You are on page 1of 25

TUBERCULOSIS PARU

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Dewasa II

Disusun oleh :

Kelompok 4

Sara Syntia Indriani 22020112130086

Sulistiyaningsih 22020112130087

Lilis Rezi Retani 22020112130089

Syafarina Nur Wahidah 22020112130090

Fita Ardiani 22020112130092

Milda Reina Hebrilia 22020112130094

Luthfi Nur Azhari 22020112130099

Izumi Ony Kusuma 22020112130100

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2014

TUBERCULOSIS

A. PENGERTIAN
Tuberkulosis paru adalah penyakit radang parenkim paru karena infeksi kuman
Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis paru termasuk suatu pneumonia, yaitu
penumonia yang disebabkan oleh M. tuberculosis. Tuberkulosis paru mencakup 80% dari
keseluruhan kejadian penyakit tuberkulosis, sedangkan 20% selebihnya merupakan
tuberkulosis ekstrapulmonar. Diperkirakan bahwa sepertiga penduduk dunia pernah
terinfeksi kuman M. tuberculosis. 1
Mycobacterium tuberculosis adalah kuman yang termasuk genus Mycobacterium,
family Mycobacterium dan ordo Actinomycetales. Mycobacterium tuberculosis merupakan
basil gram positif dan mengandung asam mikolik (waxes) di dinding selnya yang
menyebabkan kuman bersifat tahan asam dan dapat menimbulkan infeksi kronis. Sekarang
ini Mycobacterium tuberculosis cenderung resisten terhadap obat anti tuberculosis
terutama jika diberikan monoterapi.10,11
Mikrobakterium adalah kuman yang berbentuk batang lurus atau agak bengkok,
panjang 1-4 mikron, lebar antara 0.3-0,6 mikron, obligat, tidak membentuk spora, tidak
motil, tidak berkapsul dan bersifat tahan terhadap penghilangan zat warna dengan asam
alcohol. Pertumbuhan kuman mikobakterium sangat lambat, koloni baru terlihat 3 hari
sampai 8 minggu setelah proses pengeraman pada suhu optimal. Kuman masih dapat hidup
pada suhu 30-42 0C walaupun suhu tumbuh optimal pada sekitar 370C dengan pH optimal
6,4-7,0. Mycobacterium tuberculosis dapat tumbuh pada media yang mengandung gliserol,
garam ammonium, asparagin, dan asam lemak. Pada media biakan bentuk koloninya bulat,
berukuran 1-3 mm, permukaan rata. Pada pertumbuhannya koloni menjadi lebih besar,
permukaan tidak rata, kering, berwarna kuning dan bersifat hidrofobik.12
Mycobacterium tuberculosis terdiri dari lemak dan protein. Dinding sel kuman
terutama banyak mengandung lemak. Lemak merupakan komponen lebih dari 30% dari
berat dinding kuman dan terdiri dari asam stearat, asam mikotik serta sulfolipid, sedangkan
komponen protein utamanya adalah tuberkuloprotein.13,14
Tuberkulosis paru-paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-
paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat juga menyebar
ke bagian tubuh lain seperti meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe.2

organisme penyebab tuberkulosis.6 mm.2 Tuberkulosis pada anak dapat terjadi di usia berapa pun.3-0. Tuberkulosis luar paru-paru adalah TB berat yang terutama ditemukan pada usia < 3 tahun. Dari seluruh kasus tuberkulosis. Angka kejadian (prevalensi) TB paru-paru pada usia 5-12 tahun cukup rendah. Tuberkulosis. Tuberkulosis juga dapat menjangkau sampai ke area lain dari paru-paru (lobus atas). Diperkirakan sepertiga populasi dunia terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Basil juga menyebar melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lain (ginjal. Oleh karena itu. PATOFISIOLOGI Infeksi diawali karena seseorang menghirup basil M.tuberculosis adalah berupa lemak/lipid sehingga kuman mampu tahan terhadap asam serta sangat tahan terhadap zat kimia dan faktor fisik. Daerah tersebut menjadi tempat yang kondusif untuk penyakit tuberkulosis.2 B. tulang dan korteks serebri) dan area lain dari paru-paru (lobus atas). namun usia paling umum adalah antara 1-4 tahun. kemudian meningkat setelah usia remaja dimana TB paru-paru menyerupai kasus pada pasien dewasa (sering disertai lubang/kavitas pada paru-paru). Penyakit ini biasanya banyak ditemukan pada pasien yang tinggal di daerah dengan tingkat kepadatan tinggi sehingga masuknya cahaya matahari ke dalam rumah sangat minim. 2 C. sebesar 11% dialami oleh anak-anak di bawah 15 tahun. M. Sebagian besar komponen M. . Anak-anak lebih sering mengalami TB luar paru-paru (extrapulmonary) dibanding TB paru-paru dengan perbandingan 3 : 1. Perkembangan M. Tuberkulosis menjadi penyakit yang sangat diperhitungkan saat meningkatnya morbiditas penduduk terutama di negara berkembang. Mikroorganisme ini adalah bersifat aerob yakni menyukai daerah yang banyak oksigen. Bakteri menyebar melalui jalan napas menuju alveoli lalu berkembang biak dan terlihat bertumpuk. ETIOLOGI Mycobacterium tuberculosis merupakan jenis kuman berbentuk batang berukuran panjang 1-4 mm dengan tebal 0.tuberculosis senang tinggal di daerah apeks paru-paru yang kandungan oksigennya tinggi. 2 Penyakit tuberkulosis (TB) dapat menyerang manusia mulai dari usia anak sampai usia dewasa dengan perbandingan yang hampir sama antara laki-laki dan perempuan.

Granuloma selanjutnya berubah bentuk menjadi massa jaringan fibrosa. Granuloma terdiri atas gumpalan basil hidup da mati yang dikelilingi oleh makrofag seperti dinding. Bagian tengah dari massa disebut ghon tubercle. sistem kekebalan tubuh memberikan respons dengan melakukan reaksi inflamasi. Neutrofil dan makrofag melakukan aksi fagositosis (menelan bakteri).2 Interaksi antara M. Granuloma terdiri atas gumpalan. Tuberkulosis dan sistem kekebalan tubuh pada masa awal infeksi membentuk sebuah massa jaringan baru yang disebut granuloma. Infeksi awal biasanya timbul dalam waktu 2-10 setelah terpapar bakteri.Selanjutnya.2 Gb. Granuloma . Materi yang terdiri atas makrofag dan bakteri menjadi nekrotik yang selanjutnya membentuk materi yang penampakannya seperti keju (necrotizing caseosa). kemudian bakteri menjadi noaktif. sementara limfosit spesifik-tuberkulosis menghancurkan terakumulasinya eksudat dalam alveoli yang menyebabkan bronkopneumonia. Hal ini akan menjadi kalsifikasi dan akhirnya membentuk jaringan kolagen.

Tuberkel yang ulserasi selanjutnya menjadi sembuh dan membentuk jaringan parut. dan seterusnya. membentuk tuberkel. Penumonia seluler ini dapat sembuh dengan sendirinya. Luka bulat ini terjadi di subpleura dan sering mengalami kalsifikasi (area biru yg diberi anak panah) Setelah infeksi awal.2 . Penyakit yang kian parah dapat timbul akibat infeksi ulang atau bakteri yang sebelumnya tidak aktif kembali menjadi aktif. mengakibatkan timbulnya bronkopneumonia. Gb. Bagian peripheral dari Ghon Compleks. Paru- paru yang terinfeksi kemudian meradang. Pada kasus ini. kemudian pada akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang dikelilingi oleh tuberkel. jika respons sistem imun tidak adekuat maka penyakit akan menajdi lebih parah. Daerah yang mengalami nekrosis dan jaringan granulasi yang dikelilingi sel epiteloid dan fibroblas akan menimbulkan respons berbeda. ghon tubercle mengalami ulserasi sehingga menghasilkan necrotizing caseosa di dalam bronkhus. Proses ini berjalan terus dan basil terus difagositosit atau berkembang biak di dalam sel. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit (membutuhkan 10- 20 hari).

Siswa-siswi pesantren 3. The lung contains multiple coalescing foci of caseous necrosis surrounded by thin pale fibrous tissue capsules (tubercles). Vaksinasi BCG. berarti terjadi konversi hasil tes tuberkulin dan diberikan kemoprofilaksis. diberikan BCG vaksinasi. Bila masih negatif. Bila positif. 20 2. Penghuni rumah tahanan c. Tujuan dari vaksinasi BCG adalah untuk menghasilkan infeksi primer yang dimodifikasi dengan . vaksin BCG sebaiknya diberikan. Bila tes tuberkulin positif. Most of the lymph node is replaced by caseonecrotic debris with a laminated appearance reminiscent of caseous lymphadenitis caused by Corynebacterium pseudotuberculosis D. maka pemeriksaan radiologis foto thoraks diulang pada 6 dan 12 bulan mendatang. Mass Chest X-ray yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok-kelompok populasi tertentu misalnya: a. yaitu pemeriksaan terhadap individu yang bergaul erat dengan penderita tuberkolusis paru BTA positif. Description: lung & lymph node. Bila hasilnya tetap negatif. PENCEGAHAN Pencegahan Tuberkulosis Paru menurut Zain (2001)4 1. Bila uji tuberkulin negatif. Pemeriksaan kontak. Pemeriksaan meliputi tes tuberkulin. Karyawan rumah tangga/puskesmas/balai pengobatan b. sebaiknya pemeriksaan diulang setelang 6 minggu. klinis dan radiologis. Kemoprofilaksis adalah terapi antibiotik terhadap luka menggunakan yang potesial terkontaminasi.

Individu yang menunjukkan konversi hasil tes tuberkulin dari negatif menjadi positif d. Anak dan remaja di bawah 20 tahun dengan hasil tes tuberkulin positif yang bergaul erat dengan penderita TB yang menular c. Vaksin BCG dapat memakan waktu 6 – 12 minggu untuk menghasilkan perlindungan kekebalannya. baik dari organisme yang dilemahkan. sedangkan kemoprofilaksis sekunder diperlukan bagi kelompok berikut : a. Komunikasi. Kemoprofilaksis dengan menggunakan INH 5 mg/kgBB selama 6-12 bulan dengan tujuan menghancurkan atau mengurangi populasi bakteri yang masih sedikit. tetapi mencegah infeksi TB berat (Meningitis TB dann TB milier).yang sangat mengancam nyawa. Pemberian vaksinasi BCG sangat bermanfaat pada anak. Vaksin BCG memberikan proteksi yang bervariasi antara 50 – 80% terhadap tuberkulosis. 22 4. 21. Penderita yang menerima pengobatan steroid atau obat imunosupresif jangka panjang e. informasi dan edukasi (KIE) tentang penyakit tuberkulosis kepada masyarakat di tingkat Puskesmas maupun tingkat rumah sakit oleh petugas pemerintah maupun petugas LSM (misalnya Perkumpulan Pemberantasan Tuberkolusis Paru Indonesia-PPTI) . Bayi dibawah 5 tahun dengan hasil tes tuberkulin positif karena resiko timbulnya TB milier dan meningitis TB b. Penderita diabetes melitus f. Vaksin ini tidak mencegah infeksi TB. Indikasi kemoprofilaksis primer atau utama ialah bayi yang menyusu pada ibu dengan BTA positif. sedangkan pada orang dewasa manfaatnya masih kurang jelas.

dan fibrosis. KELUHAN YANG SERING MUNCUL2 1. dan keringat malam. PEMERIKSAAN TAMBAHAN PADA TUBERCULOSIS2 1. 6. Pada keadaan lanjut terjadi artropi (otot atau paru). 7. Pada tahap dini sulit diketahui. Sianosis. 2. 3. Febris berarti demam atau disertai demam. retraksi intercostal. kasar. berat badan menurun. sakit kepala. Batuk : terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. napsu makan menurun. PEMERIKSAAN FISIK2 1. dan kolaps ini harusnya masuk ke tanda gejala merupakan gejala atelektasis (pengerutan paru akibat penyempitan saluran nafas). Hipersonor/timpani bila terdapat kavitas yang cukup dan pada auskultasi memberikan suara umforik. Nyeri dada : jarang ditemukan. Sesak nafas : bila sudah lanjut dimana infiltrasi radang sampai setengah paru-paru. Sputum culture : untuk memastikan apakah keberadaan M. Malaise : ditemukan berupa anoreksia. 5.E. 5. febris (40-41 derajat celcius) hilang timbul. nyeri otot. karena biasanya penyakit ini muncul bukan karena sebagai penyakit keturunan tetapi merupakan penyakit infeksi menular. sesak nafas. pada sisi yang sakit tampak bayangan hitam dan diafragma menonjol ke atas. F. . nyeri akan timbul bila infiltrasi radang sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. 4. Demam : subfebris. dan nyaring. Ronchi basah. 4. Batuk ini terjadi untuk membuang atau mengeluarkan produksi radang yang dimulai dari batuk kering sampai dengan batuk purulen (menghasilkan sputum). 3. Bila mengenai pleura terjadi efusi pleura (perkusi memberikan suara pekak) G. Bagian dada pasien tidak bergerak pada saat bernafas dan jantung terdorong ke sisi yang sakit. 2. Pada foto toraks. Perlu ditanyakan dengan siapa pasien tinggal. tuberculosis pada stadium aktif.

BASTEC). pada agar base media yaitu Middle Brook. hasil kultur negative.Ogawa. batuk yg mengandung darah atau sputum hijau kecoklatan b. karena itu dapat mengandung antibakteri yang dapat mempengaruhi hasil. Gaya gravitasi digunakan untuk meningkatkan drainase sekresi. Pemeriksaan identifikasi M. perkusi dada. sputum diambil selama 3 hari atau lebih. Tanda infeksi paru termasuk sesak nafas. Fisioterapi dada. Teknik vibresi dilakukan . Pada drainase postural. Lalu minta klien berkumur dengan air bersih. copot dahulu sebelum melakukan prosedur. Secara bergantian tepukan telapak tangan tersebut diatas dada pasien. Mengidentifikasi antibiotik terbaik untuk mengatasi infeksi c. dan vibrasi. Lakukan fisioterapi dada jika sputum sulit dikeluarkan. Sputum adalah cairan kental yang yang diproduksi di paru atau saluran nafas. hasil kultur positif. klien dibaringkan dalam berbagai posisi spesifik untuk memudahkan drainase mukus dan sekresi dari bidang paru. Perkusi dilakukan dengan kedua telapak tangan yang membentuk “setengah bulan” dengan jari-jari tangan rapat. sakit saat nafas. Pada TB.15 Guna sputum kultur : a. Mycobacterium growth indicator tube test. mencakup tiga teknik : drainase postural. Memonitor pengobatan infeksi Prossedur : Jangan gunakan mouthwash sebelum mengambil sputum. Sputum kultur dapat memakan waktu 1 sampai 8 minggu untuk menunjukan hasil. Tes sputum culture adalah untuk mendeteksi dan mengidentifikasikan bakteri atau jamur apa yang menginfeksi paru atau saluran nafas. Mengidentifikasi bakteri atau jamur yg menimbulkan infeksi (mis tuberkulosis dan pneumonia). dan batuk secara dalam untuk mengeluarkan sputum. Jika pasien menggunakan gigi palsu. yaitu Lowestein-Jensen.Tuberculosis dapat dilakukan dengan cara biakan (pada egg base media. Jika organisme yang dapat menimbulkan infeksi tumbuh. ambil nafas dalam. Sputum diambil pada pagi hari sebelum pasien makan atau minum apapun. Jika tidak ada bakteri atau jamur yang tumbuh. Instrusikan pasien untuk membatukkan dan mengeluarkan sekresi. dan Kudoh. jika dibutuhkan.

maka pencarian yang lebih seksama harus dilakukan lagi pada 100 LP mulai kanan ke kiri pada tempat yang lain. tine. timbul 48-72 jam setelah injeksi antigen intradermal) mengindikasikan infeksi lama dan adanya antibody. dibiarkan 1 menit lalu larutan dibuang dan dicuci dengan air mengalir. Kuman Tuberculosis tampak seperti batang merah yang halus sedikit melengkung. yaitu mulai dari tepi kiri ke kanan.8 Setelah itu larutan asam alkohol 3% (hydrochloric acid-ethanol) dituang pada sediaan dan dibiarkan 2-4 menit kemudian dicuci dengan air mengalir selama 1-3 menit.1% dituang sampai menutup seluruh permukaan. 8 Pembacaan pada pemeriksaan Ziehl Neelsen9 : Kaca objek diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000 kali (menggunakan minyak emersi). Tata cara dengan Pemeriksaan Ziehl Neelsen8 : Larutan carbol fuchsin 0.3% dituang pada seluruh permukaan sediaan. tetapi tidak mengidentifikasikan penyakit sedang aktif. and vollmer patch): reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih. Sediaan kemudian dibiarkan dingin selama 5-7 menit lalu kelebihan zat warna dibuang dan dicuci dengan air yang mengalir perlahan. Paling sedikit diperiksa 100 LP (Lapang Pandang). Bila BTA tidak ditemukan dalam 100 LP. Larutan methylene blue 0. Prosedur dilakukan selama 15 menit. kemudian dipanaskan diatas nyala api sampai keluar asap tetapi tidak sampai mendidih atau kering selama 5 menit. tersendiri atau berpasangan atau berkelompok dengan latar belakang biru. mantoux. Skin test (PPD.9 3. Pembacaan harus sistematis dan sesuai prosedur. . Jika masih sulit dikeluarkan. beri klien aerosol atau uap obat khusus yang diresepkan dokter. dengan meletakkan telapak tangan dalam posisi rata diatas dada klien menggetarkannya. kelebihan larutan dibuang. Ziehl neelsen (Acid fast Saind applied to smear of body fluid): positif untuk BTA.16 2.

kulit pasien akan bereaksi dengan antigen dengan membentuk bejolan merah keras pada tempat yang diinjeksi dalam 2 hari. atau sebelumnya menjalani vaksin bacille Calmette-Guerin (BCG). kelelahan. dan berat badan turun tanpa sebab d. Orang dengan gejala TB. seperti batuk menetap. Mempunyai ruam kulit yang menyulitkan untuk membaca skin test 4. Orang yang memiliki X-ray dada tidak normal e. Tuberculin skin test positif (juga disebut TB skin test.15 Bertujuan untuk mengetahui apakah pasien pernah terpapar TB. Orang yang baru menerima transplantasi organ atau memiliki sistem imun tidak normal. atau keringat di malam hari. Tes dilakukan dengan menginjeksi sejumlah kecil TB protein (antigen) melalui intrakutan di lengan bawah bagian dalam. dapat memperlihatkan infiltrasi kecil pada lesi awal di bagian atas paru-paru. Reaksi tidak pasti dari Tuberculin skin test karena kelemahan sistem imun. Petugas kesehatan yang terekspos TB c. Telah diketahui terinfeksi TB b. deposit kalsium pada lesi primer yang membaik atau cairan pleura. Orang yang telah kontak langsung dengan orang yang diketahui menderita TB b. Tuberculin Skin Test (Mantoux tuberculin test). PPD test. Chest X ray. Perubahan yang mengidentifikasikan TB yang lebih berat dapat mencangkup area berlubang dan fibrosa. meliputi: a. c. Tanda TB aktif. seperti HIV Tuberculin skin test tidak boleh dilakukan pada orang dengan : a. demam. Tuberculin skin test dilakukan untuk mencari orang yang memiliki tuberculosis. Jika pasien telah terpapar bakteri TB. seperti batuk terus menerus. . atau Mantoux test) b. Sebelumnya mempunyai reaksi parah terhadap TB antigen c. Chest X ray biasanya dilakukan pada pasien dengan : a. keringat di malam hari.

ditulis jumlah kuman yang ditemukan . interpretasi pemeriksaan mikroskopis dibaca dengan skala International Union Against Tuberculosis dan Lung Disease (IUATLD). Dianjurkan pemeriksaan kultur pada hasil pemeriksaan dahak BTA negatif untuk memastikan diagnosis terutama pada daerah prevalen HIV > 1% atau pasien TB dengan kehamilan lebih dari atau samadengan 5% ATAU 1) Hasil pemeriksaan HIV positif atau secara laboratorium sesuai HIV. cairan pleura. Berdasarkan rekomendasi WHO. atau 2) Jika HIV negatif (atau status HIV tidak diketahui atau prevalens HIV rendah). yaitu apabila :Minimal satu dari sekurang- kurangnya dua kali pemeriksaan dahak menunjukan hasil positif pada laboratorium yang memenuhi syarat quality externall assurance (EQA).18 a. Setidaknya dua kali pemeriksaan dahak BTA negatif pada laboratorium yang memeniuhi syarat EQA. urine. Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang. Pemeriksaan mikroskopis biasa menggunakan pewarnaan Ziehl-Nielsen dan mikroskopis menggunakan pewarnaan auramin- rhodamin.5. feses dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH). kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavag/BAL). Sebaiknya satu kali pemeriksaan dahak tersebut berasal dari dahak pagi hari. apabila : hasil pemeriksaan dahak negatif tetapi kultur positif. antara lain: a. Tuberkulosis Paru BTA negatif. Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang. Tuberkulosis paru BTA positif. bilasan lambung. Bakteriologi 15. ditulis jumlah kuman yang ditemukan b. liquor cerebrospinal. b. bilasan bronkus. tidak menunjukan perbaikan setelah pemberian antibiotik spektrum luas (kecuali antibiotik yang mempunyai efek anti TB seperti flurokuinolon dan aminoglikosida) Bahan yang dapat digunakan untuk pemeriksaan bakteriologi adalah dahak.

. dapat ditemukan pada TB paru.19 7. Analisis laboratnya biasanya membutuhkan beberapa hari.sel besar yang mengindikasikan nikrosis. Prosedur dilakukan biasanya selama 30-60 menit. LED sering meningkat pada proses aktif. Needle biopsy of lung tissue: positif untuk granuloma TB. sehingga udara tersebut tidak ikut serta dalam proses pertukaran gas dengan darah dalam kapiler paru. Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut +1 d. Laju endap darah (LED) jam pertama dan kedua dapat digunakan sebagai indikator penyembuhan pasien. yaitu sebesar 150 ml). dan menurunnya saturasi O2 yang merupakan gejala sekunder dari fibrosis/ infiltrasi parenkim paru-paru dan penyakit pleura.15. TLC meningkat. dead space meningkat ( ruang di dalam saluran napas yang berisi udara yang tidak berkontak dengan alveoli. c. 9. Lung needle biopsy adalah metode untuk mengambil sepotong jaringan paru untuk diperiksa. 8. misalnya hiponatremia mengakibatkan retensi air. Elektrolit: mungkin abnormal tergantung dari lokasi dan beratnya infeksi. Bronkografi: merupakan pemeriksaan khusus untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru-paru karena TB.18 11. tergantung lokasi. Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukan indikator spesifik untuk TB. berat. Jika itu dilakukan melalui dinsing dada pasien. Ini aku ngga nemu 10. tetapi laju endap darah yang normal tidak menyingkirkan TB. Darah: lekositosis. Chest x-ray atau CT scan dapat digunakan untuk menentukan lokasi yang tepat untuk biopsi. Ditemukan > 10 BTA dalam 1 lapang pandang disebut +3 6. dan sisa kerusakan paru. Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang disebut +2 e. LED meningkat. disebut transthoracic lung biopsy.paru. Volume ruang rugi adalah volume udara yang diekspirasikan sejak puncak inspirasi sampai dengan pertengahan fase II ekspirasi. Limfosit juga kurang spesifik.paru kronis lanjut. ABGs: mungkin abnormal. adanya sel. Tes ini menunjukan granulomatous inflamation. Test fungsi paru-paru: VC menurun.

Fibrotik b. Bayangan bercak milier d.15. Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi Tb aktif adalah: a. Pemeriksaan lain atas indikasi yaitu fot lateral. Kavitas. Kalsifikasi c. top- lordotik. 13. namun konfirmasi dibutuhkan sebelum hasil sputum kultur siap b. Tes dapat dilakukan saat : a. dan penurunan saturasi oksigen sekunder akibat infiltrasi atau fibrosis parenkim. Rapid sputum tests dapat menunjukan apakah pasien menderita TB atau tidak dalam waktu 24 jam.18 pemeriksaan standar yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan foto toraks PA. oblik. Seseorang diduga menderita TB. Rapid sputum tes juga disebut Nucleic Acid Amplification Test. peningkatan ruang rugi / dead space. Seseorrang mungkin terinfeksi oleh bakteri selain bakteri TB c. Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang) Gambaran radiologi yang dicurigaisebagai lesi TB inaktif: a. dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular c. Seseorang yang mungkin mempunyai TB telah dekat dengan orang lain yang mungkin membutuhkan perawatan jika mereka telah terekspos. Pemeriksaan fungsi pulmonal: penurunan kapasitas vital normal brapa( volume udara maksimal yang bisa dihembuskan atau dikeluarkan seseorang setelah menghirup udara maksimum). Bayangan berawan/nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah b.7 12. peningkatan rasio udara residual terhadap kapasitas paru total. Rapid Sputum test17 : tes ini digunakan saat tes lain menunjukan bahwa pasien kemungkinan menderita TB. Schwarte atau penebalan paru . terutama lebih dari satu. atau CT-scan. Pemeriksaan Radiologi.

purpura. 3) Rifampin/ Rifampicin (RFP) Dosis: 10 mg/Kg BB/ hari PO Efek samping: hepatitis. reaksi demam. kemudian diturunkan sampai 15 mg/Kg BB/hari. dan hipersensitivitas 2) Ethambutol Hydrocloride (EMB) Dosis: dewasa 15 mg/Kg BB PO. Ekspektoran d. OBH (Obat Batuk Hitam) e. Anak 6. Penyuluhan 2. PO Efek samping: peripheral neuritis.H. untuk pengobatan ulang mulai dengan 25 mg/Kg BB/ hari selama 60 hari. Konsultasi secara teratur . artralgia. Bronkodilator c. Pemberian obat. skin rash. b. hepatitis. Pencegahan 3. Vitamin 4.12 tahun: 10-15 mg/Kg BB/hari Efek samping: optic neuritis (dapat sampai buta) dan skin rash. PENATALAKSANAAN2 1. nausea. dan vomiting 4) Pyrazinamide (PZA) Dosis: 15. Fisioterapi dan rehabilitasi 5. dan distress gastrointestinal. hepatotoksisitas.30 mg/Kg BB PO Efek samping: hiperurikemia.obatan : a. OAT (Obat Anti Tuberkulosis) 1) Isoniazid (INH) Dosis: 5 mg/Kg BB.

laringitis. . Komplikasi lanjut : obstruksi jalan nafas  SOFT (Sindron Obstruksi Pasca Tuberculosis). kerusakan parenkim berat  SOPT atau fibrosis paru. S baru dibawa dari rumah langsung ke RSUD karang Anyar. aktivitas dibantu keluarga. Saat diauskultasi terdapat suara ronchi. Istri klien juga mengatakan kepada dokter jika klien saat batuk tidak ditutupi. Pengkajian riwayat kesehatan. karsinoma paru. Riwayat dahulu : sudah 2 kali dirawat di RSUD karanganyar dgn penyakit yg sama (TB Paru). nadi 88kali/menit. Komplikasi dini : pleuritis. amiloidosis. Riwayat sekarang : mengeluh sesak nafas dan batuk lebih dari 30 hari. ASUHAN KEPERAWATAN 1. badan lemas sehingga pergerakan terbatas. Poncet’s Arthopathy. sindrom gagal nafas dewasa (ARDS). Kasus Pada tanggal 2 April 2012. Pasien mempunyai kebiasaan merokok saat remaja. Pasien di diagnosa medis TB paru. efusi pleura. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi lanjut.I. batuk berdahak yang susah keluar dan terasa panas di tenggorokan serta terdapat darah yang berwarna merah segar saat batuk. Pasien pernah melakukan pengobatan TB tapi terputus. keluhan utama sesak nafas. Tn. Klien tinggal bersama keluarganya. empiema. terdapat retraksi TTV : BP 110/80mmHg. RR 28kali/menit. KOMPLIKASI Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi. sering terjadi pada TB Milier dan kavitas TB. Riwayat keluarga : kakaknya menderita TB paru. Pasien Beralamat di Kebak Kramat dengan umur 57 tahun pekerjaannya buruh dan beragama Islam.3 J. suhu 37 derajat celcius. dispnea. kor pulmonal. suara nafas ronchi.

Kakak klien menderita penyakit TB paru juga . Klien mengatakan batuk berdahak dan susah keluar . Secara Umum DO : . Suhu 37 derajat celcius . BP 110/80 mmHg . Klien mengatakan pergerakan terbatas . Klien mengatakan mengalami batuk lebih dari 30 hari .2. Klien mengatakan pernah dirawat di RSUD Karanganyar 2 kali dengan penyakit yang sama . Klien mengatakan mempunyai kebiasaan merokok saat remaja . HR 88 kali/menit . Klien mengeluh saat batuk terasa panas di tenggorokan dan terdapat darah yang berwarna merah segar . Saat diauskultasi terdapat suara ronchi DS : . Klien mengeluh sesak napas . Suara napas ronchi (yg jenis apa) . Data Fokus a. Aktivitas klien dibantu keluarga . Klien terlihat lemas . RR 28 kali/menit . Klien mengatakan pernah melakukan pengobatan TB tapi terputus . Istri klien juga mengatakan kepada dokter jika klien saat batuk tidak ditutupi .

Menyatakan DO : Intoleran merasa letih .Klien mengatakan pergerakan terbatas 3 .Sputum dalam .Suara napas ronchi bersihan jalan . Berdasarkan Kasus No Batasan Karakteristik Data Fokus Diagnosis 1 .Klien mengatakan batuk jumlah yang berdahak dan susah keluar berlebihan .Klien terlihat lemas aktivitas .Dispnea napas .Ketidakakuratan DO : .Menyatakan .Othopnea merah segar 2 .Suara nafas DO : Ketidakefektifan tambahan .Klien mengatakan mempunyai kebiasaan merokok saat remaja .Kakak klien menderita .Batuk yang tidak tenggorokan dan terdapat efektif darah yang berwarna . Kurang mengikuti perintah DS : pengetahuan .Klien mengatakan pernah masalah melakukan pengobatan TB tapi terputus .Klien mengeluh saat batuk frekuensi napas terasa panas di .Aktivitas klien dibantu merasa lemas keluarga DS : .Sianosis DS : nafas .Pengungkapan .Perubahan .b.Klien mengeluh sesak .

Klien mengatakan tinggal bersama keluarganya 3. dll Airway management  Buka jalan nafas. Resiko infeksi DS : . penyakit TB paru juga .Istri klien juga mengatakan kepada dokter jika klien saat batuk tidak ditutupi 4 DO : . Diagnosa dan intervensi Diagnosa keperawatan Intervensi Ketidakefektifan bersihan Airway suction: jalan nafas  Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning  Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioning  Informasikan pada klien dan keluarga tentang suctioning  Berikan 02 dengan menggunakan nasal untuk memfasilitasi suction nasotrakeal  Monitor status oksigen pasien  Hentikan suction dan berikan oksigen apabila pasien menunjukkan brakikardi. gunakan teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu  Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (posisi semifowler/fowler)  Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat . peningkatan saturasi 02.

lalu menghembuskan nafas perlahan dan batuk di akhir ketika menghembuskan nafas Intoleran aktivitas Manajemen energi (0180)  Tentukan penyebab kelemahan  Monitor / catat pola tidur dan jumlah jam tidur  Monitor intake nutrisi untuk memastikan pasien mendapat sumber energi adekuat  Bantu klien untuk menjadwalkan periode istirahat  Bantu pasien untuk membuat prioritas aktivitas berdasarkan tingkat energi yang ada (membuat jadwal aktivitas harian berdasarkan kemampuan)  Tentukan apa dan berapa banyak aktifitas yang diperlukan untuk meningkatkan daya tahan energi . kekuatan volume ekspirasi dalam 1 detik  Bantu pasien untuk melakukan posisi dengan kepala sedikit fleksi. kekuatan maksimal inspirasi. terutama kapasitas vital. dan lutut fleksi  Anjurkan pasien untuk melakukan nafas dalam  Ajaran pasien untuk batuk dengan menghirup nafas maksimal  Ajarkan pasien untuk tarik nafas dalam. bahu relaksasi. jalan nafas buatan  Monitor respirasi dan status 02 Cough management :  Pantau hasil tes fungsi pernafasan.

suara) untuk meningkatkan relaksasi Kurang pengetahuan Meningkatkan literasi kesehatan ( Health Literacy Enhancement / 5515)  Buatlah lingkungan perawatan dimana klien dengan kurang pengetahuan mampu mendapatkan jawaban tanpa mampu merasa malu atau terstigmasi  Gunakan bentuk komunikasi seperlunya dan jelas  Gunakan bahasa yang jelas  Hindari istilah medis dan penggunaan akronim  Tingkatkan status pengetahuan klien melalui kontak komunikasi dengan klien dalam pengkajian secara informal maupun formal  Tentukan apa yang telah klien tahu tentang kondisinya atau resiko yang mungkin serta hubunganya dengan informasi yang telah diketahui  Sediakan pelayanan konseling tatap muka bedua  Sediakan tulisan tentang materi informasi yang mampu dimengerti (menggunakan kalimat pendek. menggunakan desain dan bentuk yang familiar) .  Dorong pasien untuk memilih aktifitas yang secara perlahan meningkatkan daya tahan energi  Batasi stimulus luar (mis. dicetakdalam ukuran yang besar. Cahaya. poin kunci utama. kalimat umum dengan sedikit perumpamaan.

batasi informasi yang diberikan dalam sekali waktu. fokus dalam kata kunci dan pengulangan.  Menggunakan strategi untuk meningkatkan pemahaman ( pemberian informasi yang paling penting untuk langkah pertama. menggunakan contoh ilustrasi pada poin-poin yang dianggap penting)  Evaluasi pemahaman klien dengan pengulangan yang dilakukan klien menggunakan kalimatnya sendiri Health Education (5510)  Identifikasi faktor internal dan eksternal yang dapat meningkatkan atau mengurangi motivasi perilaku sehat klien  Tentukan pengetahuan kesehatan dan perilaku gaya hidup dari klien atau keluarga saat ini  Gunakan strategi yang bermacam-macam dan intervensi-intervensi dalam program edukasi  Rencanakan tindak lanjut jangka penjang untuk memperkuat perilaku kesehatan atau adaptasi gaya hidup Risiko infeksi (00004) Infection control (6540)  Bersihkan lingkungan yang digunakan oleh pasien  Ganti peralatan perawatan pasien per tindakan yang diberikan  Pembatasan pengunjung  Cuci tangan sebelum dan sesudah memberikan perawatan kepada pasien .

 Menganjurkan untuk menyediakan makan dengan baik dan bersih  Ajarkan pasien dan keluarga pasien cara untuk menghindari infeksi Infection protection (6550)  Memantau system yang mudah terinfeksi  Batasi pengunjung yang ingin mengunjungi  Memperhatikan jumlah nutrisi yang masuk  Menganjurkan untuk minum yang cukup  Ajarkan pasien dan keluarga pasien cara untuk menghindari infeksi (penggunaan masker. tidak mengguunakan alat-alat makan secara bersamaan) Environmental risk protection  Memperkirakan lingkungan yang berbahaya dan memiliki potensi bahaya  Menganalisis tingkat bahaya lingkungan  Menginformasikan kepada masyarakat tentang lingkungan yang mempunyai resiko bahaya  Memberikan dukungan untuk menutup tempat yang memiliki potensi bahaya  Memantau kejadian atau peristiwa kecelakaan yang terjadi di lingkungan tersebut .

1999:115-8 11. 2007. Herman. Yunus F. 2007. 3. Erna. Respirologi (Respiratory Medicine). Nursing Intervention Clasification 7. Aru W. Menaldi R. NANDA International Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. World Health Organization. Washington: American Society for Microbiology: 1997. Appleton and Lange. 13. Departemen Kesehatan RI. Somantri. Cetakan ke-8. 2005. Darmanto. Dalam: Yunus F. Lestari. 9. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: bagian Pulmologi FKUI. Laboratory Services in Tuberculosis Control: Microscopy Part II. Stephen J. 1998: 27-34. Volume 1. Irman. Penerbit Salemba Medika : Jakarta 8. Forty Fisth ed. Pelayanan Diagnostik Paru di RSUP/ Persahabatan. Nilai Diagnostik Pemeriksaan Mikroskopis Basil Tahan Asam Metoda Konsentrasi Di bandingkan dengan Kultur Pada Sputum Tersangka Tuberculosis Paru. Berkala Ilmiah Kesehatan Fatmawati. Djojodibroto. Pulmologi klinik. Keperawatan medikal bedah Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan sistem pernapasan. Sudoyo. Somantri. Fakulktas Kedokteran Universitas Diponegoro. Hudoyo A. 10. 2007. Jakarta: EGC 6. Hausler WJ dkk. Jakarta. 5 th ed. Jakarta : Salemba Medika. 2002 14. Infections Caused by Mycobacteria. 2002:1433-8 12. Lawrence MT. 2. Irman. Karya Ilmiah Akhir Untuk Persyaratan Program Pendidikan Dokter Spesialis I Patologi Klinik. 2006. Darma. Perkembangan Diagnostik Tuberkulosis. Setyakusuma. 4. Manual of Clinical Microbiology. Keperawatan Medikal Bedah : Asuhan keperawatan pada Pasien dengan Gangguan system Pernapasan. 304-7. 1996: 21 . Boedisasmoko. Ilmu penyakit dalam jilid II edisi IV. Jakarta : EGC. WHO. Muttaqin. In: Current Medical Diagnosis and Treathment. Nomor 3. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis. Mulawarman A. 2009. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Pernapasan. Heather. Jakarta : Salemba Medika 5. Arif. DAFTAR PUSTAKA 1. dkk. Ballows A.

Asih. Updated guidelines for the use of nucleic acid amplification tests in the diagnosis of tubeculosis. 186. 58(01): 7-70. 2010. David. Jakarta : EGC.cdc. Seymour I. Schwartz. http://www. Vaksinasi. Lung Biology in Health and Disease : Pleural Disease Vol. Niluh Gede Yasmin. Keperawatan Medikal Bedah.htm?s_cid=mm5801a3_e.webmd. Diakses pada tanggal 05/04/2014 19. Inc. Jakarta : EGC. Dasar-dasar Pediatri.15.. 21. 17. Cahyono. Cara Ampuh Cegah Penyakit Infeksi. http: //www. 20.S. U.com/kedokteran-klinis/respirasi-kedokteran-klinis/tuberkulosis- diagnosis-dan-tatalaksananya/. 2000. Center for Disease Control and Prevention (2009).gov/mmwr/preview/mmwrhtml/mm5801a3. Claude. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah. diakses pada tanggal 05/04/2014 16. Available online.medicinesia. 2004. Suharjo. MMWR. 2004. New York : Marcel Decker. 18. Lefnant.com/lung/tuberculosis-director . Hull. Yogyakarta : Kanisius . 2008. Jakarta : EGC 22. http://www. dkk.