You are on page 1of 21

LAPORAN PENDAHULUAN DENGAN BURST FRAKTUR

(PATAH TULANG BELAKANG)

OLEH:
NI KETUT WULANDARI
P07120016100

KELAS: 2.3
DIII KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLTEKNIK KESEHATAN DENPASAR
2018

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR TULANG BELAKANG

A. Anatomi Fisiologi

Vertebra merupakan tulang tak beraturan yang membentuk punggung dan mudah
digerakan. Fungsinya yaitu menahan kepala dan anggota tubuh yang lain, melindungi
organ-organ vital, sebagai tempat melekatnya tulang iga dan tulang panggul,
serta menentukan sikap tubuh.
Kolumna vertebralis dibentuk oleh 33 vertebrae (cervical 7, thorakal 12, lumbal 5, sacral
5 dan coccygeus 4).
Setiap vertebra terdiri dari:
1. Corpus/body
2. Pedikel
3. Prosessus artikularis superior dan inferior
4. Prosessus transversus
5. Prosessus spinosus
Diantara vertebra ditemui diskus intervertebralis (Jaringan fibrokartillagenous), yang
berfungsi sebagai shock absorber. Dikus ini terdiri dan bagian:
a. Luar: jaringan fibrokartillago yang disebut anulus fibrosus.
b. Dalam: cair yang disebut nukleus pulposus.
Pada setiap vertebra ada 4 jaringan ikat sekitarnya:
Lig longitudinale anterior (membatasi gerakan ektensi).
Lig longitudinale posterior (membatasi gerakan fleksi).
Lig kapsulare, antara proc sup dan inferior.
Lig intertransversale.
Lig flava (yellow hg) diantara 2 laminae.
Lig supra dan interspinosus.
Di dalam susunan tulang tersebut terangkai pula rangkaian syaraf-syaraf, yang bila
terjadi cedera di tulang belakang maka akan mempengaruhi syaraf-syaraf tersebut
(Mansjoer, Arif, et al. 2000).

gerakan putir. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung. mendadak bahkan kontraksi otot ekstrem. Faktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. perdarahan ke otot dan sendi. dan perilaku kekerasan. rupture tendo. (Marilyn. dislokasi sendi. 1999). 1997). mengakibatkan edema jaringan lunak. Gejala – gejala fraktur tergantung pada sisi. Definisi Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai dengan jenis dan luasnya. jatuh dari ketinggian. E. Doengoes. vertebralis dan lumbalis akibat trauma . 2001). biasanya terjadi pada orang dewasa laki-laki yang disebabkan oleh kecelakaan. Meskipun tulang patah. jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh. Cidera tulang belakang adalah cidera mengenai cervicalis. jatuh. gaya meremuk. . Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. kecelakakan olah raga dsb yang dapat menyebabkan fraktur atau pergeseran satu atau lebih tulang vertebra sehingga mengakibatkan defisit neurologi ( Sjamsuhidayat. (Brunner and Suddarth. beratnya dan jumlah kerusakan pada struktur lain. kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah.B. kecelakakan lalu lintas.

Etiologi 1. Pada kerusakan medulla spinalis yang menetap. 2000). Polio. atau pada waktu terjun dari jarak tinggi. tajam. menyelam yang dapat mengakibatkan paraplegia. pemain sepak bola. dll) 4. Whiplash adalah gerakan dorsapleksi dan anterofleksi berlebihan dari tulang belakang secara cepat dan mendadak. Laserasi medulla spinalis merupakan lesi berat akibat trauma tulang belakang secara langsung karena tertutup atau peluru yang dapat mematahkan /menggeserkan ruas tulang belakang (fraktur dan dislokasi). D. cedera olahraga. kuadran transversa).Akibat trauma terhadap tulang belakang. Lesi transversa medulla spinalis tergantung pada segmen yang terkena (segmen transversa. medula spinalis dapat tidak berfungsi untuk sementara (komosio medulla spinalis). Gejala yang ditimbulkan adalah berupa oedema. Kerusakan yang dialami medulla spinalis dapat bersifat sementara atau menetap. contusio. perdarahan peri vaskuler dan infark disekitar pembuluh darah. jatuh dari ketinggian.12sampai L.2). rotasi. tekanan vertical (terutama pada T. Efek trauma yang tidak langsung bersangkutan tetapi dapat menimbulkan lesi pada medulla spinalis disebut “whiplash”/trauma indirek. Patofisologi Tulang belakang yang mengalami gangguan trauma (kecelakaan mobil. laserasio dan pembengkakan daerah tertentu di medulla spinalis. tembak pada daerah vertebra 5. Trauma tidak langsung dari tulang belakang berupa hiperekstensi. Spina Bifida. Friedreich dari ataxia. hiperfleksi. secara makroskopis kelainannya dapat terlihat dan terjadi lesi. Kompresi atau tekanan pada tulang belakang akibat jatuh dari ketinggian 3. pada waktu duduk dikendaraan yang sedang berjalan cepat kemudian berhenti secara mendadak. Hematomielia . tetapi lesi traumatic pada medulla spinalis tidak selalu terjadi karena fraktur dan dislokasi. (Harsono. dll) dapat menyebabkan kerusakan pada medulla spinalis. Kecelakaan lalu lintas 2. Kecelakaan sebab olah raga (penunggang kuda.C. tetapi dapat sembuh kembali dalam beberapa hari. Trauma whiplash terjadi pada tulang belakang bagian servikalis bawah maupun torakalis bawah misal. dll) atau penyakit (Transverse Myelitis. Gangguan spinal bawaan atau cacat sejak kecil atau kondisi patologis yang menimbulkan penyakit tulang atau melemahnya tulang. Luka jejas. hemitransversa. penyelam.

gambaran tersbut disebut hematorasis atau neuralgia radikularis traumatik yang reversible. jatuh terduduk. Suatu segmen medulla spinalis dapat tertekan oleh hematoma ekstra meduler traumatic dan dapat juga tertekan oleh kepingan tulang yang patah yang terselip diantara duramater dan kolumna vertebralis. fraktur dan whislap radiks saraf spinalis dapat tertarik dan mengalami jejas/reksis. kista dan abses didalam kanalis vertebralis. maka gejala defisit sensorik dan motorik yang terlihat adalah radikuler dengan terputusnya arteri radikuler terutama radiks T. terdampar eksplosi atau fraktur dislokasio. medulla spinalis dapat terjepit oleh penyempitan kanalis vertebralis. radiks colmna 5-7 dapat mengalami hal demikian.kompresi medulla spinalis terjadi karena dislokasi. . dan gejala yang terjadi adalah nyeri radikuler spontan yang bersifat hiperpatia.gejala yang didapat sama dengan sindroma kompresi medulla spinalis akibat tumor.pada trauma whislap. trauma ini bersifat “whiplash “ yaitu jatuh dari jarak tinggi dengan sifat badan berdiri. Akibat hiperekstensi dislokasio.9 yang akan menimbulkan defisit sensorik motorik pada dermatoma dan miotoma yang bersangkutan dan sindroma sistema aaanastomosis anterial anterior spinal. Jika radiks terputus akibat trauma tulang belakang.adalah perdarahan dlam medulla spinalis yang berbentuk lonjong dan bertempat disubstansia grisea.8 atau T.

gambaran berupa hilangnya fungsi motorik maupun sensorik kaudal dari tempat kerusakan disertai shock spinal.E. refleksi. anastesia. gangguan fungsi rectum dan kandung kemih.kerusakan. Peristiwa ini umumnya berlangsung selama 1-6 minggu.Sshock spinal terjadi pada kerusakan mendadak sumsum tulang belakang karena hilangnya rangsang yang berasal dari pusat. Manifestasi Klinis Gambaran klinik tergantung pada lokasi dan besarnya kerusakan yang terjadi. Tandanya adalah kelumpuhan flasid. bradikardia dan hipotensi. Setelah shock spinal pulih kembali. . PATWAY F. kadang lebih lama. triafismus. hilangnya fersfirasi.

Fase Penyembuhan Tulang 1. 3. G. 2. Perlu waktu 3-4 minggu agar frakmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus . gangguan fungsi defekasi. miksi. 1998). hematom akan mengalami organisasi.N.keadaan ini pada umumnnya terjadi akibat cedera didaerah servikal dan disebabkan oleh hiperekstensi mendadak sehinnga sumsum belakang terdesak dari dorsal oleh ligamentum flavum yang terlipat. Tahap proliferasi. Dalam waktu sekitar 5 hari . terbentuklah hematom yang berkembang menjadi jaringan granulasi sampai hari kelima. impotensi serta hilangnya refleks anal dan refleks bulbokafernosa (Aston. membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast yang akan menhasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. J. Sindrom sumsum belakang bagian depan menunjukkan kelumpuhan otot lurik dibawah tempat kerusakan disertai hilangnya rasa nyeri dan suhu pada kedua sisinya. tulang rawan dan tulang serat imatur. Cedera sumsum belakang sentral jarang ditemukan. Gambaran klinik berupa tetraparese parsial. Tahap pembentukan kalus Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah terhubungkan.cedera tersebut dapat terjadi pada orang yang memikul barang berat diatas kepala. 1998). Gangguan pada ekstremitas atas lebih ringan daripada ekstremitas atas sedangkan daerah perianal tidak terganggu (Aston. Suplai darah meningkat. sedangkan rasa raba dan posisi tidak terganggu (Price &Wilson (1995). Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan. Kerusakan tulang belakang setinggi vertebra lumbal 1&2 mengakibatkan anaestesia perianal. akan terdapat hiperrefleksi terlihat pula pada tanda gangguan fungsi otonom. kemudian terjadi gangguan keseimbangan yang mendadak sehingga beban jatuh dsan tulang belakang sekonyong-konyong dihiper ekstensi. Terbentuk benang- benang fibrin dalam jendalan darah.N. Tahap pembentukan hematom Dalam 24 jam pertama mulai terbentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk kearea fraktur. J. berupa kulit kering karena tidak berkeringat dan hipotensi ortostatik serta gangguan fungsi kandung kemih dan gangguan defekasi (Price &Wilson (1995). Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus.

Susan Martin .anak) e. Pemeriksaan Penunjang 1. Sinar x spinal : menentukan lokasi dan jenis cedera tulang (fraktur atau dislok) 2. Sebaiknya tanpa anestesi karena masih ada kontrol dan otot leher. ADI (atlanto dental interval) melebar 3. Dislokasi feset >50% b. Harus diingat bahwa reposisi pada cervical adalah mengembalikan keposisi anatomis secepat mungkin untuk mencegah kerusakan spinal cord. CT scan : untuk menentukan tempat luka/jejas 3. Osifikasi Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalaui proses penulangan endokondrial. Pelebaran body mas CI terhadap corpus cervical II (axis) > 7 mm pada foto AP Pada dasarnya bila terdapat dislokasi sebaiknya dikerjakan emergensi closed reduction dengan atau tanpa anestesi. 5. Penatalaksanaan Medis 1. Dengan aktifitas osteoblas dan osteoclas.5-5 mm (dewasa. d. Vertebral body angle > 11 derajat path fleksi. . Proses ini memerlukan waktu 3-4 bulan. AGD : menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi (Tucker. Selanjutnya sesudah 3-6 minggu post trauma dibuat foto untuk melihat adanya chronik instability. Konsolidasi (6-8 bulan) dan Remodeling (6-12 bulan) Tahap akhir dari perbaikan patah tulang. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar bersatu. 1998) I. c. Foto rongent thorak : mengetahui keadaan paru 5. Kriteria radiologis untuk melihat adanya instability adalah: a. Loss of paralelisine dan feset. H. 4. kalus mengalami pembentukan tulang sesuai aslinya. Penanganan Cedera Akut Tanpa Gangguan Neorologis Penderita dengan diagnose cervical sprain derajat I dan II yang sering karena “wishplash Injury” yang dengan foto AP tidak tampak kelainan sebaiknya dilakukan pemasangan culiur brace untuk 6 minggu. MRI : untuk mengidentifikasi kerusakan syaraf spinal 4.

Pembedahan dikerjakan jika keadaan umum penderita sudah baik lebih kurang 24-48 jam. Berakibat kehilangan fungsi ekstermitas permanen jika tidak ditangani segera. paku pada fraktur. 3. globula lemak masuk ke dalam darah karena tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler. 1. 2. infeksi. Penanganan Cedera dengan Gangguan Neorologis Patah tulang belakang dengan gangguan neorologis komplit. Delayed union adalah penyembuhan fraktur yang terus berlangsung dalam waktu lama dari proses penyembuhan fraktur. ginjal. Syok hipovolemik akibat perdarahan dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak sehingga terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar akibat trauma. Infeksi terjadi karena adanya kontaminasi kuman pada fraktur terbuka atau pada saat pembedahan dan mungkin pula disebabkan oleh pemasangan alat seperti plate. Tromboemboli. 5. Tindakan pembedahan setelah 6-8 jam akan memperjelek defisit neorologis karena dalam 24 jam pertama pengaruh hemodinamik pada spinal masih sangat tidak stabil. paru. Mal union. 2000). Sindrom Kompartemen Masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Non union adalah jika tulang tidak menyambung dalam waktu 20 minggu. dan organ lain. Hal ini diakibatkan oleh reduksi yang kurang memadai. 4. 2. yang memasok ke otak. gerakan ujung patahan akibat imobilisasi yang jelek menyebabkan mal union. et al. Arif. . sebab-sebab lainnya adalah infeksi dari jaringan lunak yang terjepit diantara fragmen tulang. J. Globula lemak akan bergabung dengan trombosit dan membentuk emboli yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil. Prognosa pasca bedah tergantung komplit atau tidaknya transeksi medula spinalis. 6. Emboli lemak Saat fraktur. tindakan pembedahan terutama ditujukan untuk memudahkan perawatan dengan tujuan supaya dapat segera diimobilisasikan. akhirnya ujung patahan dapat saling beradaptasi dan membentuk sendi palsu dengan sedikit gerakan (non union). kaogulopati intravaskuler diseminata (KID). Komplikasi (Mansjoer. 7.

3. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan lamanya serangan. 1995). dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang lain (Ignatavicius. relief: apakah rasa sakit bisa reda. umur. 2. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan: Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi faktor presipitasi nyeri. pendidikan. bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya. dan dimana rasa sakit terjadi. atau menusuk. pekerjaan. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Identitas Klien Meliputi nama. Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung. Donna D. alamat. 4. berdenyut. Time: berapa lama nyeri berlangsung. Anamnesa 1. Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur. yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar. asuransi. tanggal MRS. register. Keluhan Utama Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. diagnosa medis. golongan darah. status perkawinan. Region : radiation. Penyakit-penyakit tertentu seperti . ASUHAN KEPERAWATAN PADA FRAKTUR TULANG BELAKANG A. bahasa yang dipakai. Selain itu. jenis kelamin. kapan. apakah rasa sakit menjalar atau menyebar. agama. Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien. no. apakah bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.

seperti diabetes. tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi. Selain itu. Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium. Donna D. penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang 5. 8. warna serta bau feces pada pola eliminasi. 9. zat besi. pengkonsumsian alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak. Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur. Selain itu. 1995). protein. dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius. vit. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Donna D. 7.1995). osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan. . pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolisme kalsium. 6. konsistensi. kanker tulang dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk menyambung. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.(Ignatavicius. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama pada lansia. Riwayat Psikososial Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius. Pola Eliminasi Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola eliminasi. 1995). Donna D.

dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. Donna D. rasa cemas. Selain itu juga. dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image) (Ignatavicius. 2002). 11. 14. 15. begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. 1995). Donna D. Pola Persepsi dan Konsep Diri Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya. keterbatasan gerak. Donna D. klien tidak bisa melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien. lama perkawinannya (Ignatavicius. sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. 1995). 1995). Marilynn E. sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Pola Hubungan dan Peran Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius. Pemeriksaan Fisik Dibagi menjadi dua. Pola Tidur dan Istirahat Semua klien fraktur timbul rasa nyeri. B. rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal. pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur. Selain itu juga. perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak. yaitu pemeriksaan umum (status generalisata) untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis). timbul rasa nyeri akibat fraktur (Ignatavicius. Pola Sensori dan Kognitif Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur. Pola Aktivitas Karena timbulnya nyeri. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. kebiasaan tidur. Selain itu juga. 10. 12. Hal ini perlu untuk dapat . 1995). keterbatasan gerak. suasana lingkungan. Pola Reproduksi Seksual Dampak pada klien fraktur yaitu. 1995). Donna D. 13. Donna D. Karena klien harus menjalani rawat inap (Ignatavicius.

c. Muka Wajah terlihat menahan sakit. e. . 2. simetris. Hidung Tidak ada deformitas. simetris. reflek menelan ada. seperti: a.melaksanakan total care karena ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam. d. c. Telinga Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Gambaran Umum Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda. tidak ada penonjolan. berat dan pada kasus fraktur biasanya akut. bengkak. oedema. Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun bentuk. suhu sekitar daerah trauma meningkat. Kesakitan. ringan. sopor. Tidak ada lesi atau nyeri tekan. Mata Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi perdarahan) f. Thoraks Tak ada pergerakan otot intercostae. Kesadaran penderita: apatis. gerakan dada simetris. nyeri tekan. keadaan penyakit: akut. kronik. 1. Kepala Tidak ada gangguan yaitu. g. komposmentis tergantung pada keadaan klien. i. b. gelisah. Sistem Integumen Terdapat erytema. Leher Tidak ada gangguan yaitu simetris. Tak ada lesi. tidak ada penonjolan. mukosa mulut tidak pucat. normo cephalik. Secara sistemik dari kepala sampai kelamin a. b. sedang. koma. h. Mulut dan Faring Tak ada pembesaran tonsil. gusi tidak terjadi perdarahan. tak oedema. tak ada pernafasan cuping hidung. lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. tidak ada nyeri kepala.

Paru Inspeksi Pernafasan meningkat. simetris. Perkusi Suara ketok sonor. reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru. tak ada kesulitan BAB. tak ada pembesaran lymphe. Palpasi Nadi meningkat. Auskultasi Suara nafas normal. l. ada pantulan gelombang cairan. tak ada mur-mur. Perkusi Suara thympani. atau suara tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi. Genetalia Tak ada hernia. tidak ada defands muskuler. . Abdomen Inspeksi Bentuk datar. Auskultasi Suara S1 dan S2 tunggal. j. tak ada erdup atau suara tambahan lainnya. Jantung Inspeksi Tidak tampak iktus jantung. tak ada wheezing. Palpasi Pergerakan sama atau simetris. tidak ada hernia. m. iktus tidak teraba. Palpasi Tugor baik. hepar tidak teraba. fermitus raba sama. Auskultasi Peristaltik usus normal ± 20 kali/menit. k.

ditandai meningkatkan dan dengan indikator membantu berjalan untuk berikut (ketergantungan(tidak mempertahankan atau berpartisipasi).d Menunjukkan Terapi aktivitas. dan meningkatkan penyembuhan Aktivitas Keperawatan: 1. memberikan kenyamanan. Berikan penguatan positif selama aktivitas Rasional : Dengan penguatan positif pasien akan lebih mempunyai . PERENCANAAN DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC) Hambatan mobilitas fisik b. mendukung integritas kulit. volunter dan autonom membutuhkan bantuan orang selama perawatan serta lain.C. Ajarkan dan bantu pasien dalam proses perpindahan Rasional : Dengan mengajarkan hal itu pasien akan meningkat kesembuhannya 2. membutuhkan memperbaiki fungsi tubuh bantuan orang lain dan alat. ambulasi : ganggun musculoskeletal tingkat mobilitas. atau cedera mandiri penuh) Perubahan posisi : Tujuan/Kriteria Hasil: memindahkan pasien atau Pasien akan meminta bantuan bagian tubuh untuk untuk aktivitas mobilisasi. mandiri dengan pemulihan dari sakit atau pertolongan alat bantu. jika diperlukan menurunkan risiko kerusakan kulit.

dorongan untuk beraktivitas 3. Ajarkan pasien bagaimana menggunakan postur dan mekanika tubuh yang benar saat melakukan aktivitas Rasional : Dengan mengajarkan hal itu dapat menambah pengetahuan pasien tentang perpindahan yang benar 4. Awasi seluruh kegiatan mobilisasi dan bantu pasien. Dukung latihan ROM aktif Rasional : dengan latihan itu mempercepat kesembuhan pasien khususnya dalam . jika diperlukan Rasional : Agar tidak terjadi cedera pada pasien 6. Kaji kebutuhan pasien akan pendidikan kesehatan Rasional : Dengan pengkajian itu dapat mengetahui kemampuan pasien tentang kesehatan 5.

berdasarkan jadwal spesifik Rasional : membuat pasien nyaman dengan perubahan posisi Nyeri akut/kronis b. Ubah posisi pasien yang imobilisasi minimal 2 jam.d agen Tingkat kenyamanan 1. Pemberian analgesik cidera: fisik perasaan senang secara 2. Sedasi sadar fisik & psikologis Penatalaksanaan nyeri Bantuan Prilaku mengendalikan Analgesika yang nyeri Dikendalikan oleh Pasien Nyeri: efek merusak Aktivitas keperawatan: terhadap emosi dan Minta pasien untuk prilaku yang diamati menilai Tingkat nyeri: jumlah nyeri nyeri/ketidak nyamanan yang dilaporkan pada skala 0 sampai 5 Kriteria evaluasi: Lakukan pengkajian 1. Menunjukkan teknik relaksasi secara individu yang efektif 3. ringan. pergerakan sendi 7. Observasi isyarat ketidak 5: ekstrim. .Terapi Aktivitas imobilitas klien mentoleransikan . atau tidak ada 2. berat. Menunjukkan nyeri efek nyeri yang komprehensif merusak dengan skala 1. Mengenali factor penyebab dan menggunakan tindakan Intoleran aktivitas b.d untuk mencegah nyeri.Pengelolaan energi aktivitas yang biasa dilakukan Aktivitas keperawatan: dan ditunjukkan dengan daya . nyamanan nonverbal sedang.

pengubatan dan rekreasi untuk perawatan yang dapat merencenakan dan meningkatkan aktivitas memantau 3.Kaji kondisi kulit saat .sosial dan dan perawatan diri. Kaloborasikan dengan tentang kebutuhan ahli okupasi. kebutuhan.Kaji kemampuan untuk dirinya menggunakan alat Tujuan/Kriteria Hasil: . spritual terhadap kritria evaluasi: aktivitas 1.Mengungkapkan mandI secara verbal R: agar pasien terlihat kepuasan tentang segar kebersihan tubuh dan . aktivitas perawatan pribadi mandi/hygine : membantu Personal hygiene : pasien untk memenuhi kemampuan untuk hygine pribadi mempertahankan hygnie Aktivitas Keperawatan . 1. Kaji respon. mengungkap secara waktu tidur verbal pemahaman 4.sesuai dengan kehehidupan sehari. menampilkan aktivitas aktivitas.fisik atau oksigen. Tentukan penyebab aktivitas/situasi yang keletihan menimbulkan 3. tahan penghimatan energi. pantau pola istirahat kecemasan klien dan lamanya 2. hari(AKS)&beberapa bantuan Defisit perawatan diri Perawatan diri : aktivitas Mandi :membersihkan kehidupan sehari-hari: tubuh berguna untuk kemampuan untuk melakukan relaksasi. mengedentivikasikan 2.Menerima bantuan / bantu R: pasien dapat ber perawatan total dari mobilitas pemberi perawatan . kebersihan dan tugas fisik paling dasar dan penyembuhan Bantuan perawatan diri.

hygine mulut. Mempertahankan keluarga penggunaan mobilitas yang metode alternatif untuk diperlukan untuk mandi dan hygine kekamar mandi mulut menyediakan R: dibantu keluarga/ perlengkapan mandi perawat utk memandikan/ diseka . Ajarkan pasien/ .

R (1997). pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Philadelphia. A Holistic Approach. Critical Care Nursing. Jakarta. Buku ajar Ilmu Bedah. fifth edition. (1995). JB Lippincott company. Jakarta . EGC. (1994). Philadelpia. DAFTAR PUSTAKA Hudak and Gallo. JB Lippincott Company. EGC. Sjamsuhidajat. Marilynn E Doengoes. Binarupa Aksara. (1991). Rencana Asuhan Keperawatan. Reksoprodjo Soelarto. Smith. alih bahasa Kariasa IM. Jakarta. et all. (2000). The lippincott Manual of Nursing Practice.