You are on page 1of 16

MAKALAH PADA ANAK DENGAN PENYAKIT ASMA

OLEH KELOMPOK 4 :

SELLY OVELIA

SITI FATIMAH

FARAS FEBYANTI

VANI ANZAHARA

POLTEKKES KEMENKES ACEH

PROGAM STUDI D III KEPERAWATAN KOTA LANGSA

TAHUN AJARAN 2018-2019


A. Pengertian

Asma adalah proses obstruksi reversibel yang di tandai dengan penpeningkatan


responsivitas dan inflamasi jalan napas, terutama jalan napas bagian bawah.

Statuas asmatikus adalah serangan asma akut, berat dan berkepanjangan dimana
distres pernapasan terus terjadi meskipun telah dilakukan tindakan trapeutik yangbhebat,
terutama pembertian simpatomimetik.

B. Anatomi fisiologi sistem pernapasan


a. Rongga hidung
Sewaktu udara melalui hidung, udara disaring oleh bulu-bulu yang terdapat di dalam
vestibulum. Karena kontak dengan permukaan lendir yang di laluinya, udara menjadi
hangat, dan karna penguapan air permukaan selaput lendir, udara menjadi lembab.

b. Faring (tekak)
Adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya
dengan esofagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang hidung
(nasofaring), di belakang mulut (orofaring) dan di belakang laring (faring laring geal).

c. Laring (tenggorokan)
Terletak didepan bagian terendah faring yang memisahkannya dari kolumna
vertebra, berjalan dari faring sampai ketinggian vertebra serfikalis dan masuk ke dalam
trakea di bawahnya.

d. Trakea
Trakea atau batang tenggorok kira-kira 9 cm panjangnya. Trakea berjalan dari laring
sampai kira-kira ketinggian vertebra torakalis kelima dan ditempat ini bercabang menjadi
dua bronkus (bronki). Trakea tersusun atas 16-20 lingkaran tak lengkap berupa cincin
tulang rawan dan di ikat bersama pada jaringan fibrosa yang melengkapi lingkaran sebelah
belakang trakea.
e. Rongga toraks
Rangga dada yang terdiri atas tulang-tulang rawan

f. Paru-paru
Paru-paru ada dua, merupakan alat pernapasan utama. Paru-paru mengisi rongga
dada. Terletak di sebelah kanan dan kiri dan di tengah dipisahkan oleh jantung beserta
pembuluh darah besarnya dan struktur lainnya yang terletak di dalam mediastinum. Paru-
paru adalah organ yang berbentuk kerucut dengan apeks (puncak) di atas dan muncul
sedikit lebih tinggi dari pada kalvikula di dalam dasar leher.

(a) Lobus paru-paru (belahan paru-paru)


Paru-paru kanan mempunyai 3 lobus dan paru-paru kiri 2 lobus. Setiap lobus
tersusun atas lobula

(b) Bronkus pulmonalis


Trakea terbelah menjadi 2 bronkus utama: bronkus ini bercabang lagi sebelum
masuk ke paru-paru.

(c) Pembuluh darah dalam paru-paru


Arteri pulmonalis membawa darah yang sudah tidak mengandung oksigen dari
ventrikel kanan jantung ke paru-paru. Cabang-cabangnya menyentuh saluran-saluran
bronkial, bercabang dan bercabang lagi sampai menjadi arteriol halus, arteriol itu
membelah belah dan membentuk jaringan kapiler dan kapiler itu menyentuh dinding
alveoli atau gelembung udara.

(d) Pleura
Setiap paru-paru dilapisi membran serosa rangakap 2, yaitu pleura. Pleura viseralis
erat melapisi paru-paru, masuk kedalam visura, dan dengan demikian memisahkan lobus
satu dengan yang lain.
C. Fisiologi pernapasan
Pernafasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara yang mengandung oksigen
dan menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi keluar
dari tubuh. Adapun guna dari pernafasan yaitu mengambil O 2 yang dibawa oleh darah ke
seluruh tubuh untuk pembakaran, mengeluarkan CO2 sebagai sisa dari pembakaran yang
dibawa oleh darah ke paru-paru untuk dibuang, menghangatkan dan melembabkan udara.
Pada dasarnya sistem pernafasan terdiri dari suatu rangkaian saluran udara yang
menghangatkan udara luar agar bersentuhan dengan membran kapiler alveoli. Terdapat
beberapa mekanisme yang berperan memasukkan udara ke dalam paru-paru sehingga
pertukaran gas dapat berlangsung. Fungsi mekanis pergerakan udara masuk dan keluar
dari paru-paru disebut sebagai ventilasi atau bernapas. Kemudian adanya pemindahan O 2
dan CO2 yang melintasi membran alveolus-kapiler yang disebut dengan difusi sedangkan
pemindahan oksigen dan karbondioksida antara kapiler-kapiler dan sel-sel tubuh yang
disebut dengan perfusi atau pernapasan internal.

Proses pernafasan :

Proses bernafas terdiri dari menarik dan mengeluarkan nafas. Satu kali bernafas
adalah satu kali inspirasi dan satu kali ekspirasi. Bernafas diatur oleh otot-otot pernafasan
yang terletak pada sumsum penyambung (medulla oblongata). Inspirasi terjadi bila
muskulus diafragma telah dapat rangsangan dari nervus prenikus lalu mengkerut datar.
Ekspirasi terjadi pada saat otot-otot mengendor dan rongga dada mengecil. Proses
pernafasan ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-
paru.

Proses fisiologis pernafasan dimana oksigen dipindahkan dari udara ke dalam


jaringan-jaringan dan karbondioksida dikeluarkan ke udara ekspirasi dapat dibagi menjadi
tiga stadium. Stadium pertama adalah ventilasi, yaitu masuknya campuran gas-gas ke
dalam dan ke luar paru-paru. Stadium kedua adalah transportasi yang terdiri dari beberapa
aspek yaitu difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksterna) dan
antara darah sistemik dengan sel-sel jaringan, distribusi darah dalam sirkulasi pulmonar
dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam alveolus-alveolus dan reaksi kimia, fisik
dari oksigen dan karbondioksida dengan darah. Stadium akhir yaitu respirasi sel dimana
metabolit dioksida untuk mendapatkan energi dan karbon dioksida yang terbentuk sebagai
sampah proses metabolisme sel akan dikeluarkan oleh paru-paru (Price, 2005).
D. Etiologi
Menurut berbagai penelitian patologi dan etiologi asma belum diketahui dengan pasti
penyebabnya , akan tetapi hanya menunjukan dasar gejala asma yaitu inflamasi dan
respons saluran napas yang berlebihan ditandai dengan adanya kalor (panas karna
vasodilatasi), tumor (esudasi plasma dan edema), dolor rasa sakit karnarangsangan
sensori), dan fuction laesa (fungsi yang terganggu). Dan rangsangan harus disertai dengan
infiltrasi sel-sel radang. 9 Sudoyo dkk,2009)
Sebagai pemicu timbulnya serangan-serangan dapat berupa infeksi (infeksi firus
SRV), iklim (perubahan mendadak suhu, tekanan udara), inhalan (debu, kapuk, sisa-sisa
serangga mati, bulu binatang, serbuk sari, bau asab, uap cat, makanan (putih telur,susu sapi,
kacang tanah, coklat, biji bijian,tomat), obat (aspirin), kegiatan fisik ( olahraga berat,
kecapean, tertawa terbahak-bahak), dan emosi.

E. Manifestasi klinis
Adapun manifestasi klinis yang ditimbulkan antara lain mengi/wheezing, sesak
nafas, dada terasa tertekan atau sesak, batuk, pilek, nyeri dada, nadi meningkat, retraksi
otot dada, nafas cuping hidung, takipnea, kelelahan, lemah, anoreksia, sianosis dan gelisah.

F. Komplikasi
Adapun komplikasi yang timbul yaitu bronkitis berat, emfisema, atelektasis,
pneumotorak dan bronkopneumonia.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Radiologi
a. Foto thorax
Pada foto thorax akan tampak corakan paru yang meningkat, hiperinflasi terdapat
pada serangan akut dan pada asma kronik, atelektasis juga ditemukan pada anak-anak  6
tahun.

b. Foto sinus paranasalis

Diperlukan jika asma sulit terkontrol untuk melihat adanya sinusitis.

1. Pemeriksaan darah
Hasilnya akan terdapat eosinofilia pada darah tepi dan sekret hidung, bila
tidak eosinofilia kemungkinan bukan asma.

2. Uji faal paru


Dilakukan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai hasil provokasi bronkus,
menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit. Alat yang digunakan untuk uji
faal paru adalah peak flow meter, caranya anak disuruh meniup flow meter beberapa kali
(sebelumnya menarik nafas dalam melalui mulut kemudian menghebuskan dengan kuat).

3. Uji kulit alergi dan imunologi


Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk. Alergen yang digunakan
adalah alergen yang banyak didapat di daerahnya.

H. Penatalaksanaan medis
a. Oksigen 4 - 6 liter / menit
b. Pemeriksaan analisa gas darah mungkin memperlihatkan penurunan
konsentrasi oksigen.
c. Anti inflamasi (Kortikosteroid) diberikan untuk menghambat inflamasi jalan
nafas.
d. Antibiotik diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi
e. Pemberian obat ekspektoran untuk pengenceran dahak yang kental
f. Bronkodilator untuk menurunkan spasme bronkus/melebarkan bronkus
g. Pemeriksaan foto torak
h. Pantau tanda-tanda vital secara teratur agar bila terjadi kegagalan pernafasan
dapat segera tertolong.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ASMA

I. Pengkajian
(a) Dapatkan riwayat keluarga khususnya mengenai adanya atropi dalam anggota
keluarganya.
(b) Dapatkan riwayat alergi dalam keluarga ganguan genetik
(c) Riwayat pasien tentang disfungsi pernapasan sebelumnya, bukti yerbau penularan
terhadap infeksi, alergi atau iritan lain, trauma.
(d) Observasi pernapasan terhadap :
1. Frekuensi
Cepat (takipnea), normal, atau lambat untuk anak tertentu
2. Kedalaman
Kedalaman normal, terlalu dalam (hiperpnea), biasanya diperkirakan dari
amplitudo torakal dan pengembangan abdomen
3. Kemudahan
Kurang upaya, sulit (dispnea), orthopnea, dihubungkan dengan retraksi
interkostal dan substernal (inspirsi “tenggelam” dari jaringan lunak dalam
hubungannya dengan kartilaginosa dan tulang toraks), pulsus paradoksus
(tekanan darah turun dengan imspirasi dan meningkat karena ekspirasi),
pernapasan cuping hidung, “bobbing head” (kepala anak yang tidur dengan area
suboksipital disokong pada lengan orang tua yang terangkat ke atas sinkron
dengan setiap inspirasi), mengorok, atau mengi(wheezing).
4. Pernapasan sulit
Kontinu, imtermiten, menjadi makin buruk dan menetap, awitan tiba-tiba, pada
saat istirahat atau kerja, dihubungkan dengan mengi, mengorok, dihubungkan
dengan nyeri.
5. Irama
Variasi dalam frekuensi dan kedalaman pernapasan
Observasi adanya :

1. Bukti infeksi
Peningkatan suhu, pembesaran kelenjar limfe servikal, membran mukosa
terinflamasi, dan rabas purulen dari hidung, telinga, atau paru-paru (sputum).
2. Batuk
Karakteristik batuk ( bila ada) : dalam keadaan seperti apa batuk terdengar
misalnya ( malam hari, atau pagi hari), sifat batuk (paroksismal dengan atau
tanpa mengi, “crou atau brassy”), frekuensi batuk berhubungan dengan
menelan atau aktivitas lai
3. Mengi (wheezing)
Ekspirasi atau inspirasi, nada tinggi atau musikal, memanjang, secara lambat
progresif atau tiba-tiba, berhubungan dengan pernapasan sulit
4. Sianosis
Perhatikan distribusi (perifer, perioral, fasial, batang tubuh serta wajah),
derajat, durasi, berhubungan dengan aktivitas
5. Nyeri dada
Mungkin merupakan keluhan anak yang lebih besar. Perhatikan lokasi dan
situasi terlokalisir atau menyebar, menyebar dari dasar abdomen, dangkal
atau tajam, dalam atau superfisial, berhubungan dengan pernapasan cepat,
dangkal atau menggorok
6. Sputum
Anak-anak yang lebih besar dapat memberikan sampel sputum, perhatikan
volume warna, viskositas, dan bau
7. Pernapasan buruk
Dapat berhubungan dengan beberapa infeksi pernapasan
(e) Dapatkan riwayat ( mis eksema, rinitis) bukti kemungkinan faktor pencetus, episode
sesak napas sebelumnya, mengi, dan batuk, adanya keluhan gatal pada bagian atas
punggung.
(f) Observasi adanya manifestasi asma bronkial.
(g) Batuk
keras,proksimal,iritasi, dan non produktif
Menjadi produktif dengan sputum yang banyak, jernih, kental.
(h) Tanda-tanda yang berhubungan dengan pernapasan :
- Napas pendek
- Fase ekspirasi memanjang
- Mengi dapat didengar
- Sering tampak pucat
- Telinga merah dan tonjolan pipi kemerahan
- Bibir berwarna merah tua
- Dapat berkembang menjadi sianosis bantalan kuku, dan sirkumoral
- Gelisah ketakutan
- Ekspresi wajah cemas
- Berkeringat mungkin menonjol saat serangan berlanjut
- Anak yang lebih besar dapat duduk tegak dengan bahu pada posisi
membungkuk, tangan di tempat tidur atau kursi dan lengan menahan dengan
kuat
- Bicara dengan frase singkat dan patah-patah
- Dada
- Hiperesonan pada perkusi
- Suara napas kasar dan keras
- Mengi sepanjang lapang paru
- Ekspirasi memanjang
- Mengi inspirasi dan ekspirasi umum, peningkatan nada tinggi Pada episode
ulangan
- Dada barrel
- Peningkatan bahu
- Penggunaan otot pernapasan aksesori
- Tampilan wajah-tulang pipi datar,lingkaran dibawah mata, hidung menyempit,
gigi atas menonjol
- Observasi adanya manifestasi distres pernapasan yang hebat dan ancaman gagal
napas
- Berkeringat banyak
- Anak duduk tegak ; menolak berbaring
- Tiba-tiba teragitasi
- Tiba-tiba diam setelah sebelumnya teragitasi
- Bantu saat prosedur diagnostik dan tes-tes mis: gas darah, elektrolit, ph,
oksimetri, berat jenis urin, radiografi, tes fungsi paru

Kaji lingkungan untuk adanya kemungkinan faktor alergen.

II. Diagnosa keperawatan : Risiko tinggi asfiksia berhubungan dengan interaksi


antara individu dan alergen.
Sasaran pasien/ keluarga 1 : pasien ( keluarga) tidak mengalami episode asma

III. Intervensi Keperawatan/ rasional

- Ajari anak dan keluarga bagimana menghindari kondisi atau situasi yang
mencetuskan episode asmatik.
- Bantu orang tua dalam menghilangkan alegen atau stimulus lain yang
mencetuskan eksaserbasi,seperti
- Perencanaan makan untuk menghilangkan makanan alergenik
- Menyingkirkan binatang peliharaan
- Modifikasi lingkungan; rumah “ bebas alergi”, terutama rokok
- Hindari suhu lingkungan yang ekstrim
- Bila anak terpapar udara dingin, anjurkan untuk bernapas melalui hidung
(bukan mulut) dan menggunakan masker atau skarf, atau menangkukan pada
hidung

Hasil yang diharapkan :


- Keluarga melakukan setiap upaya untuk menghilangkan atau menghindari
kemungkinan alergen atau kejadian pencetus.
- Anak/keluarga dapat mendeteksi tanda-tanda ancaman episode secara dini dan
mengimplementasikan tindakan yang tepat.
- Anak /keluarga mampu memberikan obat dan menggunakan inhaler dan peralatan
lain.

Hasil yang diharapkan :


- Anak dan orang tua melakukan praktik kesehatan
- Diagnosa keperawatan: bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
respons alergenik dan inflamasi pada percabangan bronkial
- Anak tidak menunjukan bukti-bukti infeksi.
- Sasaran pasien 1: pasien menunjukan bukti-bukti perbaikan kapasitas ventilasi

Intervensi keperawatan/Rasional
- Instruksikan dan atau awasi latihan pernapasan dan pernapasan terkontrol
untuk meningkatkan pernapasan diafragmatik yang tepat, ekspansi sisi dan
perbaikan mobilitas dinding dada
- Gunakan teknik bermain untuk latihan pernapasan pada anak kecil ( mis;
meniup gasing atau bola-bola kapas di meja untuk memperpanjang waktu
ekspirasi dan meningkatkan tekanan ekspirasi)
- Ajari penggunaan obat yang di tentukan dengan benar.
- Ajari penggunaan yang flow meter ekspirasi puncak, nebulizer dan inhaler dosis
bila di indikasikan.
- Ajari keluarga untuk melakukan perkusi dan drainase postural dan untuk
menganjurkan batuk bila di indikasikan.
- Dorong latihan fisik.
- Anjurkan aktivitas yang memerlukan penggunaan energi pendek (mis; baseball,
lari pendek, lompat tali) karena latihan di toleransi dengan lebih baik dari pada
latihan yang memerlukan latihan ketahanan ( mis; sepak bola, lari jauh).
- Anjurkan untuk berenang karena anak menghirup udara yang tersaturesi dengan
kelembaban dan berekshalasi dibawah air dapat memperpanjang ekspirasi dan
meningkatan tekanan ekspirasi akhir.
- Batasi aktivitas fisik hanya bila kondisi anak membuatnya perlu.
- Dorong postur tubuh yang baik untuk ekspansi paru maksimum

Sasaran pasien 2: Kesehatan pasien optimal

Intervensi keperawatan/rasional
- Anjurkan praktik kesehatan untuk mendukung pertahanan tubuh alami:
- Diet seimbang dan bergizi
- Istirahat cukup
- Hiegien baik
- Latihan tepat
- Perawatan tindak lanjut
- Cegah infeksi pernapasan karena dapat mencetuskan serangan atau
memperberat status asmatikus.
- Hindari pemajanan pada infeksi
- Lakukan perawatan terhadap alat untuk menghindari tumbuhnya bakteri
dan/atau jamur pada alat tersebut.
- Bantu anak dan keluarga dalam memilih aktivitas yang tepat sesuai kemampuan
dan kesukaan anak.

Hasil yang diharapkan


- Anak bernapas dengan mudah dan tanpa dispnea
- Anak menunjukkan aktivitas sesuai kemampuan dan minat ( uraikan )

Diagnosa keperawatan : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan


ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen

Sasaran pasien 1 : pasien mendapatkan istirahat yang optimal

Intervensi Keperawatan/ rasional


- Dorong aktivitas yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan anak
- Beri kesempatan untuk tidur, istirahat, aktivitas tenang.

Hasil yang diharapkan


- Anak melakukan aktivitas yang tepat (uraikan)
- Anak tampak segar
Diagnosa Keperawatan: Perubahan proses keluarga berhubungan dengan
mempunyai anak dengan penyakit kronik.

Sasaran pasien ( keluarga) 1: pasien ( keluarga ) menunjukan adaptasi positif terhadap


kondisi

Intervensi Keperawatan/Rasional
- Kembangkan hubungan keluarga yang positif
- Kuatkan mekanisme koping positif dari anak dan keluarga
- Gunakan setiap kesempatanuntuk meningkatkan pemahaman orang tua dan
anak tentang penyakit dan terapinya karena pengetahuan yang adekuat
dihubungkan dengan penggunaan pencegahan dan intervensi kedaruratan tepat
waktu dari keluarga
- Kuatkan kebutuhan untuk berespon terhadap tanda awal dari ancaman episode
asma dengan menggunakan obat yang ditentukan sesuai kebutuhan untuk
menurunkan potensi aksaserbasi yang parah.
- Intervensi dengan tepat bila terdapat bukti-bukti maladaptasi.
- Waspadai tanda-tanda penolakan orang tua atau terlalu melindungi.
- Wapadai adanya tanda-tanda anak depresi, dan buat rujukan yang tepat untuk
mendapatkan dukungan spikologis karena anak depresi, khususnya remaja,
mungkin tidak akan mematuhi terapi sebagai cara buunuh diri pasif.
- Ajari anak dan keluarga tentang bagaimana memberikan tindakan pernapasan
untuk menghilangkan adanya konfusi mengenai obat atau inhaler/ nebuler.
- Anjurkan keluarga untuk menghubungi petugas sekolah (mis: perawat, guru,
pelatik, kepala sekolah) untuk mengembangkan rencana perawatan yang
konsisten di lingkungan sekolah.
- Rujukan keluarga pada kelompok pendukung dan lembaga-lembaga yang tepat
di komunitas.

Hasil yang diharapkan


- Keluarga menghadapi gejala dan efek penyakit dan memberikan lingkungan yang
normal untuk anak
Diagnosa Keperawatan: Risiko tinggi asfiksia berhubungan dengan bronkospasme,
sekresi mukus, edema

Sasaran Pasien 1: Pasien mengalami penghentian bronkospasme

Intervensi Keperawatan/ Rasional


- Berikan infus intravena untuk pemberian obat dan hidrasi.
- Berikan bronkodilator aerosol dan kortikosteroid oral atau IV sesuai ketentuan
untuk menghilangkan bronkospasme
- Pantau dengan cermat infus aminofilin IV atau teofilin oral untuk keefektifan
maksimum dan efek samping minimum
- Pantau dengan ketat tanda-tanda vital sebelum, selama,dan setelah pemberian.
- pantau aminofilin serum atau kadar teofilin: mual, takikardia, peka rangsang,
insomnia, hiperaktivitas.

Hasil yang diharapkan


- Anak bernapas dengan lebih mudah
- Anak tidak asfiksia.
- Anak tidak menunjukan toksisitas teofilin.

Diagnosa Keperawatan: resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan


kesulitan meminum cairan, kehilangan cairan tak kasat mata karena hiperfentilasi dan
diaforesis.
Sasaran pasien 1: pasien menunjukan hidrasi yang adekuat

Intervensi Keperawatan/Rasional
- Pertahankan infus intravena pada frekuensi yang tepat karena terapi cairan akan
mengencerkan sekresi (IV biasanya di alirkan 2/3 – 3/4 dari pemeliharaan
[ kecuali jika terjadi dehidrasi] untuk meminimalkan resiko edema paru karena
tekanan inspirasi yang tinggi).
- Dorong cairan oral
- Berikan cairan bila distres pernapasan akut sudah berkurang untuk mengurangi
resiko aspirasi.
- Hindari cairan dingin karena dapat mencetuskan refleks bronkospasme.
- Berikan cairan ( dan makanan) dalam jumlah sedikit dan sering untuk
menghindari distensi abdomen yang dapat mempengaruhi pengembangan
diafragmatik.

Hasil yang diharapkan


- Anak menunjukan hidrasi yang adekuat

Diagnosa keperawatan: resiko tinggi cedera (asidosis respiratorius,


ketidakseimbangan elektrolit) berhubungan dengan hipoventilasi, dehidrasi.

Sasaran pasien 1: pasien tidak mengalami asidosis

Intervensi Keperawatan/ Rasional

- Pantau pH darah dengan cermat karena pH yang kurang dari 7,25 dapat merusak
aliran darah sistemik, pulmonal, dan koroner, dan ph normal meningkatkan efek
bronkodilator.
- Berikan natrium bikaronat sesuai ketentuan untuk mencegah atau memperbaiki
asidosis.
- Pertahankan infus intravena untuk memberikan obat-obat darurat dan
mencegah dehidrasi.
- Cegah muntah dan dehidrasi lanjut; pada awalnya anak akan mengalami
alkalosis, tetapi bila muntah menjadi tambah atau tidak terkontrol, maka dapat
terjadi asidosis.
- Implementasikan tindakan untuk memperbaiki ventilasi; hipoventilasi dapat
menyebabkan akumilasi karbon dioksida yang akan menurunkan pH.
Hasil yang di harapkan
- Anak tidak menunjukan bukti-bukti asidosis respiratorius.
Diagnosa keperawatan: perubahan proses keluarga berhubungan kedaruratan
hospitalisasi anak.

Sasaran pasien ( keluarga) 1 : pasien ( keluarga) mengalami penurunan ansietas

Intervensi keperawatan/Rasional:

- Jaga agar orang tua tetap mendapatkan informasi tentang kondisi anak.
- Dorong untuk mengekspresikan perasaan, khususnya tentang keparahan kondisi
prognosis.
- Biarkan orang tua untuk sebanyak mungkin bersama anak dengan mendorong
konsep keperawatan yang berpusat pada keluarga.
- Tunjukan adanya bukti-bukti perbaikan untuk mendorong prilaku koping yang
positif.
- Bila/jika mungkin, jadwalkan tindakan dan perawatan sesuai dengan rutinitas
anak.

Hasil yang diharapkan


- Keluarga mengungkapkan kekhawatiran dan menghabiskan waktu bersama
anak.
- Keluarga tidak menunjukan tanda-tanda distres.

DAFTAR PUSTAKA
Wong% whaley (1996), pediantric nursing, clinical manual, morsby year book, new york.
Nelson (1993, ilmu kesehatan anak, EGK, jakarta.
Hardhi kusuma, (2016), nanda nic noc, yogyakarta.