You are on page 1of 8

BAB III

DISKUSI KASUS

Tonsil merupakan kumpulan jaringan limfoid yang banyak mengandung limfosit
dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Tonsil terletak pada kerongkongan di
belakang kedua ujung lipatan belakang mulut. Ia juga bagian dari struktur yang disebut
Ring of Waldeyer ( cincin waldeyer ). Kedua tonsil terdiri juga atas jaringan limfe,
letaknya di antara lengkung langit-langit dan mendapat persediaan limfosit yang
melimpah di dalam cairan yang ada pada permukaan dalam sel-sel tonsil.5
Gambar 1 : Anatomi tonsil

Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang disebabkan oleh virus
(40−60%), bakteri (5−40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Faringitis bisa
disebabkan oleh virus maupun bakteri :3
a. Faringitis virus
Dapat disebabkan oleh Rinovirus, Adenovirus, Epstein Barr Virus (EBV), Virus
influenza, Coxsachievirus, Cytomegalovirus dan lain-lain. Gejala dan tanda

13

Pada adenovirus juga menimbulkan gejala konjungtivitis terutama pada anak. bila skor 1−3 maka pasien memiliki kemungkian 40% terinfeksi Streptococcus ß 14 . Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar. biasanya terdapat demam disertai rinorea. Virus influenza. yaitu :  Demam  Anterior Cervical lymphadenopathy  Eksudat tonsil  Tidak adanya batuk Tiap kriteria ini bila dijumpai di beri skor satu. kenyal dan nyeri apabila ada penekanan. Faringitis yang disebabkan HIV-1 menimbulkan keluhan nyeri tenggorok. sulit menelan. faring dan tonsil hiperemis dan terdapat eksudat dipermukaannya. Kelenjar limfa leher anterior membesar. Beberapa hari kemudian timbul bercak petechiae pada palatum dan faring. Bila skor 0−1 maka pasien tidak mengalami faringitis akibat infeksi Streptococcus ß hemolyticus group A. kadang-kadang disertai demam dengan suhu yang tinggi. Faringitis bakterial Infeksi Streptococcus ß hemolyticus group A merupakan penyebab faringitis akut pada orang dewasa (15%) dan pada anak (30%). Terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh terutama retroservikal dan hepatosplenomegali. Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Coxsachievirus dan Cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah. Faringitis akibat infeksi bakteri Streptococcus ß hemolyticus group A dapat diperkirakan dengan menggunakan Centor criteria. mual. Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis. terdapat eksudat. Coxsachievirus dapat menimbulkan lesi vesikular di orofaring dan lesi kulit berupa maculopapular rash. nyeri menelan. b. nyeri tenggorok. jarang disertai batuk. Gejala dan tanda biasanya penderita mengeluhkan nyeri kepala yang hebat. mual dan demam. muntah. Epstein bar virus menyebabkan faringitis yang disertai produksi eksudat pada faring yang banyak.

lalu akan mengikis epitel sehingga jaringan limfoid superfisial bereaksi dan akan terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. bakteri ataupun virus dapat secara langsung menginvasi mukosa faring dan akan menyebabkan respon inflamasi lokal. Pada stadium awal terdapat hiperemis. Pada pemeriksaan tampak plak putih di orofaring dan mukosa faring lainnya hiperemis. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning. Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior atau yang terletak lebih ke lateral akan menjadi meradang dan membengkak. Pembiakan jamur ini dilakukan dalam agar sabouroud dextrosa. Dengan keadaan hiperemis.6 15 . Pada awalnya eksudat bersifat serosa tapi menjadi menebal dan kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. hemolyticus group A dan bila skor empat pasien memiliki kemungkinan 50% terinfeksi Streptococcus ß hemolyticus group A. Faringitis fungal Candida dapat tumbuh di mukosa rongga mulut dan faring. Iritasi makanan yang merangsang sering merupakan faktor pencetus atau yang memperberat Patofisiologi pada faringitis yang disebabkan infeksi. putih atau abu-abu akan didapatkan di dalam folikel atau jaringan limfoid. pembuluh darah dinding faring akan melebar. Gejala dan tanda biasanya terdapat keluhan nyeri tenggorok dan nyeri menelan. Virus-virus seperti Rhinovirus dan Coronavirus dapat menyebabkan iritasi sekunder pada mukosa faring akibat sekresi nasal. Kuman akan menginfiltrasi lapisan epitel. kemudian edema dan sekresi yang meningkat. c.

Pasien gemar mengkonsumsi snack dan minuman dingin saat dirumah. Untuk mencapai hasil yang akurat. pangambilan apus tenggorok dilakukan pada daerah tonsil dan dinding faring posterior.7 Pada saat ini terdapat metode yang cepat untuk mendeteksi antigen Streptococcus grup A(rapid antigen detection test). tonsil membesar yaitu T2/T2 hiperemis. Kriteria standar untuk penegakan diagnosis infeksi GABHS adalah persentase sensitifitas mencapai 90−99%. faring hiperemis. Baku emas penegakkan diagnosis faringitis bakteri atau virus adalah melalui pemeriksaan kultur dari pemeriksaan apusan tenggorokan.serta nyeri tenggorokan. Dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan suhu pasien tinggi. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. tanpa disertai batuk dan pilek. Dari anamnesis didapatkan pasien sudah hari ke-2 menderita demam. Kultur tenggorok sangat penting bagi penderita yang lebih dari sepuluh hari. Patofisiologi Faringitis Akut Diagnosis pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis. Gambar 2.. Spesimen diinokulasi pada agar darah dan ditanami disk antibiotik. Metode uji cepat ini mempunyai 16 .

beberapa kepustakaan menyarankan terapi kedua.sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi (90-95%) dan hasilnya dapat diketahui dalam 10 menit. Terapi farmakologis meliputi :8 1. eritromisin estolat 20-40 mg/kgBB/hari.000 IU (BB >30 kg). dan dapat diterapi dengan antibiotik secara empirik dengan atau tanpa melakukan kultur. 3. pemeriksaan kultur tidak dilakukan. hasil validasi streptococcus menunjukkan risiko infeksi oleh bakteri terutama streptococcus sebesar 51-53%. Sehingga lebih mengarah ke bakteri. dengan pilihan obat oral klindamisin 20-30 mg/kg/hari selama 10 hari. Amoksisilin dapat digunakan sebagai pengganti penisilin pada anak yang lebih kecil. dengan dosis 50 mg/kg/hari dibagai 2 selama 6 hari. Apabila hasil kultur kembali positif. dengan pemberian 2. Pada infeksi berulang perlu dilakukan kultur kembali. Pemeriksaan kultur maupun RADT tidak dilakukan melihat skor validasi streptococcus diperoleh 4. Pada anak yang alergi penisilin dapat diberikan eritromisin suksinat 40 mg/kgBB/hari.200. leukosit terjadi peningkatan. Rapid antigen detection test tidak sensitif terhadap Streptococcus Group C dan G atau jenis bakteri patogen lainnya. sehingga metode ini setidaknya dapat digunakan sebagai pengganti pemeriksaan kultur. Pemberian antibiotik.000 IU (BB <30 kg) dan 1. Pada pasien ini. atau 4 kali perhari selam 10 hari. Jumlah leukosit yang meningkat biasanya menandakan infeksi bakteri. yang artinya risiko infeksi streptococcus berkisar 51-53%. Sehingga penyebab pasti tonsilofaringitis pada pasien ini belum dapat ditentukan secara pasti. Antibiotik pilihan pada terapi faringitis akut Streptococcus β-hemolitikus grup A adalah penisilin V oral 15-30 mg/kg/ hari dibagi 3 dosis selama 10 hari atau benzatin penisilin G IM dosis tunggal dengan dosis 600. Menurut IDAI penyebab terbanyak tonsilofaringitisakut pada anak adalah infeksi Streptococcus  hemolyticus grup A. Atau injeksi benzathine penisilin G 17 . amoksisilin klavulanat 40 mg/kg/hari terbagi menjadi 3 dosis selama 10 hari.3 Tatalaksana tonsilofaringitis meliputi terapi non-farmakologis dan farmakologis.3 Dari pemeriksaan laboratoriun darah.

pasien dapat diedukasi untuk memakan makanan dengan konsistensi lunak.200. mempertahankan hidrasi yang cukup. pada anak dapat diberikan untuk meringankan keluhan nyeri tenggorokan. yang memiliki risiko ringan terkena demam reumatik. kemungkinan pasien merupakan pasien karier. Selain itu. Tonsilektomi adalah efektif untuk mengurangi frekuensi infeksi.000 IU (BB >30 kg). Indikasi lainnya adalah bila terjadi obstructive sleep apnea. Bila setelah terapi kedua kultur tetap positif. intramuscular. Bila ada infeksi aktif. Untuk terapi non-farmakologis pada pasien diberikan edukasi untuk istirahat yang cukup. lima atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik setiap tahun selama 2 tahun sebelumnya. 2.3 Terapi bedah yaitu tonsilektomi dan atau adenoidektomi dilakukan dengan indikasi yang bervariasi. Golongan tersebut tidak memerlukan terapi tambahan.000 IU (BB <30 kg) dan 1. bisa diberikan parasetamol dengan dosis 10 – 15 mg/kgbb/kali. dan menjaga kebersihan rongga mulut agar tidak terjadi infeksi sekunder yang dapat terjadi akibat menurunnya sistem imun lokal. Apabila terdapat nyeri yang berlebih dan demam dapat diberikan analgesikdan antipiretik. Pemberian gargles (obat kumur) dan lozengen (obat hisap). Kriteria tonsilektomi berdasarkan Children’s Hospital of Pittsburgh Study. tonsilektomi harus ditunda hingga 2-3 minggu. yaitu tujuh atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik pada tahun sebelumnya. apabila pasien mengeluhkan asupan makanan yang berkurang akibat keluhan nyeri menelan. dan keluhan tonsilitis kronik. dan tiga atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik setiap tahun selama 3 tahun sebelumnya.5 18 . Tonsilektomi sedapat mungkin dihindari pada anak berusia dibawah 3 tahun. 3. nyeri tenggorok persisten atau rekuren dan limfadenitis servikalis rekuren. dosis tunggal 600.

peritonsillar sellulitis. Pemberian terapi yang tepat umumnya akan memberikan prognosis baik. abses retrofaringeal dan obstruksi saluran pernasafan akibat dari pembengkakan laring. demam reumatik akut. toxic shock syndrome. namun bila sudah terjadi komplikasi khususnya komplikasi secara hematogen dan tidak tertangani dengan baik dapat memberikan prognosis buruk. Komplikasi umum pada faringitis adalah sinusitis.4 Tonsillitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan beristirahat dan pengobatan supportif. Demam reumatik akut dilaporkan terjadi pada satu dari 400 infeksi GABHS yang tidak diobati dengan baik. otitis media. Faringitis yang disebabkan oleh infeksi Streptococcus jika tidak segera diobati dapat menyebabkan peritonsillar abses.2 19 . mastoiditis. epiglottitis. dan pneumonia.

4. Badan Penerbit IDAI. Boies RL. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis ed I. dan Tonsilofaringitis Akut. Penatalaksanaan Faringitis Kronik. Jakarta.March . 7. B. Embriologi. Tonsilitis. Jakarta: badan Penerbit IDAI. EA. Badan Penerbit IDAI. 263-271 6. Hidung. Setyati. EGC. Soepardi. dan Tenggorok. Purworejo. Jakarta. Kliegman RM. 8. R. dan Leher. Esofagus. Kurniadi. Buku Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama. ed 6. Tenggorok. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Naning. Bagian Ilmu Penyakit Telinga. Available at : http://www. . GL. 3. 2009: p. DAFTAR PUSTAKA 1. A. 2010: p. Triasih. Faringitis. 2010. WHO & DEPKES RI.net/wiki/index. Ed 6. 2012: 288-95. Jakarta. Dalam Adams LG. 2008. dan Hipertrofi Adenoid. FKUI. Hidung.fkumyecase. 2009. 2008. BOIES Buku Ajar Penyakit THT Edisi Keenam.. Faring. Higler AP. 217-225 2. Rusmarjono. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Kepala & Leher. Faringitis. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga.2014. Ikatan Dokter Anak Indonesia. WHO Indonesia. Nelson Esensi Pediatri Edisi 4. Anatomi dan Fisiologi Rongga Mulut. 20 . 5. Jakarta. Jakarta. Buku Ajar Respirologi Anak ed I. RSUD Saras Husada.php?page=Penatalaksanaan+Faringitis+Kron ik. R. Jakarta. Tonsilitis. Adams. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Behrman RE.