You are on page 1of 17

MAKALAH

PERUBAHAN PATOLOGI PENYAKIT INFEKSI

DISUSUN OLEH
KELOMPOK IV

ALVIN EDAH
ELSIH PERABU
FEBRIANA KOLI
MARLENG RATISSA
SERLISKHA MISILAN

UNIVERSITAS UNIKA DE LA SALLE MANADO


FAKULTAS KEPERAWATAN

1
KATA PENGANTAR

Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat Rahmat dan
pimpinanya sehinggah kelompok dapat menyelesaikan makalah ini dengan
segala baik. Makalah ini membahas tentang perubahan patologi pada penyakit
infeksi. Kami mengharapkan agar makalah ini dapat menjadi bahan ajar bagi
teman teman mahasiswa

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................................................................................... 2


DAFTAR ISI .................................................................................................... 3
BAB I : PENDAHULUAN
a. Latar Belakang ................................................................................... 3
b. Rumusan Masalah .............................................................................. 4
c. Tujuan Penulisan ................................................................................ 4
d. Manfaat Penulisan .............................................................................. 4
BAB III : PEMBAHASAN .............................................................................. 5
BAB IV : PENUTUP
a. Kesimpulan .......................................................................................... 16
b. Saran ..................................................................................................... 16
DAFTARPUSTAKA………………………………………………………….16

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Patologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit, penyebab dan
akibatnya, penyakit adalah setiap gangguan terhadap fungsi atau struktur tubuh
normal. Perubahan-perubahan patologi tidak konstan ataupun statis karena
selalu ada interaksi terus-menerus antara agen - agen kuasatif dengan respon
alamiah tubuh. walaupun begitu, muncul pula yang cukup konsisten, dan inilah
yang merupakan dasar praktek patologi. Karena patologi merupakan ilmu
tentang penyakit , maka semua kelainan patologik merupakan dasar untuk
semua kondisi klinik. Oleh karenanya pengetahuan serta pengertian yang benar
tentang patologi serta proses-proses patologik merupakan bekal untuk diagnosa
klinik yang akurat dan benar, dan patologi selalu berhubungan dengan semua
aspek praktek klinik.
Perubahan anatomi dan fungsional yang disebabkan penyakit tersebut. Patologi
mempunyai tujuan utama untuk mengidentifikasi sebab suatu penyakit, yang
akhirnya akan memberikan petunjuk dasar pada program pengelolaan dan
pencegahan penyakit tersebut. Selain Patologi juga dikenal istilah Patofisiologi,
yaitu bagian dari ilmu Patologi yang mempelajari gangguan fungsi yang terjadi
pada organisme yang sakit, yaitu meliputi asal penyakit, permulaan dan
perjalanan penyakit serta akibat yang ditimbulkannya.

B. Rumusan Masalah
1. Pengertian Patologi
2. Proses perubahan patologi penyakit infeksi.

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini agar kita dapat mengetahui tentang
Perubahan-Perubahan Patologi pada Penyakit Infeksi

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian patologi
Patologi Adalah ilmu yang mempelajari tentang penyakit, penyebab dan
akibatnya. Penyakit adalah setiap gangguan terhadap fungsi atau struktur tubuh
normal.
Patologi juga dikenal istilah Patofisiologi, yaitu bagian dari ilmu Patologi yang
mempelajari gangguan fungsi yang terjadi pada organisme yang sakit, yaitu
meliputi asal penyakit, permulaan dan perjalanan penyakit serta akibat yang
ditimbulkannya.

B. Infeksi
Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan karena masuknya bibit
penyakit. Penyakit ini menular dari satu orang ke orang lain.
Orang yang sehar harus dihindarkan dari orang-orang yang menderita penyakit
dari golongan ini. Penyebab utama infeksi diantaranya adalah bakteri dan jasad
hidup (organisme). Kuman-kuman ini menyebar dengan berbagai cara dan
vector. Beberapa mikroorganisme, seperti: bakteri, virus, spirochaeta, riketsia,
klamidia, mikoplasma, jamur, ragi dan protozoa dapat menginfeksi tubuh
manusia. Jenis luas dan beratnya kerusakan yang disebabkan oleh tiap
mikroorganisme pathogen juga dipengaruhi oleh beberapa factor yang berperan
saat timbul infeksi.

5
1. Faktor Mikroorganisme Pada Infeksi
a. Transmisibilitas
Kemampuan transport agen menular ke hidup hospes.
Secara langsung : batuk ,bersin, ciuman dsb
Tidak langsung : individu yang terinfeksi, mengeluarkan organism ke
lingkungan, diendapkan, kemudian ke hospes lain. Dapat melalui udara,
air , makanan, serangga, transfuse, dll.
 Transmisibilitas dipengaruhi oleh sifat intrisik organism, misalnya:
 Organisme berbentuk spora tahan terhadap kering.
 Spirosaeta sifilis sangat sensitive terhadap kekeringan dan
perubahan suhu.
 Daya tahan terhadap antibiotika.
 Masuknya agen infeksi melalui:
 Kontak langsung, misalnya penyakit kelamin.
 Kontaminasi dan luka misalnya, infeksi luka dan rabies
 Inokulasi misalnya gigitan serangga (malaria), serum (hepatitis)
 Menelan makan dan minum yang terkontaminasi (hepatitis A,
poliomiolitis, kolera.)
 Menghirup debu dan droplet misalnya influenza dan Tb Paru.

b. Daya Infasi
Kemampuan agen menular untuk bertahan atau didalam hospes untuk
dapat menimbulkan infeksi.
Contoh :
 Vibrio kholerae hanya melekat pada mukosa usus
 Shigella dysentriae hanya dapat memasuki lapisan superficial usus.
 Salmonella thypy mampu menembus sampai aliran darah dan
menyebar

6
c. Pathogenitas atau kemampuan untuk menimbulkan penyakit
Kemampuan mikroorganisme untuk menyebabkan perubahan patologik
atau penyakit akibat pengaruh:
 Eksotosin yang dikeluarkan mikroorganisme
 Endotoksin yang dikeluarkan mikroorganisme saat lisis
 Proses imunologis, misalnya basil tuberculosa dimana penderita
alergi dan mengalami nekrosis kaseosa
 Pembentukan antigen-antibody yang dapat menyebabkan kelainan
 Informasi genetic baru yang diwujudkan pada fungsi sel yang
berubah, misalnya pada infeksi virus.

C. Faktor Hospes Pada Infeksi


 Mekanisme pertahanan tubuh terhadap agen menular :
1. Barier mekanisme tubuh ( pertahanan mekanik)
a) Kulit dan mukosa orofaring
Kulit dan mukosa orofaring yang utuh merupakan barier
mekanisme sederhana yang baik terhadap infeksi
 Dekontaminasi fisik
Kulit dapat melepaskan mikroorganisme yang menempel ketika
lapisan kulit mengelupas atau oleh aliran saliva yang
menghanyutkan partikel secara mekanis pada mukosa orofaring
dari mikroorganisme penyebab infeksi
 Dekontaminasi kimiawi
Sekresi kelenjar sebasea dan zat-zat yang terdapat pada saliva
akan membersikan kulit dan mukosa orofaring dari
mikroorganisme penyebab infeksi.
 Dekontaminasi biologis
Kulit dan mukosa orofaring memiliki flora normal yang dapat
menghambat perubahan mikroorganisme.

7
b) Saluran Pencernaan
 Tingkat keasaman yang tinggi pada lambung merupakan
kondisi yang tidak menguntungkan bagi kuman.
 Gerakan peristaltik usus dapat mempertahankan jumlah
populasi bakteri tetap sedikit.
 Adanya mucus yang disekresi lapisan usus, dapat sebagai
pelindung yang viscus pada permukaan usus. Kemudian
didorong oleh peristaltic usus
 Secret usus mengandung antybody yang menghambat bakteri
Lapisan dalam usus besar yang banyak flora normal sebagai
pesaing bakteri dalam mendapat makanan, serta mengeluarkan
substansi antibaktery.

c) Saluran Pernafasan
 Beberapa epitel saluran pernafasan yang menghasilkan mucus
dan sebagian besar memiliki silia pada permukaan lumen yang
mampu menangkap dan mengeluarkan bakteri, bakteri yang
terhirup dikeluarkan dengan cara digerakan keluar. Dibatukan
atau ditelan
 Adanya antibody didalam secret
 Adanya makrofag dalam alveolus

d) Sawar pertahanan lain


Permukaan tubuh lain juga memiliki mekanisme pertahanan:
 Saluran kemih yaituh dengan lapisan epitel berlapis banyak dan
adanya aliran urin
 Kongjungtiva secara mekanis dan dengan air mata.
 Vagina, epitelnya kuat dan berlapis banyak serta banyak
mengandung flora normal serta adanya sekrsi mucus.

8
2. Radang sebagai pertahanan
3. Fagositosis oleh makrofag pada kelenjar limfe
4. Makrofag dari sistem monosit makrofag

D. Reaksi Hospes Dengan Jasad Renik


1. Cara interaksi hospest dengan mikroorganisme:
 Komensalisme, antara hospes dan agent menular tidak saling
menyerang atau menguntungkan bagi yang satu tanpa menimbulkan
cidera pada yang lain
 Mutualisme, interaksi hospes dan mikroorganisme saling
menguntungkan
 Parasitisme, menguntungkan bagi yang satu tapi merugikan yang lain.

2. Klasifikasi agen infeksi


 Berdasarkan bangunan/ struktur :
Virus DNA, virus RNA, bakteri kokus, bakteri batang
 Berdasarkan patogenitas
 Letak penggadaan, baik diluar ataupun didalam sel dibagi menjadi :
 Organisme intrasel obligat, hanya dapat tumbuh dan berkembang
dalam sel penjamu
 Organism intrasel fakultif, mampu tumbuh baik didalam atau diluar
sel
 Organism ekstrasel, tumbuh dan berkembang diluar sel

3. Perubahan jaringan pada infeksi disebabkan oleh 3 hal:


a. Kerusakan yang diinduksi agen
b. Reaksi radang penjamu
c. Reaksi imun penjamu

9
1) Organisme intrasel obligat dapat menyebabkan:
 Nekrosis sel
Nekrosis akut terjadi jika penggandaan agen didalam sel disertai
perubahan yang menghentikan fungsi sel : poliomyelitis hepatitis
Penyembuhan terjadi bila reksi imun penjamu efektif sehingga
menetralisir agent
 Pembengkakan sel, misalnya pada sel hati yang bertahan hidup
saat terjadi hepatitis vorus akut
 Pembentukan inclusion body, terbentuk pada saat replikasi virus
dan clamidia dalam sel
 Pembentukan sel detia, terjadi pada beberapa inveksi virus
measles (campak)
 Inveksi virus laten
 Reaktif akibat stress, imuodifesiensi misalnya pada virus
herpes simpleks dan varicellasozter
 Onkogenesisi, beberapa virus diduga menyebabkan neoplasma
2) Organism intrasel fakultif
Misalnya mycobacterium.
Pengaruh agen terhadap jaringan menggambarkan peradangan
(granulomatosa) raksi imun (nekrosis kaseosa) fibrosis yang
merupakan proses penyembuhan
3) Organisme ekstrasel
Beberapa mekanisme yang menyebabkan kerusakan jaringan oleh
organism ini:
a. Pelepasan ensim yang bekerja local, misalnya streptococcus
pyogenes menghasilkan hialurodinase sehingga infeksi mudah
menyebar, streptococcus yang menyebabkan eritrosis lisis
b. Menghasilkan vaskulitis local misalnya basillus antacis
c. Menghasilkan dan merusak sel yang jauh dari infeksi:

10
 Endotoksin yang menyebabkan vasodilatasi perifer dan syok.
Kerusakan sel endotel dan mengaktifkan rangkaian koagulase
juga menimbulkan demam
 Eksotosin, misalnya pada tetanus
 Enterotoksin, misalnya pada vibrio cholera

F. Akibat-akibat infeksi
Akibat infeksi setiap mikroorganisme patogen seperti salah satu dibawah
ini
1. Resistensi, sejumlah kecil organisme yang telah memasuki tubuh dapat
bertahan selama bertahun-tahun. Individu terinfeksi dapat menjadi
pembawah tanpa gejala asymptomatic carrier (misalnya, basilus tifoid
dan firus hepatitis B), organisme lain dapat menyebabkan serangan akut
berulang (misalnya, virus herpes) selain itu dapat pula menjadi radang
kronis berkelanjutan (misalnya, osteomielitis kronik stafilokok), dan
bias juga menjadi penyakit progresif dan berakhir fatal (misalnya, virus
heaptitis B).
2. Penyebaran: organisme patogen dapat menyebar secara lokal, dengan
bantuan produksi enzim seluler dan endotoxin. Penyebaran lebih lanjut
dapat terjadi sampai nodus limfa regional, melalui kafitas coelom
(misalnya, pleural dan periktoneum) atau lewat aliran darah.
3. Kematian Hospes
Kadang-kadang infeksi dapat menyebabkan kematian hospes, mungkin
lebih dari satu jenis mikroorganisme yang bertanggungjawab, dan ada
satu atau lebih factor yang merugikan. Biasaya, mekanisme pertahanan
tubuhnormal telah lebih dari cukup, tetapi kadang-kadang kematian
terjadi karena produksi eksoktoksin (misalnya, tetanus dan difteri).

11
G. Beberapa infeksi spesifik
1. Bakteri
Bakteri adalah penyebab radang akut paling umum. Banyak yang piogen
(misaalnya, stafilokokus, streptokokus dan coliform) dan dihubungkan dengan
pembentukan pus dan abses. Sejumlah kecil (misalnya, mycobacteria)
memberikan respon randang kronik.

2. Virus
Virus adalah parasit obligat, kecil dan relatif sederhana, yang menjadi
banyak di dalam sel melalui sintesis dan penyusun an komponen terpisah bukan
melaui pembelahan serta tergantung sepenuhnya pada metabolisme sel hospes
untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Virus merusakkan sel tempat
hidupnya dan seringkali menyebabkan kematian sel; mereka kadang-kadang
menghasilkan eosinfilik intranuklear atau intrasitoplasmik dan dapat
menimbulkan berbagai reaksi radang kronis seringkali ringan. Kebanyakan
infeksi virus berlangsung sementara dan tidak parah, dan mengalami
kesembuhan total dan imunitas terhadap strain tertentu yang berperan (mislnya
demam biasa atau common dan influenza) kadang-kadang infeksi awal
asmatomatik, tetapi penyebarannya menyebabkan penyakit berikutnya
(misalnya, poliomyelitis); jarang sekali infeksi menjadi parah dan fatal
(misalnya, smallpox dan rabies). Beberape viru dapat bertahan selama
bertahun-tahun (misalnya herpesimpleks dan varisela).
a. Spirochaeta
Spirochaeta merupakan organisme sangat motil, seperti kumparan,
berbentuk spiral, uniseluler yang biasanya menyebabkan radang kronis
interstisial dengan sel plasma perivaskular, limfosit dan makrofag.
b. Riketsia
Riketsia adalah parasit obligat intraselular lebih kecil dari bakteri dan
memerlukan energy eksogen untuk pertumbuhannya.

c. Klamidia

12
Klamidia juga merupakan parasit obligat intraselular kecil, tetapi
mempunyai dua bentuk, satu untuk pembiakan intraselular, yang lain
suatu badan seperti spora, untuk kelangsungan hidup ekstraselular.
d. Mikoplasma
Mikoplasma adalah sel hidup bebas terkecil yang pernah diketahui tidak
mempunyai dinding sel, tetapi dapat menjadi banyak dalam lingkungan
bebas sel dan dapat dibiakkan, walaupun lamban di laboratorium.
e. Jamur dan Ragi
Jamur terdiri dari filament-filamen (hiva) yang tumbuh melalui
perluasan dan percambangan yang tak henti-hentinya, dan menghasilkan
spora; ragi adalah sel tunggal terbentuk oval atau seperti bola yang
bertambah banyak melalui tunas-tunas.

H. Gambaran Klinis
Tergantung vector, tempat infeksi dan keadaan kesehatan awal penjamu
1. Infeksi virus, bakteri dan mikoplasma sering menimbulkan:
 Pembesaran KGB regional
 Demam (biasanya ringan pada virus)
 Nyeri tubuh
 Ruam atau erupsi kulit terutama pada infeksi virus

2. Infeksi oleh klamidia


 Disertai oleh pengeluaran mokupurulen, gatal, dan rasa terbakar
saat berkemih misalnya pada servisitis

3. Riketsia
 Ruam kulit
 Demam menggigil
 Mialgia
 Pembentukan trombud di organ

13
4. Infeksi Jamur
 Gatal di kulit atau kepala (superficial)
 Ruam atau perubahan warna kuku
 Plak putih pada rongga mulut
 Tanda-tanda pneumonia.

5. Infeksi Parasit
 Diare oleh parasit saluran cerna
 Demam disertai malaria
 Gatal dan ruam pada infeksi kulit

A. PENYAKIT-PENYAKIT INFEKSI
1. Sistem Respirasi
a. Tuberkulosa paru
Tuberkulosa paru adalah bentuk infeksi mycobacterium tuberculosis
pada manusia yang paling sering terjadi. Infeksi berawal sebagai
peradangn paru local yang meluas kekelenjar lines bronkus. Infeksi ini
di tandai oleh pembentukan granuloma netrokpitckams yang di sebut
granuloma kaseosa kerena penampakannya yang seperti keju.
Granuloma ini mengandung Myco bacterium tuber- colosis, yang dapat
dilihat dengan perwarnaan kusus. Granuloma ini dapat sembuh dan
dapat berubah menjadi jaringan fibrosis. Granuloma juga cenderung
menyatu, merusak parengkim, dan menimbulkan rongga besar (
tubercolosis kavironosa ). Diding rongga ini terdiri dari jaringan fibrosa
dan mengandung granuloma aktif sedang dalam penyembuhan.
Granuloma yang menyembuh sering mengalami kalsifikasi.
Penyebaran Myco bacterium tuber – colossi melalui sirkulasi linfe dan
darah atau melalui jalan nafas menyebabkan terbentuknya banyak nodus
kecil sekurang biji padi, sehingga diberi nama tubercolosis miliaris.
Nodus ini memiliki gambaran histology serupa dengan granuloma

14
primer pada kompleks Ghon dan mungkin memperlihatkan nekrosis
luas dengan sedikit respon peradangan.

2. Pencernaan
b. Gastristis
Gastritis dapat dikalsifikasikan sebagai grastristis erosive dan gastristis
non erosive. Gastristis erosive biasanya bersifat akut dan ditandai defek
mokusa super fisial ( erosi ). Defek ini disebabkan oleh zat kimia dan
obat asprin gangguan srikulasi( Mis. Rejatan ( syook ), atau bakteri
misalnya helicobacter plory.
Gastritis noneorosif adalah penyakit kronik yang mungkin terdapat dua
bentuk : atrofik, bentuk yang lebih sering, atau hipertrofik, bentuk yang
sangat jarang.

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan di atas bawah Patologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang penyakit, penyebab dan akibatnya; penyakit adalah setiap
gangguan terhadap fungsi atau struktur tubuh normal. Adapun sejumlah
penyakit yang mempunyai lebih dari satu penyebab. Bila penyebabnya tidak
diketahui, pencegahan yang memadai tidak mungkin dilakukan. Semua
penyebab yang diketahui baik genetic maupun dapatan (aqruired), keduanya
dapat kongenital (yaitu berkembang selama kehidupan intra uterine dan muncul
waktu lahir) atau berkembang beberapa waktu sesudah kelahiran (sering
sesudah beberapa tahun).

B. Saran
Semogga dengan selesainya makalah ini diharapkan agar kami lebih
mengetahui lagi apa itu “Perubahan – perubahan patologi pada penyakit
infeksi“ dan kepada dosen pembimbing atau pengajar dan teman-teman yang
membaca atau sempat membaca agar dapat memberikan kritik dan saran kepada
kami kelompok empat, agar lebih bermanfaat lagi. Sehingga dapat
mengaplikasikannya dalam dunia keperawatan.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Lawler, W. 2002. Buku pintar patologi untuk kedokteran umun. Buku


kedokteran, Jakarta.
2. Mochamad. A. 2014. Atlas berwarna patologi anatomi jilid I edisi
kedua. PT Raja Grafindo Persada., Jakarta.
3. http//Iskandarschool.blogspot.com./2015/05/Tb Paru-Makalah.Html.

17