You are on page 1of 7

Identifikasi Jejak Satwa

Idenification of Animal Traces


Ariannisa Ramadhanti
ariannisaramadhanti.bio15@fkip.unsyiah.ac.id
Abstrak
Praktikum Mata Kuliah Ekologi Hewan yang berjudul “Identifikasi Jejak Satwa”
dilaksanakan pada hari Jum’at-Minggu tanggal 4-6 Mei 2018. Praktikum memiliki tujuan yaitu
untuk dapat mengidentifikasi keberadaan satwa berdasarkan jejak yang ditinggalkan (jejak kaki,
cakaran di pohon, sisa makanan, dan suara). Metode yang digunakan dalam praktikum yaitu
metode jelajah. Pengamatan dilakukan dengan cara setiap jejak baik itu bekas kaki, kotoran, sisa
makanan ataupun bagian tubuh dicatat ukurannya, diamati, difoto. Kemudian, dengan
menggunakan GPS garmin, dilakukan pencatatan untuk lokasi jejak satwa tersebut. Hasil dalam
praktikum yaitu terdapat beberapa jejak satwa dimulai dari sumber makanan, jejak kaki, kotorran,
tumbuhan, dan bekas makanan. Posisi pada GPS garmin menunjukkan bahwa posisi jejak tersebut
terletak pada ketinggian anara 39-50 meter.
Kata Kunci: Jejak satwa, kotoran, bekas
Abstract
Animal Veterinary Practicum Course entitled "Identification of Animal Traces" was held
on Friday-4-6 May 2018. Practicum has a purpose of being able to identify the presence of animals
based on abandoned footprints (footprints, tree scratches, , and sound). The method used in the
practicum is the roaming method. Observations are made by way of any traces of foot, dirt, food
scraps or body parts recorded in size, observed, photographed. Then, using the garmin GPS,
records are made for the location of the animal trail. Results in the lab that is there are some
traces of animals starting from food sources, footprints, granaries, plants, and food. The position
on the garmin GPS indicates that the position of the trace lies at animate height of 39-50 meters.
Keywords: Traces of animals, dirt, traces
Pendahuluan deteksi dalam pengamatan satwa tidaklah
Data keberadaan mamalia yang selalu 100%. Memperkirakan besarnya
dikumpulkan meliputi perjumpaan langsung, peluang deteksi suatu jenis satwa dalam
tanda keberadaan (jejak kaki, pagutan pada sebuah survei menjadi sangat penting (Salim,
de-daunan), suara yang terdengar, dan sisa 2010:220).
bagian tubuh/kotoran satwa. Metode ini Sementara itu, di Philadelphia, para
efektif untuk mamalia diurnal dan nokturnal pecinta alam mulai merakit tulang-tulang
serta sangat membantu untuk mengetahui seekor makhluk mirip gajah raksasa, yang
keberadaan satwa mamalia besar, primata dan belakangan diidentifikasi, meskipun tidak
karnivora (Sulystiadi, 2016:144). tepat benar, sebagai mamut. Yang pertama-
inventarisasi N. diardi menggunakan tama dari tulang ini ditemukan di Big Bone
metode jalur (track-set) pada 12 jalur Lick di Kentucky, namun tidak lama
pengamatan, jebakan kamera (camera trap) kemudian tulang-tulang seperti itu ditemukan
sebanyak 9 unit, dan beberapa cara hampir di semua negara bagian (Bryson,
pengenalan satwa melalui tanda jejak kaki 2008:79-80).
(footprints), kotoran (feces), kuku (claw) dan Metode/Cara Kerja
cakaran di pohon (scratch), cakaran di tanah Waktu dan Tempat
(scrape), serta vokalisasi yang berada di Praktikum dilaksanakan pada hari
dalam 2 grid dengan ukuran masing-masing 6 Jum’at-Minggu tanggal 4-6 Mei 2018 di hutan
x 6 km2. Kondisi sebaran N. diardi yang kawasan CRU (Conservation Response Unit),
dominan di kelas sangat jauh menunjukkan Gampong Ie Jeurengeh, Kecamatan
salah satu sifat elusive spesies tersebut Sampoiniet, Aceh Jaya.
sehingga cenderung menghindari manusia.
Hal ini juga terjadi selama penelitian, yaitu Target/Subjek/Populasi/Sampel
ketika spesies tersebut tidak kembali di tempat Target dalam praktikum yaitu agar
penemuan jejak (footprints) yang hanya dapat mengamati, mengidentifikasi, serta
berselang satu hari (Kuncahyo, 2016:253 & mengetahui lokasi keberadaan satwa
255). berdasarkan jejak (nisbi) yang didapat. Alat
Keberadaan Monyet (Macaca mulatta) yang digunakan dalam praktikum yaitu akat
atau Siamang (Symphalangus syndactylus) tulis, alat ukur berupa penggaris, serta alat
terkait dengan ketersediaan pakan, Monyet pengukur titik koordinasi, yaitu GPS.
dan Siamang sangat menyukai pucuk daun
karet yang masih muda dan tidak jarang Prosedur
mengganggu petani karet dengan mengobrak- Pengamatan dilakukan dengan metode
abrik sepeda motor dan mengambil bekal jelajah. Ditelusuri hutan mulai dari ketinggian
petani, baik itu nasi ataupun makan kecil. yang sedang tingga ke bagian yang lebih
Keberadaan fauna atau hewan di perkebunan tinggi. Apabila ditemukan jejak berupa jejak
karet dapat membentuk rantai makanan kaki, kotoran, dilakukan pengukuran dengan
(Kusnadi, 2015:41). menggunakan penggaris dan dilakukan pula
Satwa yang tidak mengeluarkan suara pengambilan data koordinasi dengan
pada saat pengamatan tersebut tidak menggunakan GPS Garmin. Jejak tersebut
terdeteksi. Demikian pula, bagi satwa yang kemudian difoto dan dibuat laporan hasil
keberadaannya bisa dicatat berdasarkan pengamatan.
pengamatan langsung, bisa jadi
keberadaannya terhalang oleh rimbunnya
vegetasi hutan. Dengan kata lain, peluang
Data, Instrumen, dan Teknik Pengumpulan Pengamatan dilakukan dengan cara
Data menelusuri kawasan hutan. Setiap jejak satwa
Pengumpulan data dilakukan dengan yang berhasil ditemukan, diambil foto dan
cara mengamati jejak satwa, kemudian diukur kemudian diidentifikasi jenis jejak tersebut.
dengan menggunakan penggaris, dilakukan Kemudian, dinyalakan GPS garmin dan
pengambilan data lokasi koordinasi. dilakukan pencatatan letak titik koordinasi
jejak tersebut. Kemudian, ditentukan dugaan
Teknik Analisis Data spesies yang didapat. Terdapat 4 jenis jejak
Analisis data dilakukan secara satwa yang didapat antara lain pohon, bekas
kuantitatif yaitu memasukkan data berupa makanan, kotoran dan jejak kaki. Letak
ukuran serta titik koordinasi dari GPS koordinasi tiap jejak tersebut berbeda-beda.
tersebut. Kemudian, dibandingkan letak antara Terdapat 2 jejak yang memiliki letak
jejak yang satu dengan jejak lainnya. koordinasi yang sama. Keberadaan jejak
tersebut dapat membuktikan bahwa hewan
Hasil dan Pembahasan
Lokasi tempat praktikum merupakan tersebut ditemukan di sekitar wilayah tersebut.
pusat konservasi mamalia besar (gajah Seperti yang diketahui, terdapat
banyak jejak satwa yang didominasi oleh
sumatera) sekaligus lokasi wisata. Banyak
kotoran sapi (Bos taurus) dan gajah sumatera
satwa yang ditemukan pada lokasi tersebut.
Namun, spesies yang banyak ditemukan (Elephans maximus sumaterensis). Hal ini
adalah sapi (Bos taurus). Dikarenakan lokasi dapat membuktikan bahwa kawasan tersebut
tersebut merupakan tempat wisata, tak mudah memiliki banyak populasi sapi dan gajah.
Namun, hal tersebut bukan berarti bahwa
bagi seseorang untuk menemukan satwa yang
terdapat dalam hutan tersebut. Hal ini sesuai tidak terdapat spesies lain dalam wilayah
dengan pernyataan Prasetyo (2018:46) yang tersebut. Seperti contoh, terdapat spesies Rusa
menyatakan bahwa kehidupan satwa liar (Axis axis) yang dapat dibuktikan dengan
menjadi daya tarik wisata yang luar biasa. adanya jejak kaki pada titik koordinasi N: 4O
55’ 33,6’’, E:95O 29’ 15,6” di hutan dengan
Wisatawan terpesona dengan pola hidup
hewan, namun, kegiatan wisata mengganggu jarak ketinggian 47 meter. Namun,
kehidupan satwa-satwa tersebut. Jumlah dikarenakan jejak kaki tersebut tidak banyak
hewan berkurang, akibatnya ketika wisatawan ditemukan, maka tidak dapat dipastikan letak
populasi rusa tersebut.
mengunjungi daerah wisata, ia tidak lagi
mudah menemukan satwa-satwa tersebut. Jejak lain seperti bekas babi, kotoran
Berdasarkan hal tersebut, maka dapat musang, serta bekas makanan monyet
dilakukan identifikasi jejak satwa. Identifikasi ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit.
jejak satwa dilakukan dengan cara mengamati Apabila jejak yang ditemukan banyak, makin
jejak yang ditinggalkan satwa tersebut. Jenis makin mudah bagi kita untuk menemukan
yang ditinggalkan antara lain bekas makanan, hewan tersebut. Namun, apabila hewan
jejak kaki, kotoran, gesekan badan, sarang, tersebut merasa terancam, maka hewan
tersebut tidak mudah ditemukan dan semakin
maupun cakaran. Hal ini sesuai dengan buku
yang ditulis oleh (2012:213) yang menyatakan sulit untuk menemukan hewan tersebut.
bahwa Selama ini banyak peneliti ekologi Lokasi ditemukan hewan tersebut terdapat di
satwa yang semata-mata mengandalkan jejak kawasan hutan jengan jarak ketinggian antara
(baik kaki, cakaran, kotoran ataupun sisa-sisa 39-50 meter. Berikut merupakan hasil
makanan) yang ditinggalkan satwa. pengamatan identifikasi jejak satwa dengan
jarak ketinggian 39-50 meter.
Tabel 1. Hasil Pengamatan
Gambar/Deskripsi: Keterangan:
Ukuran: 15,5 cm × 22,4 cm × 5,4 cm
Posisi GPS: -
Lokasi: Hutan dengan jarak
Ketinggian 36 meter
Dugaan Spesies: Gajah Sumatera
(Elephans maximus sumaterensis)
Jenis: Kotoran

Disetujui Asisten Lab

Taryanto, S.Pd
Gambar/Deskripsi: Keterangan:
Ukuran: 10,6 cm × 11 cm × 5 cm
Posisi GPS: -
Lokasi: Hutan dengan jarak
ketinggian 36 meter
Dugaan Spesies: Sapi (Bos taurus)
Jenis: Kotoran

Disetujui Asisten Lab

Taryanto, S.Pd
Gambar/Deskripsi: Keterangan:
Ukuran: 10,6 cm × 11 cm × 5 cm
Posisi GPS: N: 04O 55’ 30,9’’
E: 95O 29’ 15,6’’
Lokasi: Hutan dengan jarak
ketinggian 44 meter
Dugaan Spesies: Gajah Sumatera
(Elephans maximus sumaterensis)
Jenis: Pohon (Sumber nutrisi
“mineral”)

Disetujui Asisten Lab

Taryanto, S.Pd
Gambar/Deskripsi: Keterangan:
Ukuran: 30 cm × 28,2 cm × 3 cm
Posisi GPS: N: 04O 55’ 32’’
E: 55O 55’ 33,3’’
Lokasi: Hutan dengan jarak
ketinggian 46 m
Dugaan Spesies: Gajah Sumatera
(Elephans maximus sumaterensis)
Jenis: Kotoran

Disetujui Asisten Lab

Taryanto, S.Pd
Gambar/Deskripsi: Keterangan:
Ukuran: 8 cm × 3,2 cm × 0,7 cm
Posisi GPS: N: 04O 55’ 32’’
E: 55O 55’ 33,3’’
Lokasi: Hutan dengan jarak
ketinggian 46 m
Dugaan Spesies: Musang (Familia:
Viverridae)
Jenis: Kotoran

Disetujui Asisten Lab

Taryanto, S.Pd
Gambar/Deskripsi: Keterangan:
Ukuran: -
Posisi GPS: N: 04O 55’ 37,3’’
E: 55O 29’ 15,3’’
Lokasi: Hutan dengan jarak
ketinggian 46 m
Dugaan Spesies: Babi hutan (Sus
scrofa)
Jenis: Bekas

Disetujui Asisten Lab

Taryanto, S.Pd
Gambar/Deskripsi: Keterangan:
Ukuran: 11 cm × 4,6 cm × 0,3 cm
Posisi GPS: N: 04O 55’ 33,6’’
E: 55O 29’ 15,6’’
Lokasi: Hutan dengan jarak
ketinggian 47 m
Dugaan Spesies: Rusa (Axis axis)
Jenis: Jejak kaki

Disetujui Asisten Lab

Taryanto, S.Pd
Gambar/Deskripsi: Keterangan:
Ukuran: -
Posisi GPS: N: 04O 55’ 33,4’’
E: 55O 29’ 15,6’’
Lokasi: Hutan dengan jarak
ketinggian 46 m
Dugaan Spesies: -
Jenis: Pohon (Ciri hutan tropis
“Liana”)

Disetujui Asisten Lab

Taryanto, S.Pd
Gambar/Deskripsi: Keterangan:
Ukuran: 9,9 cm × 5 cm × 3,3 cm
Gambar tidak dapat diambil. Namun, jejak Posisi GPS: N: 04O 55’ 33,1’’
tersebut merupakan bekas makan monyet E: 55O 29’ 16,6’’
(kulit durian) Lokasi: Hutan dengan jarak
ketinggian 39 m
Dugaan Spesies: Monyet (Ordo:
primata)
Jenis:Bekas

Disetujui Asisten Lab

Taryanto, S.Pd
Simpulan dan Saran spesifik lagi untuk jejak spesies dan
Berdasarkan hasil pengamatan dan penggunaan GPS perlu dilatih lebih
pembahasan, dapat diambil kesimpulan bahwa mendalam dan asisten lab perlu membina
jejak merupakan salah satu cara untuk lebih baik lagi.
menemukan satwa tersebut. Identifikasi jejak Daftar Pustaka
satwa dilakukan apabila hewan tersebut sulit Bryson, B. 2008. Misteri-Misteri tentang
ditemukan. Jejak satwa dapat dijadikan Ruang dan Waktu. Jakarta: Anggota
sebagai bukti bahwa hewan tersebut pernah IKAPI.
berada di kawasan tersebut Penggunaan GPS
Kuncahyo, B. A. dkk. 2016. Identifikasi
ditujukan agar dapat mengetahui letak Faktor Sebaran Macan Dahan
koordinasi dari jejak satwa tersebut. Jejak (Neofelis diardi Cuvier, 1823) Di
satwa yang lebih banyak ditemukan yaitu Ekosistem Rawa Gambut, Taman
dalam bentuk feses (kotoran). Jejak satwa Nasional Sebangau. Media
pada tiap spesies memiliki ciri yang berbeda Konservasi. Vol 21(2): 252-260.
meskipun dalam jenis yang sama. Spesies
Kusnadi, D. dkk. 2015. Strategi Pengelolaan
yang memiliki banyak meninggalkan jejak
Perkebunan Berbasis Kestabilan
didominasi oleh gajah sumatera dan sapi. Ekosistem di Kecamatan Nibung,
Semakin banyak jejak yang ditinggalkan, Kabupaten Musi Rawas Utara,
semakin besar peluang bahwa terdapat banyak Sumatera Selatan. Ekosains. Vol 7(3):
populasi hewan tersebut. Lokasi ditemukan 39-45.
hewan tersebut terdapat di kawasan hutan
jengan jarak ketinggian antara 39-50 meter. Salim, E. 2010. Biologi Konservasi. Jakarta:
Yayasan Obor Indoesia.
Semakin sedikit jejak yang ditinggalkan,
maka kecil peluang untuk mendapatkan 1 Sulystiadi, E. 2016. Karakteristik Komunitas
individu hewan tersebut. Mamalia Besar di Taman Nasional
Saran dalam praktikum yaitu agar Bali Barat (TNBB). Zoo Indonesia.
dapat melakukan praktikum yang lebih baik Vol 25(2): 142-159.
lagi dan diperlukan pengukuran yang lebih