You are on page 1of 10

BAB I

EMBRIOLOGI DAN ANATOMI LARING

I.1 Embriologi Laring


Seluruh sistem pernafasan merupakan hasil pertumbuhan faring primitif.
Pada saat embrio berusia 3,5 minggu suatu alur yang disebut laringotrakeal
groove tumbuh dalam embrio pada bagian ventral foregut. Alur ini terletak
disebelah posterior dari eminensia hipobronkial dan terletak lebih dekat dengan
1
lengkung ke IV daripada lengkung ke III.
Selama masa pertumbuhan embrional ketika tuba yang single ini menjadi
dua struktur, tuba yang asli mula-mula mengalami obliterasi dengan proliferasi
lapisan epitel, kemudian epitel diresopsi, tuba kedua dibentuk dan tuba pertama
mengalami rekanulisasi. Berbagai malformasi dapat terjadi pada kedua tuba ini,
misalnya fistula trakeoesofageal. Pada maturasi lanjut, kedua tuba ini terpisah
1
menjadi esofagus dan bagian laringotrakeal.
Pembukaan laringotrakeal ini adalah aditus laringeus primitif dan terletak
diantara lengkung IV dan V. Aditus laring pada perkembangan pertama berbentuk
celah vertikal yang kemudian menjadi berbentuk T dengan tumbuhnya
hipobrachial eminence yang tampak pada minggu ke 3 dan kemudian akan
tumbuh menjadi epiglottis. Sepasang aritenoid yang tampak pada minggu ke 5 dan
pada perkembangan selanjutnya sepasang massa aritenoid ini akan membentuk
tonjolan yang kemudian akan menjadi kartilago kuneiforme dan kartilago
kornikulata. Kedua aritenoid ini dipisahkan oleh incisura interaritenoid yang
kemudian berobliterasi. Ketika ketiga organ ini tumbuh selama minggu ke 5 – 7,
lumen laring mengalami obliterasi, baru pada minggu ke 9 kembali terbentuk
lumen yang berbentuk oval. Kegagalan pembentukan lumen ini akan
menyebabkan atresia atau stenosis laring. Plika vokalis sejati dan plika vokalis
1
palsu terbentuk antara minggu ke 8 – 10.
I.2 Anatomi Laring
Laring merupakan bagian yang terbawah dari saluran napas bagian atas
dan terdapat sepanjang vertebra servikalis IV - VI. Bentuknya menyerupai limas
segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Batas
atas laring adalah aditus laring, sedangkan batas bawahnya ialah batas kaudal
kartilago krikoid.2,3 Lokasi laring dapat ditentukan dengan inspeksi dan palpasi
dimana didapatkannya kartilago tiroid yang pada pria dewasa lebih menonjol
kedepan dan disebut Prominensia Laring atau disebut juga Adam’s apple atau
jakun.4
Bangunan kerangka laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hioid, dan
beberapa buah tulang rawan. Tulang hioid berbentuk seperti huruf U, yang
permukaan atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula, dan tengkorak oleh
tendo-tendo dan otot-otot. Sewaktu menelan, kontrasi otot-otot ini akan akan
menyebabkan laring tertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka otot-otot
ini bekerja untuk membuka mulut dan memantu menggerakkan lidah. Tulang
rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglotis, kartilago aritenoid,
kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis, dan kartilago tritisea. Kartilago
krikoid dihubungkan dengan kartilago tiroid oleh ligamentum krikotiroid berupa
lingkaran.2,4

Batas atas rongga laring ialah aditus laring, batas bawahnya ialah bidang
yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas depannya ialah epiglotis,
batas belakang ialah m. aritenoid transversus dan lamina kartilago kriroid, batas
lateralnya adalah kartilago arytenoid, konus elastikus dan arkus kartilago
krikoid.2,5

Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum


ventrikulare, maka terbentuklah plika vokalis (pita suara asli) dan plika
ventrikularis (pita suara palsu). Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan, disebut
rima glotis, sedangkan antara kedua plika ventrikularis, disebut rima vestibuli.
Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi rongga laring dalam 3 bagian, yaitu
vestibulum laring, glotik, dan subglotik.2,3,4
Vestibulum laring ialah rongga laring yang terdapat di atas plika
ventrikularis. Daerah ini disebut supraglotik. Antara plika vokalis dan plika
ventrikularis, pada tiap sisinya disebut ventrikulus laring Morgagni. Daerah
subglotik adalah rongga laring yang terletak di bawah plika vokalis.2,3
Mukosa di daerah subglotik merupakan jaringan ikat jarang, yang disebut
konus elastikus. Keistimewaan jaringan ini ialah, bila terangsang mudah terjadi
edema dan akan terbentuk jaringan granulasi bila rangsangan berlangsung lama.2,6

Gambar 1. Posisi Laring.3

I.2.1 Struktur Penyangga Laring

Gambar 2. Kartilago Laring 4


Tulang rawan yang menyusun laring adalah : kartilago epiglotis, kartilago
tiroid, kartilago krikoid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago
kuneiformis dan kartilago tritisea.
Tulang rawan pada laring ada yang sepasang dan ada yang tunggal. Yang
sepasang antara lain kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago
kuneiformis. Sedangkan yang hanya berjumlah satu buah yaitu kartilago
epiglotis, kartilago tiroid, kartilago krikoid
a. Kartilago krikoid (Cartilago cricoidea)
Merupakan kartilago yang berbentuk cincin utuh, terletak di belakang
kartilago tiroid dan merupakan tulang rawan paling bawah dari laring.
Kartilago ini mempunyai arcus anterior yang sempit dan lamina posterior
yang lebar. Pada bagian lateral nya ada facies articularis sirkular yang akan
bersendi dengan cornu inferior kartilago tiroid. Sedangkan di bagian atasnya
terdapat facies articularis yang akan bersendi dengan basis kartilago
aritenoid. Di setiap sisi tulang rawan krikoid melekat ligamentum
krikoaritenoid, otot krikoaritenoid lateral dan di bagian belakang melekat otot
krikoaritenoid posterior.3,4,5,6
b. Kartilago tiroid (Cartilago thyroidea)
Kartilago tiroid dihubungkan dengan kartilago krikoid oleh ligamentum
krikotyroid. Merupakan tulang rawan laring yang terbesar, terdiri dari dua
lamina yang bersatu di bagian depan dan mengembang ke arah belakang.
Kartilago tiroid terletak di bagian proksimal kelenjar tiroid, biasanya di sebut
dengan jakun. Biasanya berukuran lebih besar dan lebih menonjol pada laki-
laki akibat hormon yang di ekskresi saat pubertas. Kedua lamina tersebut
merupakan lamina Kartilago hyaline yang bertemu di linea mediana anterior
menjadi sebuah tonjolan disebut dengan Adam’s apple/ commum adamum/
prominentia piriformis (jakun). Pinggir posterior tiap lamina menjorok ke atas
membentuk cornu superior dan ke bawah membentuk cornu inferior. Pada
permukaan luar lamina terdapat line oblique sebagai tempat melekatnya otot
sternothyroideus, otot thyrohyoideeus, dan otot constrictor pharyngis
inferior.3,5,6
c. Kartilago epiglotis
Epiglotis atau kartilago epiglotis adalah katub kartilago elastis yang
merupakan lipatan tulang rawan berbentuk daun dan menonjol keatas
dibelakang dasar lidah yang melekat pada tepian anterior kartilago tiroid.
Kartilago ini merupakan kartilago yang paling atas pada laring, yang
keseluruhannya di lapisi oleh membran mukosa. Epiglottis dewasa umumnya
sedikit cekung pada bagian posterior. Namun pada anak dan sebagian orang
dewasa, epiglottis jelas melengkung dan disebut epiglottis omega atau
juvenilis. Epiglotis adalah tulang rawan yang berfungsi sebagai katup pada
pita suara (laring) dan tabung udara (trakea), yang akan menutup selama
proses menelan berlangsung. 3,4,5,6
d. Kartilago aritenoid (Cartilago arytenoidea)
Merupakan Kartilago kecil yang terdiri dari dua buah dan berbentuk
pyramid yang terletak di belakang dari laring pada pinggir atas lamina
kartilago krikoid. Kartilago aritenoid membentuk persendian dengan kartilgo
krikoid disebut artikulasi krikoaritenoid, sehingga dapat terjadi gerakan
meluncur dari medial ke lateral dan rotasi. Masing- masing kartilago aritenoid
memiliki apex di bagian atas dan basis di bagian bawahnya. Dimana bagian
apex nya ini akan menyangga dari kartilago coeniculata, sedangkan pada
bagian basis nya bersendi dengan kartilago krikoid. Pada basis nya terdapat
dua tonjolan yaitu prosesus vokalis anterior yang menonjol horizontal ke
depan merupakan perlekatan dari ligamentum Vocale, dan prosesus
muskularis lateralis yang menonjol ke lateral dan merupakan perlekatan dari
otot crycoarytenoideus lateralis et posterior. 3,5,6
e. Kartilago kornikulata (Cartilago corniculata)
Kartilago kornikulata melekat pada bagian ujung kartilago aritenoid dan
kartilago juga disebut kartilago santorini. Kartilago ini bersendi dengan
cartilaginis arytenoidea dan plica aryepiglottica. 3,6
f. Kartilago kuneiformis (Cartilago cuneiformis)
Kartilago ini juga disebut dengan kartilago wrisberg dan merupakan kartilago
kecil berwarna kuning yang terdapat di dalam plica aryepiglottica.3,6

I.2.2 Struktur Otot Laring


Otot-otot yang menyusun laring terdiri dari otot-otot ekstrinsik dan otot-
otot intrinsik.Otot atau muskulus ekstrinsik adalah otot yang bekerja pada laring
secara keseluruhan, sedangkan otot intrinsik bekerja pada bagian-bagian tertentu
yang berhubungan dengan pita suara.2
a. Otot-otot Ekstrinsik
Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak di atas tulang hioid
(suprahioid), seperti musculus digastrikus, musculus geniohioid, musculus
stilohioid dan musculus milohioid. Sedangkan otot-otot ekstrinsik laring yang
terletak di bawah tulang hioid (infrahioid) ialah musculus sternohioid,
musculus omohoid dan m. Tirohioid. Otot ekstrinsik suprahioid akan menarik
laring ke bawah dan yang infrahioid akan menarik ke bagian atas.2,5
b. Otot-otot Intrinsik
Otot-otot instrinsik yang terletak di bagian lateral laring ialah musculus
krikoaritenoid lateral, musculus tiroepiglotika, musculus vokalis, musculus
tiroaritenoid, musculus ariepiglotika dan musculus krikotiroid. Sedangkan otot-
otot instrinsik yang terletak di bagian posterior laring adalah musculus
aritenoid transversum, musculus aritenoid oblik, musculus krikoaritenoid
posterior.2,3
Gambar 3. Tampilan laring dan pcrlckatan trakea setelah pcngangkatan seluruh
jaringan kccuali otot dan ligamentum. a, Pandangan lateral; b, pandangan
postcrior; g skema diagramatik susunan otototot intrinsik: 1 dan e. posisi.
perlekalan dan kerja otot krikoliroideus.

I.2.3 Persarafan Laring


Laring dipersarafi oleh cabang-cabang n. vagus, yaitu n. Laringeus
superior dan n. Laringeus inferior. Kedua saraf ini merupakan campuran saraf
motorik dan sensorik.2,5
a. Nervus laringis superior
Mempersarafi otot Krikotiroid, sehingga memberikan sensasi pada mukosa
laring di bawah pita suara. Saraf ini mula-mula terletak di atas otot
Konstriktor faring medial, di sebelah medial arteri Karotis interna dan
eksterna, kemudian menuju ke kornu mayor tulang hioid, dan setelah
menerima hubungan dengan ganglion servikal superior, membagi diri dalam
2 cabang, yaitu ramus eksternus dan internus. 2
Ramus eksternus berjalan pada permukaan luar otot Konstriktor faring
inferior dan menuju ke otot Krikotiroid. Ramus eksterna merupakan suplai
motorik untuk satu otot saja, yaitu otot krikotiroideus.2,4
Ramus internus tertutup oleh otot Tirohioid terletak di sebelah medial
arteri Tiroid superior, menembus membran hiotiroid, dan bersama-sama arteri
Laringeus superior menuju ke mukosa laring. Ramus atau Cabang interna ini
mengurus persarafan sensorik valekula, epiglottis, sinus piriformis dan
seluruh mukosa laring superior interna tepi bebas korda vokalis sejati.2,4
b. Nervus laringis inferior
Merupakan lanjutan dari nervus Rekuren setelah saraf itu memberikan
cabangnya menjadi ramus kardia inferior. Nervus rekuren merupakan cabang
dari nervus vagus.
N. rekuren kanan akan menyilang a. Subklavia kanan dibawahnya,
sedangkan n. Rekuren kiri akan menyilang arkus aorta.
Nervus laringis inferior berjalan diantara cabang-cabang a. Tiroid
inferior, dan melalui permukaan mediodorsal kelenjar tiroid akan sampai
pada permukaan medial m. Krikofaring. Di sebelah posterior dari sendi
krikoaritenoid, saraf ini bercabang dua menjadi ramus anterior dan posterior.
Ramus anterior akan mempersarafi otot-otot intrinsik bagian lateral,
sedangkan ramus posterior mempersarafi otot-otot intrinsik laring bagian
superior dan mengadakan anastomosis dengan n. Laringis superior ramus
internus. 2,4

Gambar 4. Persarafan Laring

I.2.4 Sirkulasi Darah Laring


Pendarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang, yaitu a. Laringis superior
dan a. Laringis inferior.

a. Arteri laringis superior


Merupakan cabang dari a. Tiroid superior. Arteri laringitis superior
berjalan agak mendatar melewati bagian belakang membran hioid bersama-
sama dengan cabang internus dari n. Laringis superior kemudian menembus
membran ini untuk berjalan ke bawah di submukosa dari dinding lateral dan
lantai dari sinus piriformis, untuk memperdarahi mukosa dan otot-otot laring.
b. Arteri laringis inferior
Merupakan cabang dari a. Tiroid inferior dan bersama-sama dengan n.
Laringis inferior berjalan ke belakang sendi krikotiroid, masuk laring melalui
daerah pinggir bawah dari m. Konstriktor faring inferior.
Di dalam laring arteri itu bercabang-cabang , mempendarahi mukosa dan otot
serta beranastomosis dengan a. Laringis superior. Pada daerah setinggi membran
krikotiroid a. Tiroid superior juga memberikan cabang yang berjalan mendatari
sepanjang membran itu sampai mendekati tiroid. Kadang-kadang arteri ini
mengirimkan cabang yang kecil melalui membran krikotiroid untuk mengadakan
anastomosis dengan a. Laringis superior. Vena laringis superior dan vena laringis
inferior letaknya sejajar dengan a. Laringis superior dan inferior dan kemudian
bergabung dengan vena tiroid superior dan inferior. Vena-vena laring mengikuti
arteri-arteri larynx, vena laryngea superior biasanya bermuara pada vena thyroidea
superior, lalu bermuara ke dalam vena jugularis interna.Vena laryngea inferior
bermuara pada vena thyroidea inferior.2,4

I.2.5 Pembuluh Limfa Laring


Pembuluh limfa untuk laring banyak, kecuali daerah lipatan vokal. Disini
mukosanya tipis dan melekat erat dengan ligamentum vokale. Di daerah lipatan
vokal pembuluh limfa dibagi dalam golongan superior dan inferior.
Pembuluh eferen dari golongan superior berjalan lewat lantai sinus
piriformis dan a.laringis superior, kemudian ke atas dan bergabung dengan
kelenjar dari bagian superior rantai servikal dalam. Pembuluh eferen dari
golongan inferior berjalan kebawah dengan a.laringis inferior dan bergabung
dengan kelenjar servikal dalam, dan beberapa diantaranya menjalar sampai sejauh
kelenjar supraklavikular.2,3,4,6
DAFTAR PUSTAKA

1. Lee K.J. Chapter 11 : Embriology of the Larynx. In; Essential


Otolaryngology and Head and Neck Surgery. 8th Edition. McGraw-Hill
2003. Page 8-9.

2. B. Hermani, Syahrial M. Hutauruk. Disfonia. Dalam : Buku Ajar Ilmu


Kesehatan Telingan Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta 2010. Hal 231-4.

3. Taufik Ali and Staff Members of Otorhinolaryngology Department Faculty of


Medicine. In : Essentials Of Otorhinolaryngology. 1st Edition. Mansoura
University. Egypt 2007. Page 148-51.

4. Cohen, J.I. Anatomi dan Fisiologi Laring. Dalam Adam Boies Higler (Buku
Ajar Penyakit THT). Edisi VI. EGC. Jakarta 2002. Hal 370-7.

5. Woodson Gayle E. Upper Airway Anatomi & Function. In: Bailey Byron J.
Head & Neck Surgery – Otolaryngology. Vol 2. 3rd Edition. Lipincott
Williams & Wilkins Publisher. Philadelphia 2001. Page; 336-8

6. Lee K.J. Chapter 15 : The Larynx. In; Essential Otolaryngology and Head
and Neck Surgery. 3rd Edition. McGraw-Hill. Page 1-13