You are on page 1of 11

KORESPONDENSI Basman Tompo tompobasman@gmail.

com
© 2016 Tompo et al. Buka Akses persyaratan Creative Commons Attribution 4.0 License Internasional
(http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/) berlaku. Lisensi memungkinkan penggunaan tak terbatas, distribusi, dan reproduksi
dalam media apapun, dengan syarat bahwa pengguna memberikan kredit yang tepat untuk penulis asli (s) dan sumber,
menyediakan link ke lisensi Creative Commons, dan menunjukkan jika mereka membuat perubahan.
JURNAL INTERNASIONAL LINGKUNGAN & ILMU PENDIDIKAN 2016, VOL. 11, NO. 12, 5676-5686

Pengembangan Penemuan-Kirim Model Pembelajaran untuk Mengurangi
Kesalahpahaman Sains Siswa SMP
Basman Tompoa, Arifin Ahmada, dan Muris Murisa
aUniversitas Negeri Makassar, Makassar, INDONESIA
ABSTRAK Tujuan utama dari penelitian ini adalah
untuk mengembangkan penemuan Permintaan (DI) model pembelajaran untuk mengurangi kesalahpahaman dari tingkat
mahasiswa Ilmu sekolah menengah yang berlaku, praktis, dan efektif. Penelitian ini merupakan R & D (penelitian dan
pengembangan). Uji coba penemuan inquiry (DI) model pembelajaran dilakukan dalam dua kelas yang berbeda di SMPN 2
Maros, Sulawesi Selatan. Hasil penelitian setelah dua uji coba menunjukkan bahwa penemuan penyelidikan (DI) model
pembelajaran telah valid, praktis, dan efektif. Model pembelajaran penemuan inquiry (DI) dinyatakan sah karena penilaian dari
semua komponen pembelajaran yang dilakukan oleh validator memenuhi unsur validitas. Hal ini dinyatakan menjadi praktis
karena penemuan inquiry (DI) komponen pembelajaran sepenuhnya dilaksanakan, dan kemampuan guru untuk mengelola
pembelajaran adalah pada kategori tinggi. Hal ini dinyatakan efektif karena kesalahpahaman siswa Ilmu adalah dalam kategori
sedang. Kegiatan siswa dalam belajar terpenuhi pencapaian waktu yang ideal, dan hasil kuesioner siswa memberikan respon
positif terhadap penemuan inquiry (DI) belajar. Hal ini menyimpulkan bahwa model pembelajaran penemuan inquiry (DI) untuk
mengurangi kesalahpahaman siswa Ilmu memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif.
KATA KUNCI PASAL SEJARAH Penemuan penyelidikan, kesalahpahaman ilmu pengetahuan, model yangbelajar
Diterima 13 April 2016Revisi 14 Juni 2016 Diterima 19 Juni 2016

Pendahuluan
Setiap bangsa di dunia mengakui bahwa pendidikan adalah hak semua anak-anak. Pendidikan telah dianggap
sebagai hak asasi manusia yang harus dimiliki dan dinikmati secara bebas oleh semua anak-anak. Seperti yang
tercantum dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948 Pasal 26 (1) menyatakan bahwa:

AKSES OPEN

Dalam hal alat belajar yang digunakan di sekolah-sekolah. Penguasaan konsep-konsep dasar yang rendah dalam memahami materi Ilmu akan memungkinkan pemahaman yang keliru tentang konsep dan efek selanjutnya pada hasil belajar siswa. Para peneliti menemukan bahwa salah satu dari rendahnya kemampuan siswa di bidang ilmu adalah karena terjadinya kesalahan atau kesalahpahaman konsep ilmu di kalangan mahasiswa. tanah air . Pendidikan teknis dan profesional harus dibuat tersedia secara umum dan pendidikan tinggi harus sama-sama diakses oleh semua atas dasar merit”Berbagai isu-isu tentang masa depan pendidikan masih terus menuai perdebatan yang tidak pernah berakhir. yang didirikannya.W. Para peneliti menilai bahwa guru Ilmu paling. Melalui Sekolah Taman Siswa. Yunitasari. 2013: 2). Pendidikan memegang peran yang sangat besar terhadap martabat manusia. Menurut Kadim Masykur di Simarmata (2008). mulia kecerdasan. Siswa sering menafsirkan konsep yang dianggap sulit sesuai dengan pra-konsepsi bahwa ia sudah memiliki. JURNAL INTERNASIONAL LINGKUNGAN & ILMU PENDIDIKAN 5677 . para peneliti mengamati bahwa perangkat pembelajaran sains yang digunakan kedua buku peserta didik dan Lembar Kerja Siswa masih umum dan tidak secara khusus dirancang untuk mengurangi terjadinya kesalahpahaman Science. Ki Hajar Dewantara sebagai pemimpin pendidikan di Indonesia berjuang untuk memajukan bangsa terlepas Ras. Pendidikan harus gratis. konsep alternatif. kerangka alternatif dan teori naif (Taufik. Para peneliti melihat bahwa salah satu penyebab dari kesalahpahaman Ilmu kalangan siswa SMP adalah model pembelajaran yang digunakan oleh guru IPA masih menggunakan paradigma lama. Dalam hal ini. konsep kesalahan dalam bidang Ilmu telah terjadi di mana-mana dan terjadi pada tingkat pendidikan yang rendah untuk pendidikan tinggi. Upaya ini diharapkan dapat memberikan jaminan tujuan pendidikan holistik.NP et al. Sulawesi Selatan telah mengidentifikasi kesalahpahaman of Science kepada siswa. Kadang-kadang. Nama lain dari kesalahpahaman istilah intuisi. penegakan otonomi pendidikan. yang berdampak pada rendahnya penguasaan konsep yang dimiliki oleh siswa.“Setiap orang berhak atas pendidikan. 2005). Dikhawatirkan jika ini terus berlanjut dari waktu ke waktu tanpa ada upaya untuk mengatasinya. serta orang- orang pada umumnya (Sukardjo 2012: 99). Adnyani et al. 2013). penafsiran siswa tidak sesuai dengan konsep yang disepakati oleh para ahli. berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh peneliti untuk siswa SMP Negeri 2 Maros. ia berjuang untuk membangun anak didik manusia Indonesia menjadi bebas lahir dan batin. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. dan fisik yang sehat untuk menjadi anggota dari masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab untuk keharmonisan bangsa. Iriyanti. Sebuah konsep yang berbeda disebut sebagai kesalahpahaman atau konsep palsu (Suparno. sampai mengubah kurikulum. Pendidikan sangat berperan dalam memaksimalkan potensi manusia. memaksimalkan potensi manusia sehingga mereka memiliki martabat dan moral yang baik (M Yamin. 2012. 2012). setidaknya pada tahap dasar dan fundamental. termasuk alokasi dana pendidikan 20% dari APBN. 2013. Hal ini terbukti dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa salah satu penyebab rendahnya hasil Fisika adalah kesalahpahaman siswa (Tayubi 2005. sertifikasi penyisihan pendidik. akan sulit dan gagal dalam menguasai konsep-konsep kemajuan ilmu pengetahuan. Masalah kesalahpahaman Sains telah menjadi masalah umum dan terjadi pada siswa di semua tingkat pendidikan. Et al. pendidikan dasar harus diwajibkan. maka siswa yang memiliki kesalahpahaman terutama yang masih duduk di SMP. Budaya dan Bangsa.

1994). Masalah Penelitian Pernyataan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang sebuah model pembelajaran inquiry penemuan untuk mengurangi kesalahpahaman dari tingkat mahasiswa Ilmu sekolah menengah yang valid.DM. Wenning. Jadi. Oleh karena itu. Beberapa studi menunjukkan bahwa model pembelajaran penemuan-Permintaan sangat unggul dan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran. Hal ini dikonfirmasi oleh beberapa penelitian menunjukkan bahwa model penemuan-penyelidikan terbukti secara efektif digunakan dalam pembelajaran. terutama untuk belajar Ilmu. akan ada konflik kognitif pada struktur kognitif anak-anak. 2013. Ketika siswa menemukan konsep yang bertentangan dengan konsep awal. et al. Model pembelajaran yang cocok untuk memungkinkan siswa dan diharapkan untuk mengurangi kesalahpahaman Ilmu adalah model pembelajaran penemuan-penyelidikan. (Yusnita. sehingga tidak memberikan pemahaman yang mendalam tentang konsep-konsep yang dipelajari.R et al. Temuan dari isu-isu tersebut didukung oleh Ilahi (2012) mengatakan bahwa pembelajaran Sains tidak memberikan kesempatan bagi siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri. (2013) menemukan bahwa model pembelajaran inquiry mampu secara signifikan menurunkan kesalahpahaman bahan listrik dinamis. pengkondisian. Atas dasar pentingnya diperoleh dari tiga. 2011) Penelitian yang dilakukan oleh Fajar. teori atau formula. Belajar yang hanya menghafal konsep. hasil belajar terjadi hanya transfer informasi dari guru kepada siswa. 2014. sedang dan rendah.5678 B. 2013). Siswa harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh guru dan patuh mempelajari urutan yang ditugaskan oleh guru. Pembelajaran umumnya ujian berorientasi begitu. Stimulasi konflik kognitif dalam pembelajaran Ilmu akan sangat membantu dalam proses asimilasi untuk menjadi lebih efektif dan bermakna. tetapi juga relevan dengan teori-teori belajar seperti teori Piaget kognitif. Tompo ET AL. Istikomah et al.CL. Konsep penemuan (discovery) diharapkan dapat mengurangi terjadinya kesalahpahaman Ilmu di kalangan mahasiswa. Penelitian yang dilakukan oleh Abdisa (2012) tentang pengaruh dipandu pembelajaran penemuan dalam Fisika mengajar menyimpulkan bahwa ada perbedaan antara dipandu belajar penemuan. Siswa kurang untuk mendapatkan kesempatan untuk terlibat secara aktif. terutama Fisika masih mengajar Ilmu berdasarkan buku pelajaran.M (2013: 43) yang mengatakan bahwa pembelajaran konvensional diduga kuat sebagai penghalang untuk mencapai remediasi kesalahpahaman dan pemahaman yang memadai tentang konsep. Dengan model pembelajaran penemuan-penyelidikan. demonstrasi. dan konstruktif (Nirvana. praktis dan efektif. tingkat prestasi tinggi. Penggunaan model pembelajaran inquiry-discovery tidak hanya relevan dengan langkah-langkah metode ilmiah. Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan (discovery) memungkinkan pengetahuan yang bertahan lama atau lebih mudah diingat. tidak hanya membimbing siswa untuk secara mendalam menyelidiki tentang konsep (inquiry) tetapi juga membiasakan siswa dalam memecahkan masalah. Hal ini relevan dengan Taufik. dengan penekanan pada kuliah dan pertanyaan sesekali bertanya. dan ekspositoris dalam gerak rotasi materi dalam perkuliahan. siswa terlibat secara aktif dalam memperoleh konsep dan prinsip-prinsip dan guru mendorong siswa untuk mendapatkan pengalaman dengan melakukan kegiatan yang memungkinkan mereka untuk menemukan konsep-konsep dan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri (Slavin. . diasumsikan bahwa belajar menggunakan model pembelajaran penemuan-penyelidikan. guru perlu menerapkan model of Science belajar untuk mengubah paradigma lama dan mengatasi kelemahan ini dalam rangka mewujudkan tujuan pembelajaran Sains yang diharapkan..

Sedangkan komponen yang termasuk dalam model disebut belajar komponen model yang diajukan oleh Joice. VIII- A dan VIII-C. Semmel dan Semmel (model empat-D). dan Shower (1992). Variabel penelitian Variabel utama dalam penelitian ini adalah model pembelajaran penemuan penyelidikan. Subyek penelitian Penelitian dilakukan di delapan siswa kelas SMP Negeri 2 Maros Akademik Tahun 2015-2016. Memberikan kontribusi kepada guru-guru di guru umum dan ilmu SMPkhususnya tentang model pembelajaran penemuan-penyelidikan. Sedangkan variabel lain untuk mempertimbangkan atau terlibat dalam pengembangan model pembelajaran penemuan inquiry adalah (1) kesalahpahaman siswa Science. praktis dan efektif. karena proses pembentukan kelas secara acak lakukan dan bukan oleh tingkat kemampuan. Signifikansi Studi The signifikansi dari penelitian ini adalah: i. Tahapan model pembelajaran pengembangan disebut tahap model pembangunan yang diusulkan oleh S. Karakteristik dari delapan kelas SMP Negeri 2 Maros Akademik Tahun 2015-2016 relatif sama. yaitu: (a) sintaks.Tujuan dari Studi Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat desain model pembelajaran penemuan penyelidikan untuk mengurangi kesalahpahaman dari tingkat mahasiswa Ilmu sekolah menengah yang valid. Subyek penelitian dipilih 2 kelas dari 10 kelas yakni. Weil. dilakukan penelitian awal untuk mengungkap konsep Ilmu yang rentan terhadap kesalahpahaman di kalangan siswa. Hasil penelitian pendahuluan digunakan sebagai bahan pendukung dalam pengembangan model pembelajaran.Thiagarajan. yaitu kesesuaian antara model pembelajaran secara teoritis dengan implementasi di kelas. (b) JURNAL INTERNASIONAL LINGKUNGAN & ILMU PENDIDIKAN 5679 . Pendahuluan Penelitian Penelitian awal yang dilakukan untuk mengungkap gambaran umum pelaksanaan pembelajaran Sains di tingkat SMP dan kesalahpahaman Ilmu yang terjadi pada siswa. Untuk memulai pengembangan penelitian ini. dan (3) efektivitas model korelatif yang dapat diamati dari aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Menghasilkan model pembelajaran penemuan-penyelidikan yang diharapkan dapat mengurangi kesalahpahamanSains untuk siswa SMP. Metode Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. ii. Penelitian Pengembangan Model pembelajaran yang akan dikembangkan dalam penelitian ini adalah penemuan model pembelajaran inquiry untuk mengurangi kesalahpahaman siswa Science. (2) efektivitas model normatif.

analisis data dilakukan dengan dua cara. Berdasarkan masalah penelitian. aktivitas analisis dominan adalah kualitatif dan telah tersirat dalam seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam setiap . Kondisi ini termasuk: kondisi siswa. kemudian diuji lagi (trial II). Tahapan pengembangan penemuan model pembelajaran inquiry untuk mengurangi kesalahpahaman siswa Ilmu adalah sebagai berikut: a. dan (e) dampak instruksional dan pendamping. Tahap pengembangan Tahap ini meliputi: (1) meminta pendapat para ahli. suasana belajar. itu digunakan analisis statistik deskriptif dengan uji normalisasi N-gain. (3) merancang prinsip-prinsip reaksi yaitu. untuk memperjelas interpretasi hasil analisis. (3) kurikulum Sains di tingkat SMP. Kegiatan revisi dilakukan terhadap hal-hal yang dianggap perlu untuk setiap komponen model. Selain itu direvisi lagi pada komponen yang dianggap perlu. akuisisi data juga dijelaskan dalam bentuk diagram. Dari hasil penelitian.5680 B. c. media pembelajaran dan perangkat pembelajaran. Rincian kegiatan utama pada tahap ini meliputi: (1) merancang kegiatan belajar sintaks atau penemuan penyelidikan belajar untuk mengurangi kesalahpahaman siswa Science. (2) teori-teori belajar yang berkaitan dengan pembelajaran penemuan penyelidikan dan kesalahpahaman Science. ( 4) merancang sistem pendukung atau kondisi yang diperlukan oleh model. (2) merancang sistem sosial. b. (3) melakukan revisi prototipe I berdasarkan hasil pengujian dan pertimbangan oleh para peneliti. yaitu konsep Getaran dan Optik. Merancang Tahap Kegiatan utama dalam tahap ini adalah untuk merancang penemuan model pembelajaran inquiry untuk mengurangi kesalahpahaman siswa Science. Materi pembelajaran dalam prototipe akhir masih sama. Tompo ET AL . mempelajari pembelajaran penemuan inquiry Model dalam mengurangi kesalahpahaman Sains). Untuk penelitian pengembangan. dan guru. dan sebagainya. (2) melakukan pelaksanaan prototipe saya uji coba yang dilakukan di delapan kelas SMP Negeri 2 Maros Tahun Akademik 2015/2016. Untuk menjawab hasil tes kesalahpahaman Sains. terutama pertanyaan mereka. Materi pembelajaran untuk prototipe II adalah konsep Getaran dan Optik. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan dengan mengacu pada masalah penelitian. dan hasil penelitian dari model (khususnya. pakar. ia dirancang prototipe II yang akan diuji. Dalam sidang kedua ini. fasilitas pembelajaran. digunakan model pembelajaran penemuan Permintaan akhir prototipe pada VIII-A kelas SMP Negeri 2 Maros. (c) prinsip reaksi. Mendefinisikan Tahap Tahap ini adalah untuk mengidentifikasi dan mempelajari tentang: (1) model pembelajaran sebagai perbandingan berorientasi pada beberapa elemen. yaitu peran pendidik dan siswa dalam penemuan inquiry learning kegiatan bersama dengan aturan dan tanda-tanda yang harus diikuti bersama dalam proses Sains belajar. deskripsi dari apa yang guru diperlukan dalam menanggapi setiap tindakan dan perilaku siswa. antara lain: sintaks. kondisi siswa dan lingkungan sebagai sistem pendukung. sistem sosial. teori yang mendasarinya. (d) sistem pendukung. Selain itu. kuantitatif dan kualitatif.

instrumen pembelajaran yang dirancang telah menetapkan format dan pemilihan unsur- unsur terkait seperti: (1) Rencana Pelajaran. Pada bagian perencanaan. yaitu perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. yaitu: Tahap 1: menjelaskan tujuan pembelajaran. membahas tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan sehingga. tahap 2: orientasi siswa di masalah (pernyataan masalah). Pada bagian penemuan model pembelajaran inkuiri. yaitu (1) Rasional. yaitu (1) dasar filosofis model penyelidikan penemuan. Hasil dan Pembahasan Hasil yang diperoleh pada setiap tahap pengembangan berkenaan dengan proses pengembangan model penyelidikan penemuan dapat digambarkan sebagai berikut: Tahap 1: Mendefinisikan Sebelum melakukan penelitian.tahappengembangan model pembelajaran. (2) Mahasiswa Text Book. praktis dan efektif. dan (3) dasar teori belajar. Model (3) belajar Penemuan Kirim. fase-5: melakukan penyelidikan dan penemuan (percobaan). dan (6) Ilmu Kesalahpahaman Test. itu dibahas tentang konsep dasar penemuan penyelidikan model pembelajaran. (2) Siswa Text Book. dan (4) uji Ilmu kesalahpahaman.. (2) kegiatan belajar-mengajar. (3) Lembar Kerja Siswa . prinsip-prinsip reaksi. dan Showers (sintaks. terungkap bahwa siswa di sekolah umumnya memiliki kesalahpahaman Science pada beberapa konsep Ilmu tertentu dan itu membutuhkan model pembelajaran Sains khusus untuk mengurangi kesalahpahaman Science. Analisis ini dilakukan pada semua komponen dari model yang dilakukan oleh Joice. (4) Task Sheet. itu menyatakan beberapa teori terkait. dan dampak pengiring pembelajaran dan) antara lain memperhatikan (1 ) perangkat pembelajaran. karakteristik penemuan model pembelajaran inkuiri. Ini juga termasuk hasil penelitian yang mendukung pembangunan. fase-6: menyajikan hasil penyelidikan dan penemuan (verifikasi). Berdasarkan hasil studi awal yang telah dilakukan. para peneliti mengidentifikasi model pembelajaran dan kesalahpahaman Sains dengan menyediakan lembar observasi untuk guru IPA di SMP Negeri 2 Maros. JURNAL INTERNASIONAL LINGKUNGAN & ILMU PENDIDIKAN 5681 . Pada bagian tentang teori-teori yang mendukung. Pada bagian dari arah implementasi model. Tahap 3: memberikan stimulasi. (5) Media Pembelajaran. Tahap 2: Merancang Hasil desain model pembelajaran penemuan penyelidikan adalah untuk membangun format model buku. dan (3) efektivitas pembelajaran. Model ini diharapkan memiliki kriteria valid. Weil. Pada bagian dari pembelajaran pelaksanaan. Hasil Pembelajaran Alat Merancang Pada tahap desain. komponen penyelidikan penemuan model pembelajaran. dan (4) Arah Model Pelaksanaan. fase-4: merumuskan hipotesis. dibahas dua bagian utama. (2) Teori Support. (2) dasar psikologis model penemuan penyelidikan. Perkembangan rasional model pembelajaran penemuan penyelidikan termasuk hal yang menjadi pertimbangan utama atau dasar penting dari model penyelidikan penemuan untuk mengurangi kesalahpahaman Science. dan evaluasi diterapkan dalam pembelajaran. sistem sosial. dan fase-7: menyusun kesimpulan (generalisasi) . itu dibahas pelaksanaan sintaks model pembelajaran penemuan penyelidikan yang terdiri dari tujuh tahapan. (3) Lembar Kerja Siswa. sistem pendukung. penemuan model pembelajaran inquiry dapat terjadi dalam yaitu (1) Rencana Pelajaran praktis dan efektif.

Hasil uji Validitas Hasil validasi penemuan inquiry model pembelajaran (DI) menunjukkan bahwa nilai rata-rata total validitas penemuan inquiry model pembelajaran (DI) adalah Y = 3. hasil analisis instrumen validitas menunjukkan bahwa: (1) Hasil penilaian terhadap analisis kebutuhan lembar pengembangan .61 (sangat valid) dan untuk kesalahpahaman Ilmu yang dikembangkan memiliki nilai rata-rata Y = 3. lembar kerja siswa. (4) lembar validasi kemampuan mengelola Model (5) lembar validasi aktivitas siswa (6) lembar validasi tanggapan siswa kuesioner lembar. Tompo ET AL. Tahap -3: Pembangunan a. dalam hal semua aspek dari model pembelajaran penemuan inquiry (DI). Instrumen ini adalah soal tes of Science kesalahpahaman yang dirancang untuk mengukur keberhasilan berkurang kesalahpahaman Ilmu nya. tujuan dan pedoman pelaksanaan pembelajaran. Dalam desain awal. maka dikategorikan sebagai valid (2. dan (3) respon siswa angket lembar. (2) lembar observasi aktivitas siswa. buku teks siswa dan tes kesalahpahaman Ilmu maka itu menyatakan bahwa mereka telah memenuhi kriteria validitas. Buku teks siswa yang terdiri hanya satu memiliki nilai validasi X = 3. Ada delapan (8) Siswa Lembar Kerja yang berkembang dan mereka semua memiliki nilai validasi yang sama yang Y = 3. Mahasiswa Buku Teks. Draft hasil buku teks siswa disebut subjek getaran dan cahaya. Buku teks siswa dirancang disebut kompetensi dasar. tes Sains kesalahpahaman telah berhasil dirancang 30 item tes tipe benar salah (TF). Jadi. dan dampak dampak instruksional dan pengiring. sistem sosial. dan lembar tes kesalahpahaman Ilmuyaitu:.79 (sangat valid). Rencana Pelajaran yang berhasil dirancang berdasarkan sintaks penemuan model pembelajaran inquiry dengan mengambil pertimbangan terkait dengan komponen lain seperti prinsip reaksi. (3) lembar validasi penerapan model pembelajaran. Jadi.71 (sangat valid). Jika nilai ini telah dikonfirmasi pada kriteria validitas model pembelajaran penemuan inquiry (DI). instrumen kepraktisan yang berhasil dirancang menutupi lembar observasi. dalam hal semua aspek alat belajar seperti rencana pelajaran. telah memenuhi kriteria validitas.5682 B. Hasil dari Merancang Penelitian Instrumen Instrumen validitas yang diproduksi dalam tahap desain adalah untuk menentukan aspek penilaian dan indikator dalam setiap aspek yang berkaitan dengan (1) validasi analisis kebutuhan lembar model pembangunan (2) lembar validasi penyelidikan penemuan (dI) model pembelajaran.5). dan (7) format validasi belajar perangkat (Lesson Plan. Hasil validasi perangkat pembelajaran selama 3 Rencana (tiga) Pelajaran yang dikembangkan memiliki nilai yang sama yang Y = 3. Desain tes didasarkan pada studi dan hasil observasi awal tentang materi Ilmu yang rentan untuk memiliki kesalahpahaman di SMP Negeri 2 Maros. Secara singkat. penerapan model pembelajaran dan (2) lembar observasi kemampuan guru untuk mengelola pembelajaran Sedangkan instrumen efektivitas yang dirancang meliputi: (1) T ia lembar evaluasi uji kesalahpahaman Science.5 ≤ M ≤ 3.42 (valid). Pada fase ini. (1) lembar observasi dari .40.

Hasil analisis kemampuan guru untuk mengelola penemuan inquiry (DI) belajar di sidang saya adalah nilai rata-rata kemampuan guru untuk mengelola pembelajaran dalam kegiatan pendahuluan telah nilai 3. (4) hasil penilaian lembar observasi pelaksanaan model pembelajaran dengan validator untuk semua aspek mendapat rata-rata mencetak = 3.80.50 (sangat tinggi).81 (sangat valid). semua komponen pelaksanaan penemuan inquiry (DI) belajar sepenuhnya dilaksanakan (1.50 (sangat tinggi).81 dan (7) Nilai rata-rata (sangat valid) dari jumlah validitas dari tanggapan siswa kuesioner lembar untuk semua aspek adalah = 3. kegiatan inti adalah 3. perangkat belajar yang mendukung komponen (sistem pendukung) M = 1. kemampuan untuk mengelola waktu itu 3.65.70. diperoleh skor rata-rata pelaksanaan komponen sintaks M = 1. aktivitas penutupan adalah 3. Sedangkan pada percobaan II. nilai rata-rata kemampuan guru untuk mengelola pembelajaran dalam kegiatan pengantar memiliki nilai 3.0).0). Hal ini menunjukkan bahwa dalam hal aspek kegiatan siswa. prinsip reaksi komponen M = 1. aspek suasana kelas adalah 3. (6) averag The e nilai total validitas aktivitas lembar observasi siswa untuk semua aspek adalah = 3. c. dalam hal semua aspek manajemen pembelajaran. Pada sidang I dan II. itu memperoleh skor rata-rata pelaksanaan komponen sintaks M = 1. hasil observasi siswa menunjukkan bahwa 9 dari 10 kategori aktivitas siswa bertemu dengan PWI Toleransi Interval (%) yang ditentukan. komponen instruksional dan dampak pengiring M = 1. (3) hasil penilaian lembar observasi kemampuan guru untuk mengelola pembelajaran dengan validator untuk semua aspek mendapat rata-rata mencetak X = 3.penemuan inquiry (DI) Model oleh validator mendapat rata-rata mencetak Y = 3.72. yang mendukung komponen perangkat pembelajaran (sistem pendukung) M = 1.79.39 (valid) dengan koefisien reliabilitas R = 0.5 ≤ M ≤ 2. Sementara di persidangan II. (5) penilaian lembar evaluasi uji kesalahpahaman Ilmu diperoleh nilai validasi rata dengan total = 3. Jadi. model pembelajaran maka penemuan inquiry (DI) dalam persidangan I dan II menyatakan telah memenuhi kriteria kepraktisan. Dapat disimpulkan bahwa rata-rata.863.42 (sangat tinggi).46 (tinggi).83. 42 (valid) dengan koefisien reliabilitas R = 0. interaksi sosial komponen M = 1. Jadi. kegiatan inti adalah 3.87.67 (sangat tinggi). (2) hasil penilaian dari penemuan inquiry (dI) Model oleh validator mendapat nilai rata-rata total X = 3. aktivitas penutupan adalah 3.97. semua komponen pelaksanaan penemuan inquiry (DI) pembelajaran dalam persidangan II sepenuhnya dilaksanakan (1. respon kuesioner siswa dan tes hasil Ilmu kesalahpahaman. prinsip komponen reaksi M = 1.42 (tinggi) . aspek suasana kelas yang 3.943.46 (tinggi). kemampuan untuk mengelola adalah 3. JURNAL INTERNASIONAL LINGKUNGAN & ILMU PENDIDIKAN 5683 .857.38 (valid) dengan koefisien reliabilitas R = 0. Hasil uji Kepraktisan Model Berdasarkan analisis hasil pelaksanaan komponen sintaks selama sidang saya. b.89.857.42 (valid). penyelidikan penemuan (DI) uji coba model pembelajaran I dan II telah memenuhi kriteria efektivitas.54 (tinggi).42 (tinggi). Dapat disimpulkan bahwa rata-rata.50 (tinggi).5 ≤ M ≤ 2. maka semua lembar instrumen telah memenuhi kriteria validitas. interaksi sosial komponen M = 1.88. Hasil Uji Model Efektivitas Hasil model pembelajaran efektivitas penemuan inquiry (DI) pada setiap percobaan dianalisis dengan mengamati aktivitas siswa. jika ditinjau dari semua aspek. komponen instruksional dan dampak pengiring M = 1.55 (sangat valid) dengan koefisien reliabilitas R = 0.

pembelajaran sains di tingkat SMP. Oleh karena itu. Hal ini menunjukkan bahwa dalam hal aspek respon siswa. Berdasarkan perhitungan analisis gain yang dinormalisasi (uji N-Gain) menemukan bahwa nilai rata-rata N-Gain keseluruhan 0. Perhitungan analisis gain yang dinormalisasi (uji N-Gain) menemukan bahwa nilai rata-rata N-Gain secara keseluruhan 0. penemuan inquiry (DI) model pembelajaran untuk mengurangi kesalahpahaman siswa Ilmu memenuhi kriteria kepraktisan karena pelaksanaan penemuan inquiry (DI) pembelajaran telah dicapai seluruhnya dan kemampuan guru untuk mengelola pembelajaran penemuan penyelidikan adalah pada tinggi kategori. khususnya di SMP Negeri 2 Maros belum sepenuhnya fokus pada pendekatan pembelajaran ilmiah berpusat pada siswa dan mahasiswa masih memiliki kesalahpahaman Ilmu pada konsep getaran dan optik.48 atau kategori menengah. yang diperoleh bahwa 26 siswa dari percobaan I dan 24 siswa diadili II. Namun. Pertama. dapat disimpulkan bahwa model penemuan inquiry (DI) belajar setelah melalui tahap I dan uji coba II dianggap telah memenuhi kriteria validitas. jumlah siswa yang telah meningkatkan skor sudah memenuhi persyaratan (lebih dari 70%). dan bahasa digunakan dalam perangkat pembelajaran. Para siswa merasa senang dalam melakukan percobaan / pengamatan selama pelajaran. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian. Dalam hal ini. Penyebaran penemuan inquiry model pembelajaran (DI) juga dilakukan melalui jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh situs web.5684 B. Tompo ET AL. Kedua. model pembelajaran penemuan inquiry (DI) untuk mengurangi kesalahpahaman siswa Ilmu memenuhi kriteria validitas berdasarkan hasil validasi ahli dan praktisi terhadap komponen model dan alat pembelajaran yang dikembangkan. dalam hal validitas indikator keseluruhan. kepraktisan dan efektivitas. kepraktisan dan efektivitas model. model pembelajaran penyelidikan penemuan (DI) dalam uji I dan II telah memenuhi kriteria efektivitas. para peneliti menyajikan beberapa kesimpulan. Hal ini menunjukkan bahwa penemuan inquiry (DI) model pembelajaran pada sidang II dinyatakan efektif untuk mengurangi kesalahpahaman Science. Ketiga. jumlah siswa yang telah meningkatkan skor tidak memenuhi persyaratan (kurang dari 70%). Keempat. Berdasarkan uji hasil kesalahpahaman Ilmu yang telah dicapai dalam pretest dan posttest diadili aku mencapai penguasaan pembelajaran klasik. suasana belajar di kelas. Hal ini menunjukkan bahwa penemuan penyelidikan (DI) model pembelajaran diadili Saya menyatakan belum efektif untuk mengurangi kesalahpahaman Science. alat-alat belajar. Berdasarkan uji hasil kesalahpahaman Ilmu yang telah dicapai dalam pretest dan posttest diadili II mencapai penguasaan pembelajaran klasik 86%. cara guru mengajar. model pembelajaran penemuan inquiry (DI) untuk mengurangi kesalahpahaman siswa Ilmu memenuhi kriteria . Diseminasi adalah hasil paparan dari penelitian pengembangan diadakan di forum guru di SMK Pratidina Makassar. Tahap -4: Penyebaran Penyebaran adalah sosialisasi hasil penelitian pengembangan model pembelajaran penemuan inquiry (DI) yang telah dilakukan secara terbatas pada pertemuan guru sains di SMPN 2 Maros. sehingga perlu tercermin dan membuat revisi. Berdasarkan data dari respon siswa. umumnya menanggapi positif terhadap model pembelajaran.32 atau dalam kategori sedang.

Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Istikomah dkk. Laporan Penelitian Ilahi. Prosiding Seminar Simarmata. Edisi Kedelapan. Penerapan model konstruktivis dalam pembelajaran fisika di SMU dalam upaya menanggulangi miskonsepsi siswa. Catatan tentang kontributor Basman Tompo memegang PhD dalam ilmu pendidikan dan sekarang seorang peneliti post-doc di Universitas Negeri Makassar. Jogjakarta: DIVA Tekan Iriyanti.YR. Umumnya. Journal Of Physics Teacher Education. Kesalahpahaman Sains telah dikurangi untuk siswa secara signifikan. siswa menanggapi positif penemuan penyelidikan model pembelajaran (DI). NW. Laporan Penelitian. Identifikasi miskonsepsi pada konsep-konsep fisika menggunakan Certainty of Response Index (CRI). (2013). (2013). P. (2012). (2009). (2012). Jurnal Universitas Negeri Medan. Makassar. Referensi Abdisa. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia Taufik. Belajar dari strategi penemuan & keterampilan kejuruan mental. (2005). 6 (4).. Jakarta: Ciputat Mega Mall Anggota IKAPI Yunitasari.E. (2012). (2005). Terjemahan. JurnalFisika. Weil. FKIP: Universitas Bengkulu. (2008).DM dkk. Pengembangan perangkat pembelajaran metode discovery learning untuk pemahaman sains pada anak TK B. Muris Muris memegang PhD dalam ilmu pendidikan dan sekarang adalah profesor di Universitas Negeri Makassar. et al. Depok: PT Rajagrafindo Persada Suparno. Paradigma baru pembelajaran.NP et al (2012).M. Indonesia. G.W. Jurnal Universitas Pendidikan Ganesha Fajar. Arifin Ahmad memegang PhD dalam ilmu pendidikan dan sekarang adalah profesor di Universitas Negeri Makassar. Makassar.B. (2013). Laporan Penelitian. Pembelajaran direct instruction disertai hierarki konsep untuk mereduksi miskonsepsi siswa pada materi larutan penyangga Kelas XI IPA Semester Genap SMA Negeri 2 Sragen. dkk. Jurnal Universitas Pendidikan Indonesia. FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta Joyce. Pendidikan (Online). (2013). Universitas Negeri Semarang Nirwana. Pernyataan pengungkapan Tidak ada potensi konflik kepentingan dilaporkan oleh penulis. T M. Pengaruh PENGGUNAAN Model Pembelajaran inkuiri (inquiry learning) Terhadap Penurunan miskonsepsi PADA materi Listrik Dinamis Kelas X SMAN 2 Jombang. dkk. (2012). Miskonsepsi & perubahan konsep pendidikan Fisika. Calhoun. Scientific Inquiry in Introductory Physics Courses. et al. (2013). Penggunaan model inquiry berbasis ICT untuk meningkatkan hasil belajar pada mata kuliah sejarah fisika mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan MIPA. Landasan pendidikan konsep dan aplikasinya.CL. Indonesia. M.efektivitas karena aktivitas siswa telah dicapai berdasarkan kriteria pencapaian waktu yang ideal. Identifikasi miskonsepsi pada materi pokok wujud zat siswa kelas VII SMP Negeri 1 Bawang tahun ajaran 2009/2010. 3/XXIV/2005 Wenning. Prodi Pendidikan Dasar Program Pasa Sarjana. Jurnal FKIP UNS Surakarta INTERNATIONAL JOURNAL OF ENVIRONMENTAL & SCIENCE EDUCATION 5685 . 6(2). Makassar.M. Yamin. Remediasi miskonsepsi mahasiswa calon guru fisika pada konsep Gaya melalui penerapan model siklus belajar (learning cycle ) 5E.M. (2011).U. Pengaruh penemuan terbimbing terhadap prestasi fisika siswa. ISSN:1907-7157 Sukardjo. (2013). 193-199 Adnyani. Jurnal UNS Semarang Tayubi. Pengaruh Pengembangan strategi Pembelajaran Konflik kognitif Terhadap Penurunan miskonsepsi fisika ditinjau Dari gaya kognitif Siswa Kelas x di SMA Negeri 1 Bebandem. Models of teaching.

Jurnal PPs Universitas Sebelas Maret Surakarta. (2014).5686 B.R et al. auditory. Pengembangan perangkat pembelajaran berbasis penemuan terbimbing (guided discovery) dengan pendekatan somatic. visual. Yusnita. . TOMPO ET AL. intellectual (SAVI) pada materi pokok peluang Kelas IX SMP Tahun Pelajaran 2013/2014.