You are on page 1of 36

TINJAUAN YURIDIS PELAKSANAAN AKAD GADAI EMAS SYARIAH

PADA BANK JATENG SYARIAH DAN PERUM PEGADAIAN SYARIAH DI
PURWOKERTO

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat

Mencapai derajat sarjana S-1

Oleh :
HANINDHEA AYU ALODIA
1410010077

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

JANUARI 2018

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I.............................................................................................................................1
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................5
C. Tujuan Penulisan.............................................................................................5
D. Manfaat penelitian..........................................................................................5
BAB II...........................................................................................................................7
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................................7
A. Tinjauan Umum Tentang Hukum Kontrak Syariah........................................7
B. Tinjauan Umum Tentang Akad Syariah..........................................................9
C. Tinjauan Umum Tentang Perbankan Syariah...............................................12
C. Tinjauan Umum tentang Pegadaian Syariah.................................................14
BAB III........................................................................................................................22
METODE PENELITIAN............................................................................................22
A. Metode Pendekatan.......................................................................................22
B. Spesifikasi Penelitian....................................................................................22
C. Sumber Data..................................................................................................22
D. Lokasi Penelitian...........................................................................................24
E. Metode Pengumpulan Data...........................................................................24
F. Metode Penyajian Data.................................................................................25
G. Metode Analisis Data....................................................................................25

2

H. Jadwal Pelaksanaan.......................................................................................26
I. Sistematika Skripsi..............................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................22

3

Dalam hal ini bank syariah juga memiliki kegiatan usaha yang berkaitan dengan pegadaian yaitu berupa layanan gadai syariah atau disebut juga dengan Rahn (Huzaimah. 2003: 3). Gadai emas pada bank syariah tunduk terhadap . BAB I PENDAHULUAN A. Barang barang yang dapat digadaikan antara lain: perhiasan. maka orang yang berhutang menggadaikan barangnya sebagai jaminan terhadap hutangnya itu (Muhammad Sholikul. Latar Belakang Dewasa ini keberadaan lembaga pegadaian makin penting dan strategis dalam menunjang pembangunan ekonomi nasional. Rahn adalah perjanjian penyerahan harta yang dijadikan pemiliknya sebagai jaminan hutang yang nantinya dapat dijadikan sebagai pembayar hak piutang tersebut. Namun diantara barang-barang tersebut yang paling diminati adalah gadai emas. Gadai adalah suatu bentuk perjanjian utang piutang dimana untuk mendapatkan kepercayaan dari orang yang berpiutang. khususnya bagi masyarakat golongan menengah ke bawah. Gadai sering dilakukan oleh masyarakat ketika membutuhkan dana dalam waktu yang cukup singkat karena proses pencairan dana di pegadaian lebih cepat. Pada dasarnya jenis barang yang digadaikan harus sesuai dengan syariah. 2001: 63). kendaraan dan barang-barang lain yang dianggap bernilai. perabotan rumah tangga. Barang-barang yang dijadikan sebagai Rahn adalah barang yang berharga atau mempunyai nilai ekonomis serta dapat disimpan atau bertahan lama (J. baik seluruhnya maupun sebagiannya. 2002: 23). Khalil. barang elektronik. Sifat dari lembaga pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan umum dan sekaligus memupuk keuntungan berdasar atas prinsip pengelolaan perusahaan.

Bagi masyarakat menggadaikan emas jauh lebih menguntungkan daripada harus menjual emas tersebut (Rais. tidak mengatur secara materiil mengenai praktik gadai emas syariah (Muhammad Sholikul. Dalam Undang-undang perbankan syariah. 2003: 12). Bank Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/7/DPbS tanggal 29 Februari 2012 tentang Produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah untuk menghentikan dan mencegah adanya penyimpangan dalam praktik gadai emas dalam memberikan layanan gadai emas syariah. Gadai emas syariah merupakan suatu bentuk penyaluran dana oleh bank syariah yang bertujuan untuk membantu masyarakat terutama nasabah dalam memperoleh pinjaman uang dengan menggadaikan emas milik nasabah tersebut. Seiring berjalannya waktu. Bank syariah harus tunduk terhadap Surat Edaran 2 . nasabah mulai memanfaatkan produk gadai emas sebagai sarana investasi untuk memiliki emas dan memperoleh keuntungan karena adanya unsur spekulasi nilai emas yang cenderung meningkat setiap tahunnya. Sistem gadai emas dirasa sangat menguntungkan apabila terdapat kebutuhan yang bersifat mendesak. tetapi juga sebagai alat investasi untuk memiliki emas dengan pinjaman yang diberikan oleh bank syariah (Rachmadi Usman. 2006: 42). 2012: 33). Sasli.Undang-undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Fungsi gadai tidak hanya membantu perolehan dana yang mudah dan cepat. Undang-undang Perbankan Syariah hanya mengatur secara formil yaitu pada Pasal 19 ayat 1 huruf 9 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah yang mengatur bahwa perbankan syariah dapat melakukan kegiatan usaha syariah lainnya asal tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/7/DPbS tanggal 29 Februari 2012 tentang Produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah) Saat ini.00 dengan masa perpanjangan pembiayaan maksimal dua kali. bisnis ini juga dijalankan oleh beberapa bank syariah. Setelah dikeluarkannya Surat Edaran dari Bank Indonesia tersebut.250. Pembatasan tersebut dilakukan untuk mengembalikan fungsi dari gadai emas yaitu sebagai alternatif pembiayaan berskala mikro.MUI/III/2002 Tentang Rahn Emas. Hal itu karena gadai emas syariah memiliki potensi pengembangan bisnis cukup signifikan pada tahun belakangan ini. Di Indonesia.Bank Indonesia Nomor 14/7/DPbS tanggal 29 Februari 2012 tentang Produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah. Selain itu. bisnis gadai emas syariah terus berkembang pesat. Apalagi setelah dikeluarkannya Fatwa DSN NO: 26/DSN. Diterbitkannya Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/7/DPbS tanggal 29 Februari 2012 tentang Produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah membatasi besaran pemberian pembiayaan maksimal sebesar Rp. Penyesuaian sistem dan prosedur ini mengakibatkan bank syariah meminta kepada nasabah yang menggadaikan emasnya tidak sesuai dengan sistem dan prosedur yang telah diubah untuk menebus emas dengan melunasi seluruh hutangnya. Bank syariah melakukan penyesuaian sistem dan prosedur yang sesuai dengan peraturan dalam Surat Edaran Bank Indonesia tersebut. sehingga masyarakat lebih tertarik menggadaikan barang jaminannya berupa Emas karena nilai ekonomisnya yang sangat tinggi dari pada barang elektronik dan kendaraan yang terkadang bisa jatuh 3 . Peningkatan harga itu disebabkan karena emas memiliki nilai instrinsik yang lebih stabil dan tahan inflasi dibandingkan mata uang kertas seperti rupiah atau dolar AS.000. Hal itu dipicu terus meningkatnya harga emas dibanding mata uang kertas dalam beberapa tahun terakhir. bisnis ini bertahun-tahun dijalankan oleh Perum Pegadaian.000.

nasabah harus memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh bank atau pegadaian syariah. pada prosesnya. antara lain masih banyaknya karyawan pegadaian tersebut tidak dapat menjelaskan secara detil aturan hukum. serta pemeliharaan barang jaminan yang nilainya terbatas. sehingga produk ini belum mampu memberikan kontribusi yang memadai. serta dalam aturan hukumnya dirasa kurang menguntungkan untuk pihak Bank Jateng Syariah. prosedur peminjaman bahkan keuntungan dari meggunakan produk hukum gadai emas syariah tersebut sehingga nasabah tidak teredukasi dengan baik dan menjadi ragu akan menggunakan layanan gadai tersebut. jika nasabah menyetujui dan telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh bank atau pegadaian syariah. Pencairan dilakukan dapat langsung secara tunaisecara bersamaan emas yang digadaikan oleh nasabah diserahkan kepada bank sebagai barang jaminan.nilai ekonomisnya disebabkan oleh fakto-faktor ekonomis lainnya (Himpunan Undang-undang dan Peraturan Pemerintah tentang Ekonomi Syariah. pelayanan tersebut hanya dapat dilaksanakan di Kantor Cabang Bank Jateng Syariah di Purwokerto yaitu di Jalan Overste Isdiman Purwokerto dan dalam pelaksanaannya pun tidak terlalu menonjol seperti produk Bank Jateng Syariah yang dikeluarkan lainnya hanya <1% karena dalam pelayanan tersebut. Lain halnya dengan pelayanan gadai emas syariah di Bank Jateng Purwokerto. namun pihak Bank hanya mendapatkan margin (keuntungan) dari biaya administrasi dan jasa penitipan. 2011 : 20). Nasabah diwajibkan untuk membayar 4 . maka akan dilanjutkan pada proses selanjutnya. Setelah melalui proses pembiyaan pada produk gadai emas syariah dan bank atau pegadaian menyetujui permohonan nasabah. Namun permasalahan muncul ketika pelaksanaan gadai emas syariah di Pegadaian syariah Purwokerto terhambat karena beberapa faktor. maka akan dilakukan pencairan dan penandatanganan akad pada surat gadai emas yang dilakukan oleh kedua belah pihak (bank dan nasabah). ketika pihak nasabah diuntungkan. Pelaksanaan produk gadai emas syariah.

Bagaimana praktik pelaksanaan akad gadai emas syariah pada Bank Jateng Syariah dan Pegadaian Syariah di Purwokerto ? 2. sehingga penulis tertarik mengambil judul ” TINJAUAN YURIDIS PELAKSANAAN AKAD GADAI EMAS SYARIAH PADA BANK JATENG SYARIAH DAN PERUM PEGADAIAN SYARIAH DI PURWOKERTO” B.pokok pinjaman ditambah dengan biaya pemeliharaan dalam tempo waktu yang telah disepakati bersama. maka emas yang digadaikan akan dikembalikan kepada nasabah. jika pembiayaan/pinjaman telah lunas. Urgensi dari adanya penelitian ini adalah dengan adanya 2 (dua) lembaga yang menyediakan layanan gadai emas ini maka akan ada 2 (dua) sistem yang berbeda pada praktiknya. Praktik Produk Rahn (Gadai Emas Syariah) yang dimiliki pada Bank Syariah (Bank Jateng Syariah) dan Perum Pegadaian Syariah (Pegadaian Syariah) cabang Purwokerto. Kegunaan Teoritis 5 . Manfaat penelitian 1. Tujuan Penulisan. 1. Untuk mengetahui bentuk praktik pelaksanaan akad gadai emas syariah pada Bank Jateng Syariah dan Pegadaian Syariah Purwokerto. Rumusan Masalah 1. 2. Untuk mengetahui kendala yang dialami pelaksanaan akad gadai emas di Bank Syariah dan Perum Pegadaian Syariah Purwokerto. D. Bagaimana kendala yang dialami pada pelaksanaan akad gadai emas di Bank Syariah dan Perum Pegadaian Syariah? C.

Sehingga dapat dilihat sejauh mana Gadai Emas Syariah mampu memberdayakan Perekonomian serta menutupi kebutuhan Masyarakat. Bagi pemerintah. Bagi masyarakat. Bagi penulis. bentuk perjanjian serta kendala yang dialami pada praktik gadai emas Bank Jateng Syariah dan Perum Pegadaian Syariah. Terutama pada penelitian ini diharapkan memberikan masukan dan solusi dalam pembuatan berbagai kebijakan maupun peraturan sehubungan dengan tentang pelaksanaan perjanjian gadai emas syariah. sehingga pemerintah harus benar-benar kritis dan fokus dalam mengeluarkan suatu perturan agar dapat memberikan perlindungan yang berimbang. penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana informasi agar masyarakat dapat mengetahui tentang pelaksanaan perjanjian gadai emas syariah.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kajian dan memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan hukum pada umumnya dan hukum perdata pada khususnya tentang pelaksanaan akad gadai emas syariah pada Bank Jateng Syariah dan Pegadaian Syariah 2. d. tentang pelaksanaan perjanjian gadai emas syariah. bentuk perjanjian serta kendala yang dialami pada praktik gadai emas pada Bank Jateng Syariah dan Perum Pegadaian Syariah. Kegunaan Praktis a. penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis secara pribadi perihal tentang pelaksanaan perjanjian 6 . suatu kebijakan pemerintah sangat mempengaruhi perkembangan pembangunan di bidang perekonomian khusunya industri perbankan syariah. hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi pengetahuan di bidang hukum. bentuk perjanjian serta kendala yang dialami pada praktik gadai emas pada Bank Syariah dan Perum Pegadaian Syariah sebagai alternatif pegadaian untuk modal kerja serta kebutuhan masyarakat. b. c. Bagi dunia pendidikan.

gadai emas syariah. bentuk perjanjian serta kendala yang dialami pada praktik gadai emas pada Bank Jateng Syariah dan Perum Pegadaian Syariah 7 .

e. 8 .

1984: 97) 1. Adapun rukun-rukun akad menurut pendapat jumhur fuqaha terbagi menjadi: a. Aqidain disebut sebagai subjek hukum. suatu niat atau kemauan perlu ditindak lanjuti dalam bentuk pebuatan. Tanpa keberadaan rukun. Subjek hukum terdiri dari dua macam. Dalam rukun akad. Untuk mencapai tujuan. dalam KUHPerdata. namun agar aqidain dapat . kedua subjek hukum tersebut berkedudukan sebagai aqidain. Tinjauan Umum Tentang Hukum Kontrak Syariah Hukum kontrak syariah adalah hukum yang mengatur perjanjian atau perikatan yang sengaja dibuat secara tertulis berdasarkan prinsip-prinsip syariah. yaitu manusia dan badan hukum. Islam memandang suatu perbuatan harus senantiasa diniatkan karena allah semata. Sumber lain menyatakan yang dimaksud dengan istilah hukum kontrak syari’ah disini adalah keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum di bidang mu’amalah khususnya perilaku dalam menjalankan hubungan ekonomi antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum secara tertulis berdasarkan hukum Islam. sebagai alat bukti bagi para pihak yang berkepentingan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rukun-rukun Akad M Nur Rianto (2012: 45) menyatakan bahwa rukun dapat diartikan juga sebagai unsur-unsur yang menentukan terbentuknya akad. Tujuan melakukan perbuatan menyusun kontrak ialah maksud utama disyariatkan akad itu sendiri (Hartono Hadisoeprapto. Aqidain ( para pihak yang berakad). suatu akad tidak akan terjadi. Niat yang baik karena Allah kemudian harus diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan yang sesuai dengan ketentuan syariah yang telah ditetapkan oleh Allah.

Mahal al-‘Aqd. sehingga menentukan berlakunya hukum taklifi. Akad yang dilakukan itu memenuhi syarat-syarat khusus dengan akad yang bersangkutan. Syarat-syarat yang bersifat khusus. maka perbuatan hukum dianggap belum ada. Ijab tetap utuh sampai terjadi qabul. yaitu syarat yang 2 . dan dengan tiadanya tidak ada hukum. setiap mengadakan kontrak perjanjian selalu ada dua kemungkinan yang dapat bertindak sebagai subjek hukum. Sighat Al-‘Aqd. Dengan kata lain yang dimaksud syariat ialah sesuatu yang dijadikan oleh syara’ sebagai syarat untuk mengadakan akad. Syarat khusus. yaitu harta benda dan manfaat perbuatan itu sendiri. Syarat umum yang harus dipenuhi yaitu Pihak-pihak yang melakukan akad. mengadakan kontrak perjanjian secara sah. c. rukun kedua yang harus dipenuhi dalam penyusunan kontrak syariah adalah menentukan jenis objek akad (mahal al. 2. b. Jika syariat itu belum terpenuhi. Pengertian objek akad ialah sesuatu yang oleh syara’ dijadikan objek dan dikenakan padanya akibat hukum yang ditimbulkan. b. Dari pengertian yang telah dipaparkan. di samping harus memenuhi syarat-syarat umum. yaitu manusia dan badan hukum. Sebelum ijab qabul.aqd). Akad itu bermanfaat. maka harus memiliki kecakapan (ahliyah) dan kewenangan (wilayah) bertindak di hadapan hukum. Para ulama fiqh menetapkan adanya beberapa syarat antara lain : (Rachmat Syafii: 2004: 36) a. Sighat akad merupakan hasil ijab dan qabul berdasarkan ketentuan syara’ yang menimbulkan akibat hukum terhadap objeknya. Akad itu tidak dilarang oleh nash syara’. Oleh karena itu. pada dasarnya objek akad dapat terbagi menjadi dua. Syarat Akad dalam Penyusunan Kontrak Pengertian syarat adalah sesuatu yang karenanya baru ada hukum. Objek akad itu diketahui oleh syara’.

2000: 80) . yaitu suatu pernyataan dari seseorang untuk 3 . Pertama. pesan. Bukan akad yang dilarang oleh syara’. penyempurnaan dan janji atau perjanjian. Akad dapat memberikan qaidah. Ijab itu berjalan terus. Pengertian Akad Dalam Al-Qur’an ada terdapat dua (2) istilah yang menyangkut dengan perjanjian. sehingga bila seseorang yang melakukan ijab sudah berpisah sebelum adanya qabul. tidak dicabut sebelum terjadi qabul. B. kemudian pengertian secara terminologi fiqh akad didefinisikan dengan pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariah yang berpengaruh pada obyek perikatan. 2004: 44) Untuk mengetahui lebih jelas mengenai perjanjian dan perikatan dalam hukum Islam berikut dikemukakan beberapa pendapat kalangan ulama fiqhiyah. yaitu kalimat al-aqdu (akad) dan al-‘ahdu (janji). menurut Wahbah Al-Juhaili secara etimologi akad adalah ikatan antara dua perkara baik ikatan secara nyata maupun secara maknawi dari satu segi maupun dari dua segi. Akad itu diizinkan oleh syara’ dilakukan oleh orang yang mempunyai hak melakukannya walaupun dia bukan aqaid yang memiliki barang. wujudnya wajib ada dalam sebagian akad antara lain : Kedua orang yang melakukan akad cakap bertindak (ahli). Ijab dan qabul mesti bersambung. sehingga tidaklah sah bila Rahn dianggap sebagai timbangan amanah. Objek akad dapat diterima hukumnya. (Rachmat Syafi’i. antara lain yaitu: (Wahbah Al-Juhaili. Sedangkan kalimat al-‘ahdu dapat disamakan dengan istilah perjanjian atau overeenkomst. sedangkan kalimat yang kedua dalam Al-Qur’an berarti masa. Tinjauan Umum Tentang Akad Syariah 1. maka ijab tersebut menjadi batal. Al- Qur’an mamakai kalimat pertama dalam arti perikatan atau perjanjian.

b. Dalam Pasal 1 ayat (13) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah disebutkan bahwa Akad adalah kesepakatan tertulis antara bank syariah atau unit usaha syariah dan pihak lain yang memuat adanya hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak sesuai dengan prinsip syariah (Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 Pasal 1 ayat 3 Tentang Perbankan Syariah). 4 . Apabila ada dua buah janji yang dilaksanakan oleh para pihak maka terjadilah apa yang dinamakan “al-aqdu” yang mengikat masing-masing pihak sesudah pelaksanaan perjanjian dengan kata lain hal tersebut bukan lagi al’ahdu tetapi sudah Al-aqdu. atau sesuatu yang pembentukannya membutuhkan keinginan dua orang seperti jual beli dan gadai. .Kedua. dalam pandangan ulama syafi’iyah. Persetujuan yaitu pernyataan dari pihak kedua untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu sebagai reaksi terhadap janji yang dinyatakan oleh pihak pertama kemudian janji tersebut harus sesuai dengan janji pada pihak pertama. Al’ahdu (perjanjian). dalam hal ini janji tersebut mengikat orang yang mengatakannya supaya terlaksananya perjanjian yang telah dibuat tersebut. yaitu ada pernyataan dari seseorang untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dan tidak ada sangkut pautnya dengan kemauan orang lain.Ketiga. pembebasan. menurut Abdor Raof mengatakan bahwa pada dasarnya ada tiga tahap yang menimbulkan perikatan (akad) yaitu sebagai berikut : a. seperti wakaf. akad merupakan segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang berdasarkan keinginannya sendiri. .mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu yang tidak berkaitan dengan orang lain. Hanafiyah dan Hanabilah. c.

pemberian kuasa. sewa-menyewa. 2010 : 47). (Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Bab I tentang Ketentuan Umum Pasal 20 ayat 14) b. seperti wakaf. Potongan dalam konteks akad qardh adalah potongan yang 5 . 2. yang diwujudkan dalam ijab dan qabul yang objeknya sesuai dengan syariah. penulis menyimpulkan bahwa perjanjian atau akad adalah perjanjian yang dilakukan oleh dua pihak yang bertujuan untuk saling mengikatkan diri satu sama lainnya. talak dan sumpah. Akad Rahn. (Dimyauddin. Macam Macam Akad Dalam Gadai Beberapa akad yang digunakan dalam gadai antara lain adalah sebagai berikut: a. Secara etimologi qardh adalah al-qath’u yang berarti potongan. sehingga seluruh tanggung jawab dilimpahkan kepada pemberi pinjaman dan dititipkan barang. Menurut istilah akad adalah segala sesuatu yang diniatkan oleh seseorang untuk dikerjakan. dan gadai. maupun yang memerlukan kepada kedua kehendak di dalam menimbulkannya. pembebasan. baik timbul karena satu kehendak. Merujuk pada Buku 2 Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Bab I tentang Ketentuan Umum Pasal 20 ayat 14 dinyatakan bahwa Rahn/gadai adalah : ”Penguasaan barang milik peminjam oleh pemberi pinjaman sebagai jaminan.” Pengusaan yang dimaksud adalah barang jaminan dititipkan penggadai kepada pihak yang dititipkan. Akad Qordh. seperti jual-beli. Dengan demikian akad atau perjanjian akan menimbulkan kewajiban prestasi pada satu pihak dan hak bagi pihak lain atas prestasi tersebut. dengan pengertian lain bahwa perjanjian tersebut berlandaskan keridhoan atau kerelaan secara timbal balik dari kedua belah pihak terhadap objek yang diperjanjikan dan tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Dari definisi akad sebagaimana tersebut di atas.

dinyatakan qardh adalah : “Suatu akad pinjaman kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah wajib mengembalikan dana yang diterimanya kepada LKS pada waktu yang telah disepakati oleh LKS dan nasabah” atau : “Pinjaman yang diberikan kepada nasabah (muqtaridh) yang memerlukan”. Tinjauan Umum Tentang Perbankan Syariah 1. Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional. Ijarah didefinisikan sebagai hak untuk memanfaatkan barang/jasa dengan membayar imbalan tertentu. 2013 : 256). Merujuk pada Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) nomor 19/DSN-MUI/IV/2010 tentang Al-Qardh. (Tim lascar Pelangi. Akad Ijarah. ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah. Pengertian Bank Syariah 6 . (Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) nomor 19/DSN-MUI/IV/2010 tentang Al- Qardh) c. sementara kompensasi atau imbalan jasa disebut ujrah. Barang titipan dapat berupa harta benda yang dapat menghasilkan manfaat atau tidak menghasilkan manfaat. 2001: 65) C. (Tim kerja. tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. Penerima gadai (murtahin) dapat menyewakan tempat penyimpanan barang (safe deposit box) kepada nasabahnya. Pemilik yang menyewakan disebut muajir (bank syariah). sedangkan nasabah (penyewa) disebut mustajir. dan sesuatu yang dapat diambil manfaatnya disebut major. berasal dari harta orang yang memberikan uang. Dalam hal ini menjelaskan bahwa dana pinjaman yang diberikan kepada nasabah harus sesuai dengan pengembalian sesuai kesepakatn kedua belah pihak.

khususnya yang bebas dari bunga (riba). Bank Syariah sering dipersamakan dengan bank tanpa bunga. 2000: 77). antara lain: a) Giro berdasarkan prinsip wadi’ah 7 . ketika sejumlah instrumen atau operasinya bebas dari bunga (Hartono Hadisoeprapto. Diatur pada Pasal 36 Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/24/PBI/2004 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/35/PBI/2005 menetapkan. 1984: 97). dan hanya membiayai kegiatan usaha yang halal. Bank Syariah merupakan intermediasi dan penyedia jasa keuangan yang bekerja berdasarkan etika dan sistem nilai Islam. Bank Syariah adalah badan usaha yang fungsinya sebagai penghimpun dana dari masyarakat dan penyalur dana kepada masyarakat. Bank Syariah memiliki berbagai macam kegiatan usaha. 2012: 79). berprinsip keadilan. Bank tanpa bunga merupakan konsep yang lebih sempit dari Bank Syariah. bebas dari kegiatan spekulatif yang nonproduktif seperti perjudian (gharar). yang sistem dan mekanisme kegiatan usahanya berdasarkan kepada prinsip syariah sebagaimana yang diatur dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist(M. yang meliputi: 1) Melakukan penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan investasi. Bank Syariah juga bertujuan Mengarahkan kegiatan ekonomi umat untuk bermuamalah secara islami khususnya muamalah yang berhubungan dengan perbankan agar terhindar dari praktik riba atau jenis perdagangan yang mengandung unsur gharar (H. Tujuan didirikannya Bank Syariah itu sendiri adalah untuk menyediakan lembaga keuangan perbakan sebagai sarana meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat.Nur Rianto. bahwa Bank Umum Syariah wajib menerapkan prinsip syariah dan prinsip kehatian-hatian dalam melakukan kegiatan usahanya.Mardjono.

Ijarah Wa Iqtina e) Prinsip pinjam meminjam berdasarkan akad Qardh f) Melakukan pemberian jasa pelayanan perbankan berdasarkan akad antara lain yaitu Wakalah. Pengertian gadai (Rahn) secara bahasa seperti diungkapkan di atas adalah tetap. Kata ini merupakan makna yang bersifat materiil. Istishna b) Prinsip bagi hasil berdasarkan akad yaitu Mudharabah. Salam. 2000: 159). Kafalah. 2008: 33) . Karena itu. Kekal. Sedang dalam istilah adalah menyandera sejumlah harta yang diserahkan sebagai jaminan secara hak. Tinjauan Umum tentang Pegadaian Syariah 1. 2008: 35). Hawalah. secara bahasa kata ar-Rahn berarti menjadikan sesuatu barang yang bersifat materi sebagai pengikat utang. dan dapat diambil kembali sejumlah harta dimaksud sesudah ditebus (Ali Zainudin. Pengertian gadai dalam hukum Islam (syara’) adalah “Menjadikan suatu barang yang mempunyai nilai harta 8 . Rahn dalam bahasa Arab adalah al-habsu yang berarti tetap dan kekal (Syafe’i. Rahn (gadai) C. dan jaminan. Istishna c) Prinsip bagi hasil berdasarkan akad yaitu Mudharabah dan Musyarakah d) Prinsip sewa menyewa berdasarkan akad yaitu Ijarah. b) Tabungan berdasarkan prinsip wadi’ah c) tabungan berdasarkan prinsip mudharabah d) Deposito berjangka berdasarkan prinsip mudharabah 2) Melakukan penyaluran dana melalui : a) Prinsip jual beli berdasarkan akad yaitu Murabahah. Pengertian Pegadaian Syariah Pengertian Pegadaian Syariah Transaksi hukum gadai dalam ilmu fikih Islam diartikan sebagai Rahn yang merupakan suatu jenis perjanjian untuk menahan suatru barang sebagai tanggungan utang (Ali Zainudin. Salam.

Ahmad Azhar Basyir Universitas Sumatera Utara Rahn adalah perjanjian menahan sesuatu barang dengan tanggungan utang. Muhammad Syafi’i Antonio Gadai syariah (Rahn) adalah menahan salah satu harta milik nasabah (rahin) sebagai barang jaminan (marhun) atas utang / pinjaman (marhun bih) yang diterimanya. beberapa mengungkapkan pengertian gadai yang diberikan oleh para ahli hukum Islam sebagai berikut (Khalil J. Ulama Syafi’iyah mendefinisikan Rahn sebagai berikut: Menjadikan suatu barang yang biasa dijual sebagai jaminan utang dipenuhi dari harganya. bila pihak yang menggadaikan tidak dapat membayar 9 . Berdasarkan pengertian gadai diatas yang dikemukakan oleh para ahli hukum Islam diatas. penulis berpendapat bahwa gadai (Rahn) adalah menahan barang jaminan yang bersifat materi milik si peminjam (rahin) sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya. e. akan menjadikan sesuatu benda bernilai menurut pandangan syara’ sebagai tanggungan marhun bih. Selain pengertian gadai yang dikemukakan di atas. dan barang yang diterima tersebut bernilai ekonomis. c. b. Ulama Malikiyah mendefinisikan sebagai berikut: Sesuatu yang bernilai harta (mutamawwal) yang diambil dari pemiliknya untuk dijadikan pengikat atas utang yang tetap (mengikat) d. bila yang berutang tidak sanggup membayar utangnya. 2002: 77) : a. bila yang berutang tidak sanggup membayar utangnya. Ulama Hanabilah mengungkapkan sebagai berikut: Suatu benda yang dijadikan kepercayaan suatu utang.dalam pandangan syara’ sebagai jaminan utang. yang memungkinkan untuk mengambil seluruh atau sebagian utang dari barang tersebut”. untuk dipenuhi dari harganya. sehingga dengan adanya tanggungan utang itu seluruh atau sebagian utang dapat diterima. sehingga pihak yang menahan (murtahin) memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian utangnya dari barang gadai dimaksud.

honor. Pendanaan kegiatan operasional gadai syariah meliputi gaji pegawai. Bahkan lebih dari 50% dan dimaksud disalurkan pada aktifitas pembiayaan.utang pada waktu yang telah ditetukan. (Sasli Rais. Karena itu. e. peralatan dan sebagainya. 2006: 50) Gadai Syariah merupakan perjanjian antara seseorang untuk menyerahkan harta benda berupa emas/perhiasan/kendaraan dan/atau harta benda lainnya sebagai jaminan dan/atau agunan kepada seseorang dan/atau lembaga pegadaian syariah berdasarkan hukum gadai prinsip syariah Islam. sehingga dalam buku fiqh mu’amalah akad ini merupakan akad tabarru’ atau akad derma yang tidak mewajibkan imbalan. maka tampak bahwa fungsi dari akad perjanjian antara pihak peminjam dengan pihak yang meminjam uang adalah untuk memberikan ketenangan bagi pemilik uang dan/atau jaminan keamanan uang yang dipinjamkan. Rahn pada prinsipnya merupakan suatu kegiatan utang piutang yang murni berfungsi sosial. yaitu pemberian pinjaman kepada warga masyarakat yang membutuhkan. 2008:52) : a. Penerbitan obligasi syariah c. Penyaluran dana yang ada. ditandai dengan mengisi dan menandatangani Surat Bukti Gadai (Rahn). perawatan gedung. Investasi lain. Jika memperhatikan pengertian gadai (Rahn) di atas. yaitu dan-dan yang belum digunakan untuk membiayai kegiatan operasional pegadaian syariah. Pendanaan pegadaian syariah memiliki sumber-sumber dana sebagai berikut (Ali Zainudin. atau belum disalurkan kepada 10 . Gadai dimaksud. Modal sendiri b. sebagian besar digunakan untuk kegiatan pembiayaan. Mengadakan kerja sama atau syirkah dengan lembaga keuangan lainnya d. sedangkan pihak lembaga pegadaian syariah menyerahkan uang sebagai tanda terima dengan jumlah maksimal 90% dari nilai taksir terhadap barang yang diserahkan oleh penggadai. f.

dan lain-lain. Penaksiran nilai barang. Biaya yang dikenakan adalah ongkos penaksiran barang. Rahn adalah menahan salah satu harta milik nasabah (rahin) sebagai barang jaminan (marhun) atas utang atau pinjaman (marhun bih) yang diterimanya. c. masyarakat. dan berlian. Dengan demikian. 2012: 291) a. Syaratnya harus terdapat jaminan berupa barang bergerak. pihak yang menahan atau penerima gadai (murtahin) memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau sebagian piutangnya. Tinjauan Umum tentang Gadai Emas Syariah 1. perak. d. Penitipan barang (ijarah). 2003: 33) Jika memperhatikan pengertian Rahn diatas . b. 2001: 59). baik investasi jangka pendek maupun jangka menengah. seperti emas. Marhun tersebut memiliki nilai ekonomis. Kegiatan Usaha Pegadaian Syariah Layanan jasa serta produk yang ditawarkan oleh pegadaian syariah adalah sebagai berikut: (M. (Hadi. Pemberian pinjaman atau pembiayaan atas dasar hukum gadai. bergantung pada nilai dan jumlah barang yang digadaikan. Merupakan fasilitas penjualan emas yang memiliki sertifikat jaminan sebagai bukti kualitas dan keasliannya. antara lain sertifikat motor. 3. maka tampak bahwa fungsi dari akad perjanjian antara pihak peminjam dengan pihak yang 11 . Barang yang dapat dititipkan. Nur Rianto. Pengertian Gadai Syariah Dalam Islam. Pegadaian akan mengenakan biaya penitipan bagi nasabahnya. gadai disebut juga dengan Rahn. 2. maka dapat diinvestasikan dalam bentuk lain.dan tanah. Besarnya pemberian pinjaman ditentukan oleh pegadaian. elektronik. Lebih jelasnya. Gold counter. Rahn adaah suatu jenis perjanjian untuk menahan suatu barang sebagai tanggungan utang (Tanggo. Jasa ini diberikan bagi mereka yang menginginkan informasi tentang taksiran barang yang berupa emas.

serta tidak melalaikan jangka waktu pengembalian utangnya itu. Dasar hukum gadai syariah sendiri menggunakan QS. Al-quran. Rahn pada prinsipnya merupakan suatu kegiatan utang piutang yang murni berfungsi sosial. maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya. antara lain: a. Hadist Nabi Muhammad SAW. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). sehingga dalam buku fiqh mu’amalah akad ini merupakan akad tabarru’ atau akad derma yang tidak mewajibkan imbalan. (Ali Zainuddin.meminjam uang adalah memberikan ketenangan bagi pemilik uang dan/atau jaminan keamanan uang yang dipinjamkan. dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Dasar Hukum Gadai Syariah Syafi’i Rahmat (2004: 54) Gadai syariah yang kita pahami saat ini memiliki beberapa landasan hukum yang dijadikan dasar untuk pelaksanaannya. maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya. Akan tetapi. Dasar hukum yang dapat dijadikan rujukan dalam membuat rumusan gadai syariah adalah hadist Nabi Muhammad SAW. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. AL- Baqarah ayat 283 yang artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis. Fungsi barang gadai (marhun) pada ayat diatas adalah untuk menjaga kepercayaan masing-masing pihak. sehingga penerima gadai (murtahin) meyakini bahwa pemberi gadai (rahin) beriktikad baik untuk mengembalikn pinjamannya (marhun bih) dengan cara menggadaikan barang atau benda yang dimilikinya (marhun). 2008: 110) 2. b. yang artinya mengungkapkan sebagai berikut: 12 . dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksianDan barang siapa yang menyembunyikannya.

R Bukhari-2326) c. “Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahid telah menceritakan kepada kami Al A'masy berkata. kami menceritakan di hadapan Ibrahim tentang masalah gadai dan pembayaran tunda dalam jual beli. 3.(H. berdasarkan pada kisah Nabi Muhammad SAW yang menggadaikan baju besinya untuk mendapatkan makanan dari seorang Yahudi. ketika beliau beralih dari yang biasanya bertransaksi kepada para sahabat yang kaya kepada seorang Yahudi. Ijma’ Ulama. Gadai emas syariah merupakan suatu akad penyerahan barang yang diselenggarakan oleh Perum Pegadaian Syariah atau 13 . Gadai Emas Syariah Gadai emas syariah adalah penyerahan suatu barang berupa emas dari nasabah kepada bank sebagai jaminan atas pinjaman atau utang yang diberikan kepada nasabah tersebut. Para ulama juga mengambil indikasi dari contoh Nabi Muhammad SAW tersebut. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/7/DPbS tanggal 29 Februari 2012 tentang Produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah. e. telah menceritakan kepada kami Al Aswad dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan pembayaran tunda sampai waktu yang ditentukan. Jumhur ulama menyepakati kebolehan status hukum gadai. bahwa hal itu tidak lebih sebagai sikap Nabi Muhammad SAW yang tidak mau memberatkan para sahabat yang biasanya enggan mengambil ganti ataupun harga yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada mereka d. Hal dimaksud. Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulaama Indonesia (DSN- MUI) menjadi dasar hukum yang berkaitan dengan gadai syariah. yang Beliau menggadaikan (menjaminkan) baju besi Beliau”. Maka Ibrahim berkata.

Fatwa DSN NO. f. terdapat tiga transaksi yaitu (Rahman Hasanuddin. Sumber dana untuk pembiayaan gadai emas didapatkan dari bagian modal dan keuntungan yang disisihkan.25/DSN MUI/III/2002 tentang Rahn. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/7/DPbS tanggal 29 Februari 2012 tentang Produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah (SEBI No. g. Penyertaan biaya penyimpanan dan pemeliharaan didasarkan pada berat agunan yang telah terhitung dalam nilai taksiran agunan. Tidak menggunakan biaya-biaya lain selain biaya yang telah diperbolehkan menyertai.14/7/DPbS tanggal 29 Februari 2012).Unit Usaha Syariah. Fatwa DSN No. Tujuan pembiayaan dicantumkan dalam formulir permohonan gadai. b. Gadai emas syariah menggunakan tiga akad yaitu qardh. e. Pelaksanaan layanan produk gadai emas di bank syariah memiliki SOP (Standart Operating Procedure) tertulis yang digunakan sebagai acuan 14 . d. Pinjaman yang diberikan diikat dengan akad qardh. Pendapatan dari penyimpanan dan pemeliharaan emas yang sumber dananya berasal dari pihak ketiga dibagikan kepada nasabah penyimpan dana. Penyimpanan emas tersebut diikat dengan akad ijarah atau sewa menyewa. b. b. c. 2008: 88) : a. Rahn dan ijarah. Dalam SEBI No. Dasar hukum dari gadai emas syariah antara lain: a. Tujuan pembiayaan gadai adalah jangka pendek. Penyerahan jaminan emas diikat dengan akad Rahn sebagai jaminan atas pinjaman yang telah diberikan.26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas dan c. yaitu: a. Dalam gadai emas syariah.14/7/DPbS tanggal 29 Februari 2012 menyebutkan mengenai karakteristik dan fitur produk qardh beragun emas. Gadai emas syariah merupakan kegiatan pemberian utang dengan akad gadai dalam perbankan syariah dengan jaminan emas yang pada transaksinya dapat dikenakan biaya penyimpanan. c.

15 . Dalam melakukan gadai emas syariah. Subjek gadai emas syariah dilakukan oleh bank dan pegadaian syariah sebagai lembaga keuangan yang memberikan pinjaman dan sebagai penerima gadai dan nasabah baik nasabah perorangan maupun lembaga atau perusahaan. Sedangkan harta yang dijadikan objek gadai emas syariah haruslah mempunyai nilai jual yang baik yang dapat mencukupi pelunasan hutang nasabah kepada bank. (Sasli Rais. Nasabah baru yang ingin melakukan transaksi gadai wajib menerima informasi mengenai risiko layanan produk ini. pada umumnya digunakan emas 16 karat sampai 24 karat dengan nilai yang digadaikan adalah minimal 10 gram dan pembiayaan atau jumlah pinjaman atau utang yang diberikan bank maksimal seratus juta rupiah. Objek dari gadai emas syariah adalah harta atau barang berharga berupa emas. dalam merumuskan dan menjalankan sistem dan prosedur pelaksanaannya. h. 2006: 4). bank maupun pegadaian selaku penerima gadai dan nasabah selaku yang terlibat haruslah orang yang cakap hukum yang dapat mengucapkan ijab qabul atau perjanjian gadai secara jela.

2011 : 57) B. (Johny. 1998 : 13) C. Data Sekunder : a. yaitu pendekatan yang dilakukan berdasarkan bahan hukum utama dengan cara menelaah teori-teori. asas-asas hukum serta peraturan perundang- undangan yang berhubungan dengan penelitian ini serta yuridis empiris yaitu metode pengumpulan data dengan mewawancara beberapa narasumber dengan melakukan penelitian langsung di lapangan (field research) untuk mengkaji pelaksanaan akad gadai emas syariah pada Bank Jateng Syariah dan Pegadaian Syariah di Purwokerto. tetapi diteliti kemudian dianalisis berdasarkan teori teori hukum dan praktik pelaksanaan hukum positif dengan mengambil kesimpulan umum dari masalah yang dibahas (Soemitro. Penelitian ini disamping menggambarkan keadaan obyek yang akan diteliti. konsep-konsep. yaitu bahan hukum yang mempunyai otoritas. Sumber Data 1. Spesifikasi Penelitian Spesifikasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis. Bahan Hukum Primer. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari keterangan atau hasil wawancara dengan narasumber yang terkait yaitu pihak Kantor Bank Jateng Syariah dan Pegadaian Syariah di Purwokerto 2. Metode Pendekatan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Yuridis Normatif. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari peraturan perundang-undangan. BAB III METODE PENELITIAN A. .

25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn. 26/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn Emas. Dalam penelitian ini. 5) Yurisprudensi. 5) Peraturan bank Indonesia No. 4) Peraturan Bank Indonesia No. Bahan Hukum Sekunder adalah semua publikasi tentang hukum yang merupakan dokumen yang tidak resmi. 7) Fatwa DSN No. 4) Kasus-kasus hukum yang terkait dengan penelitian. 3) Pendapat para sarjana. 3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.10/16/PBI/2008 tentang perubahan atas Peraturan bank Indonesia No. 2 Tahun 2008 tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah Buku II.catatan-catatan resmi atau risalah dalam pembuatan perundang-undangan dan putusan hakim. bahan hukum primer yang digunakan penulis antara lain: 1) Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Bahan Hukum Sekunder. 2 . 2) Jurnal-jurnal hukum. 8) Fatwa DSN No. 9/19/2007 tentang Pelaksanaan prinsip Syariah dalam kegiatan Penghimpunan Dana dan Penyaluran dana serta pelayanan Jasa Bank Syariah. 6) Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/7/DPbS tanggal 29 Februari 2012 tentang Produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah. Bahan Hukum Sekunder terdiri dari: 1) Buku-buku teks yang membicarakan suatu dan/atau beberapa permasalahan hukum. 10/17/2008 tentang Produk Bank Syariah dan unit Usaha Syariah. 2) Undang-Undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. dan 6) Komentar-komentar atas putusan hakim. b. 9) Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.

c. dan 5) Ensiklopedia. Bahan hukum tersier. Kabupaten Banyumas dan Bank Jateng Syariah Kantor Cabang Purwokerto yang beralamat di Jalan Overste Isdiman. penulis memperoleh data primer melalui wawancara langsung dengan pihak pihak yang terkait dengan penelitian. Penyajian teks naratif akan disajikan dalam bentuk uraian yang disusun 3 . F. D. Metode Penyajian Data Bahan hukum dalam penelitian ini akan disajikan dengan bentuk teks naratif dan kualitatif . Lokasi Penelitian Penelitian akan dilaksanakan di Pegadaian Syariah Purwokerto. I. yang beralamat di Jl D. Berkaitan dengan hal tersebut. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam suatu penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam penulisan suatu penelitian. Purwokerto dan beberapa instansi terkait lainnya. Panjaitan. serta data sekunder yang merupakan data pendukung keterangan atau penunjang kelengkapan data primer terhadap pelaksanaan perjanjian gadai emas syariah. bentuk perjanjian serta kendala yang dialami pada praktik gadai emas pada Bank Jateng Syariah dan Perum Pegadaian Syariah. 2011 : 296) 1) Kamus hukum 2) KUHPerdata 3) KHI 4) Kamus Besar Bahasa Indonesia. Purwokerto Selatan. E. yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan buku primer dan bahan hukum sekunder yang meliputi: (Johny Ibrahim. Metode pengumpulan data ini akan diperlukan untuk selanjutnya dianalisis sesuai yang diharapkan.

G. yaitu suatu cara dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subyek atau obyek penelitian pada saat ini berdasarkan dari faktor-faktor yang tampak. 4 .secara sistematis. disusun dengan pokok permasalahan yang diteliti sehingga tercipta kesatuan yang utuh pada masalah tentang pelaksanaan perjanjian gadai emas syariah. penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. bentuk perjanjian serta kendala yang dialami pada praktik gadai emas pada Bank Jateng Syariah dan Perum Pegadaian Syariah tersebut. Kemudian untuk menunjang pembahasan. Metode Analisis Data Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis isi (content analysis).

H. Jadwal Pelaksanaan Bulan ke No Rumusan kegiatan 1 2 3 4 5 6 1 Penyusunan proposal 2 Kosultasi Proposal 3 Seminar Proposal 4 Revisi Proposal 5 Pencarian Data 6 Analisis Data 7 Laporan Skripsi 8 Konsultasi Laporan 5 .

Latar Belakang B. Simpulan B. Metode Analisis Data H. Metode Pendekatan B. Jadwal Pelaksanaan I. Rumusan Masalah C. Tinjauan Umum Tentang Perbankan Syariah D. Sistematika Skripsi BAB I PENDAHULUAN A. Sistematika Skripsi BAB IV HASIL PENELITIAN A. Lokasi Penelitian E. Pembahasan BAB V PENUTUP A. Manfaat Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Spesifikasi Penelitian C. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 6 . Sumber Data D. Metode Pengumpulan Data F. Hasil Penelitian B. Tinjauan Umum Tentang Pegadaian Syariah BAB III METODE PENELITIAN A.I. Tujuan Penulisan D. Metode Penyajian Data G. Tinjauan Umum Tentang Akad Syariah C. Tinjauan Umum Tentang Hukum Kontrak Syariah B.

7 .

Jakarta. Teori dan Metode Penelitian Hukum Normatif. Malang. Edisi Pertama. Khalil. Pegadaian Syariah: Konsep dan Sistem Operasional (Suatu Kajian Konteporer). 26/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn Emas Fatwa DSN No. Liberty. Bandung. Prinsip Syariah dalam Perbankan. UI Press. Jakarta.. Pustaka Setia. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. 1986 Tim kerja. 2012 Peter Salim dan Yenny Salim. Bandung. PT Citra Aditya Bakti. 2006. Yogyakarta. Hukum Kontrak Syariah (Suatu Kajian Teoritis Praktis). h. Aspek-aspek Hukum Pemberian Kredit Perbankan diIndonesia. Sinar Grafika. Pustaka setia. Modern English Perss. Sasli. Jakarta. Jakarta. Sinar Grafika. 2011 Muhammad Sholikul. Penelitian hukum tentang aspek hukum pertanggung jawaban bank terhadap nasabah. Pegadaian Syariah. proyek kerjasama Bank indonesia dengan BPHN Departemen Kehakiman-RI. DAFTAR PUSTAKA Hartono Hadisoeprapto. 2001 J. 1984 Hasanuddin Rahman. 2002 Johny Ibrahim. Soerjono Soekanto. Jakarta. Problematika Hukum Islam Kontemporer III. 2004 Rachmadi Usman. Damsyik. Tanggo. 2008 Peraturan Perundang-undangan: Fatwa DSN No. 2008 Huzaimah Y. Pokok-pokok Hukum Perikatan dan Hukum Jaminan. Jakarta. Jakarta. Bayumedia. Pengantar Penelitian Hukum. Hukum Gadai Syariah. Nur Rianto Al Arif. 2003 M. Aspek Hukum Perbankan Syariah di Indonesia. Bandung. 2001 Wahbah Al-Juhaili. Jakarta. Hadi. Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis. Lembaga Studi Islam daan Kemasyarakatan. 2012 Rais. Jakarta : UI-Press. 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Kitab Undang-undang Hukum Perdata .20. Salemba Diniyah. Jurnal Hukum Bisnis Vol. Fiqh Muamalah. 2002. 2000 Zainuddin Ali.1598 Rachmat Syafi’i. Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu. Jakarta.

Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/7/DPbS tanggal 29 Februari 2012 tentang Produk Qardh Beragun Emas bagi Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Undang-undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah 2 .

Fakultas Hukum Universitas Indonesia MaPPI-FHUI.. Diakses pada tanggal 28 September 2017 . Diakses pada tanggal 9 November 2017 Nadhifatul Kholifah .administrasibisnis. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen dan Upaya Perlindungan Hukum Bagi Konsumen (online). Internet: Heri Tjandrasari. Devi Farah Azizah.ac.ub. Analisis Sistem dan Prosedur Gadai Emas Syariah.com Diakses pada tanggal 9 November 2017 Kitab Gadai (online). http://wahdahmakassar.org/Hadits%20Web%20Bukhari %20Musli/bukhariadai.id/index.pemantauperadilan.html .studentjournal../393. 2013 (Online). http://www. Topowijono . tersedia di www.