You are on page 1of 26

BAB I

TINJAUAN TEORI
1. Keluarga
A. Keluarga
1. Pengertian Keluarga
Menurut Mubarak, dkk (2009) keluarga merupakan perkumpulan
dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau
adopsi, dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi satu dengan yang
lain.
Bailon, 1978 (dalam Achjar, 2010) berpendapat bahwa keluarga
sebagai dua atau lebih individu yang berhubungan karena hubungan darah,
ikatan perkawinan atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain dalam peranannya dan menciptakan serta
mempertahankan budaya.
Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan
perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional dan sosial dari tiap anggota keluarga (Duval, 1972
dalam Setiadi 2008).
Jadi dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah sekumpulan dua
orang atau lebih yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi,
hubungan darah, hidup dalam satu rumah tangga, memiliki kedekatan
emosional, dan berinteraksi satu sama lain yang saling ketergantungan
untuk menciptakan atau mempertahankan budaya, meningkatkan
perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial setiap anggota dalam
rangka mencapai tujuan bersama.

2. Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga


Tahap dan siklus tumbuh kembang keluarga menurut Duval 1985
dan Friedman 1998, ada 8 tahap tumbuh kembang keluarga, yaitu :

a. Tahap I: Keluarga baru menikah


Tugas perkembangan keluarga saat ini adalah membangun
perkawinan yang saling memuaskan, menghubungkan jaringan
persaudaraan secara harmonis, merencanakan keluarga berencana.
b. Tahap II: Keluarga dengan anak baru lahir (anak tertua bayi sampai
umur 30 bulan)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap II, yaitu membentuk
keluarga muda sebagai sebuah unit, mempertahankan hubungan
perkawinan yang memuaskan, memperluas persahabatan dengan
keluarga besar dengan menambahkan peran orang tua kakek dan
nenek dan mensosialisasikan dengan lingkungan keluarga besar
masing-masing pasangan.
c. Tahap III: Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua
berumur 2-6 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap III, yaitu memenuhi
kebutuhan anggota keluarga, mensosialisasikan anak,
mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap memenuhi
kebutuhan anak yang lainnya, mempertahankan hubungan yang sehat
dalam keluarga dan luar keluarga, menanamkan nilai dan norma
kehidupan, mulai mengenalkan kultur keluarga, menanamkan
keyakinan beragama, memenuhi kebutuhan bermain anak.
d. Tahap IV: Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua usia 6-
13 tahun)
Tugas perkembangan keluarga tahap IV, yaitu mensosialisasikan
anak termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan
hubungan dengan teman sebaya, mempertahankan hubungan
perkawinan yang memuaskan, memenuhi kebutuhan kesehatan fisik
anggota keluarga, membiasakan belajar teratur, memperhatikan anak
saat menyelesaikan tugas sekolah.

e. Tahap V: Keluarga dengan anak remaja (anak tertua umur 13-20


tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap V, yaitu
menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja
menjadi dewasa dan mandiri, memfokuskan kembali hubungan
perkawinan, berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak-
anak, memberikan perhatian, memberikan kebebasan dalam batasan
tanggung jawab, mempertahankan komunikasi terbuka dua arah.
f. Tahap VI: Keluarga yang melepas anak usia dewasa muda
(mencakup anak pertama sampai anak terakhir yang meninggalkan
rumah)
Tahap ini adalah tahap keluarga melepas anak dewasa muda
dengan tugas perkembangan keluarga antara lain: memperluas siklus
keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru yang didapat
dari hasil pernikahan anak-anaknya, melanjutkan untuk
memperbaharui dan menyelesaikan kembali hubungan perkawinan,
membantu orang tua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami dan istri.
g. Tahap VII: Orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan atau
pensiunan)
Tahap keluarga pertengahan dimulai ketika anak terakhir
meninggalkan rumah dan berakhir atau kematian salah satu pasangan.
Tahap ini juga dimulai ketika orang tua memasuki usia 45-55 tahun
dan berakhir pada saat pasangan pensiun. Tugas perkembangannya
adalah menyediakan lingkungan yang sehat, mempertahankan
hubungan yang memuaskan dan penuh arah dengan lansia dan anak-
anak, memperoleh hubungna perkawinan yang kokoh.
h. Tahap VIII: Keluarga dalam tahap pensiunan dan lansia
Dimulai dengan salah satu atau kedua pasangan memasuki masa
pensiun terutama berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal
dan berakhir dengan pasangan lain meninggal. Tugas perkembangan
keluarga adalah mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan,
menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun, mempertahankan
hubungan perkawinan, menyesuaikan diri terhadap kehilangan
pasangan dan mempertahankan ikatan keluarga antara generasi.

3. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga merupakan hasil atau konsekuensi dari struktur
keluarga atau sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh keluarganya. Fungsi
keluarga menurut Friedman (1998) dalam Setiawati dan Darmawan
(2005), yaitu:
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan
pemeliharaan kepribadian anggota keluarga.
b. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi bercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi
pada anak, membentuk nilai dan norma yang diyakini anak,
memberikan batasan perilaku yang boleh dan tidak boleh pada anak,
meneruskan nilai-nilai budaya anak.
c. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga
dalam melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga
serta menjamin pemenuhan kebutuhan perkembangan fisik, mental,
dan spiritual, dengan cara memelihara dan merawat anggota keluarga
serta mengenali kondisi sakit tiap anggota keluarga.
d. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang,
pangan, dan papan, dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber
daya keluarga.
e. Fungsi biologis
Fungsi biologis bukan hanya ditujukan untuk meneruskn keturunan
tetapi untuk memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan
generasi selanjutnya.
f. Fungsi psikologis
Fungsi psikologis terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih
saying dan rasa aman/ memberikan perhatian diantara anggota
keluarga, membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga dan
memberikan identitas keluarga.
g. Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan
pengetahuan, keterampilan membentuk perilaku anak, mempersiapkan
anak untuk kehidupan dewasa mendidik anak sesuai dengan tingkatan
perkembangannya.

4. Tugas Keluarga
Tugas keluarga merupakan pengumpulan data yang berkaitan dengan
ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan. Asuhan
keperawatan keluarga mencantumkan lima tugas keluarga sebagai paparan
etiologi/ penyebab masalah dan biasanya dikaji pada saat penjajagan tahap
II bila ditemui data malaadapti pada keluarga. Lima tugas keluarga yang
diaksud adalah:
a. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah, termasuk
bagaimana persepsi keluarga terhadap tingkat keparahan penyakit,
pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan persepsi keluarga
terhadap masalah yang dialami keluarga.
b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, termasuk sejauh
mana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah,
bagaimana masalah dirasakan keluarga, bagaimana keluarga
menanggapi masalah yang dihadapi, adakah rasa takut terhadap akibat
atau adakah sifat negative dari keluarga terhadap masalah kesehatan,
bagaimana system pengambilan keputusan yag dilakukan keluarga
terhadap anggota keluarga yang sakit.
c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit,
seperti bagaimana keluarga mengetahui keadaan sakitnya, sifat, dan
perkembangan perawatan yang diperlukan, sumber-sumber yang ada
dalam keluarga serta sikap keluarga terhadap anggota keluarga yang
sakit.
d. Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan seperti
pentingnya hygiene sanitasi bagi keluarga, upaya pencegahan penyakit
yang dilakukan keluarga. Upaya pemeliharaan lingkungan yang
dilakukan keluarga, kekompakan anggota keluarga dalam menata
lingkungan dalam dan lingkungan luar rumah yang berdampak
terhadap kesehatan keluarga.

2. Kehamilan
A. Pengertian
Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin
intrauterine mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai permulaan
persalinan (manuaba, 2007).
Periode antepartum adalh periode kehamilan yang dihitung sejak
hari pertama haid terakhir (HPHT) hingga dimulainya persalinan sejati
yang menandai awal periode intrapartum. (Helen Varney, 2006)
Kehamilan adalah suatu masa yang dimulai dari konspsi sampai
lahirnya janin. Lama hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9
bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. (Sarwono, 2007)

B. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala menurut (Manuaba, 2010) sebagai berikut:
a. Tanda tidak pasti (presumptive sign)
1) Amenorea (berhentinya menstruasi)
Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi
pembentukan folikel de Graff dan ovulasi. Mengetahui HPTH
dengan rumus neagle dapat ditentukan perkiraan persalinan
2) Mual (nausea) dan muntah (emesis)
Pengaruh estrogen dan progerteron terjadi pengeluaran asam
lambung yang berlebihan, Menimbulkan mual dan muntah
terutama pagi hari yang disebutkan morning sicknes, Dalam
keadaal fisiologis keadaan ini dapat diatasi, Akibat mual muntah
nafsu makan berkurang
3) Ngidam (menginginkan makanan tertentu)
Wanita hamil sering menginginkan makanan tertentu, keinginan
yang
demikian disebut ngidam
4) Syncope (pingsan)
Terjadi gangguan sirkulasi ke daerah kepala menyebabkan iskemia
susunan saraf pusat dan menimbulkan sinkope atau pingsan,
Keadaan ini menghilang setelah kehamilan usia 16 minggu
5) Payudara tegang
Pengaruh estrogen dan progesterone serta somamatropin
menimbulkan deposit lemak, air, dan garam pada payudara,
Payudara membesar dan tegang, Ujung syaraf tertekan
menyebabkan rasa sakit terutama pada hamil pertama
6) Sering miksi
Desakan rahim kedepan menyebabkan kandung kemih cepat terasa
penuh dan
sering miksi, Pada triwulan kedua sudah menghilang
7) Konstipasi atau obstipasi
Pengaruh progesteron dapat menghambat peristaltik usus, sehingga
menyebabkan kesulitan untuk BAB
8) Pigmentasi kulit
Sekitar pipi : cloasma gravidarum, Keluarnya melanopore
stimulating hormone hipofisis anterior menyebabkan pigmentasi
kulit pada kulit, Dinding perut : strie lividae, strie nigra, linea alba
makin hitam.
Sekitar payudara : hiperpigmentasi areola mamae, putting susu
semakin menonjol, kelenjar Montgomery menonjol, pembulu darah
menifes sekitar payudara
9) Epulis
Hipertrofi gusi disebut epulis dapat terjadi bila hamil
10) varises
Karena pengaruh dari estrogen dan progesterone terjadi
penampakan pembulu darah vena, terutama bagi mereka yang
mempunyai bakat, Penampakan pembulu itu terjadi di sekitar
genetalia eksterna, kaki, betis dan payudara, Penampakan pembulu
darah ini dapat menghilang stelah persalinan
b. Tanda mungkin (probability sign)
1) Pembesaran perut: Rahim membesar sesuai dengan usia
kehamilannya.
2) Tanda hegar: Perlunakan dan dapat ditekannya isthmus
uteri
3) Tanda goodel: Perlunakan serviks, pada wanita yang tidak
hamil serviks seperti ujung hidung, sedangkan pada wanita
hamil melunak seperti bibir.
4) Tanda chadwicks: Perubahan warna menjadi keunguan
pada vulva dan mukosa vagina termasuk juga porsio dan serviks
5) Tanda piscaseck: Merupakan pembesaran uterus yang tidak
simetris. Trejadi karena ovum berimplantasi pada daerah yang
dekat dengan kornu sehingga daerah tersebut berkembang lebih
dulu.
6) Kontraksi Braxton hicks: Peregangan sel – sel otot uterus,
akibat me ningkatnya actomyosin di dalam otot uterus.
Kontraksi ini tidak beritmik, sporadic, tidak nyeri, biasanya
timbul pada kehamilan delapan minggu, tetapi baru dapat
diamati dari pemeriksaan abdominal pada trimester ke tiga.
Kontraksi ini akan terus meningkat frekuensinya, lamanya, dan
kekeuatannya sampai mendekati persalinan.
7) Teraba ballottement: Ketukan yang mendadak pada uterus
menyebekan janin bergerak dalam cairan ketuban yang dapat
dirasakan oleh tangan pemeriksa.
8) Pemeriksaan tes biologis kehamilan (planotest) positif:
Untuk mendeteksi adanya hCG yang diprouksi oleh
sinsiotropoblastik sel selama kehamilan.
c. Tanda pasti (positive sign)
1) Gerakan janin dalam Rahim: Terlihan alat / teraba gerakan
janin, Terba bagian – bagian janin.
2) Denyut jantung janin: Di dengar dengan laenec, alat
kardiotokografi, alat Doppler, Dilihat dengan USG.

C. Perubahan fisiologi ibu hamil


Menurut Manuaba, 2010 perubahan fisiologis ibu hamil adalah
d. Sitem reproduksi
1) Uterus
Uterus akan mengalami pembesaran akibat peningkatan
hormone estrogen dan progesteron, uterusakan mengalmi hipertrofi
dan hipervaskularisasi akibat dari pertumbuhan dan perkembangan
janin, pertambahan amnion dan perkembangan plasenta. Selain itu
akan terjadi perlunakan pada in hormone istmus uteri dan
pembesaran plasenta pada satu sisi uterus.
2) Serviks
Terjadi hipervaskularisasi dan perlunakan pada serviks
karena peningkatan hormon estrogen dan progesteron
3) Vagina
Terjadi peningkatan produksi lendir oleh mukosa vagina,
hipervaskularisasi pada vagina.
4) Ovarium
Tidak terjadi pembentukan folikel baru dan hanya terlihat
perkembangan dari korpus luteum.
5) Payudara
Terjadi hiperfaskularisasi pembuluh darah akibat
peningkatan hormone estrogen dan progesteron. Selain itu juga
terjadi peningkatan hormon somatomamotropin untuk produksi
ASIsehingga menjadi lebih besar.
e. Sitem pencernaan
1) Mulut dan gusi
Peningkatan hormone estrogen dan progesterone
meningkatkan aliran darah ke rongga mulut, hipervaskilarisasi
pembuluh darah kapiler gusi sehingga terjadi edema dan
hiperplastis, ketebalan epitel berkurang sehingga gusi lebih rapuh,
timbulnya mual muntah menyebabkan kebersihan mulut terganggu
dan meningkatkan rasa asam di mulut.
2) Lambung
Terjadi relaksasi pada otot – otot pencernaan antaralain
peristaltic di lambung, sehingga pencernaan makanan oleh
lambung menjadi lebih lama dan mudah terjadi peristaltic balik ke
esophagus. Selain itu, pengaruh dari peningkatan hormon hCG
juga dapat menyebekan ibu hamil merasakan mual dan muntah
3) Usus halus dan usus besar
Relaksasi pada usus halus sehingga penyerapan makanan
menjadi lebih maksimal. Relaksasi juga terjadi pada usus besar
sehingga penyerapan air menjadi lebih lama.
f. Sistem kardiovaskular
Hipertrofi atau dilatasi ringan jantung mungkin disebabkan
oleh peningkatan volume darah dan curah jantung. Karena diafragma
terdorong ke atas, jantung terangkat keatas dan berotasi kedepan.
g. Sitem perkemihan
Peningkatan sensitivitas kandung kemih dan pada tahap
selanjutnya merupakan akibat kompresi pada kandung kemih yang
nantinya akan menimbulkan rasa ingin berkemih walaupun kandung
kemih hanya berisi sedikit urin.
h. Sistem integument
1) Muka
Terjadi perubahan warna bercak
hiperpigmentasikekocklatan pada kulit di daerah tonjolan maksila
dan dahi, khususnya pada wanita hamil berkulit hitam akibat
peningkatan hormone estrogen dan progesterone serta hormone
melanokortikotropin.

2) Kulit
Hipersensitifitas alergen plasenta sehingga menyebabkan
gatal – gatal dan peningkatan keringat karena peningkatan kelenjar
aporcrine akibat peningkatan hormone, kelenjar tersebut meningkat
akibat BB dan kegiatan metabolic yang meningkat serta
peningkatan aktivitas kelanjar sebasea.
3) Perut
Terdapat garis pigmentasi dari sifisis pubis sampai ke
bagian atas fundus di garis tengah tubuh di induksi hormone
timbul.
i. System pernafasan
1) Hidung
Peningkatan vaskularisasi yang merupakan respon terhadap
peningkatan hormone estrogen, juga terjadi pada traktus pernafasan
atas. Karena pembesaran kapiler, terbentuklah edema dan
hyperemia di hidung, faring, laring, trachea dan bronkus.
2) Toraks dan diafragma
Semakin membesarnya uterus maka akan mengalami
desakan pada diafragmasehingga diafragma naik 4 cm terjadi
pelebaran sudut toraks dari 68º menjadi 103º peningkatan hormone
progesteron menyebabkan peningkatan pusat syaraf untuk
konsumsi oksigen.
3) System neurologi dan muskulo skeletal
Penurunan kalsium dan alkalosis terjadi akibat perubahan
pada sistim pernafasan, tekanan uterus pada syaraf, keletihan, dan
sirkulasi yang buruk pada tungkai. Perubahan titik pusat gaya berat
akibat uterus yang bertambah besar dan berat membuat wanita
mengambil sikap yang dapat menekan saraf ulnar, median, dan
skiatik. Terjadi hipertensi postural yang berhungan dengan
perubahan hemodinamis. Terjadi hipoglikemi

D. Perubahan psikologi ibu hamil


Segera setelah terjadi peningkatan hormone estrogen dan
progesterone dalam tubuh, maka akan muncul berbagai macam
ketidaknyamanan secara fisiologis pada ibu misalnya mual, muntah,
keletihan,dan pembesaran pada payudara. Hal ini akan memicu perubahan
psikologis seperti berikut :
1) Trimester pertama
Ibu membenci kehamilannya, merasakan kekecewaan, penolakan,
kecemasan, dan kesedihan, Mencari tahusecara aktif apakah memang
benar – benar hamil dengan memperhatikan perubahan pada tubuhnya
dan sering memberitahukan kepada orang lain apa yang dirahasiakan,
Hasrat melakukan seks berbeda – beda, ada yang menigkat ada yang
menurun, Bagi seorang suami sebagai seorang ayah akan timbul
kebanggaan, tetapi bercampur dengan keprihatinan akan kesiapa untuk
mencari nafkah bagi keluarganya.
2) Trimester kedua
Ibu merasa sehat dan sudah terbisa dengan kadar hormone yang
tinggi, serta rasa tidak nyaman akibat kehamilan sudah mulai
berkurang. Ibu sudah menerima kehamilannya dan dapat mulai
menggunakan energy dan pikirannya lebih konstruktif. Ibu merasa
terlepas dari rasa kecemasan dan rasa tidak nyaman seperti yang
dirasakannya pada trimester pertama.
3) Trimester ketiga
Ibu tidak sabar menunggu kehadiran bayinya, Ibu khwatir akan
bayinya yang akan segera lahir sewaktu – waktu, Ibu khawatir bayinya
lahir tidak normal, Ibu bersikap lebih melindungi bayinya dan
menghindari orang atau benda yang di anggap membahayakan
bayinya, Ibu merasa takut akan sakit dan bahaya fisik yang akan timbul
pada saat melahirkan, Tidak nyaman dengan kehamilannya, ibu meras
dirinya jelek dan aneh.

E. Ketidaknyamanan ibu hamil dan tindakan


penatalaksanaannya
Menurut Ummi hani,2010, yaitu:
1. Sistem reproduksi
a. Keputihan
2. Sistem pencernaan
a. Karies gigi
b. Gusi berdarah
c. Mual muntah
d. Konstipasi
e. Hemoroid
3. Sistem kardiovaskular
a. Palpitasi jantung
b. Anemia fisiologis
c. Edema umum
4. Sistem perkemihan
a. Sering BAK
5. Sistem integument
a. Chloasma gravidarum
b. Keringat bertambah
c. Garis – garis di perut dan payudara
6. System pernafasan
a. Hidung tersumbat dan mimisan
b. Sesak nafas
c. Nyeri pinggang dan punggung sebelah bawah.
7. Neurologi dan muskulo skeletal
a. Kram kaki
b. Kesemutan
c. Pusing hingga pingsan
F. Penatalaksanaan medis
Menurut Manuaba, 2010, penatalaksnaan medis yaitu:
1. Pengobatan penyakit yang menyertai kehamilan
2. Pengobatan penyulit kehamilan
3. Menjadwalkan pemberian vaksinasi
4. Memberikan preparat penunjang kesehatan
a. Vitamin : obimin AF, prenavit, vicanatal, barralat, biosanbe
dan sebagainya
b. Tambahan preparat Fe
5. Menjadwalkan pemeriksaan ulang

G. Pengkajian
Menurut Manuaba, 2010, pengkajian yaitu:
1. Pemeriksaan ibu hamil
a. Anamnesa
1) Anamnesa tentang identitas: nama diri sendiri, suami,
alamat, pekerjaan dan sebagainya.
2) Anamnesa obstetri: kehamilan ke berapa; apakah persalinan
lahir spontan aterm, hidup atau dengan tindakan, usia anak
terkecil; untuk primigravida lama kawin dan usia; tanggal haid
terakhir.
3) Anamnesis tentang keluhan utama.
2. Pemerikaan fisik
a. Pemeriksaan fisik umum
1) Keadaan umum: kompos mentis, tampak sakit.
2) Pemeriksaan tekanan darah, nadi, pernapasan dan
suhu, berat badan.
b. Pemeriksaan khusus obstetri
1) Inspeksi (tinggi fundus uteri, keadaan dinding
abdomen, gerak janin yang tampak).
2) Palpasi (menurut Kneble, Leopold, Buddin, Ahfeld).
Teknik pemeriksaan leopold:
a) Leopold I
i. Kedua telapak tangan pada fundus uteri untuk
menentukan tinggi fundus uteri, sehingga perkiraan
usia kehamilan dapat disesuaikan dengan tanggal haid
terakhir.
ii. Bagian apa yang terletak di fundus uteri. Pada letak
membujur sungsang, kepala bulat terasa keras dan
melenting pada goyangan, pada letak kepala akan teraba
bokong pada fundus: tidak keras tak melenting dan
tidak bulat, pada letak lintang, fundus uteri tidak diisi
oleh bagian-bagian janin.
b) Leopold II
i. Kemudian kedua tangan diturunkan menelusuri tepi
uterus untuk menentukan bagian apa yang terletak
dibagian samping.
ii. Letak membujur dapt ditetapkan punggung anak,
yang teraba rata dengan tulang iga seperti papan cuci.
iii. Pada letak lintang dapat ditetapkan dimana kepala
janin.
c)
d) Leopold III
i. Menentukan bagian apa yang terdapat diatas
simpisis pubis.
ii. Kepala akan teraba bulat dan keras sedangkan
bokong teraba tidak keras dan tidak bulat. Pada letak
lintang simpisis pubis akan kosong.
e) Lepold IV
i. Pada pemeriksaan leopold IV, pemeriksa
menghadap kearah kaki ibu untuk menetapkan bagian
terendah janin yang masuk ke pintu atas panggul.
ii. Bila bagian terendah masuk PAP telah melampaui
lingkaran terbesarnya, maka tangan yang melakukan
pemeriksaan divergen, sedangkan bila lingkaran
terbesarnya belum masuk PAP maka tangan pemeriksa
konvergen.
3) Perkusi (meteorisme, tanda cairan bebas).
4) Auskultasi (bising usus, denyut jantung janin, gerak
janin intrauterin, hal lain yang terdengar).
5) Pemeriksaan dalam (pembukaan, perlunakan
serviks, ketuban, penurunan bagian terendah, penempatan
kombinasi, tumor yang menyerupai bagian terendah,
pelvimetri panggul).
Indikasi pemeriksaan dalam:
a) Indikasi sosial untuk menentukan keadaan
kehamilan atau persalinan, sebelum ditinggalkan oleh
penolong.
b) Jika ada pemeriksaan luar, kedudukan janin tidak
dapat ditentukan.
c) Jika ada sangkaan kesempitan panggul dan CPD.
d) Jika karena sesuatu, persalinan tidak maju-maju.
e) Jika akan diambil tindakan obstetriboperatif.
f) Menentukan nilai skor pelvis.
6) Pemeriksaan tambahan (pemeriksaan laboratorium,
ultrasonografi, tes pemeriksaan air ketuban, tes pemeriksaan
bakteriologis).

H. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Identitas berupa nama, umur, pendidikan, pekerjaan,
agama, suku/bangsa, alamat dan status.
b. Keluhan Utama: Klien mengatakan mual-mual dan muntah
c. Riwayat Menstruasi : meliputi menarche usia, siklus,
lamanya, banyaknya, HPHT, perkiraan persalinan, Flour Albus.
d. Riwayat obstetri yang lalu: meliputi kehamilan keberapa,
umur kehamilan, penyulit kehamilan, jenis persalinan, penolong,
jenis kelamin anak dan masa nifas.
e. Riwayat kontrasepsi: Meliputi jenis kontrasepsi yang
digunakan, lamanya pemakaian dan keluhan yang dirasakan
selama memakai alat kontrasepsi.
f. Riwayat Penyakit Keluarga: Faktor-faktor situasi, seperti
pekerjaan wanita dan pasangannya, pendidikan, status
perkawinan, latar belakang budaya dan etnik, serta status
sosioekonomi, ditetapkan dalam riwayat social.
g. Riwayat keluarga memberikan informasi tentang dekat
pasien, termasuk orang tua, saudara kandung dan anak-anak. Hal
ini membantu mengidentifikasi gangguan genetik atau familial
dan kondisi-kondisii yang dapat mempengaruhi status kesehatan
wanita atau janin.
h. Riwayat pemeriksaan ANC Data yang diikumpulkan
tanggal pemeriksaan, TFU, letak anak, DJJ, oedema, reflex
tungkai, TD, BB, keluhan UK (minggu) dan terapi yang didapat.
i. Kebutuhan Dasar Manusia
1. Nutrisi
a) Frekuensi makan : 3 x sehari
b) Jenis makanan : nasi, lauk-pauk, sayur, dan
buah-buahan.
c) Minum : 6-7 kali sehari
d) Nafsu makan : tidak nafsu, alasan : karena
mual dan muntah
2. Eliminasi
BAK: Frekwensi, Warna, Bau, Keluhan
BAB : Frekwensi, Warna, Bau, Konsistensi, Keluhan
3. Istirahat Dan Tidur
4. Personal Hygiene
2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
b. Pemeriksaan penunjang
1) Hasil pemeriksaan laboratorium selama hamil
khususnya hematokrik (menggambarkan anemia).
2) Waktu masuk ruang bersalin ulangi lagi
pemeriksaan Ht, Urinalis untuk protein, glukosa dan
keton. Contoh darah perlu diambil untuk crossmatching
untuk persiapan bila ada transfusi.
3) Pengkajian khusus fetal
c. DJJ, air ketuban dan penyusupan kepala janin.
d. DJJ : hasil periksa setiap 30 menit atau lebih sering jika ada
tanda-tanda gawat janin.
e. Warna dan adanya air ketuban : penilaian air ketuban setiap
kali melakukan pemeriksaan dalam, dan nilai warna air
ketuban jika selaput ketuban pecah.
f. Molase atau Penyusupan tulang kepala janin. Penyusupan
adalah indicator penting tentang seberapa jauh kepala bayi
dapat menyesuaikan diri terhadap bagian keras (tulang)
panggul ibu.

I. Diagnosa yang sering muncul dan perencanaan


1. Pola pernafasan, Ketidakefektifan
Faktor risiko dapat meliputi: Pergeseran diafragma karena
pembesaran uterus. Kemungkinan dibuktikan oleh: Keluhan-
keluhan sesak napas, dispnea, perubahan kedalaman pernapasan.
Kriteria hasil : Melaporkan penurunan frekuensi / beratnya
keluhan, Mendemonstrasikan perilaku yang mengoptimalkan
fungsi pernapasan.
No Intervensi Rasional
1 Kaji status pernapasan (mis, sesak Menentukkan luas/beratnya
napas pada pengerahan tenaga, masalah yang terjadi pada
kelelahan). kira-kira 60% klien pranatal.
Meskipun kapasitas vitl
meningkat, fungsi pernafasan
diubah saat kemampuan
diafragma untuk turun pada
inspirasi berkurang oleh
pembesaran uterus.
2 Dapatkan riwayat dan pantau masalah Masalah lain dapat terus
medis yang terjadi/ada sebelumnya mengubah pola pernapasan
(mis,, alergi rinitis, asma, masalah dan menurunkan oksigenasi
sinus, tuberkulosis). jaringan ibu/janin.
3 Kaji kadar hemoglobin (Hb) dan Peningkatan kadar plasma
hematokrit (Ht) tekankan pentingnya pada gestasi minggu ke 24-32
masukan vitamin / fero sulfat pranatal mengencerkan kadar Hb,
setiap hari (kecuali pada klien dengan mengakibatkan kemungkinan
anemia sel sabit). anemia dan menurunkan
kapasitas pembawa oksigen.
(Catatan: Zat besi dapat
dikontraindisikan untuk klien
dengan anemia sel sabit).
4 Berikan informasi tentang rasional Menurunkan kemungkinan
untuk kesulitan pernapasan dan gejala-gejala pernapasan yang
program aktivitas/latihan yang disebabkan oleh kelebihan.
realistis. Anjurkan sering istirahat,
tambah waktu untuk melakukan
aktivitas tertentu, dan latihan ringan,
seperti berjalan.
5 Tinjau ulang tindakan yang dapat Postur yang baik dan makan
dilakukan klien untuk mengurangi sedikit membantu
masalah; mis,, postur yang baik, memaksimalkan penurunan
menghindari merokok, makan sedikit diafragmatik, meningkatkan
tetapi lebih sering, dengan ketersediaan ruang untuk
menggunakan posisi semi-Fowler ekspansi paru. Merokok
untuk duduk/tidur bisa gejala berat. menurunkan persediaan
oksigen untuk pertukaran ibu-
janin. Pengubahan posisi tegak
dapat meningkatkan ekspansi
paru sesuai penurunan uterus
gravid.

2. Nyeri (Akut)
Dihubungkan dengan: prosedur pembedahan, trauma jaringan,
interupsi saraf, diseksi otot.
Kriteria hasil : Mengekspresikan penurunan nyeri, Wajah rileks,
Kebutuhan istirahat dapat terpenuhi
No Intervensi Rasional
1 Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, Membantu dalam
lamanya, dan intensitasnya (skala 0- mengidentifikasi derajat
10). ketidaknyamanan dan
kebutuhan untuk analgesik.
2 Bantu pasien menemukan posisi yang Membantu memberikan
nyaman. keadaan yang rileks.
3 Anjurkan untuk melakukan distraksi Memudahkan partisipasi pada
relaksasi nafas dalam. aktivitas tanpa timbul
ketidakjnyamanan.
4 Berikan narkotik/analgesik sesuai Untuk menghilangkan nyeri.
indikasi.

3. Cedera, Resiko Tinggi Terhadap Janin


Faktor risiko dapat meliputi: Masalah kesehatan ibu, pemajanan
pada teratogen / agen infeksi.
Kriteria hasil: Mengungkapkan kesadaran tentang faktor risiko
individu., Menghindari faktor dan/atau menghindari perilaku yang
dapat memperberat cedera janin.
No Intervensi Rasional
Mandiri
1 Tentukan pemahaman sebelum Mengidentifikasi kebutuhan /
informasi di berikan masalah individu dan
memberikan kesempatan untuk
memperjelas kesalahan
konsep, khususnya untuk klien
yang saat ini melakukan
kunjungan pranatal pertama
kali.
2 Tinjau ulang status kesehatan ibu; Faktor-faktor ini dapat
mis,, malnutrisi, penyalahgunaan / mempunyai dampak besar
penggunaan zat. pada perkembangan jaringan
dan organ janin, dan
identifikasi serta intervensi
awal dapat mencegah hasil
yang buruk..
3 Kaji faktor lain yang ada pada situasi Identifikasi memungkinkan
ini yang mungkin berbahaya pada klien dan perawat untuk
janin (mis,, pemajanan pada mendiskusikan cara-cara untuk
virus/PHS lain, faktor lingkungan). meminimalkan / mencegah
cedera. PHS atau virus-virus
lain mungkin merupakan
masalah ringan bagi klien,
tetapi berdampak negatif yang
besar pada kesejahteraan janin.
4 Perhatikan quickening (persepsi ibu Gerakan janin yang dapat
terhadap gerakan janin) dan denyut dirasakan pertama terjadi
jantung janin (DJJ). Rujuk pada diantara gestasi minggu ke-16
dokter bila ditemukan masalah. dan ke-20 sesuai peningkatan
ukuran janin; kurang gerakan
dapat menandakan adanya
masalah.
5 Kaji pertumbuhan uterus dan tinggi Merupakan skrining untuk
fundus pada setiap kunjungan. gestasi multipel, pertumbuhan
janin normal atau abnormal;
dapat mendeteksi masalah
yang berhubungan dengan
polihidramnion atau
oligohidramnion.
6 Berikan informasi tentang tes-tes Mempunyai informasi yang
diagnostik atau prosedur. Tinjau membantu klien/pasangan
ulang resiko dan potensial efek untuk menghadapi situasi dan
samping. membuat keputusan
berdasarkan informasi.
Kolaborasi
7 Bantu dengan prosedur Mendeteksi adanya janin di
ultrasonografi, dan jelaskan awal minggu ke 5-6 gestasi
tujuannya dan memberikan informasi
tentang pertumbuhan janin
dengan menggunakan
pengukuran kepala sampai
kaki, panjang femur, dan
diameter biparietal, untuk
memastikan usia gestasi dan
mengesampingkan retardasi
pertumbuhan.
8 Dapatkan sampel serum ibu untuk Pada NTD terbuka (paling
kadar alfafetoprotein (AFT) diantara umum, spina bifida dan
minggu ke-14 dan ke-16 anensefali), AFP, protein yang
diproduksi oleh kantung yolk
dan hepar janin, ada pada
serum ibu dengan kadar 8 kali
lebih tinggi dari normal pada
gestasi minggu ke-15.
selanjutnya turun sampai term.
9 Bantu dengan amniosintensis bila Analisis cairan amniotik
kadar AFP abnormal, khususnya mendeteksi kelainan
pada populasi risiko tinggi (mis,, genetik/kromoson dan NTD
klien dengan memungkinkan Ikuti konseling genetik, bila
kelainan genetik/anak sebelumnya perlu (Rujuk pada MK:
mengalami abnormalitas kromosom, Konseling Genetik).
gravida tua lebih dari usia 35 tahun),
bila klien belum dilakukan sampel
vilus korionik (SVK). Klien/ pasangan akan
memerlukan informasi untuk
membuat keputusan
berdasarkan informasi tentang
perjalanan tindakan selama
kehamilan ini serta yang akan
datang.
10 Ikuti konseling genetik, bila perlu Klien/ pasangan akan
(Rujuk pada MK: Konseling memerlukan informasi untuk
Genetik). membuat keputusan
berdasarkan informasi tentang
perjalanan tindakan selama
kehamilan ini serta yang akan
datang.
11 Lakukan skrining klien terhadap DMG dihubungkan dengan
DMG dengan tes toleransi glukosa makrosomia dan masalah
(TTG) pada gestasi minggu ke 24-26, distosia.
sesuai indikasi.

4. Kurang Pengetahuan (Kebutuhan Belajar) mengenai


kemajuan alamiah dari kehamilan
Berhubungan dengan: Terus membutuhkan informasi sesuai
perubahan trimester kedua yang dialami, Kemungkinan
dibuktikan oleh: Meminta informasi, pernyataan masalah atau
konsep yang salah.
Kriteria hasil : Mengungkapkan / mendemonstrasikan perilaku
perawatan diri yang meningkatkan kesejahteraan, Bertanggung
jawab terhadap perawatan kesehatannya sendiri, Mengenali dan
melakukan tindakan untuk meminimalkan dan mencegah faktor
risiko, Mengidentifikasi tanda-tanda bahaya / mencari perawatan
medis dengan tepat.
No Intervensi Rasional
1 Tinjau ulang perubahan yang Pernyataan timbul perubahan
diharapkan selama trimester kedua. baru yang terjadi tanpa
memperhatikan apakah
perubahan diharapkan atau
tidak.
2 Berikan informasi tentang Fero sulfat dan asam folat
kebutuhan terhadap fero sulfat dan membantu mempertahankan
asam folat. kadar Hb normal. Definisi
asam folat memperberat
anemia megaloblastik,
kemungkinan abrupsi
plasenta, aborsi, dan
malformasi janin.
3 Identifikasi kemungkinan risiko Membantu mengingat /
kesehatan individu (mis aborsi informasi untuk klien tentang
spontan, hipoksia yang potensial situasi risiko tinggi
berhubungan dengan asma atau yang memerlukan
tuberkulosis, penyakit jantung, pemantauan lebih ketat
hipertensi akibat kehamilan [HAK], dan/atau intervensi.
kelainan ginjal, anemia, diabetes
melitus gestasional [DMG],
penyakit hubungan seksual [PHS].
Tinjau ulang tanda-tanda bahaya
dan tindakan yang tepat.
4 Diskusikan adanya obat-obatan Membantu dalam memilih
yang mungkin diperlukan untuk tindakan karena kebutuhan
mengontrol atau mengatasi masalah harus ditekankan pada
medis. kemungkinan efek berbahaya
pada janin.
5 Diskusikan kebutuhan terhadap Kunjungan pranatal yang
pemeriksaan laboratorium khusus, lebih sering mungkin
skrining, dan pemantauan ketat diperlukan untuk
sesuai indikasi. meningkatkan kesejahteraan
ibu.
DAFTAR PUSTAKA

Achjar, K.A.2010. Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta :


Sagung Seto
Hani, Ummi. 2010. Asuhan Kebidanan Masa Kehamilan. Jakarta. EGC

Manuaba, I.B.G dkk. 2007. Pengantra Kuliah Obsterti. Jakarta: EGC


. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
Mubarak, Wahit Iqbal, dkk. (2009). Ilmu Keperawatan Komunitas; Konsep dan
Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika
Sarwono. 2007. Ilmu kebidanan. Jakarta: YBPSP
Suratun dkk, 2008. Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi.
Trans Info Media. Jakarta
Varney, Helen. 2006. Buku Saku Bidan. Jakarta: EGC