You are on page 1of 22

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR DIGITI MANUS

A. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan
epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. (Rasjad, Chairuddin. 2007)
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat
diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan
punter mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem (Bruner & Sudarth, 2002).
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, yang biasanya disertai
dengan luka sekitar jaringan lunak, kerusakan otot, rupture tendon, kerusakan pembuluh
darah, dan luka organ-organ tubuh dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadinya
fraktur jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang besar dari yang dapat
diabsorbsinya (Smeltzer, 2001).

B. Etiologi
a. Cedera-traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :
1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang pata
secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang.
2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi
benturan.
3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.
b. Fraktur Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor
dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai keadaan seperti:
Tumor tulang (jinak atau ganas), Infeksi seperti osteomyelitis, dan Rakhitis.
c. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada
penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.
C. Patofisiologi

Ketika tulang patah, sel tulang mati. Perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat
patah dan ke dalam jaringan lunak di sekitar tulang tersebut. jaringan lunak biasanya
mengalami kerusakan akibat cedera. Reaksi inflamasi yang intens terjadi setelah patah
tulang. Sel darah putih dan sel mast terakumulasi sehingga menyebabkan peningkatan
aliran darah ke area tersebut. fagositosis dan pembersihan sel dan jaringan mati dimulai.

Bekuan fibrin (hematoma fraktur) terbentuk di tempat patah dan berfungsi sebagai
jala untuk melekatnya sel-sel baru. Aktivitas osteoblas akan segera terstimulasi dan
terbentuk tulang baru imatur, disebut kalus. Bekuan fibrin segera direabsorpsi dan sel

tulang baru secara perlahan mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati.
Tulang sejati menggantikan kalus dan secara perlahan mengalami kalsifikasi.
Penyembuhan memerlukan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan (fraktur
pada anak sembuh lebih cepat). Penyembuhan dapat terganggu atau terhambat apabila
hematoma fraktur atau kalus rusak sebelum tulang sejati terbentuk, atau apabila sel
tulang baru rusak selama kalsifikasi dan pengerasan.(Elizabeth J. Corwin, 2009; 337)

D. Klasifikasi

Klasifikasi fraktur dibagi menjadi beberapa yaitu :
a. Berdasarkan komplet atau ketidakklomplitan fraktur :

3) Fraktur Oblik : fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang. Fraktur terbuka digradasi menjadi : a) Grade I dengan luka bersih. Fragmen sering saling melengkapi satu sama lain sampai 2. c. 5. b) Grade II luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak. Berdasarkan sifat fraktur : Fraktur simple/tertutup : tidak menyebabkan robeknya kulit. b. dan perubahan warna yang dijelaskan secara rinci sebagai berikut: 1. Krepitasi Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan. krepitus. teraba adanya derik tulang dinamakan krepitasi yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Fraktur kompleks/terbuka : merupakan fraktur dengan luka pada kulit atau membrane mukosa sampai ke patahan tulang. 4. 2) Fraktur Tranversal : fraktur sepanjang garis tengah tulang. Berdasarkan bentuk garis patah : 1) Fraktur Greenstick : fraktur salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok. Uji krepitasi dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat. 1) Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran. pembengkakan lokal. Fals Moment . deformitas. 4) Fraktur Spiral : fraktur memuntir seputar batang tulang.5 sampai 5 cm (1 sampai 2 inci). pemendekan ektremitas. c) Grade III yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan yang paling berat. Pembengkakan dan perubahan warna Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini biasa terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera. E. 2. 2) Fraktur inkomplet : patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. Deformitas Pada fraktur panjang. 3. terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. panjangnya ≤ 1 cm. Nyeri Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi. hilangnya fungsi. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri.

atau . Penatalaksanaan Prinsip terapi fraktur 1) Reduksi Adalah pemulihan keselarasan anatomi bagi tulang fraktur. harus mengikuti aturan role of two. angulasi atau displaced. 2) Imobilisasi. Selanjutnya diimobilisasi dengan gips. batang atau sekrup.  Golongan darah (terutama jika akan dilakukan tindakan operasi). yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan. Kontra indikasi reposisi tertutup:  Jika dilakukan reposisi namun tidak dapat dievaluasi  Jika reposisi sangat tidak mungkin dilakukan  Jika fraktur terjadi karena kekuatan traksi. Reposisi tertutup dilakukan pada fraktur dengan pemendekan. pergelangan tangan. 2) Pemeriksaan laboratorium. maka diperlukan imobilisasi tempat fraktur sampai timbul penyembuhan yang mencukupi. meliputi:  Darah rutin. Bila gagal maka lakukan reposisi terbuka dikamar operasi dengan anestesi umum.  Faktor pembekuan darah. misalnya displaced patellar fracture. 3) Pemeriksaan arteriografi dilakukan jika dicurigai telah terjadi kerusakan vaskuler akibat fraktur tersebut. Traksi bisa diberikan dengan plester felt melekat diatas kulit atau dengan memasang pin tranversa melalui tulang. vascular. Biasanya dilakukan dengan anestesi lokal dan pemberian analgesik. Merupakan pergerakan/ bentuk yang salah dari tulang (bengkok) F. pada daerah yang dicurigai fraktur. kaki. Reposisi memerlukan pemulihan panjang serta koreksi deformitas angular dan rotasional. yaitu reposisi tertutup dan reposisi terbuka. Kebanyakan fraktur ekstremitas dapat diimobilisasi dengan dengan gips fiberglas atau dengan brace yang tersedia secara komersial. tungkai). Reposisi mannipulatif biasanya dapat dilakukan pada fraktura ekstremitas distal (tangan. Reduksi terbuka biasanya disertai oleh sejumlah bentuk fiksasi interna dengan plat & pin. G.  Memuat dua extremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cidera maupun yang tidak terkena cidera (untuk membandingkan dengan yang normal)  Dilakukan dua kali. yang terdiri dari :  Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior (AP) dan lateral.  Kreatinin (trauma otot dapat meningkatkan beban kreatinin untuk kliren ginjal). Pemeriksaan Penunjang 1) Pemeriksaan radiologis (rontgen). Ada dua jenis reposisi. Bila reposisi telah dicapai. dimana spasme otot tidak berlebihan. Pemasangan gips yang tidak tepat bisa menimbulkan tekanan kuIit. distal terhadap ftaktur.  Urinalisa.  Memuat dua sendi antara fraktur yaitu bagian proximal dan distal.

Fat Embolism Syndrom Merupakan keadaan pulmonari akut dan dapat menyebabkan kondisi fatal. b. Gejala – gejalanya mencakup rasa sakit karena ketidakseimbangan pada luka. Gelombang lemak ini akan melewati sirkulasi dan dapat menyebabkan oklusi pada pembuluh – pembuluh darah pulmonary yang menyebabkan sukar bernafas. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka. tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat. d. saraf. yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat dan berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot. Kemudian traksi diteruskan sampai ada penyembuhan yang mencukupi. demam. rasa sakit yang berhubungan dengan tekanan yang berlebihan pada kompartemen. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Infeksi System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. maka rehabilitasi terutama merupakan masalah pemulihan jaringan lunak. Kerusakan Arteri Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi. cyanosis bagian distal. perubahan dalam status mental (gaduh. dan paresthesia. CRT menurun. tindakan reduksi. Komplikasi ini terjadi lebih sering pada fraktur tulang kering (tibia) dan tulang hasta (radius atau ulna). gelisah. stupor). bingung. H. maka traksi juga bertindak sebagai imobilisasi dengan ektremitas disokong di atas ranjang atau di atas bidai sampai reduksi tercapai. rasa sakit dengan perenggangan pasif pada otot yang terlibat. marah. Kapsula sendi. Dianjurkan terapi fisik untuk mgerakan aktif dan pasif serta penguatan otot. tachycardia. dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting. e. dan pembedahan. c. otot dan ligamentum berkontraksi membatasi gerakan sendi sewaktu gips/bidai dilepaskan. hematoma yang lebar. Komplikasi 1) Komplikasi Awal a. Kompartement Syndrom Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang tertutup di otot. Semua pasien fraktur diperiksa hari berikutnya untuk menilai neurology dan vascular. Avaskuler Nekrosis . 3) Rehabilitasi Bila penyatuan tulang padat terjadi. perubahan posisi pada yang sakit. ruam kulit ptechie. Bila traksi digunakan untuk reduksi. sehingga pasien dapat dipindahkan memakai gips/brace. Hal ini terjadi ketika gelembung – gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi jaringan yang rusak. Gejala dari sindrom emboli lemak mencakup dyspnea.

saat kepala femur berputar atau keluar dari sendi dan menghalangi suplai darah. c. Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia. ASUHAN KEPERAWATAN OPEN FRACTURE PENGKAJIAN KEPERAWATAN . Ini disebabkan karena penurunan supai darah ke tulang. pasien mungkin tidak akan merasakan gejalanya sampai dia keluar dari rumah sakit. Osteomyelitis Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum dan korteks tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dari luar tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam tubuh). Hal ini paling sering mengenai fraktur intrascapular femur (yaitu kepala dan leher). Kadang- kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat ini. Perawat harus menyuruh pasien supaya melaporkan nyeri yang bersifat intermiten atau nyeri yang menetap pada saat menahan beban f. Non union (tak menyatu) Penyatuan tulang tidak terjadi. angulasi atau pergeseran. atau selama operasi. luka tembus. Malunion Kelainan penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk menimbulkan deformitas. Luka tembak. fraktur tulang panjang. edukasi pada pasien merupakan hal yang penting. fraktur terbuka yang terlihat tulangnya. Oleh karena itu. pemisahan lebar dari fragmen contohnya patella dan fraktur yang bersifat patologis. Delayed Union (Penyatuan tertunda) Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Shock Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. b. luka amputasi karena trauma dan fraktur – fraktur dengan sindrom kompartemen atau luka vaskular memiliki risiko osteomyelitis yang lebih besar 2) Komplikasi Dalam Waktu Lama a. cacat diisi oleh jaringan fibrosa. Patogen dapat masuk melalui luka fraktur terbuka. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan non union adalah tidak adanya imobilisasi. Nekrosis avaskular dapat terjadi saat suplai darah ke tulang kurang baik. Ini biasanya terjadi pada fraktur. g. interposisi jaringan lunak. Karena nekrosis avaskular mencakup proses yang terjadi dalam periode waktu yang lama.

Selain itu. apakah rasa sakit menjalar atau menyebar. e) Time: berapa lama nyeri berlangsung. apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari. atau menusuk. dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik . 3) Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Apakah seperti terbakar. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya. berdenyut. Selain itu. dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain. osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan PQRST: a) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri. d) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien. Anamnesa 1) Keluhan Utama Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. relief: apakah rasa sakit bisa reda. seperti diabetes. c) Region : radiation.Pengumpulan Data a. 2) Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur. penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang 4) Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur. kapan. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. dan dimana rasa sakit terjadi. b) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien.

suhu sekitar daerah trauma meningkat. kronik. koma. Parestesia. Kesakitan. nyeri tekan. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. protein. keadaan penyakit: akut. 1) Gambaran Umum a) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah: a) Look (inspeksi) Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain: . b)Secara fokus (1) Sistem Integumen Terdapat erytema. oedema. sopor. (2) Keadaan Lokal Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler 5 P yaitu Pain. komposmentis tergantung pada keadaan klien. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk. Pemeriksaan Fisik Dibagi menjadi dua. 2. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien. gelisah. Pergerakan). seperti: 1. sedang. bengkak. 3. b. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. vit. berat dan pada kasus fraktur biasanya akut. ringan. Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam. yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis/fokus). zat besi. Palor. Pulse. Kesadaran penderita: apatis. 5) Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari- harinya seperti kalsium.

maka sifat benjolan perlu dideskripsikan permukaannya. pembengkakan. konsistensinya. (5) Benjolan. kemudian diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. atau distal). Yang perlu dicatat adalah: (1) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. Apabila ada benjolan. tengah. Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi. Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama disekitar persendian. (3) Fistulae. baik pemeriksa maupun klien. nyeri atau tidak. dan ukurannya. agar dapat . (6) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas) (7) Posisi jalan (gait. Pada dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan informasi dua arah. Pencatatan lingkup gerak ini perlu. (2) Cape au lait spot (birth mark). c) Move (pergerakan terutama lingkup gerak) Setelah melakukan pemeriksaan feel. catat letak kelainan (1/3 proksimal. pergerakan terhadap dasar atau permukaannya. (3) Nyeri tekan (tenderness). (1) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi). atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal). krepitasi. Capillary refill time Normal > 3 detik (2) Apabila ada pembengkakan. waktu masuk ke kamar periksa) b) Feel (palpasi) Pada waktu akan palpasi. (4) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.

Aspartat Amino Transferase (AST). 3) Enzim otot seperti Kreatinin Kinase. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. 3) Trobukulasi ada tidaknya rare fraction. b. mengevaluasi keadaan sebelum dan sesudahnya. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya. 3) Elektromyografi: terdapat kerusakan konduksi saraf yang diakibatkan fraktur. Pemeriksaan Radiologi Hal yang harus dibaca pada x-ray: 1) Bayangan jaringan lunak. dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam ukuran metrik. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif. Pemeriksaan Diagnostik a. 3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa. Laktat Dehidrogenase (LDH-5). Pemeriksaan lain-lain 1) Pemeriksaan mikroorganisme kultur dan test sensitivitas: didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi. Pemeriksaan Laboratorium 1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang. 2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma. 2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan pemeriksaan diatas tapi lebih dindikasikan bila terjadi infeksi. 2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. . 4) Sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi. Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang. 2) Tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi. 4) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak. Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti: 1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. c. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat.

prosedur invasif/traksi tulang) 6. Kurang pengetahuan tentang kondisi. 2. Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler. Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit. Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka. trauma jaringan lunak. stress/ansietas. Ketidakefektifan pola nafas b/d deformitas tulang 3. nyeri. cedera jaringan lunak. 5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi pada tulang. kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada . 6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur. keterbatasan kognitif. kawat. 4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek karena trauma yang berlebihan. A. pemasangan traksi. sekrup) 5. luka operasi. Nyeri akut b/d spasme otot. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi. gerakan fragmen tulang. pemasangan traksi (pen. edema. terapi restriktif (imobilisasi) 4.

v Comfort level karakteristik. mencari Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang bantuan) ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau Melaporkan bahwa nyeri berkurang Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dengan menggunakan manajemen dukungan nyeri Kurangi faktor presipitasi nyeri Mampu mengenali nyeri (skala. mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau untuk mengurangi nyeri. intensitas. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui Mampu mengontrol nyeri (tahu pengalaman nyeri pasien penyebab nyeri. v Pain control. RENCANA KEPERAWATAN DIANGOSA NO KEPERAWATAN DAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC) DX KOLABORASI 1 Nyeri akut b/d spasme NOC NIC otot. frekuensi dan tanda nyeri) Ajarkan tentang teknik non farmakologi . frekuensi. Pain Management tulang. edema. kualitas dan faktor presipitasi stress/ansietas. cedera jaringan lunak. pemasangan traksi. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi. durasi. gerakan fragmen v Pain Level. luka Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan Kriteria Hasil : operasi.

guanakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu Kriteria Hasil : Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat Identifikasipasienperlunyapemasanganalatjalannafasbuatan Memelihara kebersihan paru paru Pasang mayo bila perlu dan bebas dari tanda tanda distress Lakukanfisioterapi dada jikaperlu pernafasan Keluarkansekretdenganbatukatausuction Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih. Menyatakan rasa nyaman setelah Evaluasi keefektifan kontrol nyeri nyeri berkurang Tingkatkan istirahat Tanda vital dalam rentang normal Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri 2 Ketidakefektifan pola NOC : NIC : nafas b/d deformitas v Respiratory Status : ventilation Airway Management tulang v Vital Sign Status Buka jalan nafas. mampu . tidak ada Auskultasi suara nafas. catat adanya suara tambahan sianosis dan dyspneu (mampu Lakukan suction pada mayo mengeluarkan sputum.

hiperventilasi. tidak ada Berikabronkodilatorbialperlu pursed lips) Barikanpelembabudara Tanda tanda vital dalam rentang Aturintakeuntukcairanmengoptimalkankeseimbangan. takipenia. biot Monitor kelelahan otot diagfragma (gerakan paradoksis) Auskultasi suara nafas. kedalaman.bernafas dengan mudah.amati kesimetrisan. irama dan usaha respirasi Catat pergerakan dada. cheyne stokes. retraksi otot supraclavicular dan intercostal Monitor suara nafas. kussmaul. seperti dengkur Monitor pola nafas : bradipena. penggunaan otot tambahan. catat area penurunan / tidak adanya ventilasi dan suara tambahan Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi crakles dan ronkhi pada jalan napas utama auskultasi suara paru setelah tindakan untuk mengetahui hasilnya . normal Monitor respirasi dan status O2 Respiratory Monitoring Monitor rata – rata.

nyeri. kursi roda. . program latihan secara rutin terapi restriktif v Mobility Level (imobilisasi). dan Klien meningkat dalam aktivitas fisik walker Mengerti tujuan dari peningkatan Beri penguatan positif untuk berlatih mandiri dalam batasan yang mobilitas aman. Memperagakan penggunaan alat Dorong klien melakukan latihan untuk memperkuat anggota tubuh Bantu untuk mobilisasi (walker) Ajarkan pada klien/ keluarga tentang cara penggunaan kursi roda Latihan Keseimbangan Ajarkan pada klien & keluarga untuk dapat mengatur posisi secara mandiri dan menjaga keseimbangan selama latihan ataupun dalam aktivitas sehari hari. Kriteria Hasil : Sediakan alat bantu untuk klien seperti kruk.3 Gangguan mobilitas fisik NOC : Latihan Kekuatan b/d kerusakan rangka v Joint Movement : Active Ajarkan dan berikan dorongan pada klien untuk melakukan neuromuskuler. Memverbalisasikan perasaan dalam Latihan mobilisasi dengan kursi roda meningkatkan kekuatan dan Ajarkan pada klien & keluarga tentang cara pemakaian kursi roda kemampuan berpindah & cara berpindah dari kursi roda ke tempat tidur atau sebaliknya. Latihan untuk ambulasi v Self care : ADLs Ajarkan teknik Ambulasi & perpindahan yang aman kepada klien v Transfer performance dan keluarga.

keram & cedera. Perbaikan Posisi Tubuh yang Benar Ajarkan pada klien/ keluarga untuk mem perhatikan postur tubuh yg benar untuk menghindari kelelahan. Membranes kawat. sekrup) Hindari kerutan padaa tempat tidur Kriteria Hasil : Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering Integritas kulit yang baik bisa Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali dipertahankan Monitor kulit akan adanya kemerahan Melaporkan adanya gangguan sensasi atau nyeri pada daerah kulit Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan yang mengalami gangguan Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien Menunjukkan pemahaman dalam Monitor status nutrisi pasien proses perbaikan kulit dan mencegah Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat terjadinya sedera berulang Mampumelindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit . Kolaborasi ke ahli terapi fisik untuk program latihan. 4 Gangguan integritas kulit NOC : NIC : Pressure Management b/d fraktur terbuka. v Tissue Integrity : Skin and Mucous Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar pemasangan traksi (pen.

prosedur Pertahankanteknikisolasi invasif/traksi tulang) Kriteria Hasil : Batasipengunjung bila perlu Klien bebas dari tanda dan gejala Instruksikanpadapengunjunguntukmencucitangansaatberkunjung infeksi dan setelahberkunjungmeninggalkanpasien Menunjukkan kemampuan untuk Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan mencegah timbulnya infeksi Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan Jumlah leukosit dalam batas normal Gunakan baju. dan perawatan alami 5 Risiko infeksi b/d NOC : NIC : ketidakadekuatan v Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi) pertahanan primer (kerusakan kulit. taruma v Risk control Bersihkanlingkungansetelahdipakaipasienlain jaringan lunak. sarung tangan sebagai alat pelindung Menunjukkan perilaku hidup sehat Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing Tingktkan intake nutrisi .

panas. drainase Ispeksi kondisi luka / insisi bedah Dorong masukkan nutrisi yang cukup Dorong masukan cairan Dorong istirahat Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep . WBC Monitor kerentanan terhadap infeksi Batasi pengunjung Saring pengunjung terhadap penyakit menular Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko Pertahankan teknik isolasi k/p Berikan perawatan kuliat pada area epidema Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan. Berikan terapi antibiotik bila perlu Infection Protection (proteksi terhadap infeksi) Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal Monitor hitung granulosit.

Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini b/d kurang terpajan atau Kriteria Hasil : berhubungan dengan anatomi dan fisiologi salah interpretasi 3. prognosis dan program pengobatan 7. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit v Pasien dan keluarga menyatakan 4. Gambarkan proses penyakit terhadap informasi. Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang prognosis dan proses penyakit yang spesifik kebutuhan pengobatan v Kowledge : health Behavior 2. Identifikasi kemungkinan penyebab pemahaman tentang penyakit. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan kurang untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan akurat/lengkapnya v Pasien dan keluarga mampu atau proses pengontrolan penyakit informasi yang ada melaksanakan prosedur yang 8. 5. 6. kondisi. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi Ajarkan cara menghindari infeksi Laporkan kecurigaan infeksi Laporkan kultur positif 6 Kurang pengetahuan NOC : NIC : Teaching: Disease Process tentang kondisi. Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk menjelaskan kembali apa yang melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya . Diskusikan pilihan terapi atau penanganan 9. Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan 11. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi keterbatasan kognitif. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan dijelaskan secara benar second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan v Pasien dan keluarga mampu 10. v Kowlwdge : disease process 1.

.

Y. Jakarta: EGC. Sjamsuhidajat & de Jong. Warwick D. Sjamsuhidajat. Buku Saku Diagnosis Keperawatan.DAFTAR PUSTAKA Solomon L. Judith M. edisi 7. H.C & Bare. 2002. dan Wim de Jong. EGC : Jakarta Wilkinson. Alih Bahasa Kuncara. Jakarta Doenges. hlm. EGC : Jakarta.3. Keperawatan Medikal Bedah. Rencana Asuhan Keperawatan. Brooker. EGC : Jakarta. S. 1995. Brunner dan Suddarth. DAFTAR PUSTAKA . Edisi 3.. dkk. B. Jakarta. Buku Ajar Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Nasrul. EGC : . Pengantar Proses Keperawatan. Edisi revisi. 2001. Effendi. Nayagam S. Brunner. edisi 8 vol. Apley's System of Orthopaedics and Fractures 9th ed. EGC. Edisi 3. Jakarta: EGC. Kamus Saku Keperawatan. 2002. 2011. 353. EGC. Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah. Buku Ajar Bedah Edisi Ke-3. Marilyn E. Smeltzer. Liverpool: The Royal Liverpool University. 2010. R. Jakarta: EGC. 2006.G. Jakarta: PenerbitBuku Kedokteran EGC. Christine. 2002. Suddarth. Sjamsuhidajat R. 2010. Edisi 3. Buku Ajar Imu Bedah. 1998. 1999. Buku Ajar keperawtan medikal bedah.

EGC : Jakarta. 2001. Edisi 8.Jakarta. Smeltzer. Suzanne C. . Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner & Suddarth.