You are on page 1of 213

BAHAN AJAR

Teori-teori administrasi

Tim Penyusun

La Ode Syaiful Islamy. H, S.Sos, M.Si

Program Studi Administrasi Negara
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Dayanu Ikhsanuddin
Baubau – 2015
Digunakan Dalam Lingkungan Sendiri

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah, Puji Syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT,
seru sekalian alam, maha pemilik dan pemberi ilmu, maha pengasih lagi
maha penyayang yang telah melimpahkan rahmat, kekuatan, kesabaran
serta berkahNya sehingga proses penyusunan bahan ajar ini dapat
terselesaikan.
Bahan ajar ini disusun atas keinginan dan dorongan serta kebutuhan
berbagai pihak utamanya bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Program Studi Ilmu Adminidtrasi Negara yang memprogramkan mata
kuliah Teori- Teori Administrasi.
Bahan ajar ini bukanlah satu-satunya referensi, tetapi merupakan
pendukung dan pelengkap rujukan yang sudah ada, yang tentu saja masih
banyak kekurangan-kekurangan dalam penyajian materi maupun isu-isu yang
coba dikembangkan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun
sangat dibutuhkan demi kesempurnaan tulisan ini.
Bahan ajar ini digunakan dalam lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Dayanu Ikhsanuddin.
Semoga bahan ajar ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa maupun bagi
peneliti yang mengkosentrasikan diri pada perkembangan isu-isu
Administrasi

Terima Kasih.
Baubau, Edisi Oktober 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

Hal
Kata Pengantar I
Daftar Isi Ii
BAB I PENGERTIAN ADMINISTRASI, PERAN TEORI DAN EVOLUSI
TEORI ADMINISTRASI
A. Arti Penting Administrasi ………………………………………………….. 1
B. Definisi dan Unsur-Unsur yang Terkandung Dalam Administrasi ……. 5
1. Administrasi Sebagai Proses ……………………………………… 6
2. Administrasi sebagai Seni …………………………………………. 9
C. Pembagian bidang/cabang Administrasi ……………………………….. 11
D. Administrasi Publik ………………………………………………………… 19
BAB II PERAN TEORI DAN EVOLUSI ADMINISTRASI
A. Peran Teori Administrasi ………………………………………………….. 25
1. Teori Deskriptif dan Preskriptif .................................................... 26
2. Teori Normatif ……………………………………………………….. 29
3. Teori Asumtif ………………………………………………………… 30
4. Teori Instrumental ………………………………………………….. 31
B. Evolusi Teori Administrasi Publik ………………………………………… 32
1. Teori Administrasi Klasik ………………………………………….. 32
2. Teori Administrasi Modern ……………………………………….. 37
BAB III PERKEMBANGAN PARADIGMA TEORI ADMINISTRASI
A. Keberadaan Administrasi dalam Negara ……………………………….. 41
B. Paradigma Administrasi Negara …………………………………………. 43
C Perspektif Perkembangan Administrasi Negara ……………………….. 49
1. Old Public Administration (OPA) …………………………………. 50
2. New Public Management (NPM) ………………………………… 59
3. New Public Service (NPS) ………………………………………… 65

BAB IV PERKEMBANGAN ILMU ADMINISTRASI 73
A. Perkembangan Ilmu Administrasi Negara ……………………………… 74
B. Administrasi di Indonesia …………………………………………………. 81
C. Dari Administrasi Negara ke Administrasi Publik ………………………. 82
BAB V BERAKHIRNYA ERA GOOD GOVERNANCE 94
A. Perlunya Arah Baru ……………………………………………………….. 99
B. Munculnya Sound Governance ………………………………………….. 100
BAB VI SOUND GOVERNANCE
A. Mengapa Harus Sound Governance …………………………………….. 103
B. Mendefinisikan Kembali Realitas ………………………………………… 109
C. Pentingnya Egalitarisme …………………………………………………... 114
D. Dimensi-Dimensi dalam Sound Governance …………………………… 119
1. Proses ………………………………………………………………. 120
2. Struktur ………………………………………………………………. 122
3. Kesadaran dan Nilai ………………………………………………... 123
4. Konstitusi …………………………………………………………… 124
5. Organisasi dan Institusi ……………………………………………. 125
6. Manajemen dan Perfoma ………………………………………….. 126
7. Kebijakan ……………………………………………………………. 128
8. Sektor ………………………………………………………………… 129
9. Faktor Internasional ………………………………………………… 131
10. Etika ………………………………………………………………….. 133
E. Level Sasaran Reformasi …………………………………………………. 134
F. Inovasi Sebagai Inti Sound Governance ………………………………... 139

180 . Civil Society . Sektor Swasta. Dieksploitasi dan/atau Mengeksploitasi ………………. Aktor Internasional …………………………………………………………. Pusat Konspirasi …………………………………………………. 146 B.BAB VII AKTOR DALAM SOUND GOVERNANCE 145 A. Lahan Bisnis Baru ………………………………………… 159 C. Negara. 170 D.

1

BAB I

PENGERTIAN ADMINISTRASI, PERAN TEORI DAN EVOLUSI

TEORI ADMINISTRASI

A. Arti Penting Administrasi

The Liang Gie (dalam Sundarso, dkk, 2006: 1.3) menyatakan bahwa

ilmu yang mempelajari hal ikhwal “usaha manusia yang secara teratur

bekerja sama dalam kelompok untuk mencapai suatu tujuan tertentu”

disebut ilmu administrasi. Ilmu ini merupakan suatu cabang baru dari ilmu

sosial.

Sebagai pengetahuan modern yang dipelajari secara teratur, ilmu

administrasi masih tergolong muda usianya, baru dimulai kira-kira pada

permulaan abad ke-20 ini. Sebagaimana dialami oleh cabang-cabang ilmu

sosial lainnya yang baru lahir, ilmu administrasi sampai kini belum

mendapat pengakuan dan kedudukan yang kuat, terutama dari para ahli

ilmu-ilmu eksakta. Mereka menyatakan suatu pengetahuan dapat diakui

sebagai ilmu (pengetahuan) kalau pengetahuan tadi memiliki hukum-

hukum, teori-teori atau prinsi-prinsip yang dapat berlaku secara universal,

artinya hukum/teori/prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan di mana saja,

kapan saja, oleh siapa saja dengan memberikan hasil yang bersama. Ilmu

administrasi tidak memiliki hukum/teori-teori/prinsip-prinsip yang berlaku

demikian karena objek studinya berupa manusia yang mempunyai emosi

dan akal pikiran yang mudah berubah karena dipengaruhi oleh ruang

lingkup budaya dan waktu di mana manusia tadi berada. Contoh, prinsip-

2

prinsip administrasi seperti POSDCORB diterapkan di Negara-negara

Barat dapat memberikan hasil baik, membawa kemajuan dalam praktik

administrasi publik, tetapi tidak demikian halnya pada waktu diterapkan di

Negara-negara sedang berkembang. Hal ini dapat dijelaskan karena

antara budaya kerja para birokrat di Negara-negara maju berbeda dengan

budaya kerja birokrat di Negara-negara sedang berkembang. Penyusunan

rencana, misalnya di Negara kita belum berdasarkan analisis kebutuhan

yang riil di masyarakat, penetapan sasaran penerima program yang tidak

jelas, perhitungan anggaran yang belum dikaitkan dengan analisis

keterkaitan antara tujuan program dengan bagaimana cara-cara

mencapainya sehingga berpengaruh pada penggelembungan anggaran.

Adapun berkaitan dengan pengertian administrasi, banyak definisi

administrasi, baik oleh penulis Indonesia maupun penulis asing. Menurut

Sutarto ( penulis Indonesia ) mengatakan ; Administrasi adalah “suatu

proses penyelenGgaraan dan pengurusan segenap tindakan/kegiatan

dalam setiap usaha kerjasama sekelompok manusia untuk mencapai

tujuan”. Adapun menurut Luther Gullick ( penulis asing ) mengatakan;

Administration has to do with getting things done with the accomplishment

of defined objectives. (Administrasi berkaitan dengan pelaksanaan suatu

pekerjaan untuk mencapai suatu tujuan-tujuan yang telah ditentukan).

Administrasi memiliki beberapa unsur. Menurut The Liang Gie,

unsur-unsur Administrasi ini meliputi; Organisasi, manajemen,

3

kepegawaian, keuangan, perlengkapan, pekerjaan kantor, tata

hubungan/komunikasi, dan hubungan masyarakat (publik relation).

Nigro & Nigro (1992) mengemukakan bahwa mengenai fungsi-fungsi

Administrasi Publik dapat dilihat dari fungsi-fungsi administrasi yang

dikemukakan oleh Fayol yaitu planning, Organizing, commading,

coordinating, dan controlling. Selain dari pada itu Nigro & Nigro juga

mengemukakan bahwa Administrasi Publik dapat dilihat dari pendapat

Gulick tentang adanya 7 fungsi administrastrative yang terkenal dengan

akronim POSDCORB yaitu:

1. Planning (perencanaan) yaitu : mengembangkan adanya garis –
garis besar kegiatan yang dilakukan dan mengembangkan metode-
metode pelaksanaannya untuk mencapai tujuan organisasi.
2. Organizing (pengorganisasian) yaitu: mengembangkan srtuktur
formal dari wewenang berdasarkan pengelompokan-
pengelompokan kerja (misalnya departemen, biro, dinas,dll) yang
perlu dikoordinasikan.
3. Staffing yang meliputi keseluruhan fungsi kepegawaian : merekrut
dan melatih staf serta memelihara kondisi-kondisi kerja yang
menyenangkan.
4. Directing (pengarahan) yang meliputi tugas memimpin organisasi
dengan membuat keputusan-keputusan dan
mengimplementasikannya melalui kebijakan-kebijakan prosedur.
5. Coordinating (pengkoordinasian) yang meliputi tugas-tugas
mengintegrasikan dan menyelaraskan berbagai macam unit
(bagian) yang saling berkaitan.
6. Reporting (pelaporan) yang merupakan proses dan teknik untuk
memberikan iformasi tentang pekerjaan yang telah dan sedang
dilaksanakan (misalnya koleksi data dan manajemen informasi).

4

7. Budgeting (penganggaran) yang meliputitugas-tugas perencanaan
fiscal, accounting dan pengendalian
Charles A. Beard, seorang historikus politik Amerika yang terkenal

dalam salah satu karyanya yang dikutip oleh Lepawsky (1960 : 16)

mengatakan bahwa “Tidak ada sesuatu hal untuk abad modern sekarang

ini yang lebih penting dari administrasi. Kelangsungan hidup pemerintah

yang beradab itu sendiri akan sangat tergantung atas kemampuan kita

untuk membina dan mengembangkan suatu administrasi yang mampu

memecahkan masalah-masalah masyarakat modern” (Albert Lepawsky,

1960 :18).

Siagian (1990, 11-15) menyatakan jika pendapat ahli tersebut

dianalisis lebih mendalam maka seseorang akan menarik kesimpulan

bahwa tegak robohnya suatu Negara, maju mundurnya peradaban

manusia serta timbul tenggelamnya bangsa-bangsa di dunia tidak

dikarenakan perang nuklir atau malapetaka, akan tetapi akan tergantung

pada baik buruknya administrasi yang dimiliki.

Selanjutnya jika pendapat ahli tersebut, demikian juga pendapat para

ahli lainnya yang senada diterima maka jelaslah kiranya bahwa sesuatu

bangsa, sesuatu Negara yang ingin mencapai kemajuan dalam berbagai

aspek kehidupan dan perikehidupan modern tidak mempunyai pilihan lain

selain dari pada mengutamakan pembinaan serta pengembangan

administrasinya yang sesuai dengan faktor-faktor lingkungan (ecological

factors) bangsa dan Negara itu. Memang sesungguhnya abad sekarang

ini adalah “abad Administrasi”, Abad administrasi karena semua

ekonomi. . 5 keputusan di bidang politik. Tegasnya. Pertama. Kedua administrasi mempunyai unsur-unsur tertentu. administrasi sebagai “Seni” merupakan suatu social phenomenon. B. Ke dalam golongan peralatan dan perlengkapan termasuk pula waktu. 3) adanya tugas atau tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Ketiga administrasi sebagai proses kerja sama bukan merupakan hal yang baru karena ia telah timbul bersama-sama dengan timbulnya peradaban manusia. kebudayaan. Siagian (1990 : 3) mendefinisikan administrasi sebagai “keseluruhan proses kerja sama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya”. peralatan materi serta perlengkapan lainnya. 2) adanya tujuan yang hendak dicapai. yaitu 1) adanya dua manusia atau lebih. Pelaksanaan sesuatu keputusan dengan efisien dan ekonomis itulah yang merupakan sasaran utama dari administrasi. Definisi dan Unsur-Unsur yang Terkandung Dalam Administrasi Sondang P. tempat. 4) adanya peralatan dan perlengkapan untuk melaksanakan tugas-tugas itu. militer dan lain-lain halnya akan ada artinya apabila keputusan tersebut terlaksana dengan efisien dan ekonomis. administrasi sebagai seni adalah suatu proses yang diketahui hanya permulaannya sedang akhirnya tidak ada. Ada beberapa hal yang terkandung dalam definisi di atas.

Dua orang manusia atau lebih. Administrasi sebagai Proses Sesuatu proses adalah sesuatu yang permulaannya diketahui. proses administrasi adalah suatu proses pelaksanaan kegiatan-kegiatan tertentu yang dimulai sejak adanya dua orang yang bersepakat untuk bekerja sama untuk mencapai sesuatu tujuan tertentu. Dengan demikian. tetapi akhirnya tidak diketahui. 2. dan juga tidak dapat diketahui kapan kedua orang yang bekerja sama tersebut memutuskan untuk tidak bekerja sama lagi. Unsur-unsur Administrasi Telah disebutkan bahwa adanya sesuatu. 3. Tidak dapat dikatakan kapan suatu proses itu akan berakhir. Tujuan. Telah dikatakan pula bahwa unsur-unsur (bagian-bagian yang mutlak) dari administrasi ialah berikut ini. Oleh karena itu. Mengenai unsur manusia. dalam hal ini administrasi adalah adanya unsur-unsur tertentu yang menjadikan adanya sesuatu itu. a. 4. penulis berasumsi bahwa seseorang tidak dapat “bekerja sama” dengan dirinya sendiri. 6 1. 1. Tujuan . Peralatan dan perlengkapan. harus ada orang lain yang secara sukarela atau dengan cara lain diajak turut serta dalam proses kerja sama ini. b. Tugas yang hendak dilaksanakan.

kerja sama bukan merupakan unsur administrasi. Karena dengan paksaan proses administrasi dapat timbul. yaitu kerja sama yang ikhlas dan sukarela (voluntary cooperation). 7 Terlalu sering orang beranggapan bahwa tujuan proses administrasi harus selalu ditentukan oleh orang-orang yang bersangkutan langsung dengan proses itu. dan kerja sama yang dipaksakan (compulsory atau antagonistic cooperation). misalnya dalam hal dipaksakan. bukanlah suatu hal yang mustahil pula bahwa pihak luarlah yang menentukan tujuan yang hendak dicapai. proses administrasi dapat terjadi. Kerja sama dalam administrasi dapat tergolongkan kepada dua golongan. Tujuan dapat pula ditentukan oleh hanya sebagian dan mungkin pula malah hanya oleh seorang dari mereka yang terlibat. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Akan tetapi. Akan tetapi. Peralatan dan Perlengkapan . c. Dengan perkataan lain. perlu ditekankan bahwa pencapaian tujuan akan lebih efisien dan ekonomis apabila semua orang-orang yang terlibat mau bekerja sama satu sama lain. Tujuan yang hendak dicapai dapat ditentukan oleh semua orang yang langsung terlibat dalam proses administrasi itu. d. Hal ini menurut pendapat penulis tidak benar. tanpa kerja sama pun. Meskipun demikian. Tugas dan Pelaksanaannya Berbicara mengenai tugas yang hendak dilaksanakan. sering pula orang beranggapan bahwa proses administrasi baru timbul apabila ada kerja sama.

Jumlah orang yang terlibat dalam proses ini. tingkat kebutuhan yang berlainan. ruang lingkup dan bentuk kegiatan administrasi berbeda dari satu zaman ke zaman yang lain. ia berbeda pula dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain. semakin sederhana tujuan yang hendak dicapai serta semakin sederhana tugas-tugas yang hendak dilaksanakan. sifat dan ruang lingkup kegiatan administrasi Sudah barang tentu pula bahwa sifat. Tujuan. Bila jumlah hasil menunjukkan lebih banyak dibandingkan dengan apabila kegiatan tersebut dikerjakan seorang diri. 2. A. ke semuanya turut menentukan bentuk dan sifat administrasi yang diperlukan. Tujuan yang berbeda-beda. 3. Kerja sama Kini sudah jelas “apabila ada dua orang yang bekerja bersama-sama untuk menGgulingkan sebuah batu yang tidak dapat digulingkan hanya oleh seorang di antara mereka. kecerdasan yang beraneka ragam. seperti berikut ini. tanpa melihat apakah orang kedua ikhlas . Ia berbeda pula dari satu waktu dan kondisi ke lain waktu dan kondisi. pada saat itu administrasi telah ada”. Barang kali secara “aksiomatis” dapat dikatakan bahwa semakin sedikit jumlah orang yang terlibat. Dalam aspek kerja sama ini yang ditekankan adalah hasilnya. 8 Peralatan dan perlengkapan yang diperlukan dalam suatu proses administrasi tergantung dari berbagai faktor. semakin sederhana pula peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan.

. Ia timbul pada abad modern ini. prinsip-prinsip. pada tahun 1886 itu timbullah suatu ilmu baru. manusia hanya mengenal administrasi sebagai seni. yang sekarang ini dikenal dengan Ilmu Administrasi yang objek studinya tidak termasuk objek studi ilmu-ilmu yang lain. dkk. sekarang ini administrasi dikenal sebagai suatu science karena di dalam penerapan ilmnya. Ilmu Administrasi telah pula memiliki metode analisisnya sendiri. Akan tetapi. 9 atau tidak dalam membantu orang pertama maka hasil yang dicapai tersebut akan lebih baik. sistimatikanya sendiri. Oleh karena itu. Administrasi Sebagai Ilmu dan Seni Sampai dengan tahun 1886. Timbulnya Ilmu Administrasi sering dikenal sebagai suatu modern phenomenon. Definisi tersebut perlu penjelasan lebih lanjut. Sebaliknya seni Administrasi dikenal sebagai suatu scienfific art karena seni itu sudah didasarkan atas sekelompok prinsip- prinsip yang telah teruji “keberanannya”.9) mendefinisikan administrasi sebagai “bentuk daya upaya manusia yang kooperatif dan mempunyai tingkat rasionalitas yang tinggi”. 2. Kemudian. dalil-dalil serta rumusan-rumusannya sendiri. “seninya” masih tetap memegang peranan yang menentukan. (2006 : 1. Dwight Waldo dalam Sundarso. dengan timbulnya Ilmu Administrasi tidak berarti hilangnya sifat “seninya”.

sedang para sarjana administrasi. . tetapi mereka tidak tahu untuk apa sesuatu itu akan digunakan. belum lagi kalau dikaitkan dengan tujuan sistem administrasi itu sendiri. tingkat rasionalitas yang tinggi. Contoh untuk hal ini dapat dilihat pada penjelasannya. Selanjutnya Waldo menjelaskan tindakan manusia dapat dikatakan kooperatif bila tidak akan ada sesuatu yang dihasilkan tanpa adanya kerja sama tersebut. apakah administrasi merupakan satu-satunya bentuk usaha manusia yang kooperatif? Jawaban atas pertanyaan ini tergantung dari perspektif mana kita memandangnya. Para sosiolog mengatakan bahwa ciri-ciri administrasi adalah birokrasi. Sering mereka bekerja menghasilkan sesuatu. 10 Pertama. Hal ini sering terjadi pada produk-produk yang dibutuhkan militer. Tingkat rasionalitas yang tinggi diukur dari tujuan-tujuan siapa karena kita tahu bahwa tujuan individu yang satu dengan yang lain di antara mereka bekerja di dalam sistem administrasi itu sendiri berbeda-beda. Kedua. seperti Waldo. misalnya menyatakan ciri-ciri administrasi adalah organisasi dan manajemen.

Pembagian bidang/cabang Administrasi Pada umumnya pembagian bidang/cabang administrasi dibedakan ke dalam administrasi publik (publik administration) dan administrasi niaga (business administration). Administrasi Kenegaraan (Publik Administration) Usaha kerja sama mengenai kenegaraan pada umumnya merupakan pemberian pelayanan terhadap segenap kehidupan warga Negara yang terdapat di dalam Negara itu.10) membagi administrasi berdasarkan sifat usaha kerja sama guna mencapai tujuan tertentu dengan demikian juga ilmu yang mempelajari usaha kerja sama tersebut dapat dibedakan dalam tiga bidang/cabang pokok secara vertical. Pembagian yang agak berbeda dikemukakan oleh The Liang Gie dan Siagian. Kegiatan- kegiatan yang menghasilkan pelayanan (service) tersebut mempunyai cirri-ciri yang berikut : a. 3. 1. Kegiatan itu merupakan sesuatu yang lebih urgen dari pada yang diselenggarakan pihak swasta. Administrasi kenegaraan (Publik administration). 11 C. yaitu sebagai berikut : 1. dkk (2006. The Liang Gie dalam Sundarso. Administrasi perusahaan (Business administration). Administrasi kemasyarakatan (Social administration) Ketiga cabang (ilmu) administrasi tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. . 2.

d. yayasan. koperasi. Administrasi Kemasyarakatan (Social Administration) Usaha kerja sama dalam hal-hal yang mengenai kemasyarakatan pada umumnya mempunyai sifat untuk memajukan sesuatu hal bagi sekelompok orang tertentu. 2. Kegiatan itu tak bergantung kepada pertimbangan harga pasar. perhimpunan sarjana dalam sesuatu bidang ilmu. Kegiatan-kegiatan yang demikian ini misalnya kita jumpai dalam kelompok-kelompok serikat buruh. 12 b. Kegiatan itu terikat oleh peraturan-peraturan hukum. Saling tumpang tindih . Kegiatan itu mempunyai corak monopoli atau setengah monopoli. Kegiatan itu berlangsung di bawah pengawasan rakyat. Kalau usaha pertukaran ini tidak seimbang maka kerja sama tersebut tidak akan berlangsung lama. c. lembaga fakir miskin dan badan sosial lainnya. perkumpulan olahraga atau kesenian. 3. Di sini terdapat pertimbangan untung rugi dalam kegiatan menghasilkan atau memberikan sesuatu barang/jasa atas pemberian barang/jasa tersebut ditarik sesuatu sebagai balasannya. terutama dalam Negara dengan sistem demokrasi. Pembedaan administrasi dalam tiga bidang secara vertikal tersebut di atas kadang-kadang menjadi kurang jelas. e. Administrasi Perusahaan (Business Administration) Usaha kerja sama mengenai perusahaan terutama mempunyai sifat pertukaran.

Negara sering menjalankan kegaitan dalam bentuk perusahaan (Negara) atau lembaga sosial. Misalnya. Publik Business Administration atau publik business corporation Lebih lanjut beliau mendefinisikan Administrasi Negara adalah “Keseluruhan kegiatan yang dilakukan oleh aparatur pemerintah dari suatu negara dalam usaha mencapai tujuan Negara” sedang administrasi niaga adalah “Keseluruhan kegiatan dari mulai produksi barang dan jasa sampai tibanya barang atau jasa tersebut di tangan konsumen”. . 13 (overlapping) memang tidak dapat dihindarkan. yaitu sebagai berikut : a. Administrasi privat (private administration) Berhubung dalam perkembangannya kegiatan administrasi privat sebagian besar dilakukan oleh sektor niaga maka untuk cabang kedua ini sering disebut dengan administrasi niaga atau business administration c. Administrasi Negara (publik administration) b. Siagian (1990 : 30). kita dalam rangka kajian atas pembagian ilmu administrasi ini dapat tetap melihat pada “usaha kerja sama mencapai suatu tujuan tertentu” yang hanya terdapat dalam satu bidang/cabang dan tidak ada pada bidang- bidang/cabang lainnya. membagi bidang administrasi ke dalam tiga cabang. Namun.

12) di samping melihat pembagian cabang/bidang (ilmu) administrasi secara vertikal dari sisi sifat atau karakter (administrasi Negara/publik. Aspek teknis ini melekat/ada pada tiga cabang administrasi tersebut di atas. Dengan semakin pentingnya peranan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan warga negaranya. wajar kiranya kalau pemerintah ikut melakukan kegiatan niaga. Hal ini dapat dilihat dengan dibentuknya berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) oleh pemerintah pusat dan daerah. 14 Untuk publik business corporation beliau tidak memberikan definisinya. Dengan adanya BUMN dan BUMD ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah dan pada gilirannya nanti lewat pengalokasian belanja publik diharapkan dapat lebih banyak lagi kepentingan publik yang mendapat perhatian pemerintah dalam alokasi anggarannya. Pembagian cabang-cabangnya dapat dilihat pada aspek-aspek berikut ini : 1. tetapi beliau sedikit memberikan penjelasan mengenai hal ini. administrasi perusahaan/business dan administrasi kemasyarakatan/sosial) juga melihat pembagian cabang-cabang ilmu administrasi secara horizontal dari aspek teknis. Organisasi Organisasi merupakan struktur atau wadah di mana usaha kerja sama itu diselenggarakan. James D. 2006 : 1. Money dalam The Liang . The Liang Gie (dalam Sundarso.

Analisis organisasi dan metode (O M. wewenang. dkk 2006 : 1. tugas dan tanggung jawab menjadi kesatuan yang selaras. b. Perilaku administratif (admistrative behavior). (Sundarso. c. Penelaahan terhadap struktur di mana administrasi itu berlangsung menimbulkan sekelompok pengetahuan yang disebut berikut : a. 15 Gie.13) menyebutkan sebagai bentuk dari pada perserikatan manusia untuk pencapaian suatu tujuan bersama (the form of every human association for the attainment of a comman purpose). 2006 : 1. analysis). Sejalan dengan ini maka proses mengorganisasi (organizing) ialah penyusunan struktur dengan membagi-bagi dan menghubung-hubungkan orang. Teori organisasi (theory of organization). Termasuk pula dalam proses mengorganisasi atau membentuk organisasi ialah penentuan tujuan yang hendak di capai. d. (Sundarso dkk. Hubungan manusia (human relation) 2. Manajemen Manajemen dapat dianggap sebagai suatu proses yang menggerakkan kegiatan dalam administrasi itu sehingga Good governance merupakan tujuan yang telah ditentukan benar- benar tercapai.13) mengatakan manajemen sebagai the process . Oliver Sheldon dalam The Liang Gie.

Penjurusan (directing. termasukleadership). rencana. 16 by which the execution of a given purpose is put into operation and supervised (proses dengan mana pelaksanaan dari suatu tujuan tertentu dijalankan dan awasi). Fungsi koordinasi dan pengendalian ini pada akhir-akhir ini terutama menimbulkan sekelompok pengetahuan dengan nama Manajemen Administratif (Administratif Management). Kepegawaian Ini merupakan segi yang berkenaan dengan sumber tenaga manusia (working force) yang harus ada pada setiap usaha kerja sama. Penelaahan terhadap unsur ini menimbulkan sekelompok pengetahuan yang dicakup dengan nama Administrasi Kepegawaian (Personal Administration). Manajemen administratif merupakan proses yang sangat penting untuk menjamin kesatuan tindakan dan mengusahakan program pengendalian terutama pada instansi. Koordinasi (coordinating). d. b. c. Perencanaan (planning). Administrasi ini pada pokoknya mempelajari segenap proses pemakaian tenaga manusia itu sejak dari penerimaannya . Pengendalian (controlling). kebijaksanaan dan usaha pemerintah. 3. Manajemen mempunyai fungsi-fungsi yang berikut : a.

pengendalian harta benda (Inventory and Property Control). 5. mencacat. Pekerjaan Kantor Dalam setiap usaha bersama tentu terdapat proses yang termasuk dalam pengertian Office Work. 6.1. Dari sini timbullah Administrasi Keuangan yang mencakup a. 17 (recruiting) sampai pemberhentiannya (retirement). Keuangan Ini merupakan segi pembiayaan (financing) dalam setiap administrsi. klasifikasi dan standarisasi alat-alat. mengirim. 4. Paper Work atau Clerical Work dan ini adalah segenap kegiatan mengumpulkan. Perlengkapan Ini merupakan segi yang melayani kebutuhan-kebutuhan kebendaan dan kerumahtanggaan yang juga tentu ada dalam setiap usaha bersama. auditing (pemeriksaan) serta tindakan-tindakan lain dalam bidang keuangan. pembelian (procurement). mengolah atau menyimpan bahan-bahan . Termasuk pula di sini adalah Analisis dan Klasifikasi Jabatan (Job Analysis and Classification) serta pengembangan tenaga itu melalui latihan-latihan (training). Pada bidang ini berkembanglah pengetahuan tentang Administrasi Perlengkapan (Supply Administration). pengetahuan belanja (budgeting). accounting (pembukuan).

Tata Hubungan Ini merupakan urat nadi yang memungkinkan orang-orang dalam usaha bersama itu mengetahui apa yang terjadi atau diinginkan oleh masing-masing. misalnya reporting techniques (teknik pelaporan). Pada akhir-akhir ini pekerjaan kantor di mana-mana (instansi pemerintah atau perusahaan swasta) mempunyai tendensi untuk senantiasa meningkat. Pengetahuan yang merupakan segi-segi tata hubungan ini. Dengan demikian. 18 keterangan (information). demikian pula sebaliknya menyalurkan sesuatu hasrat. conference methods (metode rapat). tak mungkin kerja sama dapat terlaksana dengan baik. tercapai pengertian yang sebaik-baiknya antara suatu administrasi dengan keadaan sekelilingnya. Tanpa tata hubungan yang baik. 8. Perwakilan Ini merupakan segi yang menGgambarkan pada pihak luar segala sesuatu yang berlangsung mengenai usaha kerja sama itu. Penelaahan terhadap hal ihwal pekerjaan kantor ini menghasilkan pengetahuan yang lazim disebut Administrasi Kantor atau di dunia Barat disebut dengan Office management. Aspek ini justru dianggap penting bagi kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah agar mendapat dukungan dari . 7. suGgestion systems (sistem saran). cita atau pendapat dari luar ke dalam sesuatu usaha bersama.

Oleh karena itu. Dikatakan olehnya sebagai berikut : “Sesungguhnya tidak ada definisi yang tepat tentang publik administration. Administrasi Publik Administrasi Negara dan administrasi niaga/perusahaan telah dikembangkan sebagai cabang-cabang ilmu yang diajarkan dalam dunia pendidikan tinggi bahkan menjadi suatu fakultas dengan nama School of Publik and Business Administration. tetapi tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan. apalagi definisi tentang publik administration. Pada tahun 1955 Dwight Waldo (dalam Sundarso. Di Indonesia. 19 rakyat. Mungkin ada definisi yang ringkas. Perumusan publik administration yang hanya terdiri dari satu kalimat atau satu paragraf saja. Pada akhir-akhir ini timbullah pengetahuan dalam bidang ini. setiap usaha menyusun definisi yang ringkas selalu gagal. Usaha pengembangan ilmu ini berjalan terus dengan FIA-Unibraw (Fakultas Ilmu Administrasi) menjadi pengembang ilmu administrasi di Indonesia. Dari .16) telah memperingatkan agar kita berhati-hati dalam menyusun suatu definisi. tidak akan membuka tabir persoalan. yaitu Hubungan Masyarakat (Publik Relation). D. jurusan program studi Administrasi Negara maupun Administrasi Niaga pada umumnya berada pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dewasa ini dirasa masih terdapat kesulitan untuk menjalankan dengan kata-kata yang singkat tentang apa yang dimaksud dengan Administrasi Negara. dkk 2006 : 1.

sedangkan manajemen menunjukkan fungsinya. John M. Administrsi melihat organisasi dalam keadaannya yang statis sedang manajemen dilihatnya dalam kondisi dinamis. Oleh beliau dijelaskan lebih lanjut. Publik administration adalah suatu seni dan ilmu tentang manajemen yang digunakan untuk mengatur urusan-urusan Negara. Presthus (dalam Pamudji. Pada bagian lain dikatakan bahwa Publik administration may be defined as the coordination . (Administrasi Negara meliputi implementasi kebijakan pemerintah yang telah ditetapkan oleh badan-badan perwakilan politik). Waldo mengajukan dua buah definisi sebagai pangkal pembahasan selanjutnya. Publik administration adalah organisasi dan manajemen dari manusia dan benda guna mencapai tujuan-tujuan pemerintah. kondisi bergerak menuju tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. organisasi menunjukkan struktur dari administrsi. Mengingat akan hal ini. 20 ungkapan tersebut jelaslah bahwa memang tidak mungkin mengajukan definisi yang ringkas. 2. 1989 : 19) menjelaskan pengertian administrasi Negara atau administrasi publik dengan beberapa ungkapan sebagai berikut. Keduanya saling bergantung dan tak dapat dipisahkan satu sama lain. paling tidak diperlukan suatu deskripsi. 1. Pfiffner and Robert V. Publik administration involves the implementation of publik policy which has been determined by representative political bodies.

21 of individual and group efforts to carry out publik policy. Jelaslah bahwa Pfiffner dan Presthus perlu memberikan beberapa definisi atau rumusan untuk menjelaskan arti administrasi Negara. pengarah kecakapan-keacakapan dan teknik-teknik yang tak terhingga jumlahnya yang memberi arah dan maksud terhadap usaha-usaha sejumlah besar orang). It is mainly occupied with the daily work of governments. (Secara menyeluruh. Selanjutnya . en compassing innumerable skills and techniques which give order and purpose to the efforts of large numbers of people. (Administrasi Negara dapat didefinisikan sebagai koordinasi usaha-usaha perorangan dan kelompok untuk melaksanakan kebijakan pemerintah. Dari ketiga definisi itu dapat disimpulkan bahwa administrasi Negara adalah “Suatu proses yang melibatkan beberapa orang dengan berbagai keahlian dan kecakapan untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan pemerintah”. Pertanyaan yang dikemukakan adalah What are the activities of publik administrasi? yang jawabnya … “Administrator do most of the work of government. Hal ini terutama meliputi pekerjaan sehari-hari pemerintah). 1989 : 21). Penjelasan tersebut diakhiri dengan In sum. publik administration is a process concerned with carrying out publik policies. tetapi lebih memusatkan perhatiannya kepada Publik Administrator. tidak banyak membahas tentang definisi administrasi Negara. Administrasi Negara adalah suatu proses yang bersangkutan dengan pelaksanaan kebijakan-kebijakan pemerintah. Ira Sharkansky (dalam Pamudji.

Nigro (dalam Pamudji. yang meliputi banyak sekali pekerjaan Pemerintah. 22 dikemukakan bahwa The activities of a typical administrator cannot be described simply. yaitu semacam uraian ringkas. Ternyata kegiatan-kegiatan para administrator tidak dapat dilukiskan secara sederhana dan singkat. dengan mengatakan sebagai berikut : . Jelas bahwa tidaklah mungkin untuk memberikan suatu jawaban singkat atau definisi atas pertanyaan Apakah administrasi Negara itu? Oleh Felix A. sebagian lagi mengelola pekerjaan rutin pemerintah dan yang sebagian lagi terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan yang bersifat inovatif. tugas- tugas dan pekerjaan pemerintah/Negara. Publik administration (administrasi Negara berkaitan erat sekali dengan publik policy atau kebijakan pemerintah/Negara. Some administrators are concerned with routine tasks that have been detailed by actions of the legislature. Dengan demikian dapat disimpulkan cara pengertian publik administration sebagai lapangan/area para administrasi melakukan kegaiatan-kegiatan. 1989 : 22) pertanyaan tersebut diberi jawaban berupa deskripsi. Other administrators manage routine operations … Still other aedministrators involve themselves in the most innovative work of government” Dari pendapatnya ini tampak bahwa Sharkansky menjelaskan pengertian administrari Negara melalui pengamatan terhadap kegiatan- kegiatan para administrator. Sebagian dari mereka menjalankan tugas-tugas rutin yang telah diperinci oleh Badan Legislatif.

Administrasi Negara 1. 23 Publik Administration 1. 5. Meliputi ketiga cabang pemerintahan – eksekutif. Covers all three branches-executive. 3. merupakan sebagian dari proses politik. legislatif dan yudikatif serta hubungan di antara mereka. and judicial – and their interrelationships 3. Dengan mengemukakan beberapa macam pendapat para ahli di atas semakin jelas bagi kita betapa sulitnya membuat rumusan (definisi) . Is cooperative group effort in publik setting 2. 4. legislative. Mempunyai peranan penting dalam perumusan kebijakan umum/Negara. Adalah suatu kerja sama kelompok dalam lingkungan pemerintah. Oleh karena itu. Is closely associated with numerous private groups and in individuals in providing services to the community. Is different in significant ways from private administration 5. Sangat erat berkaitan dengan berbagai macam kelompok swasta dan perorangan dalam menyajikan pelayanan kepada masyarakat. Dalam beberapa hal berbeda dengan administrasi privat. 2. Has an important role in formulating of publik policy and is thus a part of the polited process 4.

Administrasi kesehatan. 4.19 – 1. 24 yang singkat tentang administrasi Negara. 3.20) membagi ilmu administrasi publik ke dalam cabang-cabang berikut ini. ternyata administrasi Negara itu meliputi demikian banyak kegiatan- kegiatan pemerintah atau Negara. Subyeknya telah berkembang luas dan sangat kompleks sehingga dianggap perlu untuk membagi-baginya ke dalam lapangan-lapangan yang khusus. 1. di mana administrasi Negara telah berkembang sangat jauh. dkk. 6. Administrasi pengajaran. . Administrasi peradilan. Administrasi kemiliteran. 2. 2006 : 1. 7. Administrasi kepolisian. Memang di Negara-negara industri di dunia barat. untuk itu para ahli berusaha mencoba mengatasinya dengan mendeskripsikan kegiatan-kegiatan yang ada dalam praktik administrasi Negara. Administrasi perpajakan. 5. Misalnya. The Liang Gie (dalam Sundarso. Administrasi rekreasi.

Peran teori berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain sesuai dengan jenis dan golongan maing-masing teori (dalam Nicholas Henry. Teori normatif. Bailey serta William L. Peran Teori Administrasi Penulis dalam membahas peran teori dalam studi dan praktik administrasi publik meminjam konsepnya Stephen K. 25 BAB II PERAN TEORI DAN EVOLUSI ADMINISTRASI A. 3. 4. Morrow. Teori deskriptirf teori-teori yang mendeskripsikan struktur bertingkat dari berbagai hubungan administrasi publik dengan lingkungan kerjanya. Teori instrumental teori-teori yang berhubungan dengan peningkatan teknik-teknik manajerial dalam rangka efisiensi dan efektifitas pencapaian tujuan Negara. teori-teori yang berisi nilai-nilai yang menjadi alternatif keputusan yang seharusnya diambil oleh penyelenGgara administrasi publik (praktis) dan apa yang seharusnya dikaji dan dianjurkan kepada para pelaksana kebijakan. Teori asumtif. 1995 : 3-28) di mana mereka mengatakan bahwa pembahasan peran teori-teori administrasi publik/Negara sebaiknya menyangkut empat jenis/golongan teori sebagai berikut : 1. 2. . teori yang memberi pemahaman yang benar tentang realitas seorang administrator. suatu teori yang tidak mengambil suatu asumsi model setan maupun model malaikat birokrat.

. Para sarjana. Bailey (dalam Sundarso. Bailey menyatakan bahwa dalam rangka menyempurnakan tugas-tugas para administrator dapat diterapkan riset dan teori-teori dari disiplin yang lain. sepanjang yang berhubungan dengan teori mempunyai dua argument. seperti yang diamanatkan oleh konstitusi. menentukan sebab-sebab yang mempengaruhi perilaku dan mendorong serta menyediakan petunjuk dengan mana perilaku tertentu dapat diubah untuk meningkatkan pelayanan yang lebih berguna serta pencapaian tujuan-tujuan yang telah diamanatkan. Menurut Morrow peran kedua ini masuk dalam kategori teori preskriptif. Teori membantu para mahasiswa dan praktisi untuk menGgambarkan perilaku dan menetapkan perubahan perilaku yang diinginkan. 26 1) Teori Deskriptif dan Preskriptif Menurut Stephen K. dkk. Menurutnya peran teori dalam studi administrasi negara yaitu untuk memahami (peran teori deskriptif) dan untuk menyempurnakan apa-apa yang dikerjakan dalam kegiatan administrasi. 2006 : 24) sasaran teori administrasi publik adalah untuk menggambarkan bersama- sama tentang pengetahuan umat manusia dan proposisi-proposisi yang telah teruji dari ilmu pengetahuan sosial dan perilaku serta penerapannya bagi penyempurnaan tugas-tugas dalam proses pemerintahan guna mencapai tujuan-tujuan yang sah secara politik.

25) menyatakan bahwa “Teori itu penting karena teori merupakan jalan/cara terpendek untuk mengatakan sesuatu yang penting” sekitar suatu pokok tertentu.E. E. teori adalah untuk menyempurnakan pelaksanaan tugas-tugas administrator dalam birokrasi pemerintahan dengan meningkatkan pelayanan dan memperbaiki perilaku para administrator. dkk. Ini merupakan salah satu cara menjelaskan atau mengkonseptualisasikan sesuatu dengan tertib guna memahami sesuatu pokok tertentu tadi. Peran kedua. Mengacu pada uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendapat Shatchcncider dapat dimasukkan ke dalam jenis/ golongan teori deskriptif penGgolongan Bailey. 2006 : 1. Hal ini dapat dipahami karena administrai publik sebagai disiplin ilmu yang baru masih dalam proses pengembangan konsep-konsep teoritisnya dalam rangka membentuk jati dirinya. 27 Dari pendapat Bailey tersebut di atas dapat disimpulkan peran teori dalam studi administrais publik. Sehattschncider dalam Morrow (Sundarso. Guna menjelaskan administrasi publik sebagai perluasan sistem politik maka dapat dipertimbangkan penggunaan latihan di dalam teori. dkk. menggambarkan hubungan komponen-komponen materi studi atau field academic yang begitu luas karena teori administrsi publik bisa meminjam konsep-konsep dan teori- teori (bersifat eklektik) dari ilmu pengetahuan sosial dan perilaku. Morrow (dalam Sundarso. 2006:125) mengatakan bahwa teori deskriptif dan prespektif tidak cocok untuk menguji sifat alami administrasi . Pertama.

penemuannya dapat digunakan oleh sarjana dan praktisi yang mencoba mengimplementasikan kebijakan tertentu atau mereformasi manajen. Demikian pula. 28 publik sebagai venomena sosial politik. asumsi tertentu mengubah arah kebijakan publik dengan memanfaatkan keahlian birokrasi. sosiologi. seperti yang mereka lakukan. Untuk itu teori menyertai perubahan. Teori digunakan untuk menyempurnakan proses pemerintahan. Yang lain (teori preskriptif) juga dapat mengkampanyekan misi baru administrasi publik dan berkonsentrasi pada peran administrasi publik dalam perubahan sosial. dimensi teori deskriptif dan preskriptif bekerja (sama) bergandengan tangan. ekonomi. teori sering memainkan peran besar dalam pengembalian keputusan . bila teori deskriptif berusaha untuk menguraikan sebab-musabab yang mempengaruhi perilaku administrasi. yang bagaimanapun. Teori pertama (deskriptif) sepanjang berhubungan dengan eksklusivitas dapat menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam agensi-agensi administrasi dan menerimanya sebagai dalil mengenai penyebab yang mungkin untuk perilaku seperti itu. Dalam banyak kasus. Sebagai contoh. dan sejarah yang membantu kita dalam menjelaskan mengapa para administrator berperilaku. psikologi. Ketika sistem politik dihadapkan pada krisis politik. Asumsi seperti itulah yang mendasari Bailey sepanjang berhubungan dengan penerapan ilmu pengetahuan mengenai umat manusia dan ilmu-ilmu sosial terhadap studi administrasi publik.

Teori deskriptif berkaitan dengan penjelasan peran-peran sedangkan teori preskriptif terkait dengan menentukan ukuran-ukuran untuk koreksi (menetapkan standar untuk perbaikan sesuatu hal). 29 aparat. apakah bukan peran-peran harus distabilkan. Perlukah birokrasi publik mengasumsikan peran aktivitas masyarakat mengubah arah kebijakan publik? Perlukah meningkatkan kampanye untuk melindungi minat konsumen dan mereka yang telah berumur (tua)? Perlukah administrator memperkenalkan rencana menyeleluruh untuk pemeliharaan dan konservasi hutan belantara dan sumber alam? Apakah sebaiknya birokrasi publik melobi pihak-pihak terkait untuk menjalankan . Teori normatif berhubungan/berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: apakah suatu institusi (dalam hal ini birokrasi publik) harus menerima peran-peran politik dan pengembangan kebijakan. ini tidak sulit untuk melihat bagaimana pertanyaan-pertanyaan ini mempengaruhi kemampuan agen- agen administrasi guna menyikapi adanya misi yang berubah. Beberapa sarjana menyebutnya dengan teori normatif. diperluas atau dipersempit. Ketika pertanyaan ini diterapkan kepada studi administrasi publik. apakah bukan peran- peran politik dan pengembangan kebijakan. seperti sistem-sistem yang dimaksudkan untuk menemukan penyebab kesulitan dan sebagai petunjuk untuk perubahan. 2) Teori Normatif Ada teori lain yang mempengaruhi studi administrasi publik.

3) Teori Asumtif Teori asumtif berhubungan dengan peningkatan kualitas praktik- praktik administrasi dengan menerima kelaziman orang (laki-laki) dalam interaksinya dengan lembaga-lembaga politik dan untuk memahami mengapa ia berkelakuan. Di sini asumsinya adalah administrasi publik belum bisa diuraikan secara cukup atau sebenarnya peranannya dibatasi oleh realitas/kenyataan. Hal ini disebabkan pengetahuan yang kita miliki tentang orang-orang dan bagaimana hubungan mereka dengan lingkungan lembaganya masih kurang lengkap. . Pada proses ini ahli-ahli teori administrasi publik dapat membantu. Dalam hal ini kita dapat melihat bahwa dengan teori normatif membantu administrasi publik untuk menetapkan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). 30 kebijakan guna memecahkan krisis enegi? Atau menghindari perbedaan di semua peran untuk menghormati hak istimewa eksekutif terpilih dan badan pembuat undang-undang? Ini adalah pertanyaan dari teori berdasarkan norma (teori normatif). di sinilah letak perhatian Bailey berkaitan dengan pengetahuan tentang umat manusia dan proposisi-proposisi yang telah teruji dari ilmu sosial dan ilmu perilaku dapat dipakai oleh administrasi publik. seperti yang ia kerjakan di dalam setting birokrasi.

Teori instrumental barangkali sebagai penutup aliran klasik administrasi. Bagaimanapun. Sebaliknya. Di dalam literatur klasik ini merusak. Berhubungan dengan bagaimana dan kapan untuk mengimplementasikan program- program pertumbuhan merupakan bagian langsung untuk menyatakan kebutuhan dari program-program itu sendiri. kurang relevan dengan tugas-tugas administrasi pada tahun 1970-an yang lalu. Misi utama administrai publik yaitu menetapkan nilai-nilai lain yang diterapkan di dalam sistem politik. 31 4) Teori Instrumental Akhirnya. teknik-teknik yang mengantarkan harus tersedia untuk menjadikan kenyataan. sebelum teori normatif berjalan efektif dan memberikan petunjuk secara garis besar yang realistik. . Jika “mengapa” dari pemerintah dan administrasi publik lebih penting dari pada masa lalu pasti juga harus “bagaimana” dan “kapan”. yang dimaksudkan bukan seperti tersebut di atas karena ia menyediakan alat operasi yang memiliki sifat-sifat dasar perusahaan. beberapa sarjana menyampaikan teori mereka sendiri dalam menetapkan penyempurnaan teknik-teknik adminstrasi manajemn.

terutama kajian-kajian atas perusahaan swasta. 1. sesuai dengan penekanan di awal abad kedua puluh. Evolusi Teori Administrasi Publik Penguraian materi ini banyak diambil dari bukunya Morrow Publik Administration Politic and Political System (dalam Sundarso. Dapat dikatakan telah terjadi perkembangan semenjak tradisi-tradisi menjadi norma-norma di dalam administrasi publik. yang menekankan pada efisiensi sebagai tujuan utama dari administrasi publik maupun administrasi privat. Pemanfaatan teori di dalam administrasi publik telah mengiringi pertumbuhan administrasi publik sebagai suatu disiplin ilmul pada gilirannya. dkk. dukungan teori datang dari sumber-sumber nonpublik. Morrow secara garis besar membagi evolusi teori ini perkembangannya ke dalam dua golongan besar teori yaitu teori klasik dan administrasi modern (contemporary theory). berkenaan dengan administrasi publik sebagai disiplin telah mendorong kebutuhan untuk menyadarkan diri pada birokrasi publik.28) dan di sana sini dilengkapi dengan pendapat sarjana-sarjana lain. Teori Administrasi Klasik Banyak dugaan teori untuk administrasi publik merupakan awal yang mengasyikan. 2006 : 1. dengan tekanan- tekanan politik menjadikan administrasi sebagai instrumen yang lebih efeiktif dari kemauan publik. 32 B. .

baik pada privat dan pada sektor-sektor publik telah diilustrasikan dengan baik oleh Frederick W. Taylor dalam karyanya Principles of Scientific Managemen. Walaupun di sana telah dikemukakan faktor-faktor di dalam administrasi publik yang membuat “satu jalan/cara terbaik” lebih sulit untuk ditetapkan dibanding dengan administrasi privat. koordinasi. dan supervisi pekerjaan dalam administrasi publik. Ajaran Taylor menekankan pada manajemn mekanik. Ini merupakan esai yang terkenal pada tahun 1937 . Leonard D White dan Luther Gulick menulis langkah-langkah administrasi yang bersifat ortodoks/kuno/lama. banyak menGgambarkan usaha Taylor. ia (Taylor) terkena atas penekanannya pada pembagian kerja yang rasional. Kadang-kadang prinsip ini disebut Taylorisme. para sarjana klasik menitiberatkan para manajemen ilmiah. ajaran Taylor menekankan pada peleburan atau penyatuan sumber daya dan tenaga kerja untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dengan cara yang lebih efisien. ukuran alat-alat kerja. ajaran Taylor atau sering juga disebut sebagai aliran manajemen ilmiah. gerakan para pekerja dan training pekerja untuk keahlian-keahlian mekanik dan supervisor dengan tujuan untuk memperoleh satu cara yang terbaik guna mengimplementasikan suatu kebijakan yang ditetapkan sebelumnya. Gulick memberikan contoh. Pengaruh Taylor’s di awal studi dan praktik administrasi publik sangat besar. 33 Korelasi antara kepopuleran administrasi klasik dengan penekanannya pada efisiensi.

ini sebagai model rasional dengan tekanannya pada aturan-aturan dan prinsip-prinsip legal formal. Model Weberian yang dilambangkan oleh praktik demokrasi Barat. seperti halnya Taylorisme. Weber menemukan hal ini dalam studinya di masyarakat yang beragam. sisi kemanusiaan administrasi mengarahkan dan memotivasi administrator sebagai profesional dan pribadi sosial. 34 atas peran eksekutif dalam pemerintahan. penyusunan staf. POSDCORB adalah suatu istilah yang mencakup tanGgung-jawab eksekutif atas suatu perencanaan. yaitu tradisional. Masyarakat Barat memuja-muja tata . Memusatkan perhatian pada pola-pola kewenangan di dalam birokrasi. tulisanWeber menekankan pada deskripsi yang agak preskripsi. Gulick memperkenalkan idenya/gagasannya mengenai POSDCORB. Sosiolog Jerman Max Weber (1864 – 1920) yang paling berpengaruh pada administrasi publik Amerika. koordinasi. Masing-masing tipe ideal disesuaikan dengan kegunaan dan urgensinya. Weber menguraikan tiga tipe ideal kewenangan. yang direpresentasikan dalam perkataannya “suatu rumusan yang dimaksudkan untuk memperhatikan bahwa pekerjaan pimpinan eksekutif itu merupakan unsur- unsur fungsional yang beragam”. Malahan sebagai pemberian status dan kewenangan ke individu-individu. Berlawanan dengan aliran manajemen ilmiah. pelaporan dan penganGgaran. pengarahan. Teori administrasi klasik juga meminjam tulisan-tulisan intelektual asing. kharismatik dan rasional. pengorganisasian.

Yang lain keberatan atas idealisme ini yang jelas-jelas tidak menggambarkan realita. Seperti Taylorisme yang memisahkan dimensi sosial dan psikologis dari perilaku administrasi. dan Komisi Houver merekomendasikan untuk mencoba . Perluasan prinsip merit/balas jasa. atau para pelanggan semua dapat dilacak pada model yang rasional. Memperoleh argumen tandingan bahwa sejak model rasional sungguh-sungguh sebagai akurat. banyak kritik terhadapnya. pemilihan pegawai berdasrkan jasa sebagai lawan patronase (perlindungan). Weber tidak bermaksud memasukkan faktor-faktor psikologi sosial di dalam mengkonstruksi modelnya. Ciri-ciri lain model rasional termasuk di dalamnya pembagian kerja secara ilmiah. Sarjana Amerika sudah sering menggunakan model rasional sebagai model normatif dibanding sebagai deskriptif model sehingga reformasi administrasi di awal pertengahan abad ke 20. Studi Federal. sering merefleksikan selera Weberian. fungsi. seperti Studi Komisi Taft atas Efisiensi dan Ekonomi. merupakan pengkerucutan dari masyarakat-masyarakat yang sama. Walaupun banyak dukungan untuk model rasional ditentukan di masyarakat Barat. hierarki hubungan atasan-bawahan. Komite Brownlow. Banyak sarjana Amerika mengeritik hal ini. 35 hukum meskipun ini abstrak dan tidak berkepribadian. gerakan untuk memperkuat kepemimpinan eksekutif. dan gerakan reorganisasi yang berbentuk aktivitas-aktivitas kelompok secara rasional berdasarkan area.

Banyak administrator mempertimbangkan ini penting dan ini merupakan masukan besar dalam pengambilan keputusan yang mereka buat. teori preskriptif dapat dipandang sebagai teori deskriptif. pertimbangan yang mendasar. Seperti bagan-bagan yang memisahkan dengan jelas garis-garis kewenangan. ia dapat berargumentasi bahwa dari prespektif bagan organisasi semua agen administrasi (publik atau pribadi) setuju mengoperasikan prinsip-prinsip administrasi klasik. di sana banyak administrator kunci yang masih menekuni teori klasik artinya bahwa teori klasik masih menyisakan kekuatan yang berarti pada administrasi modern ini. hubungan atasan-bawahan dan hubungan lini dan staf. deskriptif dan normatif. Sering pertimbangan-pertimbangan yang sama dari beberapa sarjana dan praktisi. Apakah ya atau tidak. Oleh karena itu para siswa yang mempelajari teori-teori asumtif. mempunyai alasan tersendiri mengenai pengaruh prinsip-prinsip administrasi klasik terhadap pengambilan keputusan administrasi. dalam kenyataan ia selalu dapat bekerja. Tentu saja di sana ada suatu jaringan hubungan informal yang membuat perilaku organisasi berbeda antarfakta dibanding teori. 36 menerapkan dalam kenyataan apakah model rasional menyimpang dari teori. Dwight Waldo telah menjelaskan mengapa prinsip-prinsip administrasi klasik . seperti kasus pada teori klasik. Meskipun demikian. ini sebagai yang diproyeksikan dalam teori yang sebagian besar tidak relevan. instrumental.

Pencarian untuk penjelasan yang menyebabkan perilaku administrator memimpin peneliti-peneliti psikologi. Teori klasik dalam pengertian ilmiah. Disertai oleh usaha seluruh ilmu-ilmu sosial. merencanakan. sosiologi dan politik. Ini perhatian kecil yang perlu diindahkan atas respons para pekerja terhadap norma-norma yang mengabaikan faktor-faktor yang menGgerakan perilaku mereka. riset-riset atas pengambilan keputusan administrasi telah memberi petunjuk untuk dipertimbangkan pengaruh manusia sebagai masyarakat dan aktor politik. seperti Dwight . melaporkan dan mengkoordinasi. Penulis-penulis. seperti seseorang memimpin di dalam Kantor Pemberi Hak Paten di tahun 1947. Teori Administrasi Modern Suatu serangan hebat atas aplikasi yang tak memenuhi syarat dari prinsip-prinsip klasik ke administrasi publik terjadi setelah Perang Dunia II. mensupervisi. Dengan demikian menyimpang dari orientasi preskriptif teori klasik dengan lebih banyak ciri deskriptif teori modern. kadang-kadang jatuh karena ia memberikan perhatian kecil kepada efek-efek reorganisasi dari hubungan- hubungan kelompok primer atas status pekerja. Orientasi studi manajemen ilmiah. ini sehubungan dengan penekanannya untuk satu cara terbaik dalam membagi tenaga kerja. 2. 37 sebagai dasar untuk memahami “bagaimana”. “mengapa” dan “sebaiknya” administrasi publik.

dapat mengakibatkan tidak efisiensi. Seperti teori klasik. Charles Hyneman. Simon memberi kesan bahwa faktor-faktor sosial dan psikologi sosial mempengaruhi sikap-sikap pekerja. Robert Presthus. “Satu cara terbaik” untuk melaksanakan program-program dapat ia pastikan pernah diarahkan. termasuk analisis deskriptif organisasinya. Politik berhubungan dengan mengatasi bentrokan/perselisihan antar nilai-nilai di mana nilai-nilai merepresentasikan pilihan individual. Pandleton Herring. Salah satu sarjana Herbert Simon menolak pemisahan dengan sengaja antara fakta dan nilai-nilai yang ditanyakan dalam riset. Simon menolak menetapkan nilai-nilai sebagai bidang politik. 38 Waldo. Oleh karena itu. Isi kebijakan telah dihimpun. maka Sarjana-sarjana tersebut di atas menganggap administrasi publik secara keseluruhan harus mempertimbangkan dampak politik. Sepanjang yang berhubungan dengan pertanyaan mengapa administrasi publik merupakan proses politik. Studi Hawthorne yang terkenal. dan Simon memimpim kampanye ini. sesudah Perang Dunia II teori modern telah disokong oleh riset pribadi. Mengabaikan terhadap faktor-faktor psikologi sosial. Secara metodologi dekat dengan Taylor dan Gulick. Pemilihan “satu cara terbaik” untuk mengimplementasikan program akan dipertimbangkan faktor-faktor kemanusiaan sebagai formalitas dari organisasi dan pembagian kerja. sulit disatukan yang menyebabkan tumbuh pesimisme atas dapat dipakainya ilmu ini sebagai suatu kajian. yang . Stephen Bailey.

Di dasar piramida adalah kebutuhan fisik dasar. beberapa tahun yang lalu. ini tidak mendapat perhatian di dalam administrasi publik sampai lama kemudian. (2) Penghargaan nonekonomik dan sanksi. perilaku empat belas pekerja telah dinilai dibawah berbagai kondisi kerja untuk menentukan efek kondisi kerja yang berubah-ubah atas produktivitas pekerja. Studi seperti tersebut menjadikan faktor human relation merupakan komponen penting dari teori administrasi modern. rasa- rasanya lebih bertanggung jawab atas kondisi perilaku pekerja. Didukung oleh studi lain yang serupa. seperti tersebut mengungkapkan bahwa (1) Norma-norma sosial dibanding dengan kapasitas fisiologis. bukan faktor ekonomi. menentukan tingkat produksi. walaupun diselenggarakan antara 1927 dan 1932. Ahli teori aktualisasi diri menyatakan bahwa dalam jiwa orang (laki-laki) terdapat suatu hierarkhi kebutuhan yang mana ia mencoba untuk memuaskannya dengan cara sebagai pekerja. Akhir periode ini. Manajemen heran mendengar bahwa faktor-faktor sosial. dan (3) Sering para pekerja bereaksi bukan sebagai individu. tetapi sebagai suatu kelompok. Pendekatan hubungan antarmanusia lebih lanjut matang dengan riset dan tulisan para ahli aktualisasi diri. 39 disponsori oleh Western Electric. tulisan terbaik diwakili oleh tulisan Abraham Maslow dan Chris Argyris. eksperimen-eksperimen. lebih banyak dihubungkan dengan tekanan- tekanan kelompok signifikan mempengaruhi perilaku pekerja dan membatasi rencana-rencana insentif ekonomi. seperti . Perincian eksperimen diketahui dengan baik.

ia memuaskan egonya melalui prestasi kerjanya dan pengakuan dari sesama rekan sekerjanya. untuk menyumbang saudara sebidang studi. dianalisis secara matematika. Inovasi yang baru saja diterima di dalam teori administrasi berakar kuat pada aliran human relation. 40 kebutuhan makanan. dengan mana perilaku dipandang sebagai suatu respons interaksi individu dan agen dengan factor lingkungan eksternal. ia mencari persahabatan dan kehormatan dari rekan sekerja. dan psikologi. dan tempat berteduh. Teori keputusan menerapkan sindrom yang kompetitif untuk menganalisis peran-peran individu berkenaan dengan keputusan tunggal. dengan mana kompetisi antarindividu untuk berbagai penghargaan yang ditetapkan sendiri. sosiologi. . Selanjutnya derajat kebutuhan yang lebih atas. Meskipun pembagian ini hanya dalam pemisahan format. Banyak riset telah difokuskan pada teori system. hal ini penting untuk kecaggihan studi teori administrasi. seperti ekonomi. Selanjutnya derajat kebutuhan yang labih tinggi. Beberapa sarjana menekan teori permainan. Masing-masing variasi ini berakar pada pemisahan disiplin adminitrasi publik dari ilmu politik. pakaian. matematika. Akhirnya pada tingkat paling atas. orang mengaktualisasikan dirinya dengan menyatukan kesuksesan dan tanggung jawab di posisinya dengan cita-cita pribadinya.

Pada abad ke 118 di Eropa Barat. 41 BAB III PERKEMBANGAN PARADIGMA TEORI ADMINISTRASI A. Selanjutnya studi tentang administrasi publik di Amerika Serikat baru dimulai pada abad 19 yang dipelopori oleh Woodrow Wilson dengan tulisannya yang berjudul The Study Of Administration pada tahun 1887. dan de Play (Albrow. Sejak saat itu adminsitrasi publik mulai diakui sebagai sebuah spesialisasi. Misalnya . Perkembangan administrasi publik. baik sebagai bagian dari ilmu politik maupun sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. seperti istilah birokrasi. Keberadaan Administrasi Dalam Negara Keberadaan administrasi Negara (publik) pada dasarnya sudah ada bersamaan dengan keberadaan system politik suatu Negara. Perkembangan lain yang dapat dikemukakan adalah terkait dengan bagaimana para pakar administrasi mendefinisikan ilmu ini. mulai dikembangkan pendekatan sosiologis dalam studi tentang birokrasi. Kemudian. misalnya oleh H. 1979:17). banyak dipengaruhi oleh perkembangan kajian tentang aktifitas administrasi dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu. pada abad ke 19. sudah ada kajian mengenai birokrasi pemerintahan yang ditinjau dari segi hukum dan politik. Administrasi publik melaksanakan fungsi pencapaian tujuan dari program yang telah dibuat oleh pembuat kebijakan dalam proses politik. Spencer. seperti yang dilakukan De Gournay. Kajian-kajian tersebut menggunakan beberapa istilah.

Dengan pendekatan ini. dan individu yang bertindak sesuai dengan peran dan jabata resmi dalam pelaksanaan peraturan perundang- undangan yang dikeluarkan oleh lembaga legislative. administrasi public diharapkan dapat bekerja lebih . dianggap penting untuk digaris bawahi gagasan yang dikemukakan oleh Land an Rosenbloom dalam Azhar Kasim (1993. ilmu admisnitrasi publik adalah studi tentang seluruh proses. efektif dan lebih manusiawi. Kemudian dilanjutkan oleh Henry bahwa tujuan administrasi publik adalah untuk memajukan pemahaman tentang pemerintah dan hubungannya dengan rakyat yang pada gilirannya akan memajukan kebijakan public yang lebih responsive terhadap tuntutan sosial. daripada pembuatan kebijakan dan kurang memiliki fleksibilitas dan diskresi secara komparatif ketika menerapkan provisi legal. dan untuk menetapkan praktek manajemen yang efisien. Dalam pengertian yang lebih luas. Definisi ini secara implicit menganggap adminstrasi publik terlibat dalam seluruh proses kebijakan publik. Hesse dan Peter dalam Knill (2001) bahwa administrasi publik lebih berfungsi sebagai aplikasi hukum. adminsitrasi publik menurut Henry (2004) ialah suatu kombinasi teori dan praktek birokrasi publik. Pandangan ini berbeda dengan pendapat Ellwein. 42 Gordon dalam Kasim (1993).21) yang menyatakan bahwa adminsitrasi public harus dilaksanakan dengan melihat kebutuhan masyarakat. eksekutif dan peradilan. Sehubunag dengan hal tersebut diatas. organisasi.

43

efisien dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat yang dianGgap

sebagai konsumen sebagaimana halnya perusahaan swasta. Pendekatan

ini lazim disebut sebagai pendekatan populis, dikarenakan pendekatan ini

menginginkan administrasi public agar lebih dikendalikan oleh kebutuhan

masyarakat yang memerlukan pelayanan.

Gambaran tersebut diatas menunjukan bahwa studi administrasi

public dapat dianggap bersifat multidisipliner dan elektis. Hal ini didasari

oleh karena dalam studi-studinya mengadaptasi ide, metode, dan teknik

dari disiplin lain.

B. Paradigma Administrasi Negara

Administrasi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial.

Administrasi sebagai ilmu pengetahuan berada dalam pemikiran manusia

ilmuwan senantiasa dihadapkan pada berbagai bantahan dan wajib

memberikan penjelasan tentang nilai kebenaran, sesuai dengan prinsip-

prinsip umum empiris. Sebenarnya focus utama dari ilmu administrasi

adalah persoalan tentang manusia, terutama yang berkaitan dengan

pengaturan dan keteraturan dalam rangka peningkatan kebahagiaan dan

kesejahteraan manusia itu sendiri.

Kata paradigma dilontarkan pertama kalinya oleh Thomas S. Kuhn

yang kemudian berkembang dalam seluruh aspek kehidupan manusia,

baik dalam organisasi formal dalam artian organisasi pemerintah secara

resmi maupun organisasi informal. Paradigma adalah suatu pandangan

44

yang disepakati dari seluruh anggota organisasi, jika paradigmanya

organisasi dan jika paradigmanya negara maka semua pandang yang

telah disepakati seluruh warga negara yang bersangkutan dan

sebagainya.

Paradigma administrasi merupakan suatu teori dasar atau ontologi

administrasi dengan cara pandang yang relatif fundamental dari nilai-nilai

kebenaran, konsep, dan metodologi serta pendekatan-pendekatan yang

dipergunakan. Perubahan paradigma disebabkan oleh perkembangan

pemikiran para ilmuwan administrasi atas bantahan-bantahan karena

keraguan kebenaran yang dikandungnya itu telah mengalami pergeseran

makna.

Perkembangan paradigma administrasi sebagaimana dikemukakan

oleh Nicholas Henry (2004) terbagi atas lima perkembangan paradigma

adminitrasi yaitu :

1) Paradigma I : Dikotomi Politik Administrasi (1900-1926)

Periode ini ditandai dengan peluncuran buku yang ditulis oleh Frank

J. Goodnow dan Leonardo D. White. Dinyatakan oleh Goodnow (Henry,

2004:22) bahwa pemerintahan mempunyai dua fungsi yaitu ; pertama,

fungsi politik yang menyangkut pembuatan kebijakan atau pengekspresian

kemauan negara. Kedua, fungsi administrasi yang menyangkut

pelaksanaan dari kebijakan yang telah dibuat. Dua fungsi ini dicontohkan

dengan baik oelh system pemisahan kekuasaan di Amerika Serikat.

45

Meskipun pada dasarnya Goodnow berpendapat bahwa administrasi

public semestinya terpusat pada birokrasi pemerintahan.

Administrasi public mulai memperoleh legitimasi akademik pada

tuhun 1920-an, khususnya setelah terbit karya Leonard D. White, (Henry,

2004:23). White secara tegas menyatakan bahwa politik seharusnya tidak

mencampuri administrasi dan administrasi public harus dianggap sebagai

studi ilmiah dan dapat bersifat bebas nilai. Sedangkan misi pokok

administrasi public adalah efisiensi dan ekonomis. Pada periode pertama

ini terlihat dengan jelas bahwa studi administrasi lebih menekankan pada

lokus atau tempat dimana administrasi itu berada.

2) Paradigma II : Prinsip-prinsip Administrasi Publik (1927-1937)

Periode dua dalam perkembangan administrasi ditandai dengan

munculnya tulisan W.F. Willoughby yang berjudul Principles of Public

Adminidtration. Pada masa perkembangan ini, diasumsikan ada beberapa

prinsip administrasi yang bersifat universal, berarti tidak dibatasi oleh

dimensi ruang dan waktu. Prinsip administrasi hanya berlaku pada

lingkungannya, dan tidak terlihat bentuk budaya, fungsi, dan lingkungan,

misi, dan institusi. SehinGga prinsip administrasi itu dapat diterapkan

dimana saja, baik dinegara maju maupun dinegara sedang berkembang.

(Henry, 2004:23-24).

Tokoh-tokoh dalam periode ini antara lain adalah Marry Parker

Follet, Henry Fayol, James D. Money, dan Alan C. Relley. (Henry 2004).

46

Para pakar teori organisasi sering menamai tokoh-tokoh tersebut sebagai

penganut mahzab manajemen administrasi. Karena fokusnya pada hirarki

dalam organisasi. Tokoh lain yang juga muncul dalam periode ini adalah

Luther H. Gulick dan Lyndall Urwich yang memperkenalkan prinsip

administrasi POSDCORB (planning, organizing, Staffing, Directing,

Coordinating, Reporting, Budgeting). (Henry, 2004:25).

Selanjutnya pada periode antara 1937-1947. Chaster I. Barnard

muncul dengan memperkenalkan buku berjudul The Function of

Executive. Buku ini banyak mempengaruhi Herbert Simon dalam kajian-

kajiannya. Pada decade 1940-an, gejilak administrasi menampilkan dua

arah. Pertama, telah tumbuh kesadaran bahwa politik dan administrasi

bisa dipisahkan, dalam pengertian apapun. Kedua, prinsip administrasi

secara logis tidak konsisten. Simon secara terang-terangan mengabaikan

prinsip administrasi.

3) Paradigma III : Administrasi Publik sebagai Ilmu Politik (1950-

1970)

Pada periode akhir tahun 1930-an, muncul beberapa kriti terhadap

administrasi public, seperti dilontarkan oleh Simon. Dampak kritikan ini

berujung pada kembalinya administrasi public pada disiplin ilmunya, yaitu

ilmu politik. Hal ini kemudian berimbas pada pembaruan definisi mengenai

lokus yang ditujukan kepada birokrasi pemerintahan, tetaapi melepaskan

hal yang berkaitan dengan focus. Periode ini dianGgap sebagai upaya

47 meninjau kembali segala jalinan konseptual antara administrasi public dan politik. periode ini ditandai dengan penekanan lokus yaitu birokrasi pemerintahan. dan . yaitu menjadikan administrasi sebagai ilmu dengan demikian. 4) Paradigma IV : Administrasi Publik sebagai Ilmu Administrasi (1956-1970) Berlakunya paradigm ke-4 hampir bersamaan waktunya dengan paradigm ke-3. Ringkasnya. Teori organisasi yang semula dikembangkan oleh para psikolog. Sementara itu ilmu manajemen lebih berdasar pada hasil penelitian dari para pakar statistic. ilmu administrasi tidak kelihatan identitas dan spesifikasinya. Dengan demikian wajar jika publikasi tentang administrasi public pada tahun 1950-an hanya berbicara tentang penekanan focus. dan bahkan sinonim dengaan ilmu politik. sosiolog. dan para ahli administrasi niaga. analisis system. (Henry:2004). Istilah ilmu administrasi disini diartikan sebagai segala studi didalam teori organisasi dan manajemen. Sedangkan tulisan yang muncul berusaha mengaitkan administrasi dengan ilmu politik. serta para ahli administrasi public diangkat untuk lebih memahami perilaku oranisasi. atau wilayah kepentingan. baik dalam ilmu politik maupun dalam ilmu administrasi. Namun konsekuensi upaya tersebut hanya menciptakan koridor studi yang akhirnya pada ketrampilan belaka. Pada periode ini ilmu administrasi mulai mencari bentuk dan mencari jalan keluar dari posisinya sebagai kelas dua dari ilmu politik. ekonom.

2004). muncul “pengembangan organisasi” sebagai bagian dari ilmu administrasi. Pada kasus ini. melainkan pula menunjukan kepercayaan diri adminisrasi public (Henry. Thompson dan sebagainya. focus lebih dipentingkan daripada lokus. tetapi muncul masalah baru tentang garis yang memisahkan antara “public” dengan administrasi “private”. Richard Cyret dan March. Selain itu. 48 pakar administrasi public. Pada tahun 1960-an. sehinGga paradigma-4 ini belum dapat mengatasi masalah lokus administrasi public. Tokoh yang mempeloporinya antara lain adalah James G. Kedua hal tersebut adalah: para pakar . 2004) Meskipun demikian belum diperoleh kata sepakat mengenai focus dan lokus administrasi public. 5) Paradigma V : Administrasi Publik sebagai Administrasi Publik (1970-sekarang) Paradigma ini distimulasi dengan pendirian the National Association of Schoolls of Public Affairs and Administration (NASPAA). tetapi pemikiran Simon tentang dua hal yang perlu dikembangkan dalam disiplin administrasi public kembali mendapat perhatian serius. dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas program scara lebih tepat dan efisien. Formasi lembaga ini tidak hanya menandai perkembangan administrasi public. (Henry. James D. March dan Herbert Simon. Spesialisasi baru ini menarik perhatian para sarjana ilmu administrasi. pengertian public dalam administrasi public juga sedang diperdebatkan.

mengapa dan bagaimana keputusan dibuat?. C. yang menjadi perhatian Simon adalah adanya kemajuan dalam merencanakan lokus administrasi public yang relevan bagi administrator public. Teori tersebut lebih memusatkan pada bagaimana dan mengapa anggota organisasi bertingkah laku?. New Public Management (NPM). Old Public Administration (OPA). Hal kedua. Hal pertama terlihat dalam perkembangan teori organisasi selama dua puluh tahun terakhir. Denhardt and Denhardt (2003) mengemukakan tiga perspektif dalam perkembangan teori administrasi public yaitu . Hal lain juga yang terlihat dalam perkembangan administrasi diera ini yaitu adanya kemajuan yang dicapai dalam teknik manajemen yang juga menGgambarkan apa yang telah dikaji dalam pengetahuan teoritis tentang analisis organisasi. daripada mempersoalkan bagaimana hal tersebut akan terjadi?. dan New Public Service (NPS) berikut ini akan digambarkan perbandingan ketiga perspektif berikut : . 49 administasi public yangmaminati pengembangan satu ilmu murni mengenai administrasi. Perspektif Perkembangan Administrasi Negara Selain perkembangan tersebut diatas ada tiga perspektif yang berkenaan dengan perkembangan administrasi public. dan kelompok yang meminati persoalan administrasi public.

) dan pandangan ketiga menyatakan bahwa ilmu administrasi publik dan politik memiliki hubungan yanga sangat erat dan tidak dapat dipisahkan bahkan ilmu administrasi memiiliki cakupan. 1992. 1960. 1995. Dalam berbagai pandangan yang tegas antara politik dan administrasi publik. 1995. Goodnow dalam Henry. 2003. 2003. 2008. Walaupun dalam menjalankan peran dan fungsi dijalankan oleh aktor yang berbeda. dan Jon Piere. peran. Dimock and Dimock dan Koening. 50 1) Old Public Administration (OPA) Untuk menguraikan berbagai perspektif dan orientasi pandangannya dengan merujuk kepada perkembangan paradigmaa ilmu administrasi publik. 1995. 1975. 1975. 1989. lingkup. Pandangan bahwa ilmu administrasi publik berbeda dan terpisah dari ilmu politik merupakan pendapat (pandangan) dari teori yang mendasari paradigma Old Publik Administration (OPA) yang juga sejalan dengan paradigma ilmu administrasi oleh Henry (1975) berdasarkan pada . Pandangan pertama menyatakan bahwa ilmu administrasi publik terpisah dan berbeda dengan ilmu politik (Henry. Azhar Kasim. fungsi dan orientasi politik (Roseblom dan Goldman. 1997. demikian juga memiliki struktur yang berbeda pula. 1988. 1990. Dimock and Dimock. Fredericson. Goodnow. pendekatan. 1953. 1926. Allen Schick dalam Toha. 2008). 1889. Wilson. Kumorotomo. Nigro dan Nigro. 2002. 1993. Henry. white. Toha 2007f). cabang. Waldo. dan Denhardt. Pandangan kedua menyatakan bahwa administrasi publik sebagai ilmu politik (Henry. Denhardt and Denhardt. RiGgs.

dan Dwigt Waldo. Wilson (1887) menegaskan bahwa eksistensi administrasi publik sebagai ilmu yang merupakan bidang pengetahuan yang murni dan berada diluar masalah politik. pemerintahan dan kebijaksanaan. badan .43) dengan idenya memperkuat paradigma dikotomi politik dan administrasi sebagaimana karyanya yang berjudul Political and administration mengatakan bahwa politik berkaitan dengan kebijakan atau berbagai masalah yang berhubungan dengan tujuan Negara. sementara subtansi ilmu administrasi pada masalah-masalah organisasi. Goodnow. Frank J. Pemisahan administrasi dan politik dimanifestasikan oleh pemisah antara badan legislative yang bertugas mengespresikan kehendak rakyat. dan penyusunan anGgaran dalam system birokrasi pemerintah. Selanjutnya Goodnow dalam Henry (1995. Paradigma dikotomi politik-administrasi ini menginginkan subtansi politik danya meliputi masalah-masalah politik. Paradigma ilmu administrasi publik terdiri atas lima paradigma dimana salah satu paradigmaanya (paradigma pertama) adalah paradigma dikotomi poltik dan administrasi (1900-1926) dengan tokoh-tokohnya Wodroow Wilson. sedangkan administrasi berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan tersebut. White. Goodnow (1990)) mengungkapkan bahwa politik harus memusatkan perhatian terhadap kebijakan dari kehendak rakyat. 51 pergeseran focus kepentingan dan lokus dimana secara institusional administrasi dipraktekan. Leonard D. kepegawaian.

badan yudikatif membantu legislative menentukan tujuan dan merumuskan kebijakan. 52 eksekutif yang bertugas mengekspresikan kehendak rakyat. (a) sebagai organisasi dan manajemen guna mencapai tujuan-tujuan . sedangkan Waldo (1953) memberikan pandangan administrasi publik yang berhasil membebaskan administrasi publik dari ilmu politik. asalkan prinsip-prinsip yang ada didalamnya harus diterapkan. Administrasi publik dipandang memiliki karakteristik yang universal. maka implementasi administrasi publik harus diorientasikan pada birokrasi pemerintahan dan masalah masalah publik. bahwa eksistensi administrasi publik hanya efektif apabila dapat diintegrasikan diantara ilmu pemerintahan dan ilmu administrasi. yaitu dapat diimplementasikan pada semua tatanan administrasi tanpa mempedulikan kebudayaan. fungsi lingkungan. Administrasi publik dapat dilihat pada dua sudut pandang. yaitu. badan eksekutif yang mengimplementasikan kehendak rakyat. Berbeda dengan yang dikemukakan White tentang kedudukan bidang administrasi publik. misi dan kerangka institusi. Oleh karena itu kalau administrasi publik ingin efektif. dengan menyatakan bahwa “Publik administration is the organization and management of men and materials to achive the purpose of government” walaupun disadari bahwa terjadi keterbatasan gerak administrasi publik apabila hanya berorientasi pada focus dan tidak focus suatu tatanan administrasi.

et all. mengawasi dan merealisasikan kepentingan-kepentingan publik. dan (b) sebagai seni dan ilmu tentang manajemen yang digunakan untuk mengatur urusan Negara (Dwigh Waldo. Adminsitrasi publik sebagai administrasi organisasi yang bersifat publik (kenegaraan atau antar kenegaraan) dengan tujuan kepentingan publik dapat tercapai. Dalam menGgerakkan organisasi yang bersifat publik merupakan keseluruhan operasi yang bertujuan untuk melaksanakan atau menegakkan kebijakan publik.17). (1991 : 4) menyatakan administrasi publik sebagai kegiatan penyediaan pelayanan publik yang kompleks. Selanjutnya.. Menurut Levine.15) menyatakan administrasi publik sebagai studi mengenai aktifitas-aktifitas dan dampak dari birokrasi pemerintah. Lane (1986 . Sedangkan Perry dan Keller dalam Bingham. dan Thompson (1990 :3) administrasi publik berfokus pada kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah yang terlihat dari pertanGgung jawaban eksekutif. yang terdiri kegiatan-kegiatan proses administrasi sehari-hari sampai proses pembuatan kebijakan publik. 1996. dengan tokoh-tokohnya adalah . 53 pemerintah. pandangan yang menyatakan bahwa administrasi publik sebagai ilmu politik. Administrasi berhubungan dengan manajemen program publik dan dapat mengekomodasi semua aspek kehidupan dalam masyarakat dan kemudian mengatur. juga ditemukan dalam paradigmaa ilmu adminsitrasi publik (paradigma ketiga) Henry (1975) yaitu paradigmaa administrasi publik sebagai ilmu politik (1950-1970). Peters.

Herbert Simon. Dimock dan Koening (1960) menyatakan bahwa adminsitrasi pada hakekatnya memiliki mengurusi organisasi dan manajemen pemerintah dalam melaksanakan kekuasaan politiknya. Frederick Mosher. Dimock dan Koening mengatakan bahwa “. sementara fokusnya kabur karena administrasi publik banyak kelemahannya. Robert Dahl. Selanjutnya. . and is caugh up in many ways in the tug of war between two political parties”. termasuk dalam proses penentuan kebijaksanaan politik. Dimana lokusnya adalah birokrasi pemerintah. Allen Schick. amplifies legislation. acts as a pressure group itself. dan Dwigh Waldo. Karena itu teori adminsitrasi publik juga teori politik. Disini terjadi pertentangan antara anGgapan mengenai Value-Free administration (bebas nilai administrasi) disatu pihak dengan anGgapan akan Value-Laden politics (sarat nilai politik) dilain pihak dalam prakteknya Value-Laden politics yang berlaku. Dimock. Dimock. Hal ini didukung pula oleh Allen Schick dalam Toha (2002 :33) yang berkeyakinan bahwa administrasi publik pada dasarnya mengabdi kepada kekuasaan dan memiliki kekuasaan penuh untuk membantu penguasa dalam memerintah secara lebih efisien. initiates legislation. represent pressure group. 54 Chaster Bernard. administration makes policy.. Eksistensi administrasi publik sebagai bagian dari ilmu politik karena administrasi publik pada dasarnya mengabdi kepada kekuasaan dan memiliki kekuasaan penuh untuk melakukan pengabdiannya dalam membantu penguasa dalam memerintah secara lebih efisien.

Hal ini diungkapkan oleh Rosenbloom dan Goldman (1989 :5) yang menyimpulkan definisi administrasi publik bahwa administrasi publik terlibat dalam beragam kegiatan. and judicial governmental mandates for the provision of regulatory and service function for the society as whole or for some segmen of it ” terdapat tiga peran administrasi publik yaitu : a. dan orientasi politik. . dimana pelaksanaan konstitusi merupakan hal yang paling dipentingkan dengan kepentingan utama adalah efektifitas dan responsiveness. and legal theories and processto fulfill legislative. Fungsi yang berkaitan dengan legislative dengan pendekatan politik. berbeda dengan organisasi sector privat dan berkenaan dengan implementasi hokum. 55 Pandangan ketiga menyatakan bahwa ilmu administrasi publik dan ilmu politik memiliki hubungan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan bahkan ilmu administrasi publik memilki cakupan. berkenaan dengan politik dan pembuatan kebijakan. Administrasi publik. terkonsentrasi pada Executive Branch dalam pemerintahan. cabang. “ is the use of managerial. Adanya fungsi eksekutif dengan menggunakan pendekatan manajerial dengan kepentingan utamanya adalah efisiensi. pendekatan. lingkup. political. 4) menjelaskan bahwa manajemen dalam sector publik tidak berbeda dengan manajemen dalam sector privat. peran. b. executive. Wilson dalam Denhardt (1999 .

Secara implicit. dan (b) reformasi administrasi publik. eksekutif dan peradilan. mempunyai peranan yang penting dalam formulasi kebijakan dan bagian dari proses politik. Selain kepentingan keberadaan administrasi publik yang diungkap oleh Rosenbloom dan Goldman. organisasi dan individu yang bertindak berdasarkan peran dan jabatan resmi dalam melaksanakan peraturan Per- UU-an yang dikeluarkan oleh lembaga legislative. berhubungan dengan berbagai macam kelompok swasta dan perorangan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. RiGgs (1997) mengemukakan nilai lain yaitu kepentingan publik (publik interst) dan keadilan (Equity) yang disebut demokrasi. Definisi administrasi publik lebih lengkap diungkap oleh Nigro dan Nigro (1988) menyetakan sebagai suatu kerjasama kelompok dalam pemerintahan. Azhar Kasim diatas. yaitu (a) perubahan dan transformasi publik. dan beberapa perbedaan yang penting dengan administrasi privat. legislative dan yudikatif serta hubungan diantara mereka. Lebih lanjut Azhar kasim mengemukakan aspek kunci dalam administrasi publik. fungsi yudisial dengan pendekatan hukum yang berkepentingan pada penegakan hukum. mencakup tiga cabang yaitu eksekutif. Bahkan dalam . Nigro dan Nigro. Adapun administrasi publik menurut Azhar kasim (1993 . 56 c.22) adalah studi tentang seluruh proses. definisi administrasi publik terlibat dalam keseluruhan proses kebijakan publik. Administrasi publik merupakan salah satu aspek kegiatan pemerintahan.

hubungan antara policy-makers. and bureaucracy. 57 perkembangannya demokrasi menjadi nilai yang semakin lama semakin penting dalam kaitannya dengan eksistensi administrasi publik. Modernisasi yang terjadi adalah bagaimana administrasi publik (birokrasi) yang menguasai masyarakat diubah menjadi dibawah control masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendekatan governance berupaya mewujudkan penyelenGgaraan pemerintah yang mengedepakan nilai-nilai demokrasi. government. Hal ini menjadi bagian dari proses modernisasi yang terjadi terutama di Negara-negara demokratis. Dalam penerapan pendekatan governance ini juga perlu didukung oleh institusi politik dan administrasi yang kuat agar penyelenGgaraan pemerintahan daerah dapat tetap mengedepankan kepentingan masyarakat. mengatakan terdapat 3 (tiga) aspek penting dalam studi administrasi publik yaitu : Pertama. isu yang sering didiskusikan antara lain pola dan model hubungan yang sebaiknya terbentuk. Apakah . dalam hal ini para politisi dan lembaga legislative dengan birokrasi. Hasil studi Jon Piere (1995:205) tentang administrasi publik di berbagai Negara. Pendekatan governance ini berdasarkan pada pendapat Osborne dan Geabler yang melibatkan sector institusi non pemerintah dalam bentuk pola interaksi sebagai sebuah system. efektivitas dan efisiensi. Frederikson (1997:8) menyatakan bahwa : Governance is a word and concept that performs a kind of rhetorical distancing of publik administration from politics.

yaitu . kolusi korupsi dan nepotisme (KKN). Peran birokrasi dalam dalam penyediaan pelayanan publik berkaitan dengan sberapa besar atau seberapa banyak pelayanan publik yang disediakan versus yang harus disediakan oleh pasar. Terdapat tiga pola hubungan antara lembaga legislative dan birokrasi. birokrasi tidek efisien dan tidak efektif. dinamika organisasi publik sendiri. hubungan birokrasi dengan masyrakat yang dilayani dengan civil society secara umum. (c) legislative mendominasi birokrasi. Kedua. 58 policy-makers mendominasi birokrasi ataukah sebaliknya berada pada posisi sejajar. penGgajian. (b) birokrasi memiliki kedudukan yang sejajar dengan administrasi legislative. dan modenrnisasi birokrasi serta penyediaan pelayanan publik. (a) birokrasi mendominasi lembaga lembaga legislative. kultur birokrasi yang yang menyebabkan turunya produktifitas. Hal ini selalu menjadi isu utama adalah . system kepangkatan. Profesionalisme birokrasi berkaitan dengan kompetensi para birokrat dalam menjalankan tugasnya serta bagaimana para birokrat dikelola dalam suatu system kepegawaian atau civil service system yang berkaitan dengan rekruitmen. Isu yang sering kali muncul antara lain adalah profesionalisme birokrasi. keadaan ini banyak ditemui dinegara-negara berkembang dan disebut dengan bureaucratic polity (RiGgs. rencana karir dan pensiunnya. Ketidakefisienan dan keefektifan berkaitan dengan berbagai aspek organisasi dalam birokrasi. promosi dan mutasi. penenpatan. Ketiga. 1971:399).

menurut Hughes (1994 : 68-69) dapat dilihat pada . Paradigma NPM ini juga dikenal dengan berbagai macam sebutan seperti managerialism. 59 kualitas. terutama terhadap munculnya hal hal yang berkaitan dengan akuntabilitas dan transparansi birokrasi. Strategi ini perlu dijalankan agar birokrasi model lama yang lamban. Partisipasi civil society dalam proses pembuatan dan implementasi kebijakan publik serta control masyarakat terhadap birokrasi juga menjadi isu yang sangat penting dalam konteks ini. reinventing government. Managerialism didasarkan pada teknik dan sector swasta dan digunakan lalu dipopulerkan oleh teori publik choice dan teori pasar. NPM. 2) New Public Management (NPM) Dalam perkembangan ilmu administrasi publik selanjutnya. 1994 : 326) secara makro. Sedangkan secara mikro. dan sebagainya. kaku dan birokratis siap menjawab tantangan era globalisasi. Menjelankan administrasi publik sebagaimana menggerakan sector bisnis (run government like a business atau market as solution to the ills in publik sector). Managerialism bertujuan utama pada peningkatan efisiensi. sedangkan desentralisasi dan swastanisasi merupakan sejumlah strategi yang dipakainya (Ingraham. yakni paradigma New Publik Management (NPM) di tahun 1980-an dan menguat di tahun 1990 sampai sekarang. Petter Self (1993:59-61) mengatakan bahwa pendekatan NPM berorientasi pada slimming the state antara lain melalui swastanisasi dan contracting out. kuantitas dan akses pada pelayanan publik.

perencanaan strategic. overbureaucratic. Praktek praktek yang muncul antara lain control keuangan yang semakin ketat. melakukan empowerment terbatas dengan menekankan entrepreneurial management tetapi tetap dengan pertanggung jawaban secara hierarki yang ketat. meningkatkan desentralisasi terhadap tanGgung jawab yang bersifat strategis dan terhadap pengelolaan anGgaran. b) Model NPM kedua adalah downsizing dan Desentralization dengan tujuan utama keluwesan dalam organisasi dan efisiensi dengan melakukan organizational unbundling dan downsizing. Mengurangi high degree of standardization. meningkatkan contracting out. manajemen kinerja (performance management). Usaha yang dilakuka adalah menjadikan birokrasi lebih bussines-like yang didorong oleh nilai efisiensi. 60 penerapan management strategic. anGgaran kinerja (performance based budgeting). yaitu : a) NPM model pertama didorong oleh tujan untuk melakukan efisiensi (the efficiency drive) dengan asumsi yang dipakai bahwa birokrasi bersifat wasteful. serta penerapan system kompetisi pada proses penyediaan pelayanan publik. . Pada model pertama ini sifat hirarki dan rigid untuk mengontrol efisiensi terasa sangat kental. NPM dapat dibedakan menjadi beberapa model dengan penekanan yang berbeda-beda setiap modelnya. dan underperforming. Memerangi vertical integrated organization yang masif dalam birokrasi. marginalisasi serikat buruh.

1996 : 14-15). 1996 : 11-12). Terdapat kepedulian yang tinggi bagaimana organisasi menata perubahan dan inovasi (how organization manage change and innovation) (Ewan Ferlie. 61 serta memisahkan bagian kecil yang bersifat strategis (pembuatan kebijakan) dan bagian lainnya yang lebih besar dan bersifat operasional. Birokrasi publik harus lebih menggunakan cara sterring (mengarahkan) daripada Rowing (mengayuh). melainkan sedapat . Model ini memunculkan kembali total quality management dalam sector publik dan kepedulian yang tinggi kepada pemakai pelayanan publik. c) NPM model ketiga adalah in search of excellence yang berkaitan dengan gelombang the excellence dengan menerapkan human relations school yang menekankan pada peranan nilai dan budaya dalam organisasi. Dengan cara Stering. (ewan Ferlie. pemerintah tidak langsung bekerja memberikan pelayanan publik. Model pemikiran semacam NPM juga dikemukakan oleh Osborne dan Geabler (1992) dalam konsep Reinfenting Government dengan menyuntikan semangat wirausaha kedalam system administrasi publik. Model ini dikenal juga dengan istilah management by contract dan meninGgalkan Management by hierarcky (Ewan Ferlie. 1996 : 13-14). serta bersikap skeptis terhadap pperan pasar dalam penyediaan pelayanan publik. Model ini menginginkan kembalinya kekuasaan dari appointed pada elected local bodies. d) NPM model keempat adalah Publik service orientation.

c) Promote and encourage competition rhater than monopolies. pemerintah harus menciptakan kompetisi agar sector usaha swasta dan pemerintah bersaing. d) Be driven by mission rather than rules. tetapi cukup mengendalikan sumber-sumber yang ada di masyarakat dengan mengoptimalkan pembangunan dana dan daya sesuai kepentingan public. Osborne dan Geabler menawarkan 10 (sepuluh) konsep perbaikan pelayanan publik. Model birokrasi yang hierarkis-formalistis menjadi tidak lagi relevan untuk menjawab problem publik di era global. pemerintah harus melakukan aktivitas yang menekenkan pada peraturan-peraturan. Peran Negara lebih sebagai fasilitator atau supervisor penyelenggara urusan publik. yaitu. b) Empower communities to solve their own problems rather than merely deliver service. setiap organisasi diberi kelonGgaran untuk menghasilkan sesuatu sesuai . memberdayakan masyarakat agar lebih berperan serta dalam pembangunan melalui organisasi-organisasi kemasyarakatan seperti LSM. e) Result oriented by funding outcomes rather than outputs. a) Stering rather than rowing. dan lain-lain. dalam bidang pelayanan publik. pemerintah berperan sebagai katalisator yang tidak melaksanakan sendiri pembangunan. 62 mungkin menyerahkan kemasyarakat. dan terpaksa bekerja lebih professional dan efisien.

pemerintah harus memperbaiki pola kewenangan. motivasi haus ditingkatkan dengan memberikan kesempatan yang lebih besar kepada instansi untuk menunjukan kinerja yang baik. Kelima strategi itu adalah : a) Cebter strategy. h) Invest in preventing problems rather than build hierarchy. g) Concentrate on earning money rather than just spending it. birokrat harus terdiri atas orang-orang yang tahu bagaimana memberikan kontribusi untuk organisasinya. f) Meet the needs or the costumer rather those of the bureaucracy. i) Solve problem by influencing market forces rather than treating publik programs. pemerintah harus mengutamakan kebutuhan masyarakat dan bukan kebutuhan para birokrat. . menawarkan paradigma Banishing bureaucracy yang membahas cara penetapan strategi untuk mentransformasikan system dari organisasi birokrasi ke organisasi wirausaha dengan memberikan know how untuk aplikasinya melalui 5 (lima) strategi inovatif. Selanjutnya Osborne dan Plastrik (1996). pemerintah harus memperhatikan kekuatan pasar. peran dan arah organisasi. dimaksudkan untuk menata kembali tujuan. dari berorientasi hirarki ke partisipatif dengan mengembangkan kerjasama tim. Kebijakan harus berdasarkan kebutuhan pasar. 63 misinya. disamping menghemat biaya.

e) Cultural strategy. Konsep Osborne dan Geabler diatas sejalan dengan pendapat Denhardt dan Denhardt (2003). diharapkan mampu merubah lokasi dan bentuk kendali dalam organisasi. 64 b) Consequency strategy. (c) Administrator publik ditantang untuk dapat menemukan atanu mengembangkan cara baru yang inovatif untuk mencapai hasil atau . dimana hubungan antara organisasi publik dan customer dipahami sebagaimana transaksi yang terjadi dipasar. d) Control strategy. emosi dan psikologi. (b) Penggunaan terminology dan mekanisme pasar. diharapkan dapat merubah budaya kerja organisasi yang terdiri dari unsure kebiasaan. diharapkan dapat mendorong persaingan sehat guna meningkatkan motivasi dan kinerja pegawai melalui penerapan reward and punishment dengan memperhitungkan resiko ekonomi dan pemberian penghargaan. dan merubah budaya organisasi. c) Customer strategy. Kendali dialihkan ke lapisan organisasi paling bawah yaitu pelaksana dan masyarakat. yang menjelaskan bahwa ide atau prinsip dasar paradigmaa NPM terdiri atas : (a) Mencoba menggunakan pendekatan bisnis disektor public. pola mempertanGgung jawabkan kinerja pelayanan dirubah dari lembaga yang dibentuk pemerintah kepada masyarakat pelanGgan.

3) New Public Service (NPS) Selanjutnya paradigma New Publik service (NPS) dan Governance dimunculkan oleh Denhardt dan Denhardt (2003) untuk Meng-Counter paradigma administrasi yang menjadi arus utama (manstream) paradigma NPM yang berprinsip run government like a business atau market a solution to the ills in publik sector. apabila dimungkinkan fungsi itu dapat dilimpahkan ke pihak lain melalui system kontrak atau swastanisasi. dan desentralisasi dalam pengambilan keputusan. perampingan prosedur. restrukturisasi birokrasi. Paradigma NPS beranggapan bahwa administrasi pemerintahan tidaklah sama dengan organisasi bisnis. . Administrasi publik harus digerakkan sebagaimana menggerakan pemerintah yang demokratis. Paradigma NPS memperlakukan publik pengguna layanan publik sebagai warga Negara (citizen) bukan sebagai pelanGgan (cutomer). Misi organisasi publik tidak sekedar memuaskan pengguna jasa (customer) tetapi juga menyediakan pelayanan barang dan jasa sebagai pemenuhan hak dan kewajiban publik. (e) Menekankan akuntabilitas pada customer dan kinerja yang tinGgi. (d) Steer not row artinya birokrat/PNS tidak mesti menjalankan sendiri tugas pelayanan publik. perumusan kembali misi organisasi. 65 memprivatisasi fungsi-fungsi yang sebelumnya dijalankan pemerintah.

bisnis. Paradigma NPS memandang penting keterlibatan banyak actor dalam penyelenGgaraan urusan publik. diilhami oleh : (a) Teori politik demokrasi terutama yang berkaitan dengan relasi warga Negara (citizen) dengan pemerintah. Paradigma Good Governance berorientasi kepada hubungan pada hubunga yang sinergik dan konstruktif diantara pemerintah. Kepentingan publik harus dirumuskan dan diimplementasikanoleh semua actor baik Negara. Dalam adminsitrasi publik. Teori governance berpandangan bahwa Negara atau pemerintah diera Global tidak lagi diyakini sebagai satu-satunya institusi atau yang mapu secara efisien. menurut Denhardt (2008). dan adil menyediakan berbagi bentuk pelayanan publik. Paradigmaa governance memandang penting kemitraan (partnership) dan jaringan (networking) antar banyak stakeholders dalam penyelenGgaraan urusan publik. maupun masyarakat sipil. Cara pandang NPS ini. 66 Adminsitrasi ublik tidak sekedar bagaimana memuaskan pelanggan tetapi juga bagaimana memberikan hak warga Negara dalam mendapatkan pelayanan publik. sector swastandan nmasyarakat dalam rangka melaksanakan penyelenGgaraan . Pandangan ini menjadikan paradigmaa NPS disebut juga sebagai paradigma governance. kepentingan publik dan bagaimana kepentingan publik diwujudkan tidak hanya tergantung pada lembaga Negara. (b) Pendekatan humanistic dalam teori organisasi dan manajemen. ekonomis.

akuntabilitas. 67 pemerintah yang baik dan bertanggung jawab. dan (b) kerja sama antara antara pemerintah dengan organisasi- organisasi masyarakat (depdagri & bappenas 2000:23). (c) partisipasi masyarakat. mempromosikan keadilan dalam pelayanan publik. UNDP memberikan dua indicator Good Governance. dan GTZ sejak tahun 1991. yaitu: (a) desentralisasi untuk meningkatkan pengambilan keputusan ditingkat lokal dengan menekankan perbaikan nilai efisiensi. (d) efisiensi. meliputi : (a) Visi strategis: visi yang jelas dan misi untuk mewujudkan visi tersebut. Salah satu standar penilaian kinerja pemerintah adalah prinsip-prinsip (nilai-nilai) Good Governance. Dalam kaitannya dengan kondisi Indonesia saat ini. (e) pengurangan anggaran militer. desentralisasi. dan (f) tata ekonomi yang berorientasi pasar (Depdagri otoda dan BAPPENAS (2002:22-23). OECD. . Good Governance diperkenalkan dan dipromosikan oleh bebrapa agensy multilateral dan bilateral. transparansi dalam pemerintah dan administrasi publik. dan peningkatan kemampuan pemerintah. meningkatkan partisipasi dibidang ekonomi dan politik. diantaranya : JICA. (b) hormat terhadap hak azasi manusia (HAM) dan kepatuhan terhadap hokum yang berlaku. maka nilai-nilai Good Governance yang paling penting sebagai indicator utama penilaian kinerja pemerintahan daerah. Agensi (lembaga-lembaga) ini memberikan tekanan pada beberapa indicator antara lain : (a) demokrasi.

(e) Consensus : berperan dalam menjembatani berbagai aspirasi guna mencapai persetujuan bersama demi kepentingan masyarakat. (g) Akuntabilitas : bertanggung jawab kepada publik dalam konteks dalam konteks kinerja lembaga dan aparatnya baik dibidang manajemen. (i) Dukungan aturan dan hukum. maupun di bidang kebijakan public. menciptakan aturan dan hokum yang mebentuk situasi dan kondisi yang aman dan tertib. serta kondusif bagi masyarakat. Sehingga masyarakat publik dapat mengontrol. dan berpartisipasi secara aktif dalam menentukan masa depannya. organisasi. berorganisasi. 68 (b) Transparansi : meyediakan informasi kepublik secara terbuka sehingga publik dapat mempertanyakan tentang mengapa suatu keputusan dibuat dan criteria digunakan. (c) Responsivitas : cepat tanggap dalam melayani kepentingan dari semua stakeholders. memonitor lembaga-lembaga publik beserta proses kerjanya. (f) Efektivitas dan efisiensi: memenuhi kebituhan dengan memanfaatkan SD dengan cara yang paling baik atau memalui manajemen sector publik yang efisien dan efektif. (d) Keadilan : memberikan semua orang kesempatan yang sama untuk memperbaiki kesejahteraannya. (h) Kebebasan berkumpul dan berpartisipasi : memberikan kebebasan kepada rakyatnya untuk berkumpul. .

(c) administrator publik ditantang untuk dapat menemukan atau mengembangkan cara baru yang inovatif untuk mencapai hasil atau memprivatisasi fungsi-fungsi yang . bekerjasama atau mengikutsertakan lembaga-lembaga yang ada dalam masyrakat. mendorong kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada pasar. Prinsip NPM terdiri atas : (a) mencoba menggunakan pendekatan bisnis disektor publik. (b) penggunaan terminology dan mekanisme pasar. 69 (j) Demokrasi . (m) Komitmen pada lingkungan : memperhatikan masalah-masalah yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan. (n) Desentralisasi : mengembangkan dan memberdayakan unit-unit kelembagaan lokal agar dapat mengambil keputusan sesuai dengan kebutuhan dan situasi lokal (Depdagri Otoda Bappenas (2000:24- 26). mendorong proses demokrasi dimasyarakat. (k) Kerjasama dengan organisasi-organisasi masyarakat. (l) Komitmen kepada pasar. dalm memecahkan masalah dan memberikan pelayanan public. Penegasan konsep ini dapat dilihat prinsip-prinsip pendekatan politik (political approach) oleh Rosenbloom (1989) dan prinsip pendekatan manajerial (managerial approach) melalui prinsip-prinsip NPM (manajerial) dan NPS (demokratisasi) oleh Denhardt and Denhardt (2002). dimana hubungan antara organisasi publik dan cutomer dipahami sebagaimana transaksi yang terjadi dipasar.

2003). (4) kepentingan publik lebih merupakan agregasi kepentingan pribadi para individu. 70 sebelumnya dijalankan pemerintah. (2) administrator publik harus menciptakan gagasan kolektif yang disetujui bersama tetntang apa yang disebut sebagai kepentingan publik. perampingan prosedur. dan (e) menekankan akuntabilitas pada customer dan kinerja yang tinGgi. perumusan kembali misi organisasi. apabila dimungkinkan fungsi itu dapat dilimpahkan kepihak lain melalui sistem kontrak atau swastanisasi. Sedangkan prinsip-prinsip NPS (Denhardt dan Denhardt. norma-norma politik. tidak semata kepada pasar. (d) Steer not Row artinya birokrat/PNS tidak mesti menjalankan sendiri tugas pelayanan publik. nilai-nilai masyarakat. (5) para pelayan publik harus memberikan perhatian. mestrukturisasi birokrasi. 2003) terdiri atas 7 (tujuh) yakni : (1) peran utama dari pelayanan publik adalah membantu warga masyarakat mengartikulasi dan memenuhi kepentingan yang telah disepakati bersama. daripada mencoba mengontrol atau mengendalikan masyarakat kearah yang baru. tetapi juga pada aspek hukum dan peraturan perundangan. (6) organisasi publik dan jaringan-jaringan yang terlibatkan lebih sukses dalam jangka panjang kalau mereka beroperasi melalui proses kolaborasi dan melalui . dan desentralisasi dalam pengambilan keputusan (Denhardt dan Denhardt. (3) kebijakan dan program ditujukan untuk memenuhi kebutuhan publik dapat dicapai secara efektif dan responsive melalui upaya-upaya kolektif dan proses kolaboratif. standar professional dan kepentingan warga masyarakat.

(2) mengutamakan kepentingan publik (seet publik interest). act democratically). bukan pelanGgan (service citizen not cutomer). dan (7) menghargai orang. (4) berpikir strategis. (5) melayani warga masyarakat. (3) lebih menghargai warga Negara daripada kewirausahaan (value citizenship over entrepreneurship). 71 kepemimpinan yang menghargai semua orang. daripada oleh manajer wirausaha yang bertindak seakan- akan uang adalah milik mereka. dan bertindak demokratis (Think Strategically. Denhardt & Denhartd pada akhirnya mengidentifikasi perbedaan mendasar tiga paradigma dalam pelayanan publik dalam administrasi publik sebagai berikut: . 2003 ini dapat disederhanakan menjadi : (1) melayani daripada mengendalikan (sevice rather than steer). bukan hanya produktivitas (value people. dan (7) kepentingan publik lebih baik dikembangkan oleh pelayan-pelayan publik dan warga masyarakat yang berkomitmen memberikan kontribusi terhadap masyarakat. Ketujuh prinsip NPS Denhardt dan Denhardt. (6) menyadari akuntabilitas bukan merupakan hal mudah (recocnized that accountability is not simple). not just productivity).

keinginan customers hukum. uji manusia “economicman”. Organisasi publik Struktur kolaboratif kewenangan top-down terdesentralisasi antara kepemimpinan eksternal dan internal Mekanisme Melalui program yang Melalui pembentukan Membangun koalisi pencapaian diarahkan oleh agen mekanisme dan antara agensi publik. komunitas. Rasionalitas teknis dan Rasionalitas strategis model perilaku manusia administratif ekonomis. profesionalisme. administratif merupakan hasil akuntabilitas pada nilai. atau formal. keinginan administrator pegawai negeri untuk mengurangi untuk memberikan ukuran pemerintah kontribusi bagi masyarakat Sumber : Denhardt dan Denhardt (2003) . epistemologi beragam pendekatan Konsep public Sesuatu yang Kepentingan publik Kepentingan publik interest diterjemahkan secara mewakili agregasi merupakan hasil dialog politis dan tercantum kepentingan individu nilai-nilai dalam aturan Siapa yang Klien dan konstituen PelanGgan Warga Negara dilayani (Clients and Constituents) (Customers) (Citizens) Peran pemerintah Mengayuh (mendesain Mengarahkan Melayani (melakukan dan melaksanakan (bertindak sebagai negosiasi dan menjadi kegiatan yang terpusat katalis untuk perantara beragam pada tujuan tunGgal dan mengembangkan kepentingan di ditentukan secara politik) kekuatan pasar) masyarakat dan membentuk nilai bersama) Rasionalitas dan Rasionalitas sinoptis. 72 Perspektif perkembangan administrasi publik Old Public New Public Element Administration Management New Public Service Dasar Teori politik Teori ekonomi Teori demokrasi. Semangat wirausaha. ekonomis. kepentingan citizen Diskresi Diskresi terbatas pada Berjangkauan luas Diskresi diperlukan administratif petugas administratif untuk mencapai tetapi bertanGgung sasaran jawab dan bila terpaksa entrepreneurial Struktur organisasi Organisasi birokratis. norma politik. Pelayanan kepada perangkat dan disertai perlindungan bagi keinginan ideologis masyarakat. rasionalitas berganda pengambil keputusan (politis. dan yang self interested organisasional) Akuntabilitas Menurut hierarki Kehendak pasar yang Banyak dimensi. sasaran kebijakan pemerintah yang ada struktur insentif non-profit dan swasta Dasar motivasi Gaji dan tunjangan.

Membahas arti “public” pada “administration” dan integrasi dari dua konstruksi itu kedalam suatu bangunan kajian ilmu pengetahuan senantiasa memberikan harapan dan persoalan (Vigoda. melainkan menuju ke berbagai arah. membuat ilmu administrasi Negara berada dalam proses perubahan yang dinamis. ilmu pengetahuan (a body of knowledge) dan suatu profesi (a profession) sudah amat dikenal semenjak lahirnya disiplin ini. Perubahan terjadi semenjak awal tahun 1990- an. Menurut Lynn (1966). bahkan beberapa akademisi mengatakan semakin intensif. kajian administrasi Negara memusatkan pada locus dan boundary pada on going state senantiasa mengundang banyak perdebatan. Waldo juga memberikan sinyal bahwa perjuangan administrasi Negara untuk memperoleh rekognisi dan legitimasi sebagai suatu seni (an art). 2002) . Bahkan Waldo (1968) dalam Toha. (2008) mencatat. Ilmu ini senantiasa berada dalam suatu proses perkembangan yang tidak menuju ke satu arah saja. Dimuali dari awal lahirnya. 73 BAB IV PERKEMBANGAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA Ilmu Administrasi Negara sebagai suatu kajian yang multidisipliner berada dalam kondisi transisi. Pada dasawarsa terakhir ini perjuangan untuk menunjukan keunikan dan keaslian adinistrasi Negara terus berlangsung. bahwa perubahan yang sedang berlangsung saat itu sebenarnya merefleksi suatu identitas krisis dalam pembentukan suatu disiplin ilmu pengetahuan termasuk ilmu administrasi Negara ini.

politik. Perkembangan Ilmu Administrasi Negara Overview singkat terhadap perkembangan sejarah adminsitrasi Negara modern modern perlu disinggung disini guna memahami tingkat perkembangannya hingga saat ini. Ilmu administrasi Negara dilahirkan pada abad ke-19. A. aslina tidak bisa dipisahkan dari upaya dan visi yang amat berpengaruh dari tokoh Woodrow Wilson (1887) dan Frank J. Ditekankan bahwa ilmu ini mempunyai karakteristik bidang kajian keilmuan yang subtansinya bisa berawal dari berbagai disiplin ilmu lain. Sementara dilihat dari program kegiatan dari pemerintahan dan reformasi administrasi pemerintahan sudah ada kemajuan dan perkembangan semenjak Bung Karno dan Soeharto. Adapun sekarang ini tampaknya masih berada dalam kondsi transisi belum menunjukan arah yang jelas kemana reformasi administrasi akan diarahkan. ilmu-ilmu hokum. 74 Di Indonesia dilihat dari perspektif akademis kelihatan ilmu administrasi Negara masih banyak mengkopi perkembangan yang terjadi di Negara-negara maju. Pada awal perkembangannya sebagai bidang kajian keilmuan. Revolusi yang mengubah administrasi negara menjadi suatu ilmu dan profesi yang independen. dan beberapa . ketika perhatian masyarakat akademisi mulai tertarik mengamati kegiatan-kegiatan suatu Negara (the bussines of the state). Dua pemikir ini yang pertama kali diantara tokoh-tokoh lain yang mempertahankan kemandirian ilmu ini. Goodnoe (1900).

75 ilmu lain yang tergolong “hard science” seperti engineering dan hubungan industrial yang menarik perhatian ilmu aministrasi Negara sebagai domain kajiannya. adanya kecenderungan bahwa setiap persoalan dalam proses administrasi diselesaikan menurut prosedur peradilan. Untuk waktu yang cukup panjang ilmu-ilmu tersebut memberikan pengaruh kuat terhadap masa transisi dan terbentuknya ilmu administrasi Negara. Namun keluasan dan kedalaman pengaruh itu tidaklah bisa berlangsung secara linier dan konsisten. dan (3) hukum konstitusional. Perhatian adminsitrasi Negara tradisional sebagaimana yang dikemukakan oleh pelopor pendahulu senantiasa tidak bisa dipisahkan dengan kekuasaan hukum (the power of low) wakil-wakil rakyat dilembaga perwakilan membuat hukum dan didelegasikan responsibilitasnya itu kepada birokrat yang professional untuk melaksanakan hukum tersebut. (2) peradilan administrasi Negara. Menurut Rosembloom (1998) pendekatan legal memandang administrasi Negara sebagai upaya untuk mengamalkan dan memaksa hukum ke tataran lingkungan yang nyata (as applying and enforcing the low in concrete circumstances). dimana hukum sebagai body of law and regulation mengendalikan proses administrasi. bahwa semua dan macam- macam warga Negara dirumuskan kembali hak dan kemerdekaanya. Dengan kata lain “pemerintah mengatakan . adminsitrasi Negara adalah hukum in action dan suatu system yang teregulasi. Dengan demikian. Pendekatan kekuasaan hukum ini bersumber pada tiga hal utama yakni : (1) administrative law.

Salah satu disiplin yang kemudian memberikan kontribusi terhadap ilmu administrasi Negara seperti disinggung diatas adalah ilmu-ilmu keras klasik. hukum mengutamakan prosedur kebsahan menurut konstitusinya. semuanya ini memerlukan navigator yang sangat unGgul dan kualified. yakni engineering dan industrial relations. Revolusi industry yang terjadi tahun 1900-an yang disertai dengan reformasi politik demokratisasi berkualitas (higer democratization) dan keprihatinan terhadap kesejahteraan hidup rakyat. Memang diakui bahwa system konstitusional bisa memberikan kinerja yang sehat terhadap administrasi Negara. tetapi ia bisa juga melahirkan kondisi inefisien untuk menciptakan kinerja pelayanan public yang baik. dan tekhnisi dan professional yang bisa mengendalikan baik pasar maupun pemerintahan amat diperlukan. akan tetapi jika ditinjau dari prinsip efisiensi efektivitas maka hasilnya akan jauh dari harapan. Hukum yang baik adalah amat diperlukan. Kebutuhan tersedianya para insinyur. Inilah sebabnya administrasi Negara berangsur-angsur memalingkan pandangannya ke disiplin lain. Administrasi Negara concern tentang bagaimana sesuatu itu bisa segera diselesaikan sebaik-baiknya. Berbagai bidang dan metode keinsinyuran dan studi industrial mulai . entrepreneur industri. 76 kepada warganya baik sipil maupun pengusaha apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dikerjakan” Seperti dketahui bersama bahwa bertahun-tahun hukum itu sendiri tidak mampu memelihara kondisi yang bisa memuaskan timbulnya kinerja pengelolaan sector public.

dan aplikasi teori umum organisasi sabagai salah satu unsure pokok ilmu administrasi Negara. Quartely. Hubungan yang telah terjalin lebih dulu antara manajemen umum dengan administrasi yang berakar pada nupaya memahami terhadap kompleks dan rumitnya persoalan-persoalan organisasi menganut kesamaan dalam membangun feature ilmu administrasi Negara ke depan. Diantara jurnal yang terbit saat itu antara lain Journal of Applied Behavior Science. 77 dipergunakan oleh ilmu administrasi Negara. 1966. sehinGga pada waktu itu banyak diterbitkan tulisan dalam jurnal dan buku-buku literature tentang perilaku organisasi. 1965. Bimontly. diterbitkan oleh national Institute for Applied Behavior Science: organization Behavior and Human Performance. . Pendekatan industrial yang lebih banyak mengemukakan ilmu perilaku (behavior science) mulai mewarnai ilmu administrasi Negara. Saat itu statistic dijadikan sebagai ukuran untuk menilai penelitian administrasi Negara baik atau tidak. Metode statistic mulai popular dikalangan sarjana administrasi. Mulai saat itu terjadi perubahan yang dramatis dari sifat. Penelitian Elton Mayo pakar psikologi industri dari Harvard Business School yang dilakukan tahun 1920 dan tahun 1930 yang dikenal dengan studin Howthorn membuktikan bahwa pengaruh kuat industri relations terhadap administrasinegara tidak lagi bisa diabaikan. Management science yang banyak menggunakan ilmu keinsinyuran mulai menular dipakai dalam ilmu Administrasi Negara. orientasi.

. Organization Behavior yang diterbitkan tahun 1981. Hubungan kondisi sosial dan ekonomi dengan stabilitas politik yang berupa semakin massive-nya program-program pembangunan ekonomi pemerintah dan administrasi Negara ikut berperan secara aktif. sekarang ilmu perilaku organisasi banyak diajarkan pada program-program master dan doctoral disekolah-sekolah business administration. seperti karangan Robert Kreitner dan engelo Kinicki (2004) dari Arizona State University Organization Behavior dan karangan lainnya masih banyak dikembangkan. merupakan buku-buku wajib yang harus oleh mahasiswa pascasarjana Amerika saat itu. 78 Buku Fred Luthan. Konsekuensinya kejadian ini berpengaruh terhadap perkembangan ilmu administrasi Negara dan teori kebijakan public (public policy). perencanaan jangka panjang. Perhatian pemerintah mulai diperlihatkan dengan menciptakan kinerja pelayanan public yang semakin baik dan berkualitas. Perubahan-perubahan ilmu administrasi belum berhenti sampai pada tataran statistic dan ilmu perilaku. Waktu berjalan terus seiring dengan berjalannya perubahan. Perang dunia kedua memfasilitasi pemimpin politik (political leader) dan gerakan- gerakan sosial masyarakat demokratis untuk melakukan reformasi manajemen Negara-negara barat. Konflik internasional yang terjadi tahun 1930-an dan tahun 1940-an mendorong kuat timbulnya perubahan ideology nasional dan perspektif paham demokrasi di masyarakat Negara-negara barat. Buku-buku terbitan McGraw-Hill.

Dye. Understanding Public Policy. Thomas R. manajemen science. Menciptakan kehidupan masyarakat yang semakin baik merupakan targetnya. Itulah sebabnya banyak pemikiran yang mengajukan pandangan “multidimensi” untuk memahami keaslian dimensi ini. William Dunn. misalnya dibatasi pada ilmu politik atau manajemen. Yehezkel Dror (1968) menulis Public making Reexamined. Carl Bellone (1980) menulis tentang Organization Theory and the New Public Administration. (1981). Keinginan untuk memahami ilmu administrasi Negara secara komprehensif tidak bisa dilakukan kalau tidak ditelusuri suatu proses akumulasi dari disiplin ilmu-ilmu lain. Diantara publikasi yang terkena. tidak jarang kita jumpai tulisan tulisan yang memandang ilmu administrasi Negara dari satu perpektif. 79 dan kinerja jasa penyampaian barang-barang public (public goods) kepada penduduk semakin berkembang. (1981) Public Policy. dan alat untuk mewujudkan itu adalah membangun sector public yang besar dan produktif. banyak juga tulisan- tulisan para pemikir “public system” mengadopsi “unidimension viewpoint” ilmu administrasi Negara oleh karena itu. maka tidak bisa kita memotret boundary dan sifat dari ilmu ini. Disini ilmu administrasi Negara memberikan kontribusi dan memainkan peran yang amat besar. saat itu antara lain. atau juga hanya dilihat dari domain kajian tentang organisasi. manakala ilmu administrasi Negara hanya dilihat dari satu dimensi saja. Akan tetapi. . seperti misalnya kebijakan public.

termasuk didalamnya ilmu perilaku organisasi dan human resources. (1998). 80 Pendapat Eran Vigoda (2002) ada tiga disiplin ilmu sebagai “core Sources” dari ilmu administrasi Negara. Buku ini merupakan tulisan yang memberikan summary dari locus. Upaya untuk mencari new ideas dan solusi mengatasi persoalan-persoalan identitasnya. Walaupun tiga disiplin ini sebagai sumber inti akan tetapi ilmu hukum masih kuat juga berpengaruh terhadap eksistensi ilmu administrasi sekarang dan dimasa akan datang. Sebenarnya sekitar tahun 1980 Dwight Waldo bersamaan dengan gejolak perkembangan ilmu ini Waldo menulis The Enterprise of public Administration. yang membahas tentang “Reinfenting Government” David Osborne dan Ted Geabler (1992). (3) manajemen organisasi dan business science. Salah satu diantaraya membahas Reengineering Bureaucracy oleh Hammer dan Champy (1994). Waldo menguraikan sedikit lebih lengkap identitas ilmu administrasi public. yang mengemukakan pendekatan “strategy benchmarking” ditulis oleh Champ R. tiga disiplin itu adalah : (1) political science and Policy analysis. (2) sosiologi dan cultural studies. dan tulisan yang amat berpengaruh sampai sekarang ini mengenai “New Public . focus dan bahkan pandangan pandangan Waldo terhadap ilmu ini sampai tahun 2000. dapat juga disebut istilah the human side of public system. dapat kita jumpai dalam tulisan-tulisan tentang ilmu administrasi Negara. Pada dasawarsa terakhir perkembangan ilmu administrasi Negara mengalami banyak kemajuan.

Perkembangan ilmu administrasi Negara di Indonesia tampaknya terpengaruh dengan apa yang sekarang dikembangkan di Amerika Serikat atau di negara-negara lain. 81 Management” (Lynn. tulisan yang memberikan warna teknologi dalam organisasi yakni “T-Form Organization” oleh Henry and Lucas (1966). dan pemerhati atau karena pemerintah (pengasaa) yang tidak mempunyai perhatian terhadap perkembangan ilmu ini atau entah karena penyebab lainnya. perubahan renventing government di AS dengan mudah pula dikembangkan dalam administrasi pemerintahan. diimport oleh para pakar di Indonesia diintroduksi sebagai barang baru. Ilmu Administrasi Negara di Indonesia Secara teoritis perkembangan ilmu administrasi Negara di Indonesia tidak ada yang istimewa. Entah karena para peneliti. Penelitian dibidang ilmu ini belum banyak yang mengenalkan temuan baru. Apa yang terjadi di Amerika misalnya. Sementara itu. pengajar. 1998 dan juga Steward dan Ranson. sehinGga perkembangan ilmu ini tidak banyak yang bisa diceritakan. bahkan mengikuti perkembangan di Negara naju lainnya. Perubahan paradigm manajemen pemerintahan yang berlangsung di AS dengan mudah ditransfer menjadi perubahan paradigma di Indonesia. B. Demikian pula perubahan paradigma dari government ke governance yang . 1994). Amerika Serikat (AS) tampaknya masih dipandang sebagai barometer dari perkembangan ilmu administrasi Negara.

Diklat structural untuk pendidikan pejabat yang akan dan telah menduduki jabatan structural semenjak pelaksanaan otonomi daerah senantiasa meningkat. 82 dikenalkan UNDP dikopi dengan mudah menjadi program pengembangan tata kepemerintahan yang baik (Good Governance). Dinamika lingkungan administrasi negara yang sangat tinGgi kemudian menimbulkan banyak pertanyaan tentang .186 pejabat. Program diklat (pendidikan pelatihan) bagi aparat pemerintah dari hari kehari semakin banyak. dan eselon I sebanyak 228 pejabat. Data yang diperoleh dari lembaga administrasi Negara sebagai lembaga penyelenGgara diklat nasional untuk semua pejabat eselon (terutama eselon II dan I) mulai tahun 2001 sampai dengan tahun 2004 telah mendiklat pejabat eselon II sebanyak 12. Banyak tulisan-tulisan dan program pendidikan dan perubahan paradigma didalam manajemen pemerintahan dan ilmu administrasi Negara. Jika diamati dari program kegiatan pemerintah dalam melakukan perbaikan. Dalam 5 tahun terakhir ini diklat structural (diklat pimpinan II) untuk eselon II dipusat maupun didaerah lebih dari 10 ibu pejabat. pengembangan dan perubahan dibidang administrasi pemerintahan ada kemajuan. Dari Administrasi Negara ke Administrasi Publik Sejarah tentang perubahan Ilmu Administrasi Negara masih terus berulang. Upaya mendefinisikan diri Ilmu Administrasi Negara sebagai ilmu administrasi pemerintahan sebagaimana dijelaskan sebelumnya ternyata tidak berlangsung lama. C.

pasar di sini secara politik bisa dimaknai sebagai rakyat atau masyarakat (public). Fenomena menurunnya peran negara ini merupakan arus balik dari apa yang disebut Grindlesebagai too much state. Saat ini semakin mudah ditemui berbagai lembaga non-pemerintah yang menjalankan misi dan fungsi yang dulu menjadi monopoli pemerintah saja. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa lembaga pemerintahan tidak lagi memonopoli peran yang selama ini secara tradisional menjadi otoritas pemerintah. yaitu pelaku bisnis dan kalangan civil society (masyarakat sipil). Pratikno (2007) juga memberikan konstatasi yang sama. negara juga harus menegosiasikan kepentingannya dengan aktor-aktor yang lain. Miftah Thoha (2007) bahkan mengatakan telah terjadi perubahan paradigma “ dari orientasi manajemen pemerintahan yang serba negara menjadi berorientasi ke pasar (market). Menurut Thoha. Saat ini negara banyak menghadapi pesaing-pesaing baru yang siap menjalankan fungsi negara. Selain pelayanan publik. Gugatan tersebut terutama ditujukan pada lokus Ilmu Administrasi Negara yang dirasa tidak memadai lagi. 83 relevansi keberadaan Ilmu Administrasi Negara sebagai administrasi pemerintahan. organisasi birokrasi juga tidak semata-mata memproduksi barang dan jasa publik. dalam bidang pembangunan ekonomi dan sosial. tetapi juga barang dan jasa privat. Menurut Dwiyanto (2007) lembaga pemerintah dirasa terlalu sempit untuk menjadi lokus Ilmu Administrasi Negara. Di sisi yang lain. secara lebih efektif. terutama pelayanan publik. di mana negara pada . Secara lebih tegas.

krisis fiskal. 84 pertengahan 1980-an terlalu banyak melakukan intervensi yang berujung pada jeratan hutang luar negeri. yaitu: 1. Globalisasi yang membutuhkan daya saing yang tinGgi di berbagai sektor menuntut makin dikuranginya peran negara melalui debirokratisasi dan deregulasi. dan pemerintah yang terlalu sentralistis dan otoriter. 3. munculnya fenomena hybrid organization yang merupakan perpaduan antara pemerintah dan bisnis. Tuntutan demokratisasi mendorong semakin banyak munculnya organisasi kemasyarakatan yang menuntut untuk dilibatkan dalam proses perumusan kebijakan dan implementasinya. Dwiyanto (2007) menyebut setidaknya ada empat faktor yang menjadi sebab semakin menurunnya dominasi peran negara. 4. Dinamika ekonomi. politik dan budaya yang membuat kemampuan pemerintah semakin terbatas untuk dapat memenuhi semua tuntutan masyarakat. 2. Berbagai fenomena tersebut menimbulkan gugatan di antara para mahasiswa maupun ilmuwan Ilmu Administrasi Negara: Apakah masih relevan menjadikan pemerintah sebagai lokus studi Ilmu Administrasi Negara? Pemaparan di atas menunjukkan bahwa kata "negara‟ dalam Ilmu Administrasi Negara menjadi terlalu sempit dan kurang relevan lagi untuk mewadahi dinamika Ilmu Administrasi Negara di awal abad ke-21 yang .

Dengan demikian istilah public administration tidak tepat lagi untuk diterjemahkan sebagai administrasi negara. 85 semakin kompleks dan dinamis. Dengan adanya pergeseran makna ‟publik‟ sebagaimana dijelaskan di atas. baik dalam hal penyelenggaraan pelayanan publik maupun pembangunan ekonomi. makna kata ‟publik‟ di sini jauh lebih luas daripada kata ‟negara‟ (Majelis Guru Besar dan Jurusan Ilmu Administrasi Negara UGM. Publik di sini menunjukkan keterlibatan institusi-institusi non-negara baik di sektor bisnis maupun civil society di dalam pengadministrasian pemerintahan. melainkan lebih tepat jika diterjemahkan menjadi administrasi publik. yaitu birokrasi pemerintah dan juga organisasi-organisasi non-pemerintah yang terlibat menjalankan fungsi pemerintahan. Sebab. Utomo (2007) menyebutkan bahwa dalam perkembangan konsep Ilmu Administrasi Negara telah terjadi pergeseran titik tekan dari negara yang semula diposisikan sebagai agen tunggal yang memiliki otoritas untuk mengimplementasikan berbagai kebijakan publik menjadi hanya sebagai fasilitator bagi masyarakat. Intinya. semua aktivitas yang terjadi pada birokrasi pemerintah . sosial maupun bidang- bidang pembangunan yang lain. maka ilmu administrasi publik telah menemukan lokusnya secara lebih jelas. Konsekuensi dari perubahan makna public administration sebagai administrasi publik di sini adalah terjadinya pergeseran lokus Ilmu Administrasi Negara dari yang sebelumnya berlokus pada birokrasi pemerintah menjadi berlokus pada organisasi publik. 2007: x).

Kegelisahan tersebut kemudian dijawab dengan munculnya studi kebijakan publik sebagai pokok perhatian ilmuwan administrasi publik. kebijakan merupakan instrumen pokok yang dapat dipakai untuk mempengaruhi perilaku masyarakat dalam upaya memecahkan berbagai persoalan publik (public affairs). protectiveregulatory policy. Apabila lokus ilmu administrasi publik menjadi semakin jelas. Tahapan teknokratis dalam . 1985: 60). competitive regulatory policy. 86 dan organisasi-organisasi non-pemerintah yang menjalankan fungsi pemerintah menjadi bidang perhatian ilmuwan administrasi publik. sebab proses perumusan kebijakan itu sendiri tidak hanya dilakukan melalui tahapan yang bersifat teknokratis akan tetapi juga melampaui tahapan yang bersifat politis. Hal ini juga semakin menguatkan argumen bahwa ilmu administrasi publik memang tidak dapat dipisahkan dari induknya Ilmu Politik. 2007). Bagi pemerintah. pertanyaan berikutnya adalah apa yang seharusnya menjadi fokus perhatian ilmuwan administrasi publik. Hal ini merupakan implikasi yang sangat logis karena kebijakan publik merupakan output utama dari pemerintah (Dwiyanto. Dwiyanto (2007) dengan mengutip pendapat Denhardt mengatakan bahwa tinGginya minat ilmuwan administrasi publik untuk memusatkan perhatian pada studi kebijakan semakin meningkatkan keyakinan bahwa para administrator memiliki intensitas yang tinggi dalam proses perumusan kebijakan publik. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menGgunakan kebijakan domestik yang bersifat: distributive policy. dan redistributive policy (Ripley.

Carl Patton dan David Sawicki (1983). Selain itu. Berbagai tokoh seperti William N.al (1990) merupakan sebagian ilmuwan yang menjadi pelopor pengembangan studi implementasi dalam disiplin Ilmu Administrasi Publik. Arnold J. Sebab. Meltsner (1986). Merilee Grindle (1980). sementara fokus perhatiannya adalah persoalan publik (public affairs) dan bagaimana persoalan tersebut dipecahkan dengan instrumen kebijakan publik. 87 proses perumusan kebijakan memiliki posisi sentral. Dunn (1981). dan lain-lain telah menghasilkan berbagai buku penting sebagai acuan para ilmuwan dan praktisi administrasi publik dalam melakukan kegiatan analisis kebijakan publik. Pentingnya proses teknokratis dalam pembuatan kebijakan semakin membuat analisis kebijakan publik menjadi keahlian yang sangat vital yang dibutuhkan oleh para praktisi administrasi publik. kenyataan bahwa kebijakan yang telah dirumuskan tidak selalu menjamin implementasinya akan berjalan mulus juga memicu munculnya studi implementasi kebijakan publik di dalam ilmu administrasi publik. pada tahapan ini berbagai solusi cerdas sebagai upaya memecahkan persoalan masyarakat digodok agar dapat dirumuskan serangkaian alternatif kebijakan yang dapat dipilih oleh para policy maker melalui proses politik. Malcolm Goggin et. Dengan adanya perkembangan terakhir tersebut menjadikan Ilmu Administrasi Publik memiliki lokus dan fokus yang lebih jelas. Lokus studi ini adalah organisasi publik. Para ilmuwan seperti Jeffrey Pressman dan Aaron Wildavsky (1984). Akan tetapi seiring .

. lightning-quick information technologies. and demanding customers. Hughes memulai diskusi dengan menganjurkan untuk menggunakan istilah manajemen publik daripada administrasi publik. large. top-down bureaucracies –public or private—don‘t work very well. Hughes (1998) yang berjudul Public Management and Administration merupakan pemikiran yang memicu perlunya perubahan dalam mendefinisikan Ilmu Administrasi Publik. 88 berjalannya waktu. tough global competition. Jika di masa-masa sebelumnya yang dipersoalkan adalah makna public pada public administration yang kemudian bergeser dari administrasi negara menjadi administrasi public. Buku Owen E. dan tidak efisien dengan mengadopsi prinsip- prinsip yang diterapkan pada manajemen bisnis. Keluhan tentang tidak relevannya prinsip-prinsip birokrasi Weberian sudah sering disampaikan. Pemikiran Hughes tersebut memang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan paradigma Ilmu Administrasi Publik yang terjadi pada eram 1990an yang mencoba memperbarui mekanisme pengelolaan birokrasi public yang dikenal sangat hirarkis. Apa yang disampaikan oleh Al Gore sebagaimana dikutip oleh Hughes (1998: 3) tentang buruknya sistem birokrasi yang bekerja atas dasar prinsip Old Public Administration barangkali mewakili pemimpin negara yang lain: in today‘s world of rapid change. kegelisahan ilmuwan administrasi publik tidak hanya berhenti sampai di sini. lamban.

1993). 1992). market-based public administration (Lan. 1991). Rhodes (1991) menyerukan perlunya diterapkan semboyan “3Es” atau economy. gagasan untuk mengembangkan paradigma public managerialism dalam disiplin Ilmu Administrasi Publik juga terjadi di Eropa. dan post-bureaucratic paradigm (Barzelay. 89 Merespon persoalan tersebut. efficiency dan effectiveness agar pelayanan publik di Inggris menjadi lebih efisien. new public management (Hood. Gagasan mereka kemudian diadopsi secara luas di berbagai Negara setelah pemerintahan Clinton-Gore di Amerika Serikat mengadopsinya secara sukses. 1992). Berbagai realitas sebagaimana digambarkan di atas membawa pada suatu cakrawala baru di antara para ilmuwan administrasi negara untuk sampai pada suatu kesimpulan bahwa administrasi publik yang berkonotasi sempit perlu diubah menjadi manajemen publik yang lebih . yaitu Reinventing Government. beberapa pemikir kemudian mengajukan gagasan mereka. Namun yang paling fenomenal tentu saja pemikiran Osborne dan Gaebler (1992) tentang entrepreneurial government yang ditulis dalam buku mereka yang menjadi best seller. Zhioying & Rosenbloom. Selain di Amerika. terutama di Inggris ketika tekanan terhadap keterbatasan anGgaran bagi penyediaan layanan publik telah memaksa pemerintahan Margaret Thacher untuk menerapkan berbagai upaya guna lebih mengefisienkan pelayanan publik di Inggris. seperti: managerialism (Pollit.

Hughes mengatakan bahwa menurut definisi kamus.Webster Dictionary dan Latin Dictionary) dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa administrasi lebih dimaknai sebagai proses dan prosedur yang harus dipatuhi oleh seorang administrator dalam menjalankan tugasnya untuk memberikan pelayanan publik. penggunaan istilah ‟administrasi‟ justru mengalami penurunan. sejak pemerintahan Kolonial Belanda berakhir. penggunaan istilah ‟administrasi‟ di dalam birokrasi pemerintah semakin jarang digunakan. Utomo. Sementara di sisi yang lain. Dalam argumentasinya lebih lanjut. Sedangkan manajemen memiliki arti lebih luas. melainkan berkaitan juga dengan: pencapaian target dan tanggung jawab bagi manajer untuk mencapai target-target yang telah ditetapkan. 90 memiliki jangkauan yang lebih luas sebagaimana dikatakan oleh Hughes (1998: 4): It is argued here that administration is a narrower and more limited function than management. Dari berbagai definisi kamus yang ada (Oxford English Dictionary. 2007: 131). Apa . Di Indonesia sendiri. Kalaupun digunakan. Hughes (1998: 6) juga menyebut semakin meluasnya penggunaan istilah "manajemen‟ dan "manajer‟ di sektor publik. kata "manajemen‟ memiliki makna yang lebih luas dibandingkan "administrasi‟. yaitu tidak hanya sekedar mengikuti prosedur. istilah ‟administrasi‟ telah mengalami kemerosotan makna sebagai konsep untuk menggambarkan pekerjaan ketik-mengetik atau sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan prosedur surat-menyurat (cf. Selain alasan tersebut.

dan konsepsi tentang pemerintahan sendiri yang juga akan turut berubah. hubungan eksternal. Perubahan tersebut akan berimplikasi pada bangun teoritis yang perlu dikembangkan untuk mendukung perubahan nama dari administrasi menjadi manajemen. orientasi keilmuan . they are managers‘. misalnya menyangkut bagaimana akuntabilitas disampaikan. Oleh karena itu Hughes (1998: 6) kemudian mengatakan bahwa: As part of the general process public administration‘ has clearly lost favor as a description of the work carried out. standar etika dan norma bagi manajer publik dalam menjalankan tugasnya. principal officers‘. Tentu saja. Konsekuensi dari perubahan nama "administrasi publik‟ ke "manajemen publik‟ secara epistimologis juga berpengaruh terhadap cara bagaimana ilmuwan administrasi publik ke depan mengembangkan ilmu ini. maka ke depan jika administrasi publik berubah menjadi manajemen publik. 91 yang terjadi tersebut menunjukkan bahwa istilah ‟manajemen‟ memiliki makna lebih superior dibandingkan istilah "administrasi‟. finance officers‘ atau assistant directors‘. pentingnya perubahan dari administrasi menjadi manajemen bukan hanya sekedar sebuah pergantian istilah. Now. the term manager‘ is more common. Dukungan terhadap pendapat Hughes juga diberikan oleh Pollitt (1993: vii) yang menyebutkan: formerly they were called administrators‘. where once administrators‘ was used. Jika selama ini ilmuwan administrasi publik lebih berkutat pada diskusi yang bersifat filosofis tentang administrasi.

principal/agent theory dan transaction cost theory. 2) bagaimana membuat keputusan yang secara ekonomis menguntungkan dengan mempelajari public choice theory. bagaimana meningkatkan kemampuan manajerial mereka dan bagaimana meningkatkan akuntabilitas para manajer publik tersebut di depan masyarakat. Untuk itu di masa depan ilmuwan administrasi publik harus memahami: 1) Semakin meningkatnya tekanan terhadap sektor publik untuk melakukan restrukturisasi dan menyerahkan urusan kepada sektor swasta. 4) terjadinya perubahan teknologi informasi yang dapat membantu manajer publik untuk menyelesaikan berbagai persoalan mereka sehingga ilmuwan manajemen publik ke depan harus belajar perkembangan teknologi informasi untuk diadopsi menjadi e- government Pemikiran untuk mengubah nama "administrasi‟ menjadi "manajemen‟ sebenarnya bukan sesuatu yang aneh jika kita merujuk kembali pada gagasan awal yang dikembangkan oleh Wilson (1887: 16) tentang Ilmu Administrasi yang Ia katakan sebagai berikut: This is why . 3) perubahan-perubahan lingkungan di sektor swasta seperti kompetisi yang semakin meningkat dan globalisasi. 92 dari disiplin ini juga akan bergeser pada hal-hal yang lebih empirikal tentang bagaimana mengembangkan keilmuan untuk membantu manajer publik mencapai tujuan organisasi.

Namun demikian. . 93 there should be a science of administration which shall seek to straighten the paths of government. tentu saja manajemen publik yang dikembangkan oleh ilmuwan administrasi publik di masa mendatang jelas akan berbeda dengan manajemen bisnis sebagaimana dikembangkan oleh ilmuwan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. to make it business less unbusinesslike.

Inovasi-inovasi seperti pilkada langsung. lingkungan hidup. penjaringan aspirasi masyarakat. Kenyataannya memang tidaklah jauh dari harapan. adalah merupakan hasil (output) dari penerapan Good Governance. Good Governance kemudian bagai kanker ganas menyebar ke segala arah. hukum. politik. yaitu negara. tapi merambah pada berbagai kajian lain seperti pemberdayaan masyarakat. dan sosiologi terapan. Produk yang paling fenomenal dari Good Governance adalah ketika dirinya berhasil menemukan missing link antara kerja refomasi pemerintah dengan penan Good Governance ulangan kemiskinan. 94 BAB V BERAKHIRNYA ERA GOOD GOVERNANCE Tak dipungkiri kehadiran Good Governance cukup revolusioner dalam kancah ilmu sosial. masyarakat dan bisnis) utamanya dalam mengelola sektor-sektor yang menjadi hak publik atau public patrimony. Good Governance juga telah melakukan revisi total atas term Administrasi Publik atau Pemerintahan yang selama ini telah terlanjur institusionalistik. Argumentasinya adalah dengan Good Governance maka distribusi anggaran pemerintah dan kalangan bisnis kepada masyarakat miskin makin terbuka lebar (Renzio. Tidak hanya berkutat pada ilmu administrasi publik. 1997). Governance sudah bukan lagi secara eksklusif menjadi menu yang disuguhkan pada negara dan sub-sub organisasinya (public sectors). . ekonomi. Governance adalah sebuah proses berinteraksinya berbagai elemen (dipersempit dalam tiga aktor kunci. musrenbang.

Program PARPA di Mozambique yang telah berhasil meningkatkan alokasi pendidikan dan infrastruktur rakyat 20% dalam kurun waktu empat tahun (Samuels. Proses penyeragaman atas sesuatu yang disebut “good” itu juga dilakukan tak jarang dengan paksaan. Hanya saja prestasi gemilang dari Good Governance tersebut menuai kritik tajam yang berangkat dari identitasnya itu sendiri. UNDP. EU dan semacamnya. 2008). Sebab kenyataannya di berbagai belahan dunia Good Governance adalah program yang diintrodusir oleh lembaga-lembaga donor internasional. Kata “good” menjadi sesuatu yang hegemonik dan seragam. . ADB. Term ‘good’ dalam Good Governance adalah westernized dan diabsolutkan sedemikian rupa sehingga terkadang mendekati ‘god’. Tidak ada ruang bagi lokalitas untuk mendefinisikan“good”menurut keyakinan mereka. baik di Asia. Ali Farazmand (2004) secara tegas menyebutnya sebagai bagian dari praktek penyesuaian struktural (structural adjustment programs/SAPs). Indikator akan sesuatu yang disebut “good”itu juga dibawa jauh dari Amerika Serikat atau Eropa untuk kemudian dipakai dalam mengukur berbagai praktek di negaranegara berkembang. 95 Dampak (outcome) yang diharapkan adalah makin eratnya interaksi antara rakyat dengan negara. Brazil telah sangat terkenal dengan program Orçamento Participativo-nya (Partisipasi An Ggaran) di Porto Alegre. utamanya dalam hal distribusi anggaran. IMF. seperti WB. Bukti-bukti ini juga dapat kita lihat di belahan dunia lain. Afrika maupun Amerika Selatan/Karibia.

96

Kritik berikutnya terhadap Good Governance adalah kegagalannya

dalam memasukkan arus globalisasi dalam pigura analisisnya. Dalam

Good Governance seolah-olah kehidupan hanya berkutat pada interaksi

antara pemerintah di negara tertentu, pelaku bisnis di negara tertentu

dengan rakyat di Negara tertentu pula. Tentulah ini sangat naif. Sebab

kenyataan bahwa aktor yang sangat besar dan berkuasa di atas ketiga

elemen tersebut tidak dimasukkan dalam hitungan. Aktor tersebut adalah

dunia internasional. WTO, perusahaan multi nasional, UN, dan lembaga-

lembaga donor secara nyata telah hadir dalam setiap relung kehidupan

bernegara dan bermasyarakat di negara-negara berkembang, termasuk

Indonesia. Kita telah sama-sama menyaksikan bagaimana kehadiran

aktor-aktor ini sampai ke pelosok desa-desa. Program-program World

Bank misalnya, telah merasuki alam pikir dan nilai-nilai masyarakat hingga

di tingkatan desa, bahkan komunitas yang lebih kecil.

Merestrukturisasi pola relasi pemerintah, swasta dan masyarakat

secara domestik dengan mengabaikan peran aktor internasional adalah

pengingkaran atas realitas global. Dampak dari pengingkaran ini adalah

banyaknya variabel, yang sebenarnya sangat penting, tidak masuk ke

dalam hitungan. Variabel-variabel yang absen itu adalah kearifan lokal

sebagai akibat hegemoni terma ‘good’ala Barat dan dampak dari kekuatan

kooptasi internasional. Ruang kosong inilah yang coba diisi oleh sebuah

paradigm baru yang di sebut Sound Governance.

97

Kritik-kritik di atas sama sekali tidak menunjukkan adanya perbedaan

ideologi diantara yang mengkritik dan yang dikritik. Belum lagi kalau kita

hendak mengambil posisi sejenak ke dalam ideologi sosialisme atau

berbagai varian neo-Marxist. Tentu kita akan menemukan daftar panjang

kritik atas Good Governance sebagai alat bagi artikulasi kepentingan

kapitalisme dunia. Prinsip-prinsip dari satu piranti kapitalisme lanjut yang

disebut neo-liberalisme akan sangat mudah ditemukan dalam Good

Governance. Pemerintahan yang berorietasi pasar dan sangat akomodatif

dengan kekuatan sektor swasta adalah bukti yang paling utama atas kritik

tersebut. Dalam tulisan juga akan diulas sangat lengkap tentang kritik

terhadap Good Governance yang bersandar pada nuansa ideologi neo-

Marxist ini.

Di Indonesia, penerapan konsep Good Governance yang disponsori

oleh lembaga donor internasional telah berlangsung lama. Di tengah

kekuarangan di sana-sini, harus diakui bahwa transparansi, partispasi

masyarakat, akuntablitas dan penegakan hukum di lingkup pemerintahan

telah membaik dibandingkan sepuluh tahun terakhir. Good Governance

juga berhasil melewati garis demarkasi ideologi kanan versus kiri.

AnGgapan bahwa Good Governance adalah alat lembaga neoliberal

untuk melancarkan pembangunan kapitalisme dunia (Wilson, 2000) telah

terpatahkan dengan dicetuskannya “Deklarasi Dakar” dalam pertemuan

Socialist International di Dakar pada Juli 2004 yang juga mencantumkan

Good Governance sebagai agenda besar mereka.

98

Singkat kata, Good Governance telah menjadi platform global

tentang kemana arah pembangunan dunia harus dicapai. Sebab dengan

inklusivitas antara negara, masyarakat sipil dan bisnis, Good Governance

telah dianggap mampu menerobos pertentangan antara paradigma

pertumbuhan versus pemerataan.

Dengan makin inklusifnya hubungan antara pemerintah dengan yang

diperintah maka oligopoli dan korupsi akan menurun dan kesejahteraan

rakyat akan meningkat (Putra, 1999). Transparansi Internasional

mengatakan bahwa korupsi adalah sebab utama kemiskinan. Buktinya,

secara kuantatif kita bisa bandingkan. Indonesia dengan Indeks korupsi

2,4 yang memiliki GDP nominal per kapita $1.812 dengan Malaysia yang

Indeks korupsinya 5.0 memiliki GDP nominal per kapita $6.648.

SehinGga, dalam perspektif ekonomi, Good Governance adalah lem yang

merekatkan antara kekuatan negara dan bisnis dengan rakyat. Secara

konseptual, seharusnya “keberhasilan” penerapan Good Governance di

berbagai dunia itu juga dibarengi dengan “keberdampakannya” atas

kuatnya fundamen ekonomi rakyat.

99

A. Perlunya Arah Baru

Kenyataannya, relasi antara kesejahteraan rakyat dengan Good

Governance tidaklah seindah teori. Makin merekatnya hubungan antara

negara, bisnis dan rakyat ternyata tidak serta merta menguatkan

fundamen ekonomi rakyat. Pukulan krisis pangan adalah bukti konkret

yang sekarang ada di depan mata.

Bila Good Governance telah berhasil mengurangi kesenjangan di

tingkat domestik, lantas bagaimana dengan kesenjangan internasional?

Bila Good Governance telah berhasil mengadilkan distribusi kekuasaan

dan dana di tingkat lokal, apakah hal yang sama juga telah terjadi di

tingkatan global? Bila orang miskin di negara berkembang telah memiliki

media untuk bernegosiasi dengan orang kaya, apakah negara-negara

miskin telah memiliki media yang sama di arus global? Berbagai prinsip

ideal Good Governance apakah juga sudah diimplementasikan dalam

tataran internasional?.

Pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebutlah yang mengilhami Ali

Farazmand (2004) untuk menggagas konsep Sound Governance (SG)

sekaligus membuka arah baru bagi pembangunan global ke depan.

Setelah Good Governance berhasil menginklusifkan hubungan si kaya

dan si miskin di tingkat nasional, maka fase berikutnya adalah

menginklusifkan hubungan negara kaya dengan Negara miskin melalui

agenda SG.

sementara kekuatan bisnis dunia makin membesar. 100 B. menengah dan miskin sejak tahun 1960 sampai 2002 menunjukkan fakta yang sangat menarik. Nyerere depan Konferensi PBB.000 dan terus naik secara fantastis hingga tahun 2002 menjadi $25.5 milyar jiwa dengan negara menengah (2. dengan lantang telah mengkritik habis-habisan Good Governance yang dikatakanya sebagai konsep imperialis dan kolonialis. Sebab Good Governance akan mengerdilkan struktur negara-negara berkembang. Hal ini didukung oleh fakta kesenjangan global yang kian melebar.000 lebih. gap antara negara kaya (kurang dari 1 milyar jiwa) dengan negara menengah di era 1960 berkisar $7.500. tapi gugatannya terhadap pengaruh struktur global terhadap reformasi pemerintahan inilah yang mengilhami Farazmand untuk tidak hanya terfokus pada tiga aktor (pemerintah. Secara mengejutkan. Gap antara negara miskin yang ditinggali sekitar 2. Data dari UNDP tentang perbandingan GDP per kapita konstan negara kaya.7 milyar jiwa) relatif stagnan yaitu berkisar $1. Munculnya Sound Governance Presiden Tanzania Julius K. pasar dan civil society) tetapi juga kekuatan internasional. Kita bisa melihat hasil pembangunan internasional mulai dari Growth Theory sampai terakhir Good Governance hanya menghasilkan kerapuhan fundamen ekonomi dunia dan kesenjangan global yang semakin akut. . Terlepas dari benar salahnya kritik Sang Presiden.

proses. Penulis menyaksikan berbagai proyek dari World Bank. Dimana proses tersebut sulit untuk dikompromikan dengan negara. Kita menyadari bahwa dalam sebuah proses transformasi kelima hal tersebut merupakan bagian integral. 101 Kosep Sound Governance sangat perhatian pada persoalan ini. organisasi dan perjanjian internasional. LSM memiliki nilai dan kebijakannya sendiri yang diejawantahkan dalam struktur dan manajemen organisasinya. Kekuatan internasional di sini mencakup korporasi global. Sebab ketika istilah “Good” yang dipakai maka di dalamnya akan terjadi pemaksaan standar nilai. Sebab diperbaiki sedemokratis dan secanggih apapun pemerintahan lokal. nilai. Dalam hal ini. Formula dasar Sound Governance adalah 4 aktor dan 5 komponen. ADB . Term “Sound” menggantikan “Good” adalah juga dalam rangka penghormatan terhadap kenyataan keragaman (diversity). Ekslusivitas yang terjadi selama ini adalah masing-masing organisasi/elemen menjalankan kelima komponen itu secara sendiri- sendiri. civil society. kebijakan dan manajemen. Sound Governance juga menggagas sebuah konstruksi ideal bagi hubungan antara 4 aktor yang ada. Sedangkan 5 komponen adalah mencakup reformasi struktur. swasta apalagi aktor-aktor global dan demikian pula sebaliknya. bila struktur global tetap tidak adil maka kesejahteraan rakyat akan sulit tercapai. bisnis dan kekuatan internasional. Empat aktor sudah kita ketahui yaitu membangun inklusifitas relasi politik antara negara.

Sedangkan dalam konsep “Sound”. . matematis apalagi dogmatis. Sehingga SG pada prinsipnya juga memberikan ruang bagi tradisi atau inovasi lokal tentang bagaimana negara dan pemerintahan harus ditata. sesuai dengan kebiasaan. budaya dan konteks lokal. Akhirnya. term ini bisa diartikan layak. SG sesungguhnya percaya bahwa reformasi tata pemerintahan dan pembangunan adalah kerja budaya bukannya teknis. 102 dan UNDP tentang Good Governance juga telah memiliki alat ukur matematis tentang indikator “Good”. Tentu ukuran universal tentang kesejahteraan rakyat dan penghormatan hak dasar harus tetap ditegakkan. pantas atau ideal dalam konteksnya.

yaitu pemerintah. SG jauh lebih komprehensif dari pada Good Governance terutama dalam melihat aktor-aktor kunci yang harus dipertimbangkan dalam sebuah proses tata pemerintahan. Lebih jauh tentang . Pertama. Tidak hanya melihat proses interaksi antara aktor-aktor domestik. akan tetapi SG juga melihat besarnya peran konkret dari aktor-aktor ekonomi politik internasional. yaitu Sound Governance. Mengapa Harus Sound Governance Pada bagian-bagian terdahulu telah banyak dipaparkan tentang berbagai kelemahan konsep Good Governance. organisasi- organisasi multi lateral. pasar dan masyarakat sipil. 103 BAB VI SOUND GOVERNANCE A. Di Indonesia sendiri telah banyak bukti pada proses tata pemerntahan (Mansour. Aktor-aktor internasional di sini mencakup kebijakan luar negeri dari negara-negara maju. Hal yang membuat mengapa menjadi sangat penting saat ini untuk merumuskan konsep baru yang dapat menjawab kegagalan epistemologis Good Governance. 2003). Solusi dari masalah ini adalah dengan menghentikan arus besar kesalahkaprahan Good Governance yang meluas dengan menggantinya dengan konsep baru yang jauh lebih komprehensif dan reliable. Terdapat lima alasan pokok yang medasari kesegeraan dalam pergantian paradigm ini. korporasi global multinational corporation/transnational corporation (MNC/TNC) dan lembaga donor dan keuangan internasional dan big NGOs.

sebelum digulung oleh dominasi budaya barat. telah lama me[di]lupakan oleh kekayaan budaya kita sendiri. di berbagai belahan dunia. berbagai system pemerintahan berbasis budaya lokal juga sudah banyak terabaikan (Andi. Tetapi sejarah dan riset ilmiah seolah hanya mulai dibuka semenjak Max Weber mengkonstruksi konsep birokrasi modernnya. Ali Farazmand mencontohkah kebesaran Kerajaan Persia. 2007). Selama ini. Sistem pemerintahan daerah di Indonesia adalah sejarah yang sangat panjang. Disusul perkembangan ilmu administrasi publik berikutnya. penyeragaman atas sistem pemerintahan barat telah banyak mengubur hidup-hidup keragaman yang luar biasa atas system pemerintahan original lokal. terutama bangsa Indonesia. utamanya nilai dasar budaya pemerintahan tradisional yang telah lama terkubur. Kedua. Itulah sebabnya SG menyeruak untuk . Bukan hanya di Indonesia. Di Indonesia. termasuk Good Governance. bahkan jauh lebih panjang dari usia negara ini sendiri. 104 analisis aktor dalam SG ini akan dijelaskan lebih detail pada bagian lain dari buku ini. kita. SG juga mengedepankan adanya penghormatan atas keragaman konsepsi birokrasi dan tata pemerintahan. memiliki prestasi yang sangat besar dalam pengelolaan pemerintahan. Akan tetap model pemerintahan barat telah ditransplantasi seiring dengan masuknya kolonialisme di Indonesia. semuanya adalah cerita tentang pembantaian massal budaya lokal system pemerintahan.

Hal ini utamanya dipicu oleh tumpang tindih antara hubungan proses dan output yang ada di dalam Good Governance. pertahanan nasional. . yaitu hanya ada satu jalan saja untuk maju. Good Governance bersikukuh bahwa hanya ada satu jalan untuk menuju kesana. Melainkan bisa dengan berbagai cara. menjamin keamanan publik. 2008). kesejahteraan umum dan menjamin hak-hak masyarakat (McDowell. Nah. 105 melihat apakah masih ada peluang untuk menyelamatkan keragaman budaya pemerintahan itu. yaitu dengan menjalankan prinsip-prinsip Good Governance. Fleksibilitas yang menjadi titik tekan SG adalah ‘inovasi’. SG percaya pada pepatah ‘banyak jalan menuju Roma’. Artinya untuk mewujudkan diri sebagai pemerintahan yang baik tidak harus dengan satu cara. SG lebih mengedepankan pencapaian tujuan ketimbang ribut soal bagaimana cara tujuan itu tercapai. Kendati demikian di dalam SG ada prasarat-prasarat dasar universal terkait demokrasi. 2004). Seperti telah disadari bahwa tujuan utama dari pemerintah adalah menegakkan keadilan. dalam rangka mencapai tujuan itu. yakni pertumbuhan ekonomi. transparansi dan akuntabilitas tetap harus ditegakkan. Persis seperti perilaku pembangunanisme di masa Orde Baru. Ketiga. yang merupakan ruh dari implementasi SG dalam praktek pemerintahan sehari-hari (Farazmand. adalah orientasi SG yang lebih kepada keseimbangan dan fleksibilitas antara proses dan output dari sebuah proses tata pemerintahan.

yang juga pada gilirannya akan berkontribusi pada perbaikan tata pemerintahan global (global governance). Ambil saja contohnya UU No. Hal ini merupakan konsekuensi dari perubahan besar yang dilakukan SG dalam dunia administrasi publik yang ‘sadar globalisasi’. Ini merupakan gerakan sentrifugal dari tata pemerintahan di tingkat lokal. Ketika SG menganjurkan untuk menghormati dan mencoba untuk menerapkan budaya lokal dalam . perjanjian dan norma internasional. 106 Keempat. Di situ diatur banyak hal jaminan internasional atas hak-hak buruh. tapi kenyataannya di Indonesia praktek pelanggaran hak buruh masih saja marak. selaras dengan hukum. Selama ini yang terjadi adalah hukum-hukum ratifikasi atas perjanjian-perjanjian internasional yang ada di sekretariat negara masih hanya merupakan tumpukan peraturan yang tidak pernah diimplementasikan dengan baik. Di samping ada nilai-nilai lokal yang harus tetap dijaga dalam konteks SG. perjanjian atau norma internasional. Memutus begitu saja hubungan antara dinamika di tingkatan lokal dengan konteks global adalah sesuatu yang naif. Jangankan di tingkatan lokal. 21 Tahun 2003 tentang Pengesahan Konvensi ILO Mengenai Pengawasan Ketenagakerjaan dalam Industri dan Perdagangan. dunia harus juga makin terkoneksi secara produktif untuk menciptakan kemakmuran bersama. di tingkat nasional pun masalah ini masih sangat akut. Proses tata pemerintahan seharusnya sinkron dengn arah dan strategi global jangka panjang yang tertuang dalam hukum.

Utamanya dengan adanya teknologi informasi dan perlintasan antara budaya yang terjadi jauh lebih intensif. Kelima. dengan wilayah yang begitu luas pada jaman itu. adalah berkat diterapkannya prinsip “toleransi” dalam pemerintahannya. Penghormatan terhadap budaya lokal dalam SG adalah untuk menjaga kekayaan ragam budaya tata pemerintahan yang pada gilirannya akan berkontribusi untuk perbaikan satu-sama lain. Keberhasilan Kerajaan Persia pada Abad 500 SM dalam mengelola wilayah yang begitu luas. Sebab disadari atau tidak. identitas perbedaan budaya masing-masing daerah masih sangat kental. Timur Tengah. Pada zaman tersebut. sebuah negara besar dengan tingkat keragaman budaya yang tinggi nyatanya dapat bertahan hingga lebih dari . Namun hari ini pula perkembangan ilmu pemerintahan dan perangkat adminstrasi tata pemerintahan hadir lebih kompleks dan maju. Eropa Timur hingga Afrika Utara (Daniel. Sehingga integrasi relatif lebih mudah tercapai. dan cenderung membenci. bukan berarti mengajak masyarakat untuk menjadi nativist. terbentang mulai dari Asia. Memang hari ini banyak negara yang lebih luas daripada Kerajaan Persia waktu itu. aspek-aspek yang lebih luas terlebih global. pada dasarnya SG bukanlah sebuah konsep administrasi publik pada umumnya baik dari Birokrasi Weber hingga Good Governance yang dipaksakan (imposed) dari Barat. yaitu sikap yang hanya memikirkan masyarakat lokal dan budaya lokalnya tanpa peduli. SG adalah sebuah konsep ilmiah yang digali dari Persia. 107 praktek perintahan. 2001).

khususnya di bidang pemerintahan. konstitusional dan terlebih etis. . tetapi tidak mendikte bagaimana masing-masing dimensi harus dicapai. strategi itu adalah dengan tidak lagi diberlakukan mekanisme cetrum-pheripherydalam tata pemerintahan. manajerial. Dalam prakteknya saat ini. 108 600 tahun. Dibutuhkan kejeniusan dalam menciptakan sistem pemerintahan yang memungkinkan hal itu terjadi. Ini harus diakui sebagai sebuah prestasi yang luar biasa. Toleransi adalah kunci rahasia dari keberhasilan itu. Justru SG membuktikan bahwa konsep-konsep non-Barat sebenarnya banyak yang applicable. Hubungan eksploitatif antara pusat dan daerah harus mulai ditinggalkan. SG dengan jelas dan spesifik menyebutkan dimensi- dimensi yang harus dicapai dalam sebuah proses pemerintahan. Hal inilah yang menjadikan dasar pembalikan besar-besaran dalam perkembangan ilmu administrasi publik yang ada selama ini. politis. Sebab ambisi keberhasilan administrasi publik yang ingin dicapai dalam SG itu jelas tetapi tidak mendikte. Ide brilian ini sesungguhnya bukanlah sebagaimana selama ini diklaim dari Barat. Sound Governance dipakai tidak hanya untuk menunjuk pada sistem pemerintahan yang layak dan efektif secara domestik dan sempurna secara ekonomis.

Akibatnya angka probabilitas menjadi tak terhingga. sementara proses kerja tata pemerintahan tetap harus terarah. 109 B. seperti dengan menggunakan Bayesian Theory. Hal yang pertama kali harus dilakukan oleh para birokrat adalah memahami realitas situasi ini. Memang telah banyak perangkat teknis untuk mengatasi dunia yang penuh dengan ketidakpastian seperti ini. 2004). Mendefinisikan Kembali Realitas Interaksi berbagai elemen adalah realitas yang tak bisa dipungkiri dari SG (Farazmand. Seperti telah dikatakan pada bagian pendahuluan. yaitu rutinitas prosedural. Situasi yang tidak mungkin bisa dijawab dengan cara yang sangat sederhana. Maka mereka cenderung hanya menyelesaikan masalah-masalah permukaan yang hanya akan berujung publisitas semata. Akan tetapi itu adalah harga yang harus dibayar bila . Memang masalah yang ada adalah persoalan laporan dan akuntabilitas menjadi lebih rumit. Tetapi masalahnya adalah disamping kapasitas pelaku-pelaku di lapangan belum dapat menggunkan teknik ini dengan trampil. Sehingga pertanyaannya bagaimana tata pemerintahan berurusan dengan soal semacam ini? Bagaimana dimensi- dimensi yang ada dalam SG dapat menjadi jawaban atas kerumitan ini? Sebagian besar birokrat dan pemimpin politik mengalami frustrasi menghadapi masalah ini. bahwa matrik kehidupan saat ini sangatlah kompleks. pun tidak mungkin seluruh semesta persoalan di lapangan dapat diselesaikan dengan teknik–teknik semacam ini.

berikut ini adalah tonggak dasar dari mana kita berangkat. Tapi setidaknya kita tahu dimana kita dulu.mand. 2004). Tetapi sebuah perubahan budaya dan paradigmatik memang tidak bisa dilakukan dalam sekejap mata. Tiga realitas dasar. sebagai kesadaran SG dalam mencandra realitas sosial. kompleksitas dan ketegangan (Faraz. Mengingat kondisi kenyataan birokrat di seluruh dunia sangat jauh dari hal tersebut. Dengan kenyataan sosial yang sarat dengan interaksi yang dinamis ini maka harus memunculkan tiga hal pokok. Semangat kepublikan seperti dikatakan Irfan Islamy (1997) tidak lagi hanya sekedar berada pada tingkatan mental atau etika. . dari mana kita berangkat dan kemana kita hendak pergi. yaitu keragaman. Realitas dasar pertama adalah keragaman (diversity). 110 organisasi pemerintahan ingin menjadi lebih baik dalam mengemban tugas-tugas kepublikannya. Yang artinya ia haruslah menjadi sebuah sistem solid dalam tiap individual birokrat mulai dari tingkat kesadaran yang lebih tunduk pada pemecahan masalah ketimbang prosedur juga dalam perilaku teknis mereka di lapangan. Tentu saja perkembangan konsep SG saat ini sedang dan terus akan berproses. Memang harapan ini terdengar sangat naif. akan tetapi harus segera menjelma menjadi paradigma. Interaksi dinamis yang ada secara niscaya akan memunculkan umpan balik (feedbacks) dan check and balances. Tiga perwujudan inilah yang akan menjadi dasar bagi konstruksi konseptual SG itu sendiri.

bahkan di dalam keluarga sekalipun. Setiap pernyataan pejabat publik. Sebaliknya. 111 Di dalam kehidupan sehari-hari setiap pendapat yang kita ungkapkan. 2006). menjadi perlu untuk membuat kelompok-kelompok oposisi dan mereka-mereka yang ada di lingkaran pheriphery merangsek ke dalam inti pemerintahan dan kebijakan publik. Tidak ada masyarakat yang monolitik dan akan setuju seratus persen dengan apapun yang dikatakan orang lain. dalam skala yang besar maupun kecil. di rumah atau di kantor pasti akan selalu mendapat dua hal tersebut baik secara langsung maupun tak langsung. Sebagai dampak dari realitas dasar pertama (diversity). Singkatnya dapat dikatakan bahwa keberagaman dan demokratisasi secara simultan menciptakan kompleksitas dalam tata . Proses ini menjadi makin tinggi intensitasnya ketika media teknologi komunikasi sekarang sudah semakin merapatkan jarak dan waktu. kebijakan yang dibuat dan perilaku aparat di lapangan juga pasti akan menarik datangnya feedback dan check and balances. Kenyataan bukannya menjadikan para birokrat putus haparan (hopeless) atas betapa rumitnya dunia. Hal ini muncul karena keragaman (diversity) adalah kenyataan hidup (Wilson. Realitas dasar kedua adalah kompleksitas (complexity). harus dapat dijadikan energi untuk mendorong tumbuh suburnya inovasi dan kreatifitas di dalam tubuh organisasi pemerintahan. Hal ini juga didorong oleh gerakan demokratisasi yang hari ini juga telah menjadi gelombang besar dalam sejarah peradaban dunia kontemporer. Dalam bidang pemerintahan tentu hal ini menjadi sangat konkret.

Sekali lagi. Ketegangan yang dimaksud bukanlah dalam pengertian negatif. SG. Sibuk bukan mengerjakan sesuatu yang itu-itu saja dan bersifat fisik semata. mencari jalan keluar dan solusi terbaik di tengah kompleksitas tersebut. . Kompleksitas ini pada gilirannya akan membuat tata pemerintahan (governance) menjadi tetap sibuk (Farazmand. Realitas dasar ketiga adalah ketegangan (intensity). yaitu yang berkonotasi konflik destruktif. baik tingkatan praktek maupun perkembangan konseptual dalam ilmu administrasi public dan pemerintahan selama ini. Derajat intensitas komunikasi yang tinggi menyebabkan faktor psikologis dan ‘rasa’ juga terlibat di dalamnya. Karena mereka setiap hari harus bertemu dan berhadapan secara tangkas dengan masalah-masalah yang kompleks. tetapi sibuk yang membuat mereka berpikir. Kompleksitas menghasilkan berbagai macam derajat ketegangan atau intensitas dalam proses tata pemerintahan baik secara domestik hingga internasional. Ketegangan di sini lebih pada makin intesifnya komunikasi diantara elemen-elemen yang ada. kaku dan ala kadarnya sebagaimana proses interaksi umumnya terjadi di dalam birokrasi. 112 pemerintahan kita saat ini. Tetapi harus diingat. sekali lagi. Memang. realitas ini seringkali diabaikan. ingin mengajak kita untuk melihat sesuatu yang kompleks semacam ini untuk disikapi secara optimis. proses interaksi yang intens bisa menyebabkan konflik. 2004). Sebuah interaksi dan komunikasi yang tidak lagi formal.

SG menyadari bahwa ketegangan ini akan makin meninggi derajatnya dalam era modern. adaptasi. Birokrat harus tangkas dalam menyikapi berbagai kemungkinan yang timbul. Penolakan SG atas adanya wacana tunggal bukan semata wujud ketidaksenangan terhadap hegemoni Good Governance. Melainkan lebih didasarkan pada pembacaan realitas sesungguhnya yang terjadi di masyarakat yang serba kompleks. Tuntutan SG akan adanya kemampuan para pejabat publik yang lentur. Dalam konteks tata pemerntahan. melainkan sebuah tuntutan zaman yang tak bisa dihindari begitu saja. dan memetik manfaat terbaik dari tingginya derajat intensitas komunikasi hari ini. Sekali lagi. Keinginan SG untuk lebih menyeimbangkan antara output dan proses adalah berangkat dari perspektif yang kompleks dan diversetentang cara bagaimana tujuan-tujuan baik bisa digapai. Untuk itulah dibutuhkan juga jiwa yang senang tantangan (risk averse) demi mencapai sesuatu yang lebih baik. kelenturan dan inovasi merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh para birokrat di semua level. Tetapi juga harus cepat berbenah ketika menyadari ada kesalahan di dalam dirinya. . 113 peluang ke arah konflik sama-sama besarnya dengan peluang makin eratnya hubungan antar elemen yang berinteraksi. inovatif dan adaptif bukan semata harapan indah (wishful thinking). Ketiga realitas itu menjadi dasar bagi konsep SG itu sendiri.

peran dari lembaga-lembaga internasional cukup penting. Hal ini tidak dapat dipungkiri mengingat untuk kasus Indonesia sebagian proyek- proyek pemberdayaan dan peningkatan kapasitas pemerintahan didanai oleh lembaga-lembaga donor ini. Hubungan antara lembaga donor dan pemerintah (baik pusat ataupun daerah) masih banyak terjadi ketidakharmonisan. Bila hal ini terus berlanjut. Kegiatan peningkatan kapasitas yang ada selama ini hanya dipandang sebagai ‘proyek’ semata. Lahan untuk mencari uang bagi para pelaku yang terlibat di dalamnya. Hanya saja yang menjadi masalah selama ini adalah telah terjadi kesalahan cara mengelola dan mempersepsi kegiatan-kegiatan tersebut. ketergantungan akan keberadaan dana-dana asing akan semakin kuat. Di tingkat pusat sudah banyak broker-broker proyek yang memainkan pengucuran dana ke tingkat daerah. 114 C. Pentingnya Egalitarianisme Untuk mencapai hasil yang maksimal atas tujuan ideal tersebut. Dan lembaga donor yang tahu kondisi ini akan memanfaatkannya untuk makin merepresifkan . Sehingga daerahpun akan mempersepsi kegiatan atau program peningkatan kapasitas dari lembaga donor asing itu juga hanya sebatas proyek. Hal ini tidak dapat disalahkan. akan tetapi juga harus melihat pada hasil yang harus dicapai. Dana-dana dari lembaga asing umumnya masuk dan menandatangani kontrak dengan pemerintah pusat sebelum masuk ke daerah.

maka kemajuan dan perbaikan yang hakiki di negaranegara berkembang tak akan pernah tercapai. hanya akan memperkokoh struktur tidak adil antara centrumperiphery. Sebab hubungan neo-kolonialistik hanya akan melanggengkan kesenjangan antara negara maju dan negara miskin. Pola hubungan antara lembaga pemberi donor dan penerima donor yang lebh egaliter dan emansipatoris sangat penting untuk segera ditegakkan agar proses operasional dari berjalannya peningkatan kapasitas system pemerintahan lebih smooth. Utamanya ketika kemajuan (progress) telah menjadi bagian dari praktek hegemoni dan patokan sistem baku (modular form) yang harus dipatuhi. Hal inilah yang terjadi pada hubungan lembaga pemberi donor dan negara penerima donor yang bersifat neo-kolonialistik. serta menciptakan tatanan ekonomi politik internasional yang eksploitatif. seperti sanksi. Sebab para aktor yang menjadi sasaran untuk ditingkatkan kapasitasnya melakukan segala perbaikan atas dasar kesadaran dan kebutuhan mereka. Bukan sebagai . 1994). konflik perbatasan. Kekuatan internasional semacam itu seharusnya memberikan dukungan dan peluang daripada memberikan tekanan dan hambatan. 1993 Blaut. Shohat dan Stam. perang. kapanpun dan dimanapun (Chatterjee. propaganda. sikap permusuhan. Di dasar niat sebaik apapun kalau hubungan neo-kolonialistik yang terjadi. 1993. 115 pendekatan dan pola hubungannya dengan negara atau institusi-institusi penerima donor. ataupun tekanan finansial internasional.

Penting untuk mendorong pada terciptanya capacity building. takut dipecat dan takut tak lagi mendapatkan gaji dari sang juragan. Sebab mereka tidak melihat secara mendalam apa sebab-sebab kegagalan suatu daerah dalam implementasi proyek tersebur. Semua pihak yang terlibat harus terbuka dan egaliter untuk memahami persoalan dan bersama mencari solusinya. Para buruh selalu diliputi rasa segan dan takut ketika berhadapan dengan juragan. Yang terjadi selama ini adalah hubungan antara juragan dan buruh. Sehingga agar selamat dari amukan juragan. Ini adalah sebuah hubungan yang neo-kolonialis dan dangkal. inovasi. Pernyataan ini bersifat ancaman dan koersif. Tiap-tiap daerah tentu memiliki keunikan sendiri-sendiri. maka perbedaan capaian adalah sesuatu yang wajar terjadi. kreatifitas dan responsivitas yang adaptif. Jangan- jangan memang ada yang salah dengan desain proyeknya. para buruh berusaha sedapat mungkin membuat juragan senang dan gembira. Sang juragan juga menikmati previllegeini. Sering kita melihat dalam skema proyekperoyek di daerah yang mengatakan bahwa kalau daerah tertentu tidak berhasil mengimplementasikan modul proyek. maka daerah itu tidak akan mendapatkan proyek lagi. Caranya dengan memberikan laporan-laporan tentang hal-hal yang baik-baik dan menutupi hal-hal yang buruk. Senang ketika semua . 116 kewajiban dan keharusan yang kerap kali mereka lakukan atas dasar tekanan dan keterpaksaan. Dalam SG pola hubungan inter-personal maupun interinstitusional antara pemberi donor dan penerima donor ini sangat penting.

Fakta tersebut sama validnya dengan . 117 orang berusaha untuk membuatnya senang. Jepang. pola hubungan seperti ini di abad XXI masih cukup lestari di negeri kita tercinta. Dan kenyataannya. akan tetapi dalam konteks kekinian menolak mentah-mentah segala bentuk kehadiran mereka juga bukan pilihan gampang. Sebab di beberapa negara (Eropa Barat. meskipun dengan laporan- laporan fiktif dan palsu. Korea Selatan. Tidak hanya antara bupati dengan para birokrat di bawahnya. Di samping itu. yaitu provisionalisme. Hal inilah yang menjadi titik tolak SG dalam hal melakukan reformasi atas keberadaan dana-dana asing di negara-negara berkembang. Berbeda dengan kalangan Marxist ekstem yang selalu menolak mentah- mentah segala sesuatu yang datangnya dari World Bank atau IFIs. 1991). karena menganggapnya sebagai agen neo-liberalisme yang selalu eksploitatif. tapi juga yang lebih memperihatinkan adalah antara lembaga-lembaga donor dengan pemerintah. Memang betul bahwa lembaga-lebaga tersebut mengemban misi neoliberal (Alavi. Persis seperti hubungan penjajah dan terjajah. Taiwan dan Amerika Utara) harus diakui faktanya bahwa neo-liberalisme berhasil memajukan ekonomi mereka. sikap penolakan mentah-mentah semacam itu juga tidak sejalan dengan solusi arif poskolonial. Dan hanya akan marah-marah ketika kedapatan ada anak buahnya yang kurang berhasil dalam pelaksanaan tugas.

Dan oleh karena itu satusatunya pilihan bagi negara-negara di seluruh dunia untuk menjadi sejahtera maka harus menerapkan neoliberalisme. Artinya. Strategi SG dalam menata ulang hubungan lembaga pemberi donor dengan penerima donor bukanlah semata ditunjukkan dalam sikap manis dan senyum ramah setiap kali bertemu. mungkin ada keyakinan ideologis yang kuat yang . Provisionalisme penting dalam rangka mencegah kita untuk bersikap antipati terhadap sesuatu hal. Tetapi juga harus nampak pada keramahan ideologis. Tetapi harus diingat bahwa sebaliknya. Terlebih dari pada itu. Atau para konsultan lembaga asing yang merasa paling pintar dan paling mengerti atas kondisi yang dihadapi negara penerima donor. adalah selalu baik dan ideal. 118 kenyataan bahwa neoliberalisme juga memiskin-kan Negara di Afrika. banyak pula hal yang diketahui pelaku-pelaku lokal dan tidak diketahui pejabat-pejabat World Bank. Asia Tenggara dan Amerika Latin. Dua sikap ekstrem tersebut sama-sama kekanak-kanakan. Pun SG berbeda dengan kelompok ekstrem kanan yang selalu dengan membabi buta mengatakan bahwa neoliberalisme dan segala keturunannya (termasuk Good Governance). para petinggi World Bank dan IFIs lainnya berhentilah berskap seperti juragan dan memperlakukan negara-negara penerima dana sebagai hamba sahaya. Mungkin memang banyak informasi yang diketahui para petinggi di World Bank yang tidak diketahui masyarakat dan birokrat di Indonesia.

terlebih global. Tidak ada yang salah dengan pemahaman seperti itu. kepentingan dan ideologi. 119 dimiliki IFIs dan itu berbeda dengan keyakinan ideologis para pelaku di lapangan. Keindahan tidak harus satu bentuk. utamanya bila kita hendak menelorkan sebuah ide yang akan diterapkan di tataran mikro. Indikator yang digunakan sebagai alat ukur keberhasilan serta merta akan berubah menjadi awal kegagalan besar. nilai. dan dapat diukur sampai sejauh mana kinerjanya dapat dicapai di lapangan. Oleh karena Sound Governance tidak ingin mengulang . D. Sebab indikator akan mengabaikan kompleksnya variasi yang ada di lapangan serta mengabaikan fitrah kehidupan yang tak tunggal. Akan tetapi hal ini akan menjadi masalah besar ketika hendak diterapkan pada proses epistemoligis pada konsep makro. Egaliter dalam bersikap dan bernegosiasi atas informasi. Bagaimana seharusnya kita menyikapi perbedaan-perbedaan ini? Satu kata saja. Dimensi-dimensi dalam Sound Governance Kata dimensi di sini penting untuk mengatakan istilah ‘indikator’. egalitarianisme. Sebab sebuah ide yang implementatif adalah ide yang bisa diimplementasikan. Sebab sebagaimana dalam Good Governance dan konsep konsep hegemonik lainnya. indikator keberhasilan adalah sebuah prasyarat mutlak bagi sebuah ide agar dapat dikatakan implementatif.

Yang hendaknya dilakukan dalam dimensi ini adalah mencapai dan mencermati kualitas proses dari interaksi antar elemen tersebut. Jalan mana yang hendak dipilih tentulah sangat tergantung pada pertimbangan dan keadaan masingmasing yang kontekstual. tentu kita akan dapat melihat berbagai pilihan alternatif jalan untuk menuju satu tempat. Ibarat sebuah peta. 120 kesalahan-kesalahan konseptual yang sama. Dalam hal ini berarti termasuk pula elemenelemen yang ada dalam GG (negara. keleluasaan dalam wilayah implementasi. Dengan konsep dimensi. maka SG lebih mengedepankan dimensi ketimbang indikator. Proses Proses di sini artinya adalah hubungan dan interaksi antara berbagai elemen yang ada dalam proses tata pemerintahan. swasta dan masyarakat sipil) dan juga ditambakan satu aktor dalam SG yaitu aktor- aktor internasional. Dimensi-dimensi tersebut adalah: 1. tanpa harus menjadi chaos. Di dalam SG terdapat sepuluh dimensi yang diharapkan dapat menjadi peta dalam pelaksananaan reformasi administrasi publik. meski sangat normatif yang bisa diukur meski tidak harus dikuantifikasi. Sehingga tidak seperti dalam GG yang indicator interaksi antar . Sebab dimensi tetap memiliki standar ideal. Istilah peta di sini digunakan sebab sepuluh hal yang ada ini bukan merupakan harga mati dan keharusan. keragaman serta kreatifitas pelaku-pelaku di lapangan menjadi dapat terekspresikan secara luas.

lengkap dengan kolom asal insitusinya. . Ibarat menikmati keindahan ikan. Proses eksternal yang dimaksudkan di sini adalah berangkat dari kenyataan tentang dunia yang saling terkoneksi. SG tidak melihatnya di dalam sebuah akuarium. 121 aktornya hanya penuh dengan lembar kehadiran dan tanda tangan dari para peserta rapat. Sebab dalam proses interaksi yang polisentris. Nah tugas SG adalah untuk mencermati hal itu dan berupaya untuk mengegaliterkannya. Maka ketika kita melihat proses interaksi empat aktor di satu lokus tertentu. SG tidak melihat melulu pada aspek permukaan itu. disadari bahwa hubungan antar elemen itu selalu terkait dengan besaran kuasa (Shohat and Stam. 1994). Sedangkan yang dimaksud dengan ‘struktur dari proses’ adalah distribusi kuasa yang terbangun di dalamnya. melainkan melihat ikan-ikan tersebut langsung dari dasar lautan. Satu hal yang perlu ditekankan di sini adalah SG tidak hanya terfokus pada proses internal. dicari sebabnya dan arah perbaikan sesuai dengan konteks lokal. jangan lupa bahwa ada proses di lokus yang lain yang mungkin juga berpengaruh terhadap formasi tersebut. tapi juga eksternal dan struktur dari proses itu sendiri. melainkan proses seperti apa yang terjadi atas hubungan empat aktor yang ada di tiap-tiap daerah.

sistem pengambilan keputusan dan otoritas (Farazmand. peraturan. aktor. Atau struktur yang mengatur tentang regulasi. dengan struktur yang ada di dalam dirinya. prosedur. 2004). yang dimaksud struktur di sini adalah tubuh konstitutif dari elemen. utamanya menyangkut kaitan antara satu regulasi dengan regulasi lainnya serta alasan-alasan mengapa regulasi tersebut harus berbentuk demikian. tetapi dapat pula berada di masing-masing elemen yang ada dalam tata pemerintahan. 122 2. Hal ini bertujuan agar tata pemerintahan yang ada benar-benar mengerti dan . Arahan yang diberikan oleh struktur ini berada pada keseluruhan sistem tata pemerintahan. Struktur Kalau proses adalah tentang bagaimana pemerintahan bekerja. Hal ini merupakan aturan atas peranan yang harus dimainkan masing-masing hal tersebut. Contohnya harus ada konstitusi yang jelas yang mengatur tentang sejauh mana otoritas yang dimiliki seorang pejabat publik utamanya dalam proses pengambilan keputusan. SG berharap setiap tata pemerintahan dapat mengidentifikasi struktur dari elemen-elemen yang ada di dalamnya. Dengan demikian. Sehingga. struktur menunjukkan dan memandu arah pada proses tersebut. tahu apa yang harus diperbuat dan kemana harus melangkah sesuai dengan tujuan kolektif yang telah ditetapkan. regulasi. Sehingga tiap-tiap elemen yang ada.

Kesadaran dan Nilai Nilai demokrasi harus disandarkan sebagai kebutuhan. Internalisasi terhadap demokrasi yang dipaksakan oleh lembaga- lebaga donor juga makin terkikis kedigdayaannya oleh standar ganda dari lembaga-lembaga keuangan tersebut. 3. Wacana adalah menu bagi dosen dan para aktivis mahasiswa belaka. Dan mereka beranggapan bahwa pekerjaan sebagai birokrat dan politisi bukanlah pekerjaan yang berurusan dengan wacana. Sebab. tahu cara memanfaatkannya dengan baik dan memperbaiki dengan segera bila terdapat kesalahan. Hal inilah yang kerap kali menjadi kesalahan dalam program-program demokratisasi di dalam pemerintahan. Sebab demokrasi bagi mereka bukanlah sesuatu yang konkret. 123 mengenali elemen-elemen yang dimilikinya. akan tetapi hanyalah wacana. bukan dipaksakan sebagai proyek. di beberapa tempat ternyata lembagalebaga internasional ini juga menyokong . termasuk wacana tentang pentingnya demokrasi. Tetapi ketika diantara mereka sedang berbicara. Hal ini terjadi karena selama ini internalisasi nilai tidak dibarengi dengan kesadaran akan pentingnya nilai itu. mereka sering kali tertawa lebar setelah mengucapkan kata- kata ‘demokrasi’. melainkan sesuatu yang konkret. Banyak birokrat dan politisi yang tidak menginternalisasi demokrasi dengan baik. Belum dapat diturunkan ke dalam sesuatu yang pragmatis. Mereka menggunakan kata-kata itu hanya untuk kebutuhan kampanye dalam pidato-pidato formal. Demokrasi selalu saja dikaitkan tentang hal-hal yang sifatnya jangka panjang.

Formalisme terjadi ketika aturan dan regulasi formal dilengkapi oleh norma dan perilaku informal dan tidak resmi dalam politik. tetapi mereka diaplikasikan secara kaku (Farazmand. Ini diabaikan dan diterobos oleh sebagian besar orang dan waktu serta digunakan secara selektif untuk melayani kepentingan kekuasaan khusus. tata pemerintahan. atau organsasi yang buruk dan tidak kuat –jika ini disebut sebagai sistem– konstitusi tidak lebih dari dokumen formal. segala macam proyek tentang demokratisasi yang ada itu tidak hanya bermasalah di tingkatan penerima tapi juga di tingkatan pemberi. Artinya. Kesadaran akan pentingnya nilai demokrasi tidak hanya tidak dipahami oleh penerima. 1989). Konstitusi di dalam SG tidak diposisikan dalam konteks tersebut. dan administrasi untuk melayani tujuan khusus. Banyak kasus rezim yang otoriter tapi disokong dan keberadaannya tergantung pada dukungan internasional hanya karena terjadi transaksi bisnis yang saling menguntungkan di antara mereka. tetapi juga tidak dihayati oleh para penganjur proyek demokratisasi itu sendiri. Penyakit formalisme konsitusi seperti itu juga melanda negara-negara . Konstitusi Pada prisipnya konsitusi adalah dokumen yang memberikan blue printdari pemerintahan. Namun demikian dalam sistem yang lemah. 124 pemerintahanpemerintahan yang anti-demokrasi. 4.Ini adalah ‘formalisme’ atau dualitas dalam proses tata pemerintahan di seluruh dunia yang sangat dipengaruhi atau didikte oleh struktur kekuasaan globalisasi eksternal.

Sebuah tingkat formalisme tinggi telah mengikis legitimasi sistem. 1966). . Organisasi dan Institusi SG adalah sebuah konsep yang sangat mengedapankan implementasi. organisasi dan institusi adalah alat untuk membuat sebuah tujuan dan cita-cita kolektif menjadi kenyataan. Organisasi adalah wujud konkret dari institusi. SG tidak mematok organisasi dan institusi seperti apa yang bisa dibilang baik atau buruk. Sebuah konstitusi berfungsi sebagai sumber legitimasi paling penting atas sistem tata pemerintahan. sekali lagi. Namun demikian. Apapun namanya. Insitusi adalah jiwa dan organisasi adalah tubuhnya. Sebab hal ini sangatlah kontekstual. 5. Institusi berisi tugas-tugas dan alasan kenapa organisasi tertentu diperlukan. Panduan yang bisa dipakai adalah kesesuaian kondisi organisasi dengan tujuan dan konteks lokal. Organisasi dan institusi adalah peralatan pokok yang harus dimiliki guna mencapai tujuan sebuah pemerintahan. Sebuah konstitusi kerja juga memberikan kontribusi terhadap kekuatan pemerintahan pada level nasional. menengah maupun pendek tidak mungkin bisa tercapai bila perangkat fisik untuk mencapainya tidak memadai. Bukan hanya sebuah kumpulan nilai-nilai ideal yang abstrak. perencanaan strategi jangka panjang. Dalam administrasi pemerintahan. 125 industrialisasi sangat maju dari Barat dan problem tersebut lebih kronis dalam negaranegara berkembang dan negara-negara kurang maju (Riggs.

mengontrol kondisi setiap jengkal organisasi dan insitutsi yang ada di dalam sebuah sistem pemerintahan adalah hal yang sangat penting di dalam SG. manajemen adalah bagaimana organisasi mengatur hidupnya dan mengekspresikan dirinya. organisasi di satu tempat yang pekerjaannya adalah membuat perencanaan tidak harus sama manajemennya dengan . Kita harus melihat organisasi-organisasi yang ada di dalam pemerintahan dalam kaca mata yang utuh. Misalnya. Tanpa institusi tidak akan ada tata pemerintahan. Tidak mencari siapa yang salah atau siapa yang benar dalam menilai kualitas organisasi. Melainkan yang harus dicari adalah apa yang salah dan bagaimana cara memperbaikinya. Sekali lagi. 6. Tetapi dengan mengajukan pertanyaan misalnya tentang apa saja organisasi yang ada dalam pemerintahan? Dan bagaimana mereka bekerja? Sehingga dalam hal ini tidak ada penghakiman yang bersifat langsung terhadap organisasi-organisasi yang ada. Bila instisusi adalah jiwa dari organsasi yang membuat organisasi memiliki karakter. Manajemen dan Performa Manajemen adalah sebuah proses yang berjalan di dalam organisasi. dan insitusi tanpa organisasi akan rapuh. Oleh karenanya banyak organisasi yang memiliki insitusi yang sama tetapi menajemennya berbeda. 126 Sehingga untuk mencapai kondisi organisasi yang baik bukanlah dengan mendaftar sekian banyak indikator dan mencocokkan apakah kondisi organiasi dan institusi yang ada sudah cocok dengan indikator tersebut atau belum.

Ada kemalasan yang masif untuk mempelajari perkembangan perkembangan dan ilmu terbaru tentang manajenen untuk coba diterapkan di kantornya. Inilah yang disebut dengan performa. Keterpisahan antara dunia kerja dengan dunia wacana begitu terbentang . Ini pulalah yang membuat SG tidak mendukung adanya stagnasi dalam sebuah proses pemerintahan. Masalah manajenen yang penting untuk diperhatikan di dalam SG bukanlah terletak pada manajemen gaya apa yang dipakai tetapi fokusnya adalah manajemen yang dipilih itu harus dapat mengantarkan organisasi pada dampak yang diinginkan. Beberapa malah ada yang masih ditulis dengan ejaan yang belum disempurnakan. kontribusi apa yang diharapkan dapat diberikannya pada masyarakat. Performa merupakan alat ukur utama dalam SG untuk melihat kualitas manajemen dalam sebuah prses pemerintahan. manajemen harus dinamis dan mengikuti teknologi dan ilmu terbaru. 127 organisasi perencanaan di tempat lain. Apa dampak yang diinginkan? Tentu sangat tergantung dari fungsi dasar organisasi itu. para pemimpin dan birokrat di lapangan juga hanya mengekor pada kebiasaankebiasaan yang selama ini sudah berlangsung. Tidak hanya itu. Selama ini birokrasi selalu malas bahkan takut untuk melakukan perubahan. Oleh karenanya. Kita bisa melihat dimana-mana di seluruh kantor pemerintahan di tanah air sebuah alur atau prosedur tertentu yang usianya sangat tua masih terpampang di dinding kantor. Seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Itu berarti . Sementara problem yang sesungguhnya itu ada di tengah-tengah riil kehidupan bermasyarakat. Dimana dengan demikian dapat diartikan pula bahwa studi ini pada tataran konseptual harus memiliki keberpihakan yang kuat terhadap kepentingan masyarakat. Dari situ semakin tegas bahwa orientasi dari studi kebijakan publik itu adalah kepentingan publik. Bekerja dan berpikir menjadi dua aktifitas yang saling berbenturan. 2001). Sebab. Sementara di sisi yang berseberangan. Yang harus diingat adalah ketika dikatakan bahwa studi kebijakan publik itu berorientasi pada kepentingan publik. Manajemen dalam SG adalah ditandai dengan tidak adanya lagi dikotomi itu. Sebab seperti telah sering diungkap di muka bahwa studi kebijakan publik adalah sebuah formula problem solver. Kebijakan Kebijakan memberi arah dan kendali pada proses. problem kebijakan itu tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Dan oleh karena itulah ia juga tumbuh bersama dengan kepentingan publik itu sendiri (Putra. birokrat harus selalu membaca dan mendiskusikan hal-hal baru dalam mana- jemen sebagai bekal dalam melakukan pekerjaan riil. Birokrat dan politisi yang dibayangkan hanya berkutat pada sesuatu yang bersifat kerja konkrit dan jarang berpikir. aktifis dan intelektual selalu dibayangkan dengan kerja-kerja wacana pemikiran yang abstrak dan tidak riil. Artinya. struktur dan menejemnen dari sebuah pemerintahan. 7. 128 luas. dalam rangka memperbaiki performanya. dan berorientasi pada pelayanan kepentingan tersebut.

Dari sini jelas terlihat bahwa pentingnya partispasi dan demokrasi adalah untuk menjamin kualitas kebijakan di level pertama. maka berikutnya adalah membuat kebijakan-kebijakan di dalam organiasi pemerintahan yang dibuat untuk. regulasi dan prosedur untuk mencapai tujuan organisasi. Tidak hanya itu. Kebijakan pada jenis pertama ini terkait dengan keputusan politik demokratis dari sebuah sistem tata pemerintahan. Yang kemudian hasil persepakatan proses dialog demokratik itulah yang menjelma menjadi sebuah kebijakan publik. Yaitu kebijakan yang diangkat dari aspirasi masyarakat (langsung maupun perwakilan) untuk dijadikan sebagai arah gerak organisasi. kebijakan eksternal kepada individu atau organisasi. adalah kebijakan internal. Sehingga demokrasi dan implementasi pembangunan di titik ini dapat menemukan titik . Yaitu kebijakan tentang aturan. Di dalam SG dikenal adanya dua tipe kebijakan. Dan lebih jauh dari itu. Sehingga ketika kebijakan pertama (politik) telah ditetapkan. studi kebijakan publik juga berbasis pada proses dialogis dari berbagai kepentingan tersebut. 129 ia juga berorientasi pada berbagai kepentingan yang beragam di masyarakat. Pertama. Yang diangkat dari aspirasi masyarakat politik di luar organisasi untuk diformulasi menjadi kebijakan yang akan mengatur organisasi pemerintahan. SG menghendaki hubungan antara kedua level kebijakan ini menjadi seimbang. dengan transparansi. Kedua. dari dan oleh organisasi itu sendiri. masyarakat juga dapat melakukan evaluasi tak langsung terhadap kebijakan di level kedua.

Karena. dan lain-lain. kesehatan. Sektor sifatnya juga sangat kontekstual. pedesaan. Akan tetapi SG juga tidak mensyaratkan agar organisasi pemerintahan itu menjadi super bodyyang bisa menangani segala hal. budaya. Karena ujung tombak dari pelaksanaan pelayanan public ada pada masing- masing sektor ini. Kebutuhan sektoral dari satu pemerintahan dengan pemerintahan lain tentunya berbeda-beda. SG sangat mengharapkan agar ada keahlian (expertise) yang sangat tinggi dalam sebuah penempatan personalia. dinamika organisasi pemerintahan juga akan sangat tinggi di semesta pembicaraan sektor ini. Tidak hanya masalah tempat yang menyebabkan perbedaan sektor ini. Membutuhkan pengetahuan dan kemampuan yang mumpuni dari para birokrat yang ada di dalamnya dalam pengelolaan ini. dalam waktu tertentu. 8. sektor sangatlah penting. Akan tetapi masalah waktu juga bisa menjadi sebab. Demokrasi bukan lagi sebatas wacana ilmiah yang tidak membumi dalam pelaksanaan konkret sebuah tata pemerintahan. Sektor-sektor yang umumnya kita kenali di dalam organisasi pemerintahan adalah seperti sektor indusri. Pentingnya Expertise itu salah satunya adalah guna menjaga kualitas sektor-sektor dalam sebuah sistem pemerintahan. 130 pragmatisnya. seperti sebisa juga diwujudkan dengan cara . namun di waktu lain tidak dibutuhkan. Sektor Dalam sebuah pemerintahan. Maka. pendidikan. bisa jadi sebuah sektor diperlukan keberadaannya. agrikultur. transportasi.

IMF. regulasi. bukan malah menghambat dan mempersulit. Faktor International Sebagaimana telah berulang kali disampaikan. Juga tuntutan implementasi bermacam-macam aturan. pada saat yang bersamaan juga berkembang trend glocalismsebagai antitesis dari gagasan globalisasi berikut anomali- anomalinya. Dan tata aturan birokrasi harus sedapat mungkin menfasilitasi terjadinya hal tersebut. pemerintah dan warga negara semakin ditarik –secara sukarela atau terpaksa– untuk menumbuhkan sekumpulan rezim yang menunjukkan intoleransi terhadap perilaku governance tertentu yang sebelumnya dan secara tradisional dianggap normal dan internal bagi kedaulatan pemerintah (misalnya rezim Apartheid di Afrika Selatan. atau genocide di Afrika). negara. Di sisi lain. 131 kerja sama antar lembaga. yang tidak hanya melakukan . dan protokol yang disetujui dan didasarkan pada level global dan kolektif. Ini jugalah yang menjadi agenda penting dalam SG. Interaksi diantara kedua arus besar ini membuat kompleksitas global governancejuga semakin rumit. Dalam hal ini keterkaitan yang cair antara organisasi-organisasi pemerintahan di semua sector dengan lembaga atau perseorangan yang memiliki keahlian di sektor tertentu sangatlah dianjurkan. Sekarang. dalam zaman peningkatan globalisasi dan interdependensi global. 9. selama ini peranan Bank Dunia. WTO dan lembaga-lebaga internasional lainnya memainkan peran yang penting dalam mendefinisikan parameter dari kualitas governace di berbegai negara.

132 perbaikan pada local and national governancemelainkan jauh lebih penting juga melakukan reformasi di tingkatan global governance. Sikap lembaga donor yang mendikte justru membuat tata pemerintahan di negara-negara berkembang menjadi lemah. Kita bisa menghitung berapa banyak uang dan sumber daya yang selama ini dikeluarkan dalam hal penyelengaraan proyek-proyek dari lembaga donor ini. Di tengah ketidakefektifan pelaksaannya. . kita dengan demikian juga dapat menghitung berapa banyak uang yang telah dihamburkan secara mubazirsetiap harinya. tidak pula semua itu dilakukan hanya untuk memperkokoh noe- kolonialisme tanpa sedikitpun ada niat untuk memperbaiki kondisi pemerintahan yang ada di negara berkembang. SG menginginkan reforamsi tata pemerintahan global dilakukan secara segera utamanya adalah agar pemanfaatan dana-dana dari institusi-insitusi pendonor internasional itu tidak terbuang percuma. Lebih dari itu. Urgensi reformasi tata pemerintahan global menjadi semakin mendesak atas adanya situasi semacam ini. Dan itu semua masih terus berlangsung hingga kini. bukan tumbuh secara alami dan memiliki akar yang kuat menghujam dalam bumi. Sebab reformasi yang diselenggarakan itu bersifat cangkokan.

tidak ada yang mutlak dalam etika. Hal ini juga disadari bahwa stadar etik masing-masing tempat berbeda-beda dan tentu berada dalam konteksnya masing-masing. Tidak ada satupun hal yang ada memiliki sifat absolut dan tak mungkin diubah. Misalnya tentang penghormatan atas hak cipta. Mengapa di satu tempat asertifisme dianggap hal yang biasa dan normal sementara di tempat lain dianggap egois dan mementingkan diri sendiri. SG dengan demikian ingin agar etika dalam adimistrasi publik menjadi sesuatu yang benarbenar hadir dalam realitas. 133 10. mengapa di satu tempat dijunjung tinggi dengan sangat sacral sementara di tempat lain tidak begitu dipedulikan. 1999). Kelemahan perbicangan etika dalam administrasi public selama ini terletak pada konsepnya yang terlalu filosofis dan tidak membumi. Kekuatan . Hanya saja proses perubahan dan pengubahan itu harus dilakukan secara perlahan dan mengedepankan kesadaran ketimbang paksaan. etika dalam administrasi publik tetaplah merupakan hal yang penting. Demikian pula dalam koteks etika. Proses pembelajaran yang bersifat komparatif sangatlah penting. internalisasi nilai masih sangat mungkin dilakukan asalkan ada strategi yang kuat dan handal. Artinya. Pandangan konstruktivisme mempercayai bahwa semua hal yang ada di muka ini merupakan proses pembelajaran (Wendt. Etika Meski seringkali dipandang sinis. Penerimaan dan internalisasi etika adalah masalah pembelajaran.

Sistem dan struktur juga dapat dibangun untuk menciptakan akuntabilias dan tansparansi sebagai bagian dari upaya internalisasi etika. Birokrasi bekerja untuk mencapai efektivitas dan efisiensi. Etika yang harus diemban adalah tetap kepentingan public yang berada di atas segalanya. melainkan juga dilihat keterkaitannya satu sama lain. Efektivitas dan efisiensi dalam birokrasi itu hanyalah alat. Level dari tata pemerintahan (governance) dalam SG mencakup empat tingkatan. yaitu lokal. E. bukannya untuk efektivitas dan efisiensi itu sendiri. Keempatnya tidak hanya didekati secara mendalam satu persatu. melainkan seberapa mampunya dia menjelmakan nilai etik menjadi kesadaran. nasional. Level Sasaran Reformasi Dua kebaruan yang mencolok dalam SG adalah lokusnya yang sensitif terhadap fakta kontemporer globalisasi dan pentingnya inovasi dalam proses tata pemerintahan di lapangan. Jadi efektivitas dan efisiensi adalah untuk pelayanan publik. 134 dan kehadalan strategi dalam internaslisasi nilai-nilai etik di dalam administrasi public tidak ditentukan dari seberapa koersifnya dia. bukan tujuan. regional dan internasional. bukan untuk membuat birokasi menjadi berpikiran sempit sebagaimana layaknya kalangan bisnis. juga mencegah orientasi kerja birokrasi yang hanya murni ekonomis dan administratif semata. Etika yang implementatif juga dapat mencegah potensi penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. Hal inilah yang .

SG sudah sepatutnya menjadi paradigm baru dalam adinistrasi publik karena dia telah menerobos batas-batas mitologi ketabuan khazanah ilmu administrasi publik yang ada selama ini. Proses manajerial. Yaitu mitos yang menganggap bahwa persoalan hubungan antar negara bukanlah wilayah kajian administrasi publik. Bahkan seringkali Good Governance terlalu terfokus memperhatikan hanya pada level lokal saja. dan tak boleh menyentuh sama sekali aspek tata pemrintahan di atasnya? Lantas bila administrasi public tidak membicarakan proses tata pemerintahan di atas institusi negara. Sebab berbagai ide dan konsep yang ada dalam Good Governance hanya berkutat pada dua level saja. Administrasi publik hanya dan harus mengurusi soal-soal domestik satu negara tertentu saja. yaitu reformasi tata pemrintahan di tingkat lokal dan nasional. dan administrasi di atas organisasi negara bukanlah wilayah administrasi publik. siapa yang akan memikirkan hal tersebut? Oleh karenanya. 135 membedakan dengan sangat mencolok antara Good Governance dan SG. Sejak kapan administrasi publik terkotak hanya mengurusi urusan domestik sebuah negara tertentu. . politik. Itu semua adalah pandangan tradisional dari administrasi publik yang sudah harus mulai ditinggalkan. Tetapi mengapa seolah ilmu adminisrasi public mengabaikan level regional dan level internasional sebagai lokus kajiannya. Perhatian yang lebih dari SG terhadap keempat level tata pemerintahan itu berangkat dari kesadaran bahwa keberadaan keempat level tersebut adalah nyata.

136 Termasuk Good Governance yang ternyata juga masih terjebak dalam identifikasi tradisional tersebut. 1999). as much autonomy as possible. 1986). Alasannya. tidak akan menimbulkan “disintegrasi” dan tidak akan menurunkan derajat kewibawaan pemerintah nasional. memberikan keleluasaan otonomi kepada daerah. warga masyarakat akan lebih akan dan tentram dengan badan pemerintah lokal yang lebih dekat dengan rakyat. Pada dasarnya partisipasi masyarakat pada pelaksanaan otonomi daerah harus dipahami sebagai wujud representativeness dari suatu produk kebijakan. diakuinya pula. Di Indonesia kita telah . baik secara fisik maupun psikologis. Selain dari pada itu. ada sebuah slogan yang sering dilancarkan : “…. Refomasi tata pemerintahan di tingkat nasional dalam konteks SG berarti bagaimana formulasi gabungan antara partispasi masyarakat dengan keselarasan internasional. Karena itu. norms and rules dapat terejawantahkan dalam kebijakan skala nasional. as much central power as necessary”(Buckelman dalam Koswara. Pendapat umum mengakui bahwa pemerintahan yang sentralistik semakin kurang populer karena ketidakmampuanya untuk memahami secara tepat nilai-nilai daerah atau sentimen aspirasi lokal. Malah sebaliknya kondisi ini akan menimbulkan respek daerah terhadap pemerintah pusat (Smith. Ketika berbicara pada tingkatan lokal maka yan menjadi fokus adalah bagaimana keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan dan kebijakan publik yang ada di daerah.

Tetapi harus disadari bahwa bentuk kontribusi kita saat ini bukan melulu bantuan finansial. Hal ini juga penting dalam memperkuat posisi tawar bangsa ini di mata internasional yaitu dengan menggunakan apa yag disebut soft power (Nye. 137 memiliki proses perencanaan pembangunan yang cukup sistematis dari tingkat lokal hingga tingkat nasional (UU no 25/2004). politik. Sayangnya pada tingkatan musyarawah pembangunan nasional tidak cukup disertakan apa peran dan pengaruh pelaksanaan pembangunan di Indonesia dengan capaian internasional. melainkan bisa berupa partisipasi kita dalam bentuk kepedulian dan empati atas berbagai upaya untuk perbaikan kondisi global. bukan perencanaan pembangunan yang egosentris. Sehingga apa yang terwujud dalam perencanaan pembangunan tingkat nasional kita ternyata juga memiliki kepedulian terhadap kondisi global. Sehingga dilihat dari kacamata global corak perencanaan pembangunan di Indonesia masih sangat egosektoral. Kita bisa membandingkan dengan perencanaan pembangunan di negara lain yang telah memiliki cukup peran yang signifikan dalam memberi kontribusi pada pembangunan dunia. Memang alasan klise yang selalu muncul adalah bahwa kita negara miskin sehingga tak mungkin memiliki cukup dana untuk membantu Negara lain. 1990). sosial maupun lingkungan hidup. baik ekonomi. .

Di lain pihak. bahwa segala sesuatunya tidak ada yang baku. Kita telah memiliki ASEAN dan APEC khususnya untuk kerja sama ekonomi di tingkatan regional. Sedangkan internasional adalah bagaimana agar negara-negara yang selama ini lemah dan dilemahkan dapat muncul. Tetapi. Kita bisa melihat dengan mudah kenyataan ini dalam kepemilikan senjata nuklir misalnya. . Negara-negara besar dan mendominiasi tatanan politik dunia dapat dengan leluasa memiliki perangkat senjata nuklir sedangkan bila ada negara lain yang hendak memiliki hal yang sama. sebagaimana pandangan konstruktivisme. Kepemilikan senjata nuklir oleh negara-negara besar ini kemudian membuat posisi politik mereka di percaturan internasional menjadi sangat kuat. Yang dibutuhkan adalah kecerdikan kita dalam memanfaatkan peluang yang ada dari lembaga-lembaga kerjasama regional yang tersedia itu. Di dalam struktur organisasi PBB kita juga bisa melihat praktek yang serupa. negara-negara yang selama ini mendominasi dapat “dilemahkan”. Dan harus pula disadari bahwa ada misi-misi ideologis ekonomi politik di balik organisasi-organisasi itu. 138 Di tingkat regional adalah kerjasama antar negara yang saling menguntungkan. Hubungan antar negara dalam percaturan global kurang lebih sama dengan konsep Machiavelli tentang hubungan oposisi biner antara negara dan rakyat. mereka anggap sebagai sebuah ancaman.

Pada saatnya sistem mekanis akan mengerjakan hal-hal membosankan itu. Dalam konsepsi pemerintahan mutakhir. Sehingga yang dimaksud upaya ‘pelemahan’ atas negara-negara kuat adalah dalam konteks menyeimbangkan dan mengegaliterkan hubungan antar negara di kancah internasional. tidak hanya dalam konteks reformasi tata pemerintahan domestik tapi juga tata pemerintahan global. urusan surat-menyurat dan implementasi prosedur sudah bukan merupakan tugas inti dari sebuah pemerintahan. Apel pagi. . rapat-rapat rutin. Sebab. inovasi dan kreativitas adalah hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap pemerintahan. Inovasi Sebagai Inti Sound Governance Hal kedua yang sangat menonjol atas kebaruan dari SG adalah pengutamaan adanya inovasi dalam kebijakan dan adminstrasi publik. Egalitarianisme adalah kata kuci dalam SG. membuat kekuatan negara adi kuasa ini menjadi sangat dominan di kancah internasional. Belum lagi kalau kita melihat pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di seluruh penjuru dunia. F. 139 Proses pemilihan dan penetapan direktur-direktur strategis serta proses pengambilan kebijakan di dalam PBB juga masih didominasi oleh kekuatan negara-negara besar Eropa dan Amerika Serikat. pemerintahan hari ini tidak lagi berhadapan dengan masalah dan realitas yang itu-itu saja.

Kebanyakan tokoh tua juga berperilaku mendikte pilihan dan langkah-langkah politik kaum muda. “Don’t rock the boat” adalah pepatah yang terlanjur mendarah daging dalam tubuh birokrasi kita. Kita telah sama-sama menyaksikan bagaimana dominasi tokoh-tokoh konservatif dalam kepemimpinan di tanah air. tidak bergerak kemanapun. Kader-kader muda yang diharapkan dapat membawa inovasi tak bisa leluasa muncul ke dalam kancah politik tanpa menggantungkan karirnya pada tokoh-tokoh tua. Globalisasi bahkan membuat matrik kehidupan menjadi lebih rumit dari sebelumnya (Farazmand. Konfigurasi politik juga turut andil dalam proses pengerdilan inovasi. maka janganlah sekali-kali mencoba untuk menggoyangkan perahu yang sudah tenang mengapung di tengah danau. 140 Pemerintahan modern berhadapan dengan banyak situasi yang kompleks dan kurang terduga sebagai akibat dari realitas yang makin terkoneksi secara ekstrem. Keadaan yang sudah ada telah membuat semua orang senang dan aman. Kita bisa melihat . Sistem dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah mengakar dalam proses birokrasi pemerintahan telah menciptakan resistensi yang sangat kuat bagi datangnya inovasi. Kepentingan para birokrat untuk memperoleh rasa ‘aman’ itulah merupakan tantangan terbesar dalam menumbuhkan inovasi dalam tubuh pemerintahan. 2004). Tapi ketenangan dan kenyamanan itu membuat perahu diam di tempat.

Sistem mapan birokrasi dan konfigurasi politik di Indonesia telah membuat banyak inisiatif inovasi mengalami prose penuaan dini dan layu sebelum berkembang. perilaku politik para inovator ketika memasuki sistem menjadi tak dinamis dan cenderung mengekor pada tuntunan para patron. Keharusan untuk mengikuti ‘pakem’ ketika memasuki sebuah system harus mulai dipersepsi sebagai mitos. 141 betapa partai-partai politik besar hari ini sangat tergantung pada figur tokoh tua dan konservatif yang sangat hegemonik. Dalam hal ini istilah TUPOKSI (Tugas Pokok dan Fungsi) adalah hambatan terbesar dalam reformasi tata pemerintahan. Inovasi tidak mesti harus bersifat revolusioner dan fragmentatif. adalah tugas pokok yang diemban semua birokrat. Solusi yang ditawarkan oleh kosep Sound Governance adalah perubahan struktur pemerintahan yang berbasis pada fungsi (kompartementalistik) menuju berbasis pada klien. Menemukan solusi brilian atas masalah pokok yang dihadapi masyarakat dan mencari jalan yang lebih baik atas hal yang sedang berjalan. Dalam level tertentu bisa saja inovasi adalah revisi atas sistem yang sedang berjalan serta masih dalam koridor struktur perencanaan jangka panjang. Yang terpenting dalam inovasi tata pemerintahan adalah selalu adanya hal-hal baru (besar atau kecil) di dalam praktek birokrasi . Secara psikis. Pemimpin-pemimpin muda itu kemudian tercerabut dari akarnya. atau setidaknya tantangan. Ini seakan sudah menjadi pemandangan sehari- hari.

Inilah saat dimana SG mengharapkan agar inovasi menjadi ‘rutinitas’ baru di dalam birokrasi. inovasi diperlukan dalam hal menemukan cara yang tidak hanya efektif dan efisien melainkan juga membawa manfaat sebesar- besarnya bagi masyarakat. Inovasi merupakan keniscayaan dari dunia global yang terus berubah secara cepat. Di bidang pembangunan/ pengelolaan sumber daya. di bidang ideologi inovasi juga sangat diperlukan. Di bidang teknologi dilakukan dalam hal menemukan teknik dan berbagai metoda baru dalam melancarkan berbagai proses perencanaan maupun pengantaran pelayanan publik. 142 keseharian. Tak hanya di bidang teknologi. Tidak mungkin. serta penelitian dan pengembangan. Sebab dengan adanya perubahan globalisasi ini banyak asumsi-asumsi yang harus segera dikoreksi sewaktu-waktu. misalnya. pelatihan. dalam menyusun APBD kita hanya bergerak pada . Inovasi juga harus marak dalam kegiatan-kegiatan operasional seperti di dalam pengelolaan organisasi dan manajemen. Inovasi yang dimaksudkan dalam SG berada pada berbagai aspek. Utamanya dalam membongkar berbagai paradigma lama tentang birokrasi yang rutin dan monoton yang masih kuat terbenam menuju pada pemahaman birokrasi yang lebih dinamis. Inovasi dalam sistem komunikasi adalah terkait dengan makin terbukanya ruang publik sehingga memudahkan sarana dan prasaran komunikasi yang egaliter antara aktor-aktor dalam tata pemerintahan.

Oleh karenanya. Kemampuan itu akan membawa pada sikap antisipatif atas segala perubahan. Sikap seperti itu sungguh jauh dari cita-cita birokrasi SG yang dinamis. Inovasi dalam SG juga harus disertai dengan kemampuan birokrasi yang tangguh dalam antisipasi dan luwes dalam melakukan adaptasi. dalam dimensi SG juga dicantumkan tentang pentingnya aspek organisasi dan institusi di dalam reformasi tata pemerintahan modern. 143 asumsi yang monoton dan hanya merubah angka sedikit dari anggaran- anggaran terdahulu. Di samping itu. Maka tanpa inovasi dan adaptasi. Maka birokrasi harus dapat segera . Situasi politik dan ekonomi dapat berubah setiap waktu. Akan tetapi. Sehingga birokasi tidak mudah shockdalam menghadapi kondisi-kondisi yang penuh dengan kondisi serba mungkin yang ada di depan mata. Hal ini dikarenakan watak inovatif juga mencakup kemahiran dalam melakukan prediksi. Dalam pengertian mahir dan ahli dalam memilih berbagai variabel yang berpengaruh terhadap kondisi saat ini dan masa depan. memang inovasi harus didukung oleh kapasitas organisasi yang memadai dan kemampuan organisasi itu untuk mengimplementasikannya. bila memang ternyata yang terjadi adalah sesuatu yang benar-benar di luar perhitungan. pemerintahan akan cepat rusak (soundless). birokrasi juga harus mampu dengan luwes beradaptasi dengan lingkungan baru.

Watak birokrasi yang hanya mengekor pimpinan politik baru adalah watak birokrasi yang pengecut dan hanya mengandalkan kepatuhan tetapi tidak memiliki komitmen. Bukannya melayani kepentingan atasan. Istilah ‘ganti menteri ganti kebijakan’ bukanlah sikap luwes yang dimaksudkan di sini. Hal ini juga yang ditegaskan oleh Golembiewski bahwa birokrasi harus digerakkan oleh komitmen bukannya kepatuhan. Komitmen pada tujuan dasar pemerintahan. . 144 beradaptasi tanpa harus terfragmentasi. bukan fleksibel dalam tujuan dan komitmen. Fleksibilitas artinya adalah dalam tataran teknis dan strategis. yaitu melayani kepentingan rakyat.

Tentu saja dari empat aktor yang ada di dalam SG (yaitu negara. Termasuk di dalamnya tentang sebab-sebab mengapa peran ideal masing-masing aktor yang ada dalam Good Governance itu tidak tercapai. masyarakat sipil. berikut berbagai model yang berkembang di dalamnya. melainkan juga merubah cara pandang Good Governance selama ini terhadap peran dan posisi negara. kita tentu sudah sama tahu bahwa negara saat ini adalah capaian fundamental politik dalam kehidupan sosial tertinggi . Namun. dan swasta dalam penyelenggaraan tata pemerintahan. masyarakat sipil. Kendati begitu. 1. 145 BAB VII AKTOR DALAM SOUND GOVERNANCE Bab ini dimaksudkan tidak hanya untuk melakukan inventarisasi atas aktor-aktor yang harus terlibat dalam proses sound governancetetapi juga mengevaluasi peran aktor-aktor dalam pelaksanaan Good Governance selama ini. Serta bagaimana SG dapat hadir dan mencoba untuk mencegah agar kesalahan-kesalahan itu tidak terulang kembali di kemudian hari. SG tidak serta merta hanya memindahkan ketiga aktor dalam Good Governance ke dalam SG. Tentu banyak teori-teori klasik yang akan sangat baik dalam menjelaskan apa yang dimaksud dengan konsep negara sesungguhnya. Negara : Pusat Konspirasi Komponen pertama yang dikatakan sebagai sebuah entitas oleh konsep gg adalah State/Negara. swasta dan pelaku intenrasional) tiga diantaranya adalah juga aktor yang ada dalam Good Governance.

konflik antara Negara dengan rakyat. Saat ini tak sedikit kalangan yang mencoba untuk memisahkan entitas negara dengan rakyat. maka tak jarang harus dibenturkan dengan rakyat. ... Bahkan sekarang negara-negara monarkhi juga telah banyak yang mengadopsi konsep ini dan mereformasi diri mereka menjadi negara monarkhi konstitusional. Ya. sebab warga negara internasional masih sangat eksklusif dan lembaga politik internasional belum setangguh negara dalam melakukan regulasi sosial hingga ke tataran yang paling teknis dan pribadi (Hoffman. tentu yang paling populer hingga saat ini adalah Trias Politika (Legislatif.. Dalam hal ini kita seringkali mendengar kalimat yang mengatakan: “. hingga pada suatu saat kita terkejut atas permakluman kita bahwa negara tidak lagi memiliki representativitas (Putra. 2000). Dia hadir bukan lagi penjelmaan rakyat. melainkan negara datang sebagai leviathan yang siap mengamuk dan memporak-porandakan semua yang ada di depannya.. 146 secara formal di dunia saat ini. Di tengah berbagai variasi model negara yang dikenal dalam teori negara. Yang pasti saat berbicara tentang negara maka kita tentu tak bisa lepas untuk mencandra tiga institusi sosial tersebut. 1999).”. Kalimat itu sangatlah akrab di telinga kita. Eksekutif dan Yudikatif) yang entah disikapi sebagai pembagian atau pemisahan nampaknya itu tak lagi penting saat ini. Sehingga lembaga trias politika adalah institusi yang tak memiliki derajat representasi. bahkan monarkhi demokratik (memang agak sulit dimengerti).

Korupsi yang sesungguhnya adalah proses objektifikasi rakyat itu. entah kenapa saat ini mereka naik pangkat menjadi perumus kebijakan. Begitulah sifat dasar dari leviathan. Yang lebih lucu lagi tak sedikit regulasi yang mengatur bahwa eksekutif punya wewenang yang lebih besar ketimbang legislatif. Hubungan antara tiga lembaga trias politika ini tidak pernah benar- benar ideal di lapangan. Apakah itu tradisi anglo saxon ataupun continental. Eksekutif yang seharusnya hanya menjadi pelaksana saja. yang mana pada saat ini mereka akan menjadi sangat rukun seolah mendapat common enemy. Hanya saja memang keduanya akan menghasilkan ras yang berbeda. Yang paling sering muncul ke permukaan adalah hubungan antara eksekutif dan legislatif. pertikaian atau persekongkolan. maka secara terus menerus organisasi-organisasi trias politika menjadi terus gemuk dan mengobjektifikasi rakyat. Karena memang dalam sistem hukum yang berlaku di Indonesia dan berbagai negara demokrasi pada umumnya di dunia. yang dimaksud dengan policy makers itu adalah eksekutif dan legislatif. . Pilihannya Cuma dua. Akan tetapi ketika rakyat telah berhasil mereka taklukkan. 147 Negara leviathan tak mengenal di masyarakat penganut paradigma apa ia hidup.dua- duanya dapat menjadi habitat yang cocok untuk berkembang sehatnya monster ini. tetapi tetap saja species yang sama. bisa jadi implikasinya adalah bahwa apabila semua sumber daya yang ada diserahkan pengelolaannya pada negara. maka mereka akan kembali bertikai. Mungkin bila pikiran Lord Acton di teruskan.

Demikian pula sebaliknya. khususnya di Indonesia. Siapa yang lebih kuat pada waktu dan tempat tertentu maka ialah yang akan mendapat kekuasaan lebih besar. 148 Pada posisi normatif ini saja sudah nampak bahwa hubungan keduanya sangatlah tidak harmonis. Distribusi kekuasaan antara eksekutif dan legislatif telah menjadi sebuah garis kontinu yang saling tarik satu sama lain. Hubungan antara lembaga eksekutif dengan lembaga legislatif di berbagai negara. sering berujung dalam bentuk persekongkolan dan atau permusuhan. Dan apabila ada beberapa pasal dalam undang-undang yang melemahkan posisi legislatif maka langsung kecurigaan muncul bahwa itu adalah ulah dari eksekutif untuk mengkerdilkan mereka. Penuh dengan potensi konflik yang sewaktuwaktu dapat berubah menjadi bahan peledak berkekuatan high explosive. Dua lembaga ini sama-sama arogan. Di sini eksekutif dan legislatif disebut-sebut sebagai policy maker dan masyarakat tidak begitu berperan atau bahkan memang sama sekali tidak dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan publik. . eksekutif dalam menjalankan pekerjaannya merasa selalu terancam dengan keberadaan legislatif yang bisa saja sewaktu-waktu melakukan impeachment dengan alasan yang paling tidak rasional sekalipun. Keduanya merasa bahwa konstitusi mengatur bahwa dirinyalah yang lebih berkuasa ketimbang yang lain.

Pertanyaan kritisnya adalah: mengapa di negara Indonesia hanya lembaga eksekutif dan lembaga legislatif yang berperan sebagai policy makers? Lalu bagaimana dengan peran masyarakat? Bagaimana hubungan antara governance theory dengan kenyataan yang ada di negara Indonesia? Dan. Secara prosedural. Lalu siapa yang akan mendengarkan serta menyampaikan aspirasi masyarakat jika lembaga ini tidak begitu melaksanakan tugas serta fungsinya sebagai wakil rakyat? Pada bagian ini akan dibahas permasalahan mengenai persekongkolan dan permusuhan antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif yang ada di Indonesia. di Indonesia terdapat lembaga tertinggi dan lembaga tinggi negara. dimana . 149 Padahal Indonesia merupakan negara yang demokratis dimana seharusnya masyarakat berperan kuat serta mempunyai hak untuk menyampaikan aspirasinya melalui lembaga legislatif dalam proses pembuatan kebijakan publik. apakah benar bahwa terdapat hubungan yang tidak harmonis antara lembaga eksekutif dan lembaga legislatif? Secara normatif. presiden sebagai lembaga eksekutif dan MA yang mempunyai peran sebagai lembaga yudikatif. Lembaga tertinggi Negara adalah MPR sedangkan lembaga tinggi negara terdiri dari DPR selaku lembaga legislatif. sebenarnya pembuat kebijakan di Indonesia dilakukan oleh lembaga-lembaga tersebut. Tapi pada kenyataannya lembaga legislatif kurang begitu mendengarkan aspirasi masyarakat. Negara kita memang negara yang demokratis. namun pada kenyataannya hanya kedua lembaga saja yang berfungsi yaitu lembaga eksekutif dan lembaga legislatif.

150 masyarakat mempunyai hak untuk menyatakan dan menyalurkan aspirasinya melalui lembaga legislatif. Namun pada kenyataannya saat ini lembaga legislatif tidak pernah mendengarkan atau bahkan mempedulikan suara rakyat. Oleh karena itu badan legislatif berada pada posisi yang lemah dibanding dengan badan eksekutif. Jika lembaga legislative sudah tidak mampu menyalurkan aspirasi rakyat. Sehingga pada akhirnya masyarakat hanya berperan sebagai pelaksana kebijakan saja dan tidak ikut dalam proses pembuatan kebijakan. keahlian serta fasilitas yang tersedia bagi badan legislatif jauh lebih terbatas. Dalam Negara demokratis. Yaitu bahwa setiap keputusan-keputusan yang diambil oleh lembaga eksekutif harus melalui dan mendapatkan persetujuan dari lembaga legislatif. Dalam menjalankan tugasnya. Sebaliknya. badan eksekutif ditunjang oleh tenaga kerja yang trampil dan ahli serta persediaan bermacam-macam fasilitas dan alat-alat pada masingmasing kementerian. Keberadaan lembaga . maka mengapa lembaga ini tidak dibubarkan? Jawaban yang mutlak adalah bahwa lembaga legislatif tidak mungkin dibubarkan karena lembaga ini masih dianggap penting dan dibutuhkan dalam mekanisme pemerintahan yang berkaitan dengan lembaga eksekutif. legislatif tetap memegang peran yang penting untuk menjaga agar jangan sampai badan eksekutif keluar dari garis-garis yang ditentukan oleh badan legislatif. Padahal sebenarnya keberadaan lembaga legislative ini adalah sebagai wakil rakyat.

Dalam sistem parlementer. Sedangkan dalam sistem presidensial. badan eksekutifnya dipimpin oleh seorang perdana menteri yang dibantu pula oleh menteri dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Ini berarti tugas-tugas badan eksekutif . Lagipula menteri-menteri dalam kabinet presidensial dapat dipilih menurut kebijaksanaan presiden sendiri tanpa menghiraukan tuntutan-tuntutan partai politik. badan eksekutifnya dipimpin oleh seorang presiden yang dibantu oleh para menteri yang bertanggung jawab kepada presiden. 151 legislatif tetap merupakan penghalang atas kecenderungan yang terdapat pada hampirm setiap badan eksekutif untuk memperluas ruang lingkup wewenangnya. Badan eksekutif mempunyai masa jabatan yang ditentukan. Kelangsungan hidup badan eksekutif tidak tergantung pada badan legislatif. Jatuh bangunnya kabinet tergantung kepada dukungan dalam badan legislatif. bagian dari badan eksekutif yang “bertanggung jawab” diharapkan mampu mencerminkan kekuatan- kekuatan politik dalam badan legislatif yang mendukungnya. Kemudian badan legislatif saling bergantung satu sama lain. Kabinet. Perkembangan teknologi dan proses modernisasi yang sudah berjalan jauh dan semakin terbukanya hubungan politik dan ekonomi antar Negara telah mendorong badan eksekutif untuk memiliki ruang gerak yang lebih leluasa. Kebebasan badan eksekutif terhadap badan legislative mengakibatkan badan eksekutif lebih kuat dalam menghadapi badan legislatif.

Demikian juga sebaliknya. Tuntutan tersebut dilakukan untuk merumuskan masalah sehingga menghasilkan otoritatif yang sah. dukungan. yaitu lahirnya kebijakan dan input yang dikelola yang kemudian dilanjutkan dalam proses konversi. Pemerintahan yang baik adalah suatu bentuk pemerintahan dimana pemerintah mampu mengelola input berupa masukan. Kebijakan eksekutif haruslah mendapat restu dari para legislator yang mewakili jutaan rakyat sebagai pendukungnya. Akan tetapi badan eksekutif dewasa ini dianggap bertanggung jawab untuk meningkatkan taraf kehidupan rakyatnya. Keputusan Menteri (Kep Men) dan lain sebagainya. serta tuntutan dari rakyat yang mencakup sebuah keinginan nyata yang terjabarkan tapi tidak terpenuhi dan bahkan tidak dikenali. Misalnya output berupa Peraturan Pemerintah (PP). Eksekutif dan legislatif adalah dua lembaga yang dalam konsep trias politika ditakdirkan bekerja sama. 152 tidak lagi terbatas hanya melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan oleh badan legislatif. Instruksi Presiden (Inspres). Setelah melalui proses tersebut. rancangan hukum yang merupakan inisiatif dewan tetap harus melibatkan eksekutif sebagai pihak . Keputusan Presiden (Keppres). input itu dikeluarkan dalam bentuk output berupa keputusankeputusan dan tindakan-tindakan yang otoritatif dan mengikat pada para anggota sistem. termasuk masyarakat karena output tersebut mampu mempengaruhi peristiwaperistiwa dalam masyarakat.

ancaman pidana pun membayangi perilaku semacam ini. mengingat para wakil rakyat juga punya hak mengkritisi pemerintah. konsep kemitraan ini berkembang menjadi perselingkuhan kepentingan akibat longgarnya rambu-rambu hukum. Akibatnya. Dalam konteks ini. Celah yang relatif kecil tetap bisa dikelola dua lembaga ini untuk kepentingan mengatasnamakan rakyat. Inilah kemitraan kesejajaran dalam birokrasi. Kasus ini tercermin dalam bidikan kejaksaan atas kasus dugaan korupsi dana APBD sampai milyaran rupiah. dalam pengelolaan keuangan sering kali terjadi barter kepentingan agar sama-sama untung. Ini terjadi ketika legislatif diberikan hak pengelolaan keuangan secara otonomi. bisa menjadi legal karena lemahnya hukum. 153 pelaksana. Dewan selama ini terkesan ‘disusui’ eksekutif karena nafkahnya ada di tangan eksekutif. Bahkan. Para wakil rakyat akan memiliki hak yang lebih jelas dalam pengelolaan keuangan. Ia tak sependapat jika kolusi legislatif-eksekutif menggurita akibat tak adanya lembaga independen yang mengawasi hubungan kerja mereka. Pengelolaan keuangan negara yang otonom akan menjadi salah satu solusi menekan terjadinya kolusi kepentingan. undang-undang pengelolaan keuangan kedua negara dirancang otonom. Sayangnya. . Tak jarang kondisi ini memunculkan nilai tawar. Mengapa ini mesti terjadi dan bagaimana penyiapan perangkat hukum sebagai solusinya? Perselingkuhan kepentingan yang sering dikonotasikan dengan penganggaran keuangan negara untuk kepentingan pribadi.

Kebebasan badan eksekutif terhadap badan legislatif mengakibatkan bahwa badan eksekutif lebih kuat dalam menghadapi badan legislatif. Kelompokkelompok pro- kekuasaan menilai tudingan kongkalikong eksekutif-legislatif merupakan bentuk-bentuk salah kaprah. 154 Dalam negara demokratis. Yang selama ini terjadi adalah kebijakan yang aroma politiknya amat kental. Kesan ini bisa muncul karena kalangan kritis melihatnya dari satu sisi. Aturan hukum yang dirancang untuk penyelamatan kekuasaan dan kepentingan partai penguasa harus dihindari. Implikasi negatif yang dikhawatirkan akan muncul adalah adanya otonomi keuangan yang seringkali akhirnya berbuah sangkaan korupsi. Pemindahan pengalokasian keuangan dewan kepada pos eksekutif dinilai sebagai upaya memutus hubungan wakil rakyat dengan massa yang diwakilinya. Aturan hukum otonomi pengelolaan keuangan harus dirancang simpel agar tak bisa ditafsirkan ganda. Bagi mereka. tetap saja tak sehat bagi kehidupan berbangsa. kebijakan yang mengatasnamakan hukum administrasi pengelolaan negara. Aturan hukum dengan pasalpasal karet sangat rawan dalam pengelolaan keuangan. pengelolaan pemerintahan mutlak . dan tetap merupakan penghalang atas kecenderungan yang terdapat pada hampir setiap badan eksekutif untuk memperluas ruang lingkup wewenangnya. Jika ini terjadi. legislatif tetap memegang peran yang penting untuk menjaga agar jangan sampai badan eksekutif keluar dari garis-garis yang ditentukan oleh badan legislatif.

155 didasari hubungan selaras antara eksekutif-legislaif dan yudikatif. Yang jadi masalah adalah apakah singa ini benar- benar bersih dalam menegakkan supremasi hukum yang alamiah. Institusi-institusi . keberadaan mafia menelusup kesana kemari dengan sangat gesit. Selama ini. Isu akan keberadaan mafia peradilan bagai gelombang angin el nino yang tak kasat mata tapi dapat menghancurkan ribuan hektar lahan para petani. ataukah dikepalanya telah ditancapi oleh chip yang bisa mengendalikan kapan dia harus garang dan kapan dia harus jinak. pembeli apalagi sapinya itu sendiri. tangkas dan rapi. pejabat politik dan pebisnis. Keadilan dan hukum menjadi komoditas yang diperjualbelikan oleh para mafia ini. Lembaga kejaksaan sekarang menjadi berubah total dari kucing anggora yang manis menjadi singa hutan yang begitu garang lengkap dengan taring dan cakarnya yang siap mengoyak eksistensi para pejabat publik. hanya legislative dan eksekutif saja yang disoroti miring. Bak sebuah pasar sapi. jauh lebih canggih ketimbang para penjual. Masalah korupsi saat ini menjadi sebuah barang empuk untuk melakukan pemerasan di sana-sini. Tergantung Sang Pawang yang mengendalikannya dengan sistem navigasi jarak jauh? Tak sedikit fakta di lapangan yang secara jelas menunjukkan bahwa pemberantasan korupsi adalah strategi tebang pilih. Pasal-pasal karet dan peraturan yang tak jelas dan tumpang tindih seolah sesuatu yang sengaja diciptakan untuk menjerat berbagai pejabat dengan tuduhan korupsi. Lembaga-lembaga yudikatif kondisinya tak lebih baik.

Mereka biasa mendatangi para pejabat yang kebetulan kurang rapi dalam melakukan korupsi dan akhirnya diperas. Hanya saja. Ketika yudikatif melihat atau menafsirkan bahasa hukum berbeda dengan pandangan legislatifeksekutif. rumor ini sulit sekali terbukti karena tersimpan dengan sangat rapi. Maka pialang-pialang hukum pun bertebaran dimana- mana ada yang menyaru sebagai aktifis NGO ada yang secara sungguh- sungguh dan ’profesional’ memang berprofesi sebagai pialang hukum. Supremasi hukum sulit untuk diberi ekspektasi tinggi dikarenakan lembaga yudikatifnya yang juga masih belum cukup terpercaya. Dalam kasus terakhir. membuat pembahasan APBD molor. legislatif-eksekutif sangat rentan disalahkan. Sebagai pihak yang bersentuhan langsung dengan pengalokasian keuangan rakyat. ia mengatakan tak adanya rentang angka-angka pengalokasian hak Dewan. . Banyak kalangan berharap agar payung hukum yang menjadi dasar legislative melaksanakan hak dan kewajibannya bahasanya simple dan memiliki rentang angka yang jelas. Kewenangan eksekutif dalam menyortir hasil kerja legislatif haruslah dipertegas baik dari batas waktu dan item yang layak dikaji. 156 hukum seperti mendapat proyek besar yang disebut TIPIKOR (Tindak Pidana Korupsi). Institusi hukum tak jarang juga turut andil dalam konspirasi ini. Padahal. maka tudingan korupsi akan muncul. kebijakan itu dalam konteks otonomi keuangan legislatifeksekutif didasari undang-undang. karena sebagai pakar-pakar hukum.

dalam pengelolaan keuangan sering kali terjadi barter kepentingan agar sama-sama untung. Ini penting agar kesan bahwa legislatifeksekutif berselingkuh untuk kepentingan pribadi bisa ditekan. Bahkan. konsep kemitraan ini berkembang menjadi perselingkuhan kepentingan yang mengatasnamakan rakyat. bukannya malah memperburuk keadaan. Inilah konstelasi masalah yang seharusnya dihadapi oleh para aparatus yudikatif di Indonesia. Trias politika di Indonesia yang telah menginjak usia puluhan tahun masih menunjukkan fakta bahwa insitusi negara. Kewenangan eksekutif dalam menyortir hasil kerja legislative haruslah dipertegas baik dari batas waktu dan item yang layak dikaji. bisa menjadi legal karena lemahnya hukum. Kecurigaan harus sudah mulai ditempatkan pada wilayah konseptual. di level internalnya masih banyak sekali masalah. 157 Sayangnya. Ini yang menjadi dasar argumentasi bahwa kita tak bisa hanya menyalahkan pada tataran implementasi saja. GG secara terburu- buru langsung saja menempatkannya dalam sebuah komponen yang . Dan fenomena tersebut kiranya tidak hanya terjadi di negara yang usia trias politikanya puluhan tahun seperti Indonesia saja. Konsep negara masih harus terus dicari titik puncak idealitasnya. Di tengah masih kaburnya masalah yang ada ini. Perselingkuhan kepentingan yang sering dikonotasikan dengan penganggaran keuangan negara untuk kepentingan pribadi. Di negara yang usia trias politika telah menginjak usia satu abad pun masih menghadapi masalah yang sama.

SG berupaya untuk mencari titik kesalahan fundamental atas konsep negara sembari melakukan capacity building yang berbasis nilai terhadap institusi negara. ia masih belum siap untuk secara terbuka dan progresif memberi kontribusi bagi yang lain. Padahal pertarungan di dalam berbagai elemen dalam negara masih terus terjadi. Institusi politik terus saja mengecam dan mengintimidasi eksekutif untuk melakukan banyak hal atas nama rakyat. Ketika ggtelah memisahkan entitas negara dengan rakyat (civil society). Eksekutif menjadi arogan karena menguasai berbagai sumber daya dan infrastruktur. kendati secara hukum mereka masih menjadi bagian dari keabsahan keberadaan negara itu sendiri. 2. Civil Society: Lahan Bisnis Baru Kesalahan konseptual yang paling akut dari konsep Good Governance ketika ia menanggapi konsep civil society sebagai entitas yang terpisah dari negara. Hal ini menjadi sesuatu yang lebih mendesak untuk dilakukan saat ini. Sungguh. maka hal ini justru akan mempersulit upaya untuk mempelajari konsep Negara itu sendiri. Padahal dari epistimologi kemunculan konsep . de Toqueville dan banyak pakar lain ketika menempatkan konsep civil society bukanlah bermaksud untuk memisahkannya dari entitas negara (Kaldor. 2003). Sesungguhnya Cicero. Yudikatif menjadi tak pernah lepas dari berbagai konspirasi dan mafia peradilan. Konsep civil societyhadir sebagai tanda dari sekelompok manusia yang bebas dari tugas formalisme negara. 158 harus bersinergi.

dan negara sebagai sebuah jaringan komunal yang legal adalah masalah lain. Termasuk di dalamnya adalah jaringan-jaringan dan pengelompokan- pengelompokan sosial yang mencakup mulai dari rumah tangga. Penguasa yang sedang menempati struktur negara adalah persoalan tersendiri. karena variabel utama di dalamnya adalah sifat otonomi. civil society harus dibedakan dengan suku. Sehingga skema hubungan antara negara dengan masyarakat sipil seharusnya masih dalam sebuah bingkai yang utuh. organisasi-organisasi sukarela. public dan civic (Alagappa. . sampai dengan organisasi-organisasi yang mungkin pada awalnya dibentuk oleh negara tetapi melayani kepentingan masyarakat. berkumpul dan mengeluarkan pendapat serta kesempatan yang sama dalam mempertahankan kepentingankepentingan di muka umum. Namun demikian. Civil society secara institusional bisa diartikan sebagai pengelompokan dari anggota-anggota masyarakat sebagai warga negara yang mandiri serta dapat dengan bebas dan egaliter bertindak aktif dalam wacana dan praksis mengenai hal yang berkaitan dengan masalah kemasyarakatan pada umumnya. 159 ini sungguh bukan merupakan upaya untuk menarik masyarakat ‘keluar’ dari negaranya dan berdiri diametral dengan negara. Mereka hadir sebagai perantara bagi Negara di satu pihak dan individu atau masyarakat di lain pihak. klan atau jaringan-jaringan klientelisme. 2004). Hal ini menyiratkan keharusan adanya kebebasan dan keterbukaan untuk berserikat.

Tapi bila substansi negara itu sudah menjadi sebuah organisme yang hidup maka regulasi dan kebijakan semacam itu pasti akan tertolak dengan sendirinya. Menghadapi kondisi ini. Ketika ada zat-zat asing yang tak sesuai dengan metabolisme tubuh. Indonesia merupakan satu contoh terbaik untuk membuktikan teori tersebut. Tapi GG justru membiarkan mutasi negara itu tetap terjadi. Hanya saja yang menjadi masalah adalah proses evolusi ini bukan sebuah perubahan . Kemudian ia mengeluarkan beberapa anggota tubuh dari makhluk yang bernama negara itu untuk menjadi lawan tandingnya. Banyak penguasa-penguasa negara yang meracuni tubuh negaranya sendiri dengan kebijakan yang menghisap rakyat dan meniadakan demokrasi. maka pasti self defend mecanism tubuh akan menolaknya. Negara telah berubah bentuk karena adanya perlakuan alam yang berubah. maka ide tentang tumbuhnya negara sebagai monster leviathanharus dihadapi dengan cara mengembalikan kesejatian negara itu. bisa saja para penguasa yang ada melakukan aksi penghisapan dengan mengeluarkan berbagai regulasi yang itu sangat meminggirkan masyarakat sipil. Deskripsi di atas adalah gambaran yang terjadi akan nasib negara di berbagai belahan dunia saat ini. 160 Atas nama negara. Dan apabila antibodi yang ada dalam tubuh tak mampu mengeluarkan toksin tersebut maka tubuh manusia itu akan mengalami sakit. Ini bisa jadi merupakan sebuah proses evolusi dari organism negara. Ini bisa diibaratkan dengan tubuh manusia.

Ada banyak kepentingan yang membalut kelompok-kelompok semacam ini yang terkadang tak murni. Dengan demikian. NGO’s. alam harus di recovery. Pepatah klasik vox populi vox dei telah mengalami hiperbola yang luar biasa. 2004). GRO’s dan rakyat pada umumnya seolah pasti benar dan tak ada masalah bawaan di dalam diri mereka yang bisa jadi pelibatannya justru membuat masalah menjadi semakin akut. . 161 gradual yang progresif. Konspirasi elit NGO dan tokoh masyarakat tertentu dengan berbagai penguasa dan pengusaha hitam malah akan membuat runyam keadaan. negara harus kembali pada keasliannya. Alam harus dikembalikan keasliannya. Klaim bahwa civil societ yyang dikeluarkan dari ikatan negara dan menjadikannya sebagai lawan tanding membuat seolah tidak ada masalah sedikitpun darinya. Apakah itu akibat desakan donatur asing atau justru digerakkan oleh kelas-kelas elit yang kecewa akibat distrubusi kekuasaan yang tak sesuai dengan ekspektasinya (Farazamnd. Bahkan yang terjadi di lapangan kita melihat bahwa ternyata tidak sedikit elemen rakyat yang juga aktif dalam melakukan tindakan korupsi. Karenanya. Kelompok masyarakat sipil yang kritis terhadap kebijakan penguasa namun tidak didasari oleh keberpihakannya pada rakyat adalah sebuah kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Yakni negara sebagai ikatan kolektif atas berbagai elemen yang ada di dalamnya untuk kemudian bersepakat merumuskan dan mencapai cita- cita kemajuan bersama.

melainkan karena banyak sekali kebocoran di sana. lingkungan hidup. Tapi bukan karena suksesnya program ini dalam penyejahteraan petani. Proyek ini menjadi sangat terkenal di Indonesia. pekerja sosial. Banyak sekali kasus yang sudah masuk ke pengadilan atas penyelewengan dana KUT ini. 162 Dulu pada masa orde baru kita sering mendengar cemooh yang ditujukan pada para pejabat pemerintah. bantuan kemanusiaan. Elemen civil society lainnya yang sering didengungdengungkan sebagai benteng terakhir moralitas public adalah LSM atau Ornop. Lalu muncul ide-ide agar rakyat diberi kepercayaan untuk mengelola pembangunan. maka dipastikan korupsi tidak akan terjadi. Adapun jenis kegiatan LSM hadir beragam mulai dari advokasi publik. pemberdayaan dan penyadaran. Atau berbagai program bantuan dana langsung ke masyarakat (BLM) dari berbagai proyek pemerintah yang juga banyak ditilap oleh masyarakat sendiri. hak konsumen . dan menekankan pencarian pola-pola alternatif serta pemberdayaan masyarakat. Tak sedikit dari mereka yang saat ini juga sudah masuk hotel prodeo. yang bergerak dalam berbagai kegiatan pembangunan atau pembelaan kepentingan umum. Tapi benarkah demikian? Kasus KUT (kredit usaha tani) misalnya. Dan pelakunya bukan pejabat Negara melainkan masyarakat sendiri. bahwa mereka adalah tukang korupsi. Lembaga swadaya masyarakat atau disebut pula Organisasi Non-Pemerintah (Ornop) ini didefinisikan sebagai lembaga-lembaga yang berada di luar sektor pemerintah maupun bisnis swasta.

Ini menjadi pembahasan penting sebab masalah yang melingkupi perihal pendanaan NGO ini sangat dekat dengan pepatah kaum marxist modes of production. NGO’s dikonseptualisasi sebagai salah satu pilar utama elemen masyarakat sipil (civil society). Tapi kalau dilihat secara cermat sesungguhnya sangat sedikit NGO di dunia ini yang mampu memiliki sumber pendanaan internal yang tangguh. Isu yang paling keras dalam membincang NGO adalah dari mana asal muasal sumber dana organisasi tersebut. Atau ada juga perusahaan yang langsung menyerahkan dana tersebut pada berbagai NGO yang ada. Umumnya NGO masih menggantungkan energi pendanaannya dari sumber luar. Konsep paling ideal pendanaan NGO adalah ketika organisasi tersebut memiliki sumber pendanaannya sendiri. Mekanismenya adalah dana-dana sosial dari perusahaan-perusahaan besar (Corporate Social Responsibility) diserahkan pada negara. lalu Negara mendistribusikan dana tersebut ke berbagai lembaga sosial untuk dirupakan dalam berbagai program NGO. Selama ini memang LSM diidentikkan dengan pihak yang berseberangan dengan pemerintah. Hal ini sering dikenal dengan istilah fund rising. Dana-dana inilah yang kemudian . Suara dan isu yang diangkat oleh NGO 99% sangat ditentukan siapa yang mem-back updapur finansialnya. 163 hingga soal penggusuran rumah. baik skala nasional maupun internasional. Dalam paradigma Good Governance. Bahkan di negaranegara maju sekalipun sebagian besar NGO didanai oleh sumber dari luar.

pendapatan yang berasal dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan (biaya konsultasi. Dan akhirnya sebagian dana tersebut sampai ke berbagai NGO di Indonesia. Perluasan sumber dana swadaya adalah bukti kreativitas dan komitmen organisasi-organisasi tersebut dan juga merupakan tanda penghargaan dari komunitas lokal atas dukungan yang diberikan oleh mereka.” . sumbangan swasta). Kalau seperti ini maka sumber dana menjadi tidak jelas. dan lembaga-lembaga pemberi dana baik dalam negeri maupun internasional. Ini biasanya dapat terlihat jelas dalam perencanaan keuangan negara baik tingkat nasional maupun daerah (di Indonesia bisa melalui APBN atau APBD). pendapatan dari koperasi). artinya tidak hanya dari berbagai korporasi melainkan bisa juga dari pajak ataupun sumber keuangan negara lainnya. pada umumnya sumber-sumber dana tersebut merupakan kombinasi antara swadana (iuran keanggotaan. Ada juga sumber pendanaan NGO yang langsung dari dana negara yang dialokasikan untuk mendukung kegiatan NGO. 164 tersebar ke berbagai lembaga donor (funding agencies) di seluruh dunia. Kenyataan bahwa kurang dari seperempat organisasi yang terdaftar menerima dana internasional barangkali dapat mengurangi kesan bahwa peace building“dikendalikan oleh donatur. Kebanyakan organisasi tergantung pada gabungan dari sumber dana yang berbedabeda. Informasi mengenai sumber dana memberikan beberapa masukan yang menarik.

Memang tidak sedikit LSM yang lantang menyuarakan dan mengatasnamakan kepentingan rakyat. 165 Dalam konteks ini maka pertanyaan besarnya adalah bagaimana dengan konsep independensi NGO dalam menyuarakan kepentingan rakyat? Apakah keberpihakan fundamental mereka kepada kaum tertindas mendapat legitimasi yang cukup kuat ketika penghidupannya justru tergantung pada kekuatan-keuatan mainstresam? Independensi sebuah gerakan sosial hanya dibatasi dengan istilah non-partisan belaka. Apalagi bila ada kebijakan pemerintah yang dilahirkan ternyata dinilai merugikan kepentingan rakyat. melainkan dari pertanyaan apakah ada kepentingan partai politik di situ. Independensi ornop tidak ditentukan ada tidak kepentingan di balik tindak tanduknya. Padahal bisa jadi kekuatan-kekuatan di luar partai akan lebih politis ketimbang kepentingan partai politik itu sendiri. mereka pun ramai berteriak. Ide religius tentang value freetentu tak akan cocok bila dipakai untuk memotret fenomena gerakan sosial termasuk juga aktifitas ornop. Sejarah perkembangan ornop di Indonesia pun tak lepas dari ambigu. Pada saat Orde Baru tumbang dan beralih menjadi Orde Reformasi maka keberadaan LSM bagaikan cendawan di musim hujan. Tetapi apakah keberadaan mereka memang semata-mata untuk menyuarakan kepentingan dan memperjuangkan nasib rakyat? Nyatanya memang tidak semua LSM yang berdiri tersebut . Konsep non-partisan itu sendiri juga dipersempit lagi dengan tidak ada keterikatan formal antara NGO dengan partai politik.

karena adanya kucuran dana dari lembaga donor (funding). Kedua. apakah memang tidak terdapat agenda tersembunyi dari pihak donor tersebut ataupun dari Negara yang diwakilinya? Yang jelas. yang mensyaratkan perlunya pemerintah bekerja sama dengan LSM dalam proyek yang akan mereka kucurkan. karena kebutuhan riil masyarakat. Pertama. Dengan kata lain. Bila pada akhirnya pihak donor mengucurkan dananya kepada para LSM tersebut. Hingga pada akhirnya akan muncul sebuah indikasi ketergantungan dari LSM tersebut terhadap pihak pemberi dana. Maka tak heran bila akhirnya muncul LSM ‘jadi-jadian’ dan juga LSM yang dinamakan plat merah. Berdirinya mereka sebagian disebabkan pula oleh persyaratan-persyaratan yang diterapkan oleh lembaga keuangan internasional. pihak lembaga donor yang mengucurkan bantuannya tidak akan sembarangan dalam menyetujui proposal program yang ditawarkan oleh pihak LSM. baik secara langsung ataupun tidak. . munculnya LSM disebabkan dua hal. Dari kondisi tersebut yang lebih menggelikan lagi di Indonesia mengenal 3 kategori LSM. 166 benarbenar murni karena kepentingan rakyat. LSM plat merah adalah LSM “bentukan” dari pemerintah dimana seringkali hanya dijadikan alat “penutup” kedok agenda Good Governance yang melibatkan 3 pilar utama dalam menjalankan pemerintahan yaitu civil. Ambil contoh Bank Dunia. plat kuning dan plat hitam. Mereka akan memilah dan memilih program yang memang dirasakan ‘pas’ bagi mereka. yaitu plat merah.

dibentuknya LSM Plat Merah yang notabene berisi istri-istri pejabat ini adalah agar jika mereka memiliki proyek yang harus melibatkan LSM maka LSM-LSM plat merah inilah yang kemudian dirangkul agar seakan-akan pemerintah telah menjalankan Good Governance dengan baik. Adapun sumber dana dari LSM plat merah ini sudah pasti dan sudah tentu dari pemerintah terlepas apakah itu dana memang sudah dianggarkan untuk itu ataukan dana-dana lain yang ada di pemerintahan yang mungkin semestinya tidak dialokasikan untuk itu. Jadi mereka menyetujui apa yang menjadi kata pemerintah bukan karena mereka tahu bawa programprogram tersebut menguntunkan masyarakat tetapi lebih kepada wujud “kesetiaan” kepada sang tuannya. 167 privatdan society. Padahal alangkah piciknya jika semua tahu bahwa LSM tersebut tidak lebih memang telah dipersiapkan dan dikondisikan seperti itu. jadi setiap kegiatan yang dijalankan adalah untuk kepentingan pemerintah. Sehingga orientasinya lebih kepada keuntungan dan laba dari organisasi tersebut dan bukannya malah menjadi media pengontrol bagi kinerja pemerintah. seperti bupati. LSM seperti ini menyalahgunakan perannya dan mereka menjadi backingpemerintah. Dalam pandangan pemerintah sendiri. LSM plat kuning . gubernur atau lebih ke atas lagi. LSM plat merah ini juga disinyalir membela kepentingan pejabatpejabat pemerintah yang biasanya dilakukan untuk mengejar posisi tertentu. Artinya. LSM plat kuning bukan hasil bentukan dari pemerintah tetapi LSM ini terbentuk semata-mata untuk mencari keuntungan.

168 ini bisa ditumpangi siapa saja dengan maksud apapun asalkan “cocok harga”. Sedangkan LSM plat hitam adalah yang disebut-sebut sebagai satu- satunya LSM yang murni menjalankan fungsi sebagaimana mestinya yaitu sebagai media pengontrol kinerja pemerintah dan juga mengkritisi kebijakankebijakan pemerintah yang dirasa tidak akuntabel dan tidak membawa manfaat bagi masyarakat umum. LSM ini juga merupakan satu-satunya LSM yang konsisten pada satu bidang tugasnya. Oleh karena itu dana ini sebagian besar didapat dari donor asing. Karena LSM ini disinyalir sebagai satusatunya LSM yang benar-benar murni terbentuk untuk mengkritisi kinerja pemerintah maka mereka pasti berusaha mendapatkan dana untuk menjalankan organisasinya. LSM ini merupakan LSM yang independen. Adapun sumber dana ini tidak mungkin jika berasal dari pemerintah karena seperti kita tahu pemerintah telah memiliki tugas untuk menghidupi LSM bentukan mereka. Dan karena orientasinya pada keuntungan maka mereka pasti berusaha mencari input yang setinggi-tingginya bahkan mengkhianati rakyat akan dilakukan asalkan mendapatkan uang. maka setiap proyek yang masuk akan mereka terima walaupun bukan pada bidang tugasnya. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah karena . Adapun sumber dana LSM plat kuning ini seringkali berasal dari donor terlepas apakah itu donor asing maupun dari dana swadaya masyarakat dan juga anggotanya sendiri. Karena terbentuknya LSM ini lebih berorientasi pada uang.

169 ketergantungannya pada donor asing sehingga tidak jarang mereka dianggap menjadi corong asing dan sedikit melenceng dari komitmen awalnya. SG beranggapan bahwa idealnya NGO adalah yang dapat mendanai semua kegiatannya dan aktifitasnya secara mandiri. Alangkah lebih bijaksana jika kita mencoba melihat NGO yang ada di luar negeri dimana mereka benar-benar mampu menjadi alat pengontrol pemerintah karena mereka murni terbentuk untuk itu tanpa tendensi apapun daripada harus kebingungan mencari dana dari luar atau harus menjalankan apa kata tuannya. Dimana letak transparansinya jika NGOs yang profit oriented tersebut dengan sukarela dan sudah pasti selalu mengiyakan dan menjalankan apa kata tuannya serta menyetujui semua kebijakan yang mungkin justru membawa kemunduran bagi bangsa ini. Akan lebih bagus bila semua bentuk bantuan dana kepada . Tetapi SG juga tidak anti terhadap berbagai program sokongan dana yang diberikan pada LSM asalkan niatnya adalah dalam kerangka peningkatan kapasitas. Tidak tergantung dari pihak luar. Jika kenyataanya seperti ini masihkan agenda Good Governance yang dikehendaki akan mampu dilaksanakan dengan benar karena pada akhirnya keterlibatan ketiga sektor tersebut juga merupakan akal-akalan dari pemerintah. Di sinilah pentingnya capacity buildingyang diprogramkan secara eksplisit dalam SG. Jumlah LSM plat hitam ini di Indonesia sangatlah sedikit. baik pemerintah maupun donor asing.

tetapi target utamanya tetap peningkatan kapasitas. Sangat mudah untuk menghadirkan unsur masyarakat dan pemerintah. Mereka. Kita bisa saksikan perbedaan ekstrem ini pada berbagai rapat atau pertemuan yang diselenggarakan untuk mempertemukan mereka. tidak menutup kemungkinan pula bila suntikan- suntkan dana itu bersifat program sektoral. partispasi dunia usaha dalam pertemuan-pertemuan sosial semacam ini adalah yang paling rendah dan memprihatinkan. misalnya pada acara- . Akan tetapi. 170 NGO atau GRO berupa program yang langsung mengarah pada capacity building. Sehingga SG berharap semua bantuan dana pada masyarakat sipil itu sifatnya adalah penyiapan kemandirian mereka dalam jangka panjang. Sektor Swasta: Dieksplotasi dan/atau Mengeksploitasi Good Governance mengasumsikan bahwa antara pemerintah. dunia usaha adalah unsur yang paling sulit diajak bekerja sama dan bermusyawarah untuk membahas berbagai persoalan publik. hanya akan datang pada acara-acara yang terkait dengan bisnis dan sejauh itu menguntungkan saja. Di berbagai tempat di seluruh Indonesia. 3. Kenyataan di lapangan. unsur dunia usaha. tetapi tidak untuk unsur dunia usaha. Kenyataan yang ada di lapangan menunjukkan bahwa secara psikologis sektor bisnis agak jauh berbeda dengan masyarakat sipil dan pemerintah. masyarakat dan pelaku bisnis hanyalah tiga entitas yang berbeda sektor saja.

171 acara tender. . Adapun pelaku-pelaku bisnis yang besar umumnya mereka lebih senang bermain Lobby dengan pejabat-pejabat tinggi untuk mendapatkan tender ketimbang duduk bersama rakyat. swasta dan masyarakat sipil telah bahu-membahu berkerja menyejahterakan rakyat hanyalah ada di dokumen-dokumen laporan kegiatan semata. Parahnya partisipasi private sectordalam proses pembangunan partisipatif ini sekaligus membuktikan bahwa klaim keberhasilan GG selama ini hanya di atas kertas semata. umumnya adalah dari sektor yang sangat kecil. Kalangan bisnis sangat jauh dari atmosfer perbicangan masyarakat dan pemerintah khususnya dalam membicarakan pembangunan baik di tingkat daerah maupun pusat. Itu masih lebih baik. Di beberapa tempat sector swasta justru melakukan banyak hal yang kontraproduktif dengan proses demorkatisasi pembangunan itu sendiri. sektor swasta tetap saja hanya memperhatikan keuntungan bisnisnya semata. Bukti bahwa pihak pemerintah. Kalau toh ada satu dua perwakilan dari dunia usaha yang datang. Mereka melakukan lobby pada elite birokrasi dan elit politik untuk menggolkan proyek mereka. bermusyawarah untuk membicarakan arah pembangunan dan perbaikan kondisi sosial ekonomi secara makro. Secara substantif. atau memenangkan mereka dalam proses tender.

Dan itu harus tertuang dengan jelas dalam regulasi. Bila pola hubungan yang seperti ini yang terjadi maka benar apa yang berulang dikatakan Shohat dan Stam (1994) bahwa ketidaadilan pola hubungan antar kuasalah yang akan terjadi. bila terlalu longgarpun akan salah. Bila kita membuat regulasi yang terlalu ketat akan dipersalahkan. Adapun dua kutub dilematis itu bersandar . 172 Oleh karena itulah SG lebih terfokus pada penegasan paradigmatik peran dan tanggungjawab private sector dalam pembangunan. Sebaliknya. Bila hanya terfokus pada penciptaan hubungan dengan aktor-aktor yang ada maka yang jadi masalah adalah adanya pola hubungan yang justru saling memanipulasi atau mengkooptasi. Sejauh ini Good Governance sama sekali belum memberikan arah yang jelas dari komplikasi ini. Maka SG dalam melihat sektor swasta terlebih dahulu penting untuk menegaskan tugas dan tanggungjawabnya. Masyarakat sipil yang secara komparatif memiliki kuasa lebih kecil dibanding pemerintah dan swasta akan menjadi korban. Hanya saja studi-studi administrasi publik selama ini tidak cukup banyak membicarakannya. Kontribusi pihak swasta dalam proses pembangunan ini sebenarnya berada dalam pembahasan yang sangat sulit. Ada persoalan besar tentang batasan penentuan derajat dan proporsi yang tepat dalam hal keterlibatan sektor bisnis dalam pembangunan. Hal ini jauh lebih penting ketimbang memikirkan bagaimana pola hubungannya dengan aktoraktor lain yang ada di masyarakat seperti yang dilakukan GG.

maka tugas-tugas melakukan proses produksi ini tidak bisa diserahkan seratus persen pada negara. Lebih dari itu. pertama paragdima pajak dan yang kedua adalah tanggungjawab sosial perusahaan. Mengingat Indonesia tidak menganut sosialisme secara ekstrem. Pemberian banyak beban tambahan pada sektor bisnis tidak lain hanya akan membuat iklim usaha di daerah tersebut akan menjadi buruk. Perusahaan tidak perlu lagi ditambahi beban-beban lainnya yang hanya akan mengganggu pekerjaan utama mereka menghasilkan produk dan profit sebanyak-banyaknya. kehadiran dunia bisnis sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi makro sebuah bangsa. Ketika pemerintah telah membuat regulasi perpajakan yang di dalamnya juga mengatur bagaimana dan seberapa besar pajak yang harus dibayarkan. Hal ini akan berujung pada banyaknya . Pertama. Oleh karenanya penciptaan suasana bisnis yang nyaman dan aman bagi investor adalah hal yang sangat penting untuk menggerakkan ekonomi sebuah bangsa. maka bisa dipastikan lokasi tersebut akan segera terkena krisis perekonomian yang cukup akut. Bila tak ada sector bisnis yang bergerak di sebuah daerah atau Negara tertentu. maka sebesar itu pulalah tanggung jawab perusahaan yang harus ditunaikan. 173 pada dua paradigma dasar. beberapa kalangan menganggap bahwa satusatunya wujud tanggung jawab perusahaan dalam pembangunan adalah pajak.

Paradigma ini beranggapan bahwa. Sehingga hari ini daerah A memiliki banyak investor. Di Indonesia hal ini menjadi masalah klasik dan akut sejak bertahun-tahun. Hal ini makin diperkuat dengan kenyataan tentang leluasanya aliran modal berpindah dari satu tempat ke tempat lain. memberikan pajak yang terlalu besar pun akan berkontribusi secara negatif terhadap tumbuh kembangnya iklim usaha di sebuah daerah. jangankan untuk membebani perusahaan-perusahaan dengan beban dan tanggung jawab tambahan. Semakin kecil beban pajak yang diberikan semakin senang pelaku bisnis untuk melakukan bisnisnya di daerah atau negara itu. Pandangan yang ada di paradigma ini tentu saja hanya mengharapkan kepatuhan para pemilik perusahaan untuk membayar pajak sebagai kontribusi tertinggi mereka dalam pembangunan. semakin tinggi pajak yang dikenakan. dan membuat para investor itu memindahkan seluruh aktifitas bisnis dan modalnya ke daerah tersebut. 174 kerugian dan krisis sosial ekonomi yang akan diderita oleh masyarakat dan derah itu sendiri. Sebaliknya. bisa saja keesokan harinya ditinggalkan oleh seluruh investor yang dimilikinya itu gara-gara daerah tetangganya memberikan banyak tawaran regulasi pajak yang menggiurkan bagi investor (jauh lebih rendah). semakin enggan mereka melakukan aktifitas bisnis di sana. . Sehingga penentuan jumlah dan besaran pajak kepada perusahaan itu berbanding terbalik dengan iklim usaha dan investasi.

Hal ini pulalah yang sebenarnya mengantarkan pada paradigma kedua yang lebih menekankan pentingnya tanggungjawab sosial perusahaan. lalu sampai kapan rakyat akan menunggu kontribusi yang nyata dari pihak swasta yang telah menjalankan binisnya dan mengeruk banyak keuntungan dari daerahnya? Penegakan hukum dan pendisiplinan. Sementara pembangunan dan kesejahteraan rakyat adalah persoalan yang harus segera diselesaikan dalam jangka pendek. Total perkiraan kerugian negara akibat penggelapan itu sekitar Rp 325 miliar. baik bagi aparatur pajak maupun pembayar pajak masih merupakan pekerjaan rumah yang sangat panjang. Paradigma berikutnya berpandangan bahwa perusahaan harus memiliki peran dan tanggungjawab lebih dalam pembangunan dan . Data dari Dirjen Pajak juga menunjukkan bahwa jumlah kasus yang ada dari tahun ketahun terus meningkat. kasus penggelapan pajak yang sedang diselidiki per awal tahun 2008 sebanyak 50 kasus dugaan penggelapan pajak. Hal tersebut sekaligus sebagai tantangan bagi pandangan yang menganggap bahwa pajak adalah satusatunya dan sekaligus bentuk kontribusi tertinggi dari sektor swasta pada pembangunan. 175 Berdasarkan informasi dari Dirjen Pajak. Ketika kita hanya mendasarkan pada pajak. dan kenyataan kecurangan dan penggelapan pajak yang dilakukan oleh para pebisnis masih begitu parah.625 triliun. Jumlah kerugian negara digabungkan dengan dugaan penggelapan pajak Asian Agri mencapai Rp 1.

kesenjangan yang ada malah cenderung makin parah dengan adanya berbagai sektor bisnis tersebut. kesenjangan ekonomi yang ada di masyarakat saat ini sangatlah tinggi. Sehingga sudah sewajarnya masyarakat dan daerah yang ditempati tersebut juga mendapatkan keutungan dari keberadaan lembaga-lembaga bisnis itu. Asumsi yang dipakai adalah bahwa perusahaan dan para pebisnis tersebut telah menggunakan berbagai sumber daya yang ada di daerah tertentu. Dan keberadaan berbagai sektor bisnis yang ada di Indonesia saat ini tidak banyak membantu dalam memperkecil kesenjangan ekonomi yang ada. dalam struktur sosial ekonomi yang lebih luas. Lebih buruk lagi. dan hampir dapat pastikan mungkin juga akan didapatkan orang termiskin. Keberadaan para pelaku bisnis kaya yang hidup di tengah masyarakat Indonesia –yang pada umumnya hidup di bawah garis kemiskinan. Kontribusi yang dimaksudkan di sini tidak hanya melulu terkait dengan bantuan dana yang bersifat charity.membuat banyak kalangan berharap agar sektor bisnis ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembangunan. Sektor swasta yang selama ini beroperasi di berbagai daerah di Indionesia dianggap telah banyak . 176 kemasyarakatan serta tidak hanya sebatas membayar pajak. Di samping itu. Di Indonesia sekaligus terdapat orang terkaya se Asia Tenggara. melainkan lebih merupakan keterlibatan secara aktif dan strategis untuk ikut memikirkan dan menemukan solusi bagi masalah kemiskinan.

tetapi tidak berdampak apapun bagi masyarakat banyak. Tidak terbuktinya teori trickle down effect telah semakin memperkuat anggapan bahwa perusahaan memang harus memberikan dan menunjukkan peran nyata dalam pembangunan dan berbagai urusan sosial kemasyarakatan lainnya. Sebagai akibat umum dari praktek race to the bottom ini maka upah dan kesejahteraan buruh harus ditekan. Dalam dunia ekonomi politik fenomena ini dikenal dengan istilah race to the bottom (Singh. 2004). 177 membuat para pemilik modal atau kelas menengah atas dari perusahaan- perusahaan tersebut menjadi kaya. Race to the bottom adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menjelaskan fenomena industri yang berusaha menekan biaya-biaya sosial dan lingkungan demi menekan biaya produksi yang dikeluarkan oleh pemodal. Kenyataan yang bisa dilihat sampai hari ini adalah fakta bahwa kaum buruh masih tertindas. yakni kaum buruh. Ada janji bahwa tumbuhnya sektor industri sektor industri di sebuah daerah atau Negara akan membuat kesempatan kerja di lokasi itu mengalami peningkatan sehingga terwujud kesejahteraan rakyat dalam jangka panjang. . Kerja murni untuk produksi dan mengakumulasi kapital tidak lagi menjadi satu-satunya alasan keberadaan sektor bisnis tumbuh dalam ruang kehidupan. Belum lagi ketika melihat kenyataan bahwa pada sector sosial terdekat pun ternyata dunia usaha di Indonesia belum bisa dipercaya sepenuhnya mampu menyejahterakan mereka.

Paradigma kedua ini pun masih menyisakan persoalan yang tidak sederhana. 178 Demikian pula berbagai pengeluaran lain terkait dengan pembuangan limbah. Sebagaimana layaknya praktek preman pasar yang sudah menarik “uang keamanan” bagi para pedagang. mulai penggelapan pajak. air maupun udara) di daerah tersebut. Berbagai cerita tentang wajah buruk dunia usaha di Indonesia. Ketika sebuah investasi direncanakan hendak datang ke sebuah daerah. Semakin perusahaan ditekan dengan berbagai beban tambahan maka para investor akan berpikir bahwa di daerah tersebut memiliki high cost economy. maka para aktor-aktor penting di daerah tersebut telah berbondong-bondong mendatangi kantor perusahaan tersebut untuk . Dan sesungguhnya hal inilah yang selama ini terjadi di Indonesia. di dalam skala yang lebih luas praktek ala ‘preman pasar’ ini juga melanda dunia investasi kita. politik dan ekonomi mereka hanya tertunaikan melalui pajak. penindasan buruh dan pencemaran lingkungan makin mempertegas bahwa tidak cukup tanggung jawab sosial. Harus ada berbagai beban tambahan yang bersifat taktis maupun strategis yang diberikan kepada mereka sebagai wujud kontribusi konkretnya dalam pembangunan. Sehingga tak jarang peningkatan jumlah perusahaan yang beroperasi di sebuah tempat berbanding lurus dengan makin besarnya tingkat pencemaran lingkungan hidup (tanah.

Mulai dari pejabat eksekutif maupun legislatif yang membawa daya tawar regulasi untuk mendapat jatah dari si investor. Hal-hal seperti tersebut di atas makin memperumit konsep peran sektor swasta dalam pembangunan. Lubang besar itu pun belum terjawab dalam konsepsi GG. Dalam GG ada anggapam ideal bahwa perusahaan memiliki peran langsung dan terlibat dalam proses-proses sosial dan demokrasi baik pada level perencanaan maupun dalam pelaksanaan pembangunan itu sendiri. para aparat keamanan. Bagaimana mereka bisa terlibat bila posisi mereka saat ini berada dalam dua titik ekstem. khususnya di Indonesia. yaitu mengeksploitasi masyarakat daerah atau dieksploitasi oleh mereka. SG memandang peran penting dari sektor swasta adalah bagaimana kehadirannya di tengah-tengah masyarakat dapat berdampak secara . Maka. Sebab hal terakhir tersebut sangat terkait dengan berbagai upaya supremasi hukum yang juga harus dilakukan secara simultan. hingga LSM jadi-jadian yang mengancam akan melakukan demo besar-besaran jika si pengusaha tidak member mereka sejumlah konpensasi yang diminta. SG mempersepsi peran swasta dalam proses tata pemerintahan tidak lagi pada ukuran seberapa banyak dia terlibat dalam rapat-rapat atau seberapa banyak dana yang dia berikan pada pemerintah (dalam bentuk pajak). Dan sekali lagi kerumitan ini masih menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab dalam wacana tata pemerintahan. 179 meminta jatah ataupun “uang kemananan”.

180 signifikan bagi kesejahteraan secara umum dan memperkecil gap pendapatan yang terjadi di masyarakat. Prancis. Italia. WTO sendiri tidak serta merta muncul menjadi kekuatan dominan yang akhirnya akan berpegaruh pada berbagai kebijakan domestik negara-negara anggotanya termasuk Indonesia. Ambil salah satu contoh pada satu kekuatan besar yang beroperasi di peta politik dunia. Ia merupakan sebuah organisasi yang beranggotakan berbagai negara di dunia yang (dipaksa untuk) sepakat dalam mencapai cita-cita “perdagangan bebas internasional”. Ia di-back upoleh World Bank sebagai penata financial. dan Jerman). Jepang. 4. SG . Bukan sebagai tujuan dan keharusan sebagaimana umumnya para pendukung GG anjurkan. Rusia. Sedangkan sponsor utama dari lembaga-lembaga dominan itu adalah negara-negara maju dunia yang tergabung dalam G-8 (AS. Aktor Internasional Yang membuat SG sama sekali baru dalam khazanah administrasi publik adalah perhatiannya yang kuat pada pengaruh aspek internasional dalam proses tata pemerintahan. Dalam konteks inilah maka konsep-konsep seperti public-private partnerships (PPP) ataupun berbagai konsep dan teori tentang community devolpment mengambil peran sebagai pilihan-pilihan taktis. Sementara Multi-National Corporation (MNC) berperan sebagai penguasa perdagang-an dan PBB sebagai penata politik global. Inggris. WTO (World Trade Organization). Kanada.

Perusahaan-perusahaan transnasional. Bagi perusahaan-perusahaan transnasional di sektor manufaktur dengan kantor pusat mereka yang ada di Amerika Serikat pada tahun 1987. Sebagian besar dari sisa penjualan dan aset mereka pada tahun 1987 dan 1993 ada di Eropa dan Kanada. 67% dari penjualan dan 73% aset mereka berada di Amerika. Sembilan puluh persen dari perusahaanperusahaan transnasional tersebut berkantor pusat di negara- negara maju. ada 37. Dengan menggabungkan data dari berbagai sumber. menurut laporan Investsai Dunia 1993 yang diterbitkan Perserikatan bangsa-bangsa (PBB). sangat mengherankan mengapa GG sama sekali tidak melibatkan faktor maha penting ini dalam semesta pembicaraannya. Bagi perusahaan-perusahaan transnasional yang berpusat di . Berikutnya kita akan lihat bagaimana modus operandi mereka di sektor ekonomi dan politik. “di samping semua spekulasi mengenai globalisasi”. 1996) mencatat penjualan dan aset perusahaanperusahaan transnasional yang maha besar jumlahnya itu terkosentrasi di negara atau regional “rumah” mereka.000 anak perusahaan di luar negeri. Hanya saja. dalam Globalization in Question (Hirst. Di tahun 1993. seorang akademisi Inggris Paul Hirst dan Graham Thompson.000 perusahaan transnasional yang memiliki 170. 181 melihat bahwa praktek transforasi pasar bebas yang dilakukan secara sistematis ini sangat berpengaruh terhadap kualitas tata pemerintahan di seluruh dunia. 70% dari penjualan mereka dan 67% dari aset mereka ada di Amerika Serikat sendiri.

ketimbang trendke arah “globalisasi”. Pertama. Dan mereka telah menginternasionalisasikan operasi-operasi mereka ini yang dikonsentrasikan di negara-negara kapitalis maju lainnya. Untuk perusahaan-perusahaan transnasional yang bergerak dalam bidang manufaktur yang berpusat di Jepang. Dalam konteks dominasi politik. Antara tahun 1987-1993. 182 Eropa Barat. begitu juga 97% aset mereka. Dari statistik di atas kita dapat melihat bahwa. justru perusahaan-perusahaan transnasional telah memusatkan baik produksi dan penjualan komoditi mereka di negara-negara “induk”. 100 perusahaan transnasional terbesar di dunia memiliki sepertiga dari modal ini. terjadi penyebaran penjualan dan aset mereka secara lebih luas. kita akan melihat bagaimana negara-negara G-8 memaksa untuk mempengaruhi peta politik dan kebijakan domestik di berbagai negara berkembang. 75% dari penjualan mereka pada tahun 1993 ada di Jepang. jauh dari apa yang disebut sebagai penyebaran aset dan penjualan mereka. Akan tetapi antara 70-90% diantaranya ada di negara “induk” (negara asal perusahaan) dan di negara-negara Eropa Barat lainnya. Ini mencerminkan adanya distribusi yang sangat tidak merata (uneven) dalam hal investasi langsung (Foreign Direct Investment atau investasi langsung) dan perdagangan dalam skala global. sekalipun menyeberangi bola bumi. ketika . terjadi perkembangan konsentrasi aset-aset para perusahaan transnasional di negara “induk/asal” masingmasing.

Kedua. . Kerjasama Baru bagi Pembangunan Afrika (NEPAD). Untuk mengetahui pokok-pokok pikiran dari teori ketergantungan. 183 kedelapan pemimpin membicarakan rencana AS untuk menyediakan 700 juta dolar guna menarik negara-negara lain untuk mengirim pasukannya ke Irak dan perang melawan terorisme. Ketiga. Harus diakui bahwa dominasi yang terjadi menyebabkan ketergantungan negara berkembang terhadap negara maju yang diakhiri dengan terposisikannya negara berkembang sebagai negara kapitalis pinggiran. Frank (1996) mengungkapkan dua hal pokok. akan menempatkan dana pembangunan Afrika sebagai prioritas. Dalam KTT G-8 di Genoa. Para pemimpin G-8 menggerojok bantuan miliaran dolar kepada NEPAD dalam upaya membantu memberantas korupsi. Sejauh ini. Akibatnya. dan melakukan reformasi terhadap ekonomi para anggota kelompok tersebut. Pertama. dekadensi moral pasti datang mengiringi. sekitar 12 juta euro telah dialokasikan untuk mendanai proyek-proyek pembangunan TI di negara-negara berkembang. negara yang ekonominya maju berarti tidak underdeveloped meskipun mungkin pernah mengalami kondisi underdeveloped. arus informasi tak terbendung. Italia menghimbau negara-negara lain untuk mengatasinya dengan membentuk DOT (Digital Opportunity Task). Bersamaan dengan tumbuhnya ekonomi kapitalis. dimana kesenjangan digital ramai diperbincangkan. melindungi demokrasi.

Kedua. Selanjutnya. Hal ini akan menghasilkan surplus yang banyak dinikmati negaranegara maju. produsen dan bankir untuk mengakumulasikan modalnya di negara Dunia Ketiga agar mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Pasar di negara Dunia Ketiga tidak lebih dari . pasar domestik (internal market) dibatasi dengan cara pembelanjaan incomedi negara maju oleh kalangan elite di negara Dunia Ketiga. yaitu dengan memperkuat sistem ketergantungan. Maka industri di negara Dunia Ketiga akan tetap tergantung pada kekuatan sentral (centruum forces). menumpuknya modal merupakan kekuatan pendorong (driving force) di balik proses ini. 184 negara maju kemudian menyandarkan diri pada kekayaan sumber daya alam dari negara Dunia Ketiga. Upah diupayakan serendah mungkin. Sebagai dampaknya adalah distributor besar. Aspek tersebut di atas akan membawa dampak pada perilaku pedagang. pemindahan surplus ke negara-negara maju dimaksudkan untuk mempertahankan supaya system ekonomi negara Dunia Ketiga (periphery) tetap berorientasi keluar dengan mengekspor bahan mentahnya dan mengimpor barang-barang siap pakai. dan bankir mencari keuntungan sebesar-besarnya di negara Dunia Ketiga. utamnaya ketergantungan di bidang teknologi dan modal. pemilik industri manufaktur. dinamika internal sistem ekonomi juga dikembangkan dalam Dunia Ketiga. Dan. Polarisasi kekayaan menuju negara maju tidak dapat dihindarkan.

Oleh sebab itu. Aksioma yang dikembangkan adalah bahwa pembangunan negara Dunia Ketiga akan berkembang secara pesat bila mereka menjalin aliansi yang kuat dengan negara Dunia Pertama. Baik di tingkat internasional maupun nasional. otonomi penuh bagi Negara Dunia Ketiga tidak akan terwujud. Sehingga memungkinkan berkembangnya negara-negara dengan system kolonial ekonomis atau yang dikenal dengan ketergantungan centruum- periphery. Proyek-proyek GG yang di imposeke Negara berkembang dari lembaga-lebaga donor asing makin memperkuat pola hubungan dependensi antara centruum and periphery tersebut. 185 sekedar perwujudan tuntutan elite setempat. Dengan kondisi ini relasi ketergantungan ekonomi politik centruum-periphery tidak akan pernah dapat teratasi. terutama di negara-negara berkembang terpengaruh. Hal ini diperparah dengan kelompok kapitalis negara Dunia Ketiga yang memiliki kecukupan modal justru mengadakan hubungan dengan kaum borjuis di negara maju. Sistem kapitalis dunia merupakan hasil dari suatu system yang ingin mempertahankan dominasinya atas Negara Dunia Ketiga. Dalam lalu lintas perbincangan seputar kapitalisme peripheryini. Dalam konteks inilah secara langsung proses tata pemerintahan. Sehingga Cardoso (1979) mengatakan bahwa ketergantungan ini terjadi sebagai akibat adanya kondisi struktural yang tidak menguntungkan bagi negara Dunia Ketiga. Kapitalisme periphery menjadikan originalitas reformasi pemerintahan negara berkembang tidak terjadi. kita akan melakukan .

seiring dengan makin maju pesatnya perkembangan ekonomi negara Dunia Pertama maka pada saat yang sama negara Dunia Ketiga makin teralienasi. Artinya. Negara mengeksploitasi produsen domestik. Teori underdevelopmentdari Frank mengatakan bahwa keterbelakangan negara-negara Dunia Ketiga adalah berangkat dari akibat-akibat struktural. subsumption under capital masyarakat prakapitalis golongan pekerja upahan. Teori ini mengatakan bahwa di dunia ini pada dasarnya hanya terdapat satu sistem besar yang mengatasi sistem-sistem lainnya. (Alavi 1991: 138). kelas yang dieksploitasi oleh produsen mengeksploitas kelas lain yang bukan produsen. Demikianlah terjadi secara menerus hingga terbentuk kelas- kelas yang keberadaannya baru dalam susunan sosial dan merupakan model baru dalam perkembangan produksi (Giddens. 1999: 29). Analisis Frank ini makin dipertajam oleh Immanuel Wallernstein dengan idenya yang sangat terkenal. Lalu. Kedua. Hamza Alavi menggagas pendapatnya dalam dua arus besar. penjabaran proses feodalisme tradisional menuju feodalisme kapitalis. world system theory. 186 elaborasi dari beberapa tawaran konsep dari Andre Gunder Frank tentang konsepnya underdevelopment (Budiman. 1986: 63). . Pertama. Sistem besar tersebut secara bertingkat melakukan eksploitasi pada berbagai level di bawahnya. Sistem besar yang dimaksud di atas adalah pasar internasional.

Akan tetapi hubungan yang ada lebih bersifat saling pengaruh mempengaruhi secara kompleks. Sebaliknya. Sehingga satu-satunya jalan adalah dengan mendatangkan big push dari MNC/TNC serta berbagai . dan nilai investasi. penjajah dan terjajah. Untuk menggenjot industrialisasi skala besar sangat dibutuhkan modal yang besar. pilihan satusatunya jatuh pada industrialisasi skala besar. hubungan tak adil secara global itu malah makin mengental. Yang demikian itu adalah juga fakta yang tak bisa dipungkiri. Yakni ketika semua pejabat negara terfokus pada segala daya upaya peningkatan persentase pertumbuhan ekonomi. Untuk menuju ke sana maka. Memang dalam paradigma konstrukvisme tidak diakui sepenuhnya bahwa pola hubungan saat ini adalah hitam putih. 187 Di tengah arus globaliasi sekarang hal di atas tidak makin memudar. tetap ada relasi kuasa yang bisa dilihat dan diukur. Sedangkan kelemahan utama Negara berkembang termasuk Indonesia adalah minimnya modal. Satu pihak lebih berkuasa ketimbang lainnya. Sugiono (1999) pernah memberikan ilustrasi yang sangat tajam tentang otoriteriansme dan pembangunan di negara berkembang. Tetapi dalam hal ini SG lebih menaruh sandaran pemahamannya pada konsep policentrismyang percaya bahwa sekompleks apapun hubungan yang terjadi. GNP. Policentrisme dalam ekonomi politik terejawantah pada represivitas aktor-aktor internasional yang pada giliranya juga menular pada aktor- aktor nasional terhadap warganya.

namun juga menyentuh hingga sudut politik dan kebijakan nasional. . 4. yaitu sebuah kebijakan penyesuian di berbagai sektor yang harus dilakukan Negara berkembang untuk dapat mengakses modal MNC/TNC. yang dapat menghancurkan kapasitas produktif domestik dan lapangan pekerjaan. Pada titik inilah kita mengenal istilah structural adjusment programme (SAPs). Liberalisasi perdagangan. 2. Elemen-elemen paket standar dan pengaruh negatif yang potensial bagi masyarakat miskin mencakup: 1. 188 lembaga kapitalis internasional lainnya yang jelas memiliki kecukupan modal. the death triangleini menyerang berbagai sudut. Swastanisasi perusahaan-perusahaan negara yang dapat memacu pemusatan aset. yang artinya memangkas belanja pelayanan sosial. SAPs adalah paket kebijakan standar yang ditentukan oleh lembaga keuangan internasional bagi setiap negara di kawasan selatan. 3. Untuk melancarkan misi pemasukan perusahaan mereka sebebas- bebasnya dan sebanyak-banyaknya ke berbagai belahan dunia. termasuk kredit untuk para petani. Pencabutan subsidi. termasuk subsidi yang menguntungkan masyarakat miskin. 5. Pembatasan ketersediaan kredit. Tidak hanya dari sudut perekonomian saja. Pengurangan belanja pemerintah.

Perlucutan hambatan-hambatan. yang dapat menekan upah minimum. Dan biaya pemindahan dari Indonesia ke Vietnam ternyata tidak lebih dari 20% dari keuntungan pertahun yang telah mereka raih. 7. 189 6. yang tidak menguntungkan sektor swasta domestik. Terlepas dari . Ambil contoh implikasi SAP ini di sektor perburuhan. Visi kebijakan sektor perburuhan yang lebih menekankan pada kepentingan investor ini bagi pemerintah adalah pilihan yang paling rasional bagi mereka. tidak dapat dipungkiri berakar dari adanya demo buruh beberapa tahun sebelumnya. dan 8. Dari sini terlihat memang bargain pemerintah dengan MNC/TNC sangatlah lemah. Deregulasi pasar tenaga kerja. Kasus penutupan (lock out) Sony Corporation misalnya. Terlebih ketika kita ditekan oleh SAP dari IMF dan perjanjian free trade zones dari WTO. yaitu “perlakuan nasional” untuk investasi asing. Itu menunjukkan diplomasi internasional yang dilakukan diplomat-diplomat kita sangat lemah di samping fundamen ekonomi kita yang juga memang rapuh. Reorientasi ekonomi ke arah pasar ekspor yang dapat menyediakan insentif bagi “penambangan” sumber daya alam. Lemahnya bargainnegara ketika berhadapan dengan MNC/TNC pada akhirnya harus mengorbankan buruh. biaya untuk memindah perusahaan itu sangat murah. memang bagi MNC/TNC. Sebab.

apakah kita tetap hanya bisa mengandalkan analisis pada aktor- aktor lokal. Secara naif ilmu administrasi publik dan pemerintahan juga seolah melokalisir bahwa . Intinya adalah negara tidak memiliki otonomi dalam menentukan arah kebijakannya. yang tengah gagap melalui masa transisi dari feodalisme seperti halnya yang terjadi di India pada awal 1980-an (sebagaimana diulas oleh Alavi). baik pertanian. Sebab secara rasional dan empirikal. swasta dan masyaakat sipil? Hal di atas adalah bukti nyata bagaimana aktor-aktor lokal yang dicantumkan dalam GG tidak bisa berbuat apaapa ketika berhadapan dengan aktor internasional (dalam contoh di atas adalah MNC). dan sudah disadari oleh para pakar dan pelaku di lapangan sejak lama pula. Tetapi mengapa dalam wacana administrasi publik. pendidikan. Sehingga ketika banyak permasalahan dan kekacauan tata pemerintahan akibat hal- hal itu. dan sebagainya mengalami kondisi yang sama dan modus operandi yang sama pula. Di sektor lain. dia seolah dihilangkan dalam berbagai diskusi reformasi pemerintahan. subsidi BBM. yakni pemerintah. Negara telah dikendalikan oleh kekuatan interasional melalui sebuah peraturan yang dinamakan SAP’s. Sehingga keinginan SG untuk menambahkan aktor internasional ke dalam diskusi reformasi tata pemerintahan sangatlah beralasan. hal ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama. 190 kedua faktor tersebut. termasuk GG. hal pokok yang menyebabkan kondisi itu karena Indonesia masih merupakan kapitalis periphery.

juga tak relevan lagi dengan kenyataan yang sesungguhnya terjadi. 191 lokus agenda reformasi hanya ada dalam wilayah domestik sebuah negara. Kenyataan dunia yang makin meng-global dan makin terkoneksi tentu membuat lokus administrasi publik yang lokalistik semacam itu menjadi sangat tidak relevan. Tidak relevan dari segi konseptual. .

1990. PSH FH-UII. Jakarta.). 1994. Yogyakarta. . 1985. 1998. Antoft. 1983. Graw Hill Book Compani. "Government is Different‟. 1987. 1945. dalam Shafritz.. Menyongsong Fajar Otonomi Daerah.). London. Agus Salim. Media Sarana Press. . Philip Mawhood. Titik Berat Otonomi Daerah Pada Daerah Tingkat II dan Perkembangannya... Yogyakarta Aldefer. Jakarta. J. . J. Agrawal. DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman (ed. 1997.. 2007. & Hyde. 2001.. Ribot. 1991.. Hubungan Antar Pusat dan Derah Menurut UUD 1945. (Eds. Birokrasi (Alih Bahasa) : M. Beberapa pemikiran tentang Otonomi Daerah. Bureaucracy. Harold AF. 1979. Ateng Syafruddin.C. Pemerintah Daerah Kajian Politik dan Hukum (analisia Perundang-Undangan Pemerintah Daerah dan Otonomi Daerah semenjak tahun 1945 sampai dengan 2004). PT. Analizing Decentralization: A Framework South Asian and West African Environmental Cases. Mandar Maju. Dalhousie University. Bogor. Bandung Bagir Manan.. P... and Jesse C. A. Ghalia Indonesia. Jakarta. Pall Mall Press Ltd.: Harcourt Brace College Publishers. Tiara Wacana. Hubungan Antar Pusat dan Derah Menurut UUD 1945. Pustaka Sinar Harapan. 1964.. . Bandung .. Grassroots Democracy : Local Government in the maritimes. Arun. Pustaka Sinar Harapan. Local Government. New York/Toronto/London. Bina Cipta. Andi Ganjong. Mc. Pasang Surut Otonomi Daerah. Fort Worth etc. Albrow Martin. 1989. Local Government in Developing Countries.M. Nova Scotia Applebey. Classic of Public Administration. K dan Novack. Rusli Karim dan Totok Daryanto.

. 1981. Ins. Weber. http. Desentralisasi dan Dekonsentrasi Pemerintahan di Indonesia: Suatu Analisis (Jilid I). Organization Theory and New Public Administration.mnsu.. ………………………. M. Allynand Bacon. MA. Meyer. Breaking Through Bureaucracy: A New Vision for Managing in Government. Guilford Press..J.. & Straussman. Dewaruci Press. SAGE Publications. Peter.Barzelay. Berquist.. J. Inc.. Minneapolis. Max Weber and The Theory of Modern Politics. 1993. 1996. Berkeley and Los Angeles: University of California Press. Kepemimpinan dan Organisasi. Cet. Pertama. Public Management Strategies. 2009. R. Sanfrancisco: Jossey-Bass. Bozeman. Routledge. Managing Local Government: Public administration in Practice. University of Minnesota Press. The Postmodern Organization.//cbae. Alih Bahasa Gary Rachman Jusuf. Kedua. Beetham. PT. London: Oxford University Press. Jakarta Rineka Cipta. Miriam. David.. Fayol. and Taylor. NY/London Boje & Denehy. Routledge Encyclopedia of International Political Economy (Routledge. 1981. Blau. Et.. . London. William. 1992.W. Jakarta. 1990. (Ed. Ricard D. 1987 Birokrasi Masyarakat Modern. 1997.edu/mpw. M...2002) Bingham. (ed. Jones. 1980.. Boston. Dasar-dasar ilmu politik (Edisi Revisi).. 1974. Managing In Postmodern World.al. Carl J. 1993.). Jakarta Blaut.. Jossey Bass Inc. Secon Edition. Universitas Indonesia Press. Bhabha. The Colonizer’s Model of the World: Geographical Diffusionism and Eurocentric History. B. Nation and Narration. . Bayu Surya Ningrat. dan M. 1990. H. Publichers San Fancisco California. Bretton Woods System. J. Bellone. Bernstein.Chapter on Follet. Concept In Social Though: Bureaucracy. Jakarta. M. 08/03/2006 Budiarjo.html.. Gramedia Pustaka Utama.

West Publishing Company Singapore. 1997 Carl J.. Cet. Umbu Rauta.. Denhard. Tim Icce Uin Jakarta dan Prenada Media.al. 1984. S. Dede Rosyada.. Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Managing Public Services: Competition and Decentralization.. Masters of Illusion: The World Bank and the Poverty of Nations. Allyn and Bacon. Demokrasi. Birokrasi dan Budaya Organisasi. M. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 2004. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar. Robert. USA. "Revitalisasi Nasionalisme Madani dan Penguatan Negara di Era Demokrasi‟. Intergovernmental Relation in Korea and Japan: Phases. Connecticut. G. Boston Castle.. Richard L. Beyond the center. & Wright. David Held. dkk. Princeton University Press.. California. Theories Of Public Organization. 2003. Cohen. London. 2. Patterns and Progress Toward Decentralization in Trans-Pacific Context: International Review Public Adminidtration. 1983. Pengaturan dan Pelaksanaan... Chatterjee. Word bank. C. 1980. Jakarta. Jakarta. Dillinger. Perry. Richard. P. Administrative Decentralization Strategies for Developing Countries. Organization Theori and New Public Administration. The Nation and Its Fragments.New York: Henry Holt and Co....J. Washington DC. Demokrasi dan Tatanan Global: Dari Negara Modern hingga Pemerintahan Kosmopolitan.Burki. et. . Pustaka Pelajar. 2004.. Norman Flynn. 1993.S. 2005. decentralizing the state.. Daramurti. 1992. Organization Theory and Design. B. Brooks/Cole Publishing Company. Bandung Darwin. Kumarian Press. Inc.... 2007.M. 1999. 1993 Choi. Y. Draft. Butteworth Heinemann.. Common. dan W. 1999. and Elizabeth Mellon. Otonomi Daerah: Perkembangan Pemikiran.R. and Stephen B Peterson. Citra Aditya Bhakti.. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Krisna. Caufield.M. Pacific Grove. J.E.. Rineka Cipta. D.

1981. Robert B. A. M... Boston.. Denhardt. A. Dimock. Public Administration. Alpena an den Rijn. Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia. Hardcourt. PT. Samson. . Marshal E. 2002. 1960. W. Kaloh... Public Administration: an Action Orientation.. Jakarta Dunn. Public Administration. dalam Majelis Guru Besar dan Jurusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (Eds. YH. Sharpe.M. Dimock and Luis W. CV. . Koening. Thomson & Wadsworth. Rinehart and Company. The New Public Services: Serving.. New York. Administrasi Negara (Terjemahan: Husni Thamrin Pane) Rineka Cipta.N. 1979. Rineka Cipta. Marshal E. 1966. DRH Koesoemahatmadja.. . Agus. Glays O. 1992. Little Brown and Company.. 1953.). Perilaku Organisasi. 2007.E.. Jakarta. Yogyakarta: GadjahMada University Press. Dimock. Public Policy Analysis: An Introduction. dan Dimock. Penilaian Kinerja Organisasi Pelayanan Publik. (Fifth edition). Gladys O. New Jersey: Prentice Hall. Inside Bureaucracy. Downs Antony. 1999. UGM Yogyakatya.. Not Steering. ………………………. Dari Administrasi Negara ke Administrasi Publik. Denhard. . Donner. Djatmiko. Janet V..………………………. USA. 2004. 1969.. New York. Jakarta. DR. Dwiyanto. Alfabeta. 2008. Dwiyanto. Orlando. New York: Rinehart and Company. 1995. Bina Cipta. "Reorientasi Ilmu Administrasi Publik: dari Government ke Governance‟. ………………………. Nederlands Bestuursrecht Algemeen Deel. J. Bandung.. Mencari Bentuk Otonomi Daerah. N. 2003.. Theories Of Public Organization.

. in Ali Farazmand.. Fesler. Etzioni.. Farazmand A. Routlegde. 2002. PSKK-UGM. 1994. 1949. Ebel. Jakarta. Ewan Ferlie. Yayasan PARIBA. Galang Prastika... 1982 Organisasi-organisasi Modern. Koeswara. Third Edition. Sound Governance: Policy and Administrative Innovations (Westport. James W.al. H Erick. Howard. Reformasi Tata Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Ltd. Pustaka Bradjaguna UI. . Otonomi Daerah : untuk demokrasi dan kemandirian rakyat. General and Industrial Management. 2003. Yogyakarta. et.. 2004) Fayol. H. Oxford. 1916. ………………………. Organization Transformation and Learning A Cybernetic Approach to Management. Raul. Reformasi Birokrasi Publik Indonesia. Robert D.al. ed. London. Alabama. Cetakan Pertama. Yogyakarta. CT: Praeger. et. 1996. Oxford University Press. Jakarta. Sound Governance in the Age of the Age of Globalization.. London: Pitman and Sons. 2001. Canada: John Wiley and Sons Ltd. H. 1971. George. McGraw-Hill London. Espejo.. Area and Administration. University Alabama Press. . . Globalization and Localization: Decentralization Trends and Outcomes. Organization Structuring. ……………………….. Word Bank Institute Course. 2004.. Amitai. New Public Management in Action. the Free Press New York. 1975. 1996. The University Of Alabama Press Alabama . Local Government: Policy and Management in Local Authorities. 1980. Frank...………………………. and Serdar Yilmaz... Fredericson. Intergovernmental Relations & Local Financial Management Word Bank. A Comparative Analysis of Complex Organizations. E. Elcock. New public Administration.

………………………. Cetakan kedua.. ………………………. and K. San Fransisco. Jakarta. Jakarta. dkk. Jakarta. (editor Lyndon Saputra). Struktur. LP3ES... A Guide to Putting The Learning Organization to Work. 1987. Ison-Wesley Publising Company. Jakarta. Jilid 2. at. Proses. .. ………………………. Organisasi : Perilaku. Struktur. 1996. H. International Encyclopedia of The Social Sciences vol 2.al.) 2000. Alih Bahasa Nunuk Adiarni. james W.. Alih bahasa Djakarsih. (Editor: Agus Dharma). LP3ES. New York.. . Public Adminiatration. Proses. USA. Erlangga. Binarupa Aksara. Learning Action. .. Edisi kedelapan. mac. Organisasi: Perilaku.. Erlangga. Alih Bahasa Al-Ghoezei Usman. 1997. Organization Development and Transformation : Managing Effective Change. Struktur. Administrasi Negara Baru. Cetakan kedua. Frech. LP3ES. Erlangga. 1968.. Inc. Sills (ed). Proses. Jakarta. Alih Bahasa Al-Ghoezei Usman.. Alih Bahasa Savitri Soekrisno. ………………………. Organisasi : Perilaku. ………………………. Organisasi : Perilaku. (ed. Organisasi : Perilaku. 2003. 1987. Struktur. Theory Primer. ………………………. Irwin McGrall-Hill Singapore. Penerbit Erlangga. The Spirit Of Public Administration. Garvin.. Jakarta. Jilid I dan 2. 2004. Proses. Edisi Kelima. Alih Bahasa Al-Ghoezei Usman.. 1994 Administrasi Negara Baru. dkk. ………………………. Proses. Jakarta. ………………………. Gibson. Massachusetts. Struktur. Jilid 1. Millian and Free Press. Jilid 2. Fesler. .L. Kumarin Press. . Harvard Business School Press Boston. Smith. Jossey_Bass Publishers. 1985. George. 2000.. Wendel L.. Edisi Kelima. Administrasi Negara Baru. Sentralization and Decentralization dalam D. David A. 1997.. . . Fredricson. Cetakan kedua. . . Jakarta. 1993.

Surabaya. M. Illinois. Politic and Policy Implementation in the Third World. Classic of Public Administration. M. Bowman. A. 1995. dalam Shafritz. LP3ES. Lester. & O‟toole. 2010. Fort Worth etc. Hanif Nurcholis. Jr. Gunung Agung.J.P. Jerry W and Ann Maycunich.). Goodnow. Classic of Public Administration. F. M. L. 2006. Reformasi Adminidtrasi Negara. 2000. (Eds.). "Politics and Administration‟.ac. Djoko. Gilley. PT. J. Pengantar Studi Ilmu Administrasi dan Manajemen. 1937. . "Notes on the Theory of Organization‟. Haliloh.L. The End of Bureaucracy and The Rise of The Intelegent Organization.id/up-content/uploads/2010/07/reformasi-administrasi- negara. ush. 1997.pdf..). J. San Francisco: Barret-Koehler Publishers. Birokrasi dalam era Reformasi. Jakarta.. dalam Grindle. (Ed.: Harcourt Brace College Publishers. Princenton: Princenton University Press Grindle.: Foresman and Company.Gifford & Pinchot. Massachusetts. Goggin. "The Good Government Imperative”. etc.O.S. Elizabeth. 1993. J. Grasindo. Pemekaran Daerah dan Konflik Keuangan: Studi Kasus di Negara kepulauan Tropika. 1997.M & Hyde. Books Cambrigde. Gullick. 2002. A. Getting Good Government: Capacity Building in the Public Sectors of Developing Countries.sunan- ampel. M. Harvard University Press. Program Studi Filsafat politik Islam. Harmantyo. Glenview.C. A. L.. Hariyoso.M.J. Jakarta. 1990. Fakultas Usluhuddin IAIN Sunan Ampel.. Jakarta. 2007. Beyond the Learning Organization : Creating a Culture of Continous Growth and Development Through State- of-the-Art Human Resource Practices. Implementation Theory and Practice Toward a Third Generation. dalam Shafritz. Fort Worth etc. Teori dan Praktik Pemerintahan dan Otonomi Daerah. 1980.: Harcourt Brace College Publishers. (Eds. Grindle.S. & Hyde. 1997. 1900. Handayaningrat S.C.S.

Michael M.) 1992.. Englewood Cliffs. 1992. Jakarta. Inc. and D. ………………………. The Organization Of The Future (Organisasi Masa Depan).. An Experimental Approach to Organizational Development. 1992. dan Ken Blanchard. New York. Bandung. .ac.. .. 1986. Administrasi Negara dan Masalah-masalah Kenegaraan (terjemahan). Paul. Huges. Administrasi Negara dan Masalah-Masalah Publik (terjemahan) Rajawali Press. The State of PublicBureaucracy. Brown. Haselbein. Jakarta. The MacMilan Press Ltd. ……………………….. ………………………. N. . New Jersey: Prentice- Hall International Inc. Perilaku Organisasi. Prantice-Hall Anglewood Cliffs. .id/upload/artikel/03. New Jersey.djoko-harmantyo-pemekaran-daerah. Prentice-Hall.F. 1997. Cetakan ketiga.. New Jersey. Public Adminidtration and Public Affairs.ui. 1995. 1990. Pdf. Harmon. Ricard Beckhard. 1989. Englewood Cliffs. Owen E. Rajawali Press. Henry. Scott. Hill. Manajemen Perilaku Organisasi: Pendayagunaan Sumber daya Manusia. Marshal Goldsmith. 1988. PT. larry B (ed. Henry. London. Foresman and Company. Indrawijaya. Frances. London. Fouth Edition.. Jakarta. Journal.R. Elex Media Komputindo. Prentice-Hall. Harvey. Bandung.. 1975. Sinar Baru. . Nicholas. Sinar baru. A. 1994. ………………………. and Richard T. Erlangga. Public Administration and Public Affairs. alih bahasa Agus Dharma. Organization Theory for Public Administration.. 1989. Public Adminidtration and Public Affairs. ME Shape..l... Hersey. 1986. Perilaku Organisasi. Jakarta. Mayer. D. Public manajemen and Administration.

Jimly Assiddiqie. Jakarta. Islamy. 1995. 2006. Jjuliantara. PT.. 1992. Mencari Bentuk Otonomi Daerah. Upper Saddle River. 1999. Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia. 1991. JR. Rajawali Grafindo Persada.T. Crips Publication. Josef Riwu Kaho. Bumi Aksara. ed. 1997. PT. Romzek... C. 2004. San Franscisco. Rineka Cipta.. Jakarta. UN-HABITA. Rajawali Pers. H. Linking Decentralization to Unrban Development United Nation Human Settlement Programme. Detlef. D. Romzek & Associates. 2002. Kammier. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. Introduction: Issues Raised By Current Reform Effort. Scott. Hide. Sharfrits. New Paradigms For Government: Issues for The Changing Public Service. Organizational Theory: Text and Cases (3RD ed). dan Barbara S. Irfan. Sekretariat Jendral dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Jakarta. dalam Patricia W. Crips Publication. M. Classic of Change. Pembaruan Kabupaten Arah Realisasi Otoda. 2002. 1995.Inggraham. J.. Bureaucracy In The Modern State: An Introduction to Comparative Public Administration. Dadang.. Menlo Park.. CA. Jon Piere. Jeffe. . Jai. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara.D.. Menlo Park.. Jakarta. Patricia W. (Jilid II). Jakarta. dan Albert C.. Jakarta. Ingraham dan Barbara S. Kaho. 1994. Kaloh. CA. Aldershot. Edward Elgar Publishing Co. 2002.. Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia: Identifikasi beberapa Faktor yang mempengaruhi penyelenggaraannya. Jones Gareth R. Pustaka Jaya Mandiri. Getting Your Organisasi to Change. Prentice – Hall Inc. Josseys-Bass Inc Publisher.

G. Kansil.. Administrasi Pembangunan. T.T. 1997. 1933 Staatsinstellingen van Nederlandsch Indie II. Kementrian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. Klicullen. Alih Bahasa Tjun Sujarman. Organisasi dan Manajemen..Kansil C. 1997. Kickert. Jakarta.. 1987. 1993. Bumi Aksara. 1996. Jakarta.. CIDES. Pengukuran Efektifitas dalam Organisasi. & James E Rosenzweig. 1966. Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. J. Jakarta. Pelayanan Kesehatan bagi Penduduk Miskin (Laporan Kajian). United Kingdom. Bina Aksara. 1979. New York: Macquire University. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Bekerja sama dengan PAU Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Indonesia.. Teori dan Isu. Edward Elgar. dan Christine S. Cheltenham. Yogyakarta. Enam Dimensi Staregi Administrasi Publik: Konsep.J. R. Penerbit Bumi Aksara..T. Pembangunan Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. Public Management and Administrative Reform in Western Europe. . Jakarta. Kartasasmita. Kartasasmita.H.. Keban Yeremias. 1990. Bandung. Kast. Fremont E. Otonomi Daerah: Untuk Demokrasi dan kemandirian Rakyat.. 2001. Koesoemahatmadja.. 2008. Ginanjar.... Kasim. RDH. LP3ES. 1993. Jakarta. Jakarta. Yayasan PARIBA. Penerbit Gava Media. Max Weber: On Bureaucracy. Koewara E. Cetakan Kedua.. R.. Kartasapoetra. Sistem Pemerintahan Indonesia. Sistematika Hukum Tata Negara. Ashar. Ph.. Jakarta. Pengantar ke arah system pemerintahan daerah di Indonesia.M. Jakarta. Remaja Rosdakarya. Kleintjes. 6de Herziende en Bijgwerke uitgave. 2004. Ginanjar. 2003. de Bussy. Binacipta Bandung. Khun Tomas. Amsterdam. Walter J.S. Ed.

Pusat Antar Universitas Ilmu-Ilmu Sosial. Yogyakarta. Current Issues in Public Adminidtration. 4 April 1995. 1995.htm Lubis. London. McGraw-Hill Companies. 2008 Akuntabilitas Birokrasi Publik: Sketsa pada masa Transisi. US Blocks Stronger African Voice at World Bank – NGO. .. Organizational Behavior. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.Kumorotomo. Inc. ………………………. Guy Peters dan Frank J. Garw Hill. St. Penerbit Erlangga.F. Martani Husaini. Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah. LAN-RI.. S. Jakarta. Fredrick S. Michael J. Building the Learning Organization: A Systems Approach to Quantum Improvremenet and Global dan Global Success. Mc. Strategi dan Peluang. Prisma. Lobe.. Choices. Jakarta. Chimlenge. Consiquences. 1986. USA. Luthans F. Singapore. Lane.org/socecon/bwi- wto/wbank/2003/ 0626blocks.. Mudrajad. June 26. 1987. 1994. Martin’s New York. Thompson.. 2004.. Inter Press Service. (ed). Universitas Indonesia. The Changing Organization and Management of Local Government. London. International Union of Local Authorities. 1990. Hari. Lembaga Administrasi Negara. 1981. A. Leach. Teori Organisasi (Suatu pendekatan Makro). Jakarta.. 2003 http://www.. et. Wahyudi.al.globalpolicy. Andi. Kuncoro.. Scoot. desentralisasi Fiskal di Indonesia: Dilema Otonomi dan Ketergantungan. Charles H. Changing Patterns of Local Government.. 2008 Manajemen Pemerintah Daerah. Mardiasmo 2002. The Hague. Marquardt. Otonomi dan Pembnagunan Daerah: Reformasi Perencanaan. . Public Administration..B. Steve. Leemans. Foresman and Company... B. Open University Press Ltd. Levine.. J. 1970. 1996.

1995.. Morgan Glenn dan Andrew Stuardy. ST Martin’s Press. Rafika Press . Boston: Allynand Bacon Inc. Images Of Organization. LAN-RI.. 2001 Capacity Building: Konsep dan Teori Pengembangan Organisasi Nirbala. 1982.. The Experience of Tropical Africa. 2002. New Jersey. Jakarta Muhammad Yamin. Mongia.London: Arnold. 1993. Ikchtisar Perkembangan Otonomi Daerah 1903-1958. Mustopadijaja. Yayasan Prapantja. John Wiley and Sons Ptd. Boston. Bumi Aksara. Gareth. P.. Prentica Hall Inc. Muslimin Amrah.. Sterling Publisher Private Limited. Beyond Organizational Change: Structure. 1989. Jakarta. 1987.Mawhood. Improvement of Local Government for Development. Komunikasi Organisasi.. Arni. D. Contemporary Postcolonial Theory.R. Mihd. Morison. London. ‘The World Bank’. 2006 Recent Development In Japanes Local Government. 1960. Local Government in The Third Word. Organization Theory. Henry. Inc. Mintsberg. organisasi dan perilaku organisasi dalam konsep pengembangan organisasi. SAGE Publication. Akbar. Discourse and Power in UK Financial Services. Narayanan and Raghu Nath. Muttalib and Ali Khan. University of KwaZulu-Natal Press. The Structuring of Organization. 1996 Moore. A. Hadji. Jakarta. LP3ES.. New York. Moorhead & Giffin. 2007 Muhammad. Englewood Cliff. 1959. Jakarta.. Naiki. Narayan et. 2002. Jakarta Morgan. Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945. S. Diseminasi Direktur Pusat Kajian Pemerintah Daerah Jepang.. Paradigma-paradigma pembangunan. (jilid Pertama). Djambatan. Theory of Local Government. PT. New Delhi.all. Jakarta. 1986. Irwin. 2000. USA.

dan Felix A. Jakarta. Reading... Nurcholis. Edwar Elgar. 2007. Mewirausahakan Birokrasi. PT. Ndraha. ………………………. Osborne. MA: Addison-Wensley Publishing Company. F. Teori dan Praktik Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Reiventing Government: How the Enterpreneurial Spirit is Transforming the Public Sector. Reprinted.Naschould. Berlin: Walter de Gruiter. Alih Bahasa Abdul Rosyid. Jakarta. Osborne. K.. Jakarta Nigro. Addison- Wensley Publishing Company. David and Peter Plastrik.. New York. 1996. Hanif.. Grasindo.) 1992. 1988 Modern Public Adminidtration 3rd. Talizuduhu. Inc. . New Frontiers in Public Sector Management: Trends and Issues in State and Local Government in Europe.. USA: Addison-Wensley Publishing Company. Inc. ………………………. Nigro. New York. 1997. David and Ted Gaebler. 1996. Inc. Banishing Bureaucracy (The Five Strategies For Reinventing Government). Cetakan Pertama. 1995. Lloy G. Nirwandar.7th Editions. Birokrasi dan Adminidtrasin Pembangunan. Sapta dan Ibrahim Tadju (ed. Renzio. UNDP: NY Samuels. International Hand Book of Local and Regional Government: Comparative analysis of Advanced Demokracies. Bunishing Bureaucracy (The Five Strategies For Reinventing Government). 2008. Good Governance and Poverty Some Reflection Based on UNDP’S Experience in Mozambique.. A. Asdi Mahasatya. Harper and Row/ Collins.. Pustaka Binaman Presindo. . paper in Public Affairs Seminar in LBJ School University of Texas at Austin . Norton. Chetenham.. 2003. 1992. Massachusetts. 1997. Sinar harapan. Kybernology: Ilmu Pemerintahan Baru (Jilid 1). P. Jakarta. Cities and Governance in Mozambique.

: Harcourt Brace College Publishers. Equity and Development. 1918. 2005). Wilson R. White Mask. Who’s Afraid of Postcoloniality?.. (Eds. pp. 17 . World Development Report: 2006 (Oxford University Press. 4. H. R. New York: Routledge. 35 No. dalam Shafritz.alternatives. eds.ca/ article1144. & Hyde.C. and Agnew J. Fort Worth etc. G.M. Good Governance against Good Government?.. 2001). World Bank.. 1997. G. R. 35-97 Prakash.). Overview. No. Duke University Press . 1986.html IMF Survey Vol.M. Sound Governance in the Age of the Age of Globalization. and Capps G.). World Development: An Introduction(London: Pluto Press. Winter 1996.. E. Panayiotopoulos P. 1997. April/June. 14.1988 Fanon.. 4th edition (London: Arnold. Revista de Administracao de Empresas. Black Skin..in Ali Farazmand. Vol. Classic of Public Administration. no. Understanding Local Governance: An International Perspective. J. & Hyde. Herrera. Classic of Public Administration. Tuesday 2 March 2004 http://www. Unthinking Eurocentrism: Multiculturalism and Media. 1-17. (Eds.. dalam Shafritz. pp. W. F. ed. 1887. 2000. C. 2004) Farazmand. Wilson. "The Study of Administration‟.. Vol 40. 2. Can the Subaltern Speak?.Shohat.. J.in Cary Nelson and Lawrence Grossberg’s Marxism and the Interpretation of Culture.Pluto Press. 2003). Fort Worth etc. The state Bureaucracy and Revolution in Modern Iran: Agrarian Reform and Regima Politics. Social Text 49. New York: Praeger Knox P. London Farazmand A. The Geography of the World Economy..11 September 2006 Spivak’s.. Sound Governance: Policy and Administrative Innovations (Westport. pp. Chapters 1 and 2. A.. "The Movement for Budgetary Reform in the States‟. Stam. 1994 Willougby.C. 51-63. W. 1989. CT: Praeger. A.: Harcourt Brace College Publishers.

The Idea of Global Civil Society. 1991. Durkheim Dan Weber. R. Budiman. Los Angeles. Anthony..Jessop. David Horowitz and the Attack on Independent Thought. The Structure of Peripheral Capitalism. February 28. Published on Tuesday. 1979. 1999. 2006 by CommonDreams. 2001) McChesney. Teori Pembangunan Negara Keitga.. F. 2003. Gramedia: Jakarta Giddens.Language and Power. 2006-09-13 Fairclough. A. 1986. Mansour... Tetzlaff. Yogyakarta Yani. Dependency and Development in Latin America. W. A discussion paper for the panel: “Survey of Civic Education and Human Rights Curricular Materials Disseminated by major International Organizations” In Denver/Colorado September. M. H. rule of law and human rights – successes and limits.. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.Insist Pers. Arief. Prilaku Politik Orang Bugis Dalam Dinamika Politik Lokal.org Kaldor. Good Governance and the Urban Question: On Managing the Contradictions of Neo-Liberalism. 583-593. International Organizations (World Bank. 1991. Kapitalisme Dalam Teori Sosial Modern: Suatu Analisis Terhadap Karya Tulis Marx. Jakarta Sugiono. EU) as catalyst of democratic values. Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga. Sage Publication Ltd: London Cardoso.Ui Press. B. UCLA Press. Berkeley. Comment on Urban21 Published in German in MieterEcho June (2000) (placed on www:12th May. IMF. Tulisan Pengantar Diskusi dalam Acara Peluncuran Buku “Manusia Bugis” yang Ditulis Oleh Christian Pelras .International Affairs 79. pp. N.. Fakih. London: Longman Alavi.3 (2003). M.. 1989.Bebas Dari Neoliberalisme. A. Hamza. R.

Duke University. 1999. http://www.Html Daniel. The Preamble To The U. Gramedia. Edward Osborne. P. Public Administration—Developing Countries. Social Theory Of International Politics. S. Jurnal Transparansi.The Five Functions Of Government McDowell.id/ majalah/edisi6/6kolom_2. M. Bumi Aksara. 2001. Comparative Government. World Bank Hybridization. 16 Juni 2007 Giddens. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara. Greenwood Press. Jalan Ketiga. All Based On Biblical Principles Http://Forerunner. 14 November 1999 . The History Of Iran. Upaya Reformasi Undang-Undang Tentang Otonomi Daerah: Telaah Tentang PrinsipPrinsip yang Termuat Dalam RUU Tentang Pemerintahan Daerah. Universitas Sunan Giri dan Pustaka Pelajar ______. 1997.Com/ Mandate/X0043_Five_Functions_Of_Go. 2000 Sjahrir: Good Governance Di Indonesia Masih Utopia:Tinjauan Kritis Good Governance.or. Devolusi: Rekonsiliasi Ketegangan Politik Negara-Rakyat. Jakarta Wilson. 1999. Jakarta.S. E.Textbook Reviews. K. Cambridge: Cambridge University Press. Riggs.PB PMII Kopri dan Pustaka Pelajar ______. Anthony. Kebijakan Tidak Untuk Publik. 1999. 2008. Elton. Alexander. Constitution Lists The Five Functions Of Government. Irfan.1 Koswara.transparansi. The Diversity Of Life (Questions Of Science). Paradigma Kritis dalam Kebijakan Publik..Working paper presented at Postcolonial Theory and Criticism class University of Texas at Austin Wendt. Durham.Html Surya Online. 2005. Developing Countries—Politics And Government. Ny Fred W.Resist Book. 2001 Islamy. Yogyakarta ______.. No. Nc Putra.

. International Politics: Enduring Concepts and Contemporary Issues.. Pp. No.. University of Cambridge Working Paper No. 4 (1996). 1975). in Robert J. Fascism. Longman. M. - Aug..Hoffmann. N.). P. (CA: Stanford University Press. Vol. Ltd. Oxford University Press Ilgen. 35. 5th Edition. Vol. No.ESRC Centre for Business Research. 1991. Labour Standards And The “Race To The Bottom”: Rethinking Globalisation And Workers Rights From Developmental And Solidaristic Perspectives. 2004. 2000. Ajit. Art and Robert Jervis.. pp. Ashgate Publishing. S. The Uses and Limits of International Law. Liberalism. L. eds.. 378-386 Published By: Blackwell Publishing On Behalf Of The American Society For Public Administration Alagappa. 4 (Jul. 2006.. 279 Hirst. New York. (ed. Globalization in Question. Hard Power. T. The International Economy and the Possibilities of Governance Transactions of the Institute of British Geographers. Civil Society and Political Change in Asia: Expanding and Contracting Democratic Space. Henry. Luebert. pp. Soft Power And The Future Of Transatlantic Relations. Paradigms Of Public Administration Public Administration Review. 21. Or Social Democracy. 716-718 Published by: Blackwell Publishing on behalf of The Royal Geographical Society (with the Institute of British Geographers) . 2004). 25-40 Singh. G.. New Series. M.