You are on page 1of 18

BAB I

LAPORAN KASUS ANAK

1.1 IDENTITAS PENDERITA

Nama Penderita : An H D D P
Umur / Tanggal lahir : 8 tahun/29 Juni 2009
Jenis Kelamin : laki laki
Agama : Islam
Suku : Jawa
Pekerjaan : Pelajar
Pendidikan : Pelajar
Status : Belum Kawin
Alamat : Sawo Tratap RT?RW 05/12, Gedangan Sidoarjo
Tanggal MRS : 12 April 2017

1.2 ANAMNESIS
A. Keluhan Utama
Panas
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Panas tidak turun turun sejak +/- 1 minggu, control ke pusura 4x tidak
turun turun, mual (+) muntah (-) batuk (-) pilek (+) pipis (+) BAB (+)
makan (+) minum (+).
C. Riwayat Penyakit Dahulu
Hipertensi (-), DM (-)
D. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada
E. Riwayat Pemakaian Obat
Tidak ada
F. Riwayat Alergi
Tidak ada

1.3 PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalisata
 Keadaan umum : cukup
 Kesadaran : 4-5-6 ( Compos mentis)
 A/I/C/D : -/-/-/-
 Vital sign
 Tekanan darah : 90/60
 Nadi : 84 x/menit
 Respirasi : 21 x/ menit

1

30 C  Kepala : mata cowong (-) faring hiperemi (-)  Thoraks : cor s1 s2 TR Pulmo -/.wh -/-  Abdomen : bu (+) mt (-) dst(-) nt(-)  Genetalia :-  Ekstremitas :- B.5 DIAGNOSIS Demam Typhoid 1.91  HCT 37  PLT 336 1.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium  Salmonella paratyphi B (+)  WBC 11.6 PLANNING  inf KAEN 3B 100 cc/24jam  inj ceftriaxon 2x 500 mg iv  inj santaosic 3x100 mg iv  inj ondancentron 1 mg iv k/p 2 .01  HGB 12  RBC 3.  Suhu : 37. Status Lokalis Akral hangat 1.

Salmonella paratyphi A.2. Demam yang disebabkan oleh Salmonella typhi cendrung untuk menjadi lebih berat daripada bentuk 3 . Demam tipoid ialah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan (usus halus) dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. Selama terjadi infeksi. demam tifoid adalah penyakit infeksi akut disebabkan oleh kuman gram negatif Salmonella typhi.1. Definisi Demam tifoid disebut juga dengan Typus abdominalis atau typoid fever. dan Salmonella paratyphi B dan kadang-kadang jenis salmonella yang lain. 2. Etiologi demam tifoid disebabkan oleh jenis Salmonella tertentu yaitu Salmonella typhi. kuman tersebut bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan dilepaskan ke aliran darah. demam tifoid adalah penyakit infeksi akut disebabkan oleh kuman gram negatif Salmonella typhi. BAB II PEMBAHASAN 2. Transmisi juga dapat terjadi secara transplasenta dari seorang ibu hamil yang berada dalam bakterimia kepada bayinya. Selama terjadi infeksi. Penularan Salmonella typhi sebagian besar melalui minuman/makanan yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa kuman dan biasanya keluar bersama-sama dengan tinja. kuman tersebut bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan dilepaskan ke aliran darah.

c. Salmonella merupakan bakteri batang gram negatif yang bersifat motil. bahan makanan kering dan bahan tinja. Panas lebih dari 7 hari. Antigen O adalah komponen lipopolisakarida dinding sel yang stabil terhadap panas sedangkan antigen H adalah protein yang bersifat termolabil. Sebagian besar strain meragikan glukosa. 2. biasanya mulai dengan sumer yang makin hari makin meninggi. dan bervariasi dari gejala seperti flu ringan sampai tampilan sakit berat dan fatal yang mengenai banyak sistem organ. infeksi Salmonella yang lain. splenomegali dan lidah kotor tepi hiperemi. Gejala-gejala tersebut meliputi: a. Gejala demam tifoid Keluhan dan gejala demam tifoid tidak khas. Gejala saraf sentral berupa delirium.4 Manifestasi klinis 4 . muntah. gangguan fungsi usus.4º C selama 1 jam atau 60 º C selama 15 menit. tetapi tidak meragikan laktosa dan sukrosa. Secara klinis gambaran penyakit demam tifoid berupa demam berkepanjangan. Salmonella memiliki antigen somatik O dan antigen flagella H. dan keluhan susunan saraf pusat. sehingga pada minggu ke 2 panas tinggi terus menerus terutama pada malam hari. dan tidak berkapsul. Organisme Salmonella tumbuh secara aerob dan mampu tumbuh secara anaerob fakultatif. manosa dan manitol untuk menghasilkan asam dan gas. tidak membentuk spora. dan kembung. Salmonella tetap dapat hidup pada suhu ruang dan suhu yang rendah selama beberapa hari dan dapat bertahan hidup selama berminggu-minggu dalam sampah.3. Gejala gastrointestinal dapat berupa diare. sopor. bahkan sampai koma. apatis. mual. hepatomegali. 2. b. Sebagian besar spesies resisten terhadap agen fisik namun dapat dibunuh dengan pemanasan sampai 54.

Demam dapat muncul secara tiba-tiba. typhi. Demam tifoid dan malaria dapat timbul secara bersamaan pada satu penderita. yaitu konfusi. Gejala- gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai dengan berat. Manifestasi gejala mental kadang mendominasi gambaran klinis. di sisi lain S. Nyeri perut kadang tak dapat dibedakan dengan apendisitis. dalam 1-2 hari menjadi parah dengan gejala yang menyerupai septisemia oleh karena Streptococcus atau Pneumococcus daripada S. Hal ini mempersulit penegakan diagnosis berdasarkan gambaran klinisnya saja Masa tunas demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari. Gejala menggigil tidak biasa didapatkan pada demam tifoid tetapi pada penderita yang hidup di daerah endemis malaria. Sakit kepala hebat yang menyertai demam tinggi dapat menyerupai gejala meningitis. dari asimtomatik atau yang ringan berupa panas disertai diare yang mudah disembuhkan sampai dengan bentuk klinis yang berat baik berupa gejala sistemik panas tinggi. gejala septik yang lain. Manifestasi klinis demam tifoid pada anak seringkali tidak khas dan sangat bervariasi yang sesuai dengan patogenesis demam tifoid. ensefalopati atau timbul komplikasi gastrointestinal berupa perforasi usus atau perdarahan. menggigil lebih mungkin disebabkan oleh malaria. Spektrum klinis demam tifoid tidak khas dan sangat lebar. 2. Penderita pada tahap lanjut dapat muncul gambaran peritonitis akibat perforasi usus. Demam merupakan keluhan dan gejala klinis terpenting yang timbul pada semua penderita demam tifoid. dari asimtomatik hingga gambaran penyakit yang khas disertai komplikasi hingga kematian. typhi juga dapat menembus sawar darah otak dan menyebabkan meningitis.5 Patogenesisi 5 . psikotik atau koma. stupor.

Spektrum klinis demam tifoid tidak khas dan sangat lebar. namun asupan alkohol yang berlebihan merupakan faktor penyebab yang utama pada perlemakan hati dan konsekuensi yang ditimbulkannya. Meskipun ada beberapa faktor yang terlibat dalam etiologi sirosis. Sirosis terjadi dengan frekuensi paling tinggi pada peminum minuman keras.Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding dengan penderita dewasa. pusing dan tidak bersemangat. termasuk pajanan dengan zat kimia tertentu (karbon tetraklorida. nyeri kepala. Namun demikian. Setelah masa inkubasi maka ditemukan gejala prodromal. 2. dari 6 . Gejala-gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai dengan berat. naftalen terklorinasi. ensefalopati atau timbul komplikasi gastrointestinal berupa perforasi usus atau perdarahan.6 Gejala klinis Gejala klinis demam tifoid seringkali tidak khas dan sangat bervariasi yang sesuai dengan patogenesis demam tifoid. dan mayoritas pasien sirosis berusia 40-60 tahun. lesu. sirosis juga pernah terjadi pada individu yang tidak memiliki kebiasaan minum minuman keras dan pada individu yang dietnya normal tetapi dengan konsumsi alkohol yang tinggi. dari asimtomatik atau yang ringan berupa panas disertai diare yang mudah disembuhkan sampai dengan bentuk klinis yang berat baik berupa gejala sistemik panas tinggi. Masa inkubasi rata-rata 10 – 20 hari. konsumsi minuman beralkohol dianggap sebagai faktor penyebab yang utama. Meskipun defisiensi gizi dengan penurunan asupan protein turut menimbulkan kerusakan hati pada sirosis. gejala septik yang lain. Hal ini mempersulit penegakan diagnosis berdasarkan gambaran klinisnya saja. asen atau fosfor) atau infeksi skistosomiasis yang menular. Faktor lainnya dapat memainkan peranan. Sebagian individu tampaknya lebih rentan terhadap penyakit ini dibanding individu lain tanpa ditentukan apakah individu tersebut memiliki kebiasaan meminum minuman keras ataukah menderita malnutrisi. Jumlah laki-laki penderita sirosis adalah dua kali lebih banyak daripada wanita. yaitu perasaan tidak enak badan.

suhu tubuh berangsur angsur meningkat setiap hari. yaitu konfusi. Biasanya didapatkan konstipasi. asimptomatik hingga gambaran penyakit yang khas disertai komplikasi hingga kematian. Gangguan kesadaran 7 . Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Selama minggu pertama. Dalam minggu kedua. a. stupor. Nyeri perut kadang tak dapat dibedakan dengan apendisitis. Sakit kepala hebat yang menyertai demam tinggi dapat menyerupai gejala meningitis. Demam dapat muncul secara tiba-tiba.typhi juga dapat menembus sawar darah otak dan menyebabkan meningitis. Dalam minggu ketiga suhu tubuh beraangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu ketiga. jarang disertai tremor Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Gejala menggigil tidak biasa didapatkan pada demam tifoid tetapi pada penderita yang hidup di daerah endemis malaria. akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare. Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue). dalam 1-2 hari menjadi parah dengan gejala yang menyerupai septikemia oleh karena Streptococcus atau Pneumococcus daripada S. menggigil lebih mungkin disebabkan oleh malaria. biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Bibir kering dan pecah-pecah (ragaden) . Demam Pada kasus-kasus yang khas. psikotik atau koma. demam berlangsung 3 minggu.typhi. penderita terus berada dalam keadaan demam. Manifestasi gejala mental kadang mendominasi gambaran klinis. Bersifat febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Demam merupakan keluhan dan gejala klinis terpenting yang timbul pada semua penderita demam tifoid. di sisi lain S. Demam tifoid dan malaria dapat timbul secara bersamaan pada satu penderita. ujung dan tepinya kemerahan. Penderita pada tahap lanjut dapat muncul gambaran peritonitis akibat perforasi usus. Ganguan pada saluran pencernaan Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap.

Komplikasi Intestinal a. trombosis dan tromboflebitis. Komplikasi darah: anemia hemolitik. Biasanya timbul pada minggu ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. Jarang terjadi sopor. b. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga penderita mengalami syok. trombositopenia. Penderita demam tifoid dengan perforasi mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah kuadran kanan bawah yang kemudian meyebar 20 ke seluruh perut. yaitu: 1. Perforasi Usus Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. dan pleuritis. koma atau gelisah 2. Komplikasi kardiovaskuler: kegagalan sirkulasi perifer (syok. yaitu apatis sampai somnolen. sepsis). empiema. Tanda perforasi lainnya adalah nadi cepat. b. dan sindrom uremia hemolitik.7 Komplikasi demam tifoid komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah ditegakkan bila terdapat perdarahan sebanyak 5 ml/kgBB/jam. koaguolasi intravaskuler diseminata. Perdarahan Usus Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang tidak membutuhkan tranfusi darah. Komplikasi Ekstraintestinal a. c. tekanan darah turun dan bahkan sampai syok. Komplikasi paru: pneumoni. miokarditis. 8 . Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam. 2.

f. Diagnosis definitif demam tifoid tergantung pada isolasi S.8 Pemeriksaan penunjang diagnosis demam tifoid Penegakan diagnosis demam tifoid didasarkan pada manifestasi klinis yang diperkuat oleh pemeriksaan laboratorium penunjang. psikosis. dimana patogen lainnya dicurigai. Lebih dari 80% pasien dengan demam tifoid terdapat Salmonella typhi di dalam darahnya. periostitis. Komplikasi hepar dan kandung kemih: hepatitis dan kolelitiasis. g. Komplikasi tulang: osteomielitis.typhi dari darah. yang memiliki sejarah panjang penyakit dan pemeriksaan kultur darah yang negatif. dan artritis. Penelitian yang menggunakan berbagai metode diagnostik untuk mendapatkan metode terbaik dalam usaha penatalaksanaan penderita demam tifoid secara menyeluruh masih terus dilakukan hingga saat ini. 2003). (iii) volume spesimen. (ii) penggunaan antibiotik. spondilitis. Komplikasi ginjal: glomerulonefritis. 2. sumsum tulang atau lesi anatomi tertentu. Adanya gejala klinis dari 21 karakteristik demam tifoid atau deteksi dari respon antibodi spesifik adalah sugestif demam tifoid tetapi tidak definitif. kultur darah dapat digunakan. d. Dalam pemeriksaan laboratorium diagnostik. Aspirasi duodenum juga telah terbukti sangat 9 . 2003). atau (iv) waktu pengumpulan. dan sindrom katatonia. polineuritis perifer. pasien dengan riwayat demam selama 7 sampai 10 hari menjadi lebih mungkin dibandingkan dengan pasien yang memiliki kultur darah positif (WHO. e. meningitis. Aspirasi sum-sum tulang adalah standar emas untuk diagnosis demam tifoid dan sangat berguna bagi pasien yang sebelumnya telah diobati. meningismus. dan perinefritis. Komplikasi neuropsikiatrik: delirium. Kultur darah adalah gold standard dari penyakit ini (WHO. Kegagalan untuk mengisolasi organisme dapat disebabkan oleh beberapa faktor: (i) keterbatasan media laboratorium. pielonefritis.

akan tetapi adanya leukopenia dan limfositosis relatif menjadi dugaan kuat diagnosis demam tifoid. bisa menurun atau meningkat. sedangkan pada stadium berikutnya di dalam urin dan feses. dimana kultur untuk demam tifoid dapat menjelaskan dua pertiga dari kasus septikemia yang diperoleh dari komunitas yang dirawat di rumah sakit. memuaskan sebagai tes diagnostik namun belum diterima secara luas karena toleransi yang kurang baik pada aspirasi duodenum. Kultur darah adalah prosedur untuk mendeteksi infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri atau jamur. Kultur organisme penyebab merupakan prosedur yang paling efektif dalam menduga demam enterik. Pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan kuman Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri Salmonella typhi dalam biakan dari darah. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid dibagi dalam empat kelompok. jumlah leukosit normal. identifikasi bakteri dan tes sensitivitas 10 . sumsum tulang. spesifisitas dan nilai ramal yang cukup tinggi untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau bukan. 2. Pemeriksaan Darah Tepi Penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia. terutama pada fase lanjut. Tujuannya adalah mencari etiologi bakteremi dan fungemi dengan cara kultur secara aerob dan anerob. yaitu: 1. feses. cairan duodenum. 2003). mungkin didapatkan trombositopenia dan hitung jenis biasanya normal atau sedikit bergeser ke kiri. terutama pada anak-anak (WHO. Berkaitan dengan patogenesis penyakit. urine. Penelitian oleh beberapa ilmuwan mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis leukosit serta laju endap darah tidak mempunyai nilai sensitivitas. mungkin didapatkan aneosinofilia dan limfositosis relatif. maka bakteri akan lebih mudah ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit.

Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid akan tetapi hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid. Salah satu penelitian pada anak menunjukkan bahwa sensitivitas kombinasi kultur darah dan duodenum hampir sama dengan kultur sumsum tulang. bentuk. serta perubahan lain dalam sistem organ dan atau laboratories. Biakan darah terhadap Salmonella juga tergantung dari saat pengambilan pada perjalanan penyakit. hipotensi. maka pendeteksiannya dengan segera sangat penting. akan tetapi tidak digunakan secara luas karena adanya resiko aspirasi terutama pada anak. Indikasi kultur darah adalah jika dicurigai terjadi bakteremi atau septikemi dilihat dari gejala klinik.typhi adalah media empedu (gall) dari sapi dimana dikatakan media Gall ini dapat meningkatkan positivitas hasil karena hanya S. karena hasilnya 11 . pusing.antibiotik yang diisolasi. mual. elevasi. sifat yaitu berdasarkan kemampuannya untuk memfermentasikan laktosa. menggigil. Pada keadaan tertentu dapat dilakukan kultur pada spesimen empedu yang diambil dari duodenum dan memberikan hasil yang cukup baik. leukositosis. Hal ini dimaksudkan untuk membantu klinisi dalam pemberian terapi antibiotik yang terarah dan rasiona. denyut jantung cepat (tachycardia). syok. muntah.paratyphi yang dapat tumbuh pada media tersebut. Hasil yang menunjukkan ditemukannya bakteri dalam darah dengan cara kultur disebut bakteremi. tepi. mungkin akan timbul gejala seperti : demam. Sensitivitasnya akan menurun pada sampel penderita yang telah mendapatkan antibiotika dan meningkat sesuai dengan volume darah dan rasio darah dengan media kultur yang dipakai. dan merupakan penyakit yang mengancam jiwa. Beberapa peneliti melaporkan biakan darah positif 40-80% atau 70-90% dari penderita pada minggu pertama sakit dan positif 10-50% pada akhir minggu ketiga. Masing-masing koloni terpilih diamati morfologinya. atau kemampuannya untuk menghemolisa sel darah merah. meliputi: warna koloni.typhi dan S. diameter 1-2 mm. Media pembiakan yang direkomendasikan untuk S.

tergantung pada beberapa faktor. Salah satu penelitian pada anak menunjukkan bahwa sensitivitas kombinasi kultur darah dan duodenum hampir sama dengan kultur sumsum tulang. Spesifisitasnya walaupun tinggi.5-1 ml. Volume 5-10 ml dianjurkan untuk orang dewasa. Uji Serologis 12 . sedangkan volume sumsum tulang yang dibutuhkan untuk kultur hanya sekitar 0. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil biakan meliputi jumlah darah yang diambil. Bakteri dalam feses ditemukan meningkat dari minggu pertama (10-15%) hingga minggu ketiga (75%) dan turun secara perlahan. Hal ini dapat menjelaskan teori bahwa kultur sumsum tulang lebih tinggi hasil positifnya bila dibandingkan dengan darah walaupun dengan volume sampel yang lebih sedikit dan sudah mendapatkan terapi antibiotika sebelumnya. pemeriksaan kultur mempunyai sensitivitas yang rendah dan adanya kendala berupa lamanya waktu yang dibutuhkan (5-7 hari) serta peralatan yang lebih canggih untuk identifikasi bakteri sehingga tidak praktis dan tidak tepat untuk dipakai sebagai metode diagnosis baku dalam pelayanan penderita. Metode ini terutama bermanfaat untuk penderita yang sudah pernah mendapatkan terapi atau dengan kultur darah negatif sebelumnya. perbandingan volume darah dari media empedu dan waktu pengambilan darah. Bakteri dalam sumsum tulang juga lebih sedikit dipengaruhi oleh antibiotika daripada bakteri dalam darah. Prosedur terakhir ini sangat invasif sehingga tidak dipakai dalam praktek sehari-hari. 3. Pemeriksaan pada keadaan tertentu dapat dilakukan kultur pada spesimen empedu yang diambil dari duodenum dan memberikan hasil yang cukup baik akan tetapitidak digunakan secara luas karena adanya risiko aspirasi pada anak. Biakan urine positif setelah minggu pertama. Biakan sumsum tulang merupakan metode baku emas karena mempunyai sensitivitas paling tinggi dengan hasil positif didapat pada 80-95% kasus dan sering tetap positif selama perjalanan penyakit dan menghilang pada fase penyembuhan.

Uji Widal Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak tahun 1896. semakin besar kemungkinan infeksi ini. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum.a. Maksud uji Widal adalah menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid. Semakin tinggi titernya.2%. Campuran suspensi antigen dan antibodi diinkubasi selama 20 jam pada suhu 370 C di dalam air.2% dan nilai prediksi negative sebesar 99. Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Antigen yang digunakan pada uji Widal adalah suspensi Salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. 13 . Uji hapusan dapat dilakukan dengan cepat dan digunakan dalam prosedur penapisan. Tes ini dapat digunakan untuk konfirmasi hasil dari uji hapusan.al (1990) mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing sebesar 89% pada titer O atau H >1/40 dengan nilai prediksi positif sebesar 34. Tes aglutinasi Widal dapat dilakukan dengan menggunakan uji hapusan (slide test) dan uji tabung (tube test). Hasil penapisan positif membutuhkan determinasi kekuatan dari antibody. Pada uji ini terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen kuman Salmonella typhi dengan antibodi yang disebut aglutinin. setetes suspensi antigen ditambahkan pada sejumlah serum pasien yang diduga terinfeksi Salmonella typhi. Indonesia pengambilan titer O aglunitin ≥ 1/40 dengan memakai slide test (prosedur pemeriksaan membutuhkan waktu 15 menit) menunjukkan nilai ramal positif 96%. typhi komersial yang tersedia. Penelitian pada anak oleh Choo et. Uji hapusan dilakukan dengan menggunakan antigen S. Uji Widal ini dilakukan untuk deteksi antibodi terhadap kuman Salmonella typhi.

stadium penyakit. typhi. Kelemahan lain adalah banyak terjadi hasil negatif palsu dan positif palsu pada tes ini. Uji Widal saat ini walaupun telah digunakan secara luas di seluruh dunia. Beberapa penelitian pada kasus demam tifoid anak dengan hasil biakan positif. inokulum antigen bakteri pejamu yang tidak cukup untuk melawan antibodi. Kelemahan uji Widal yaitu rendahnya sensitivitas dan pesifisitas serta sulitnya melakukan interpretasi hasil membatasi penggunaannya dalam penatalaksanaan penderita demam tifoid akan tetapi hasil uji Widal yang positif akan memperkuat dugaan pada tersangka penderita demam tifoid (penanda infeksi). Penyebab hasil negatif lainnya adalah tidak adanya infeksi S. Pemberian antibiotik merupakan salah satu peyebab penting terjadinya negatif palsu.Hasil positif palsu dapat terjadi apabila sudah pernah melakukan tes demam tifoid sebelumnya. kesalahan atau kesulitan dalam melakukan tes dan variabilitas antigen. namun manfaatnya masih diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off point). ternyata hanya didapatkan sensitivitas uji Widal sebesar 64- 74% dan spesifisitas sebesar 76-83%. ada reaksi silang sebelumnya dengan antigen selain Salmonella sp. spesifisitas. faktor antigen. Upaya untuk mencari standar titer uji Widal seharusnya ditentukan titer dasar (baseline titer) pada orang sehat di populasi dimana pada daerah endemis seperti Indonesia akan didapatkan peningkatan titer antibodi O dan H pada orang-orang sehat.. status karier. Interpretasi dari uji Widal ini harus memperhatikan beberapa faktor antara lain sensitivitas. variabilitas dan 14 . faktor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi pembentukan antibodi. sudah pernah imunisasi antigen Salmonella sp. Hasil negatif palsu tes Widal terjadi jika darah diambil terlalu dini dari fase tifoid. gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non-endemis). teknik serta reagen yang digunakan.

Karena sifat-sifat tersebut. 2) Reagen A. 3) Reagen B. Untuk melakukan prosedur pemeriksaan ini. yang mengandung partikel lateks berwarna biru yang diselubungi dengan antibodi monoklonal spesifik untuk antigen O9. kurangnya standar pemeriksaan antigen. Secara imunologi.typhi yang terkonjugasi pada partikel magnetik latex.paratyphi akan memberikan hasil negative. yang juga berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas. infeksi malaria atau bakteri enterobacteriaceae lainnya. antigen O9 bersifat imunodominan sehingga dapat merangsang respon imun secara independen terhadap timus dan merangsang mitosis sel B tanpa bantuan dari sel T.typhi O9. b. Setelah itu dua tetes reagen B (50 μL) 15 . satu tetes serum (25 μL) dicampurkan ke dalam tabung dengan satu tetes (25 μL) reagen A. yaitu pada hari ke 4-5 untuk infeksi primer dan hari ke 2-3 untuk infeksi sekunder. dengan cara menghambat ikatan antara IgM anti-O9 yang terkonjugasi pada partikel latex yang berwarna dengan lipopolisakarida S. respon terhadap antigen O9 berlangsung cepat sehingga deteksi terhadap anti-O9 dapat dilakukan lebih dini. Hasil positif uji Tubex ini menunjukkan terdapat infeksi Salmonellae serogroup D walau tidak secara spesifik menunjuk pada S. yang mengandung partikel magnetik yang diselubungi dengan antigen S. Perlu diketahui bahwa uji Tubex hanya dapat mendeteksi IgM dan tidak dapat mendeteksi IgG sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai modalitas untuk mendeteksi infeksi lampau. Uji Tubex Uji Tubex merupakan uji semi-kuantitatif kolometrik yang cepat (beberapa menit) dan mudah untuk dikerjakan.typhi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan 3 macam komponen. Uji ini mendeteksi antibodi anti-S. serta penyakit lain seperti dengue. meliputi: 1) tabung berbentuk V. Infeksi oleh S.typhi O9 pada serum pasien.

typhi seberat 50 kD. Hal tesebut dilakukan pada kelima tabung lainnya. didapatkan sensitivitas uji ini sebesar 98%. memungkinkan ikatan antara antigen dengan IgM spesifik yang ada pada serum pasien. Uji Typhidot Uji typhidot dapat mendeteksi antibodi IgM dan IgG yang terdapat pada protein membran luar Salmonella typhi. Hasil positif pada uji typhidot didapatkan 2-3 hari setelah infeksi dan dapat mengidentifikasi secara spesifik antibodi IgM dan IgG terhadap antigen S. Pada penelitian Gopalakhrisnan dkk 2002. ditambahkan ke dalam tabung. spesifisitas sebesar 76. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Olsen dkk. Tabung-tabung tersebut kemudian diletakkan pada rak tabung yang mengandung magnet dan diputar selama 2 menit dengan kecepatan 250 rpm. IgG dapat bertahan sampai 2 tahun sehingga pendeteksian IgG saja tidak dapat digunakan untuk membedakan antara infeksi akut dengan kasus reinfeksi atau konvalesen pada kasus uji primer. typhi yang akurat adalah mendeteksi DNA (asam nukleat) gen flagellin bakteri S. Pada kasus reinfeksi. uji ini kemudian dimodifikasi dengan menginaktivasi total IgG pada sampel serum. Interpretasi hasil dilakukan berdasarkan warna larutan campuran yang dapat bervariasi dari kemerahan hingga kebiruan. Untuk mengatasi masalah tersebut.6% dan efisiensi uji sebesar 84%. didapatkan sensitifitas dan spesifisitas uji ini hampir sama dengan uji Tubex yaitu 79% dan 89% dengan 78% dan 89%. Pemeriksaan kuman secara molekuler Metode lain untuk identifikasi bakteri S. Uji ini. c. respon imun sekunder (IgG) teraktivasi secara berlebihan sehingga IgM sulit terdeteksi. Studi evaluasi yang dilakukan oleh Khoo KE dkk pada tahun 1997 lebih sensitif (sensitivitas mencapai 100%) dan lebih cepat (3 jam) dilakukan bila dibandingkan dengan kultur. yang dikenal dengan nama uji Typhidot-M. yang terdapat pada strip nitroselulosa. typhi dalam darah dengan teknik hibridisasi asam nukleat atau amplifikasi DNA dengan cara 16 . d.

adanya bahan-bahan dalam specimen yang bisa menghambat proses PCR (hemoglobin dan heparin dalam spesimen darah serta bilirubin dan garam empedu dalam spesimen feses). Kendala yang sering dihadapi pada penggunaan metode PCR ini meliputi risiko kontaminasi yang menyebabkan hasil positif palsu yang terjadi bila prosedur teknis tidak dilakukan secara cermat. Penelitian lain oleh Massi mendapatkan sensitivitas sebesar 63% pada tes Tubex bila dibandingkan dengan uji Widal (35.polymerase chain reaction (PCR) melalui identifikasi antigen Vi yang spesifik untuk S.6%). biaya yang cukup tinggi dan teknis yang relatif rumit. mendapatkan spesifisitas PCR sebesar 100% dengan sensitivitas yang 10 kali lebih baik daripada penelitian sebelumnya dimana mampu mendeteksi 1-5 bakteri/ml darah. Usaha untuk melacak DNA dari spesimen klinis masih belum memberikan hasil yang memuaskan sehingga saat ini penggunaannya masih terbatas dalam laboratorium penelitian. typhi. 17 . Penelitian oleh Haque et al.

Hematological and biochemical changes in typhoid fever. Mousa AA. Al-Sagair OA. DAFTAR PUSTAKA 1. BMJ 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Guyton. Gangwani JL. Hussaini HS. 17(1):23-26. 2. Current concept in the diagnosis and treatment of typhoid fever. 25(2): 166-171. Abro AH. 333: 78-82 18 . Younis NJ. Abdou AMS. Pak J Med Sci 2009. John E. 4. Arthur C. Influence of bacterial endotoxin on bone marrow and blood components. Bhutta ZA. Hall. Medical Journal of Islamic World Academy of Sciences 2009. 1997. Jakarta: EGC. El-Daly ES. 3.