You are on page 1of 16

MAKALAH

TB PARU

DISUSUN OLEH
KELOMPOK IV EKSTENSI
ALVIN EDAH
ELSIH PERABU
FEBRIANA KOLI
MARLENG RATISSA
SERLISKHA MISILAN

UNIVERSITAS DE LA SALLE MANADO


FAKULTAS KEPERAWATAN

1
KATA PENGANTAR

Syukur kepada Tuhan atas berkat dan bimbingannya sehingga makalah ini
dapat kelompok selesaikan dengan segala baik. Makalah ini berjudul tentang
patologi klinik tb paru . Semoga makalah ini dapat berguna bagi teman-teman
mahasiswa dan dosen pengajar untuk bisa digunakan menjadi bahan ajar dan bisa
dipelajari oleh mahasiswa. Makalah ini masih belum sempurnah, tapi kelompok
mengharapkan koreksi dan saran dari dosen pengajar dan seluruh teman teman
mahasiswa, agar makalah ini bisa bermanfaat.

Kelompok IV

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... 2

DAFTAR ISI .................................................................................................... 3

BAB I : PENDAHULUAN

a. Latar Belakang ................................................................................... 4

b. Rumusan Masalah .............................................................................. 5

c. Tujuan Penulisan ................................................................................ 5

d. Manfaat Penulisan .............................................................................. 5

BAB III : PEMBAHASAN .............................................................................. 6

BAB IV : PENUTUP

a. Kesimpulan .......................................................................................... 15

b. Saran ..................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….16

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sehat adalah keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak
hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. World health organization (WHO).
Keperawatan adalah suatu bentuk profesional yang merupakan bagian integral
dari pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk
pelayanan Bio-Psiko-Sosio-Spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada
individu keluarga, kelompok dan masyarakat baik sehat maupun sakit yang
mencakup seluruh proses kehidupan manusia. Oleh karena itu setiap upaya
kesehatan harus mampu membangkitkan dan mendorong peran serta masyarakat,
maka perlu adanya peningkatan dan pemerataan upaya kesehatan mencakup
semua kegiatan yaitu upaya kegiatan Promotif (promosi), upaya preventif
(pencegahan), upaya kuratif (penyembuhan), upaya rehabilitatif (pemulihan),
karena perawat adalah orang yang sering melakukan kontak langsung dengan
pasien baik di Puskesmas, klinik serta di Rumah Sakit yang bersifat menyeluruh,
terpadu, berkesinambungan, sistematis dan objektif.
Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis yang sering menyerang paru dan dapat menyebar ke
organ-organ lain. Indonesia adalah negara dengan prevalensi TBC ke-3 di dunia
setelah China dan India, dan TBC sendiri termasuk dalam tiga besar penyebab
kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional TBC paru diperkirakan
0,24%. Penyakit TBC sering menyerang orang dengan gangguan/defisiensi imun,
gizi buruk, debilitas, serta bertempat tinggal di lingkungan yang padat dan tidak
sehat. Angka kejadian tb paru di masyarakat sangatlah banyak dikarenakan kurang
pengetahuan masyarakat atau masyarakat masih belum peduli dengan
kesehatannya.

4
B. Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah diatas, kami kelompok merumuskan
masalah sebagai berikut :
1. Apa yang di maksud dengan tb paru serta proses perjalanan penyakitnya
2. Bagaimanaka patologi anatomi pada penyakit tb paru
3. Bagaimana pemeriksaan pada tb paru.

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan tb paru dan proses
perjalanan penyakitnya
2. Untuk mengetahui patologi anatomi tb paru
3. Mengetahui pemeriksaan dalam mendiagnosis tb paru

D. Manfaat Penulisan
1. Secara Teoritis
Memberikan pemahaman tentang proses perjalanan penyakit tb paru
serta pemeriksaan dalam mendiagnosis tb paru

2. Secara Praktis
Adapun proses perjalanan penyakit tb paru dapat dimengerti mahasiswa
dan diterima dosen pengajar

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian

TB Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB


(Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman menyerang Paru, tetapi
dapat juga mengenai organ tubuh lain . Kuman TB berbentuk batang mempunyai
sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pewarnaan yang disebut pula Basil Tahan
Asam (BTA).

B. Anatomi Fisiologi
Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru meliputi 2 bagian
yaitu :

1. Saluran pernafasan bagian atas (upper respiratory Airway).


Secara umum fungsi utama dari saluran pernafasan atas adalah:
Air conduction kepada saluran nafas bagian bawah untuk pertukaran gas.
Protection saluran nafas bagian bawah dari benda asing. Warming filtration dan
humadification dari udara yang inspirasi. Terdiri dari

a) Hidung (cavum nasalis), Rongga hidung dilapisi sebagai selaput lendir


yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan lapisan

6
farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke
dalam. rongga hidung
b) Sinus paranasalis, Sinus paranasalis merupakan daerah yang terbuka pada
tulang kepala. Dinamakan sesuai dengan tulang dimana dia derada terdiri
atas sinus frotalis,sinus etmoidalis,sinus spenoidalis,dan sinus maksilaris.
Fungsi dari sinus adalah membantu menghangatkan dan
humidifikasi,meringankan berat tulang tengkorak,serta mengatur bunyi
suara manusia dengan ruang resonansi.
c) Faring (tekak), adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak
sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang
rawan krikoid. Maka ‘letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal).
d) Laring (tenggorok) terletak di depan bagian terendah farinx yang
mernisahkan dari columna vertebrata, berjalan dari farinx. sampai
ketinggian vertebrata servikals dan masuk ke dalarn trachea di bawahnya.
Larynx terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh
ligarnen dan membrane
2. Saluran pernafasan bagian bawah (lower airway).
Ditinjau dari fungsinya umum,saluran pernafasan bagian bawah terbagi
menjadi dua komponen,yaitu sebagai berikut :
Saluran udara kondusi : Sering disebut sebagai percabangan trakeobronkialis,
terdiri atas trakea, bronki, dan bronkioli. Satuan respiratorius terminal ( kadang
kala disebut dengan acini): Yaitu saluran udara konduktif, fungsi utamanya
sebagai penyalur (konduksi) gas masuk dan keluar dari satuan respiratorius
terminal,yang merupakan tempat pertukaran gas yang sesungguhnya. alveoli
merupakan bagian dari satuan respiratorius terminal. Terdiri dari :
a) Trakea
Trachea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya trachea berjalan
dari larynx sarnpai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat
ini bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 – 20
lingkaran tak- lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh
jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea, selain
itu juga membuat beberapa jaringan otot

7
b) Bronkus dan bronkiolus
Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira
vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan
dilapisi oleh.jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan
kesamping ke arah tampuk paru. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar
daripada yang kiri, sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan
sebuah cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronckus lobus bawah.
Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di
bawah arteri pulmonalis sebelurn di belah menjadi beberapa cabang yang berjalan
kelobus atas dan bawah.
Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus
lobaris dan kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus
menjadi bronchus yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi
bronkhiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yang tidak mengandung
alveoli (kantong udara). Bronkhiolus terminalis memiliki garis tengah kurang
lebih I mm. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan. Tetapi
dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran
udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran penghantar
udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat
pertukaran gas paru-paru.

c) Alveoli
Alveolus yaitu tempat pertukaran gas sinus terdiri dari bronkhiolus dan
respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada
dindingnya. Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus
alveolaris terminalis merupakan akhir paru-paru, asinus atau.kadang disebut
lobolus primer memiliki tangan kira-kira 0,5 s/d 1,0 cm. Terdapat sekitar 20 kali
percabangan mulai dari trachea sampai Sakus Alveolaris. Alveolus yang melapisi
rongga toraksdipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.

8
Paru paru
Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan.
Dilapisi oleh pleura yaitu parietal pleura dan visceral pleura. Di dalam rongga
pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikn. Paru kanan dibagi
atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan inferior sedangkan paru kiri
dibagi dua lobus yaitu lobus superior dan inferior. Tiap lobus dibungkus oleh
jaringan elastik yang mengandung pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial
venula, ductus alveolar, sakkus alveolar dan alveoli. Diperkirakan bahwa stiap
paru-paru mengandung 150 juta alveoli, sehingga mempunyai permukaan yang
cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas.

C. Etiologi
Penyakit TB Paru disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium
tuberculosis). Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan
terhadap asam pada pewarnaan, Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan
Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan
tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.
Sumber penularan adalah penderita TB BTA positif. Pada waktu batuk atau
bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk Droplet (percikan
Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu
kamar selama beberapa jam. orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup
kedalam saluran pernapasan. selama kuman TB masuk kedalam tubuh manusia
melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh
lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran napas, atau
penyebaran langsung kebagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang
penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.
Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita
tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman), maka
penderita tersebut dianggap tidak menular.

9
D. Patogenesis tuberculosis
Paru merupakan port d’entrée lebih dari 98% kasus infeksi TB. Karena
ukurannya yang sangat kecil, kuman TB dalam percik renik (droplet nuclei) yang
terhirup, dapat mencapai alveolus. Masuknya kuman TB ini akan segera diatasi
oleh mekanisme imunologis non spesifik. Makrofag alveolus akan menfagosit
kuman TB dan biasanya sanggup menghancurkan sebagian besar kuman TB.
Akan tetapi, pada sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu menghancurkan
kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag. Kuman TB dalam
makrofag yang terus berkembang biak, akhirnya akan membentuk koloni di
tempat tersebut. Lokasi pertama koloni kuman TB di jaringan paru disebut Fokus
Primer GOHN.
Dari focus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju
kelenjar limfe regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke
lokasi focus primer. Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran
limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Jika focus
primer terletak di lobus paru bawah atau tengah, kelenjar limfe yang akan terlibat
adalah kelenjar limfe parahilus, sedangkan jika focus primer terletak di apeks
paru, yang akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal. Kompleks primer merupakan
gabungan antara focus primer, kelenjar limfe regional yang membesar
(limfadenitis) dan saluran limfe yang meradang (limfangitis). Waktu yang
diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleks primer
secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi TB. Hal ini berbeda dengan
pengertian masa inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu waktu yang diperlukan
sejak masuknya kuman hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB
biasanya berlangsung dalam waktu 4-8 minggu dengan rentang waktu antara 2-12
minggu. Dalam masa inkubasi tersebut, kuman tumbuh hingga mencapai jumlah
103-104, yaitu jumlah yang cukup untuk merangsang respons imunitas seluler.

10
E. Cara Penularan
1. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.
2. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara
dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat
menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
3. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak
berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah
percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.
Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang
gelap dan lembab.
4. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil
pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.

F. Gejala Penyakit Tb
1. Gejala sistemik/umum:
a. Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)
b. Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan
malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam
seperti influenza dan bersifat hilang timbul
c. Penurunan nafsu makan dan berat badan
d. Perasaan tidak enak (malaise), lemah

2. Gejala khusus:
a. Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan
sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan
kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara “mengi”,
suara nafas melemah yang disertai sesak.
b. Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai
dengan keluhan sakit dada.
c. Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang
pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di

11
atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
d. Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan
disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam
tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang terinfeksi oleh Mycobacterium


tuberculosis :
1. Herediter: resistensi seseorang terhadap infeksi kemungkinan diturunkan
secara genetik.
2. Jenis kelamin: pada akhir masa kanak-kanak dan remaja, angka
kematian dan kesakitan lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
3. Usia : pada masa bayi kemungkinan terinfeksi sangat tinggi.
4. Pada masa puber dan remaja dimana masa pertumbuhan yang cepat,
5. kemungkinan infeksi cukup tingggi karena diit yang tidak adekuat.
6. Keadaan stress: situasi yang penuh stress (injury atau penyakit, kurang
nutrisi, stress emosional, kelelahan yang kronik)
7. Meningkatnya sekresi steroid adrenal yang menekan reaksi inflamasi
dan memudahkan untuk penyebarluasan infeksi.
8. Anak yang mendapat terapi kortikosteroid kemungkinan terinfeksi lebih
mudah.
9. Nutrisi````; status nutrisi kurang
10. Infeksi berulang: HIV, Measles (campak), pertusis (batuk rejan)
11. .Tidak mematuhi aturan pengobatan.

G. Klasifikasi tuberculosis
Klasifikasi berdasarkan ORGAN tubuh yang terkena:
1. Tuberkulosis paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak
termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
2. Tuberkulosis ekstra paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru.
misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar

12
limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat
kelamin, dan lain-lain.

H. Komplikasi
merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis paru
stadium lanjut yaitu :
1. Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat
mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena
tersumbatnya jalan napas.
2. Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus
akibat retraksi bronchial.
3. Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan
ginjal.

H. Pemeriksaan Penunjang
ada beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada
pemeriksaan TB Paru, sebagai berikut:
1. Radiologi
Pada hasil foto toraks posterior anterior (PA), lateral terlihat gambaran
infiltrat atau nodular terutama pada lapangan atas paru, terlihat kavitas, serta
tuberkuloma atau tampak seperti bayangan atau coin lesion. Pada TB primer
tampak gambaran radiologi berupa infiltrat pada paru-paru unilateral yang disertai
pembesaran kelenjar limfe di bagian infiltrat berada.
2. Mikrobiologi
Pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali setiap hari, berdasarkan pemeriksaan
pada basil tahan asam (BTA) guna memastikan hasil diagnosis. Akan tetapi hanya
30% – 70% saja yang dapat didiagnosis dengan pemeriksaan ini karena diduga
tidak terlalu sensitif.
3. Biopsi jaringan
Dilakukan terutama pada penderita TB kelenjar leher dan bagian lainnya,
dimana dari hasil terdapat gambaran perkejuan dengan sel langerhan akan tetapi

13
bukanlah merupakan diagnosis positif dari tuberkulosis oleh karena dasar dari
diagnosis yang positif adalah ditemukannya kuman mycobacterium tuberkulosa.
4. Bronkoskopi
Hasil dari biopsi pleura dapat memperlihatkan suatu gambaran dan dapat
digunakan untuk bahan pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA).
5. Tes tuberculosis
Tes mantouk diberikan dengan menyuntikan 0,1 cc Derivat Protein Murni
(PPD) secara intra muskuler (IM), kemudian dapat terlihat dalam 48 – 72 jam
setelah dites, dikatakan positif bila diameter durasi lebih besar dari 10 mm.
Gambar berikut ini merupakan gambaran pemeriksaan tes mantouk.

6. Tes Peroksida Anti Peroksidase (PAP)


Merupakan uji serologi imunoperoksidase mengunakan alat histogen
imunoperoksidase skrining untuk menentukan IgG sepesifik terhadap basil
tuberkulosis paru.

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari data yang kami dapat dari berbagai sumber, bahaya dan angka kejadian
tb paru di masyarakat cukup banyak dan tb merupakan penyakit kronis yang dapat
menyebabkan kematian. Perluh adanya perhatian pemerintah dan masyarakat
dalam menanggulagi kasus tb paru tersebut. Angka kejadian tb paru banyak
terjadi pada negara yang sedang berkembang khususnya diindonesia. Pemahaman
masyarakat tentang tb paru serta gejalanya masih sangat minim dan masyarakat
sering melalaikan status kesehatan mereka sendiri.
B. Saran
Di harapkan peran pemerintah dan kita semua sebagai petugas kesehatan
untuk lebih memperhatikan lingkungan sekitar kita
Kita harus memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat yang kurang
peduli kepada kesehatan, karena tb paru merupakan penyakit penyebab kematian

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Lawler, W. 2002. Buku pintar patologi untuk kedokteran umun. Buku


kedokteran, Jakarta.
2. Mochamad. A. 2014. Atlas berwarna patologi anatomi jilid I edisi kedua.
PT Raja Grafindo Persada., Jakarta.
3.

16