You are on page 1of 2

JAKARTA, KOMPAS.

com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


memperkuat pendidikan vokasi di jenjang menegah, dengan terus menambah SMK
(Sekolah Menengah Kejuruan). Pada tahun2020 nanti, jumlah SMK mencapai 60
persen dari sekolah menengah yang ada.

"Mulai tahun ini, pembangunan unit sekolah baru dan ruang kelas baru, untuk SMK
proporsinya lebih besar, berkisar 60-70 persen. Sisanya untuk membangun SMA,"
kata Hamid Muhammad, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, di Jakarta, Rabu (29/8/2012).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, mengatakan, perbandingan


SMA dan SMK saat ini masih 51 berbanding 49. Pada tahun 2015 nanti dengan
penambahan SMK, jumlah SMK ditargetkan menjadi 55 persen.

Mulai tahun 2013, pemerintah membuat program pendidikan menengah universal,


sebagai rintisan wajib belajar 12 tahun.

"Tentu akan ada peningkatan pembangunan sekolah menengah. Namun, sesuai


kebijakan nasional yang akan menguatkan pendidikan vokasi, penambahan lebih
banyak ke SMK," kata Nuh.

Saat ini terdapat sekitar 22.000 SMA/SMK. Jumlah siswa sekitar sembilan juta orang.

"Untuk memastikan supaya pendidikan menengah universal bisa sukses, penambahan


SMK negeri untuk penguatan pendidikan vokasi di jenjang menegah harus
diperbanyak oleh pemerintah," kata Hamid.

Pendirian SMK baru atau penambahan ruang kelas baru di SMK, disarankan di daerah
yang proporsi SMA-nya sudah banyak. Di Pulau Jawa, misalnya, jumlah SMA dinilai
sudah cukup sehingga didorong untuk menambah SMK.
Adapun daerah perbatasan dan yang masuk koridor Masterplan Percepatan dan
Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), didorong untuk membangun
SMK. Demikian pula di kota/kabupaten yang angka partisipasi kasar (APK)-nya di
bawah nasional, akan ditambah dengan SMK.