :
1. Midline incision, yaitu sayatan ke tepi dari garis tengah abdomen.
2. Paramedian, yaitu sayatan sedikit ke tepi dari garis tengah dengan
jarak sekitar 2,5 cm dengan panjang 12,5 cm.
3. Transverse upper abdomen incision, yaitu insisi di bagian atas,
misalnya pembedahan colesistotomy dan spelenektomy.
4. Transverse lower abdomen, yaitu insisi melintang dibagian bawah 4
cm di atas anterior spinl iliaka, misalnya pada operasi appendisitis.

B. ETIOLOGI
1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
2. Peritonitis
3. Perdarahan saluran pencernakan
4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar
5. Masa pada abdomen (Mansjoer, 2007)

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Nyeri tekan
2. Kelemahan
3. Konstipasi
4. Mual muntah
5. Dapat terjadi peningkatan tekanan darah, nadi dan pernafasan

D. KOMPLIKASI
1. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis,
Tromboplebitis post operasi biasanya timbul 7-14 hari setelah operasi.
Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari
dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke
paru-paru, hati dan otak.
2. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau
eviserasi
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka
adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab
dehisensi dan eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutupnya
waktu pembedahaan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen
sebagai akibat dari batuk atau muntah.
3. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan luka infeksi
Infeksi luka sering muncul pada 36-46 jam setelah operasi. Organisme
yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens,
organisme, gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan.
(Jitowiyono, 2010)

E. PATOFISIOLOGI DAN PATHWAY


PATOFISIOLOGI
Laparatomi merupakan operasi besar dengan membuka rongga abdomen yang
merupakan stresor pada tubuh resppon tersebut terdiri dari respon sistem saraf
simpatik dan respon hormonal yang bertugas melindungi tubuh dari ancaman
cidera. Bila stres terhadap sistem cukup gawat atau krhilangan banyak darah
maka mekanisme konpensasi tubuh terlalu berat sehinggga syok akan menjadi
akibatnya. Respon metabolisme juga terjadi karbohidrat dan lemak
dimetabolisme untuk memproduksi energi. Protein tubuh dipecah untuk
menyajikan asam amino yang akan digunakan untuk membangun sel jaringan
yang baru. Pemulihan fugsi usus, khususnya fungsi peristaltik setelah
laparatomi jarang menimbulkan kesulitan illeus adinamik atau paralitik selalu
terjadi selama satu sampai empat hari setelah laparatomi, bila keadaan ini
menetap di sebabkan karena peradangan di perut berupa peritonitis atau abses
dan karena penggunaan obat-obtan sadatif
Tindakan pembedahan menimbulkan adanya luka yang menandakan
adanya kerusakan jaringan. Adanya luka merangsangan reseptor nyeri
sehingga mengeluarkan zat kimia berupa histamin, bradikinin dan
prostaglandin akibatnya timbul nyeri. Luka akibat insisi pada perut apabila
tidak dirawat dengan prinsip aseptik dan steril maka akan beresiko tinggi
terkena infeksi.
F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Medis
1. Teknik laparatomi eksplorasi
- Tindakan anamnesa dan antisepsis daerah abdomen dan sekitarnya
- Insisi vertikal dimulai dari bawah presus sifoidius diteruskan
melingkari umbilikus, kemudian diteruskan ke bawah sampai
diatas simfisis tulang pubis
- Posisi pasien supinasi dimeja operasi dalam keadaan teranestesi
spinal
- Pasien dilakukan toilet medan operasi, ditutup dengan duek steril
- Insisi dilakukan pada abdomen bagian kiri, pembedahan kira-kira
4cm
- Insisis dilakukan lapis demi lapis
- Pada peritonium dibuka keluar cairan jernih
- Tampak elinium dan jejenum adhesi
- Lakukan adhesiolisis
- Kontrol perdarahan pasien
- Pasang dream
- Jahit luka operasi lapis demi lapis
- Operasi selesai dilakukan
2. Perdarahan segera dirawat terutama yang berasal dari rongga abdomen
atau organ yang terluka
- Luka insisi ditutupi lapis demi lapis
Penatalaksanaan Keperawatan
1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahaan
2. Mempercepat penyembuhaan
3. Mengembalikan fungsi abdomen pasien semaksimal mungkin
seperti sebelum operasi
4. Mempertahankan konsep diri pasien
5. Mempersiapkan pasien pulang
Perawatan pasca pembedahan
1. Tindakan keperawatan
- Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
- Observasi dan catat sifat drain (warna jumlah)
- Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati
jangan sampai drain tercabut
- Perawatan luka operasi secara steril

ASUHAN KEPERAWATAN SESUAI TEORI

A. Secondary Survey/ pemeriksaan fisik


1. Keadaan atau penampilan umum
a. Kesadaran
Kesadaran pasien (Samnolen, CM, apatis, delirium, koma)
b. Tanda-tanda vital
- TD : peningkatan tekanan darah, MAP dalam batas normal
- Hearth Rate
Frekuensi : Adanya peningkatan atau penurunan frekuensi nadi
Irama : Teratur atau tidak teratur
Kekuatan : 60 – 100 mmHg
- Pernafasan
Frekuensi : Cepat >20x/ menit
Kekuatan : Teratur
Suhu : Normal atau tidak normal
2. Kepala
Bentuk kepala : mesocepal
Kulit kepala : kebersihan kulit kepala, apakah berbau/tidak, ada ketombe atau tidak
Rambut : warna rambut (beruban/belum)
3. Muka
a. Mata
Palpebra : kehitaman
Konjugtiva : anemis atau tidak
Sclera : putih. bersih, ikterik
Pupil : isokor atau anisokor
Diameter kanan/kiri : ± 3mm
Reflek terhadap cahaya : reaktif atau non reaktif
Lapang pandang : visus normal atau tidak normal
b. Hidung
Simetris atau tidak simetris, bersih atau kotor, ada sekret atau tidak, ada atau tidak
pernafasan cuping hidung, terpasang atau tidak alat bantu nafas (NRM, RM, Nasal
Kanul)
c. Mulut
Bibir kehitaman, gigi( kotor atau tidak), warna (kuning, putih) apakah ada gigi
yang berlubang atau tidak.
d. Telinga
Tidak ada pembesaran limfe
4. Leher
Ada pembesaran tiroid atau tidak, ada peningkatan JVP atau tidak
5. Dada (thorax)
a. Paru-paru
Inspeksi : simetris, tidak ada jejas, tidak ada otot bantu nafas
Palpasi : vocal fremitus kanan dan kiri sama atau tidak
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesikuler atau bronkovesikuler
b. Jantung
Inspeksi : ictus cordis tampak atau tidak tampak
Palpasi : ictus kordis teraba di ics 5 midklavikula sinistra, kuat angkat atau
tidak
Perkusi : pekak
Auskultasi : bunyi jantung 1 dan 2 reguler, frekuensi, ada suara tambahan atau
tidak
6. Abdomen
Inspeksi : setinggi dada atau tidak, ada spidernavi atau tidak, apakah ada
distensi atau tidak.
Auskultasi : bising usus terdengar atau tidak terdengar
Perkusi : thympani atau hiperthympani
Palpasi : ada atau tidak nyeri tekan, adanyeri lepas atau tidak
7. Genitalia : ada kelainan atau tidak
8. Ekstermitas
Atas
Kekuatan otot kanan dan kiri : kanan (1-5), kiri(1-5)
ROM kanan dan kiri : adekuat atau tidak adekuat
Perubanhan bentuk tulang : ada atau tidak
Perubahan akral : hangat atau dingin
Pitting edema : ada tau tidak
Capilary revil time : ada <3 detik

Bawah
Kekuatan otot kanan dan kiri : kanan (1-5), kiri(1-5)
ROM kanan dan kiri : adekuat atau tidak adekuat
Perubanhan bentuk tulang : tidak ada
Perubahan akral : hangat atau dingin
Pitting edema : ada tau tidak
Capilary revil time : ada <3 detik

B. TERSIERY SURVEY
Data penunjang ini terdiri dari farmakotherapi atau obat-obatan yang diberikan kepada
klien, serta prosedur diagnostik yang dilakukan kepada klien seperti pemeriksaan
laboratorium (AGD, cek darah lengkap) serta pemeriksaan serta pemeriksaan rontgen.
C. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan dengan agen cidera fisik
2. Ketidakefektifan bersihkan jalan nafas berhubungan dengan faktor fisiologis
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk mengabsopsi nutrien
4. Resiko syok (hipovolemik) berhubungan dengan hipovolemik
5. Resiko ketidakseimbangan kadar gula darah berhubungan dengan penurunan berat
badan
6. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
D. Perencanaan tindakan keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan dengan agen cidera fisik
NIC :
- Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan
Rasional : untuk mengetahui reaksi non verbal klien dalam menghadapi nyeri
- Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi karakteristik,
durasi, kualitas, frekuansi, dan faktor predisposisi
Rasional : untuk mengetahui skla nyeri, lokasi, karakteristik, durasi, kualitas
- Ajarkan teknik non farmakologi (relaksasi nafas dalam, kompres hangat dan
dingin)
Rasional : untuk mengajarkan kepada pasien cara mengurangi nyeri
- Kalaborasi dalam pemberian analgetik
Rasional : untuk menentukan dosis yang tepat
2. Ketidakseimbangan bersihkan jalan nafas berhubungan dengan faktor biologis
NIC :
- Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
Rasional : untuk menentukan tindakan yang tepat dalam menangani O2 pasien
- Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
Rasional : untuk mengetahui apakah ada suara tambahan atau tidak
- Berikan bronkodilator bila perlu
Rasional : untuk membuka jalan nafas yang dilatasi
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan mengabsopsi nutrisi
NIC
- Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrsisi yang dibutuhkan
Rasional : untuk mengetahui kemmpuan pasien dalam mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan
- Monior kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Hematokrit
Rasional : untuk mengetahui kadar albumin,total protein, Hb, dan kadar
Hematokrit
- Berikan substansi gula
Rasional untuk meningkatkan glukosa dalam tubuh
- Kalaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien
Rasional : untuk menentukan jumlah kalori yang dibutukan pasien
4. Resiko syok berhubungan hipopelimia
NIC
- Monitor ttv,tekanan darah, status mental dan output
Rasional : untuk memonitor pasien
- Berikan cairan IV kristaloid sesuai dengan kebutuhan
Rasional untuk memperbaiki status cairan pasien
- Lakukan pemasangan NGT dan monitor residu lambung
Rasional untuk mengetahui apakah lambung mengalami masalah
- Atur posisi pasien untuk mengoptimalkan perfusi
Rasional untuk melancarkan perfusi sampai ke pembuluh darah perifer
5. Resiko ketidakseimbangan kadar gula darah berhubungan dengan penurunan
berat badan
NIC
- Pantau kadar glukosa dalam darah
Rasional : untuk mengetahui kadar glukosa dalam darah apakah mengalami
peningkatan atau penurunan
- Pantau tanda-tanda hiperglikemia
Rasional untuk mengetahui mekanisme pengontrolan fugsi tubuh
- Instruksikan pasien dan keluarga terhadap pencegahan, pengenalan,
manajement
Rasional : agar dapat memanajement diabetes yang di alami oleh klien dan
mengetahui cara penanganan terhadap hiperglikemia
- Konsultasi dengan dokter jika tanda-tanda hiperglikemia memburuk
Rasional : agar dapat mengantisipasi dan menghambat keparahan yang
diakibatkan hiperglikemia
6. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
NIC
- Monitor tanda dan gejala infeksi
Rasional : untuk menegtahui tanda dan gejala infeksi
- Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
Rasional : untuk menjaga agar lingkungan tetap steril
- Edukasikan kepada pasien dan keluarga pasien tanda dan gejala infeksi
Rasional : untuk mencegah infeksi pada pasien dan tidak menambah keadaan
pasien makin memburuk
- Kalaborasi dalam pemberian antibiotik
Rasional : untuk mencegah dan menghindari pasien dari virus dan bakteri yang
menyebabkan infeksi

ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA NY.P DENGAN POST OPERASI

LAPARTOMI HARI KE -1 DI ICU RSUD PANDAN ARANG

KABUPATEN BOYOLALI

A. IDENTITAS
1. Nama : Ny. P
2. Tempat / Tanggal Lahir : 01 Januari 1956
3. Usia : 63 tahun
4. Agama : Islam
5. Suku Bangsa : Jawa
6. Status Perkawinan : Menikah
7. Pendidikan : Tamat SD
8. Bahasa yang digunakan : Jawa
9. Alamat : Pomah 03/01, Mojosongo, Boyolali
10. No. Register : 08276033
11. Diagnosa Medis : Post operasi Laparatomi
B. STATUS RIWAYAT KESEHATAN
1. Nama : Ny. P
2. Umur : 63 Tahun
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Agama : Islam
5. Alamat : Pomah 03/01, Mojosongo, Boyolali
6. Diagnosa Medis : Post operasi Laparatomi
7. Nomor Register : 08276033
C. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan / penampilan umum
a. Kesadaran : GCS : E4 M6 V5 , klien tampak sakit sedang
b. Tanda-tanda vital : TD : 145 / 80 mmHg, HR : 82 X/m, RR : 24 X/m, MAP :
198 mmHg
c. Suhu : 37.70 C
b. Kepala
Bentuk kepala : Mesocepal
Kulit kepala : Kotor, bau, dan ada ketombe
Rambut : beruban
c. Muka
a. Mata
Palpebra : Kehitaman
Konjungtiva: Merah muda
Sclera : Ikterik
Pupil : Isokor
Diameter kiri/ kanan : 2 mm
Reflek terhadap cahaya : reaktif
Lapang pandang : visus normal
b. Hidung : Bersih, tidak ada secret, tidak ada pernafasan cuping hidung
c. Mulut : Bibir kehitaman, mukosa bibir kering
d. Gigi : Kotor, kekuning-kuningan, ada gigi yang berkurang, tidak ada
caries gigi
e. Telinga : Bersih, tidak ada gangguan pendengaran
d. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid,
tidak ada peningkatan jvp
e. Dada (thorax)
a. Paru-paru
Inspeksi : Simetris, tidak ada jejas
Palpasi : Vocal fremitus depan kanan dan kiri sama, vocal fremitus
fremitus belakang kanan dan kiri sama
Perkusi : Sonor di semua lapang paru
Auskultasi: Vesikuler
b. Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi :Ictus cordis teraba di ICS 5 midclavicula sinistra, tampak
kardiomegali
Perkusi : Pekak
Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler
f. Abdomen
Inspeksi : kulit sawo matang, ada luka post operasi laparatomi ± 15 cm,
luka tertutup kassa, tidak ada rembesan yang keluar dari
balutan.
Auskultasi : Tidak terdengar suara bising usus
Perkusi : Thympani
Palpasi : ada nyeri tekan, tidak ada nyeri lepas, teraba supel, tidak
tampak distensi
g. Genetalia
Terpasang DC kateter
h. Rektum
Tidak ada hemoroid
i. Ekstremitas
Atas
Kekuatan otot kanan dan kiri : skala 4 (kanan), skala 4 (kiri)
ROM kanan dan kiri : ROM aktif
Perabaan akral : hangat
Pitting edema : -
Cappilary revil : < 2 detik
Bawah
Kekuatan otot kanan dan kiri : skala 4 (kanan), skala 4 (kiri)
ROM kanan dan kiri : ROM aktif
Perabaan akral : hangat
Pitting edema : -
Cappilary revil : < 2 detik

D. DATA TAMBAHAN
Keluhan utama : nyeri perut
Riwayat penyakit sekarang : pasien dengan post operasi laparatomi pada tanggal 31
oktober 2016, Kemudian pasien dibawa ke ruang ICU RSUD Pandan Arang
Kabupaten Boyolali. Pada saat pengkajian didapatkan data TD : 145/80 mmHg, HR :
82 X/ m, RR : 24 X/ m, suhu : 37.7 0 C, SPO2 : 89 % dengan tipe ventilasi ET T-Piece ,
FIO2 : 60 %
Riwayat penyakit dahulu : pasien memiliki riwayat alergi terhadap obat bodrex, tidak
ada riwayat penyakit kronis seperti hipertensi, DM, Asma, TB, dan lain-lain.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

HARI/TGL/JAM PEMERIKSAAN SATUAN HARGA HASIL


NORMAL
Senin, 31-10- Kimia
2016 BGA – PAKET
ELEKTROLIT
SO2 % 94-98 96
Suhu Celcius 37.70
FIO2 % 60
PH 7.35 – 7.45 7.41
PCO2 mmol/L 35-45 38
PO2 mmol/L 80 - 100 85
TCO2 mmol/L 21 - 31 25.1
BE mmol/L 0 - 2.5 0.3
A - a D02 mmHg 0 - 2.5
O2 Cap ml/ dl 10 - 20
O2 ct negatif
HCO3 mmol/L 22 -26 24.7
Natrium mmol/L 135 - 148 136
Kalium mmol/L 3.5 – 5.3 3.4
Ca mmol/L 1.15 – 1. 27 0.35
Selasa, Kimia
01/10/2016 BGA – PAKET
ELEKTROLIT
SO2 % 94 – 98 96
Suhu Celcius
FIO2 % 60
PH 7.35 – 7.45 7.45
PCO2 mmol/L 35-45 40
PO2 mmol/L 80 – 100 73
TCO2 mmol/L 21 – 31 28.9
BE mmol/L 0 - 2.5 3.7
A - a D02 mmHg 0 - 2.5
O2 Cap ml/ dl 10 – 20
O2 Ct negatif
HCO3 mmol/L 22 -26
Natrium mmol/L 135 - 148
Kalium mmol/L 3.5 – 5.3
Ca mmol/L 1.15 – 1. 27
Pada tanggal 01 - 11 - 2016 dilakukan pemeriksaan foto thorax
Thorax : AP, simetris, inspeksi dan kondisi cukup
Hasil :
 Tampak corakan bronchovaskuler dalam batas normal
 Kedua sinus costofrenicus lancip
 Kedua diafragma liein
 Cor : CRT > 0.5

Kesan :

 Kardiomegali
 Pulmo dalam batras normal

Pada tanggal 01 - 11 - 2016 dilakukan foto abdomen 3 posisi,

Hasil :
 Preperitoneal fatline lugas
 Tampak distensi pada usus halus dengan gambaran air fluid level pendek-
pendek cal springe appearene (+)
 Tampak udara bebas intraabdominal 2x traluminer
 Tampak penebalan dinding usus halus

Kesan : illeus obstruksi letak atas

F. TERAPI MEDIS

Hari/ Jenis Terapi Dosis Fungsi


tanggal
Selasa, 01- Meropenem 1 gr / 8 jam Antibiotik untuk mengobati berbagai
11- 2016 jenis infeksi yang khusus disebabkan
oleh bakteri
Ketorolac 30 mg/ 8 Untuk mengurangi nyeri sedang hingga
jam berat
Ranitidin 1 ampul/ 8 Untuk menangani gejala dan penyakit
jam akibat produksi asam lambung yang
berlebihan
Ondansentron 1 ampul / 8 Untuk mencegah dan mengobati mual
jam dan muntah
Rabu, 02 -11 Meropenem 1 gr / 8 jam Antibiotik untuk mengobati berbagai
– 2016 jenis infeksi yang khusus disebabkan
oleh bakteri.

G. ANALISA DATA

No Hari/Tgl/Jam Data Fokus Problem Etiologi Ttd


1. Selasa, 01 - DS : Pasien mengatakan Nyeri akut Agen
11 - 2016 nyeri Injuri fisik
15.00 WIB P : Saat bergerak ( post
Q: Seperti tertusuk-tusuk operasi
R : Pada perut laparatomi)
S : Skala 6
T : Hilang timbul
DO : Klien tampak menahan
rasa sakit.
TD: 145/ 80 mmHg
HR: 82 X/m
RR : 24 X/m
S : 37.70 C
2. Selasa, 01- DS : - Resiko Prosedur
11-2016 infeksi invasif
15.00 WIB DO: Terdapat luka post
laparatomi ±15 cm, drain,
luka tertutup kassa, tidak ada
rembesan yang keluar.
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur infasif

I. INTERVENSI KEPERAWATAN

No. Diagnosa Tujuan Intervensi Ttd


Keperawatan
1. Nyeri akut a. Pain level Pain Management
berhubungan b. Pain control a. Kaji nyeri secara
dengan agen c. Comfort level komprehensif
injuri fisik Setelah dilakukan b. Observasi reaksi
tindakan keperawatan selama nonverbal dari
1x24 jam, pasien tidak ketidaknyamanan
mengalami nyeri dengan c. Ajarkan tentang tehnik
kriteria hasil : nonfarmakologi :
a. Melaporkan bahwa nyeri relaksasi nafas dalam,
berkurang dengan distraksi, kompres
menggunakan hangant/ dingin.
managemen nyeri. d. Kolaborasi dengan tim
b. Mampu mengenali nyeri kesehatan lain tentang
(skala, intensitas, pemberian analgetik.
frekuensi dan tanda nyeri)
c. Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang
d. Tidak mengalami
gangguan tidur.

2. Resiko a. Immune status Infection Control


infeksi b. Knowledge : Infection a. Monitor tanda dan
berhubungan Control gejala infeksi
dengan c. Risk Control b. Pertahankan tenik
prosedur Setelah dilakukan tindakan aseptik dalam
invasif keperawatan selama 2x24 perawatan luka
jam, pasien tidak mengalami c. Ajarkan pasien dan
infeksi dengan kriteria hasil: keluarga tanda dan
a. Klien bebas dari tanda gejala infeksi
dan gejala infeksi d. Kolaborasi dalam
b. Menunjukkan pemberian antibiotik.
kemampuan untuk
mencegah timbulnya
infeksi
c. Jumlah leukosit dalam
batas normal

J. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Hari/Tgl/Jam No. Implementasi Respon


DX
Selasa, 01 1. Mengkaji nyeri secara S: P: Saat bergerak
-11 - 2016 komprehensif Q: Seperti tertusuk-
tusuk
R : Pada perut
S : Skala 6
T : Hilang timbul
O: TD : 145 / 80 mmHg
N : 82 X/m
RR : 24 X/m
S : 37.70 C

16.00 WIB 1. Mengobservasi reaksi S :-


nonverbal dari O : Pasien tampak
ketidaknyamanan menahan rasa sakit
16.45 WIB 1. Berkolaborasi dalam S : Pasien mengatakan
pemberian analgetik bersedia
( ketorolac 30 mg) O : Obat analgetik
dimasukkan melalui
intravena (ketorolac 30
mg )
16.50 WIB 2. Memonitor tanda dan gejala S :-
infeksi O : Terdapat luka post
operasi laparatomi
15 cm, luka tertutup
kassa, tidak ada
rembesan yang keluar
17.00 WIB 2. Mengajarkan pasien dan S :-
keluarga tanda dan gejala O : Pasien dan keluarga
infeksi pasien memperhatikan
penjelasan dari
perawat
20.00 WIB 2. Berkolaborasi dalam S : Pasien mengatakan
pemberian antibiotik bersedia
( Meropenem 1 gr) O : Obat antibiotik
dimasukkan melalui
intravena
( Meropenem 1 gr)
Rabu, 02- 11 1. Mengkaji nyeri secara S: P: Saat bergerak
- 2016 komprehensif Q: Seperti tertusuk-
15.30 WIB tusuk
R : Pada perut
S : Skala 3
T : Hilang timbul
O: TD : 145 / 80 mmHg
N : 82 X/m
RR : 24 X/m
S : 37.70 C
15.35 WIB 1. Mengobservasi reaksi S :-
nonverbal dari O : Pasien tampak masih
ketidaknyamanan menahan rasa sakit
15.55 WIB 2. Memonitor tanda dan gejala S :-
infeksi O : Terdapat luka post
operasi laparatomi 15
cm, luka tertutup kassa,
tidak ada rembesan yang
keluar
16.00 WIB 2. Mengajarkan pasien dan S :-
keluarga tanda dan gejala O : Pasien dan keluarga
infeksi pasien memperhatikan
penjelasan dari perawat
20.00 WIB 2. Berkolaborasi dalam S : Pasien mengatakan
pemberian antibiotik bersedia
( Meropenem 1 gr) O : Obat antibiotik
dimasukkan melalui
intravena
(Meropenem 1 gr)

K. EVALUASI KEPERAWATAN

Hari / Tgl/Jam NO EVALUASI


DX
Selasa, 01-11- 1. S: P: Saat bergerak
2016 Q: Seperti tertusuk- tusuk
16.45 R : Pada perut
S : dari skala 6 menjadi skala 4
T : Hilang timbul
O: TD : 145 / 80 mmHg
N : 82 X/m
RR : 24 X/m
S : 37.70 C
A: Masalah nyeri akut teratasi
P : Pertahankan intervensi
 Kaji nyeri secara komprehensif
 Observasi reaksi nonverbal
 Kolaborasi pemberian analgetik
20.00 WIB 2. S :-
O : Terdapat luka post operasi laparatomi ± 15 cm, luka
tertutup kassa, tidak ada rembesan yang keluar
A : Resiko infeksi teratasi
P : Pertahankan intervensi
 Monitor tanda dan gejala gejala infeksi
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala
infeksi
 Kolaborasi dalam pemberian antibiotik
Rabu, 02- 11 2. S: P : Saat bergerak
-2016 Q : Seperti tertusuk- tusuk
15.45 WIB R : Pada perut
S : skala 3
T : Hilang timbul
O: TD : 145 / 80 mmHg
N : 82 X/m
RR : 24 X/m
S : 37.70 C
A: Masalah nyeri akut teratasi
P : Pertahankan intervensi
 Kaji nyeri secara komprehensif
 Observasi reaksi nonverbal
 Kolaborasi pemberian analgetik
20.00 WIB 2. S :-
O : Terdapat luka post operasi laparatomi ± 15 cm, luka
tertutup kassa, tidak ada rembesan yang keluar
A : Resiko infeksi teratasi
P : Pertahankan intervensi
 Monitor tanda dan gejala gejala infeksi
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala
infeksi
 Kolaborasi dalam pemberian antibiotik

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M., et al. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) sixth editions.
USA : Elsevier Mosby.
Dermawan, D. 2010. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan. EGC: Jakarta
Herdman, T.Heather. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2015 – 2017.
EGC: Jakarta.
Jatiwiyono dan Kristiyanasari. 2010. Asuhan Keperawatan Operatif. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Mansjoer Arif. 2007. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Euculapcius UI.
Moorhead Sue, Johnson, M., Maas, M.L., & Swanson, E. 2013. Nursing Outcomes
Classification (NOC). Fifth editions. USA : Elsevier Mosby.
Potter, P.A., Perry, A.G. 2006, Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep Proses dan
Pratik, Edisi 4, volume 2, EGC: Jakarta.
Sjamsuhidayat, M. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC: Jakarta