You are on page 1of 24

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ...............................................................................................1
Kata pengantar ........................................................................................................2
Daftar isi .................................................................................................................3
BAB I Pendahuluan ....................................................................................4
BAB II Tinjauan pustaka ............................................................................5
2.1 Definisi ......................................................................................5
2.2 Epidemiologi .............................................................................5
2.3 Patofisiologi ..............................................................................6
2.4 Faktor Presipitasi .......................................................................8
2.5 Faktor Resiko ............................................................................8
2.6 Diagnosis ...................................................................................9
2.7 Penatalaksanaan ....................................................................11
2.8 Krisis hipertensi pada keadaan khusus .................................17
BAB III Kesimpulan ...................................................................................21
Daftar Pustaka .......................................................................................................23

i

ii

yaitu hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi. Krisis hipertensi merupakan suatu keadaan klinis yang ditandai oleh tekanan darah yang sangat tinggi dengan kemungkinan akan timbulnya atau telah terjadi kelainan organ target. gagal jantung kiri disertai edema paru.2 1 .3 Kerusakan organ yang dimaksud antara lain ensefalopati hipertensi. Peningkatan secara mendadak tekanan darah sistolik ≥ 180 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 120 mmHg dinamakan krisis hipertensi. Penanganan pertama yang dilakukan pada hipertensi emergensi ialah memberikan obat antihipertensi kerja cepat secara intravena. prinsip penatalaksanaan krisis hipertensi sangat penting untuk diketahui mengingat semakin tingginya angka morbiditas serta mortalitas pada pasien- pasien hipertensi yang tidak ditangani dengan baik. Tujuan utama pada penangangan krisis hipertensi adalah menurunkan tekanan darah. Sekitar 1-2% dari penderita hipertensi akan mengalami peningkatan tekanan darah secara mendadak dalam waktu tertentu. Selain itu. 1. diseksi aneurisma aorta. pasien dengan hipertensi emergensi sebaiknya dirawat di ICU (Intensive Care Unit) demi pemantauan secara ketat atas pemberian obat antihipertensi intravena. JNC 7 membagi krisis hipertensi berdasarkan ada atau tidaknya kerusakan organ sasaran yang progresif.1. Upaya penurunan tekanan darah pada kasus hipertensi emergensi harus dilakukan segera (<1 jam) sedangkan kasus hipertensi urgensi dapat dilakukan dalam kurun waktu beberapa jam hingga hari. dan eklamsia. Hampir sekitar 50 juta orang di USA dan 1 miliar orang di dunia menderita hipertensi. BAB I PENDAHULUAN Hipertensi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. sedangkan pada hipertensi urgensi cukup dengan pemberian obat antihipertensi secara oral.2. Oleh karena itu. Pada umumnya krisis hipertensi terjadi pada pasien hipertensi yang tidak atau lalai memakan obat antihipertensi. infark miokard akut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.2% di usia 70-79 tahun. Hipertensi urgensi adalah peningkatan secara mendadak tekanan darah sistolik ≥ 180 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 120 mmHg tanpa gejala yang berat atau kerusakan target organ progresif dimana kondisi ini membutuhkan penurunan tekanan darah dalam beberapa jam.3% di usia 30-39 tahun menjadi 6.29% pasien di Amerika dengan hipertensi memiliki tekanan darah yang terkontrol. Insiden dari hipertensi meningkat sesuai umur.5% pada tahun 2004. insidensi hipertensi lebih tinggi pada ras Afrika-Amerika dibandingkan mereka yang berkulit putih. Menurut Pusat Penelitian Biomedis dan Farmasi Badan Penelitian Kesehatan 2 . pada penderita hipertensi. 2 2. Selain itu.3% penduduk menderita hipertensi dan meningkat menjadi 27. Prevalensi dan insidensi hipertensi di Mexico- Amerika sama atau lebih rendah dibandingkan dengan kulit putih non-Hispanik. yaitu hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi. hanya sekitar 14% . Pada studi Framingham angka kejadian hipertensi pada pria meningkat dari 3. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan bahwa 8.2 EPIDEMIOLOGI Hipertensi merupakan masalah klinis yang sangat umum di negara barat. Krisis hipertensi dibagi menjadi dua kategori.1 DEFINISI Krisis hipertensi adalah suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang mendadak sistolik ≥ 180 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥ 120 mmHg. 1 Di Indonesia masalah hipertensi cenderung meningkat. yang membutuhkan penanggulangan segera. Hipertensi mengenai sekitar 72 juta orang di USA dan sekitar 1 miliar orang di dunia. Selanjutnya. Hipertensi emergensi adalah peningkatan secara mendadak tekanan darah sistolik ≥ 180 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥ 120 mmHg disertai dengan adanya kerusakan target organ akut atau progresif sehingga membutuhkan penurunan tekanan darah segera. Kebanyakan dari mereka merupakan hipertensi primer dan sekitar 30% nya tidak terdiagnosis.

Dari kasus hipertensi yang terjadi di Indonesia. Kebanyakan dari pasien yang mengalami krisis hipertensi ialah mereka yang sudah terdiagnosis memiliki hipertensi primer dan banyak diantaranya sudah diberikan terapi antihipertensi dengan kontrol tekanan darah yang tidak adekuat. dimana pria terkena 2 kali lebih sering dibandingkan wanita. prevalensi hipertensi di Indonesia meningkat mencapai 32. 1. Peran langsung dari peningkatan tekanan darah 2. Sebelum adanya terapi antihipertensi.2% dari kasus hipertensi di masyarakat.I tahun 2009. serta ketidaksesuaian dalam memberikan terapi antihipertensi menjadi faktor resiko yang cukup besar untuk terjadinya hipertensi emergensi.8% kasus hipertensi di Indonesia belum terdiagnosis dan terjangkau oleh pelayanan kesehatan.2%. dan lebih tinggi pada mereka orang African-American dan usia lebih tua. Kurangnya tenaga dokter. Hal inilah yang menyebabkan semakin tingginya kejadian krisis hipertensi yang terjadi pada pasien-pasien hipertensi. Hal ini menunjukkan 75.2 2. Peran mediator endokrin dan parakrin 2. Diperkirakan sekitar 1 % dari pasien hipertensi akan mengalami krisis hipertensi.Departemen Kesehatan R.stroke serta penyakit jantung hipertensi dan atau penyakit jantung koroner. namun demikian ada dua peran penting yang menjelaskan patofisiologi tersebut yaitu : 1. komplikasi ini mencapai angka 7% dari populasi kejadian hipertensi. Secara epidemiologis.1 Peran peningkatan Tekanan Darah 3 . 1 Semakin meningkatnya kasus hipertensi yang terjadi di dunia dapat menyebabkan semakin seringnya terjadi komplikasi lebih lanjut yang dapat mengancam jiwa.8% atau hanya 24. kejadian krisis hipertensi paralel dengan distribusi hipertensi primer dalam komunitas. Pada beberapa penelitian yang ada menunjukkan bahwa pasien dengan krisis hipertensi memiliki peluang yang lebih besar untuk menderita gangguan somatoform. mereka yang memiliki riwayat minum obat hanya 7.3. kegagalan untuk memberikan terapi antihipertensi lebih awal.3 PATOFISOLOGI Patofisiologi terjadinya krisis hipertensi masih belum begitu jelas.

Keadaan tersebut merupakan suatu siklus (vicious circle) dimana akan terjadi iskemia. pengendapan platelet dan pelepasan beberapa vasoaktif.4 Mekanisme ditingkat sel ini akan meningkatkan permeabilitas dari sel endotelial.5 Bila stress peningkatan tiba-tiba tekanan darah ini berlangsung terus- menerus maka sel endothelial pembuluh darah menganggapnya suatu ancaman dan selanjutnya melakukan vasokontriksi diikuti dengan hipertropi pembuluh darah. Usaha ini dilakukan agar tidak terjadi penjalaran kenaikan tekanan darah ditingkat sel yang akan menganggu hemostasis sel. endhotelial adhesion molecule dan endhoteli-1.4 4 . Pada keadaan tersebut terjadi keadaan kerusakan endovaskuler (endothelium pembuluh darah) yang terus-menerus disertai nekrosis fibrinoid di arteriolus. Akibat dari kontraksi otot polos yang lama. Selanjutnya disfungsi endotelial akan ditriger oleh peradangan dan melepaskan zat-zat inflamasi lainnya seperti sitokin. Peningkatan mendadak tekanan darah yang berat maka akan terjadi gangguan autoregulasi disertai peningkatan mendadak resistensi vaskuler sistemik yang menimbulkan kerusakan organ target dengan sangat cepat. menghambat fibrinolisis dan mengaktifkan sistem koagulasi. Sistem koagulasi yang teraktifasi ini bersama-sama dengan adhesi platelet dan agregasi akan mengendapkan materi fibrinoid pada lumen pembuluh darah yang sudah kecil dan sempit sehingga makin meningkatkan tekanan darah. Trigernya tidak diketahui dan bervariasi tergantung dari proses hipertensi yang mendasarinya. Gangguan terhadap sistem autoregulasi secara terus-menerus akan memperburuk keadaan pasien selanjutnya. Siklus ini berlangsung terus dan menyebabkan kerusakan endotelial pembuluh darah yang makin parah dan meluas.4. akhirnya akan menyebabkan disfungsi endotelial pembuluh darah disertai berkurangnya pelepasan nitric oxide (NO).

dan akan pula meningkatkan hormon aldosteron yang berperan dalam meretensi air dan garam sehingga volume intravaskuler akan meningkat pula. Apabila tekanan darah meningkat terus maka akan terjadi natriuresis sehingga seolah-olah terjadi hipovolemia dan akan merangsang renin kembali untuk membentuk vasokonstriktor angiotensin II sehingga terjadi iskemia pembuluh darah dan menimbulkan hipertensi berat atau krisis hipertensi. Gambar 1. Patofisiologi Hipertensi Emergensi 4 2.3.5 5 .3 Peranan Mediator Endokrin dan Parakrin Sistem renin-Angiotensin-Aldosteron (RAA) memegang peran penting dalam patofisiologi terjadinya krisis hipertensi. Peningkatan renin dalam darah akan meningkatkan vasokonstriktor kuat angiotensin II. Keadaan tersebut diatas bersamaan pula dengan terjadinya peningkatan resistensi perifer pembuluh darah yang akan meningkatkan tekanan darah.4.

anti depresan trisiklik. simpatomimetik (pil diet sejenis amfetamin). luka bakar berat. untuk membatasi atau mencegah terjadinya kerusakan organ sasaran.6:  Kenaikan tekanan darah tiba-tiba pada penderita hipertensi kronis primer  Hipertensi renovaskular  Glomerulusnefritis akut  Sindroma withdrawal anti hipertensi  Cedera kepala dan ruda paksa pada susunan saraf pusat  Renin-sekretin tumor  Pemakaian prekusor katekolamin pada pasien yang mendapat MAO Inhibitor  Penyakit parenkim ginjal  Pengaruh obat : kontrasepsi oral. kortikosteroid.5 FAKTOR RESIKO  Penderita hipertensi yang tidak meminum obat atau minum obat anti hipertensi tidak teratur  Kehamilan  Penggunaan NAPZA  Penderita dengan rangsangan simpatis yang tinggi seperti. SLE 2. penyakit kolagen. NSAID  Luka bakar  Progresif sistematik sklerosis. penyakit vaskuler. Perburukan cepat artinya jika tidak diberikan terapi secara efektif 6 .6 DIAGNOSIS Hipertensi ini memerlukan penurunan tekanan darah segera meskipun tidak perlu menjadi normal. feokromositoma. 2.2. dan trauma kepala.4 FAKTOR PRESIPITASI KRISIS HIPERTENSI Keadaan-keadaan klinis yang sering mempresipitasi timbulnya krisis hipertensi antara lain ialah 5.

dan merupakan satu- satunya tanda dekompensasi sistem saraf pusat (SSP) akut. Kardiovaskuler : Unstable angina. 4. medikasi dan penggunaan obat. Renal : Proteinuria. yang terpenting adalah cepat naiknya tekanan darah. 2. Keluhan neurologi mungkin dramatik. Tingginya tekanan darah bervariasi. Neurologik : Encephalopati hipertensi. gagal jantung dengan edema peru. terdapat kemungkinan terjadinya kegawatdaruratan. Kerusakan yang dapat terjadi antara lain. stroke hemoragik (intraserebral atau subdural) atau iskemik. 3. Preeklampsia dan eklampsia. malaise. hamaturia. tetapi sering kali berupa gejala yang tidak spesifik seperti nyeri kepala. Tabel 1. Kerusakan Target Organ Pada Hipertensi Emergensi 2 Riwayat penyakit ditujukan pada system neurologis dan kardiovaskular. Mikroangiopati : anemia hemolitik. papil edema. Riwayat penyakit SSP 7 . situasi di mana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera dengan obat antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ target akut atau progresif. diseksi aorta. Krisis hipertensi adalah keadaan hipertensi yang memerlukan penurunan tekanan darah segera karena akan mempengaruhi keadaan pasien selanjutnya. dan persepsi yang samar-samar tentang kemampuan mental. gagal ginjal akut. 4. krisis ginjal scleroderma. infark miokardium akut.5 : 1. 5.dalam waktu tertentu. 6.7 Pada hipertensi emergensi.

Jantung . c. perabaan denyut nadi perifer (raba nadi radialis kedua lengan dan kemungkinan adanya selisih dengan nadi femoral. Yang sering dilakukan antara lain. penyakit penyerta. pemeriksaan elektrolit. Mata . jantung dan gangguan penglihatan. b. dengarkan adanya bunyi jantung S3 dan S4 serta adanya murmur. kreatinin. dan kerusakan target organ. Periksa tingkat kesadarannya dan refleks fisiologis dan patologis.6 . Status neurologik . riwayat penyakit kronik lain. Anamnesis Riwayat hipertensi dan terapinya. Lihat adanya papil edema. Palpasi adanya pergeseran apeks. perhatikan adanya ronki basal yang mengindikasikan CHF. Pengukuran tekanan darah pada kedua lengan. karena komplikasi terapetik lebih sering terjadi pada pasien dengan riwayat penyakit tersebut. kelainan hormonal. radial-femoral pulse leg ).atau serebrovaskular sebelumnya harus dicari. 8 . pendekatan pada status mental dan perhatikan adanya defisit neurologik fokal. glukosa darah. tekanan darah rata-rata. Paru . d. 5. pendarahan dan eksudat.6 Prinsip-prinsip penegakan diagnosis hipertensi emergensi dan hipertensi urgensi tidak berbeda dengan penyakit lainnya 4. gejala-gejala serebral. kepatuhan minum obat. BUN. e. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan dilakukan dengan memperhatikan penyakit dasarnya. riwayat pemakaian obat-obat simpatomimetik dan steroid. 3.6 Pada hipertensi urgensi. Pemeriksaan Fisik a. 1. 5. situasi di mana terdapat peningkatan tekanan darah yang bermakna (ada yang menyebut tekanan darah sistolik > 220 mmHg atau tekanan darah diastolik > 125 mmHg) tanpa adanya gejala berat atau kerusakan target organ progresif dan tekanan darah perlu diturunkan dalam beberapa jam. 2. penyempitan yang hebat arteriol.

7 PENATALAKSANAAN 2. Kategori Diagnostik dan Evidence Kerusakan Organ Target 6 2. hitung jenis komponen darah dan SADT.7. Tetapi di pihak lain. EKG dan CT-Scan. 9 . Tabel 2.1 Dasar-dasar penatalaksanaan krisis hipertensi Tekanan darah yang sedemikian tinggi haruslah diturunkan karena penundaan akan memperburuk penyakit yang akan timbul baik cepat maupun lambat. urinalisis. Pemeriksaan lainnya antara lain foto rontgen toraks. penurunan yang terlalu agresif juga dapat menimbulkan berkurangnya perfusi dan aliran darah ke organ vital terutama otak.

jika tekanan darah naik timbul vasokonstriksi. Pada individu normotensi. dan ginjal. Dengan pengetahuan autoregulasi dalam menurunkan tekanan darah secara mendadak dimaksudkan untuk melindungi organ vital agar tidak terjadi iskemi. masih dapat ditoleransi. Bila mekanisme ini gagal. Rumus perhitungan MAP ialah : Sistolik + 2 x Diastolik MAP = 3 Bila MAP turun di bawah batas autoregulasi. Autoregulasi otak ini kemungkinan disebabkan oleh mekanisme miogenik yang disebabkan oleh stretch reseptor pada otot polos arteriol otak.4. terjadi vasodilatasi.5. maka otak akan memakai oksigen lebih banyak dari darah untuk kompensasi dari aliran darah yang berkurang. perubahan aliran darah dan autoregulasi tekanan darah pada organ vital. Pada orang normal dengan normotensi. batas ambang autoregulasi ini akan berubah dan bergeser ke kanan pada kurva dimana dipertahankan pada MAP tinggi yaitu 120- 10 . . pengamatan yang menyertai krisis hipertensi. maka dapat terjadi iskemi otak dengan manifestasi klinik seperti mual. dan monitoring efek samping obat. penyakit serebrovaskular dan usia tua. pingsan dan sinkope. aliran darah otak masih tetap pada fluktuasi mean arterial pressure (MAP) 70-105 mmHg. pemilihan obat anti hipertensi efektif untuk krisis hipertensi. Untuk menurunkan tekanan darah sampai ke tingkat yang diharapkan perlu diperhatikan berbagai faktor antara lain tekanan darah perlu diturunkan segera atau bertahap. menguap. autoregulasi aliran darah ke otak dipertahankan pada MAP antara 60- 120-140 mmHg sehingga penurunan tekanan darah yang cepat sampai batas hipertensi. walaupun hipoksia mempunyai peranan dalam perubahan metabolisme di otak.jantung. Bila tekanan darah turun. Pada penderita hipertensi kronis.6 AUTOREGULASI Autoregulasi adalah penyesuaian fisiologis organ tubuh terhadap kebutuhan dan pasokan darah dengan mengadakan perubahan pada resistensi terhadap aliran darah dengan berbagai tingkatan perubahan kontriksi/dilatasi pembuluh darah.

2 Penatalaksanaan krisis hipertensi HIPERTENSI EMERGENSI Pada hipertensi emergensi.160-180 mmHgsehingga pengurangan aliran darah terjadi pada tekanan darah yang lebih tinggi. pengurangan MAP sebanyak 20–25% dalam beberapa menit/jam. Berdasarkan prinsip ini maka obat antihipertensi pilihan 11 .5.4.5. penurunan tekanan darah 25% dalam 2–3 jam.7.6 2. Untuk pasien dengan infark serebri akut ataupun pendarahan intrakranial.6 Gambar 2. 4. pengurangan tekanan darah dilakukan lebih lambat (6 – 12 jam) dan harus dijaga agar tekanan darah tidak lebih rendah dari 170–180/100 mmHg. Autoregulasi aliran darah otak pada individu normotensi dan hipertensi 7 Pada orang yang normotensi maupun hipertensi batas terendah dari autoregulasi otak adalah kira-kira 25% di bawah resting MAP. Penderita hipertensi ensefalopati. tujuan pengobatan ialah memperkecil kerusakan organ target akibat tingginya tekanan darah dan menghindari pengaruh buruk akibat pengobatan. Oleh karena itu dalam pengobatan krisis hipertensi. tergantung dari apakah emergensi atau urgensi. misalnya penurunan tekanan darah pada penderita aorta diseksi akut ataupun edema paru akibat gagal jantung kiri dilakukan dalam tempo 15–30 menit dan bisa lebih rendah lagi dibandingkan hipertensi emergensi lainnya.

 Penurunan tekanan darah yang terlalu cepat dapat menyebabkan iskemia renal. Pada hipertensi emergensi. Kemudian tekanan darah diturunkan menjadi 160/100 mmHg dalam 2 sampai 6 jam. efek penurunan tekanan darah dapat dikontrol dan dengan sedikit efek samping.6. Bila diagnosis krisis hipertensi telah ditegakkan. pemberian obat antihipertensi melalui intravena (IV). penurunan tekanan darah hanya boleh 20% dan khusus pada stroke iskemik penurunan tekanan darah secara bertahap bila tekanan darah > 220/130 mmHg. Rawat di ICU. dengan menentukan :  Penyebab krisis hipertensi  Penyakit lain yang menyerupai krisis hipertensi disingkirkan  Adanya kerusakan organ target 3. masalah klinis yang menyertai serta usia pasien. Berikut ini merupakan obat antihipertensi parenteral yang digunakan. cepatnya kenaikan dan keparahan hipertensi.7: 1. antara lain : Tabel 3. langkah-langkah yang harus dilakukan ialah 5.  Pada stroke.  Menurunkan tekanan arteri rata-rata (MAP) sebanyak 25% atau mencapai tekanan darah diastolik 100 – 110 mmHg dalam waktu beberapa menit sampai satu atau dua jam. Anamnesis singkat dan pemeriksaan fisik. serebral dan miokardium. pasang femoral intraarterial line dan pulminari arterial kateter untuk menentukan fungsi kardiopulmoner dan status volume intravaskuler. 2. Tentukan tekanan darah yang diinginkan didasari dari lama tingginya tekanan darah sebelumnya. Obat Antihipertensi Intravena pada Hipertensi Emergensi 4 12 . Bila ada indikasi.adalah yang bekerja cepat. Tekanan darah diukur setiap 15 sampai 30 menit.

dan diukur kembali dalam 30 menit. hanya saja dalam waktu 24 sampai 48 jam. Sebaiknya penderita ditempatkan di ruangan yang tenang. tidak terang. tujuan pengobatan ialah penurunan tekanan darah sama seperti hipertensi emergensi. obat antihipertensi yang diberikan ialah : Tabel 4. maka dapat 13 . Bila tekanan darah masih sangat meningkat. Penderita dengan hipertensi urgensi tidak memerlukan rawat inap di rumah sakit. Pilhan Obat Antihipertensi Sesuai Kerusakan Organ Target 4 HIPERTENSI URGENSI Pada hipertensi urgensi.Berdasarkan kerusakan organ target.

 Prazosin  Pemberian secara oral dengan dosis 1-2 mg dan diulang per jam bila perlu. Efek samping: sinkop. Efek samping: sakit kepala.8:  Nifedipine  Pemberian bisa secara sublingual (onset 5-10 menit).8 Selain itu. Efek samping: sedasi. hipotensi. oral (onset 15-20 menit). Dengan pengaturan titrasi dosis nifedipine ataupun clonidin biasanya tekanan darah dapat diturunkan 14 .7 mg. bukal (onset 5–10 menit).1-0. sakit kepala.2 mg. antara lain 6. durasi kerja 5 – 15 menit secara sublingual/ buccal.dimulai pengobatan.  Clonidine  Pemberian secara oral dengan onset 30–60 menit. bradikardi. Demikian juga captopril. gagal ginjal akut pada penderita bilateral renal arteri stenosis. prazosin terutama digunakan pada penderita hipertensi urgensi akibat dari peningkatan katekolamin.1 mg setiap jam sampai dengan 0. walaupun hal ini jarang sekali terjadi. 6. Berikut ini ialah obat antihipertensi oral yang diberikan. Efek samping: angioneurotik edema. Dosis 25 mg dan dapat diulang setiap 30 menit sesuai kebutuhan. takikardi. flushing.7. Umumnya digunakan obat-obat oral antihipertensi dalam menanggulangi hipertensi urgensi. Over dosis dapat diobati dengan tolazoline.05-0. rash. takikardi. Dengan pemberian nifedipine ataupun clonidine oral dicapai penurunan MAP sebanyak 20% ataupun tekanan darah <120 mmHg. mulut kering. reaksi hipotensi akibat pemberian oral nifedipine dapat menyebabkan timbulnya infark miokard dan stroke. durasi kerja 8-12 jam. dilanjutkan 0.  Captopril  Pemberian secara oral/sublingual. Perlu diingat bahwa pemberian obat anti hipertensi oral/sublingual dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang cepat dan berlebihan bahkan sampai ke batas hipotensi. oyong. hipotensi ortostatik. palpitasi. Dosis: 0. Hindari pemakaian pada AV blok derajat 2 dan 3.7. sick sinus syndrome.

pecahnya Arteriovenous Malformation (AVM)  Tekanan darah sistolik > 220 mmHg dan diastolik > 120 mmHg. lakunar. b.  Obat anti hipertensi parenteral diberikan sesuai prosedur dengan batas penurunan maksimal tekanan darah 20-25% dari MAP. dimana pengukuran dilakukan dua kali dalam jangka waktu 30 menit. Infark  Infark : aterotrombotik. Perdarahan  Perdarahan : perdarahan intraserebral.bertahap dan mencapai batas aman dari MAP.  Target tekanan darah adalah sistolik 160 mmHg dan diastolik 90 mmHg. Untuk penderita hipertensi dengan riwayat penyakit serebrovaskular dan koroner. 15 .1.1 STROKE a.9 2. kardioembolik.8 KRISIS HIPERTENSI PADA KEADAAN KHUSUS 2.8. Penderita yang telah mendapat pengobatan antihipertensi cenderung lebih sensitif terhadap penambahan terapi.8.  Jika tekanan darah sistolik 180-220 mmHg dan tekanan diastolik 105- 120 mmHg dilakukan penatalaksanaan seperti terapi pada hipertensi urgensi.  Obat anti hipertensi parenteral diberikan sesuai prosedur dengan batas penurunan maksimal tekanan darah 20-25% dari MAP. dimana pengukuran dilakukan dua kali dalam jangka waktu 30 menit. Seluruh penderita diobservasi paling sedikit selama 6 jam setelah tekanan darah turun untuk mengetahui efek terapi dan juga kemungkinan timbulnya hipotensi ortostatil. 6.  Tekanan darah sistolik > 220 mmHg dan diastolik > 120 mmHg.1 KRISIS HIPERTENSI PADA GANGGUAN OTAK 2.7. pasien umur tua serta pasien dengan volume depletion maka dosis obat nifedipine dan clonidine harus dikurangi. perdarahan subarachnoid. Bila tekanan darah penderita yang diobati tidak berkurang maka sebaiknya penderita dirawat dirumah sakit.

Catatan : .1.Candexartan cilexetil per oral pada stroke akut memberikan perbaikan kualitas hidup dalam 1 tahun pertama dengan tidak menurunkan tekanan darah yang berlebihan. . peningkatan tekanan intrakranial sampai kejang. retinopati dengan papiledema.8.1.8. 2. dimana pengukuran dilakukan dua kali dalam jangka waktu 30 menit.  Terdapat gangguan kesadaran. dimana pengukuran dilakukan dua kali dalam jangka waktu 30 menit.  Obat anti hipertensi parenteral diberikan sesuai prosedur penatalaksanaan krisis hipertensi dengan batas penurunan tekanan darah 20-25% dari MAP.Nifedipin dapat mengakibatkan stroke non-hemoragic dan infark miokard bila tekanan darah terlalu cepat diturunkan. 16 .3 CEDERA KEPALA DAN TUMOR INTRAKRANIAL  Pada kasus cedera kepala. 2.  Obat anti hipertensi parenteral diberikan sesuai prosedur penatalaksanaan krisis hipertensi dengan batas penurunan tekanan darah 20-25% dari MAP. seperti : sakit kepala hebat. tumor intrakranial terdapat gejala tekanan intrakranial yang meningkat.The American Stroke Association merekomendasikan penurunan tekanan darah sebesar 10-15% bila tekanan darah sistolik > 220 mmHg atau diastolik > 120 mmHg.  Khusus untuk tumor intrakranial hipofisis perlu dilakukan pemeriksaan hormonal dan penatalaksanaan sesuai dengan krisis hipertensi dengan gangguan endokrin. papiledema. . muntah proyektil/tanpa penyebab gastrointestinal.2 ENSEFALOPATI HIPERTENSI  Tekanan darah sistolik > 220 mmHg dan diastolik > 120 mmHg. kesadaran menurun/berubah  Tekanan darah sistolik > 220 mmHg dan diastolik > 120 mmHg.

lokasi nyeri sesuai lokasi dimana robekan aorta terjadi.8. menurunkan tekanan darah sistolik segera dalam 10-20 menit dengan target tekanan darah sistolik 110-120 mmHg dan frekuensi nadi 60 x/menit. Diagnosis Kecurigaan diagnosis diseksi aorta berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik cukup untuk menatalaksana sebagai diseksi aorta. nyeri teriris sudah maksimal dirasakan saat awal. seperti tamponade jantung.2.  Rasa nyeri di leher disertai pandangan kabur. hipoperfusi serebri. 10 Manifestasi klinis Keluhan dapat bervariasi :  Nyeri khas aorta : onset mendadak.  Rasa nyeri dada seperti nyeri dada khas infark miokard. 10 Prinsip tatalaksana dan sasaran tekanan darah  Atasi rasa nyeri dengan morfin intravena. MRI.8.1 DISEKSI AORTA AKUT Definisi Suatu kondisi akibat robekan pada dinding aorta sehingga lapisan dinding aorta terpisah dan darah dapat masuk ke sela-sela lapisan dinding pembuluh darah aorta. Kemudia. CT-Scan kontras. 17 . bila proses diseksi menjalar ke ostium arteria koronaria.2 KRISIS HIPERTENSI PADA PENYAKIT JANTUNG 2.  Sinkope merupakan petanda komplikasi yang fatal. Diagnosis pasti dengan pencitraan dengan : ekokardiografi transesofageal (TEE).2. bila proses diseksi ekstensi ke arteri karotis.

2.  Terapi medikamentosa dapat dilakukan pada diseksi aorta desenden tanpa komplikasi ke organ lain.2 EDEMA PARU Definisi Suatu keadaan timbulnya tanda dan gejala jantung yang disertai dengan peningkatan tekanan darah dan gambaran rontgen thoraks sesuai dengan edema paru. 2. dyspneu on effort Pemeriksaan fisik  Tekanan darah sesuai definisi krisis hipertensi  Frekuensi pernapasan meningkat  Pada pemeriksaan jantung ditemukan S3 dan/atau S4 gallop  Pada pemeriksaan paru ditemukan suara napas ekspirasi memanjang disertai ronki basah halus di seluruh lapangan paru  Peningkatan tekanan vena jugularis Diagnosis  Peningkatan tekanan darah sesuai krisis hipertensi  Gejala dan tanda gagal jantung  Edema paru pada foto thorak 18 . orthopnoe. 10 Manifestasi klinis Keluhan/gejala : sesak napas.8.  Setelah pasien stabil.  B-blocker merupakan obat pilihan utama untuk mengurangi shear stress dan mengontrol tekanan darah. idealnya 24-48 jam. yakni hipoperfusi ginjal. ekstremitas dan mesenterika. obat intravena diganti dengan oral.

Pemberiaan diuretik loop intravena (furosemid) 4. O2 dengan target saturasi O2 perifer > 95%. Sasaran akhir tekanan darah sistolik < 130 mmHg dan tekanan darah diastolik < 80 mmHg sebaiknya dicapai dalam 3 jam.2. bila perlu dapat digunakan CPAP atau ventilasi mekanik non-invasif bahkan ventilasi mekanik invasif 2. Pemberiaan obat anti-hipertensi intravena atau sublingual 5. Bila tidak ada kontra indikasi morfin IV dapat dipertimbangkan Target penurunan tekanan darah sistolik atau diastolik sebesar 30 mmHg dalam beberapa menit. 10 Pemeriksaan fisik : dapat normal atau tanda-tanda gagal jantung. 10 2. Diagnosis 1. Prinsip tatalaksana dan sasaran tekanan darah Terapi diberikan dengan urutan sebagai berikut : 1. Pemberian nitroglycerin sublingual.8.3 SINDROMA KORONER AKUT Definisi Sindroma koroner akut terdiri dari angina pektoris tidak stabil. 10 Manifestasi klinis Keluhan : nyeri dada dengan penjalaran ke leher atau lengan kiri dengan durasi lebih dari 20 menit dan dapat disertai dengan gejala sistemik berupa keringat dingin. mual dan muntah dan pemeriksaan fisik tidak ditemukan tanda-tanda gagal jantung. infark miokard non-ST elevasi dan infark miokard dengan ST elevasi. bila perlu dilanjutkan dengan pemberiaan drip 3. Anamnesis 19 .

2. Gagal ginjal akut dapat ditandai dengan proteinuria. 10 2. MAO (Monoamin Oksidase) Inhibitor. Penurunan tekanan darah harus dilakukan secara bertahap. Penurunan tekanan darah perlu pemantauan ketat agar tekanan darah diastolik tidak lebih rendah dari 60 mmHg karena dapat mengakibatkan iskemia miokard bertambah berat. Sasaran tekanan darah sistolik adalah < 130 mmHg dan tekanan darah diastolik < 80 mmHg.4 KRISIS HIPERTENSI PADA GANGGUAN ENDOKRIN Pasien dengan peningkatan katekolamin. seperti pada feokromositoma. Feokromositoma dapat menyebabkan terjadinya krisis hipertensi karena kelebihan produksi 20 . Enzim petanda kerusakan otot jantung (CKMB. Bila tidak terkontrol dapat diberikan golongan golongan kalsium antagonis parenteral. atau clonidine withdrwal syndrome dapat menyebabkan krisis hipertensi.8. oligouria dan/atau anuria. mikroskopik hematuria. namun dapat menyebabkan keracunan cyanida atau thiocyanida. Fenoldopam mesylate (a dopamine-1 receptor agonis) telah menunjukkan hasil yang menjanjikan dan keamanan yang dapat dijamin. overdosis kokain atau amfetamin. nicardipin dan diltiazem bila tidak ada kontraindikasi.8. Pemberian fenoldopam menghindari terjadinya potensi keracunan cyanida atau thiocyanida akibat nitroprusside untuk gagal ginjal akut dan memiliki efek meningkatkan fungsi ginjal yang dapat diukur melalui kreatinin klirens. Penatalaksanan terbaik untuk gagal ginjal akut akibat krisis hipertensi masih kontroversial. Troponin T) Prinsip tatalaksan dan sasaran tekanan darah Penyekat beta dan nitrogliserin merupakan anjuran utama. EKG 3.3 KRISIS HIPERTENSI PADA PENYAKIT GINJAL Gagal ginjal akut dapat disebabkan oleh krisis hipertensi. Walaupun nitroprusside sering digunakan. Feokromositoma ialah keganasan pada kelenjar adrenomedular. 10 2.

Pada feokromositoma.8. Bila terjadi kejang penderita masuk stadium eklampsia. Krisis hipertensi hanya dapat diakhiri dengan proses persalinan dan penanggulangan dilakukan sesuai penanggulangan krisis hipertensi dengan perhatian khusus pada kehamilan. nyeri abdomen kuadran atas. Selain itu. Obat ini menurunkan denyut nadi dan tekanan darah melalui efek anxiolitik dan oleh karena itu direkomendasikan untuk pasien keracunan kokain. stimulasi beta-reseptor ginjal oleh kadar katekolamin yang tinggi menyebabkan dilepaskannya renin yang pada akhirnya meningkatkan tekanan arteri. Katekolamin urine dan/atau metabolitnya dalam urine 24 jam (seperti metanefrin dan vanil mandelic acid).epinefrin dan nor-epinefrin yang dilepaskan ke dalam peredaran darah. Benzodiapine dapat menjadi salah satu obat anti hipertensi yang utama untuk intoksikasi kokain. Diagnosis feokromositoma ditegakkan dengan pemeriksaan katekolamin plasma.5 KRISIS HIPERTENSI PADA KEHAMILAN Pada kehamilan keadaan yang menyertai krisis hipertensi adalah preeklampsia. Feokromositoma jarang ditemukan namun merupakan penyebab yang penting pada krisis hipertensi. 10 2. gagal jantung kongestif dan oliguri sampai gangguan serebrovaskuler. kontrol awal tekanan darah dapat diberikan sodium nitroprusside atau phentolamine IV. Beta blockers dapat ditambahkan untuk meningkatkan kontrol tekanan darah tetapi jangan diberikan sendiri sampai alfa-blokade dapat dibuktikan merupakan hipertensi paradoksial.10 21 . Keputusan untuk melakukan terminasi kehamilan/proses persalinan dilakukan oleh ahli medis dibidang kebidanan. dimana dapat ditemukan gangguan penglihatan. sakit kepala hebat.

6. Penanganan pertama yang dilakukan pada hipertensi emergensi ialah memberikan obat antihipertensi kerja cepat secara intravena. Diperkirakan sekitar 1 % dari pasien hipertensi akan mengalami krisis hipertensi 3. Krisis hipertensi adalah suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang mendadak sistolik ≥ 180 mmHg dan/atau tekanan darah diastolik ≥ 120 mmHg. Faktor resiko terbanyak yang sering menyebabkan krisis hipertensi ialah penderita hipertensi yang tidak meminum obat atau minum obat anti hipertensi tidak teratur. Selain itu. yang membutuhkan penanggulangan segera. 5. pemeriksaan fisik. Upaya penurunan tekanan darah pada kasus hipertensi emergensi harus dilakukan segera (<1 jam) sedangkan kasus hipertensi urgensi dapat dilakukan dalam kurun waktu beberapa jam hingga hari. 2. BAB III KESIMPULAN 1. 4. 22 . namun demikian ada dua peran penting yang menjelaskan patofisiologi tersebut. pada penderita hipertensi. Patofisiologi terjadinya krisis hipertensi masih belum begitu jelas. 7. pasien dengan hipertensi emergensi sebaiknya dirawat di ICU (Intensive Care Unit) demi pemantauan secara ketat atas pemberian obat antihipertensi intravena. Krisis hipertensi pada keadaan khusus memiliki prinsip-prinsip penatalaksanaan tersendiri dalam menangani kegawatdaruratannya. Tujuan utama pada penangangan krisis hipertensi adalah menurunkan tekanan darah. dan penunjang. Semakin meningkatnya kasus hipertensi yang terjadi di dunia dapat menyebabkan semakin seringnya terjadi komplikasi lebih lanjut yang dapat mengancam jiwa.yaitu : peran langsung dari peningkatan tekanan darah dan peran mediator endokrin dan parakrin. sedangkan pada hipertensi urgensi cukup dengan pemberian obat antihipertensi secara oral. Penegakkan diagnosis krisis hipertensi berdasarkan anamnesis.