You are on page 1of 3

1.

Segmen Pelanggan
Kapasitas dari perusahaan ini sebanyak 3 kontainer yang berukuran 20 feet dalam satu bulan atau setara dengan kurang lebih
66 ton. Dalam proses pengirimannya CV mandiri globalindo menggunakan cara FOB shipping point, yaitu tanggung jawab
dan biaya pengiriman yang ditanggung perusahaan hanya hanya sampai pelabuhan di Indonesia. Sedangkan selanjutnya
akan ditanggung oleh pelanggannya. Selama ini, pelanggan dari perusahaan ini memang hampir seluruhnya berasal dari luar
negeri. Pembayaran dilakukan melalui transfer dengan minimal pembayaran 50 persen setelah penandataganan kontrak dan
sisanya dibayarkan setelah adanya surat boarding dari pelabuhan. makloon adalah pemberian jasa dalam
rangka proses penyelesaian suatu barang tertentu yang proses pengerjaannya dilakukan oleh pihak pemberi jasa
(disubkontrakkan), sedangkan spesifikasi, bahan baku, barang setengah jadi, bahan penolong/ pembantu yang akan diproses
sebahagian atau seluruhnya disediakan oleh pengguna jasa, dan kepemilikan atas barang jadi berada pada pengguna jasa”.
Sehingga pengguna jasa ini atau pelanggan dari CV Mandiri Globalndo merupakan perusahaan yang memesan briket dengan
merk dan kemasan yang telah mereka ciptakan. Terdapat minimum pembelian yaitu sebesar satu kontainer ukuran 20 feet.
Pelanggan yang memesan brand atas briket yang dipesan, juga diperbolehkan menegosiasikan keinginannya dalam jenis dan
bentuk pembungkusan produk. Namun dalam kemasan akan tetap tertera made in Indonesia walaupun nama atas produk
berbeda-beda.
2. Proposisi Nilai
Nilai yang ditawarkan oleh CV Mandiri Globalindo untuk pelanggannya dengan menawarkan kustomisasi. Kustomisasi ini
memungkinkan pelanggan untuk memesan bentuk briket, desain kemasan, nama produk, dan juga jenis lapisan saat
pengiriman. Hal ini akan sangat membantu pelanggan terutama dalam bidang produksi. Oleh karena itu nilai yang
ditawarkan ini juga termasuk dalam cara pembentukan nilai getting the job done. Dengan cara ini maka memudahkan
pelanggan untuk dapat fokus terhadap pemasaran produk briketnya saja tanpa harus memikirkan pada level prouksi. Tabel 6
Standar mutu briket tempurung kelapa CV Mandiri Globalindo
Parameter Nilai
Kadar air (%) 5-8, Kadar abu (%) 3-8, Nilai kalor (kal /g) 7000, Kadar sulfur (%) 0.01
CV Mandiri Globalindo juga menawarkan nilai berupa produk yang terstandarisasi oleh perusahaan Sucofindo yang diakui
di perdagangan internasional. Sebelum pengiriman produk selalu dilakukan pengecekan terhadap mutunya. Standar mutu
yang ditawarkan dapat dilihat pada Tabel 6. Selain itu untuk menjaga kualitas dari produk maka setiap penerimaan bahan
baku dari pemasok juga akan dilakukan pengecekan. Pengecekan dilakukan oleh kepala produksi dengan prosedur yang
telah ditetapkan.
3. Saluran
Pada elemen saluran ini menjelaskan mengenai bagaimana perusahaan menyampaikan produk kepada pelanggannya.
Perusahaan bekerja sama dengan pihak pemasar yang berupa individu yang menawarkan diri untuk mencarikan pelanggan
bagi perushaan. Untuk sekarang terdapat dua orang yang menjadi perantara antara perusahaan dan pelanggan. Individu ini
diperbolehkan membuat web maupun iklan dengan mengatas namakan perusahaan dan memajang dokumentasi tentang
produk dan perusahaan sebagai sarana pemasarannya.
Penghubung ini biasa disebut dengan “Penghubung”. Penghubung ini hanya bertugas mempertemukan pihak perusahaan dan
pelanggan. Kemudian baru akan terjadi tawar menawar terkait harga dan kustomisasi yang diinginkan pelanggan terkait
briket. Nantinya Penghubung ini akan mendapatkan keuntungan per ton dari briket yang dibeli pelanggan.
4. Hubungan dengan Pelanggan
CV Mandiri Globalindo dalam menjalin hubungan dengan pelanggannya menggunakan satu jenis hungan yaitu juga layanan
otomatis dan bantuan personal. Pada layanan otomatis belum yang dilakukan adalah hubungan Penghubung dengan
pelanggan menggunakan web yang telah dibuat oleh para penghubung yang mengatasnamakan CV Mandiri Globalibdo.
Namun
penggunaan layanan otomatis tersebut tidak dilaksanakan secara kesuluruhan sampai transaksi pembelian terjadi. Hal ini
karena kesepakatan transaksi pembelian tetap di bawah tanggung jawab perusahaan, sehingga web yang ada hanya dijadikan
sebagai sarana pelanggan untuk melihat jenis produk, dan kontak perusahaan yang dapat dihubungi.
Dengan melihat hubungan dengan pelanggan yang telah dilakukan maka hubungan yang lebih sering digunakan adalah
hubungan bantuan personal. Tahapan hubungan personal akan dilakukan antara pelanggan dan pemilik perusahaan biasanya
dilakukan pada tahap awal setelah pelanggan melihat web perusahaan atau setelah pelanggan berhubungan dengan
Penghubung. Kunjungan dilakukan untuk meyakinkan pelanggan atas proses produksi dan kualitas produk. Saat kunjungan
akan dilakukan uji coba produk untuk meyakinkan pelanggan aas kualitas produk. Biasanya pelanggan mencari briket yang
abunya berwarna putih setelah dibakar habis. Dengan melakukan uji coba pelanggan juga dapat melihat lamanya nyala
briket. Tahap selanjutnya setelah adanya kunjungan maka pelanggan akan melakukan komunikasi dengan perusahaan lewat
telepon maupun email. Setelah persetujuan kontrak pembelian, pelanggan juga akan mendapatkan informasi saat barang
telah dikirim dengan pengiriman surat tanda pengiriman yang dikeluarkan oleh pihak pelabuhan.
5. Arus Penerimaan
Sumber penerimaan perusahaan hanya dari penjualan produk berupa briket tempurung kelapa. Dalam arus pendapatan
perusahaan yang sering terjadi adalah jenis arus pendapatan berulang. Hal ini karena beberapa pelanggan perusahaan
melakukan pembelian secara berulang kepaa perusahaan. Walaupun ada pula beberapa pelanggan yang hanya melakukan
satu kali pembelian saja. Mekanisme penetapan harga yang diterapkan oleh perusahaan bersifat dinamis.Harga akan
dinegosiasikan kepada calon pelanggan sebelum terjadinya
penandatanganan kontrak. Akan tetapi sebelumnya sudah ditetapkan minimal harga produk untuk dijual berdasarkan biaya
produksi dan juga keuntungan minimal yang ingin diproleh. Data penjualan CV Mandiri Globalindo dapat dilihat pada
Gambar 2. Harga yang telah diberikan kepada pelanggan dari tahun 2013 sampai 2016 bervariasi mulai dari Rp7 500
samapai Rp15 000 jika dikonversikan kedalam nilai rupiah. Namun dalam transaksi penjualan menggunakan mata uang
dolar.\
Penjelasan proses pengolahan briket tempurung kelapa sebagai berikut :

1.Penggilingan arang
Tahap ini adalah proses dimana mengubah arang tempurung kelapa menjadi tepung arang. Pada proses ini digunakan mesin
yang berkapasitas 200 kg per jam, sehingga untuk melakukan penggilingan dua ton arang diperlukan waktu 5 jam. Hal ini
karena alat yang yang digunakan untuk menggiling sebanyak 2 buah. Alat yang dipakai ini dibuat agar tepung arang yang
dihasilkan rata-rata berukuran 60 mesh sesuai dengan ketentuan SNI 01-6235-2000.
2. Pengayakan tepung arang
Pengayakan dilakukan untuk membuat tepung arang yang dipakai yang berukuran berukuran 60 mesh ataupun lebih kecil.
Hal ini karena mesin pengayak yang digunakan memiliki ukuran penyaring 60 mesh. Pengayakan ini dilakukan untuk
mengantisipasi adanya arang yang mengalami penggilingan tidak sempurna, sehingga ukuranya masih terlalu besar. Ukuran
tepung arang ini akan mempengaruhi kemampuan merekat dan menghilangkan kemungkinan adanya batu-batuan, sampah,
dan pasir yang ada dalam tepung arang tersebut. Proses pengayakan dilakukan selama 8 jam. Dalam sekali proses
pengayakan dibutuhkan waktu 1 jam dengan kapasitas 250 kg. Pada proses pengayakan memungkinkan pengurangan jumlah
dari tepung arang sekitar dua sampai tiga persen. Namun pengurangan ini akan tertutupi oleh percampuran tepung arang
dengan lem kanji pada tahap berikutnya. Oleh karena itu, kekurangan yang ada dapat tertutupi.
3. Pencampuran tepung arang dengan lem kanji.
Pencampuran lem kanji dimaksudkan untuk menjadi perekat dalam pembentukan briket. Lem kanji yang digunakan
sebanyak 2.5 - 3 persen dari berat tepung arang, sehingga diperkirakan lem kanji yang digunakan untuk dua ton tepung arang
adalah 50 kg. Proses pencampuran ini menggunakan alat yang disebut mixer dengan kapasitas 100 kg per proses. Lamanya
satu kali proses yang dilakukan adalah sepuluh menit, sehingga waktu yang dibutuhkan adalah 4 jam. Pada tahap ini akan
dihasilkan adonan briket yang siap untuk dicetak.
b. Pencampuran tepung arang dengan lem kanji.
Pada proses ini dilakukan pencampuran tepung arang dengan tepung kanji. Hal ini dimaksudkan agar tepung arang dapat
menjadi bentuk yang kuat dan tidak mudah hancur. Tepung kanji yang digunakan sebanyak 2.5 - 3 persen dari berat tepung
arang. Proses ini dilakukan dengan menggunakan satu mesin saja. Kapasitas mesin ini adalah 3 kwintal per 7 menit
4. Pencetakan
Setelah tepung arang tercampur dan lem kanji tercampur dengan baik, maka proses yang seanjutnya dilakukan adalah
pencetakan briket. Briket yang akan dihasilkan berbentuk kubus dengan ukuran 1,5 x 2,5 x 2,5 cm. Pencetakan dilakukan
selama 8 jam dengan menggunakan mesin pencetak yang berkapasitas 250 kg per jam. Pada proses pencetakan ini akan
diperoleh briket namun dengan kadar air yang masih tinggi sehingga masih lembek yang siap diproses ketahap selanjutnya
yaitu pengeringan menggunakan oven.
5. Pengeringan dengan oven
Proses pengeringan dilakukan untuk membuat briket menjadi padat dan keras. Proses pengeringan ini dilakukan dengan
menggunakan oven ruangan dengan mesin pemanas. Pengeringan dilakukan selama 8 jam dengan suhu 800C. Kapasitas
ruangan oven sebanyak 2 – 2.5 ton. Dari hasil pengeringan dengan menggunakan oven ini akan didapatkan briket yang siap
untuk dikemas.
e. Pengemasan
Proses pengemasan dilakukan oleh 8 orang pegawai borongan. Kemasan produk terdiri dari 3 tahap, yaitu memasukan briket
ke dalam plastik, kemudian memasukannya ke dalam kardus dengan ukuran kecil / inner (muat untuk 1 atau setengah
kilogram briket), dan yang terakhir memasukan kemasan kecil kedalam kardus besar. Namun terkadang pelanggan
menginginkan kemasan khusus agar kedap udara sehingga akan dilakun kemasan khusus pula. Produk briket yang dihasilkan
mempunyai sisi persegi dengan panjangan masing-masing 2.5 cm dan tinggi 1.5 cm. Briket dibungkus plastik dan
dimasukan dalam kemasan dengan berat satu kilogram untuk satu kemasannya. Dalam satu kemasan terdapat 120 pcs
briket.
Perumusan Standar Operating Procedure (SOP) dalam Proses Produksi
Perumusan SOP dilakukan untuk memberikan petunjuk pelaksanaan secara teknis kepada para karyawan yang turun
langsung terutama dalam proses produksi. Hal ini dilakukan agar produk yang dihasilkan dapat konsisten dalam jangka
panjang. Adapun beberapa SOP yang diterapkan dalam proses produksi briket adalah sebagai berikut :
1. Bahan baku berupa arang tempurung kelapa yang berasal dari para petani dilakukan penyortiran sesuai dengan kriteria
standar mutu input yang telah dijelaskan sebelumnya
2. Bahan baku yang sudah lulus dalam proses penyortiran kemudian dilanjutkan ke proses penggilingan selama 5 jam
3. Saat proses penggilingan pegawai wajib menggunakan masker yang sifatnya sekali pakai. Selain itu pegawai juga harus
menggunakan sarung tangan. Penggilingan dilakukan selama 5 jam, dengan menggunakan 2 mesin. Setiap mesin
penggilingan di bawah tanggung jawab 2 tenaga kerja. Satu tenaga kerja sebagai operator mesin yang bertugas
mengkondisikan hasil olahan dan bahan baku yang akan dimasukan dalam mesin. Kemudian tenaga kerja satunya
mengantarkan hasil olahan ke area proses berikutnya dan juga membawa bahan baku dari gudang agar dapat diproses.
4. Pengayakan dilakukan selama kurang lebih 8 jam. Proses pengayakan dilakukan oleh 2 orang tenaga kerja. Tenaga kerja
ini wajib menggunakan masker yang sifatnya sekali pakai dan juga sarung tangan.
5. Pencampuran tepung kanji dengan persentase 2.5 - 3 persen dari kuantitas tepung arang yang digunakan. Pengadukan
dilakukan selama 10 menit untuk sekali prosesnya dengan kapasitas 100 kg. Proses pengadukan dilakukan oleh 2 tenaga
kerja. Setiap tenaga kerja wajib menggunakan masker yang sifatnya sekali pakai dan juga sarung tangan.
6. Proses pencetakan dilakukan oleh 3 orang tenaga kerja. Satu orang sebagai operator mesin, dan memasukkan bahan baku
ke mesin. Satu orang melakukan pengontrolan dalam pemotongan. Satu orang meletakkan hasil cetakkan di atas nampan.
Setelah briket basah di atas nampan, maka dilakukan proses butik, yaitu proses memisah-misahkan hasil potongan agar tidak
menempel satu dengan yang lain. Proses ini dilakukan oleh 2 orang. Pada proses pencetakkan tenaga kerja hanya wajib
menggunakan masker saja. Tenaga kerja yang bertugas dalam proses butik juga berkewajiban menata nampan ke dalam
oven.
7. Pengeringan menggunakan oven dilakukan dengan menggunakan suhu 800C selama 8 jam. Proses ini di bawah tanggung
jawab 1 orang. Orang tersebut berkewajiban melakukan pengecekan terhadap masing-masing kompor, dan menjaga agar api
selalu menyala. Tenaga kerja ini wajib menggunakan masker.
Rencana Teknologi yang Digunakan
3. Mixer
Mixer merupakan alat yang digunakan untuk mencampur tepung arang yang telah diayak dengan kanji. Mesin ini memiliki
spesifikasi bahan body platezer dengan rangka besi siku. Mesin ini digerakan dengan mengunakan penggerak diesel 12 Pk /
10 Hp 380 V 3 phase. Kapasitas mesin ini adalah 100 kg per proses. Waktu yang dibutuhkan dalam sekali proses adalah 10
menit. Sehingga untuk mengolah 2 ton tepung arang dengan 50 kg kanji memerlukan kurang lebih 4 jam. Dalam proses
produksi cukup dengan satu mesin saja. Harga satu mesin mixer ini adalah Rp19 500 000, belum termasuk biaya
pengiriman dan pajak. Pajak yang dikenakan sebesar 10 persen sehingga mesin menjadi seharga Rp21 450 000

4. Pencetak Briket
Mesin ini digunakan untuk mencetak adonan briket yang telah selesai diproses oleh mesin pengaduk sebelumnya. Mesin
ini dilengkapi dengan 2 model hasil cetakan yang dapat dipesan. Bentuk yang banyak diinginkan pelanggan adalah kubus
dan silinder sehingga dalam pembelian mesin ini dipilih bentuk cetakan produk yang kubus dan silinder. Material body dan
cetakannya menggunakan plat besi cor, sedangkan material rangkanya menggunakan canal UNP atau besi siku atau plat
besi. Sedangkan penggeraknya menggunakan motor listrik 12 Pk / 10 Hp 380 V 3 phase. Kapasitas dari mesin pencetak ini
adalah 250 kg per jam. Oleh karena itu untuk proses produksi cukup menggunakan satu alat pencetak ini saja. Harga satu
mesin pencetak ini kurang lebih Rp19 500 000, belum termasuk biaya pengiriman dan pajak. Pajak yang dikenakan sebesar
10 persen sehingga biaya yang harus ditanggung untuk membeli mesin ini sebesar Rp21 450 000. Selain mesin pencetak,
dibutuhkan pula mesin pemotong dan meja berjalan yang digunakan dalam proses pencetakan. Meja dengan dasar karet
yang dapat berjalan tersebut digunakan untuk menggerakan hasil cetakan, dan mengantarkannya kepada mesin
pemotong. Meja berjalan yang dibutuhkan adalah 6 m. Harga dari meja berjalan tersebut adalah Rp5 000 000, sedangkan
harga alat pemotong seperangkatnya adalah Rp8 500 000. Alat pemotong dan meja berjalan ini digerakan dengan EM ½
Hp.

5. Oven

Oven merupakan alat yang digunakan untuk memanaskan dan mengeringkan adonan briket
yang sudah dicetak sebelumnya. Alat yang digunakan sebagai pengering ini terdiri atas 4 bagian,
yaitu alat selang gas, 2 buah kipas besar, nampan, dan sebuah ruangan. Ruangan yang
digunakan untuk mengeringkan yaitu berukuran 5 m x 3 m x 4.25 m. Ruangan ini mempunyai
kapasitas 2 000 – 2 500 kg. Proses pengeringan dalam oven yaitu 6-8 jam. Harga pembuatan
ruangan oven mesin pengering ini sekitar sekitar Rp40 000 000

Kapasitas produksi pabrik dalam satu kali produksi memerlukan 2 ton tepung arang kelapa. Oleh
karena itu dibutuhkan kurang lebih 6 ton tempurung kelapa, karena tempurung kelapa yang
telah dikarbonisasi akan menyusut menjadi 30 persen dari berat awal. Dalam satu bulan
produksi akan dilakukan sebanyak 20 kali, dengan asumsi satu minggu terdapat 5 hari kerja.
Dengan kapasitas tersebut maka dibutuhkan tempurung kelapa sebanyak 120 ton per bulan

Bahan baku yang berupa arang tempurung kelapa dari kelompok tani yang dibutuhkan adalah
sebanyak 2 ton per harinya. Selain tempurung kelapa dibutuhkan juga kanji yang digunakan
sebagai perekat dari briket. Kanji yang digunakan adalah sebanyak 2.5 – 3 persen dari berat
tepung karbon. Oleh karena itu kanji yang digunakan kurang lebih 50 kg.