You are on page 1of 6

1

TUGAS FARMASI SOSIAL UNTUK SELASA, 6 MARET 2018

1. Cari literature/kepustakaan mengenai farmasi sosial dan tuliskan


mengenai definisi/konsep/pemahaman mengenai farmasi sosial.
- Harus jelas nama kepustakaannya: buku atau jurnal,
penulis, tahun terbit/penulisan
- Bila dalam bhs Inggris tulis dlm bhs Inggris dan
terjemahannya dalam bhs Indonesia. Bisa diberikan contoh-
contoh untuk pengembangannya.
- Ditulis dgn Microsoft word, huruf arial 12 dengan minimal
200 kata danmaksimal 500 kata. Jangan ada singkatan2

2. Salah satu tantangan dalam pelayanan adalah apoteker dan dokter


sebagai sesama tenaga kesehatan harus bekerja sama dengan
baik dalam memberikan pelayanan kesehatan. Bagaimana tahapan
membina hubungan kerjasama Apoteker dengan Dokter?
- Ditulis dgn Microsoft word, huruf arial 12 dengan minimal
200 kata dan maksimal 500 kata. Jangan ada singkatan2

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Farmasi Sosial
Farmasi sosial, adalah suatu disiplin ilmu (field of study)
kefarmasian yang berkembang dengan dukungan disiplin ilmu lain
yang terkait untuk menguji, meneliti, memahami dan mengatasi
persoalan-persoalan yang senantiasa timbul dalam pengabdian profesi
farmasi (Riswaka, 2005).
Social pharmacy defined as the endeavor to integrate drugs into
a broader perspective and to include legal, ethical, economic, political,
social, communicative, and psychological aspects into their evaluation
in order to contribute to the safe and rational use of drugs (Kostriba et
al, 2014). Farmasi sosial didefinisikan sebagai suatu usaha untuk
mengintegrasi obat ke dalam perspektif yang lebih luas serta
memasukkan aspek legal, etis, ekonomi, political, sosial, komunikatif,
2

dan psikologikal ke dalam evaluasi obat-obatan bertujuan untuk


membantu penggunaan obat yang aman dan rasional.
Perkembangan farmasi sosial dipicu oleh adanya perubahan
konsep pola penyakit dan penatalaksanaannya ke pola hidup sehat
dan promosi kesehatan. Perubahan konsep tersebut berakibat pada
konteks kefarmasian, yaitu bergeser dari dispensing and compounding
menuju ke bentuk hubungan client-counsellor yang berarti farmasis
berfungsi sebagai konsultan obat (drug advicer) (Riswaka, 2005).
Within social pharmacy, the drug/medicine sector is studied
from the social, scientific and humanistic perspectives. Topics relevant
to social pharmacy consist of all the social factors that influence
medicine use, such as medicine and health-related beliefs, attitudes,
rules, relationships and processes, for example what is the influence of
a newly developed product on health and helath economics? Or how
do laws influence development and approval of new drug products ? .
The other general area of social pharmacy addresses user (or patient
or customer) perceptions and use of drugs/medicines for example, why
is the patient taking (or not taking) a medicine as it was prescribed ? or
what kind of drug information has the best effect on patient
understanding and when should it be provided ? etc.
Dalam farmasi sosial, sektor obat/area obat-obatan dipelajari
dari perspektif sosial, sains dan humanistic. Topik yang dibahas
berkaitan dengan seluruh faktor sosial yang mempengaruhi
penggunaan obat, seperti kepercayaan mengenai pengobatan dan
kesehatan, attitude, peraturan, hubungan dan proses diantaranya,
sebagai contoh, membahas mengenai pengaruh pengembangan suatu
produk baru terhadap kesehatan dan ekonomi kesehatan atau
bagaimana hukum dapat mempengaruhi pengembangan dan
persetujuan produk obat baru. Area lain dari farmasi sosial
mempelajari persepsi dari pengguna (atau pasien atau pelanggan) dan
3

penggunaan obat-obatan, contohnya, kenapa pasien mengonsumsi


(atau malah tidak konsumsi) obat sesuai yang diresepkan atau
informasi mengenai obat seperti apa yang memiliki efek paling baik
terhadap pasien dan kapan seharusnya informasi tersebut diberikan
dll.
The knowledge gained from social pharmacy will help in the
development of personal and interpersonal skills related to effective
counseling and communication in enhancing the medication use
process in the society. It also can enhance pharmacy professionalism
and leadership qualities. Pengetahuan yang didapat dari farmasi sosial
akan membantu dalam pengembangan skil personal dan interpersonal
yang berkaitan dengan konseling dan komunikasi yang efektif dalam
meningkatkan penggunaan obat dalam masyarakat serta
meningkatkan profesionalitas dan kepemimpinan (Hassali et al, 2011).

Gambar 1. Integrasi farmasi sosial dengan bidang keilmuan farmasi lainnya


(Hassali et al, 2011)

1. Tahapan membina hubungan kerjasama Apoteker dengan Dokter.


Peran antara dokter dan apoteker bersifat saling melengkapi.
Banyak studi telah mengungkapkan bahwa adanya hubungan
kerjasama yang kooperatif antara dokter dengan apoteker membawa
pengaruh yang positif terhadap outcome pasien. Pengaruh positif
tersebut antara lain adalah adanya informasi pemakaian obat yang
komplit dan akurat, adanya informasi mengenai peresepan
4

menggunakan evidence-based, meningkatkan deteksi kesalahan


peresepan oleh dokter dan juga meningkatkan keamanan pemakaian
obat oleh pasien dengan adanya peran farmasis dalam monitoring
kadar obat pasien yang diresepkan oleh dokter.
Keuntungan yang didapat akan menjadi lebih baik dan
meningkat kembali apabila tahapan hubungan antara apoteker dan
dokter ditingkatkan menjadi hubungan yang lebih dekat secara
interprofesional, hubungan pada tahap ini akan memberikan masing-
masing profesi pengetahuan, skil dan kepuasan yang lebih. Begitu
pula pasien akan merasakan keuntungan yang sangat baik, dimulai
dari hal yang simple saja, yaitu pasien mendapatkan pengobatan yang
benar, dengan dosis yang benar dan dapat meningkatkan kualitas
hidup dari pasien.
Menurut Nijjer et al (2008), untuk menghasilkan outcome pasien
seperti yang telah disebutkan diatas, maka dokter dan apoteker harus
memiliki komunikasi yang baik, harus ada pertukaran informasi yang
terjadi. Tahapan awal dari kerjasama tersebut adalah adanya self-
introduction antar masing-masing profesi, setelah itu diikuti dengan
saling berbagi informasi yang detail mengenai intervensi yang telah
direncanakan masing-masing profesi terhadap pasien dan selanjutnya
adanya diskusi sehingga akan dapat dilihat point of view masing-
masing profesi dan nantinya akan didapatkan kesepakatan bersama
jenis atau pengobatan macam apa yang akan diberikan terhadap
pasien. Awalnya mungkin diskusi dapat dilakukan melalui catatan
medis pasien atau resep yang ditulis dokter, namun seiring dengan
semakin baiknya hubungan antar profesi maka diskusi dapat
dilaksanakan baik melalui telepon maupun diskusi langsung.
Penelitian model hubungan kolaborasi antara dokter dan
apoteker seperti yang diusulkan oleh McDonough dan Doucette
menyatakan bahwa apoteker berperan sebagai langkah awal untuk
5

menetapkan kolaborasi dalam membangun hubungan kerja yang kuat


dengan dokter. Perlu dilakukan langkah pendekatan untuk
pengembangan kolaborasi hubungan kerja antara dokter dan apoteker
(Abdulkadir, 2017).

Gambar 2. Langkah/Tahapan Model Hubungan Kolaboratif Dokter-Apoteker


(Abdulkadir, 2017).

Selama ini hubungan antara kedua profesi tersebut mungkin


masih berada pada tahap 0, artinya dokter dan apoteker hanya saling
mengenal dan saling mengetahui keberadaannya, serta hubungan masih
hanya sebatas ketika apoteker menerima resep dari dokter, kemudian diracik
obat sesuai dengan resep lalu menyerahkannya kepada pasien, namun
dengan adanya pembinaan hubungan yang lebih baik antara profesi, maka
dapat dilakukan kolaborasi bersama terutama apabila kolaborasi ini dilakukan
pada suatu rumah sakit dalam bentuk visite bersama, rapat bulanan
bersama, dll.
6

DAFTAR PUSTAKA
Abdulkadir, Windy S. 2017. Model Kolaborasi Dokter, Apoteker dan Direktur
terhadap Peningkatan Efektivitas Teamwork di Rumah Sakit. Jurnal
Farmasi Klinik Indonesia. Vol. 6(3): 210-219

Hassali et al. 2011. Social Pharmacy as a Field of Study : The Needs and
Challenges in Global Pharmacy Education. Research in Social and
Administrative Pharmacy. Vol. 7 : 415-420

Kostriba, Jan M.S. Abdullah, A. Jiri, V. 2014. Social Pharmacy as a Field of


Study in Undergraduate Pharmacy Education. Indian Journal of
Pharmaceutical Education and Research. Vol. 48(1) : 6-12

Nijjer, S. Jasdeep, G. Sukhjinder, N. 2008. Effective Collaboration between


Doctors and Pharmacists. Hospital Pharmacists. Vol. 15 : May 2008.

Riswaka, S. 2001. Farmasi, Farmasis, dan Farmasi Sosial. Majalah Farmasi


Indonesia. 12(3): 128-134