KONSEP DASAR KEPERAWATAN GERONTIK PENGERTIAN Ilmu + Keperawatan + Gerontik •Ilmu : pengetahuan dan sesuatu yang dapat dipelajari

•Keperawatan : konsisten terhadap hasil lokakarya nasional keperawatan 1983 •Gerontik : gerontologi + geriatrik •Gerontologi adalah cabang ilmu yang membahas/menangani tentang proses penuaan/masalah yang timbul pada orang yang berusia lanjut. •Geriatrik berkaitan dengan penyakit atau kecacatan yang terjadi pada orang yang berusia lanjut. •Keperawatan Gerontik : suatu bentuk pelayanan profesional yang didasarkan pada ilmu dan kiat/teknik keperawatan yang berbentuk bio-psiko-sosio-spritual dan kultural yang holistik, ditujukan pada klien lanjut usia, baik sehat maupun sakit pada tingkat individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. LINGKUP PERAN DAN TANGGUNGJAWAB Fenomena yang menjadi bdang garap keperawatan gerontik adalah tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia (KDM) lanjut usia sebagai akibat proses penuaan. Lingkup askep gerontik meliputi: 1. Pencegahan terhadap ketidakmampuan akibat proses penuaan 2. Perawatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akibat proses penuaan 3. Pemulihan ditujukan untuk upaya mengatasi kebutuhan akibat proses penuaan Dalam prakteknya keperawatan gerontik meliputi peran dan fungsinya sebagai berikut: 1. Sebagai Care Giver /pemberi asuhan langsung 2. Sebagai Pendidik klien lansia 3. Sebagai Motivator 4. Sebagai Advokasi 5. Sebagai Konselor Tanggung jawab Perawat Gerontik 1. Membantu klien lansia memperoleh kesehatan secara optimal 2. Membantu klien lansia untuk memelihara kesehatannya 3. Membantu klien lansia menerima kondisinya 4. Membantu klien lansia menghadapi ajal dengan diperlakukan secara manusiawi sampai dengan meninggal. Sifat Pelayanan Gerontik 1. Independent (layanan tidak tergantung pada profesi lain/mandiri) 2. Interdependent 3. Humanistik (secara manusiawi) 4. Holistik (secara keseluruhan) Model Pemberian Keperawatan Profesional 1. Model Asuhan 2. Model Manajerial◊berkaitan pada pengaturan/manajemen Model asuhan yang sesuai masih dalam penelitian………………………………… Diterima sementara ini “Ad an Adaptation Model of Nursing” (Sister Calista Roy) PENDAHULUAN UMUM

Gerontologi adalah bidang studi yang mempelajari aspek sosial, psikologi dan biologi dari proses penuaan. Hal ini berbeda dengan geriatri, yang merupakan cabang dari ilmu kedokteran yang mempelajari penyakit pada lanjut usia (lansia). Istilah geriatri ini berasal dari bahasa Yunani geron yang berarti “orang tua” dan iatros yang berarti “penyembuh” alias dokter atau dukun Meski ilmu ini sudah diperkenalkan sejak 1909, namun perkembangannya tidak sepesat ilmu kedokeran yang lain. Katakanlah ilmu biologi molekuler, saat ini sebagian universitas terkenal di negeri ini “demam” dengan ilmu tersebut. Bisa jadi, penghargaan kita terhadap generasi pendahulu kita perlu diperbaharui. Konotasi “jompo” atau orang yang tidak berdaya, amat lekat pada lansia. Barangkali, bila semakin banyak kelompok lansia yang cukup kaya untuk membiayai kesehatannya, ilmu geriatri ini akan lebih berkembang Di Amerika, ahli geriatri adalah dokter keluarga atau dokter penyakit dalam yang memperoleh pelatihan sesuai kualifikasi ilmu geriatri. Pada pokoknya, dokter untuk lansia ini bekerja di level komunitas. Sedangkan di Inggris, sebagian besar ahli geriatri adalah ahli geriatri yang bekerja di rumah sakit, meskipun memiliki perhatian pula terhadap geriatri komunitas. Pelayanannya meliputi pelayanan orthogeriatrics (fokus pada osteoporosis dan penanganan komplikasinya), psychogeriatrics (fokus pada demensia dan depresi pada geriatri) dan rehabilitasi. Di Indonesia memiliki sejarah yang kurang lebih sama. Adalah Prof Supartondo, ahli penyakit dalam yang merintis bidang ini. Guru besar FKUI ini, merekrut ahli penyakit dalam dari berbagai divisi seperti reumatologi (Prof Harry Isbagio), pulmonologi (dr Asril Bahar), kardiologi (Prof) dan ginjal hipertensi (Dr Suhardjono) untuk membangun divisi Geriatri. Saat ini sudah ada 2 orang ahli geriatri di FKUI yang secara khusus mendalami bidang ini, Dr. Czeresna Heriawan dan Dr. Siti Setiati Perkembangan IPTEK memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan yang terlihat dari angka harapan hidup (AHH) yaitu: AHH di Indonesia tahun 1971 : 46,6 tahun tahun 1999 : 67,5 tahun Populasi lansia akan meningkat juga yaitu: •Pada tahun 1990 jumlah penduduk 60 tahun ± 10 juta jiwa/5,5 % dari total populasi penduduk. •Pada tahun 2020 diperkirakan meningka 3X menjadi ± 29 juta jiwa/11,4 % dari total populasi penduduk (Lembaga Demografi FE-UI-1993). Selanjutnya : Terdapat hasil yang mengejutkan, yaitu: •62,3% lansia di Indonesia masih berpenghasilan dai pekerjaannya sendiri •59,4% dari lansia masih berperan sebagai kepala keluarga •53 % lansia masih menanggung beban kehidupan keluarga •hanya 27,5 % lansia mendapat penghasilan dari anak/menantu DEPKES RI membagi Lansia sebagai berikut: 1. kelompok menjelang usia lanjut (45 - 54 th) sebagai masa VIRILITAS 2. kelompok usia lanjut (55 - 64 th) sebagai masa PRESENIUM 3. kelompok usia lanjut (65 th > ) sebagai masa SENIUM

Sedangkan WHO membagi lansia menjadi 3 kategori, yaitu: 1. Usia lanjut : 60 - 74 tahun 2. Usia Tua : 75 - 89 tahun 3. Usia sangat lanjut : > 90 tahun PROSES PENUAAN Proses Terjadinya Penuaan 1. Biologi a. Teori “Genetic Clock”; Teori ini menyatakan bahwa proses menua terjadi akibat adanya program jam genetik didalam nuklei. Jam ini akan berputar dalam jangka waktu tertentu dan jika jam ini sudah habis putarannya maka, akan menyebabkan berhentinya proses mitosis. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian Haiflick, (1980) dikutif Darmojo dan Martono (1999) dari teori itu dinyatakan adanya hubungan antara kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies Mutasisomatik (teori error catastrophe) hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor-aktor penyebab terjadinya proses menua adalah faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya mutasi somatik. Sekarang sudah umum diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur. Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut. b. Teori “Error” Salah satu hipotesis yang yang berhubungan dengan mutasi sel somatik adalah hipotesis “Error Castastrophe” (Darmojo dan Martono, 1999). Menurut teori tersebut menua diakibatkan oleh menumpuknya berbagai macam kesalahan sepanjang kehidupan manusia. Akibat kesalahan tersebut akan berakibat kesalahan metabolisme yang dapat mengakibatkan kerusakan sel dan fungsi sel secara perlahan. c. Teori “Autoimun” Proses menua dapat terjadi akibat perubahan protein pasca tranlasi yang dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (Self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya kelainan pada permukaan sel, maka hal ini akan mengakibatkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya Goldstein(1989) dikutip dari Azis (1994). Hal ini dibuktikan dengan makin bertambahnya prevalensi auto antibodi pada lansia (Brocklehurst,1987 dikutif dari Darmojo dan Martono, 1999). Dipihak lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap antigen menjadi menurun, sehingga sel-sel patologis meningkat sesuai dengan menigkatnya umur (Suhana,1994 dikutif dari Nuryati, 1994) d. Teori “Free Radical”

Penuaan dapat terjadi akibat interaksi dari komponen radikal bebas dalam tubuh manusia. Radikal bebas dapat berupa : superoksida (O2), Radikal Hidroksil (OH) dan Peroksida Hidrogen (H2O2). Radikal bebas sangat merusak karena sangat reaktif , sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, dan asam lemak tak jenuh. Menurut Oen (1993) yang dikutif dari Darmojo dan Martono (1999) menyatakan bahwa makin tua umur makin banyak terbentuk radikal bebas, sehingga poses pengrusakan terus terjadi , kerusakan organel sel makin banyak akhirnya sel mati. e. Wear &Tear Teori Kelebihan usaha dan stress menyebaban sel tubuh rusak. f. Teori kolagen Peningkatan jumlah kolagen dalam jaringan menyebabkan kecepatan kerusakan jaringan dan melambatnya perbaikan sel jaringan. 2. Teori Sosiologi a. Activity theory, ketuaan akan menyebabkan penurunan jumlah kegiatan secara langsung. b. Teori kontinuitas, adanya suatu kepribadian berlanjut yang menyebabkan adanya suatu pola prilaku yang meningkatkan stress. c. Disengagement Theory, putusnya hubungan dengan dunia luar seperti hubungan dengan masyarakat, hubungan dengan individu lain. d. Teori Stratifikasi usia, karena orang yang digolongkan dalam usia tua akan mempercepat proses penuaan. 3. Teori Psikologis a. Teori kebutuhan manusia dari Maslow, orang yang bisa mencapai aktualisasi menurut penelitian 5% dan tidak semua orang bisa mencapai kebutuhan yang sempurna. b. Teori Jung, terdapat tingkatan-tingkatan hidup yang mempunyai tugas dalam perkembangan kehidupan. c. Course of Human Life Theory, Seseorang dalam hubungan dengan lingkungan ada tingkat maksimumnya. d. Development Task Theory, Tiap tingkat kehidupan mempunyai tugas perkembangan sesuai dengan usianya. •Penuaan Primer : perubahan pada tingkat sel (dimana sel yang mempunyai inti DNA/RNA pada proses penuaan DNA tidak mampu membuat protein dan RNA tidak lagi mampu mengambil oksigen, sehingga membran sel menjadi kisut dan akibat kurang mampunya membuat protein maka akan terjadi penurunan imunologi dan mudah terjadi infeksi. •Penuaan Skunder : proses penuaan akibat dari faktor lingkungan, fisik, psikis dan sosial . Stress fisik, psikis, gaya hidup dan diit dapat mempercepat

proses menjadi tua. Contoh diet ; suka memakan oksidator, yaitu makanan yang hampir expired. Gairah hidup yang dapat mempercepat proses menjadi tua dikaitkan dengan kepribadian seseorang, misal: pada kepribadian tipe A yang tidak pernah puas dengan apa yang diperolehnya. Secara umum perubahan proses fisiologis proses menua adalah: 1. Perubahan Mikro •Berkurangnya cairan dalam sel •Berkurangnya besarnya sel •Berkurangnya jumlah sel 2. Perubahan Makro •Mengecilnya mandibula •Menipisnya discus intervertebralis •Erosi permukaan sendi-sendi •Osteoporosis •Atropi otot (otot semakin mengecil, bila besar berarti ditutupi oleh lemak tetapi kemampuannya menurun) •Emphysema Pulmonum •Presbyopi •Arterosklerosis •Manopause pada wanita •Demintia senilis •Kulit tidak elastis •Rambut memutih Proses menua Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua ( Nugroho, 1992). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun psikis. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ vital, sensitifitas emosional meningkat dan kurang gairah. Meskipun harus menimbulkan penyakit oleh karenanya lanjut usia harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan : 1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan social 2) Mampu melakukan aktifitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari 3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat (Rahardjo, 1996) Akibat perkembangan usia, lanjut usia mengalami perubahan-perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri secara terus menerus. Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai masalah. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh Munandar Ashar Sunyoto ( 1994) menyebutkan masalah-masalah yang menyertai lansia yaitu :

Faktor faktor yang mempengaruhi penuaan 1)Hereditas atau ketuaan genetic 2)Nutrisi atau makanan 3)Status kesehatan 4)Pengalaman hidup 5)Lingkungan 6)Stres . ekonmi atau pendapatan dan peran sosial (Goldstein. Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri lansia untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik. 1979) di kutip oleh Munandar (1994) adalah : 1) Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya 2) penarikan diri ke dalam dunia fantasi 3) Selalu mengingat kembali masa lalu 4) Selalu kwuatir karena pengangguran 5) Kurang ada motivasi 6) Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik 7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan Dilain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah : Minat yang kuat. Ciri-ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia ( Hurlock. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang.1) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain 2) Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola Hidupnya 3) Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau pindah 4) Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak 5) Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yang mendasar adalhan perubahan gerak. Motivasi tersebut diperlikan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya. Perubahan yang diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan. Pertama minat terhadap diri makin bertambah. Berkaitan dengan perubahan. kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. kontak sosial luas. Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat. terkhir minta terhadap kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit. ketidaktergantungan secara ekonomi. menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini dan memiliki kekuatiran minimal terhadap diri dan orang lain. Berkaitan dengan perubahan fisik. 1992). menikmati kerja dan hasil kerja. Bagaimana sikap yang ditunjukan apakah memuaskan atau tidak memuaskan. hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya.

c) Lahirnya kelompok masyarakat industry d) Masih rendahnya kuantitas dan kualitas tenaga profesional pelayanan lanjut usia e) Belum membudaya dan melembaganya kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia Perubahan-Perubahan yang Terjadi pada Lansia 1.28 %).39 %). sistem pengaturan tubuh. Gilut (51.39 %). Bandung. Mual/perut perih (26. Daya ingat (69.08 %).15 %).66 %). endokrin dan integumen. Sistem pernafasan pada lansia. Permasalahan umum a) Makin besar jumlah lansia yang berada dibawah garis kemiskinan b) Makin melemahnya nilai kekerabatan sehinggan anggota keluaraga yang lanjut usia kurang diperhatikan. Daya ingat menurun (38. muskuloskeletal. Sakit kepala (51.24 %). sebagai berikut: •Fungsi tubuh dirasakan menurun: Penglihatan (76. Kelenturan (53. Selera makan menurun (30. Denpasar.51 %). genito urinaria. 1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan. sehingga volume udara inspirasi berkurang. Makasar). pendengaran. dihargai dan dihormati. gastrointestinal.04 %). Sexual (58.88 %) dan sesak nafas (21.KARAKTERISTIK PENYAKIT PADA LANSIA •Saling berhubungan satu sama lain •Penyakit sering multiple •Penyakit bersifat degeneratif •Berkembang secara perlahan •Gejala sering tidak jelas •Sering bersama-sama problem psikologis dan sosial •Lansia sangat peka terhadap penyakit infeksi akut •Sering terjadi penyakit iatrogenik (penyakit yang disebabkan oleh konsumsi obat yang tidak sesuai dengan dosis) Hasil penelitian Profil Penyakit Lansia di 4 kota (Padang. Perubahan Fisik Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh. a. Sulit tidur (24. diantaranya sistem pernafasan.12 %). kardiovaskuler. .23 %). •Masalah kesehatan yang sering muncul Sakit tulang (69. sehingga pernafasan cepat dan dangkal. penglihatan.

2) Pendengaran a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) : Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam.2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret. e) Hilangnya daya akomodasi. 6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri. 2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir. b) Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang. g) Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala. b) Kemunduran dalam merasakan tekanan. Sistem persyarafan. a) Menurunnya kemampuan pengecap. 7) kemampuan batuk berkurang. Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia. hilangnya pendengaran. susah melihat dalam cahaya gelap. antara lain nada nada yang tinggi. b. b) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar. c. c) Terjadinya pengumpulan serumen. 1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku. 4) Berkurangnya penglihatan. d)Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut. . kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml. c) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa). a) Kemunduran dalam merasakan sakit. 4) Peraba. 5) Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin. sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi. Ù menyebabkan terganggunya prose difusi. 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun. mengecilnya syaraf pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin. 1) Penglihatan a) Kornea lebih berbentuk skeris. b) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis. terutama terhadap bunyi suara. 3) Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan. dapat mengeras karena meningkatnya kreatin. sulit mengerti kata kata. suara yang tidak jelas. sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan. b. F Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang. 3) Mengecilnya syaraf panca indera. 3) Pengecap dan penghidu. 4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²). 1) Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan. panas dan dingin.

e. 2) Indera pengecap menurun. 6) Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron. hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis. 6Daya sexual. reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna. Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus. Otot otot menjadi lemah. 4) Menurunnya aktivitas tiriod Ù BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat. berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) . asam & pahit. 2) Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah. asin. 4) Lambung. fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin. 1) Produksi hampir semua hormon menurun. penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %. 3) Esofagus melebar. Selaput menjadi kering. 3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah.2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. 1) Ginjal. 5) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi. rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ). 5) Vagina. 1) Kehilangan gigi. 5) Menurunnya produksi aldosteron. 2) Vesika urinaria / kandung kemih. BUN meningkat sampai 21 mg % . vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut. 7) Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism. 3) Pituitary. Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH. 4) Atropi vulva. d. c. estrogen. testosteron. . nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat. sekresi menjadi berkurang. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. waktu mengosongkan menurun. Mengecil dan nephron menjadi atropi. depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess). TSH. Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun. asam lambung menurun. Sistem endokrin / metabolik pada lansia. FSH dan LH. Sistem genito urinaria. 4) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal ± 170/95 mmHg ). elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus. perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ). penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk. Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi. aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %. 3) Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun. Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir. kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat. atropi indera pengecap (± 80 %).

Gerakan sekutu / Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas dan ketangkasan otot volunter. berkurangnya aliran darah. c) atropi payudara. Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik. 2). 7) Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ). 1) Tulang kehilangan densikusnya Ù rapuh. 7).Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun. 9). 1) Perubahan sistem reprduksi. d) testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur berangsur. 3) kyphosis. e) dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun. c. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual. sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi. Gerakan involunter / Gerakan diluar kemauan. Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa 3). Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual. 5) pada wanita lansia > resiko fraktur. b.6) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ). 4). 8). 1). Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. a) selaput lendir vagina menurun/kering. disini . Perubahan sistem kulit & karingan ikat. 6). 6) Pinggang. 5). 2) resiko terjadi fraktur. Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan. tidak sebagai reaksi terhadap suatu perangsangan terhadap lobus d. Sistem muskuloskeletal. Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak. 11). Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh. g. Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen. Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun. a. 7) Liver ( hati ). Gerakan volunter / gerakan berlawanan. 10). asal kondisi kesehatan baik. 2) Kegiatan sexual. f. Pertumbuhan rambut berhenti. 4) persendian besar & menjadi kaku. Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik. lutut & jari pergelangan tangan terbatas. b) menciutnya ovarium dan uterus.Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot. Gerakan reflektonik / Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan pada lobus. rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu.

penglihatan. Lingkungan f.1970). 2) berkurangnya penampilan. kemunduran orientasi. berjam-jam sampai berharihari yang lalu. Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial. 1. Mundurnya daya ingat. dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku seperti binatang dan 3) sosial. khususnya organ perasa.persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi perubahan pada daya membayangkan. Secara rohani Ù tertuju pada orang lain sebagai manusia. 1) kenangan jangka panjang. Keturunan (herediter) e. yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya. penurunan degenerasi sel sel otak. Perubahan Spiritual Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya (Maslow. Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan h. 2.kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik. perubahan fisik. 2) Kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit). kekakuan mungkin oleh karena faktor lain seperti penyakit-penyakit. 2) rohani. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili i. kesehatan umum c. Perubahan-perubahan mental/ psikologis Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah : a. karena tekanan-tekanan dari faktro waktu. 3. timbul kebutaan dan ketulian g. perubahan terhadap gambaran diri dan perubahan konsep diri Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang. 2. Pertama-tama perubahan fisik. Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi. sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi. 3. msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda. Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya. 5. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan. pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada fungsi mereka. Secara sosial Ù kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani sexualitas. seperti kemampuan berfikir dan gambaran diri. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan sexualitas dalam pengalaman sex. Intelegentia Quation. mencakup beberapa perubahan. b. Kenangan (memory) ada dua. kenangan buruk. Ttingkat pendidikan d. Gangguan saraf panca indra. Fungsi psikososial. Secara jasmani sikap sexual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses reproduksi. Gangguan halusinasi. 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal. hal ini terlihat dalam berpikir dan . Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik. 4.

Mendapatkan sinar matahari. (Murray dan Zentner. Tidak boleh memberikan harapan yang terlalu muluk. ruangan hangat. bebas dari bau-bauan. komunikasi jangan dilakukan secara terburu-buru atau terputus-putus. lingkungan psikologis dan lingkungan sosial. menasehati yang berlebihan tentang kondisi penyakitnya. Posisi pasien ditempat tidur harus diatur sedemikian rupa supaya mendapat ventilasi. Seperti juga hubungan komuniti dengan lingkungan sosial dugaannya selalu dibicarakan dalam hubungnya individu pasien yaitu lingkungan pasien secara menyeluruh tidak hanya meliputi lingkungan rumah atau lingkungan rumah sakit tetapi juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara khusus. Faktor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih yang selalu akan mempengaruhi pasien dimanapun dia berada didalam ruangan harus bebas dari debu. Lingkungan fisik (physical enviroment) Merupakan lingkungan dasar/alami yan berhubungan dengan ventilasi dan udara. . Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan stress fsiik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. jauh dari kebisingan dan bau limbah. Dengan demikian setiap perawat harus menggunakan kemampuan observasi dalam hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih dari sekedar data-data yang ditunjukkan pasien pada umumnya. pasien dipandang dalam kontek lingkungan secara keseluruhan. a. terdiri dari lingkungan fisik. d. makanan yang menarik dan aktivitas manual dapat merangsang semua faktor untuk membantu pasien dalam mempertahankan emosinya. asap. udara bersih. Lingkungan psikologi (psychologi enviroment) F. Lingkungan sosial (social environment) Observasi dari lingkungan sosial terutama huhbungan yang spesifik. bau-bauan. Hubungan teori Florence Nightingale dengan beberapa konsep Hubungan teori Florence Nightingale dengan konsep keperawatan : 1) Individu / manusia Memiliki kemampuan besar untuk perbaikan kondisinya dalam menghadapi penyakit.Tempat tidur pasien harus bersih. Tempat tidur harus mendapatkan penerangan yang cukup. sangat penting untuk pencegahan penyakit. Luas. b. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Selain itu membicarkan kondisi-kondisi lingkungan dimana dia berada atau cerita hal-hal yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik dapat memberikan rasa nyaman. Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya sebaiknya dilakukan dilingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan diluar lingkungan pasien atau jauh dari pendengaran pasien. Oleh karena itu ditekankan kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya.1970) Konsep Model Florence Nightingle Inti konsep Florence Nightingale. tidak lembab. kumpulan datadata yang spesifik dihubungkan dengan keadaan penyakit.bertindak dalam sehari-hari. tinggi penempatan tempat tidur harus memberikan memberikan keleluasaan pasien untuk beraktifitas. Komunikasi dengan pasien dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara menyeluruh. c.

e. Hubungan teori Florence Nightingale dengan proses keperawatan 1) Pengkajian / pengumpulan data Data pengkajian Florence N lebih menitik beratkan pada kondisi lingkungan (lingkungan fisik.2) Keperawatan Bertujuan membawa / mengantar individu pada kondisi terbaik untuk dapat melakukan kegiatan melalui upaya dasar untuk mempengaruhi lingkungan. f. sosial dan mental yang berkaitan dengan kondisi klien yang berhubungan dengan lingkungan keseluruhan. 6) Evaluasi Mengobservasi dampak perubahan lingkungan terhadap kesehatan individu. Hubungan teori Florence Nightingale dengan teori-teori lain : . ♣ Pengaruh stressor lingkungan terhadap efektivitas asuhan. suara dan cahaya. fokus pada ventilasi. 4) Masyarakaat / lingkungan Melibatkan kondisi eksternal yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan individu. suhu. perrtumbuhan dan perkembangan individu. 3) Sehat / sakit Fokus pada perbaikan untuk sehat. ♣ 5) Implementasi Upaya dasar merubah / mempengaruhi lingkungan yang memungkinkan terciptanya kondisi lingkungan yang baik yang mempengaruhi kehidupan. dll ♣ 4) Diagnosa keperawatan Berrbagai masalah klien yang berhubungan dengan lingkungan antara lain : Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap efektivitas asuhan. bau. psikis dan sosial). 2 Analisa data Data dikelompokkan berdasarkan lingkungan fisik. ♣ Penyesuaian terhadap lingkungan. 3) Masalah Difokuskan pada hubungan individu dengan lingkungan misalnya : Kurangnya informasi tentang kebersihan lingkungan ♣ Ventilasi ♣ Pembuangan sampah ♣ Pencemaran lingkungan ♣ Komunikasi sosial.

5. . 2) Teori kebutuhan Menurut Maslow pada dasarnya mengakui pada penekanan teori Florence N. Teri ini menyatakan bahwa lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut dalam banyak kegiatan sosial Ukuran optimum ( pola hidup ) dilanjutkan pada cara hidup dari lanjut usia Mempertahankan hubungan antara sistem sosial dan individu agar tetap stabil dari usia pertengahan ke lanjut usia b) Kepribadian berlanjut ( continuity theory ) Dasar kepribadian aatau tingkah laku tidak berubah pada lanjut usia. misalnya tempat yang gaduh.1) Teori adaptasi Adaptasi menunjukkan penyesuaian diri terhadap kekuatan yang melawannya. ventilasi dan kebutuhan lingkungan yang aman berhubungan dengan saluran yang baik dan air yang bersih.semuanya itu dipandang sebagai suatu stressor yang negatif. Berrhasil tidaknya respon adapatsi seseorang dapat dilihat dengan tinjauan lingkungan yang dijelaskan Florence N. Teori Kejiwaan sosial a) Aktifitas atau kegiatan ( activity theory ) Ketentuan akan meningkatnya pada penurunan jumlah secara langsung. Teori ini merupakan gabungan dari teori diatas. Jumlah dan lamanya stressor juga mempunyai pengaruh kuat pada kemampuan koping individu. Stress dapat mendorong individu untuk mengambil tindakan positip dalam mencapai keinginan atau kebutuhan. Stress juga dapat menyebabkan kelelahan jika stress begitu kuat sehingga individu tidak dapat mengatasi. membangunkan pasien dengan tiba-tiba. . Florence N. sebagai contoh kebutuhan oksigen dapat dipandang sebagai udara segar. Kemampuan diri sendiri yang alami dapat bertindak sebagai pengaruh dari lingkungannya berperanpenting pada setiap individu dalam berespon adaptif atau mal adaptif. Stress dapat positip atau negatip tergantung pada hasil akhir. Kekuatan dipandang dalam konteks lingkungan menyeluruh yang ada pada dirinya sendiri. menekankan penempatan pasien dalam lingkungan yang optimum sehingga akan menimumkan efek stressor. Pada teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi oleh tipe personality yang dimiliki. yang harus ditangani. 3) Teori stress Stress meliputi suatu ancaman atau suatu perubahan dalam lingkungan. Teori kebutuhan menekankan bagaimana hubungan kebutuhan yang berhubungan dengan kemampuan manusia dalam mempertahankan hidupnya.

Terjadinya Infeksi Masa Nifas .Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi enam jam. kelelahan dan ibu hamil dengan penyakit infeksi. Infeksi Lokal 1. Kesadaran gelisah sampai menurun dan koma.Tindakan operasi persalinan. Temperatur badan dapat meningkat. 3. yaitu perdarahan antepartum dan post partum.Persalinan berlangsung lama sampai terjadi persalinan terlantar. Temperatur meningkat diatas 39 oC. Infeksi General 1. 7. Terjadi gangguan involusi uterus.c) Teori Pembebasan ( Disengagement theory ) Teori ini menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia.5 oC yang bukan merupakan keadaan patologis atau menyimpang pada hari pertama. Keadaan ini mengakibatkan interksi sosial lanjut usia menurun. Faktor Predisposisi Infeksi Masa Nifas Faktor predisposisi infeksi masa nifas diantaranya adalah : 1. 2. Perlukaan karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman kedalam tubuh. Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat. 5. 4. Perubahan warna lokal. Pengeluaran lochia bercampur nanah. bernanah serta kotor.Tertinggalnya plasenta selaput ketuban dan bekuan darah. 3. 3. Mobilisasi terbatas karena rasa nyeri. Pernapasan dapat meningkat dan napas terasa sesak. 6. 2. baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering terjadi kehilangan ganda ( tripel loss ). 2. seseorang secara bengangsur-angsur mulai melepaskan diri dari kehidupan sosialnya. sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas. malnutrisi. yakni 1) kehilangan peran 2) hambatan kontak sosial 3) berkurangnya kontak komitmen Tanda-Tanda Bahaya Kala Nifas Infeksi Masa Nifas Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin meningkatnya pembentukkan urin untuk mengurangi hemodilusi darah. 5. anemia pada saat kehamilan.Keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum. Gambaran klinis infeksi umum dapat dalam bentuk : 1. Pembengkakan luka episiotomi. 6. terjadi penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga terjadi peningkatan suhu badan sekitar 0. 4. 2. 5. Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genitalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 38 oC tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama dua hari. 4. Terjadi penanahan. Lochia : berbau. Tampak sakit dan lemah.

Pendarahan masa nifas sekunder. Penyebab terjadinya sub involusi uteri adalah terjadinya infeksi pada endometrium. terdapat sisa plasenta dan selaputnya. terdapat bekuan darah. Terjadi pembengkakan pada tungkai. Keadaan abnormal pada psikologis 1Psikologi Pada Masa Nifas Perubahan emosi selama masa nifas memiliki berbagai bentuk dan variasi. Tampak bendungan pembuluh darah. 2. Terasa sangat nyeri. 3.Sudah terdapat infeksi intrapartum: persalinan lama terlantar. ibu nifas berada pada puncak kegelisahan setelah melahirkan karena rasa sakit pada saat melahirkan sangat terasa yang berakibat ibu sulit beristirahat. Pada 0 – 3 hari setelah melahirkan. Keadaan abnormal pada rahim Beberapa keadaan abnormal pada rahim adalah : 1. Keluhan mamae bengkak. 4. biasanya disebut dengan 3th day blues. Proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya. alat yang dipakai kurang suci hama. 2. Bendungan ASI Disebabkan oleh penyumbatan pada saluran ASI. Penyebabnya adalah terjadinya infeksi pada endometrium dan terdapat sisa plasenta dan selaputnya. 3. atau mioma uteri. Postnatal blues biasanya muncul. Pada 3 -10 hari setelah melahirkan. dan terasa panas sampai suhu badan meningkat. Tapi pada kenyataanya berdasarkan riset yang dilakukan paling banyak muncul pada hari ke lima. 2.Hubungan seks menjelang persalinan. 3. Gejala kliniknya adalah : 1.Terjadinya infeksi masa nifas adalah sebagai berikut: 1. Adalah pendarahan yang terjadi pada 24 jam pertama. Berwarna putih. 4. Keadaan abnormal pada payudara Beberapa keadaan abnormal yang mungkin terjadi adalah : 1. Flegmansia alba dolens. Postnatal blues adalah suatu kondisi dimana ibu memiliki perasaan khawatir yang berlebihan terhadap . nyeri lokal pada mamae. 5Temperatur badan dapat meningkat. Kondisi ini akan berangsur-angsur normal sampai pada minggu ke 12 setelah melahirkan. sehingga proses pengecilan rahim terhambat. sehingga ibu mengalami kekurangan istirahat pada siang hari dan sulit tidur dimalam hari. pemadatan mamae dan terjadi perubahan warna kulit mamae. Sub involusi uteri. Mastitis dan Abses Mamae Infeksi ini menimbulkan demam. Merupakan salah satu bentuk infeksi puerpuralis yang mengenai pembuluh darah vena femoralis.Infeksi yang didapat di rumah sakit (nosokomial). ketuban pecah lebih dari enam jam.Manipulasi penolong: terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam. 2. terdapat pusat infeksi dalam tubuh (lokal infeki). keras.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan menunjukan faktor-faktor penyebab depresi adalah terhambatnya karir ibu karena harus melahirkan. kesejahteraan para lansia di Jatim dinilai masih kurang. Dengan adanya Perda. Depresi Pada Masa Nifas Riset menunjukan 10% ibu mengalami depresi setelah melahirkan dan 10%nya saja yang tidak mengalami perubahan emosi. terutama pada ibu primipara. mulai dari mengatur tentang pelanggaran hingga ke penindakan.” paparnya. Soerjadi Tjokrosoewito.” kata Ketua Yayasan Gerontologi Abiyoso (YGA) Propinsi Jatim Trimarjono. ia sangat mengharapkan pemerintah Kabupaten/Kota segera mengadopsi perda lansia ini yang sudah disahkan DPRD Jatim. misalnya perhatian dari anggota keluarga terdekat. kelompok. Surabaya. Jumlah lansia di Jatim tahun 2006. kondisi ibu mulai membaik dan menuju pada tahap normal. LSM ataupun pemerintah. mengemukakn petunjuk teknis pelaksanaan dari perda itu akan diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub). Selasa (31/7). 2/8/2007 (Kominfo-Newsroom) . akibat kurangnya perhatian dari semua pihak yang terkait. “Perda tersebut merupakan payung hukum bagi lansia di Jatim dalam memperoleh kesejahteraan hidupnya. Rabu (1/8). para lansia yang tidak mendapatkan perhatian dapat . Pada 1 – 12 minggu setelah melahirkan. 2. Petunjuk teknis dari perda tersebut. sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim. Keadaan ini berlangsung antara 3-6 bulan bahkan pada beberapa kasus terjadi selama 1 tahun pertama kehidupan bayi. untuk memastikan kesejahateraan kehidupan para lansia di Jatim dapat terjamin dan terpenuhi. tercatat sebanyak 3. Perda tersebut sudah disahkan dan kini tinggal menunggu teknis pelaksanaan di lapangan. kurangnya perhatian orangorang terdekat terutama suami dan perubahan struktur keluarga karena hadirnya bayi. sehingga dengan adanya perda lansia ini diharapkan mereka mendapatkan payung hukum dalam memperoleh kesejahteraan. ”Tentang siapa yang berhak menindak apabila ditemukan ada yang melanggar perda lansia. itu akan disebutkan pada pergub. mengatur mekanisme dan sistem pelaksanaannya.94 juta orang dan dari jumlah itu sekitar 20 persen diantaranya belum mendapatkan perhatian baik dari peroarangan.Yayasan Gerontologi Abiyoso (YGA) Propinsi Jatim siap memantau penerapan peraturan daerah (Perda) Lanjut Usia (Lansia) Propinsi Jatim. Semakin baik perhatian yang diberikan maka semakin cepat emosi ibu kembali pada keadaan normal. Karenanya. Selama ini. Pengembalian kondisi ibu ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya.kondisinya dan kondisi bayinya sehingga ibu mudah panik dengan sedikit saja perubahan pada kondisi dirinya atau bayinya. Penyebab depresi terjadi karena reaksi terhadap rasa sakit yang muncul saat melahirkan dan karena sebab-sebab yang kompleks lainnya. ditemui di kantornya Surabaya. Sementara Wakil Ketua IV YGA Prop Jatim.

( www. keberadaannya tinggal di perkotaan. pengobatan penyakit (curative). perilaku. Perkembangan ilmu ini tidak dapat dipisahkan dari kemajuan ilmu dan teknologi.go. sosial.Umur harapan hidup (life expectancy) pada saat itu akan berada di atas usia . Ilmu pengetahuan dan teknologi masih ditantang untuk menerangkan penyebab orang menjadi tua. Dengan mengembangkan kerangka model seperti di atas. Sedangkan rata-rata lansia di tiap Kecamatan terbanyak terdapat di Kota Malang.mengadukan kepada pihak terkait agar dapat segera ditindak tegas sesuai kebijakan perda lansia yang sudah terbentuk ini. January 22. dan pemulihan kesehatan (rehabilitation). jumlah lansia di Jatim sebanyak 3. Tujuan geriatri / gerontologi adalah mewujudkan healthy aging tersebut dengan jalan melaksanakan P4 di bidang kesehatan. PENDAHULUAN Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa seringkali dilihat dari umur harapan hidup penduduknya. jelaslah peranan dan sasaran kerja promosi dan prevensi di bidang geriatri. ekonomi.id/hsn/toeb) Thursday. diproyeksikan angka harapan hidupnya dapat mencapai lebih dari 70 tahun pada tahun 2020 yang akan datang.94 juta orang terdiri dari laki-laki 1. Masalah lanjut usia akan dihadapi oleh setiap insan dan akan berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks karena : 1.75 juta orang dan perempuan 2. karena sampai setengah abad yang lalu ilmu ini memang belum dikenal. lingkungan dan lain-lain. Banyak teori yang diajukan dan belum dapat memuaskan semua pihak. dengan perkembangannya yang cukup baik. Kebanyakan dari mereka yang tidak mendapatkan perhatian itu berdomisili di pedesaan yaitu sekitar 76% dan sisanya. Demikian juga Indonesia sebagai suatu negara berkembang. Tujuan hidup manusia adalah menjadi tua tapi tetap sehat (healthy aging). Yang jelas ialah bahwa proses menua merupakan kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan. Kota Madiun. hukum. Kota Malang. Menua merupakan suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki / mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides. 1994). Hal ini semua merupakan gambaran yang terjadi pada seluruh negara di dunia berkat adanya kemajuan teknologi dan kondisi sosio-ekonomi yang dialaminya. pencegahan penyakit (preventive). 2009 SEJARAH DAN PERKEMBANGAN GERONTOLOGI I. Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari segala aspek yang berhubungan dengan masalah lanjut usia atau dapat pula diartikan sebagai suatu pendekatan ilmiah dari berbagai aspek proses penuaan ditinjau dari segi kesehatan.18 juta orang. Kab Malang. dan Kab Jember.d-infokom-jatim. Sedangkan terbayak jumlah lansia di desa-desa atau kelurahan berada di Kota Surabaya. yaitu peningkatan mutu kesehatan (promotion). Kota Kediri. Kota Batu. dan Kab Madiun. Sementara berdasar data YGA.

Permasalahan potensial yang akan terjadi tidak hanya ditimbulkan oleh faktor kependudukan.Setiap keluarga pada saat itu rata-rata akan mempunyai 2 orang anak. sehingga populasi lanjut usia di Indonesia tidak saja akan melebihi jumlah balita tetapi dapat menduduki peringkat ke-empat di dunia setelah RRC. psikologis dan perilaku. pembinaan. ilmu geriatri praktis mempelajari aspek kedokteran klinis dan tidak terlampau banyak membicarakan aspek preventif Anthropo-gerontology. pelayanan serta jaringan kerjasama tingkat lokal. Para lansia akan menghadapi kedaan dimana semua anak mereka harus bekerja dan berkarier. kelompok yang melayani lansia umumnya terdiri dari para wanita. kurangnya ketrampilan yang dimiliki dibandingkan dengan kelompok pria dan ketidakberdayaan. berkembangnya ilmu kesehatan lingkungan serta keberhasilan program keluarga berencana menyebabkan meningkatnya angka harapan hidup dan tentunya dibarengi konsekuensi lainnya yang lebih kompleks. sosial budaya. akan tetapi juga disebabkan oleh faktor biologis. Perkembangan ilmu kesehatan yang berkaitan dengan lansia juga tumbuh lebih cepat. karena penyakit lanjut usia memiliki karakteristik tertentu yang jarang didapatkan pada masa anak dan dewasa muda. Di lain pihak. karena jumlah lansia wanita akan melebihi jumlah prianya (karena umur harapan hidup wanita memang lebih tinggi). Sementara itu. dan lain sebagainya. 3. perawatan. regional. Terberantasnya penyakit infeksi yang disebabkan kuman dan parasit. Terbatasnya aksebilitas lansia sehingga mobilitas menjadi sangat terbatas.Sistem pensiun atau tunjangan kesehatan yang memadai sampai saat ini masih belum dipikirkan secara mendasar. kuratif dan rehabilitatif. padahal angka kesakitan dan kemiskinan pada lanjut usia tentunya akan meningkat. Terbatasnya kemampuan dalam memanfaatkan dan mendayagunakan sumbersumber yang ada. kesehatan. ekonomi. 2. . Norma masyarakat juga akan bergeser dan mengarah pada kehidupan yang egosentris. sedangkan kelompok wanita tua lebih bercirikan kekurangmampuan/ kemiskinan. India dan Amerika Serikat. Masalah gender akan berkembang menjadi topik besar. nasional. Semua pihak hendaknya mengantisipasi hal ini dan mempersiapkan diri menghadapi permasalahan yang sangat kompleks yang akan timbul. Sehingga muncul pertanyaan : siapakah yang dapat diharapkan dan mau menjadi care provider bagi mereka? Masalah globalisasi akan menuntut perkembangan keluarga yang tadinya berintikan nilai tradisional / keluarga guyub beralih dan cenderung berkembang menjadi keluarga individual / patembayan. hukum dan etika. Masalah lainnya pun berkembang cepat sehingga sampai saat ini dikenal berbagai cabang ilmu seperti : Proses biologik pada usia lanjut Socio-gerontology Psycho-gerontology Medical-gerontology yang mencakup aspek preventif.70 tahun. Terbatasnya hubungan dan komunikasi lanjut usia dan lingkungannya dan penurunan kesempatan dan produktivitas kerja.

bahkan global. dimana jumlah lansia dengan permasalahannya akan jauh lebih besar. lebih serius dan lebih kompleks. Lalu berkembang suatu masa dimana sejak perang dunia kedua. Demografi Lanjut Usia Transisi Demografi Pada pertemuan di Madrid. Pada saat itulah WHO mengatakan bahwa milenium ini ditandai dengan apa yang disebut dengan gerontological shift. Dengan demikian iklim yang tercipta perlu dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya oleh seluruh pihak yang berkiprah dalam pembangunan lanjut usia. jadi dalam keluarga tersebut bisa memiliki 10 orang anak bahkan lebih sehingga jumlah penduduk menjadi tidak terkontrol. Di Indonesia gerakan family planning program ternyata cukup berhasil. Beberapa produk hukum telah dikembangkan dan yang terbaru adalah UndangUndang Republik Indonesia nomor 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia. ii. Di Indonesia. Saat itulah terjadi suatu gerakan dunia untuk mengingatkan agar jangan sampai dunia mengalami kekurangan pangan bagi penduduk-penduduk baru dan diproklamirkan suatu gerakan berencana internasional yang disebut family planning program. yaitu membuat lansia dan keluarganya sejahtera. Ada negaranegara yang mempunyai jumlah lansia diatas 10% dan disebut dengan Aging Populated Countries. Keberhasilan pembangunan akan meningkatkan derajat kesehatan . oleh sebab itu sejak 60 tahun yang lalu ada paradigma kesehatan baru yang disebut dengan epidemiological shift.5% dari jumlah total penduduk dan dalam waktu 20 tahun lagi jumlah lansia Indonesia akan melebihi balita. Produk hukum tersebut dapat dijadikan pedoman guna memperbaiki kinerja para pelaksana sehingga diperoleh kegiatan yang lebih terarah. Karena itu diperlukan suatu program-program yang lebih terarah dan hanya bisa dimulai bila institusi-institusi mulai memberikan perhatian. Setelah Ilmu Kesehatan Masyarakat dikembangkan. kekurangan gizi dan menurunnya status kesehatan lingkungan sehingga umur harapan hidup sangat rendah. Belum lagi sering terjadi saling mempengaruhi antar berbagai faktor yang disebutkan tadi. Seperti diketahui bahwa Indonesia saat ini sedang berada dalam transisi demografi dengan persentasi lansia diproyeksikan menjadi 11.34% pada tahun 2020. Pada akhir abad yang lalu disinyalir umur lansia semakin banyak. dimana hampir semua Negara-negara di seluruh dunia tercekam oleh penyakitpenyakit menular. Maka kira-kira 30 tahun lalu terjadi suatu pergeseran baru dalam kesehatan yang disebut dengan demographical shift. terpadu. maka penyakit-penyakit tadi dapat ditekan. kini populasi lansia rata-rata 7. hampir semua penduduk dunia berkembang biak dengan jumlah anak-anak kecil yang dilahirkan tanpa suatu program khusus. efektif dan efisien dengan tujuan akhirnya. Dan diharapkan lembaga-lembaga lainnya akan turut berperan serta dalam usaha ini. WHO mengungkapkan bahwa semasa abad yang lalu telah terjadi perubahan-perubahan besar sebelum perang dunia pertama.

Salah satu diantaranya adalah meningkatnya usia harapan hidup dari 45. mental. karena kaum muda secara lebih dinamis mengikuti kemajuan teknologi canggih. Pada saat inilah timbul tekanan pada generasi muda (generation pressure) yang lebih berbahaya dari keadaan tahap I. tetap tertinggal dan membiarkan kaum muda berjalan terus. timbul regenerasi yang bisa membawa akibat negatif. Makin lanjut usia seseorang. Keadaan ini belum berbahaya. Tahap II Karena makin tebalnya lapisan lansia dan makin meningkatnya tingkat kesehatan. Piramida penduduk Indonesia berubah bentuk dengan basis lebar (fertilitas tinggi) menjadi piramida berbentuk bawang yang menunjukan rendahnya fertilitas dan mortalitas. namun penyakit-penyakit anak dan balita masih juga belum diselesaikan (beban ganda). kuratif dan rehabilitatif agar para lanjut usia tetap dapat mandiri dan tidak menjadi beban bagi dirinya maupun keluarga dan masyarakat. preventif. dengan kata lain perhatian dan prioritas untuk penyakit-penyakit dewasa dan lanjut usia akan lebih dibutuhkan.5%) dan pada tahun 2010 akan melebihi jumlah balita.penduduk yang ditandai dengan menurunnya tingkat kelahiran dan kematian serta diikuti oleh semakin luasnya cakupan dan meningkatnya mutu pelayanan kesehatan dan gizi rakyat telah mendorong terjadinya pergeseran berbagai paramater demografi ke arah yang lebih baik. makin banyak ia mengalami permasalahan terutama fisik.3 tahun pada tahun 1992. Perubahan struktur ini juga akan mempengaruhi rasio ketergantungan (Dependency Ratio). Salah satu konsekuensinya yang perlu diantisipasi sejak dini adalah meningkatnya baik jumlah maupun persentasi penduduk lansia. spiritual. Proses ini berlangsung beberapa tahap.mereka pun masih mampu mengimbangi kaum muda dan menghendaki tetap pada jabatannya. Pada tahun 1990 penduduk berusia 60 tahun ke atas sudah mencapai 11. Secara alami proses manjadi tua menyebabkan para lansia mengalami kemunduran fisik dan mental. sehingga tidak mau digeser. Diproyeksikan usia harapan hidup penduduk Indonesia akan semakin meningkat. Dengan kata lain.7 tahun pada tahun 1968 menjadi 61. antara lain : Tahap I Timbul kesenjangan antar generasi (generation gap). Keadaan ini mempunyai implikasi yang besar pada kebijakan makro di berbagai sektor pembangunan.4 % dari jumlah penduduk dan akan terus meningkat.3 juta atau 6. Tahapan Indonesia saat ini adalah tahap I dan mulai memasuki tahap II dengan timbulnya isu peningkatan usia pensiun. ekonomi dan sosial sehingga diperlukan upaya khusus yang bersifat promotif. dan sebaliknya kaum muda menjadi relatif lebih sedikit. Struktur masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat / populasi “muda” (1971) enjadi populasi yang lebih “tua” pada tahun 2020. Dengan demikian lapisan kaum lansia dalam struktur demografi Indonesia menjadi makin tebal. sedangkan kaum lansia acuh. . Pada tahun 2005 jumlah lanjut usia diramalkan akan menjadi 19 juta (8. Pergeseran ini menuntut perubahan dalam strategi pelayanan kesehatan. Kebijakan makro pun akan banyak mengalami pergeseran.

maka justru disini perlu adanya apa yang disebut “day care center” atau “day hospital” untuk pengawasan. Para lansia tersebut pada sore / malam hari dapat dijemput pulang ke rumah kembali. maka antara lain harus dilaksanakan hal-hal sebagai berikut : 1. Seorang nenek atau kakek haruslah sendirian di rumah. Pada era industrialisasi.baik suami maupun istri harus bekerja. Ini merupakan keadaan yang berbahaya. bahwa dengan adanya industrialisasi maka penggunaan teknologi modern dapat lebih dimanfaatkan demi peningkatan derajat hidup. rehabilitasi dan lain sebagainya. pada tahun 1975 telah meningkat menjadi 8. Di Indonesia hal ini praktis belum dikembangkan. 1974). Indeks Penuaan (The Ageing Index) . urbanisasi juga terjadi. Indikator Demografi Berbagai indikator demografi yang lazim dipakai adalah sebagai berikut : 1. Masalah akan timbul bila mereka sudah lemah dan sakit-sakitan.3% pada tahun 2000. sedangkan generasi muda bereaksi dan melawan tekanan-tekanan tersebut sehingga timbul konflik yang berkepanjangan dan sulit diatasi dengan segera. tetapi bila tidak diawasi dengan baik juga dapat memberi dampak negatif terhadap golongan penduduk berusia lanjut. Bila tidak. menciptakan lapangan kerja/kegiatan bagi lanjut usia yang tidak bertentangan dengan kebutuhan kaum muda. Dengan adanya industrialisasi. sehingga menambah kepadatan penduduk kota dan segala macam problemanya. sehingga memerlukan pengaturan dan pengawasan yang baik. Pengaruh Proses Industrialisasi Di negara-negara maju ternyata kualitas hidup dapat ditingkatkan dengan cepat berkat industrialisasi. maka polusi ini akan berpengaruh buruk pada lingkungannya dan terutama yang akan terkena lebih dahulu dampaknya ialah anak-anak dan orang lanjut usia (WHO.6% dan menjadi 14. Selain itu industrialisasi juga membawa pikiran-pikiran yang lebih materialistik dan dapat mendesak budaya tradisional yang baik. sedangkan anak-anak harus bersekolah.3%. yang secara langsung atau tak langsung akan mempengaruhi perkembangan geriatri (gerontologi) pada umumnya. Dengan kata lain. Untuk mencegah proses regenerasi menuju keadaan yang berbahaya.Tahap III Adalah yang paling berbahaya. Jadi perkembangan industri disini bisa berpengaruh positif. Dalam keadaan ini para lansia yang jumlahnya makin banyak merasa makin kuat dan terus-menerus menekan generasi di bawahnya. menyelenggarakan program pensiun secara terpadu dan merata 2. ditandai dengan timbulnya konflik anyar generasi (generation conflict). Hal ini umpamanya terjadi di Jepang yang pada tahun 1955 masih mempunyai persentase orang-orang usia lanjut sebesar 5. Tetapi perkembangan industri membawa serta pula kontaminasi lingkungan dan gangguan kelestarian lingkungan hidup.

iii. Besar dan Proporsi Penduduk Lanjut Usia ( The Relative Weight of Elderly) Angka 10% merupakan tanda transisi struktur penduduk muda ke arah tua. biokimia dan morfologi seluler yang terjadi. Angka Ketergantungan Penduduk Lanjut Usia ( The Aged Dependency Ratio) Jumlah penduduk lanjut usia terhadap 100 penduduk usia kerja yang berusia 15-59 tahun. Usia Median (Median Age) Membagi sama penduduk usia muda dan tua. Grup pertama menjelaskan bahwa proses menua terjadi karena adanya fenomena “wear and tear”. Ketika itu studi yang telah bersifat sistematik menjelaskan perubahan yang terjadi pada proses menua. Sejarah Gerontologi Studi mengenai proses penuaan telah dikenal jauh dalam sejarah. Sebagai contoh. 5. Secara kronologis. dibawah ini akan dijabarkan perkembangan gerontologi . Dalam sebuah literatur kuno. Tujuannya adalah untuk memperpanjang umur harapan hidup manusia. Di USA terutama pada tahun 1940. Secara garis besar. Dia berdiskusi mengenai umur harapan hidup. 2. Francis Bacon menulis sebuah tulisan berjudul “History of Life and Death”.Wanita (The Sex Composition of the Elderly Population) 6. Pada tahun 1939 edisi pertama dari “Problems of Aging” yang ditulis oleh Cowdry menandai awal era modern dalam penelitian seputar masalah penuaan. 3. Penuaan Penduduk Tua ( The Ageing of the Elderly Population) Proporsi penduduk lansia diatas 75 tahun dibanding lanjut usia diatas. banyak studi yang difokuskan seputar masalah panjang umur. sinar kosmis. Periode Gerontologi modern dimulai sekitar tahun 1950. gravitasi dan lain-lain. dan umur maksimal dari berbagai spesies. pada tahun 1908. Pada zaman Renaissance. 4. Sebuah monograf yang ditulis oleh Joseph Freeman menampilkan sebuah kilas balik yang menakjubkan yang beisi catatan sejarah mengenai riset seputar masalah penuaan yang dilakukan lebih dari 2500 tahun yang lalu. Elie Metchnikoff menerima penghargaan nobel atas kontribusinya yang sangat besar dalam bidang biologi dan penelitian tentang penuaan. Ia memperkenalkan konsep bahwa proses penuaan disebabkan absorpsi toksin yang berasal dari bakteri usus. teori penuaan.Rasio penduduk lanjut usia terhadap penduduk usia kurang dari 15 tahun. Era modern dalam riset mengenai masalah penuaan terjadi pada abad ke-20. Komposisi Penduduk Lanjut Usia Pria . sebagai contoh misalnya toksin. Beberapa penelitian pada zaman itu telah memperkenalkan kita pada teori-teori penuaan. teori penuaan dapat dibagi menjadi 2 grup utama. Kemudian Galen dan Roger Bacon turut memberikan kontribusi berupa literatur-literatur yang topiknya seputar masalah penuaan. Kelompok lainnya berpendapat bahwa penuaan dipengaruhi oleh lingkungan. ditinjau secara fisiologi. tercantum bahwa Aristoteles mengajukan pertanyaanpertanyaan seputar proses menua.

4 tahun 1965 tentang Pemberian Bantuan Bagi Orang Jompo. hubungan dengan instansi pemerintah maupun LSM lain mulai digarap. PWRI maupun . para pakar dapat menemukan wadah dalam menyalurkan pendapat dan aspirasinya. 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial dan Undang-undang No. Terbentuknya PERGERI (1984) Beberapa tokoh masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Pra WAA II World Assembly on Ageing (1982) Sejak PBB menggelar World Assembly on Ageing pada tahun 1982 di Wina dan mengingatkan semua negara bahwa masalah lanjut usia akan menjadi masalah besar. 4 tahun 1965 tetapi juga pelayanan kesejahteraan lanjut usia dalam arti luas. diantaranya Undang-undang No. Kurun Waktu 1965-1974 Kesejahteraan sosial lanjut usia selama kurun waktu 1965-1974 dilaksanakan berdasarkan berdasarkan ketentuan Undang-undang No. UN-ESCAP (united Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific) perwakilan PBB untuk regio Asia Pasifik.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sejahtera. Demikian pula di tingkat regional. Dengan didirikannya PERGERI yang diakui sebagai satu-satunya organisasi yang mewakili Indonesia dalam International Association of Gerontology / IAG. Kemudian didirikannya Perhimpunan Gerontologi Indonesia (PERGERI) pada tahun 1984 yang merupakan salah satu organisasi tertua di Indonesia yang mulai merintis dan melangkah di bidang ini. juga menampung beberapa anggota masyarakat baik dari PERGERI. Dengan adanya aktivitas PERGERI saat itu. Setelah tahun 1974 telah dikeluarkan perundang-undangan lannya yang materinya terkait dengan kesejahteraan sosial lanjut usia baik secara langsung maupun tak langsung.khususnya di Indonesia dan kongres atau pertemuan internasional yang memberi pengaruh pada perkembangan gerontologi di Indonesia.Dengan meningkatnya lanjut usia dituntut adanya upaya yang lebih proporsional dalam meningkatkan kesejahteraan lanjut usia yang tidak saja kesejahteraan sosial sebagaimana diamanatkan dalam UU No. Universitas Indonesia dan Universitas Trisakti menggelar simposium yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan masalah tersebut dan berupaya memecahkan problema yang kompleks tersebut. beberapa peserta yang berasal dari Indonesia telah mengambil prakarsa di bidang ini dan sesampainya di Indonesia mulai menyebarkan informasi seluas mungkin seputar permasalahan lanjut usia. sehingga saat ini nama PERGERI mulai dikenal baik di lingkungan pemerintahan maupun dalam kalangan ilmu pengetahuan. dan suuatu saat PERGERI juga diakui sebagai anggota Forum Organisasi Profersi di Indonesia / FOPI. Pencanangan Hari Lanjut Usia Nasional (1996) Melalui melalui berbagai pendekatan terbentuklah suatu Kelompok Kerja Tetap di lingkup Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat yang selain mengkoordinasikan beberapa kementrerian / departemen yang terkait.

Tugas LKLU : memberikan sumbangan. Peraturan perundang-undangan diperlukan untuk memberi hak fundamental kepada Lanjut Usia sebagai imbalan dari perjuangan mereka setelah bertahun-tahun mengabdi masyarakat. 15/KEP/MENKO/KESRA/IX/1994.wakil cerdik pandai dari kalangan universitas dan di dalam kerjasamanya mereka menghasilkan beberapa butir kesepakatan. telah dibentuk Panitia Nasional Pelembagaan Lanjut Usia dalam Kehidupan Bangsa. 3. Diperingatinya Hari Lanjut Usia secara rutin diharapkan akan membantu meresapkan ke dalam budaya kita bahwa masalah lanjut usia adalah masalah nasional yang tidak bisa dihindarkan oleh siapa pun dan menyangkut semua pihak. Ternyata perkembangan menjadi lebih cepat sehingga pada tahun 1998 itu pun telah dicantumkan dalam “GBHN” baru yang disahkan pada bulan Maret 1998 dan sebelum demisioner. 2. Menteri Sosial Dra. Melalui Surat Keputusan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat No. antara lain : 1. bukan dikasihani. agar nyata bahwa mereka dihargai dan dihormati. Panitia Nasional tersebut antara lain bertugas mempersiapkan bahan untuk mendukung terlaksananya pencanangan Hari Lanjut Usia Nasional oleh presiden. pemikiran dan masukan kepada pemerintah untuk perumusan dan penetapan kebijaksanaan upaya pelembagaan lanjut usia dalam kehidupan bangsa. Musyawarah Nasional II PERGERI dan cikal bakal berdirinya LKLU (1997) Selanjutnya kegiatan terus bergulir sampai PERGERI menyelenggarakan musyawarah nasionalnya yang kedua pada bulan Desember tahun 1997.Agar Indonesia juga memutuskan ditentukannya Hari Lanjut Usia Nasional. yang tanggal-tanggalnya sudah disesuaikan pada pemerintah sebagai alternatif.Agar Indonesia memiliki kelompok kerja / team-work yang secara konsisten memikirkan masalah kesejahteraan lansia di Indonesia.Agar Indonesia juga setiap tahun dapat menyelenggarakan kegiatan yang dapat dikordinasikan dengan departemen terkait secara bergilir. Inten Suweno masih sempat mengukuhkan didirikannya Lembaga Kesejahteraan Lanjut Usia / LKLU (dikukuhkan pada tanggal 24 Februari 1998). dan mempunyai tema khusus bagi lanjut usia di Indonesia. Merumuskan kebijaksanaan dan menetapkan pedoman umum baik yang . Suatu saat diputuskan bahwa Indonesia memang layak mempunyai Hari Lanjut Usia Nasional yang dicanangkan oleh presiden pada tanggal 29 Mei 1996 di Semarang. Untuk itu dipergunakan adanya pola umum agar upaya pelembagaan lanjut usia dalam kehidupan bangsa yang menyangkut berbagai sektor mengacu pada pedoman yang sama. Fungsi LKLU : 1. menyiapkan konsepkonsep dasar untuk bahan penyusunan rancangan peraturan perundangundangan yang mendukung kehidupan bagi lanjut usia dalam tatanan pembangunan nasional dan menyiapkan pola umum dan standar-standar yang berkaitan dengan pelembagaan lansia dalam kehidupan bangsa. dimana menteri sosial saat itu mengisyaratkan agar PERGERI mengambil prakarsa untuk membentuk Badan Nasional untuk dijadikan counter part pemerintah yang nantinya menjadi cikal bakal National Council on Ageing.

Penetapan Hari Kebangkitan Lansia RI (2000) Di Indonesia telah ditetapkan hari Kebangkitan Lansia RI yaitu pada 20 Mei . dalam rangka keterpaduan perumusan dan penetapan kebijaksanaan. Peringatan dan Acara Tahun Lanjut Usia Internasional ini akan berlangsung sampai akhir Desember 1999. UN-ESCAP (United Nations Economic and Social Commission For Asia and the Pacific) berhasil mencetuskan deklarasi Macao tentang lanjut usia di Asia dan Pasifik. LSM. Menyelenggarakan koordinasi dengan berbagai instansi terkait. Pencetusan Deklarasi Macao oleh UN-ESCAP (1998) Di kawasan Asia Pasifik. Upaya yang telah dirintis selama ini akan bermuara pada satu tujuan utama yaitu tindakan preventif maupun promotif agar lanjut usia masih dapat tetap produktif.Older Person and the Market (lanjut usia sebagai konsumen) 4. Untuk itu dibutuhkan sarana infrastruktur yang baru dalam menghadapi kebutuhan sosial. UN-ESCAP berhasil meyakinkan pemerintah di daerah Asia Pasifik bahwa masalah lanjut usia merupakan masalah aktual yang harus diselesaikan secara bersamaan. Untuk itu.Health and Nutrition (masalah kesehatan dan gizi) Housing and Transportation (masalah perumahan dan transportasi) 3.Older Persons and the Family (kedudukan lanjut usia dalam keluarga) 2. 28 September .1 Oktober 1998. juga diselenggarakan pertemuan satu hari penuh yang diprakarsai oleh NGO Comittee on Ageing dan bekerjasama dengan UN programme on Ageing serta UN Departement of Public Information. finansial serta emosional bagi penduduk yang sedang mengalami pergeseran demografik tersebut. Dalam kesempatan itu. medik. 2. 3.Income Security. yakni: Social Position of Older Persons (kedudukan lanjut usia dalam masyarakat) : 1.Social Service and the Community (pelayanan sosial dan masyarakat) Dalam memperingati Hari Lanjut Usia Internasional pada tanggal 1 Oktober 1998. tenaga dan aspirasinya secara tepat demi kemajuan/perkembangan sosioekonomi negara masing-masing. pemeliharaan serta penyaluran kegiatannya) 5. Melakukan pemasyarakatan. maintenance an Employment (jaminan hari tua / jaminan sosial. selain tema yang dikumandangkan berjudul “Towards A Society Of All Ages” di markas PBB di New York. Deklarasi dicetuskan pada akhir Regional Meeting On A Plan Of Action On Ageing For Asia And The Pacific yang diselanggarakan di Macao . Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan telah mencanangkan International Year of Older Persons (IYOP). pemantauan dan pengendalian sesuai ketentuan yang berlaku.berkenaan dengan perencanaan program/kegiatan maupun pelaksanaan secara terpadu dan terkordinasi. sehingga mereka dapat menyumbangkan pengetahuan. organisasi sosial. plan of action yang dilahirkan pada regional meeting tersebut diarahkan pada tujuh masalah besar yang dihadapi pada lanjut usia.

Proyeksi populasi Indonesia telah dibuat oleh pemerintah Indonesia dari tahun 1971-2020. Program Healthy Ageing dikemukakan dalam forum gerontologi di Valencia. Indonesia diwakili oleh Dr. dimana hampir semua negara-negara di dunia tercekam oleh penyakit-penyakit menular sehingga umur harapan hidup sangat rendah misalnya karena infeksi. Kemudian adanya usaha dari UN-ESCAP yaitu pengajuan proposal kepada PBB agar memiliki organisasi di bawah sekjen untuk Lansia dan tiap negara diharapkan mengembangkan pengamanan sosial bagi lansia.2000. WHO mengungkapkan bahwa semasa abad yang lalu telah terjadi perubahan-perubahan besar pertama sebelum perang dunia. Saat itulah terjadi suatu gerakan dunia untuk mengingatkan agar jangan sampai . Program bagi lanjut usia ini berisi hal-hal sebagai berikut : 1.Aspek demografi Aspek demografi adalah hal-hal yang menyangkut masalah kependudukan. Aspek nasional-regional-global 3. Hal-hal yang perlu diantisipasi 4. Spanyol pada tanggal 8-12 April 2002 yang membahas masalah lansia dengan lebih serius kemudian menghasilkan Deklarasi Madrid. Hal ini setidaknya merupakan hasil positif karena peningkatan pelayanan kesehatan dari pemerintah yang diperlihatkan dari meningkatnya usia harapan hidup. Spanyol (2002) Setelah pertemuan IAG diadakan kongres WAA II di Madrid. Masalah dalam negeri Indonesia Kongres WAA II di Madrid. Dan diharapkan adanya lembaga untuk Lansia yang diresmikan oleh Presiden. Di sisi lain jumlah penduduk lanjut usia semakin bertambah.KJ. Hal ini disebabkan oleh keberhasilan program KB. 2. Pertemuan Gerontologi di Valencia (2002) Pertemuan gerontologi di Valencia tahun 2002 yang diprakarsai oleh IAG (International Association of Gerontology). Setelah IKM (Ilmu Kesehatan Masyarakat) dikembangkan maka penyakitpenyakit tadi itu bisa ditekan. Pada pertemuan di Madrid. oleh sebab itu sejak 60 tahun lalu ada paradigma kesehatan baru yang disebut dengan epidemiological shift. Jadi dalam keluarga itu bisa memiliki 5 orang anak. Sumber daya manusia 5. Ph. antara lain: proyeksi populasi penduduk. Lalu berkembang suatu masa dimana setelah perang dunia II hampir semua penduduk dunia berkembang biak dengan jumlah anak-anak kecil yang dilahirkan tanpa suatu program khusus. Tony Setiabudi. kesehatan lingkungan turun dan penyakit-penyakit parasiter. masalah gender (perbedaan jenis kelamin) dan distribusi lansia regional. Sp. umur harapan hidup. Dalam proyeksi tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk balita akan semakin berkurang.D. 10 orang anak dan bahkan lebih sehingga jumlah penduduk ini tidak terkontrol. kekurangan gizi. Spanyol.

maka wanita yang berusia 40 tahun keatas harus disiapkan untuk melayani orang tuanya. Pada saat itulah WHO mengatakan bahwa millenium ini ditandai dengan apa yang disebut dengan Gerontological Shift. para tenaga yang melayani lansia dengan caregivers dimanapun di dunia dilakukan oleh kelompok-¬kelompok wanita. maupun perilaku masyarakat harus diubah sehingga bisa muncul persepsi bahwa orang tua bukannya harus disingkirkan tapi harus diupayakan. Di Indonesia.5% dari jumlah total penduduk dan dalam waktu 20 tahun lagi jumlah lansia Indonesia akan melebihi balita. Di Indonesia gerakan family planning program ternyata cukup berhasil.dunia mengalami kekurangan pangan bagi penduduk baru dan diproklamirkan suatu gerakan berencana internasional yang disebut family planning program. Dan diharapkan lembaga-lembaga lainnya akan turut berperan serta dalam usaha ini. Akan tetapi di Singapore terjadi suatu proses perubahan yang besar seperti halnya di Jepang dimana para wanita mulai masuk ke karir sehingga merasa lebih mandiri dan tidak butuh dukungan siapa-siapa lagi. Ternyata general issues tidak berhenti sampai disitu. tentunya juga para lansia boleh tetap berperan serta dalam pembangunan dan mempunyai hak sebagai warga negara yang penuh. . sehingga hampir semua panti werdha wanita lebih banyak tetapi di negara miskin karena wanita praktis tidak mendapat pendidikan yang tinggi maka kehidupannya terpuruk karena kemiskinan dan kurangnya pendidikan. Karena itu diperlukan suatu program-program yang lebih terarah dan hanya bisa dimulai bila institusi-institusi mulai memberikan perhatian. Kondisi lansia perlu dimaksimalkan karena lansia merasa masih menjadi “orang” jika mereka merasa ikut berpartisipasi aktif. lebih serius dan lebih kompleks. Ada negaranegara yang mempunyai jumlah lansia diatas 10% dan disebut dengan Aging Populated Countries. Caregivers adalah yang mereka yang berusia 40 tahun keatas dan kebanyakan wanita. Maka kira-kira 30 tahun lalu terjadi suatu pergeseran baru dalam kesehatan yang disebut dengan Demographical Shift. Isi deklarasi Madrid yang utama yaitu peran lanjut usia dalam pembangunan harus dimaksimalkan dan tentunya peran tersebut hanya mungkin dimaksimalkan kalau derajat kesehatan dan kesejahteraannya juga ditingkatkan. kebijakan pemerintah. kini populasi lansia rata-rata 7. mereka masih diperlukan dalam perkembangan masyarakat secara menyeluruh Hal penting lainnya general issues sangat luar biasa karena pertama-tama dinilai bahwa lansia khususnya di negara miskin harapan hidup perempuannya lebih banyak dari laki-laki. dimana jumlah lansia dengan permasalahannya akan jauh lebih besar. Perlu diketahui juga bahwa lansia itu berhak untuk hidup lebih lama dengan rasa aman dan bermartabat. Pada akhir abad yang lalu disinyalir umur lansia semakin banyak. Kedua hal tersebut hanya mungkin dilaksanakan apabila disertai partisipasi dari masyarakat itu sendiri. Di dalam Mukadimah deklarasi Madrid diungkapkan bahwa potensi para lansia harus dapat dimaksimalkan agar bisa disumbangkan kepada masyarakat dan negaranya. oleh karena itu diharapkan supaya sikap masyarakat. digandeng bersama-sama untuk ikut serta dalam pembangunan.

Pelayanan Tingkat Dasar .10/HUK/1998 tentang Lembaga Kesejahteraan Lanjut Usia Sesuai Undang-undang No.25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004. Kegiatan Pelayanan Lanjut Usia di Indonesia Landasan hukum : Undang-undang No.13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. kelompok lanjut usia atau kelompok masyarakat seperti : Karang Werdha Adalah suatu perkumpulan/paguyuban dari para lansia yang biasanya berasal dari satu lingkungan hunian. rohani.Secara singkat. tema yang ingin dibahas dan disampaikan pada WAA II adalah: Peningkatan partisipasi lanjut usia dalam pembangunan. bidang Pembangunan Sosial Budaya. orang tua dan kakek / nenek.6 Tahun 1974 tentang Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial. Undang-undang No. para lansia yang sehat mandiri dapat mengadakan berbagai kegiatan fisik. Undang-undang No. Keputusan Menteri Sosial No. Undang-undang No. peningkatan dukungan masyarakat bagi kesejahteraan lanjut usia. Keputusan Menkokesra No. Pemberikan pelayanan berlandaskan pada filosofi dan nilai budaya masyarakat Indonesia yang berasas Three Generation in One Roof yang mengandung arti yaitu adanya pertautan yang bernuansa antar 3 generasi. mengamanaykan bahwa pemerintah dan masyarakat berkewajiban memberikan pelayanan sosial kepada lanjut usia. Pelayanan Tingkat Masyarakat Pelayanan yang ditujukan kepada Lanjut Usia.15/KEP/IX/1994 tentang Panitia Nasional Pelembagaan Lanjut Usia dalam Kehidupan Bangsa.22 tahun 2000 tentang Pemerintahan Daerah. yaitu: anak. Rencana Pertemuan Internasional yang Berkaitan dengan Perkembangan Gerontologi di Indonesia World Congress Rio de Janeiro 2005 dan Paris 2009 (Korea mencalonkan diri sebagai tempat pertemuan selanjutnya untuk tahun 2013) CIGP 2006 akan diadakan di Indonesia. Di dalam klub ini.13 tahun 1998. Sarana pelayanan kesehatan yang dipergunakan untuk melayani Lanjut Usia digolongkan dalam berbagai tingkatan.social-ekonomi secara bersama-sama Posyandu Lansia Day Care Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa PUSAKA Dana Sehat Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) b. yaitu : a. perluasan akses dan kemudahan layanan kesehatan bagi lanjut usia serta mempertimbangkan pembentukan komisi nasional lanjut usia. perlindungan dan jaminan sosial bagi lanjut usia. keluarga yang mempunyai lanjut usia.

hukum dan bidang-bidang lainnya. status perkawinan. presentase kenaikan. industri. dan paripurna : Rumah sakit yang memiliki : Poliklinik Geriatri / Gerontologi. Demografi adalah ilmu yang mempelajari kependudukan. Didalamnya dibagi lagi menjadi beberapa bidang. diharapkan angka kesakitan (morbiditas). serta sosial. jenis kelamin. ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS DALAM GERONTOLOGI I. mencakup jumlah. angka kematian (mortalitas) serta permasalahan lanjut usia semakin menurun. balai pengobatan dan klinik. okupasi. lengkap. laboratorium. Yang disebut Lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. distribusi. PENDAHULUAN Ilmu Kedokteran Komunitas (Community Medicine) adalah cabang ilmu kedokteran yang berurusan dengan kesehatan warga-warga suatu komunitas atau suatu wilayah. akan tetapi (terutama) memiliki keterbatasan di bidang sosial / ekonomi. sedang. pelayanan sosial. Panti Tresna Werdha. Hospitium Melalui pelayanan kesehatan yang dikerjakan terpadu dengan pelayanan keperawatan.Pelayanan diselenggarakan oleh berbagai instansi dan swasta serta organisasi masyarakat. Pusat Pelayanan dan Perawatan Lanjut Usia. lansia. mengingat jumlahnya yang meningkat cepat dan berpotensi menimbulkan permasalahan yang akan mempengaruhi kelompok penduduk lain. pendidikan. gaya hidup. Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara berbagai faktor yang menentukan frekuensi dan distribusi penyakit pada komunitas manusia. Balai Kesehatan Masyarakat. seperti kedokteran keluarga. lingkungan. dan perpindahan. Bangsal Akut. Pelayanan Rujukan Tingkat I dan Tingkat II Pelayanan yang diberikan dapat bersifat sederhana. dan lain-lain tentang penduduk. Hal ini akan menunjang tercapainya mutu kehidupan lanjut usia yang sehat secara fisik. Puskesmas. ketenagakerjaan. ruang rawat. organisasi profesi dan yayasan seperti: praktek dokter. c. Kebutuhan harian dari para penghuni biasanya disediakan pengurus panti. lokasi. unit rehabilitasi. olahraga. angka kematian. pekerjaan dan penghasilan. Gerontologi adalah ilmu yang mempelajari masalah Lanjut Usia. mental spiritual. praktek dokter gigi. Instalasi Gawat Darurat. Day Hospital. Unit Gawat Darurat. umur harapan hidup. psikis. sehingga aspek demografi dari kelompok lanjut usia perlu diketahui dan dipahami untuk mengambil . Rumah Sakit Jiwa Rumah Sakit Khusus (lainnya) Sasana Tresna Werdha Sasana Tresna Werdha adalah suatu institusi hunian bersama dari para lansia yang secara fisik/kesehatan masih mandiri. kelautan. dan kedirgantaraan. Kelompok ini memerlukan perhatian khusus di abad 21 ini. Diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta.

Yogyakarta memiliki jumlah Lansia terbanyak (13. Piramida penduduk Indonesia berubah dari bentuk dengan basis lebar (fertilitas tinggi). dua diantara tiga Lansia di seluruh dunia yang berjumlah 600 juta. sebagai Negara yang banyak jumlah populasi Lansianya. sedang kenaikan kira-kira setengah jumlah tersebut adalah di Meksiko. UPAYA PELAYANAN KESEHATAN Upaya Mengatasi Permasalahan Kesehatan pada Lansia Upaya pembinaan kesehatan Upaya pelayanan kesehatan : . Dependency Ratio total 53. dan golongan Lansia (>60 tahun). akan hidup dan bertempat tinggal di negara.17%. Tahun 1971. Angka ini makin menurun. suatu angka paling tinggi di dunia. pada tahun 2020 akan menjadi urutan ke-5 atau 6. dan Pakistan. Dependency Ratio total 86. menjadi piramida berbentuk kubah mesjid atau bawang (fertilitas dan mortalitas rendah) pada tahun 2020. Tahun 1980. Kenaikan jumlah ini terutama di Asia. Dependency Ratio ini sudah sangat rendah. dengan kata lain lebih minta perhatian dan prioritas untuk penyakit-penyakit pada usia dewasa dan Lansia.34% pada tahun 2020 yang akan datang. Ini menjadi beban ganda. Dengan catatan Dependency Ratio Lansia akan makin naik dan Dependency Ratio anak muda makin menurun.langkah antisipasi dalam mengatasi permasalahan lanjut usia.1989). Di Negara industri maju. Indonesia adalah urutan ke-10. sehingga tahun 2000. seterusnya akan menurun sampai 41. Dimana dari 33 propinsi di Indonesia saat ini. IV. II. Di Eropa pada tahun 2000 diproyeksikan jumlah populasi lansia 60+ akan berjumlah 20%. Pergeseran ini menuntut perubahan dalam strategi pelayanan kesehatan. pertambahan mencapai 270 juta Lansia. terhadap golongan usia 15-60 tahun yang produktif. Struktur masyarakat Indonesia berubah dari masyarakat atau populasi muda menjadi populasi tua pada tahun 2020.84%. Tapi dalam hal ini penyakit-penyakit pada balita dan anak-anak masih menjadi masalah yang belum diselesaikan. Nigeria. Pada tahun 2000. Perubahan struktur penduduk ini juga akan mempengaruhi ratio ketergantungan (Dependency Ratio). Sebelumnya angka ini adalah 50% di tahun 1960. ASPEK DEMOGRAFI Transisi Demografi Saat ini Indonesia ada dalam transisi demografi.72%).38 pada tahun 2020. dilaporkan bahwa Indonesia pada tahun 1990-2025 akan mempunyai kenaikan jumlah Lansia sebesar 414%. persentase Lansia diproyeksikan menjadi 11. bahkan akan terjadi kenaikan yang cepat pada populasi 80+. baik pada golongan anak yang tidak produktif (<15 tahun). Di Cina dan India. yang berarti golongan produktif sudah sangat tinggi persentasenya. (WHO.negara sedang berkembang. Menurut laporan data demografi penduduk Internasional yang dikeluarkan oleh Bureau of the Census USA (1993). Pertambahan penduduk Lansia di Indonesia dan Brazil diproyeksikan naik masing-masing melebihi 20 juta orang.

▪ Handicap (hambatan). Yang dimaksud dengan multidisiplin si sini adalah berbagai disiplin ilmu kesehatan yang secara bersama-sama melakukan penanganan pada penderita lanjut usia. dan pemulihan (rehabilitatif). misalnya agama. ▪ Disability (ketidakmampuan). Oleh karena itu. Pada kasus tersebut di atas adalah ketidakmampuan penderita untuk melakukan aktivitas sosial. yaitu rumah sakit yang mempunyai pelayanan subspesialis geriatri. Anggota tim dapat ditambah dengan tenaga rehabilitasi medik (dokter.# Upaya promotif # Upaya preventif # Diagnosa dini dan pengobatan # Pencegahan kecacatan # Upaya rehabilitatif Upaya perawatan Upaya pelembagaan Lansia Prinsip pelayanan kesehatan pada Lansia a. dan kebudayaan. promotif. Secara vertikal dalam arti pemberian pelayanan di masyarakat sampai ke pelayanan rujukan tertinggi. fisioterapist. dll. serta dinas sosial. misalnya penyakit jantung iskemik. ♥ Sifat holistik mengandung artian baik secara vertikal ataupun horizontal. juga aspek kejiwaan dan lingkungan sosial ekonomi. pendidikan. Komponen utama tim geriatrik terdiri dari dokter. Pada kasus di atas misalnya terjadi decompensasi jantung. Tergantung dari kompleksitas dan jenis layanan yang diberikan.). pekerja sosio medik. ▪ Impairment (kerusakan/ gangguan). Hal ini ditunjukkan dengan asesmen geriatri sebagai aspek diagnostik. b. dan atau . yaitu adanya gangguan atau kerusakan dari organ akibat penyakit. Begitu pentingnya aspek pemulihan. Prinsip holistik ♥ Seorang penderita lanjut usia harus dipandang sebagai manusia seutuhnya (lingkungan psikologik dan sosial ekonomi). missal pada MCI akut ataupun kronis. psikolog. yaitu diagnosis penyakit pada penderita. yaitu akibat obyektif pada kemampuan fungsional dari organ atau dari individu tersebut. yang meliputi seluruh organ dan sistem. sehingga WHO menganjurkan agar diagnosis penyakit pada Lansia harus meliputi 4 tingkatan penyakit : ▪ Disease (penyakit). pelayanan kesehatan harus bekerja secara lintas sektoral dengan dinas/ lembaga terkait di bidang kesejahteraan. baik di rumah maupun di lingkungan sosialnya. Holistik secara horizontal berarti bahwa pelayanan kesehatan harus merupakan bagian dari pelayanan kesejahteraan lansia secara menyeluruh. terapi bicara. yaitu akibat sosial dari penyakit. terapi okupasi. Prinsip tatakerja dan tatalaksana secara TIM Tim geriatrik merupakan bentuk kerjasama multidisipliner yang bekerja secara inter-disipliner dalam mencapai tujuan pelayanan geriatrik yang dilaksanakan. ♥ Pelayanan holistik juga berarti bahwa pelayanan harus mencakup aspek pencegahan (preventif). dan perawat. penyembuhan (kuratif).

Pada tim multidisiplin. 2. ahli gizi. V. Mengetahui sedini mungkin adanya akibat proses penuaan (keluhan mudah jatuh. 5. Sedangkan pada tim interdisiplin. 2. Informasi yang diperlukan usia 40-45 tahun (masa virilitas) 1. 4. Perlunya berbagai alat bantu untuki tetap berdaya guna. Peningkatan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. berdebar-debar. 3. tetapi tidak secara kaku. kerjasama terutama bersifat pada pembuatan dan penyerasian konsep. PELAKSANAAN PELAYANAN KESEHATAN USIA LANJUT Pembinaan Kesehatan Tujuannya adalah meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yagn bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan keberadaannya dalam masyarakat. Melakukan latihan kesegaran jasmani. Masing-masing anggota mengerjakan tugas sesuai disiplinnya sendiri-sendiri. Pengembangan dan peningkatan hubungan sosial di masyarakat. 6. dan kalau perlu mengadakan perubahan demi tujuan bersama yang hendak dicapai. Disiplin lain dapat memberi saran demi tercapainya tujuan bersama. 2. Informasi yang diperlukan > 65 tahun dan kelompok resiko tinggi 1. pemakaian alat bantu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang ada pada mereka.psikiater. mudah lelah. 6. farmasis. nyeri dada. Pembinaan diri sendiri dalam hal pemenuhan kebutuhan pribadi. Secara periodik dilakukan pertemuan anggota tim untuk mengadakan evaluasi kerja yang telah dicapai. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Istilah interdisiplin diartikan sebagai suatu tatakerja dimana masing-masing anggotanya saling tergantung (interdependent) satu sama lain. Pemeriksaan kesehatan secara berkala. aktivitas di dalam rumah maupun di luar rumah. Perawatan gizi/ diet seimbang 3. 5. . Pada tim interdisiplin. Perawatan fisioterapi di RS terdekat. Informasi yang diperlukan usia 55-64 tahun (masa presenium) 1. Jika tim multidisiplin yang bekerja secara multidisiplin. Mengetahui pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala. Melakukan diet dengan menu seimbang. Pemeriksaan kesehatan secara berkala. 4. kerjasama meliputi pembuatan dan penyerasian konsep serta penyerasian tindakan. sesak nafas waktu beraktivitas. juga mengadakan asesmen atas sumber daya manusia dan sosial ekonomi yang bisa digunakan untuk membantu pelaksanaan masalah penderita tersebut. tujuan merupakan tujuan bersama. Tim geriatri disamping mengadakan asesmen atas masalah yang ada. Kegiatan olahraga/ kesegaran jasmani.dan tenaga lain yang bekerja dalam layanan tersebut. 4. Meningkatkan kegiatan sosial di masyarakat. 3. dimana tujuan seolah-olah dibagi secara kaku berdasarkan disiplin masing-masing anggota.

lemak. Upaya pencegahan / Prevention ♣ Bagaimanapun hebatnya penemuan dalam bidang teknologi dan obat-obatan untuk merawat dan menyembuhkan Lansia yang sakit. berenang. dan bersepeda tingkatkan silaturahmi sempatkan rekreasi dan salurkan hobi secara teratur dan bergairah gunakan obat-obatan atas saran petugas kesehatan pertahankan hubungan harmonis dalam keluarga tetap melakukan kegiatan seksual dengan pasangan hidup b. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Anjuran dari Prof. 1997) adalah : BAHAGIA Berat badan berlebihan agar dihindari dan dikurangi Aturlah makanan hingga seimbang Hindari faktor risiko penyakit degeneratif Agar terus berguna dengan mempunyai hobi yang bermanfaat Gerak badan teratur agar terus dilakukan Iman dan takwa tingkatkan. 6. senam. karena bila dilaksanakan secara cermat dan terus menerus akan memberikan hasil yang lebih baik dengan biaya yang lebih murah. mempunyai risiko akan tetapi belum . memuat anjuran untuk hidup sehat : • Perkuat ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa untuk mengendalikan stress • Periksakan kesehatan secara berkala • Makan dan minum kurangi gula.5. Upaya pencegahan primer (Primary prevention) Ditujukan kepada Lansia yang sehat. Latihan kesegaran jasmani. susu tanpa lemak dan ikan hindari alkohol berhenti merokok perbanyak minum air putih 6-8 gelas per hari atau sesuai anjuran petugas kesehatan • Kegiatan fisik dan psikososial pertahankan berat badan normal lakukan kegiatan fisik sesuai kemampuan lakukan latihan kesegaran jasmani sesuai kemampuan seperti jalan kaki. Buku Pedoman pemeliharaan Kesehatan Usia Lanjut. Dr. melainkan menghindarkan sejauh mungkin penyakitpenyakit yang dapat timbul dan mengusahakan agar fungsi tubuh selama mungkin dapat dipertahankan. 1. sayur. hindari dan tangkal situasi yang menegangkan Awasi kesehatan dengan memeriksakan badan secara periodik DepKes RI 1998. tetapi peranan prevensi (pencegahan) semakin besar. Pelayanan kesehatan a. Slamet Suyono (RSCM. dan garam perbanyak buah. ♣ Yang dimaksudkan dengan prevensi bukanlah menghindarkan ketuaan atau proses menjadi tua. Upaya peningkatan / Promosi Kesehatan Pada dasarnya merupakan upaya pencegahan primer ( primary prevention).

DM e.sesak napas .gangguan pendengaran .nyeri sendi . Menghindari timbulnya kecelakaan pada Lansia f.keluarnya darah atau cairan melalui vagina secara terus-menerus 3.kesemutan . Kurangi makan dan pilihlah makanan yang sesuai c. Menurut DepKes RI 1998. Upaya pencegahan tersier (Tertiary prevention) Ditujukan kepada penderita penyakit dan penderita cacat.batuk .faktor resiko yang dapat dihindari/ dibatasi : merokok. Pemeriksaan kesehatan secara periodik b.nyeri dada . petugas professional.gangguan gerak . Pengobatan dijalankan terhadap gangguan sistem.gangguan mulut tumbuh .kaki bengkak .cepat lelah . Kegiatan dilaksanakan di tingkat keluarga. untuk memungkinkan para Lansia memberi skor . dan petugas panti. Diagnosa dini oleh Lansia dan keluarga Di Amerika Serikat.benjolan tidak normal / daging .sulit tidur . Persiapan menghadapi pensiun h. 1.gangguan BAB/ BAK . hipertensi. * Tahap I : Ketika Lansia dirawat di RS * Tahap II : Ketika Lansia pada masa rehabilitasi atau rawat jalan * Tahap III : Ketika Lansia pada saat pemeliharaan jangka panjang ♣ Tindakan pencegahan praktis yang dapat dilaksanakan : a. Olahraga yang ringan dan teratur harus dilakukan d.faktor resiko yang sukar dihindari : kepribadian . Upaya pencegahan sekunder (Secondary prevention) Ditujukan kepada penderita tnpa gejala.sering haus . keluarga.gangguan penglihatan . Hindari berat badan berlebihan (obesitas ataupun overweight) b. yang mengidap faktor risiko.faktor resiko yang tidak dapat dihindari : umur. keturunan .menderita penyakit. keluhan yang perlu diwaspadai : . fasilitas pelayanan tingkat dasar. Dapat digolongkan pada upaya peningkatan 2.berdebar-debar .nyeri pinggang .nafsu makan meningkat atau menurun . mengurangi gejala yang terjadi dan mengatasi manifestasi klinik. hiperkolesterolemia. kelebihan BB. dan fasilitas pelayanan rujukan tingkat I dan tingkat II. Upaya ini dilakukan sejak awal penyakit hingga awal timbulnya gejala atau keluhan. Tindakan yang mengisi kehidupan Lansia g. yang telah memperlihatkan gejala penyakit. Menghindari faktor resiko PJK . bimbingan diberikan oleh National Health Information Clearinghouse (1994). jenis kelamin. Diagnosa dini dan pengobatan / Early diagnosis and prompt treatment Dilaksanakan oleh Lansia.

1997). pemakaian alkohol. kesehatan gigi. penyalahgunaan narkotika. meliputi: a. pencegahan kecelakaan. dan kebugaran. Trigliserid♣ Kadar hormon♣ Kanker prostat. komunikasi. Penapisan :  Anamnesa diarahkan terhadap tanda gejala nyeri dada. sigmoidoskopi. Pemeriksaan status sosial ekonomi Kontak sosial♣ . Diagnosa dini oleh petugas profesional atau tim a. Pemeriksaan status kejiwaan Status mental (memori. termasuk Lansia¬ ¬ Buku Pedoman Pemeliharaan Kesehatan Usia Lanjut (1998). atau pemberi pelayanan kesehatan setiap diberikan pelayanan kesehatan. Medical screening schedule (prosedur penapisan) dianjurkan U. pap smear. Kartu Menuju Sehat Usia Lanjut (1993. kebiasaan olahraga. juga pengamanan diri terhadap kecelakaan dan cedera. konsentrasi. Vaksin influenza Di Indonesia Buku Kesehatan Pribadi dianjurkan untuk dimiliki oleh masyarakat. pemakaian alcohol dan kebiasaan merokok. kebiasaan diet. glukosa dan kolesterol. pengobatan estrogen. kolesterol. diet. c. orientasi. Skrining kesehatan d. Pemeriksaan status fisik : Pemeriksaan fisik diagnostik lengkap♣ b.terhadap gaya hidup sehat (healthstyle self-test) dengan menghitung skor merokok. pemeriksaan payudara. Pemeriksaan laboratorium lengkap Gula darah dan puasa 2 jam setelah makan♣ HDL dan LDL kolesterol. alat Bantu dengar. karbohidrat.S. Preventive Services Task Force (1994). dan obat. Konseling : Olahraga dan latihan tertentu. dan perilaku)♣ e. glaucoma. mood/ afek. visus. EKG. tekanan darah. pari♣ Tumor marker (jika perlu)♣ c. kebiasaan makan. lemak. zat adiktif. kolonoskopi b. pengendalian stres. yang disimpan oleh Lansia sendiri¬ 2. keluarga. kalori. Imunisasi : Hepatitis B. alcohol. serta ada atau tidaknya gangguan fungsi di rumah Pemeriksaan fisik : berat dan tinggi badan. sehingga dapat terjalin komunikasi dan tukar menukar informasi penting diantara Lansia dengan petugas pelayanan kesehatan setiap saat. agar diisi oleh para Lansia. fungsi pendengaran. olahraga. verbalisasi)♣ Status psikologis (kesan umum. fungsi kelenjar tiroid. pemeriksaan laboratorium.

derajat stress. tanggung jawab sebagai keluarga) f. osteoarthrosis. jatuh. Pengobatan a. Pemeriksaan status fungsi tubuh Mandiri (independent)♣ Kurang mandiri (partially independent)♣ Tidak mandiri/ tergantung (dependent)♣ 3. 1997). gangguan mata. prostat) c. Pengobatan terhadap Geriatric Giant (RSCM. obstipasi. gangguan kemih.Penyesuaian diri (terhadap keadaan saat ini. sesak napas. nyeri tungkai. nyeri pinggang. Rekomendasi Pemeriksaan Kesehatan Berkala Prevensi Primer dan Sekunder Frekuensi Edukasi Tiap 4 tahun Prevensi terhadap kecelakaan Penggunaan seat belts Pengecekan sendiri : kulit. saraf. urogenital. tidak ada nafsu makan. incontinentia alvi. kepandaian. mulut. hipertensi. kulit. nyeri kaki. testis Melaporkan perdarahan postmenopause Promosi Kebiasaan Sehat Olah raga Gizi Obesitas Tiap 4 tahun atau kalaudiperlukan Kebersihan mulut Tidur Penggunaan obat Prevensi terhadap Penyakit Skrining kolesterol Tiap 4 tahun Imunisasi Influenza Tiap tahun Pneumococcus Sekali Tetanus Booster Tiap 10 tahun Pemeriksaan gigi Penyakit periodontal Caries gigi Tiap tahun Skrining untuk Penyakit dini Penurunan pendengaran Deteksi pada kelompok resiko tinggi Hipertensi Pengukuran tekanan darah tiap 1/ 2 tahun Hipothyroid Pemeriksaan klinis tiap 2 tahun . Dasar Klinis Preventive Health Care Untuk Lansia. nyeri dada. imobilisasi. Pengobatan terhadap manifestasi klinik (nyeri kepala. dekubitus. demam. terhadap masa depan)♣ ♣ Evaluasi orang yang merawat Lansia (usia. pencernaan. hormonal. payudara. kelemahan umum. ketrampilan. edema. hipotermi. klimakterium. gangguan telinga. Pengobatan terhadap gangguan sistem dan gejala yang timbul (sistem muskuloskeletal. dan rambut) b. kardiovaskular. pernapasan. status kesehatan. gangguan neuropsikiatri. (pikiran kacau. incontinentia urinae. kuku.

Pertahankan fungsi aliran darah f. non medik) Prinsip : a. dan mental Dengan kunjungan rumah tiap 2 thn (65-74 thn). Pelayanan Kesehatan Lansia di Masyarakat (Community Based Geriatric Service) Semua upaya kesehatan yang berhubungan dan dilaksanakan oleh masyarakat . aktivitas. Pertahankan lingkungan yang aman b. Meningkatkan fungsi psikososial h. 65-74 thn. Pembatasan kecacatan / Disability limitation Kecacatan : kesukaran dalam memfungsikan otot dan alat gerak atau sistem saraf Kecacatan : bersifat sementara dan dapat diperbaikiϖ menetap yang tidak dapat dipulihkan tapi masih mungkin dapat diganti dengan alat bantuϖ progresif yang tidak dapat pulih dan tidak dapat diganti dengan alat bantuϖ Kegiatan yang dilakukan dalam pembatasan kecacatan : a. Pemeriksaan (Assessment) b. Pertahankan fungsi aliran kemih g. Pertahankan fungsi pernapasan e. mobilitas) c. tiap tahun untuk usia 75+ Kelompok resiko tinggi Seperti indikasi diagnosa klinisTBC Ketidakmampuan progresif sesuai usia Penilaian fungsi fisik. secara garis besar pelayanan kesehatan pada Lansia dapat dibagi sebagai berikut (HadiMartono. Identifikasi masalah ( Problem identification) c.Ca mamae Pemeriksaan payudara tiap thn Mammogram tiap thn sampai usia 80 thn Ca serviks Pap smear tiap 5 thn. Mendorong pelaksanaan tugas VI. Pertahankan komunikasi i. sosial. paramedik. tiap 2 thn sp usia 70. tiap tahun (75+) c. Upaya pemulihan / Rehabilitasi Rehabilitasi dilaksanakan oleh tim rehabilitasi (petugas medik. 1996) 1. Perencanaan ( Planning) d. Pertahankan kecukupan gizi d. 1993. Penilaian (Evaluation) d. tiap 3 tahun Ca colorectal Pemeriksaan rectal tiap tahun atau setahun 2 kali Sigmoidoscopy tiap 4 tahun Ca mulut Pemeriksaan mulut tiap tahun setelah usia 75 tahun Ca kulit Inspeksi dan konseling. Pelaksanaan ( Implementation) e. Pertahankan kenyamanan (istirahat. frekuensi tergantung diagnosa klinis Malnutrisi 2 kali setahun. TINGKAT PELAYANAN KESEHATAN Untuk mengupayakan prinsip holistik yang berkesinambungan.

bangsal kronis. Tingkatan sarana pelayanan kesehatan: a. Karang Wredha . Di lain pihak. atau rehabilitatif. dan penyuluhan-penyuluhan. lokakarya. 2. Layanan Kesehatan Lansia Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based Geriatric Service) Pada layanan ini rumah sakit. layanan kesehatan Lansia di tingkat masyarakat seharusnya mendayagunakan dan mengikutsertakan masyarakat (termasuk para Lansianya) semaksimal mungkin. atau pemberian makanan bagi para lansia (meals on wheels) juga perlu didorong. rumah sakit jiwa juga menyediakan layanan kesehatan jiwa bagi Lansia sengan pola yang sama. rumah sakit harus selalu bersedia bertindak sebagai rujukan dari layanan kesehatan yang ada di masyarakat.harus diupayakan berperan serta dalam menangani kesehatan para Lansia. pendidikan. Pelayanan Kesehatan Lansia di Masyarakat Berbasis Rumah Sakit (Hospital Based Community Geriatric Service) Pada layanan tingkat ini. baik secara langsung atau tidak langsung melalui pembinaan pada Puskesmas yang berada di wilayah kerjanya. antara lain ceramah. Puskesmas berperan dalam membentuk kelompok/ klub Lansia. baik usaha promotif. symposium. Puskesmas dan dokter praktek swasta merupakan tulang punggung layanan di tingkat ini. agama. klinik siang terpadu (day hospital). kuratif. dll. dengan berbagai cara. Yang perlu dikerjakan adalah meningkatkan kepedulian dan pengetahuan masyarakat. Di dalam dan melalui klub Lansia ini. Dokter praktek swasta terutama menangani para Lansia yang memerlukan tindakan kuratif insidental. Di samping itu. kebersihan rumah. sampai pada layanan yang lebih maju. Pada tingkat ini. terutama untuk menangani penderita penyakit fisik dengan komponen gangguan psikis berat dan sebaliknya. misalnya bangsal akut. preventif. sebaiknya dilaksanakan suatu layanan terkait (con-joint care) antara unit geriatri rumah sakit umum dengan unit psikogeriatri suatu rumah sakit jiwa. kelompok Lansia atau kelompok masyarakat seperti : 1. ceramah-ceramah. dan atau panti rawat wredha (nursing homes). rumah sakit setempat yang telah melakukan layanan geriatri bertugas membina Lansia yang berada di wilayahnya. 3. baik kepada tenaga kesehatan ataupun kepada awam perlu dilaksanakan. Pelayanan tingkat masyarakat Pelayanan yang ditujukan kepada Lansia. simposium. Semua pelayanan kesehatan harus diintegrasikan dengan layanan kesejahteraan yang lain dari dinas sosial. kebudayaan. menyediakan berbagai layanan bagi para Lansia. pelayanan kesehatan dapat lebih mudah dilaksanakan. keluarga yang mempunyai Lansia. Peran serta LSM untuk membentuk layanan sukarela misalnya dalam pendirian badan yang memberikan layanan bantu perawatan (home nursing). “Transfer of Knowledge” berupa lokakarya. tergantung dari jenis layanan yang ada. Pada dasarnya.

psikolog. Poliklinik geriatri : layanan geriatri di mana diberikan jasa asesmen. “Turn over rate”-nya rendah. Day-hospital : layanan geriatri yang dapat melaksanakan semua tindakan yang dilakukan oleh bangsalakut atau kronis. sehingga pembiayaannya menjadi . Bangsal Akut. penyakit jantung kongestif akut. Praktek Dokter Gigi 3. Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa 5. sedang. Pada penderita tersebut dilakukan tindakan asesmen. sehingga hanya penderita yang telah melewati poliklinik spesialis lain dan memenuhi syarat sebagai penderita geriatri bisa dikonsulkan ke poliklinik ini. Dana Sehat atau Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) b. rehabilitasi. Rumah sakit yang memiliki Poliklinik Geriatri/ Gerontologi. organisasi profesi dan yayasan seperti : 1. dll. kuratif. dan rehabilitasi jalur cepat oleh tim geriatri. Pelayanan tingkat dasar Pelayanan diselenggarakan oleh berbagai instansi dan swasta serta organisasi masyarakat. 2. Sasana Tresna Wredha 5. Praktek Dokter 2. Jasa yang diberikan antara lain : asesmen. juga tenaga rehabilitasi. Rumah Sakit Khusus lainnya 4. keto-asidosis diabetika. Balai Pengobatan dan Klinik 4. PUSAKA 6. Day Hospital. kuratif. Bangsal geriatri akut : bangsal di mana penderita geriatri dengan penyakit akut atau subakut (stroke. Unit Rehabilitasi. dan paripurna : 1. Hospitium 1. Pos Yandu Lansia 3. Oleh karenanya tenaga yang diperlukan selain geriatris/ internis. 2. Sifatnya adalah subspesialistik. 4. ambulatoir. rekreasionis. pneumonia. Day Care 4. Bangsal geriatri kronis : bangsal ini diperlukan untuk merawat penderita dengan penyakit kronis yang memerlukan tindakan kuratif inap dalam jangka waktu lama. dan layanan hanya dilakukan pada jam kerja. perawat dan sosiomedik. dan konsultasi. Pusat Pelayanan dan Perawatan Lanjut Usia c. tindakan kuratif sederhana. Balai Kesehatan Masyarakat 6. Rumah Sakit Jiwa 3. Panti Tresna Wredha 7. Ruang Rawat. Unit Gawat Darurat. 3. Puskesmas 5. Instalasi Gawat Darurat. Laboratorium. Pelayanan rujukan tingkat I dan tingkat II Pelayanan yang diberikan dapat bersifat sederhana.). dll. dan rekreasi. bagi penderita rawat jalan.2. lengkap. tetapi tanpa penderita harus rawat inap.

Turn over rate juga rendah. tetapi untuk kepentingan pendidikan. Pendidikan dan riset : merupakan bagian implisit dari pelayanan geriatri. Panti rawat wredha : Di negara maju. antara lain panti wredha (terutama bagi para Lansia dengan keterbatasan sosial-ekonomi). Bantuan penyediaan makan sehari-hari (meals on wheels) Penjagaan penderita di malam hari (night attendants) Penyediaan pramu wredha Dll. Rehabilitasi jalur lambat (slow stream rehabilitation) dilaksanankan secara kronis. Berbagai layanan yang bisa diberikan kepada : Institusi yang memberikan akomodasi. 6. 7. Pelayanan sosial ini sebaiknya merupakan kegiatan dari badan-badan sukarela/ partisipasi masyarakat. akomodasi terlindung (sheltered accomodation) bagi mereka dengan ketergantungan fisik sebagian (semi/ partial dependency) Bantuan pengerjaan aspek domestik (home help services). yang bisa dilaksanakan oleh unit rehabilitasi medik atau bisa juga diintegrasikan ke dalam pelayanan geriatri. dll. maka biayanya bisa ditekan. akan tetapi masih terlalu berat untuk bisa dirawat di rumah sendiri. Keberadaan para lansia tersebut diharapkan tidak membebani semua . VII. Riset dilaksanakan baik untuk publikasi atau yang lebih penting adalah untuk memperbaiki pelayanan itu sendiri. Rehabilitasi geriatri : merupakan suatu keharusan untuk dikerjakan pada semua penderita geriatrik. Dari tindakan konsultatif ini. 5. Konsultasi geriatri : yaitu surat layanan konsultatif dari bagian lain terhadap seorang penderita Lansia.sangat mahal. Oleh karena tidak memerlukan tindakan spesialistik oleh dokter. Karena itu. 8. yaitu suatu institusi yang memberikan layanan bagi penderita Lansia dengan masalah medis kronis yang sudah tidak memerlukan tindakan perawatan di RS. PELAYANAN SOSIAL BAGI USIA LANJUT Pelayanan sosial pada Lansia merupakan bagian dari layanan holistik horizontal pada populasi Lansia. perlu konsep terpadu agar penanganan kaum lansia semakin baik. pada penderita yang bersangkutan dapat diberikan pengobatan bahkan pindah perawatan ke bagian geriatri. oleh karena itu pelaksanaannya sebaiknya diintegrasikan dengan pelayanan geriatri. adanya bangsal ini di suatu RS pemerintah dapat menggantikan keberadaan suatu bangsal kronis. Kaum Lansia Perlu Mendapat Konsep Penanganan Terpadu JAKARTA (Media): Kaum lanjut usia (lansia) harus mendapatkan perhatian lebih. misalnya membersihkan rumah. Rehabilitasi jalur cepat (fast stream rehabilitation) dikerjakan selama penderita masih dirawat di bangsal geriatri. layanan ini disebut “nursing home”. cuci-setrika. yang dikoordinasikan oleh dinas sosial dan atau dinas kesehatan setempat.

Dengan jumlah lansia sekarang telah mencapai 15 juta lebih penduduk. Dalam simposium awam. Dalam pertemuan ini pula. program-program itu belum dirasakan maksimal oleh lansia sehingga diperlukan konsep terpadu supaya penanganan bagi mereka bisa menjadi lebih baik. didampingi pakar gerontologi lainnya. apabila anak dan cucu mereka terpaksa bekerja di luar rumah sehingga orang tua atau kakek/nenek ditinggal sendiri. crisis. Dr dr Frits August Kakiailatu. jelas Tony. Tony mengharapkan. dia mengingatkan agar lembaga swadaya masyarakat (LSM) bersama kalangan profesional menyadari bahwa lansia harus memperoleh perhatian lebih. Untungnya. Berdasarkan proyeksi yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2002.'' Tetapi pada satu saat. Tony yang merupakan spesialis kesehatan jiwa meyakini. di sela-sela acara simposium Healthy and Active Ageing bertema Successfull ageing an emerging paradigm of gerontology illness. Menurut dia. Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). meskipun pertumbuhannya masih berkisar 7% sampai 8%. ia khawatir. dan Universitas Krida Wacana. Pakar gerontologi dr Tony Setiabudhi menegaskan hal itu di Jakarta. pihaknya memandang pentingnya menomorsatukan program kesehatan untuk kelompok lansia karena mereka yang miskin cukup banyak. Jumlah populasi lansia di Indonesia pada tahun-tahun mendatang akan melonjak sangat pesat. ia memperkirakan. ucapnya selaku ketua umum simposium tersebut. persentase kenaikannya pada 20 tahun lagi menjadi makin besar dibanding negara lain. ''Kenyataan itu mesti diantisipasi sebelumnya karena proses tersebut akan membawa konsekuensi yang kompleks. Bahkan. kenyataan tersebut kemungkinan terjadi 10 tahun mendatang. Namun. Maka. Sabtu (11/12). sebagian besar lansia di Indonesia masih dalam perawatan anak maupun cucunya di rumah yang dihuni bersama. maka masalah struktur penduduk juga harus diperhatikan. ia mengungkapkan. dan negara. akan timbul masalah. pada 2050 akan terjadi perubahan struktur umur yang akan didominasi oleh mereka yang berusia 60 tahun ke atas. jumlah penduduk Indonesia pada 2050 mencapai 293 juta jiwa. bagaimana agar para orang tua tersebut kelak tidak menjadi beban bagi keluarga.orang. pemerintah juga diminta untuk memberikan perhatian lebih kepada lansia walaupun beberapa instansi pemerintah telah menciptakan program-program yang menyejahterakan mereka. ''Hal ini suatu yang baik di negara kita. Selain masalah jumlah penduduk. seluruh organisasi penanganan lansia memikirkan. masyarakat.'' ulas Tony. yang dilaksanakan oleh Pusat Kajian Masalah Lansia bersama Majelis Fakultas Kedokteran Swasta Indonesia. Prof R Boedho Darmojo mengutip data demografi . Universitas Trisakti. and loss. Maka kita wajib memikirkan dan menyiapkan solusinya dari sekarang.

prinsip pelayanan kesehatan pada Lansia adalah holistik dan bekerja di dalam tim. maka aspek demografi dari kelompok Lansia ini penting diketahui dan dipahami. dan hal ini dapat menimbulkan permasalahan yang akan mempengaruhi kelompok penduduk lain. Sumarjati menegaskan. 1993. diagnosis dini dan pengobatan.'' kata dia. promosi. sehingga dapat diambil langkah antisipasi untuk mengatasi permasalahan yang dapat timbul tadi. Komisi IX mendukung BKKBN untuk mempertahankan posisi Indonesia sebagai salah satu Center of Excellence di bidang kependudukan dan keluarga berencana yang telah banyak ditiru oleh negara-negara berkembang di dunia. Pelayanannya sendiri dikelompokkan menjadi 5. DPR meminta BKKBN secara sungguh-sungguh untuk mengimplementasikan program kerja 10 tahun ke depan yang meliputi pengendalian kelahiran. menurut Sumarjati. China 220%. dalam rapat dengar pendapat antara Kepala BKKBN Sumarjati Arjoso dan jajarannya dengan Komisi IX DPR pada Selasa (7/12) lalu. Peranan prevensi/ pencegahan semakin besar. India 242%. bahwa Indonesia pada 1990-2025 mengalami peningkatan jumlah lansia sebesar 414%. Hal ini tentu memerlukan pendekatan yang berbeda di bidang kesehatan. dari penyakit infeksi kearah penyakit degeneratif. pembatasan kecacatan. Jerman 66%. memperkecil angka kematian terutama ibu dan anak serta meningkatkan kualitas program KB. ''Karena itu. karena jika dilakukan secara cermat dan terus menerus akan memberikan hasil yang lebih baik dengan biaya yang lebih murah. Dalam rapat yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IX Muhyidin Arubusman. Dengan kemajuan teknologi dan umur manusia yang makin panjang. Pakar gerontologi tersebut mengingatkan. prevensi. Sebagai .34% pada 2020 mendatang. seraya membandingkannya dengan yang terjadi di negara Kenya sebanyak 347%. (Rse/V-2) VIII. Komisi XI dapat memahami misi dan visi program Keluarga Berencana (KB) Nasional. maka terjadi pergeseran sebab-sebab kematian. DPR mendukung Sementara itu. Sedangkan pelaksanaannya sendiri melibatkan masyarakat juga Rumah Sakit dan berada dalam tingkatantingkatan.penduduk internasional yang dikeluarkan Bureau of the Cencus. Maksud dari prevensi sendiri adalah menghindarkan sejauh mungkin penyakit-penyakit yang dapat timbul dan mengusahakan agar fungsi tubuh selama mungkin dapat dipertahankan Karena alasan-alasan di atas. dan rehabilitasi. Brasil 255%. Jepang 129%. dan Swedia 33%. KESIMPULAN Karena jumlah Lansia dari hari ke hari makin meningkat dengan cepat.'' ujarnya. ''Suatu angka yang paling tinggi di seluruh dunia. Indonesia saat ini berada dalam transisi demografi dengan persentase kaum lansia diproyeksikan menjadi 11.

Berdasarkan data dari BPS penduduk orang lanjut usia (60 tahun keatas) cenderung meningkat. Pada awalnya intitusi ini dimaksudkan untuk menampung orang lanjut usia yang miskin dan terlantar untuk diberikan fasilatas yang layak mulai dari kebutuhan makan minum sampai kebutuhan aktualisasi. SKp ishadi.58 % dan pada tahun 2020 sebesar 11. Peningkatan usia harapan hidup ini berbading terbalik dengan angka kelahiran yang disebabkan oleh keberhasilan program Keluarga Berencana dan keengganan ibu-ibu untuk melahirkan anak lebih dari dua orang. 1990. 2nd edition : Mc Graw Hill Inc. Tony : Panduan Gerontologi Tinjauan dari Berbagai Aspek : Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Peningkatan populsi orang lanjut usia diikuti pula berbagai persoalan-persoalan bagi orang lanjut usia itu sendiri. Oleh karena itu diperlukan adanya suatu perhatian besar dan penanganan khusus bagi orang lanjut usia tersebut. menurunnya penghasilan akibat pensiun. 2005 Hazzard.767. posting. Jakarta. Setiabudhi. Martono.skp@gmail. Hardywinoto.com / IVAN ISHADI SOFYAN.transfer by : ivanishadisofyan. Penurunan kondisi fisik dan psikis. pemerintah dalam hal ini Departemen Sosial mengupayakan suatu wadah atau sarana untuk menampung orang lanjut usia dalam satu institusi yang disebut Panti Werdha. dan Amerika Serikat. William R : Principle of Geriatric Medicine and Gerontology. Kariadi Semarang. Jumlah penduduk orang lanjut usia di Indonesia tahun 2000 adalah 17. Hadi : Buku Ajar Geriatri : Balai Penerbit FKUI Jakarta. India.20 %. Akibatnya terjadi perubahan struktur penduduk menjadi berbentuk piramid terbalik.com PANTI WERDHA SEBUAH PILIHAN Keberhasilan pembangunan terutama dalam bidang kesejahteraan dan kesehatan berdampak terhadap meningkatnya usia harapan hidup.97 % dari jumlah penduduk Indonesia.pelengkap adalah pelayanan sosial. USA. realse. Boedhi. dimana jumlah orang lanjut usia lebih banyak dibandingkan anak berusia 14 tahun kebawah. DAFTAR PUSTAKA Darmojo. Darmojo. Untuk mengatasi salah satu dari berbagai persoalan orang lanjut usia. Namun lambat laun dirasakan bahwa yang membutuhkan pelayanan kesejahteraan lanjut usia yang . 1996. Boedhi: Bunga Rampai Karangan Ilmiah : UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro / RS Dr. Sekarang ini indonesia menempati peringkat keempat dunia dengan penduduk orang berusia lanjut terbanyak di Dunia dibawah Cina.com / aamvan@yahoo. Pada tahun 2010 Diprediksikan jumlah orang lanjut usia meningkat menjadi 9.709 orang atau 7.blogspot. 1999. kesepian akibat ditinggal oleh pasangan atau teman seusia dan lain-lain.

anaknya mungkin berangkat bekerja dan cucunya kesekolah. Panti Werdha bisa menjadi pilihan yang baik untuk menikmati hari tua. membuat keluarga tidak memiliki waktu untuk lebih banyak bersama kedua orang tua. diperhadapkannya seseorang pada suatu pilihan yang sulit.berbasis panti tidak hanya bagi mereka yang miskin dan terlantar saja. Menjadi tua bukanlah pilihan tetapi hidup di panti werdha adalah sebuah pilihan Tidak dipungkiri bahwa keluargalah yang merupakan unit yang paling tepat untuk memberikan pelayananan terhadap orang tuanya yang lanjut usia. Apabila ia tinggal dalam keluarga mungkin ia akan mengalami perasaan yang bosan ditinggal sendiri. perubahan tipe keluarga dari keluarga besar (extended family) menjadi keluarga kecil (nuclear family). dimana keluarga mengalami situasi yang tidak memungkinkan untuk merawat sendiri ayah dan ibu yang telah senja karena alasan pekerjaan dan kesibukan lainnya. Asalkan pengambilan keputusan/kesepakatan untuk tinggal di Panti Werdha melibatkan seluruh anggota keluarga serta persetujuan orang tua kita yang sudah lansia. Inilah dilema yang terjadi. Sekarang telah mengalami perubahan dimana ibu juga bertindak sebagai pencari nafkah bekerja di Kantoran dan sebagainya. Mengapa demikian? Ada beberapa alasan yang yang menyebabkannya. anak-anak. dan lain-lain. Keluarga yang memasukkan orang tuanya ke panti werdha harus tetap menunjukkan kasih sayangnya meski mereka berada di Panti Werdha. Pertama. Tetapi jika menghadapi kondisi yang disebutkan diatas maka inilah yang dapat dikatakan sebagai jawaban atas permasalahan yang dihadapi oleh keluarga yang memiliki orang tua lanjut usia. tentu saja kondisi ini membutuhkan peran pengganti keluarga Kedua adalah perubah peran ibu. Ketiga kebutuhan sosialisasi orang lanjut usia itu sendiri. Sebaliknya karena lebih seringnya ditinggal seorang diri di Rumah membuat orang tua merasa kesepian dan membutuhakan suatu lingkungan dengan komunitas yang sama. tetapi orang yang berkecukupan dan mapan pun membutuhkannya. Dengan menggunakan jasa panti werdha sebagai suatu solusi adalah tepat. Pada awalnya peran ibu adalah mengurus rumah tangga. dan peran-peran keluarga ini perlu diamaksimalkan. Sehingga ia membutuhkan suatu lingkungan sosial diamana didalam komunitas tersebut terdapat beberapa kesamaan sehingga ia merasa betah dan kembali bersemangat. ibu dan anak-anak. Sehingga anggota keluarga seperti anak-anak dan kakek serta nenek dititipkan pada institusi tertentu. Pandangan masyarakat tentang Panti Jompo dan orang tua yang . Dimana pada awalnya dalam keluarga terdiri dari ayah. Akan tetapi sebagian masyarakat Indonesia memandangnya sebagai suatu yang negative. sehingga yang terjadi adalah orang tua akan tinggal berdua saja. Tapi sesuai dengan perkembangan keluarga ada tahap dimana keluarga menghadapi anak yang menikah atau membentuk keluarga sendiri.

Di Panti Werdha mereka menemukan teman yang relative seusia dengannya dimana mereka dapat berbagi cerita. maka profesi keperawatan seyogyanya harus mampu berespon darn meningkatkan diri agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara sebagai profesi. Sejalan dengan situasi-tersebut. selain bersama teman seusianya. tantangan dan peluang merupakan tiga aspek inti yang sedang terjadi dalam pelayanan keperawatan di Indonesia saat ini. senam dan banyak kegiatan lainnya. Orang tua yang dititipkan di Panti Werdha tidak berarti mereka terbuang. keperawatan harus memiliki ilmu dan kiat vang diprasyaratkan untuk dapat secara otonom mengendalikan mutu pendidikan . Pada masa lalu [dan bahkan sebagian besar sampai sekarang keperawatan dilakukan berdasarkan intuisi dan tradisi sehingga keperawatan dianggap sebagai kiat tanpa komponen ilmiah. mereka tetap memiliki keluarga yang merupakan bagian penting dari keberadaannya. Di Panti mereka mendapatkan fasilitas serta kemudahan– kemudahan/aksesibilitas lainnya. Disamping itu. suatu proses yang mendasar untuk merestrukturisasi pelayanan kesehatan telah mempengaruhi proses perubahan dalam pelayanan keperawatan. terapi kelompok.dititipkan di sana agaknya perlu diluruskan. ketrampilan memimpin dan kompetensi (Nurachmah. Pandangan ini telah menempatkan keperawatan hanya sebagai `pelengkap' atau bagian dari disiplin kesehatan lain dengan ketidakpastian tentang keperawatan sebagai disiplin ilmu vang unik. Fokus dan orientasi system pelayanan kesehatan telah mempengaruhi proses perubahan dalam pelayanan keperawatan. 1999). Karena kebereadaan lansia di Panti dengan berbagai karakter serta memiliki berbagai ragam problematika maka dipandang perlu untuk memberikan suatu penanganan khusus sesuai kelebihan serta kekurangan yang mereka miliki. penyaluran bakat dan hoby. Bimbingan Mental Spiritual serta Rekreasi. Di Panti Werdha selain mendapatkan pelayanan berupa pemenuhan kebutuhan dasar juga diberikan fungsi positif lainnya yaitu program-program pelayanan sosial yang bisa memberikan kesibukan buat mereka sebagai pengisian waktu luang diantaranya pemberian Bimbingan Sosial. mereka juga mendapatkan pelayanan maksimal dari para Pekerja Sosial dimana mereka menemukan hari-harinya dengan ceria ISSUE DAN KECENDRUNGAN KEPERAWATAN GERONTIK Perubahan. Fokus dan orientasi system pelayanan kesehatan dan suatu penyakit dan pelayanan kesehatan akut telah berubah menjadi focus kepada kesahatan/kesejahteraan dan berorientasi pada masyarakat. Salah satu cara adalah untuk meningkatkan sumber daya tenaga keperawatan adalah dengan meningkatkan pengetahuan.

Sumber daya manusia keperawatan Tingkat pendidikan keperawatan di Indonesia sekarang ini masih sangat bervariasi dari jenjang pendidikan menengah sampai jeniang pendidikan tinggi. Model praktek keperawafan yang belum baku Setelah peraturan menteri kesehatan nomer 647 diterbitkan. Faktor-faktor yang mempersulit penelitian keperawatan gerontik adalah: I. Padahal dalam Musyawarah nasional ke VI di bandung telah menyepakati .magisler keperawatan dan Dok-tor 2. Bentuk praktek keperawatan yang jelas sangat penting termasuk praktek keperavatan gerontik karena penelitian keperawatan yang akan dilakukan akan berhubungan erat dengan system atau bentuk praktek yang dikembangkan. yang secara skematis ditunjukan dalam diagram berikut: Sumber Hamid. Sementara itu.dan praktik keperawatan (Hamid. fenomena penelitian dan banyak area penelitian gerontik yang belum tersentuh. untuk dapat melakukan perubahan. Dalain melakukan penelitian keperawatan di pelayanan gerontik kita harus melakukan analisa SWOT sehingga kita sadar dan memandang persoalan secara jernih. Keheterogenitasan inilah yang akan mempersulit pengembangan penelitian tersebut karena jenjang pendidikan keperawatan didoininasi oleh pendidikan keperawatan tingkat menengah yang secara konseptual dan kemampuan sangat terbatas. 1999 Dengan demikian perawatan system pelayanan keperawatan gerontik akan kuat karena didukung oleh teori yang kokoh. 1999). . Pertanyaannya yang muncul adalah: bagaimana pengembangan penelitian gerotik di Indonesia sekarang ?. prakti keperawatan gerontik yang terstandarisasi dan penelitian yang berkelanjutan untuk mengembangkan kedua komponen tersebut. Untuk dapat mengembangkan pelayanan keperawatan dibidang gerontik perlu adanya pengembangan yang serasi tiga komponen cikal bakal pengembangan disiplin keperawatan. Kita sepakat bahwa penelitian ceperawatan diperlukan dan harus dikembangkan namun pada waktu yang akan datang. Kelompok pendidikan keperawatan menegah diperkirakan menguasai 80 % dari seluruh jumlah tenaga keperawatan yang ada di Indonesia saat ini. menghadapi tantangan dan mengacnbil peluang serta merubai persepsi tentang profesi keperawatan yang tidak benar memerlukan kesiapan sernua komponen keperawatan yang secara factual masih acak¬acakan dan penuh ketidakpastian. Jawabnya untuk saat sekarang ini adalah bisa tapi sangat sulit karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Jumlah perawat dengan kwalifikasi sarjana keperawatan (SI keperawatan). sampai sekarang belum ada bentuk konkrit praktek keperawatan yang akan dikembangkan. Dikatakan bisa karena terbuka lebar tempat penelilian.

akan berbentura. Selama restrukturisasi ini belum dilakukan maka selama ilu juga terjadi kesulitan pengembangan profesi keperawatan termasuk dalam hal penelitian karena. Jangan semua keputusan pengembangan system pelayana kesehatan di tentukan oleh Departemen Kesehatan tapi organisasi profesi tak gterlibat. bargaining power dan penentuan kebijakan (regulasi). Sumber pembiayaan penelitian yang ada belum terkoordinir Keperawatan sebagai profesi. 4. Berdasarkan masalah-masalah yang ada diatas sudah saatnya dilakukan restrukturisasi pelayanan kesehatan secara bertahap dan berkelanjutan sehingga semua profesi di area kesehatan mempunyai kesempatan mengembangkan diri. Sebagai organisasi profesi yang datam tahap pengembangan. disini seorang tenaga medis/dokter yang bertindak sebagai nahkoda (Yusa.masing profesi yang telah diakui oleh Peraturan Pemerintah No 32 tentang tenaga kesehatan (Hanafiah dan Amir. Penelitian untuk mengembangkan pelayanan keperawatan termasuk pelayanan . saat li masih dalam fase pengembangan sehingga dibutuhkan kerja keras serta infrastruktur yang menunjang perubahan tersebut. 3.beberapa butir untuk menindaklanjuti peraturan menteri kesehatan no 647 yang salah satunya memberikan amanat agar Pengurus Pusat PPNI untuk membuat petujuk tekhnis operasional (Bina sehat 2000). Para dokter selalu berangapan bahwa pendekatan tim terhadap upaya penyembuhan dan pemulihan memerlukan adanya seorang kordinator.n dengan system yang masih buruk. 2000). Sebagai contoh konkrit baliwa pelayanan kesehatan hanya dibagi menjadi pelayanan kedokteran (medical services) dan pelayanan keseliatan masyarakat (public health services) (Az_war. Sehingga apapun kebijakan yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan selalu berorientasi medis. 1996) sehingga mengangap profesi-profesi kesehatan diluar kedokteran sebagai pelengkap atau sebagal subsistem pelayanan kedokteran. Restrukturisasi pelayana kesehatan merupakan suatu upaya mencapai suatu perubahan yang diharapkan melalui perancangan kembali aspek-aspek yang dianggap menjadi penghambat terjadinya perubahan (Nurachmah. mengembangkan praktek yang pada akhirnya mengembangakan pelayanan kesehatannya kepada masyarakat. perawat masih lemah dari segala segi termasuk dalam pendanaan. Semestinya perlu dikembangkan secara professional sehingga masing . 1999) diberi kebebasan mengembangkan diri sesual dengan sudut padang dan otonomi profesi tersebut yang salah satunya dikembangkan melalui penelitian. 2000). Selama ini kebijakan yang dilahirkan oleh depatemen kesehatan se!alu berorientasi medis dan menempatkan dokter sebagai 'penguasa tunggal' dalam pelayanan kesehatan. Selama ini bentuk pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di Indonesia masih beorientasi pada pelayanan medis (medical oriented). Sistem pelayanan kesehatan yang masih buruk.

Riset keperawatan mempunvai potensi untuk berkontribusi pada pengembangan teori dan pengembangan tubuh ilmu pengetahuan keperarwatan. 2. dan masyarakat. lansia pada masyarakat miskin dengan cara yang dapat diterima dan efektif. Memastikan bahwa asuhan keperawatan yang diperlukan bagi kelompok yang beresiko: seperti lansia dengan penyakit kronik. Mengklasifikasi fenomena praktek keperawatan gerontik. 3. 2. 1999 dengan modifikasi): 1. Meminimalkan dampak negatif dari teknologi kcsehatan baru terhadap kemampuan adaptif individu lansia dan keluarga yang sedang mengalami masalah kesehatan akut dan kronik. Untuk mengatasi kesulitan tersebut.keperawatan gerontik akan sangat memerlukan dana yang sangat besar untuk ini perlu dikembangkan usaha untuk menghimpun dana dari berbagai pihak sehingga semua penelitian keperawatan dapat di danai dari dana yang terkumpul tersebut. 5. lansia dengan gangguan jiwa. Perawat yang tertarik terhadap penelitian harus mempunyai keingintahuan dan pertanyaan yang perlu dijawab secara ilmiah. Mengembangkan metodologi yang integrative untuk mengkaji manusia . Jika perawat hanya mengandalkan dana penelitian yang disedikan oleh departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial akan selalu menemui hambatan/kesulitan karena akan berbenturan dengan system yang berlaku sekarang ini dan proporsi pendanaan yang disedikan juga tidak seimbang untuk masing-tnasing profesi. Masalah riset merupakan masalah riset keperawatan apabila perawat mempunyai akses dan kendali terhadap fenomena yang diteliti. 3. Meminimalkan atau mencegah perilaku atau lingkungan yang menimbulkan masalah kesehatan dan berdampak pada menurunnya kualitas hidup dan produktifitas. oerlu dilakukan klasifikasi karakteristik dan prioritas penelitian keperawatan. keluarga. Mengembangkan instrumen untuk mengukur hasil intervensi keperawatan. kelompok. Badan tersebut berfungsi mencari donatur insidentil dan donatur tetap serta melakukan mobilisasi terhadap dana yang terkumpul demi kepentingan penelitian keperatvatan. Menurut Diers (dikutip Cracen dan Hirnle. Perlu satu badan yang mengurusi tentang pendanaan penelitian keperawatan. Meningkatkan kesehatan. 6. kesejahteraan dan kemampuan merawat diri sendiri sehingga tiap lansia baik di rumah sakit. 1996) secara umum karakteristik penelitian keperawatan yang diperlukan adalah: 1. 4. Memastikan prinsip etik sebagai pegangan dalam melakukan riset keperawatan 7. 4. Prioritas penelitian atau risetnva adalah sebagai berikut(Hamid. Riset keperatvatan harus berfokus pada variabel yang meningkatkan asuhan keperawatan. 8.

sering terjadi bakterimia. (Agus Tessy. uretra (uretritis) 3. kateter kandung kencing menetap dan prostatitis. Kandung kemih (sistitis) 2. c. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut: a. Klasifikasi Jenis Infeksi Saluran Kemih. ISK uncomplicated (simple) ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik. antara lain: 1. Merancang dan mengevaluasi model alternatif teori keperawatan dan pelayanan keperawatan dan system pelayanan kesehatan sehingga perawat mampu meningkatkan mutu dan menghemat biaya yang dikeluarkan dalam mernenuhi kebutuhan 'tansia khususnya dan masyarakat pada umumnya. Etiologi . b. 10. 9. Barbara. ginjal (pielonefritis) Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut. Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang memproduksi urease. Kelainan abnormal saluran kencing. 1998) B. 2001) Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih.secara holistic dan kontek keluarga dan gaya hidup. ASKEP ISK GERONTIK Realese by Ivan LAPORAN PENDAHULUAN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) A. Mengidentifikasi dan menganalisa faktor-faktor histories dan kontenporer yang mempengaruhi bentuk keterlibatan keperawatan porofesional dalam pengembangan kebijakan kesehatan nasional. Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK. ISK ini pada usi lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih. C. Pengertian KeInfeksi Saluran mih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI) adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. misalnya batu. 11. Mengevaluasi keberhasilan pendekatan altematif yang memerlukan pengetahuan yang luas dan ketrampilan yang tinggi dalam praktek pelayanan keperawatan geonlik. reflex vesiko uretral obstruksi. sepsis dan shock. atoni kandung kemih. (Enggram. kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika. paraplegia. dibedakan menjadi: 1. 2. ISK complicated Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas. prostat (prostatitis) 4. Gangguan daya tahan tubuh d. anatomic maupun fungsional normal.

kontaminasi fekal. beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK. staphylococcus epidemidis. Secara asending yaitu: ? masuknya mikroorganisme dalm kandung kemih. Klebsiella : penyebab ISK complicated c. Patofisiologi Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple) b. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensii yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri. hematogen. Mobilitas menurun c. ? Mobilitas menurun ? Nutrisi yang sering kurang baik ? System imunnitas yng menurun ? Adanya hambatan pada saluran urin ? Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (pemeriksaan sistoskopik. pemakaian kateter). Ada dua jalur utama terjadinya ISK. keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sendiri. Enterobacter. Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya: ? Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau kurang efektif. ? Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal Secara hematogen yaitu: sering terjadi pada pasien yang system imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara hematogen Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen. asending dan hematogen. Adanya hambatan pada aliran urin f. factor tekanan urine saat miksi. Proteus. kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar ke suluruh traktus urinarius. Nutrisi yang sering kurang baik d. antara lain: factor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada laki-laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi. limfogen. antara lain: adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang menakibtakan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebut sebagai hidronefroses. Selain itu. antara lain: a.1. dan-lain-lain. bendungan intrarenal akibat jaringan parut. Penyebab umum obstruksi adalah: jaringan . Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat D. dan lain-lain. Mikroorganisme ini masuk melalui : kontak langsung dari tempat infeksi terdekat. Pseudomonas. baik seluler maupun humoral e. antara lain: a. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut. enterococci. yaitu: adanya bendungan total urine yang mengakibatkan distensi kandung kemih. adanya dekubitus yang terinfeksi. Sistem imunitas menurun. 2. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif b.

Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. 5. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 4. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis. ? Tes Penyakit Menular Seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal. adanya batu. neisseria gonorrhoeae. hodronerosis atau hiperplasie prostate. neoplasma dan hipertrofi prostate yang sering ditemukan pada laki-laki diatas usia 60 tahun. Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic. batu. msistografi. Bakteriologis ? Mikroskopis ? Biakan bakteri 3. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih ? Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih.parut ginjal. sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi . massa renal atau abses.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. Pielografi (IVP). klamidia trakomatis. dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius. herpes simplek). Pathway : terlampir E. Urinalisis ? Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. 2. ? Tes. Metode tes ? Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat).tes tambahan: Urogram intravena (IVU). Pemeriksaan Penunjang 1. Tes pengurangan nitrat. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala ISK pada bagian bawah (sistitis): ? Nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih ? Spasame pada area kandung kemih dan suprapubis ? Hematuria ? Nyeri punggung dapat terjadi Tanda dan gejala ISK bagian atas (pielonefritis) ? Demam ? Menggigil ? Nyeri panggul dan pinggang ? Nyeri ketika berkemih ? Malaise ? Pusing ? Mual dan muntah F. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.

Pengkajian 1. Setelah penanganan dan sterilisasi urin. Pemerikasaan fisik: dilakukan secara head to toe dan system tubuh 2. ? Apakah terjadi inkontinensia urine? 4. bactrim. abses). factor kausatif (mis: batu. Pengkajian dari manifestasi klinik infeksi saluran kemih . Pyridium. G. tetapi E. septra). suatu analgesic urinarius jug adapt digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat infeksi. Efek nefrotosik obat 2. Penggunaan medikasi yang umum mencakup: sulfisoxazole (gastrisin). Jika kekambuhan disebabkan oleh bakteri persisten di awal infeksi. trimethoprim/sulfamethoxazole (TMP/SMZ. Efek toksisitas obat Pemakaian obat pada usia lanjut hendaknya setiasp saat dievalusi keefektifannya dan hendaknya selalu menjawab pertanyaan sebagai berikut: ? Apakah obat-obat yang diberikan benar-benar berguna/diperlukan/ ? Apakah obat yang diberikan menyebabkan keadaan lebih baik atau malh membahnayakan/ ? Apakah obat yang diberikan masih tetap diberikan? ? Dapatkah sebagian obat dikuranngi dosisnya atau dihentikan? H. Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko: ? Adakah riwayat infeksi sebelumnya? ? Adakah obstruksi pada saluran kemih? 3. Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Pemakaian obat pada usia lanjut perlu dipikirkan kemungkina adanya: ? Gangguan absorbsi dalam alat pencernaan ? Interansi obat ? Efek samping obat ? Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinya melalui ginjal Resiko pemberian obat pada usia lanjut dalam kaitannya dengan faal ginjal: 1. ? Bagaimana dengan pemasangan kateter foley? ? Imobilisasi dalam waktu yang lama. Terapi Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dapat dibedakan atas: ? Terapi antibiotika dosis tunggal ? Terapi antibiotika konvensional: 5-14 hari ? Terapi antibiotika jangka lama: 4-6 minggu ? Terapi dosis rendah untuk supresi Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. harus segera ditangani. kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan. terapi preventif dosis rendah.penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. Adanya factor yang menjadi predisposisi pasien terhadap infeksi nosokomial. Penatalaksanaan Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhaap flora fekal dan vagina. jika muncul salah satu.

dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. frekuensi. J. baud an pola berkemih. dan jumlah) ? Adakah disuria? ? Adakah urgensi? ? Adakah hesitancy? ? Adakah bau urine yang menyengat? ? Bagaimana haluaran volume orine. d. masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang Rasional: untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan b. g. Intervensi Keperawatan 1. berikan perawatan kateter 2 nkali per hari. Rasional: Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasuki kandung kemih dan naik ke saluran perkemihan. 2. warna (keabu-abuan) dan konsentrasi urine? ? Adakah nyeri-biasanya suprapubik pada infeksi saluran kemih bagian bawah ? Adakah nyesi pangggul atau pinggang-biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas ? Peningkatan suhu tubuh biasanya pada infeksi saluran kemih bagian atas. kandung kemih dan struktur traktus urinarius lain.? Bagaimana pola berkemih pasien? untuk mendeteksi factor predisposisi terjadinya ISK pasien (dorongan. tidak nyeri pada perkusi panggul Intervensi: a. Kolaborasi: . Kriteria evaluasi: Tidak nyeri waktu berkemih. seprti pijatan punggung. Rasional: meningkatkan relaksasi. Jika dipaang kateter indwelling. Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus Relaksasi: membantu mengarahkan kembali perhatian dan untuk relaksasi otot. menurunkan tegangan otot. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. lamanya intensitas skala (1-10) penyebaran nyeri. Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna. 5. Berikan tindakan nyaman. e. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra. kandung kemih dan sruktur traktus urinarius lain. 3. Berikan perawatan perineal Rasional: untuk mencegah kontaminasi uretra f. Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. Pengkajian psikologi pasien: ? Bagaimana perasaan pasien terhadap hasil tindakan dan pengobatan yang telah dilakukan? Adakakan perasaan malu atau takut kekambuhan terhadap penyakitnya. Rasional: membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan penyebab nyeri c. prognosis. Diagnosa Keperawatan Yang Timbul 1. Dx 1 : Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra. lingkungan istirahat. Catat lokasi. I.

Pemberian air sampai 2400 ml/hari Rasional: akibta dari haluaran urin memudahkan berkemih sering dan membentu membilas saluran berkemih 2. jingga gelap. menetes setelah berkemih. Pla berkemih berubah. termasuk air segar .temuan ini dapat memeberi tanda kerusakan jaringan lanjut dan perlu pemeriksaan luas ? Berikan analgesic sesuia kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya Rasional: analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri h. Observasi perubahan status mental:. perasaan ingin kencing. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristi urin Rasional: memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi b. berkabut atau keruh. Dx 3: Kurangnya pengetahuan tentang kondisi. 3. Kecuali dikontraindikasikan: ubah posisi pasien setiap dua jam Rasional: untuk mencegah statis urin g. Intervensi: a. dan tindakan perawatan diri preventif. Berikan antibiotic. Tentukan pola berkemih pasien c.? Konsul dokter bila: sebelumnya kuning gading-urine kuning. pemeriksaan diagnostic. elektrolit. BUN. kreatinin Rasional: pengawasan terhadap disfungsi ginjal ? Lakukan tindakan untuk memelihara asam urin: tingkatkan masukan sari buah berri dan berikan obat-obat untuk meningkatkan aam urin. Kaji ulang prose pemyakit dan harapan yang akan datanng . dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya sumber informasi. Kaji keluhan kandung kemih penuh Rasional: retensi urin dapat terjadi menyebabkan distensi jaringan(kandung kemih/ginjal) e. perilaku atau tingkat kesadaran Rasional: akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolit dapat menjadi toksik pada susunan saraf pusat f. Dx 2: Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain. Nyeri menetap atau bertambah sakit Rasional: Temuan. rencana pengobatan. Kriteria Evaluasi: menyatakna mengerti tentang kondisi. Kolaborasi: ? Awasi pemeriksaan laboratorium. oliguri. Peningkatan masukan sari buah dapt berpengaruh dalm pengobatan infeksi saluran kemih. Buat berbagai variasi sediaan minum. prognosis. tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi. Kriteria Evaluasi: Pola eliminasi membaik. sring berkemih dengan jumlah sedikit. disuria) Intervensi: a. Dorong meningkatkan pemasukan cairan Rasional: peningkatan hidrasi membilas bakteri. Rasional: aam urin menghalangi tumbuhnya kuman. d.

b. Imam A. Jakrta: EGC. pemeriksaan diagnostic: tujuan. Asam piruvat dari sari buah berri membantu mempertahankan keadaan asam urin dan mencegah pertumbuhan bakteri e. persiapan ynag dibutuhkan sebelum pemeriksaan. Enggram.embantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencan terapetik. Barbara. inum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari khususnya sari buah berri. Instruksikan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan. (1995). Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Rasional: pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan m. Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan. (2001). Marilyn E. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Infeksi Saluran Kemih. Suwanto. gambaran singkat. Ardaya. (1998). Suzanne C. Edisi: 8. jelaskna pemberian antibiotic. Rasional: Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik. Tessy Agus. Rasional: Pasien sering menghentikan obat mereka. Edisi: 4.Rasional: memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan beradasarkan informasi. Jakarta: EGC. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Nugroho. Parsudi. Jakarta: FKUI Price. tindakan untuk mencegah penyebaran. Jakarta: EGC Smeltzer. Edisi: 2. (2000). Cairan menolong membilas ginjal. c. Keperawatan Gerontik. Alih Bahasa: Peter Anugrah. Sylvia Andrson. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart. Jakarta: EGC. DAFTAR PUSTAKA Doenges. (2001). jika tanda-tanda penyakit mereda. . (1999). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Alih Bhasa: Agung Waluyo. Ni made Sumarwati. Jakarta: FKUI. perawatan sesudah pemeriksaan. Alih Bahasa: I Made Kariasa. Pastikan pasien atau orang terdekat telah menulis perjanjian untuk perawatan lanjut dan instruksi tertulis untuk perawatn sesudah pemeriksaan Rasional: instruksi verbal dapat dengan mudah dilupakan d. Edisi: 3. Wahyudi. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit: pathophysiologi clinical concept of disease processes. Berikan informasi tentang: sumber infeksi. Edisi: 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful