You are on page 1of 33

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Transisi dari kehidupan intrauterine ke ekstrauterine adalah adaptasi

yang kompleks. Beberapa saat dan beberapa jam pertama kehidupan

ekstrauterine adalah salah satu masa yang paling dinamis dari seluruh siklus

kehidupan. Pada saat lahir, bayi baru lahir berpindah dari ketergantungan total

ke kemandirian fisiologis. Saat ini bayi tersebut harus dapat oksigen melalui

pernapasannya sendiri, mendapat nutrisi oral untuk mempertahankan kadar

gula yang cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit. Adaptasi

terhadap kehidupan diluar uterus disebut periode transisi. Periode ini

berlangsung hingga 1 bulan atau lebih untuk beberapa system tubuh. [8]
Transisi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada system

pernapasan, sirkulasi, termoregulasi dan dalam kemampuan mengambil serta

menggunakan glukosa.[6] Menstabilkan respirasi salah satu hal yang sangat

penting pada transisi bayi baru lahir, karena paru-paru menjadi organ

pertukaran gas setelah pemisahan dari sirkulasi uteroplasenta ibu. Lebih dari

90% bayi yang baru lahir melakukan transisi dari kehidupan intrauterin ke

kehidupan ekstrauterus tanpa kesulitan, membutuhkan sedikit atau tidak ada

bantuan. Namun, untuk 10% bayi baru lahir yang membutuhkan bantuan,

sekitar 1% memerlukan tindakan resusitasi ekstensif untuk bertahan hidup. [2]

1
Keberhasilan transisi dari janin ke kehidupan neonatal tidak hanya

menstabilkan respirasi tapi membutuhkan interkasi yang rumit antara sistem

respirasi, kardiovaskular, termoregulasi dan imunologi. Hal ini menarik

penulis untuk membahasnya dalam referat “ Adaptasi Fsiologis Fetus dari

Intrauterine ke Ekstrauterine “.

II. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan bayi baru lahir ?
2. Bagaimana proses adaptasi fsiologis fetus dari intrauterine ke ekstrauterine?

III. Tujuan

1. Mengetahui pengertian bayi baru lahir
2. Mengetahui proses adaptasi fsiologis fetus dari intrauterine ke ekstrauterine

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Bayi Baru Lahir (Neonatus atau Neonatal)

Bayi Baru Lahir (BBL)/ Neonatus/ Neonatal adalah hasil konsepsi yang

baru keluar dari rahim seorang ibu melalui jalan kelahiran normal atau

dengan bantuan alat tertentu dengan periode sejak bayi lahir sampai 28 hari

pertama kehidupan. Bayi baru lahir fisiologis adalah bayi yang lahir dari
[5]
kehamilan 37-42 minggu dan berat badan lahir 2500-4000 gram. Selama

beberapa minggu, neonatus mengalami masa transisi dari kehidupan

intrauterin ke extrauterine dan menyesuaikan dengan lingkungan yang baru.

Masa bayi baru lahir (Neonatal) dibagi menjadi 2 bagian, yaitu [6] :
a. Periode Partunate, dimana masa ini dimulai dari saat kelahiran

sampai 15 dan 30 menit setelah kelahiran
b. Periode Neonate, dimana masa ini dari pemotongan dan pengikatan

tali pusar sampai sekitar akhir minggu kedua dari kehidupan

pascamatur.

2. Adaptasi Fisiologis Bayi Baru Lahir Terhadap Kehidupan Diluar Uterus

3
Saat lahir, bayi baru lahir harus beradaptasi dari keadaan yang sangat

tergantung menjadi mandiri. Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi

yang semula berada dalam lingkungan interna ke lingkungan eksterna . Saat

ini bayi tersebut harus dapat oksigen melalui sistem sirkulasi pernapasannya

sendiri, mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan kadar gula yang

cukup, mengatur suhu tubuh dan melawan setiap penyakit. Periode adaptasi

terdahadap kehidupan diluar rahim disebut periode transisi. Periode

transisional ini dibagi menjadi tiga periode, yaitu [6] :
a. periode pertama reaktivitas
Periode pertama reaktivitas berakhir pada 30 menit pertama setelah

kelahiran. Karakteristik pada periode ini, antara lain: denyut nadi

apical berlangsung cepat dan irama tidak teratur, frekuensi

pernapasan mencapai 80 kali permenit, pernafasan cuping hidung,

ekspirasi mendengkur dan adanya retraksi. Pada periode ini, bayi

membutuhkan perawatan khusus yaitu, mengkaji dan memantau

frekuensi jantung dan pernafasan setip 30 menit pada 4 jam pertama

setelah kelahiran, menjaga bayi agar tetap hangat (suhu aksila 36,5-

37,50C).
b. Fase tidur
fase ini merupakan interval tidak responsive relative atau fase tidur

yang dimulai dari 30 menit setelah periode pertama reaktivitas dan

berakhir pada 2-4 jam. Karakteristik pada fase ini adalah frekuensi

pernafasan dan denyut jantung menurun kembali ke nilai dasar, warna

4
kulit cenderung stabil, terdapat akro sianosis dan bisa terdengar bising

usus
c. Periode kedua reaktivitas
Periode ini berakhir sekitar 4-6 jam setelah kelahiran. Karakteristik

pada periode ini adalah bayi memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi

terhadap stimulus internal dan lingkungan. Periode pascatransisional

Pada saat bayi telah melewati periode transisi, bayi dipindah keruang

bayi / rawat gabung bersama ibunya,

Transisi dari kehidupan di dalam kandungan ke kehidupan luar

kandungan merupakan perubahan drastis, dan menuntut perubahan

fisiologis yang bermakna dan efektif oleh bayi, guna memastikan

kemampuan bertahan hidup. Adaptasi bayi terhadap kehidupan diluar

kandungan meliputi :

2.1 Perubahan Sistem Pernapasan
Paru-paru berkembang dari mingu ke-3 kehamilan dengan

terbentuknya bronchioles terminal pada minggu ke-16. Perkembangan

Alveoli terdiri dua lapis pneumocytes yaitu pneumocytes tipe I dan

pneumocytes tipe II. Pneumocytes tipe II membuat sekresi fosfolipid

suatu surfaktan yang penting untuk fungsi pengembangan nafas.

Surfaktan ini terbentuk sejak minggu ke-24. Pada pretrem produksi

surfaktan dapat ditingkatkan dengan cara pemberian kortikosteroid pada

5
ibunya. Steroid dan faktor pertumbuhan terbukti merangsang pematangan

paru melalui suatu penekanan protein yang sama. Tidak saja fosfolipid

yang berperan pada proses pematangan selular. Ternyata gerakan nafas

juga merangsang gen untuk aktif mematangkan sel alveoli. [9]
Janin dalam kandungan sudah mengadakan gerakan-gerakan

pernafasan, namun air ketuban tidak masuk ke dalam alveoli paru-

parunya. Pusat pernapasan ini di pengaruhi oleh kadar O2 dan CO2 di

dalam tubuh janin. Keadaan ini dipengaruhi oleh sirkulasi plasenter

(pengaliran darah antara uterus dan plasenta). Apabila terdapat gangguan

pada sirkulasi utero-plasenter sehingga saturasi oksigen lebih menurun,

misalnya pada kontraksi uterus yang tidak sempurna, eklampsia dan

sebagainya, maka dapatlah gangguan dalam keseimbangan asam dan basa

pada janin tersebut, dengan akibat dapat melumpuhkan pusat pernafasan

janin. [1]
Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas

melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru –

paru. Inisiasi pernapasan ini adalah proses kompleks yang melibatkan

interaksi faktor biokimia, saraf dan mekanik. Aliran darah pulmonal,

produksi surfaktan, dan otot pernapasan juga mempengaruhi adaptasi

pernafasan pada kehidupan ekstrauterin. [1]
Pada janin yang sudah cukup bulan mengalami penurunan cairan paru

pada hari-hari sebelum persalinan dan selama persalinan. Itu terjadi

karena pada permukaan paru-paru yang telah matur ditemukan

6
lipoprotein(surfaktan) yang berfungsi untuk mengurangi tahanan pada

permukaan alveoli dan memudahkan paru-paru berkembang pada

penarikan nafas pertama pada janin.[2]
Pada saat bayi melewati jalan lahir selama persalinan, terjadi tekanan

pada thoraks sehingga sekitar sepertiga cairan yang mengisi mulut dan

trakea keluar sebagian dan udara mulai mengisi saluran trakea. Dengan

beberapa kali tarikan napas yang pertama udara memenuhi ruangan trakea

dan bronkus bayi baru lahir. Sisa cairan di paru-paru dikeluarkan dari

paru-paru Saat bayi menangis, tekanan intrathoracic positif terbentuk yang

membuat alveoli tetap terbuka, memaksa cairan paru janin yang tersisa ke

dalam sirkulasi limfatik. [2]
Pusat kemoreseptor dirangsang oleh beberapa faktor yaitu adanya

hipoksia dan hiperkarbia [2]:
1. Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan

luar rahim yang merangsang pusat pernafasan di otak.
2. Hiperkarbia (Penimbunan karbondioksida (CO2)). Setelah bayi

lahir, Pengikatan tali pusat mengurangi konsentrasi oksigen,

meningkatkan konsentrasi karbon dioksida, dan menurunkan pH

darah. Ini merangsang kemoreseptor aorta dan karotid janin,

mengaktifkan pusat pernapasan di medula untuk memulai

respirasi. Kadar CO2 yang meningkat dalam darah akan

merangsang pernafasan. Berkurangnya O2 akan mengurangi

gerakan pernafasan janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO 2 akan

menambah frekuensi dan tingkat gerakan pernapasan janin.

7
Agar sistem pernafasan berfungsi dengan efektif, bayi harus

memiliki[2]:

- Aliran darah pulmonal yang adekuat
- Jumlah surfaktan yang cukup
- Otot pernapasan cukup kuat untuk mendukung respiras

2.2 Perubahan Sistem Sirkulasi

Sirkulasi fetus

Gambar II.1 sirkulasi fetus
Aliran darah yang kaya oksigen dan nutrisi yang berasal dari

plasenta masuk ke tubuh janin melalui pembuluh darah vena

umbilicalis. Meskipun sejumlah kecil darah yang mengandung oksigen

dikirim ke hati, kebanyakan darah mengalihkan sistem hati melalui

8
duktus venosus, yang membentuk hubungan antara vena umbilikalis

dan vena cava inferior. Darah yang kaya oksigen dari vena cava

inferior memasuki atrium kanan dan sebagian besar diarahkan melalui

foramen ovale ke atrium kiri, kemudian ke ventrikel kiri, dan ke aorta

ascenden. Hanya sebagian kecil darah dari atrium kanan mengalir ke

ventricle kanan bersama-sama dengan darah yang berasal dari vena

cava superior.[6]
Karena tekanan dari paru-paru yang belum berkembang, sebagian

darah dari ventricle kanan yang seharusnya mengalir melalui arteri

pulmonalis ke paru-paru, akan mengalir melalui ductus Botalii ke

aorta. Sebagian kecil akan mengalir ke paru-paru dan selanjutnya ke

atrium sinistra melalui vena pulmonalis. Darah dari sel-sel tubuh yang

miskin oksigen penuh dengan sisa pembakaran dan sebagiannya akan

dialirkan ke plasenta melalui dua ateriol umbikalis. Seterusnya akan

diedarkan ke pembuluh darah di kotiledon dan jonjot-jonjot dan

kembali melalui vena umbilikalis ke janin. Demikian seterusnya,

sirkulasi janin ini berlangsung ketika berada dalam uterus. [6]

Sirkulasi Neonatus
Dengan napas pertama bayi dan paparan terhadap peningkatan

kadar oksigen, ada peningkatan aliran darah ke paru-paru yang

menyebabkan penutupan foramen ovale. Penyempitan duktus

arteriosus adalah proses bertahap yang dihasilkan dari pulmonary

vascular resistance (PVR), meningkatkan sistemic vascular resistance

9
(SVR) dan kepekaan terhadap kenaikan tingkat PaO2 arteri.

Pengangkatan plasenta mengurangi tingkat prostaglandin (yang

membantu untuk mempertahankan patensi duktus) yang selanjutnya

mempengaruhi penutupan. [1]
Saat lahir, penjepitan tali pusat mengakibatkan plasenta tidak lagi

sebagai penampung darah, ini memicu peningkatan sistemic vascular

resistance (SVR), peningkatan tekanan darah, dan peningkatan

tekanan di sisi kiri jantung. Pengangkatan plasenta juga

menghilangkan kebutuhan aliran darah melalui duktus venosus, yang

menyebabkan eliminasi fungsional dari shunt janin ini. Aliran darah

vena sistemik kemudian diarahkan melalui sistem portal untuk

sirkulasi hati. Pembuluh-pembuluh pembuluh darah menyempit,

dengan penutupan fungsional segera terjadi. Fibrous infiltration

mengarah ke penutupan anatomi pada minggu pertama kehidupan. [1]

Keberhasilan transisi dan penutupan shunt janin menciptakan

sirkulasi neonatal di mana darah terdeoksigenasi kembali ke jantung

melalui vena cava inferior dan superior. Darah kemudian memasuki

atrium kanan ke ventrikel kanan dan perjalanan melalui arteri

pulmonalis ke tempat tidur pembuluh darah paru. Darah yang

teroksigenasi kembali melalui vena pulmonal ke atrium kiri, ventrikel

kiri, dan melalui aorta ke sirkulasi sistemik. Hipoksia, asidosis, dan

cacat jantung kongenital adalah kondisi yang mengarah ke pulmonary

10
vascular resistance (PVR) tinggi berkelanjutan dan dapat mengganggu

urutan kejadian normal. [1]

Gambar II.2 Perbedaan Sirkulasi Fetus dan Neonatus

Perubahan pada saat lahir

1) Penghentian pasokan darah dari plasenta.
2) Pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru.
3) Penutupan foramen ovale.
4) Fibrosis
a. Vena umbilicalis.
b. Ductus venosus.
c. Arteriae hypogastrica.
d. Ductus arteriosus.
Sirkulasi pulmonari: vena umbilikus, duktus venosus,

foramen ovale, dan duktus arteriosus. [6]

11
Tabel II.1 Perbedaan sirkulasi fetus dan sirkulasi neonatal

2.3 Perubahan Hematologi

Pada umumnya bayi baru lahir ( BBL) dilahirkan dengan nilai

hemoglobin ( Hb) yang tinggi. Hemoglobin F adalah Hb yang dominan

pada periode janin, namun akan lenyap pada satu bulan pertama

12
kehidupan selama beberapa hari pertama. Nilai Hb akan meningkat

sedangkan volume plasma akan menurun, akibatnya hematokrit normal

hanya pada 51 – 56% neonatus. Pada saat kelahiran meningkat dari 3%

manjadi 6% , pada minggu ke-7 sampai ke-9 setelah bayi baru lahir akan

turun perlahan. Nilai Hb untuk bayi berusia 2 bulan rata-rata 12 g/dl. [11]

Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai hemoglobin pada bayi baru

lahir [11]:

1. waktu pengkleman tali pusat. Penundaan pengkleman tali pusat

dapat meningkatakan volume darah neonotus 25-40% , keuntungan

penundaan pengkleman :

- Volume yang besar meningkatkan perfusi kapiler baru

- Berlanjutnya bolus darah teroksigenasi selama nafas pertama

yang tidak teratur.

2. Pencapaian oksigenasi adekuat yang lebih cepat membuat

penutupan struktur janin.

3. Posisi bayi baru lahir segera setelah lahir

Sel darah merah BBL memiliki umur yang singkat , yaitu 80

hari , sedangkan sel darah merah orang dewasa 120 hari. Pergantian sel

yang cepata ini menghasilkan lebih banyak sampah metabolic akibat

penghancuran sel termasuk bilirubin yang harus di metabolisme. Muatan

bilirubin yang berlebihan ini menyebabkan ikterus fisiologis yang terlihat

pada bayi baru lahir. Oleh karena itu, terdapat hitung retukulosit yang

13
tinggi pada bayi baru lahir yang mencerminkan pembentukan sel darah

merah baru dalam jumlah besar. [11]

Sel darah putih rata-rata pada bayi baru lahir memiliki rentang dari

10.000 hingga 30.000/mm . peningkatan lebih lanjut dapat terjadi pada

BBL normal selama 24 jam pertama kehidupan. Pada saat menangis yang

lama juga dapat menyebabkan hitung sel darah putih mengandung

granulosit dalam jumlah yang besar. [11]

Tabel II.2 Nilai Normal Darah Neonatus

2.4 Termoregulasi

Termoregulasi adalah kemampuan untuk menyeimbangkan produksi

panas dan kehilangan panas untuk mempertahankan suhu tubuh dalam

rentang yang normal. Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu

14
tubuhnya, sehingga akan mengalami “Stress Dingin” atau Cold Stress

terutama karena perubahan lingkungan dari dalam rahim ke dunia luar

yang jauh lebih dingin. [3]
Secara fisiologis ada beberapa mekanisme produksi panas pada bayi

baru lahir [3]:
1. Melalui proses metabolism
Otak, jantung, dan hati menghasilkan energi yang paling

metabolik dengan metabolisme oksidatif glukosa, lemak dan

protein. Jumlah panas yang dihasilkan bervariasi dengan

aktivitas, status, status kesehatan, suhu lingkungan. Dengan

tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir

seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa

darahnya sendiri. Pada setiap baru lahir, glukosa darah akan

turun dalam waktu cepat (1 sampai 2 jam). [3]
Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
1) Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus

didorong untuk menyusu ASI secepat mungkin setelah lahir).
2) Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis)
3) Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak

(glukoneogenesis). [3]

Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam

jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen

(glikogenolisis). Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai

persediaan glikogen yang cukup. Seorang bayi yang sehat akan

15
menyimpan glukosa sebagai glikogen, terutama dalam hati,

selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam Rahim. [3]

Seorang bayi yang mengalami hipotermia pada saat lahir

yang mengakibatkan hipoksia akan menggunakan persediaan

glikogen dalam jam pertama kelahiran. Inilah sebabnya mengapa

sangat penting menjaga semua bayi dalam keadaan hangat.

Perhatikan bahwa keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya

tercapai hingga 3-4 jam pertama pada bayi cukup bulan yang

sehat. Jika semua persediaan digunakan pada jam pertama maka

otak bayi dalam keadaan beresiko. Bayi baru lahir kurang bulan,

lewat bulan, hambatan pertumbuhan dalam rahim dan distress

janin merupakan resiko utama, karena simpanan energi

berkurang atau digunakan sebelum lahir. [3]

2. Aktivitas otot
Aktivitas otot meningkat ketika bayi gelisah dan menangis ini

dapat menghasilkan panas. Untuk menjaga panas dengan bayi

posisi tertekuk ini mengurangi luas permukaan yang terbuka. [3]
3. Vasokonsitriksi perifer
Respon terhadap suhu yang dingin, vasokonstriksi perifer

mengurangi aliran darah ke kulit dan karena itu mengurangi

hilangnya panas dari permukaan kulit. [3]
4. Nonshivering Thermogenesis

16
Panas dihasilkan oleh metabolisme brown fat (lemak coklat).

Reseptor termal mengirimkan impuls ke hipotalamus,

yang menstimulasi sistem saraf simpatik dan menyebabkan

pelepasan norepinefrin dalam lemak coklat (ditemukan di sekitar

skapula, ginjal, kelenjar adrenal, kepala, leher, jantung,

pembuluh besar, dan daerah aksila). Norepinephrine dalam

lemak coklat mengaktifkan lipase, yang menghasilkan lypolysis

dan oksidasi asam lemak. Proses kimia ini menghasilkan panas

dengan melepaskan energi yang dihasilkan bukan menyimpan

sebagai Adenosin-5-trifosfat (ATP). [3]

Secara fisiologis, tubuh bayi akan menggunakan timbunan lemak

coklat (Brown Fat) untuk menghasilkan panas. Namun cadangan lemak

coklat ini akan habis dan bayi akan mudah mengalami hipoglisemia,

hipoksia dan asidosis. Untuk itu, pencegahan kehilangan panas sangatlah

diperlukan. Perubahan kondisi terjadi pada neonatus yang baru lahir. Di

dalam tubuh induknya, suhu tubuh fetus selalu terjaga, begitu lahir maka

hubungan dengan induk sudah terputus dan neonatus harus

mempertahankan suhu tubuhnya sendiri melalui aktifitas metabolismenya.

Semakin kecil tubuh neonatus, semakin sedikit cadangan lemaknya.

Semakin kecil tubuh neonatus juga semakin tinggi rasio permukaan tubuh

dengan massanya. [3]

17
Suhu permukaan kulit meningkat atau turun sejalan dengan perubahan

suhu lingkungan. Sedangkan suhu inti tubuh diatur oleh hipotalamus.

Namun pada pediatrik, pengaturan tersebut masih belum matang dan

belum efisien. Oleh sebab itu pada pediatrik ada lapisan yang penting

yang dapat membantu untuk mempertahankan suhu tubuhnya serta

mencegah kehilangan panas tubuh yaitu rambut, kulit dan lapisan lemak

bawah kulit. [3]

Ketiga lapisan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan efisien atau

tidak bergantung pada ketebalannya. Sayangnya sebagian besar pediatrik

tidak mempunyai lapisan yang tebal pada ketiga unsur tersebut. Transfer

panas melalui lapisan pelindung tersebut dengan lingkungan berlangsung

dalam dua tahap. Tahap pertama panas inti tubuh disalurkan menuju kulit.

Tahap kedua panas tubuh hilang melalui radiasi, konduksi, konveksi atau

evaporasi. [3]

Bayi Rentan Kehilangan Panas

Pada dasarnya turunnya suhu tubuh ini dapat terjadi akibat

penurunan produksi panas, peningkatan panas yang hilang atau gangguan

pada pengatur suhu tubuh termoregulasi). Ahli kesehatan anak

menerangkan bahwa penurunan produksi panas dapat berhubungan

dengan sistem endokrin, seperti gangguan hormon tiroid atau pituitary.

Peningkatan panas yang hilang dapat terjadi akibat berpindahnya panas

18
tubuh ke lingkungan sekitar. Sedangkan gangguan termoregulasi dapat

terjadi akibat gangguan di hipotalamus yaitu suatu bagian otak yang

Salah Satu fungsinya mengatur suhu tubuh. [3]

Mekanisme Kehilangan Panas Pada Neonatus

Pengaturan suhu pada neonatus masih belum baik selama beberapa

saat. Karena hipotalamus bayi masih belum matur, dan bayi masih rentan

terhadap hipotermia, terutama jika terpapar dingin atau aliran udara

dingin, saat basah, sulit bergerak bebas, atau saat kekurangan nutrisi.

Bayi memasuki suasana yang jauh lebih dingin dari pada saat kelahiran,

dengan suhu kamar bersalin 210 C yang sangat berbeda dengan suhu

dalam kandungan, yaitu 37,70 C. Pada saat lahir, faktor yang berperan

dalam kehilangan panas pada bayi baru lahir meliputi area permukaan

tubuh bayi baru lahir, berbagai tingkat insulasi lemak subkutan, dan

derajat fleksi otot. Ini menyebabkan pendinginan cepat pada bayi saat

amnion menguap dari kulit. Setiap milimeter penguapan tersebut

memindahkan 500 kalori panas . [3]

Bayi kehilangan panas melalui empat cara, yaitu [3]:

1. Konduksi

19
Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara

tubuh bayi dengan permukaan yang dingin.
Contoh: Bayi yang diletakkan di atas meja, tempat tidur atau

timbangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas

tubuh akibat proses konduksi.
2. Konveksi

Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi pada saat bayi

terpapar dengan udara sekitar yang lebih dingin.
Contoh: Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan dalam ruangan

yang dingin akan cepat mengalami panas. Kehilangan panas juga

dapat terjadi jika ada tiupan kipas angin, aliran udara atau penyejuk

ruangan.
Suhu udara di kamar bersalin tidak boleh kurang dari 20 0 C dan

sebaiknya tidak berangin. Tidak boleh ada pintu dan jendela yang

terbuka. Kipas angin dan AC yang kuat harus cukup jauh dari area

resusitasi. Troli resusitasi harus mempunyai sisi untuk

meminimalkan konveksi udara sekitar bayi.
3. Evaporasi

20
Evaporasi adalah kehilangan panas akibat bayi tidak segera

dikeringkan.
Contoh: Kehilangan panas terjadi karena meguapnya cairan

ketuban pada permukaan tubuh setelah bayi lahir karena tubuh bayi

tidak segera dikeringkan. Hal yang sama dapat terjadi setelah bayi

dimandikan. Karena itu bayi harus dikeringkan seluruhnya,

termasuk kepala dan rambut, sesegera mungkin setelah dilahirkan.

Lebih baik lagi menggunakan handuk hangat untuk mencegah

kehilangan panas secara konduksi.
4. Radiasi

Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi yang di

tempatkan dekat benda yang mempunyai tempratur tubuh lebih

rendah dari tempratur tubuh bayi.

21
Contoh: Bayi akan mengalami kehilangan panas melalui cara ini

meskipun benda yang lebih dingin tersebut tidak bersentuhan

langsung dengan tubuh bayi.

Upaya Mencegah Kehilangan Panas :

1. Keringkan bayi secara seksama
2. Selimuti bayi dengan selimut bersih, kering dan hangat
3. Tutupi kepala bayi
4. Anjurkan ibu memeluk dan memberikan ASI
5. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi
6. Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat

2.5 Perubahan Sistem Gastrointestinal
Bayi Baru Lahir (BBL, newborns) harus memulai untuk memasukkan,

mencerna dan mengabsrobsi makanan setelah lahir, sebagaimana plasenta

telah melakukan fungsi ini. saat lahir kapasitas lambung BBL sekitar 6

ml/kg BB, atau rata-rata sekitar 50-60 cc, tetapi segera bertambah sampai

sekitar 90 ml selama beberapa hari pertama kehidupan. Lambung akan

kosong dalam 3 jam untuk pemasukan makanan dan kosong sempurna

dalam 2 sampai 4 jam. [2]
Spingter cardiac antara esophagus dan lambung pada neonatus masih

immatur, mengalami relaksasi sehingga dapat menyebabkan regurgitasi

makanan segera setelah diberikan. Regurgitasi juga dapat terjadi karena

kontrol persarafan pada lambung belum sempurna. BBL mempunyai usus

yang lebih panjang dalam ukurannya terhadap besar bayi dan jika

22
dibandingkan dengan orang dewasa. Keadaan ini menyebabkan area

permukaan untuk absorbsi lebih luas. [2]
Bising usus pada keadaan normal dapat didengar pada 4 kuadran

abdomen dalam jam pertama setelah lahir akibat bayi menelan udara saat

menangis dan sistem saraf simpatis merangsang peristaltik. saat lahir

saluran cerna steril. Sekali bayi terpapar dengan lingkungan luar dan

cairan mulai masuk, bakteri masuk ke saluran cerna. Flora normal usus

akan terbentuk dalam beberapa hari pertama kehidupan sehingga

meskipun saluran cerna steril saat lahir, pada kebanyakan bayi bakteri

dapat dikultur dalam 5 jam setelah lahir. Bakteri ini penting untuk

pencernaan dan untuk sintesa vitamin K. [2]
Enzim-enzim penting untuk mencerna karbohidrat, protein, dan lemak

sederhana ada pada minggu ke-36-38 usia gestasi. Bayi baru lahir cukup

bila mampu menelan, mencerna, memetabolisme dan mengabsorbsi

protein dan karbohidrat sederhana serta mengemulsi lemak. Amilase

pankreas mengalami defisiensi selama 3-6 bulan pertama setelah lahir.

Sebagai akibat, BBL tidak bisa mencerna jenis karbohidrat yang kompleks

seperti yang terdapat pada sereal. Selain itu BBL juga mengalami

defisiensi lipase pankreas. Lemak yang ada di dalam Asi lebih bisa dicerna

dan lebih sesuai untuk bayi dari pada lemak yang terdapat pada susu

formula. [2]
Feses pertama yang dieksresi oleh bayi disebut mekonium, berwarna

gelap, hitam kehijauan, kental, konsistensinya seperti aspal, lembut, tidak

23
berbau, dan lengket. Mekonium terkumpul dalam usus fetus sepanjang

usia gestasi, mengandung partikel-partikel dari cairan amnion seperti sel

kulit dan rambut, sel-sel yang terlepas dari saluran cerna, empedu dan

sekresi usus yang lain. Feses mekonium pertama biasanya keluar dalam 24

jam pertama setelah lahir. Jika tidak keluar dalam 36-48 jam, bayi harus

diperiksa patensi anus, bising usus dan distensi abdomen dan dicurigai

kemungkinan obstruksi. [2]
Tipe kedua feses yang dikeluarkan oleh bayi disebut feses

transisional, bewarna coklat kehijauan dan konsistensinya lebih lepas dari

pada feses mekonium. Feses ini merupakan kombinasi dari mekonium dan

feses susu. Keadaan feses selanjutnya sesuai tipe makanan yang didapat

oleh bayi. Tabel berikut menjelaskan karaktertisik penting sistem

pencernaan sebelum dan setelah lahir. [2]

Tabel II.3 Karakteristik sistem pencernaan

Sebelum lahir Setelah lahir
- gastrointestinal relatif inaktif. - bayi dapat mengisap dan menelan,

Fetus menelan cairan amnion mampu mencerna dan

dan memperlihatkan gerakan mengeliminasi Asi dan susu

mengisap dan menelan dalam formula.

uterus. - bayi mudah menelan udara selama

- tidak ada makanan yang makan dan menangis.

diterima melalui G.I.T. - peristaltik aktif pada bagian

24
- tidak terjadi pengeluaran feses. abdomen yang lebih bawah karena

Pada keadaan hipoksis atau bayi harus mengeluar-kan feses.

distres, spingter anal relaksasi Tidak adanya feses dalam 48 jam

dan mekonium terlepas kedalam pertama mengindikasikan obstruksi

cairan amnion, mengindikasikan isi usus.

fetal distress
Sumber : Burrough & Leifer (2001)

2.6 Perubahan Sistem Ginjal
Perubahan Sistem Ginjal Intrauterine
Pada 22 minggu akan tampak pembentukan korpuskel ginjal di zona

jukstaglomerularis yang berfungsi filtrasi. Ginjal terbentuk sempurna pada

minggu ke-36. Pada janin hanya 2 % dari curah jantung mengalir ke

ginjal, mengingat sebagian besar sisa metabolisme dialirkan ke plasenta.

Sementara itu, tubuli juga mampu filtrasi sebelum glomerulus berfungsi

penuh. Urin janin menyumbang cukup banyak pada volume cairan

amnion. Bila terdapat kondisi oligohidramnion itu merupakan pertanda

penurunan fungsi ginjal atau kelainan sirkulasi. [9]
Janin muda mengandung sekitar 90% air. Sistem urinasi mulai pada

bulan pertama. Produksi urin pada janin dimulai antara masa gestasi 9 dan

11 minggu kehidupan intrauterin. [9]

Perubahan Sistem Ginjal Ekstrauterin

25
Bayi ginjalnya relatif banyak mengandung air dan natrium. Fungsi

ginjal belum sempurna. Peranan ginjal janin dalam menjaga homeostasis

tubuh sampai saat ini masih dipertanyakan, ditemukan adanya kemampuan

ginjal fetus untuk memekatkan dan mengencerkan urin, mengabsorbsi

fosfat dan mengadakan transportasi zat organic. [8]

Fungsi eksresi janin dilakukan melalui plasenta. Hal ini terbukti

dengan ditemukannya hasil pemeriksaan komposisi cairan tubuh fetus

yang normal, termasuk angka plasma kreatinin dan ureum pada neonatus

saat lahir, meskipun terdapat agenesis kedua ginjal. [8]

Adaptasi ginjal pada bayi baru lahir :

1. Laju filtrasi glomerulus secara relative rendah pada waktu lahir

disebabkan oleh tidak adekuatnya permukaan kapiler glomerulus

2. Penurunan kemampuan untuk mengeksresikan obat-obatan dan

kehilangan cairan yang berlebihan mengakibatkan asidosis dan

ketidakseimbangan cairan

3. Sebagian besar bayi baru lahir berkemih dalam 24 jam pertama

setelah lahir dan 2-6 kali sehari pada 1-2 hari pertama setelah itu

mereka berkemih 5-20 kali dalam 24 jam

26
2.7 Perubahan Sistem Imunitas
Perubahan Sistem Imunitas Intrauterine
Pada kehamilan minggu ke-8 telah ada gelaja terjadinya kekebalan

dengan adanya limfosit-limfosit disekitar tempat timus kelak. Dengan

semakin tuanya usia kehamilan jumlah limfosit dalam darah perifer

meningkat dan mulai terbentuk pula folikel-folikel limfe. Jumlah lomfosit-

limfosit limfe yang terbanyak terdapat pada akhir kehamilan misalnya di

limfa memperlihatkan jaringan warna merah. Tuanya kehamilan juga

ditemukan sarang selimfoit yang makin lama makin besar. Penangkis

humoral dibentuk oleh sel limfoit, terdiri dari pasangan polipeptin

simetrik. Gama-G ditemukan pada orang dewasa, sedikit pada janin akhir

kehamilan dan dibentuk pada bulan kedua sesudah bayi lahir. [3]
Gama-Glabulin berasal dari ibu yang disalurkan melalui palsenta

dengan cara pinositosis disebut kekebalan pasif. Penyaluran gama-G

imunoglobin dari ibu ke janin tidak selalu menguntungkan bagi janin,

pada Rh resus isoimunisasi. Gama-G imunoglobin ibu melintasi plasenta

dan merusak eritrosit janin mengasilkan eritroblastosis retails. Janin

mengandung unsur ayahnya dan tempat implantasi plasenta. Dikenal

sebagai allograft rejection. [3]
Pembentukan benda penangkis ditemukan pada kehamilan 5 bulan.

Produksi gama-M imunoglobin meningkat setelah bayi lahir. Kelemahan

bayi baru lahir adalah hanya dilindungi oleh gama-G imunoglobin ibu

hingga terbatas kadarnya dan kurang gama-A imunoglobin. [3]

Perubahan Sistem Imunitas Ekstrauterin

27
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga

menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi.

Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun

yang di dapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh

yang mencegah atau meminimalkan infeksi. [8]

Berikut beberapa contoh kekebalan alami:

a. Perlindungan oleh kulit membran mukosa
b. Fungsi saringan saluran napas
c. Pembentukan koloni mikroba oleh klit dan usus
d. Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung

Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel

darah yang membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi

pada BBL se-sel darah ini masih belum matang, artinya BBL tersebut

belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien. [8]

Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. BBL dengan

kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi

antibodi keseluruhan terhadap antigen asing masih belum dapat dilakukan

sampai awal kehidupa anak. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan

balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh. Defisiensi kekebalan

alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali terjadi infeksi dan reaksi bayi

terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu, pencegahan terhadap

mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI

28
dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi

menjadi sangat penting .[8]

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Bayi baru lahir/ neonatus normal secara fsiologis adalah hasil

konsepsi yang baru keluar dari rahim seorang ibu pada kehamilan 37-42

29
minggu dan berat badan lahir 2500-4000 gram. Bayi baru lahir harus

beradaptasi dari keadaan yang sangat tergantung menjadi mandiri. Adapun

adaptasi fsiologis yang dialami oleh fetus dari kehidupan intrauterin ke

ekstrauterin yaitu :

1. Perubahan sistem pernapasan
Setelah bayi lahir, Pengikatan tali pusat mengurangi konsentrasi oksigen,

meningkatkan konsentrasi karbon dioksida, dan menurunkan pH darah. Ini

merangsang kemoreseptor aorta dan karotid janin, mengaktifkan pusat

pernapasan di medula untuk memulai respirasi
2. Perubahan sistem sirkulasi
- Penghentian pasokan darah dari plasenta.
- Pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru.
- Penutupan foramen ovale.
- Fibrosis :
Vena umbilicalis.
Ductus venosus.
Arteriae hypogastrica.
Ductus arteriosus.
3. Perubahan hematologi
- Pada umumnya bayi baru lahir ( BBL) dilahirkan dengan nilai

hemoglobin ( Hb) yang tinggi. Hb normal berkisaran 15-20 g/dl
- Sel darah merah BBL memiliki umur yang singkat , yaitu 80 hari
- Sel darah putih rata-rata pada bayi baru lahir memiliki rentang dari

10.000 hingga 30.000/mm
4. Sistem Termoregulasi
Secara fisiologis, tubuh bayi akan menggunakan timbunan lemak coklat

(Brown Fat) untuk menghasilkan panas. Namun cadangan lemak coklat ini

akan habis dan bayi akan mudah mengalami hipoglisemia, hipoksia dan

asidosis. Untuk itu, pencegahan kehilangan panas sangatlah diperlukan
5. Perubahan sistem gastrointestinal

30
- Enzim- enzim disgetif aktif pada waktu lahir dan dapat menyongkong

kehidupan ekstrauterine pada kehamilan 36-38 minggu
- Pencernaan protein dan karbohidrat telah tercapai , pencernaan dan

absorbs lemak kurang baik karena tidak adekuatnya enzim pancreas

dan lipase
- Feses yang diekskresikan pertama oleh bayi disebut meconium

dieksresikan dalam 24 jam setelah lahir.
6. Perubahan sistem ginjal
- Laju filtrasi glomerulus secara relative rendah pada waktu lahir

Sebagian besar bayi baru lahir berkemih dalam 24 jam pertama setelah

lahir dan 2-6 kali sehari pada 1-2 hari pertama setelah itu mereka

berkemih 5-20 kali dalam 24 jam
7. Perubahan sistem Imunitas
- Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga

menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi.
- IgA hilang dari saluran pernapasan dan perkemihan kecuali jika bayi

tersebut mendapatkan ASI dini terutama colostrum untuk membentuk

kekebalan alami pada bayi .
Adaptasi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada sistem

pernapasan, sistem sirkulasi, sistem termoregulasi dan dalam kemampuan

untuk mengambil serta menggunakan glukosa.

31
DAFTAR PUSTAKA

1. Alvaro, R. E. & Rigatto, H. (2005). Cardiorespiratory adjustements at birth. In:

Avery’s neonatalogy pathophysiology & management of the newborn. Ed

6th.Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins. Page : 285-303
2. Askin, D. (2014). Newborn adaptation to extrauterine life. In: K.R. Simpson & P. A.

Creehan (Eds). AWHONN’s Perinatal Nursing (3 rd ed.). Philadelphia, PA: Lippincott

Williams & Wilkins. Page : 527-545)
3. Blackburn, S. T. (2007). Maternal, fetal, & neonatal physiology: A clinical

perspective.(3rd ed.). St. Louis: Saunders Elsevier
4. Burrough A & Leifer G. (2016). Maternity Nursing and Introductio test. 8th edition
5. Depkes RI. 2007. Buku Acuan & Panduan Asuhan Persalinan Normal & Inisiasi

Menyusu Dini. JNPK-KR: Jakarta
6. Dewi, Vivian Nanny Lia. (2010). Asuhan Neonatus bayi dan Anak Balita. Jakarta:

Salemba Medika
7. Kattwinkel, J. (Ed.). (2011). Textbook of neonatal resuscitation (6th ed). Elk Grove:

American Academy of Pediatrics and American Heart Association.
8. Riviere, Daniel, dkk (2012). Adaptation for life after birth: a review of neonatal

physiologi. Elsevier. Vol. 18 (2)
9. Sarwono, Prawirohardjo. (2010). Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka

sarwono Prawirohardjo hal : 161 .
10. Sudarti, dkk. (2012). Asuhan Pertumbuhan Kehamilan, persalinan, neonates, bayi

dan balita. Yogyakarta : Nuha Medik
11. Stright, Barbara R (2004). Keperawatan Bayi Baru Lahir. Ed 3, Jakarta. EGC

32
12. Tappero, E. P. & Honeyfielf, M. E. (2009). Physical Assessment of the Newborn: A

Comprehensive Approach to the Art of Physical Examination. (4thed.). Santa Rosa,

CA: NICU INK Book Publishers.

33