You are on page 1of 14

TUGAS ANALISIS MAKANAN DAN KOSMETIKA

ANALISIS PEWARNA PADA SEDIAAN KOSMETIKA
Identifikasi Zat Warna Rhodamin B pada Lipstick Menggunakan Metode
Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

OLEH:
Ida Ayu Putu Surya Dewi 1508505040

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2018

Penggunaan kosmetik semakin meningkat seiring dengan bertambahnya produksi kosmetik dalam negeri maupun luar negeri. Keinginan untuk ingin selalu tampil cantik membuat banyak diantara mereka menggunakan berbagai macam kosmetika untuk dapat meningkatkan kualitas penampilannya. Seiring dengan perkembangan zaman. acetoglycerides. bahan pengawet. BAB I PENDAHULUAN 1. Namun kerap kali ditemukan bahan tambahan yang berbahaya yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam produk kosmetika tersebut. Kosmetik adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis. surfaktan. mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik (BPOM RI. rambut.1 Latar Belakang Penggunaan produk kosmetika kini telah menjadi kebutuhan di kalangan masyarakat. Pewarna pada lipstik berdasarkan sumbernya ada 2 yaitu. kuku. lemak. mewangikan. Lipstik adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah. perona wajah. bahan-bahan utama dalam lipstik yaitu lilin. akan tetapi banyak oknum-oknum . banyak sekali beredar sediaan kosmetika jenis pemutih. bahan pewangi. dan kosmetika yang berperan untuk keindahan kulit wajah lainnya. antioksidan. tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi pada bibir. minyak. Salah satu produk yang ditemukan mengandung bahan tambahan berbahaya adalah sediaan kosmetika lipstick. sediaan kosmetika tersebut sering ditambahkan bahan tambahan untuk menambah nilai artistik dan daya jual produknya. Bahan pewarna ditambahkan dalam lipstik untuk menambah daya tarik konsumen terhadap produk tersebut. zat-zat pewarna. terutama bagi kaum wanita. Menurut Tranggono dan Latifah (2007). 2003). Di pasaran. pewarna alami dan pewarna sintesis. pewarna bibir. bibir dan organ genital bagian luar) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk membersihkan.

dan sensitifitasnya tinggi.3. Salah satu metode yang dapat digunakan yaitu metode analisis kromatografi lapis tipis (KLT).2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut. 1.3 Tujuan Berikut merupakan tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu: 1..1 Untuk mengetahui preparasi sampel yang dilakukan dalam melakukan analisis rhodamin B pada sampel lipstick dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis. maka dapat dirumuskan permasalahan berikut. maka dilakukan suatu penelitian quality control terhadap Rhodamine B dalam sediaan kosmetika yaitu lipstick menggunakan suatu metode analisis yang akurat.2. Rhodamin B yaitu zat pewarna berupa serbuk kristal berwarna hijau atau ungu kemerahan. tidak berbau. cat. 2011). mudah.2. cepat.3. kertas atau pakaian (Khan.yang tidak bertanggungjawab menambahkan pewarna berbahaya pada sediaan lipstik seperti rhodamin B. Berdasarkan latar belakang tersebut. Penggunaan rhodamin B tentunya berbahaya bagi kesehatan. 1. serta mudah larut dalam larutan warna merah terang berfluoresan digunakan sebagai bahan pewarna tekstil.1 Bagaimanakah preparasi sampel yang dilakukan dalam melakukan analisis rhodamin B pada sampel lipstick dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis? 1. Penumpukkan rhodamin B dilemak dalam jangka waktu yang lama jumlahnya terus menerus bertambah di dalam tubuh dan dapat menimbulkan kerusakan pada organ tubuh sampai mengakibatkan kematian. et al.2 Untuk mengetahui cara identifikasi rhodamin B pada sampel lipstick dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis. antara lain: 1.2 Bagaimanakah cara identifikasi rhodamin B pada sampel lipstick dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis? 1. .

1 Agar dapat mengetahui preparasi sampel yang dilakukan dalam melakukan analisis rhodamin B pada sampel lipstick dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis.4 Manfaat Berikut merupakan manfaat dari pembuatan makalah ini yaitu: 1.1. 1.4.2 Agar dapat mengetahui cara identifikasi rhodamin B pada sampel lipstick dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis. .4.

tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi pada bibir (Depkes RI. dan organ genital bagian luar). dan segar pada bibir (Depkes RI. lemak. bibir.1 Kosmetika (Lipstik) Menurut Peraturan BPOM RI No HK. memperbaiki bau badan atau melindungi dan memelihara tubuh pada kondisi baik (BPOM RI.11. mengubah rupa dan menutupi kekurangan apabila digunakan secara tepat. Suhu lebur lipstik dibuat lebih tinggi. 2. Tujuan penambahan zat warna pada lipstik adalah memberikan warna yang cerah. Secara garis besar. bahan pengawet. Salah satu zat utama dalam formulasi lipstik adalah zat warna (Atmadja dan Syarif. BAB II ISI 2.2 Bahan Pewarna (Rhodamin B) . Salah satu faktor yang harus diperhatikanpada lipstik adalah faktor ketahanan terhadap suhu cuaca disekelilingnya. 1998). atau gigi dan membran mukosa mulut.08. kosmetika adalah bahan atau sediaan yang digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis. 2001). terutama untuk membersihkan.23.1. surfaktan. bahan-bahan utama dalam lipstik yaitu lilin. rambut.terutama suhu daerah tropik. 2011). Menurut Tranggono dan Latifah (2007). zat-zat pewarna.07331 Tahun 2011 tentang metode analisis kosmetika. 1998). acetoglycerides. 1997). mengubah penampilan. Suhu lebur lipstik yang ideal yaitu mendekati suhu bibir (36-38oC). Lipstik adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah. Warna lipstik dapat menambah daya tarik. yaitulebih kurang 62 oC. mewangikan. lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam pembawa yang terbuat dari campuran lilin dan minyak dalam komposisi yang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikehendaki. antioksidan. minyak. biasanya berkisar antara 55- 75oC (Ditjen POM RI. kuku.03. bahan pewangi.

kertas atau pakaian (Khan. Sedangkan uncertified color adalah zat pewarna yang berasal dari bahan alami. 2008). Rhodamin B termasuk zat pewarna sintetik yang dilarang pemakaiannya di Indonesia Rhodamin B yaitu zat pewarna berupa serbuk kristal berwarna hijau atau ungu kemerahan. Namun sering kali digunakan zat pewarna sintetik yang tidak diijinkan penggunaannya dalam kosmetik. cat. 2011). serta mudah larut dalam larutan warna merah terang berfluoresan digunakan sebagai bahan pewarna tekstil. tidak berbau. sukar larut dalam asam encer dan dalam larutan alkali. Larutan dalam asam kuat membentuk senyawa dengan kompleks antimon berwarna merah muda yang larut dalam isopropil eter (Budavari. et al. dkk. Berikut merupakan struktur kimia rhodamin B: Gambar 1. Zat pewarna dibagi menjadi dua kelompok yaitu zat certified color dan uncertified color.. Struktur Kimia Rhodamin B 2. Sangat mudah larut dalam alkohol.. Rhodamine B memiliki berat molekul 479 gram/mol. Rhodamin B dapat mengiritasi saluran pernapasan dan juga bersifat karsinogenik atau memacu pertumbuhan sel kanker jika digunakan terus menerus (Alhamedi. Rhodamine B Sangat mudah larut dalam air menghasilkan larutan merah kebiruan dan berfluoresensi kuat jika diencerkan. salah satunya yaitu Rhodamin B. 2009). Certified color merupakan zat pewarna sintetik yang diijinkan penggunaannya dalam kosmetik. 1996). Bahan pewarna adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk memberi atau memperbaiki warna pada kosmetik (BPOM RI.3 Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan metode pemisahan komponen- komponen berdasarkan perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fase diam di bawah .

Pemilihan fase gerak didasarkan pada keterpisahan senyawa-senyawa dalam analit yang didasarkan pada nilai Rf dan hRf.4 Analisis kualitatif dan kuantitatif rhodamin b pada lipstick Metode analisis yang dapat digunakan untuk melakukan quality control terhadap zat pewarna rhodamin dalam sediaan kosmetika lipstick adalah metode KLT. dan memerlukan waktu yang singkat. mudah. 2004). 1995). jarak elusi analit dari titik awal penotolan hR f   100 jarak muka pelarut dari titik awal penotolan (Gandjar dan Rohman. Pada penelitian ini digunakan metode analisis kromatografi lapis tipis (KLT) untuk memastikan bahwa rhodamin B memang terdapat pada sampel lipstick yang diuji. . Fase diam pada KLT merupakan lapisan yang seragam pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca. 2007). atau plat plastik. 2007). Fase gerak akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik (ascending). Metode analisis kromatografi lapis tipis ini sudah pernah digunakan dalam menganalisis rhodamin B pada sediaan kosmetika dikarenakan murah. Fase gerak merupakan campuran eluen dari beberapa eulen dengan polaritas yang sesuai. Prinsip KLT didasarkan pada perbedaan laju migrasi masing-masing molekul senyawa diantara fase diam dan fase gerak yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti adsorpsi atau partisi pada fase diam. kelarutan dalam cairan partisi dan pelarut pembilas. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam. serta polaritas dari cairan partisi dan pelarut (Satiadarma. Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 µm. atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan secara menurun (descending) (Gandjar dan Rohman. Perhitungan nilai hRf ditunjukkan dengan persamaan dibawah ini. maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efisiensi dan resolusinya.gerakan eluen (Mulja dan Suharman. Nilai Rf diperoleh dari membagi jarak pusat kromatografik dari titik awal dengan jarak pergerakan pelarut dari titik awal. 2. plat aluminium.

labu erlenmeyer. Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi penguapan dari metanol. dkk. gelas kimia. pensil. Sedangkan penambahan metanol dimaksudkan sebagai pelarut organik yang bersifat polar dan memiliki titik didik yang rendah sehingga dapat dengan mudah melarutkan zat-zat organik yang bersifat polar dalam sampel lipstick (Purniati. penangas air. desikator. labu ukur. Penggunaan natrium sulfat anhidrat ini dimaksudkan untuk menyerap air hasil pemanasan (Purniati. plat KLT. pipet tetes. 2015). mistar. dkk. zat warna pembanding atau baku rhodamin B. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu enam jenis sampel lipstik yang akan dianalisis.. Proses analisis rhodamine B dalam sampel lipstick diawali dengan proses preparasi sampel meliputi pembuatan larutan uji. . natrium sulfat anhidrat. Adapun alat yang digunakan dalam penelitian analisis rhodamin B pada sampel lipstick menggunakan metode KLT yaitu botol semprot. Setelah ditambahkan HCl 4 M dan metanol. kertas Whatman. dilakukan peleburan di atas penangas air sampai cuplikan sampel tersebut mencair.. larutan baku pembanding. Kemudian dilakukan penyaringan menggunakan kertas saring yang telah berisi natrium sulfat anhidrat dan filtrat yang dihasilkan kemudian dipekatkan kembali di atas penangas. . Proses peleburan dilakukan dengan menggunakan gelas kimia yang ditutup dengan aluminium foil. batang pengaduk. cawan penguap. Proses pembuatan larutan uji dilakukan dengan cara sebanyak 2 gram masing-masing cuplikan lipstick diletakkan dalam gelas kimia 50 mL yang berbeda.. timbangan listrik. chamber. serta menstabilkan rhodamin B agar tidak berubah dari bentuk terionisasi menjadi bentuk netralnya. kemudian masing-masing ditambahkan 16 tetes larutan asam klorida (HCl) 4 M dan 20 mL metanol. Penambahan HCl 4 M tersebut dimaksudkan untuk mengatur pH larutan dan mendestruksi senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel lipstick. oven. n-butanol. pipa kapiler. Penyaringan tersebut dimaksudkan untuk memisahkan zat warna rhodamin dari senyawa-senyawa pengotor yang terdapat pada lipstick. aquades. Keenam filtrat yang sudah pekat tersebut dimasukkan ke dalam vial dan diberikan label. kertas saring. HCl. dkk. dan larutan campuran. corong. methanol. 2015). etil asetat (Purniati. gelas ukur. lampu UV. 2015).

Kontrol positif dibuat dengan cara sebanyak 50 mg baku pembanding rhodamin B dilarutkan dengan 10 mL metanol.. Hasil identifikasi warna secara visual (Purniati. dilanjutkan dengan pembuatan larutan baku pembanding yang meliputi larutan baku pembanding kontrol positif dan kontrol negatif. langkah selanjutnya yaitu pembuatan larutan campuran yang terdiri dari sejumlah volume yang sama dari larutan uji dan larutan baku pembanding yang dicampurkan kemudian dihomogenkan (Purniati.. maka dilakukan analisis kualitatif atau identifikasi terlebih dahulu untuk mengetahui ada tidaknya rhodamin B dalam sampel. 2015) . kemudian dikocok hingga larut. dimana metode KLT tersebut juga dapat sekaligus digunakan untuk analisis kuantitatif. Sebelum dilakukan analisis kuantitatif. dkk. dkk. 2015). Hasil yang diperoleh dari identifikasi secara visual tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: NO LARUTAN WARNA LARUTAN KETERANGAN SECARA VISUAL 1 Kontrol Positif Merah muda Positif (larutan baku pembanding) 2 Larutan campuran Merah muda Positif 3 Larutan uji 1 Oranye Negatif 4 Larutan uji 2 Ungu kemerahan Negatif 5 Larutan uji 3 Merah Negatif 6 Larutan uji 4 Merah Negatif 7 Larutan uji 5 Oranye Negatif 8 Larutan uji 6 Oranye Negatif Tabel 1. Sedangkan kontrol negatif hanya terdiri dari metanol murni sebanyak 5 mL. Identifikasi secara visual dilakukan dengan membandingkan warna dari keenam larutan uji atau sampel dan larutan campuran dengan warna larutan baku pembandingnya. Identifikasi rhodamin B dalam sampel lipstick dapat dilakukan dengan cara membandingkan warna larutan secara visual dan dengan menggunakan metode KLT. Setelah pembuatan larutan uji.

2015) Selain warna noda yang diamati pada sinar UV 254 nm. dkk. Nilai Rf yang diperoleh dari larutan campuran dan keenam larutan uji dibandingkan dengan nilai Rf dari larutan baku pembanding. warna noda yang dihasilkan ketika dilakukan pengamatan dibawah sinar UV 254 nm yaitu oranye.. identifikasi rhodamin juga dapat dilihat dari nilai Rf yang diperoleh. kemudian dielusi dalam chamber yang telah dijenuhkan dengan fase gerak etil asetat : n-butanol : amoniak (55 : 20 : 25). hasil identifikasi yang diperoleh menggunakan metode KLT dapat dilihat pada tabel berikut: NO LARUTAN WARNA LARUTAN KETERANGAN (sinar UV 254 nm) 1 Kontrol Positif Oranye Positif (larutan baku pembanding) 2 Larutan campuran Oranye Positif 3 Larutan uji 1 Ungu kecoklatan Negatif 4 Larutan uji 2 Ungu Negatif 5 Larutan uji 3 Kecoklatan Negatif 6 Larutan uji 4 Kecoklatan Negatif 7 Larutan uji 5 Abu kecoklatan Negatif 8 Larutan uji 6 Abu kecoklatan Negatif Tabel 2. Hasil identifikasi berdasarkan warna spot noda (Purniati. larutan campuran dan keenam larutan uji ditotolkan pada plat KLT. Pada penelitian kali ini. Berdasarkan pustaka. Sedangkan identifikasi rhodamin B menggunakan metode KLT dilakukan dengan cara larutan baku pembanding. Hasil identifikasi berdasarkan nilai Rf dapat dilihat pada tabel berikut: NO LARUTAN NILAI Rf KETERANGAN . Setelah selesai dielusi maka dilakukan pengamatan dibawah sinar UV 254 nm.

Hasil identifikasi berdasarkan nilai Rf yang diperoleh (Purniati. .50 Negatif Tabel 3.58 Negatif 4 Larutan uji 2 0.72 Positif pembanding) 2 Larutan campuran 0. disimpulkan bahwa keenam larutan uji tersebut tidak mengandung zat warna berbahaya yaitu rhodamin B. dkk. 1 Kontrol Positif (larutan baku 0..65 Negatif 7 Larutan uji 5 0.46 Negatif 5 Larutan uji 3 0. 2015) Berdasarkan hasil identifikasi yang telah dilakukan di atas.68 Negatif 6 Larutan uji 4 0.71 Positif 3 Larutan uji 1 0.49 Negatif 8 Larutan uji 6 0.

.1 Preparasi sampel yang dapat dilakukan untuk menganalisis rhodamin B pada sampel lipstick yaitu dengan cara penambahan HCl 4 M dan metanol yang kemudian dilebur dan disaring dengan kertas saring yang berisi natrium sulfat anhidrat lalu dipekatkan. 3. BAB III PENUTUP 3.2 Identifikasi rhodamin B pada lipstick menggunakan metode KLT dapat dilihat dari warna spot atau noda yang dihasilkan ketika diamati dibawah sinar UV 254 nm dan dilihat dari harga Rf yang dihasilkan.1.1.1 Kesimpulan 3.

Desalination. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK.1.1745 Tentang Kosmetik. 2009. G.H. Wasita. The Merck Index. Rauf. Eleven Edition.00.. J. & S. pp. Universitas Indonesia Press.00. S. Ashraf. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor Hk. 3(10). Jakarta: Direktorat Jendral Pengawas Obat dan Makanan. 1995. Jakarta.42.Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. 286-297. Zat Warna. Budavari. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. Metode Analisis PPOMN. Mulja. 2011. of Toxicology and Environmental Health Sciences.Sangeeta Sharma and Imran Ali. BPOM RI.1018 Tentang Bahan Kosmetik. 1– 3. An Encylopedia of Chemical. Gandjar. Atmadja.23. Depkes RI.4. dan A. Surabaya: Airlangga University Press. Kimia Farmasi Analisis.05. Vol. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. I. 2011. Kinetic and Thermodynamic Studies. . 03. no. Zat pengawet dan Tabir Surya Pada Kosmetik. Drugs and Biologicals. Tentang Bahan. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor HK. A. dan Suharman. Ditjen POM RI. 2001. Sub Stratum. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. USA: Merck & Co Ink Rahway. M. Khan. 1997. Analisis Instrumental. BPOM RI. 238. 445/Menkes/Per/V/1998. pp. vol. M.11. S. 159–166. 1998.F. Adsorption of Rhodamine B Dye from Aqueous Solution onto Acid Activated Mango (Magniferaindica) Leaf Powder: Equilibrium. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2003.DAFTAR PUSTAKA Alhamedi. Degradation studies of Rhodamine B in the presence of UV/H2O2. & Syarif M. 2008. Rohman. Jakarta BPOM RI.Tabrez A.07331 Tahun 2011 Tentang Metode Analisis Kosmetika. 1996.05. 2007.08.

R. Edisi Pertama. I. Azas Pengembangan Prosedur Analisis. Cetakan Pertama. N. Latifah. K.Purniati. Kim. K. 2004. Surabaya: Airlangga University Press. Satiadarma. J. Akad. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Identification Of Rhodamin B On Lipsticks In The Market In Palu City. Jakarta : PT. 4 (3). . Vol. Ratman. Tranggono. 2015.. dan M.R. dan F. Gramedia.. Jura.