You are on page 1of 52

BAB I

PE N DAH U LUAN

A. Latar Belakang

Pada era globalisasi memungkinkan terjadinya perubahan pada berbagai

kehidupan, hal ini berdampak dan menuntut terjadnya perubahan di bidang

kesehatan. Berdasarkan visi pembangunan kesehatan yakni menuju Indonesia

sehat adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat

bagi setiap orang agar terwujud derajad kesehatan yang optimal melalui

terciptanya masyarakat, yang hidup dalam prilaku dan dalam lingkungan sehat

serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang sesuai.

Derajat kesehatan merupakan hasil interaksi 4 (4 faktor yaitu : factor

lingkungan, factor prilaku, factor pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan).

Kemajuan yang dicapai oleh suatu bangsa tertentu akan mnembawa suatu

dampak kemajuan bagi masyarakat, jika Negara yang maju denngan system

pelayanan kesehatan yang menggunakan tekhnologi modern akan mempermudah

penanganan, mencegah dana menurunkan angka kematian dan suatu penyakit

yang disebabkan oleh injeksi atau karena trauma. (Depkes paradigm sehat 2000).

Gangguan pada system pernafasan merupakan penyebab utama morbilitas

dan mortalitas pada saluran penafasan jauh lebih sering terjadi di bandingkan

dengan infeksi pada system organ tubuh lain dan berkisar flu biasa dengan

gejala serrta gangguan yang relative ringan.

1
Penyakit system pernafasan “pneumonia” merupakan problem masyarakat

terutama di Negara yang sedang berkembang berresiiko besar pada bayi, orang

berusia lanjut atau meraka yang gangguan kekebalan tubuh dan menderita

penyakit serta kondisi kelemahan lain. Pneumonia di Indonesia masih

meempunyai angkka kesakitan yang tinggi yaitu 160/1000 penduduk pada semua

golongan umur, sedangkan pada golongan anak adalah 60 jiwa /tahun dan angka

kematian setiap tahunnya 50 jiwa kematian.

Melihat fenomena di atas dengan tingginya angka kesakitan pada gangguan

system penafasan yang di timbulkan oleh berbagai faktor dengan gejala berbeda,

maka kami dari tingkat II B dalam hal ini termotivasi untuk mengambil kasus

dengan judul :

Asuhan keperawatan pada klien “ An. D” dengan gangguan system

pernapasan : “ Pneumonia”.

B. Ruang lingkup pembahasan

Melihat dari beberapa kompleksnya permasalahan yang timbul dalam

berbagai factor dan pemasalahan yang berada namun karena terbatasnya waktu

dan literatur yang di miliki, maka penulisan memfokuskan pembahasan mengenai

gangguan system pernafasan pada kasus pneumonia pada klien “An. D”

2
C. Tujuan penulisan

1. Tujuan umum

Untuk mendapatkan gambaran pelaksanaan asuhan keperawatan pada

klien dengan gangguan system pernafasan pneumonia.

2. Tujuan khusus

a. Mampu melakukan pengkajian (pengumpulan data dan analisa data) pada

klien “An. D” denagn gangguan system pernafasan pneumonia

b. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan sesuai prioritas pada klien

“An. D” dengan ganguan system pernafasan pneumonia.

c. Mampu menyusun rencana asuahan kekprawatan pada klien “An.D”

dengan ganguan system pernafasan pneumonia.

d. Mampu melaksanakan asuhan keprawatan pada klien “An.D” dengan

ganguan system pernafasan pneumonia.

e. Mampu melaksanakan evaluasi hasil asuhan keperawatan yang di berikan

pada klien “An.D” dengan ganguan system pernafasan pneumonia.

f. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan yang diberikan pada

klien “An. D “ dengan ganguan system pernafasan pneumonia.

g. Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan

praktek dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien “An. D “

dengan ganguan system pernafasan pneumonia.

h. Mampu mengidentifikasi factor-faktor pendukung, factor penghambat

serta mencari solusi/alternatif penyelesaian masalah

3
D. Kegunaan Penulisan

a. Untuk menambah peengetahuan bagi pembaca khususnya bagi perawat

dalam menerapkan dan mengembangkan asuhan keperawatan pada klien

dengan gangguan pernapasan pneumonia .

b. Bagi penulis sendiri sebagai bahan untuk memperoleh tambahan

pengetahuan dan keterampilan tentang penatalaksanaan asuhan keperawatan

pada klien pada klien dengan ganguan system pernafasan pneumonia.

c. Bagi institusi merupakan input dalam memberikan bekal bagi mahasiswa

agar berhasil dalam menerapkan asuhan keperwatan pada klien “An. D “

dengan ganguan system pernafasan pneumonia.

E. Sistematika penulisan
Makalah ini terdiri dari 5 bab yang tersusun secara sistematis sebagai

berikut :

BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari ltar belakang , tujuan penulisan,

kegunaan penulisan, dan sitematika penulisan

BAB II : Tinjauan teoritis

BAB III : Tinjauan kasus yang membahas hzasil pengkajian

keperawatan, klasifikasi data, patofisiologi penyimoangan

KDM , analisa data, perencanaan keperawatan, evaluasi

keprawatan/catatan perkembangan.

4
BAB IV : Pembahsan pada bab ini membandingkan antara teori dan

fakta yang ada secara sistematis mulai dari pengkajian,

perencanaan, implementasi dan evaluasi.

BAB V : Penutup pada bab ini di simpulkan pelaksanaan studi kasus


yang telah di laksanakan dan sara-saran yang dihubungkan
dengan masalah yang ditemukan

5
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Defenisi
Infeksi saluran napas bawah akut (ISNBA) menimbulkan angka kesakitan

dan kematian yang tinggi serta kerugian produktivitas kerja. ISNBA dapat

dijumpai dalam berbagai bentuk, tersering adalah dalam bentuk pneumonia.

Pneumonia ini dapat terjadi secara primer atau merupakan tahap lanjutan

manifestasi ISNB lainnya misalnya sebagai perluasan bronkiektasis yang

terinfeksi.

Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari

bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan alveoli, serta

menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukran gas setempat.

Pada pemeriksaan histologis terdapat pneumonitis atau reaksi inflamasi berupa

alveolitis dan pengumpulan eksudat yang dapa ditimbulkan oleh berbagai

penyebab dan berlangsung dalam jangka waktu yang bervariasi. Istilah

pneumonia lazim dipakai bila peradangan terjadi oleh proses infeksi akut yang

merupakan penyebab yang tersering, sedangkan istilah pneumonitis sering

dipakai untuk proses non infeksi. Bila proses infeksi teratasi, terjadi resolusi dan

biasanya struktur paru normal kembali. Namun pada pneumonia nekrotikans

yang disebabkan antara lain oleh staphylococcus atau kuman Gram negative

terbentuk jaringan parut atau fibrosis. (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 2004)

6
Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-

macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. (Ngastiyah, 1997 :

39).

Pneumonia adalah suatu peradangan alveoli atau pada parenkim paru yang

terjadi pada anak. (Suriadi, 2001 : 247).

Pneumonia adalah inflamasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan

pengisian alveoli dengan cairan. (Doenges, 1999 : 164).

Pneumonia adalah proses inflamasi dimana gas alveolar dipindahkan oleh

materi selular. (Hudak & Gallo, 1997 : 559).

Secara klinis, diagnosis pneumonia didasarkan atas tanda-tanda kelainan

fisis dan adanya gambaran konsulidasi pada foto Jada. Namun diagnosis lengkap

haruslah mencakup diagnosis etiologi dan anatom. Pendekatan diagnosis ini

harus di dasarkan kepada pengertian pathogenesis penyakit hingga diagnosis

yang dibuat mencakup bentuk manifestasi, beratnya proses penyakit dan etiologi

pneumonia. Cara ini akan mengarakan dengan baik kepada terapi empiris dan

pemilihan antibiotik yang paling sesuai terhadap mikroorganisme penyebabnya.

B. Insidensi
Penyakit saluran napas menjadi penyebab angka kematian dan kecacatan

yang tinggi di seluruh dunia. Sekitar 80% dari seluruh kasus baru praktek umum

berhubungan dengan infeksi saluran napas yang terjadi di masyarakat

(pneumonia komunitas/PK) atau di dalam rumah sakit (pneumonia

7
nosokomial/PN). Preumonia yang merupakan bentuk infeksi saluran napas

bahwa akut di parenkim paru yang serius dijumpai sekitar 15-20%. Pneumonia

nosokomial di ICU lebih sering daripada PN diruangan umum yaitu 42%: 13%,

dan sebagian besar yaitu sejumlah 47% terjadi pada pasien yang menggunakan

alat bantu mekanik. Kelompok pasien ini merupakan bagian terbesar dari pasien

yang meninggal di ICU akibat PN.

C. Patogenesis
Pengertian epidemiologi dan pathogenesis serta perkembangan antibiotik

memberikan sumbangan yang besar pada pengelolaan penyakit paru. Patogenesis

pneumonia mencakup interaksi antara mikrooganisme (MO) penyebab yang

masuk melalui berbagai jalan, dengan daya tahan tubuh pasien. Kuman mencapai

alveoli inhalas, aspirasi kuman orolaring, penyebaran hematogen dari fokus

infeksi lain, atau penyebaran langsung dari lokasi infeksi. Pada bagian saluran

napas bawah, kuman menghadapi daya tahan tubuh berupa system pertahanan

mukosilier, daya tahan selular makrofag alveolar, limfosit bronkial, dan neutrofil.

Juga daya tahan humoral lgA dan lgG dari sekresi bronkial.

Terjadinya pneumonia tergantung kepada virulensi MO, tingkat kemudahan

dan luasnya daerah paru yang terkena serta penurunan daya tahan tubuh.

Pneumonia dapat terjadi pada orang normal tanpa kelainan imunitas yang jelas.

Namun pada kebanyakan pasien dewasa yang menderita pneumonia didapati

adanya 1 atau lebih penyakit dasar yang menggangu daya tahan tubuh. Faktor

8
predisposisi antara lain berupa kebiasaan merokok, pasca infeksi virus, penyakit

jantung kronik, diabetes mellitus, keadaan imunodefisiensi, kelainan atau

kelemahan struktur organ dada dan penurunan kesadaran, juga adanya tindakan

invasit seperti infuse intubasi, trakeostomi, atau pemasangan ventilator. Perlu

diteliti faktor lingkungan khususnya tempat kediaman misalnya di rumah jompo,

penggunaan antibiotic (AB) dan obat suntik IV, serta keadaan alkoholik yang

meningkatkan kemungkinan terinfeksi kuman Gram negative. Anamnesis

epidemiologi haruslah mencakup keadaan lingkungan pasien, tempat yang

dikunjung dan kontak dengan orang atau binatang yang menderita penyakit yang

serupa.

Pneumonia diharapkan akan sembuh setelah terapi 2-3 minggu. Bila lebih

lama perlu di curigai adanya infeksi kronik oleh bakteri anaerob atau non bakteri

seperti oleh jamur, mikobakterium atau parasit. Karena itu penyelidikan lanjut

terhadap MO perlu dilakukan bila pneumonia berlangsung lama. Pada umunya

pasien dengan gangguan imunitas yang berat mempunyai prognosis yang lebih

buruk dan kemungkinan rekurensi yang lebih besar.

D. Etiologi
ISNBA dapat di sebabkan oleh berbagai mokroorganisme, tersering

disebabkan oleh bakteri. Kuman penyebab pneumonia yang tersering dijumpai

berbeda jenisnya di suatu negara, di luar RS dan di dalam RS antara RS

9
besar/tersier dengan RS yang lebih kecil. Karena itu perlu diketahui dengan baik

epidemiologi kuman di suatu tempat.

Diagnosis kuman penyebab akan lebih cepat terarah bila diagnosis

pneumonia yang dibuat, dikaitkan dengan interaksi faktor-faktor terjasinya

infeksi dan cara pasien terinfeksi, misalnya infeksi melalui droplet sering

disebabkan Streptococcus pneumonia, melalui slang infus oleh Staphylococcus

aureus sedangkan infeksi pada pemakaian ventilator oleh P. aeruginosa dan

Enterobacter. Pada masa kini terjadi perubahan pola mikroorganisme penyebab

ISNBA akibat perubahan keadaan pasien seperti gangguan kekebalan dan

penyakit kronik, polusi lingkungan, dan pengguna antibiotic yang tidak tepat

yang menimbulkan perubahan pada karakteristik kuman. Terjadinya peningkatan

patogenitas/jenis kuman, serta resistensi yang disebabkan oleh S. aureus, B.

catarrhalis, H. influenza dan Entero-bacteriacea yang menghasilkan beta

laktamase. Perlu diingat bahwa PN masih mungkin disebabkan oleh infeksi

kuman yang biasa menimbulkan PK.

Kejadian kuman penyebab yang biasa terdapat pada PK ataupun PN di

Negara barat bervariasi, penyebab PK tersering dilaporkan di tahun 1987 adalah

s.pneumaniae (60–70%) h. influenzae (5%). Mikoplasma (5–20%).bila disertai

gangguan imunitas atau terdapat penyakit dasar paru kronik dapat disebabkan

oleh s.aureus, kuman Cram negative seprti k.pneumaniae ,p,aeruginosa atau

kuman-kuman yang biasa manyebabkan PN. Pada sejumlah 30-50% tidak

diketahui kuman penyebabnya.

10
PN juga tersering disebabkan oleh bakteri. Kuman penyebabnya sering

berbeda jenisnya antaradi ruangan biasa dengan ruangan perawatan intensif

(ICU). PN bacterial dapat di bagi atas PN awitan awal dalam waktu kurang dari

3 hari yang kumannya sering pula didapat diluar RS, biasanya disebabkan oleh

Streptococcus Pneumaniae (5-10%), M. catarrhalis(>5%) dan H, influenza.PN

awitan lanjut bila lebih dari 3 hari,sering disebabkan oleh kuman Gram negative

aerob sebesar 60 %,berupa p. aeruginose,Enterobacter spp., K,

pneumaniae,serratia spp.,aureus 20-25%. kelompok

Kedua ini biasanya merupakan kuman yang resisten terhadap

antibiotik.kuman anaerob dapat menjadi penyebab pada kedua kelompok (35%).

Pada waktu akhir–akhir ini sejumlah kuman baru/oportunis telah

menimbulkan infeksi pada pasien dengan kekebalan tubuh yang rendah,

misalnya legionella,Chlamydia trachomatis. M. atypical, berbagi jenis jamur (C.

albicans, Aspergilius fumigates) dan virus.

E. Patofisiologi
Di antara semua pneumonia bakteri, patogenesis dari pneumonia

pneumokokus merupakan yang paling banyak diselidiki. Pneumokokus

umumnya mencapai alveoli lewat percikan mukus atau saliva. Lobus bagian

bawah paru-paru paling sering terkena karena efek gravitasi. Setelah mencapai

alveoli, maka pneumokokus menimbulkan respon yang khas terdiri dari empat

tahap yang berurutan (Price, 1995 : 711) :

11
a. Kongesti (24 jam pertama) : Merupakan stadium pertama, eksudat yang

kaya protein keluar masuk ke dalam alveolar melalui pembuluh darah yang

berdilatasi dan bocor, disertai kongesti vena. Paru menjadi berat, edematosa

dan berwarna merah.

b. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya) : Terjadi pada stadium kedua, yang

berakhir setelah beberapa hari. Ditemukan akumulasi yang masif dalam

ruang alveolar, bersama-sama dengan limfosit dan magkrofag. Banyak sel

darah merah juga dikeluarkan dari kapiler yang meregang. Pleura yang

menutupi diselimuti eksudat fibrinosa, paru-paru tampak berwarna

kemerahan, padat tanpa mengandung udara, disertai konsistensi mirip hati

yang masih segar dan bergranula (hepatisasi = seperti hepar).

c. Hepatisasi kelabu (3-8 hari) : Pada stadium ketiga menunjukkan akumulasi

fibrin yang berlanjut disertai penghancuran sel darah putih dan sel darah

merah. Paru-paru tampak kelabu coklat dan padat karena leukosit dan fibrin

mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang.

d. Resolusi (8-11 hari) : Pada stadium keempat ini, eksudat mengalami lisis

dan direabsorbsi oleh makrofag dan pencernaan kotoran inflamasi, dengan

mempertahankan arsitektur dinding alveolus di bawahnya, sehingga jaringan

kembali pada strukturnya semula. (Underwood, 2000 : 392).

12
Menurut Suryadi (2001 : 247) patofisiologi pada pneumonia adalah :
a. Adanya gangguan pada terminal jalan nafas dan alveoli oleh
mikroorganisme patogen yaitu virus dan (Streptococcus Aureus,
Haemophillus Influenzae dan Streptococcus Pneumoniae) bakteri.
b. Terdapat infiltrat yang biasanya mengenai pada multiple lobus. Terjadinya
destruksi sel dengan meninggalkan debris cellular ke dalam lumen yang
mengakibatkan gangguan fungsi alveolar dan jalan nafas.
c. Pada kondisi anak ini dapat akut dan kronik misalnya : Cystic Fibrosis
(CF), aspirasi benda asing dan konginetal yang dapat meningkatkan resiko
pneumonia.

F. Manifestasi Klinis
Masa Inkubasi berlangsung 9 hari sampai 21 hari, biasanya 12 hari. Sekitar

25 – 50 % pasien mempunyai gejala infeksi saluran pernafasan atas yang ditandai

dengan tenggorokan dan gejala nasal pada waktu permulaan pneumonia. Gejala

dini yang khas adalah demam, menggigil, batuk dan sakit kepala, rasa tidak enak

badan, nyeri tenggorokan, nyeri dada, sakit telinga. (Soeparman, 1999 : 709).

Sedangkan menurut Donna L. Wong (1995 : 1400) manifestasi klinis pada

pneumonia sebagai berikut :

a. Demam, biasanya demam tinggi.

b. Nyeri dada.

c. Batuk; batuk tidak produktif sampai produktif dengan sputum yang berwarna

keputih-putihan.

d. Takipnea, sianosis

e. Suara nafas rales atau ronki.

13
f. Pada perkusi terdengar dullness.

g. Retraksi dinding thorak.

h. Pernafasan cuping hidung.

G. Klasifikasi Etiologi
Dibagi atas
1. Bakterial : Streptococcus pneumoniae, H. influenza, L. pneumophilia,

Klebsielia, Pseuriomonas, E. coll, Mycoplasma, Chlamydia, dll.


2. Nonbakterial : tuberkulosus, virus, fungi dan parasit.
Pembagian pneumonia ini tidak mempertimbangkan gambaran klinisnya.

Cara ini bermanfaat dari aspek patologi-anaomi, namun kurang bermanfaat

secara klinis karena kuman penyebab PN belum diketahui pada saat pasien

datang dan memerlukan terapi.

G. Penegakan Diagnosis
Diagnosis klinis pneumonia bergantung kepada penemuan kelainan fisis

atau bukti radiologis yang menunjukan konsodilitas. Klasifikasi diagnosis klinis

pada masa kini dilengkapi faktor patogensis yang berperan ( lingkungan, pejamu,

kuman penyebab). Diagnosis dan terapi pneumonia atau ISNBA umumnya dapat

ditegakkan berdasarkan algoritma. Diagnosis ini berdasarkan kepada riwayat

penyakit yang lengkap, pemeriksaan fisis yang teliti dan pemeriksaan penunjang.

H. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Radiologis
Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan gambaran air

bronhcogram (airspace disease) misalnya oleh Streptococcus pneumonia ;

bronkopneumonia (segmental diseas ) oleh antara lain staphylococcus, virus

14
atua mikoplasma ; dan pneumonia intarstisial interstitial disease) oleh virus

dan mikoplasma. Distribusi infiltrat pada segmen apical lobus bawah atau

inferior lobus atas sugestif untuk kuman aspirasi. Tetapi pada pasien yang

tidak sadar lokasi ini bisa dimana saja. Infiltrat dilobus atas sering

ditimbulkan klebsiella, tuberkulosis atau amiloidosis. Pada lobus bawah

dapat terjadi infiltrate akibat Staphylococus atau bakteriemia.


Bentuk lesi berupa kavitasi dengan air – fluid level sugestif untuk

abses paru, infeksi anaerob, Gram negatif atau amiloidosis. Efusi pleura

dengan pneumonia sering ditimbulkan S. pnemoniae. Dapat juga oleh kuman

anaerob, S. pyogenes, E. coli dan Staphylococcus ( pada anak). Kadang –

kadang oleh K. pnemoniae.


P. pseudomallei. Pembentukan kista terdapat pada pneumonia

nekrotikans/ supurativa, abses dan librosis akibat terjadinya nekrosis jaringan

paru oleh kuman S. aureus, K. pneumonia dan kuman- kuman anaerob

(Streptococcus anaerob, Bacteroides, Fusobacterium). Ulangan foto perlu

dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya infeksi sekunder/tambahan,

efusi pleura penyerta yang terinfeksi atau pembentukan abses. Pada pasien

yang mengalami perbaikan klinis ulangan foto dada ditunda karena resolusi

pneumonia berlangsung 4 – 12 minggu.

b. Pemeriksaan Laboratorium
Leukositosis umumnya menandai adanya infeksi bakteri; leukosit

normal / rendah dapat disebabkan oleh infeksi virus / mikoplasma atau pada

infeksi yang berat sehingga tidak terjadi respons leukosit, orang tua atau

15
lemah. Leuko-penia menunjukan depresi imunitas, misalnya neutropenia pada

infeksi kuman Gram negatif atau S. aureus pada pasien dengan keganasan dan

gangguan kekebalan. Faal hati mungkin terganggu.

c. Pemeriksaan Bakteriologis
Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/ transtrakeal,

aspirasi jarum transtorakal, torakosentesis, bronkoskopy, atau diopsi. Untuk

tujuan terapi empiris dilakukan pemeriksaan apus Gram, Burri Gin

Quellungest dan Z.Nielsen. Kuman yang predominan pada sputum yang

disertai PMN yang kemungkinan merupakan penyebab infeksi. Kultur kuman

merupakan pemeriksaan utama pra terapi an bermanfaat untuk evaluasi terapi

selanjutnya.

d. Pemeriksaan Khusus
Titer antibodi terhadap virus, legionela, dan mikoplasma. Nilai

diagnostik bila titer tinggi atau ada kenaikan titer 4 kali. Analisis gas darah

dilakukan untuk menilai tingkat hipoksia dan kebutuhan oksigen.

A. Diagnosis
Penegakan diagnosis dibuat dengan pengarahan kepada pemberian terapi

empiris, yaitu mencakup bentuk dan luas penyakit, tingkat berat penyakit, dan

perkiraan jenis kuman penyebab infeksi. Seringkali bentuk pneumonia mirip

meskipun disebabkan oleh kuman yang berbeda. Klasifikasi tingkat ringan/

sedang/berat pneumonia pada PK/PN dibuat berdasarkan kriteria tingkat sakit

yang dihitung dari penjumlahan skor 10 gejala klinis objektif yang ada pada

16
pasien. Dugaan mikroorganisme penyebab infeksi mengarahkan kepada

pemilihan antibiotik yang tepat.

J. Therapi
Antibiotik
Pada prinsipnya terapi utama adalah pemberian antibiotik terhadap ISNBA

dengan manifestasi apapun, yang dimaksudkan sebagai terapi kausal terhadap

kuman penyebabnya. Dengan demikian terapi pneumonia dan bronchitis

eksaserbasi akut adalah sama bila penyebabnya sama. Hal ini disampaikan secara

khusus pada topik mengenai terapi empiris.

Terapi Suportif Umum


1. Terapi O2 untuk mencapai pada PaO2 80-100 mmHg atau saturasi 95-96

% berdasarkan pemeriksaan analisis gas darah.


2. Humidifikasi dengan nebulizer untuk pengenceran dahak yang kental dapat

disertai nebulizer untuk pemberian bronkodilator bila terdapat

bronkospasme.
3. Fisioterapi dada untuk pengeluaran dahak, khususnya anjuran untuk batuk

dan napas dalam. Bila perlu dikerjakan Fish Mouth Breathing untuk

melancarkan ekspirasi dan pengeluaran CO2 posisi tidur setengah duduk

untuk melancarkan pernapasan.


4. Pengaturan cairan. Keutuhan kapiler paru sering terganggu pada

pneumonia, dan paru lebih sensitif terhadap pembebanan cairan terutama

bila terdapat pneumonia bilateral. Pemberian cairan pada pasien harus

diatur dengan baik, termasuk pada keadaan gangguan sirkulasi dan gagal

ginjal. Overhidrasi untuk maksud mengencerkan dahak tidak

diperkenankan.

17
5. Pemberian kortikosteroid pada fase sepsis berat perlu diberikan. Terapi ini

tidak bermanfaat pada keadaan renjatan septik.


6. Obat inotropik seperti dobutamin atau dopamin kadang – kadang

diperlukan bila terdapat komplikasi gangguan sirkulasi atau gagal ginjal

prerenal.
7. Ventilasi mekanis. Indikasi intubasi dan pemasangan ventilator pada

pneumonia adalah:
a. Hipoksemia persisten meskipun telah diberikan 02 100 % dengan

menggunakan masker. Konsentrasi 02 yang tinggi menyebabkan

penurunan pulmonary compliance hingga tekanan inflasi meninggi.

Dalam hal ini perlu dipergunakan PEEP untuk memperbaiki

oksogenisasi dan menurunkan Fi02 menjadi 50 atau lebih rendah.


b. Gagal napas yang ditandai oleh peningkatan distress, dengan atau

didapat asidosis respiratorik.


c. Respiratory arrest.
d. Retensi sputum yang sulit diatasi secara konservatif
8. Drainase empiema bila ada
9. Bila terdapat gagap napas, diberikan nutrisi dengan kalori yang cukup yang

didapatkan terutama dari lemak (> 50%), hingga dapat dihindari

pembentukan CO2 yang berlebihan.

K. Komplikasi
 Efusi pleura dan empiema terjadi pada sekitar 45 % kasus, terutama pada

infeksi bacterial akut berupa efusi parapneumonik gram negativ sebesar 60%,

staphylococcus aureus 50%. S Pneumoniae 10-60 %, Kuman anaerob 35%

sedangkan pada Mycoplasma pneumonia sebesar 20 %. Cairannya transudat

18
dan steril. Terkadang pada infeksi bacterial terjadi empiema dengan cairan

eksudat.
 Komplikasi sistematik. Dapat terjadi akibat invasi kuman atau bakteriemia

berupa meningitis. Dapat juga terjadi dehidrasi dan aponatrimia, anemia pada

infeksi kronik, peninggian ureum dan enzim hati. Kadang-kadang terjadi

peninggian fosfatase alkali dan bilirubin akibat adanya kolestasis intrahepatik.


 Hipoksemia akibat gangguan difusi
 Pneumonia kronik yang dapat terjadi bila pneumonia berlangsung lebih dri 4-

6 minggu akibat kuman anaerob S. aureus, dan kuman gram (-) seperti

pseudomonas aeruginosa.
 Bronkiektasis. Biasanya terjadi karena pneumonia pada masa anak-anak tetapi

dapat juga ole infeksi berulang di lokasi bronkus dista pda cystic fibrosis atau

hipogamaglobulinemia, tuberculosis, atau pneumonia nekrotikans.

L. Pencegahan
Pneumonia Komunitas
Diluar negeri dianjurkan pemberian vaksinasi influenza dan pneumokokus

terhadap orang dengan resiko tinggi, misalnya pasien dengan gangguan

imunologis, penyakit berat termasuk penyakit paru kronik, hati, ginjal, dan

jantung. Di samping itu vaksinasi juga perlu diberikan untuk penghuni rumah

jompo atau rumah penampungan penyakit kronik, dan usia diatas 35 tahun.

Pneumonia Nosokomial
Pencegahan PN berkaitan erat dengan prinsip umum pencegahan infeksi

dengan cara penggunaan peralatan infeksi dengan cra penggunaan peralatan

invasive yang tepat. Perlu dilakukan terapi agresif terhadap penyakit pasien yang

19
akut atau dasar. Pada pasien dengan gagal organ multiple (Multiple organ

failure). Skor Apache II yang tinggi dan penyakit dasar yang dapat berakibat

fatal perlu diberikan terapi pencegahan. Terdapat berbagai faktor terjadinya PN.

Nutrisi Enteral
Penilaian status nutrisi yang tepat dan pembatasan pemakaian cara

pemberian nutrisi enteral dapat mengurangi risiko PN. Pelaksanaan pemberian

nutrisi enteral secara dini dapat membantu pemeliharaan epitel pencernaan dan

mencegah terjadinya translokasi kuman, dengan peningkatan resiko distensi

gaster, kolonisasi, aspirasi dan PN. Posisi pasien setengah duduk dapat

menurunkan resiko aspirasi.

BAB III

TINJAUAN KASUS

20
Pada bab ini penulis akan memaparkan kasus gangguan system pernafasan

“pneumonia” yang di rawat di ruangan perawtan anak dengan sistematika yang

disusun brdasarkan keprawatan yang di mulai dari pengkajian data,

perencanaan,pelaksanaan tindakan, evaluasi keperawatan yang akan di uraikan

sebagai berikut.

A. PENGKAJIAN

I. Identitas klien

a. Nama : An. D

b. Umur :10 tahun

c. Jenis kelamin : Laki-laki

d. Agama : Islam

e. Pendidikan : SD

f. Alamat : Desa Wawoone

g. Suku bangsa : Bugis/Indonesia

h. Tanggal masuk : 6 Desember 2008

i. Tanggal pengkajian : 14 Desember 2008

j. Dx medic : Pneumonia

k. No. register : 17.17.57

Identitas penanggung

21
Nama : Tn. S

Usia : 30 tahun

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Wiraswasta

Agama : Islam

Alamat : Desa Wawoone

Hubungan dengan klien : Ayah kandung

II. Status Kesehatan Saat ini


a. Alasan masuk RS
Klien masuk ruamh sakit dengan keluhan sesak nafas, batuk, dan demam

di rasakan sejak 3 hari sebelum masuk di rumah sakit sampai saat

pengkkajian.

b. Keluhan utama

Klien merasa sesak, batuk dan sakit pada dada jika klien batuk , di

rasakan 3 hari sebelum MRS yaitu mulai tanggal 2 Desember 20008

c. Factor pencetus

Factor pencetus penyebab klien mrasakan kelhan karenaklien banyak

menghir up debu yang ada di sekitar rumahnya dan di sekoolah

d. Timbulnya keluhan

Timbulnya keluhan di rasakan klien secara ,mendadak.

e. Lamanya keluhan

22
Keluhan di rasakan sejak 3 hari sebcelum masuk rumah sakit sampai

pada saat pengkajian.

f. Upaya yang dilakukan unutk mengatasinya

Klien dibawa di rumah sakit oleh orang tuanya untuk mendapatkan

pengobatan.

III. Rifayat Kesehatan yang Lalu

a. Penyakit yang pernah di lalui

Sejak kecil klien sering mengalami batuk, demam, influenza tapi klien

tidak perna di rawat di rumah sakit.

b. Alergi

Klien tidak mempunyai riwayat alergi

c. Imunisasi

Imunisasi klien lengkap

IV. Riwayat keluarga

23
Genogram

X 53 50
58

30 26 18 35 31 28

10 6

Keterangan :

Laki-laki :

Perempuan :

Meninggal dunia : X

Klien :

Tinggal Serumah :

Tipe keluarga : nuclear family

V. Riwayat Tumbuh Kembang

a. Pertumbuhan fisik

1. Berat badan : 18 kg

2. Tinggi badan : 130 cm

b. Perkembangan tiap tahapan

24
Usia anak saat :

1. Berguling : 4 bulan

2. Duduk : 5 bulan

3. Merangkak : 6 bulan

4. Berdiri : 11 bulan

5. Bicara pertama kali : 17 bulan

6. Berpakaian tanpa dibantu : 4 tahun

VI. Riwayat Nutrisi

a. Pemberian ASI

1. Pertama kali disusui sejak lahir sampai umur 18 bulan

2. Di berikan setiap kali menangis (lapar) dengan interval wakktu 3 jam

sekali

b. Pemberian makanan tambahan

Kien diberikan makanan tambahan pertama kali pada usia 5 bulan yaitu

berupa bubur SUN.

VII. Riwayat Psikososial

Klien tinggal di rumah orang tuanya dengan status rumah kepemilikan

sendiri, klien diasuh oleh kedua orang tuanya dengan lingkungan rumah

klien dengan tenang, tidak rawan banjir. Rumah klien terletak di pinggir

jalan raya dengan kondisi di sekitar rumah berdebu. Klien bersekolah di

sebuah SD yang tidak jauh dari rumanya dan mempunyai hubungan denan

temannya cukup baik

25
VIII. Riwayat spiritual

Klien menganut agama Islam dan klien rajin beribadah dan keluarga sangat

mendukung di dalam setiap kegiatan agama yang diikuti anaknya

IX. Reaksi Hospitalisasi

Ibu klien membawa anaknya di rumah sakit denagn tujuan untuk mencapai

kesembuahn anaknya, perasaan orang tua saat ini cemas dengan keadaan

penyakit anaknya, di rumah sakit klien ditemani oleh kedua orang tuanya.

X. Aktivitas sehari-hari

a. Pola nutrisi

1. Sebelum sakit

Berat badan : 18 kg

Tinggi badan : 130 cm

Jenis makanan : nasi + lauk pauk

Frekwensi makan : 3x sehari

Makanan yang di sukai : makanan ringan

Porsi makan : baik

Nafsu makan : baik

Makanan pantangan : tidak ada

Intake cairan : ± 8 gelas perhari

2. Saat sakit

BB : 16 kg

26
TB : 130 cm

Jenis diet : bubur + telur

Porsi : ¼ yang di habiskan

Makanan tambahan : makanan yang berminyak (gorengan)

Nafsu makan : kurang

Waktu makan : pagi, siang, malam

Intake cairan : air putih ± 4 gelas /hari dan infuse RL

16 tts/menit

b. Pola eliminasi

1. Sebelum sakit

a. BAB

Frekwensi : 2-3 kali sehari

Waktu : pagi dan siang hari

Konsistensi : padat

b. BAK

Frekwensi : 4-5 kali sehari

Warna : Kuning muda

Bau : Amoniak

2. Saat sakit

a. BAB

27
Frekwensi : 1 kali sehari

Waktu : tidak menentu

Konsistensi : padat

b. BAK

Frekwensi : 4-5 kali sehari

Warna : kuning muda

Bau : Amoniak

Output : ± 2000 cc/hari

c. Pola istirahat dan tidur

1. Sebelum sakit : - Waktu tidur pukul 21.00 (malam)

- Waktu tidur pukul 14.00 (siang)

- Lama tidur ± 8 jam/hari

- Kebiasan pengantar tidur tidak ada

2. Saat sakit : - Waktu tidur tidak menentu

- Lama tidur ± 6 jam /hari

- Kebiasan pengantar tidur tidak ada

d. Pola Aktivius dan Latihan

l. Sebelum sakit : Klien di rumah sering bermain dan belajar


2. Saat sakit : Klien tidak dapat bermain lagi seperti saat
sebelum sakit.
e. Personal higyene
1. Sebelum sakit

28
a. Mandi : 2kali/hari setiap pagi dan sore hari
dilakukan sendiri dengan menggunakan
sabun.
b. Sikat gigi : 2 kali/hari menggunakan sikat gigi dan pasta
gigi dilakukan sendiri setiap pagi dan sore
hari

2. Saat sakit
a. Mandi : 1 kali pada pagi hari dibantu oleh ibu
klien
b. Sikat gigi : 1 kali pada pagi hari dan dibantu oleh
ibu klien
c. Ganti pakaian : 1 kali pada pagi hari
dan dibantu oleh ibu klien

XI. Pemeriksaan Fisik


a. Keadaan umum klien : Klien tampak lemah Berat
badan klien menurun dari 18 kg menjadi 16 kg.
b. Tanda-tanda vital.
b. Tekanan darah :90/70 mmHg
c. Nadi : 40x/menit
d. Pernapasan : 50x/menit
e. Suhu : 37,5°C c. Antropometri
f. Tinggi badan : 130 cm
g. Berat badan : 18 kg
h. Lingkar lengan atas :22 cm
i. Lingkar kepala :36 cm
j. Lingkar dada :60 cm
k. Lingkar perut :63 cm d. Kepala

29
l. - Bentuk bulat oval
m. - Tidak ada benjolan pada kepala - Pusing atau sakit kepala
n. e. Mata
o. - Ukuran pupil 3 mm, 150 kor
p. - Bentuk simetris kiri dan kanan - Konjungtiva merah
q. - Fungsi penglihatan jelas f. Hidung
r. Reaksi alergi terhadap debu, cara mengatasi control ke dokter,
pernah mengalami flu dengan frekuensi 2-3 kali setahun tidak ada
sekret.
s. g. Mulut dan tenggorokan

30
t. Tekanan darah :90 / 70 mmHg
u. Nadi : 40 x / menit
v. Pernapasan : 50 x/menit
w. Suhu : 37,5°C c. Antropometri
x. Tinggi badan : 130 cm
y. Berat badan : 18 kg
z. Lingkar lengan atas :22 cm
aa. Lingkar kepala :36 cm
bb. Lingkar dada :60 cm
cc. Lingkar perut :63 cm d. Kepala
dd. - Bentuk bulat oval
ee. - Tidak ada benjolan pada kepala - Pusing atau sakit kepala
ff. e. Mata
gg. - Ukuran pupil 3 mm, 150 kor
hh. - Bentuk simetris kiri dan kanan - Konjungtiva merah
ii. - Fungsi penglihatan jelas f. Hidung
jj. Reaksi alergi terhadap debu, cara mengatasi control ke dokter,
pernah mengalami flu dengan frekuensi 2-3 kali setahun tidak ada
sekret.
kk. g. Mulut dan tenggorokan

31
ll. - Diet :lunak
mm. - Golcxrgan anti tusif : gliserin glusamid (GG) 3 x'rz.
Bisolvon 3 x %z. XIV. Data Fokus Sistem Pernapasan
nn. 1) Inpeksi :
oo. - Bentuk dada normo ches nerbandingan anterior posterior 1:2 -
Ikuti gerak nafas
pp. - Simestris kiri dan kanan - Terdapat retraksi dada - Warna kulit
dada putih
qq. - Pola nafas tidak efektifdengan frekuensi petnapasan 50 x/menit
2) Palpasi :
rr. - Tidak teraba adanya masa - Tidak ada nyeri tekan
ss. - Vokal premitus reraba diseluruh area paru bergetar saat
mengucapkan 77
tt. 3) Perkusi :
uu. - Terdapat bunyi resonan pada area paru 4) Auskultasi
vv. - Dispneay terdengar suara tambahan (ronchi)

32
ww. KLASIFIKASI DATA
xx. Data Subjektif
yy. - IN klien mengatakan anaknya batuk dan berlendir
zz. - lbu klien mengatakan anaknya sesak
aaa. - lbu klier, mengatakan anaknya kurang na.fsu makan
bbb. - Klien me;ngatakan badannya lemah
ccc. - IN klien mengatakan anaknya sering terjaga akibat
batuk
ddd. - Klien mc;ngeluh susah tidur.
eee. - lbu klien mengatakan cemas karena pen,yakit anaknya
fff. - lbu klien bertanya-tanya tentang keadaan anaknya
ggg. - lbu klien br.r'iarap anaknya cepat senRbuh. Data
Ob,jektif
hhh. - Klien nampak batuk dengan sputum
iii. - Klien narnpak sesak
jjj. - Frekuensi napas SO x / menit
kkk. - Terdengar suara tambahan (ronchi)
lll. - Pada Ro.. Foto terdapat bercak-bercak putih pada area
bronchus - Keadaan umum klien lemah
mmm.- Porsi ma}:an hanya dihabiskan 'i4 porsi
nnn. - Berat badan klien 13 kg
ooo. - Terpasang infuse RL 16 tetas / menit
ppp. - Turgor kulit jelek
qqq. - Rambut oampak rcntok
rrr.
sss. Klien nampak batuk
ttt. - K lien uampak lemah
uuu. - Mata Klien nampa.k cekung
vvv. - Ekspresi wajah orang hua klier. nampak tegang/cemas

33
www. - Ibu kiien nampak gelisah - T.T.V

34
xxx. B. llTAGNOSA KEPEYZAWATAN
yyy. I. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengart
adanya akumulasi secret pada cabang bronchus titandai dengan :
zzz. DS:
aaaa. - Ibu klien mengatakan anaknya batuj dan berlendir
bbbb. - Ibu klien mengatakan anaknya sesak DO:
cccc. - K.lien nampak batuk dengan sputum
dddd. - Klien nampak sesak
eeee. - Frekuensi napas SOx / menit
ffff. - Terdengar suara tambahan
gggg. - Pada Ro Foto nampak bcrcak-bercak putih pada area
bronchus
hhhh. II. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang tidak adekuat ditandai dengan :
iiii. DS.
jjjj. - Ib-i Klien mengatakan anaknya kuiung nafsu makan
kkkk. - I<;lien mengatakan badannya lemah DO:
llll. - KU klien lemah
mmmm. - Porsi makan hanya dihabiskan '/4 porsi
nnnn. - Berat badan k.lien 18 kg turun 2 kg
oooo. - Turgor kulit jelck
pppp. - Rambut nampa.k rontok
qqqq. - T'erpasang infus 16x tetes/ menit

35
rrrr. - T.T.V. : TD : 90/70 mmHg
ssss. P : SOx menit
tttt. N : 40x / menit S :37,5°C
uuuu. 111. Caryguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan
adanya batuk ditandai dengan:
vvvv. DS:
wwww. - Ibu klien menagarakan anaknya sering terjaga
akibat batuk
xxxx. - Klien mer,geluh susah tidur DO:
yyyy. - Klien nampak lemah
zzzz. - Mata klien nampak cekung
aaaaa. IV. Kecemasan orang tua berhabungan dengan kurangnya
pengetahuan tentang penyakit anaknya ditandai dengan :
bbbbb. DS:
ccccc. - Ibu klien mengatakan cemas karena penyakit anaknya
ddddd. - Ibu klien bertanya-tanya tentang keadaan
anaknya
eeeee. - Ibu klien berharap anakc.ya cepat scmbuh. DO:
fffff. - Ekspresi wajah orang tua klien nampak tegang / cema~
- Ibu klien nampak geiisah

36
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini Penulis akan membahas tentang


kemungkinan kesenjangan yang terjadi antara teori dan
fakta, yang secara komprehensif, faktor pendukung, faktor
penghambat serta alternatif penyelesaian masalah pada
setiap tahapan proses keperawatan.
A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dalam melakukan
proses asuhan keperawatan. Pada tahap ini penutis tidak
menemukan kesenjangan yang berarti hal ini di karenakan
secara garis besar nampak adanya persamaan antara
landasan teori yang ada dengan kenyataan yang di temukan
di lapangan selain itu di sebabkan sifat manusia yang unik.
Adapun data-data yang ada dalam landasan teori
namun tidak ditemukan dalam kasus hal ini di sebabkan 2
faktor antara lain :
Faktor penghambat yaitu pada saat pengkajian klien tidak
mengemukakan keluhan-keluhan tersebut dan Faktor
pendukung yaitu dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
klien dan keluarga mau bekerja sama dan mengikuti terapi
pengobatan sesuai dengan anjuran dokter guna
mempercepat penyembuhan.

37
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yaitu suatu pernyataan dari
masalah klien yang nyata maupun potensial yang di dapat
pada saat pengkajian. Diagnosa dengan gangguan sistem
pernapasan "Pneumonia" yaitu :
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d akumulasi secret
2. Gangguan pertukaran gas b.d obstruksi jalan napas
3. Gangguan kebutuhan cairan dengan elektrolit b.d output yang
berlebihan.
4. Resiko tinggi infeksi b.d perlengketan sekret
ggggg. S. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak a.dekuat.
hhhhh. 6. Gangguan kebutuhan istirahat, tidur b.d batuk
iiiii. 7. Cemas pada orang bua b.d
perubahan status pada kesehatan 8.
pi:ningkatan suhu tubuh b.d proses
irnplementasi
jjjjj. Sedangkan pada kasus yang penulis d:3puikan,
diagnosa ywng didapatkan : 1. Bersihan jalan
napastidak efektif b.d akumulasi sekret
kkkkk. Z. Pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tuhuh
b.d intake yang tidak adekuat.
lllll. 3. Gangguan kebutuhan istirahat, tidur b.d batuk
mmmmm. 4. Cemas pada orang tu« b.d perubahan status
kesehatan
nnnnn. llalarn pelakaanaan tindakan keper<watan yang
dilakukan pada kasus ini, hanya 4 (empat) diagnosa yang
ditemukan dalam pengkajian, pengumpulan data, analisa data,
pada "An. D" dengan gangguan sistem pernapasan

38
"Bronchopneumonia". Sedangkan 4 (empat) diagnosa
keperawatan tidak ditemukan karena tidak ada data yang
menunjang pada kasus ini.

39
ooooo.
ppppp. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang
ada dalam tinjauan teori dan tinjauan kasus, semua
intervensi yang dilakukan sesuai dengan masalah
yang dihadapi klien dan sesuai teori yang ada.
qqqqq. C. Yerencanaan
rrrrr. Perencanaan tindakan keperawatan antara teori
(Ian kasus tetap tidak ditemukan kesenjangan, karena
tinjauan kasus tetap rner.gacu pada teori. Penulis
melihat data komponen-kornponen yang sama
diantara keduanya dalam perencanaan senerti
menentukan tujuan dan intervensi.
sssss. 1. Untuk masalah pertama : bersihan jalan napas
tidak efektif berhubungan de:ngan akumulasi sekret,
Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah : kaji
status respirasi, atur posisi tidur anak, auskultsi bunyi
napas tambahan, beri Oz sesuai program, lakukan
suction bila perlu, beri pengobatan sesuai intruksi
dokter berupa antibiotik.
ttttt. 2. Untuk masalah kedua : Nutrisi kurang dari
kebutulian berhubungan dengan intake yang tidak
adekuat, perencanaan yang dilakukan adalah : kaji
perubahan tanda-tanda vital, kaji turgor kulit, pantau
masukan dan keluaran cairan, beri obat sesuai indikasi
dan beri cairan intra vena yang sesuai dengan
indikasi.
uuuuu. 3. Untuk masalah ketiga : gangguan pola
tidur b.d batuk perencanaan yang dilakukan ada!ah :
kaji pola tidur klien, ciptakan lingkungan sekitar

40
menjadi tenang dengan mengurangi pengrrnjung,
anjurkan pada keluarga untuk menemani klien,
kolaborasi dengan tim medis dengan penatalaksanaan
antitusif.
vvvvv. 4. Untuk masalah keempat : cemas pada orang tua
berhubungan dengan perubahan status kesehatan perencanaan
yang dilakukan adalah : kaji penyebab

41
wwwww. kccemasan oranl.; tua kliPn, motivasi untuk
mengungkapkan perasaannya, beri doron;an spiritual pada
keluarga klien. tunjukan rasa sempati pada keluarga klien.
xxxxx. D. Implementasi
yyyyy. Pelaksanaan dilaksanakan berdasarkan rencana
keperawatan atau intervensi yang dibuat, pelaksanaan tidakan
sesuai yang telah disusun dalam perencanaan, sebagian besar
dapat dilakukan dengan baik oleh penulis sendiri rnaupun
petugas perawat lainnya. Hat ini disebabkan karena tenaga
kesehatan clan fasilitas Rumah Sakit yang mendukung
pelak.sanaan asuhan keperawatan ~epada klien, sehingga
dalam masa perawatan kesehatan klien mengalami
perkembangan dari 4 (empat) diagnosa pada hari pertama
sampai hari ketiga masalah yang dapat teratasi hanya tiga
masalah. Hal ini disebabkan karena keterbatasan waktu
sehingga masalah keperawatan tidak semua dapat diatasi.
zzzzz. ?enu!is tidak menemukan k:.sulitan yang herarti dalarrr
pelaksanaan tindakan keperawatan pada kasus denaan
tinjauan teori yang ada karena prinsip tindakan keper;rwatan
pada klien dengan gangguan sistem pernapasan
"Bronchopneumonia" secara teori telah dilakukan pada kasus.
aaaaaa. E. Evaluasi
bbbbbb. Evaluasi merupal:ah tahap akhir proses
keperawatan untuk melihat keberhasilan yang telah dicapai
dan dihuat dalz.m bentul; catatan perkembangan. Pada kasus
tidak semua masalah keperawatan dapat berhasil secara
maksimaL karena keterbatasan waktu datam pelaksanaan
asuhan keperawatan.

42
cccccc. Adapun masalah yang dapat tPratasi adalah : 1.
Kecemasan orang tua
dddddd.
eeeeee. 2. Pemenuhan nutrisi tubuh
ffffff. 3. Kebutuhan istirahat, tidur.
gggggg. Sedangkan masalah yang belum tPratasi adalah : 1.
Bersihan jalan Papas

43
hhhhhh. BAB V PENUTUP
iiiiii. A. Kesimpulan
jjjjjj. 1. Pengkajian merupakan tahap awal dalam melakukan proses
asuhan keperawatan. Pada tahap ini penulis tidak menemukan
kesenjangan yang berarti, hal ini di karenakan secara garis besar
nampak adanya persamaan antara landasan teori yang dengan
kenyataan yang di temukan di lapangan.
kkkkkk. 2. Dari Asuhan Keperawatan pada klien "An. D"
didapatkan 4 (empat) diagnosa dimana 3 (tiga) diantaranya dapat
teratasi yaitu cemas pada orang tua, b.d perubahan status
kesehatan, perubahan nutrisi b.d intake yang tidak adekuat,
gangguan kebutuhan istirahat tidur b.d batuk. Sedangkan 1 (satu)
diagnosa lainnya belum dapat teratasi karena keterbatasan waktu.
llllll. 3. Perencanaan tindakan keperawatan pada klien "An. D"
adalah memperbaiki potensi pernapasan serta memberi
kenyamanan pada klien, agar dapat tidur dengan baik.
mmmmmm. 4. Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien "An.
D" berdasarkan perencanaan keperawatan yang dibuat
berdasarkan masalah keperawatan yang terjadi.
nnnnnn. 5. Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan
untuk melihat keberhasilan yang telah dicapai dan dibuat dalam
bentuk catatan perkembangan.
oooooo. 6. Untuk mengetahui efektifitas dan hasil dari proses
keperawatan maka hendaknya perawat mendokumentasikan
kegiatan evaluasi secara terus menerus.

44
pppppp. 7. Adapun data-data yang ada dalam landasan
teori namun tidak ditemukan dalam kasus, hal ini di
sebabkan 2 faktor antara lain : Faktor penghambat yaitu
pada saat pengkajian klien tidak mengemukakan keluhan-
keluhan tersebut dan Faktor pendukung yaitu dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan klien dan keluarga mau
bekerja sama dan mengikuti terapi pengobatan sesuai
dengan anjuran dokter guna mempercepat penyembuhan.
qqqqqq. 8. Beberapa faktor yang dapat mempercepat
penyembuhan pada klien dengan kasus
"Bronchopneumonia" adalah :
rrrrrr. - Klien dari kasus"Bronchopneumonia" segera dibawa
ke Rumah Sakit sehingga memudahkan dalam
penanggulangannya.
ssssss.- Pemberian gizi yang baik sebelum sakit
tttttt. - Adanya kerja sama dan dukungandari orang tua
klien
uuuuuu. - Mengikuti terapi pengobatan sesuai
dengan anjuran dokter. B. Saran
vvvvvv. 1. Untuk menerapkan Asuhan Keperawatan
secara komprehensip yaitu Bio, Psiko, Sosial dan Spritual
maka hendaknya Perawat lebih meningkatkan
pengetahuan sesuai dengan perkembangan iptek.
wwwwww. 2. Perawat hendaknya dalam melakukan asuhan
keperawatan di Rumah Sakit, Perawat mampu melakukan
pendekatan individual sehingga tercapai rasa saling
percaya demi keberhasilan pelaksanaan Asuhan
Keperawatan.

45
xxxxxx. 3. Untuk mengetahui efektivitas dan hasil dari proses
keperawatan maka hendaknya kegiatan evaluasi dilakukan terus
menerus dengan menggunakan standar dan kriteria keberhasilan
sesuai dengan masalah yang dihadapi.

46
yyyyyy. DAFTAR PUSTAKA
zzzzzz. Marlyn E, Doenges, dkk. IZencana Asuhan
Keyerawatan. Pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3, 1993.
aaaaaaa. Ahmad Ramali dan Pamoenjak. Kamus Kedokteran.
1997. Jakarta.
bbbbbbb. AL. Speirs. Penerjemah Dr. Sidhratani Zain.
Ilmu Kesehatan Anak Untuk Perawat. Edisi 2. 1992
ccccccc. Barbara C Long. Perawatan Medikal
Bedah. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan
Keperawatan. Bandung, 1996.
ddddddd. Brunner Sudharti. Buku Ajar
Medikal Bedah. Edisi 8. Vol. I. EGC, 2001
Cecily L Beltz, dkk. Keperawatan
Pediatrik. Edisi 3 EGC, 1996 Departemen
Kesehatan RI. Bandung, 1991.
eeeeeee. Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit.
Editor Setiawan SKPP. EGC. Jakarta 1997.
1'urawan Junadi, dkk. Kapita Selekta
Kedokteran. Jakarta, 1992
fffffff. Richard E. Behrman. M.D. Dkk, Nelson. Ilmu
Kesehatan Anak Bagian 2. EGC 1992. Sistem
Kesehatan Nasional dan UUD 1945 Nomor : 23 tentang
Kesehatan Masyarakat. Tahun 1992
ggggggg. Syaifuddin B. AC, Drs. H. Anatomi Fisiologi Untuk

Siswa Perawat. Edisi 2 Buku. EGC 1997.

XI.

47
XII.

XIII.

B.
C.
D.

48
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN “An. D”
DENGAN GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN
“PNEUMONIA”

49
TIM PENYUSUN :

YUSRAN
ARHAM SABRI
KETUT DEDI
BERRI PRIMANTO
HASDAR TOSEPU
LINA SULASIH

AKADEMI KEPERAWATAN PEMDA


KABUPATEN KONAWE
UNAAHA
2010

50
KATA PENGANTAR

HALAMAN

HALAMAN JUDUL...................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.......................................................................... 1

B. Batasan Masalah....................................................................... 4

C. Rumusan Masalah..................................................................... 5

D. Tujuan Penelitian...................................................................... 5

E. Mandate Penelitian.................................................................... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Anak Remaja................................................ 7

B. Tinjauan Tentang Rokok........................................................... 10

C. Tinjauan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi perilaku

Merokok pada Anak Remaja..................................................... 15

D. Peran Perawat Terhadap Perilaku Merokok.............................. 18

BAB III KERANGKA KONSEP

A. Dasar Pemikiran........................................................................ 20

B. Kerangka Konsep...................................................................... 21

C. Variabel Penelitian.................................................................... 21

D. Defenisi Operasional dan Kriteria Obyektif............................. 22

ii
51
BAB IV METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian.......................................................................... 25

B. aktu dan Tempat Penelitian....................................................... 25

C. Populasi dan Sampel................................................................. 25

D. Pengolahan Data....................................................................... 27

E. Penyajian Data.......................................................................... 28

iii

52