You are on page 1of 311

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) adalah
merupakan salah satu dokumen perencanaan daerah untuk jangka jangka waktu 5
(lima) tahun kedepan yang disusun guna memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat
sesuai aspirasi yang berkembang melalui mekanisme yang berlaku. Penyusunan
RPJMD sebagaimana yang diamanatkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004
tentang sistem Perencanaan Nasional pada pasal 2 ayat (2) menyebutkan bahwa
Perencanaan Pembangunan Nasional disusun secara sistematis, terarah, terpadu,
dan tanggap terhadap perubahan dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah pada pasal 150 ayat (1) disebutkan bahwa Dalam
rangka penyelenggaraan Pemerintahan daerah disusun Perencanaan
Pembangunan Daerah segabai satu kesatuan dalam sistem perencanaan
pembangunan Nasional. Perencanaan Pembangunan Daerah tersebut disusun
untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, dan pengawasan, maka dengan demikian perencanaan pembangunan
daerah harus disusun secara terpadu (integrated), terukur (measurable), dapat
dilaksanakan (applicable), serta berkelanjutan (sustainable).
RPJMD ini juga merupakan dokumen perencanaan yang memuat kebijakan
umum pembangunan daerah, kebijakan umum keuangan daerah, strategi dan
program SKPD, lintas SKPD, dan kewilayahan yang disertai dengan rencana-
rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat
indikatif, selain dari itu RPJMD ini juga menjadi acuan utama penyusunan Rencana
strategis (RENSTRA) bagi setiap SKPD Kabupaten Pinrang, Penyusunan Rencana
Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) yang
merupakan dasar penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Pada dasarnya penyusunan RPJMD menggunakan pendekatan sebagaimana
yang tertuang dalam UNdang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang system
Perencanaan Pembangunan Nasional yaitu :
a) Pendekatan Politik, dimana pemilihan langsung Presiden atau Kepala Daerah
telah menghasilkan rencana pembangunan hasil proses politik yang kemudian
dijabarkan kedala visi misi rencana pembangunan jangka menengah.
b) Pendekatan Teknokratik, dimana perencanaan yang dilakukan oleh perencana
profesional atau oleh lembaga/unit organisasi yang secara funsional melakukan
perencaaan ( khususnya dalam pemantapan peran, fungsi,dn kompetensi
lembaga perencana)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab I Hal. -1-


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

c) Pendekatan Partisipatif, dimana perencana harus melibatkan para pemangku


kepentingan (stakeholders) terhadap pembangunan antara lain melalui
pelaksanaan Musrenbang.
d) Pendekatan Bottom up dan top down, dimana perencanaan dilakukan sesuai
jenjang pemerintahan yang selanjutnya diselaraskan melalui musyawarah baik
ditingkat Nasional, provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan maupun
Desa/kelurahan.
Penyusunan RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019 berpedoman pada
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Pinrang dan
memperhatikan RPJM Provinsi Sulawesi Selatan serta RPJM Nasional.
RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019 merupakan dokumen
perencanaan pembangunan daerah untuk kurun waktu 5 (lima) tahun sebagai
penjabaran visi, misi, dan program Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2014-
2019 yang memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan
daerah, kebijakan umum, program SKPD, program lintas SKPD, program
kewilayahan, rencana kerja dalam kerangka regulasi yang bersifat indikatif, dan
rencana kerja dalam kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Selanjutnya,
dokumen RPJM ini juga merupakan acuan penyusunan Rencana Strategis Satuan
Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD), Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat
Daerah (Renja SKPD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

1.2 Dasar Hukum Penyusunan


Landasan idil penyusunan RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019
adalah Pancasila dan landasan konstitusional adalah UUD 1945. Sedangkan
landasan operasional meliputi seluruh ketentuan perundang-undangan yang
berkaitan langsung dengan pembangunan daerah sebagai berikut:

1) Undang - undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-


daerah Tingkat II Di Sulawesi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1959 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
1822);
2) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4286);
3) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
4) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 443), sebagaimana telah diubah

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab I Hal. -2-


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

beberapa kali, terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang


Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
5) Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4438);
6) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 33, Tambahan Lembaran Negaran Republik Indonesia Nomor 4700);
7) Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
8) Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846);
9) Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011
Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5243);
10) Peraturan Pemerintah Nomon 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan
Instansi Vertikal di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988
Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3373);
11) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
12) Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan
dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4593);
13) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4737);
14) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4815);
15) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab I Hal. -3-


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008


Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817);
16) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali
terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310);
17) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan,
Tata Cara Penyusunan Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah;
18) Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2008 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJPD) Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun 2008 – 2028 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008
Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor
243);
19) Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah
Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Nomor 9, Tambahan Lembarab Daerah
Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 249);
20) Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2013 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi
Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi
Selatan Tahun 2010 Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi
Sulawesi Selatan Nomor);
21) Peraturan Daerah Kabupaten Pinrang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Pinrang Tahun
2009-2029(Lembaran Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2009 Nomor 1);
22) Peraturan Daerah Kabupaten Pinrang Nomor 14 Tahun 2012 Tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Pinrang Tahun 2012-2032
(Lembaran Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2012 Nomor 14);
23) Peraturan Daerah Kabupaten Pinrang Nomor 57 Tahun 2012 tentang Tugas
Pokok, Fungsi dan Uraian Tugas Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
Kabupaten Pinrang (Lembaran Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2012 Nomor
122).

1.3 Hubungan Antar Dokumen


RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019 merupakan penjabaran lebih
lanjut dan sistematis atas visi, misi, dan program Bupati Pinrang dan Wakil Bupati
Pinrang terpilih ke dalam tujuan, sasaran, strategi, kebijakan dan program
pembangunan daerah selama masa jabatan. Program, kegiatan, alokasi dana
indikatif dan sumber pendanaan yang dirumuskan dalam RPJMD, RKPD, Renstra
SKPD dan Renja SKPD disusun berdasarkan pendekatan kinerja, kerangka

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab I Hal. -4-


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

pengeluaran jangka menengah, serta perencanaan dan penganggaran terpadu;


kerangka pendanaan dan pagu indikatif; serta urusan wajib yang mengacu pada
Standar Pelayanan Minimal (SPM) sesuai dengan kondisi nyata daerah dan
kebutuhan masyarakat atau urusan pilihan yang menjadi tanggungjawab SKPD.
Sebagai bagian integral dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan,
penyusunan RPJMD dilakukan dengan memperhatikan dokumen perencanaan
lainnya baik pada tingkat nasional maupun provinsi. Hubungan RPJMD Kabupaten
Pinrang Tahun 2014-2019 dengan dokumen perencanaan lainnya adalah sebagai
berikut :

Gambar 1-1. Bagan Alir Hubungan Antar Dokumen Perencanaan

RPJM RPJP
Nasional KabupatenPinrang

RTRW
KabupatenPinrang
RPJMDProv.S RPJMD
ul-Sel KabupatenPinrang Renstra
SKPD

RTRW RKPD Renja


Prov. Sul-Sel KabupatenPinrang SKPD

Gambar 1-1 di atas dapat dijabarkan sebagai berikut :


1) RPJMD harus mengacu dan selaras dengan RPJM Nasional dan RPJMD
Provinsi Sulawesi Selatan karena keberhasilan pembangunan di daerah
seperti yang direncanakan akan menjadi bagian dari keberhasilan
pembangunan nasional dan Provinsi. Rencana Pembangunan Nasional dalam
kurun waktu 5 tahun (2010-2014) yang tertuang dalam RPJM Nasional dan
Rencana Pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan yang tertuang dalam
RPJMD Provinsi Sulawesi selatan Tahun 2013-2018 menjadi perhatian
Pemerintah Kabupaten Pinrang dalam merancang pembangunan di daerah
sesuai kondisi daerah. Substansi tujuan pembangunan nasional dan
Pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan lima tahunan untuk kesejahteraan
rakyat menjadi inti dari rencana pembangunan sebagaimana tertuang dalam
RPJMD Tahun 2014-2019 yang selanjutnya dirinci dalam rencana tahunan
dalam RKPD.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab I Hal. -5-


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2) RPJMD Tahun 2014-2019 merupakan RPJMD Kedua dari tahapan


pelaksanaan RPJPD Tahun 2009-2029. Oleh sebab itu, penyusunan RPJMD
selain menjabarkan visi, misi dan program Bupati Pinrang dan Wakil Bupati
Pinrang periode Tahun 2014-2019, juga berpedoman pada visi, misi dan arah
kebijakan yang termuat dalam RPJPD Kabupaten Pinrang Tahun 2009-2029.
3) Penyusunan RPJMD memperhatikan dan mempertimbangkan struktur dan
pola penataan ruang yang sesuai dengan RTRW Kabupaten Pinrang dan
Perda Provinsi Sulawesi Selatan tentang RTRW Provinsi Sulawesi Selatan
sebagai dasar untuk menetapkan lokasi program pembangunan yang berkaitan
dengan pemanfaatan ruang daerah di Kabupaten Pinrang.
4) Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) SKPD harus mengacu dan
berpedoman pada RPJMD. Kinerja penyelenggaraan urusan SKPD akan
sangat mempengaruhi kinerja Bupati dan Wakil Bupati Pinrang selama masa
kepemimpinannya. Dalam konteks ini adalah sangat penting bagi SKPD untuk
mengklarifikasikan secara eksplisit visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati
Pinrang terpilih sebagaimana tertuang dalam RPJMD, kemudian
menerjemahkan kedalam Renstra SKPD, dan disajikan secara sistematis serta
terpadu ke dalam tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan prioritas
SKPD, serta dilengkapi dengan indikator atau tolok ukur pencapaiannya.
5) RKPD merupakan dokumen perencanaan pemerintah untuk periode satu tahun
dan merupakan penjabaran dari RPJMD Kabupaten Pinrang yang memuat : a)
rancangan kerangka ekonomi daerah, b) program prioritas pembangunan
daerah, dan c) rencana kerja, pendanaan dan prakiraan maju, yang
selanjutnya akan dipakai sebagai dasar penyusunan Kebijakan Umum APBD
(KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS).
6) Renja SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode 1 (satu)
tahun yang merupakan penjabaran dari Renstra SKPD yang memuat: a)
program dan kegiatan; b) lokasi kegiatan; c) indikator kinerja; d) kelompok
sasaran; dan e) pagu indikatif dan prakiraan maju.

1.4 Sistematika Penulisan


RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019 disusun dengan sistematika
sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang gambaran umum penyusunan RPJMD, yang
meliputi: Latar Belakang, Dasar Hukum Penyusunan, Hubungan Antar
Dokumen, Sistematika Penulisan, serta Maksud dan Tujuan.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab I Hal. -6-


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH


Bab ini menjelaskan dan menyajikan secara logis dasar-dasar
analisis, Gambaran Umum Kondisi Daerah yang meliputi: Aspek
Geografi dan Demografi, Aspek Kesejahteraan Masyarakat, Aspek
Pelayanan Umum, Aspek Daya Saing Daerah, Indikator Kinerja
Penyelenggaraan Pemerintah Daerah, serta telaah RPJM Nasional,
RPJM Provinsi Sulawesi Selatan, RTRW Provinsi Sulawesi Selatan,
RPJPD Kabupaten Pinrang, dan RTRW Kabupaten Pinrang.

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH


SERTA KERANGKA PENDANAAN
Bab ini menyajikan gambaran hasil pengolahan data dan analisis
terhadap pengelolaan keuangan daerah, terdiri dari: Kinerja
Keuangan Masa Lalu dan Arah Kebijakan Pengelolaan Keuangan
lima tahun kedepan.

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS


Bab ini memuat isu-isu strategis, meliputi: Permasalahan
Pembangunan Daerah dan Isu-isu Strategis.

BAB V VISI, MISI, TUJUAN, DAN SASARAN


Bab ini berisikan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Pembangunan
Tahun 2014-2019.

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN


Bab ini berisikan strategi umum maupun strategi operasional yang
dipilih dalam mencapai tujuan dan sasaran, serta arah kebijakan dari
setiap strategi terpilih.

BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH


Bab ini menguraikan hubungan antara kebijakan umum yang berisi
arah kebijakan pembangunan berdasarkan strategi yang dipilih
dengan target capaian indikator kinerja, serta penjelasan tentang
hubungan antara program pembangunan daerah dengan indikator
kinerja yang dipilih.

BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS DAN


PENDANAANNYA
Bab ini menguraikan hubungan urusan pemerintah dengan SKPD
terkait beserta program yang menjadi tanggung jawab SKPD serja
pencapaian target indikator kinerja pada akhir periode perencanaan
yang dibandingkan dengan pencapaian indikator kinerja pada awal
periode perencanaan.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab I Hal. -7-


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH


Bab ini menguraikan tentang indikator kinerja dan proyeksi yang akan
dicapai dalam 5 (lima) tahun ke depan.

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN


Bab ini menguraikan yang berkaitan dengan pedoman transisi dan
kesinambungan dokumen dari yang satu dengan yang lainnya, serta
kaidah pelaksanaan yang dipakai oleh perangkat pemerintah daerah.

1.5 Maksud dan Tujuan

a Maksud adalah Menjadi pedoman bagi seluruh komponen daerah (Pemerintah,


masyarakat, dunia usaha, dan lain-lain) dalam mewujudkan cita-cita masyarakat
Kabupaten Pinrang sesuai dengan visi, misi, dan program pembangunan dari
Bupati terpilih sehingga seluruh upaya yang dilakukan oleh pelaku pembangunan
bersifat sinergis, koordinatif, dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya di
dalam satu pola sikap dan pola tindak.

b Tujuan adalah :
1. Merumuskan gambaran umum kondisi daerah sebagai dasar perumusan
permasalahan dan isu strategis daerah, sebagai dasar prioritas penangan
pembangunan daerah 5 tahun kedepan
2. Merumuskan gambaran pengelolaan keuangan daerah serta kerangka
pendanaan sebagai dasar penentuan kapasitas pendanaan 5 tahun
kedepan.
3. Menerjemahkan visi dan misi Kepala Daerah ke dalam Tujuandan Sasaran
pembangunan daerah tahun 2019 s/d 2019, yang disertai dengan program
prioritas untuk masing-masimh SKPD tahun 2014 s/d 2019 dengan
berpedoman kepada RPJPD 2009 – 2029
4. Menetapkan berbagai program prioritas yang disertai dengan inikasi pagu
anggaran dan target indikator kinerja yang akan dilaksanakan pada tahun
2014 sampai dengan 2019.
5. Menetapkan indikator kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah dan indikator
Kepala Daerah sebagai dasar penilaian keberhasilan Pemerintah Daerah
periode Tahun 2014 – 2019.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab I Hal. -8-


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

B A B II
GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

2.1 Aspek Geografi dan Demografi


2.1.1 Karakteristik Kab. Pinrang
2.1.1.1 Luas dan Batas Administrasi
Kabupaten Pinrang mempunyai luas wilayah 1.967 km persegi, memiliki daerah
administratif 12 kecamatan, dan terdiri 39 Kelurahan dan 69 Desa yang meliputi
81 Lingkungan dan 168 Dusun.
Adapun batas wilayah Kabupaten Pinrang sebagai berikut :
 Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja
 Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Enrekang dan Sidrap
 Sebelah Barat dengan Selat Makassar serta Kabupaten Polewali Mandar
 Sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Parepare.

Tabel 2.1
Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi Menurut Kecamatan
Kabupaten Pinrang Tahun 2013

LUAS AREA
No KECAMATAN KELURAHAN DESA LINGKUNGAN DUSUN
(km2)
1 2 3 4 5 6 7
1 Suppa 74.2 2 8 5 22
2 Mattiro Sompe 96.99 2 7 4 19
3 Lanrisang 73.01 1 6 3 16
4 Mattiro Bulu 132.49 2 7 6 19
5 Watang sawitto 58.97 8 - 17 -
6 Paleteang 37.29 6 - 14 -
7 Tiroang 77.73 5 - 13 -
8 Patampanua 136.85 4 7 13 19
9 Cempa 90.3 1 6 2 15
10 Duampanua 291.86 5 10 10 27
11 Batulappa 158.99 1 4 4 11
12 Lembang 733.09 2 14 5 41
TOTAL 1961.77 39 69 96 181
Sumber : Kabupaten Pinrang Dalam Angka 2014

2.1.1.2 Letak dan Kondisi Geografis


Kabupaten Pinrang Kabupaten Pinrang berada ± 180 Km dari Kota
Makassar terletak pada koordinat antara 4º10’30” sampai 3º19’13” Lintang Selatan
dan 119º26’30” sampai 119º47’20”Bujur Timur. Kabupaten Pinrang berada pada
perbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat, serta menjadi jalur lintas darat dari dua
jalur utama, baik antar provinsi dan antar kabupaten di Selawesi Selatan, yakni dari
arah selatan: Makassar, Parepare ke wilayah Provinsi Sulawesi Barat, dan dari arah
Timur: kabupaten-kabupaten di bagian timur dan tengah Sulawesi Selatan menuju
Propinsi Sulawesi Barat.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 9


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.1.1.3 Topografi
Kondisi topografi Kabupaten Pinrang memiliki rentang yang cukup lebar,
mulai dari dataran dengan ketinggian 0 m di atas permukaan laut hingga dataran
yang memiliki ketinggian di atas 1000 m di atas permukaan laut (dpl).Dataran yang
terletak pada ketinggian 1000 m di atas permukaan laut sebagian besar terletak di
bagian tengah hingga utara Kabupaten Pinrang terutama pada daerah yang
berbatasan dengan Kabupaten Toraja. Klasifikasi ketinggian/ topografi di Kabupaten
Pinrang dapat dikelompokkan sebagai berikut:
- Ketinggian 0 – 100 m dpl
Wilayah yang termasuk ke dalam daerah ketinggian ini sebagian besar terletak di
wilayah pesisir yang meliputi beberapa wilayah Kecamatan yakni Kecamatan
Mattiro Sompe, Lanrisang, Watang Sawtito, Tiroang, Patampanua dan
Kecamatan Cempa
- Ketinggian 100 – 400 m dpl
Wilayah yang termasuk ke dalam daerah dengan ketinggian ini meliputi beberapa
wilayah Kecamatan yakni Kecamatan Suppa, Mattiro Bulu, dan Kecamatan
Paleteang.
- Ketinggian 400 – 1000 m dpl
Wilayah yang termasuk ke dalam klasifikasi ketinggian ini sebagian kecil wilayah
meliputi Kecamatan Duampanua.
- Ketinggian di atas 1000 m dpl
Wilayah yang termasuk ke dalam klasifikasi ketinggian ini terdiri dari sebagian
Kecamatan Lembang dan Batulappa. Untuk lebih jelasnya sebagaimana pada
tabel berikut ini :
Tabel 2.2
Ketinggian Wilayah Kabupaten Pinrang

No Kecamatan Ketinggian Dari Permukaan Laut (M Dpl)

1 2 3
1 Suppa 2 – 265
2 Mattiro Sompe 2 – 12
3 Lanrisang 2 – 14
4 Mattiro Bulu 12 – 228
5 Watang Sawitto 6 – 14
6 Paleteang 14 – 157
7 Tiroang 13 – 23
8 Patampanua 13 – 86
9 Cempa 2 – 18
10 Duampanua 2 – 965
11 Batulappa 20 – 1007
12 Lembang 2 – 1908
Sumber : Kabupaten Pinrang Dalam Angka , 2010

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 10


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Kondisi topografi Kabupaten Pinrang juga dapat dikelompokkan berdasarkan


kemiringan lereng yang terdiri dari:

1. Kemiringan 0-3 %
Wilayah ini memiliki lahan yang relatif datar yang sebagian besar terletak di
kawasan pesisir meliputi wilayah Kecamatan Mattiro Sompe, Lanrisang, Watang
Sawito, Tiroang, Patampanua dan Kecamatan Cempa.
2. Kemiringan 3 – 8 %
Wilayah ini memiliki permukaan datar yang relatif bergelombang.Wilayah yang
memiliki karakteristik topografi demikian terdiri dari Kecamatan, Suppa, Mattiro
Bulu, Batulappa dan Kecamatan Paleteang.
3. Kemiringan 8 – 45 %
Wilayah ini memiliki permukaan yang bergelombang sampai agak curam.Wilayah
yang memiliki karakteristik topografi seperti ini adalah Wilayah Kecamatan
Duampanua.
4. Kemiringan > 45 %
Wilayah ini memiliki permukaan curam yang bergunung-gunung.Wilayah yang
memiliki karakteristik topografi ini meliputi wilayah-wilayah kaki pegunungan
seperti Kecamatan Lembang.

Kondisi Topografi Wilayah Kabupaten Pinrang bervariasi dari kondisi datar hingga
berbukit.Keadaan wilayah berdasarkan kelerengan disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 2.3
Keadaan Wilayah Berdasarkan Kelerengan di Kabupaten Pinrang

No Lereng Kriteria Luas (Ha) Presentase (%)

1 2 3 4 5
1 0 -2 Datar 100.370,2 51,1
2 2 - 15 Landai 15.696,8 8,1
3 15 - 40 Berbukit 50.246 25,6
4 > 40 Berbukit 29.864 15,2
Jumlah 196.177 100,00
Sumber : RTRW Kab. Pinrang 2012

Secara detail, peta kemiringan lereng dapat dilihat pada gambar berikut:

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 11


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 12


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.1.1.4 Geologi
Geologi wilayah Kabupaten Pinrang dari hasil pengamatan dan kompilasi Peta
Geologi Kabupaten Pinrang, maka susunan lapisan batuan dapat diuraikan sebagai
berikut :
1. Endapan alluvium dan sungai, Endapan alluvium dan sungai mempunyai
ketebalan antara 100-150 meter, terdiri dari atas lempung, lanau, pasir dan
kerikil. Pada umumnya endapan lapisan ini mempunyai kelulusan air yang
bervariasi dan kecil hingga tinggi. Potensi air tanah dangkal cukup besar tetapi
sebagian wilayah kualitasnya kurang baik. Muka air tanah dangkal 1-1,50 meter.
2. Batuan gunung api tersusun atas breksi dengan komponen bersusun trakht dan
andesit, tufa batu apung, batu pasir terfaan, konglomerat dan breki terfaan,
ketebalannya berkisar 500 meter, penyebarannya dibagian utara Kota Pinrang,
Sekitar Bulu Lemo, Bulu Pakoro sedangkan dibagian selatan sekitar Bulu
Manarang, Bulu Paleteang, Bulu Lasako (berbatasan dengan Parepare). Kearah
Bungin terdapat batu gamping terumbu yang umumnya relative sama dengan
batuan gunung api.
3. Batuan aliran lava, Batuan aliran lava bersusun trakhit abu-abu muda hingga
putih, bekekar tiang, penyebarannya kearah daerah Kabupaten Pinrang, yaitu
sekitar Kecamatan Lembang dan Kecamatan Duampanua.
4. Batuan konglomerat (Formasi Walanae), Batuan ini terletak dibagian Timur Laut
Pinrang, sekitar Malimpung sampai kewilayah Kabupaten Sidrap, satua batuan
ini terdiri atas konglomerat, sedikit batu pasir glakonit dan serpih dan membentuk
morfologi bergelombang dan tebalnya kira-kira hingga 400meter.
5. Batuan lava bersusun basol hingga andesit, Satuan batuan ini berbentuk lava
bantal, breksi andesit piroksin dan andesit trakhit. Tebalnya 50 hingga 100 meter
dengan penyebaran sekitar Bulu Tirasa dan Pakoro.
6. Batu pasir, Satuan batuan ini bersusun andesit, batu lanau, konglomerat dan
breksi. Struktur sesar diperkirakan terdapat pada batuan aliran lava dan batu
pasir bersusun andesit, berupa sesar normal.
Peta geologi Kabupaten Pinrang dapat dilihat pada gambar berikut :

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 13


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.1.1.5 Hidrologi
Di Kabupaten Pinrang, terdapat dua sungai besar yaitu sungai Mamasa dan
Sungai Saddang, dimana sungai Mamasa sebenarnya masih merupakan anak
sungai Saddang. Saat ini sungai Mamasa dimanfaatkan untuk keperluan
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru yang berlokasi di Desa Ulu Saddang,

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 14


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Kecamatan Lembang. PLTA yang ada ini selain untuk memenuhi kebutuhan listrik di
Kabupaten Pinrang, juga untuk memenuhi kebutuhan listrik di Provinsi Sulawesi
Selatan. Sedangkan Sungai Saddang dimanfaatkan untuk pengairan pertanian
dengan cakupan pelayanan selain Kabupaten Pinrang juga melayani Kabupaten
Sidrap.

2.1.1.6 Klimatologi
Klasifikasi iklim menurut Smith-Ferguson, tipe iklim Wilayah Kabupaten
Pinrang termasuk tipe A dan B dengan curah hujan terjadi pada bulan Desember
hingga Juni dengan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret. Musim kemarau
terjadi pada bulan Juni sampai September. Kriteria tipe iklim menurut Oldeman-
Syarifuddin bulan basah di Kabupaten Pinrang tercatat 7 - 9 bulan, bulan lembab 1
- 2 bulan dan bulan kering 2 - 4 bulan. Tipe iklim menurut klasifikasi Oldeman -
Syarifuddin adalah iklim B dan C. Curah hujan tahunan berkisar antara 1073 mm
sampai 2910 mm, Evaporasi rata-rata tahunan di Kabupaten Pinrang berkisar antara
5,5 mm/hari sampai 8,7 mm/hari. Suhu rata-rata normal antara 27°C dengan
kelembaban udara 82% - 85%.
Berdasarkan data dari Bps Kabupaten Pinrang, rata-rata curah hujan di
Kabupaten Pinrang pada tahun 2012 sebesar 102,58 mm/bulan. Curah hujan
terendah terjadi pada bulan September yakni sebesar 32 Mm, sedangkan curah
hujan tertinggi terjadi pada bulan April yakni sebesar 179 Mm.
Banyaknya curah hujan tiap bulan di wilayah Kabupaten Pinrang sejak tahun
2007 sampai 2013 dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.4
Banyaknya Curah Hujan di Wilayah Kabupaten Pinrang

Tahun
No Bulan
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Januari 106 264 75 380 103 93
2 Pebruari 90 242 103 121 47 116
3 Maret 91 295 29 88 86 102
4 April 147 130 63 90 88 179
5 Mei 155 94 69 82 121 128
6 Juni 148 222 192 34 19 64
7 Juli 50 143 52 35 8 52
8 Agustus 26 199 34 34 2 35
9 September 109 80 8 42 21 32
10 Oktober 82 698 29 55 136 121
11 Nopember 96 571 221 55 155 133
12 Desember 129 391 282 79 143 176
Rata-Rata Per
102,42 277,42 96,42 91,25 77,41 102,58
Bulan
Sumber : Bps Kab. Pinrang Tahun 2014

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 15


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.1.1.7 Penggunaan Lahan

Luas Provinsi Sulawesi Selatan menurut Sulawesi Dalam Angka Tahun 2012 adalah
1.967,7 km2.Angka ini merupakan angka yuridis yang digunakan sebagai luas
Kabupaten Pinrang. Kondisi penutup lahan di wilayah Kabupaten Pinrang pada
tahun 2009 menunjukkan bahwa empat jenis penutup lahan, yaitu sawah 53.181
hektar (27,11%), kebun campur 46.741 hektar (23,83%), hutan 29.227 hektar
(14,90%), dan tegalan/ladang sebanyak 26.840 hektar (13.68%). Areal tambak
15.665 hektar atau (7,99%) sementara lahan mangrove hanya 41 hektar atau
(0,02%) dan lahan terbuka 10.124 hektar atau (5,16%) dan kawasan permukiman
5.482 atau (2,79%).

Tabel 2.5
Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama
Kabupaten Pinrang Tahun 2010

JENIS LUAS AREAL


NO
PENUTUP LAHAN Km² Km² %
1 2 3 4 5
1 Permukiman 5.482 54,82 2,79

2 Sawah 53.181 531,81 27,11

3 Kebun Campur 46.741 467,41 23,83

4 Lahan Terbuka 10.124 101,24 5,16

5 Semak Belukar 7.005 70,05 3,57

6 Ladang / Tegalan 26.840 268,40 13,68

7 Hutan 29.227 292,27 14,90

8 Tambak 15.665 156,65 7,99

9 Mangrove 41 0,41 0,02

10 Tubuh air 1.870 18,70 0,95

JUMLAH 196,177 1.961,77 100,00

Rincian area tutupan Lahan Kabupaten Pinrang secara detail dapat dilihat pada peta
berikut:

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 16


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Dalam kaitannya dengan kawasan hutan, dari keseluruhan luas Kabupaten Pinrang
menurut Perda No. 14 tahun 2012 tentang RTRW Pinrang tercatat 71.605 yang
termasuk dalam kawasan hutan atau merupakan 36,50 % dari luas Kabupaten
Pinrang seperti yang terlihat dalam tabel berikut:

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 17


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.6
Luas Kawasan Hutan Menurut Peta Padu Serasi Provinsi Sulawesi Selatan
dan RTRW Kabupaten Pinrang

Hutan
LUAS AREA Hutan Luas
NO KECAMATAN Produksi Persentase
(Ha) Lindung (Ha) Kawasan
Terbatas (Ha)
1 2 3 4 5 6 7
1 Suppa 7.420 - 1.129 1.129 15.22
2 Mattiro Sompe 9.699 - - - -
3 Lanrisang 7.301 - - - -
4 Mattiro Bulu 13.249 - 1.324 1.324 9.99
5 Watang sawitto 5.897 - - - -
6 Paleteang 3.729 - - - -
7 Tiroang 7.773 - - - -
8 Patampanua 13.685 646 - 646 4.72
9 Cempa 9.030 - - - -
10 Duampanua 29.186 1.542 5.574 7.116 24.38
11 Batulappa 15.899 8.627 2.121 10.748 67.60
12 Lembang 73.309 34.353 16.289 50.642 69.08
Pinrang 196.177 45.168 26.437 71.605 36.50
Sumber : SK. Menhut No. 434/ Menhut tgl 23 Juli 2009, Tentang Penunjukan Kawasan Hutan Dan
Konservasi Perairan Provinsi Sulsel.
Perda No. 09 tahun 2009 tentang RTRWP Sul-Sel
Perda Nomor 14 Tahun 2012 tentang RTRW Kabupaten Pinrang

Berdasarkan tabel di atas persentase luas kawasan hutan yang terbesar adalah
Kecamatan Lembang dengan luas 50.642 Ha diikuti oleh Kecamatan Batulappa
seluas 10.748 Ha. Dari datatersebut di atas terlihat pula bahwa Kawasan Hutan
Lindung ini merupakan 23,02 % dari luas wilayah Kabupaten Pinrang, sedangkan
Hutan Produksi Terbatas 13,48 % dari luas wilayah Kabupaten Pinrang.

2.1.2 Potensi Pengembangan Wilayah


2.1.2.1 Sistem Perkotaan dan Jaringan Prasarana
PP 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN)
mengamanatkan kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah nasional yang
diwujudkan dalam kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang, pola ruang
nasional dan kawasan strategis nasional yang mengatur pemanfaatan ruang di
wilayah Sulawesi Selatan dan Kabupaten Pinrang.
Pengembangan wilayah Provinsi Sulawesi Selatan diarahkan dengan
mengacu pada Rencana Tata Ruang baik Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
(RTRWN) dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Sulawesi Selatan
guna mengembangkan Sulawesi Selatan sebagai simpul transportasi, industry,

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 18


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

perdagangan, pariwisata, dan pertanian yang seiring dengan peningkatan kualitas


lingkungan.
Rencana struktur ruang Provinsi Sulawesi Selatan sebagai pendukung
kegiatan sosial ekonomi masyarakat diarahkan untuk meningkatkan interkoneksi
antara kawasan perkotaan baik antara Pusat Kegiatan Nasional, dengan Pusat
Kegiatan Wilayah maupun dengan Pusat Kegiatan Lokal yang didukung oleh
peningkatan kualitas jaringan transportasi, energy, telekomunikasi, dan sumber daya
air secara terpadu.Rencana struktur ruang wilayah nasional dan Provinsi Sulawesi
Selatan di Pinrang meliputi system perkotaan, system jaringan transportasi, system
jaringan energy, system jaringan telekomunikasi dan system jaringan sumber daya
air. Sedangkan rencana pola ruang di Kabupaten Pinrang mencakup kawasan
lindung nasional, dan kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis nasional dan
provinsi serta kawasan strategis nasional dan provinsi.

Tabel 2.7
Sistem Perkotaan Nasional, Provinsi dan Kabupaten Pinrang

Sistem Sistem Perkotaan Kabupaten


Sistem Perkotaan
Perkotaan
Nasional
Provinsi PPK PPL
1 2 3 4
KAPET Parepare di Pinrang terdiri Pusat Kegiatan Lokal Kawasan Perkotaan Pusat permukiman perdesaan Lero di Kecamatan
atas : Kecamatan Suppa, Kecamatan (PKL) Kawasan Watang Suppa di Suppa
Lanrisang, Kecamatan Mattiro Bulu, Perkotaan Pinrang Kecamatan Suppa Pusat Permukiman perdesaan Langnga di
Kecamatan Mattiro Sompe, Kecamatan Mattiro Sompe
Kecamatan Watang Sawitto,
Kecamatan Paleteang, Kecamatan Kawasan Perkotaan Pusat Permukiman perdesaanWaetuoe di
Tiroang, Kecamatan Patampanua, Alitta di Kecamatan Kecamatan Lanrisang
Kecamatan Cempa, Kecamatan Mattiro Bulu
Duampanua, Kecamatan Batulappa,
dan Kecamatan Lembang Pusat Permukiman perdesaan Tadang Palie di
Kecamatan Cempa

Kawasan Perkotaan Pusat Permukiman perdesaan Bungi di Kecamatan


Teppo di Kecamatan Duampanua
Patampanua
Pusat Permukiman perdesaanLembang Mesakada di
Kecamatan Lembang
Kawasan Perkotaan Pusat permukiman perdesaan Sali-Sali di
Lampa Pekkabata di Kecamatan Lembang
Kecamatan Pusat permukiman perdesaan Basseang di
Duampanua Kecamatan Lembang

Kawasan Perkotaan Pusat Permukiman perdesaan Tadang Palie di


Kassa Di Kecamatan Kecamatan Cempa
Batulappa

Pusat Permukiman perdesaan Bungi di Kecamatan


Duampanua
Kawasan Perkotaan
Tadokkong di
Kecamatan Lembang

Sumber : RTRWN, RTRWP Sulawesi Selatan dan RTRW Pinrang

Kabupaten Pinrang merupakan bagian dari Sistem Kawasan Pengembangan


Ekonomi Terpadu (KAPET) Pare-pare yang merupakan Kawasan Strategis Nasional
(KSN) dengan arahan peningkatan pertumbuhan ekonomi dari sudut pandang

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 19


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

agroindustri dan perikanan. Sedangkan sistem perkotaan provinsi sebagaimana


arahan RTRW Provinsi selain mengalokasikan sistem perkotaan nasional
sebagaimana arahan RTRWN juga mengalokasikan Pusat Kegiatan Lokal (PKL)
yang merupakan kawasan perkotaan mengemban fungsi sebagai pusat pengolahan
dan distribusi barang dan jasa, simpul transportasi, pusat jasa pemerintahan
kabupaten/kota serta pusat pelayanan publik berskala kabupaten/kota atau
beberapa kecamatan yakni kawasan perkotaan Pinrang yang sesuai dengan RTRW
Kabupaten Pinrang meliputi sebagian Kecamatan Watang Sawitto, sebagian
Kecamatan Paleteang dan sebagian Kecamatan Tiroang.
Adapun system perkotaan eksisting dan direncanakan meliputi Pusat
Pelayanan Kawasan Watang Suppa, Alitta, Teppo, Lampa Pekkabata, Kassa dan
Tadokkong. Selain itu, Pusat Permukiman Perdesaan berupa rencana Pusat
Pelayanan Lingkungan (PPL) terdiri dari PPL Lero, Langnga, Waetuoe, Tadangpalie,
Bungi, Lembang Mesakada, Sali Sali, dan Basseang.
Data Arahan Sistem Jaringan Struktur Ruang Wilayah Nasional dan Provinsi
di Kabupaten Pinrang secara lebih detail dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 2.8
Arahan Sistem Jaringan Struktur Ruang Wilayah Nasional
dan Provinsi di Kabupaten Pinrang

Sistem Jaringan Sistem Jaringan Sistem Jaringan


Sistem Jaringan
No Transportasi Energi Komunikasi
Sumber Daya Air
Nasional/Provinsi Nasional/Provinsi Nasional/Provinsi
1 2 3 4 5
1 Ruas Batas Provinsi Sulawesi Pembangkit Listrik Tenaga Air Peningkatan Station Telepon Air permukaan yang bersumber
Barat – Batas Kota Pinrang (PLTA) Bakaru di Kecamatan Otomat (STO) di Kecamatan dari WS Saddang sebagai
sepanjang 43,554 (empat Lembang dengan kapasitas 126 Watang Sawitto wilayah sungai lintas provinsi
puluh tiga koma lima lima (seratus dua puluh enam) yang meliputi DAS Kariango,
empat) kilometer megawatt DAS Rappang, dan DAS Karajae

2 Ruas jalan Sultan Hasanuddin Pembangkit Listrik Tenaga Rencana telepon nirkabel Bendung, yaitu Bendung Benteng
sepanjang 0,891 (nol koma Diesel (PLTD) Suppa di berupa menara Base dan Bendung Pasolengan di
delapan sembilan satu) Kecamatan Suppa dengan Transceiver Station (BTS) Kecamatan Duampanua, ,
kilometer kapasitas 62 (enam puluh dua) dikembangkan tidak Bendung Padang Lolo dan
megawatt mengganggu aktivitas Bendung Taccipi di Kecamatan
sekitarnya Patampanua dan Bendung Kalosi
di Kecamatan Lembang

3 Ruas jalan Ahmad Yani Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Rencana penggunaan Tower Bendungan yaitu Bendungan
sepanjang 2,804 (dua koma Hidro (PLTMH) Sawitto di Base Transceiver Station Bakaru di Kecamatan Lembang
delapan kosong empat) Kecamatan Patampanua dengan (BTS) secara terpadu
kilometer kapasitas 1,5 (satu koma lima)
megawatt

4 Ruas Batas Kota Pinrang – Rencana pembangunan Embung, yaitu Embung Watang
Batas Kota Parepare Pembangkit Listrik Tenaga pulu di Kecamatan Suppa, dan
sepanjang 20,154 (dua puluh Surya Terpusat di Kecamatan Embung Watang Kasa I dan
koma satu lima empat) Lembang, Kecamatan Embung Watang Kasa II di
kilometer Batulappa, dan Kecamatan Kecamatan Batu Lappa, Embung

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 20


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Duampanua (I-IV/B) Binanga Karaeng I dan Embung


Binanga Karaeng II di Kecamatan
Lembang, dan Embung
Malimpung di Kecamatan
Patampanua

5 Ruas jalan Jenderal Sudirman Rencana pengembangan sumber air permukaan lainnya
sepanjang 2,912 (dua koma Pembangkit Listrik Tenaga berupa mata air yang meliputi
sembilan satu dua) kilometer Panas Bumi dengan kapasitas mata air Pakeng, mata air
25 (dua puluh lima) Mwe Taddokkong, dan mata air Tuppu
di Kecamatan Lembang, mata air
Rajang, dan mata air Massewae
di Kecamatan Duampanua, dan
mata air Tapporang di
Kecamatan Batulappa
6 Ruas Pinrang –Rappang Saluran Udara Tegangan Tinggi Cekungan Air Tanah (CAT) yang
sepanjang 19,68 (sembilan (SUTT) kapasitas 150 (seratus meliputi: Cekungan Air Tanah
belas koma enam delapan) lima puluh) KV yang (CAT) lintas kabupaten, yaitu
kilometer menghubungkan GI Bakaru – GI CAT Sidenreng Rappang yang
Tuppu - GI Pinrang, GI Pinrang - melintasi Kecamatan Watang
GI Parepare, dan GI Parepare – Sawitto, Kecamatan Paleteang,
GI Suppa Kecamatan Tiroang, Kecamatan
Mattiro Bulu, Kecamatan Suppa,
Kecamatan Lanrisang,
Kecamatan Cempa, Kecamatan
Patampanua, dan Kecamatan
Duampanua

Sistem Jaringan Sistem Jaringan


Sistem Jaringan Energi Sistem Jaringan Sumber Daya
No Transportasi Komunikasi
Nasional/Provinsi Air
Nasional/Provinsi Nasional/Provinsi

7 Ruas jalan Pincara – Gardu Induk (GI) Bakaru dengan DI Saddang dengan luas
Malimpung – Malaga Batas kapasitas 20 (dua puluh) MVA pelayanan 42.931 (empat puluh
Kabupaten Enrekang terdapat di Kecamatan Lembang dua ribu sembilan ratus tiga puluh
sepanjang 22,50 (dua puluh dan GI Pinrang dengan satu) hektar
dua koma lima nol) kilometer kapasitas 20 (dua puluh) MVA di
Kecamatan Watang Sawitto
8 Ruas jalan Tuppu – Bakaru DI Taccipi di Kecamatan
sepanjang 20,00 (dua puluh Patampanua dengan luas
koma nol) kilometer pelayanan 1.568 (seribu lima
ratus enam puluh delapan) hektar
9 Daerah Irigasi (DI) yang terdiri
dari 87 (delapan puluh tujuh) DI
meliputi total luas pelayanan
9.557 (sembilan ribu lima ratus
lima puluh tujuh) hektar terdapat
di sebagian wilayah Kecamatan
Lembang, Kecamatan
Duampanua, Kecamatan
Patampanua, Kecamatan
Batulappa, dan Kecamatan
Mattiro Bulu
Sumber : RTRWN, RTRWP Sulawesi Selatan dan RTRW Pinrang

Struktur ruang wilayah Kabupaten Pinrang secara umum diarahkan untuk


mendukung pemerataan pertumbuhan wilayah Kabupaten Pinrang dan mendorong
peningkatan intensitas aktivitas ekonomi wilayah, untuk itu dalam
pengembangannya perlu didukung oleh berbagai sistem prasarana wilayah yang
terkoneksi secara nasional dan regional.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 21


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Pengembangan sistem prasarana wilayah dilakukan secara berhirarki sesuai


dengan interaksi dan kebutuhan pengembangan serta potensi yang perlu
didorong.Sistem prasarana wilayah perlu diupayakan dalam rangka mendorong
kegiatan ekonomi serta peningkatan aksesibilitas antar wilayah, khususnya antar
pusat kegiatan dan aktivitas kegiatan ekonomi di masing-masing satuan wilayah
pengembangan atau pusat pertumbuhan. Selanjutnya melalui hubungan antara
kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan dan wilayah potensial, diharapkan
dapat mendorong interaksi simbiosis mutualistis antar pusat pertumbuhan dengan
wilayah belakangnya atau antar satuan wilayah pengembangan/ pusat dan sub
pusat pelayanan wilayah.Sistem prasarana wilayah yang mendukung pemantapan
struktur ruang dalam jangka panjang diarahkan pada pengembangan sistem
prasarana wilayah dengan dua pola, yaitu: pertama; peningkatan prasarana wilayah
untuk melayani tingkat kebutuhan saat ini, dan kedua; peningkatan prasarana
wilayah untuk mendukung pemerataan pembangunan antar wilayah di Kabupaten
Pinrang melalui peningkatan aksesibilitas antar kawasan perkotaan dan perdesaan,
dan antar pusat-pusat kegiatan wilayah.
Perencanaan sistem transportasi yang merupakan sistem jaringan prasarana
utama wilayah di Kabupaten Pinrang diarahkan untuk mencapai tujuan
pengembangan wilayah secara lokal, regional dan nasional. Secara lokal, arahan
perencanaan sistem transportasi adalah sebagai berikut:

1. Mencapai integrasi antar-kecamatan di Kabupaten Pinrang melalui pembenahan


sistem jaringan dan sistem pergerakan untuk menyeimbangkan aksesibilitas
antar-kecamatan.
2. Mengatasi persoalan yang terjadi pada interaksi sistem pergerakan dan sistem
kegiatan, terutama mengenai kemacetan yang terjadi di titik-titik penggantian
antarmoda.
3. Mendukung peningkatan produksi pertanian pada sentra-sentra produksi
tanaman pangan di daerah perdesaan melalui ketersediaan jaringan prasarana
jalan.
4. Mengantisipasi pertambahan travel demand dimasa yang akan datang melalui
pengembangan kuantitas dan kualitas prasarana jaringan jalan.
Kemudian keterkaitan dengan sistem transportasi regional diarahkan untuk
mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut:
1. Mendukung perkembangan ekonomi wilayah yaitu meningkatkan kelancaran
arus koleksi dan distribusi barang dan jasa dengan pembenahan struktur dan
fungsi jaringan jalan sesuai dengan rencana struktur pusat permukiman dan
pelayanan dalam wilayah kabupaten. Hal ini dicapai melalui perencanaan
prasarana kereta api, pelabuhan, bandara, dan terminal kargo.
RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 22
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2. Mengantisipasi penambahan travel demand pada perbatasan


antarkota/kabupaten. Hal ini dicapai melalui perencanaan rute/trayek moda
angkutan umum.
Lalu, keterkaitan dengan sistem transportasi nasional diarahkan untuk mencapai
tujuan-tujuan sebagai berikut:
1. Tumbuhnya kegiatan ekonomi masyarakat pada koridor-koridor jaringan jalan
arteri primer memanfaatkan peluang tingginya intensitas pergerakan pada
kawasan tersebut.
2. Peningkatan aksesibilitas antar PKL Pinrang dengan pusat perkotaan lainnya
yang ada diluar wilayah Kabupaten Pinrang utamanya dengan PKN.

2.1.2.2 Kawasan Budidaya


Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Pinrang merupakan rencana distribusi
peruntukan ruang dalam wilayah Kabupaten Pinrang yang meliputi rencana
peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan rencana peruntukan ruang untuk fungsi
budidaya.
Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Pinrang berfungsi :
1. Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan
kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah Kabupaten Pinrang.
2. Mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukan ruang.
3. Sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka menengah lima
tahunan untuk dua puluh tahun, dan
4. Sebagai dasar dalam pemberian izin pemanfaatan ruang pada wilayah
Kabupaten Pinrang.
Tabel 2.9
Arahan Pola Ruang Kabupaten Pinrang

No Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase


1 2 3 4
1 Kawasan Hutan Lindung 45,168 23.00
2 Kawasan Hutan Produksi Terbatas 26,437 13.48
3 Kawasan Hutan Bakau (mangrove) 150 0.08
4 Kawasan tambak 12,155 6.20
5 Kawasan perkebunan 24,417 12.45
6 Kawasan Pertanian Lahan Basah 44,861 22.87
7 Kawasan Pertanian Lahan Kering 30,914 15.76
8 Kawasan Permukiman 5,482 2.79
9 Sempadan Sungai 6,593 3.36

Total 196,177 100


Sumber : RTRW Kabupaten Pinrang

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 23


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Dalam pengelolaan kawasan budidaya di wilayah Kabupaten Pinrang diterapkan


azas harmonisasi yaitu menciptakan keseimbangan antara fungsi ekologiskawasan
dengan manfaat fungsi ekonomis kawasan dalam arti melakukan eksplorasi
kawasan dalam memenuhi kebutuhan sosial, ekonomi, dan budaya namun tetap
memperhatikan daya dukung lahan sehingga ekosistem alami tetap terjaga.

a. Hutan Produksi Terbtas (HPT)


Kawasan hutan produksi di wilayah Kabupaten Pinrang tersebar di wilayah
Kecamatan Batulappa, Kecamatan Lembang, dan Kecamatan Duampanua
Kecamatan Mattiro Bulu dan Kecamatan Suppa dengan luas keseluruhan
adalah 26.435,90 Ha.Hutan produksi terbatas di wilayah Kabupaten Pinrang
juga merupakan bagian dari upaya pelestarian DAS Saddang.Untuk
meningkatkan kualitas tata air di DAS Saddang ini, maka hutan produksi yang
ada harus ditingkatkan kualitasnya melalui pengembangan vegetasi hutan
utamanya tanaman tegakan tinggi yang memiliki fungsi kuat sebagai penjaga
tata air.

Tabel 2.10
Hutan Produksi Terbatas di Kabupaten Pinrang

No Hutan Produksi Terbatas (HPT) Luas (Ha) Persentase (%)

1 2 3 4
1 HPT di Kecamatan Suppa 1,129 4.27

2 HPT di Kecamatan Mattiro Bulu 1,324 5.01

3 HPT di Kecamatan Duampanua 5,574 21.08

4 HPT di Kecamatan Batulappa 2,121 8.02

5 HPT di Kecamatan Lembang 16,289 61.61

Total 26,437 100.00


Sumber : RTRW Kabupaten Pinrang

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 24


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

b. Kawasan Pertanian
Kabupaten Pinrang merupakan salah satu wilayah sentra produksi beras di
Propinsi Sulawesi Selatan yang termasuk Kawasan Bosowasipilu (kawasan
sentra produksi beras) dengan luas areal persawahan potensial ± 44.861 Ha
(22,87 % luas wilayah Kabupaten Pinrang). Jenis komoditi tanaman pangan
selain padi yang merupakan komoditi unggulan antara lain: jagung, ubi kayu,
kacang tanah, kacang hijau, dan kedele. Pada dasarnya persebaran produksi
tanaman pangan jenis padi di wilayah Kabupaten Pinrang tersebar secara
merata di seluruh wilayah, dimana semua wilayah kecamatan memiliki areal
persawahan yang produktif dengan sumber pengairan dari irigasi teknis.
SedangkanKawasan tanaman pangan lahan kering yang merupakan kawasan
yang diperuntukkan bagi tanaman pangan lahan kering untuk tanaman
palawija, holtikultura atau tanaman pangan tahunan, pengembangan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 25


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

kegiatannya tersebar merata diseluruh wilayah kecamatan dengan luas areal


yang diarahkan untuk pengembangan lahan kering adalah 30.914 ha.

Tabel 2.11
Arahan Kawasan Peruntukan Lahan Basah dan Lahan Kering

Pertanian Lahan Basah Pertanian Lahan Kering


No Kecamatan
Persentase Persentase
Luas (Ha) Luas (Ha)
(%) (%)

1 2 3 4 5 6
1 Suppa 1,716 3.83 2503 8.10
2 Lanrisang 3,714 8.28 1015 3.28
3 Mattiro Bulu 4,822 10.75 3698 11.96
4 Mattiro Sompe 3,679 8.20 878 2.84
5 Paleteang 3,137 6.99 2251 7.28
6 Tiroang 4,835 10.78 2413 7.81
7 Watang sawitto 4,033 8.99 834 2.70
8 Patampanua 4,464 9.95 4394 14.21
9 Cempa 4,237 9.45 2240 7.25
10 Duampanua 7,671 17.10 7359 23.81
11 Batulappa 458 1.02 1798 5.82
12 Lembang 2,093 4.67 1530 4.95

Total 44,861 100.00 30,914 100.00


Sumber : RTRW Kabupaten Pinrang

Sedangkan Pengembangan kegiatan budidaya tanaman tahunan/ perkebunan


di wilayah Kabupaten Pinrang diarahkan pada beberapa kawasan potensial
pengembangan komoditi tanaman tahunan seperti Kakao, Kopi Robusta, Kopi
Arabica, Kelapa Hibrida, Kelapa sawit, Jambu Mete, jarak dan Kemiri. Luas
areal yang diarahkan untuk pengembangan tanaman perkebunan adalah
seluas 24.417 ha, dengan jenis komoditi unggulan wilayah berupa Kakao yang
tersebar di seluruh wilayah kecamatan, dan Kopi Robusta yang potensial
dikembangkan di wilayah Kecamatan Lembang. Komoditi perkebunan lainnya
yang banyak dibudidayakan di wilayah Kabupaten Pinrang terdiri atas : Kopi
Arabica, Kelapa Hibrida, Kelapa Dalam, Jambu Mete, dan Kemiri. Untuk
kegiatan perkebunan yang intensif diarahkan pada kawasan dengan ketinggian
200 – 400 m dpl, sementara untuk kegiatan perkebunan yang non intensif
diarahkan pada areal dengan ketingggian > 400 m dpl

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 26


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.12
Arahan Kawasan Peruntukan Perkebunan

No Kecamatan Luas (Ha) Persentase (%)


1 2 3 4
1 Suppa 1,351 5.53
2 Lanrisang - 0.00
3 Mattiro Bulu 2,685 11.00
4 Mattiro Sompe - 0.00
5 Paleteang 78 0.32
6 Tiroang 0 0.00
7 Watang sawitto - 0.00
8 Patampanua 2,233 9.15
9 Cempa 864 3.54
10 Duampanua 1,620 6.63
11 Batulappa 1,212 4.96
12 Lembang 14,374 58.87
Total 24,417 100.00
Sumber : RTRW Kabupaten Pinrang

c. Kawasan Perikanan
Rencana pengembangan kegiatan perikanan di wilayah Kabupaten Pinrang
dapat dikluster berdasarkan jenis kegiatannya yaitu : 1) budidaya laut, 2)
budidaya payau, dan 3) budidaya air tawar. Arahan pengembangan komoditas
perikanan mencakup : a) komoditas perikanan budidaya payau berupa udang
windu, bandeng, dan kepiting bakau, b) komoditas perikanan budidaya laut
berupa rumput laut, kerapu, dan sejenisnya, dan c) komoditas budidaya air tawar
berupa ikan karper, ikan mas, dan ikan nila. Pertimbangan arahan
pengembangan kegiatan budidaya tersebut didasarkan atas nilai ekonomis yang
tinggi dan telah berkembang di masyarakat, serta pangsa pasarnya cukup
prospek. Dengan mempertimbangkan karakteristik kawasan yang sesuai untuk
pengembangan budidaya payau di Kabupaten Pinrang, maka sebarannya lebih
diarahkan di wilayah Kecamatan Duampanua, Kecamatan Mattiro Sompe,
Kecamatan Cempa, Kecamatan Suppa, Kecamatan Lanrisang, dan Kecamatan
Lembang dengan total areal seluas ± 13.559 ha. Jenis komoditi perikanan
budidaya payau unggulan wilayah Kabupaten Pinrang berupa Udang dan
Rumput Laut.
Sementara untuk kegiatan budidaya laut akan memanfaatkan perairan Selat
Makassar yang membentang dari selatan sampai barat kearah laut lepas sejauh
menjadi kewenangan pemerintah Kabupaten Pinrang.
Untuk kegiatan budidaya air tawar di Kabupaten Pinrang lebih diarahkan pada
kawasan yang sesuai dengan karakteristik kegiatan budidaya tersebut, terutama

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 27


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

persediaan air tawar yang cukup dengan luas areal kolam keseluruhan 1.364 ha
yang tersebar hampir merata di seluruh wilayah kecamatan.

Tabel 2.13
Arahan Kawasan Perikanan

No KAWASAN LOKASI

1 2 3

1 Kawasan Perikanan Tangkap kawasan pesisir dan laut Kecamatan Suppa,


kawasan pesisir dan lau Kecamatan
Lanrisang, kawasan pesisir dan laut
Kecamatan Mattiro Sompe,kawasan pesisir
dan laut Kecamatan Duampanua, dan
kawasan peisisir dan laut Kecamatan
Lembang

2 Kawasan buididaya perikanan laut Kecamatan Suppa, Kecamatan Lanrisang,


dan rumput laut Kecamatan Mattiro Sompe, Kecamatan
Cempa,Kecamatan Duampanua, dan
Kecamatan Lembang

3 Kawasan budidaya perikanan air Kecamatan Suppa, Kecamatan Lanrisang,


payau komidtas udang dan Kecamatan Mattiro Sompe, Kecamatan
bandeng Cempa,Kecamatan Duampanua, dan
Kecamatan Lembang

4 Kawasan budidaya perikanan air Kecamatan Paleteang, Kecamatan Cempa,


tawar Kecamatan Patampanua, Kecamatan Mattiro
Bulu, dan Kecamatan Duampanua.

Sumber : RTRW Kabupaten Pinrang

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 28


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

d. Kawasan Pariwisata
Kawasan peruntukan pariwisata memiliki fungsi utama antara lain :
1) memperkenalkan, mendayagunakan, dan melestarikan nilai-nilai
sejarah/budaya lokal dan keindahan alam,
2) mendukung upaya penyediaan lapangan kerja yang pada gilirannya dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat di wilayah dimana obyek wisata
tersebut berada. Jenis obyek wisata yang diusahakan dan dikembangkan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 29


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

dikawasan peruntukan pariwisata dapat berupa wisata alam ataupun wisata


sejarah dan konservasi budaya.
Dalam UU/9/1990 tentang Kepariwisataan disebutkan bahwa pengusahaan
obyek dan daya tarik wisata budaya merupakan usaha pemanfaatan seni bangsa
untuk dijadikan sasaran wisata. Pengembangan pariwisata di suatu daerah
harus direncanakan dan dikembangkan secara ramah lingkungan dengan tidak
menghabiskan atau merusak sumber daya alam dan sosial, namun
dipertahankan untuk pemanfaatan yang berkelanjutan.
Di wilayah Kabupaten Pinrang kegiatan kepariwisataan merupakan salah
satu sektor yang perlu digenjot pertumbuhannya melalui pengembangan
kawasan obyek wisata, mengingat sektor kepariwisataan akan mampu
menumbuhkembangkan sektor-sektor terkait yang cukup luas (multiplier effect).
Adapun rencana pengembangan sektor kepariwisataan di wilayah Kabupaten
Pinrang terdiri atas pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan.

Tabel 2.14
Kawasan Pariwisata Kabupaten Pinrang

NO KAWASAN PERUNTUKAN PARIWISATA LOKASI

1 Makam Tuan Fakki Kecamatan Tiroang

2 Makam Pallipa Putee Kecamatan Mattiro Sompe

3 Masjid Tua Tondo Bunga Kecamatan Lembang

4 Makam Raja – raja Kaballangan Kecamatan Duampanua

5 Masjid Tua At Taqwa Jampue Kecamatan Lanrisang

6 Saoraja Datu Lanrisang Kecamatan Lanrisang


7 Pengrajin Sarung Sutra Mandar, Masjid Tua Kecamatan Suppa
Ujung Lero , Istana Datu Suppa dan Makam
Besse Kajuara
8 Makam Lasinrang di Kelurahan Laleng Bata, Kecamatan Paleteang
Makam Petta Malae di Kelurahan
Temmasarangnge, Arajang Sawitto dan
Pusara Benteng Sawitto dan Makam
Addatuang Sawitto Matinro Langkara’na
9 Saoraja Desa Liang Garessi, Monumen Kecamatan Watang Sawitto.
Lasinrang, Istana Addatuang Sawitto dan
Kompleks Makam Raja-raja Sawitto
10 Sungai Lue dan Sumber Air Panas Rajang Kecamatan Lembang;
Balla , Permandian Air Panas Lemo Susu, Air
Terjun Karawa, Kali Jodoh, Permandian Batu
Pandan , Permandian Balaloang Permai ,
Goa Paniki , dan Pantai Kajuanging dan
Pantai Kanipang
11 Goa Batu Lappa Kecamatan Batulappa
12 Bukit Tirasa , Air Terjun Lamoro , Permandian Kecamatan Duampanua
Pasandorang , dan Pantai Kappe dan Pantai
Maroneng

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 30


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

13 Bulu Paleteang Permandian Air Panas Sulili Kecamatan Paleteang


14 Batu Moppangnge Kecamatan Patampanua
15 Pantai Ammani , dan Pantai Ujung Tape Kecamatan Mattiro Sompe
16 Pantai Wakka Kecamatan Cempa
17 Pantai Wiring Tasi, Pantai Ujung Lero , Pantai Kecamatan Suppa
Ujung Labuang , Pantai Sinar Bahari
Sabbang Paru, Pantai Bonging Ponging
Desa Lotang Salo , Pantai Pelabuhan
Marabombang, dan Pulau Kamarrang
18 Pantai Wae Tuwoe Desa Wae Tuwoe Kecamatan Lanrisang
19 Danau Buatan PLTA Bakaru Kecamatan Lembang
20 Bendungan Benteng di Kelurahan Benteng Kecamatan Patampanua
dan rumah makan terapung
21 Tempat pengasapan ikan, tempat pembuatan Kecamatan Suppa
perahu tradisional, perkebunan kelapa dalam
dan pelabuhan nelayan
Sumber : RTRW Kabupaten Pinrang

2.1.3 Wilayah Rawan Bencana


a. Potensi Banjir
Pinrang adalah salah satu daerah rawan banjir di Sulawesi Selatan,
Berdasarkan peta rawan banjir, daerah rawan banjir di Pinrang terdapat di
kecamatan Duampanua dan Kecamatan Suppa. Hal tersebut disebabkan oleh
posisi geografis Pesisir Kabupaten Pinrang yang berada pada hilir DAS Sungai
Saddang.

Genangan air (banjir) yang terjadi secara alami di wilayah daerah aliran
sungai (DAS) pada dasarnya tidak menjadi permasalahan, seandainya wilayah
tersebut belum dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi,
jika wilayah DAS telah dimanfaatkan oleh manusia, seperti penggunaan lahan
untuk pertanian dan pertambakan, lahan permukiman dan kegiatan-kegiatan
peruntukan lainnya, maka genangan tersebut dianggap merugikan dan
mengancam kehidupan.

Bencana alam geologi yang rutin terjadi di Kabupaten Pinrang adalah


banjir, dan tanah longsor sepanjang jalan dari Kampung Lome sampai dengan
Kampung Batri dengan jarak kurang lebih 250 meter. Daerah ini merupakan
daerah yang sangat relatif rendah dan menjadi jalur pembuangan air dari
sungai saddang saat ini air meluap khususnya pada musim hujan lebat.

b. Longsor
Tanah longsor pada umumnya terjadi di daerah pegunungan seperti daerah
lemosusu, Karawa, dan Bakaru. Tanah longsor di Kabupaten Pinrang terjadi
karena adanya kontrol topografi yang sangat curam, pengaruh kemiringan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 31


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

lereng, adanya jenis batuan yang mudah lapuk (Tufa Breksi Vulkanik), tingkat
pelapukan tinggi, jalur struktur geologi, hujan lebat dan struktur manusia.

c. Abrasi dan Sedimentasi Pantai


Wilayah pesisir Pinrang pada umumnya memiliki karakteristik material
lempung berpasir.Jenis material tersebut sangat rentang terbawa oleh aktivitas
gelombang dan arus laut. Secara sederhana proses pantai disebabkan oleh
angin dan air yang bergerak dari suatu tempat ke tempat lain, mengikis tanah
dan kemudian mengendapkannya di suatu tempat secara kontinu. Proses
pergerakan gelombang datang pada pantai secara esensial berupa osilasi. Angin
yang menuju ke pantai secara bersamaan gerak gelombang yang menuju pantai
berpasir secara tidak langsung mengakibatkan pergesekan antara gelombang
dan dasar laut, sehingga terjadi gelombang pecah dan membentuk turbulensi
yang kemudian membawa material disekitar pantai termasuk yang
mengakibatkan pengikisan pada daerah pantai (erosi).

Tabel 2.15
Lokasi Rawan Abrasi dan Sedimentasi
Abrasi dan Sedimentasi Keterangan

Desa Lero & Desa Sekitar Muara


Kecamatan Suppa
Tasiwalie Sungai

Dusun Jampue &


Kecamatan Lanrisang
Desa WaetuwoE

Kecamatan Kel. Langnga & Kel.


Mattirosompe Pallameang
Sumber : Hasil Survey Tahun 2010

d. Tsunami
Posisi Indonesia yang terletakpada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik di
dunia yaitu: Lempeng Australia di selatan, Lempeng Euro-Asia di bagian barat
dan Lempeng Samudra Pasifik di bagian timur, yang dapat menunjangterjadinya
sejumlah bencana.

Berdasarkan posisinya tersebut, maka hampir di seluruh Indonesia kecuali


daerah Kalimantan yang relatif stabil, namun demikian pada gambar tersebut
menunjukkan bahwa wilayah Provinsi Sulawesi Selatan termasuk Kabupaten
Pinrang terletak pada jalur gempa bumi yang relatif stabil. Hal ini dapat dirasakan
selamah ini riwayat histories Kabupaten Pinrang masih relatif aman dari bahaya
bencana gempa dan tsunami, walaupun demikian kewaspadaan tetap perlu
untuk di junjung tinggi mengingat posisi geografis Kabupaten Pinrang
berhadapan dengan Selat Makassar.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 32


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 33


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.1.4. Demografi
Jumlah penduduk Kabupaten Pinrang 361.293 jiwa pada Tahun 2013 (Data BPS
2014), terdiri dari laki-laki sebanyak 175.115 jiwa (48,47 %) dan perempuan
sebanyak 186.178 jiwa (51,53 %). Jumlah ini meningkat 1,00 % dibandingkan Tahun
2012, di mana pada Tahun 2012 jumlah penduduk Kabupaten Pinrang mencapai lk
360.019 jiwa, terdiri atas : laki-laki 174.667 jiwa (48,52 %) dan perempuan 185.352
jiwa (51,48 %).Jika dilihat dari komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur
pada Tahun 2013, jumlah penduduk kelompok umur produktif (15-64 Tahun)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 34


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

mencapai 62,82 %,jumlah penduduk kelompok umur muda (0-14 Tahun) mencapai
30,81 % dan jumlah penduduk kelompok umur tua (65 Tahun ke atas) mencapai
6,37 %.Jumlah penduduk kelompok umur produktif (15-64 Tahun) mengalami
peningkatan sebesar 1,86%, demikian pula dengan jumlah penduduk kelompok
umur tua (65 Tahun ke atas) mengalami kenaikan 1,02, sedangkan jumlah
penduduk kelompok umur muda (0-14 Tahun) menurun 2.88 %.

Tabel 2.16
Jumlah Penduduk Kabupaten Pinrang
Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Tahun 2012-2013

2012 2013
Kelompok
No
Umur(thn) Jenis Kelamin Jenis Kelamin
Jumlah % Jumlah %
Laki-laki Perempuan Laki-Laki Perempuan
Muda (0-
1 61.989 59.303 121.292 33,69 56.758 54.545 111.303 30,81
14)
Produktif
2 104.490 114.987 219.477 60,96 108.766 118.212 226.978 62,81
(15-64)
3 Tua (65+) 8.188 11.062 19.250 5,35 9.591 13.421 23.012 6,37
Jumlah 174.667 185.352 360.019 100 175.115 186.178 361.293 100
% 48,52 51,48 48,47 51,51
LPP (%)
Dependency Ratio (%) 94 94
Kepadatan Penduduk (jiwa/km2) 184 184
Sumber : BPS Kabupaten Pinrang Tahun 2012 – 2013

Dari jumlah penduduk tersebut di atas, terdapat angka beban ketergantungan


(dependency ratio) sebesar 69,82 %, ini artinya pada setiap 100 penduduk
produktif harus menanggung lk. 69 orang penduduk tidak produktif. Jika
dibandingkan dengan tahun 2012, dependency ratio pada tahun 2012 sama
dengan tahun 2013. Angka Ketergantungan (dependency ratio) diharapkan
dapat diturunkan pada tahun-tahun mendatang, dengan meningkatkan Daya
saing dan Sumber Daya Manusia Masyarakat Kabupaten Pinrang.
Secara perbandingan wilayah, Kabupaten Pinrang memiliki potensi
wilayah yang luas mencapai 196.177 ha atau 1961,77 km2, sehingga rata-rata
kepadatan penduduknya adalah 184 jiwa/km2. Artinya secara rata-rata terdapat
184 orang yang menghuni 1 km2 daerah. Bila dibandingkan dengan tahun
sebelumnya, kepadatan penduduk Tahun 2012 tidak mengalami peningkatan,
Jika dilihat per wilayah, urutan 3 terbanyak jumlah penduduk paling banyak yang
tercatat berada di Kecamatan Watang Sawitto, Kecamatan Duampanua, dan
Kecamatan Lembang, sedangkan jumlah penduduk terkecil yang tercatat berada
di Kecamatan Batulappa. Namun jika dilihat dari kepadatan penduduk suatu

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 35


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

wilayah (jumlah penduduk dibagi dengan luas wilayah daerah masing-masing),


maka Kecamatan Paleteang dan Watang Sawitto menjadi kecamatan yang
paling padat di Kabupaten Pinrang, sedangkan kecamatan dengan kepadatan
paling rendah diduduki oleh Kecamatan Batulappa dan Kecamatan
Lembang.Berikut jumlah dan kepadatan penduduk per kecamatan pada tahun
2013 di Kabupaten Pinrang.

Tabel 2.17
Jumlah dan Kepadatan Penduduk Per Kecamatan
di Kabupaten Pinrang Pada Tahun 2013

Kepadatan
Jumlah Penduduk Luas
NO Kecamatan Penduduk
Wilayah (Ha)
Laki-laki Perempuan Jumlah (Jiwa/Ha)
1 2 3 4 5 6 7
1 Suppa 15.113 16.101 31.214 74,20 420
2 Mattiro Sompe 13.379 14.330 27.709 96,99 285
3 Lanrisang 8.178 9.080 17.258 73,01 236
4 Mattiro Bulu 13.207 14.215 27.422 132,49 206
5 Watang Sawitto 26.592 27.716 54.307 58,97 895
6 Paleteang 19.233 19.961 39.194 37,29 1.019
7 Tiroang 10.587 11.027 21.614 77,73 274
8 Patampanua 15.588 16.570 32.158 136,85 234
9 Cempa 8.523 9.044 17.567 90,30 195
10 Duampanua 21.394 23.028 44.422 291,86 152
12 Batulappa 4.778 5.027 9.805 158,99 64
13 Lembang 18.583 19.619 38.623 733,09 54

Jumlah 172.047 182.605 361.293 1.961,77 184

Sumber : BPS Kabupaten Pinrang Tahun 2014

2.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat


Menurut Permendagri Nomor 54 tahun 2010, Aspek Kesejahteraan masyarakat
terdiri atas; Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi,Fokus Kesejahtraan
Masyarakat danFokus Senibudaya dan Olahraga.

2.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi


Fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi ditunjukan dengan pertumbuhan
PDRB, Laju Inflasi, PDRB Perkapita, Indeks Gini, dan Prosentase penduduk di atas
garis kemiskinan

2.2.1.1. Pertumbuhan PDRB Kabupaten Pinrang


Struktur perekonomian Kabupaten Pinrang berdasarkan indicator distribusi
persentase nilai tambah bruto sektoral, meliputi 9 sektor yaituPertanian,
Pertambangan dan Penggalian, Industri Pengolahan, Listrik, Gasdan Air Bersih,

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 36


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Bangunan, Perdagangan, Hotel dan Restoran, Pengangkutandan Komunikasi,


Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan, serta Jasa-jasa.
Dari ke-9 sektor tersebut dikelompokkan menjadi Sektor Primer
(Pertanian,Pertambangan dan Penggalian), Sektor Sekunder (Industri
Pengolahan,Listrik, Gas dan Air Bersih, Bangunan), Sektor Tersier (Perdagangan,
Hoteldan Restoran, Pengangkutan dan Komunikasi, Keuangan, Persewaan danJasa
Perusahaan, serta Jasa-jasa). Dalam kurun waktu periode tahun 2009 –2013,
struktur perekonomian Kabupaten Pinrang mengalami sedikitpergeseran/ perubahan
seperti diagram berikut :
Tabel 2.18
Produk Domistik Regional Bruto menurut Lapangan Usaha atas dasar
Harga berlaku Tahun 2009 - 2013 ( Juta Rp).

Lapangan Usaha 2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6
1 Pertanian 2.538.541,90 2.927.094,46 3.421.853,09 3.917.694,60 4.376.065,25
2 Penggalian/ 37.586,13 41.602,24 51.593,44 63.689,98 1.587.981,04
Pertambangan
3 Industri 177.359,14 228.382,71 263.343,81 300.424,50 339.737,02
Pengolahan
4 Listrik,gas & air 28.298,56 37.731,46 41.280,05 46.717,01 56.217,91
5 Bangunan 179.096,09 196.112,18 241.604,33 287.240,70 336.264,84
6 Perdagangan 569.107,20 639.929,71 768.699,02 947.253,84 1.073.736,12
Restoran, hotel
7 Angkutan & 172.402,89 224.335,13 280.553,38 330.726,97 386.938,95
komunikasi
8 Bank & lembaga 178.039,03 205.737,36 242.468,27 291.527,90 353.587,53
Keuangan
9 Jasa-jasa 612.525,97 789.860,87 905.235,95 1.052.253,23 1.208..271,4
1
Total 4.492.956,91 5.290.786,11 6.216.631,34 7.237.528,74 8.261.015,00
Sumber : PDRB Kab Pinrang Tahun 2009-2013

Uraian tabel diatas menunjukkan bahwa kontribusi terbesar terhadap PDRB


Kabupaten Pinrang adalah berasal dari sektor pertanian yang tiap tahun mengalami
peningkatan untuk tahun 2009 sebesar Rp.2.538.541,90 dan pada tahun 2013
naik menjadi Rp. 4.376.065,25 Sedangkan data mengenai perkembangan PDRB
Kabupaten Pinrang selama lima tahun terakhir dalam harga konstan dan harga
berlaku dapat dilihat pada tabel 10 berikut :

Tabel 2.19
Perkembangan Produk Domistik Regional Bruto Kab. Pinrang Dalam Harga Berlaku
dan Konstan Tahun 2009-2013

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 37


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Harga Berlaku Harga Konstan


Tahun
Milyar(Rp) Pertumbuhan (%) Milyar(Rp) Pertumbuhan (%)
1 2 3 4 5

2009 4.492.956,91 20,65 2.384.282,50 6,73


2010 5.290.786,11 17,76 2.532.737,44 7,65
2011 6.216.631,34 17,50 2.713.028,15 6,23
2012 7.237.528,74 16,50 2.937.275,51 8,27
2013 8.261.015,00 15,81 3.137.470,00 5,17
Rata-rata 17,64 6.81
Sumber data : BPS Kab. Pinrang 2014

Untuk mengetahui laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pinrang dari tahun ke


tahun digunakan indikator perkembangan PDRB untuk periode yang sama. Laju
pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pinrang disajikan pada Tabel dibawah ini :
Pertumbuhan Ekonomi menurut Lapangan Usaha Kabupaten Pinrang atas Dasar
Harga Konstan Tahun 2009 -2013.
Tabel 2.20
Pertumbuhan Ekonomi menurut Lapangan Usaha Kab.Pinrang atas Dasar Harga
Konstan Tahun 2009-2013 (%)

Lapangan Usaha 2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6
1 Pertanian 61,98 60,64 59,42 58,63 58,20
2 Penggalian/ Pertambangan 0,88 0,87 0,95 0,98 0,99
3 Industri Pengolahan 4,54 5,24 5,28 5,29 5,43
4 Listrik,gas & air 0,70 0,76 0,76 0,77 0,79
5 Bangunan 4,12 3,90 4,22 4,29 4,31
6 Perdagangan Restoran, hotel 11,29 11,51 12,14 12,75 12,81
7 Angkutan & komunikasi 4,10 4,43 4,71 4,98 5,01
8 Bank & lembaga Keuangan 4,24 4,43 4,60 4,80 4,87
9 Jasa-jasa 8,13 8,23 7,91 7,50 7,59
Total 100 100 100 100 100
Sumber data : BPS Kab. Pinrang 2014

Dari tabel diatas terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Pinrang pada
tahun 2009 berdasarkan harga konstan mengalami pasang surut, setiap tahunnya
terjadi perlambatan dan pecepatan pertumbuhan penurunan jika dibandingkan pada
tahun 2010 dari 58,63 % menjadi 58,20 % sedangkan pada tahun 2011 mengalami
penurunan menjadi 59,42 %. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2011 dan 2012
terjadi kenaikan produksi khususnya di sektor pertanian dan jasa yang memberikan
sumbangan terbesar terhadap pembentukan PDRB

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 38


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.21
Perkembangan Laju petumbuhan Ekonomi Kab. Pinrang tahun 2009- 2013

Rata-Rata
Pertumbuhan
No 2009 2010 2011 2012 2013 Pertumbuhan
PDRB
ekonomi
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Kab.Pinrang 7,65 6,23 7,12 8,27 6,81 7,21
2 Sul Sel 6,23 8,19 7,61 8,37 7,65 7,61
3 Nasional 4,63 6,20 6,49 6,23
Sumber data : BPS Kab. Pinrang 2014

Meningkatnya perkembangan ekonomi ini ditandai dengan Peningkatan Produk


Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Pinrang dari Tahun
Ketahun.Perkembangan Nilai PDRB Kabupaten Pinrang atas dasar Harga Konstan
(ADHK) tahun 2009 selama kurun waktu 2009-2013 mengalami peningkatan. Pada
tahun tahun 2009 PDRB (ADHB) sebesar Rp. 12.798.916 dan Pada tahun 2013
sebesar Rp. 21.500.000

2.2.1.3 Inflasi

Laju inflasi Kabupaten Pinrang lima tahun terakhir mengalami fluktuasi yang cukup
besar, pada tahun 2009 inflasi kabupaten Pinrang mencapai 11,69 % dan pada
tahun 2010 turun menjadi 10,86 %, atau mengalami penurunan sekitar 0,83% dan
pada tahun 2011 turun lagi menjadi 9,69 %, pada tahun 2012 mencapai 5,25 %,
sedangkan pada tahun 2013 mencapai 4,32 % atau mengalami penurunan sebesar
0,9 %.

Tabel 2.22
Perkembangan Laju Iflasi Kabupaten Pianrang Tahun 2009 - 2013

No Inflasi ( % ) 2009 2010 2011 2012 2013 Rata2

1 2 3 4 5 6 7 8
1 Kab.Pinrang 11,69 10,86 9,69 5,25 4,32 8,36
2 Sul Sel 3,39 6,56 2,88 4,41
3 Nasional 2,78 6,96 3,79 4,30

Tahun 2009 Inflasi di Kabupaten Pinrang Mencapai 11,69%, dan pada tahun 2013
menjadi 4,32 %.

2.2.1.4 Pendapatan dan Pertumbuhan Perkapita

Salah satu indicator yang dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakt


pada suatu wilayah adalah dengan melihat tingkat pendapatan penduduk wilayah

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 39


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

tersebut, dan PDRB Perkapita merupakan proyeksi indicator untuk menentukan


tingkat perdapatan perkapita di suatu wilayah.
Pendapatan dan Pertumbuhan Perkapita Kabupaten Pinrang dari tahun 2009 s/d
2013 setiap tahunnya mengalami kenaikan atas dasar harga berlaku, sedangkan
untuk atas dasar harga konstan dari tahun 2009 s/d 2013 juga mengalami kenaikan
setiap tahunnya dengan gambaran pada tabel dibawah ini :

Tabel 2.23
PDRB Perkapita Kab. Pinrang Tahun 2009-2013

PDRB Tahun ( Rp)


N0 Perkapita(ADHB)
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1 Kab. Pinrang 12.798.916 15.066.554 17.528.821 20.267.796 22.868.642

2 Sul Sel 12.567.364 14.669.010 16.929.030 19.472.249 22.116.460

3 Nasional

Sumber data : BPS Kab. Pinrang 2014

Perkembangan PDRB Perkapita Kabupaten Pinrang atas dasar harga berlaku


menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun yaitu untuk
tahun 2009 PDRB Perkapita sebesar Rp 12.798.916 naik menjadi Rp 15.066.554
pada tahun 2010, pada tahun 2011 dicapai Rp. 17.528.821,- tahun 2012 naik
menjadi Rp. 20.267.796, sedangkan pada tahun 2013 dengan capaian Rp.
22.868.642.

2.2.1.5 Paritas daya Beli

Paritas daya beli Kabupaten Pinrang priode 2009 – 2013 mempunyai


kecenderungan yang terus meningkat yaitu dari Rp 637.400 pada tahun 2009
meningkat menjadi Rp. 638.500 pada tahun 2010 sedangkan pada tahun 2012
mencapai Rp. 650.000,- dan pada tahun 2013 mencapai Rp. 758.300.

Tabel 2.24
Paritas Daya Beli kabupaten Pinrang 2009-2013

Tahun ( Rp)
Paritas Daya Beli
N0
( RP )
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 40


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1 Kab. Pinrang 637.400 638.500 641.900 650.100 758.300

2 Sul Sel 635,5 636,6 640,3 643,59

Indeks Gini
Gini Ratio merupakan angka yang digunakan untuk mengukur ketimpangan
pendapatan daerah secara menyeluruh. Sebagaimana disebutkan dalam Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 54 tahun 2010 bahwa tentang gini ratio dikelompokkan
kedalam ketimpangan rendah apabila gini ratio tinggi lebih kecil dari 0,3, di
kategorikan ketimpangan sedang apabila gini rationya lebih besar dari 0,3 dan lebih
kecil dari 0,5, selanjutnya di kategorikan ketimpangan tinggi apabila gini rationya
lebih besar dari 0,5.

Berikut dapat disajikan perkembangan gini ratio Kabupaten Pinrang untuk kurun
waktu 2009-2014 pada table berikut :

Tabel 2.25
Indeks Gini Ratio Kabupaten Pinrang Tahun 2009 – 2013
Tahun ( Rp)
N0 Gini Ratio 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7

1 Kab. Pinrang 0,47 0,46 0,43 0,42 0,41

2 Sul Sel 0,39 0,40 0,41 0,41

Bila diperhatikan table tersebut diatas dalam kurun waktu 2009 – 2013 Kabupaten
Pinrang Gini Rationya terkategorikan ketimpangan rendah.
Kondisi tersebut mencerminkan tingkat pendapatan masyarakat di Kabupaten
Pinrang cenderung merata atau gap antara rumah tangga kaya dan rumah tangga
miskin cenderung kecil.Oleh sebab itu pertumbuhan ekonomi diharapkan merata di
masing-masing sektor (9 sektor).

Penduduk Miskin
Pertumbuhan PDRB perkapita suatu daerah dapat digunakan sebagai salah satu
indicator terhadap pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat.Dalam kurun
waktu 2009 – 2013 PDRB perkapita Kabupaten Pinrang mengalami pertumbuhan
rata – rata 7,99 % pertahun namun dengan tingkat rata-rata pertumbuhan PDRB
perkapita tersebut bukan berarti Kabupaten Pinrang terbebas dari penduduk miskin.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 41


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Untuk mengetahui proporsi dan jumlah penduduk miskin, tersedia dua sumber, yaitu
persen penduduk miskin dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang
dilaksanakan setiap tiga tahun, dan jumlah rumah tangga miskin yang pendataannya
dilaksanakan oleh Tim Kordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah Kabupaten
Pinrang secara Nasional dalam rangka penyaluran bantuan langsung tunai (BLT)
olehpemerintah pusat.
Tabel 2.26
Penduduk Miskin Kab. Pinrang
Tahun ( Jiwa ) Prosentase
N0 Pendudk Miskin 2009 2010 2011 2012 2013 ( %)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Perdesaan 23.421 23.913 21.445 19.840 18.113 106,732
2 Perkotaan 6.899 7.925 7.353 6.942 6.347 35,466
Jumlah 30.320 31.664 28.798 26.782 24.460 142,198
Prosentase % 8,70 9,01 8,12 7,42 6,72 7,99

Angka Kriminalitas yang tertangani


Jumlah kriminalitas di Kabupaten Pinrang mengalami peningkatan selama lima
tahun terakhir ( 2009 – 2013 ), jumlah kriminalitas yang tertangani di kabupaten
Pinrang dapat digambarkan dalam tabel
Tabel 2.27
Angka Kriminalitas Yang Tertangani

Tahun
Jenis
2009 2010 2011 2012 2013
N0 Kriminal
Lapor selesai Lapor selesai Lapor selesai Lapor selesai Lapor selesai
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Narkoba 19 28 15 18 29 29 47 47 56 56
2 Pembunuhan 3 9 2 4 0 0 5 5 2 2
3 seksual 1 1 7 7 1 3 4 7 8 7
4 Penganiayaan 79 66 58 56 41 44 179 148 155 140
5 Pencurian 55 16 31 28 26 7 82 29 79 31
6 Penipuan 14 10 8 7 2 2 12 21 10 9
7 Pemalsuan 2 2 0 0 0 0 2 2 1 2
uang
JUMLAH 173 132 121 120 99 85 331 259 311 247

Sumber Data: BPS Kab. Pinrang 2014

2.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial

2.2.2.1. Indeks Pembangunan Manusia ( IPM )


Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Pinrang selama priode tahun 2009
sampai tahun 2013 mengalami peningkatan dari tahun ketahun dengan rata rata
60,58 pertahun, dan pada tahun 2009 dicapai 72,6 dan tahun 2012 dicapai 74,39,

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 42


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

serta tahun 2013 dicapai 74,87. Pencapaian tersebut menujukkan pencapai nyang
lebih tinggi jika dibandingkan dengan skala Nasional dan Provinsi .

Tabel 2.28
IPM Kabupaten Pinrang 2009 – 2013

Tahun ( % )
N0 IPM 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Kabupaten Pinrang 72,6 73,21 73,56 74,39 74,87

2 Sul Sel 70,90 71,62 72,14 72,70

3 Nasional 71,80 72,27 72,77 73,29

2.2.2.2. Angka Melek Huruf ( AMH )


Indikator Pendidikan yang mempresentasikan dimensi pengetahun adalah angka
melek huruf.Indikator ini dapat diartikan sebagi suatu ukuran tingkat pengetahuan
Sumber Daya Manusia pada suatu wilayah tertentu. Indikator Melek huruf dapat
digunakan untuk mengukur keberhasilan program program pemberantasa butu
huruf, terutama pada daerah daerah pedesaan, terpencil dimana jumlah penduduk
yang tidak dapat mendapatkan akses pendidikan (bersekolah) atau indikator yang
menunjukkan kemampuan penduduk suatu wilayah dalam menyerap informasi dari
berbagai media, menunjukkan kemampuan berkomunikasi secara lisan dan tertulis,
sehingga angka melek huruf dapat mencerminkan potansi perkembangan intelektual
sekali gus berkontribusi terhadap pembangunan daerah. Penduduk yang 15 tahun
keatas yang melek huruf (penduduk yg bisa baca) pada table tahun 2009 – 2013
menunjukkan peningkatan dimana pada tahun 2009 dicapai 89,74%, tahun 2010
dicapai 89,90%, tahun 2011 dicapai 91,48 % dan pada tahun 2012 dicapai 91, 63 %
pada pada tahun 2013 dicapai 91,99 % atau rata rata kenaikan sekitar 90,94 %
pertahun.

Tabel 2.28
Angka Melek Huruf Kab. Pinrang

N0 Bidang/urusan 2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 43


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1 Jumlah Penduduk Usia diatas 15 tahun 213.505 220.865 238.416 255.959


yang bias Membaca dan Menulius
2. Jumlah Penduduk Usia 15 – 59 tahun
keatas yang bisa membaca / menulis
3 Jumlah Penduduk Usia 60 keatas 20.077 21.188 30.646 40.314
(lansia) yg Bisa Membaca dan menulis
4 Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun keatas 213.975 221.315 238.727 256.139
5 Jumlah Penduduk Usia 60 Tahun keatas 21.369 22.250 31.479 40.708
6. AMH Kabupaten Pinrang 15 tahun 99,78 99,79 99,86 99,92
Keatas
AMH Kabupaten Pinrang 60 Tahun 93,95 95,23 97,35 99,03
keatas
AMH SUSL SEL 15 TAHUN KEATAS 87,00 87,75 88,07 88,73
AMH SUL SEL 50 TAHUN KEATAS 10,49 10,58 10,62 10,66
AMH NASIONAL 15 TAHUN KETASA 92,60 92,91 93,22 93,53
Sumber Data: BPS Kab. Pinrang 2014

2.2.2.3. Angka Rata Rata Lama Sekolah


Angka rata rata lama sekolah di kabupaten Pinrang Priode 2009 – 2013
mengalami peningkatan dimana pada tahun 2009 dicapai 7,22, tahun 2012 dicapai
7,89 dan pada tahun 2013 dicapai 7,96. Angka ini menunjukkan bahwa
perkembangan rata rata lama sekolah di Kabupaten Pinrang pada tahun 2009 baru
mampu mencapai / setara dengan SMP kelas 2 dan berada pada posisi sedang di
tingkat regional (Sulawesi Selatan) dan Nasional.
Tabel 2.29
Rata Rata Lama Sekolah

Tahun
Indikator
N0 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Angka Rata-rata lama sekolah Kab.Pinrang 7,22 7,61 7,62 7,89 7,96
2. Angka Rata-rata lama sekolah Sul Sel 7,41 7,84 7,92 7,95 7,95
3 Angka Rata-rata lama sekolah Nasional 7,72 7,92 7,94 7,97 7,97

2.2.2.4. Angka Partisipasi Kasar ( APK )

Angka Partisipasi kasar merupakan indikator yang paling sederhana untuk


mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan
dan menggambarkan keikut sertaan penduduk pada setiap jenjang
pendidikan.Berdasarkan data statiskti menunjukkan perkembangan APK untuk
SD/MI priode 2009 – 2013 menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari tahun
ketahun, pada tahun 2009 APK SD/Mi dicapai 103,98% dan pada tahun 2013
dicapai 105.97% atau berkembang sekitar 2 % pertahun atau masih berada dibawah
rata rata provinsi dan nasional.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 44


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

APK untuk SMP / sederajat pada tahun 2009 dicapai 79.18% dan tahun 2013
dicapai 94.24. Atau mengalami perkembangan kurun waktu 2009-2013 sekitar 15%.
Dan berada pada posisi sedang untuk APK Provinsi Sulawesi Selatan dan Nasional.
Untuk APK SMA / sederajat pada tahun 2009 dicapai 56.75 pada tahun 2013 dicapai
67.31% capaian ini menunjukkan pada posisi sedang untuk rata rata tingkat Provinsi
Sulawesi Selatan dan Nasional.
Tabel 2.29
Angka Partisipasi Kasar

Tahun ( % )
N0 Indikator
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 APK SD/MI/Paket A Pinrang 103,98 104,72 105,34 105,97 106,67
1.1 APK Sul Sel 107,49 108,57 102,09 103,05
1.2 APK Nasional 113,77 116,48 119,26 122,11
2 APK SMP/MTs/Paket B 79,18 82,36 85,91 89,97 92,24
2.1 APK Sul Sel 76,54 75,05 87,15 98,95
2.2 APK Nasional 90,58 91,88 95,82 99,92
3 APK SMA/SMK/MA/Paket C 56,75 58,17 62,77 65,01 66,59
3.1 APK Sul Sel 62,78 67,71 66,17 69,75
3.2 APK Nasional 62,55 62,85 64,66
Data Statistik dan Dikpora 2014

2.2.2.5. Angka Partisipasi Murni( APM )

Angka Partisispasi Murni ( APM ) adalah partisipasi Sekolah penduduk usia


sekolah di tingkat Pendidikan tertentu. Seperti APK , APM juga merupakan indicator
daya serap penduduk usia sekolah disetiap jenjang pendidikan. Jika dibandikan
APK, APM merupakan indicator daya serap yang lebih baik karena APM melihat
Partisipasi pendududk kelompok usia standar di jenjang Pendidikan yang sesuai
dengan standar tersebut. APM Kabupaten Pinrang untuk SD/ MI pada tahun 2009
dicapai 96,70 %, dan pada tahun 2012 dicapai 98,55 % serta pada tahun 2013
dicapai 99,13 %, jika dibandingkan dengan rata rata capaian Provinsi Sulawesi
Selatan maka Kabupaten Pinrang capaiannya lebih tinggi sejak tahun 2009 sampai
dengan tahun 2013, demikian pula rata rata nasional juga lebih tinggi.

Tabel 2.30
Angka Partisipasi Murni (APM )

Tahun ( % )
N0 Indikator
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 45


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1 APM SD/MI/Paket A Pinrang 96,70 97,39 97,97 98,55 98,65


APK Sul Sel 92,27 92,86 97,54 97,90
APK Nasional 94,37 94,76 91,03
2 APM SMP/MTs/Paket B Pinrang 76,22 78,22 81,61 85,47 87,91
APK Sul Sel 61,74 62,32 65,29 68,27
APK Nasional 67,43 67,73 68,12
3 APM SMA/SMK/MA/Paket C Pinrang 54,48 55,85 60,25 62,40 63,92
APK Sul Sel 42,03 42,75 47,89 47,92
APK Nasional 45,11 45,59 47,97
Data Statistik dan Dikpora 2014

2.2.2.6. Angka Pendidikan yang ditamatkan ( APT)


Perkembangan angka pendidikan yang ditamatkan (APT) menurut jenjang
pendidikan di Kabupaten Pinrang kurun waktu 2009-2013 dapat digambarkan
sebagai berikut :
Tabel 2.31
Angka Pendidikan yang ditamatkan ( APT)

Angka Pendidikan yg Tahun


N0
Ditamatkan 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 SD ( SEKOLAH DASAR ) 8.026 7.469 7.783 8.050 8.000
Laki Laki 3.893 3.609 3.889 4.031 4.088
Perempuan 4.133 3,860 3.894 4.019 3.912
APT ( % ) 94.20 93.50 99,87 100,30 104,49
2 SMP 4.523 4.523 5.627 7.231 6.031
Laki Laki 2,169 2,169 2,693 3.024 2.869
Perempuan 2,354 2,354 2,934 3.207 3.162
APT ( % ) 92.14 92.14 91.79 94,29 90,73
3 SMA 3.741 3.741 3.718 4.135 4.275
Laki Laki 1,714 1,714 1.788 1.922 1.866
Perempuan 2.027 2,027 1.930 2.213 2.409
APT ( % ) 84.56 84.56 92,64 86,85 77,46
3 PERGURUANG TINGGI 869 886 911 1,378
Laki Laki 407 398 415 523
Perempuan 462 488 496 855
APT ( % ) 88.10 81.56 83.67 61.17
Data Statistik dan Dikpora 2014

Dari data tersebut diatas menggambarkan Angka Pendidikan yang ditamatkan


(APT) pada tahun 2009 untuk jenjang pendidikan SD 94.20%, APT SMP 92.14%,
ATPT SMA 84.56% dan ATP perguruan tinggi sekitar 88.10 %, sedangkan pada
tahun 2013 dicapai untuk SD 104.49%, SMP tercapai sekitar 90.73, SMA pada
kisaran 77,46 dan untuk Perguruan tinggi mencapai 61.17% di tahun 2012.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 46


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.2.2.7. Angka Kelangsungan Hidup Bayi


Perkembangan angka kematian bayi di Kabupaten Pinrang per seribu
kelahiran hidup dimana pada tahun 2009 angka kematian bayi mencapai 8,3 % dan
pada tahun 2013 turun menjadi 5,9 % perkembangan ini berpariatif kurun waktu
2009-2013, dan untuk bayi yang meninggal per kelahiran hidup pada tahun 2009
sebanyak 59 / 7144, tahun 2010 jumlah bayi yang mati 29/7267, tahun 2011 bayi
mati 31 / 7343, tahun 2012 sebanyak 41/6912 dan pada tahun 2013 sebanyka 42 /
7067 kelahiran hidup.
Tabel 2.31
Angka Kelangsungan Hidup Bayi

Tahun
N0 Indikator
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1 Angka kematian 8,3 3,99 4,22 5,9 5,9


bayi/1000 KH (%)

2 Jumlah bayi mati / KH 59/7144 29/7267 31/7343 41/6912 42/7067


Data Dinas Kesehatan

2.2.2.8. Angka Harapan Hidup

Angka harapan hidup masyarakat Kabupaten Pinrang mengalami


perkembangan sejalan dengan kemajuan teknologi dan kesadaran masyarakat
dalam melakukan perawatan bayi yang dilahirkan semakin membaik sehingga dapat
mencapai harapan hidup yang lebih baik pula, perkembangan ditunjukkan oleh data
statistic bahwa bayi yang lahir pada tahun 90 an haranpan hidupnya bisa mencapai
60 tahun, dan bayi yang dilahirkan tahun 2000 an harapan hidupnya bisa mencapai
63 tahun ketas sedangkan yang lahirsekitar tahun 2010 ketas angka harapan
hidupnya bisa mencapai 70 tahun ketas, dari tabel tergambar bahwa pata tahun
2009 angka harapan hidup mencapai 71, 7 tahun dan pada tahun 2013 naik menjadi
72,00 tahun.

Tabel 2.32
Angka Usia Harapan Hidup Kab. Pinrang 2009 – 2013

Tahun
N0 Indikator
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 47


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1 Angka Usia Harapan Hidup 71,7 72,06 71,72 71,9 72,00


(Thn)
Data : Dinas Kesehatan

2.2.2.9. Prosentase Balita Gizi Buruk

Penyebab terjadinya gizi buruk pada balita antara lain karena kurangnya asupan
gizi dan serangan penyakit infeksi. Faktor penyebab tidak langsung adalah
rendahnya daya beli dan ketidaktersediaan pangan yang bergizi, keterbatasan pengetahuan
tentang pangan yang bergizi terutama untuk ibu dan anak balita. Persentase Balita Gizi
Buruk di Kabupaten Pinrang pada tahun 2009 sekitar 0,36 % dan turun menjadi 0,12
% pada tahun 2010 penurunan dan pada tahun 2013 turun menjadi 0,018 %
penurunan ini ditunjang oleh tingkat kesadaran dan pengatahuan masyarakat serta
adanya peran pemerintah dalam melakukan program / kegiatan di bidang kesehatan
sedangkan untuk kasus gizi buruk pada balita untuk tahun 2009 sebanyak 86 jiwa
dan pada tahun 2013 turun menjadi 7 kasus balita gizi buruk.

Tabel 2.33
Persentase Balita Gizi Buruk Kab Pinrang 2009 – 2013

Tahun
N0 Indikator
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Persentase Balita gizi Buruk 0,36 0,12 0,097 0,075 0,018
(jiwa)

2 Jumlah kasus gizi buruk (balita) 86 36 24 23 7


(jiwa)
Data : Dinas Kesehatan

2.2.2.9. Prosentase Penduduk yang memiliki lahan bersertifikat


Luas Lahan di Kabupaten Pinrang tahun 2012 seluas 196.177 Ha. Dari Luas
lahantersebut terdapat5.344 Ha lahan milik masyarakat / penduduk yang berstatus
serifikat. Sedangkan rasiopenduduk yang memiliki lahan brsertifikat sekitar 0,015%

Tabel 2.34
Persentase Penduduk yang memiliki lahan bersertifikat
Tahun
NO Indikator
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Luas Lahan / Tanah ( Ha ) 196.177 196.177 196.177 196.177 196.177

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 48


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2 Jumlah Penduduk ( Jiwa ) 342.118 353.367 354.652 360.019 363.691


3 Jumlah lahan yg bersertifikat 12.170,2 12.262,7 12.360.8 12.486,3 12.656,4
(Ha)
4 Persentase Penduduk yang 3,56 3,47 3,48 3,47 3,48
memiliki lahan bersertifikat

2.2.2.10 Rasio penduduk yang Bekerja

Perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja


diperoleh rasio penduduk yang bekerja.Rasio penduduk yang bekerja terhadap
jumlah angkatan kerja tersebut selama tahun 2009 – 2013 mengalami peningkatan
setiap tahunnya. Rasio Penduduk yang bekerja pada tahun 2009 adalah 60,17 %
dan terus meningkat hingga pada tahun 2011 mencapai 64,50 % sedangkan pada
tahun 2012 menurun menjadi 54,96 % dan pada tahun 2013 dicapai 55,65 %
ketenagakerjaan merupakan masalah yang cukup mendasar dalam kehidupan
manusia karena mencakup aspek ekonomi dan sosial. Setiap upaya pembangunan
selalu diarahkan tidak hanya pada perluasan lapangan kerja akan tetapi kemudahan
dalam berusaha di semua sector ekonomi sehingga penduduk tidak hanya terlibat
tetapi juga dapat memperoleh manfaat langsung dari pembangunan sendiri.

Perkembangan sektor ketenagakerjaan secara tidak langsung dapat dilihat dari


besarnya keterlibatan penduduk dalam kegiatan ekonomi, atau dengan kata lain
keterlibatan penduduk dalam kegiatan ekonomi dapat diukur dari besarnya
penduduk yang memasuki pasar kerja.

Tabel 2.35
Rasio Penduduk Yang Bekerja Kab. Pinrang 2009 – 2013

No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013 Ket

1 2 3 4 5 6 7 8
1 Angkatan kerja (jiwa) 149.148 140.074 156.732 133.883 124.453
Bukan Angkatan Kerja
2 (Jiwa)
98.727 97.899 86.271 109.737 110.494
3 Jumlah (jiwa) 247.875 237.973 243.003 243.620 245.315
Tingkat Partisipasi
4 Angkatan Kerja (%)
60,17 58,86 64,50 54,96 52,07
Tingkat Pengangguran
5 terbuka ( % )
9,34 7,79 6,55 5,35 1,96
Data : BPS dan Disnakertrans

Tabel 2.36
Rasio penduduk yang Berkerja dengan Angkatan Kerja
Kabupaten Pinrang Tahun 2012

Angkatan Kerja
Golongan Umur Mencari Jumlah
Bekerja
Pekerjaan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 49


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1 2 3 4
15 – 19 6.077 1.337 7.414
20 – 24 10.890 1.497 12.387
25 – 29 17.363 1.945 19.308
30 – 34 19.310 497 19.807
35 – 39 15.894 0 15.894
40 – 44 17.955 921 18.876
45 – 49 14.102 144 14.246
50 -54 9.231 459 9.690
55 – 59 7.381 118 7.499
60 – 64 2.798 241 3.039
65 + 5.723 0 5.723
Total 126.724 7.159 133.883
Sumber :Data BPS dan Disnakertrans

2.2.3. Fokus Seni Budaya dan Olahraga


2.2.3.1 Jumlah Grup Kesenian & Prasarana Penyelenggaraan Seni & Budaya
dan Jumlah Klub Olahraga.
Perkembangan bidang seni , budaya dan Olah Raga sangat erat kaitannya
dengan kualitas hidup Manusia dan masyarakat. Pencapaian
Pembangunan Bidang oalah raga di Kabupaten Pinrang tergambar dari
ketersediaan sarana dan parasanaya sebagai mana gambaran dibawah ini

Table 2.37
Capaian Kinerja Seni Budaya dan Olah Raga Kabupaten Pinrang
Tahun 2009 - 2013

Tahun
N0 Indikator
2009 2010 2011 2012 2013 Ket

1 2 3 4 5 6 7 8

1 Jumlah Group Kesenian 33 33 34 34 35

2 Gedung Kesenian. 1 1 2 2 3

3 Jumlah Klub Olah raga 20 30 30 50 50

4 Jumlah Gedung Olah Raga 1 2 2 3 3

5 Jumlah Lap.Olah raga ( Stadion) 1 1 1 1 1

Sumber : Data BPS

2.3 ASPEK PELAYANAN UMUM


2.3.1 Fokus Layanan Urusan Wajib

Analisis kinerja atas layanan urusan wajib dilakukan terhadap indikator kinerja
penyelenggaraan urusan wajib pemerintahan daerah, yaitu bidang urusan
pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, perumahan, penataan ruang,

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 50


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

perencanaan pembangunan, perhubungan, lingkungan hidup, pertanahan,


kependudukan dan catatan sipil, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak,
keluarga berencana dan keluarga sejahtera, sosial, ketenagakerjaan, koperasi dan
usaha kecil menengah, penanaman modal, kebudayaan, kepemudaan dan olah
raga, kesatuan bangsa dan politik dalam negeri, otonomi daerah, pemerintahan
umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan
persandian, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat dan desa, statistik,
kearsipan, komunikasi dan informatika dan perpustakaan.

2.3.1.1. Urusan Pendidikan


a. Pendidikan Dasar
a.a. Angka Partisipasi Sekolah
Capaian kinerja urusan pendidikan diukur dengan indikator: Angka Partisipasi
Sekolah SD/MI, Rasio ketersediaan sekolah perpenduduk usia sekolah SD/MI,
Rasio ketersediaan sekolah perpenduduk usia sekolah SMP/MTs, Rasio guru: murid
SD/MI, Rasio guru: murid per kelas rata-rata SD/MI, Rasio guru: per kelas ratarata
murid SD /SMP/MTs, Angka Partisipasi Sekolah ( APS ) jenjang pendidikan dasar
SD dan SMP/ sederajat mengalami peningkatan setiap tahunnya kurun waktu
2009–2013
Tabel 2.38
Angka Partisipasi Sekolah Kab. Pinrang Tahun 2009 – 2013

Tahun
N0 Jenjang Pendidikan
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah Murid Usia 7- 12 tahun 52.332 50.340 51.292 51.710 48.309
2 Jumlah Penduduk Kelompok Usia
7-12 Tahun 46.908 47.478 48.080 48.705 48.977
3 APS / SD / MI 111.56 106.03 106.69 106.17 101,38
4 SMP / MTs
5 Jumlah Murid Usia 13 - 15 tahun 15.685 19.652 19.674 19.847 19.355
6 Jumlah Penduduk Kelompok Usia
13 - 15 Tahun 21.082 21.339 21,592 21,851 22.113
7 APS / SMP / MTs 74.40 92.10 91.12 90.83 88,52
Sumber : Data BPS

a.b. Rasio Ketersediaan Sekolah / Penduduk Usia Sekolah


Rasio Ketersediaan Sekolah terhadap penduduk usia sekolah adalah indikator untuk
mengukur kemampuan jumlah sekolah dalam menampung penduduk usia
pendidikan. Rasio ini bisa diartikan jumlah sekolah berdasarkan tingkat pendidikan
dengan jumlah penduduk usia pendidikan.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 51


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Selama kurun waktu 2009-2013 rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang


pendidikan SD/MI mengalami kenaikan, setelah periode sebelumnya mengalami
kenaikan yang disebabkan karena pertumbuhan penduduk tidak disertai dengan
peningkatan jumlah sekolah SD/MI. Pembangunan jumlah sekolah baru tidak
sebanding dengan peningkatan jumlah warga sekolah. Pada tahun 2013,
ketersediaan sekolah SD/MI di Kabupaten Pinrang Pada Tahun 2009 sekitar 351,
dan pada tahun 2013 berjumlah 348 dengan rasio 141

Tabel 2.39
Rasio Ketersediaan Sekolah/ Penduduk Usia Sekolah
Tahun 2009 -2013

Tahun
N0 Jenjang Pendidikan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 SD / MI
2 Jumlah Gedung sekolah 351 351 350 350 348
3 Jumlah Penduduk Klpk Usia 7-12 46.908 47.478 48.080 48.705 49.338
Tahun
4 Rasio 134 135 137 139 141
5 SMP / MTs
6 Jumlah Gedung sekolah 63 63 71 73 73
7 Jumlah Penduduk Klpk Usia 13-15 21.082 21.339 21.592 21.851 22.119
Tahun
8 Rasio 335 339 304 299 303
Sumber : Data BPS

a.c. Rasio Guru Terhadap Murid


Rasio guru terhadap murid adalah jumlah guru berdasarkan tingkat
pendidikan.Rasio ini mengindikasikan ketersediaan tenaga pengajar juga mengukur
jumlah ideal murid untuk satu guru agar tercapai mutu pengajaran. Selama kurun
waktu tahun 2009-2013 rasio ketersediaan guru di Kabupaten Pinrang mengalami
pasang surut untuk tahun 2009 ke tahun 2010 mengalami peningkatan untuk jenjang
pendidikan SD/MI, dan pada tahun 2013 rasio murid dgn guru pada tahun 2013
untuk SD/Mi sekitar 28 siswa ,artinya 1 guru melayani sekitar 28 murid.Untuk Rasio
Guru per kelas rata rata jenjang SMP / MTs pada tahun 2009 sebanyak 32 dan pada
tahun 2013 naik menjadi 35, arinya bahwa 1 guru SMP/MTs melayani (mengajar)
sekitar 35 orang / siswa.
Tabel 2.40
Rasio Guru Terhadap Murid 2009 - 2013

N0 Jenjang Pendidikan Tahun

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 52


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1. Jumlah Murid SD/MI 52.365 52.330 50.062 51.710 51.954

1.1 Jumlah Guru SD / MI 3.978 3.978 3.536 3.947 3.414

1.2 Rasio Murid Guru 13,16 13,15 14,15 13,10 15,21


Sumber: Data Dikpora

a.d. Rasio Murid Perkelas Rata Rata

Pada tahun 2009, rasio guru/kelas SD/MI terhadap jumlah murid yang berusia 6 -12
tahun di Kabupaten Pinrang adalah 1 : 26 pada tahun 2009, dan pada tahun 2013
menjadi 1 : 28 Interpretasi dari angka ditersebut adalah bahwa 1 kelas SD yang
dihuni oleh murid sekitar 26 – 28 siswa yang dilayani oleh seorang guru untuk
jenjang pendidikan SD/MI sedangkan untuk jenjang Pendidikan SMP/MTs rata rata
siswa perkelas pada tahun 2013 mencapai 35 siswa.

Tabel 2.41
Rasio Murid Perkelas Rata rata

Tahun
N0 Jenjang Pendidikan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1.1 Rasio guru: murid.per kelas rata- 26 27 27 28 28
rata SD/MI
1.2 Rasio guru: per kelas rata-rata 32 31 33 34 35
murid.SMP/MTs
Sumber : Dikpora

b. Pendidikan Menengah
b.a. Angka Partisipasi Sekolah
Angka Partisipasi Sekolah untuk jenjang pendidikan SMA / SMK / MA pada tahun
2009 adalah 39.73% dan pada tahun 2013 mencapai 72.70% atau mengalami
kenaikan sekitar 33 %.

Tabel 2.42
Angka Partisipasi Sekolah SMA / Sederajat 2009 – 2013

Tahun
N0 Jenjang Pendidikan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 53


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1.1 Jumlah Murid Usia 16 - 19 11.019 11,357 14,613 14,863 22.703


tahun

1.2 Jumlah Penduduk Kelompok 27,734 27,734 28,577 25,333 31.228


Usia 16 – 19 Tahun

1.3 APS SMA Sederajat 39.73 40.95 51.14 58.67 72,70

Sumber : Dikpora

b.b. Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah

Selama kurun waktu 2009-2013 rasio ketersediaan sekolah untuk jenjang


pendidikan SMA / Sederajat mengalami kenaikan, setelah periode sebelumnya
mengalami kenaikan yang disebabkan karena pertumbuhan penduduk tidak disertai
dengan peningkatan jumlah sekolah.Pembangunan jumlah sekolah baru tidak
sebanding dengan peningkatan jumlah warga sekolah. Pada tahun 2013,
perbandingan ketersediaan sekolah SMA / Sederajat di Kabupaten Pinrang adalah
1 : 656. Angka ini menunjukkan bahwa 1 sekolah SMA / Sederajat menampung656
siswa.
Tabel 2.42
Rasio Ketersediaan Sekolah/ Penduduk Usia Sekolah 2009 -2013

Tahun
N0 Jenjang Pendidikan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. SMA / SMK / MA

1.1 Jumlah Gedung sekolah 25 28 33 40 40


1.2 Jumlah Penduduk Klpk Usia 16 -19 27.734 27.734 28.577 25.333 26.233
th
1.3 Rasio 1.109 991 866 633 656
Sumber : Dikpora

b.c. Rasio Guru Terhadap Murid

Selama kurun waktu tahun 2009-2013 rasio ketersediaan guru di Kabupaten Pinrang
mengalami pasang surut pada jenjang pendidikan SMA /SMK/ MA untuk tahun
2009 ke tahun 2010 mengalami peningkatan, dan untuk tahun 2013 rasio murid
dengan guru pada tahun 2013 sekitar 22 siswa ,artinya 1 guru melayani sekitar 22
murid.

Tabel 2.43
Rasio Guru Terhadap Murid 2009 - 2013

Tahun
N0 Jenjang Pendidikan
2009 2010 2011 2012 2013

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 54


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Murid SMA/SMK/MA 10.052 10.052 11.257 13.808 16.643

1.1 Jumlah Guru SMA/SMK/MA 458 458 622 555 755

1.2 Rasio Guru terhadap Murid 22 22 18 25 22

Sumber: Data Dikpora

b.d. Rasio Guru Terhadap Murid Perkelas Rata Rata

Pada tahun 2009, rasio guru/kelas untuk jenjang pendidikan SMA /SMK/ MA
terhadap jumlah siswa yang berusia 16 – 19 tahun di Kabupaten Pinrang adalah 1 :
51 pada tahun2009, dan pada tahun 2013 menjadi 1 : 36 Interpretasi dari angka
ditersebut adalah bahwa 1 kelas SMA /SMK/ MA yang dihuni oleh murid sekitar
26– 28 siswa yang dilayani oleh seorang guru.
Tabel 2.44
Rasio Murid Perkelas Rata rata

Tahun
N0 Jenjang Pendidikan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1.1 Jumlah Guru 458 458 622 555 755
1.2 Jumlah Kelas 217 221 229 196 442
1.3 Rasio Guru / Kelas 2.11 2.07 2.72 2.83 1,72
1.4 Jumlah siswa 11.019 11.257 14.613 14.863 16.643
1.5 Rasio Jumlah Murid thdp jmlah 51 51 64 76 38
kelas
Sumber : Dikpora

c. Fasilitas Pendidikan

Sarana dan prasarana sangat penting dalam dunia pendidikan karena sebagai alat
penggerak suatu pendidikan. Sarana dan prasarana pendidikan dapat berguna
untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar mengajar, baik secara langsung
maupun tidak langsung dalam suatu lembaga dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan. Prasarana dan sarana pendidikan adalah salah satu sumber daya yang
menjadi tolok ukur mutu sekolah dan perlu peningkatan terus menerus seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup canggih.Dari
tabel dibawah ini menunjukkan bahwa ruang kelas untuk SD pada tahun 2009 dalam
kondis baik mencapai 1.807 dari 1890 total keseluruhan ruang kelas dan pada
tahun 2013 mencapai 1.306 dari 1.662 dari total keseluruhan ruang kelas yang ada.
Tabel 2.45
Fasilitas Pendidikan SD

Tahun
N0 Bidang / JUrusan
2009 2010 2011 2012 2013

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 55


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1 2 3 4 5 6 7
1.1 Jumlah Ruang Kelas SD Kondis baik 1.807 1.807 1.429 1.174 1.306

1.2 Jumlah Ruang Kelas Seluruh SD 1.890 1.890 1.863 1.662 1.662

1.3 Sekolah SD kondisi baik ( % ) 95.60 95.60 76,70 70,64 78,58

Sumber : Dikpora

Untuk fasilitas pendidikan, ruang kelas untuk SMP pada tahun 2009 dalam kondisi
baik mencapai 305 dari 396 total ruang kelas atau persentasenya sekitar 70.02 %
dan pada tahun 2013 ruang kelas dalam keadaan baik mencapai 443 dari total 511
ruang kelas atau pada kisaran 86.69%, atau mengalami kenaikan sekitar 15 %.

Tabel 2.46
Fasilitas Pendidikan SMP

Tahun
N0 Bidang / JUrusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1.1 Jumlah Ruang Kelas SMP Kondisi baik 305 305 442 443 443

1.2 Jumlah Ruang Kelas Seluruh SMP 396 396 530 511 511

1.3 Sekolah SMP kondisi baik ( % ) 70,02 70,02 83,40 86,69 86,69

Sumber : Dikpora

Pada tabel dibawah ini menunjukkan bahwa ruang kelas untuk SMA pada tahun
2009 dalam kondis baik mencapai 166 dari total 199 ruang kelas keseluruhan atau
mencapai 83.42 % dan pada tahun 2013 mencapai 165 dari 181 keseluruhan ruang
kelas atau sekitar 91.16% yang artinya mengalami peningkatan sekitar 8%.

Tabel 2.47
Fasilitas Pendidikan SMA

Tahun
N0 Bidang / JUrusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1.1 Jumlah Ruang Kelas SMA / SMK Kondis baik 166 166 175 140 165

1.2 Jumlah Ruang Kelas Seluruh SMA/SMA 199 199 194 161 181

1.3 Sekolah SMA / SMK kondisi baik (% ) 83,42 83,42 90,20 86,96 91,16

Sumber : Dikpora

d. Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD )


Pendidikan Anak Usia Dini ( Paud ) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang
pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi
anak anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pembinaan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 56


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

ransangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani


dan rohani agar anak memeliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut,
yang diselenggarakan pada jalur formal , non formal dan informal. Perkembangan
pendidikan Anak Usia Dini di Kabupaten Pinrang pada tahun 2009 – 2013 khusus
untuk APK, pada tahun 2009 mencapai sebesar 8,98 % dan pada tahun 2013
sebesar 14,3 % atau mengalami kenaikan 5,42 % sebagai mana digambarkan pada
tabel berikuit :
Tabel 2.48
Pendidikan Anak Usia Dini tahun 2009-2013

Tahun
N0
Bidang / JUrusan 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah murid pada jenjang TK 5.693 11.561 5.748 8.158 8.555
2 Jumlah Anak Usia 4 – 6 tahun 63.390 64.198 55.595 58.868 60.504
3 PAUD (%) 8.98 18.00 10.33 13,85 14,13
Sumber : BPS, Dikpora

e. Angka Putus Sekolah


Angka Putus Sekolah pada Usia Sekolah 7-12 tahun ( SD / MI ), untuk usia 13 -15
tahun ( SMP / MTs ), dan Usia 16 – 19 Tahun adalah untuk ( SMA / SMK / MA ). Di
Kabupaten Pinrang untuk priode tahun 2009 – 2014 mengalami kenaikan.Angka
putus Sekolah usia 7 – 12 (SD/MI) pada tahun 2009 sebesar 133 dan pada tahun
2012 menjadi 42 % atau mengalami penurunan. Demikian halnya angka putus
sekolah pada jenjang usia 13 – 15 tahun ( SMP/MTs) mengalami penurunandari 183
pada tahun 2009 menjadi 105 pada tahun 2013, sedangkan untuk jenjang
pendidikan usia 16 – 19 tahun ( SMA/ SMK ./ MA ) mengalami penurunan dimana
pada tahun 2009 sebesar 93 dan pada tahun 2013 menjadi 60.
Tabel 2.49
Angka Putus Sekolah 2009 -2013

Tahun
N0
Bidang / JUrusan 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Angka Putus Sekolah SD / MI 133 133 88 42 37
2 Angka Putus Sekolah SMP/MTs 183 196 120 105 96
3 Angka Putus Sekolah SMA/SMK/MA 93 91 84 75 60
Sumber : Data BPS, Dikpora

f. Angka Kelulusan

Angka kelulusan menurut jenjang pendidikan di Kabupaten Pinrang selama kurun


waktu 2009 – 2013 yaitu angka kelulusan SD pada tahun 2009 sebesar 7.727 dan
selama tiga tahun berturut-turut angka kelulusan untuk SD menghapiri 100 %.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 57


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

sedangkan angka kelulusan untuk SMP sebesar 4.523 pada tahun 2009 dan pada
tahun 2012 6.231 dengan rata rata 99,9 %. Sementara anagka kelulusan untuk SMA
dan SMK pada tahun 2011 sebesar 1.885 dan pada tahun 2012 menjadi 2.151
dengan akumulasi rata rata 99, 90 %
Tabel 2.50
Angka Kelulusan Sekolah 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / JUrusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Angka Kelulusan SD 7.727 7.727 7.469 8.050 8.000
2 Angka Kelulusan SMP 4.523 4.523 5.627 6.231 6.031
3 Angka Kelulusan SMA - - 1.885 2.151 2.237
4 Angka kelulusan SMK - - 1.524 1.680 1.747
Sumber : Data BPS, Dikpora

f.a. Angka Melanjutkan ( AM ) dari SD/MI ke SMP/MTS dan dari SMP /MTS ke
SMA/SMK
Berdasarkan data menunjukkan bahwa angka melanjutkan pendidikan dari
jenjang SD/MI kejenjang SMP/MTs untuk kurun waktu 2009 – 2013 mengalami
peningkatan setiap tahun, pada tahun 2009 angka melanjutkan dari SD /MI ke
SMP/MTs dicapai 99,00 % dan pada tahun 2013 menjadi 99,99 %. Untuk
jenjang melanjutkan dari SMP/MTs ke jenjang SMA / SMK pada tahun 2009
dicapai 99,75 % dan pada tahun 2014 dicapai 99,90 % atau mengalami
kenaikan setiap tahunnya hal ini menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat /
siswa untuk melanjukan pendidikannya ketingkat yang lebih tinggi sangat
menonjol sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus Dari Pemerintah.

Tabel 2.51
Angka Melanjutkan Sekolah Sekolah 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / JUrusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Angka Melanjutkan (AM ) dari SD/MI ke
SMP/ MTs ( % ) 99 99 99 99,99 99,99

2 Angka Melanjutkan (AM ) dari SMP/MTs


99,75 99,75 99,80 99,80 99,90
ke SMA / SMK ( % )
Sumber : Data BPS, Dikpora

f.b. Guru yang Memenuhi kualifikasi S1 / D IV

Kulaifikasi guru adalah keahlian yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan guru
dengan melalui pendidikan khusus keahlian, Guru yang qualified adalah guru yang
memenuhi kualifikasi pendidikan yang telah dietapkan berdasarkan ketentuan yang

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 58


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

berlaku. Artinya guru pada tiap satuan pendidikan harus memenuhi kulaifikasi
akademik dengan bidang keilmuan yang relefan dengan bidang studi atau mata
pelajaran yang mereka ajarkan di sekolah sehingga mereka disebut kompoten untuk
bidang pekerjaannya.Guru yang memenuhi kulifikasi S1 / D IV.Pada tahun 2009
jumlah guru yang memenuhi sebanyak 5.870 guru dan pada tahun 2014 menjadi
5.920 guru.

Tabel 2.52
Guru yang Memenuhi Kualifikasi S1 – D IV tahun 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah Guru Ijaza S1 - D IV 5.870 5.883 5.894 5.900 5.920

2 Jumlah Guru SD - SMA 5.888 5.893 5.902 5.915 5.937

3 Guru Memenuhi Kulaifikasi S1- D IV 99,69 99,83 99,86 99,75 99,71

Sumber : Dikpora

2.3.1.2 Kesehatan
a. Rasio Posyandu Persatuan Balita
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya
Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan
bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna
memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat
dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan
angka kematian ibu dan bayi. Pengintegrasian layanan sosial dasar di Posyandu
adalah suatu upaya menyinergikan berbagai layanan yang dibutuhkan masyarakat
meliputi perbaikan kesehatan dan gizi , pendidikan dan perkembangan anak,
peningkatan ekonomi keluarga , ketahanan pangan keluarga dan kesejahteraan
sosial.
Pelayanan kesehatan dasar di Posyandu adalah pelayanan kesehatan yang
mencakup sekurang-kurangnya 5 (lima) kegiatan, yakni Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA), Keluarga Berencana (KB), Imunisasi , Gizi, dan penanggulangan diare.
Sasaran Posyandu adalah seluruh masyarakat utamanya adalah bayi, Anak Balita,
Ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui, Pasangan Usia Subur (PUS).
Berdasarkan data tersebut dibawah ini menunjukkan jumlah posyandu dan jumlah
balita yang ada di Kabupaten Pinrang kurun waktu 2009 – 2013 mengalami
peningkatan, pada tahun 2009 jumlah posyandu sebanyak 350 Dan pada tahun
2013 manjadi 354, dan untuk jumlah balita pada tahun 2009 sebanyak 24.477anak

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 59


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

dan pada tahun 2013 menjadi 24.175 Balita atau menagalami penurunan sekitar
302 Balita.
Tabel 2.53
Rasio Posyandu persatuan balita Tahun 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah Posyandu 350 353 353 353 354

2 Jumlah Balita 24.477 23.738 23.267 23.343 24.175

3 Rasio Posyandu Persatuan Balita 14.43 14,90 15,10 15,10 14,60

Sumber : Dinkes

b. Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu Persatuan Penduduk


Rasio Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di Kabupaten Pinrang apada tahun
2009 sebesar 0,20 Dan pada tahun 2013menjadi 0,17 % atau mengalami
penurunan sekitar 0,03%
Tabel 2.54
Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu Persatuan Penduduk Kab. Pinrang
Tahun 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7

Jumlah Puskesmas dan


1
Jumlah Pustu 67 61 61 62 62

2 Jumlah Penduduk 342.119 350.925 353.367 354.652 360.019


Rasio Puskesmas, pustu
3
persatuan Penduduk 0.2 0.17 0.17 0.18 0.17
Sumber : Dinkes

c. Rasio Rumah Sakit Persatuan Penduduk


Penyediaan sarana dan Prasarana Rumah Sakit Oleh Pemerintah adalah untuk
melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan
mengutamakan upaya penyembuhan dan pemeliharaankesehatan yang
dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan
pencegahan kesehatan masayakarat serta melaksanakan rujukan.

Pada tahun 2009 Jumlah Rumah sakit di kabupaten Pinrang sebanyak 3 Unit , dan
pada tahun 2013 menjadi 3 Unit, dalam jangka waktu lima tahun tidak terjadi
penambahan rumah sakit akan tetapi fasilitas dan kelengkapan lainnya tetap
menjadi kebutuhan utama .

Tabel 2.55

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 60


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Rasio Rumah Sakit Persatuan Penduduk Kab. Pinrang Tahun 2009 -2013
Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah Rumah Sakit Negeri 1 1 1 1 1
2 Jumlah Rumah Sakit Swasta 2 2 2 2 2
3 Total R.Sakit Negeri dan 3 3 3 3 3
Swasta
4 Jumlah Penduduk 342.119 350.925 353.367 354.652 360.019
5 Rasio Rumah Sakit dan 0.0088 0.0086 0.0085 0.0085 0.0083
Penduduk
Sumber : BPS, Dinkes

d. Rasio Dokter Persatuan Penduduk


Jumlah Dokter di kabupaten Pinrang pada tahun 2009 sebanyak 48 Dokter, pada
tahun 2014 bertambah menjadi 60 dokter dengan rasio pada tahun 2009 sekitar
0,14 dan tahun 2013 sekitar 0,17 hal ini menunjukkan kenaikan yang tidak dibarengi
dengan peningkatan jumlah penduduk yang akan dilayani.

Tabel 2.56
Rasio Dokter Persatuan Penduduk Kab. Pinrang Tahun 2009 - 2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah Dokter Umum 34 34 39 46 36
2 Jml Dokter Spesialis &Gigi 14 17 19 24 24
3 Total Dokter 48 56 58 70 60
4 Jumlah Pendudk 342.119 350.925 354.652 360.019 361.293
5 Rasio Dokter Persatuan Penduduk 0.14 0.16 0.16 0.19 0.17
Sumber : Dinkes

e. Rasio Tenaga Medis Persatuan Penduduk.


Jumlah Tenaga Medis di kabupaten Pinrang kurun waktu 2009 – 2013 mengalami
penambahan jumlah dimana pada tahun 2009 jumlah tenaga medis sekitar 48
orang dan pada tahun 2014 naik menjadi 60 orang dengan rasio tenaga medis
dengan jumlah penduduk sekitar 0,17
Tabel 2.57
Rasio Tenaga Medis Persatuan Penduduk Kab. Pinrang
Tahun 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 61


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah tenaga Medis 48 56 58 70 60
2 Jumlah Penduduk 342.119 350.925 353.367 354.652 360.019
3 Rasio Tenaga Medis 0.14 0.16 0.16 0.20 0.17
Persatuan Penduduk
Sumber : Dinkes

f. Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh tenaga Kesehatan yang Memeliki


kompetensi Kebidanan

Ibu Hamil dengan Komplikasi yang Ditangani adalah Ibu hamil dengan komplikasi di
satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang ditangani sesuai dengan standar
oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas, Perawatan dan Rumah Sakit
pemerintah/swasta dengan fasilitas PONED dan PONEK (pelayanan Obstetrik dan
Neonatal Emergensi Dasar dan Pelayanan Obstetrik dan Neonatal emergensi
Komprehensif) dimana pada tahun 2009 cakupan pertolongan persalinan oleh
tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan pada tahun 2009 sebanyak
98,84 %. dan pada tahun 2013 sebanyak 96,08 % perkembangan ini menunjukkan
bahwa resiko kematian ibu melahirkan dapat ditekan sekecil mungkin.

Tabel 2.58
Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan yang Memeliki Kompetensi
Kebidanan Kab. Pinrang Tahun 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah Ibu Hamil 8.705 8.400 8.420 7.332 7.415
2 Jumlah Bidan 145 146 170 169 160
3 Cakupan pertolongan persalianan
olehtenaga kesehatan yang 98.84 95,00 97,00 104,00 96,08
memiliki kopetensi kebinanan ( % )
Sumber : Dinkes

g. Cakupan Desa / Kelurahan Universal Child Immunization (UCI )


Salah Satu target keberhasilan program imunisasi adalah tercapainya UCI yang
merupakan cakupan imunisasi dasar lengkap bayi secara merata pada bayi di
seluruh desa/kelurahan Sesuai dengan Keputusan Menkes Ri dan Riskesdas (2010)
menyatakan UCI adalah suatu keadaaan tercapainya imunisasi dasar secara
lengkap pada semua bayi (anak dibawah umur 1 tahun). Pertumbuhan pencapaian
Desa/Kelurahan UCI selama ini belum secara merata mencapai 100% bahkan
masih banyak yang belum mencapai target. Dari data di bawah ini menunjukkan
bahwa dari 108 Desa Kelurahan yang baru terjangka UCI pada tahun 2009

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 62


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

sebanyak 94 Desa dan pada tahun 2013 sudah mencapai 101 Desa/Kel atau
sekitar 93,52 %.

Tabel 2.59
Cakupan Desa / Kelurahan Universal Child Immunization (UCI ) Kab. Pinrang Tahun
2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah Desa/ Kelurahan UCI 94 64 102 102 101

2 Jumlah Seluruh Desa/Kelurahan 104 104 104 108 108

3 Cakupan desa/ Kelurahan Universal

Child Immunization (UCI ) 90.4 61,54 98,08 98,08 93.52

Sumber : Dinkes

h. Cakupan Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan


Cakupan Balita gizi buruk di kabupaten Pinrang yang mendapat perawatan sudah
mencapai 100% pada tahun 2014. Sejak tahun 2009 perawatan gizi buruk pada
anak sudah ditangani melalui penyediaan sarana dan prasarana kesehatan dimana
pada tahun 2009 yang mendapat perawatan sebanyak 86 bayi dan pada tahun
2013 menjadi 7 bayi.
Tabel 2.60
Cakupan Balita Gizi Buruk yang Mendapat Perawatan Kab. Pinrang
Tahun 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah Balita gizi buruk yg
mendapat Perawatan di sarana 86 36 24 23 7
Kesehatan
2 Jumlah seluruh Balita Gizi Buruk yg
ditemukan 86 36 24 23 7
3 Cakupan Balita Gizi Buruk yg
mendapat Perawatan 100 100 100 100 100
Sumber : Dinkes

I. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC / BTA

Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC /BTA selama kurun
waktu tahun 2009-2013 pada dasarnya menunjukkan trend penurunan. Kenaikan
penderita baru hanya terjadi pada kurun waktu 2009-2010.Selanjutnya kuantitas
penderita terus mengalami penurunan sampai tahun 2013. Angka sebagaimana

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 63


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

ditunjukkan tabel 52 di bawah sesungguhnya menunjukkan Fluktuasi penurunan


yang masih rendah. Hasil survey menunjukkan bahwa hal tersebut disebabkan oleh
sikap sebagian masyarakat yang dropout dalam berobat.Secara lebih detail,
perkembangan cakupan tersebut dapat dilihat pada table dibawah ini.

Tabel 2.61
Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC / BTA Kab. Pinrang
Tahun 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah penderita baru TBC / BTA
yang ditemukan dan diobati disuatu 277 452 381 369 358
wilayah
2 Jumlah Perkiraan Penderita baru
TBC / BTA 1.634 2.170 993 567 2.845
3 Cakupan Penemuan dan 100 88,42 100 100 100
penanganan Penderita Penyakit
TBC / BTA
Sumber : Dinkes

j. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita penyakit DBD


Penyakit-penyakit yang ditularkan vektor dan menjadi masalah kesehatan di
indonesia adalah malaria, filariasis dan demam berdarah. Penularannya dari orang
ke orang dengan perantaraan nyamuk, demam berdarah sendiri ditularkan oleh
nyamuk Aedes aegypti dan Aedesalbopictus. Penyakit DBD dapat dijumpai di
daerah subtropik dan tropik dari data tersebut dibawah ini menunjukkan bahwa julah
penderita DBD yang ditangani pada tahun 2009 sebanyak 731Penderita, dan pada
tahun 2013 sebanyak 394 penderita dan cakupan penanganannya rata rata 100 %.
Tabel 2.62
Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit DBD Kab. Pinrang Tahun
2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah penderita DBD yang 731 550 51 48 394
ditangani sesuai SOP
2 Jumlah Penderita DBD yang 731 622 51 48 394
ditemukan
3 Cakupan Penemuan dan Penangan 100 88,42 100 100 100
Penyekit DBD
Sumber : Dinkes

k. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin


Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin adalah jumlah
rujukan pasien masyarakat miskin dibagi dengan jumlah pasien masyarakat miskin
kali 100 diwilayah dalam kurun waktu yang sama.Cakupan ini tergantung pada
kondisi kesehatan masyarakat miskin sehingga cakupannya tidak 100%. Namun

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 64


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

pasien masyarakat miskin yang datang ke sarana kesehatan semuanya tertangani.


Pada tahun 2009 kunjungan pasien miskin sebanyak 50.267 pasien danh pada
tahun 2012 kunjungan mencapai 107.396 pasien dan pada tahun 2013 turun
menjadi 89.735 pasien .
Tabel 2.63
Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin Kab. Pinrang
Tahun 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah kunjungan pasien 50.267 52.943 96.042 107.396 89.735
miskin
2 Jumlah seluruh masyarakat 78.500 78.500 78.500 78.500 124.156
miskin
3 Cakupan pelayanan
kesehatan rujukan pasien 100 100 81 100 100
masyarakat miskin
Sumber : Dinkes

l. Cakupan Kunjungan Bayi


Cakupan kunjungan bayi adalah jumlah kunjungan bayi yang memperoleh
pelayanan kesehatan sesuai standar dalam kurun waktu tertentu dibagi dengan
jumlah seluruh bayi lahir hidup di satu wilayah dalam kurun waktu yang sama.
Cakupan bayi yang mendapatkan pelayanan paripurna minimal 4(empat) kali, pada
kurun waktu 2009-2013 cenderung fluktuatif,pada tahun 2009 Jumlah kunjungan
bayi yg memperoleh pelayanan kesehatan sebanyak 7.203 bayi Dan pada tahun
2013 turun menjadi 6.978 bayi.

Tabel 2.64
Cakupan Kunjungan Bayi Kab. Pinrang Tahun 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Jumlah kunjungan bayi yg
memperoleh pelayanan kesehatan 7.203 7.084 7.315 6.323 6.978
2 Jumlah seluruh bayi hidup pada
waktu yg sama
7.203 7.741 7.434 6.424 7.290
Sumber : Dinkes

2.3.1.3. Pekerjaan Umum


a. Proporsi Panjang Jaringan Jalan
Salah satu kebutuhan masyarakat yang sangat krusial adalah tersedianya jalur
transportasi berupa jaringan jalan yang baik.Kebutuhan jalan memiliki keterkaitan
yang sangat kuat dengan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah maupun terhadap

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 65


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

kondisi sosial budaya kehidupan masyarakat.Infrastruktur jalan yang baik adalah


modal sosial masyarakat dalam menjalani roda perekonomian, sehingga
pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak mungkin dicapai tanpa ketersediaan
infrastruktur jalan yang baik dan memadai.

Tabel 2.65
Proporsi Panjang Jalan Kab. Pinrang 2009 -2013

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1 Kondisi Baik ( Km ) 117,4 115,6 120,4 131,5 161,38
2 Kondisi Sedang ( Km ) 225,6 240,3 230,5 239,20 150,99
3 Kondisi Rusak Ringan ( Km ) 270,8 263,6 282,3 300,68 308,54
4 Kondisi Rusak Berat ( Km ) 110,8 105,1 91,4 53,22 103,69
5. Total Panjangan jalan 724,60 724,60 724,60 724,60 724,60
Keseluruhan
Sumber Data : Dinas PUD

Tabel 2.66
Proporsi Panjang Jaringan Jalan Kab. Pinrang tahun 2011

Kondisi Baik Kondisi Sedang Kondisi Rusak Ringan


N0
Pinrang Nasional Provinsi Kab Nasional Provinsi Kab Nasional Provinsi Kab

1 Pinrang 70,315 22,29 135,38 0 25,96 243,06 0 5,43 304,54


(Km)

Sumber data : RPJMD Provinsi Sul Sel

b. Rasio Jaringan Irigasi


Dalam Upaya Memenuhi kebutuhan irigasi untuk mendukung pancapaian target
Overstock Pangan dan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dilakukan
upaya peningkatan dan perbaikan jaringan irigasi dan peningkatan luas layanan
jaringan irigasi pada luas areal budi daya 47,108 Km dengan rasio 17, 71 pada
tahun 2012, sedangkan pada tahun 2013 lahan budi daya sekitar 47.763 hal
dengan rasio 17,47 hal ini mencerminkan peningkatan pengelolaan jaringan irigasi
dari tahun sebelumnya.

Tabel 2.67
Rasio Jaringan Irigasi

Tahun
N0
Jaringan Irigasi 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 66


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1. Jaringan Primer 45,826 45,826 45,826 45,826 45,826


2. Jaringan Sekunder 402,332 402,332 402,332 402,332 402,332
3. Jaringan Tersier 386,210 386,210 386,210 386,210 386,210
4. Luas lahan Budi Daya 46,951 47,001 47,008 47,108 47,763
5 Rasio 17,77 17,75 17,75 17,71 17,47
Sumber Data : Data diolah dari Dinas PSDA

Luas Luas Kebutuhan Pasokan Pasokan Total


Ranca Lahan iair Air Air Irigasi Pasok PIA PIR PAR
N0 Uraian IA
ngan Terairi tanaman irigasi Total air (Lt/Dtk) (Lt/Dtk) (Lt/Dtk)
(%)
(Ha) (Ha) (Ha) (La /dtk) (Ha) (la/dti) / Ha / Ha / Ha

1. Pinrang 54,27 47,108 1,25 4 1,4 5 0,0001 1,12 4 0,8


7 7

Sumber data : RPJMD Provinsi Sul Sel 2012

c. Rasio tempat Ibadah


Ketersediaan tempat ibadah merupakan salah satu dari pelayanan sarana dan
prasarana umum yang disediakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat.
Tempat ibadah yang tersedia dibandingkan dengan jumlah penduduk Kab. Pinrang
pada tahun 2009 tempat ibadah sebanyak 480 dan pada tahun 2013 bertambah
menjadi 503 dengan rasio 1,39.
Tabel 2.68
Rasio Tempat Ibadah

Tahun
N0 Jaringan Irigasi
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Mesjid 397 480 429 435 435
2. Langgar 62 5 5 5 5
3. Mushallah 51 45 46 46
4 Gereja 21 21 9 8 8
Jumlah tempat Ibadah 480 557 488 503 503
5. Jumlah Penduduk 342.118 353.367 354.652 360.019 361.293
Rasio Tempat Ibadah Persatuan 1.40 1.58 1.38 1,40 1,39
Penduduk
Sumber Data : Data diolah Kabupaten Pinrang dalam Angka

d. Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPs) Persatuan Penduduk


Ketersediaan Sarana dan prasarana dasar permukiman berupa air minum dan
sanitasi secara merata dan berkelanjutan turut menentukan kesejahteraan
masyarakat. Pengelolaan persampahan di Kabupaten Pinrang sudah menunjukkan
kinerja yang baik dengan indicator Rasio daya Tampung TPS terhadap jumlah
penduduk pada tahun 2009 sekitar 0,015 dan pada tahun 2013 sebanyak 0,05.

Tabel 2.69

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 67


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Rasio Tempat Pembuangan Sampah (TPs) Persatuan Penduduk

Tahun
N0
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah TPS ( unit ) 13 17 17 21 30
2. Jumlah daya Tampung TPS ( M ³) 52 68 68 84 212
3. Jumlah Penduduk ( Jiwa ) 342.118 353.367 354.652 360.019 364.700
4. Rasio Daya Tampung TPs terhadap 0,015 0,019 0,019 0,020 0,05
jumlah Penduduk

Sumber Data : Dinas KPK Kab. Pinrang

e. Rasio Rumah Layak Huni


Rumah Layak huni merupakan harapan dan idaman setiap insan. Pemerintah telah
berupaya dalam meningkatkan hunian masyarakat terutama masyarakat yang
berpenghasilan rendah dan kurang mampu dengan tujuan mendorong masyarakat
lain untuk berpartisipasi dan peduli terhadap sesama warga, sampai pada tahun
2009 rumah yang layak huni mencapai 58.409 unit dan pada tahun 2013 naik
menjadi 62.430 unit dengan rasio 0,171.

Tabel 2.70
Rasio Rumah Layak Huni
Tahun
N0 Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Rumah yg Layak Huni 58.409 60.402 60.859 62.433 62.430
2. Jumlah Penduduk 342.118 353.367 354.652 360.019 364.700
3. Rasio Rumah Layak Huni 0,171 0,171 0,172 0,173 0,171
Sumber Data : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pinrang

f. Rasio Permukiman Layak Huni


Rasio permukiman layak huni dari tahun ketahun semakin meningkat, seperti yang
terlihat pada tabel, luas permukiman layak huni pada tahun 2009 sebesar 5.135 Ha
dan pada Tahun 2013 meningkat menjadi 5.350 ha, hal menunjukkan bahwa
peningkatan luas areal permukiman dibarengi juga dengan peningkatan kualitas
rumah layak huni.

Tabel 2.71
Rasio Permukiman Layak Huni
Tahun
N0 Bidang / Urusan 2009 2010 2011 2012 2013

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 68


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1 2 3 4 5 6 7
1. Luas area permukiman layak huni (Ha ) 3.944 4.042 4.144 4.219 4.312
2. Luas areal permukiman keseluruhan (Ha) 5.462 5.482 5.499 5.516 5.531
3. Rasio Permukiman Layak Huni (Ha) 0,72 0,74 0,75 0,76 0,78

g. Tabel lingkungan Permukiman Kumuh


Kawasan permukiman perkotaan di kota kota besar di Indonesia identik dengan
adanya kawasan permukiman kumuh. Lingkungan permukiman kumuh umumnya
didiami oleh golongan menengah kebawah , untuk Kabupaten Pinrang pada tahun
2009 sebanyak 22 Ha Dan pada tahun 2013 sebanyak 19,5 ha dengan persentase
lingkungan permukiman kumuh pada tahun 2009 sampai tahun 2014 sekitar 0,017
%
Tabel 2.72
Lingkungan Permukiman Kumuh

Tahun
N0
Bidang / Urusan 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Luas Kawasan Kumuh ( Ha ) 22 21 20,6 20 19,5
2. Luas Wilayah Kota ( Ha ) 1.082 1.093 1.099 1.110 1.121
3. Persentase Lingkungan Permukiman 0,020 0,019 0,019 0,018 0,017
Kumuh
Sumber Data : Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pinrang

2.3.1.4 Perumahan

a. Rumah Tangga Bersanitasi


Rumah tangga bersanitasi sekurang kurangnya mempunyai akses untuk
memperoleh layanan sanitasi yaitu fasilitas air besih, pembuangan air besar ( tinja ),
pembunagan air limba ( air bekas ) dan tempat pembuangan sampah dan
mempunyai pengaruh besar terhadap derajat kesehatan masyarakat. Persentase
rumah tangga yang bersanitasi dapat dilihat dari data pada tahun 2009 sebanyak
79,92 % dan pada tahun 2013 menjadi 83,43 % , hal ini menunjukkan tingkat
perkembangan atas kebutuhan sanitasi masih belum optimal sehingga dibutuhkan
kerja keras untuk mencapai angka diatas nilai kewajaran atau target universal akses
yakni akses sanitasi yang layak 100 %.

Tabel 2.73
Rumah Tangga Bersanitasi

N0 Tahun

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 69


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Bidang / Urusan 2009 2010 2011 2012 2013


1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Rumah tangga Bersanitasi 64.650 65.742 68.668 69.396 70.400
2. Jumlah Rumah Tangga 80.894 81.914 82.761 83.610 84.384
3. Persentase 79,92 80,26 82,97 83 83,43
Sumber Data : POKJA AMPL Kab. Pinrang

b. Lingkungan Permukiman Kumuh

Lingkungan pemukiman kumuh di Kabupaten Pinrang pada tahun 2009 sebesar 163
dan pada tahunh 2013 mengalami penurunan yang cukup signifikan hingga
mencapai 153 Penurunan persentase pemukiman kumuh ini dibarengi dengan
meningkatnya kualitas pemukiman lingkungan. Secara detail dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 2.74
Lingkungan Kumuh Kabupaten Pinrang

Tahun
N0 Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Luas Area Lingkungan Kumuh 163 161 158 155 153
2. Luas Area permukiman 5.462 5.482 5.499 5.516 5.531
keseluruhan
3. Persentase lingkungan kumuh 2,98 2,94 2,87 2,81 2,27
Sumber Data :Dinas Pekerjaan Umum Kab. Pinrang

2.3.1.5. Penataan Ruang


a. Rasio Ruang Terbuka Hijau Per Satuan Luas Wilayah Ber HPL / HGB
Rasio ruang terbuka hijau per satuan HPL/HGB dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan, pada tahun 2012 sebesar 50,19 .peningkatan rasio ini tentunya tidak
lepas dari peran pemerintah yang meningkatkan ruang terbuka hijau.

Tabel 2.75
Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber PHL/HGB

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Luas Ruang Terbuka Hijau 429,38 429,38 438,14 451,69 451,69
2. Luas Wilayah ber HPL/HGB 8,60 8,60 8,85 9,00 9,00
(Km²)
3. Luas Wilayah 1.961,77 1.961,77 1.961,77 1.961,77 1.961,77
4. Rasio Ruang Terbuka Hijau 1/2) 49,93 49,93 49,50 50.19 50,19
Sumber data : RPJMD Sulsel

2.3.1.6. Perencanaan Pembangunan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 70


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Ketersediaan dokumen perencanaan yang telah diPerdakan sangat diperlukan


dalam tahap proses pelaksanaan pembangunan yang berupa dokumen RPJPD,
RPJMD dan RKPD, Renstra SKPD

Tabel 2.76
Ketersediaan dokumen Rencana Pembangunan Daerah dan Rencana SKPD (yang
telah ditetapkan dengan Perda)

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Tersedianya Peraturan Daerah Kabupaten Pinrang N0. 1 1Tahun 2009 Tentang
Dokumen RPJPD Rencana Pembangunan Jangka Panjang daerah Kab. Pinrang tahun
2009 – 2029

2. Tersedianya Peraturan Bupati Pinrang N0. 15 Tahun 2009 tentang Rencana


Dokumen RPJMD Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kab. Pinrang Tahun 2009
– 2014

3. Tersedianya Peraturan Peraturan Peraturan Peraturan Peraturan


Dokumen RKPD Bupati Bupati Bupati Bupati Bupati
Pinrang Pinrang Pinrang Pinrang N0. Pinrang N0.
N0. 18 N0. 10 N0. 15 37 tahun 23 Tahun
Tahun Tahun Tahun 2012 2013 tentang
2009 2010 2011 tentang Rencana
tentang tentang tentang Rencana Kerja
Rencana Rencana Rencana Kerja pemerintah
Kerja Kerja Kerja pemerintah Daerah
pemerintah pemerintah pemerintah Daerah Tahun 2014
Daerah Daerah Daerah Tahun 2013
Tahun Tahun Tahun
2010 2011 2012

4 Tersedianya
Dokumen Renstra 43 43 43 43 43
SKPD
Sumber data : Bappeda Kab. Pinrang

2.3.1.7. Perhubungan
a. Jumlah Arus Penunpang Angkutan Umum
Jumlah arus penumpang angkutan penumpang umum dari tahun ke tahun
mengalami peningkatan, ini tentunya harus menjadi perhatian yang serius yang
mesti dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan dan infrastruktur.

Tabel 2.77
Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum

Tahun
N0
Bidang / Urusan 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah penumpang
1.076.703 827.589 827.739 997.739 997.812
bis/angkutan umum
2. Total jumlah penumpang 1.076.703 827.589 827.739 997.739 997.812
Sumber data : Dishub & Infokom

b. Jumlah Uji KIR Angkutan Umum

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 71


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Uji kir adalah serangkaian kegiatan menguji dan/atau memeriksa bagian-bagian


kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus
dalam rangka pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan laik jalan.

Tabel 2.78
Jumlah Uji KIR Angkutan Umum

Tahun
N0
Bidang / Urusan 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Mobil Penumpang Umum 348 352 360
2. Mobil Bus 56 59 51
3. Mobil Barang 1.190 1.970 2.770
Jumlah KIR 0 0 1.594 2.381 3.181
Sumber data : Dishub & Infokom

c. Jumlah Pelabuhan Laut / Udara / Terminal Bus


Jumlah pelabuhan laut, udara dan terminal bis di Kabupaten Pinrang tidak
mengalami perubahan yang signifikan kecualia pada tahun 2013 pembangunan
pelabuhan marabombang dan sampai sekarang masih dalam tahap penyempurnaan

Tabel 2.79
Jumlah Laut, udara dan terminal bis

Tahun
N0 Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah pelabuhan laut 2 2 2 2 2
2. Jumlah pelabuhan udara 0 0 0 0 0
3. Jumlah terminal bis 2 2 2 2 2
4. Jumlah 4 4 4 4 4
Sumber data :Dishub dan Infokom

2.3.1.8. Lingkungan Hidup


a. Persentase Penanganan Sampah
Jumlah produksi sampah dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 2009
produksi sampah 57.143 M3/ tahun dan pada tahun 2013 menjadi 70.146 M3/
tahun, namun tidak dibarengi dengan jumlah sampah yang ditangani. sampah yang
ditangani dari tahun 2009 sebesar 44.828 M3 dan pada tahun 2013 menjadi 63.131
m3 dengan persentase sekitar 90 % pada tahun 2013.
Tabel 2.80
Persentase Penanganan Sampah Perkotaan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 72


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
Jumlah sampah yang ditangani
1. 44.828 49.196 55.184 61.916 63.131
(M3/Thn)
2. Jumlah produksi sampah (M3/Thn) 57.143 56.775 65.776 69.568 70.146
3. Persentase 78,4 86,7 83,90 89,00 90,00
Sumber data : Dinas KPK Kab. Pinrang

b. Persentase Penduduk Berakses Air Minum


Peningkatan kualitas kesehatan sangat dipengaruhi oleh kualitas air minum. Pada
tahun 2009 persentase rumah tangga terhadap akses air bersih sebesar 81,5 % dan
pada tahun 2013 menjadi 84,67 % yang artinya terjadi peningkatan sebesar 3.490
penduduk atau sekitar 3,17 %.

Tabel 2.81
Persentase Penduduk Berakses Air Minum

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Rumah Tangga 65.929 67.548 69.354 70.274 71.448
yang mendapat akses air
minum
2. Jumlah Rumah Tangga 80.894 81.914 82.761 83.610 84.384

3. Persentase Rumah 81,5 82,46 83,8 84,05 84,67


Tangag berakses air
bersih
Sumber data : POKJA AMPL Kab. Pinrang

c. Persentase Luas Pemukiman Yang Tertata


Persentase luas pemukiman yang tertata pada tahun 2013 sebesar 5.350 dan
persentase Luas Areal permukiman tertata sekitar 97 %.

Tabel 2.82
Persentase Luas Pemukiman Yang Tertata

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Luas area permukiman
tertata (Ha) 3.944 4.042 4.144 4.219 4.312
2. Luas area permukiman 5.499 5.516 5.531
keseluruhan (Ha) 5.462 5.482
3. Persentase Luas area
permukiman tertata (Ha) 72 74 75 76 78
Sumber data : RPJMD Sulsel untuk Tahun 2012

d. Sumber Air Yang Dipantau Status Mutu Airnya

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 73


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Pemantauan sumber air dilakukan pada sungai-sungai yang ada di Kabupaten


Pinrang.Dilakukan secara berkala dengan jumlah sungai yang dipantau mutu airnya
sebanyak 6 sungai pada Tahun 2013 atau sekitar 16,7 % sumber air yang dipantau
mutu airnya.

Tabel 2.83
Persentase Jumlah Sumber Air Yang Dipantau Status Mutu Airnya

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah sungai yang dipantau mutu airnya 5 5 5 5 6
2. Jumlah sumber air yang dipantau 36 36 36 36 36
3. Persentase jumlah sumber air yang 0,14 0,14 0,14 0,14 0,17
dipantau mutu airnya
Sumber data : Badan Lingkungan Hidup Kab. Pinrang

e. Cakupan Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Amdal


Pengawasan terhadap pelaksanaan Amdal meningkat seiring dengan bertambahnya
jumlah wajib Amdal yang diawasi. Persentase pengawasan pada tahun 2009
sebesar sekitar 2 % meningkat pada tahun 2013 menjadi sebesar 36 %

Tabel 2.84
Persentase Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Amdal

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah perusahaan wajib Amdal 5 5 5 6 9
yang telah diawasi
2. Jumlah seluruh perusahaan wajib 10 10 20 21 25
Amdal
3. Persenta jumlah pengaduan yang 2 2 - - 36
ditindaklanjuti
Sumber data :Badan Lingkungan Hidup Kab. Pinrang

f. Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Per Satuan Penduduk


Rasio daya tampung TPS terhadap jumlah penduduk perlu ditingkatkan seiring
dengan pertambahan jumlah penduduk. Pada tahun 2009 rasio daya tampung TPS
sebesar 0,055.menjadi 0,118 pada tahun 2013.

Tabel 2.85

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 74


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Rasio TPS terhadap jumlah penduduk

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah daya tampung TPS (M3) 18.720 24.480 24.480 30.240 43.200
2. Jumlah Penduduk 342.118 353.367 354.652 360.019 364.700
3. Rasio daya tampung TPS terhadap 0,055 0,069 0,069 0,084 0,118
jumlah penduduk
Sumber data : Dinas KPK Kab. Pinrang

g. Penegakan Hukum Lingkungan


Kasus Lingkungan yang ditindaki secara menyeluruh , pada tahun 2009 terjadi
kasus lingkungan yang diselesaikan pemerintah sebanyak 4 dari jumlah 10 kasus
lingkungan dan pada tahun 2013 sebanyak 10 kasus yang ditangani dari jumlah
kasus sekitar 30 kasus.
Tabel 2.86
Persentase Penegakan Lingkungan Hidup

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah kasus lingkungan yang 4 6 6 8 10
diselesaikan pemda
2. Jumlah kasus lingkungan yang ada 10 13 15 18 30
3. Rasio jumlah pengaduan yang 1 3 - - 5
ditindak lanjuti
Sumber data : Badan Lingkungan Hidup

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 75


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.3.1.9. Pertanahan
a. Persentase luas lahan bersertifikat
Lahan bersertifikat terdiri atas lahan Hak Milik (HM), Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB) dan Hak Pengelolaan

Tabel 2.87
Luas Lahan Bersertifikat

2009 2010 2011 2012 2013


No.
HM HGU HGB HPL HM HGU HGB HPL HM HGU HGB HPL HM HGU HGB HPL HM HGU HGB HPL

1 3.320.953 14.212 2.130.070 2.048 360 1.265.240 1.512 919.411 9.052

Rasio luas lahan bersertifikat


2009 2010 2011 2012 2013
No.
HM HGU HGB HPL HM HGU HGB HPL HM HGU HGB HPL HM HGU HGB HPL HM HGU HGB HPL

1 9,460 14,212 6,067 6 360 3,568 4 2,575 25

Sumber data : RPJMD Sulsel untuk Tahun 2012

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 76


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

e. Penyelesaian kasus tanah Negara


Jumlah penyelesaian kasus tanah Negara pada tahun 2009 sebanyak 4 kasus,
dan pada tahun 2013 sebanyak 2 kasus.Hal ini menunjukkan Rasioa
penyelesaian kasus tanah Negara rata-rata sebesar 16,67 % pada tahun 2013

Tabel 2.88
Penyelesaian Kasus Tanah Negara

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah kasus yang diselesaikan 4 4 3 4 2
2. Jumlah kasus yang terdaftar 14 17 8 12 12
3. Rasio penyelesaian kasus tanah 28,57 23,53 37,5 33,33 16,67
negara
Sumber data : BPN

2.3.1.10. Kependudukan dan Catatan Sipil


a. Rasio penduduk ber-KTP per pertsatuan penduduk
Rasio penduduk ber-KTP pada tahun 2009 sebesar 303 dan menjadi 484 pada
tahun 2013. Dari data tersebut menunjukkan masih kurangnya kesadaran
masyarakat dalam memiliki KTP.
Tabel 2.89
Rasio Penduduk ber-KTP per Persatuan Penduduk

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah penduduk usia > 17 79.561 82.594 85.426 87.729 93.015

yang ber-KTP

2. Jumlah penduduk usia > 17 186.719 188.016 188.911 189.402 192.088

telah menikah

3. Rasio penduduk ber-KTP 303 250 235 222 484

per persatuan penduduk

Sumber data : Capil dan kependudukan

b. Rasio Bayi Berakte Kelahiran


Rasio bayi berakte kelahiran dari tahun 2009 hingga tahun 2013 mengalami
penurunan dari 748 pada tahun 2009 menjadi 837 pada tahun 2013. Ini
menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat terkait administrasi akte
kelahiran masih kurang.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 77


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.90
Rasio Bayi Berakte Kelahiran

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah penduduk ber KK 55.229 66.622 71.828 76.366 92.231
2. Jumlah penduduk telah 202.523 204.195 205.387 206.144 206.731
menikah
3. Rasio bayi berakte kelahiran 748 802 812 816 837
Sumber data : Capil dan Kependudukan

c. Rasio pasangan berakte nikah


Rasio pasangan berakte nikah untuk tahun 2009 sebesar 1.80 dan pada tahun
2013 meningkat menjadi 3.32 atau mengalami peningkatan sebesar 1.52 ini
menunjukkan semakin tingginya tingkat kesadaran pasangan nikah untuk memiliki
akte nikah.
Tabel 2.91
Rasio Pasangan Berakte Nikah

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah pasangan nikah ber akte 97 185 203 233 243
nikah
2. Jumlah keseluruhan pasangan 53.878 64.988 69.035 72.510 73.283
nikah
3. Rasio pasangan berakte nikah 1.80 2.85 2.94 3.21 3.32
Sumber data : Capil dan Kependudukan

d. Kepemilikan KTP
Pada tahun 2009 jumlah penduduk yang memiliki KTP sebesar 1.030, sedangkan
di tahun 2013 sebesar 93.015 atau mengalami peningkatan sebesar 91.985 orang.
Tabel 2.92
Kepemilikan KTP

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah penduduk memilik KTP 1.030 27.285 55.251 84.981 93.015

2. Jumlah penduduk wajib KTP 232.880 237.840 243.277 249.692 260.325

3. Rasio kepemilikan KTP 4 115 227 340 357

Sumber data : Capil dan Kependudukan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 78


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KTP, KK, Akte Lahir


dan Akte Nikah

KTP KK AKTE LAHIR AKTE NIKAH

N0 uraian Sudah belum Sudah belum Sudah belum Sudah belum

1 Pinrang 90.971 150.152 0 0 99.116 - 154 66

Sumber data : Capil dan Kependudukan

e. Kepemilikan akte kelahiran per 1000 penduduk


Kepemilikan akte kelahiran pada tahun 2009 sebesar 55.758 sedangkan pada
tahun 2013 sebesar 106.822 yang artinya mengalami peningkatan sebesar 51.064
akte kelahiran, namun masih jauh dari yang diharapkan.

Tabel 2.93
Kepemilikan Kelahiran

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
Jumlah penduduk memiliki
1. 55.758 76.074 90.937 100.006 106.822
akte kelahiran

2. Jumlah penduduk 262.456 330.894 363.498 395.086 408.459

Rasio kepemilikan akte


3. 212 230 250 253 262
kelahiran

Sumber data : Capil dan Kependudukan

2.3.1.11. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak


a. Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintahan
Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah kabupaten Pinrang
adalah proporsi perempuan yang berkerja pada lembaga pemerintahan terhadap
jumlah seluruh pekerja perempuan. Pekerja perempuan di Lembaga
Pemerintahan dapat di Kelompokkan berdasarkan jumlah dan persentase
perempuan yang menempati posisi golongan 1 – IV

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 79


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.94
Persentase Partisipasi Perempuan Di Lembaga Pemerintahan (Di Luar Guru)

Tahun 2013
Golongan
No. PNS Pria PNS Wanita
Ruang
Jumlah Persentase Jumlah Persentase
1 2 3 4 5 6
1 I/a 14 0,20 4 0,06
2 I/b 4 0,06 0 0
3 I/c 25 0,35 13 0,18
4 I/d 10 0,14 0 0
5 II/a 233 3,25 162 2,26
6 II/b 368 5,14 282 3,94
7 II/c 136 1,90 381 5,32
8 II/d 87 1,22 208 2,91
9 III/a 325 4,54 575 8,03
10 III/b 317 4,43 467 6,52
11 III/c 324 4,53 326 4,55
12 III/d 320 4,47 387 5,41
13 IV/a 879 12,28 1055 14,74
14 IV/b 127 1,77 95 1,33
15 IV/c 24 0,34 5 0,07
16 IV/d 2 0,03 4 0,06
17 IV/e 0 0 0 0
Total 3.195 44.63 3.964 55.37

Sumber data : BKBD dan PP

b. Partisipasi perempuan di lembaga swasta


Partisipasi perempuan di lembaga swasta yang ditinjau dari jumlah tenaga kerja
perempuan di perusahaan/ lembaga swasta terhadap jumlah seluruh pekerja
perempuan .

Tabel 2.95
Persentase Perempuan Di Lembaga Swasta

Tahun
No. Jenis Data
2009 % 2010 % 2011 % 2012 % 2013 %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Jenis
1 10 1.97 8 1.33 9 1.34 9 1.35 9 1.08
Perusahaan
2 Jumlah 2.160 2.916 3.053 3.314 3.508
Jumlah L 2.113 80.16 2.322 79.62 2.449 80.21 2.647 79.87 2.680 76.39
Tenaga
3.
Kerja 507 19.42 598 20.50 604 19.78 664 20.03 828 23.60
W
Formal
Sumber data : BKBD dan PP

c. Jumlah laporan penanganan KDRT


Penanganan kasus KDRT Merupakan Mandat SPM urusan wajib pemberdayaan
perempuan dan Perlindungan anak sebagai mana tertuang dalam SPM Bidang
layanan terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan . Pelayanan
terpadu ini menuntut jejaring kerja antar lembaga Pemerintah yang meluputi Dinas

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 80


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Sosial, Dinas Kesehatan, Kepolisian, Kejaksanaan, Pengadilan, BPPKB,


Kementerian Agama serta lembaga non pemerintah dalam penyediaan layanan
bantuan hukum dan konseling psikologi . Berdasarkan laporan dari berbagi pihak
di kabupaten Pinrang nampaknya dari aspek julah tidak terlalu banyak sehingga
diharapakan peranan seluruh komponen masyarakat untuk senantiasa menjaga
dan melindungi serta pembinaan yang terpadu secara berkesinambungan

Tabel 2.96
Jumlah laporan penanganan KDRT

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7

1. Laporan Penanganan Kasus 77 102 61 30 32


KDRT
Sumber data : BKBD dan PP

d. Angkatan kerja dibawah umur


Angkatan kerja dibawah umur di Kabupaten Pinrang ssampai saat ini menunjukkan
masih adanya anak anak dibawah umur yang bekerja walaupun jumlah sangat
kecil, gambaran ini mengidikasikan bahwa anak bekerja karena factor ekonomi
keluarga atau pengetahuan orang tua yang relative rendah tentang hak tumbuh
kembang anak, sehingga penguatan ketahanan rumah tangga sangat penting. Dari
data mencerminkan pada tahun 2009 anak dibawah umur yang bekerja sekitar
15.177 Orang, dan pada tahun 2013 sekitar 8.793 orang
Tabel 2.97
Angkatan Kerja dibawah Umur

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013

Angkatan Kerja Usia 15 – 19


1. 15.177 10.154 11.405 7.414 8.793
tahun
Sumber data : BKBD dan PP

e. Indeks Pembangunan Gender


Indeks Pembangunan Gender ( IPG ) terdiri dari empat ( 4 ) indicator komposit
yaitu : a. Angka Harapan Hidup ( AHH )
b. Angka Melek Huruf ( AMH )
c. Rata Rata Lama Sekolah ( RLS )
d. Sumbangan Pendapatan.
Sedangkan Indeks Pemberdayaan Gender ( IDG ) terdiri dari tiga ( tiga ) indicator
komposit yaitu a. Keterlibatan Perempuan di Parlemen, b. Perempuan sebagai

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 81


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

tenaga Manager, c. professional, tehnisi dan d. sumbangan Perempuan dalam


Pendapatan.
Tabel 2.98
Indeks Pembangunan Gender ( IPG )

Indeks Tahun
No. Pembangunan 2009 2010 2011 2012 2013
Gender Indeks % Indeks % Indeks % Indeks % Indeks %
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

1. Kabupaten 72.61 2.51 73.21 2.19 73.21 2.18 74.39 2.29 75.57 2,40
Pinrang
2 Sulawesi 70.79 2.39 71.62 2.34 71.14 1.85 72.70 2.01
selatan
Sumber data : BKBD dan PP

2.3.1.12. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera

a. Rata - Rata Jumlah Anak Per Keluarga


Rata rata jumlah anak per Keluarga mengindikasikan aterhadap angka Fertilitas
Pasanganh Usia Subur TFR ( Total Fertility Rate ) . Berdasarka data pada tahun
2009 – 2013 menunjukkan adanya jumlah anak per keluarga. Hal ini menjadi
perhatian pemerintah daerah karena akan berkolerasi terhadap peningkatan jumlah
penduduk yang pada umumnya akan berdampak pada meningkatnya masalah
masalah social masyarakat., untyuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya
upaya yang terintegrasi dari seluruh sector dalam upaya pengendalian
pertumbuhan penduduk. Pendewasaan usia perkawinan dan perencanaan jumlah
anak dalam keluarga juga harus menjadi pertimbangan yang mendasar. Melihat
data yang ada pada tahun 2009 jumlah rata-rata anak per keluarga 3.8 % dan pada
tahun 2013 menjadi 3.6 %. Gambaran rata rata jumlah anak per keluarga sebagai
berikut :

Tabel 2.99
Rata Rata Jumlah Anak Perkeluarga

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Anak ( Jiwa ) 327.491 334.095 337.939 347.038 340.567

2. Jumlah Keluarga ( jiwa ) 84.163 85.869 87.729 90.395 92.226

3. Rata Rata Jumlah Anak Per 3.8 3.8 3.8 3.8 3.6

Keluarga

Sumber data : BKBD dan PP

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 82


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

b. Rasio Akseptor KB
Rasio akseptor KB menunjukkan perbandingan jumlah akseptor dengan jumlah
pasangan usia subur, berdasarkan data pada tahun 2009 – 2014 menunjukkan
peningkatan rasio akseptor KB, namun masih perlu ditingkatkan mengingat
pertumbuhan penduduk dari tahun ketahun selalu meningkat. Salah satu bentuk
uapaya sejak dini untuk mendorong peningkatan jmumlah akseptor adalah melalui
pendidikan kesehatan reproduksi remaja dan Genre ( Generasi Berencana ), yang
diharapkan mampu memperoleh pandangan generasi tentang pentingnya KB.
Berdasarkan data maka tahun 2009 jumlah akseptor KB sekitar 36.090 dengan
rasio 67.81 dan pada tahun 2013 meningkat menjadi 38.246 namun rasio
mengalami penurunan menjadi 65.64, ini disebabkan bertambahnya pasangan usia
subur.
Tabel 2.100
Rasio Akseptor

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Akseptor KB 36.090 39.061 38.214 37.778 38.246
2. Jumlah Pasangan Usia Subur 53.222 53.396 54.691 55.605 58.264
3. Rasio Akseptor KB 67.81 73.15 69.87 67.94 65.64
Sumber data : BKBD dan PP

c. Cakupan Peserta KB Aktif


Cakupan KB aktif di kabupaten Pinrang menunjukkan perkembangan yang cukup
menggembirakan karena sebagai mana tabel dibawah pada tahun 2009 rasio
akseptor mencapai 36.1% dan pada tahun 2013 menjadi 38.2 % , perkembangan
harus diimbangi dengan ketersediaan tenaga penyuluh lapangan yang dapat
mendorong motovasi dan kesadaran masyarakat untuk menjadi peserta KB aktif.
Selain itu kepesertaan KB pria yang rendah menjadi persoalan yang
mempengaruhi angka cakupan.
Tabel 2.101
Cakupan Peserta KB Aktif

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Peserta Program KB Aktif 39.114 34.799 34.806 37.040 35.593
2. Jumlah Pasangan Usia Subur 53.222 53.396 54.691 55.605 58.264
3. Cakupan Peserta KB Aktif 36.1 39.1 38.2 37.8 38.2
Sumber data : BKBD dan PP

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 83


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

d. Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I


Keluarga Pra Sejahtera dan Sejahtera I masih menjadi salah satu tolok ukur
kemiskinan dimasyarakat. Tingginya jumlah keluarga prasejahtera dan sejahtera I
mencerminkan masih ada persoalan yang harus diselesaikan secara menyeluruh.
Penurunan angka pra Sejahtera dan Sejahtera I di kabupaten Pinrang pada tahun
2009 mencapai 32% dan pada tahun 2014 menurun menjadi 23.9 %
Tabel 2.102
Keluarga Pra sejahtera dan sejahtera I

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Keluarga Pra Sejahtera 27.010 27.559 26.120 21.801 22.116

dan Sejahtera I

2. Jumlah Keluarga 84.163 85.869 87.729 90.395 92.226

3. % Keluarga Prasejahtera dan 32.00 32.00 29.70 24.10 23.90

Sejahtera I

Sumber data : BKBD dan PP

2.3.1.13. Sosial
a. Sarana Panti Asuhan, Panti Jompo dan Panti Rehabilitasi
Sarana Panti Asuhan, Panti Jompo dan Panti Rehabilitasi perkembangannya tidak
terlalu signifikan, pada tahun 2009 sarananya berjumlah 8 Unit dan pada tahun
2013 menjadi 4 unit
Tabel 2.103
Sarana Panti asuhan, Panti Jompo dan Panti Rehabilitasi

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7

1. Sarana Sosial Panti asuhan, Panti 8 7 6 5 4


Jompo, dan Panti Rehabilitasi
Sumber data : RPJMD Prov Sul sel

b. PMKS yang memperoleh Bantuan Sosial


Penyandang masalah kesejahteraan social yang mendapat bantuan di kabupaten
Pinrang pada tahun 2009 yang mendapat bantuan sebanyak 275 orang / jiwa, dan
pada tahun 2013 sebanyak 341 orang.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 84


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.104
PMKS Yang Memperoleh Bantuan

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah PMKS yang diberi Bantuan 275 350 259 207 341

2. Jumlahh PMKS yg belum 18.257 17.350 16.172 16.053 15.351

Mendapatkan Bantuan

3. Jumlah PMKS yang ada 18.532 17.600 16.431 16.260 15.692

% PMKS Memperoleh Bantuan 1,48 1,98 1,57 1,27 2,1

Sosial

Sumber data : Dinas Sosial

c. Persentase Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial


Dari tahun 2009 sampai pada tahun 2013 persentase penangan penyandang
masalah kesejahteraan social kurun waktu lima tahun menunjukkan
perkembangan yang semakin membaik dengan rata rata capaian sekitar 2,1 %.

Tabel 2.105
Persentase Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah PMKS yg tertangani 275 350 259 207 341

2. Jumlah PMKS yg ada 18.532 17.600 16.431 16.260 15.692

3. Penanganan Penyandang Masalah 1.48 1.98 1.57 1.27 2.17

Kesejahteraan Sosial ( % )

Sumber data : Dinas Sosial

2.3.1.14. Tenaga Kerja


a. Penduduk Usia 15 Tahun keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan
Bukan Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin
Penduduk usia 15 tahun ke atas berdasarkan pada tingkat partisipasi angkatan
kerja masi didominasi oleh angkatan kerja laki laki sekitar 65.7% sedangkan
angkatan kerja perempuan hanya 34.3%

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 85


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.106
Penduduk Usia 15 Tahun keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan Bukan
Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin tahun 2013

N0 Uraian Laki Laki Perempuan Jumlah


1 2 3 4 5
1 ANGKATAN KERJA
Bekerja 83.240 43.484 126.724
Pengangguran 3.341 3.818 7.159
Jumlah Penduduk 86.581 47.302 133.883
Angkatan Kerja

2 BUKAN ANGKATAN
KERJA
Sekolah 4.140
Mengurus RT 73.339
Lainnya 32.258
Jumlah Penduduk bukan 109.737
angkatan kerja
Jumlah Penduduk Usia 243.620
Kerja (1) + (2)
3 TPAK ( Tingkat Partisipasi 54,96
Angkatan Kerja
4 TPT ( Tingkat 5.35
Pengangguran terbuka)
Sumber data : BPS, DinasTransmigrasi dan T. Kerja

b. Penduduk Angkatan Kerja


Penduduk angkatan kerja Kab. Pinrang tahun 2012 menunjukkan bahwa penduduk
pada usia 15 – 29 tahun merupakan jumlah pencari pekerjaan terbesar, pada usia
15 – 19 tahun yang mencari pekerjaan sekitar 1.337 Orang atau 18,03% dari total
pencari kerja, gambaran ini memperlihatkan bahwa masi banyaknya pencari
pekerjaan yang berasal dari tamatan SMA / sederajat.

Tabel 2.107
Penduduk Angkatan Kerja

Angkatan Kerja
Jumlah
Golongan Umum Bekerja Mencari Kerja
1 2 3 4
15 – 19 6.077 1.337 7.414
20 – 24 10.890 1.497 12.387
25 – 29 17.363 1.945 19.308
30 – 34 19.310 497 19.807
35 – 39 15.894 0 15.894
40 - 44 17.955 921 18.876
45 – 49 14.102 144 14.246
50 – 54 9.231 459 9.690
55 – 59 7.381 118 7.499
60 – 64 2.798 241 3.039
65 + 5.723 0 5.723

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 86


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Sumber data : BPS, DinasTransmigrasi dan T. Kerja

c. Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usha


Penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha menunjukkan bahwa sekitar 55 -
60 % penduduk yang bekerja di sector pertanian, hal ini menunjukkan bahwa
penyediaan lapangan kerja di bidang pertanian lebih besar dibandingkan dengan
penyediaan lapangan kerja lainnya

Tabel 2.108
Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usha

Lapangan Usaha

N0 Kab. Pertain Industry bangun Perdagangan Angkut Keuangan jasa Lainnya Jum
an pengolah an Restoran & an Asuransi (pertam lah
an hotel Komuni Usaha bagan,
kasi Persewa Listrik,
an Dan air
)

126.
1 Pinrang 66.439 6.604 5.157 23.540 2.970 3.099 18.180 933
724

Sumber data : RPJMD Sulsel untuk Tahun 2012

d. Angka Partisipasi Angkatan Kerja


Angka Partisipasi angkatan kerja dalam kurun waktu 2009- 2013 relatif stagnan,
tidak ada peningkatan yang cukup signifikan, hal ini tentunya perlu menjadi
perhatian di masa yg akan dating, angkatan kerja pada tahun 2009 sekitar 149.148
jiwa dan naik menjadi 152.718 pada tahun 2013 atau sekitar 56,99 % dari jumlah
penduduk sebagai partisipasi angkatan kerja Kab. Pinrang.

Tabel 2.109
Angka Partisipasi Angkatan Kerja

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Angkatan Kerja 15 tahun 149.148 140.074 156.732 133.883 152.718
Keatas
2. Jumlah Penduduk Usia 15 241.875 297.973 243.003 243.620 267.982
tahun Keatas
Angka Partisipasi Angkatan 60,17 58,86 64,50 54,96 56,99
Kerja
Sumber data : BPS, DinasTransmigrasi dan T. Kerja

e. Angka Sengketa Pengusaha – Pekerja Pertahun


Angka sengketa angtara pengusaha dengan pekerja selama kurun waktu lima
tahun tidak terjadi persengketaan di Kabupaten Pinrang karena tidak ada

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 87


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

perusahaan besar yang beroperasi di Pinrang dengan pelibatan tenaga kerja yang
besar, namun demikian hal ini tentunya akan menjadi perhatian khusus di
Pemerintaha untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya perselisian.
Tabel 2.110
Angka Sengketa Pengusaha – Pekerja Pertahun

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Sengketa Pengusaha – Pekerja 0 0 0 0 2
2. Jumlah Perusahaan 348 337 343 385 342
Angka Sengketa Pengusaha – 0 0 0 0 0
Pekerja Pertahun
Sumber data : BPS, DinasTransmigrasi dan T. Kerja

f. Pencari kerja yang Ditempatkan


Pencari kerja yang ditempatkan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan hal
ditunjukkan oleh banyaknya masyarakat yang mengambil rekomendasi untuk
mencari pekerjaan diluar Kab. Pinrang, pada tahun 2010 pencari kerja yg
mengambil rekomendasi sebanyak 43.
Tabel 2.111
Pencari Kerja Yang Ditempatkan

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Pencari kerja yg Mendaftar - 907 1.012 1.130 1.200
Pencari kerja yang ditempatkan - 43.80 31.96 42.87 10.78
Sumber data : BPS, DinasTransmigrasi dan T. Kerja

g. Pengangguran Terbuka
Pengangguran terbuka di Kabupaten Pinrang menunjukkan peningkatan yang
cukub besar yang disebabkan banyaknya tamatan SMA/ Sederajat yang tidak
melanjukan lagi pendidikannnya ke jenjang yang lebih tinggi sehinga terjadi
pengangguran pada usia produktif , pada tahun 2009 jumlah pengangguran terbuka
sebanyak 13.930 jiwa dan pada tahun 2013 mengalami penurunan menjadi 6.930
jiwa atau sekitar 4,53 % dari jumlah penduduk angkatan kerja

Tabel 2.112
Pengangguran Terbuka

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Pengangguran
terbuka usia angkatan kerja 13.930 10.918 10.269 7.159 6.930
2. Jumlah Penduduk angkatan 149.148 140.074 156.732 133.883 152.718
kerja
Tingkat Pengangguran 9,33 7,79 6,55 5,17 4,53
terbuka

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 88


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Sumber data : BPS, DinasTransmigrasi dan T. Kerja

h. Keselamatan dan Perlindungan


Jumlah Perusahaan yang menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja selama
kurun waktu lima tahun mengalami peningkatan kesadaran para pengusaha
tentang keselamatan dan kesehatan kerja, walaupun usahanya hanya besifat /
skala kecil akan tetapi tetap memperhatikan tingkat keselamatan dan kesehatan
kerja
Tabel 2.113
Keselamatan dan Perlindungan

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1. Jumlah Perusahaan yang Menerapkan K3 4 4 4 4 4

2. Jumlah Perusahaan di Kab.Pinrang 348 337 343 385 342

Keselamatan dan Perlindungan ( %) 100 100 100 100 100

Sumber data : BPS, DinasTransmigrasi dan T. Kerja

i. Perselisihan Buruh dan Pengusaha terhadap Kebijakan Pemerintah


Daerah
Penyelesaian perselisihan antara buruh dan pengusaha terhadap pemerintah
Kabupaten Pinrang menunjukkan kondisi yang stabil, atau relative tidak tertjadi
sengketa karena tidak ada perusahaan besar yang beroperasi di Kab. Pinrang

Tabel 2.114
Perselisihan Buruh dan Pengusaha terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah
Tahun
No. Uraian
2009 2010
2011 2012 2013

3 4
1 2 5 6 7
1. Jumlah Penyelesaian perselisihan buruh 0 0 0 0 0
dan Pengusaha dengan Kebijakan
Pemkab
2. Jumlah Kejadian Perselisihan Buruh dan 0 0 0 0 0
Pengusaha dengan Kebijakan Pemkab
Persentase Penyelesaian Perselisihan 0 0 0 0 0
Buruh dan Pengusaha terhadap
Kebijakan Pemerintah daerah
Sumber data : BPS, DinasTransmigrasi dan T. Kerja

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 89


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.3.1.15 Koperasi Usaha Kecil dan Menengah


a. Persentase Koperasi Aktif Kabupaten
Persentase Koperasi aktif di kabupaten Pinrang relative stagnan untuk kurun waktu
lima tahun sejak 2009 – 2013, hal ini menunjukkan bahwa kegiatan perkoperasian
belum sepenuhnya bias berkembang sebagai mana yang diharapkan.

Tabel 2.114
Persentase Koperasi Aktif Kabupaten

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1. Jumlah Koperasi Aktif 17 17 11 24 24

2. Jumlah Koperasi 97 102 105 103 103

Persentase Koperasi Aktif 62 60 62 64 66

Sumber data : BPS, Dinas Koperasi & UKM

b. Jumlah UKM / Non BPR / LKM


Jumlah UMKM dan Non BPR / LKM di Kabupaten Pinrang peningkatannya tidak
terlalu menggembirakan karena usaha yang dibangunan hanya skala kecil atau
usaha rumah tangga , pada tahun 2009 untuk usaha mikro dan kecil berjumlah
1.598 dan pada tahun 2013 menjadi 952 unit, hal ini menunjukkan terjadinya
penurunan usaha karena adanya perpindahan ke daerah lain.
Tabel 2.115
Jumlah UKM / Non BPR / LKM

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Seluruh UMKM 27.871 29.946 31.248 31.899 32.367

2. Jumlah BPR / LKM - - - - -

Jumlah UMKM Non BPR / LKM 27.871 29.946 31.248 31.899 32.367

Sumber data : RPJMD Prov Sul Sel

c. Jumlah Usaha Mikro Kecil


Persentase Jumlah usaha mikro dan kecil adri tahun ke tahun mengalami
pluktuasi, pada tahun 2009 sebesar 87,02 %, tahun Dan pada tahun 2013
menjadi 86,45 % atau bergeser sekitar 0,57 point

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 90


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.116
Jumlah Usaha Mikro Kecil

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1. Jumlah Usaha Mikro/ kecil 24.906 26.035 27.163 27.633 27.991

2. Jumlah seluruh UMKM 28.619 29.946 31.274 31.899 32.378

3. Persentase 87,02 86,93 86,85 85,15 86,45

Sumber data : RPJMD Prov Sul Sel

2.3.1.16 Penanaman Modal


a. Jumlah Investor Berskala Nasional ( PMDN / PMA )
Jumlah Investor nasional yang berinvestasi di Kabupaten Pinrang tidak terlalu
menggembirakan perkembangannya hal ini dkarenakan kurangnya investor asing
yang memanamkan investasinya, demikian pula dengan penanaman modan dalam
negeri ( PMDN ). Penanaman Modal Asing tahun 2010 sampai tahun 2013 hanya
satu badan usaha, sedangkan untuk kegitan penanaman modal dalam negeri pada
tahun 2010 sebanyak 507 unit dan naik menjadi 594 unit pada tahun 2013.

Tabel 2.117
Jumlah Investor Berskala Nasional ( PMDN / PMA )

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. PMA - 1 1 1 1

2. PMDN - 507 754 610 594

3 T OT AL - 508 755 611 595

Sumber data : BP2T

b. Jumlah Nilai Investasi ( PMDN / PMA )


Seiring dengan pelaksanaan Pembangunan di kabupaten Pinrang yang
menggunakan pembiayaan yang cukup besar khususnya dalam penanaman
investasi Daerah dapat digambarkan sebagai berikut : pada tahun 2010 jumlah
proyek yang dikelola sekitar 508 jenis kagiatan dengan nilai investasi sekitar Rp.
121.340.325.234.000,-dan pada tahun 2013 jumlah kegiatan sekitar 594, dengan
nilai investasi sekitar 220.552.700.000.000,-

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 91


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.118
Jumlah Nilai Investasi ( PMDN / PMA )

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah - 508 755 611 594
Proyek
2. Nilai - 121.340.325.234 203.071.272.552 163.536.450.000 220.552.700.000
Investasi
Sumber data : BP2T

c. Rasio Daya Serap Tenaga Kerja ( PMDN / PMA )


Tenaga Kerja yang terserap pada lapangan kerja pada kegiatan yang
menggunakan modal asing hampir tidak ada di kabupaten Pinrang, namun untuk
kegiatan dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri khususnya yang
terkait dengan pelaksanaan proyek-proyek yang ditangani oleh Pemerintah
kabupaten cukup menunjukkan perkembangan. Pada tahunh 2010 jumlah tenaga
kerja yang terserap (PMA/PMDN) sekitar 2.067 dan mengalami peningkatan
penyerapan tenaga kerja menjadi 2.101 pada tahun 2013 dengan gambaran
sebagai berikut :

Tabel 2.119
Rasio Daya Serap Tenaga Kerja ( PMDN / PMA )

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah tenaga Kerja PMA / PMDN - 2.067 2.807 2,091 2,101
2. Jumlah Seluruh PMA / PMDN - 2.067 2.807 2,091 2,101
Rasio Daya Serap Tenaga Kerja 100 100 100 100
Sumber data : BP2T

d. Kenaikan / Penurunan Nilai Realisasi PMDN ( Milyar)


Kenaikan dan Penurunan nilai realisasi PMDN investasinya dapat digambarkan
melalui data statistic dan laporan kegiatan penanaman modal secarah menyeluruh.

2.3.1.17 Kebudayaan
a. Penyelenggaraan Pestival Seni dan Budaya, Sarana Penyelenggaraan
Seni dan Budaya, Situs dan Cagar Budaya yg Dilestarikan
Berdasarkan data untuk penyelenggaraan vestifal seni dan budaya, sarana
penyelenggaraan dan benda budaya, situs dan kawasan cagar budaya yg
dilestarikan dapat digambarkan sbb:

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 92


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.120
Kebudayaan

Budaya
Jumlah benda
Jumlah benda % benda situs
Jumlah situs dan
Jumlah sarana situs dan dan kawasan
No penyelenggaraan kawasan
penyelenggaraan kawasan cagar budaya
festival seni dan cagar budaya
seni dan budaya cagar budaya yang
budaya yang
di daerah dilestarikan
dilestarikan

1 1 20 30 13 43.33%
Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

2.3.1.18 Kepemudaan dan Olah raga

a. Jumlah Organisasi Kepemudaan


Jumlah organisasi kepemudaan yang ada di Kabupaten Pinrang pada tahun
2009 sebanyak 4 organisasi dan bertambah menjadi 25 di tahun 2013. Jumlah
organisasi kepemudaan dapat dilihat melalui data dibawah ini.

Tabel 2.121
Jumlah Organisasi Pemuda

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Kab. Pinrang 4 20 20 20 25

Jumlah 4 20 20 20 25

Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

b. Jumlah Klub Olahraga


Dari data yang ada jumlah klub olahraga mengalami stagnan. Pada tahun 2009
klub olahraga yang berdiri berjumlah 50 dan untuk tahun 2012 dengan jumlah yang
sama yaitu 50. Jumlah klub olahraga berdasarkan data di bawah ini

Tabel 2.122
Jumlah Klub Olahraga

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1. Kab. Pinrang 50 50 50 50 52

Jumlah 50 50 50 50 52

Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 93


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

c. Jumlah Kegiatan Kepemudaan


Berdasarkan data dapat dilihat bahwa jumlah kegiatan kepemudaan yang ada
dikabupaten Pinrang dari kurun waktu 2009 hingga 2012 tidak mengalami
peningkatan ataupun penurunan atau mengalami stagnan dengan jumlah kegiatan
kepemudaan setiap tahunnya berjumlah 5 kegiatan. Jumlah kegiatan kepemudaan
dapat dilihat dari data dibawah ini :

Tabel 2.123
Jumlah Kegiatan Kepemudaan
Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Kab. Pinrang 5 15 23 37 45

Jumlah 5 15 23 37 45

Sumber data :Pemuda dan Olah raga

d. Jumlah Kegiatan Olahraga


Di tahun 2009 jumlah kegiatan olahraga di kabupaten pinrang berjumlah 5 dan
mengalami kenaikan di tahun 2013 dengan kegiatan olahraga sebanyak 15 Jumlah
kegiatan olahraga berdasarkan data di bawah ini :

Tabel 2.124
Jumlah Kegiatan Olahraga

Tahun
No. Uraian 2013
2009 2010 2011 2012
1 2 3 4 5 6 7
1. Kab. Pinrang 5 5 11 11 15
Jumlah 5 5 11 11 15
Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

e. Lapangan Olahraga
Jumlah lapangan olahraga berdasarkan pada data yang ada mengalami stagnan
(tetap) di mana dalam kurun waktu tahun 2009-2013 jumlah lapangan olahraga
yang ada hanya 5 lapangan olahraga. Jumlah lapangan olahraga dapat dilihat
berdasarkan data dibawah ini.
Tabel 2.125
Jumlah Gedung / Lapangan Olahraga

Tahun
. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Kab. Pinrang 5 5 5 5 10
Jumlah 5 5 5 5 10
Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 94


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.3.1.19. Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri


Kegiatan Pembinaan Politik daerah
Pembinaan terhadap LSM, OKP dan Ormas yang ada di Kabupaten Pinrang
selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2009-2014) mengalami pasang surut.Di tahun
2009 jumlah pembinaan sebanyak 4, dan ditahun 2013 jumlah binaan tetap 4.Untuk
pembinaan politik di daerah mengalami peningkatan mulai tahun 2009 ada 5 dan
ditahun 2013 menjadi 11.Pembinaan terhadap LSM, ormas, OKP dan politik
didaerah berdasarkan data di bawah ini.

Tabel 2.126
Kegiatan Pembinaan LSM, Ormas, OKP dan Politik Daerah

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Pembinaan terhadap LSM, OKP dan 4 2 2 4 4
OKP
2. Pembinaan Politik Daerah 5 12 12 12 12
Jumlah 9 16 16 16 16
Sumber data : Kesbang Pol dan Litmas

2.3.1.20. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan


daerah, Perangkat daerah, Kepegawaian dan Persandian
a. Otonomi Pemerintah Kabupaten Pinrang
1. Struktur Organisasi Pemerintah Kabupaten
Sejalan dengan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007,
maka seseuai dengan kebutuhan daerah dan perkembangan yang terjadi
telah ditetapkan sebanyak 811 jabatan struktural dalam lingkup Pemerintah
Kabupaten Pinrang.
Tabel 2.127
Jumlah Jabatan Struktural Pemerintah Kabupaten Pinrang

No. Uraian Jumlah


1 2 3
1 Eselon II.a 1
2 Eselon II.b 32
3 Eselon III.a 60
4 Eselon III.b 94
5 Eselon IV.a 466
6 Eselon IV.b 258
Jumlah 811
Sumber data : badan Kepegawaian

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 95


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2. Satuan Kerja Pemerintah Kabupaten


Jumlah Satuan Kerja Pemerintah Kabupaten Pinrang dapat di lihat
berdasarkan tabel berikut.:
Tabel 2.128
Satuan Kerja Pemerintah Kabupaten

1. Sekretariat Daerah
2. Sekretariat Dewan
3. Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga
4. Dinas Kesehatan
5. Dinas Pekerjaan Umum Daerah
6. Dinas PSDA
7. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
8. Dinas Sosial, Pariwisata dan Kebudayaan
9. Dinas Kebersihan Pertamanan Kebakaran
10. Dinas Pertanian dan Peternakan
11. Dinas Kehutanan dan Perkebunan
12. Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi
13. Dinas Kelautan dan Perikanan
14. Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
15. Dinas Koperasi dan UKM
16. Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah
17. Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi dan Mineral
18. Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah
19. Badan Lingkungan Hidup
20. Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan
21. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa
22. Badan Penyuluh Pertanian, Peternakan, Perikanan
23. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu & Penanaman Modal
24. Badan Penanggulangan Bencana Daerah
25. Inspektorat Kabupaten
26. Rumah Sakit Umum Lasinrang
27. Kantor Ketahanan Pangan
28. Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat
29. Kantor Polisi Pamong Praja
30. Kantor Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi
31. Kantor Kecamatan Lembang
32. Kantor Kecamatan Duampanua
33. Kantor Kecamatan Batulappa
34. Kantor Kecamatan Cempa
35. Kantor Kecamatan Patampanua
36. Kantor Kecamatan Tiroang
37. Kantor Kecamatan Mattiro Sompe
38. Kantor Kecamatan Paleteang
39. Kantor Kecamatan Watang Sawitto
40. Kantor Kecamatan Mattiro Bulu
41. Kantor Kecamatan Lanrisang
42. Kantor Kecamatan Suppa
Sumber data : badan Kepegawaian

b. Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 Penduduk


Secara umum rasio Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk di kabupaten
Pinrang masih sangat rendah.Peningkatannya pun tergolong rendah. Pada

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 96


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

tahun 2009 rasio hanya pada kisaran 0,43 % dan pada akhir tahun 2013 hanya
naik sekitar % yakni 4,39 %.
Tabel 2.129
Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Per 10.000 Penduduk

Tahun
No. Uraian 2013
2009 2010 2011 2012
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah polisi pamong praja 15 15 38 157 160
2. Jumlah penduduk 342.118 354.652 354.652 360.019 361.293
Rasio jumlah polisi pamong
praja per 10.000 penduduk 0.43 0.43 1.07 4.37 4,39
Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018/ Satpol PP

c. Jumlah Linmas Per Jumlah 10.000 Penduduk


Rasio jumlah Linmas di Kabupaten Pinrang masih sedikit lebih baik dari rasio
Polisi Pamong Praja. Pada tahun 2009 rasio Linmas sebesar 29,63 % dan
pada tahun 2013 justru mengalami penurunan yakni 28,59 % atau
mengalamipenurunan sebesar 1,04 %. Tabel Rasio tersebut dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 2.130
Rasio Jumlah Linmas Per 10.000 Penduduk

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Linmas 1.040 1.040 1.040 1.040 1.040
2. Jumlah penduduk 351.042 351.118 354.652 359.040 363.691
Rasio jumlah linmas per 10.000 29.63 29.62 29.32 28.97 28,59
penduduk
Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

d. Rasio Pos Siskamling Per Jumlah Desa / Kelurahan


Rasio jumlah Pos Siskamling per desa/kelurahan tidak mengalami peningkatan
atau mengalami stagnan tiap tahunnya.Hal tersebut secara detail dapat dilihat
pada tabel berikut.
Tabel 2.131
Rasio Jumlah Linmas Per 10.000 Penduduk

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah pos siskamling 312 312 312 312 312
2. Jumlah desa/kelurahan 104 104 104 104 108
Rasio 3.00 3.00 3.00 3.00 2,9
Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 97


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

e. Penegakan PERDA
Rasio penegakan Perda pada tahun 2009 adalah sebesar 4 Penegakan dan
pada tahun 2013 sebesar 3 tindakan.Peningkatan dapat dilihat pada kurun
waktu 2009 ke 2010 yakni 14 tindakan penegakan.Secara lebih detail, data
tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.132
Rasio Penegakan Perda

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Penyelesaian Penegakan Perda 4 14 6 6 3
2. Jumlah Pelanggaran Perda 4 14 6 6 3
Rasio 100 100 100 100 100
Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

f. Cakupan Patroli Petugas Satpol PP


Cakupan patroli petugas Satpol PP cenderung berada pada angka yang
stagnan. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2009 angka yakni 4 cakupan
dan pada tahun 2013 juga pada angka 4 cakupan. Peningkatan signifikan
hanya terjadi pada kurun waktu 2010 ke 2011 yakni dari 6 ke 14 angka
cakupan. Secara lebih detail, data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.133
Jumlah Ckupan Patrol Petugas PP

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Patroli petugas satpol PP
pemantauan dan penyelesaian 4 6 14 3 4
pelanggaran k3 dalam 24 jam
Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

g. Tingkat Penyelesaian Pelanggaran K3 ( Ketertiban, Ketentraman,


keindahan)
Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban, ketentraman dan keindahan)
untuk tahun 2009 sebesar 4 pelanggaran dan pada tahun 2013 sebesar
sebesar 5 pelanggaran.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 98


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.134
Rasio Tingkat Penyelesaian Pelanggaran K3

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Penyelesaian pelanggaran K3 4 14 14 3 5

2. Jumlah pelanggaran K3 4 14 14 3 5

Rasio 100 100 100 100 100

Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

h. Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas ) di Kabupaten Pinrang


Jumlah Petugas perlindungan masyarakat di Kabupaten Pinrang tiap tahunnya
menunjukkan jumlah yang sama. Hal tersebut disebabkan oleh perekrutan
terus dilakukan jika ada petugas yang berhalangan tetap (meninggal dunia atau
mengundurkan diri).

Tabel 2.135
Petugas Perlindungan Masyarakat

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

Jumlah petugas perlindungan


1. 1.040 1.040 1.040 1.040 1.040
masyarakat

Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

2.3.1.21. Ketahanan Pangan


a. Regulasi Ketahanan Pangan
Regulasi ketahanan pangan daerah untuk kabupaten Pinrang adalah 1
peraturan dan setelahnya belum ada penambahan sehingga pada tahun 2013
tetap 1 peraturan.
Tabel 2.136
Regulasi Ketahanan Pangan

Tahun
No. Uraian Satuan
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7 8

1. Regulasi Ketahanan Pangan Dokumen - - 1 1 1

Sumber data : Kantor Ketahanan Pangan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 99


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

b. Ketersediaan Pangan Utama


Dari data dibawah ini memperlihatkan bahwa ketersediaan pangan utama
(beras) di Kabupaten Pinrang mengalami surplus dari kebutuhan komsumsi
penduduk kabupaten pinrang.
Tabel 2.137
Ketersediaan Pangan Utama

Tahun
No. Uraian Satuan
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7 8

1. Rata-rata komsumsi beras Kg/Kap/Tahun 111,9 109,7 106,4 104,8 102,5

2. Komsumsi beras penduduk Kg/Tahun 125 123 121 118 115

3. Ketersediaan pangan utama % 79,6 80,1 82,8 86,6 88,0

Sumber Data : Kantor Ketahanan Pangan

2.3.1.22. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

a. Rata Rata Jumlah Kelompok Binaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat


(LPM )
Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan masyarakat pada
tahun 2009 sampai 2013 dapat dilihat berdasarkan data sebagai berikut :

Tabel 2.138
Rata-rata Jumlah Kelompok Binaan LPM

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1. Jumlah LPM 104 104 106 106 106

2. Jumlah KLP binaan LPM 208 312 318 318 318

3. Rata-rata jumlah LPM 2.00 3.00 3.00 3.00 3.00

Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

b. Rata Rata Jumlah Kelompok Binaan PKK


Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK selama kurun waktu lima tahun
mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2009 sebesar 2.297 dan pada
tahun 2013 sebesar 2.344

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 100


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.139
Rata-rata Jumlah Kelompok Binaan PKK

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah PKK 2.297 2.152 2.344 2.344 2.344
2. Jumlah KLP binaan 8.874 9.362 8.098 4.160 4.160
3. Rata-rata jumlah klp binaan 3.86 4.33 3.45 1.77 1.77
Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

c. Jumlah LPM Berprestasi


Persentase jumlah LPM yang berprestasi setiap tahunnya tidak mengalami
perubahan atau mengalami stagnan.Di tahun 2009-2013 LPM yang berhasil
tiap tahunnya hanya 12 LPM.
Tabel 2.140
Jumlah LPM Berprestasi

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah LPM 104 104 104 104 108

2. Jumlah LPM berprestasi 12 12 12 12 13

3. LPM berprestasi (%) 11.54 11.54 11.54 11.11 12,03


Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

d. PKK Aktif
Persentase jumlah PKK aktif dari tahun 2009 sebesar 80 % dan pada tahun
2013 sebesar 81 %, artinya kenaikannya hanya sekitar 1 %.

Tabel 2.141
Persentase PKK Aktif Kabupaten Pinrang

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1. Jumlah PKK 2.297 2.152 2.344 2.344 2.344

2. Jumlah PKK aktif 1.838 1.722 1.899 1.899 1.899

3. PKK aktif (%) 80 80 81 81 81

Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 101


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

e. Posyandu Aktif
Persentase jumlah posyandu aktif didukung dengan meningkatnya kesadaran
masyarakat tentang arti kesehatan. Berdasarkan data yang dapat dilihat
bahwa di tahun 2009 posyandu yang aktif sekitar 90.37 % dan di tahun 2013
meningkat menjadi 96,88 %. Berikut tabel dibawah ini :

Tabel 2.142
Persentase Posyandu Aktif

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Total posyandu 353 354 363 353 353

2. Jumlah posyandu aktif 319 349 342 342 342

3. Posyandu aktif (%) 90.37 98.59 94.21 96.88 96.88

Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

f. Swadaya Masyarakat Terhadap program Pemberdayaan Masyarakat


Swadaya masyarakat terhadap program pemberdayaan masyarakat cenderung
mengalami penurunan yang dapat dilihat pada table dibawah ini :

Tabel 2.143
Persentase Swadaya Masyarakat Terhadap Program
Pemberdayaan Masyarakat

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1. Nilai swadaya masyarakat (%) 17.60 4.08 2.502.02 2,87 3,04

Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

g. Pemeliharaan Pasca Program Pemberdayaan Masyarakat

Tabel 2.144
Persentase Pemeliharaan Pasca Program Pemberdayaan Masyarakat

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1. Nilai swadaya masyarakat (%) 17.32 4.06 2.48 1.99 2,02

Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 102


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.3.1.23. Kearsipan
a. Peningkatan Sumber daya Manusia Pengelola Kearsipan
Angka pengelolaan kearsipan menunjukkan angka yang relative rendah. Pada
tahun 2010 terdapat 40 orang staf pengelola atau sebesar 3 % dan meningkat
pada tahun 2013 sebesar 45 orang atau sekitar 8 %. Secara lebih detail dapat
dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.145
Peningkatan Sumber Daya Manusia Pengelola Kearsipan

Tahun
No. Bidang / urusan Satuan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Pengelolaan arsip secara
% - 3 4 10 7
baku
2. Peningkatan SDM
orang - 40 - 41 45
pengelolaan kearsipan
Sumber data :Kantor Perpustakaan & Arsip

Komunikasi dan Informatika

a. Jumlah Penyiaran Radio / TV Lokal


Dari data dibawah ini terlihat bahwa selaam kurun waktu lima tahun (2009-
2013) jumlah lembaga penyiaran di Kabupaten Pinrang tidak mengalami
pertumbuhan dengan jumlah penyiaran yang ada sebanyak 10.

Tabel 2.146
Jumlah Lembaga Penyiaran

Tahun
No. Bidang / urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Televisi 9 9 9 9 9
2. Radio swasta 1 1 1 1 1
3. Radio publik 0 0 0 0 0
4. Radio komunitas 0 0 0 0 0
Jumlah 10 10 10 10 10

2.3.1.24. Perpustakaan
Setiap tahunnya mulai 2009 hingga 2013 jumlah perpustakaan, pengunjung
perpustakaan dan jumlah koleksi buku diperpustakaan mengalami peningkatan.
Berikut jumlah Perpustakaan, Pengunjung dan Koleksi Buku Perpustakaan untuk
kurun waktu 2009-2013 dalam bentuk tabel di bawah ini:
RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 103
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.147
Jumlah Perpustakaan, Pengunjung dan Koleksi Buku Perpustakaan

Tahun
No. Bidang / urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Perpustakaan 43 60 69 77 81

2. Jumlah Pengunjung 4.395 5.743 16.477 20.248 17.313

3. Jumlah Koleksi Buku 16.295 18.028 20.041 21.610 23.349

Sumber data :Kantor Perpustakaan & Arsip

2.3.2. Fokus Layanan Urusan Pilihan


Fokus layanan Urusan Pilihan diarahkan pada urusan pertanian, kehutanan, energi
sumber daya mineral, pariwisata, kelautan dan perikanan, perdagangan, industri
dan ketransmigrasian.

2.3.2.1. Pertanian
a. Produktivitas Padi atau bahan Pangan Utama Lokal lainnya
Produktivityas pada dan bahan pangan utama lainnya di Kabupaten Pinrang
Pinrang menunjukkan perkembangan yang berpariasai dari tahun ketahun karena
dipengaruhi oleh kondisi / iklim yang terjadi dan juga Oleh hama.

Tabel 2.148
Produktivitas Padi atau Bahan Pangan Utama Lokal Lainnya (ton/pertahun)

Tahun
No. Bidang / urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Padi 506.970 512.313 519.670 578.488 605.785
2. Jagung 81.581 93.582 75.005 87.832 94.940
3. Ubi 6.528 8.143 8.927 8.347 7.242
4 Kedelai 1.162 1.076 862 1.799 220
Sumber data :BPS, Pertanian & Peternakan

b. Kontribusi Sektor Pertanian dan Perkebunan Terhadap PDRB


Kontribusi sector pertanian dan perkebunan terhadap PDRB menunjukkan
angka yang fluktuatif dari tahun ke tahun. Dari sector pertanian kontribusinya
sebesar 56,50 % dan pada tahun 2013menurun menjadi 53,56 %. Sementara
di sector perkebunan kontribusinya sebesar 201,39% dan pada tahun 2013
meningkat secara signifikan yakni sebesar 274,07 %.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 104


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.149
Kontribusi Sektor Pertanian dan Perkebunan Terhadap PDRB

Tahun
No. Bidang / urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Sektor Pertanian ( % ) 56.50 55.32 55.04 54.13 53.86

2. Sektor Perkebunan ( % ) 201,39 242,95 263,15 268,61 274,07

Sumber data :BPS, Pertanian, perkebunan

c. Produksi Daging ( Kg) dari berbagai komoditas ternak di Kab. Pinrang

Kebutuhan akan produksi daging , Khususnya daging sapi di Kab. Pinrang


semakin meningkat sejalan dengan perkembangan dan kebutuhan rumah
tangga maupun pedagang / pengusaha / warung makanan, demikian pula
dengan kebutuhan daging ayam potong, buras dan ayam petelur juga
meningkat tajam.
Tabel 2.150
Produksi Daging ( Kg) Dari Berbagai Komoditas Ternak di Kab. Pinrang
Tahun
No. Bidang / urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Sapi 219.000 297.000 242.000 135.000 176.000

2. Kerbau 14.000 14.000 5.000 22.000 5.000

3. Kambing 4.000 36.000 36.000 75.000 44.000

4 Ayam Buras 20.000 37.000 7.000 17.000 5.000

6 Ayam Ras Pedaging 7.000 22.000 22.000 15.000 20.000

7 Itik 9.000 15.000 10.000 11.000 9.000


Sumber data :BPS, Pertanian dan Peternakan

2.3.2.2. Kehutanan

a. Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis


Kondisi kerusakan hutan dan lahan di kabupaten Pinrang sedikit mengalami
peningkatan kualitas melalui penanganan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis,
dimana pada tahun 2012 program penangana lahan kritis seluas 13.851 dan
2013 dialokasikan seluas13.851Hadan pada. Kegiatan ini dilakukan dengan
kerja sama lintas sector antara Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten.
Berdasarkan Data Dinas Kutanahan Prov Sul Sel menunjukkan bahwa pada
tahun 2008 rehabilitasi hutan sebesar 540 Ha dan pada tahun 2012 mencapai
4,058 Ha.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 105


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.151
Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis

Tahun
No. Bidang / urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Luas Hutan dan Lahan Kritis
3,300 3,140 3,687 4,058 4.429
yg direhabilitasi ( Ha )
2. Luas Total hutan dan Lahan
13.851 13.851 13.851 13.851 13.851
Kritis ( Ha )
3. Rehabilitasi Hutan dan Lahan
23,82 22,67 26,62 29,30 31,98
Kritis ( % )
Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

b. Kerusakan Kawasan Hutan


Luas kerusakan hutan di kabupaten Pinrang kurun waktu 2008 – 2012
cenderung mengalami penurunan, berdasarkan data Dinas Kuhutan Prov. Sul
Sel menunjukkan bahwa pada tahuin 2008 kerusakan hutan yang terjadi di
kabupaten Pinrang seluas 26,577 Ha dan pada tahun 2012 sisa sekitar 15,750
Ha dari Total / Luas Kawasan Hutan Kabupaten Pinrang sekitar 71,605 Ha

Tabel 2.152
Kerusakan Kawasan Hutan

Tahun
No. Bidang / urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Luas Kerusakan kawasan
26,037 22,737 19,437 15,750 12,837
Hutan

2. Luas Kawasan Hutan ( Ha) 71,605 71,605 71,605 71,605 71,605

3. Kerusakan Kawasan Hutan


36,36 31,75 27,14 22,00 17,93
(Ha)

Sumber data : RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018

c. Kontribusi sektor Kehutanan terhadap PDRB


Kontribusi sector kehutanan terhadap PDRB Kabupaten Pinrang cenderung
mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pad tahun 2009 kontribusinya
sebesar 70,27 % atau sebesar 179,55 M dan pada tahun 2013 menjadi 54,28
% atau sebesar 268,61 M.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 106


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.153
Kontribusi Sektor Kehutanan Terhadap PDRB
Tahun
No. Bidang / urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7

Jumlah kontribusi PDRB dari


1.
Sektor Kehutanan (milyar)
179, 55 201,39 242,95 263,15 268,61

2. Jumlah PDRB ( milyar) 255,49 307,17 361,72 425,02 494,81

Kontribusi Sektor Kehutanan


3. 70,27 65,56 67,16 61,91 54,28
terhadap PDRB ( % )
Sumber data :BPS,

2.3.2.3. Energi dan Sumber Daya Mineral


a. Pertambangan Tanpa Izin
Sampai saat ini izin pertambagan di kabupaten Pinrang semakin diperketat
yang bertujuan untuk menghindari tyerjadinya penambangan – penambangan
liar, dan sampai saat Pemerintah Kabupaten Pinrang santiasa melakukan
Pembinbaan penerttiban dan Pencegahan terjadinya penambangan liar .
Tabel 2.154
Pertambangan Tanpa Izin

Tahun
No. Bidang / urusan
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7
1. Luas Penambangan Liar
- 18.5 10.8 5.9 8.00
yang ditertibkan ( Ha )
2. Luas Areal; Penambagan liar
- 56.4 45.6 39.7 31.7
( Ha )
3. Pertambangan Tanpa Ijin (%) - 42.3 34.2 29.8 23.8

Sumber data :BPS,

b. Kontribusi Sektor Pertambangan Terhadap PDRB


Kontribusi sector Pertambangan terhadap Produik Domistik Regional Bruto (
PDRB ) di Kabupaten Pinrang mengalami penurunan setiap tahunnya dari 0,88
% pada tahun 2009 menjadi 98 % pada tahun 2013. Walaupun sector
pertambagan bukan menjadi sector unggulan namun kotribuisinya terhadap
PDRB diharapkan bias lebih meningkat.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 107


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.155
Kontribusi Sektor Pertambangan Terhadap PDRB

Tahun
No. Bidang / urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Kontribusi Sektor Pertambangan
0.88 0.87 0.95 0.98 0.98
terhadap PDRB (% )
Sumber data :BPS,

2.3.2.4. Pariwisata

e. Kunjungan Pariwisata
Perkembangan Kepariwisataan di kabupaten Pinrang belum sepenuhnya dapat
memberikan kontribusi terhadap PDRB karena karena objek kepariwisataan
baru bisa dikunjungan oleh wisatawan domestik , sedangkan untuk kunjungan
wisatawan asing masih sangat rendah

Tabel 2.156
Kunjungan Pariwisata

Tahun
No. Bidang / urusan
2009 2010 2011 2012 2013

1 2 3 4 5 6 7

1. Kunjungan Wisata (orang) - 20.630 19.273 19.272 -

Sumber data :BPS,

b Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap PDRB

Tabel 2.157
Kontribusi Sektor PariwisataTterhadap PDRB

Lapangan Tahun
No.
Usaha 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Hotel 272,94 284,99 313,77 410,39 507,01
2. Restoran 349,59 392,18 462,46 570,19 677,92
3. Hiburan dan
272,75 312,78 356,02 457,22 537,04
Rekreasi
Total ( Juta
56.850.000 58.650.000 58.650.000 74.340.000 85.000.000
Rp )
Rata-rata % 298,42 329,96 377,42 457,22 537,04
Sumber data :BPS,

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 108


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.3.2.5. Perikanan dan Kelautan

a. Produksi Perikanan
Produksi Sektor Perikanan Kabupaten Pinrang untuk kurun waktu 2009 – 2014
mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2009 produksi ikan mencapai
31,002.92 ton dan pada tahun 2014 mencapai 42,710.20 ton yang meliputi
perikanan tangkap, prikanan darat, dan perikanan laut.

Tabel 2.158
Produksi Perikanan

Tahun
No. Lapangan Usaha
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Produksi
perikanan tangkap 11,609.80 11,646.73 11,768.13 11.907.22 12,082.90
(ton)
2. Jumlah produksi
perikanan 19,393.12 24,126.40 29,010.11 28,849.30 30,627.30
budidaya ( ton )
Sumber data :BPS, Perikanan dan Kelautan

c. Komoditi Unggulan
Komoditi unggulan Kabupaten Pinrang antara lain udang, ikan banden, rumput
laut yang merupakan komoditi primadona dan punya prospek yang cukup cerah
untuk dikembangkan dengan penerapan teknologi. Pada tahun 2009 produksi
udang mencapai 2,561.12 Ton dan pada tahun 2013 sebanyak 3,796.60 ton,
Ikan bandeng pada tahun 2009 produksinya sekitar 15,812.34 ton, dan pada
tahun 2013 sekitar 17,453.70 ton dan untuk rumput laut produksinya pada
btahun 2009 sekitar 440 ton, dan pada tahun 2013 mencapai3,659.90 ton.

Tabel 2.159
Komoditi Unggulan

Bidang / Tahun
No.
Urusan 2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Udang ( ton ) 2,561.12 3,314.10 3,487.40 3,685.20 3,796.60
2. Ikan Bandeng
15,812.34 17,762.20 17,265.13 17,346 17,453.70
( Ton )
3. Rumput Laut (
440 2,458.50 3,856.80 3,890.20 3,659.90
ton )
Sumber data :BPS, Perikanan dan Kelautan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 109


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

d. Konsumsi Ikan
Konsumsi ikan di Kabupaten Pinrang cenderung meningkat setiap tahunnya.
Konsumsi ikan pada tahun 2009 mencapai 39.70 Kg dan pada tahun 2013
mencapai 41.87 Kg, artinya mengalami peningkatan sekitar 2.17
Kg.Peningkatan komsusi ini karena upaya pemerintah dalam mencanakan
program gemar makan ikan sebagai upaya meningkatkan komsumsi protein
yang berasal dari ikan.
Tabel 2.160
Konsumsi Ikan

Tahun
No. Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Konsumsi Ikan (Kg) 39.70 40.90 41.00 41.52 41.87

2. Target Daerah ( Kg ) 40.64 40.77 40.90 41.13 41.26

3. Konsumsi ikan (% ) 97.69 100.32 100.24 100.95 101.48

Sumber data :BPS, Perikanan dan Kelautan

e. Cakupan Bina Kelompok Nelayan

Cakupan bina kelompok nelayan yang mendapatkan pembinaan mengalami


peningkatanYakni pada tahun 2009 sebanyak 12 kelompok dan pada tahun
2013 sebanyak 128 kelompok binaan, persentase kelompok yang dibina pada
tahun 2009 sebesar 6,22 % dan pada tahun 2013 mencapai 46,55 dengan rata
rata kenaikan sekitar 25,42 %
Tabel 2.161
Cakupan Bina Kelompok Nelayan

Tahun
No. Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Kelompok Nelayan
12 31 61 94 128
yang dibina
2. Jumlah kelompok di Daerah 193 214 250 265 275
3. % Kelompok yang dibina 6.22 14.49 24.40 35.47 46.55
Sumber data :BPS, Perikanan dan Kelautan

f. Produksi Perikanan Kelompok Nelayan


Jumlah produksi ikan untuk nelayan pembudidaya sekitar 72,91 ton dari total
produksi sekitar 11.292,00 atau sekitar 0,65 % produksi kelompok nelayan
pada tahun 2009 sedangkan pada tahun 2014 jumlah produksi ikan untuk
kelompok nelayan (pembududaya sekitar 7.141,25 ton sedangkan total
produksi ikan sekitar 11.808,06 ton pada tahun 2014 atau sekitar 60,48 %

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 110


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.162
Produksi Perikanan Kelompok Nelayan

Tahun
No. Bidang / Urusan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Produksi
ikan kelompok
nelayan 72.91 188.34 2,817.84 4,398.35 7,141.25
(Pembudidaya )
(Ton)
2. Jumlah Produksi
Ikan di daerah 11,292.00 11,425.25 11,547.31 11,674.08 11,808.06
(Ton )
3. Produksi Perikanan
Kelompok Nelayan 0.65 1.65 24.40 37.68 60.48
(%)
Sumber data :BPS, Perikanan dan Kelautan

2.3.2.6. Perdagangan
a. Kontribusi Sektor Perdagangan terhadap PDRB

Tabel 2.163
Kontribusi Sektor Perdagangan Terhadap PDRB

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Perdagangan, Hotel dan 269.286 291.401 329.308 374.507 374.507
Restoran ( milyar ) (11.29%) (11.51%) (12.14%) (12.75%) (12.75%)
2. Industri Pengolahan 108.197 132.704 143.286 155.480 155.480
(milyar) (4.54%) (5.24%) (5.28% (5.29%) (5.29%)
3. Pertambangan 21.057 22.136 25.703 28.894 28.894
(0.88%) (0.87%) (0.95%) (0.98%) (0.98%)
4 Konsumsi rumah tangga - - - - -
Sumber data :BPS,

b. Ekport Bersih Perdagangan


Sampai saat ini Kabupaten Pinrang belum memiliki komoditi berdasarkan
ekspor bersih perdagangan.

Tabel 2.164
Tabel Ekport Bersih Perdagangan

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Ekport ( Juta Rp ) 0 0 0 0 0
2. Import ( juta Rp ) 0 0 0 0 0
3. SURPLUS ( JUTA Rp ) 0 0 0 0 0

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 111


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.4. Aspek daya Saing Daerah

Daya saing daerah merupakan salah satu aspek tujuan penyelenggaraan otonomi
daerah sesuai dangan potensi, kekhasan dan unggulan daerah.Suatu daya saing
merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pembangunan ekonomi yang
berhubungan dengan tujuan pembangunan daerah dalam mencapai tingkat
kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan.

2.4.1. Kemampuan Ekonomi Daerah


Meskipun secara data kependudukan kabupaten Pinrang, Mata pencaharian
Masyarakat Kabupaten Pinrang di Sektor pertanian masih menjadi lapangan kerja
terbesar (56,50%) tahun 2009, dibandingkan sektor Industri (3,95 %) dan
Perdagangan (12,67 %). Namun Potensi sektor Pertanian masih menjadi yang
paling besar di banding dengan sektor-sektor lain sebagai sektor penyedia
lapangan kerja Kabupaten Pinrang kesempatan kerja berasal dari sektor pertanian,
diikuti perdagangan, industri, dan jasa-jasa. Sektor pertanian merupakan penyedia
utama kebutuhan pangan masyarakat yang merupakan kebutuhan dasar dan hak
asasi manusia.Sektor pertanian juga menyediakan pasar yang sangat besar untuk
produk manufaktur karena jumlah penduduk perdesaan yang besar dan terus
mengalami peningkatan.
Dengan demikian, sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang paling efektif
untuk mengentaskan kemiskinan di wilayah perdesaan melalui peningkatan
pendapatan mereka yang bekerja di sektor pertanian. Kemampuan ekonomi daerah
dalam kaitannya dengan daya saing daerah adalah bahwa kapasitas ekonomi
daerah harus memiliki daya tarik (attractiveness) bagi pelaku ekonomi yang telah
berada dan akan masuk ke suatu daerah untuk menciptakan multiflier effect bagi
peningkatan daya saing daerah.
Kondisi perekonomian Kab.Pinrang kurung waktu 2009 – 2013 tumbuh cukup baik
dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sekitar 7,55 % pertahun dengan capaian
pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi mencapai 7,65 %, pada tahun 2010
mencapai 6,23 % , tahun 2011 mencapai 7,12 %, tahun 2012 mencapai 8,12 % ,
dan pada tahun 2013 akan dicapai 8,72 %. Untuk PDRB Kabupaten Pinrang
berdasarkan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) di tahun 2009 mencapai Rp.
12.798.916 dan pada tahun 2013 dengan capaian Rp. 21.500.000.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 112


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.4.1.1. Otonomi daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan


Daerah, Perangkat daerah, Kepegawaian dan Persandian

a. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per kapita


Sebagian besar pendapatan masyarakat di Kabuapten Pinrang dipergunakan
untuk keperluan komsumsi makanan, dimana rata-rata pengeluaran perkapita
untuk sebulan untuk komsumsi makanan, sedangkan yang mengarah ke
komsumsi non makanan masih dibawah komsumsi makanan namun telah
mengalami pergeseran sedikit demi sedikit yang menandakan peningkatan
kesejahteraan masyarakat.

Tabel 2.165
Persentase Pengeluaran Komsumsi Rumah Tangga Per Kapita

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Total pengeluaran RT pangan 41.443 44.063 40.465 42.178 43.837
2. Jumlah RT 77.988 79.580 81.914 86.840 91.766
Persentase 53,14 55,37 49,40 48,57 47,77
Sumber data :BPS,

b. Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Per Kapita


Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Per Kapita menunjukkan persentase
peningkatan meskipun pada angka yang relative rendah. Pada tahun 2009
menunjukkan angka 46,86 % dan pada tahun 2013 di angka 52,26 %. Secara
lebih detail dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.166
Persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Total pengeluaran RT Non
36.545 35.516 41.448 44.662 47.957
pangan

2. Jumlah RT 77.988 79.580 81.914 86.840 91.766

Persentase (%) 46,86 44,63 50,60 51,43 52,26

Sumber data :BPS,

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 113


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

c. Produktivitas Total Daerah


Untuk mengukur kemampuan ekonomi dapat dilihat dari produktivitas total
daerah masing-masing sector lapangan usaha PDRB. Ini dapat
menggambarkan seberapa besar tingkat produktivitas dalam meningkatkan
atau mendorong perekonomian di Kabupaten Pinrang.

Tabel 2.167
Produktivitas Per Sektor

2009 2010 2011 2012 2013


N
Uraian Rp Rp Rp Rp
o. % % % Rp Milyar % %
Milyar Milyar Milyar Milyar
1
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
2
1. PDRB (atas
dasar harga
berlaku)
Pertanian 2.539.541,90 56.50 2,927,094.46 55.32 3,421,853,09 55.04 3,917,694.60 54.13 4.376.000,73
Pertambangan
37,586.13 0.84 41,602.24 0.79 51,593.44 0.83 63,689.98 0.88 1.587.200,00
dan Penggalian
Industri
177,386.13 3.95 228,382.71 4.32 263,343.81 4.24 300,424.50 4.15 339.290,00
Pengolahan
Listrik, Gas dan
28,298.56 0.63 37,731.46 0.71 41,280.05 0.66 46,717.01 0.64 56,480,00
Air bersih
Konstruksi 179,096.09 3.99 196,112.18 3.71 241,604.07 3.89 287,240.70 3.97 0.730,00
Perdaganagan,
Hotel dan 569,107.20 12.67 639,929.97 12.10 947,253.84 12.36 947,253.84 13.09 336.370,00
Restoran
Pengangkutan
172,402.89 3.84 224,335.13 4.24 330,726.97 4.57 330,726.97 4.57 386.760,00
dan Komunikasi
Keuangan,
Sewa dan Jasa 178,039.03 3.96 242,468.27 3.89 291,527.90 3.90 291,527.90 4.29 353.560,00
Perusahaan
Jasa-jasa 612,252.97 13.63 789,860.87 14.93 905,235.95 14.56 1,052.253.23 14.54 1.208.920.00
2 Jumlah
7.344 15.716 13.884 13.238 52,07
Angkatan Kerja

Sumber data :BPS,

d. Nilai Tukar Petani

Nilai Tukar Petani (NTP) dapat diukur dari besarnya indeks yang diterima
petani dengan jumlah indeks yang diterima petani.Pada indicator NTP di
Kabupaten Pinrang dengan melihat tabel dibawah ini menunjukkan
peningkatan yang disebabkan oleh tingginya produksi komoditas pertanian
khususnya padi sawah, sementara, harga sarana pertanian terutama pupuk
dan harga barang jasa yang relatif stabil. Ini menjadikan kenaikan indeks harga
hasil produksi pertanian lebih tinggi jika dibandingkan harga barang dan jasa
yang dibutuhkan oleh petani, sehingga petani mengalami keuntungan dari
usaha tani tersebut dan tercapainya perbaikan daya beli.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 114


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 2.168
Nilai Tukar Petani

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Indeks yang diterima petani (It) - - - - -
2. Indeks yang dibayar petani (Ib) - - - - -
Nilai tukar petani - - - - -

2.4.2. Fokus Fasilitas Wilayah / Infrastruktur


2.4.2.1. Perhubungan

a. Rasio Panjang Jalan Per Jumlah Kendaraan

Tabel 2.169
Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan
Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Panjang jalan 724,60 724,60 863,9 863,9 863,9
2. Jumlah kendaraan 199.129 120.213 121.715 122.978 124.167
(mobil)
Rasio 0,004 0,006 0,007 0,007 0,0069
Sumber data : RPJMD Prov Sul Sel

2.4.2.2. Penataan Ruang

a. Ketaatan Terhadap RTRW


Persentase realisasi RTRW terhadap rencana peruntukan RTRW dapat dilihat
dari tabel berikut ini :
Tabel 2.170.
Ketaatan Terhadap RTRW

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Realisasi RTRW 588,53 686,62 784,70 882,80 980,89

2. Rencana peruntukan 1.961,77 1.961,77 1.961,77 1.961,77 1.961,77


RTRW
Rasio (1/2) 0,30 0,35 0,40 0,45 0,50

Sumber data : RTRW Kab. Pinrang

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 115


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

b. Wilayah Produktif
Persentase luas wilayah produktif terhadap luas seluruh wilayah budidaya
sebesar padat tahun2009 0,83 % dan pada tahun 2013 menjadi 0,84.

Tabel 2.171
Wilayah Produktif

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Luas wilayah produktif 930,96 931,44 931,63 932,63 939,18
(Km2)
2. Luas seluruh wilayah
1.123,47 1.123,47 1.123,47 1.123,47 1.123,47
budidaya (Km2)
Rasio (%) 0,83 0,83 0,83 0,83 0,84
Sumber data : RTRW kab. Pinrang

c. Luas Wilayah Industri


Luas wilayah industri di Kabupaten Pinrang merupakan realisasi luas wilayah
industry terhadap luas rencana budidaya sesuai dengan RTRW. Persentase
luas wilayah industri di Kabupaten Pinrang dapat diurai menurut tabel berikut ;
Tabel 2.172
Persentase Wilyah Industri

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Luas wilayah industri
9,545 9,61 9,62 9,63 9,64
(Km2)
2. Luas seluruh wilayah
1.123,47 1.123,47 1.123,47 1.123,47 1.123,47
budidaya (Km2)
Rasio (1/2) 0,0085 0,0086 0,0086 0,0086 0,0086
Sumber data : RPJMD Prov Sul Sel

d. Luas Wilayah Banjir


Persentase luas wilayah banjir

Tabel 2.173
Persentase Luas Wilayah Banjir

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Luas wilayah kebanjiran 8.450 8.500 8.412 8.367 8.287
2. Luas seluruh wilayah
112.347 112.347 112.347 112.347 112.347
budidaya
Rasio (1/2) 0.075 0,076 0.075 0.074 0.074
Sumber data : Data Diolah RTRW Kab. Pinrang

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 116


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

e. Luas Wilayah Perkotaan

Persentase luas wiyah perkotaan dari seluruh wilayah budidaya

Tabel 2.174
Persentase Luas Wilayah Perkotaan

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Luas wilayah perkotaan 1.082 1.093 1.099 1.110 1.121

2. Luas seluruh wilayah


112.347 112.347 112.347 112.347 112.347
budidaya

Rasio (1/2) 0,01 0,01 0,01 0,01 0,01

Sumber data : Data Diolah RTRW Kab. Pinrang

2.4.2.3. Otonomi daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan


Daerah, Perangkat daerah, Kepegawaian dan Persandian

a. Tabel Jenis dan Jumlah Bank dan Cabang


Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit
dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Dari
jenisnya dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu Bank Umum dan Bank
Perkreditan Rakyat (BPR) yang masing-masing terdiri dari Bank Konvensional
dan Bank Syariah.Berikut adalah tabel Jenis dan jumlah bank di Kabupaten
Pinrang ;
Tabel 2.175
Jenis dan Jumlah Bank

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Bank Umum
Konvensional 7 7 8 8 8
Syariah 0 0 0 0 2
2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Konvensional 0 0 0 0 0
Syariah 0 0 0 0 0
Sumber data : BPS

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 117


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

b. Tabel Jenis Kelas dan Jumlah Penginapan / Hotel


Jumlah hotel, kamar dan tempat tidur di Kabupaten Pinrang seacra detail dapat
dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.176
Jumlah Hotel, Kamar dan Tempat Tidur

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah Hotel (unit) 10 10 10 9 10
2. Jumlah Kamar (unit) 156 171 175 169 204
3. Jumlah Tempat Tidur (buah) 286 277 290 246 306
Sumber data : BPS

2.4.2.4. Lingkungan Hidup


a. Persentase Rumah Tangga ( RT ) yang Menggunakan Air Bersih
Air bersih sangat krusial dan esensial dalam peningkatan derajat kesehatan
penduduk agar dapat hidup lebih sehat dan terkait pula dengan pola hidup
yang bersih, baik itu lingkungan maupun sumber air.

Tabel 2.177
Persentase Rumah Tangga (RT) Yang Menggunakan Air Bersih

Tahun
No. Sumber Air Bersih
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Leding (perpipaan) 3.484 3.639 4.177 4.678 4.915
2. Sumur terlindungi 30.239 3.259 32.306 32.955 33.829
3. Sumur tidak terlindungi 4.511 4.073 3.719 3.692 3.548
4. Mata air terlindungi 3.799 3.816 3.795 3.723 3.723
5. Mata air tidak terlindungi 1.390 1.360 1.168 1.141 1.089
6. Sungai/danau/waduk 1.694 1.634 1.520 1.520 1.401
7. Pompa air 28.190 28.220 28.870 28.712 28.791
8. Air hujan 217 212 206 200 190
9. Air kemasan 7.230 7.170 6.890 6.880 6.811
10. Lainnya 140 129 110 109 87
11. Total jumlah rumah tangga 65.929 67.146 69.354 70.274 71.448
yang menggunakan air bersih
12. Jumlah rumah tangga 80.894 81.914 82.761 83.610 84.384
13. Persentase rumah tangga 81,5 81,97 83,8 84,05 84,67
yang menggunakan air bersih

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 118


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.4.2.5. Komunikasi dan Informatika

a. Rasio Ketersediaan daya Listrik


Tabel 2.178
Rasio Ketersediaan Daya Listrik

Tahun
No. Uraian
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Kebutuhan
- Rumah tangga
- Komersial
- Publik
- Industri
2. Susut dan Losses (T&D)
3. Susut pemakaian sendiri
4. Total susut dan losses
5. Factor beban
6. Produksi
7. Beban puncak
8. Kapasitas terpasang (existing)
9. Kapasitas dibutuhkan
10. Total kapasitas system
11. Daya tambahan

b. Persentase Rumah Tangga ( RT ) yang Menggunakan Listrik

Penggunaan listrik rumah tangga di Kabupaten Pinrang belum sepenuhnya


terpenuhi sesuai jumlah rumah tangga yang ada.

Tabel 2.179
Rasio Rumah Tangga Pengguna Listrik

Tahun
No. Uraian Satuan
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Jumlah rumah tangga
Jumlah 67.953 69.873 71.934 74.942 77.950
pengguna listrik
2. Jumlah seluruh rumah 80.894 81.914 82.761 83.610 84.384
Jumlah
tangga
% Rumah tangga
% 84 85 87 90 92
pengguna listrik
Sumber data : BPS

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 119


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2.4.3. Fokus Iklim Berinvestasi


2.4.3.1. Otonomi daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan
Daerah, Perangkat daerah, Kepegawaian dan Persandian

a. Tabel Angka Kriminalitas


Upaya untuk menciptakan keamanan, ketertiban, dan penanggulangan
kriminalitas merupakan salah satu prioritas untuk mewujudkan stabilitas
penyelenggaraan pemerintahan terutama menjaga iklim investasi di
daerah.Terselenggaranya pemerintahan yang baik jika pemerintah dapat
memberikan rasa aman kepada masyarakat, menjaga ketertiban dalam
pergaulan masyarakat serta menanggulkangi kriminalitas sejingga secara
kuantitas dan kualitas tindak criminal dapat diminimalisir.

Tabel 2.180
Angka kriminalitas
Tahun 2011-2013

Tahun
No. Jenis Kriminal
2011 2012 2013
Lapor Selesai Lapor Selesai Lapor Selesai
1 2 7 8 9 10 11 12
1. Jumah kasus narkoba 29 29 47 47 56 56
2. Jumlah kasus pembunuhan 0 0 5 5 2 2
3. Jumlah kasus seksual 1 3 4 7 8 7
4. Jumlah kasus penganiyaan 41 44 179 148 155 140
5. Jumlah kasus pencurian 26 7 82 29 79 31
6. Jumlah kasus penipuan 2 2 12 21 10 9
7. Jumlah kasus pemalsuan uang 0 0 2 2 1 2
8. Total jumlah tindak criminal selama
99 85 331 259 311 247
1 (satu) tahun
9. Jumlah penduduk 354.652 360.019 363.691
10. Angka kriminalitas (8)/(9) 0,03 0,09 0,08
Sumber data : Polres Pinrang

b. Jumlah Demonstrasi
jumlah demonstrasi di Kabupaten Pinrang cenderung didominasi oleh bidang
politik. Hal ini disebabkan oleh dinamika perpolitikan sebagai imbas kondisi
nasional. Secara lebih detail dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.181
Jumlah Demonstrasi

Tahun
No. Jenis kriminal
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Bidang politik 1 4 22 18 14

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 120


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2. Bidang ekonomi 0 0 0 0 0
3. Kasus pemogokan tenaga
0 0 0 0 0
kerja
4. Jumlah demonstran/ unjuk
1 4 22 18 14
rasa

RPJPN RPJMN RPJMD SUL - SEL RPJMD KAB. PINRANG


2005 -2025 2009 - 2014 2013-2018 2014-2019

Sumber data : Kesbang Pol dan Linmas

2.4.4. Fokus Sumber daya Manusia


2.4.4.1. Ketenaga Kerjaan
a. Tabel Rasio Ketergantungan
Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan sebagai indicator
yang secara kasar menunjukkan keadaan ekonomi suatu Negara maju atau
Negara yang berkembang.Semakin tinggi persentase defendency ratio
menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk
yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan
tidak produktif lagi.Jika makin rendah menunjukkan rendahnya beban yang
ditanggungpenduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum
produktif dan tidak produktif lagi.Ada 2 kelompok usia ketergantungan di
Kabupaten Pinrang yaitu kelompok penduduk usia produktif (15-64 tahun) dan
kelompok usia tidak produktif (usia<15 dan 64> tahun) yang dapat dilihat dari
tabel berikut :
Tabel 2.182
Rasio Ketergantungan

Tahun
No. Penduduk
2009 2010 2011 2012 2013
1 2 3 4 5 6 7
1. Jumlah penduduk usia < 15
128.143 132.052 114.811 121.292 111.302
tahun
2. Jumlah penduduk usia >64
9.596 10.280 21.845 19.250 23.010
tahun
3. Jumlah penduduk usia tidak
137.739 142.332 136.656 140.542 134.312
produktif (1) dan (2)
4. Jumlah penduduk usia 15-64
204.379 211.035 217.996 219.477 226.981
tahun
5. Rasio ketergantungan (3)/(4) 67 67 63 64 59

2.5. Keterkaitan Dokumen Perencanaan


2.5.1. Keterkaitan dengan RPJPN, RPJMN , RPJMD Prov, RPJMD Kab.
Keterkaitan tersebut dapat dilihatasebagai berikut :

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 121


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

VISI VISI VISI VISI

INDONESIA YANG TERWUJUDNYA SULAWESI SELATAN TERWUJUDNYA


MANDIRI, MAJU, INDONESIA YANG SEBAGAI PILAR MASYARAKAT
ADIL DAN MAKMUR SEJAHTERA, UTAMA SEJAHTERA SECARA
DEMOKRATIS DAN PEMBANGUNAN DINAMIS MELALUI
BERKEADILAN NASIONAL DAN HARMONISASI
SIMPUL JEJARING KEHIDUPAN,
AKSELERASI AKSELERASI
KESEJAHTERAAN PRODUKTIVITAS
PADA BTAHUN 2018 KAWASAN, DAN
REVITALISASI PERAN
POROS UTAMA
PEMENUHAN PANGAN
NASIONAL
1. Mewujudkan Misi 1. 1. Mendorong semakin 1. Meningkatkan apresiasi
masyarakat Melanjutkan berkembangnya dan pengamalan nilai-
berahlak mulia, Pembangunan menuju masyarakat yang nilai keagamaan dan
bermoral, beretika, Indonesia yang religious dan kearifan lokal sebagai
berbudaya dan sejahtera kerukunan intra dan nilai utama
beradap antar ummat kemasyarakatan dan
berdasarkan Misi 2. beragama pengembangan
falsafah pancasila Memperkuat Pilar Pilar 2. Meningkatkan kualitas karakter masyarakat
2. Mewujudkan Demokrasi kemakmuran yang tangguh
bangsa yang ekonomi, 2. Memperkokoh
berbudaya saing Misi 3. kesejahteraan social toleransi, soliditas dan
3. Mewujudkan Memperkuat Dimensi dan kelestarian kohesivitas sosial serta
masyarakat keadilan di semua lingkungan pengembangan nilai-
demokratis bidang 3. Meningkatkan akses nilai demokrasi
berdasarkan dan kualitas 3. Meningkatkan derajat
hukum pelayanan pendidikan, kesehatan, kualitas
4. Mewujudkan kesehatan dan pendidikan dan daya
Indonesia Aman, infrastruktur wilayah saing sumberdaya
damai dan bersatu 4. Meningkatkan daya manusia
5. Mewujudkan saing daerah dan 4. Meningkatkan
pemerataan sinergitas regional, kemakmuran ekonomi
pembangunan dan nasional dan global dan kesejahteraan
berkeadilan 5. Meningkatkan kualitas sosial
6. Mewujudkan demokrasi dan 5. Memantapkan tata
Indonesia asri dan kepastian hukum kelola pemerintahan
lestari 6. Meningkatkan kualitas dan reformasi birokrasi
7. Mewujudkan ketertiban, keamanan 6. Mengembangkan
Indonesia menjadi dan kesatuan bangsa. kawasan andalan dan
Negara kepulauan 7. Meningkatkan integrasi pembangunan
yang mandiri, perwujudan 7. Mengoptimalkan fungsi
maju, kuat dan kepemerintahan yang infrastruktur dan
berbasiskan baik. lingkungan hidup
kepentingan
Nasional
8. Mewujudkan
Indonesia
berperan penting
dalam pergaulan
dunia
internasional.

PRIORITAS PRIORITAS/ TUJUAN TUJUAN


AGENDA
 Peningkatan Agenda I 1. Meningkatkan kualitas 1. Meningkatkan
Kemampuan SDM Pembangunan kehidupan religious kualitas ibadah dan
dan Teknologi ekonomi dan masyarakat dan pengamalan agama
 Kondisi aman dan peningkatan kerukunan intra dan dalam berbagai
damai yang makin kesejahteraan Rakyat antar ummat aspek kehidupan
mantap beragama masyarakat
 Kesejahteraan Agenda II 2. Meningkatkan kualitas 2. Meningkatkan
rakyat terus Perbaikan tata kelola kemakmuran ketahanan budaya
membaik Pemerintahan ekonomi, dalam menghadapi
 Pelaksanaan meningkatkan kualitas dinamika perubahan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 122


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Pembangunan Agenda III kesejahteraan social, 3. Mewujudkan karakter


yang Penegakan Pilar meningkatkan pemuda dan remaja
berkelanjutan Demokrasi kelestarian serta masyarakat
 Daya saing lingkungan dan secara umum
semakin kuat dan Agenda IV sumber daya alam berbasis kearifan
kompetitif Penegakan hukum 3. Meningkatkan akses local
 Ketersediaan dan Pemberantasan dan kualitas layanan 4. Mewujudkan
infrastruktur jalan, korupsi pendidikan, ketertiban,
jembatan, irigasi meningkatkan akses ketenteraman,
dan energy dan layanan keamanan dan
 Terwujudnya kota kesehatan , kenyamanan dalam
tanpa permukiman meningkatkan akses kehidupan
kumuh dan kualitas layanan masyarakat
infrastruktur 5. Menguatkan
4. Meningkatkan daya toleransi dan
saing daerah, kohesivitas sosial
meningkatkan kerja serta kesatuan
sama antar bangsa
kabupaten/kota serta 6. Meningkatkan
sinergitas nasional kualitas kehidupan
dan global demokrasi dan politik
5. Meningkatkan kualitas 7. Meningkatkan
penyelenggaraan keberdayaan
demokrasi dan masyarakat dan
penegakan hukum, partisipasinya dalam
meningkatkan pembangunan
kesetaraan gender 8. Meningkatkan akses
dan perlindungan dan kualitas
anak. pelayanan kesehatan
6. Memelihara ketertiban 9. Meningkatkan akses
dan ketentraman dan kualitas
dalam masyarakat, pelayanan
memelihara harmoni pendidikan
social dan kesatuan 10. Meningkatkan daya
bangsa. saing sumberdaya
7. Mewujudkan manusia
Pemerintahan yang 11. Meningkatkan
baik. kordinasi
penanggulangan
kemiskinan
12. Mengembangkan
daya tarik investasi
13. Pengembangan
koperasi dan usaha
mikro, kecil dan
menengah (UMKM)

14. Meningkatkan
produksi dan nilai
tambah komoditas
unggulan
15. Meningkatkan
penanganan
penyandang
masalah
kesejahteraan social
16. Memantapkan
kualitas sistem dan
tata kelola pelayanan
public
17. Mewujudkan
percepatan reformasi
birokras
18. Mengembangkan
kawasan terpadu
dan cepat tumbuh
19. Mengembangkan
sistem agribisnis dan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 123


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

agroindustri
20. Mengoptimalkan
fungsi infrastruktur
wilayah
21. Memelihara daya
dukung lingkungan
hidup

INDIKATOR MAKRO SOSIAL EKONOMI KABUPATEN PINRANG


TAHUN 2014-2019

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 124


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

TARGET TARGET MAKRO RPJMD KAB.PINRANG TAHUN 2014-2019


URAIAN RPJMD
N0 PROV.SULSEL 2014
2013 - 2018 (Tahun 2015 2016 2017 2018 2019 KET
transisi)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 Angka Melek Huruf (%) 95,00 91,99
2 Ketimpangan
Pendapatan (Gini 0,39 0,39 0,39 0,39 0,39 0,39 0,39
Ratio)
3 Tingkat Pengangguran
5,30
terbuka ( % )
4 Penduduk Miskin (% ) 5,0 - 6,5 13,32 13,00 12,25 12.00 11,OO 10,00
5 PDRB Perkapita (Juta ) 30,20 22,866
6 Pertumbuhan Ekonomi
8.0-8.4 7.00 7,3 7,6 7,9 8,2 8,5
(%)
7 Angka Harapan Hidup
73,10 72,81
(Thn)
8 Rata rata Lama
8,12 7,22
sekolah ( Thn)
9 Daya Beli ( Rp ) 662 ,78 645,86

10 IPM 76,50 – 77,50 74,87

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab II Hal. 125


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

BAB III

GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH


SERTA KERANGKA PENDANAAN

Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang, termasuk
segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah.
Penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara
optimal apabila penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan pemberian
sumber-sumber penerimaan yang cukup kepada daerah dengan mengacu pada
peraturan perundang-undangan (money follow function).
Analisis pengelolaan keuangan daerah Kabupaten Pinrang dimaksudkan
untuk menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan
daerah dalam mendanai penyelenggaraan pembangunan daerah. Analisis
pengelolaan keuangan daerah dilakukan terhadap APBD dan laporan keuangan
daerah.
Analisis pengelolaan keuangan daerah dan kerangka pendanaan Kabupaten
Pinrang terlebih dahulu harus disajikan jenis obyek pendapatan, belanja dan
pembiayaan sesuai dengan kewenangan, susunan/struktur masing-masing APBD.
Selanjutnya, analisis dilakukan terhadap penerimaan daerah yaitu
pendapatan dari penerimaan pembiayaan daerah. Kapasitas keuangan daerah pada
dasarnya ditempatkan sejauh mana daerah mampu mengoptimalkan penerimaan
dari pendapatan daerah. Berbagai objek penerimaan daerah akan dianalisis untuk
memahami perilaku atau karakteristik penerimaan selama ini.
Selanjutnya, dibuatlah analisis untuk mengidentifikasi proyeksi pendapatan
daerah. Analisis ini dilakukan untuk memperoleh gambaran kapasitas pendapatan
daerah dengan proyeksi 5 (lima) tahun kedepan, untuk penghitungan kerangka
pendanaan pembangunan daerah.
Analisis dilakukan berdasarkan pada data dan informasi yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan pendapatan daerah, antara lain:
(1) Angka rata-rata pertumbuhan pendapatan daerah masa lalu;
(2) Asumsi indikator makro ekonomi (PDRB/laju pertumbuhan ekonomi, inflasi dan
lain-lain);
(3) Kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah;
(4) Kebijakan dibidang keuangan negara.
Analisis dilakukan dengan kerangka pemikiran sebagaimana disajikan dalam
gambar di bawah ini.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 126
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Gambar 3.1
Analisis Proyeksi Pendapatan Daerah

Kebijakan di bidang
Keuangan Negara

Asumsi indikator Angka rata-rata Tingkat


makro ekonomi pertumbuhan Pertumbuhan
setiap objek Pendapatan
pendapatan daerah daerah

Kebijakan intensifikasi
dan ekstensifikasi

Sebagaimana gambar diatas, pendapatan daerah pada dasarnya ditunjang oleh 3


(tiga) faktor utama, yaitu Indikator Makro Ekonomi, Kebijakan Keuangan Negara dan
Kebijakan Ekstensifikasi dan Intensifikasi. Hasil dari faktor pembangun ini adalah
didapat Pertumbuhan Pendapatan Daerah. Untuk lebih mendapat gambaran, akan
disajikan perkembangan kinerja keuangan dan kebijakan pengelolaan keuangan
masa lalu.

3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu


3.1.1 Kinerja Pendapatan Daerah
Untuk dapat melihat kinerja Pendapatan Daerah Pemerintah Kabupaten
Pinrang dapat dilihat perkembangan realisasi dan pertumbuhan pendapatan daerah
dari tahun 2009 hingga tahun 2013 sebagai berikut :
a. Pendapatan Daerah.
Gambaran tentang pendapatan daerah yang disajikan mengimformasikan
mengenai rata-rata pertumbuhan realisasi pendapatan daerah Kabupaten
Pinrang tahun 2009 -2013 sebagaiamana tertuang pada table 3.1 di bawah ini :

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 127
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 3.1
Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah
Kabupaten PinrangTahun 2009 s/d Tahun 2013

2009 2010 2011 2012 2013 Rata-rata


No. Uraian Pertumbuhan
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (%)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 PENDAPATAN 486,076,784,922.22 595,225,594,396.29 715,931,630,526.94 739,081,285,021.44 856,676,702,062.59 15.47
1.1. Pendapatan Asli Daerah 26,722,938,346.22 21,008,952,488.40 26,639,115,860.44 29,604,658,585.49 52,047,346,773.39 23.09
1.1.1. Pajak daerah 4,584,425,584.00 3,997,867,294.00 5,178,637,722.00 6,940,219,468.00 9,469,550,419.00 21.80
1.1.2. Retribusi daerah 10,408,370,428.24 8,882,584,733.56 12,556,485,548.00 10,881,454,895.00 6,229,570,110.00 (7.35)
1.1.3. Hasil pengelolaan keuangan daerah yang dipisahkan 5,520,143,282.94 4,957,508,352.96 6,228,142,983.00 6,174,983,972.73 6,237,066,336.00 3.90
1.1.4. Lain-lain PAD yang sah 6,209,999,051.04 3,170,992,107.88 2,675,849,607.44 5,608,000,249.76 30,111,159,908.39 120.49
1.2. Dana Perimbangan 421,922,037,092.00 446,104,372,309.00 503,084,710,483.00 578,559,528,699.00 666,820,196,615.00 12.19
1.2.1. Dana bagi hasil pajak /bagi hasil bukan pajak 26,050,522,092.00 32,347,073,309.00 31,659,045,483.00 31,482,989,699.00 29,421,645,615.00 3.73
1.2.2. Dana alokasi umum 346,659,515,000.00 365,266,099,000.00 419,945,865,000.00 502,508,309,000.00 574,244,531,000.00 13.57
1.2.3. Dana alokasi khusus 49,212,000,000.00 48,491,200,000.00 51,479,800,000.00 44,568,230,000.00 63,154,020,000.00 8.24
1.3. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah 37,431,809,484.00 128,112,269,598.89 186,207,804,183.50 130,917,097,736.95 137,809,158,674.20 65.79
1.3.1 Hibah 0.00 1,150,000,000.00 0.00 0.00 1,422,797,500.00 5.93
1.3.2 Dana darurat 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan Pemerintah
1.3.3 14,031,572,484.00 18,917,779,450.89 20,945,530,133.50 24,816,975,226.95 28,355,200,574.20 19.57
Daerah lainnya ***)
1.3.4 Dana penyesuaian dan otonomi khusus****) 12,937,857,000.00 93,625,401,948.00 146,431,683,520.00 85,508,242,000.00 89,517,237,000.00 160.78
Bantuan keuangan dari provinsi atau Pemerintah
1.3.5 10,462,380,000.00 14,419,088,200.00 18,830,590,530.00 20,591,880,510.00 18,513,923,600.00 16.92
Daerah lainnya

Sumber : Sumber DPPKAD Kabupaten Pinrang 2014

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 128
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Memperhatikan table 3.1 diperoleh gambaran bahwa realisasi pendapatan daerah


cendrung meningkat dari tahun 2009 sebesar Rp. 486,07 milyar hingga mencapai
Rp. 856,67 milyar pada tahun 2013 dengan rata-rata tingkat pertumbuhan sebesar
15,47 %.
Dari 4 (empat) Komponen pembentuk PAD dengan rata-rata pertumbuhan
sebesar 23,09 %, Peningkatan terbesar disumbang oleh komponen Lain-lain PAD
yang sah dengan rata tingkat pertumbuhan sebesar 120,49 % dan yang terendah
adalah komponen retribusi Daerah dengan tingkat pertumbuhan mines yaitu sebesar
(7,35 %)
Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan pendapatan daerah adalah
belum diketahuinya secara pasti besar potensi PAD, sehingga target yang
ditetapkan tidak didasarkan atas asesmen potensi yang dimilki dan setelah
berlakunya UU 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,
sehingga ada beberapa regulasi tentang pajak daerah dan retribusi daerah yang
tidak berlaku lagi, sehingga perlu dilakukan penyesuaian perangkat regulasi,
kelembagaan pendapatan daerah serta personil agar tidak berimplikasi pada
penurunan penerimaan pemdapatan Daerah. Adapun penerimaan pendapatan
daerah dari Dana Perimbangan relative tanpa masalah yang berarti kecuali DAK
yang memerlukan dana pendamping daerah minimal 10 % dari jumlah DAK,
sehingga mengurangi porsi penggunaan DAU sesuai dengan kebutuhan daerah,
dan mengenai Lain-lain pendapatan Daerah yang sah sangat fluktuatif karena
penerimaan ini bukan bersumber dari potensi yang dimilki oleh daerah, melainkan
sesuai dengan arah kebijakan Pemerintah.

b. Belanja Daerah
Gambaran tentang realisasi Belanja daerah yang disajikan menginformasikan
rata-rata perkembangan realisasi belanja daerah Kabupaten Pinrang tahun 2009-
2013 sebagaimana tertuang dalam table 3.2 di bawah ini :

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 129
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel.3.2.
Rata-rata Perkembangan Realisasi Belanja Daerah
Kabupaten Pinrang Tahun 2009 s/d Tahun 2013

Rata-rata
2009 2010 2011 2012 2013
No. Uraian Pertumb
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) uhan(%)
1 BELANJA
1.1. Belanja Tidak Lngsung 274.420.814.085 337.109.337.591 376.746.077.890 427.973.740.090 497.638.775.297 16,12
1.1.1. Belanja Pegawai 253.019.749.549 308.740.027.053 351.669.826.550 401.820.670.511 447.095.358.134 15,36
1.1.2. Belanja Bunga 856.235.028 2.517.129.831 562.402.995 72.066.016 52.683.831 17,91
1.1.3. Belanja Subsidi 0 0 0 0 0 0
1.1.4. Belanja Hibah 2.889.332.000 3.472.250.000 2.754.960.800 4.771.877.000 29.504.025.218 147,75
1.1.5. Belanja Bantuan Sosial 2.524.344.000 2.994.505.700 4.004.626.900 449.900.000 354.500.000 14,4
Belanja Bagi Hasil Kepada
1.1.6. 0 0 0 455.000.000 0 0
Provinsi/Kab./Kota dan Pemerintahan desa
Belanja Bantuan Keuangan Kepada
1.1.7. 13.732.153.508 17.540.876.307 15.278.209.445 19.105.797.563 18.552.741.114 9,25
Provinsi/Kab./Kota dan Pemerintahan Desa
1.1.8. Belanja Tidak Terduga 1.399.000.000 1.844.548.700 2.476.051.200 1.298.429.000 2.079.467.000 19,67
1.2. Belanja Langsung 260.783.244.254 234.482.195.528 316.850.245.351 284.383.052.717 316.422.461.245 6,52
1.2.1 Belanja Pegaweai 27.826.660.162 16.786.650.297 17.979.890.269 21.799.677.914 23.627.062.910 -0,73
1.2.2 Belanja Barang dan Jasa 82.541.634.386 90.512.855.964 121.654.414.020 120.873.729.036 154.873.551.730 17,89
1.2.3 Belanja Modal 150.414.949.706 127.182.689.267 177.215.941.062 141.709.645.767 137.921.846.605 0,3
TOTAL BELANJA 535.204.058.339 571.591.533.119 693.596.323.241 712.356.792.807 814.061.236.542 16,12

Sumber : DPPKAD Kabupaten Pinrang 2014

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 130
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Memperhatikan table 3.2 diperoleh gambaran bahwa realisasi belanja tidak


langsung mengalami kenaikan yang signifikan dari tahun 2009 sebesar Rp. 274,42
milyar hingga mencapai Rp.497,63 milyar pada tahun 2013 dengan rata-rata
peningkatan sebesar 16,12 %, sedangkan belanja langsung juga mengalami
kenaikan dari Rp.260,78 milyar pada tahun 2009 meningkat menjadi Rp. 316,42
milyar pada tahun 2013 dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6,52 %.
Permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan belanja tidak terlepas dari :
karena proses perencanaan dan penganggaran APBD yang belum sesuai dengan
jadwal yang ditetapkan, meskipun penetapan APBD masih dapat ditetapkan tepat
waktu. Disamping permasalahan tersebut masih ada beberapa permasalahan yang
perlu mendapat perhatian diantaranya adalah Realisasi belanja yang belum sesuai
dengan target anggaran kas, dan Realisasi DAK yang masih terkadang terkendala
dalam pelaksanaannya serta Proses pengadaan Barang dan Jasa yang masih perlu
pembenahan pada SKPD, demikian pula halnya proporsi realisasibelanja terhadap
anggaran sebagaimana yang disajikan dalam table 3.3. di bawah ini :
Tabel 3.3.
Proporsi Realisasi Belanja Terhadap Anggaran Belanja
Kabupaten Pinrang Tahun 2009 s/d Tahun 2013

2009 2010 2011 2012 2013


No Uraian
(%) (%) (%) (%) (%)
A Belanja Tidak Langsung 51,27 58,98 54,32 60,08 61,13
1 Belanja Pegawai 47,28 54,01 50,7 56,41 54,92
2 Belanja Bunga 0,16 0,44 0,08 0,01 0,01
3 Belanja Subsidi 0 0 0 0 0
4 Belanja Hibah 0,54 0,61 0,4 0,67 3,62
5 Belanja Bantuan Sosial 0,47 0,52 0,58 0,06 0,04
6 Belanja Bagi Hasil 0 0 0 0,06 0
7 Belanja Bantuan Keuangan 2,57 3,07 2,2 2,68 2,28
8 Belanja Tidak Terduga 0,26 0,32 0,36 0,18 0,26
B Belanja Langsung 48,73 41,02 45,68 39,92 38,87
1 Belanja Pegawai 5,2 2,94 2,59 3,06 2,9
2 Belanja Barang dan Jasa 15,42 15,84 17,54 16,97 19,02
3 Belanja Modal 28,1 22,25 25,55 19,89 16,94

Sumber : DPPKAD Kabupaten Pinrang 2014

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 131
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Memperhatikan table 3.3. diperoleh gambaran bahwa realisasi belanja tidak


langsung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun demikian pula proporsi
terhadap anggaran terus meningkat dari 51,27 % pada tahun 2009 meningkat
menjadi 61,13 % pada tahun 2013, sedangkan belanja langsung juga mengalami
peningkatan namun proporsinya terhadap anggaran menurun dari 48,73 % pada
tahun 2009 turun menjadi 38,87 % pada tahun 2013

3.1.2. Neraca Daerah


Analisis neraca daerah bertujuan untuk mengetahui kemampuan keuangan
Pemerintah daerah melalui perhitungan rasio likuiditas, solvabilitas, dan rasio
aktivitas serta kemampuan asset daerah untuk penyediaan dana pembangunan
daerah, selanjutnya mengenai gambaran neraca daerah Kabupaten Pinrang dalam
kurung waktu tahun 2009-2013 disajikan pada table 3.4. berikut ini:

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 132
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 3.4
NERACA DAERAH KABUPATEN PINRANG
TAHUN 2009 S/D 2013

No Uraian 2009 2010 2011 2012 2013


1 ASET - - - - -
2 ASET LANCAR - - - - -
3 Kas 7.025.886.933 16.469.410.624 13.127.554.526 30.148.589.768 66.240.638.797
4 Kas di Kas Daerah 6.629.547.906 15.445.834.475 13.047.728.638 30.038.426.729 65.448.711.423
5 Kas di Bendahara Pengeluaran 80.770.670 43.431.502 23.609.000 29.158.727 624.703.583
6 Kas di Bendahara Penerimaan 315.568.357 980.144.647 56.216.888 81.004.312 4.063.000
7 Investasi Jangka Pendek - - - - 163.160.791
8 Investasi Jangka Pendek - - - - -
9 Piutang 862.819.647 1.773.096.641 3.481.666.695 2.428.248.889 -
10 Piutang Pajak 480.004.271 1.140.042.267 1.658.401.866 1.750.840.206 4.131.709.332
11 Piutang Retribusi 65.190.302 - - - 850.194.026
12 Bagian Lancar Pinjaman Kepada Perusahaan Negara - - - - -
13 Bagian Lancar Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah 116.538.800 421.538.800 426.538.800 - -
14 Bagian Lancar Pinjaman Kepada Pemerintah Pusat - - - - -
15 Bagian Lancar Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya (BUMD) - - - - -
16 Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran - - - - -
17 Bagian Lancar Tuntutan Pembendaharaan - - - - -
18 Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi - - 79.001.756 38.216.314 198.406.936
19 Piutang Lainnya 201.086.274 211.515.574 1.317.724.273 1.614.957.716 4.077.675.032
20 Penyisihan Utang Tak Tertagih - - - (975.765.347) (994.566.662)
21 Persediaan 4.170.223.474 4.556.458.681 4.659.675.065 4.270.843.258 6.876.780.829
22 Persediaan 4.170.223.474 4.556.458.681 4.659.675.065 4.270.843.258 6.876.780.829
23 Jumlah Aset Lancar 12.058.930.054 22.798.965.946 21.268.896.286 36.847.681.915 77.249.128.958
24 INVESTASI JANGKA PANJANG
25 Investasi Non Permanen 4.856.230.260 4.458.750.367 3.536.183.110 576.650.178 363.332.403
26 Pinjaman Kepada Perusahaan Negara - - - - -
27 Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah 300.000.000 - - - -
28 Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya - - - - -
29 Investasi Dalam surat Utang Negara - - - - -
30 Investasi Dalam Proyek Pembangunan - - - - -
31 Investasi Non Permanen Lainnya 4.556.230.260 4.458.750.367 3.536.183.110 3.536.183.110 3.536.183.110
32 Investasi Dana Bergulir - - - - -
33 Dana Bergulir Tidak Dapat/Diragukan Tertagih - - - (2.959.532.932) (3.172.850.707)
34 Investasi Permanen 22.667.219.056 23.167.219.056 19.500.000.001 19.500.000.002 19.500.000.002
35 Penyertaan Modal Pemerintah Daerah 22.667.219.056 23.167.219.056 19.500.000.001 19.500.000.002 19.500.000.002
36 Investasi Permanen Lainnya - - - - -
37 Jumlah Investasi Jangka Panjang 27.523.449.316 27.625.969.423 23.036.183.111 20.076.650.180 19.863.332.405

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 133
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

38 ASET TETAP - - - - -
39 Tanah 165.696.369.455 166.565.859.955 170.269.770.741 172.829.582.911 173.142.422.211
40 Tanah 165.696.369.455 166.565.859.955 170.269.770.741 172.829.582.911 173.142.422.211
41 Peralatan dan Mesin 134.185.951.326 149.961.638.754 180.898.446.741 209.370.513.710 137.093.986.482
42 Alat-alat Berat 18.415.700.000 19.809.400.000 23.076.367.323 27.116.998.669 12.083.136.752
43 Alat-alat Angkutan 32.184.825.200 37.774.776.950 40.565.910.300 42.838.029.950 35.552.311.500
44 Alat Bengkel 827.685.000 1.118.325.000 863.683.000 798.406.000 361.619.500
45 Alat Pertanian dan Peternakan 1.317.793.500 1.822.538.500 1.414.467.000 1.499.517.000 556.824.000
46 Alat-alat Kantor dan Rumah Tangga 61.274.025.925 66.588.366.605 75.169.094.470 92.437.487.138 52.915.879.914
47 Alat Studio dan Komunikasi 1.490.334.000 1.732.984.000 2.873.591.150 4.472.416.647 4.605.726.909
48 Alat Ukur 115.677.500 164.727.500 256.867.500 391.867.500 438.782.000
49 Alat-alat Kedokteran 9.135.359.801 9.581.356.001 14.489.699.594 14.602.189.594 9.488.802.297
50 Alat Laboratorium 9.363.050.400 11.300.264.198 22.009.716.404 25.042.551.212 21.085.403.610
51 Alat Keamanan 61.500.000 68.900.000 179.050.000 171.050.000 5.500.000

No Uraian 2.009 2.010 2.011 2.012 2.013


52 Gedung dan Bangunan 515.426.436.773 546.408.977.879 564.160.836.888 626.645.275.796 647.735.528.779
53 Bangunan Gedung 515.426.436.773 543.449.477.879 561.233.331.888 624.526.455.359 645.283.488.342
54 Bangunan Monumen 2.909.700.000 2.959.500.000 2.927.525.000 2.118.820.437 2.452.040.437
55 Jalan,Irigasi dan Jaringan 1.142.666.559.724 1.229.717.511.923 1.250.895.135.809 1.343.262.438.556 1.317.748.806.274
56 Jalan dan Jembatan 784.601.500.485 852.550.079.134 901.211.917.449 972.191.918.927 946.780.281.564
57 Banguna air (Irigasi) 356.611.036.334 375.161.184.889 340.485.046.888 360.627.307.707 360.089.029.471
58 Instalasi 1.196.299.900 1.748.524.900 1.277.626.000 1.769.515.200 601.774.000
59 Jaringan 257.723.000 257.723.000 7.920.545.472 8.673.696.722 10.277.721.240
60 Aset Tetap Lainnya 2.232.115.450 2.486.538.175 22.930.211.900 25.248.831.845 6.997.031.010
61 Buku dan Perpustakaan 994.600.450 1.142.023.175 21.746.956.150 23.556.802.340 6.218.108.467
62 Barang bercorak kesenian/kebudayaan 1.055.245.000 1.062.245.000 1.078.853.250 1.389.923.005 487.670.100
63 Hewan/ Ternak dan Tumbuhan 182.270.000 282.270.000 104.402.500 302.106.500 291.252.444
64 Konstruksi Dalam Pengerjaan - - 121.195.774.186 97.377.947.666 58.469.216.810
65 Konstruksi Dalam Pengerjaan - - 121.195.774.186 97.377.947.666 58.469.216.810
66 Akumulasi Penyusutan (341.130.517.009) (341.130.517.009) - - (508.566.218.138)
67 Akumulasi Penyusutan (341.130.517.009) (341.130.517.009) - - (508.566.218.138)
68 Jumlah Aset Tetap 1.619.076.915.719 1.754.010.009.677 2.310.350.176.265 2.474.734.590.484 1.832.620.773.429
69 DANA CADANGAN - - - - -
70 Dana Cadangan - - - - -
71 Dana Cadangan - - - - -
72 Jumlah Dana Cadangan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 134
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

73 ASET LAINNYA - - - - -
74 Tagihan Penjualan Angsuran - - - - -
75 Ta gi ha n Penjua l a n Angs ura n - - - - -
76 Tuntutan Perbendaharaan - - - - -
77 Tuntuta n Perbenda ha ra a n - - - - -
78 Tuntutan Gaji Rugi - - - - -
79 Tuntuta n Ga ji Rugi - - - - -
80 Kemitraan dengan Pihak Ketiga - - - - -
81 Kemi tra a n denga n Pi ha k Keti ga - - - - -
82 Aset tak Berwujud 2.597.568.000,00 3.951.143.500,00 4.611.228.500,00 1.342.085.000,00 1.845.625.000,00
83 As et ta k Berwujud 2.597.568.000,00 3.951.143.500,00 4.611.228.500,00 1.342.085.000,00 1.845.625.000,00
84 Aset Lain-lain 14.880.700.716,59 10.025.190.037,09 221.408.136,32 84.717.317,00 8.158.635.814,38
85 As et La i n-l a i n 14.880.700.716,59 10.025.190.037,09 221.408.136,32 84.717.317,00 8.158.635.814,38
86 Jumlah Aset Lainnya 17.478.268.716,59 13.976.333.537,09 4.832.636.636,32 1.426.802.317,00 10.004.260.814,38
87 JUMLAH ASET 1.676.137.563.804,99 1.818.411.278.582,63 - - -
88 REKENING KORAN - SKPD - - - - -
89 Rekeni ng Kora n - SKPD - - - - -
90 Rekeni ng Kora n - SKPD - - - - -
91 Jumlah Rekening Koran - SKPD - - - - -
92 JUMLAH ASET - - 2.359.487.892.298,02 2.533.085.724.895,62 1.939.737.495.605,65
93 KEWAJIBAN - - - - -
94 KEWAJIBAN JANGKA PENDEK - - - - -
95 Utang Kepada Pihak Ketiga - 786.118.576,00 837.610.530,00 2.459.597.804,00 899.076.074,00
96 Uta ng Kepa da Pi ha k Keti ga - 786.118.576,00 837.610.530,00 2.459.597.804,00 899.076.074,00
97 Utang Bunga 189.852.497,00 96.762.611,49 10.505.250,48 7.878.937,86 5.252.625,24
98 Uta ng Bunga 189.852.497,00 96.762.611,49 10.505.250,48 7.878.937,86 5.252.625,24
99 Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) 143.282.520,00 3.282.598.904,00 4.986.613.067,00 26.082.852,00 35.559.118,00
100 Uta ng Perhi tunga n Pi ha k Keti ga (PFK) 143.282.520,00 3.282.598.904,00 4.986.613.067,00 26.082.852,00 35.559.118,00
101 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat 160.931.496,74 160.931.496,74 160.931.496,74 160.931.496,74 160.931.496,74
102 Ba gi a n La nca r Uta ng Da l a m Negeri - Pemeri nta h Pus a t 160.931.496,74 160.931.496,74 160.931.496,74 160.931.498,74 160.931.496,74
103 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya - - - - -
104 Ba gi a n La nca r Uta ng Da l a m Negeri - Pemeri nta h Da era h La i nnya - - - - -
105 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank 27.500.000.000,00 18.855.000.000,00 - - -
106 Ba gi a n La nca r Uta ng Da l a m Negeri - Lemba ga Keua nga n Ba nk 27.500.000.000,00 18.855.000.000,00 - - -
107 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank - - - - -
108 Ba gi a n La nca r Uta ng Da l a m Negeri - Lemba ga Keua nga n Buka n Ba nk - - - - -
109 Bagian Lancar Utang Dalam Negeri - Obligasi - - - - -
110 Ba gi a n La nca r Uta ng Da l a m Negeri - Obl i ga s i - - - - -
111 Bagian Lancar Utang Jangka Pendek Lainnya - - - - -
112 Ba gi a n La nca r Uta ng Ja ngka Pendek La i nnya - - - - -
113 Utang Jangka Pendek Lainnya 3.778.960.530,00 8.997.919.850,00 8.310.804.080,00 6.939.488.905,00 6.459.025.165,00
114 Uta ng Ja ngka Pendek La i nnya 3.778.960.530,00 8.997.919.850,00 8.310.804.080,00 6.939.488.905,00 6.459.025.165,00
115 Jumlah Kewajiban Jangka Pendek 31.773.027.043,74 32.179.331.438,23 14.306.464.424,22 9.593.979.995,60 7.559.844.478,98

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 135
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

116 KEWAJIBAN JANGKA PANJANG - - - - -


117 Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat 804.657.483,70 643.725.986,96 482.794.490,22 321.862.993,48 160.931.495,74
118 Utang Dalam Negeri - Pemerintah Pusat 804.657.483,70 643.725.986,96 482.794.490,22 321.862.993,48 160.931.495,74
119 Utang Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya - - - - -
120 Utang Dalam Negeri - Pemerintah Daerah Lainnya - - - - -
121 Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank - - - - -
122 Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bank - - - - -

123 Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank - - - - -


124 Utang Dalam Negeri - Lembaga Keuangan Bukan Bank - - - - -
125 Utang Dalam Negeri - Obligasi - - - - -
126 Utang Dalam Negeri - Obligasi - - - - -
127 Utang Jangka Panjang Lainnya - - - - -
128 Utang Jangka Panjang Lainnya - - - - -
129 Jumlah Kewajiban Jangka Panjang 804.657.483,70 643.725.986,96 482.794.490,22 321.862.993,48 160.931.495,74
130 JUMLAH KEWAJIBAN 32.577.684.527,44 32.823.057.425,19 14.789.258.914,44 9.915.842.989,08 7.720.775.974,72
132 EKUITAS DANA - - - - -
133 EKUITAS DANA LANCAR - - - - -
134 SILPA 6.567.036.055,79 15.230.968.090,93 11.296.348.692,70 30.093.348.189,22 66.201.016.678,89
135 SILPA 6.567.036.055,79 15.230.968.090,93 11.296.348.692,70 30.093.348.189,22 66.201.016.678,89
136 Pendapatan Yang ditangguhkan 315.568.357,00 980.144.647,00 23.609.000,00 29.158.727,00 4.063.000,00
137 Pendapatan Yang ditangguhkan 315.568.357,00 980.144.647,00 23.609.000,00 29.158.727,00 4.063.000,00
138 Cadangan Piutang 862.819.647,00 1.773.096.641,00 3.481.666.695,00 2.428.248.888,65 4.131.709.331,65
139 Cadangan Piutang 862.819.647,00 1.773.096.641,00 3.481.666.695,00 2.428.248.888,65 4.131.709.331,65
140 Cadangan Persediaan 4.170.223.474,00 4.556.458.681,00 4.659.675.065,00 4.270.843.258,00 6.876.780.829,00
141 Cadangan Persediaan 4.170.223.474,00 4.556.458.681,00 4.659.675.065,00 4.270.843.258,00 6.876.780.829,00
142 Dana yang Harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek (31.629.744.523,74) (31.921.033.552,23) (12.498.867.591,22) (9.567.897.143,60) (7.524.285.360,98)
143 Dana yang Harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek (31.629.744.523,74) (31.921.033.552,23) (12.498.867.591,22) (9.567.897.143,60) (7.524.285.360,98)
144 Jumlah Ekuitas Dana Lancar (19.714.096.989,95) (9.380.365.492,30) 6.962.431.861,48 27.253.701.919,27 69.689.284.478,56
- - - - -
145 EKUITAS DANA INVESTASI - - - - -
146 Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang 27.523.449.315,61 27.625.969.422,61 23.036.183.111,00 20.076.650.179,75 19.863.332.404,75
147 Diinvestasikan Dalam Investasi Jangka Panjang 27.523.449.315,61 27.625.969.422,61 23.036.183.111,00 20.076.650.179,79 19.863.332.404,75
148 Diinvestasikan Dalam Aset Tetap 1.619.076.915.719,00 1.754.010.009.677,00 2.310.350.176.265,00 1.969.191.659.250,00 1.832.620.773.428,98
149 Diinvestasikan Dalam Aset Tetap 1.619.076.915.719,00 1.754.010.009.677,00 2.310.350.176.265,00 1.969.191.659.250,00 1.832.620.773.428,98
150 Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya 17.478.268.716,59 13.976.333.537,09 4.832.636.636,32 1.426.802.317,00 10.004.260.814,38
151 Diinvestasikan Dalam Aset Lainnya 17.478.268.716,59 13.976.333.537,09 4.832.636.636,32 1.426.802.317,00 10.004.260.814,38
152 Dana Yang harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang (804.657.483,70) (643.725.986,96) (482.794.490,22) (321.862.993,48) (160.931.496,74)
153 Dana Yang harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang (804.657.483,70) (643.725.986,96) (482.794.490,22) (321.862.993,48) (160.931.496,74)
154 Jumlah Ekultas Dana Investasi 1.663.273.976.267,50 1.794.968.586.649,74 2.337.736.201.522,10 1.990.373.248.753,27 1.862.327.435.151,37
155 EKUITAS DANA CADANGAN - - - - -
156 Diinvestasikan dalam Dana Cadangan - - - - -
157 Diinvestasikan dalam Dana Cadangan - - - - -
158 REKENING KORAN - PPKD - - - - -
159 Rekening Koran - PPKD - - - - -
160 Rekening Koran - PPKD - - - - -
161 Jumlah Ekultas Dana Cadangan - - - - -
162 JUMLAH EKUITAS DANA 1.643.559.879.277,55 1.785.588.221.157,44 2.344.698.633.383,58 2.017.626.950.672,54 1.932.016.719.629,93
163 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA 1.676.137.563.804,99 1.818.411.278.582,63 2.359.487.892.298,02 2.027.542.793.661,62 1.939.737.495.604,65

Sumber : Dinas PPKAD Kabupaten Pinrang Tahun 2014


RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 136
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Memperhatikan tabel 3.4. bahwa dari aspek Kewajiban daerah terlihat bahwa
kewajiban pemerintah daerah dari tahun ke tahun mengalami penurunan yaitu pada
tahun 2009 sebesar Rp. 32,57 milyar turun menjadi Rp. 7,72 Milyar, sedangkan
equitas dana lancar memperlihatkan posisi sisa lebih perhitungan juga mengalami
peningkatan dari tahun 2009 s/d tahun 2013, meskipun terjadi penurunan pada
tahun 2011.
Berdasarkan data neraca Daerah Kabupaten Pinrang sebagaiamana yang
diperlihatkan pada tabel 3.4. serta hasil perhitungan rasio keuangan daerah
sebagaimana yang disajikan pada tabel 3.5. Analisa Rasio Keuangan daerah
Kabupaten Pinrang tahun 2009-2013, menunjukkan bahwa Kemampuan keuangan
daerah Pemerintah Kabupaten Pinrang dalam komdisi sehat sebagaiamana yang
ditujukkan oleh neraca serta rasio-rasio keuangan tahun 2009-2013 yang hasilnya
menunjukkan kondisi positif.

Tabel 3.5
Analisis Rasio Keuangan Daerah Kabupaten Pinrang
Tahun 2009 s/d Tahun 2013

No. Uraian 2011 (%) 2012 (%) 2013 (%)


1 2 3 4 5
1. Rasio lancar (Current ratio) 1,49 3,48 10,22
2. Rasio quick (quick ratio) 1,16 3,4 9,31
3. Rasio total hutang terhadap total 0,006268 0,004891 0,00398
asset
4. Rasio hutang terhadap modal 0,006308 0,004915 0,003996
5. Rata-rata umur piutang 1,34 1,46 1,4
6. Rata-rata umur persediaan
dst Rasio ... (lainnya)

Sumber: DPPKAD Kabupaten Pinrang 2014

Rasio lancar (current ratio) adalah rasio keuangan yang menyajikan pengukuran
kemampuan sumber daya dalam bentuk asset lancer untuk menyelesaikan setiap
kewajiban jangka pendek pemerintah daerah yang telah jatuh tempo sampai dengan
12 bulan dari tanggal neraca (rasio yang tujuannnya melihat likuiditas yaitu
kemampuan memenuhi kewajiban jangka pendek, semakin tinggi angka rasio
tersebut semakin baik, (makin besar dari 1 %, maka rasio ini makin baik).
Rasio cepat (quick ratio) adalah rasio keuangan yang menyajikan pengukuran
kemampuan aset lancar dalam bentuk kas dan setara kas untuk menyelesaikan
setiap kewajiban jangka pendek pemerintah daerah yang telah jatuh tempo sampai
dengan 12 bulan dari tanggal neraca (rasio yang tujuannya melihat likuiditas yaitu
kempuan memnuhi kewajiban jangka pendek, semakin tinggi angka tersebut
semakin baik (makin besar dari 1 % , maka rasio ini makin baik))

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 137
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Rasio lancar dan Rasio cepat Kabupaten Pinrang tahun 2011-2013 ( lebih
besar dari 1% ) menunjukkan bahwa semua kewajiban jangka pendek pemerintah
Kabupaten Pinrang dalam periode tersebut dapat didanai dari asset lancer dalam
periode yang sama, apabila kewajiban jangka pendek tersebut jatuh tempo.

Rasio total hutang terhadap asset adalah rasio keuangan yag menyajikan
bahwa setiap kewajiban pemerintah daerah mampu didanai dengan aset pemerintah
daerah (rasio yang tujuannya melihat solvabilitas yaitu kemampuan Pemerintah
daerah memenuhi atau melunasi kewajiban totalnya, semakin tinggi angka rasio
total hutang terhadap total asset (aktiva) semakin beresiko/Tidak baik (makin kecil
dari 1 %, maka rasio ini makin baik).
Rasio hutang terhadap modal adalah rasio yang menyajikan bahwa setiap
kewajiban pemerintah daerah mampu didanai dengan ekuitas dana/modal
pemerintah daerah (rasio yang tujuannya melihat solvebilitas yaitu kemampuan
pemerintah daerah memenuhi kewajiban totalnya, semakin tinggi angka rasio
hutang terhadap modal, semakin beresiko/tidak baik (makin kecil dari 1 %, maka
rasio ini makin baik).
Rasio total hutang terhadap total aset dan Rasio total hutang terhadap modal
Kabupaten Pinrang tahun 2011-2013 ( lebih kecil dari 1% ) menunjukkan bahwa
semua total kewajiban pemerintah Kabupaten Pinrang dalam periode tersebut
dapat didanai dari ekuitas dana/modal dalam periode yang sama, apabila kewajiban
tersebut jatuh tempo.
Rata-rata umur piutang adalah pengukuran aktivitas keuangan yang
menyajikan bahwa secara rata-rata piutang dapat ditagih dalam jangka waktu
beberapa hari oleh pemerintah daerah.
Rata-rata umur piutang pemerintah Kabupaten Pinrang dari tahun 2011-2013
dari hasil perhitungan yang diperoleh sebesar 1,34% pada tahun 2011 dan 1,40 %
pada tahun 2013 artinta bahwa piutang pemerintah Kabupaten Pinrang dapat
terealisasi menjadi kas dalam waktu 2 (dua) hari.

3.2. Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu

Keuangan daerah merupakan komponen yang sangat penting dalam


perencanaan pembangunan, sehingga analisis kondisi dan proyeksi keuangan
daerah perlu dilakukan untuk mengetahui kemampuan daerah dalam mendanai
rencana pembangunan dan penyelenggaraan pemerintah daerah untuk
meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, meningkatkan kesejahteraan umum
dan pembangunan daerah secara umum, oleh karena itu, upaya optimalisasi

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 138
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

sumber-sumber pendapatan daerah perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan


secara terpadu dan sinergi antar SKPD/Unit kerja Pengelola pendapatan Daerah.
Pemerintah Kabupaten Pinrang sejak tahun 2012 sampai tahun 2013 telah
memperoleh penilaian atas hasil pemeriksaaan Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah (LKPD) oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dengan predikat tertinggi
yakni Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Keberhasilan memperoleh predikat WTP
selama 2 tahun berturut turut menunjukkan keberhasilan Pemerintah Kabujpaten
Pinrang dalam pengelolaan keuangan daerah, hal ini sejalan dengan prioritas
pertama RPJMN 2010-2014 yakni Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola
Pemerintahan.

3.2.1. Proporsi Penggunaan Anggaran

a. Kebijakan Pendapatan Daerah

Kebijakan pendapatan daerah diarahkan untuk mencapaitarget pendapatan


daerahyang meliputi Pendapatan Asli Daerah(PAD) dan Dana Perimbangan
Daerah, serta Lain-lain PendapatanDaerah yang Sah, dalam rangka
memaksimalkan kemampuan keuangan daerah tanpa mengenyampingkan fungsi
pemerintah sebagai lembaga pelayanan publik. Kebijakan pendapatan daerah
dituangkan dalam beberapa tindakan sebagai berikut :
1. Meningkatkan kemampuan manajerial SKPD pengelola pajak dan retribusi
daerah khususnya pajak dan retribusi yang diperkirakan potensinya belum
terealisir secara optimal;
2. Meningkatkan efisiensi pengelolaan retribusi melalui perencanaan target,
pengawasan, dan evaluasi yang konsisten;
3. Secara proaktif berupaya mendapatkan informasi kebijakan tentang
pengalokasian dana/program/kegiatan dari APBN dan APBD Provinsi serta dari
lembaga pemerintah non departemen,baik dalam rangka realisasi dana
perimbangan maupun penyaluran dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan;
4. Mengembangkan strategi kreatif untuk meningkatkan lain-lain pendapatan asli
daerah yang sah, diantaranya optimalisasi manajemen kas daerah tanpa
mengganggu substansi proses pembangunan; dan
5. Mengupayakan peningkatan capaian penerimaan pendapatan dari pemerintah
pusat dan pemerintah provinsi untuk mendapatkan porsi bagi hasil dan insentif
yang lebih besar.
Untuk mewujudkan kebijakan pendapatan sebagaimana tersebut di atas,
pengelolaan pendapatan daerah perlu dilakukan secara profesional serta adanya
inovasi dan kreasi dari SKPD penghasil PAD, sehingga upaya penggalian dan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 139
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

upaya untuk memaksimalkan pencapaian pendapatan daerah dapat dilakukan.


Secara garis besar upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah adalah:
1. Optimalisasi penerimaan daerah, khususnya PAD berdasarkan potensi dan
regulasi yang sudah ada, melalui manajemen operasional pemungutan,
diantaranya dengan mencegah kebocoran penerimaan pendapatan daerah
semaksimal mungkin dan memotivasi aparat pemungut untuk berupaya secara
optimal memenuhi target yang ditetapkan;
2. Pengembangan koordinasi secara sinergis dengan pemerintah pusat dan
pemerintah provinsi untuk mendapatkan alokasi anggaran APBD dan APBD
Provinsi baik berupa tambahan dana perimbangan, bagi hasil, dan bantuan
keuangan maupun melalui dana tugas pembantuan dan dana dekonsentrasi;
3. Meningkatkan fungsi-fungsi manajemen penerimaan bagi SKPD penghasil dan
instansi terkait serta koordinasi yang terpadu terhadap seluruh stakeholder;
4. Mengupayakan pengelolaan aset dan sumber daya yang dimiliki pemerintah
daerah secara lebih profesional tanpa mengenyampingkan fungsi pemerintah
daerah sebagai lembaga pelayan publik.

b. Kebijakan Belanja Daerah

Tabel 3.6. yang disajikan akan menampilkan perbandingan antara total


belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur dengan total belanja lainnya
ditambah dengan pengeluaran pembiayaan.
Tabel 3.6.
Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur
Kabupaten Pinrang Tahun 2011 s/d Tahun 2013

Total belanja untuk Total pengeluaran


pemenuhan kebutuhan (Belanja + Pembiayaan Prosentase
No Uraian
aparatur (Rp) Pengeluaran) (Rp)

(a) (b) (a) / (b) x 100%


1 Tahun anggaran 2011 580.300.513.332,00 719.867.487.268,17 80,61

2 Tahun anggaran 2012 587.814.661.683,00 720.422.124.170,92 81,59

3 Tahun anggaran 2013 627.327.600.283,00 820.570.560.072,92 76,45

Berdasarkan perbandingan antara total belanja untuk pemenuhan kebutuhan


aparatur dengan total belanja lainnya ditambah dengan pengeluaran pembiayaan.
pada table 3.6. diatas menunjukkan bahwa belanja pemenuhan kebutuhan aparatur
mengalami penurunan dari 80,61 % pada tahun 2011 turun menjadi 76,45 %. Hal ini
juga berarti bahwa pemerintah kabupaten Pinrang dari tahun ke tahun meningkatkan
belanjanya untuk kepentingan anggaran pelayanan publik.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 140
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 3.7. yang disajikan akan menampilkan pengeluaran Wajib dan mengikat serta
prioritas utama dilakukan untuk menghitung kebutuhan pendanaan belanja dan
pengeluaran pembiayaan yang tidak dapat dihindari atau harus dibayar dalam satu
tahun anggaran.
Gambaran tentang realisasi pengeluaran wajib dan mengikat serta prioritas utama
Kabupaten Pinrang pada 3 (tiga) tahun terakhir, tertuang pada tabel berikut :

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 141
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 3.7
Pengeluaran Wajib dan Mengikat serta prioritas utama
Kabupaten Pinrang

Rata-rata
2011 2012 2013
No Uraian Pertumbuhan
(Rp) (Rp) (Rp) (%)
1 2 3 4 5 6
A Belanja Tidak Langsung 369,519,438,990.43 423,445,734,089.00 467,764,783,079.00 12,53
1 Belanja Gaji dan Tunjangan 351,669,826,550.00 401,820,670,511.00 447,095,358,134.00 12,36
Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta Operasional
2 2,009,000,000.00 1,992,200,000.00 2,064,000,000.00 1,38
KDH/WKDH
3 Belanja Bunga 562,402,995.43 72,066,015.00 52,683,831.00 (25,65)
4 Belanja bagi hasil 0.00 455,000,000.00 0.00 0.00
5 Belanja Bantuan Keuangan 15,278,209,445.00 19,105,797,563.00 18,552,741,114.00 11,08
B Belanja Langsung 18,705,172,929.00 16,245,029,489.00 18,986,272,067.00 16.87

1 Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan tenaga medis. 13,146,545,000.00 10,291,521,834.00 11,651,846,010.00 13.22

2 Belanja Beasiswa Pendidikan PNS 110,000,000.00 177,500,000.00 183,000,000.00 3.10


Belanja Jasa Kantor ( khusus tagihan bulanan kantor seperti listrik, air,
3 5,448,627,929.00 5,776,007,655.00 7,151,426,057.00 14,91
telepon dan sejenisnya )

4 Belanja sewa gedung kantor( yang telah ada kontrak jangka panjangnya) 0.00 0.00 0.00 0.00

Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor (yang telah ada kontrak
5 0.00 0.00 0.00 0.00
jangka panjangnya)
C Pembiayaan Pengeluaran 25,628,020,627.74 8,065,331,364.00 6,506,868,985.74 (19.32)
1 Pembentukan Dana Cadangan 0.00 0.00 0.00 0.00
2 Pembayaran pokok utang 25,628,020,627.74 8,065,331,364.00 6,506,868,985.74 (19.32)
TOTAL (A+B+C) 413,852,632,547.17 447,756,094,942.00 493,257,924,131.74 9,18
Sumber : Dinas PPKAD Kab. Pinrang Tahun 2014

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 142
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Kebijakan belanja daerah disusun untuk mencapai sasaran pembangunan daerah,


melalui pelaksanaan fungsi-fungsi pelayanan pemerintah daerah yang terbagi ke
dalam seperangkat urusan wajib dan urusan pilihan sesuai dengan karakteristik,
potensi, kebutuhan, dan permasalahan daerah yang dijabarkan ke dalam program
dan kegiatan pada masing-masing SKPD.
Belanja daerah disusun dengan pendekatan prestasi kerja yang berorientasi
pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan. Oleh karena itu dalam
penyusunan APBD setiap tahun difokuskan kepada pencapaian hasil melalui
program dan kegiatan (belanja langsun) tanpa mengabaikan porsi dari belanja tidak
langsung. Oleh sebab itu untuk lebih terarahnya APBD Kabupaten Pinrang
ditetapkan pokok-pokok kebijakan umum penganggaran sebagai berikut.
1) Alokasi terbesar belanja daerah digunakan untuk membiayai gajidan tunjangan
PNS merupakan kewajiban pemerintah daerah atas penyerahan kewenangan
pemerintah pusat kepada pemerintah kabupaten/kota;
2) Dalam rangka peningkatan kinerja pegawai, pemerintah mengalokasikan dana
untuk meningkatkan kesejahteraan PNS dan pegawai honorer di lingkungan
Pemerintah Kabupaten Pinrang dalam bentuk tunjangan daerah dan uang
makan;
3) Sesuai dengan UU Nomor 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
yang mengamanatkan bahwa Pemerintah Daerah diwajibkan mengalokasikan
dana pendidikan minimal 20 persen dari total anggaran belanja;
4) Pengalokasian dana untuk bantuan penunjang operasional organisasi sosial
kemasyarakatan serta pemberian bantuan honorarium bagi guru
mengaji/TPA/TPQ, Pegawai Syarah dan sejenisnya, serta pemberian bantuan
sosial kegiatan kemasyarakatan;
5) Pembiayaan program dan kegiatan SKPD adalah sesuai dengan tugas pokok
dan fungsinya dalam rangka pemberdayaan masyarakat dan pengurangan
angka kemiskinan dan pengangguran;
6) Alokasi dana dalam pelayanan kesehatan dasar masyarakat dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakatKabupaten Pinrang. Selanjutnya
dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan dan estetika kota maka prioritas
anggaran juga diberikan untuk program sanitasi dan kebersihan kota;
7) Untuk mewujudkan visi dan misi Kabupaten Pinrang, dukungan anggaran
melalui program dan kegiatan pembinaan serta fasilitasi dunia usaha dalam
rangka peningkatan pelayanan dibidang perdagangan dan pariwisata yang
boleh dikatakan merupakan dua unsur yang saling mempengaruhi;
8) Melanjutkan pembangunan infrastruktur pemerintahan dalam mendukung
penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan fungsi kabupaten;

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 143
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

9) Melanjutkan dan meningkatkan pembangunan infrastruktur jalan,jembatan,


irigasi, penerangan jalan umum serta sarana dan prasarana sanitasi pemukiman
penduduk;
10) Penyediaan sarana dan prasarana aparatur dalam rangka pelaksanaan tugas
pokok dan fungsi di masing-masing SKPD;
11) Alokasi dana dalam rangka mendukung penyelenggaraan pemerintahan di
kelurahan dan desa;
12) Alokasi dana untuk pelaksanaan program dan kegiatan di setiapSKPD baik
penunjang operasional rutin maupun dalam rangka peningkatan pelayanan bagi
masyarakat baik dalam bentuk pembinaan maupun fasilitasi.
13) Mengupayakan secara bertahap memperbesar porsi alokasi belanja langsung
dan mengurangi belanja tidak langsung dengan porsi perbandingan 50:50.

c. Kebijakan Pembiayaan Daerah

Analisis Pembiayaan daerah dimaksudkan untuk member gambaran atau


informasi pengaruh kebijakan pembiayaan daerah pada tahun anggaran
sebelumnya terhadap surplus atau defisit belanja daerah. Gambaran ini menjadi
bahan untuk menentukan kebijakan pembiayaan pemerintah daerah Kabupayen
Pinrang periode 2014-2019 tertuma terkait denga perhitungan kapasitas pendanaan
pembangunan daerah. Untuk mengetahui besaran dari pendanaan pembangunan,
maka kondisi realisasi anggaran pendapatan dan belanja daerah perlu dijelaskan
tentang posisi surplus belanja dan/atau defisit belanja selama periode pemerintahan
yang lalu.

d. Surplus/Defisit
Dengan memperhatikan pendapatan dan belanja daerah periode lalu, maka
gambaran surplus/defisit dalam anggaran daerah dapat diketahui. Kondisi anggaran
defisit/ surplus tidak selalu sama dengan realisasi anggaran, realisasi anggaran
defisit terjadi pada Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp. 49,12 milyar lebih,
sedangkan posisi realisasi anggaran surplus terjadi pada Tahun Anggaran
2010,2011,2012 dan 2013. Posisi realisasi anggaran defisit Tahun Anggaran 2009
sebesar Rp.49,12 milyar lebih.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 144
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 3.8
Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja
Tahun 2009 s/d Tahun 2013
Kabupaten Pinrang

Rata-rata
2009 2010 2011 2012 2013
No. Uraian Pertumbuhan
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
(%)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 PENDAPATAN 486,076,784,922.22 595,225,594,396.29 715,931,630,526.94 739,081,285,021.44 856,676,702,062.59 15.47

1.1. PAD 26,722,938,346.22 21,008,952,488.40 26,639,115,860.44 29,604,658,585.49 52,047,346,773.39 23.09

1.2. Pendapatan Transfer 448,891,466,576.00 558,647,553,707.89 670,461,924,136.50 688,884,745,925.95 784,692,634,189.20 15.28

1.3. Lain-lain Pendapatan Yang Sah 10,462,380,000.00 15,569,088,200.00 18,830,590,530.00 20,591,880,510.00 19,936,721,100.00 18.98

2 BELANJA 535,204,058,338.55 554,050,656,812.33 678,318,113,796.43 693,379,931,243.92 795,988,770,028.18 10.74

2.1. Belanja Operasi 383,390,108,632.55 425,023,418,845.33 498,626,121,534.43 550,371,856,476.92 655,987,456,423.18 14.44

2.2. Balanja Modal 150,414,949,706.00 127,182,689,267.00 177,215,941,062.00 141,709,645,767.00 137,921,846,605.00 0.30

2.3. Belanja Tidak Terduga 1,399,000,000.00 1,844,548,700.00 2,476,051,200.00 1,298,429,000.00 2,079,467,000.00 19.67

Surplus / Defisit (49,127,273,416.33) 41,174,937,583.96 37,613,516,730.51 45,701,353,777.52 60,687,932,034.41 15.22

Sumber : Dinas PPKAD Kab. Pinrang Tahun 2014

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 145
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Defisit anggaran ditutup dengan Sisa lebih Perhitungan Anggaran Tahun


sebelumnya, sedangkan Surplus anggaran Kabupaten Pinrang ditetapkan sebagai
sumber pendapatan daerah pada tahun aggaran berikutnya. Dengan rasio antara
defisit dengan nilai PDRB berlaku transaksi keuangan Kabupaten Pinrang pada
masa pemerintahan sebelumnya masih cukup baik. Jika dihubungkan dengan
ketentuan batas maksimal defisit yang ditetapkan oleh Kementerian Dalam Negeri
maupun KementerianKeuangan yang memberi batasan maksimal defisit adalah 3
persen, maka defisit anggaran Kabupaten Pinrang Tahun Anggaran 2009 sebesar
0,14 persen, masih tergolong baik.
Pada Tabel 3.7 diatas nampak bahwa perbandingan antara Pendapatan
Daerah dengan Belanja Daerah menghasilkan data surplus/defisit. Data defisit atau
surplus pada tahun anggaran ditambahkan dengan pengeluaran pembiayaan,
sehingga pada akhirnya diperoleh defisit atau surplus secara riil. Tahun Anggaran
2009 APBD Kabupaten Pinrang menghasilkan data defisit, sedangkan Tahun
Anggaran 2010, 2011, 2012dan 2013 APBD Kabupaten Pinrang menghasilkan data
surplus. Posisi surplus dikarenakan realisasi pendapatan daerah lebih besar
dibandingkan belanja daerah,sedangkan posisi defisit dikarenakan realisasi
pendapatan daerah lebih kecil dibandingkan belanja daerah.

e. Penerimaan dan Pengeluaran Pembiayaan


Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali
dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang
bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Dalam APBD
Kabupaten Pinrang sebagaimana disajikan pada tabel 3.8. di bawah ini:
Tabel 3.9
Penutupan Defist Riil Anggaran
Kabupaten Pinrang

2011 2012 2013


NO Uraian
(Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5
1. Realisasi Pendapatan Daerah 715,931,630,526.94 739,081,285,021.44 856,676,702,062.59
Dikurangi realisasi:
2. Belanja Daerah 693,596,323,241.43 712,356,792,806.92 814,061,236,542.18
3. Pengeluaran Pembiayaan Daerah 26,271,164,027.74 8,065,331,364.00 6,509,323,530.74
A Defisit riil (3,935,856,742.23) 18,659,160,850.52 36,106,141,989.67
Ditutup oleh realisasi Penerimaan
Pembiayaan:
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA)
4. 15,230,968,090.93 11,375,325,981.70 30,093,348,189.22
Tahun Anggaran sebelumnya
5. Pencairan Dana Cadangan 0.00 0.00 0.00
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di
6. 0.00 0.00 0.00
Pisahkan
7. Penerimaan Pinjaman Daerah 0.00 0.00 0.00
Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman
8. 55,239,000.00 58,861,357.00 1,526,500.00
Daerah

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 146
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

9. Penerimaan Piutang Daerah 0.00 0.00 0.00


Total Realisasi Penerimaan Pembiayaan
B 15,286,207,090.93 11,434,187,338.70 30,094,874,689.22
Daerah
Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun
A-B (19,222,063,833.16) 7,224,973,511.82 6,011,267,300.45
berkenaan
Sumber : Dinas PPKAD Tahun 2014
Tabel 3.9. memperlihatkan defisit riil anggaran Kabupaten Pinrang periode Tahun
2011-2013. nampak bahwa posisi defisit anggaran terjadi pada APBD Tahun
Anggaran 2011, yang masih dibawah standar yang ditetapkan oleh Kementrian
Keuangan dan Kementrian Dalam Negeri yaitu maksimal 3 persen.

Sisa lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan adalah dana yang dapat
dipergunakan untuk penganggaran tahun berikutnya. Dari tabel 3.8 dapat dijelaskan
bahwa secara keseluruhan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan
berfluktuasi dari tahun 2001 sebesar 15 milyar lebih turun menjadi Rp. 11 milyar
lebih pada tahun 2012 dan mengalami kenaikan kembali pada tahun 2013 sebesar
Rp. 30 milyar lebih.
Dengan mencermati tabel tersebut diatas, komponen terbesar dalam
menutup defisit masih mengutamakan penerimaan dari SiLPA dibandingkan dengan
penerimaan pembiayaan lainnya. Untuk masa pemerintahan lima tahun kedepan,
kebijakan penutup defisit diupayakan secara bertahap pada sumber-sumber
penerimaan pembiayaan lainnya, artinya pemerintah Kabupaten Pinrang perlu terus
meningkatkan upaya untuk mencari sumber-sumber penerimaan pembiayaan
lainnya. SiLPA yang terjadi pada periode pemerintahan sebelumnya diakibatkan
oleh faktor-faktor antara lain : (i) sisa penghematan belanja atau efisiensi anggaran
belanja; (ii) sisa anggaran karena kegiatan yang tertunda yang dilanjutkan pada
tahun anggaran berikutnya; (iii) yang karena pelampauan penerimaan pendapatn
asli daerah.
Tabel 3.10.
Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran
Kabupaten Pinrang
Proporsi dari total defisit riil
No. Uraian 2011 2012 2013
(%) (%) (%)
1 2 3 4 5
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA)
1. 15,230,968,090.93 11,296,348,692.70 30,093,348,189.22
Tahun Anggaran sebelumnya
2. Pencairan Dana Cadangan 0.00 0.00 0.00
Hasil Penjualan Kekayaan Daerah Yang di
3. 0.00 0.00 0.00
Pisahkan
4. Penerimaan Pinjaman Daerah 0.00 0.00 0.00
Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman
5. 55,239,000.00 58,861,357.00 1,526,500.00
Daerah
6. Penerimaan Piutang Daerah 0.00 0.00 0.00
Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun
7. (19,222,063,833.16) 7,224,973,511.82 6,011,267,300.45
berkenaan
Sumber : Dinas PPKAD Tahun 2014

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 147
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Dari tabel 3.10. nampak item-item penutup defisit riil anggaran Kabupaten Pinrang
tahun Anggaran 2011-2013, yang hanya terdiri dari dua komponen yaitu SiLPA dan
komponen penerimaan kembali pemberian pimjaman daerah. Komponen SiLPA
menempati posisi terbesar dalam menutup defisit riil yaitu menutup defisit pada
Tahun 2011 sebesar 57,97 persen, dan pada tahun 2012 naik sebesar 141,04 dan
selanjutnya mengalami kenaikan lagi pada tahun 2013 lagi sebesar 462,31 persen.

Tabel 3.11
Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
Kabupaten Pinrang
Rata-
rata
2011 2012 2013
pertumb
No. Uraian uhan *)
% dari % dari % dari
Rp Rp Rp
SiLPA SiLPA SiLPA

1 2 3 4 5 6 7 8 9
1. Jumlah SiLPA 11,296,348,692.70 100.00 30,093,348,189.22 100.00 66,201,016,678.89 100.00 70.28
Pelampauan (121.35
2. (13,708,526,613.56) (10,586,924,463.56) (35.18) (614,989,295.61) (0.93) (58.48)
penerimaan PAD )
Pelampauan
3. penerimaan dana (8,965,765,311.53) (79.37) 6,590,469,204.95 21.90 (9,286,715,519.80) (14.03) (207.21)
perimbangan
Pelampauan
penerimaan lain-
4. 3,330,590,530.00 29.48 100,000,000.00 0.33 (1,708,121,500.00) (2.58) (962.56)
lain pendapatan
daerah yang sah
Sisa
penghematan
5. 30,953,869,842.57 274.02 33,262,517,670.78 110.53 72,139,166,531.82 108.97 62,17
belanja atau
akibat lainnya
Kewajiban kepada
pihak ketiga
6. sampai dengan 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
akhir tahun belum
terselesaikan
7. Kegiatan lanjutan 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

Sumber : Dinas PPKAD Kab. Pinrang Tahun 2014

Tabel 3.11 memperlihatkan SiLPA yang terjadi selama periode tahun 2011-2013
disebabkan oleh beberapa faktor antara lain (i) pelampauan penerimaan PAD
dengan rata-rata pertumbuhannya sebesar (58,48) persen pertahun; (ii) pelampauan
penerimaan dana perimbangan dengan rata-rata pertumbuhannya sebesar (207,21)
persen pertahun; (iii) pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah
dengan rata-rata penurunan pertumbuhannya sebesar (962,56) persen pertahun;
(iv) sisa penghematan belanja atau akibat lainnya dengan rata-rata pertumbuhannya
sebesar 62,17 persen pertahun; (v) pelampauan Kewajiban kepada pihak ketiga;
dan (vi) Kegiatan Lanjutan.
Faktor penyumbang terbesar dalam posisi SiLPA selama periode tahun 2011-
2013 adalah sisa penghematan belanja atau akibat lainnya dengan rata-rata
pertumbuhannya sebesar 62,17 persen pertahun, dan data terbesar adalah pada

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 148
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tahun 2013 yaitu sebesar Rp.72 Milyar lebih, selanjutnya pada Tahun 2012 sebesar
Rp 33 Milyar lebih, dan pada Tahun 2011 sebesar Rp.30 milyar lebih.
Kebijakan Pengelolaan Keuangan Daerah khusunya aspek analisis
pembiayaan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan
bawhwa Realisasi kebijakan anggaran surplus khususnya pada Tahun 2010 s/d
2013, sementara kebijakan anggaran defisit terjadi pada hanya Tahun 2009, Pada
kondisi anggaran defisit, kebijakan penerimaan pembiayaan lebih diutamakan dari
SILPA daripada sumber penerimaan pembiayaan lainnya.
Kebijakan Pembiayaan pada Tahun 2009-2014 lebih ditekankan kepada
upaya menutupi perkiraan defisit APBD melalui upaya peningkatan penerimaan
pembiayaan / penurunan pengeluaran pembiayaan. Kebijakan penerimaan
pembiayaan daerah meliputi semua pengeluaran yang akan diterima kembali, baik
pada tahun anggaran berjalan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya,
dimana sumber-sumber penerimaan pembiayaan daerah diperkirakan berasal dari
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA).
Sementara untuk kebijakan pengeluaran pembiayaan meliputi semua
penerimaan yang perlu dibayar kembali baik pada tahun anggaran berjalan maupun
pada tahun-tahun anggaran berikutnya, yaitu:
1) Investasi pemerintah daerah pada BPD (Bank Sul-Sel);
2) Investasi pemerintah daerah pada perusahaan daerah yang dinilai sehat dan
diperkirakan mampu menggenjot pendapatan daerah di masa yang akan
datang.
3) Jika memungkinkan untuk membatasi melakukan kebijakan penambahan
hutang daerah sesuai dengan kemampuan keuangan daerah yang ada.

3.3. Kerangka Pendanaan


Analisis kerangka pendanaan bertujuan untuk menghitung kapasitas total
keuangan daerah, yang akan dialokasikan untuk mendanai belanja/pengeluaran
periodik wajib dan mengikat serta prioritas utama dan program-program
pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima) tahun kedepan serta
alokasi untuk belanja daerah dan pengeluaran daerah lainnya.
Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi seluruh
penerimaan daerah sebagaimana telah dihitung pada bagian di atas dan ke pos-pos
mana sumber penerimaan tersebut akan dialokasikan.Suatu kapasitas keuangan
daerah adalah total pendapatan dan penerimaan daerah setelah dikurangkan
dengan Kewajiban kepada pihak ketiga sampai dengan akhir tahun belum
terselesaikan dan Kegiatan lanjutan yang akan didanai pada tahun anggaran
berikutnya.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 149
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

3.3.1. Proyeksi Pendapatan Daerah


Proyeksi pendapatan daerah menggunakan rata-rata pertumbuhan realisasi
pendapatan kurun waktu 2014-2019, yakni 15,47% per tahun. Dengan
menggunakan tahun dasar 2013 yaitu data PerubahanAPBD Tahun 2013 dan
Proyeksi Tahun 2014 yang merupakan tahun pertama menggunakan maka dapat
dikalkulasikan proyeksi pendapatan daerah sebagaimana ditunjukkan pada tabel
berikut ini:

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 150
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel.3.13.
Proyeksi Penerimaan Pendapatan Daerah
Tahun 2014 s/d Tahun 2019
Kabupaten Pinrang

2014 2015 2016 2017 2018 2019 Rata-rata


No. Uraian
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) Pertumbuhan(%)

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 PENDAPATAN 1,011,248,724,754.60 1,167,688,902,474.14 1,348,330,375,686.89 1,556,917,084,805.65 1,807,892,118,876.57 2,075,887,510,640.27 15,47

1.1. Pendapatan Asli Daerah 67,154,886,674.69 78,235,156,465.77 90,338,135,171.02 104,313,444,681.98 121,128,771,964.73 139,084,463,212.90 6,07

1.1.1. Pajak daerah 12,215,473,886.13 14,230,974,961.12 16,432,506,787.61 18,974,615,587.65 22,033,323,620.38 25,299,463,858.43 18,19

1.1.2. Retribusi daerah 8,038,439,934.96 9,364,748,228.95 10,813,474,779.97 12,486,319,328.43 14,499,114,004.18 16,648,410,246.58 11,17
Hasil pengelolaan keuangan
1.1.3. 8,045,155,423.63 9,372,571,744.60 10,822,508,593.49 12,496,750,672.90 14,511,226,881.37 16,662,318,692.91 11,98
daerah yang dipisahkan
1.1.4. Lain-lain PAD yang sah 38,849,101,941.31 45,259,038,015.45 52,260,611,196.44 60,345,327,748.52 70,072,994,581.60 80,460,361,968.66 57,85

1.2. Dana Perimbangan 780,199,450,516.06 908,929,041,685.87 1,049,540,364,434.67 1,211,904,258,812.72 1,407,263,225,333.52 1,615,870,838,282.39 77,84

Dana bagi hasil pajak /bagi hasil


1.2.1. 34,406,795,767.76 40,083,770,738.35 46,284,730,071.57 53,444,977,813.64 62,060,308,237.21 62,060,308,237.21 4,41
bukan pajak

1.2.2. Dana alokasi umum 671,907,766,784.43 782,769,690,699.87 903,864,161,851.14 1,043,691,947,689.51 1,211,935,089,657.23 1,391,587,965,928.79 86,12

1.2.3. Dana alokasi khusus 73,884,887,963.87 86,075,580,247.65 99,391,472,511.96 114,767,333,309.56 133,267,827,439.09 153,022,968,385.34 9,47
Lain-Lain Pendapatan Daerah yang
1.3. 161,271,959,193.39 187,881,144,408.09 216,946,357,448.02 250,507,958,945.23 290,889,841,927.24 334,010,300,462.02 16,09
Sah
1.3.1 Hibah 1,661,101,179.69 1,935,175,787.40 2,234,547,481.71 2,580,231,977.14 2,996,165,371.85 3,440,306,094.76 1,03

1.3.2 Dana darurat 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00

Dana bagi hasil pajak dari provinsi


1.3.3 33,189,769,202.00 38,665,939,519.18 44,647,560,362.80 51,554,537,950.93 59,865,129,468.63 68,739,319,835.08 20,58
dan Pemerintah Daerah lainnya ***)

Dana penyesuaian dan otonomi


1.3.4 104,762,264,692.03 122,047,591,407.49 140,928,353,798.23 162,729,970,130.82 188,962,041,315.94 216,973,091,180.13 64,96
khusus****)
Bantuan keuangan dari provinsi
1.3.5 21,658,824,119.67 25,232,437,694.01 29,135,895,805.27 33,643,218,886.34 39,066,505,770.83 44,857,583,352.05 13,43
atau Pemerintah Daerah lainnya
Sumber : Dinas PPKAD Kab. Pinrang Tahun 2014

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 151
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

3.3.2. Proyeksi SilPA

Proyeksi SiLPA tahun 2014-2019 menggunakan data SiLPA kurun waktu


ditunjukkan melalui Tabel 3.11 dimana diketahui tingkat pertumbuhan SiLPA yang
cukup besar yaitu 70,28% namun demikian dengan mempertimbangkan bahwa
tahun-tahun mendatang proses perencanaan dan penganggaran diharapkan akan
lebih baik dan sistem pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana
pembangunan sudah berjalan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan atau dengan asumsi bahwa SilPA harus mampu menutup defisit
anggaran yaitu maksimal 6% dari total APBD maka diperoleh proyeksi SiLPA berikut
ini :

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 152
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel.3.14.
Proyeksi Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran
Kabupaten Pinrang

Proyeksi
2013
No Uraian
(Rp) 2014 2015 2016 2017 2018 2019
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Sisa Lebih (Riil)
66.240.638.796,89 33.103.683.008,14 36.412.951.308,96 40.054.246.439,85 44.059.671.083,84 48.465.638.192,22 53.312.202.011,44
Pembiayaan Anggaran

Berdasarkan data historis sebagaimana disajikan pada tabel sebelumnya, maka perkiraan kapasitas kemampuan keuangan daerah untuk mendanai
pembangunan Kabupaten Pinrang dalam jangka waktu lima tahun mendatang tahun 2014-2019, disajikan pada tabel 3.15 dan tabel 3.16 sebagai
berikut:
Tabel. 3.15.
Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan Daerah
Kabupaten Pinrang
Proyeksi
No. Uraian 2014 2015 2016 2017 2018 2019
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6 7 8
1. Pendapatan 1,011,248,724,754.60 1,167,688,902,474.31 1,348,330,375,687.07 1,556,917,084,805.87 1,807,892,118,876.57 2,075,887,510,640.27
Pencairan dana cadangan (sesuai
2. 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Perda)
Sisa Lebih Riil Perhitungan
3. 33,103,683,008.14 36,412,951,308.96 40,054,246,439.85 44,059,671,083.84 48,465,638,192.22 53,312,202,011.44
Anggaran
Total penerimaan 1,044,352,407,762.74 1,204,101,853,783.27 1,388,384,622,126.92 1,600,976,755,889.71 1,856,357,757,068.79 2,129,199,712,651.71
Dikurangi:
Belanja dan Pengeluaran
4. Pembiayaan yang Wajib dan 551,998,029,389.10 618,424,523,067.87 693,415,805,824.71 777,975,781,790.32 873,246,889,404.68 980,525,459,949.69
Mengikat serta Prioritas Utama
Kapasitas riil kemampuan
492,354,378,373.64 585,677,330,715.40 694,968,816,302.21 823,000,974,099.39 983,110,867,664.11 1,148,674,252,702.02
keuangan
Sumber : Dinas PPKAD Kab. Pinrang Tahun 2014

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 153
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

3.3.3. Proyeksi Kebutuhan Pengeluaran Wajib dan Mengikat serta Prioritas


Utama

Proyeksi kebutuhan belanja wajib dan mengikat dihitung berdasarkan rata-rata


tingkat realisasi pengeluaran wajib dan mengikat tahun 2009-2013 sebagaimana
ditunjukkan melalui Tabel 3.7 Adapun hasil proyeksi dapat dilihat melalui tabel
berikut ini:

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 154
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel. 3.16.
Proyeksi Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang Wajib dan
Mengikat serta Prioritas Utama
Kabupaten Pinrang

Proyeksi
Tingkat
2013
No Uraian pertumbuhan 2014 2015 2016 2017 2018 2019
(Rp)
(%)
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A Belanja TidakLangsung 467,764,783,079.00 12.53 525,096,382,856.78 589,489,865,116.17 661,813,802,479.21 743,044,137,460.96 834,277,330,906.35 936,745,153,844.64
1 Belanja Gaji dan Tunjangan 447,095,358,134.00 12.36 502,356,344,399.00 564,447,588,566.00 634,213,310,512.00 712,602,075,691.00 800,679,692,246.00 899,643,702,207.00

Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD


2 2,064,000,000.00 1.38 2,092,483,200.00 2,121,359,468.16 2,150,634,228.82 2,180,312,981.18 2,210,401,300.32 2,240,904,838.26
serta Operasional KDH/WKDH

3 Belanja Bunga 52,683,831.00 (25.65) 39,170,428.35 29,123,213.48 21,653,109.22 16,099,086.71 11,969,670.97 8,899,450.36
4 Belanja bagi hasil 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
5 Belanja Bantuan Keuangan 18,552,741,114.00 11.08 20,608,384,829.43 22,891,793,868.53 25,428,204,629.17 28,245,649,702.08 31,375,267,689.07 34,851,647,349.02
B Belanja Langsung 18,986,272,067.00 16.87 21,651,904,634.62 24,699,166,188.64 28,184,808,591.07 32,174,651,601.47 36,745,216,765.48 41,985,707,194.98

Belanja honorarium PNS khusus untuk guru dan


1 11,651,846,010.00 13.22 13,192,220,052.52 14,936,231,543.47 16,910,801,353.51 19,146,409,292.45 21,677,564,600.91 24,543,338,641.15
tenaga medis.

2 Belanja Beasiswa Pendidikan PNS 183,000,000.00 32.23 241,980,900.00 319,971,344.07 423,098,108.26 559,462,628.56 739,777,433.74 978,207,700.64

Belanja Jasa Kantor (khusus tagihan bulanan


3 7,151,426,057.00 14.91 8,217,703,682.10 9,442,963,301.10 10,850,909,129.29 12,468,779,680.47 14,327,874,730.83 16,464,160,853.20
kantor seperti listrik, air, telepon dan sejenisnya )

Belanja sewa gedung kantor( yang telah ada


4 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
kontrak jangka panjangnya)

Belanja sewa perlengkapan dan peralatan kantor


5 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
(yang telah ada kontrak jangka panjangnya)
C Pengeluaran Pembiayaan 6,506,868,985.74 (19.32) 5,249,741,897.70 4,235,491,763.06 3,417,194,754.44 2,756,992,727.88 2,224,341,732.85 1,794,598,910.07
1 Pembentukan Dana Cadangan 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
2 Pembayaran pokok utang 6,506,868,985.74 (19.32) 5,249,741,897.70 4,235,491,763.06 3,417,194,754.44 2,756,992,727.88 2,224,341,732.85 1,794,598,910.07

TOTAL BELANJA WAJIB DAN PENGELUARAN


YANG WAJIB MENGIKAT SERTA PRIORITAS 493,257,924,131.74 100.00 551,998,029,389.10 618,424,523,067.87 693,415,805,824.71 777,975,781,790.32 873,246,889,404.68 980,525,459,949.69
UTAMA

Sumber : Dinas PPKAD Kab. Pinrang Tahun 2014

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 155
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

3.3.4. Kebijakan Alokasi Anggaran

Berdasarkan proyeksi kapasitas kemampuan keuangan daerah, selanjutnya


perlu ditetapkan kebijakan alokasi dari kapasitas kemampuan keuangan daerah
tersebut kedalam berbagai Kelompok prioritas. Kelompok Prioritas I mendapatkan
prioritas pertama sebelum Kelompok Prioritas II. Kelompok Prioritas III mendapatkan
alokasi anggaran setelah Kelompok Prioritas I dan II terpenuhi kebutuhan dananya.
Adapun ketentuan prioritas anggaran sebagai berikut.

Prioritas I, dialokasikan untuk mendanai Pengeluaran Wajib dan Mengikat serta


Prioritas Utama

Prioritas II, dialokasikan untuk pendanaan:


a. program prioritas dalam rangka pencapaian visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati
periode 2014-2019, yang merupakan program pembangunan daerah dengan
tema atau program unggulan (dedicated) Kepala daerah sebagaimana
diamanatkan dalam RPJMN dan amanat/kebijakan nasional yang definitif harus
dilaksanakan oleh daerah pada tahun rencana, termasuk untuk prioritas bidang
pendidikan 20% (duapuluh persen) dan bidang kesehatan 10% (sepuluh persen).
Program tersebut harus berhubungan langsung dengan kepentingan publik,
bersifat monumental, berskala besar, dan memiliki kepentingan dan nilai manfaat
yang tinggi, memberikan dampak luas pada masyarakat dengan daya ungkit
yang tinggi pada capaian visi/misi daerah. Di samping itu, prioritas II juga
diperuntukkan bagi prioritas belanja yang wajib sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
b. program prioritas dalam rangka penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah
yang paling berdampak luas pada masing-masing segementasi masyarakat yang
dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi berhubungan
dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPD.

Prioritas III, merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanja-belanja


tidak langsung seperti: dana pendamping DAK, tambahan penghasilan PNS, belanja
hibah, belanja bantuan social organisasi kemasyarakatan, belanja bantuan
keuangan dan pemerintahan desa serta belanja tidak terduga.Berdasarkan
penjelasan tersebut maka alokasi kapasitas keuangan daerah berdasarkan prioritas.
Secara ringkas kerangka pendanaan pembangunan jangka menengah Kabupaten
Pinrang tahun 2014 sampai dengan 2019 disajikan melalui tabel sebagai berikut :

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 156
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel. 3.17.
Kerangka Pendanaan
Alokasi Kapasitas Riil Keuangan Daerah

Alokasi

Jenis
No. 2014 2015 2016 2017 2018 2019
Dana

% Rp % Rp % Rp % Rp % Rp % Rp

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

1. Prioritas I 54.59 551,998,029,389.10 52.96 618,424,523,067.87 51.43 693,415,805,824.71 49.97 777,975,781,790.32 48.30 873,246,889,404.68 47.23 980,525,459,949.69

2. Prioritas II 40.00 404,499,489,901.84 42.00 490,429,339,093.14 44.00 593,265,365,302.23 46.00 716,181,859,010.60 48.00 867,788,217,060.75 50.00 1,037,943,755,320.14

3. Prioritas III 5.41 54,751,205,463.66 5.04 58,835,040,313.13 4.57 61,649,204,559.95 4.03 62,759,444,004.73 3.70 66,857,012,411.14 2.77 57,418,295,370.44

Total 100.00 1,011,248,724,754.60 100.00 1,167,688,902,474.14 100.00 1,348,330,375,686.89 100.00 1,556,917,084,805.65 100.00 1,807,892,118,876.57 100.00 2,075,887,510,640.27

Sumber : Diolah oleh Bappeda Kab. Pinrang Tahun 2014

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 157
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab III Hal. 158
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

BAB IV
ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS
Isu-isu strategis Kabupaten Pinrang dalam perencanaan pembangunan
daerah dilaksanakan dalam kerangka keterpaduan perencanaan pembangunan
nasional maupun regional. Oleh karena itu tahap awal dari perencanaan
pembangunan daerah dimulai dengan melakukan analisis terhadap hasil
pembangunan dan permasalahannya.Tujuannya adalah agar perencanaan
pembangunan daerah dapat bersinergi dan memberikan kontribusi dalam
pemecahan permasalahan pembangunan baik di daerah, regional maupun tingkat
nasional.
Perspektif selama 5 tahun kedepan yang tertuang dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Pinrang tahun 2014-
2019 didasarkan pada kondisi objektif saat ini dan masa lalu dan diprediksi kedepan.
Prediksi dilakukan terhadap indikator-indikator pembangunan yang bersifat .
Perspektif Kabupaten Pinrang untuk lima tahun kedepan dijabarkan kedalam
permasalahan pembangunan dan isu-isu strategis, yang akan diuraikan dalam
uraian sebagai berikut :

4.1 Permasalahan Pembangunan Daerah


Permasalahan pembangunan daerah adalah perbedaan pencapaian antara
kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara
apa yang ingin dicapai dimasa datang dengan kondisi saat ini. Perbedaan dimaksud
dilihat dari kesenjangan pencapaian daerah, maupun dengan pencapaian nasional.
Permasalahan pembangunan daerah dalam RPJMD ini diidentifikasi dan dianalisis
berdasarkan urusan pemerintah sebagai berikut :

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 158


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 4.1
Permasalahan Pembangunan Daerah
Kabupaten Pinrang

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

I Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

1. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Kepegawaian dan Persandian

1.1 Pertumbuhan PDRB Pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8-8,5 berada pada Pertumbuhan Ekonomi masih didominasi faktor  Peningkatan dan Pemerataan kemampuan
rata-rata Pertumbuhan Ekonomi Provinsi dengan konsumsi ketimbang faktor investasi sehingga daya beli masyarakat
laju pertumbuhan yang lebih tinggi dapat disertai menyebabkan pertumbuhan yang tidak berkualitas  Terbukanya kesempatan kerja
Pemerataan. dan belum merata.  Berkurangnya jumlah penduduk miskin.
 Peningkatan kegiatan usaha ekonomi

1.2 Laju Inflasi Kabupaten Menekan laju inflasi dibawah rata-rata Provinsi Sul- Laju inflasi dipengaruhi oleh turunnya nilai uang  Upaya Pemerintah untuk meningkatkan
Sel. Sekitar 4,2 s/d 5,25. (naiknya harga barang pada umumnya/khususnya tabungan masyarakat
barang impor)/nilai Dollar  Kebijakan fiscal (Menaikkan pajak)
 Pengendalian harga dan distribusi barang.

1.3 PDRB Perkapita Pendapatan perkapita signifikan meningkat,  Masih tingginya tingkat pertumbuhan  Membuka lapangan kerja
Pertumbuhan Ekonomi, Provinsi dan Nasional. penduduk.  Meningkatnya nilai tambah usaha
 Belum optimalnya Peningkatan nilai produksi  Membuka lahan-lahan tidak produktif/Lahan
masing-masing kelompok usaha. Baru.

 Meningkatnya Investasi
1.4 Indeks Gini 0, 41  Kesenjangan Pendapatan
1.5 Persentase penduduk Hingga September 2013 penduduk miskin  Kurangnya lapangan kerja baru dan akses ke  Mengembangkan kwirausahaan dengan
diatas garis kemiskinan mencapai 18,672 RTM atau 5,20 % dan jumlah lapangan pekerjaan pengembangan komoditas unggulan daerah.
penduduk Kab.Pinrang 360.019 atau berada  Kurangnya inovasi baru.  Percepatan penciptaan lapangan wirausaha
dibawah rata-rata (11,66 %)Provinsi. baru.
 Peningkatan Inovasi baru berbasis Inovasi
Teknologi Tepat guna.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 159


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

1.6 Angka kriminalitas Penurunan angka kriminalitas guna mendukung  Penanganan Laporan masyarakat yang  Peningkatan peran dan tanggungjawab
tertangani Kab.pinrang wilayah yang aman dan tertib, untuk memakan waktu yang lama. masyarakat untuk melaporkan tindak kejahatan
berinvestasi.  Sosialisasi Peraturan-peraturan yang yang dialaminya dan sebagai saksi.
berhubungan pelanggaran.  Peningkatan Penanganan Laporan tindak
kriminal dengan tepat.
 Pelatihan pra generasi muda.

II Fokus Kesejahteraan Masyarakat

1. Pendidikan
1.1 Angka Melek Huruf Sangat rendah dibanding target Provinsi  Kegiatan-kegiatan pelatihan seperti program  Memfasilitasi ke desa untuk mengoptimalkan
(2012:88,73). Pinrang (2012 : 99,86) Koran ibu, kelompok belajar masyarakat kelompok belajar masyarakat; memfasilitasi ke
(KBM), Kelompok belajar Usaha (KBU) desa untuk mengoptimalkan kelompok belajar
Frekuensinya masih sangat rendah. usaha; peningkatn koordinasi dengan
 Banyak lansia yang tidak bisa membaca. sinergitas antar pemangu kepentingan.
 Angka partisipasi sekolah masih rendah (SD,  Mengembangkan Perpustakaan Taman Desa.
SMP, SMA sederajat)  Peningkatan sarana pendidikan melalui mobil
 unit perpustakaan keliling

1.2 Angka rata-rata lama Angka rata-rata lama sekolah berada dibawah  Masih rendahnya tingkat kualitas partisipasi  Meningkatnya kualitas layanan pendidikan
sekolah target prestasi pada tahun 2012, Provinsi sebesar sekolah pada semua jenjang pendidikan. gratis pada semua jenjang pendidikan.
7,92 dan Kabupaten 7,25.  Meningkatnya partisipasi orang tua murid
membina anaknya di luar sekolah

1.3 Angka Partisipasi pasar Menurun dari tahun 2008-2012 (110, 80-102, 09)  Kurangnya akses dan layanan pendidikan di  Dengan peningkatan partisipasi masyarakat
SD/MI jenjang SD/MI terhadap akses sekolah dijenjang SD, maka
jenjang berikutnya diantisipasi dengan
berbagai program dan kegiatan terutama pada
perluasan akses dan layanan pendidikan.

1.4 Angka pendidikan yang Dominan penduduk angkatan kerja adalah  Masih rendahnya akses pendidikan ke jenjang  Meningkatnya jumlah penduduk untuk
ditamatkan pendidikan SD, SMP, semakin lama semakin yang lebih tinggi. Karena faktor biaya. melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih
menurun presentasenya. tinggi.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 160


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

1.5 Angka Partisipasi murni


1.5.1 Angka Partisipasi Murni APM SD/MI/Paket A dibawah rata-rata pinrang  Kondisi layananan Pendidikan Dasar antar  Dipasilitasi Kecamatan.Untuk disamakan
(APM) SD/MI/Paket A tahun 2013 Nasional = 95,42 % Sulawesi Selatan Kecamatan belum berimbang. angka disparitasnya terutama menyangkut
97,90 %, Kabupaten Pinrang 93,70 %. Sarana dan Prasarana.

1.5.2 Angka Partisipasi Murni APM Sejak Tahun 2009-2013 masih dibawah rata-  Masih terdapat wilayah pegunungan kurang  Sosialisasi dan penerapan Standar Pelayanan
(APM) SMP/MTs/Paket B rata Provinsi =71,98% dan Kabupaten 70,30 %. lancar transportasi dan sarana pendidikan minimal (SPM) untuk jenjang di satuan
pendidikan.

1.5.3 Angka partisipasi Murni APM sejak tahun 2009-2013 masih diatas rata-rata  Terbatasnya tenaga guru kelas di daerah  Sosialisasi dan Penerapan standar Pelayanan
(APM) Prov 48,29 dan pada tahun 2013 Kabupaten 63,92 pegunungan Minimal (SPM) untuk jenjang di satuan
SMA/SMK/MA/Paket C %. pendidikan.

2. Kesehatan
2.1 Angka Kematian Bayi AKB mengalami penurunan  Kurangnya sarana dan sosialisasi  Meningkatkan kualitas pelayanan terutama ibu
pemahaman akan pentingnya kesehatan ibu dan anak di Puskesmas dan Posyandu.
hamil.

2.2 Angka Usia Harapan Hidup Usia Harapan hidup mengalami peningkatan.  Angka harapan hidup masih dibawah rata-rata  Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat.
70,4 tahun.

2.3 Persentase Balita Gizi Terjadi penurunan persentase gizi buruk, dari tahun  Persentase Balita gizi buruk yang menurun  Peningkatan akses masyarakat dalam
buruk 2009. Rata-rata 4,20 % menjadi 0,5 % tahun 2013. tiap tahunnya pelayanan kesehatan dan gizi bermutu.
 Sistem survailans yang kurang berjalan baik  Meningkatkan pengetahuan keluarga dalam
untuk mendeteksi mereka tentang gizi buruk. pengasuhan anak
 Pembuatan regulasi dalam rangka penguatan
koordinasi/kerjasama dengan lintas sektor
terkait untuk penanganan kasus gizi buruk.

3. Pertanahan
Persentase penduduk 39 % (pada tahun 2012)  Kurangnya kesadaran penduduk akan  Adanya PRONA sertifikat lahan
3.1 memiliki lahan bersertifikat pentingnya legalitas kepemilikan lahan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 161


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

4. Ketenagakerjaan
Rasio penduduk yang Meningkatkan kualitas dan Ketrampilan tenaga Masih rendahnya kompetensi tenaga kerja  Optimalisasi Balai latihan kerja (BLK)
bekerja kerja berakibat rendahnya daya saing tenaga kerja di meningkatkan kompetensi tenaga kerja
pasar kerja atau lowongan kerja tidak terpenuhi dengan menitik beratkan pada pelatihan
4.1
karena ketidaksesuaian kompetensi yang berbasis kompetensi.
dibutuhkan.

III Fokus Seni Budaya dan Olahraga

1. Kebudayaan

1.1 Jumlah Klub Olahraga Peningkatan jumlah dan kualitas klub olahraga  Belum meratanya penyediaan klub olahraga  Peningkatan jumlah dan pembinaan kualitas
yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana klub olahraga;
yang memadai;  Peningkatan pengetahuan dan pemahaman
masyarakat akan pola hidup sehat melalui
olahraga;
 Peningkatan upaya fasilitasi penyediaan
sarana dan prasarana klub olahraga

I Fokus Layanan Urusan Wajib

1. Pendidikan

1.1 Pendidikan Dasar

1.1.1 Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah (APS) pada jenjang  Angka partisipasi sekolah masih dibawah rata-  Meningkatkan kualitas pelayanan pendid
pendidikan SD/MI mengalami peningkatan setiap rata karena masih kurang pemahaman menjadikan pada semua jenjang.
tahun selama periode 2009-2013. APS SD/MI (7-12 masyarakat akan pentingnya pendidikan
tahun) meningkat dari 95,40 % pada tahun 2009 terutama di wilayah pedesaan/Pegunungan.
menjadi 97,16 persen pada tahun 2013. mengalami
peningkatan sebesar 2,23 persen partisipasi
sekolah diatas rata-rata provinsi.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 162


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

1.1.2 Rasio ketersediaan Pada tahun 2009 rasio ketersediaan sekolah per  Belum meratanya sebaran jumlah sekolah  Perlunya pemerataan pembangunan sekolah
sekolah/penduduk usia penduduk usia sekolah untuk pendidikan dasar pada daerah-daerah tertentu. khusunya di daerah-daerah
sekolah. adalah sebesar 142,5 kemudian pada tahun 2013 terpencil/pegunungan.
terjadi penurunan menjadi 133,8.

1.1.3 Rasio guru/murid Rasio dari tahun 2009 ke 2013 mengalami  Formasi kebutuhan khususnya untuk daerah  Diperlukan koordinasi antara pusat, provinsi
penurunan tetap lebih tinggi dari rasio ideal 1 : 25 terpencil/gunung kurang diminati calon dan Kabupaten dalam system rektrutmen
begitu pula untik SMP/MTs terlihat rasio menurun pendidik. penerimaan pegawai khususnya untuk
bahkan lebih rendah dibanding rasio SD.  Program Pemerataan guru belum guru/pendidik
dioptimalkan sesuai dengan kualifikasi dan  Perlu dibangun system pemerataan dengan
kompetensi pendidik. berbasis teknologi yang disesuaikan kualifikasi
dan kompetensi pendidik.

1.1.4 Rasio guru/murid perkelas Rasio guru/murid/kelas rata-rata untuk SD  Formasi kebutuhan khususnya untuk daerah  Di perlukan koordinasi antara pusat, provinsi
rata-rata bervariasi dari tahun 2009 sampai dengan tahun terpencil dan kepulauan kurang diminati. dan Kabupaten dalam system rekrutmendan
2013 begitu pula rasio murid/kelas tidak melampaui  Program pemerataan guru belum dioptimalkan penerimaan pegawai khususnya untuk
standar ideal 1 : 32 Namun demikian rasio sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi guru/pendidik.
murid/kelas SMP melampaui standar ideal dan pendidik  Perlu dibangun system pemerataan dengan
tertinggi di tahun 2013 untuk SMP mencapai 1 : 40. berbasis teknologi informasi yang disesuaikan
dengan kualifikasi dan kompetensi pendidik.

1.2 Pendidik Menengah


1.2.1 Angka Partisipasi Sekolah Capaian APS masih dibawah rata-rata, Sulawesi  Pertumbuhan jumlah penduduk usia 16-18  Memfasilitasi UPTD Kecamatan kab./kota
Selatan 59,55 % ditargetkan capaian indikatornya tahun, belum sepenuhnya diimbangi dengan untuk menganalisis data pendidik agar
minimal sama dengan capaian Provinsi Sul-Sel. pertumbuhan sekolah dijenjang Menengah. ditetapkan jenis type sekolah perlu ditempuh
dalam suatu lokasi.
 Koordinasi yang intensif ke pusat untuk
peningkatan beasiswa miskin dan Unit Cost
BOS SMA.

1.2.2 Rasio ketersediaan Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk  Beberapa lokasi/ pemukiman penduduk,  Perlu dibuka jelas jauh didaerah
Sekolah terhadap usia sekolah dijenjang pendidikan menengah dari geografisnya sulit dijangkau dengan terpencil/Pegunungan.
penduduk usia sekolah tahun 2009 sampai dengan 2013 cenderung kendaraan roda 4, sehingga masih ada usia
menurun. Tahun 2009 = 5, tahun 2012=4. sekolah pendidikan menengah tidak
melanjutkan sekolahnya.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 163


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

1.2.3 Rasio guru terhadap murid Capaian rasio guru terhadap siswa untuk jenjang  Ditribusi penempatan dan Pemerataan guru  Diintensifkan koordinasi dan konsultasi pusat
pendidikan menengah belum memenuhi rasio ideal belum optimal. dan Provinsi.
1 : 25 pinrang pada tahun 2013 mencapai 1 : 38.

1.2.4 Rasio guru terhadap murid Rasio guru terhadap murid perkelas rata-rata  Kurangnya ruang kelas untuk memperbanyak  Difasilitasi untuk penambahan ruang kelas
perkelas rata-rata. selama periode 2009-2014 menunjukkan rasio yang kelompok belajar. baru atau ruang teori.
memadai walaupun bervariasi. Namun demikian
rasio murid/kelas dari tahun 2009 s/d 2013
semuanya melampaui standar ideal 1 : 32 sesuai
standar pelayanan minimal pendidikan.

1.2.5 Penduduk yang berusia > pada tahun 2013  Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan  Program pendidikan gratis.
15 tahun melek huruf (tidak pentingnya pendidikan.
buta aksara)
1.3 Fasilitas Pendidikan
1.3.1 Sekolah pendidikan SD/MI Kondisi sarana pendidikan utamanya ruang kelas  Kurangnya Anggaran Pembangunan.  Perlu penempatan/aturan lebih awal di terima
kondisi bangunan baik. SD. Tahun 2013 kondisi ruang kelas yang rusak  Banyaknya Sekolah sudah tua dan perlu Kabupaten. Diintensifkan penggunaan DAK
mencapai 1500 % atau yang baik mencapai 8500 % direhabilitasi. lebih banyak ke Perbaikan sarana kelas.
 Peninjauan prioritas/strong point usulan daerah
kabupaten ke Musrenbang lebih focus ke
perbaikan sarana kelas.

1.3.2 Sekolah pendidikan Kondisi sarana pendidikan untuk SMP dan SMA  Minimnya anggaran tidak sebanding dengan  Dukungan dana lain yang tidak hanya
SMP/Mts dan sederajat terjadi peningkatan perbaikan sarana. jumlah sekolah yang ada. bersumber dari APBD
SMA/SMK/MA kondisi Dari tahun 2009 kondisi baik untuk SMP 70% naik  Koordinasi antara Pemerintah Provinsi pusat
bangunan baik. menjadi 90% ditahan 2013. Begitu pula untuk SMA perlu ditingkatkan.
dari 62% tahun 2009 naik/ada perbaikan sehingga
menjadi 86%. Tahun 2013.

1.4 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)


1.4.1 Pendidikan Anak Usia Dini APK PAUD Pinrang mengalami peningkatan. Tahun  Partisipasi Masyarakat kurang minat  Sosialisasi tenaga pendidikan bagi anak usia
(PAUD) 2009 (47,69) sampai 2013 (50,40). Namun demikian menyekolahkan anaknya di Usia dini. dini berbagai media dan dakwah.
masih dibawah rata-rata Provinsi tahun 2009  Biaya Penyelenggaraan pendidikan di  Mendorong masyarakat membuka dan
(50,84) dan 2013 (55,24) Lembaga PAUD terbatas. membentuk lembaga PAUD.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 164


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

 Fasilitas bantuan subsidi kepada lembaga


PAUD.

1.5 Angka Putus Sekolah

1.5.1 Angka Putus Sekolah Rasio menunjjukkan adanya penurunan dari tahun  Tidak optimalnya pendataan dan analisisnya Pemantapan pendataan pendidikan terutama
(APS) SD/MI 2009 untuk SD = 2.35 menjadi 1.20 pada tahun terhadap penyebab putus sekolah peneyebab putus sekolah
2013. Namun demikian baik untuk SD, SMP dan  Bantuan subsidi belum memenuhi target dan .Program retrival perlu dikembangkan,diupayakan
SM angka putus sekolah diupayakan dibawah 1 %. sasaran. kembali.

1.5.3. Angka putus sekolah Menurunnya angkaPutus Sekolah pada tingkat  Masih terbatasnya kesadaran masyarakat  Meningkatnya dukungan terhadap dukungan
(APS)SMA /SMK/MA sekolah menengah atas (SMA) akan pentingnya pendidikan. peleyanan pendidikan.

1.6 Angka Kelulusan


1.6.1 Angka kelulusan (AL) Meningkatnya angka kelulusan pada jenjang  Terbatasnya alat peraga keterampilan siswa  Peningkatan mutu dan kualitas tenaga
SD/MI sekolah Dasar (SD) Mencapai 100 %. di sekolah. pendidik,
 Koordinasi antar tingkatan pemerintah untuk
Fasilitasi penyediaan saranan dan Prasarana
pembelajaran yang berkualitas.

1.6.2 Angka Kelulusan Meningkatnya angka kelulusan pada jenjang  Terbatasnya alat peraga keterampilan siswa  Peningkatan mutu dan kualitas tenaga
(AL)SMP/MTs Sekolah menengah Pertama (SMP) mencapai disekolah. pendidik.
100%.  Koordinasi antar tingkatan pemerintah untuk
fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana
pembelajaran yang berkualitas.

1.6.3. Anka Kelulusan (AL) Meningkatnya angka kelulusan pada jenjang  Terbatasnya alat peraga ketrampilan siswa di  Peningkatan mutu dan kualitas tenaga
SMA/SMK/SM sekolah menengah atas (SMA) mencapai 100 %. sekolah. pendidik
 Koordinasi antar tingkatan pemerintah untuk
fasilitas penyediaan sarana dan prasarana

1.6.4 Angka Melanjutkan (AM) Angka melanjutkan untuk SD/MI ke SMP/MTs  Terbatasnya kemampuan ekonomi orang tua  Difasilitasi bantuan subsidi untuk pembiayaan
dari SD/MI ke SMP/MTs meningkat dari tahun 2009 mencapai 70% menjadi siswa untuk membiayai anaknya ke jenjang ke jenjang pendidikan berikutnya (SMP ke
90% pada tahun 2012. Namun harus diupayakan pendidikan lebih tinggi SMA dan SMA ke perguruan tinggi)
mencapai standar ideal 98%

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 165


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

1.6.5 Angka melanjutkan (MA) Meningkatnya angka melanjutkan dari SMP/MTs ke  Terbatasnya kemampuan ekonomi orang tua  Difasilitasi bantuan subsidi untuk pembiayaan
dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA siswa untuk membiayai anaknya kejenjang ke jenjang pendidikan berikutnya (SMP ke
SMA/SMK/MA pendidikan lebih tinggi. SMA dan SMA ke perguruan tinggi)

1.6.6 Guru yang memenuhi Persentase guru berkualifikasi dari SD ke SM  Masih rendahnya guru yang memenuhi  Adanya program gratis peningkatan kualitas
kualifikasi S1/D-IV mengalami peningkatan baik di jenjang SD maupun kualifikasi S1/D-IV tenaga pengajar melalui boarding school di
SM Dari tahun 2009, jumlah guru yang disertifikasi UKM/PTN/PTS
199 pada tahun 2009, naik menjadi 2.352 pada
tahun 2013 atau naik……………..

2. Kesehatan

2.1 Rasio posyandu per satuan Meningkatnya rasio posyandu per satuan balita  Menurunnya jumlah balita yang dilayani di  Meningkatnya pemerataan posyandu.
balita posyandu.

2.2. Rasio Rasio puskesmas tahun 2013 sebesar 5/100.000  Belum optimalnya penyediaan jumlah fasilitas  Peningkatan jumlah pemerataan fasilitas
Puskesmas,Poliklinik,Pustu penduduk, berarti 1 PKM melayani 20.000 kesehatan yang didukung oleh ketersediaan kesehatan.
Persatuan Penduduk. Penduduk. tenaga medis.  Koordinasi antar tingkatan pamerintahan untuk
Rasio Pustu tahun 2013 sebesar 15/100.000 penyediaan sarana dan prasarana fasilitas
penduduk, berarti 1 Pustu melayani 6.667 kesehatan yang berkualitas.
Penduduk

2.3 Rasio Rumah Sakit Rasio RS tahun 2013 sebesar 1,14/100.000  Jika Rasio RS terhadap penduduk sudah  Perlu peningkatan kelas Rumah sakit
persatuan Penduduk penduduk. Artinya 1 RS sudah melayani kurang dari mencukupi, namun jumlah tempat tidur kelas  Peningkatan jumlah tempat tidur kelas III.
100.000 Penduduk. III masih kurang.

2.4 Rasio Dokter persatuan Capaian rasio tenaga 2013 : dr spesialis 5/100.000  Tidak meratanya persebaran dokter didaerah-  Perlu dibuat regulasi/aturan agar perekrutan
penduduk penduduk, dr.umum 15/100.000 pddk, dr.gigi daerah terpencil/pegunungan. tenaga kesehatatan disesuaikan dengan
7/100.000 penduduk kebutuhan diunit pelayanan kesehatan.

2.5 Rasio tenaga medis Meningkatkan jumlah tenaga medis terutama  Kurangnya minat tenaga medis untuk  Meningkatkan insentif tenaga medis
persatuan penduduk didaerah-daerah terpencil/pegunungan/pesisir ditempatkan didaerah pegunungan/Pesisir khususnya di daerah-daerah terpencil yang
pantai. mengarah pada pemerataan persebaran
tenaga medis.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 166


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

2.6 Cakupan komplikasi Capaian tahun 2013 sebesar 60,28% masih  Kemampuan Bidan untuk mengidentifikasi  Peningkatan kapasitas Bidan
kebidanan yang ditangani dibawah target (60%). komplikasi masih rendah

2.7 Cakupan Pertolongan Capaian tahun 2013 sebesar……………%, sudah  Tidak semua Bidan Desa menetap di Wilayah  Penegakan Regulasi tentang Bidan Desa
persalinan oleh tenaga ahli melebihi target (95%). kerjanya.  Peningkatan Kapasitas SDM kesehatan
kesehatan yang memiliki  ANC (Antenatal Care) terpadu yang  Peningkatan fasilitas pelayanan KIA di sarana
kompetensi kebidanan berkualitas belum optimal Pelayanan Kesehatan
 Tidak semua Persalinan oleh Tenaga
kesehatan dilakukan di fasilitas pelayanan
kesehatan.

2.8 Cakupan Balita Gizi buruk Capaian 2013 sebesar 100 % sudah sesuai dengan  Dari jumlah yang dirawat tidak seluruhnya  Penanganan Medis secara intensif
mendapat Perawatan SPM Bidang Kesehatan sembuh/pulih. Hal ini disebabkan :  Penanganan gizi buruk di tingkat Rumah
 Adanya penyakit penyerta. Tangga (Pasca Rawat).

2.10 Cakupan Penemuan dan Capaian tahun 2013 sebesar 100 % telah melebihi  Angka bebas jentik masih rendah.  Peningkatan Peran serta masyarakat dalam
Penanganan Penderita target 100%  Masih terjadi KLB DBD dibeberapa lokasi. pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
Penyakit DBD.  Penyemprotan lingkungan Rumah warga.

2.1.1 Cakupan Pelayanan Capaian 2009-2013 telah mencapai 100 % dan  Masih sering terjadi pembebanan biaya  Peningkatan ketersediaan obat di rumah
Kesehatan rujukan pasien telah sesuai dengan SPM Bidang Kesehatan. tambahan pada masyarakat miskin sakit/Balai Kesehatan Masyarakat.
masyarakat miskin (khususnya biaya obat dan darah)  Membuat Jejaring antara Rumah sakit dengan
Penyedia Layanan daerah.

2.1.2 Cakupan Kunjungan Bayi Indikator ini sudah melebihi target yang ditetapkan.  Kurangnya perhatian ibu Bayii atau kurang  Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan
Indikator ini ditargetkan sebesar 88% dan pada informasi terhadap Bayi melalui peningkatan kapasitas
tahun 2013 telah berhasil dicapai sebesar 97,40 % petugas dan ketersediaan sarana dan
Prasarana.

2.1.3 Cakupan Pembantu Peningkatan jumlah dan Pelayanan PUSTU pada  Belum meratanya akses dan kualitas  Penigkatan dan Pemerataan jumlah PUSTU
Puskesmas wilayah pegunungan/pesisir. cakupan pelayanan Puskesmas dan yang didukung oleh inftrastruktur dan SDM
Pustu/Poskesdes. yang memadai.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 167


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

3. Pekerjaan Umum
3.1 Proporsi Panjang Jaringan Kinerja Transportasi jalan ditunjukkan dengan  Rendahnya kinerja jaringan anggaran jalan.  Prioritisasi Pembangunan dan Preservasi jalan
jalan dalam kondisi baik bertambahnya kapasitas jaringan jalan dari 499 km pada kawasan strategis di desa-desa.
pada tahun 2009 menjadi 573,61 km pada tahun
2013 dengan kondisi baik mencapai 28,13 %
(161,38 Km), Sedang rusak 308,54 Km (53,78%)
dan rusak berat 103,69 Km ( 18,07%).

3.2 Rasio Jaringan Irigasi Meningkatkan rasio jaringan irigasi, dan efektifitas  Masin besarnya persentase lahan budidaya  Peningkatan rasio lahan budidaya yang terairi
dan efisiensi pengelolaan jaringan irigasi saat ini 1 yang belum terairi dan rendahnya oleh jaringan irigasi dan peningkatan
Km jaringan irigasi mengariri lahan budidaya seluas kemampuan masyarakat untuk mengelola kemampuan petani untuk mengelola
………………km2, tingkat efektifitas pengelolaan sumberdaya air. Sumberdaya air.
jaringan irigasi saat ini 81 % yang menunjukkan  Terbatasnya koordinasi antar provinsi dan
bahwa masih terdapat 1 % luas lahan budidaya Pusat (Balai besar PSDA).
yang belum terairi, sedangkan tingkat efisiensi
menunjukkan bahwa petani belum mampu untuk
mengelola sumberdaya secara sepadan.

3.3 Rasio Tempat ibadah 1,39 pada tahun 2013  Masih terbatasnya Ummat shalat berjamaah  Mesjid, terisi minimal 75 % jamah setiap waktu
persatuan penduduk di mesjid setiap waktu. shalat.

3.4 Persentase rumah tinggal Persentase Rumah tangga bersanitasi adalah 1%.  Masih rendahnya cakupan pelayanan sanitasi  Peningkatan rumah tangga yang dapat
bersanitasi. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat lebih terhadap rumah tangga serta belum mengakses sanitasi yang layak.
dari 99% rumah tangga yang belum mengakses diterapkannya PHBS oleh Masyarakat.  Peningkatan Pemahaman masyarakat akan
sanitasi. pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) bagi masyarakat melalui
pembangunan prasarana dan sarana sanitasi
di sekolah dan tempat umum serta
peningkatan keterlibatan masyarakat dalam
pengelolaan drainase lingkungan.

3.5 Rasio tempat pembuangan Rasio Daya Tampung TPS terhadap jumlah  Pesatnya laju pertambahan dan aktivitas  Peningkatan jumlah sarana persampahan
sampah (TPS) per satuan penduduk adalah 0,23 yang menunjukkan bahwa penduduk belum didukung oleh keberadaan pada tiap lingkungan permukiman secara
penduduk. TPS hanya dapat menampung sampah terhadap 23 sarana persampahan berupa TPS serta berimbang dengan jumlah penduduk yang
orang setiap 1.000 penduduk di Kab.Pinrang. institusi pengelola yang memadai. ditunjang oleh institusi pengelola yang

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 168


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

professional;
 Mengurangi timbunan sampah dengan
menerapkan prinsip 3R.

3.6 Rasio Rumah Layak Huni Rasio rumah layak huni sebesar 0,23 menunjukkan  Masih besarnya jumlah rumah tangga yang  Peningkatan aksesibilitas MBR akan rumah
bahwa masih terdapat 0,60 penduduk yang belum menempati rumah tidak layak huni akibat yang layak melalui melalui fasilitasi
menempati rumah layak huni. keterbatasan akses MBR terhadap peningkatan kualitas perumahan dan fasilitasi
penguasaan lahan dan pembiayaan penyediaan rumah susun.
perumahan.  Peningkatan jaminan kualitas perumahan
dengan menerapkan standarisasi perijinan
dalam membangun rumah khususnya bagi
MBR.

3.7 Rasio Pemukiman layak Rasio pemukiman layak huni menunjjukkan  Masih terdapat 13,89 % luasan kawasan  Peningkatan kualitas lingkungan permukiman
huni bahwa………………… permukiman yang belum layak huni. melalui penyediaan sarana dasar, prasarana
dan fasilitas umum yang memadai dan
terpadu.

3.8 Lingkungan Permukiman Peningkatan kualitas lingkungan  Belum optimalnya cakupan pelayanan dan  Peningkatan kualitas dan cakupan prasarana,
Permukiman. sarana dan utilitas lingkungan permukiman.

4. Perumahan

4.1 Rumah Tangga Pengguna Akses masyarakat terhadap air bersih telah  Terbatasnya anggaran yang akan dilayani  Peningkatan cakupan pengguna air bersih
air bersih mencapai………………..% yang menunjukkan oleh system penyediaan air minum serta khusunya pada masyarakat pedesaan yang
bahwa 5.577 sudah terlayani oleh air bersih baik belum optimalnya pemanfaatan dan belum terjangkau oleh PDAM melalui
PDAM maupun sumber lainnya yang terlindungi. pengelolaan air baku air minum. penyediaan sarana dan prasarana air minum
dan penambahan kapasitas dan system
sambungan rumah air minum serta
perlindungan sumber air baku dari
pencemaran lingkungan.

4.2 Rumah Tangga Pengguna Rumah Tangga pengguna listrik sudah mencapai  Persentase pemanfaatan energi baru masih  Pengengan dan pemanfaatan potensi energi
Listrik 78.793 yang sumber utamanya adalah listrik PLN rendah untuk pembangkit listrik baik skala lokal khususnya energi baru terbarukan untuk
sebesar 100%. Rumah tangga yang menggunakan menengah maupun skala kecil masih rendah. meningkatkan pemenuhan kebutuhan listrik di
listrik di Kab.Pinrang di dominasi oleh RT Pengguna pedesaan dan melakukan pengembangan
listrik dengan daya 900 Watt sebesar 36.450

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 169


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

Desa Mandiri Energi.


4.3 Lingkungan Permukiman Rasio luas pemukiman yang tertata 13,98 persen.  Belum optimalnya pelaksanaan identifikasi  Optimalnya pelaksanaan identifikasi lokasi dan
kumuh lokasi dan kebutuhan penanganan lingkungan kebutuhan penanganan lingkungan
pemukiman kumuh. permukiman kumuh.
 Optimalnya Peningkatan pengetahuan dan
pemahaman akan pola hidup bersih dan sehat.

5. Penataan Ruang
5.1 Rasio ruang terbuka hijau Rasio RTH persatuan luas wilayah ber HPL adalah  Belum terealisasinya keberadaan RTH  Mewujudkan sinkronisasi program
persatuan luas wilayah ber 45.168 menunjukkan bahwa luasan RTH pada khususnya kawasan perkotaan sebagaimana pembangunan sesuai dengan rencana tata
HPL/HGB wilayah yang ber HPL/HGB luasannya masih besar. arahan UU No.26/2007 tentang Penataan ruang dan meningkatkan upaya pencapaian
Ruang. luasan RTH pada kawasan perkotaan. Pinrang
dan kota kecamatan lainnya.

6. Perencanaan Pembangunan
6.1 Tersedianya dokumen Desa/Kelurahan telah memiliki RPJP Desa/Lurah.  Belum optimalnya sinergitas kebijakan  Pemda Kabupaten yaitu telah mengacu pada
RPJPD yang telah pembangunan antar tingkatan pemerintah aturan dalam menyusun dokumen
ditetapkan dengan PERDA guna optimalisasi pencapaian tujuan dan perencanaan.
sarana pembangunan.  Optimalisasi dan Peningkatan koordinasi dan
sinergitas kebijakan pembangunan antar
tingkatan pemerintahan.

6.2 Tersedianya Dokumen RPJMD yang partisipatif dengan semua  Pemda Kabupaten telah mengacu pada aturan
Perencanaan : RPJMD stakeholders. dalam menyusun dokumen perencanaan (UU
yang telah ditetapkan No.25 tahun 2004, PP No.8 tahun 2008 dan
dengan PERDA/PERKADA permendagri 54 tahun 2010.
dan Renstra SKPD serta  Belum optimalnya sinergitas kebijakan
RPJM Desa/Lurah. pembangunan antar tingkatan pemerintah
guna optimalisasi pencapaian tujuan dan
sasaran pembangunan.

6.3 Tersedianya Dokumen Semua SKPD Kabupaten memiliki Renstra yang  SKPD Kabupaten telah mengacu pada aturan
Perencanaan : RKPD yang ditetapkan oleh PERKADA. dalam menyusun dokumen perencanaan.
telah ditetapkan dengan
Peraturan Bupati.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 170


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

6.4 Penjabaran Program Konsistensi antara dokumen RKPD dan Dokumen  Belum optimalnya konsistensi penjabaran  Penyusunan RKPD mengacu dan konsisten
RPJMD ke dalam RKPD Perencanaan Pembangunan (RTR dan RPJMD dan RTR dalam dokumen RKPD. pada dokumen Perencanaan (RTR dan
dan renstra SKPD dan RPJMD)/RPJPD. RPJMD) sesuai dengan ketentuan peraturan
RKPD dan Renja SKPD. Perundang-undangan.

7. Perhubungan

7.1 Jumlah uji Kir angkutan Tersedia data KIR kendaraan di Dinas  Belum optimalnya penyajian data KIR.  Semua Kendaraan di KIR Tepat waktu.
umum Darat Perhubungan dan Kominfo.

7.2 Jumlah Pelabuhan Laut, Jumlah Pelabuhan laut adalah 1 dan jumlah  Belum terintegrasinya transportasi antar  Peningkatan kualitas pelayanan dan
Udara dan Terminal darat terminal Bis antar kota 1 dan antar kecamatan 3 unit daerah serta belum optimalnya pengelolaan manajemen pengelolaan pelabuhan
dan unit rencana pengembangan lapangan terbang pelayanan pelabuhan laut Marabombang dan laut/terminal dan penerapan sistem
Ex.Jepang di Malimpung. terminal Darat. transportasi serta peningkatan aksesibilitas
 Belum terbangunnya Bandara. Ex.Jepang di pelayanan transportasi khususnya pada
Malimpung. kawasan pedesaan.
 Tersedia transportasi antara-antara daerah,
tujuan wisata dan ekonomi lainnya.

8. Lingkungan Hidup

8.1 Persentase Penanganan Timbunan sampah pada tahun 2013 sudah  Penanganan sampah masih berfokus pada  Menigkatkan keterlibatan masyarakat dalam
sampah mencapai 66,96 M3/tahun yang meningkat dari timbunan sampah dan belum melakukan upaya pengelolaan persampahan melalui
tahun 2009 yang timbunan sampahnya sebesar upaya pengurangan volume sampah dari upaya pengurangan timbunan sampah mulai
32.258 juta M3/tahun. sumbernya. dari sumbernya dengan penerapan 3R serta
 Belum optimalnya partisipasi masyarakat optimalisasi kinerja pengelolaan layanan
tentang kebersihan. persampahan.
 Kesadaran Masyarakat akan pentingnya
kebersihan.

8.2 Persentase Penduduk Cakupan air bersih di Kab.pinrang pada tahun 2012  Belum terpetakannya wilayah yang akan  Peningkatan cakupan pengguna air bersih
berakses air minum. sudah mencapai 6.069 dengan persentase rumah dilayani oleh system penyediaan air minum khususnya pada masyarat pedesaan yang
tangga yang menggunakan air bersih sudah serta belum optimalnya pemanfaatan dan belum terjangkau oleh PDAM melalui
mencapai 5.577 pengelolaan air baku air minum. penyediaan sarana dan prasarana air minum
 Rendahnya partisipasi masyarakat dalam dan penambahan kapasitas dan system
pemeliharaan pansimas. sambungan rumah air minum serta

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 171


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

perlindungan sumber air baku dari


pencemaran lingkungan.

8.3 Persentase luas Rasio luas permukiman tertata pada tahun 2009  Masih terdapat 0,23% luasan kawasan  Peningkatan kualitas lingkungan permukiman
permukiman yang tertata. sebesar 61,48 menjadi 86,11 pada akhir tahun pemukiman penduduk layak huni. melalui penyediaan sarana dasar, prasarana
2013. Luasannya meningkat, menjadi 114.346 dan utilitas umum yang memadai dan terpadu
hektar tahun 2013. dengan pengembangan kawasan perumahan.

8.4 Pencemaran status mutu Sampai tahun 2012 telah dilakukan pemantauan  Belum optimalnya penanganan kerusakan  Peningkatan kapasitas SDM dan Institusi serta
air. pada 5 sungai lintas kecamatan dari 3 sungai lintas lingkungan akibat rendahnya ketersediaan sistem informasi lingkungan hidup yang
yang ada di pinrang. system data dan informasi yang terintegrasi. terintegrasi guna ketetapan perencanaan,
 Belum adanya system informasi jarak jauh monitoring dan Evaluasi.
secara online.

8.5 Cakupan pengawasan Pelaksanaan AMDAL pada tahun 2013 belum ada  Kualitas dan mutu dokumen AMDAL masih  Peningkatan kapasitas SDM dan institusi
terhadap pelaksanaan dari perusahaan yang wajib melaksanakan AMDAL memerlukan peningkatn guna pengawasan pelaksanaan AMDAL.
AMDAL. terhadap kegiatannya. mengoptomalkan upaya mitigasi terhadap
pelaksanaan kegiatan guna keberlanjutan
lingkungan.

8.6 Tempat pembuangan Rasio daya tamping TPS terhadap jumlah penduduk  Pesatnya laju pertumbuhan dan aktivitas  Peningkatan jumlah sarana persampahan
sampah (TPS) per satuan yang sampai pada tahun 2013 belum mencapai penduduk belum didukung oleh keberadaan pada tiap lingkungan permukiman secara
penduduk. 0,01. sarana persampahan berupa TPS serta berimbang dengan jumlah penduduk yang
institusi pengelola yang memadai. ditunjang oleh institusi pengelola yang
professional; dan meningkatkan peran
masyarakat dalam mengurangi timbulan
sampah dengan menerapkan prinsip 3R.

8.7 Penegakan hukum Persentase jumlah pengaduan yang ditindaklanjuti  Belum optimalnya peran masyarakat dalam  Peningkatan kapasitas SDM dan institusi serta
lingkungan dari 4 kasus di tahun 2013 semuanya sudah memberikan informasi terkait perusakan system informasi lingkungan yang terintegrasi
mendapat penanganan. lingkungan. dalam penegakan hukum lingkungan serta
sosialisasi dan SOP pengaduan perusakan
lingkungan kepada pemangku kepentingan.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 172


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

9. Pertanahan
9.1 Persentase luas lahan Sampai dengan tahun 2013, jumlah tanah yang  Belum terintegrasinya penggunaan tanah  Peningkatan ketersediaan informasi mengenai
bersertifikat disertifikasi seluas 1.036.663 M2 dengan jumlah dengan RTRWK yang berpotensi kesesuaian pola tata guna tanah dengan
bidang sebanyak 600 bidang meningkatkan ketidakpastian dalam rencana tata ruang.
penggunaan dan pemanfaatan tanah.

9.2 Penyelesaian kasus tanah ……………..dari total kasus pada tahun 2013.  Kurangnya administrasi pendukung.
Negara
10. Kependudukan dan Catatan Sipil
10.1 Rasio penduduk berKTP 90 % dari total yang memiliki pada tahun 2013.  Kurangnya kesadaran masyarakat tentang  Peningkatan pelayanan dan pemahaman
persatuan penduduk. administrasi kependudukan. kepada masyarakat tentang administrasi
kependudukan.

10.2 Rasio bayi berakte 70 % dari total kelahiran pada tahun 2013  Kurangnya kesadran masyarakat tentang  Peningkatan pelayanan dan pemahaman
kelahiran administrasi kependudukan. kepada masyarakat tentang administrasi
kependudukan.

10.3 Rasio pasangan berakte 90 % dari total yang menikah tahun 2013  Kurangnya kesadaran masyarakat tentang  Peningkatan pelayanan dan pemahaman
nikah administrasi kependudukan tentang administrasi kependudukan.
10.4 Kepemilikan KTP 92 % dari total penduduk wajib KTP  Kurangnya kesadaran masyarakat tentang  Peningkatan pelayanan dan pemahaman
administrasi kependudukan. kepada masyarakat tentang administrasi
kependudukan.

10.5 Kepemilikan akta kelahiran 31.52 % dari total jumlah penduduk  Kurangnya kesadaran masyarakat tentang  Peningkatan pelayanan dan pemahaman
per 1000 penduduk administrasi kependudukan kepada masyarakat tentang administrasi
kependudukan.

10.6 Ketersediaan database Tersedia database kependudukan skala Kabupaten  Pengoperasian dan pemeliharaan system  Peningkatan kapasitas dan pengetahuan
kependudukan skala yang akurat. Informasi Administrasi kependudukan (SIAK) aparatur pemerintah dalam penyusunan
Kabupaten Pinrang secara terpadu terkendala dengan belum database kependudukan yang berkualitas dan
adanya jaringan komunikasi dari direktorat akurat.
jenderal kependudukan dan Pencatatan sipil  Peningkatan koordinasi antar tingkatan
pada server yang ada, sehingga proses pemerintahan dalam pengoperasian dan
penyediaan database dilakukan server pemeliharaan system informasi dan database

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 173


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

manual melalui back up data kependudukan kependudukan (Propinsi dan Pusat).


dari Sistem Informasi administrasi
Kependudukan (SIAK) masing-masing
kecamatan

11. Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak
11.1 Persentase partisipasi % Partisipasi perempuan di lembaga legislatif baru  Rendahnya persentase perempuan di  Meningkatkan upaya pendidikan politik bagi
perempuan di lembaga mencapai 5 %. lembaga legislatif. perempuan di masyarakat dan lembaga.
pemerintah  Tingginya dominasi laki-laki pada jabatan  Peningkatan kapasitas dan skill caleg
31,5 % Partisipasi perempuan di lembaga struktural strategis di Lembaga Pemerintah perempuan, aktifis organisasi perempuan,
pemerintah kabupaten Pinrang (eksekutif). tokoh perempuan (Toma, Toga, Toda)
% partisipasi perempuan di Jabatan struktural  Belum ada kebijakan afirmasi untuk
pemerintah (eksekutif) baru mencapai 2 %. mendorong keterwakila perempuan di Jabatan
strategis pemerintah.

11.3 Rasio KDRT Semakin tahun terjadi penurunan. Tahun 2013  Masih adanya korban KDRT di kalangan  Peningkatan ketahanan keluarga.
mencapai 2 kasus. Perempuan dan anak.  Peningkatan Upaya KIE (Komunikasi,
 Belum berjalan secara maksimal fungsi Informasi dan Edukasi)kepada seluruh
layanan penanganan korban kekerasan masyarakat dan lembaga pemerhati
terhadap perempuan dan anak di Kec./Desa Perempuan dan anak, dalam hal pencegahan,
dalam lembaga terpadu. deteksi dini, dan Penanganan kasus KDRT.
 Optimalisasi Penerapan SPM bidang layanan
terpadu penanganan korban kekerasan
terhadap perempuan dan Anak.

11.4 Partisipasi angkatan kerja Partisipasi angkatan kerja perempuan lebih rendah  Rendahnya tingkat partisipasi angkatan kerja  Peningkatan akses dan partisipasi angkatan
Perempuan. disbanding laki-laki. perempuan karena terbatasnya akses kerja perempuan di sektor strategis.
perempuan di sektor publik sebagai akibat  Memperketat pengawasan penerapan hak
dari budaya patriarkhi. perlindungan bagi pekerja perempuan di
Perusahaan/Lemabaga swasta.

11.5 Cakupan penyelesaian Penyelesaian kasus pengaduan pada tahun 2013  belum menyediakan layanan terpadu  Meningkatkan kapasitas lembaga layanan
pengaduan perlindungan tidak ada, dan terjadi trend peningkatan kasus perlindungan perempuan dan anak korban lintas sektor.
perempuan dan anak dari KDRT setiap tahun. kekerasan.  Komitmen SKPD dan lembaga terkait layanan
tindakan kekerasan. perlindungan perempuan dan anak korban

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 174


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

kekerasan.
12. Keluarga Berencana dan Keluarga sehat
12.1 Rata-rata jumlah anak. 1,68 anak dari jumlah keluarga pada tahun 2013.  Rendahnya kesadaran tanggungjawab  Pengelolaan pengendalian penduduk secara
kependudukan dikalangan masyarakat dan holistik lintas sektor.
stakeholders pemerintah.  Peningkatan pemahaman masyarakat tentang
 Kurangnya pemahaman masyarakat tentang perencanaan kelahiran anak.
keluarga berencana.  Penyebarluasan KIE Genre (Generasi
berencana.

12.2 Rasio Akseptor KB Tahun 2013 mencapai 38.777 persen.  Terbatasnya tenaga lapangan penyuluh KB,  Membangun jejaring dengan kader/tenaga
utamanya didaerah terpencil, pegunungan, lapangan sektor lain dan memaksimalkan
pesisir pantai. fungsi tenaga lapangan tersebut terkait urgensi
KB melalui peningkatan kapasitas.

12.3 Cakupan peserta KB aktif. 38.701 persen di tahun 2013.  Masih rendahnya partisipasi KB pria  Mendorong kepesertaan KB Pria.
 Akses ber KB masyarakat miskin dan terpencil  Mambangun kemitraan dengan lintas
(pegunungan dan pesisir) masih rendah. stakeholders dan layanan kesehatan untuk
meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan
KB kepada Masyarakat.

12.4 Keluarga Pra sejahtera dan Tahun 2013 = 8.924 KK  Tingginya persentase keluarga prasejahtera  Penguatan ketahanan ekonomi keluarga
keluarga sejahtera I dan sejahtera I.  Peningkatan partisipasi berKB
 Meningkatnya pernikahan dini di kalangan  Bimbingan serta pengajaran tentang dampak
anak remaja. negative pernikahan dini untuk mendorong
pendewasaan usia kawin dan perencanaan
keluarga.

13. Sosial
13.1 Sarana sosial seperti panti Masih adanya arti sosial di Masyarakat.  Terbatasnya dana yang dialokasikan setiap  Diperlukan peningkatan anggaran dan sasaran
asuhan, panti jompo dan tahun sehingga sarana dan prasarana pada masing-masing kegiatan.
panti rehabilitasi. pendukung sangat terbatas.  Mengurangi beban pengeluaran masyarakat
miskin.
13.2 PMKS yang memperoleh Peningkatan jumlah PMKS yang memperoleh  Belum optimalnya dan akuratnya pendataan  Optimalisasi peningkatan ketersediaan data
bantuan Sosial bantuan sosial. PMKS. PMKS yang akurat.
 Belum tersedianya criteria PMKS yang akan  Memperluas jangkauan pelayanan kepada

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 175


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

mendapatkan bantuan. Penerima manfaat.


 Penyediaan SOP dan penentuan criteria
PMKS yang akan mendapatkan bantuan.
13.3 Penanganan Penyandang Berfluktuasi.  Terbatasnya perhatian pemerintah terhadap  Adanya komitmen Pemerintah untuk
masalah kesejahteraan masalah kesejahteraan sosial. meningkatkan kesejahteraan sosial
Sosial  Kompleksitas Penyandang masalah semakin masyarakat.
bertambah.  Peningkatan dan Pemerataan kesejahteraan
masyarakat melalui upaya Pemberdayaan
sosial, rehabilitasi sosial, Perlindungan dan
Jaminan Sosial.

14. Ketenagakerjaan
14.1 Angka partisipasi angkatan Peningkatan angka partisipasi kerja  Rendahnya ketrampilan tenagankerja  Pembekalan dan Pelatihan tenaga kerja baik
kerja. skill maupun kemampuan manajemen.

14.2 Tingkat partisipasi Peningkatan pertisipasi angkatan kerja.  Tingkat pendidikan tenaga kerja relatif masih  Pembangunan balai latihan yang bertaraf
angkatan kerja. rendah. internasional.

14.3 Pencari kerja yang Peningkatan jumlah angka pencari kerja yang  Ketidaksesuaian antara jenis pendidikan dan  Pembangunan sekolah kejuruan yang berbasis
ditempatkan ditempatkan. kebutuhan pasar kerja yang tersedia. kebutuhan pasar kerja.

14.4 Tingkat Pengangguran Penurunan tingkat pengangguran terbuka  Jumlah pertumbuhan angkatan kerja tidak Perlu komitmen untuk membuat program
terbuka sesuai lapangan kerja yang tersedia. perencanaan tentang target penempatan
 Informasi pasar kerja masih terbatas. tenaga kerja dalam menciptakan lapangan
kerja baru.
 Pengembangan system informasi pasar kerja
melalui system online.

15. Koperasi Usaha Kecil dan Menengah


15.1 Persentase Koperasi Aktif Total jumlah koperasi 227 unit  Rendahnya peran aparat kecamatan dan  Pelibatan aparat kecamatan dan
Desa/kelurahan dalam pembinaan koperasi desa/kelurahan dalam pembinaan koperasi
 Kurangnya regulasi sektor ekonomi untuk diwilayahnya.
mendorong kegiatan usaha koperasi.  Dibutuhkan regulasi sektor ekonomi yang
berpihak pada koperasi.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 176


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

15.2 Persentase Koperasi besar Meningkatnya jumlah koperasi besar sebanyak 3  Terbatasnya pengelola usaha yang memiliki  Peningkatan manajerial pengelola usaha
unit. kemampuan (akreditasi) manajeria. melalui lembaga yang terakreditasi.

15.3 Persentase jumlah usaha Meningkatnya jumlah usaha kecil menjadi usaha  Kemampuan produksi, akses pasar masih  Peningkatan teknis manajerial pengelola UMK
kecil menjadi menengah menengah sebanyak 116 unit usaha kecil sangat terbatas  Penyediaan skim khusus bagi UMK.
 Wawasan kewirausahaan masih kurang  Ada regulasi usaha yang berpihak pada UMK.
 Skim kredit khusus untuk UMK yang murah
dan mudah tidak tersedia.
 Tidak adanya regulasi untuk pengembangan
UMK.

15.4 Persentase jumlah usaha Meningkatnya jumlah usaha menengah menjadi  Kurangnya kemitraan usaha  Medorong terciptanya kerjasama usaha
kecil menjadi usaha usaha kecil sebanyak 10 unit usaha menengah  Tidak bersedia reward bagi pelaku usaha  Penyediaan reward bagi pelaku UMK.
menengah yang berhasil.

16. Penanaman Modal


17. Kebudayaan
17.1 Penyelenggaraan Festival Penyelenggaraan Festival Seni dan Budaya 2 Kali  Masih banyaknya event Daerah yang belum  Perlu Inventarisasi event daerah yang belum
Seni dan Budaya pertahunnya yang sudah sesuai dengan agenda teragendakan pelaksanaannya. teragendakan untuk dimasukkan kedalam
event budaya daerah event daerah.
17.2 Sarana penyelenggaraan Sarana penyelenggaraan seni dan budaya ada….  Belum tersedia Gedung kesenian yang  Perlu adanya peningkatan sarana gedung
seni dan budaya gedung refresentatif. kesinian.

18. Kepemudaan dan Olahraga

18.1 Jumlah organisasi dan Optimalisasi hubungan pemuda  Belum terpolanya perberdayaan pemuda  Memfaslitasi secara terbatas baik teknis,
pemuda management maupun dana dalam rangka
mendinamisasi dunia kepemudaan

18.2 Jumlah organisasi Peningkatan jumlah organisasi yang terbina  Belum terpolanya pemassalan dan pembibitan  Meningkatkan pola pembibitan dan pembinaan
olahraga olahraga atlit melalui pusat pendidikan dan latihan
olahraga pelajar

18.3 Jumlah kegiatan Peningkatan jumlah kegiatan kepemudaan  Belum optimalnya koordinasi antara  Perlu adanya dorongan serta dukungan untuk

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 177


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

kepemudaan organisasi pemuda dan pemberdayaan pengembangan generasi muda dalam


organisasi pemuda meningkatkan produktifitas dan prsestasi

18.4 Jumlah kegiatan olahraga Peningkatan jumlah kegiatan olahraga  Belum optimalnya ketersediaan sarana dan  Perlu adanya fasilitas sarana dan prasarana
prasarana kegiatan olahraga yang memadai dan berkualitas

18.5 Lapangan olahraga 12 lapangan  Dari tahun ketahun lapangan sepakbola  Ketersediannya lahan
sepakbola berkurang  Perlibatan pihak swasta / masyarakat
19. Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri
19.1 Kegiatan pembinaan 3 Kegiatan pada tahun 2013  Belum optimalnya pembinaan tentang tugas  LSM, Ormas dan OKP yang terampil dan
terhadap LSM, Ormas dan dan fungsi organisasi propesional
OKP

19.2 Kegiatan pembinaan politik 6 kegiatan pada tahun 2013  Belum optimalnya sosialisasi pemahaman  Pengurus partai politik dan Masyarakat
daerah politik ke masyarakat memahami dengan baik arti politik.

20. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian
20.1 Rasio Jumlah Polisi 2 pada Tahun 2013  Belum berimbangnya jumlah polisi pamong  Penempatan polisi pamong praja secara
Pamong Praja per 10.000 praja dengan jumlah penduduk berimbang sesuai dengan kebutuhan
penduduk

20.2 Rasio Jumlah Linmas per 4 pada TAhun 2013  Belum berimbangnya jumlah linmas dengan  Penempatan linmas secara berimbang sesuai
10.000 penduduk jumlah penduduk dengan kebutuhan

20.3 Rasio Pos Siskamling per 85 pada tahun 2013  Belum optimalnya peran masyarakat dalam  Peningkatan peran masyarakat dalam
jumlah desa/kelurahan pemanfaatan pos siskamling pemanfaatan pos siskamling

20.4 Pertumbuhan ekonomi 6.8 % Pada tahun 2013  Belum meratanya pertumbuhan ekonomi  Infrastruktur yang baik
anatar desa/kelurahan  Keamanan yang kondusig
 Iklim investasi yang semakin baik
 Produktivitas usaha lebih baik

20.5 Kemiskinan 18.672 jiwa pada tahun 2013  Sebaran penduduk miskin pada  Perbaikan akses infrastruktur, didtribusi
desa/kelurahan belum tertangani dengan baik pangan, peningkatan keterampilan, dll

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 178


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

20.6 Penegakan perda 91% pada tahun 2013  Terbatasnya PPNS Penegak Perda  Makin tingginya kesadaran masyarakat tentang
peraturan perundang undangan

20.7 Cakupan patrol petugas 361 pada tahun 2013  Masih kurangnya intensitas cakupan patrol  Ketersediaan sarana dan prasarana
satpol PP petugas satpol PP pendukung cakupan patrol petugas satpol pp
 Masih kurangnya sarana prasarana

21. Ketahanan Pangan


21.1 Regulasi ketahanan Tersedianya regulasi yang mendukung  Regulasi ketahanan pangan masih kurang  Koordinasi dengan instansi terkait dalam
pangan pemberdayaan masyarakat dalam pemenuhan hak  Sanksi terhadap pelanggaran peraturan melaksanakan regulasi ketahanan pangan
atas pangan keamanan pangan belum optimal secara optimal
 Berkembangnya lahan sawah produktif  Pembuatan PERDA Perlindungan pangan
menjadi areal perumahan. tersedia dan ditegakkan.

21.2 Ketersediaan pangan Ketersediaan pangan utama (beras) tersedia  Laju peningkatan produksi pangan cenderung  Tingkat produksi utama (beras)
utama sepanjang tahun minimal 2 kali kebutuhan pangan melandai sedangkan pertumbuhan penduduk  Pengendalian pertumbuhan penduduk (2 orang
penduduk lebih dari 1% anak cukup)

22. Pemberdayaan masyarakat dan desa
22.1 Rata-rata jumlah kelompok Rata-rat jumlah kelompok binaan = 2 klp binaan  Masih rendahnya kelompok binaan pada  Pembinaan terhadap kelompok binaan agar
binaan lembaga setiap desa (hanya 1 binaan kelompok pada meningkatkan jumlah kelompok binaan pada
pemberdayaan masyarakat masing-masing LPM) masing masing LPM pada setiap desa
(LPM) (menjadikan 2 kelompok binaan pada masing
masing LPM)
22.2 Rata-rata jumlah kelompok Rata-rata kelompok binaan PKK = …….. klp binaan  Masih ada PKK didesa dan kelurahan yang  Pengoptimalan fungsi dan tanggung jawab
binaan PKK belum membina kelompok sesuai dengan kelompok penggerak PKK kabupaten,
jumlah kelompok binaan yang harus dibina kecamatan dan desa/kelurahan agar rutin
membina kelompok binaan PKK pada masing
masing POKJA

22.3 Jumlah LSM 54,3 % (25 LSM Aktif dari 46 LSM)  Data LSM aktf terinventaris dengan baik pada  Pendataan dan inventarisasi data LSM yang
setiap kecamatan, desa dan kelurahan. bergerak dibidang pemberdayaan masyarakat
Khusunya LSM yang bergerak dibidang disetiap desa / kelurahan
pemberdayaan masyarakat

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 179


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan


22.4 LPM Berprestasi LPM dapat menjadi pelopor Pemberdayaan di  Masih rendahnya aktivitas penghargaan yang  Pemberian penilaian kinerja kepada LPM yang
masyarakat. dilakukan oleh pemerintah kabupaten dalam dilakukan setiap SKPD yang berkaitan
menialai kinerja kelembagaan LPM dibidang langsung dengan kegiatan LPM
pemberdayaan masyarakat

22.5 PKK aktif ………….% (……PKK aktif dari …….PKK)  Desa / kelurahan yang letaknya terpencil  Memperlancar akses transportasi dan
(daerah pegunungan sulit dilakukan komunikasi pada setiap desa/kelurahan yang
pembinaan oleh TP PKK desa, kecamatan letaknya terpencil agar rutin dilakukan
dan kabupaten pembinaan kader PKK desa

22.6 Posyandu aktif 57,06% (….posyandu aktif 202 total posyandu)  Masih ada sebagian posyandu yang belum  Meningkatkan sumber daya manusia kader
memliki kader yang terlatih serta sarana dan posyandu dan pemberian dukungan sarana
prasarana yang layak dan prasarana yang layak kepada posyandu
didesa khususnya didaerah pegunungan

22.7 Swadaya masyarakat Persentase swadaya masyarakat terhadap program  Masih rendahnya program-program  Mengiatkan program-program Pemerintah
terhadap program pemberdayaan sebesar 65,50 %. pemerintah yang meningkatkan swadaya yang bertujuan meningkatkan swadaya Gotong
pemberdayaan masyarakat gotong royong masyarakat . Royong Masyarakat serta melakukan
 Belum terdatanya dengan baik konstribusi Pendataan secara rutin Kegiatan
swadaya masyarakat terhadap kegiatan Pembangunan yang dilakukan secara
pembangunan, khususnya bidang swadaya.
pemberdayaan Masyarakat.

22.8 Pemeliharaan pasca Persentase peran masyarakat dalam pemeliharaan  Kurang berfungsinya kelompok masyarakat  Mengaktifkan dan memfungsikan kembali
program pemberdayaan sarana dan parasarana terbangun sebesar 70% pemelihara pembangunan yang kelompok kelompok pemelihara pasca
masyarakat didesa/kelurahan dan tidak dianggarkan program pembangunan pemberdayaan
dalam APBDes pemeliharaan pasca masyarakat didesa/kelurahan serta
pemberdayaan masyarakat menganggarkan pada APBD kegiatan
pemelihraan pasca program pemeberdayaan
masrakat
22.9 Pembinaan desa/kelurahan Semua Desa/Kelurahan yang telah dibina lomba  Tidak terbinanya Desa/kelurahan yang telah  Desa/Kelurahan yang telah dibina lomba desa
pasca lomba P2WKSS P2WKSS tertdata. mengikuti lomba P2WKSS serta kesadaran program P2WKSS tetap konsisten.
warga masyarakat sangat rendah. Melanjutkan pemeliharaannya.
 Belum adanya evaluasi Desa/Kelurahan  terbina dan partisipasi memelihara desa/lurah
Ex.perlombaan PWKSS. tetap.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 180


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

 Desa/lurah yang telah mengikuti lomba tetap


dibina.

23. Kearsipan
23.1 Pengelolaan Arsip secara Belum optimalnya pengelolaan kearsipan pada  Sarana dan prasarana pengelolaan arsip  Penyediaan peningkatan sarana dan
baku SKPD masih kurang prasarana pengeloalaan kearsipan yang
 Arsip arsip yang berada diSKPD masih masuk berkualitas
dalam kategori kacau, belum tertatah sesuai  Peningkatan pemahaman dan kapasitas aparat
kaidah kearsipan terkait pengelolaan arsip
 Tidak tersedianya sarana dan prasarana dan  Kurangnya komitmen para pimpinan SKPD
belum terlaksanya system kearsipan yang akan pentingnya arsip
baku disetiap SKPD  Peningkatan pemahaman aparatur akan
 Rendahnya kesadaran dan pemahaman akan pentingnya pengelolaan arsip
pentingnya arsip  Penyediaan unit pengelolaan arsip pada setiap
 Belum terwujudnya unit kearsipan disetiap SKPD berdasarkan ketentuan peraturan
SKPD, sesuai amanah UU No.43 Tahun perundang-undangan
tentang Kearsipan.

23.2 Peningkatan SDM  Ketersediaan dan kapasitas sumberdaya  Peningkatan pengetahuan dan minat aparatur
pengelola Kearsipan manusia pengelola arsip belum memadai tentang kepentingan pengelolaan kearsipan
 Belum optimalnya kearsipan diSKPD yang  Peningkatan kesejahteraan aparatur fungsionla
disebabkan oleh kurangnya tenaga kearsipan.
Fungsional Kearsipan (Arsiparis)

24 Komunikasi dan Informasi
24.1 Jumlah jaringan Masih terbatasnya jumlah dan kualitas jaringan  Masih terdapatnya beberapa wilayah yang  Penyediaan sarana dan prasarana jaringan
komunikasi komunikasi belum terjangkau jaraingan komunikasi yang komunikasi pada wilayah yang belum
berkualitas, khususnya daerah pegunungan. terjangkau pelayanan jaringan komunikasi
24.2 Rasio wartel/warnet Masih rendahnya rasio wartel dan warnet terhadap  Masih terdapat beberapa Desa/lurah yang  Penyediaan sarana dan prasarana jaringan
terhadap penduduk jumlah penduduk belum terjangkau fasilitas wartel/warnet yang komunikasi yang belum terjangkau pelayanan
berkualitas jaringan komunikasi
 Peningkatan kualitas dan jangkauan jaringan
komunikasi sampai di desa terpencil.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 181


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

25 Perpustakaan
25.1 Jumlah Perpustakaan Jumlah perpustakaan belum memenuhi kebutuhan  Sarana dan prasarana pendukung  Peningkatan kualitas sarana dan prasarana
masyarakat perpustakaan termasuk prasarana kantor  Peningkatan peran dan pemahaman
belum memadai masyarakat dan aparat pemerintah terkait
 Terbatasnya pendanaan untuk peran perpustakaan dalam peningkatan
pengembangan perpustakaan kualitas pendidikan
 Belum adanya gedung perpustakaan yang  Peningkatan peran pemangku kepentingan
refresentatif dalam pengelolaan perpustakaan
 Belum optimalnya pengelolaan Perpustakaan  Peningkatan pemahaman masyarakat akan
 Terbatasnya tenaga fungsional perpustakaan peran profesi pustakawan
(pustakawan)

25.2 Jumlah pengunjung Peningkatan jumlah pengunjung perpustakaan per  Masih kurangnya minat baca masyarakat  Peningkatan fasilitas dan sosialisasi
perpustakaan pertahun tahun masih rendah yang disebabkan oleh rendahnya budaya pemerintah baik untuk memacu peningkatan
membaca masyarakat minat baca masyarakat

25.3 Koleksi buku yang tersedia Jumlah koleksi buku yang tersedia diperpustakaan  Kuantitas dan kualitas bahan pustaka masih  Peningkatan koordinasi dan kerjasama antar
diperpustakaan masih tersedia kurang pemerintah dan penerbit dalam pengadaan
kabupaten/kecamatan di bahan bacaan yang bermutu
Desa/Kelurahan  Peningkatan peran pemangku kepentingan
untuk berpartisipasi dalam pengadaan bahan
bacaan yang bermutu.

II Fokus Layanan Urusan Pilihan

1. Pertanian
1.1 Produktivitas padi atau  Produktivitas padi dalam 5 tahun terakhir  Penyediaan sarana produksi seperti benih dan  Ketersediaan benih dan produksi lainnya yang
bahan pangan utama local mengalami peningkatan 0,58 % tetapi pupuk belum memenuhi prinsip 5T (tepat memenuhi prinsip 5 T
lainnya perhektar peningkatan luas panen lebih besar sebesar 2,02 waktu, tepat jenis, tepat jumlah, tepat tempat  Pengendalian OPT dan Pengawalan teknologi
% sehingga capaian peningkatan produksi setiap dan tepat harga)  Pembangunan dan Rehabilitasi jaringan Irigasi
tahun didominasi oleh penambahan luas panen.  Belum optimalnya dukungan sarana dan  Pengembangan Sumber air irigasi alternatif
 Tersedianya data penelitian kandungan hara prasarana seperti jaringan irigasi, alat mesin seperti embung dll.
tanah sawah untuk penggunaan pupuk pertanian, sarana pasca panen dan sarana  Fasilitas penyediaan alsintan dan lembaga

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 182


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

berimbang. perhubungan. penyedia alsintan.


 Belum adanya data penelitian kandungan  Fasilitasi permodalan dan pembiayaan usaha
hara tanah sawah untuk penggunaan pupuk tani lainnya.
berimbang.

1.2 Konstribusi sektor  Konstribusi sektor pertanian terhadap PDRB  Konstribusi sektor pertanian terhadap PDRB  Ketersediaan agroinput memenuhi prinsip 5 T.
pertanian/Perkebunan paling tinggi disbanding sektor lainnya. mengalami peningkatan darit ahun 2009  Peningkatan jalan penghubung dari pusat
terhadap PDRB.  Konstribusi sektor perkrbunan terhadap PDRB sampai tahun 2012 namun pada tahun 2013 produksi ke pasar dan industry.
meningkat. menurun menjadi 52.98.  Fasilitasi permodalan dan pembiayaan usaha
 Nilai tambah dan mutu hasil perkebunan tani lainnya.
masih belum optimal.  Penyediaan sarana pengolahan yang memadai
disektor perkebunan.
 Perbaikan dan peningkatan mutu hasil
perkebunan.

1.3 Konstribusi sektor Tabama  Konstribusi sub sektor pertanian (tanaman bahan  Konstribusi sub sektor pertanian (tanaman  Ketersediaan Agroinput memenuhi prinsip 5 T
makanan) terhadap PDRB paling tinggi dibanding bahan makanan) terhadap PDRB mengalami  Peningkatan jalan penghubung dari sentra
sub sektor lainnya. penurunan dari 56,50% tahun 2009 menjadi produksi ke pasar dan industri.
52,98% pada tahun 2013.  Fasilitasi permodalan dan pembiayaan usaha
tani lainnya.
 Terlaksananya system Agribisnis dan
Agroindustri dengan baik pada pendekatan
kawasan

1.4 Konstribusi sektor Kontribusi sektor perkebunan terhadap PDRB…  Produktifitas tanaman perkebunan belum  Pemeliharaan tanaman secara intensif yang
perkebunan (tanaman optimal, masih dibawah potensi kemampuan berkelanjutan
keras) terhadap PDRB lahan.  Penyediaan sarana dan prasarana yang
memadai
 Perbaikan tanaman melalui peremajaan dan
rehabilitasi serta pemilihan tanaman yang
unggul yang tahan terhadap Organisme
Penggangngu Tanaman (OPT) dan anomaly
iklim

1.5 Cakupan bina kelompok Cakupan kelompok petani yang menjalankan usaha  Belum optimalnya kasitas dan pengetahuan  Peningkatan kapasitas dan pengetahuan
petani melalui pembinaan meningkat. kelompok petani dalam menjalankan usaha kelompok petani dalam menjalankan usaha

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 183


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

peningkatan kualitas produksi pertanian peningkatan kualitas produksi pertanian.


 Belum optimalnya peran dan fasilitasi  Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah
pemerintah dalam memacu peningkatan guna memacu peningkatan usaha dan
produksi dan usaha kelompok tani produksi kelompok tani.

1.6 Produksi daging dari Target pada tahun 2013 diharapkan sebesar 2  Rendahnya produksi daging.  Meningkatkan sarana dan prasarana,
berbagai komoditas ternak. persen pertahun namun terjadi penurunan  Terbatasnya areal RPH dan yang sudah ada penerapan teknologi produksi dan manajemen
sebesar………. Persen dari yang ditargetkan. 0,20 Ha sudah tak layak. produksi .
 Tersedianya lahan RPH untuk dibangun sesuai
standar mutu pelayanan.

1.7 Penyuluhan Teknologi Peningkatan kelompok tani ternak terbina dan  Kurangnya tenaga penyuluh peternakan dan  Tersedianya tenaga penyuluh yaitu dokter
Ternak dan Keswan pengendalian Keswan optimal. dokter hewan untuk pembinaan dan Hewan.
pengawasan.

2. Kehutanan
2.1 Rehabilitasi hutan dan Jumlah luas hutan yang direhabilitasi setiap tahun  Besarnya laju deforestrasi dan degradasi  Penyelesaian tata batas kawasan hutan, batas
lahan mengalami peningkatan , yakni dari 26.049 ribu ha hutan serta tersedianya data dan informasi luar dan batas fungsi kawasan hutan serta
tahun 2009 menjadi 26.049 ribu Ha tahun 2013 atau laju degradasi kawasan hutan. penguatan upaya peningkatan kapasitas
dari 0 persen menjadi 0 persen. pengelolaan kawasan hutan peningkatan
kapasitas polisi hutan.

2.2 Kerusakan kawasan hutan Kerusakan hutan masih 15 % dibandingkan dengan  Besarnya laju dsforestrasi dan degradasi  Penyelesaian tat batas kawasan hutan, batas
luas 46 Ha hutan serta tersedianya data dan informasi luar, dan batas fungsi kawasan hutan serta
laju degradasi kawasan hutan. penguatan peningkatan kapasitas pengelolaan
 Belum tersedianya data base. Luas perjenis kawasan hutan melalui peningkatan kapasitas
tanaman hutan. polisi hutan.
 Tersedia data.

2.3 Konstribusi sektor Konstribusi sektor kehutanan masih dibawah 1  Secara ekonomi konstribusi sektor kehutanan  Perlu menghitung kontribusi intangible dari
kehutanan terhadap PDRB %. masih rendah namun konstribusi manfaatnya sektor kehutanan untuk menjadi pertimbangan
belum dianalisis. ekonomi lingkungan.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 184


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

3. Energi dan potensi Sumber Daya Mineral


3.1 Pertambangan tanpa izin Penanganan pertambangan tanpa izin masih  Belum terpadunya kegiatan perencanaan dan  Sinkronisasi perencanaan dan pengembangan
dibawah 47 %. pengembangan pertambangan dengan pertambangan dengan rencana tata ruang
rencana tata ruang. serta konsistensi pemanfaatan rencana tat
ruang dan penegakan hukum.

3.2 Konstribusi sektor Konstribusi masih pada tahun 2013= 10,64 % masih  Belum terpadunya kegiatan perencanaan dan  Tersedia data base dan hasil penelitian.
pertambangan terhadap dibawah capaian tahun 2009 namun cenderung pengembangan pertambangan dengan  Adanya Perencanaan Pengembangan sesuai
PDRB stabil di angka tersebut selama 4 tahun berikutnya. rencana tata ruang tata ruang.
 Belum adanya data yang tersedia.  Tersedianya tenaga terampil.

4. Pariwisata
4.1 Kunjungan Wisata Kunjungan mengalami peningkatan tiap tahunnya  Belum Optimalnya sarana dan prasarana  Peningkatan sarana dan prasarana akses ke
sebesar……………..persen, yakni Daerah Tujuan Wisata (DTW) DTW
dari………….orang tahun 2009 meningkat menjadi  Masih banyak DTW baru yang belum terbina  Optimalisasi promosi DTW baru dan perbaikan
……………….jiwa tahun 2013 infrastruktur
 Pelatian masyarakat dalam industry wisata
spesifik

4.2 Kontribusi sektor Kontribusi terhadap PDRB rata rata …….. %  Masih rendahnya promosi pada segmen pasar  Perlu peningkatan promosi baik dalam maupun
pariwisata terhadap PDRB selama 5 tahun internasional luar negeri
 Belum semua lokasi DTW dimiliki oleh pemda  Lokasi dibina, dikembangkan pemerintah dan
dan bersertifikat masyarakat serta lahan jelas status
pengelolaannya/Pemilikan.

5. Kelautan dan perikanan


5.1 Produksi perkanan Jumlah produksi ikan pada tahun 2013 adalah  Belum terintegrasinya system produksi dari  Memanfaatkan potensi yang ada dengan
sebesar ……… atau …………. % dari produk hulu ke hilir menarapkan teknologi serta membangunan
perikanan  Kualitas armada penangkap ikan masih jejaring bisnis perikanan
rendah  Pengembangan sektor hulu kehilir dan
 Penyakit udang masih menjadi ancaman revitalisasi system produksi dalam rangka
Untuk peningkatan produksi. penyediaan bahan baku industrilisasi
 Mutu produksi perikanan kurang berdaya  Pembinaan dan pengawasan dalam

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 185


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

saing pengelolaan sumber daya perikanan dan


 Kualitas SDM Pembudidaya dan Nelayan kelautan
masih rendah.

5.2 Konsumsi ikan Pada tahun 2013 konsumsi ikan berhasil melampaui  Persaingan konsumsi protein hewan lain  Pembinaan produk nilai tambah dan
target sebesar …………….dimana konsumsi ikan  Penurunan stock ikan laut / pesisir oleh diseminasi teknologi pengolahan
dicapai sebesar 45,80% sementara target daerah nelayan tradisional  Peningkatan mutu dan jaminan keamanan
hanya sebesar 30 kg pangan
 Komuditas perikanan dimasukkkan dalam
undang undang pangan strategis
 Tersedia sarana dan prasarana pembantu
mutu.

5.3 Cakupan bina kelompok Cakupan bina kelompok nelayan yang dapat  Kurangnya monitoring terhadap keberhasilan  Inovasi teknologi pada usaha perikanan
nelayan, pembudidaya dan bantuan dipinrang mengalami peningkatan…. kelompok nelayan  Pengelolaan potensi dengan berbasis
pengolah  Belum terintegrasinya system produksi dari komuditas, kawasan serta pembenahan
hulu kehilir system dan managemen usaha kelembagaan
 Terbatasnya modal usaha.  Pembinaan kawasan mina politan belum
optimal

5.4 produksi perikanan Jumlah produk kelompok ……% dari produk daerah  Rendahnya produktifitas dan daya saing  Kualitas kelembagaan nelayan, pembudidaya
kelompok nelayan, yaitu ; usaha kelautan dan perikanan dan pengolah
pembudidaya dan Pembudidaya 88 kelompok  Kemiskinan masyarakat nelayan dan  Meningkatkan pembinaan kelembagaan
pengolah Tangkap 60 kelompok pembudidaya ikan masyarakat usaha perikanan dan kelautan
Pengolah 22 kelompok  Keterbatasan infrastruktur perikanan budidaya agar dapat menghasilkan produk yang berdaya
Pelestari 4 kelompok tangkap dan pengolahan hasil kelautan dan saing
perikanan (air bersih, listrik, bbm, system  Optimalisasi program bbm solar, puket dan ….
rantai dingain, pelabuhan perumahan)
 Terbatasnya akses permodalan untuk usaha
perikanan

6. Perdagangan

6.1 Kontribusi sektor Rata rata 12,68 % selama 5 tahun  Belum optimalnya peran sektor perdagangan  Optimalisasi peran sektor perdagangan
perdagangan terhadap terhadap peningkatan PDRB Sulsel terhadap PDRB
PDRB  Peningkatan koordinasi antar tingkatan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 186


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

pemerintahan dalam upaya memacu kontribusi


sektor perdagangan terhadap PDRB

6.2 Cakupan bina kelompok Persentase usaha informasi dan kelompok  Masih besarnya jumlah kelompok pedagang  Peningkatan upaya pembinaan dan fasilitasi
pedagang/usaha informal pedagang yang aktif dan usaha informal yang aktif dan mandiri kelompok pedagang dan usaha informal
 Masih rendahnya tingkat keterampilan dan  Peningkatan keterampilan dan kapasitas
kapasitas pengelolaan usaha pengelolaan usaha

7. Perindustrian

7.1 Kontribusi sektor industri Pertumbuhan sektor industri 6,83%  Kurangnya investasi sektor industri  Iklim investasi yang semakin baik
terhadap PDRB pengolahan

7.2 Pertumbuhan Industri Pertumbuhan industri 9,32 % (ADHK)  Kurangnya investasi sektor industry  Iklim investasi yang semakin baik
pengolahan

8. Ketransmigrasian
8.1 Transmigrasi Sejak tahun 2009 sudah tidak ada.  
8.2  

I Fokus kemampuan ekonomi daerah

1. Otonomi daerah, pemerintahan umum….


1.1 Pengeluaran konsumsi  Rata rata pengeluaran perkapita sebulan untuk  Konsumsi rumah tangga per kapita masih  Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah
pengeluaran pendapatan pengeluaran makanan …. Pada tahun 2012 didominasi kelompok pangan yang idealnya dalam mendukung peningkatan konsumsi
perkapita adalah sebesar ………..….% atau mengalami kelompok non pangan kelompok non pangan
penurunan sebesar … poin jika dibandingkan
dengan tahun 2011

1.2 Pengeluaran konsumsi non  Persentase pengeluaran konsumsi rumah  Konsumsi non pangan lebih rendah  Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah
pangan per kapita tangga perkapit meningkat dari hamper disbanding konsumsi pangan perkapita dalam mendukung peningkatan konsumsi
berimbang yakni dari …persen menjadi …. kelompok non pangan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 187


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

Persen

1.3 Produktivitas total daerah PDRB meningkat signifikan dari tahun ketahun  Masih didominasi sektor pertanian yang  Industry pengolahan pertanian meningkat
pemasarannya dalam bentuk komoditi primer /  Sarana produksi pertanian meningkat
bahan baku  Tersedia Hasil Riset & Teknologi ttg kesuburan
Tanah.

2. Pertanian
2.1 Nilai tukar petani Nilai tukar petani di Pinrang berada diatas rata-rata  Adanya perbedaan harga antara Pemerintah  Kemampuan daya beli masyarakat meningkat
Kabupaten tetangga. (Bulog) dan Tengkulak di lokasi panen.  Jumlah produksi hasil pertanian meningkat
 Semua Produksi ditangani Pemerintah

II Fokus Fasilitas Wilayah / Infrastruktur

1. Perhubungan
1.1 Rasio panjang jalan per Pertambahan jumlah kendaraan lebih tinggi  Kurangnya pembangunan infrastruktur jalan  Meningkatnya kemampuan masyarakat
jumlah kendaraan dibanding pertambahan panjang jalan baru membeli kendaraan baru

1.2 Jumlah orang / barang Jumlah arus barang dan orang semakin meningkat  Pengguna tani, sering tidak tertib sehingga  Semakin giatnya perekonomian dan lancarnya
terangkut angkutan umum kecelakaan lalu lintas. transportasi kedaerah

2. Penataan Ruang
2.1 Ketaatan terhadap RTRW Sampai saat ini rasio kesesuaian pelaksanaan  Belum sinkronnya program pembangunan  Adanya upaya pengendalian pemabfaatan
pembangunan yang sesuai dengan RTRW sudah antar sektor dan antar wilayah yang mengacu ruang pada wilayah kabupaten yang
mencapai ……….. Yang diindikasikan dengan telah pada rencana tata ruang berbatasan dengan perkotaan
dilaksanakannya …………….. program  Belum tersedianya instrument pengendalian  Upaya mewujudkan singkronisasi program
pembangunan utama pada indikasi program utama yang optimal terhadap pembangunan sesuai dengan rencana tata
RTRW. ruang dan meningkatkan upaya pengendalilan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 188


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

pemanfaatan ruang

2.2 Luas wilayah Produktif Luas wilayah Produktif Pinrang berdasarkan RTRW  Belum sinkronnya program pembangunan  Adanya Pengembangan kawasan permukiman
sudah mencapai………dengan mengembangkan antar sektor dan antar wilayah yang mengacu kota ke bagian selatan.
kawasan Produktif seluas…………..hektar. pada rencana tata ruang.  Adanya Pengembangan Kawasan Strategis
 Belum tersedianya instrument pengendalian Nasional Kapet Pare-pare.
yang optimal.

2.3 Luas wilayah Industri Luas wilayah Industri Kabupaten Pinrang  Belum sinkronnya program pembangunan  Adannya upaya pengendalian pemanfaatan
berdasarkan RTRW sudah mencapai 485 Hektar antar sektor dan antar wilayah yang mengacu ruang wilayah kecamatan yang berbatasan
pada rencana tata ruang. dengan kota pinrang sebagai Hinterland.
 Belum tersedianya instrument pengendalian
yang optimal.

2.4 Luas wilayah Kebanjiran Persentase luas wilayah kebanjiran terhadap luas  Belum sinkronnya program pembangunan  Adanya upaya pengendalian pemanfaatan
wilayah budidaya di Kab.Pinrang sebesar 21,5 %. antar sektor dan antar wilayah yang mengacu ruang pada wilayah kecamatan Desa yang
pada rencana tata ruang. berbatasan dengan perkotaan. Dapat sinergi
 Belum tersedianya instrument pengendalian pengembangannya.
yang optimal terhadap pelanggaran rencana 
tata ruang.

2.5 Luas wilayah perkotaan Realisasi luas kawasan perkotaan terhadap luas  Belum sinkronnya program pembangunan  Sinergitas dan sinkronisasi program
rencana wilayah budidaya sesuai RTRW Pinrang. antar sektor dan antar wilayah yang mengacu pembangunan kawasan perkotaan yang
pada rencana tata ruang. mengacu pada RTR;
 Belum tersedianya instrument pengendalian  Penyiapan instrument pengendalian
yang optimal terhadap pelanggaran rencana pemanfaatan ruang.
tata ruang.

3. Otonomi daerah, Pemerintahan umum, Administrasi Keuangan Daerah,………………………………………………….
3.1 Jenis dan jumlah bank dan Peningkatan dan Pemerataan jumlah dan jenis  Jenis dan jumlah bank belum merata di setiap  Tingginya kesadaran masyarakat
cabang bank kecamatan, kecuali BRI sdh ada. menggunakan jasa perbankan.
 Jumlaha tabungan dan nasabah meningkat.

3.2 Jenis, kelas dan jumlah  Makin tingginya minat masyarakat untuk  Belum optimalnya peran pemerintah dalam  Peningkatan peran pemerintah dalam
restoran. membuka Warung/kafe. memfasilitasi masyarakat dalam pengelolaan memfasilitasi pengelolaan warung yang sehat

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 189


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

 Meningkatnya jumlah masyarakat yang warung yang sehat dan halal. dan halal
berkunjung ke Warung.  Masih terbatasnya jumlah warung yang  Peningkatan kapasitas dan pemahaman
terdaftar dan tersertifikasi. masyarakat akan pengelolaan warung yang
sehat dan halal.

3.3 Jenis, kelas dari jumlah  Makin tingginya minat masyarakat untuk  Belum optimalnya pemerintah dalam  Peningkatan peran pemerintah dalam
hotel/wisma membuka usaha hotel / wisma memfasilitasi masyarakat dalam pengelolaan memfasilitasi pengelolaan hotel/wisma
 Meningkatnya jumlah masyarakat yang hotel/wisma  Peningkatan kapasitas dan pemahaman
berkunjung dan menggunakan fasilitas  Masih terdapat beberapa hotel/wisma yang masyarakat terkait syarat dan persyaratan
hotel/wisma sesuai dengan syarat dan persyaratan pendirian hotel/wisma

4. Lingkungan Hidup
4.1 Persentase Rumah Cakupan penggunaakn air bersih sebesar ….%,  Masih rendahnya cakupan RT yang  Peningkatan cakupan pelayanan air bersih di
Tangga (RT) yang dengan total rumah tangga sebesar 5.577 RT yang menggunakan air bersih dari sumber yang tingkat rumah tangga
menggunakan air bersih menggunakan air bersih aman  Peningkatan upaya konservasi sumber air
 Makin berkurangnya kapasitas air baku untuk baku
memenuhi kebutuhan RT

5. Komunikasi dan Informatika


5.1 Rasio ketersediaan daya Kebutuhan listrik di Kab.Pinrang pada tahun 2013  Persentase pemanfaatan energy baru  Pengembangan dan pemanfaatan potensi
listrik sebesar 115.136.690 Kwh didominasi oleh terbarukan masih rendah untuk pembangkit energy local khusunya energy baru terbarukan
kebutuhan untuk rumah tangga sebesar 54%, listrik baik skala menengah maupun skala  Meningkatnya pemenuhan kebutuhan listrik di
disusul oleh kebutuhan untuk perkotaan sebesar kecil masih rendah perdesaan dan melalui Pengembangan Desa
24%, dan sisanya untuk kebutuhan publik.  Kurangnya inovasi baru untuk pembangkit Mandiri Energi
listrik

5.2 Persentase rumah tangga Persentase rumah tangga yang nmenggunakan  Persentase pemanfaatan energi baru  Pengembangan dan pemanfaatan potensi
yang menggunakan listrik listrik di Kabupaten Pinrang didominasi oleh terbarukan masih rendah energi local khusunya energy baru terbarukan
pengguna listrik dengan daya 900 watt sebesar 50  Semakin tinggi permintaan sambungan baru  Meningkatnya pemenuhan kebutuhan listrik di
% dari seluruh rumah tangga pengguna listrik untuk RT perdesaan dan melalui pengembangan desa
Mandiri Energi di Kecamatan Lembang dan
Batulappa*

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 190


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

III Fokus Iklim Berinvestasi

1. ……………………………
1.1 Angka kriminalitas Jumlah tindak kriminalitas provinsi Sulawesi Selatan  Masih tingginya angka kriminalitas akibat  Peningkatan kualitas dan frekuensi
mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir sosialisasi hokum yang kurang pelaksanaan sosialisasi penegak hokum
(2009-2013) pada tahun 2009 hingga tahun 2013  Masih rendahnya pendidikan  Peningkatan peran masyarakat dalam
jumlah tindak kriminalitas meningkat dari 203 Kasus  Kurangnya jumlah aparat penegak hokum pelaksanaan keamanan dan ketertiban
menjadi 495 kasus masyarakat
 Mengaktifkan kantibmas

1.2 Jumlah demo Tingginya jumlah demonstrasi dan menurun dari  Masih rentang aksi demonstrasi  Peningkatan koordinasi dan kerjasama dalam
tahun ketahun  Belum tersedianya sarana penyaluran aspirasi penanganan demonstrasi
yang benar  Penyediaan sarana dan prasarana penyaluran
aspirasi masyarakat dan mahasiswa

1.3 Jumlah dan macam pajak Jenis jenis pajak dan retribusi yang dapat dikelola  Masih terdapat pungutan ditingkat Kabupaten  Pengawasan atas implementasi perda pajak
dan retribusi daerah pemda telah ditetapkan secara CloseList yang bersifat kontra produktif dengan iklim dan retribusi daerah di tingkat kabupaten
berdasarkan UU 28 TAhun 2009 tentang pajak investasi didaerah
daerah dan retribusi daerah

1.4 Jumlah perda yang Perda yang masih berkaitan dengan investasi masih  Kurangnya dukungan legislasi yang  Peningkatan jumlah perda yang mendukung
mendukung iklim usaha belum mendukung pengembangan iklim usaha di mendukung pengembangan investasi yang iklim usaha
Kab.pinrang. terealisasi di Kab.Pinrang

1.5 Persentase desa berstatus Desa swasembada sebesar ….. desa dari sejumlah  Masih lemahnya peran, kapasitas dan  Peningkatan kapasitas dan kelembagaan
swasembada terhadap …. Desa/kelurahan kemampuan pemerintahan desa dalam pemerintah desa
total desa pelaksanaan pembangunan

IV Fokus Sumber Daya Manusia


1 Ketenagakerjaan Jumlah angkatan kerja 152.718 penduduk yang  Tingginya urbanisasi ke kota pinrang  Meningkatnya kegiatan agro industry
bekerja. Tingkat pengangguran terbuka mencapai  Kurangnya keterampilan bekerja  Meningkatnya permintaan tenaga kerja sektor
……% (6.930 orang)  Pendapatan tenaga kerja disektor pertanian perkebunan dari Negara tetangga / Malaysia
rendah

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 191


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tafsiran Faktor-faktor
No Urusan / IKK Capaian target Permasalahan Keberhasilan

1.1 Rasio ketergantungan Perbandingan antar banyaknya penduduk yang  Naiknya persentase penduduk yang belum  Adanya program-program yang terkait dengan
belum dan tidak produktif (umur dibawah 15 tahun dan tidak produktif program penurunan tingkat kelahiran bayi,
dan 65 tahun keatas) dengan banyaknya penduduk program keluarga berencana (KB)
yang termasuk produksi secara ekonomi  ………………………
(………tahun)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 192


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

4.2 Isu Strategis


Isu strategis dalam perencanaan pembangunan jangka mengah daerah
merupakan kondisi aktual yang perlu diperhatikan atau dikedepankan dalam
perncanaan pembangunan daerah karena penting, mendasar, mendesak dan
berdampak jangka panjang bagi berkelanjutan pembangunan serta signifikan bagi
daerah sesuai dengan tujuan penyelenggaraan pemerintah daerah dimasa yang
akandating. Isu strategis pembangunan daerah Kabupaten Pinrang dalam lima
tahun kedepan dirumuskan dengan mensistesa fakta-fakta permasalahan
pembangunan maupun permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan yang
telah disampaikan pada bahagian sebelumnya dengan isu-isu eksternal atau isu-isu
global.

4.2.1 Isu Global


Dalam penyelenggaraan pembangunan daerah, dapat ditemukan beberapa
kondisi yang dapat mempengaruhi kebijakan yang akan ditempuh. Kondisi tersebut
bersifat eksternal atau kondisi dari luar yang tidak dapat dikontrol sepenuhnya,
namun dapat diantisipasi dampaknya ataupun dapat dioptimalkan peluang yang
ditimbulkannya. Kondisi eksternal tersebut umumnya berlaku secara nasional
maupun internasional dan berdampak secara langsung dan berdimensi waktu yang
panjang yang akan mempengaruhi perjalanan pelaksanaan pembangunan,
sehingga memerlukan perhatian yang khusus. Berikut beberapa kondisi ataupun isu
global yang dipandang dapat mempengaruhi perjalanan kebijakan pembangunan di
daerah Pinrang.
Perubahan Iklim dan Bencana Alam, paradigma masa lalu menyebutkan
bahwa masalah lingkungan global lebih banyak dipengaruhi faktor alam, seperti
iklim, yang mencakup temperatur, curah hujan, kelembaban, tekanan udara
dll.Belakangan mulai disadari bahwa aktifitas manusia pun mempengaruhi iklim dan
lingkungan secara signifikan.Sebagai gambaran bahwa penebangan hutan,
mempengaruhi perubahan suhu dan curah hujan secara local.Ketika area hutan
yang hilang semakin luas, maka akibat yang ditimbulkan bukan lagi lokal tapi sudah
berskala regional.
Pemanfaatan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak diimbangi oleh
upaya penanggulangan yang mengatasnamakan kesejahteraan hidup manusia
tampaknya akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan lingkungan hidup.
Hal ini tidak hanya mengancam keberlangsungan lingkungan alam, tetapi juga
keberlangsungan hidup manusia sendiri. Isu pemanasan global dan perubahan iklim
hanyalah sebagian dari sekian banyak isu lingkungan untuk diperhatikan yang tidak

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 193


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

hanya bersifat lokal tetapi global, demikian halnya dengan Indonesia. Di


Indonesiamasih menghadapi tantangan besar dimana pembangunan ekonomi yang
dikembangkan telah menggerakkan pembangunan ekonomi yang cenderung
bersifat ekstraktif atau mengandalkan eksploitasi sumber daya alam secara
langsung.Bahkan ada kecenderungan besar dimana upaya mempertahankan fungsi
lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari masih jauh dari yang
diharapkan.
Penyebab pemanasan global ini cukup kompleks, meliputi meningkatnya gas
rumah kaca seperti CO2 dan Metana yang brasal dari Industri, Kendaraan bermotor,
dan mahluk hidup penghasil metana alamiah seperti baktri. Selain itu juga terjadinya
kerusakan hutan alami akibat alih fungsi hutan menjadi pemukiman, industri,
pertanian dan fungsi lainnya.Sehingga luas hutan setiap tahunnya terus berkurang
yang berakibat meningkatnya jumlah gas rumah kaca karena fungsi hutan sebagai
paru-paru dunia berkurang.
Eksploitasi hutan yang dilakukan masyarakat sekitar kawasan hutan lindung
juga tidak luput dari faktor kondisi sosial ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, usaha
untuk menghentikan perusakan hutan tidak cukup dilakukan hanya dengan
menghentikan kegiatan yang sifatnya merusak saja, melainkan juga dituntut untuk
melawan kecenderungan yang terjadi dengan berbagai macam usaha rehabilitasi
lahan dan hutan yang telah rusak.
Untuk mengantisipasi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan, maka
sangat dibutuhkan adanya suatu sistem pengelolaan dan pemberdayaan ekonomi
masyarakat sekitar kawasan hutan yang efisien dan berwawasan lingkungan, yang
mampu memanfaatkan potensi sumber daya setempat secara optimal, sehingga
masyarakat memiliki keperdulian dan tanggung jawab dalam menjaga hutan
tersebut.
Perdagangan bebas, globalisasi telah merambah hampir disemua ranah
kehidupan masyarakat, baik itu bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK), budaya, pendidikan dan lain-lain. Walaupun istilah globalisasi
telah menjadi suatu kosakata yang umum, tetapi suka atau tidak suka, masyarakat
diseluruh pelosok dunia sekarang ini telah hidup dalam suatu habitat global,
transparan, tanpa batas, saling mengait (linkage), dan saling ketrgantungan
(interdependence). Skenario liberalisasi melalui perjanjian perdagangan bebas
memberikan dampak keseluruh pelosok negeri. Contoh globalisasi yang nyata
dirasakan saat ini seperti masuknya barang-barang impor dari cina dan Negara-
negara ASEAN lainnya akan menyapu sampai ke desa-desa. Indonesia sekarang ini
berada didalam kondisi yang sangat terbuka dan sangat bersaing.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 194


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Dengan diberlakukannya perdagangan bebas banyak memberi dampak


terhadap kehidupan sosial masyarakat.Dunia yang tanpa batas, keluar masuk
barang yang intens serta interaksi dengan dunia luar disatu sisi memberikan
dampak positif bagi perkembangan masyarakat melalui upaya peningkatan kualitas
dan inovasi produk lokal.Namun, disisi lain, pemberlakuan ini dapat menambah
penderiataan sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih berada di bawah
garis kemiskinan.Mereka digiring kepada seluruh dunia dimana kekuatan pasar
menjadi panglima. Hilangnya subsidi dan peranan dari Negara dalam bidang
ekonomi berdampak multiplayer effect pada kemiskinan yang meningkat dan akan
mengarah pada tingginya angka kriminal. Hal ini mengakibatkan kerja keras
pemerintah, yakni mengerjakan dua hal sekaligus, yakni perbaikan ekonomi dan
sekaligus melakukan reformasi terhadap masalah-masalah sosial.
Kondisi sosial ekonomi serta semua potensi yang ada pada masyarakat
kabupaten Pinrang, diharapkan peerintah dapat menempuh suatu kebijakan yang
rasional untuk mengantar masuk dalam kancah perekonomian global.
Demokrasi dan HAM, dari tahun ketahun gelombang kesadaran eksistensi
kehadiran manusia dimasyarakatnya semakin meningkat seiring dengan
meningkatnya pendidikan dan informasi. Peningkatan peran dimasyarakat seperti
demokratisasi akan terus berlangsung dan tidak akan mungkin dapat dicegah
kemajuannya.pemerintah-pemerintah otoriter di dunia kalaupun belum dapat runtuh
seluruhnya diperkirakan akan mengalami perlemahan yang serius. Keberhasilan
Negara otoriter pada tahun-tahun sebelumnya dalam mencegah demokratisasi,
seperti halnya yang terjadi di beberapa Negara bekas Uni Soviet, Afrika Utara dan
Asia Selatan, hanya akan menunda sebentar keberhasilannya. Saat ini gelombang
demokrasi sedang melanda Negara-negara di Timur Tengah dan efek domino yang
ditimbulkannya menjadi permasalahan yang bermuara pada persoalan
kemanusian.Bahkan Negara-negara maju sekalipun sedang mengalami dinamika-
dinamika koreksi dalam hal demokrasi, berkaitan dengan peran Negara dan
masyarakat sipil.
Traficking, kasus tindak pidana perdagangan orang saat ini terus terjadi,
dimana Negara Indonesia menjadi bagian dari praktek ini. Tindak kejahatan
terhadap kemanusiaan ini terjadi di daerah atau negara asal, daerah transit hingga
ke daerah atau Negara tujuan.keterbatasan ekonomi, minimnya tingkat pendidikan
sering kali menjadi dasar alas an kelompok ini terjerat human trafficking. Beragam
cara dipakai pelaku untuk menarik dan mengontrol korban diantaranya janji
pekerjaan bergaji tinggi, hingga ancama kekerasan. Hal tersebut banyak terjadi
karena adanya masalah ketidakseimbangan hubungan Negara-negara maju dengan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 195


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Negara-negara berkembang khususnya dalamkonteks hubungan perdagangan dan


ekonomi.Sebagai perbandingan bahwa perdagangan orang dan penyelundupan
manusia merupakan kejahatan dengan nilai keuntungan terbesar ke-3 (tiga) setelah
kejahatan penyelundupan senjata dan perdagangan narkoba.
Di Indonesia praktek ini dapat terjadi dengan modus pengiriman tenaga kerja
ke luar negeri, dimana dua komponen saling memperkuat yakni antara kurangnya
lapangan kerja tersedia dan rendahnya keterampilan yang dimiliki Kabupaten
Pinrang dapat mngambil pran dalam mengurangi dampak dari hal ini dengan upaya
penciptaan lapangan kerja dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.

4.2.2. Isu Staregis Daerah


Isu starategis daerah hasil sintesa fakta-fakta permasalahan pembangunan
maupun permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan yang telah
disampaiakan pada bahagian sebelumnya dengan isu-isu global.
Selain isu global,penyusunan RPJMD ini juga memperhatikan secara khusus
dampak terhadap lingkungan hidup dari program-program yang akan dilaksanakan
seperti yang tlah diamanahkan oleh Permendagri No.67 Tahun 2012 tentang
Penyusunan Kajian Lingkungan Hidu Strategis. Pada proses kajian KLHS tersebut,
didapatkan gambaran perkiraan pengaruh dari pelaksanaan pembangunan sehingga
diperlukan mitigasi dari dampak negatif dengan :
1. Memperhatikan RTRWP dan RTRWK dan penerapan kaidah lingkungan hidup
dalam setiap pelaksanaan pembangunan. Hal ini antara lain dapat pula berupa
penerapan AMDAL dan RKL/RPL maupun UKL/UPL sesuai dengan
perundangan yang berlaku.
2. Pada sektor pertanian, penerapan pertanian dalam arti luas ramah lingkungan
antar lain dengan cara pemakaian pupuk berimbang, pemanfaatan pupuk
organic , pemakaian benih rendah emisi, dan pengolahan lahan tanpa bakar
serta memperhatikan daya dukung lahan dan kesesuaian lahan dalam setiap
kegiatan perlu dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan secara terintegrasi
dalam masing-masing program dengan membuat kegiatn berupa sosialisasi dan
penerapan pertanian ramah lingkungan. Disamping itu disarankan pula dengan
menerapkan pertanian dengan menggunakan system SRI (system of rice
intensification) yaitu pengembangan padi dngan air berimbang serta
pengembangan pengelolaan system irigasi yang partisipatif.
3. Pada sektor peternakan, pengintegrasian program dengan usaha memberikan
akses terhadap sistem pengkandangan yang layak dan sesuai dengan kaidah
lingkungan harus dilakukan. Agar hasil ternak lebih bermanfaat maka

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 196


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

dirkomendasikan pula untukpemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk an-


organik dan mengembangkan biogas yang dapat mnurunkan tingkat emis gas
rumah kaca sekaligus dapat mengurangi tingkat pemakaina energy fosil.
4. Dalam kaitannya dengan isu kerusakan kawasan pesisir dan ekosistemnya,
maka direkomendasikan untuk mempertahankan mangrove yang ada sekaligus
mengembangakannya sebagai usaha perlindungan dan pemulihan
ekosistemwilayah pesisir.
5. Hal lainyang sangat penting adalah pemantapan moral dan ahlak masyarakat
dalammenjamin keseimbangang pembangunan.
Isu lain yang dianalisis dalampenyusunan RPJMD ini adalah isu
pengarusutamaan gender. Sehingga dalam penentuan kebijakan dan program-
program yang dilakukan dianalisis terlebih dahulu kaitannya dan atau pengaruhnya
terhadap isu-isu gender yang analisisnya secara lengkap dilampirkan secara
terpisah dngan dokumen ini.
Adapun daftar isu strategis secara keseluruhan daerah ini disajikan dengan
pendekatan urusan pemerintahan, yakni urusan wajib dan urusan
pilihan.pendekatan urusan akan lebih mempermudah didalam menentukan
stakeholder terkait dalam menetukan kebijkan yang akan dilakukan menhadapi isu
starategis tersebut

4.2.2.1 Urusan Wajib Pemerintah Daerah


a. Urusan Pendidikan
 Masih tingginya angka buta aksara serta angka partispasi sekolah cenderung
menurun;
 Standar pelayanan minimal pendidikan belum tercapai;
 Belum optimalnya aksesibilitas, sarana dan prasarana dan peran serta
masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.

b. Urusan Kesehatan
 Terbatasnya sumberdaya kesehatan,belum optimal pelayanan kesehatan,
masih adanya ancaman penyakit menular maupun penyakit tidak menular,
serta meningkatkan penyakit degenerative;
 Kesadaran masyarakat untuk melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) masih kurang;
 Gerakan SUN (Scaling Up Nutrition) untuk perbaikan gizi anak atau perbaikan
gizi 1000 hari pertama kehidupan.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 197


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

c. Urusan Lingkungan Hidup


 Menurunnya daya tamping lingkungan akibat pencemaran dan pengrusakan
lingkungan;
 Menurunnya kapasitas dan kualitas sumber air baku;
 Kesadaran masyarakat dan swasta dalampengolahan lingkungan hidup
masih kurang;
 Dampak pemanasan global semakin meningkat;
 Dilakukan Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS RPJMD
2014-2019) sesuai Permendagri No.67 Tahun 2012.

d. Urusan Pekerjaan Umum


 Belum meratanya aksebilitas pelayanan transportasi;
 Belum optimalnya kinerja sarana dan prasarana sumber daya air untuk
mendukung ketahanan pangan Kab. Pinrang;
 Rendahnya akses terhadap air minum dan sanitasi yang layak;
 Tingkat kerusakan jalan, jembatan, prasarana dan sarana irigasi yang masih
tinggi;
 Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan sarana dan
prasarana;

e. Urusan Penataan Ruang


 Belum adanya RTH yang refsentatif yang telah disusun belum disadari
sebagai produk yang empunyai kekuatan hukum, dan kurangnya kesadaran
masyarakat dalam tertib penataan ruang.

f. Urusan Perencanaan Pembangunan


 Belum efektifnya perencanaan dari bawah (bottom up planning) yang
disebabkan oleh kurang akuratnya data pendukung perencanaan
pembangunan;
 Masih terdapat kesulitan untuk memastikan adanya konsistensi antara
perencanaan (program/kegiatan) pembangunan dan alokasi
penganggarannya;
 Belum adanya rencana pengadaan tanah pada kawsan tertentu untuk
mempercepat kerjasama investor dari luar.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 198


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

g. Urusan Perumahan
 Belum optimalnya pengelolaan Asset tanah pemerintah dan kurangnya
kesadaran masyarakat dalam perizinan dan persertifikatan tanah karena
biaya dianggapmasih tinggi;
 Belum memadainya penyediaan sarana dan prasarana dasar pemukiman dan
masih besarnya kesenjangan pemenuhan akan rumah layak huni.

h. Urusan Kepemudaan dan Olah Raga


 Masih terbatasnya sarana dan prasarana pengembangan pemuda dan olah
raga, dan kurangnya pembinaan pemuda dan olah raga;
 Masih kurangnya pembinaan kepemudaan;
 Masih kurangnya pembinaan dan peningkatan prestasi olahraga.

i. Urusan Penanaman Modal


 Belum optimalnya pengelolaan investasi;
 Iklim investasi belum kondusif khususnya dalam hal pelayanan perizinan;
 Lahan bagi usaha industry berskala menengah/besar terbatas dan belum ada
Lahan yang dimiliki Pemerintah Daerah.

j. Urusan Koperasi, Usaha kecil dan Menengah


 Pemberdayaan koperasi UMKM untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi
yang berkualitas dan berkelanjutan;
 Inovasi dan adopsi teknologi, pengembangan desain produk, yang
berdampak pada diversifikasi masih rendah;
 Jaringan pasar industry kecil dan kemitraan dalam usaha pemasaran masih
terbatas.

k. Urusan Kependudukan dan catatan Sipil


 Masih rendahnya kesadaran masyarakat dan aparat dalam tertib administrasi
kependudukan;
 Relatif Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk.

l. Urusan Ketenagakerjaan
 Masih terbatasnya lapangan pekerjaan;
 Kualitas dan daya saing calon tenaga kerja belum sesuai kebutuhan
pasar/TKW

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 199


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

m. Urusan Ketahanan Pangan


 Belum optimalnya diversifikasi produk pangan lokal;
 Ketersedian dan kedaulatan pangan belum menjadi fokus daerah;
 Kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi produk pangan lokal
cenderung menurun.

n. Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak


 Lemahnya kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak;
 Tingginya pengaruh negatif media terhadap pembentukan kepribadian anak;
 Anak korban narkoba dan anak putus sekolah masih ada;
 Tingginya bentuk kekerasan, eksploitas, penelantaran, diskriminasi, dan
perlakuan salah pada anak dan perempuan.
o. Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga sejahtera
 Belum meratanya pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan reproduksi;

p. Urusan Perhubungan
 Kurangnya sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan;
 Daya tamping infrastruktur transportasi;
 Belum meratanya aksesibilitas pelayanan transportasi.
q. Urusan Komunikasi dan Informasi

 Belum optimalnya implementasi e-government dan pelayanan perijinan


telekomunikasi.

r. Urusan Kesatuan Bangsa danPolitik Dalam Negeri


 Meingkatnya gangguang keamanan dan ketertiban masyarakat dan
kurangnya kesadaran masyarakat dalam mematuhi peraturan;
 Kesadaran masyarakat dalam berdemokrasi masih kurang, serta jiwa
nasionalisme dan patriotism cenderung menurun.

s. Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan


Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian
 Belum optimalnya pelayanan kepada masyarakat disebabkan terbatasnya
kemampuan keuangan daerah, kompetensi sebagai pegawai belum sesuai
dengan kebutuhan riil dan produk hokum daerah yang tidak sesuai dengan
perkembangan;

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 200


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

 SKPD belum semua memiliki Standar Pelayanan Minimal Prosedur Standar


Operasional;
 Masih terbatasnya pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan
administrasi keuangan daerah (pembiayaan, Pendapatan dan belanja
daerah) dalam rangka mendorong peningkatan transparansi dan akuntabilats
pengelolaan keuangan daerah;
 Penegakan dan pelaksanaan hukum dan perundang-undangan yang masih
lemah;
 Perlunya integrasi kegiatan mulai dari pra bencana, saat terjadi bencana, dan
paska bencana secara seimbang dan sinergis;
 Peningkatan SDM aparatur yang memiliki integritas dan kompotensi yang
diharapkan;
 Lemahnya infrastruktur pendukung pelaksanaan birokrasi;
 Kesadaran masyarakat terhadap tertib administrasi kependudukan yang
masih kurang;
 Pengalokasian pegawai pada setiap SKPD tidak merata;
 Perangkat daerah yang cenderung terlalu gemuk (banyaknya pada setiap
SKPD)
 Munculnya berbagai masalah pertanahan termasuk asset pemda yang
bermasalah

t. Urusan Pemberdayaan Masyarakat Desa


 Belum optimalnya peran dan fungsi kelembagaan masyarakat desa, peran
perempuan dalam pembangunan, dan tata kelola pemerintah desa;
 Ketidakberdayaan masyarakat disebabkan faktor ekonomi, rendahnya
kapasitas SDM, dan terbatasnya akses informasi, sarana, modal, pasar dan
pelayanan;
 Belum fokus dan tidak sinerginya gerakan pemberdayaan masyarakat yang
dilaksanakan antara pemerintah, pemprov, pemkab dan desa;
 Perlunya diantisipasi akan berakhirnya program PNPM.

u. Urusan Sosial
 Masih cukup tingginya angka kemiskinan,pengangguran dan penyandang
masalah kesejahteraan sosial (PMKS);
 Tingginya konflik sosial dimasyarakat dan kejadian bencana alam;
 Panti-panti sosial kurang diberdayakan.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 201


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

v. Urusan Kebudayaan
 Masih rendahnya penerapan nilai-nilai luhur budaya dalam kehidupan sehari-
hari, belum optimalnya pengelolaan kekayaan budaya, dan masih
terbatasnya kualitas sumber daya manusia pelaku budaya;
 Partisipasi generasi muda dalam seni dan budaya masih kurang;
 Masuknya nilai dan budaya asing yang banyak berpengaruh negatif;
 Terjadinya degradasi nilai budaya dan kearifan lokal.

w. Urusan Statistik
 Belum optimalnya kualitas SDM dan komitmen dalam pengelolaan data dan
statistik;
 Pembiayaan, sarana dan prasarana yang kurang;
 Pengembangan Sistem Informasi Pembangunan Daerah
(SIPD/SIPNAS/SIMRENAS)

x. Urusan Kearsipan
 Belum memadainya sumberdaya manusia dan sarana dan prasarana
kearsipan;
 Kesadaran dan komitmen terhadap pentingnya data masih rendah;
 Regulasi tentang kearsipan belum dilaksanakan secara maksimal;
 Belum sinergi pengelolaan kearsipan ditingkat provinsi dan Kab/Kota.

y. Urusan Perpustakaan
 Belum memadainya sumberdaya manusia dan sarana dan prasarana
perpustakaan;
 Masih rtendahnya niat baca masyarakat, terutama anak sekolah;
 Pengelolaan perpustakaan yang belum profesional;
 Bahan bacaan perpustakaan yang masih minim

z. Urusan Penelitian dan Pengembangan


 Belum dimanfaatkannya hasil-hasil Kajian/ Penelitian pengembangan potensi
daerah, bidang ekonomi, sosial budaya,prasarana dan Pemerintahan.
 Potensi Sumber daya Alam (Mineral,Batu bara dan Lain-lain belum ada
Penelitian jumlah Bahan Baku sehingga Instansi masih ragu.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 202


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

4.2.2.2 Urusan Pilihan Pemerintah Daerah


a. Urusan Kelautan dan Perikanan
 Belum optimalnya tata guna dan tata kelola air serta fungsi kelembagaan
pembudidaya perikanan dan Nelayan tangkap di Laut
 Kerusakan kawasan pesisir dan ekosistemnya;
 Keterbatasan infrastruktur/sarana dan prasarana dari perikanan budi daya,
tangkap dan pengelolaan kelautan dan perikanan;
 Rendahnya produktifitas dan daya saing usaha perikanan budaya dan
perikanan tangkap.
 Armada dan Alat Tangkap Nelayan,Relatif terbatas untuk menuju Laut dalam.
b. Urusan Pertanian
 Pengembangan sarana dan prasarana perkebunan, peternakan serta
teknologi untuk mendukung peningkatan produksi dan produktifitas;
 Alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian masih cukup tinggi;
 Biaya produksi tidak sebanding dengan harga jual, serta belum optimalnya
manajemen agrebisnis;
 Pengembangan penyediaan sarana prasarana, teknologi dan kelembagaan
untuk mendukung peningkatan produksi dan produktifitas serta nilai tambah
hasil perkebunan;
 Pengembangan Peternakan Sapi, belum terlaksana sesuai ketentuan tehknis
dan terbatasnya investor Status lahan belum jelas;
 Pengembangan peterbakan sapi, belum terlaksana sesuai kebutuhan teknis
dan terbatasnya investor karena status lahan belum jelas.
c. Urusan Kehutanan
 Degradasi hutan dan lahan;
 Alih fungsi lahan;
 Luas hutan semakin berkurang akibat dari penambangan;
 Luas lahan kritis masih cukup banyak.
d. Urusan Energi dan Sumberdaya Mineral
 Terbatasnya patokan listrik untuk industry dan rumah tangga;
 Masih banyak penambangan yang tidak ramah lingkungan;
 Potensi energi terbarukan seperti energi matahari dan mikrohidro belum
dimanfaatkan secara optimal.
e. Urusan Pariwisata
 Masih kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata,
kreativitas, inovasi dan kompotensi daya saing ODTW, dan belum optimalnya
kualitas SDM petugas dan pelaku usaha pariwisata;

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 203


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

 Keterpaduan dan sinergi antar pelaku wisata dalam pengembangan


pariwisata masih rendah.
 Terbatasnya obyek Wisata, dimiliki status kepemilikan/Sertifikat hak guna.
f. Urusan Industri
 Masih kurangnya kualitas manajemen pengolahn usaha bagi UMKM;
 Industri berbasis sumberdaya lokal belum berkembang secara merata dan
berkelanjutan.
 Inovasi produk belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar, dan belum
optimalnya kemitraan antara pelaku usaha.
g. Urusan Perdagangan
 Rendahnya daya saing produk dipasar nasionalmaupun global,
 Belum lancaranya distribusi bahan pokok/barang strategis;
 Kurang siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015;
 Kurang Memadainya kondisi sarana dan prasarana pasar tradisional.
h. Urusan Ketransmigrasian
 Animo masyarakat untuk bertransimigrasi lokal relative rendah dan ketidak
siapan lokasi transmigrasi;
 Semakin rendahnya transimigrasi umum dan Transimigrasi Swakarya Mandiri
(TSM)

4.3 Standar Pelayanan Minimal (SPM)


Reformasi dalam penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan di
Indonesia telah menyebabkan terjadinya sejumlah perubahan penting dan mendasar
dalam tata pemerintahan dan tata kelola keuangan daerah yang pada akhirnya
berimplikasi pada penyelenggaraan pelayanan publik di daerah. Undang-undang
Nomor 32 tahun 2004 Pasal 11 menyatakan bahwa penyelenggaraan urusan
pemerintah yang bersifat wajib yang berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal
(SPM) dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh pemerintah.
SPM disusun oleh pemerintah pusat melalui kementerian sektoral, dan
dilaksanakan oleh pemerintah daerah.Penyusunan dan pengembangan SPM
dilakukan oleh kemeterian teknis di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Otonomi
Daerah Kementerian Dalam Negeri. Hal ini diamanatkan dalam peraturan
Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang pedoman penyusunan dan Penerapan
Standar Pelayanan Minimal yang diikuti dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 6 Tahun 2007 tentang Petunjuk T 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan
dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal dan Peraturan Menteri Dalam Negeri

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 204


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Noor 79 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian Standar


Pelayanan Minimal.
Pelaksanaan penerapan SPM untuk pemerintah Kabupaten meliuputi 9
(Sembilan) bidang SPM yakni perumahan, Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan
Perlindungan Anak, Lingkungan Hidup, Ketenagakerjaan, Ketahanan Pangan,
Kesenian, Perhu, Kesenian, Perhubungan, dan Penanaman Modal. Selanjutnya hal-
hal terkait dengan SPM seperti indikator, target dan batas waktu pencapaian yang
ditetapkan oleh masing-masing keenterian terkait dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) SPM Bidang Perumahan (Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat


Republik Indonesia Nomor 22/Permen/M/2008)
a. Cakupan ketersediaan rumah layak huni (100% pada tahun 2025);
b. Cakupan layanan rumah layak huni yang terjangkau (70% pada tahun 2025);
c. Cakupan lingkungan yang sehat dan aman yang didukung dengan PSU
(100% pada tahun 2025).

2) SPM Bidang Sosial (Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor


129/HUK/2008)
a. Persentase Kabupaten/kota yang menggunakan sarana prasarana tanggap
darurat lengkap untuk evakuasi korban bencana skala provinsi (80% pada
tahun 2015);
b. Persentase PMKS skala kabupaten yang memperoleh bantuan social, untuk
pemenuhan kebutuhan dasar (80% pada tahun 2015);
c. Persentase kabupaten/kota yang mengalami bencana memberikan bantuan
sosial bagi korban bencana skala provinsi (80% pada tahun 2015);
d. Persentase panti sosialskala provinsi yang melaksanakan standar
operasional pelayanan kesejahteraan social (60% pada tahun 2015);
e. Persentase panti sosial skala provinsi yang menyediakan sarana prasarana
pelayanan kesejahteraan social (80% pada tahun 2015);
f. Persentase organisasi sosial/yayasan/LSM yang menyediakan sarana
prasarana kesejahteraan sosial luar panti (60% pada tahun 2015)

3) SPM Bidang Lingkungan hidup (Peraturan Menteri Negara Lingkungan


Hidup No. 19 Tahun 2008)
a. Persentase jumlah sumebr air yang dipantau kualitasnya, ditetapkan status
mutu airnya dan diinformasikan status mutu airnya (70 % pada tahun 2015);

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 205


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

b. Persentase jumlah Kecamatan yang dipantau kualitas udara ambiennya dan


diinformasika mutu udara ambiennya (100 % pada tahun 2015);
c. Persentase jumlah pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan
pencemaran dan / atau perusakn lingkungan hidup yang ditindak lanjuti (100
% pada tahun 2015)

4) SPM Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Peraturan


Menteri Negara pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Republik Indonesia No. 01 Tahun 2010)
a. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan
penanganan pengaduan oleh petugas terlatih didalam unit pelayanan terpadu
(100 % pada tahun 2015);
b. Cakupan perempauan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan
layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih dipuskesma mampu tata
laksana KtP/A dan PPT/PKT dirumah sakit (100 % pada tahun 2015);
c. Cakupan layanan rehabilitasi yang di berikan oleh petugas rehabilitasi social
terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan
terpadu (100 % pada tahun 2015);
d. Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan
rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan didalam unit
pelayanan terpadu (75 % pada tahun 2015);
e. Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan
pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (80
% pada tahun 2015);
f. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan
bantuan hukum (80 % pada tahun 2015);
g. Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan
(50 % pada tahun 2015);
h. Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban
kekerasan (100 % pada tahun 2015).

5) SPM Bidang Ketenaga Kerjaan (Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan


Transmigrasi Republik Indonesia No. Per. 15/Men/X/2010)
a. Besaran kasus yang diselesaikan dengan perjanjian bersama ((100 % pada
tahun 2015).
b. Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis masyarakat dan
tenaga (60 % pada tahun 2015).

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 206


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

c. Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan kwirausahaan (60 % pada


tahun 2015).

6) SPM Bidang Ketahanan Pangan (Peraturan Menteri Tenaga Pertanian


Republik Indonesia No. 65/Permentan/OT.140/12/2010)
a. Penguatan cadangan pangan (60 % pada tahun 2015)
b. Ketersediaan informasi pasokan, harga dan akses pangan didaerah (100 %
pada tahun 2015)
c. Pengawasan dan pembinaan keamanan pangan (80 % pada tahun 2015)
d. Penanganan daerah rawan pangan (60 % pada tahun 2015)

7) SPM Bidang Kesenian (Peraturan Menteri Kebudayaan dan pariwisata


Republik Indonesia No. PM. 106/HK501/MKP/2010)
a. Cakupan kajian seni (50 % pada tahun 2015)
b. Cakupan pasiltas seni (30 % pada tahun 2015)
c. Cakupan gelar seni (70 % pada tahun 2015)
d. Cakupan misi kesenian (100 % pada tahun 2015)
e. Cakupan SDM kesenian (25 % pada tahun 2015)
f. Cakupan tempat (100 % pada tahun 2015)
g. Cakupan organisasi (34 % pada tahun 2015)

8) SPM Bidang Perhubungan (Peraturan Menteri Perhubungan Republik


Indonesia No. PM. 81 Tahun 2011)
a. Tersedianya angkutan umum yang melewati wilayah yang telah tersedia
jaringan jalan untuk jaringan jalan Kabupaten (100% pada tahun 2015)
b. Tersedianya terminal angkutan penumpang tipe A pada setiap provinsi untuk
melayani angkutan umum dalam trayek (100% pada tahun 2015);
c. Tersedianya fasilitas perlengkapan jalan (rambu, marka dan guardriil) dan
penerangan jalan umum (PJU) pada jalan Kabupaten (100% pada tahun
2015);
d. Terpenuhinya standar keselamatan bagi angkutan umum yang melayani
trayek antar kecamatan dalam Kabupaten (100% pada tahun 2015)
e. Tersedianya sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kompotensi sebagai
pengawas kelayakan kendaraan pada perusahaan angkutan umum,
pengelola terminal dan pengelola perlengkapan jalan (100% pada tahun
2015)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 207


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

f. Tersdianya angkutan sungai untuk melayani jaringan trayek antar desa dalam
Kabupaten (75% pada tahun 2015)
g. Tersedianya pelabuhan sungai untuk melayani kapal sungai yang beroperasi
pada jaringan trayek antar desa dalam Kabupaten pada wilayah yang
tersedia alaur pelayaran sungai yang dilayari (60% pada tahun 2015)
h. Terpenuhinya standar keselamatan bagi kapal sungai yang beroperasi pada
trayek antar desa dalam Kabupaten (100% pada tahun 2015)
i. Tersedianya SDM yang memiliki kompotensi sbagai awak kapal angkutan
sungai (100% pada tahun 2015)
j. Tersedianya kapal penyebrangan yang beroperasi pada lintas antar
desa/kecamatan yang mnghubungkan jalan yang terputus oleh perairan (75%
pada tahun 2015)
k. Tersedianya dermaga pada setiap desa/kecamatan untuk melayani kapal laut
yang beroperasi pada wilayah yang memiliki alur pelayaran dan tidak ada
alternatif jangkauan jalan (100% pada tahun 2015)

9) SPM Bidang Penanaman Modal (Peraturan Kepala Badan Koordinasi


Penanaman Modal Nomor 14 Tahun 2011)
a. Terselenggaranya pelayanan perizinan bidang penanaman modal melalui
pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) di bidang penanaman modal :
pendaftaran penanaman modal dalam negeri, izin usaha penanaman modal
dalam negeri, perpanjanganrencana pengguna tenaga kerja asing (RPTKA),
perpanjangan izin mempekerjakan tenaga kerja asing yang bekerja di
kabupaten ssuai kewenangan pemerintah kabupaten (100% pada tahun
2015);
b. Terslenggaranya bimbingan pelaksanaan kegiatan penanaman modal kepada
masyarakat dunia usaha (1 kali/tahun pada tahun 2015);
c. Tersedianya informasi peluang usaha sektor/bidang usaha unggulan (1
sektor/bidang usaha pertahun pada tahun 2015);
d. Terselenggaranya fasilitas pemerintah daerah dalam rangka kerjasama
antara usaha mikro kecil, menengah, koperasi (UMKMK) tingkat kabupaten
dengan pengusaha nasional/asing (1 kali/tahun pada tahun 2015);
e. Terselenggaranya promosi peluang penanaman modal kabupaten (1
kali/tahun pada tahun 2015)
f. Terselenggaranya pelayanan perizinan bidang penanaman modal melalui
pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) di bidang penanaman modal (100%
pada tahun 2015)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 208


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

g. Terimplementasikannya sistem pelayanan informasi dan perizinan investasi


secara elektronik (100% pada tahun 2015);
h. Terselenggaranya sosialisasi kebijakan penanaman modal kepada
masyarakat dunia usaha (1 kali/tahun pada tahun 2015).

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab IV Hal. 209


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

BAB IX

PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH


Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran
tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dan wakil
kepala daerah pada akhir periode masa jabatan. Hal ini ditunjukkan dari akumulasi
pencapaian indikator outcome program pembangunan daerah setiap tahun atau
indikator capaian yang bersifat mandiri setiap tahun sehingga kondisi kinerja yang
diinginkan pada akhir periode RPJMD dapat dicapai.
Untuk menjamin aspek akuntabilitas pencapaian kinerja RPJMD sekaligus
sebagai acuan penyusunan Renstra dan Renja SKPD, indikator dan target kinerja
dinyatakan dengan jelas pada RPJMD ini. Indikator kinerja RPJMD ditampilkan
dengan menggambarkan kondisi awal dan target tahunan selama periode 2014
sampai 2019. Sebagai referensi maka digunakan data time series lima tahun
sebelumnya sebagai pembanding.
Untuk target kinerja akan menggambarkan secara langsung pencapaian
sasaran pembangunan jangka menengah daerah dengan memenuhi kriteria
specific, measurable, achievable, relevant, time bond dan continously improve
(SMART- C). Spesifik sesuai urusan wajib dan urusan pilihan yang menjadi
kewenangan pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Terukur (Measurable) karena
memiliki angka pencapaian tertentu. Terjangkau (achievable) karena telah
memperhitungkan kemampuan dan kondisi daerah melalui analisa SWOT. Relevan
(relevant) karena telah berusahan menyesuaikan aspirasi dan dinamika masyarakat.
Terikat waktu (time bond) karena memiliki batasan periode tahun 2014-2019 serta
target tahunannya. Peningkatan yang berkelanjutan (continously improve) karena
berusaha melakukan peningkatan secara terus menerus dan bertahap setiap
tahunnya. Penetapan indikator kinerja daerah selanjutnya disajikan dalam tabel
sebagai berikut.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 289
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 9.1.
Penentuan Indikator Kinerja Kabupaten Pinrang 2014-2019

Kondisi Awal
FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR KINERJA Kinerja Target Capaian Setiap Tahun Kondisi akhir
No. RPJMD
PEMBANGUNAN DAERAH RPJMD 2019
2014 2015 2016 2017 2018 2019
1 2 3 4 5 6 7 8 9
ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
FOKUS KESEJAHTERAAN DAN PEMERATAAN EKONOMI
1 INDIKATOR MAKRO
1.1 Pertumbuhan PDRB (%) 6,8% 7,5% 7,6% 7,9% 8,0% 8,2% 8,2%
1.2 Laju Inflasi 4.8 4,60 4,30 3,90 3,60 3,20 3,20
1.3 PDRB per kapita (Juta Rp.) 23.085 25.124 27.163 29.202 31.241 33.28 33.28
1.4 Persentase Penduduk diatas garis Kemiskinan 13,4% 13% 12,5% 12% 11% 10% 10%
1.5 Angka kriminalitas yang tertangani 247 237 227 217 207 197 1332

FOKUS KESEJAHTERAAN SOSIAL

1 PENDIDIKAN
Angka melek huruf 92.82 93.49 94.16 94.83 95.05 95.72 95.72
Angka rata-rata lama sekolah 8,13 8.30 8.4 8.5 8.60 8.70 8.7
Angka partisipasi kasar 86.5 87.10 87.6 88.1 88.6 88.1 88.1
Angka pendidikan yang ditamatkan 77,47 77.52 78.02 78.52 79.02 79.52 79.52
Angka partisipasi murni 83,49
Angka partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A 98,65 98,85 99,00 99,25 99,50 99,75 99,75
Angka partisipasi murni (APM) SMP/MTs/Paket B 87,53 87,91 88,10 88,50 89,75 93,00 93,00
Angka partisipasi murni (APM) SMA/MA/Paket C 67,5 67.75 67.9 68.05 68.2 68.35 68.35

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 290
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2 KESEHATAN
Angka kelangsungan hidup bayi 994 995 996 997 999 1000 1000
Angka usia harapan hidup 73,06 72,3 72,4 72,5 72,6 72,7 72,7
Prosentase balita gizi buruk 2% 1.80% 1.60% 1.40% 1.20% 1.00% 1.00%

2 PERTANAHAN
Prosentase penduduk yang memiliki lahan 84,2 84.7 85.2 85.7 86.2 86.7 86.7

3 KETENAGAKERJAAN
3,1 Rasio Penduduk yang Bekerja (%) 34,29 39.5 44.4 49.5 54.5 59.5 59.5

FOKUS SENI BUDAYA DAN OLAHRAGA


1 Kebudayaan
Jumlah grup kesenian yang ada 16 17 18 19 20 21 21
Jumlah gedung kesenian 0 0 0 0 1 1 1

2 Pemuda dan Olahraga


2,1 Jumlah club olahraga 50 50 50 51 52 53 53
2,2 Jumlah gedung olahraga 3 3 3 3 3 3 3

ASPEK PELAYANAN UMUM


FOKUS LAYANAN URUSAN WAJIB
1 PENDIDIKAN
1.1. PENDIDIKAN DASAR
1.1.1 Angka partisipasi sekolah 99,82 99.84 99.85 99.87 99.89 99.95 99.95
1.1.2 Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah 56,21 57.71 58.96 59.21 60.21 61.96 61.96
1.1.3 Rasio guru terhadap murid 22 21 20 19 17 15 15
1.1.4 Rasio guru/muridper kelas rata-rata 40 37 35 30 30 30 30

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 291
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

1.2. PENDIDIKAN MENENGAH


1.2.1. Angka partisipasi sekolah 95,30 95.8 96.3 96.8 97.3 97.8 97.8
Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia
1.2.2
sekolah
56,21 54,50 53,64 52,78 51.08 50,00 50,00
1.2.3 Rasio guru terhadap murid 22 21 20 19 17 15 15
1.2.4 Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata 40 37 35 30 30 30 30
Penduduk yang berusia >15 tahun melek huruf (tidak
1.2.5 90,94 91.54 92.04 92.54 93.04 93.54 93.54
buta aksara)

1.3 FASILITAS PENDIDIKAN


1.3.1 Sekolah pendidikan SD/MI Kondisi bangunan baik 92,50 93,45 94,35 95,77 97,21 98,18 98,18
Sekolah pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA
1.3.2
Kondisi bangunan baik
90,70 91,61 92,98 94,37 95,31 96,27 96,27

1.4 PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)


1.4.1 Pendidikan Anak usia dini (PAUD) (%) 60,3 62.5 63.5 64.5 65.5 66.5 66.5

1.5 ANGKA PUTUS SEKOLAH


1.5.1 Angka putus sekolah (APS) SD/MI 37 org 30 25 20 15 10 10
1.5.2 Angka putus sekolah (APS) SMP/MTs (%) 96 76 66 56 46 36 36
1.5.3 Angka putus sekolah (APS) SMA/SMK/MA (%) 60 45 40 45 35 30 30

1.6 ANGKA KELULUSAN


1.6.1 Angka kelulusan (AL) SD/MI (%) 92,8 94.3 96.8 97.7 98.8 99.5 99.5
1.6.2 Angka kelulusan (AL) SMP/MTs (%) 96,7 97.2 97.7 98.2 98.7 99.2 99.2
1.6.3 Angka kelulusan (AL) SMA/SMK/MA (%) 97,6 98.1 98.6 99.1 99.6 99.9 99.9
1.6.4 Angka melanjutkan (AM)dari SD/MI ke SMP/MTs (%) 104,69 105,00 105,50 106,00 106,12 106,50 106,50
Angka melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke
1.6.5
SMA/SMK/MA (%)
99,90 99.91 99.92 99.93 99.94 99.95 99.95
1.6.6 Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV (%) 5.92 7.42 8.92 9.42 9.92 10.5 10.5

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 292
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

2 KESEHATAN
Rasio posyandu per satuan balita 14,60 15.1 15.6 16.1 16.6 17.1 17.1
Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan
0,17 0.22 0.027 0.32 0.37 0.42 0.42
penduduk
Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk 0,0083
Rasio dokter persatuan Penduduk 0,17 0.22 0.27 0.32 0.37 0.42 0.42
Rasio tenaga medis persatuan Penduduk 0,17 0.27 0.37 0.47 0.57 0.67 0.67
Cakupan komplikasi kebidanan yg ditangani 74,5 70 71 72 73 74 74
Cakupan pertolongan persalinan oleh bidan atau
tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi 96,08 95 95 95 95 95 95
kebidanan
Cakupan Desa/Kel UCI 93,52 94.22 94.72 95.22 95.72 96.22 96.22
Cakupan Balita Gizi buruk mendapat perawatan 100 100 100 100 100 100 100
Cakupan penemuan dan penangan penderita
penyakit TBC BTA
100 100 100 100 100 100 100
Cakupan penemuan dan penanganan penyakit DBD
ditemukan
100 100 100 100 100 100 100
Cakupan pelayanan kesehatan Rujukan pasien
masyarakat Miskin
100 100 100 100 100 100 100
Cakupan kunjungan Bayi 6.978 7,003 7,028 7,053 7,078 8,003 8,003
Cakupan pembantu puskesmas 100 100 100 100 100 100 100

3 PEKERJAAN UMUM
Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik (>40
3.1
KM/jam
161.38 201 242 286 329 380 380
3,2 Rasio Jaringan Irigasi 17.47 17.77 17.9 18 18.04 18.34 18.34
3,3 Rasio tempat ibadah per satuan penduduk 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4 2,4
3,4 Persentase rumah tangga bersanitasi 83 86 89 92 95 99 99
Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) persatuan
3,5
penduduk
0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.3
3,6 Rasio rumah layak huni 0,897 0,898 0,899 0,900 0,901 0,902 0,902

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 293
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

3,7 Rasio permukiman layak huni 0,97 0,97 0,97 0,98 0,99 1 1
3,8 Panjang jalan yang dilalui roda 4 640,95 680,57 721,57 765,57 808,57 839,57 839,57
Jalan penghubung dari ibukota kecamatan ke
3.9 kawasan pemukiman penduduk (minimal dilalui 597.5 636 677 721 764 795 795
roda4)
Panjang jalan kabupaten dalam kondisi baik
3,10
(>40km/jam)
161.38 201 242 286 329 380 380
Panjang jalan yang memiliki trotoar dan
3.11 20 20 25 30 35 40 40
drainase/saluran pembuangan ( minimal 1,5 m)
Sempadan jalan yg dipakai pedagang kaki
3.12 5% 5% 5% 4% 4% 4% 4%
lima/bangunan rumah liar (%)
3.13 Sempadan sungai yg dipakai bangunan liar 4% 3.90% 3.90% 3.80% 3.80% 3.70% 3.70%
Drainase dalam kondisi baik/pembuangan aliran air
3,14
tidak tersumbat (km)
600 Km 605 610 615 620 625 625
Pembangunan turap diwilayah jln penghubung
3.15 &aliran sungai rawan longsor lingkup kewenangan 250 250 300 350 350 400 400
kota
3.16 Luas irigasi kabupaten dalam kondisi baik 47,763 47,963 48,163 48,363 48,563 48,763 48,763
3.17 Lingkungan pemukiman 99 99 99 99 99 99 99

4 PERUMAHAN
4,1 Persentase Rumah tangga pengguna air bersih 16.5 18 20 20 25 25 25
4,2 Rumah tangga pengguna listrik 84.94 85 87 88 90 92 92
4,3 Rumah tangga ber-Sanitasi 56,73 60 63 66 69 72 72
4.4 Persentase Lingkungan pemukiman kumuh 1,05 1,05 0,70 0,50 0,30 0 0
4.5 Rumah layak huni 87 0,898 0,899 0,900 0,901 0,902 0,902

5 PENATAAN RUANG
Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas
5,1
Wilayah ber HPL/HGB
0,7 0,7 0,7 0,7 0,7 0,7 0,7
5,2 Rasio bangunan ber- IMB per satuan bangunan 0,70 0,72 0,74 0,76 0,78 0,80 0,80
5.3 Ruang publik yg berubah peruntukannya (%) 0,1 0,1 0 0 0 0 0

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 294
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

6 PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah
6,1
ditetapkan dgn PERDA
ada ada ada ada ada ada Ada
Tersedianya Dokumen Perencanaan: RPJMD yg
6,2
telah ditetapkan dgn PERDA
ada ada ada ada ada ada Ada
Tersedianya Dokumen Perencanaan: RKPD yg telah
6,3
ditetapkan dgn PERKADA
ada ada ada ada ada ada Ada
6,4 Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD ada ada ada ada ada ada Ada

7 PERHUBUNGAN
7,1 Jumlah arus penumpang angkutan umum 997.812 1.000.000 1.100.000 1.150.000 1.170.000 1.200.000 1.200.000
7,2 Rasio Ijin Trayek 0,09% 0,10% 0,10% 0,10% 0,11% 0,11% 0,11%
7,3 Jumlah uji KIR angkutan umum 316 340 370 390 410 435 435
Laut/air: 189 219 250 270 290 315 315
7,4 Jumlah pelabuhan laut/udara/terminal bus Udara: 0 0 0 0 0 0
T.Bus: 1 1 1 1 1 1 1
7.5 Jumlah Angkutan Darat 6.5 6.8 7 7.3 7.5 7.8 7.8
7,7 Kepemilikan KIR angkutan umum 316 340 370 390 410 435 435
7,8 Lama pengujian kelayakan angkutan umum (KIR) 1 hari 1 hari 1 hari 1 hari 1 hari 1 hari 1 hari
7,9 Biaya pengujian kelayakan angkutan umum (Rp) Rp. 40.000 40 40 40 40 40 40
7,8 Pemasangan Rambu-rambu (%) 60 65 70 75 80 85 85

8 LINGKUNGAN HIDUP
8,1 Persentase penanganan sampah 69,96 69,96 71,84 72,78 73,72 74,66 74,66
8,2 Persentase Penduduk berakses air minum 84,67 87.61 88.36 89.19 90.04 91.72 91.72
8.3 Presentasi luas pemukiman yang tertata 78 78 79 79 80 81 81
8,4 Pencemaran status mutu air 0,75 0.7 0.65 0.6 0.55 0.5 0.5
Cakupan penghijauan wilayah rawan longsor dan
8,5
sumber mata air
50,19 50.44 50.69 50.94 51.44 51.69 51.69

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 295
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

8,6 Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan amdal 36 36 37 37 38 39 39


Tempat Pembuangan sampah (TPS) per satuan
8,7 0,118 0.123 0.128 0.133 0.138 0.143 0.143
penduduk
8.8 Penegakan hukum lingkungan 10,0 12,79 29,88 48,68 73,12 100% 100%

9 PERTANAHAN
9.1 Persentase luas lahan bersertifikat 26,52 27.84 29.16 30.49 31.82 33.16 33.16
9.2 Penyelesaian kasus tanah negara 100 100 100 100 100 100 100
9.3 Penyelesaian izin lokasi 100 100 100 100 100 100 100

10 KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL


10.1 Rasio penduduk ber KTP persatuan penduduk 78.4 86.5 88.7 90.54 95.7 97.5 97.5
10.2 Rasio bayi berakte kelahiran 83.7 84.4 85.2 87.6 89.5 92.7 92.7
10.3 Rasio pasangan berakte nikah 72 77 82 85 95 97 97
10.4 Kepemilikan KTP 198,300 218,500 232,000 235,000 241,000 242,000 242,000
10.5 Kepemilikan Akta Kelahiran 117,035 127,541 134,600 147,637 157,886 168,099 168,099
10.6 Ketersediaan database kependudukan skala provinsi ada ada ada ada ada ada ada
10.7 Penerapan KTP Nasional berbasis NIK sudah sudah sudah sudah sudah sudah sudah

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN


11
PERLINDUNGAN ANAK
Persentase partisipasi perempuan di lembaga
11,1 55,37 55.9 56 57 58 60 60
pemerintah
11,2 Partisipasi perempuan di lembaga swasta 23,60 24 24 25 25 30 30
11,3 Rasio KDRT 32 30 25 20 15 10 10
11,4 Persentase Jumlah Tenaga kerja dibawah umur (%) 3,2 3.1 3 2.5 2 1.5 1.5
11,5 Partisipasi angkatan kerja perempuan (%) 34,3 35 37 38 39 40 40
Penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan
11,6
dan anak dari tindakan kekerasan
0 0 0 0 0 0 0
KELUARGA BERENCANA DAN KELUARGA
12
SEJAHTERA

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 296
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

12,1 Rata-rata jumlah anak per keluarga 3,6 3.5 3.4 3.3 3.1 2.5 2.5
12,2 Rasio akseptor KB 65,64 68 70 74 78 85 85
12,3 Cakupan peserta KB aktif 38,2 40 45 47 49 50 50
Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I 20.450
12,4
(KK)
18,902 17.354 15.806 14,257 12,709 11.161
(21,70%)
13 SOSIAL
Sarana social seperti panti asuhan, panti jompo dan
13.1
panti rehabilitasi
4 5 5 6 6 7 7
13.2 PMKS yg memperoleh bantuan sosial (%) 341 238 260 262 265 271 262
Penanganan penyandang masalah kesejahteraan
13.3
sosial (%)
2,17 0 0 0 0 0 0

14 KETENAGAKERJAAN
14,1 Angka partisipasi angkatan kerja (%) 56,99 57.55 58.12 58.68 59.23 59.79 59.79
14,2 Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun (%) 0 0 0 0 0 0 0
14,3 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) 52,03 * 54.63 55.26 55.89 56.52 57.15 57.15
14,4 Pencari kerja yang ditempatkan (%) 2% 2.50% 3.00% 3.50% 4.00% 4.50% 4.50%
14,5 Tingkat pengangguran terbuka (%) 7.60% 7.40% 7.20% 7.00% 6.50% 5.00% 5.00%
14,6 Keselamatan dan perlindungan pekerja (%) 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
Perselisihan buruh dan pengusaha terhadap
14,7
kebijakan pemerintah daerah (%)
0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%

15 KOPERASI USAHA KECIL DAN MENENGAH


15,1 Jumlah koperasi aktif (%) 68 * 69 71 73 75 78 78
15,2 Jumlah UKM non BPR/LKM UKM 32,367 32,372 32,377 32,382 32,387 32,393 32,393
15.3 Jumlah BPR/LKM
28,100
15.4 Jumlah Usaha Mikro dan kecil 28,200 28,300 28,400 28,500 28,600 28,600

16 PENANAMAN MODAL
16.1 Jumalah investor berskala nasional (PMDN/PMA) 0

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 297
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Jumlah nilai investasi berskala nasional


16.2
(PMDN/PMA)
230 250 250 270 280 300 300
16.3 Rasio daya serap tenaga kerja 4,5 % 4.60% 4.60% 4.70% 4.75% 4.85% 4.85%
Kenaikan/penurunan nilai realisasiPMDN (milyar
16.4
rupiah)
20 20 0 20 10 20 90

17 KEPEMUDAAN DAN OLAHRAGA


17,1 Jumlah organisasi pemuda 25 26 27 28 29 30 30
17.2 Jumlah organisasi olahraga 52 53 55 56 57 60 60
17,3 Jumlah kegiatan kepemudaan 45 46 47 48 49 50 50
17,4 Jumlah kegiatan olahraga 15 15 17 17 18 20 20
17,5 Gelanggang / balai remaja (selain milik swasta) 1 1 1 1 2 2 2
17,6 Lapangan olahraga 10 10 12 12 13 15 15

KESATUAN BANGSA DAN POLITIK DALAM


18
NEGERI
40 LSM, 43 45 LSM, 50 LSM, 55 55 LSM, 60 60 LSM, 70 70 LSM, 80 70 LSM, 80
Kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas dan
18,1
OKP
0rmas, 17 50 0rmas, 0rmas, 11 0rmas, 11 0rmas, 11 0rmas, 11 0rmas, 11
Parpol 11 Parpol Parpol Parpol Parpol Parpol Parpol
18,2 Kegiatan pembinaan politik daerah 10 12 15 16 17 20 20

OTONOMI DAERAH, PEMERINTAHAN UMUM,


ADMINISTRASI KEUANGAN DAERAH,
19
PERANGKAT DAERAH, KEPEGAWAIAN DAN
PERSANDIAN
Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000
19,1 4,50 5 6 8 9 10 10
penduduk
19,2 Jumlah Linmas per Jumlah 10.000 Penduduk 29,0 29 29.0 30 30 30 30
19,3 Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0
19,4 Pertumbuhan ekonomi (%) 7,1 7.5 7.5 8 8.25 8.25 8.25
19,5 Kemiskinan (%) 8,2 7.7 7.2 6.7 5.2 4 4

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 298
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Sistem informasi Pelayanan Perijinan dan


19,6
adiministrasi pemerintah
1 Pintu 1 Pintu 1 Pintu 1 Pintu 1 Pintu 1 Pintu 1 Pintu
19,7 Penegakan PERDA 90% 91 92 93 94 95 95
19,8 Cakupan patroli petugas Satpol PP (Jam) 8 Jam 8 Jam 8 Jam 6 Jam 6 Jam 4 Jam 4 Jam
Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban,
19,9
ketentraman, keindahan) di Kabupaten
5 Kasus 5 Kasus 5 Kasus 5 Kasus 5 Kasus 5 Kasus 5 Kasus
Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di
19,10
Kabupaten
1,040 1,040 1,100 1,150 1,175 1,200 1,200
19,11 Cakupan pelayanan bencana kebakaran kabupaten 25 25 25 25 25 25 25
Tingkat waktu tanggap (response time rate) daerah
19,12
layanan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK)
75 75 75 75 75 75 75
Cakupan sarana prasarana perkantoran
19,13
pemerintahan desa yang baik (%)
91% 93% 95% 96% 97% 99% 99%
19.14 Sistem informasi manajemen pemda Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
19,15 Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada

20 KETAHANAN PANGAN
20,1 Regulasi ketahanan pangan Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
20.2 Ketersediaan pangan utama Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada

21 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA


Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga
21,1
pemberdayaan masyarakat (LPM)
4 5 6 7 7 8 8
21,2 Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK 1,79 Unit 2 Unit 2 Unit 2 Unit 2 Unit 2 Unit 2 Unit
21,3 Jumlah LSM 45 45 45 45 45 45 45
21.4 LPM berprestasi 13 14 14 14 15 15 15
21,5 PKK aktif (%) 84% 86% 88% 90% 92% 95% 95%
21.6 Posyandu aktif (%) 96,88 % 98.23% 99.50% 99.75% 100% 100% 100%
Swadaya Masyarakat terhadap Program
21.7 32% 32.50% 33.00% 33.50% 34.00% 35% 35%
pemberdayaan masyarakat
21.8 Pemeliharaan Pasca Program pemberdayaan 2,02 % 2.10% 2.10% 2.30% 2.50% 2.70% 2.70%

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 299
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

masyarakat (

22 STATISTIK
22,1 Buku ”kabupaten dalam angka” Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
22,2 Buku ”PDRB kabupaten” Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada

23 KEARSIPAN
23.1 Pengelolaan arsip secara baku 17 SKPD 23 SKPD 23 SKPD 23 SKPD 23 SKPD 23 SKPD 43 SKPD
23.2 Peningkatan SDM pengelola kearsipan 45 45 45 45 46 47 47

24 KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA


24.1 Jumlah jaringan komunikasi 10 10 10 10 10 10 10
24.2 Rasio wartel/warnet terhadap penduduk 20 20 20 20 20 20 20
24.3 Jumlah surat kabar nasional/lokal 16 16 16 16 17 17 17
24.4 Web site milik pemerintah daerah Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada
24.5 Pameran/expo 1 2 2 3 3 2 3

25 PERPUSTAKAAN
25.1 Jumlah perpustakaan 85 85 86 86 86 87 87
25.2 Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun (orang) 18.125 19,031 19,127 19,223 19,319 19,415 19,415
Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah
25.3
(buku)
23.53 2.3 2.5 2.75 3.5 3.5 3.5

II. PELAYANAN URUSAN PILIHAN


1 PERTANIAN
Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal
1.1
lainnya per hektar
7.1 7.2 7.3 7.4 7.5 8 8

Konstribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap 1,224,91 1,249,53 1,262,02 1,274,64 1,287,39 1,300,26 1,300,26
1.2
PDRB 2.85 3.6 8.93 9.22 5.72 9.67 9.67

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 300
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Konstribusi sektor pertanian (Tanaman bahan 996.992.9 1.006.962.8 1.017.032.4 1.027.202.7 1.037.474.8
1.3
makanan) terhadap PDRB
862.163.74 1.037.475
1 4 7 9 2
Konstribusi sektor pertanian perkebunan terhadap 189.715.3
1.4
PDRB
158.770.63 191.612.51 193.528.63 195.463.92 197.418.56 197.418.56
5
Konstribusi produksi kelompok petani terhadap
1.5 72% 71.50% 71.25% 71.00% 70.75% 70.50% 70.50%
PDRB (%)
1.6 Cakupan bina kelompok petani (%) 90 % 5 10 15 20 25 75

2 KEHUTANAN
2.1 Rehabilitasi hutan dan lahan kritis (Ha) 42 1.5 1.5 1.5 1.5 1.5 34.5
Berkurang Berkurang Berkurang Berkurang Berkurang
2.2 Kerusakan Kawasan Hutan 9.547 Ha 7.160.25 Ha
5% 5% 5% 5% 5%
1.500M3&HHB 2.250M3&HHB
2.3 Konstribusi sektor kehutanan terhadap PDRB 10% 10% 10% 10% 10%
K 200 Ton K 300 Ton

3 ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL


3.1 Pertambangan tanpa ijin (Ha) 23,2 Ha 22,04 Ha 20,88 Ha 19,72 Ha 18,56 Ha 17,4 Ha 17,4 Ha
3.2 Konstribusi sektor kehutanan terhadap PDRB 5.42% 5.58% 5.74% 5.90% 6.06% 6.22% 6.22%

4 PARIWISATA
4,1 Kunjungan wisata 21,449 23,808 26,189 28,808 31,689 34,858 166,801 org
4.2 Konstribusi sector wisata terhadap PDRB 3.74% 4.93% 5.12% 5.31% 5.51% 5.69% 5.69%

5 KELAUTAN DAN PERIKANAN


5.1 Jumlah produksi perikanan tangkap (ton) 12.016,41 12.142,92 12.270,92 12.400,20 12.531,87 12.662,95 12.662,95
5.2 Jumlah produksi perikanan budidaya (ton) 33,374 38.258,43 42.084,40 46,187,46 50.857,23 56,287,03 56,287,03
5.3 Komsumsi ikan 45 Kg 45 Kg 45 Kg 45 Kg 46 Kg 46 Kg 46 Kg
5.4 Luas kawasan minapolitan yang efektif (lokasi) 300 400 600 700 900 1000 1000

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 301
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Pokdakan: 74
5.5 Cakupan bina kelompok tani perikanan Penangkap : 84 94 104 114 124 124
300 RTP

6 PERDAGANGAN
6.1 Kontribusi expor Perdagangan terhadap PDRB (%) 12,5 % 12.75% 13.00% 13.25% 13.50% 13.75% 13.75%
6.2 Ekspor bersih perdagangan 1.92 2.42% 2.57% 2.72% 2.97% 3.42% 3.42%
6.3 Cakupan bina kelompok pedagang/usaha informal 523 525 528 531 534 537 537

7 PERINDUSTRIAN
7.1 Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB 4.11% 4.15% 4.20% 4.25% 4.30% 4.40% 4.40%
Kontribusi industri rumah tangga terhadap PDRB
7.2 1,8 1.85 1.9 1.95 2 2.5 2.5
sektor Industri
7.3 Pertumbuhan Industri. 6,83 7 7.15 7.3 7.45 7.6 76
7.4 Cakupan bina kelompok pengrajin 1.136 1,150 1,155 1160 1165 1170 1170

8 KETRANSMIGRASIAN
8,1 Transmigran swakarsa (%) 0 0 0 0 0 0 0
8.2 Konstribusi transmigrasi terhadap PDRB (%) 0 0 0 0 0 0 0

ASPEK DAYA SAING DAERAH


FOKUS KEMAMPUAN EKONOMI DAERAH
OTONOMI DAERAH, PEMERINTAHAN UMUM,
ADMINISTRASI KEUANGAN DAERAH,
1
PERANGKAT DAERAH, KEPEGAWAIAN DAN
PERSANDIAN
Pengeluaran komsumsi rumah tangga perkapita 47,77 % 49.20% 50.67% 52.11% 53.54% 54.97% 54.97%
Pengeluaran komsumsi non pangan perkapita 52,50 % 54.07% 55.64% 57.18% 58.72% 60.26% 60.26%
Produktifitas daerah 8,64 % 9.72% 9.50% 9.93% 10.36% 10.79% 10.79%

2 PERTANIAN

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 302
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Nilai tukar petani 104 Poin 105 106 107 108 109 109

FOKUS FASILITAS WILAYAH/INFRASTRUKTUR


1 PERHUBUNGAN
Rasio panjang jalan perjumlah kendaraan 0,0069 0.0072 0.0076 0.0079 0.0083 0.0086 0.0086
Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan
999.7 1,047.68 1,099.63 1,149.58 1,199.53 1,249.48 1,249.48
umum
Jumlah orang/barang melalui
dermaga/bandara/terminal pertahun
312.615 328,245 343,848 359,452 375,054 390,657 390,657

2 PENATAAN RUANG
2.1. Ketaatan terhadap RTRW 25% 27.50% 30.00% 30.25% 30.50% 30.75% 30.75%
95,000
2.2. Luas wilayah produktif 93,918 Km2 95,000 Km2 95,000 Km2 95,000 Km2 95,000 Km2 95,000 Km2
Km2
2,3 Luas wilayah industri 9,64 Ha 9,64 Ha 9,64 Ha 10,00 Ha 10,00 Ha 10,00 Ha 10,00 Ha
2,4 Luas wilayah kebanjiran 8,287 Ha 8,000Ha 7,500 Ha 7,500 Ha 7,500 Ha 7,000 Ha 7,000 Ha
2,5 Luas wilayah kekeringan 1.720 Ha 1.720 Ha 1.720 Ha 1.500 Ha 1.250 Ha 1.250 Ha 1.250 Ha
2.6 Luas wilayah perkotaan 1.121 Km2 1.250 Km2 1.250 Km2 1.250 Km2 1.300 Km2 1.300 Km2 1.300 Km2

OTONOMI DAERAH, PEMERINTAHAN UMUM,


ADMINISTRASI KEUANGAN DAERAH,
3
PERANGKAT DAERAH, KEPEGAWAIAN DAN
PERSANDIAN
Jenis dan jumlah bank dan cabang 9 9 9 9 9 10 10
Jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang 3 3 3 3 3 4 4
Jenis, kelas dan jumlah restoran
Jenis, kelas dan jumlah penginapan/hotel 12 12 12 13 14 14 14

4 LINGKUNGAN HIDUP
Persentase rumah tangga yang menggunakan air
bersih
86,5 88.3 90.21 91.9 93.7 95.50% 95.50%

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 303
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

5 KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA


Rasio ketersediaan daya listrik 1 1 1 1 1 1 1
Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik 90 92 94 96 98 100 100
Persentase rumah tangga yang menggunakan
HP/telepon
82% 82.10% 80.20% 80.30% 80.40% 80.50% 80.50%

OTONOMI DAERAH, PEMERINTAHAN UMUM,


ADMINISTRASI KEUANGAN DAERAH,
6
PERANGKAT DAERAH, KEPEGAWAIAN DAN
PERSANDIAN
Angka kriminalitas 13,542 14,157 14,649 14,937 15,142 15,47 15,47
Jumlah demo 3 3 4 5 4 0 0
Lama proses perijinan 30/40 mnt 20/25 mnt 20/25 mnt 20/25 mnt 20/25 mnt 20/25 mnt 20/25 mnt
Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah 6 6 6 7 7 8 8
Jumlah PERDA yang mendukung iklim usaha 8 8 8 9 9 10 10
Persentase desa berstatus swasembada terhadap
total desa
71% 76% 81%7 87% 92% 100% 100%
FOKUS SUMBER DAYA MANUASIA
1 Ketenagakerjaan
1,1 Rasio lulusan S1/S2/S3 (%) 69% 69.25% 69.50% 69.75% 70.00% 70.25% 70.25%
1,2 Rasio ketergantungan (%) 64% 65.00% 65.00% 65.00% 65.00% 65.00% 65.00%

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VIII Hal. 304
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

BAB V
VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

5.1. Visi

Visi adalah gambaran tentang kondisi Kabupaten Pinrang yang akan


diwujudkan pada akhir periode 2014-2019. Rumusan visi ini diharapkan berfungsi
sebagai medan magnet dalam mensinergikan berbagai pemangku kepentingan
untuk berkontribusi pada pencapaian cita-cita bersama sebagai entitas daerah.
Substansi utama dari visi ini adalah rumusan visi yang secara proses politik telah
menghantarkan ditetapkannya Kapala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih.
Rumusan visi ini kemudian dijabarkan pokok-pokok visinya secara teknokratis
sesuai dengan sistem perencanaan pembangunan daerah yang berlaku.
Rumusan visi RPJMD Kabupaten Pinrang 2014-2019 juga memperhatikan
dua visi lain, yakni visi RPJPD Kabupaten Pinrang 2009-2029 yang memberi
arahan jangka panjang dimana RPJMD saat ini merupakan periode RPJMD
kedua dalam RPJPD tersebut, dan visi RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2013-
2018 yang memberi arahan kewilayahan karena Kabupaten Pinrang merupakan
bagian dari wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Visi RPJPD Kabupaten Pinrang
2009-2029 adalah “Terwujudnya Masyarakat Pinrang yang Maju, Dinamis,
dan Mandiri dengan Pengembangan Agribisnis dan Agroindustri yang
Berwawasan Lingkungan”. Visi RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2013-2018
adalah “Sulawesi Selatan sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan
Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan pada Tahun 2018”.
Berdasarkan pertimbangan demikian maka rumusan visi dan pokok visi
dari RPJMD Kabupaten Pinrang 2014-2019 adalah:

Terwujudnya Masyarakat Sejahtera Secara Dinamis melalui


Harmonisasi Kehidupan, Akselerasi Produktivitas Kawasan, dan
Revitalisasi Peran Poros Utama Pemenuhan Pangan Nasional

Rumusan visi ini memiliki relevansi signifikan dengan visi RPJPD


Kabupaten Pinrang, khususnya dalam penekanan pada terwujudnya
kesejahteraan masyarakat dan pencapaian produksi pangan. Rumusan visi ini
juga memiliki konsistensi dengan visi RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2013-
2108, dimana pokok visi “Sulawesi Selatan sebagai pilar utama pembangunan
nasional” yang ukurannya adalah kontribusi terhadap penyediaan pangan
nasional, dalam visi RPJMD Kabupaten Pinrang 2014-2019 dirumuskan sebagai
“revitalisasi peran poros pangan nasional”. Begitu juga dengan pokok visi

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 210


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

“akselerasi kesejahteraan” pada RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2013-2018,


dalam visi RPJMD Kabupaten Pinrang 2014-2019 dirumuskan sebagai
“terwujudnya masyarakat sejahtera secara dinamis”.
Rumusan visi RPJMD Kabupaten Pinrang 2014-2019 mengandung empat
substansi pokok visi yakni “masyarakat sejahtera secara dinamis”, “harmonisasi
kehidupan”, “akselerasi produktivitas kawasan”, “revitalisasi peran poros utama
pemenuhan pangan nasional”. Adapun kandungan dari empat pokok visi tersebut
adalah sebagai berikut.
“Masyarakat sejahtera yang dinamis” adalah kondisi masyarakat dan
aparatur pemerintah daerah secara duniawi dan akhrawi yang diwujudkan dalam
bentuk: (a) meningkatnya kualitas keimanan dan ketaqwaan masyarakat dan
aparatur, (b) meningkatnya kualitas soliditas dan kohensivitas sosial masyarakat
dan aparatur; (c) terciptanya keamanan dan ketertiban masyarakat; (d)
meningkatnya kualitas sumberdaya manusia masyarakat dan aparatur; (e)
terbukanya kesempatan berusaha dan lapangan kerja, (f) meningkatnya
pendapatan masyarakat; (g) terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, dan
papan bagi masyarakat secara berkualitas; (f) terjaminnya derajat kesehatan
masyarakat; serta (g) terhindarkannya masyarakat dan daerah dari dampak
bencana.
Wujud kesejahteraan ini tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan terus
berkembang dalam trend positif secara berkelanjutan. Tingkat capaian ini terus
tumbuh dan meningkat lebih berkualitas dari periode pembangunan sebelumnya
(2009-2014) dan pada periode 2014-2019 diharapkan terus berkembang secara
partisipatif dan mandiri berkat tata kelola pemerintahan, kualitas sumberdaya
masyarakat, sinergi kelembagaan masyarakat dan pemerintah, serta iklim usaha
yang semakin baik. Inisiatif utama perrwujudan kesejahteraan ini berasal dari
masyarakat sebagai subyek utama pembangunan serta peran pemerintah yang
secara konsisten dan konsekuen berperan sebagai pelayan, fasilitator, dan
dinamisator pembangunan.
“Harmonisasi kehidupan” bermakna terwujudnya tatanan kehidupan
sosial-kemasyarakatan sebagai cerminan masyarakat baldatun toyyibatun
warobbun gafur (negeri yang makmur dan senantiasa dirahmati oleh Allah SWT).
Masyarakat dan pemerintahan yang dirahmati oleh Tuhan yang Maha Kuasa
karena terciptanya suasana sosial-kemasyarakatan dan pemerintahan yang
saling menghargai (sipakelebbi), saling menghormati (sipakatau), saling tolong
menolong (sipakamase) dalam kebijakan (amar ma’ruf dan nahir mungkar). Ini
mencakup kondisi dimana masyarakat terus merasakan hadirnya pemerintahan
yang peduli dan responsif terhadap kebutuhan dan permasalahan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 211


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

masyarakatnya. Atmosfer dan budaya politik yang semakin santun dalam bingkai
religiusitas serta kekuatan adat dan budaya Bugis yang santun dan elegan.
Dalam kehidupan ekonomi berkembang tatanan masyarakat yang peduli dengan
kalangan miskin (duafa) dan sebaliknya kalangan miskin menyayangi kalangan
ekonomi kuat (mukhsinin). Harmonisasi kehidupan di bidang ekonomi melahirkan
keseimbangan sosio-ekonomi dan profit sharing secara tulus (tanpa pamrih) dan
natural yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang bermakna dan adil
bagi segenap elemen masyarakat, kehidupan sosial yang harmonis, iklim
investasi yang atraktif, serta stabilitas ketertiban dan keamanan secara
berkelanjutan. Tatanan kehidupan masyarakat baldatun toyyibatun warobbun
gafur pada dasarnya gambaran keberhasilan pembangunan yang hakiki atau
konkritisasi dari pencapaian kesejahteraan ukhrawi dan duniawi yang
sesungguhnya.
“Akselerasi produktivitas kawasan” bermakna meningkatnya produktivitas
seluruh komoditas unggulan secara signifikan dan bermakna. Komoditas
unggulan Kabupaten Pinrang meliputi komoditas beras, jagung, hortikultura,
perkebunan, peternakan, perikanan, dan jasa lingkungan diharapkan terus
meningkat secara signifikan dan bermakna selama periode 2014-2019. Mayoritas
komoditas unggulan tersebut adalah sumber karbohidrat, protein, lemak, dan zat
gizi lainnya atau secara general dikenal dengan bahan pangan. Produktivitas
yang akseleratif tersebut dicapai melalui pendekatan usaha berbasis agribisnis
dengan mengintegrasikan pendekatan on form dan off farm secara seimbang
berbasis kawasan. Kawasan pengembangan meliputi seluruh kawasan yang
telah ditetapkan pada periode sebelumnya selaku kawasan agropolitan,
minapolitan, maupun kawasan unggulan dan cepat tumbuh. Pilihan pendekatan
kawasan dilakukan untuk meningkatkan efisiensi usaha dan daya saing produk,
kelayakan implementasi teknis pengendalian hama dan penyakit, mitigasi
bencana, pembinaan dan pendampingan pelaku usaha, penciptaan peluang
investasi, serta fasilitasi dan pelayanan pemerintahan.
Produktivitas kawasan tidak hanya berorientasi pada produksi bahan
mentah (raw material) akan tetapi beberapa komoditas telah diproduksi dalam
bentuk olahan dan barang jadi sesuai dengan peluang dan permintaan pasar,
posisi daya saing komoditas unggulan serta ketersediaan sumberdaya
(resources) diantaranya keterampilan (skill) para pelaku usaha dan infrastruktur
yang tersedia. Proses industrialisasi dikembangkan untuk mendorong nilai
tambah (added value) usaha masyarakat dan daya saing produk unggulan
Kabupaten Pinrang. Peningkatan nilai tambah dan daya saing dilakukan melalui
pengembangan keunggulan kompetitif (competitive advantage) produk unggulan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 212


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

daerah. Produk unggulan Kabupaten Pinrang dirancang berorientasi pasar dan


berdiversifikasi produk. Produk unggulan tertentu seperti padi, jagung, kakao,
dan udang diorientasikan untuk memenuhi permintaan pasar dunia.
Kecenderungan peningkatan volume permintaan pasar dunia terhadap produk-
produk pertanian organik akan dimanfaatkan untuk memperbesar nilai tambah
dan daya saing produk unggulan tersebut. Strategi diversifikasi produk dan
perluasan pasar dikelola secara proporsional dengan tetap mengutamakan
pemenuhan kebutuhan pangan nasional.
Industrialisasi dikembangkan untuk merespons amanah pemerintah
provinsi dan pusat yang telah mempercayakan Kabupaten Pinrang sebagai
sentra produksi beberapa komoditas unggulan. Pemerintah Provinsi Sulawesi
Selatan pada tahun 2008 telah menetapkan Kabupaten Pinrang sebagai sentra
utama pengembangan budidaya ikan air tawar dan udang windu di Sulawesi
Selatan. Sebelumnya pada Program Swasembada Pangan awal era
pemerintahan Orde baru (Pelita I), Kabupaten pinrang telah ditetapkan menjadi
salah satu daerah lumbung pangan nasional yang di Sulawesi Selatan dikenal
dengan Program Lappoase. Industrialisasi udang secara nasional telah dimulai di
Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa pada tahun 2012 dan implementasinya di
Kabupaten Pinrang secara konkrit akan dimulai pada tahun 2014. Industrialisasi
udang merupakan konkritisasi implementasi kebijakan nasional pada Sektor
Kelautan dan Perikanan yang sebelumnya dikenal dengan Program Minapolitan.
Pemerintah pusat telah menetapkan kawasan pertambakan di Kabupaten
Pinrang menjadi Kawasan Minapolitan pada tahun 2010. Pada tahun 2012
bagian tertentu dari kawasan Minapolitan Kabupaten Pinrang dimasukkan dalam
skema perencanaan pengembangan Industri Udang Nasional. Pengembangan
masing-masing kawasan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan
integrasi secara harmonis masing-masing kawasan andalan dengan Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten, Provinsi dan Nasional.
“Revitalisasi peran poros utama pemenuhan pangan nasional” bermakna
diperkuat atau dipertegasnya kembali posisi (positioning) atau peran yang telah
diemban Kabupaten Pinrang sebelumnya melalui upaya konkrit secara
komprehensif dan sistematis. Peran poros utama pemenuhan pangan nasional
Kabupaten Pinrang selama ini telah berkontribusi secara langsung dan tidak
langsung dalam pemenuhan pangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Nasional.
Keberadaan infrastruktur vital Bendungan Benteng di Kabupaten Pinrang secara
langsung telah meningkatkan produktivitas pertanian terutama komoditas beras
Kabupaten Pinrang. Eksistensi Bendungan Benteng ikut mengairi areal
persawahan dan meningkatkan produktivitas komoditas beras kabupaten

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 213


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

tetangga khususnya Kabupaten Wajo dan Sidrap selaku lumbung pangan


nasional lainnya di Sulawesi Selatan. Peran masyarakat Pinrang selaku pelaku
usaha telah berkontribusi nyata dalam distribusi barang dan jasa untuk
pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Secara keseluruhan hal tersebut
menegaskan pembuktian peran penting Kabupaten Pinrang dalam pemenuhan
pangan nasional. Kontribusi Kabupaten Pinrang dalam penyediaan dan
pemenuhan pangan nasional sangat beragam dan beberapa diantaranya adalah
komoditas ekspor. Selain itu keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
Bakaru sebagai pemasok utama tenaga listrik di Sulawesi Selatan sangat vital
peran dan fungsinya dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi Provinsi
Sulawesi Selatan dan Nasional.
Pada periode 2014-2019 peran Kabupaten Pinrang diharapkan akan
meningkat signifikan dan bermakna berkaitan dengan meningkatnya produksi
dan daya saing komoditas unggulan khususnya beras, jagung, kakao, udang
windu, dan udang vaname. Dengan berfungsi dan meningkatnya kapasitas
layanan Pelabuhan Marabombang di Kecamatan Suppa dan semakin
membaiknya infrastruktur jalan hingga pelosok-pelosok desa diharapkan arus
barang dan jasa keluar dan masuk semakin meningkat dari dan ke Kabupaten
Pinrang yang pada gilirannya akan mempercepat laju dan pertumbuhan ekonomi
daerah, regional, dan nasional. Mengacu pada posisi strategis selaku produsen
komoditas unggulan, kepemilikan infrastruktur vital pembangunan, dan koridor
distribusi barang dan jasa secara regional dan nasional, maka Kabupaten
Pinrang dapat diposisikan sebagai salah satu poros utama Pembangunan
Nasional. Poros dalam pengertian mekanika adalah titik sumbu keseimbangan
momen beban sehingga medan gaya dapat menyanggah beban ataupun pilar
yang berdiri di atasnya. Poros dapat bermakna sumbu putar mesin penggerak
sehingga mesin atau roda pembangunan dapat bekerja dan berfungsi secara
optimal. Bila poros patah akan berakibat fatal terhadap tegaknya pilar
pembangunan ataupun kinerja mesin dan roda pembangunan. Peran Kabupaten
Pinrang selaku poros utama pembangunan diharapkan sangat strategis dan vital
dalam menentukan struktur dan pelaksanaan pembangunan pada tingkat
Provinsi Sulawesi Selatan dan Nasional. Dengan demikian masyarakat dan
Pemerintah Kabupaten Pinrang 2014-2019 akan lebih dihargai dan dihormati
oleh komunitas dan entitas lain. Hal ini harus dimaknai dan diapresiasi secara
kolektif oleh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Pinrang sebagai wujud
nyata esensi penegakan harkat dan harga diri. Keberhasilan memerankan poros
utama pemenuhan pangan nasional akan berdampak pada tumbuh dan
tenggaknya respek dan posisi tawar (bargaining position) masyarakat dan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 214


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Pemerintah Kabupaten Pinrang terhadap entitas dan daerah lain, pemerintah


provinsi, serta pemerintah pusat. Keberhasilan mengembang fungsi dan peran
poros utama pemenuhan pangan nasional adalah sebuah kehormatan dan harga
diri (siri na passe) masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Pinrang. Peran poros
utama pemenuhan pangan nasional adalah bentuk lain dari penyediaan barang
dan jasa yang berdampak luas secara simultan (multiplier effect) terhadap
perputaran ekonomi daerah yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,
peningkatan pendapatan daerah, penyediaan lapangan kerja, dan peningkatan
daya saing daerah.

5.2. Misi

Misi dalam RPJMD ini dimaksudkan sebagai upaya umum yang akan
dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Setiap misi akan dijalankan untuk
mewujudkan pokok visi yang relevan. Rumusan misi RPJMD Kab. Pinrang 2014-
2019 adalah sebagai berikut.

1. Meningkatkan apresiasi dan pengamalan nilai-nilai keagamaan dan


kearifan lokal sebagai nilai utama kemasyarakatan dan pengembangan
karakter masyarakat yang tangguh.

Misi ini mencakup upaya pokok dalam peningkatan pengamalan agama,


pemeliharaan kerukunan beragama, pelestarian keragaman dan kekayaan
buda, revitalisasi kearifan lokal, pengembangan karakter pemuda dan remaja,
dan pemeliharaan ketertiban dan keamanan masyarakat.

2. Memperkokoh toleransi, soliditas dan kohesivitas sosial serta


pengembangan nilai-nilai demokrasi.

Misi ini mencakup upaya pokok dalam pemeliharaan harmoni sosial,


pembinaan kesatuan bangsa, pengembangan kehidupan demokrasi dan
proses politik, penguatan gotong-royong dan keberdayaan masyarakat.

3. Meningkatkan derajat kesehatan, kualitas pendidikan dan daya saing


sumberdaya manusia

Misi ini mencakup upaya pokok dalam perbaikan pelayanan kesehatan,


pelayanan pendidikan, peningkatan daya saing tenaga kerja, pengerahan
tenaga terdidik untuk pembangunan pedesaan, pengarusutamaan gender dan
pemberdayaan perempuan, kesejahteraan keluarga dan keluarga berencana.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 215


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

4. Meningkatkan kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan sosial


Misi ini mencakup upaya pokok dalam peningkatan pendapatan
masyarakat dan aparatur pemerintah, pengembangan investasi yang atraktif,
penanggulangan kemiskinan, penanganan penyandang masalah
kesejahteraan sosial, pembangunan koperasi dan UMKM, pembangunan
pertanian, pembangunan peternakan, pembangunan perikanan, dan
optimalisasi penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan serta
pendampingan fasilitator untuk pemberdayaan masyarakat.

5. Memantapkan tata kelola pemerintahan dan reformasi birokrasi


Misi ini mencakup upaya pokok dalam pemantapan kualitas sistem dan
tata kelola pelayanan publik, pembenahan administrasi pemerintahan dan
keuangan, peningkatan kompetensi dan profesionalisme SDM aparatur,
perbaikan kesejahteraan SDM aparatur, penataan organisasi dan tata laksana,
perbaikan proses dan mekanisme perencanaan, perbaikan pengawasan
pembangunan dan peningkatan kapsitas pemerintahan desa dan kecamatan.

6. Mengembangkan kawasan andalan dan integrasi pembangunan


Misi ini mencakup upaya pokok dalam meneruskan pembangunan
kawasan andalan yakni kawasan agropolitan dan kawasan minapolitan serta
kawasan cepat tumbuh dalam suatu kerjasama kawasan dan integrasi
pembangunan. Upaya ini diiringi dengan peningkatan skala usaha masyarakat,
peningkatan daya saing komoditas dan pengembangan koridor perdagangan
komoditas unggulan.

7. Mengoptimalkan fungsi infrastruktur dan lingkungan hidup


Misi ini secara garis besar mencakup upaya pokok dalam optimalisasi
fungsi infrastruktur perdesaan, pengembangan sarana/prasarana perkotaan
dan pemeliharaan daya dukung lingkungan hidup. Secara lebih rinci upaya
tersebut mencakup optimalisasi fungsi pelabuhan, jaringan pengairan dan
saluran irigasi, jalan tani, jalan antar kecamatan dan antar desa,
sarana/prasarana perhubungan, serta upaya pelestarian hutan, penanganan
degradasi lahan, pengananan sampah dan limbah, serta penanganan
bencana.

5.3. Tujuan dan Sasaran


Tujuan adalah pernyataan tentang hal-hal yang perlu dilakukan untuk
mencapai visi dan melaksanakan misi dengan menjawab isu-isu strategis

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 216


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

pembangunan daerah. Rumusan tujuan diturunkan secara operasional dari


masing-masing misi pembangunan daerah dengan memperhatikan pokok-pokok
visi.
Sasaran adalah hasil yang diharapkan dari suatu tujuan yang
diformulasikan secara terukur, spesifik, mudah dicapai, dan rasional untuk
jangka waktu lima tahun kedepan. Suatu sasaran dirumuskan untuk mencapai
atau menjelaskan tujuan, dimana untuk mencapai suatu tujuan dapat melalui
beberapa sasaran dan memperhatikan relevansinya dengan isu-isu strategis
daerah.
Tujuan dan sasaran RPJMD Kabupaten Pinrang 2014-2019 ditampilkan
dalam tabel sebagai berikut.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 217


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 5.1.
Tujuan dan Sasaran RPJMD Kabupaten Pinrang 2014-2019

No. Misi Tujuan Sasaran


1. Meningkatkan apresiasi dan pengamalan Meningkatkan kualitas ibadah dan pengamalan Terpenuhinya kebutuhan dan fasilitas bagi
nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal agama dalam berbagai aspek kehidupan penyelenggaraan ibadah dan perayaan keagamaan
sebagai nilai utama kemasyarakatan dan masyarakat (1) (1)
pengembangan karakter masyarakat yang
tangguh Terpeliharanya toleransi dan kerukunan antar
ummat beragama (2)
Meningkatkan ketahanan budaya dalam Terjaganya keragaman budaya dan kekayaan budaya
menghadapi dinamika perubahan (2) dan potensi pariwisata (3)
Mewujudkan karakter pemuda dan remaja serta Berkembangnya karakter pemuda, remaja dan
masyarakat secara umum berbasis kearifan lokal masyarakat secara umum berbasis nilai-nilai saling
(3) menghargai (sipakelebbi), saling menghormati
(sipakatau), saling tolong menolong (sipakamase)
dalam kebajikan (amar ma’ruf dan nahir mungkar)
(4)
Mewujudkan ketertiban, ketenteraman, Terkendalikannya ganggunan ketertiban,
keamanan dan kenyamanan dalam kehidupan ketenteraman, keamanan dan kenyamanan dalam
masyarakat (4) kehidupan masyarakat (5)
Memperkokoh toleransi, soliditas dan Menguatkan toleransi dan kohesivitas sosial serta Terpeliharanya harmoni sosial dan kesatuan bangsa
2. kohesivitas sosial serta pengembangan kesatuan bangsa (5) dalam masyarakat (6)
nilai-nilai demokrasi
Meningkatkan kualitas kehidupan demokrasi dan Berkembangnya kelembagaaan serta proses dan
politik (6) mekanisme demokrasi dan politik yang sehat dan
fungsional bagi kehidupan berbangsa dan
bernegara (7)
Meningkatkan keberdayaan masyarakat dan Berkembangnya kapasitas masyarakat dalam
partisipasinya dalam pembangunan (7) pemecahan masalah lokal secara mandiri dan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 218


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

partisipasi dalam pembangunan (8)


3. Meningkatkan derajat kesehatan, kualitas Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan dasar
pendidikan dan daya saing sumberdaya kesehatan (8) dan rujukan (9)
manusia
Menigkatnya kualitas pelayanan kesehatan ibu,
anak dan gizi (10)

Terwujudnya pola hidup bersih dan sehat dalam


masyarakat (11)
Meningkatnya jangkauan dan kualitas penanganan
penyakit menular (12)
Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan Meningkatnya tingkat melek huruf dan minat baca
pendidikan (9) masyarakat (13)
Meningkatnya akses masyarakat pada seluruh
jenjang pendidikan (14)
Meningkatnya kualitas pendidikan pada seluruh
jenjang pendidikan (15)
Meningkatkan daya saing sumberdaya manusia Meningkatnya daya saing tenaga kerja dan
(10) keterlibatan tenaga kerja terdidik dalam kemajuan
. pedesaan (16)
Meningkatnya kesetaraan gender dan keberdayaan
perempuan (17)
Meningkatnya kesejahteraan keluarga dan keluarga
berencana (18)
4. Meningkatkan kemakmuran ekonomi dan Meningkatkan kordinasi penanggulangan Berkurangnya penduduk miskin (19)
kesejahteraan sosial kemiskinan (11)
Mengembangkan daya tarik investasi (12) Meningkatnya nilai investasi (20)

Pengembangan koperasi dan usaha mikro, kecil Meningkatnya daya saing produk koperasi dan
dan menengah (UMKM) (13) usaha mikro, kecil dan menengan (UMKM) (21)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 219


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Meningkatkan produksi dan nilai tambah Meningkatnya produksi dan nilai tambah produk
komoditas unggulan (14) pertanian (22)

Meningkatnya produksi dan nilai tambah produk


perkebunan (23)
Meningkatnya produksi dan nilai tambah produk
peternakan (24)
Meningkatnya produksi dan nilai tambah produk
perikanan (25)

Terpeliharanya ketahanan pangan dan surplus


pangan dalam mewujudkan Pinrang sebagai poros
pangan nasional (26)
Meningkatnya kapasitas kelembagaan dan
efektivitas penyelenggaraan penyuluhan pertanian,
perikanan dan kehutanan (27)
Meningkatkan penanganan penyandang Meningkatnya kesejahteraan fakir miskin, anak
masalah kesejahteraan social (15) terlantar dan penyandang masalah kesejahteraan
sosial (PMKS) lainnya (28)
5. Memantapkan tata kelola pemerintahan Memantapkan kualitas sistem dan tata kelola Meningkatnya kualitas pelayanan publik (29)
dan reformasi birokrasi pelayanan publik (16)
Meningkatnya kapasitas pemerintahan desa (30)

Mewujudkan percepatan reformasi birokrasi (17) Meningkatnya kualita laporan keuangan daerah
(31)
Meningkatnya kompetensi dan profesionalisme
SDM aparatur (32)
Meningkatnya penataan dan penguatan organisasi
dan tata laksana (33)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 220


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Meningkatnya kualitas perencanaan pembangunan


daerah (34)
Meningkatnya kualitas pengawasan
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan
(35)
6. Mengembangkan kawasan andalan dan Mengembangkan kawasan terpadu dan cepat Berkembangan kawasan pembangunan terpadu
integrasi pembangunan tumbuh (18) agropolitan (36)
Berkembangnya pembangunan terpadu kawasan
minapolitan (37)
Mengembangkan sistem agribisnis dan Meningkatnya koridor perdagangan produk
agroindustri (19) unggulan (38)
7. Mengoptimalkan fungsi infrastruktur dan Mengoptimalkan fungsi infrastruktur wilayah (20) Meningkatnya kapasitas infrastruktur perhubungan
lingkungan hidup (39)
Meningkatnya kapasitas infrastruktur transportasi
(40)
Meningkatnya kapasitas infrastruktur irigasi /
pengairan (41)
Meningkatnya kualitas perumahan dan permukiman
(42)
Memelihara daya dukung lingkungan hidup (21) Terpeliharanya kelestarian hutan dan lahan (43)
Meningkatnya kualitas lingkungan hidup (44)
Meningkatnya kapasitas penanganan bencana (45)
Meningkatnya kualitas penanganan sampah dan
kebersihan (46)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 221


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab V Hal. 222


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

BAB VI
STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan
komprehensif tentang bagaimana pemerintah Kabupaten Pinrang bersama
seluruh pemangku kepentingan mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan
efektif dan efisien. Selain itu, strategi juga berguna sebagai sarana untuk
melakukan transformasi, reformasi dan perbaikan kinerja birokrasi Kabupaten
Pinrang secara berkelanjutan.

6.1. Strategi

Rumusan strategi merupakan pernyataan yang menjelaskan agaimana


sasaran akan dicapai. Dengan demikian strategi dirumuskan untuk setiap
sasaran. Ia merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program
indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi tersebut selanjutnya diperjelas
dengan serangkaian arahkebijakan. Penetapan strategi dilakukan untuk
menjawab cara pencapaian sasaran-sasaran pembangunan dan jangka waktu
pencapaian sasaran-sasaran tersebut. Sebuah strategi dapat dilakukan untuk
menjawab satu sasaran pembangunan ataupun lebih dari satu sasaran
pembangunan, dengan mempertimbangkan aspek efektifitas dan efisiensi
pencapaian target sasaran.

Menurut Permendagri 54/2010, arsitektur perencanaan pembangunan


daerah dipisahkan menjadi dua: (1) perencanaan strategik yaitu perencanaan
pembangunan daerah yang menekankan pada pencapaian visi-misi
pembangunan daerah; (2) perencanaan operasional yaitu perencanaan yang
menekankan pada pencapaian kinerja layanan setiap urusan. Segala sesuatu
yang secara langsung dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran
RPJMD maka dianggap strategis, ini dijalankan melalui program pembangunan
daerah dan program prioritas berdasarkan penyelenggaraan urusan
pemerintahan. Perencanaan strategik ini didukung oleh keberhasilan kinerja dari
implementasi perencanaan operasional dalam penyelenggaraan urusan
pemerintahan melalui program prioritas masing-masing urusan. Dalam
perumusan strategi pembangunan daerah ada empat perspektif yang digunakan
dalam mengarahkan keselarasan dengan pilihan program pembangunan daerah
yakni (1) perspektif masyarakat/layanan; (2) perspektif proses internal; (3)
perspektif kelembagaan; (4) perspektif keuangan.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 222


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 6.1.
Strategi RPJMD Kabupaten Pinrang 2014-2019

Visi: Terwujudnya Masyarakat Sejahtera Secara Dinamis melalui Harmonisasi Kehidupan, Akselerasi Produktivitas Kawasan, dan
Revitalisasi Peran Poros Utama Pemenuhan Pangan Nasional

Misi 1: Meningkatkan apresiasi dan pengamalan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal sebagai nilai utama kemasyarakatan dan
pengembangan karakter masyarakat yang tangguh.

No Tujuan Sasaran Strategi


Meningkatkan kualitas ibadah dan Terpenuhinya kebutuhan dan fasilitas bagi Kemitraan pemerintah dan organisasi keagamaan
1. pengamalan agama dalam berbagai aspek penyelenggaraan ibadah dan perayaan keagamaan dalam keterpenuhan sarana, fasilitas dan
kehidupan masyarakat (1) penyelenggara kegiatan kegamaan serta kerukunan
intra dan antar umat beragama (1)
Terpeliharanya toleransi dan kerukunan antar ummat
beragama (2)
2. Meningkatkan ketahanan budaya dalam Terjaganya keragaman budaya dan kekayaan Penggalian, pelestarian dan pengembangan
menghadapi dinamika perubahan budaya,Kekayaan Budaya dan Potensi pariwisata (3) keragaman dan kekayaan budaya dalam merespons
dinamika perubahan (2)
3. Mewujudkan karakter pemuda dan remaja Berkembangnya karakter pemuda, remaja dan Menguatkan karakter pemuda, remaja dan masyarakat
serta masyarakat secara umum berbasis masyarakat secara umum berbasis nilai-nilai saling secara umum melalui revitalisasi adat-istiadat dan
kearifan lokal menghargai, saling menghormati, saling tolong nilai-nilai saling menghargai, saling menghormati,
menolong dalam kebajikan (amar ma’ruf dan nahir saling tolong-menolong sebagai modal sosial dalam
mungkar) (4) menghadapi dinamika perubahan (3)
4. Mewujudkan ketertiban, ketenteraman, Terkendalikannya ganggunan ketertiban, Mendorong sinergi pemerintah dengan seluruh
keamanan dan kenyamanan dalam kehidupan ketenteraman, keamanan dan kenyamanan dalam lapisan, golongan dan organisasi sosial
masyarakat kehidupan masyarakat (5) kemasyarakatan dalam memelihara dan
meningkatkan ketertiban, ketenteraman, keamanan,
kenyamanan (4)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 223


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Misi 2: Memperkokoh toleransi dan kohesivitas sosial serta pengembangan nilai-nilai demokrasi
5. Menguatkan toleransi dan kohesivitas sosial Terpeliharanya harmoni sosial dan kesatuan bangsa Memperkuat kegotongroyongan sebagai basis
serta kesatuan bangsa dalam masyarakat (6) ketahanan sosial masyarakat dalam bingkai kesadaran
persatuan dan kesatuan bangsa (5)

6. Meningkatkan kualitas kehidupan demokrasi Berkembangnya kelembagaaan serta proses dan Mendorong kesadaran berdemokrasi secara
dan politik mekanisme demokrasi dan politik yang sehat dan substansial seiring dengan peningkatan kapasitas
fungsional bagi kehidupan berbangsa dan bernegara organisasi politik dan kepatuhan hokum (6)
(7)
7. Meningkatkan keberdayaan masyarakat dan Berkembangnya kapasitas masyarakat dalam Pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan
partisipasinya dalam pembangunan pemecahan masalah lokal secara mandiri dan secara bersinergi dengan peningkatan kapasitas
partisipasi dalam pembangunan (8) struktural-fungsional pemerintahan desa (7)
Misi 3: Meningkatkan derajat kesehatan, kualitas pendidikan dan daya saing sumberdaya manusia
8. Meningkatkan akses dan kualitas layanan Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan dasar Meningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan
kesehatan dan rujukan (9) kesehatan (8)

Menigkatnya kualitas pelayanan kesehatan ibu, anak


dan gizi (10))
Terwujudnya pola hidup bersih dan sehat dalam Meningkatkan promosi kesehatan, pemberdayaan
masyarakat (11) masyarakat dan kesehatan lingkungan (9)
Meningkatnya jangkauan dan kualitas penanganan Melibatkan pemangku kepentingan dalam peningkatan
penyakit menular (12) efektivitas penanganan penyakit menular dan kejadian
luar biasa (10)
9. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan Meningkatnya tingkat melek huruf dan minat baca Mengembangkan pendidikan keakasaraan fungsional
pendidikan masyarakat (13) dan fungsi perpustakaan berbasis kapasitas
masyarakat dan pemerintah desa (11)
Meningkatnya akses masyarakat pada seluruh Meningkatkan dan memeratakan akses pendidikan
jenjang pendidikan (14) pada seluruh wilayah dan jenjang pendidikan (12)
Meningkatnya kualitas pendidikan pada seluruh Meningkatkan kualitas pendidik/tenaga kependidikan
jenjang pendidikan (15) dalam pembelajaran berbasis teknologi informasi

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 224


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

dengan manajemen berbasis sekolah yang berkualitas


(13)
10. Meningkatkan daya saing sumberdaya Meningkatnya daya saing tenaga kerja dan Mendorong peningkatan kompetensi dan kompetensi
manusia keterlibatan tenaga kerja terdidik dalam kemajuan berbasis masyarakat sesuai karakteristik potensi
pedesaan (16) sumberdaya local (14)
Meningkatnya kesetaraan gender dan keberdayaan Pengarusutamaan gender dalam kebijakan dan
perempuan (17) penganggaran pemerintah serta kegiatan berbasis
masyarakat (15)
Meningkatnya kesejahteraan keluarga dan keluarga Penyadaran keluarga berencana dan kesehatan
berencana (18) reproduksi secara bersinergi dengan upaya
peningkatan kesejahteraan keluarga (16)

Misi 4: Meningkatkan kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan sosial


11. Meningkatkan kordinasi penanggulangan Berkurangnya penduduk miskin (19) Mengefektifkan fungsi tim kordinasi penanggulangan
kemiskinan kemiskinan dalam perlindungan sosial, pemberdayaan
masyarakat dan pengembangan usaha (17)
12. Mengembangkan daya tarik investasi Meningkatnya daya saing investasi (20) Mengembangkan sarana dan prasarana investasi
secara bersinergi dengan perbaikan pelayanan
investasi (18)
13. Pengembangan koperasi dan usaha mikro, Meningkatnya daya saing produk koperasi dan usaha Menguatkan gerakan koperasi berbasis masyarakat
kecil dan menengah (UMKM) mikro, kecil dan menengan (UMKM) (21) dan peningkatan kapasitas teknologi/manajerial
UMKM (19)
14 Meningkatkan produksi dan nilai tambah Meningkatnya produksi dan nilai tambah produk Penguatan kapasitas teknologi dan kapasitas
komoditas unggulan pertanian (22) kelembagaan petani, peternak, nelayan tangkap dan
pembudidaya ikan berbasis sistem agribisnis (20)
Meningkatnya produksi dan nilai tambah produk
perkebunan (23)

Meningkatnya produksi dan nilai tambah produk


peternakan (24)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 225


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Meningkatnya produksi dan nilai tambah produk


perikanan (25)

Terpeliharanya ketahanan pangan dan surplus Penguatan dukungan surplus pangan bagi ketahanan
pangan dalam mewujudkan Pinrang sebagai poros pangan nasional (21)
pangan nasional (26)

Meningkatnya kapasitas kelembagaan dan efektivitas Peningkatan kapasitas sarana/prasarana,


penyelenggaraan penyuluhan pertanian, perikanan kelembagaan dan SDM penyuluh pertanian, perikanan
dan kehutanan (27) dan kehutanan untuk peningkatan produksi,
pendapatan dan pelestarian lingkungan pelaku utama
dan pelaku usaha (22)

15 Meningkatkan penanganan penyandang Meningkatnya kesejahteraan fakir miskin, anak Pelibatan multipihak dalam meningkatkan efektivitas
masalah kesejahteraan social terlantar dan penyandang masalah kesejahteraan penanganan PMKS (23)
sosial (PMKS) lainnya (28)

Misi 5: Memantapkan tata kelola pemerintahan dan reformasi birokrasi


16. Memantapkan kualitas sistem dan tata kelola Meningkatnya kualitas pelayanan publik (29) Peningkatan kapasitas kelembagaan,
pelayanan publik sarana/prasarana dan SDM pelayanan terpadu satu
pintu (24)
Meningkatnya kapasitas pemerintahan desa (30) Penguatan SDM dan kelembagaan pemerintahan
desa (25)
17. Mewujudkan percepatan reformasi birokrasi Meningkatnya kualitas laporan keuangan daerah (31) Peningkatan kapasitas SDM dan kelembagaan dalam
pelaporan keuangan pada SKPD (26)
Meningkatnya kompetensi dan profesionalisme SDM Peningkatan kompetensi SDM aparatur secara
aparatur (32) bersinergi dengan penempatan SDM aparatur sesuai
kompetensi (27)
Meningkatnya penataan dan penguatan Organisasi Meningkatkan penataan struktur dan tata laksana
dan tata laksana (33) organisasi (28)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 226


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Meningkatnya kualitas perencanaan pembangunan Peningkatan kualitas isi serta proses dan mekanisme
daerah (34) perencanaan pembangunan daerah (29)
Meningkatnya kualitas pengawasan Peningkatan kapasitas sistem dan SDM pengawasan
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah (30)
(35)
Misi 6: Mengembangkan kawasan andalan dan integrasi pembangunan
18. Mengembangkan kawasan terpadu dan cepat Berkembangan kawasan pembangunan terpadu Pengembangan kordinasi keterlibatan multipihak
tumbuh agropolitan (36) berbasis rencana kawasan terpadu agropolitan dan
Berkembangnyapembangunan terpadu kawasan minapolitan (31)
minapolitan (37)
19. Mengembangkan sistem agribisnis dan Meningkatnya koridor perdagangan produk unggulan Pengembangan terminal agribisnis bagi perdagangan
agroindustri (38) produk unggulan (32)
Misi 7: Mengoptimalkan fungsi infrastruktur dan lingkungan hidup
20. Mengoptimalkan fungsi infrastruktur wilayah Meningkatnya kapasitas infrastruktur perhubungan Pengembangan kapasitas sarana/prasarana
(39) perhubungan dan transportasi bagi pergerakan barang
Meningkatnya kapasitas infrastruktur transportasi dan jasa serta koneksivitas antar wilayah (33)
(40)
Meningkatnya kapasitas infrastruktur Pemeliharaan dan peningkatan fungsi
irigasi/pengairan (41) irigasi/pengairan dalam menjamin keberlanjutan
pertanian dan fungsi lainnya (34)
Meningkatnya kualitas perumahan dan permukiman Perbaikan perumahan dan pemukiman orang miskin
(42) (35)
21. Memelihara daya dukung lingkungan hidup Terpeliharanya kelestarian hutan dan lahan (43) Pelibatan multipihak dan penegakan hukum dalam
Meningkatnya kualitas lingkungan hidup (44) pelestarian hutan dan lahan kritis serta lingkungan
hidup (36)
Meningkatnya kapasitas penanganan bencana (45) Peningkatan kapasitas dan kordinasi antisipasi dan
penangan bencana (37)
Meningkatnya kualitas penanganan sampah dan Pelibatan masyarakat dalam penanganan sampah
kebersihan (46) terpadu (38)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 227


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-
2019

6.2. Arah Kebijakan

Arah kebijakan adalah pedoman untuk mengarahkan rumusan strategi


yang dipilih agar lebih terarah dalam mencapai tujuan dan sasaran dari waktu
ke waktu selama lima tahun. Rumusan arah kebijakan merasionalkan pilihan
strategis agar memiliki fokus dan sesuai dengan pengaturan pelaksanaannya.
Penyusunan arah kebijakan RPJMD Kabupaten Pinrang 2014-2019
dikerangkakan dalam dua tahapan. Pertama, penyusunan arah kebijakan dari
setiap strategi, dalam arti mengarahkan rumusan strategi agar lebih terfokus
dalam mewujudkan sasaran. Kedua, pemetaan arah kebijakan tersebut dalam
kerangka tahunan, dalam arti menetapkan arah kebijakan yang diprioritaskan
setiap tahun untuk lima tahun masa berlaku RPJMD. Dengan demikian, arah
kebijakan ini tidak hanya memberi arah dan fokus bagi implementasi strategi,
tetapi juga menjadi kerangka prioritisasi atas tahun pelaksanaan dari strategi-
strategi tersebut.
Arah kebijakan RPJMD Kabupaten Pinrang 2014-2109 dalam arti
penentuan fokus dan arah dari setiap strategi dapat dilihat pada tabel berikut.

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 228


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Visi: Terwujudnya Masyarakat Sejahtera Secara Dinamis melalui Harmonisasi Kehidupan, Akselerasi Produktivitas Kawasan, dan
Revitalisasi Peran Poros Utama Pemenuhan Pangan Nasional
Misi 1: Meningkatkan apresiasi dan pengamalan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal sebagai nilai utama kemasyarakatan dan
pengembangan karakter masyarakat yang tangguh.

No Tujuan Sasaran Strategi Arah Kebijakan

1. Meningkatkan kualitas ibadah Terpenuhinya kebutuhan dan fasilitas bagi Kemitraan pemerintah dan organisasi Pemenuhan sarana, fasilitas dan
dan pengamalan agama dalam penyelenggaraan ibadah dan perayaan keagamaan dalam keterpenuhan situasi kondusif bagi kegiatan
berbagai aspek kehidupan keagamaan (1) sarana, fasilitas dan penyelenggara keagamaan dan kerukunan ummat
masyarakat Terpeliharanya toleransi dan kerukunan kegiatan kegamaan serta kerukunan beragama (1)
antar ummat beragama (2) intra dan antar umat beragama (1)

2. Meningkatkan ketahanan budaya Terjaganya keragaman budaya dan Penggalian, pelestarian dan Pelibatan masyarakat dalam
dalam menghadapi dinamika kekayaan budaya dan potensi pariwisata pengembangan keragaman dan memelihara dan melestarikan
perubahan (3) kekayaan budaya dalam merespons kekayaan budaya (2)
dinamika perubahan (2)

3. Mewujudkan karakter pemuda Berkembangnya karakter pemuda, remaja Menguatkan karakter pemuda, remaja Revitalisasi adat-istiadat, nilai-nilai
dan remaja serta masyarakat dan masyarakat secara umum berbasis dan masyarakat secara umum melalui asli dan kearifan lokal dalam
nilai-nilai saling menghargai, saling revitalisasi adat-istiadat dan nilai-nilai melestarikan dan mengembangkan
secara umum berbasis
menghormati, saling tolong menolong saling menghargai (sipakalebbi), saling keragaman dan kekayaan budaya
kearifan lokal (3)
dalam kebajikan (amar ma’ruf dan nahir menghotmati (sipakatau), saling tolong- (3)
mungkar) (4) menolong (sipakamase) sebagai modal
sosial dalam menghadapi dinamika
perubahan (3).

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 229


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

4 Mewujudkan ketertiban, Terkendalikannya ganggunan ketertiban, Mendorong sinergi pemerintah dengan Pelibatan masyarakat dalam
ketenteraman, keamanan dan ketenteraman, keamanan dan seluruh lapisan, golongan dan memelihara dan meningkatkan
kenyamanan dalam kehidupan kenyamanan dalam kehidupan organisasi sosial kemasyarakatan dalam kualitas ketertiban, ketenteraman,
masyarakat masyarakat (5) memelihara dan meningkatkan keamanan dan kenyamanan dalam
ketertiban, ketenteraman, keamanan, kehidupan masyarakat (4)
kenyamanan (4).

Misi 2: Memperkokoh toleransi dan kohesivitas sosial serta pengembangan nilai-nilai demokrasi

5 Menguatkan toleransi dan Terpeliharanya harmoni sosial dan Memperkuat kegotongroyongan sebagai Penguatan semangat kegotong-
kohesivitas sosial serta kesatuan kesatuan bangsa dalam masyarakat (6) basis ketahanan sosial masyarakat royongan serta kesadaran persatuan
bangsa dalam bingkai kesadaran persatuan dan dan kesatuan bangsa (5)
kesatuan bangsa (5)

6 Meningkatkan kualitas kehidupan Berkembangnya kelembagaaan serta Mendorong kesadaran ber-demokrasi Pengembangan kesadaran
demokrasi, politik dan hukum (7) proses dan mekanisme demokrasi, politik secara substansial seiring dengan demokrasi, kapasitas organisasi
dan hukum yang sehat dan fungsional peningkatan kapasitas organisasi politik politik dan kepatuhan terhadap
bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dan kepatuhan terhadap hokum (6) hukum (6)
(7)
7 Meningkatkan keberdayaan Berkembangnya kapasitas masyarakat Pemberdayaan masyarakat secara Peningkatan partisipasi dan
masyarakat dan partisipasinya dalam pemecahan masalah lokal secara berkelanjutan secara bersinergi dengan keberdayaan masyarakat (7)
dalam pembangunan (8) mandiri dan partisipasi dalam peningkatan kapasitas struktural-
pembangunan (8) fungsional pemerintahan desa (7)
Misi 3: Meningkatkan derajat kesehatan, kualitas pendidikan dan daya saing sumberdaya manusia
8 Meningkatkan akses dan kualitas Meningkatnya kualitas pelayanan Meningkatan kualitas dan jangkauan Peningkatan akses dan kualitas
layanan kesehatan kesehatan dasar dan rujukan (9) pelayanan kesehatan (8) pelayanan kesehatan (8)
Menigkatnya kualitas pelayanan
kesehatan ibu, anak dan gizi (10)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 230


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Terwujudnya pola hidup bersih dan sehat Meningkatkan promosi kesehatan, Pemberdayaan masyarakat dalam
dalam masyarakat (11) pemberdayaan masyarakat dan kesehatan keluarga dan kesehatan
kesehatan lingkungan (9) lingkungan (9)

Meningkatnya jangkauan dan kualitas Melibatkan pemangku kepentingan Peningkatan efektivitas penanganan
penanganan penyakit menular (12) dalam peningkatan efektivitas penyakit menular dan kejadian luar
penanganan penyakit menular dan biasa (10)
kejadian luar biasa (10)

9 Meningkatkan akses dan kualitas Meningkatnya tingkat melek huruf dan Mengembangkan pendidikan Penuntasan buta aksara dan
pelayanan pendidikan minat baca masyarakat (13) keakasaraan fungsional dan fungsi peningatan minat baca (11)
perpustakaan berbasis kapasitas
masyarakat dan pemerintah desa (11)

Meningkatnya akses masyarakat pada Meningkatkan dan memeratakan akses Peningkatan dan pemerataan akses
seluruh jenjang pendidikan (14) pendidikan pada seluruh wilayah dan pendidikan pada seluruh jenjang
jenjang pendidikan (12) (12)

Meningkatnya kualitas pendidikan pada Meningkatkan kualitas pendidik/ tenaga Peningkatan kualitas tenaga
seluruh jenjang pendidikan (15) kependidikan dalam pembelajaran pendidik/kependidikan, proses
berbasis teknologi informasi dengan pembelajaran dan manajemen
manajemen berbasis sekolah yang sekolah (13)
berkualitas (13)

10 Meningkatkan daya saing Meningkatnya daya saing tenaga kerja Mendorong peningkatan kompetensi Peningkatan keterampilan tenaga
sumberdaya manusia dan keterlibatan tenaga kerja terdidik teknis dan kompetensi berbasis kerja dan pencari kerja (14)
dalam kemajuan pedesaan (16) masyarakat sesuai karakteristik potensi
sumberdaya local (14)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 231


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Meningkatnya kesetaraan gender dan Pengarusutamaan gender dalam Pengarusutamaan gender, pem-
keberdayaan perempuan (17) kebijakan dan penganggaran berdayaan perempuan dan
pemerintah serta kegiatan berbasis perlindungan anak (15)
masyarakat (15)

Meningkatnya kesejahteraan keluarga Revitalisasi keluarga berencana secara Penyelenggaraan keluarga


dan keluarga berencana (18) bersinergi dengan upaya peningkatan berencana dan peningkatan
kesejahteraan keluarga (16) kesejahteraan keluarga (16)

Misi 4: Meningkatkan kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan sosial


11 Meningkatkan kordinasi Berkurangnya penduduk miskin (19) Mengefektifkan fungsi tim kordinasi Kordinasi penanggulangan
penanggulangan kemiskinan penanggulangan kemiskinan dalam kemiskinan (17)
perlindungan sosial, pemberdayaan
masyarakat dan pengembangan usaha
(17)

12 Mengembangkan daya tarik Meningkatnya daya saing investasi (20) Mengembangkan sarana dan prasarana Pengembangan daya tarik dan daya
investasi investasi secara bersinergi dengan saing investasi (18)
perbaikan pelayanan investasi (18)

13 Pengembangan koperasi dan Meningkatnya daya saing produk Menguatkan gerakan koperasi berbasis Penguatan gerakan koperasi dan
usaha mikro, kecil dan menengah koperasi dan usaha mikro, kecil dan masyarakat dan peningkatan kapasitas pengembangan UKM (19)
(UMKM) menengan (UMKM) (21) teknologi/manajerial UMKM (19)

14 Meningkatkan produksi dan Meningkatnya produksi dan nilai tambah Penguatan kapasitas teknologi dan Peningkatan produksi dan
nilai tambah komoditas produk pertanian (22) kapasitas kelembagaan petani, pemguatan sistem agribisnis
unggulan Meningkatnya produksi dan tambah peternak, nelayan tangkap dan pertanian tanaman pangan,

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 232


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

produk perkebunan (23) pembudidaya ikan berbasis sistem perkebunan, peternakan dan
agribisnis (20) perikanan (20)
Meningkatnya produksi dan tambah
produk peternakan (24)

Meningkatnya produksi dan nilai tambah


produk perikanan (25)

Terpeliharanya ketahanan pangan dan Penguatan dukungan surplus pangan Penguatan ketahanan pangan 21)
surplus pangan dalam mewujudkan bagi ketahanan pangan nasional (21)
Pinrang sebagai poros pangan nasional
(26)

Meningkatnya kapasitas kelembagaan Peningkatan kapasitas sarana/ Pengembangan kapasitas SDM,


dan efektivitas penyelenggaraan prasarana, kelembagaan dan SDM kelembagaan dan sistem
penyuluhan pertanian, perikanan dan penyuluh pertanian, perikanan dan penyelenggaraan penyuluhan
kehutanan (27) kehutanan untuk peningkatan produksi, pertanian, perikanan dan kehutanan
pendapatan dan pelestarian lingkungan (22)
pelaku utama dan pelaku usaha (22)
15
Meningkatkan penanganan Meningkatnya kesejahteraan fakir miskin, Pelibatan multipihak dalam Penanganan fakir miskin, anak
penyandang masalah anak terlantar dan penyandang masalah meningkatkan efektivitas penanganan terlantar dan PMKS lainnya (23)
kesejahteraan sosial kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya (28) PMKS (23)

Misi 5: Memantapkan tata kelola pemerintahan dan reformasi birokrasi


16 Memantapkan kualitas sistem Meningkatnya kualitas pelayanan publik Peningkatan kapasitas kelembagaan, Peningkatan kualitas pelayanan
dan tata kelola pelayanan publik (29) sarana/prasarana dan SDM pelayanan terpadu satu pintu (24)
terpadu satu pintu (24)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 233


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Meningkatnya kapasitas pemerintahan Penguatan SDM dan kelembagaan Penguatan kapasitas pelayanan
desa (30) pemerintahan Desa (25) pemerintah desa (25)

17 Mewujudkan percepatan Meningkatnya kualitas laporan keuangan Peningkatan kapasitas SDM dan Peningkatan kualitas laporan
reformasi birokrasi daerah (31) kelembagaan pelaporan keuangan keuangan (26)
pada SKPD (26)

Meningkatnya kompetensi dan Peningkatan kompetensi SDM aparatur Peningkatan kompetensi dan
profesionalisme SDM aparatur (32) secara bersinergi dengan penempatan penempatan SDM aparatur sesuai
SDM aparatur sesuai kompetensi (27) dasar kompetensi (27)

Meningkatnya penataan dan penguatan Meningkatnya penataan struktur dan Peningkatan kualitas Struktur dan
organisasi dan tata laksana (33) tata laksana organisasi (28) kelembagaan organisasi (28)

Meningkatnya kualitas perencanaan Peningkatan kualitas isi serta proses Peningkatan kualitas perencanaa-an
pembangunan daerah (34) dan mekanisme perencanaan pembangunan daerah (29)
pembangunan daerah (29)

Meningkatnya kualitas pengawasan Peningkatan kapasitas sistem dan SDM Peningkatan kualitas pengawasan
penyelenggaraan pemerintahan dan pengawasan daerah (30) pembangunan daerah (30)
pembangunan (35)

Misi 6: Mengembangkan kawasan andalan dan integrasi pembangunan


18 Mengembangkan kawasan Berkembangan kawasan pembangunan Pengembangan kordinasi keterlibatan Pengembangan kawasan terpadu
terpadu dan cepat tumbuh terpadu agropolitan (36) multipihak berbasis rencana kawasan agropolitan dan minapolitan (31)
Berkembangnya pembangunan terpadu agropolitan dan minapolitan (31)
terpadukawasan minapolitan (37)
19 Mengembangkan sistem Meningkatnya koridor perdagangan Pengembangan terminal agribisnis bagi Pengembangan agribisnis,

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 234


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

agribisnis dan agroindustri produk unggulan (38) perdagangan produk unggulan (32) agroindustri dan koridor
perdagangan produk unggulan (32)

Misi 7: Mengoptimalkan fungsi infrastruktur dan lingkungan hidup


20 Mengoptimalkan fungsi Meningkatnya kapasitas infrastruktur Pengembangan kapasitas sarana/ Peningkatan kapasitas infra-struktur
infrastruktur wilayah perhubungan (39) prasarana perhubungan dan perhubungan dan trasportasi (33)
Meningkatnya kapasitas infrastruktur transportasi bagi pergerakan barang dan
transportasi (40) jasa serta koneksivitas antar wilayah
(33)

Meningkatnya kapasitas infrastruktur Pemeliharaan dan peningkatan fungsi Peningkatan kapasitas irigasi/
irigasi/pengairan (41) irigasi/pengairan dalam menjamin pengairan (34)
keberlanjutan pertanian dan fungsi
lainnya (34)

Meningkatnya kualitas perumahan dan Perbaikan perumahan dan pemukiman Peningkatan kualitas perumahan
permukiman (42) orang miskin (35) dan penataan pemukiman (35)

21 Memelihara daya dukung Terpeliharanya kelestarian hutan dan Pelibatan multipihak dan penegakan Pelestarian hutan dan lingkungan
lingkungan hidup lahan (43) hukum dalam pelestarian hutan dan hidup (36)
Meningkatnya kualitas lingkungan hidup lahan kritis serta lingkungan hidup (36)
(44)
Meningkatnya kapasitas penanganan Peningkatan kapasitas dan kordinasi Peningkatan kapasitas penanganan
bencana (45) antisipasi dan penangan bencana (37) bencana (37)

Meningkatnya kualitas penanganan Pelibatan masyarakat dalam Penguatan kapasitas pelayanan /


sampah dan kebersihan (46) penanganan sampah terpadu (38) penanganan sampah dan prilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS)(38)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 235


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VI Hal. 236


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

BAB VII
KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

Perumusan kebijakan umum bertujuan menjelaskan cara yang ditempuh


untuk menterjemahkan strategi ke dalam rencana program-program prioritas
pembangunan. Kebijakan Umum Pembangunan memberikan arah perumusan
rencana program prioritas pembangunan yang disertai kerangka pengeluaran
jangka menengah daerah dan menjadi pedoman bagi SKPD dalam menyusun
program dan kegiatan pada Rencana Strategis (Renstra) SKPD.
Program-program strategis yang ditampilkan pada bagian ini merupakan
program-program yang secara langsung mendukung pencapaian visi, misi
pembangunan daerah.
Berdasarkan strategi dan arah kebijakan yang telah ditetapkan, maka
kebijakan umum pembangunan jangka menengah 2014-2019 Kabupaten Pinrang
ditampilkan pada Tabel 7.1. berikut :

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VII Hal. 236
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Tabel 7.1.
Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah
Kabupaten Pinrang 2014-2019

Kondisi Kinerja Program SKPD


Indikator Kinerja
No Sasaran Strategi Kebijakan Umum Pembangunan Bidang Urusan Penanggung
(Outcome) Kondisi Awal (2014) Kondisi Akhir (2019)
Daerah jawab
Misi 1: Meningkatkan apresiasi dan pengamalan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal sebagai nilai utama kemasyarakatan dan pengembangan karakter masyarakat yang tangguh.
Terpenuhinya Kemitraan pemerintah Fasilitasi Jumlah pegawai - 1758 pegwai syara - 1780 pegawai syara Program Otonomi Bagian Kesra
kebutuhan dan dan organisasi peyelenggaraan syara,guru mengaji yang - Pemberangkatan haji - Pemberangkatan haji dan 5 Pengembangan Daerah,Pemerin (Setda)
1. fasilitas bagi keagamaan dalam ibadah dan hari diberi bantuan dan dan 5 hari hari keagamaan Kehidupan tahan Umum,
penyelenggaraan keterpenuhan sarana, keagamaan kegiatan keagamaan keagamaan setiap Beragama Adm.Keuangan
ibadah dan fasilitas dan serta peringatan hari tahun Daerah,Perangk
perayaan penyelenggara kegiatan kegamaan yang at Daerah,
keagamaan kegamaan serta difasilitasi Kepegawaian
kerukunan intra dan antar dan Persandian
umat beragama
Terpeliharanya Pembinaan Jumlah tokoh agama/ 50 org / 1 kali per tahun 50 org / 2 kali per tahun (FKUB) Program Kesatuan Kantor
toleransi dan kerukunan ummat lembaga keagamaan (FKUB) Pengembangan Bangsa dan Kesbangpol
2. kerukunan antar beragama yang difasilitasi dalam Wawasan Politik Dalam
ummat beragama penguatan kerukunan Kebangsaan Negeri
ummat beragama

Terjaganya Penggalian, pelestarian Pelestarian Jumlah kesenian daerah, Kesenian daerah= 4 Kesenian daerah= 4 jenis (musik Program Kebudayaan Dinas Sosial,
keragaman dan pengembangan keragaman budaya nilai budaya lokal dan jenis (musik bambu, bambu, symponi kecapi, tarian); Pengelolaan Kebudayaan
budaya, kekayaan keragaman dan kearifan lokal yang dibina symponi kecapi, tarian); Permain-an lokal= 5 jenis Keragaman Budaya dan Pariwisata
3. budaya dan potensi kekayaan budaya dalam dan dilestarikan Permainan lokal= 5 jenis (gasing, mattojang, mappaden-
pariwisata merespons dinamika (gasing, mattojang, dang, mallongga, massallow);
perubahan mappadendang, Nilai-nilai lokal=3 nilai utama
mallongga, massallow); (sipakatau, sipaka-lebbi,
Nilai-nilai lokal= 3 nilai sipakamase);
utama (sipakatau, Kearifan lokal = 1 aktvitas
sipakalebbi, (tudang sipulung)
sipakamase);
Kearifan lokal = 1
aktvitas (tudang
sipulung)
Pelestarian Jumlah situs, cagar dan 13 lokasi 17 lokasi Program Kebudayaan Dinas Sosial,
kekayaan budaya benda budaya yang Pengelolaan Kebudayaan
dilestarikan Kekayaan Budaya dan Pariwisata

Pengembangan Jumlah kunjugan wisata 26.503 orang 35.000 orang Program Pariwisata Dinas Sosial,
kepariwisataan domestik dan Pengembangan Kebudayaan
mancanegara destinasi pariwisata dan Pariwisata

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VII Hal. 237
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

4. Berkembangnya Menguatkan karakter Pembinaan karakter Jumlah pemuda/ Tingkat Provinsi =5 Tingkat Provinsi = 9 orang; Program Kepemudaan Dikpora
karakter pemuda, pemuda, remaja dan pemuda dan remaja remaja/siswa berprestasi orang; Tingkat Nasional Tingkat Nasional = 5 orang Peningkatan dan dan Olahraga
remaja dan masyarakat secara umum provinsi/ nasional/ = 3 orang Peran Serta
masyarakat secara internasional Kepemudaan
melalui revitalisasi adat-
umum berbasis
nilai-nilai saling istiadat dan nilai-nilai
Pembinaan olah Jumlah cabang olah raga Nasional = 1 orang; Nasional = 6 orang; Program Pembinaan Kepemudaan Dikpora
menghargai, saling saling menghargai, saling raga yang berprestasi Provinsi = 3 orang Provinsi = 10 orang dan dan Olahraga
menghormati, menghormati, saling internasional, nasional Pemasyarakatan
saling tolong tolong-menolong dan provinsi Olahraga
menolong dalam sebagai modal sosial
kebajikan (amar dalam menghadapi
ma’ruf dan nahir
dinamika perubahan.
mungkar)

Terkendalikan-nya Mendorong sinergi Penanganan Jumlah gangguan K4 10 kasus 5 kasus Peningkatan Kesatuan Kantor Satpol
ganggunan pemerintah dengan gangguan yang ditangani Pemberantasan Bangsa dan PP
5. ketertiban, seluruh lapisan, golongan ketertiban, Penyakit Masyarakat Politik dalam
ketenteraman, dan organisasi sosial ketenteraman, Negeri
keamanan dan kemasyarakatan dalam keamanan dan
kenyamanan dalam memelihara dan kenyamanan
kehidupan meningkatkan ketertiban,
masyarakat ketenteraman, Pemeliharaan Frekuensi patroli 2 kali sehari 3 kali sehari Peningkatan Kesatuan Kantor Satpol
keamanan, dan ketertiban, dalam sehari Peningkatan Bangsa dan PP
kenyamanan ketenteraman, Keamanan dan Politik dalam
keamanan dan Kenyamanan Negeri
kenyamanan Lingkungan

Misi 2: Memperkokoh toleransi dan kohesivitas sosial serta pengembangan nilai-nilai demokrasi

6. Terpeliharanya Memperkuat Deteksi dini dan Jumlah kegiatan deteksi Jumlah kegiatan FPK=1 Jumlah kegiatan FPK=2 Program Kemitraan Kesatuan Kantor
harmoni sosial dan kegotongroyongan penanganan konflik dini konflik sosial yang kali/tahun; kali/tahun; Jumlah kegiatan Pengembangan Bangsa dan Kesbangpol
kesatuan bangsa sebagai basis ketahanan sosial serta dilaksanakan dan Jumlah kegiatan FKDM=2 kali/tahun; Jumlah Wawasan Politik dalam
dalam masyarakat sosial masyarakat dalam penguatan organisasi sosial FKDM=1 kali/tahun; kegiatan Forum bela Negara= 2 Kebangsaan Negeri
bingkai kesadaran kesatuan bangsa kemasyarakatan, LSM Jumlah kegiatan Forum kal/tahun;
persatuan dan kesatuan yang ditemani bermitra bela Negara= 1 Komida= 6 kali/tahun; Program
bangsa. kal/tahun; Komida= 4 LSM = 70; Peningkatan
kali/tahun Ormas = 80 Keamanan dan
LSM = 40; Kenyamanan
Ormas = 43 Lingkungan

Program
Pemberdayaan
Masyarakat untuk

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VII Hal. 238
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Menjaga Ketertiban
dan Keamanan

Berkembangnya Mendorong kesadaran Pembinaan Persentase partisipasi Persentase partisipasi Persentase partisipasi Program Pendidikan Kesatuan Kantor
kelembagaaan berdemokrasi secara demokrasi dan masyarakat dalam masyarakat(1) Pilgub masyarakat(1) Pilgub 2018=70% Politik Masyarakat Bangsa dan Kesbangpol
7. serta proses dan substansial seiring politik Pilkada, Pilgub, Pemilu 2013=62,53% (DPT (DPT Pilgub 2018=330.000); (2) Politik Dalam
mekanisme dengan peningkatan dan Pilpres Pilgub 2013=298,236); Pilkada 2018=85% (DPT Negeri
demokrasi dan kapasitas organisasi (2) Pilkada 2013=80% Pilkada=310000); (3) Pemilu
politik yang sehat politik dan kepatuhan (DPT Pilkada=244,280); 2014 =85% (DPT Pemilu 2014=
dan fungsional bagi hukum (3) Pemilu 2014= 320.000; (4) Pilpres 2014=80%
kehidupan 272,933; (4) Pilpres (DPT Pilpres 2014=325000)
berbangsa dan 2014=67% (DPT Pilpres
bernegara 2014=276,782)
Penyelenggaraan Jumlah/% legislasi 11 Perda 30 Perda Program Otonomi Sekwan
legislasi daerah daerah yang ditetapkan Peningkatan Daerah,Pemerin
Kapasitas Lembaga tahan Umum,
Perwakilan Rakyat Adm.Keuangan
Daerah Daerah,Perangk
at Daerah,
Kepegawaian
dan Persandian

Berkembangnya Pemberdayaan Pemberdayaan Rata-rata jumlah LKD=3 klpk; LKK=3 klpk LKD= klpk; LKK=3 klpk (69 LKD; Program Pemberdayaan BPMPD
kapasitas masyarakat secara masyarakat secara kelompok masyarakat yg (69 LKD; 39 LKK) 39 LKK) Peningkatan masyarakat dan
8. masyarakat dalam berkelanjutan secara berkelanjutan dibina oleh Partisipasi Desa
pemecahan bersinergi dengan LPM/LKD/LKK melalui Masyarakat dalam
masalah lokal peningkatan kapasitas bantuan P2DM Membangun Desa
secara mandiri dan struktural-fungsional
partisipasi dalam pemerintahan desa
pembangunan

Misi 3: Meningkatkan derajat kesehatan, kualitas pendidikan dan daya saing sumberdaya manusia

Meningkatnya Meningkatnya kualitas Pelayanan Cakupan rawat jalan dan Rawat jalan=32,7%; Rawat jalan=20%; Program Kesehatan Dinas
kualitas dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar cakupan rawat inap Rawat inap=1,6% Rawat inap=1,3% Peningkatan Kesehatan
9. pelayanan kesehatan dan rujukan Pelayanan
kesehatan dasar Kesehatan
dan rujukan Masyarakat

Menigkatnya Pelayanan Angka kematian ibu; AKB = 5,9% (42) AKB = 5,4% Program Kesehatan Dinas
kualitas kesehatan ibu, anak Jumlah kematian ibu; % Jumlah Kematian Ibu= 8 Jumlah Kematian Ibu= 2 Peningkatan Kesehatan
10. pelayanan dan gizi balita gizi buruk Balita Gizi Buruk = Gizi Buruk = 3% Pelayanan
kesehatan ibu, 0,02% (7 balita) Kesehatan Anak
anak dan gizi Balita

Terwujudnya pola Meningkatkan pro-mosi Promosi kesehatan Cakupan PHBS rumah PHBS RT = 69,1% PHBS RT = 74% Program Promosi Kesehatan Dinas
hidup bersih dan kesehatan, dan pemberdayaan tangga Kesehatan dan Kesehatan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VII Hal. 239
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

11. sehat dalam pemberdayaan masyarakat dalam Pemberdayaan


masyarakat masyarakat dan kesehatan Masyarakat
kesehatan lingkungan lingkungan
Meningkatnya Melibatkan pemangku Penanganan Cakupan penemuan TB = 72,1% (569 kasus) TB = 100% Program Kesehatan Dinas
jangkauan dan kepentingan dalam penyakit menular dan penanganan DBD = 100% (309 DBD = 100% Pencegahan dan Kesehatan
12. kualitas peningkatan efektivitas dan KLB pasien baru kasus) Malaria = 100% Penanggulangan
penanganan penanganan penyakit TBC/DBD/malaria Malaria = 79 kasus HIV/AIDS = 100% Penyakit Menular
penyakit menular menular dan kejadian /HIV-Aids HIV/AIDS = 100% (13
luar biasa kasus)
Meningkatnya Mengembangkan Pemberantasan Angka Melek Huruf 99,78% 100% Program pendidikan Pendidikan Dikpora
13. tingkat melek pendidikan keakasaraan buta huruf (AMH) non formal
huruf dan minat fungsional dan fungsi
baca masyarakat perpustakaan berbasis Pengembangan Jumlah pengunjung 17.313 22.096 Program Perpustakaan Kantor
kapasitas masyarakat minat baca perpustakan Pengembangan Perpustakaan
dan pemerintah desa Budaya Baca dan dan Arsip
Pembinaan daerah
Perpustakaan

Pengembangan Jumlah SKPD yang 17 SKPD 43 SKPD Program Arsip Kantor


arsip daerah menerapkan sistem arsip Penyelamatan dan Perpustakaan
yang baku Pelestarian dan Arsip
Dokumen/Arsip daerah
Daerah

Meningkatnya Meningkatkan dan Penyelenggaraan APK PAUD 46,96% 62% Program Pendidikan Pendidikan Dikpora
akses masyarakat memeratakan akses pedidikan anak usia Anak Usia Dini
14. pada seluruh pendidikan pada seluruh dini
jenjang wilayah dan jenjang Penyelenggaraan APM SD/MI 98,65% 100% Program Wajib Pendidikan Dikpora
pendidikan pendidikan wajib belajar APM SMP/MTs 87,53% 100% Belajar Pendidikan
sembilan tahun Sembilan Tahun

Penyelenggaraan APM SMA/SMK/MA 63,92% 73,86% Program Wajib Pendidikan Dikpora


pendidikan Belajar Pendidikan
menengah dua belas tahun

Meningkatnya Meningkatkan kualitas Peningkatan Jumlah/% PTK kualifikasi Kualifikasi S1 = 3.283 Kualifikasi S1 = 3.718 guru Program Pendidikan Dikpora
kualitas pendidik/tenaga kualitas S1 dan tersertifikasi guru Peningkatan Mutu
15. pendidikan pada kependidikan dalam pendidik/tenaga Bersertifikasi = 3.718 guru Pendidik dan
seluruh jenjang pembelajaran berbasis kependidikan Bersertifikasi = 2.630 Tenaga
pendidikan teknologi informasi guru Kependidikan
dengan manajemen
berbasis sekolah yang Aplikasi teknologi Jumlah sekolah yg - SD= 18 dari 323 SD 35% Program Pendidikan Dikpora
berkualitas informasi dalam mengaplikasikan TI (5,57%) Peningkatan Mutu
proses dalam pembelajaran - SMP = 13 dari 52 80% Pendidik dan
pembelajaran SMP (25%) Tenaga
- SMA = 18 dari 18 100% Kependidikan
SMA (100%)

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VII Hal. 240
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

- SMK = 7 dari 9 SMK 100%


(77,7%)

Peningkatan Jumlah/% sekolah yg SD = 323 100% Program Pendidikan Dikpora


kualitas manajemen menerapkan MBS SMP = 52 100% Peningkatan Mutu
berbasis sekolah dengan baik SMA = 18 100% Pendidik dan
SMK = 9 100% Tenaga
Kependidikan

Meningkatnya Mendorong peningkatan Meningkatkan Jumlah tenaga 120 orang 160 orang Program Ketenagakerja Disnakertrans
16. daya saing kompetensi dan kompetensi tenaga kerja/pencari kerja yg Peningkatan Kualitas an
tenaga kerja dan kompetensi berbasis kerja mencapai peningkatan dan Produktivitas
keterlibatan masyarakat sesuai kompetensi teknis Tenaga Kerja
tenaga kerja karakteristik potensi
terdidik dalam sumberdaya lokal Mendorong lahirnya Jumlah wirausaha 1 kelompok 1 kelompok Program Ketenagakerja Disnakertrans
kemajuan wirausaha baru di pedesaan yang dilahirkan (5-10 org)tahun (5-10 org)/tahun Pengembangan an
pedesaan pedesaan Kewirausahaan
Pedesaan

Meningkatnya Pengarusutamaan Pengarusutama-an Jumlah SKPD yang 8 SKPD 32 SKPD Program Perencanaan Bappeda/
kesetaraan gender dalam kebijakan gender dalam menerapkan Perencanaan Sosial Pembangunan BKBD dan PP
17. gender dan dan penganggaran perencanaan dan perencanaan dan Budaya /Pemberdayaan
keberdayaan pemerintah serta penganggaran penganggaran berbasis Perempuan dan
perempuan kegiatan berbasis PUG Perlindungan
masyarakat Anak

Pemberdayaan Jumlah perempuan/ 34 kelompok 34 kelompok Program Pemberdayaan BKBD dan PP


perempuan dalam Kelompok perempuan Peningkatan Peran Perempuan dan
kegiatan ekonomi yang meningkat Serta Kesetaraan Perlindungan
keterampilannya dalam Gender dalam Anak
usaha ekonomi Pembangunan

Perlindungan anak Jumlah KDRT dan 30 Kasus 28 Kasus Program Pemberdayaan BKBD dan PP
kekerasan terhadap anak Peningkatan Kualitas Perempuan dan
yang difasilitasi Hidup dan Perlindungan
penyelesaiannya Perlindungan Anak
Perempuan

Meningkatnya Penyadaran keluarga Penyelenggaraan Jumlah PUS, 7.966 (60,85%) 9.161 (75,00%) Program Pelayanan Keluarga BKBD dan PP
kesejahteraan berencana dan keluarga berencana prasejahtera dan KS1 Kontrasepsi Berencana dan
18. keluarga dan kesehatan reproduksi yang mengikuti KB Keluarga
keluarga secara bersinergi dengan Sejahtera
berencana upaya peningkatan
kesejahteraan keluarga
Pembinaan % keluarga PS dan KS1 20.450 KK (21,70%) 11.161 KK (10,70) Progman Keluarga Keluarga BKBD dan PP
kesejahteraan Berencana Berencana dan

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VII Hal. 241
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

keluarga Keluarga
Sejahtera

Misi 4: Meningkatkan kemakmuran ekonomi dan kesejahteraan sosial

Berkurangnya Mengefektifkan fungsi tim Penguatan Jumlah kegiatan SKPD 101 kegiatan 135 kegiatan Program Perencanaan Bappeda/
penduduk miskin kordinasi koordinasi yg dikordinasikan dalam Perencanaan Pembangunan BPMPD
19. penanggulangan penanggulangan penanggulangan Pembangunan
kemiskinan dalam kemiskinan kemiskinan oleh TKPKD Ekonomi
perlindungan sosial,
pemberdayaan
masyarakat dan
pengembangan usaha
Meningkatnya daya Mengembangkan sarana Perbaikan Jumlah Realisasi - Rp. 633.500.747.786 Rp. 4.333.500.747.786 Program Penanaman BP2TPM
20. saing investasi dan prasarana investasi pelayanan investasi Investasi PMDN/PMA Peningkatan Iklim Modal
secara bersinergi dengan dan Realisasi
perbaikan pelayanan investasi
investasi
Jumlah Proyek - - PMDN : 594 Investor - PMDN : 4.644 Investo Program
PMDN/PMA - - PMA : 1 Investor - PMA : 11 Investor Peningkatan
- Promosi dan
Jumlah Tenaga Kerja- 2.101 orang 5.000 Orang Kerjasama Investasi
PMDN/PMA

21. Meningkatnya Menguatkan gerakan Peningkatan % koperasi aktif - 68 % (212/313) - 78 % (250/323) Program Koperasi dan Dinas Koperasi
daya saing koperasi berbasis gerakan koperasi Peningkatan kulaitas Usaha Kecil danUKM
produk koperasi masyarakat dan kelembagaan Menengah
dan usaha mikro, peningkatan kapasitas Koperasi
kecil dan teknologi/manajerial
menengan UMKM
(UMKM)

Peningkatan Jumlah dan prosentase - 85 UMKM / 1192 dan 500 UMKM / 3692 dan 13 % Program Koperasi dan Dinas Koperasi
kapasitas UMKM UMKM yang telah dibina 7% Pengembangan Usaha Kecil danUKM
Kewirausahaan dan Menengah
Keunggulan
kompetitif usaha
kecil menengah

Meningkatnya Penguatan kapasitas Peningkatan Jumlah dan nilai produksi - Padi: 604.975 ton - Padi: 624.910 ton Program Pertanian Dinas Pertanian
produksi dan nilai teknologi dan kapasitas produksi pertanian tanaman pangan utama Nilai: Rp. Nilai: Rp. 3.437.005.000 Peningkatan dan Peternakan
22. tambah produk kelembagaan petani, 2.117.412.500 - Jagung: 102.868 ton Produksi Pertanian
pertanian peternak, nelayan - Jagung: 94.942 ton Nilai Rp. 462.906.000
tangkap dan Nilai Rp. 256.343.400
pembudidaya ikan
berbasis sistem agribisnis

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VII Hal. 242
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

Jumlah dan Niai - Cabe Besar: 402 ton - Cabe Besar: 689 ton dgn Nilai
Produksi Tanaman dgn Nilai Produksi Rp. Produksi Rp. 5.167.500.000
Hortikultura Unggulan 3.015.000.000 - Cabe Rawit: 307 ton dgn Nilai
- Cabe Rawit: 180 ton Produksi Rp. 1.535.000.000
dgn Nilai Produksi Rp. - Bawang Merah: 215 ton dgn
900.000.000 Nilai Produksi Rp.
- Bawang Merah: 125 2.365.000.000
ton dgn Nilai Produksi - Tomat: 476 ton dgn Nilai
Rp. 6.875.000.000 Produksi Rp. 1.428.000.000
- Tomat: 279 ton dgn - Pisang: 30.329 ton dgn Nilai
Nilai Produksi Rp. Produksi Rp. 45.493.500.000
837.000.000 - Salak: 2.795 ton dgn Nilai
- Pisang: 17.682 ton Produksi Rp. 12.577.500.000
dgn Nilai Produksi Rp. - Rambutan: 2.439 ton dgn Nilai
26.523.000.000 Produksi: 10.975.500
- Salak: 1.645 ton dgn - Durian: 2.222 ton dgn Nilai
Nilai Produksi Rp. Produksi Rp. 13.332.000.000
7.402.500.000 - Mangga: 20.364 ton dgn Nilai
- Rambutan: 1.423 ton Produksi Rp. 91.638.000.000
dgn Nilai Produksi: - Semangka: 103 ton dgn Nilai
6.403.500.000 Produksi Rp. 566.500.000
- Durian: 1.297 ton dgn
Nilai Produksi Rp.
7.782.000.000
- Mangga: 11.873 ton
dgn Nilai Produksi Rp.
53.428.500.000
- Semangka: 61 ton
dgn Nilai Produksi Rp.
335.500.000

23. Meningkatnya Peningkatan Jumlah dan nilai produksi Kakao: 14.109 ton Kakao: 19.356 ton Peningkatan Pertanian Dinas
produksi dan nilai produksi tanaman perkebunan Kopi: 2.583 ton Kopi : 3.100 ton produksi perkebunan Kehutanan dan
tambah produk perkebunan utama Perkebunan
perkebunan

Meningkatnya Peningkatan Jumlah dan Nilai - Daging: 412 ton - Daging: 607 ton dengan Nilai Program Peternakan Dinas Pertanian
24. produksi dan nilai produksi Produksi Daging dan dengan Nilai Produksi Produksi Rp. 57.665.000.000 Peningkatan dan Peternakan
tambah produk peternakan Telur Rp. 32.960.000.000 Produksi Hasil
peternakan Peternakan
- Telur: 25.199 ton dengan Nilai
- Telur: 21.310 ton Produksi Rp. 377.985.000.000
dengan Nilai Produksi
Rp. 319.650.000
Meningkatnya Peningkatan Jumlah dan nilai produksi - Volume Produksi - Volume Produksi perikanan - Program Kelautan dan Dinas Kelautan
produksi dan nilai produksi perikanan perikanan tangkap dan perikanan Budidaya Budidaya = 56.287,03ton Penigembangan Perikanan dan Perikanan
25. tambah produk perikanan budidaya = 33.374 ton - Nilai Produksi = Rp. Budidaya

RPJMD Kabupaten Pinrang Tahun 2014 - 2019 Bab VII Hal. 243
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2014-2019

perikanan - Nilai Produksi = Rp. 1.299.370.855 Perikanan


551.336.800
- Volume produksi perikanan
- Volume produksi tangkap = 12.662,95 ton - Program
perikanan tangkap = Nilai Produksi = Rp. 168.417.235 Pengembangan
12.016,41 ton Perikanan
- Nilai Produksi = Rp. Tangkap
120.164.100
26. Terpeliharanya Penguatan dukungan Penguatan Jumlah cadangan 30 Ton 90 Ton Program Ketahanan Kantor
ketahanan surplus pangan bagi cadangan pangan pangan yg didistribusikan Peningkatan Pangan Ketahanan
pangan dan ketahanan pangan dan distribusi untuk menunjang Ketahanan Pangan Pangan
surplus pangan nasional pangan ketahanan pangan
dalam nasional
mewujudkan
Pinrang sebagai
poros pangan
nasional

Meningkatnya Peningkatan kapasitas Peningkatan Kelas kelompok tani Kelas Pemula= 1.391 Kelas Pemula= 1.087 Program Penyuluhan Pertanian BP4K
kapasitas sarana/prasarana, kualitas Kelas Madya= 146 Kelas Madya= 442 Peningkatan
27. kelembagaan dan kelembagaan dan SDM penyelenggaraan Kelas Lanjut= 116 Kelas Lanjut= 124 Kesejahteraan
efektivitas penyuluh pertanian, penyuluhan Kelas Utama= 29 Kelas Utama= 29 Petani
penyelenggaraan perikanan dan kehutanan
penyuluhan untuk peningkatan Penguatan klinik Jumlah klinik pertanian Klinik Pertanian = 4 unit Klinik Pertanian = 12 unit Program Penyuluhan Pertanian BP4K
pertanian, produksi, pendapatan pertanian terpadu terpadu yg berfungsi Peningkatan
perikanan dan dan pelestarian dengan baik Penerapan
kehutanan lingkungan pelaku utama Teknologi Pertanian
dan pelaku usaha
Meningkatnya Pelibatan multipihak Peningkatan Jumlah PMKS yang - Fakir Miskin = 42 KK - Fakir Miskin = 192 KK Program Sosial Dinas Sosial,
kesejahteraan fakir dalam meningkatkan kualitas rehabilitas ditangani - Anak Terlantar= 250 - Anak Terlantar= 250 orang Pemberdayaan fakir Kebudayaan
28. mis