You are on page 1of 28

BAB I

A. LATAR BELAKANG

Tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) di Kota Banjarmasin masih


tergolong tinggi dan memprihatinkan, bahkan dalam sehari sampai 5 laporan di
PHK, meskipun daerah ini merupakan kota perdagangan dan jasa, Demikian
disampaikan Kepala Dinas Koperasi, Usaha Micro Kecil dan Tenaga Kerja
setempat Priyo Eko kepada wartawan kemarin, ketika usai mengikuti rapat
anggaran di DPRD Kota Banjarmasin.
Saat ini ada sekitar 1.723 perusahaan atau tempat kerja di Kota Banjarmasin
yang merupakan kota jasa dan perdagangan ini dengan menyerap tenaga kerja
ratusan ribu orang, dengan berbagai macam permasalahan, seperti kontrak yang
tidak diperpanjang dan contoh lainnya mediasi dengan salah satu perusahaan
bergerak dialat berat yang tiba-tiba mau memindahkan pegawainya ke Jakarta,
kalau dalam satu minggu tidak menerima, dianggap mengundurkan diri, itu kita
nilai sebagai langkah PKH secara halus, Karena ada laporan tentang keberatan
para pegawainya, maka pihaknya mencoba memberikan langkah mediasi agar
tercapai solusi diantara kedua belah pihak, sehingga hak pegawainya dipenuhi
kalau di PHK dengan adanya pesangon.
“Kita minta perusahaan jangan menghindar membayar kewajibannya untuk
bayar pesangon jika memang harus di PHK, sebab kalau tidak akan dibawa
kepengadilan ketenaga kerjaan,” ini hanya sebagai contoh kecil masalah
ketenagakerjaan terjadi di ibu kota provinsi ini, sebab banyak lagi kasus lain yang
memang harus berujung sengketa di meja pengadilan ketenaga kerjaan.1
Dalam kehidupan ini manusia mempunyai kebutuhan yang beraneka ragam,
untuk dapat memenuhi semua kebutuhan tersebut manusia bekerja, baik pekerjaan
yang diusahakan maupun bekerja pada orang lain. Bekerja pada orang lain
maksudnya adalah bekerja dengan bergantung pada orang lain, yang member

1
Priyo Eko, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Micro Kecil dan Tenaga Kerja Banjarmasin,
http://www.baritopost.co.id/phk-di-banjarmasin-masih-tinggi/, 3 Januari 2018
perintah dan mengutusnya, karena ia harus tunduk dan patuh pada orang lain yang
memberikan pekerjaan tersebut.2 Hal ini melahirkan hubungan perburuhan.

Menurut Charles D. Drake dalam Aloysius Uwiyono perselisihan antara


pekerja/buruh karena didahului oleh pelanggaran hukum juga dan dapat terjadi
karena bukan pelanggaran hukum. Perselisihan perburuhan yang terjadi akibat
pelanggaran hukum pada umumnya disebabkan oleh karena:

1.) Terjadi perbedaan paham dalam pelaksanaaan hukum perburuhan. Hal


ini tercermin dari tindakan pekerja/buruh atau pengusaha yang
melanggar suatu ketentuan hukum.

2.) Tindakan pengusaha yang diskriminatif, misalnya jabatan, jenis


pekerjaan, pendidikan, masa kerja yang sama tapi karena perbedaan
jenis kelamin lalu diperlakukan berbeda. Sedangkan perselisihan
perburuhan yang terjadi tanpa didahului oleh suatu pelanggaran,
umumnya disebabkan oleh:

a. Perbedaan dalam menafsirkan hukum perburuhan.

b. Terjadi karena ketidak sepemahaman dalam bentuk perubahan


syarat-syarat kerja.3

Sistem hukum perburuhan yang berkembang dari industrialisasi di Eropa


abad ke-19, yang kemudian diadopsi oleh negara-negara lain di dunia, pada
dasarnyaadalah sebuah upaya untuk menertibkan konflik antara majikan dan
buruh kedalam suatu sistem rasionalitas legal. Teori-teori hukum positivis
menekankan peran yang netral dari aturan-aturan dalam memelihara kepentingan-
kepentingan dari semua kelompok kedalam apa yang di defenisikan sebagai
“aturan-aturan permainan” (rules of the game). Sementara institusi pengadilan dan

2
H. Zainal Asikin, Pengertian, Sifat dan Hakikat Hukum Perburuhan dalam Dasar-dasar Hukum
Perburuhan, PT. Raja Grasindo Persada, 1993, hal. 1
3
Lalu Husni, Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Melalui Pengadilan & Diluar
Pengadilan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal. 41-42.
para hakimnya dipandang sebagai wasit atau pengawas dari aturan-aturan
permainan ini.4

Peraturan perundangan yang berkaitan dengan proses penyelesaian


perburuhan yang pernah diberlakukan di Indonesia adalah melalui UU Darurat
Nomor 16 Tahun 1951 yakni melalui perantaraan, memberi putusan yang berupa
anjuran kepada pihak-pihak yang berselisih. Jika usaha Menteri Perburuhan itu
tidak berhasil, perselisihan diserahkan kembali kepada panitia pusat. Cara
penyelesaian perselisihan perburuhan menurut UU No. 22 Tahun 1957 yang
berpegang pada suatu asas musyawarah untuk mufakat dengan berpijak pada
tahap pertama bila terjadi perselisihan penyelesaiannya diserahkan kepada para
pihak yang berselisih. Dalam hal tidak dicapainya perdamaian antara pihak yang
berselisih setelah dicariupaya penyelesaian para pihak maka baru diusahakan
penyelesaiannya oleh Badan Penyelesaian Perburuhan.5

Di Indonesia, keberadaan pengadilan perburuhan yang dikenal dengan UU


Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (UU PHI) telah disetujui dalam
rapat paripurna DPR RI pada tanggal 16 Desember 2003. Tepat sebulan
kemudian, tanggal 14 Januari 2004, UU PHI diundangkan oleh Presiden menjadi
UU No. 2 Tahun 2004, dan akan berlaku secara efektif setahun kemudian.

Spirit UU PHI No. 2 Tahun 2004 ini adalah menjamin penyelesaian


perselisihan industrial menjadi adil, cepat dan murah. Itulah ungkapan yang keluar
dari Menakertrans Erman Suparno dalam peresmian gedung PHI di Banjarmasin
Kalimantan selatan.6

Dengan berlakunya UU No. 2 Tahun 2004, maka UU No. 22 Tahun 1957


tentang Penyelesaian Perselisihan Perburuhan, dan UU No. 12 Tahun 1964
tentang Pemutusan Hubungan Kerja pada Perusahaaan Swasta dinyatakan tidak

4
Surya Tjandra, Makalah tentang Pengadilan Hubungan Industrial di Indonesia, Quo Vadis?
Beberapa Catatan dari Awal Ruang Sidang, disampaikan pada Current Issues on Indonesian Laws
Conference, School of Law, The University of Washington, Seattle, Amerika Serikat, 28 Februari
2014, hal. 1.
5
Zaeni Asyhadie ,op.cit, hal. 201
6
Majalah Nakertrans Edisi 01-Februari 2013 dalam Agung Hermawan, Masih Adakah Keadilan
Bagi Buruh, LBH Bandung, Fikri Print Production, April 2015, hal. 38.
berlaku lagi. Ini berarti UU No. 2 Tahun 2004 menghapus sistem penyelesaian
perselisihan melalui P4P/D (Panitia Perselisihan Perselisihan Perburuhan
Pusat/Daerah). Dalam hal ini sistem P4P/D dinilai sudah tidak lagi sesuai dengan
kebutuhan masyarakat dan mekanisme penyelesaian perselisihan yang cepat,
tepat, adil dan murah.7

Selain itu pemberlakuan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957


dirasakantidak lagi dapat menampung perkembangan masyarakat dalam
penyelesaian perselisihan hubungan industrial, yang disebabkan oleh hal-hal
sebagai berikut8:

1. Penyelesaian perselisihan di lingkungan Badan Usaha Milik


Negara/BadanUsaha Milik Daerah belum diatur dalam ketentuan
tersebut.

2. Hak-hak pekerja/buruh secara perorangan ditempatkan sedemikian rupa


sehingga tidak dapat diakomodir untuk menjadi pihak dalam
perselisihan hubungan industrial.

3. Tidak mengatur perselisihan antara Serikat Pekerja/Serikat Buruh dalam


satu perusahaan.

4. Tidak menjamin rasa keadilan bagi pekerja/buruh dan pengusaha karena


penyelesaian perselisihan yang ditawarkan hanya melalui jalur non
litigasi.

5. Terkesan kuatnya campur tangan Pemerintah, dalam hal:

a. Veto Menteri adanya kewenangan Menteri untuk menunda atau


membatalkan putusan Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan
Pusat (P4P) melalui Hak Veto berdampak pada terbentuknya

7
Della Feby dkk, Praktek Pengadilan Hubungan Industrial: Panduan Bagi Serikat Buruh, TURC,
Jakarta, 2014, hlm.2.
8
MSM Simanihuruk, Tanggungjawab Pemerintah dalam Menegakkan Peraturan dan
Menjalankan Pengawasan atas Putusan Lembaga Penyelesaian dalam Perspektif Pengawasan,
disampaikan pada Focus Group Discussion Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta,
Hotel Cemara, tanggal 23-24 November 2012.
paradigma masyarakat tentang besarnya campur tangan pemerintah
yang seharusnya dikurangi.

b. Hanya ada Pegawai Perantara di bagian Hubungan Industrial dan


Syarat-Syarat Kerja yang berasal dari Pegawai Negeri Sipil (tidak
memberikan alternatif pilihan penyelesaian melalui konsiliasi dan
arbitrase)

6. Keanggotaan P4P dan P4D diangkat tanpa seleksi yang menimbulkan


asumsibahwa lembaga P4D dan P4P tidak independen.

PHI merupakan Pengadilan khusus yang berada pada lingkup peradilan


umum atau biasa disebut Pengadilan Negeri.9 Sebagaimana disampaikan oleh
Ketua MA Bagir Manan, pengertian Pengadilan khusus disini bukan hanya dari
obyek perkara yang adalah sengketa perburuhan dalam hubungan perburuhan,
tetapi juga dari segi susunan majelis hakim yang terdiri hakim biasa (karir) dan
hakim adhoc (ahli), cara-cara beracara khusus seperti tidak adanya upaya hukum
banding dan penjadwalan waktu penyelesaian perkara yang terbatas.10

UU No. 2 Tahun 2004 merombak total sistem penyelesaian perburuhan


yang telah ada sebelumnya. UU ini membagi “perselisihan industrial menjadi
empat macam; yaitu perselisihan hak, perselisihan kepentingan, perselisihan PHK,
dan perselisihan antar serikat buruh dalam satu perusahaan. Meski pada tahap
awal penyelesaian perselisihan di isyaratkan harus menempuh mekanisme bipartit,
namun pembagian keempat macam perselisihan ini membawa konsekuensi yang
berbeda satu sama lain dalam tahap penyelesaian berikutnya.11

PHI pada PN. Kelas I-A Banjarmasin sejak tahun 2012-2017 telah
menerima 105 perkara perselisihan hubungan industrial, 101 perkara PHK, 1
perkara perselisihan hak, 1 perselisihan kepentingan, 2 perkara perlawanan.

9
Pasal 55 UU No. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial, Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 6 dan Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4356.
10
Website Tempo Interaktif, http://www.tempointeractive.com, terakhir dikunjungi 26 Mei 2013
Pk. 13.15 WIB.
11
Dela Feby dkk, op.cit, hal.3.
Walaupun telah disyaratkan sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya
PHK, namun fakta yang terjadi justru sebaliknya. Di PHI pada PN. Kelas I-A
Banjarmasin, dari 4 (empat) jenis sengketa hubungan industrial, sengketa PHK-
lahyang mendominasi perkara yang masuk.

Didorongnya perselisihan perburuhan ke ranah formal pada sebuah lembaga


penyelesaian perselisihan perburuhan, mau tidak mau memaksa pekerja maupun
pengusaha untuk menempuh jalur tersebut, sehingga perlu untuk mengukur ke
efektifan jalur penyelesaian perselisihan perburuhan di lembaga penyelesaian
hubungan industrial dengan mengaitkannya dengan ketentuan Pasal 4 ayat 2 UU
No.4 Tahun 2004 tentang Kehakiman yang menyatakan: “Peradilan dilakukan
dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan”.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana praktik Pemutusan Hubungan Kerja oleh Pengusaha yang


diselesaikan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri
Kelas I-A Banjarmasin ?

2. Bagaimana efektivitas Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan


Negeri Kelas I-A Banjarmasin dalam menyelesaikan perselisihan hubungan
industrial di Kalimantan selatan ?
BAB II

LANDASAN TEORI

1. Hubungan Industrial dan Perselisihannya

a. Hubungan Industrial

Di Indonesia konsep hubungan Industrial yang dianut adalah Hubungan


Industrial Pancasila (HIP) yang lahir dari hasil Lokakarya Nasional yang
diselenggarakan dari tanggal 4 sampai 7 Desember 1974 dan di ikuti oleh wakil
dari organisasi buruh/pekerja, organisasi pengusaha, wakil pemerintah, dan unsur
perguruan tinggi. HIP adalah suatu sistem hubungan yang terbentuk antara pelaku
dalam proses produksi barang dan jasa yang didasarkan atas nilai-nilai yang
merupakan manifestasi dari keseluruhan sila-sila dari Pancasila dan UUD 1945,
yang tumbuh dan berkembang diatas kepribadian bangsa dan kebudayaaan
nasional Indonesia.12

Hubungan Industrial pada dasarnya adalah proses terbinanya komunikasi,


konsultasi musyawarah serta berunding ditopang oleh kemampuan dan komitmen
yang tinggi dari semua elemen yang ada dalam perusahaan. Undang-undang
ketenagakerjaan telah mengatur prinsip-prinsip dasar yang perlu kita kembangkan
dalam bidang hubungan industrial. Arahnya adalah untuk menciptakan sistem dan
kelembagaan yang ideal, sehingga tercipta kondisi kerja yang produktif, harmonis,
dinamis, dan berkeadilan.13

Dalam dalam era industrialisasi, masalah perselisihan hubungan industrial


menjadi semakin meningkat dan kompleks, sehingga diperlukan institusi dan
mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang cepat, tepat, adil,
dan murah14. Oleh karena Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 tentang
Penyelesaian Perselisihan Perburuhan dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1964
tentang Pemutusan Hubungan Kerja di Perusahaan Swasta sudah tidak sesuai

12
Lalu Husni, op.cit, hal 23
13
Adrian Sutedi, Hukum Perburuhan, Sinar Grafika, Jakarta, 2016, hal 23
14
Landasan menimbang huruf b UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan
Hubungan Industrial.
dengan kebutuhan masyarakat, maka lahirlah Undang-undang No. 2 Tahun 2004
Tentang Penyelesaian Perselesihan Hubungan Industrial.

b. Perselisihan Hubungan Industrial.

Perselisihan yang terjadi antara pihak-pihak dalam sebuah perusahaaan


dalam dunia kerja disebut Perselisihan Hubungan Industrial (PHI). PHI secara
ringkas dapat diartikan sebagai perbedaan pendapat yang mengakibatkan
pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja atau
serikat pekerja.15

Dalam ketentuan Pasal 1 angka 1 UU No. 2 tahun 2004 tentang


Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (UU PPHI) disebutkan
“Perselisihan Hubungan Industrial adalah perbedaan pendapat yang
mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha
dengan pekerja/ buruh atau serikat pekerja/serikat buruh karena adanya
perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan
hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu
perusahaan”.

2. Proses Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial di lembaga


Penyelesaian Hubungan Industrial

Apabila pada tahap mediasi atau konsiliasi tidak tercapai kesepakatan, maka
salah satu pihak dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan
Industrial.Pengadilan Hubungan Industrial adalah Pengadilan khusus yang berada
pada lingkungan peradilan umum. Pengadilan Hubungan Industrial bertugas dan
berwenang, memeriksa dan memutus:

a. di tingkat pertama mengenai perselisihan hak;

b. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan kepentingan;

c. di tingkat pertama mengenai perselisihan pemutusan hubungan kerja;

15
Libertus Jehani, Hak-hak pekerja Bila di PHK, Visi Media, Jakarta, 2013, hal.11
d. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan antar serikat
pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan (Pasal 56 UU PPHI).

Susunan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri terdiri


dari:

a. Hakim;

b. Hakim Ad-Hoc;

c. Panitera Muda; dan

d. Panitera Pengganti.

Susunan Pengadilan Hubungan Industrial pada Mahkamah Agung (MA)


terdiri dari:

a. Hakim Agung;

b. Hakim Ad-Hoc pada Mahkamah Agung; dan

c. Panitera. (Pasal 60 UU PPHI)

Hukum acara yang berlaku pada Pengadilan Hubungan Industrial adalah


Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan
Umum, kecuali yang diatur secara khusus dalam UU PPHI (Pasal57 UU PPHI).
Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial melalui Pengadilan Hubungan
Industrial tidak membuka kesempatan untukmengajukan upaya banding ke
Pengadilan Tinggi.Putusan Pengadilan Hubungan Industrial yang menyangkut
perselisihan hak dan perselisihan PHK dapat langsung dimintakan kasasi ke MA.
Sedangkan menyangkut perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat
pekerja/SB dalam satu perusahaan merupakan putusan tingkat pertama dan
terakhir yang tidak dapat dimintakan kasasi ke MA.
Secara singkat prosedur pengajuan gugatan dan persidangan di PHI sebagai
berikut16:

a. Gugatan diajukan ke PHI yang daerah hukumnya meliputi tempat


domisili pekerja.

b. Gugatan harus dilampiri dengan risalah penyelesaian melalui


mediasiatau konsiliasi. Jika risalah tidak disertakan Pengadilan wajib
mengembalikan gugatan kepada penggugat.

c. Gugatan harus mencantumkan pokok-pokok persoalan yang menjadi


perselisihan beserta identitas para pihak dan dokumen yang menguatkan
gugatan.

d. Apabila perselisihan tersebut menyangkut perselisihan hak/ kepentingan


yang diikuti dengan perselisihan pemutusan hubungan kerja, pengadilan
hubungan industrial memutuskan terlebih dahulu perkara perselisihan
hak atau kepentingan (Pasal 87 UU PPHI).

e. Apabila proses beracaranya adalah proses cepat sesuai permohonan


tertulis salah satu pihak maka dalam tujuh hari kerja setelah permohonan
diterima, Ketua PN mengeluarkan penetapan tentang dikabulkan atau
ditolaknya permohonan tersebut. Bila permohonan dikabulkan ketua PN
dalam jangka waktu tujuh hari kerja setelah keluar penetapan
menentukan majelis hakim, hari, tempat, dan waktu sidang tanpa
prosedur pemeriksaan. Tenggat waktu untuk jawaban dan pembuktian
kedua belah pihak masing-masing ditentukan tidak melebihi 14 hari
kerja (Pasal 98 dan Pasal 99 UU PPHI).

f. Apabila dengan proses acara biasa, maka dalam waktu paling lama tujuh
hari kerja setelah penetapan majelis hakim, Ketua majelis akan
melakukan sidang pertama.

16
Libertus Jehani, Op.Cit, hal. 25-26
g. Apabila dalam sidang pertama secara nyata-nyata pengusaha terbuki
itidak melaksanakan kewajibannya untuk membayar upah serta hak-hak
lainnya selama menunggu penyelesaian PHK, hakim Ketua sidang
segera menjatuhkan putusan sela yang memerintahkan pengusaha untuk
membayar upah beserta hak-hak lainnya yang biasa diterima
pekerjayang bersangkutan.

h. Apabila pengusaha mengabaikan putusan sela tersebut maka hakim


ketuasidang memerintahkan sita jaminan dalam sebuah penetapan
Pengadilan Hubungan Industrial. Putusan sela tersebutpun tidak dapat di
adakan upaya perlawanan atau upaya hukum (Pasal 96 UUPPHI).

i. Selambat-lambatnya 50 hari kerja sejak sidang pertama Majelis Hakim


memberikan putusannya.

j. Putusan Majelis Hakim tentang perselisihan kepentingan dan


perselisihan antar pekerja dalam satu perusahaan bersifat final.
Sedangkan putusan Majelis hakim Pengadilan Hubungan Industrial
mengenai perselisihan hak dan PHK mempunyai kekuatan hukum yang
tetap apabila dalam waktu 14 hari kerja tidak diajukan permohonan
kasasi oleh pihak yang hadir atau 14 hari kerja setelah putusan diterima
oleh pihak yang tidak hadir.

3. Prosedur PHK Oleh Pengusaha

PHK yang dilakukan oleh Pengusaha harus memenuhi syarat-syarat yang


telah ditentukan oleh UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.Dalam
ketentuan Pasal 151 UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dinyatakan:

a. Pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/serikat buruh, dan pemerintah,


dengan segala upaya harus mengusahakan agar jangan terjadi pemutusan
hubungan kerja.

b. Dalam hal segala upaya telah dilakukan, tetapi pemutusan hubungan


kerja tidak dapat dihindari, maka maksud pemutusan hubungan kerja
wajib di rundingkan oleh pengusaha dan serikat pekerja/serikat buruh
atau dengan pekerja/buruh apabila pekerja/buruh yang bersangkutan
tidak menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh.

c. Dalam hal perundingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) benar-


benar tidak menghasilkan persetujuan, pengusaha hanya dapat
memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh
penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial.

Sementara ketentuan Pasal 152 UU No. 13 tahun 2003 tentang


Ketenagakerjaan mengisyaratkan:

(1) Permohonan penetapan pemutusan hubungan kerja diajukan secara


tertulis kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial
disertai alasan yang menjadi dasarnya.

(2) Permohonan penetapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat


diterima oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial
apabila telah dirundingkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 151 ayat
(2).

(3) Penetapan atas permohonan pemutusan hubungan kerja hanya dapat


diberikan oleh lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial
jika ternyata maksud untuk memutuskan hubungan kerja telah
dirundingkan, tetapi perundingan tersebut tidak menghasilkan
kesepakatan.

PHK tanpa penetapan sebagaimana dimaksud Pasal 151 ayat 3 batal


demihukum (Pasal 155 ayat 1 UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan).
Pengusaha maupun pekerja/buruh harus tetap melaksanakan kewajibannya selama
belum adanya penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial
(Pasal 155 ayat 2 UU No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan). Pengusaha
dapat melakukan penyimpangan selama proses PHK berlangsung dengan
menjatuhkan skorsing pada pekerja/buruh dengan tetap membayar upah beserta
hak-hak lainnya yang biasa diterima buruh(Pasal 155 ayat 3 UU No. 13 Tahun
2003 Tentang Ketenagakerjaan).

Perkara perselisihan hubungan industrial yang masuk di PHI pada PN.Kelas


I-A Banjarmasin dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 1.
Gambaran Umum Jumlah Perkara Perselisihan Hubungan Industrial
tahun2012-2017 di PHI pada PN. Kelas I-A Banjarmasin

Tidak Termasuk Jenis


Jenis Perselisihan
Perselisihan

No. Tahun Jumlah

Antar SP/SB Dalam Satu


PHK Hak Kepentingan Perlawanan Terhadap Sita
Perusahaan

1 2013 19 - 1 - - 20

2 2014 16 - - - 2 18

3 2015 29 1 - - - 30

4 2016 19 - - - - 19

5 2017 18 - - - - 18

Jumlah Total = 105

Sumber: PHI pada PN. Kelas I-A Banjarmasin

Dari tabel-tabel diatas tampak bahwa perkara PHK sangat dominan dengan
jumlah 101 perkara, 98 perkara PHK dilakukan oleh Pengusaha secara sepihak, 2
kasus PHK yang diminta oleh Pekerja/buruh dengan alasan Pengusaha melanggar
ketentuan Pasal 169 Ayat (1) huruf C UU No. 13 tahun 2003 yang yang pada
intinya menyatakan karena pengusaha tidak membayar upah tepat pada waktu
yang telah ditentukan selama 3 (tiga) bulan berturut-turut atau lebih,
pekerja/buruh dapat mengajukan gugatan ke lembaga PPHI dan 1 perkara PHK
yang diajukan Pengusaha.

Dari 105 perkara tersebut, 6 diantaranya masih diperiksa di Mahkamah


Agung Republik Indonesia (MARI) yaitu 1 (satu) perkara tahun 2015 atas nama
Ermawati Cs berhadapan dengan YSO Adabiah (masih dalam proses Peninjauan
Kembali), 4 (empat) perkara tahun 2016 yaitu Khairul Bakri CS berhadapan
dengan PT. SSTC (masih dalam proses Peninjauan Kembali), Hendri Marizal CS
berhadapan dengan PT. PT. SSTC (masih dalam proses Peninjauan Kembali),
Mohd. Ihsan berhadapan dengan Yayasan RS Islam Banjarmasin (masih dalam
proses Peninjauan Kembali), Firsta Cs berhadapan dengan Yayasan STIENAS
(masih dalam proses Peninjauan Kembali), 1 (satu) perkara tahun 2017 yaitu
Tisna Refianti berhadapan dengan PT. BPR Gawi sabumi (masih dalam proses
kasasi).17

Adapun alasan-alasan PHK yang dilakukan oleh Pengusaha dari kasus-


kasus yang masuk di PHI pada PN. Kelas I-A Banjarmasin adalah:

1. Ada rasa suka dan tidak suka;

2. Pengusaha kurang memahami UU No. 13 tahun 2003 dan UU No. 2


tahun 2004;

3. Pekerja dianggap melanggar disiplin kerja;

4. Efisiensi;

5. Tanpa ada kesalahan;

6. Tidak harmonis lagi hubungan kerja;

7. Ketidakpuasan pengusaha;

8. Dikualifikasikan mengundurkan diri oleh perusahaan;

9. Tidak menjalankan tugas;

17
Data PHI pada PN. Kelas I-A Banjarmasin pertanggal 13 Juli 2017
10. Pekerja melakukan kejahatan diperusahaan;

Dari 10 (sepuluh) alasan diatas, jika ditarik secara umum, maka hanya 2
alasan PHK dengan penetapan yang sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2003
tentang Ketenagakerjaan yaitu dengan alasan efisiensi dan alasan pekerja/buruh
melanggar disiplin kerja/peraturan perusahaan/perjanjian bersama. Sedangkan
alasan PHK tanpa penetapan ada 2 yaitu pekerja/buruh mangkir dan melakukan
tindak pidana. Alasan-alasan lain yang mengemuka sama sekali bukanlah alasan-
alasan sebagaimana maksud UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

PHK dengan alasan efisiensi yang dilakukan pengusaha tidak dilakukan


tertulis. PHK dengan alasan efisiensi membawa konsekwensi pengusaha harus
membayar uanga pesangon 2 kali lipat kepada pekerja/buruh. Sehingga menjadi
hal yang bisa dimaklumi kenapa kemudian pengusaha enggan untuk membuat SK
PHK secara tertulis, apalagi didalam SK PHK dicantumkan “perusahaan mem-
PHK karena sedang melakukan efisiensi”.

Pengusaha biasanya akan membantah dengan keras jika dianggap telah


melakukan PHK dengan alasan efisiensi. Didalam praktek pengusaha biasanya
melakukan PHK sepihak, tanpa terlebih dahulu meminta penetapan ke lembaga
PPHI, namun justru pihak pekerja yang dominan mengajukan gugatan ke PHI
pada PN Kelas I-A Banjarmasin. Tercatat hanya 2 kasus PHK yang diajukan oleh
Pengusaha dalam kurun waktu 2013 sampai dengan 2017.

Pekerja/buruh yang menempuh jalur sampai ke PHI pada PN. Kelas I-A

Banjarmasin mempunyai berbagai macam alasan, antara lain:

1. SK berhenti tidak sesuai dengan ketentuan yang ada;

2. Merasa tidak ada kesalahan;

3. Tidak diberi tugas/jadwal.

4. Menuntut hak dan mengembalikan nama baik.


5. Pekerja merasa dirugikan dan dibodoh-bodohi.

6. Diberhentikan secara lisan tanpa ada uang pesangon karena dianggap


melakukan kesalahan berat;

7. Gaji tidak dibayar oleh Pengusaha diiringi dengan tidak boleh masuk
kerja.

8. Menuntut hak dan kepastian hukum.

Dari perkara yang masuk di PHI pada PN. Kelas I-A Banjarmasin, lamanya
proses sampai dilaksanakannya putusan bervariasi. Jika terjadi perdamian, perkara
perselisihan hubungan industrial di PHI pada PN Kelas I-A Banjarmasinbisa
selesai dalam waktu sangat singkat, yaitu 6 hari.Sedangkan jika tidak,maka bisa
memakan waktu bertahun-tahun. Sebagai contoh perkara
No.27/G/2015/PHI.PDG, mendaftarkan gugatan sejak tanggal 5 September 2015
dan sidang pertama tanggal 16 September 2015 sampai saat ini masih menunggu
hasil putusan peninjauan kembali yang baru diajukan pengusahapada tanggal 3
Maret 2017. Demikian juga dengan Firsta Cs yang 3 kali mengajukan gugatan,
dengan 2 kali membayar panjar biaya perkara karena nilai gugatannya diatas Rp.
150 juta. Gugatan pertama pada tanggal 22 Februari 2015, gugatan kedua pada
tanggal 29 Agustus 2015, kedua gugatan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima.
Pada gugatan ke-3 yang diajukan pada 23 Desember 2016, Firsta Cs
memenangkan gugatannya. Perkara ini pun saat ini masih dalam pemeriksaan
peninjauan kembali yang dilakukan pengusaha pada tanggal 8 Maret 2017.
BAB III
PEMBAHASAN

1. Efektivitas PHI pada PN.Kelas I-A Banjarmasin dalam penyelesaian


perselisihan hubungan industrial dihubungkan dengan asas sederhana,
cepat dan biaya ringan.

Pasal 4 ayat (2) UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kehakiman menyatakan


“Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan”. Selanjutnya
penjelasan pasal 4 ayat 2 menyebutkan yang dimaksud dengan ”sederhana” adalah
pemeriksaan dan penyelesaian perkara dilakukan dengan acara yang efisien dan
efektif. Yang dimaksud dengan ”biaya ringan” adalah biaya perkara yang dapat
terpikul oleh rakyat Namun demikian, dalam pemeriksaan dan penyelesaian
perkara tidak mengorbankan ketelitian dalam mencari kebenaran dan keadilan,
pengertian cepat diartikan berkaitan dengan proses beracara yang dapat
dilaksanakan secepat mungkin. Kemudian Pasal 5 ayat (2) menyatakan
“Pengadilan membantu pencari keadilan dengan berusaha mengatasi segala
hambatan dan rintangan untuk tercapainya peradilan yang sederhana, cepat dan
biaya ringan”.

Praktik penyelesaian perselisihan hubungan industrial di PHI pada PN.Kelas


I-A Banjarmasin secara teori memang menciptakan kepastian hukum, namun jika
dihubungkan dengan asas peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan maka
masih banyak kekurangannya.

Secara umum praktik penyelesaian perselisihan hubungan industrial di PHI


pada PN. Kelas I-A Banjarmasin jika dihubungkan dengan asas peradilan yang
sederhana, cepat dan biaya ringan dapat dilihat sebagai berikut:

a. Tahap pra pendaftaran gugatan

Karena proses penyelesaian perselisihan di PHI pada PN Kelas I-A


Banjarmasin sudah masuk ke ranah hukum formil, maka para pihak
biasanya mengajukan secara tertulis. Walaupun gugatan dapat diajukan
secara lisan (Pasal 144 R.bg hanya memperbolehkan gugatan lisan
diajukan hanya oleh orang yang tidak dapat menulis, tidak dapat
diajukan oleh kuasanya), namun dari seluruh gugatan perkara
perselisihan yang masuk di PHI pada PN Kelas I-A Banjarmasin,
semuanya diajukan secara tertulis. Bagi seorang buruh, untuk
memformulasikan gugatan bukanlah persoalan yang gampang,
walaupun berlatar belakang pendidikan sarjana hukum. Proses ini
dianggap jauh dari sederhana oleh para buruh, bahkan sangat
menyulitkan. Hal ini bisa diatasi dengan membayar jasa seorang
advokat, namun hal tersebut juga tidaklah menjamin, karena walaupun
telah didampingi Advokat masih saja perkara yang gugatannya tidak
dapat diterima (NO/Niet van Onkelijke). NO-nya perkara tersebut
bukanlah karena masalah substansi, hal yang seharusnya tidak perlu
terjadi.

b. Tahap pendaftaran gugatan

Gugatan yang telah disusun oleh penggugat kemudian didaftarkan ke


PHI pada PN Kelas I-A Banjarmasin dengan dibubuhi materai Rp.
6000,-.Biasanya gugatan difotokopi sekian rangkap (minimal 6
rangkap) dengan melampirkan risalah mediasi/konsoliasi maupun
anjuran mediator/konsiliator. Untuk gugatan yang nilai ganti ruginya
dibawah Rp. 150 juta, maka tidak akan dikenakan biaya, namun jika
nilai ganti ruginya melebihi Rp. 150 juta, maka penggugat harus
mengeluarkan biaya. Bagi seorang buruh hal ini sangat memberatkan,
sehingga mereka cenderung untuk memecah gugatannya menjadi 2 atau
lebih gugatan. Hal ini malah menimbulkan masalah baru, proses
menjadi tidak sederhana. Disamping itu belum tentu putusannya akan
sama pula.

c. Tahap persidangan (pembacaan gugatan sampai putusan)

Pada tahap ini para pihak akan hadir dipersidangan 2 kali seminggu.
Untuk pihak-pihak berperkara yang berdomisili di Kota Banjarmasin,
biaya yang dikeluarkan untuk transportasi jauh lebih sedikit dari pada
mereka yang berdomisili di luar Kota Banjarmasin. Disamping adanya
biaya transportasi yang lebih, jarak tempuh yang jauh juga menjadi
sebuah hal yang terasa sangat memberatkan buruh/pekerja.

Proses beracara selanjutnya adalah acara jawab menjawab, setelah


gugatan dibacakan, maka tergugat akan mengajukan jawaban. Tahap ini
adalah salah satu tahap yang menentukan, karena jawaban tersebut bisa
saja berdampak gugatan penggugat dinyatakan NO. Setelah jawaban,
acara selanjutnya adalah replik dan duplik. Bagi pekerja/buruh yang
tidak didampingi Advokat maka hal ini akan terasa menyulitkan. Hal ini
berimpilikasi kepada pertimbangan putusan karena hakim akan sulit
membuat pertimbangan hukum untuk membuat putusannya.

Selanjutnya para pihak akan mengajukan alat-lat bukti tertulis sebagai


salah satu pembuktian. Pada agenda ini bukti-bukti yang akan diajukan
terlebih dahulu difotokopi, diberi materai dan stempel di kantor pos.

Kemudian dilegalisir dibagian kepaniteraan PHI pada PN Kelas I-A


Banjarmasin. Setelah itu diperlihatkan kepada majelis hakim untuk
dicocokkan dengan yang aslinya. Pada proses ini juga ada biaya yang
harus dikeluarkan oleh para pihak, walaupun telah digariskan tidak
dikenakan biaya untuk gugatan yang nilai gantiruginya kurang dari Rp.
150 juta. Para pekerja/buruh sering kesulitan dalam proses ini,
disamping karena tidak mempunyai sistim dokumentasi yang baik,
mereka juga bingung akan mengajukan bukti tertulis yang dapat
mendukung dalil-dalil positanya.

Kalupun ada, mereka juga bingung tentang cara pengajuan ke


persidangan walaupun telah diberi arahan oleh majelis hakim.
Demikian juga pada saat pengajuan saksi, pekerja buruh juga akan
kesulitan untuk menghadirkan saksi, kalaupun ada, mereka juga
kesulitan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada saksi.
Selajutnya para pihak akan mengajukan kesimpulan terhadap seluruh
rangkaian proses persidangan secara tertulis. Walaupun tidak
diwajibkan untuk menyerahkan kesimpulan, namun bagi pihak yang
membuat, prosesini juga terasa menyulitkan.

Walaupun telah digariskan bahwa perkara yang disidangkan harus


diputus 50 hari kerja sejak persidangan pertama, namun faktanya di PHI
pada PN Kelas I-A Banjarmasin masih ada perkara yang diputus
melebihi waktu tersebut. Belum lagi jika ada upaya hukum sampai
dengan Peninjauan Kembali, sebuah perkara bisa memakan waktu
bertahun-tahun untuk memperoleh sebuah kepastian hukum.

d. Tahap eksekusi

Setelah perkara memiliki kekuatan hukum tetap, maka pihak yang


dimenangkan akan mengajukan eksekusi. Jika eksekusi bisa dilakukan
secara damai, maka hal tersebut tidaklah akan berlangsung rumit,
sebaliknya jika pihak yang dikalahkan tidak mau melaksanakan
eksekusi, maka proses selanjutnya akan rumit.

Berikut ini pendapat para pihak berkaitan dengan efektivitas PHI dalam
menyelesaikan perselisihan hubungan industrial:

1. Basrul Efendi, Juru sita PHI pada PN Kelas I-A Banjarmasin

Keberadaan PHI lebih menguntungkan bagi pekerja dari segi waktu


karena jangka waktunya ditentukan. Dari segi biaya, nilai gugatannya
yang kurang dari Rp.150.000,-biaya ditanggung oleh negara. Di PHI
nilai kompensasi lebih banyak menguntungkan pekerja. Di P4D dan
P4P justru sebaliknya, nilai kompensasi pesangon lebih banyak
menguntungkan pengusaha.

2. Hendri Marizal, Pekerja.

Secara subtansi bisa menyelesaikan persoalan, Cuma untuk jangka


waktu terlalu lama, apalagi kalau ada upaya hukum. Tentu akan
berdampak terhadap nilai uang/pesangon. Kalau nilai Rp. 20 jt hari ini
tentu tidak akan sama dengan nilai 20 juta dua tahun yang akan datang.
Jadi harapannya agar bisa dikenakan denda.

3. Dwi Gusnayati, Pekerja.

Dari segi waktu lama, apalagi ada upaya hukum. Ada biaya yang harus
dikeluarkan, biaya leges, biaya sumpah dan biaya bolak-balik sidang,
tapi demi harga diri semuanya tidak ada masalah.

4. Desmon Ramadhan, Kuasa Hukum Pengusaha

Dari segi waktu agak lama, soal biaya misalnya harus ada biaya untuk
HRD yang mewakili pengusaha, terlebih jika pengusaha menggunakan
jasa advokat. Sementara jika menggunakan sistem yang lama P4D, bisa
satu-dua kali sidang putus.

5. Amiruddin, Kuasa Hukum Pengusaha.

Dari segi waktu cukup efektif karena ada jangka waktu 50 hari harus
diputus, dari segi biaya juga karena nilai gugatan dibawah Rp. 150 juta,
ditanggung negara. Secara umum hakimnya cukup fair karena
memberikan kesempatan yang sama terhadap para pihak.

6. Firsta, Pekerja.

Dari segi waktu tidak efektif apalagi kalau ada upaya hukum, ke
independenan hakim adhoc tidak terjaga, karena lebih condong
memihak dari unsur mana hakim tersebut berasal, yang terlihat dari
pertanyaaan-pertanyaan yang dilontarkan, tapi yang menguntungkan
proses di Pengadilan ini lebih transparan ketimbang waktu P4D.

7. Alvian, Pekerja.

Dari segi waktu agak lama dan agak berbelit-belit, kadang pihak datang,
terus tidak datang.
8. Bambang Irawan, Pekerja.

Dari segi waktu agak lama, tidak perlu ada daluarsa untuk mengajukan
gugatan terhadap perkara PHK, karena merugikan pekerja.

9. Adri, Hakim Adhoc PHI pada PN Kelas I-A Banjarmasin

Keberdaaan PHI sudah efektif, tapi pemahaman pekerja dan pengusaha


masih kurang, misalnya soal biaya.

10. Amjelvis, Hakim Adhoc PHI pada PN. Kelas I-A Banjarmasin

Dari segi waktu, cukup efektif karena ada jangka waktu misalnya 50
hari di PHI, 30 hari di MA. Jadi waktunya lebih cepat dari P4D/P4P.
Tapi seharusnya MA memprioritaskan kasus yang masuk, setelah PHI
ada, baru dilanjutkan dengan kasus limpahan P4D/P4P. Ada kasus yang
NO, seharusnya ini tidak terjadi karena menurut saya kadang bukanlah
hal yang substansi sehingga seharusnya ada proses dismisal proses.

11. Masri, Hakim Adhoc PHI pada PN. Kelas I-A Banjarmasin

Dari segi waktu cepat dan efektif walaupun kadang kala ada kendala
misalnya soal barang yang akan dieksekusi, buruh /pekerja tidak tahu
sehingga tidak bisa dieksekusi.

12. Syahrial Yakub, Hakim Adhoc PHI pada PN. Kelas I-A Banjarmasin

Dari segi aturan waktu cukup efektif, di PHI 50 hari, di MA 30 hari.


Tapi dalam praktek selesainya perkara bisa 1-2 tahun. Kelebihan lain di
PHI kepastian hukum didapat, di P4D/P4P kepastian hukum sulit
didapat.

13. Rusdi Zein, Kuasa Hukum Pengusaha.

PHI tidak efektif karena prosesnya lama, biaya yang harus dikeluarkan
juga tinggi. Seharusnya Penyelesaian hubungan indusrial kembali pada
cara yang lama, melalui mekanisme P4D/P4P, dengan catatan hak
vetomenteri dihilangkan. Pada P4D/P4P terdapat semua komponen, dari
pekerja, pengusaha dan pemerintah. Dari segi biaya lebih murah karena
tidak ada biaya untuk hakim dan biaya lain. Waktu pemeriksaan lebih
cepat, paling lama 2 kali sidang. Selain itu, jika kita berbicara soal
sengketa maka yang paling menonjol yang harus dikedepankan adalah
aspek keadilan bagi buruh dan pengusaha.

Ada beberapa hal berkaitan dengan efektivitas PHI pada PN. Kelas I-A
Banjarmasin jika dikaitkan dengan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya
ringan yaitu:

1. Proses penyelesaian perselisihan di PHI pada PN. Kelas I-A


Banjarmasin yang mengacu pada hukum acara bukanlah sebuah proses
yang sederhana. Seluruh rangkaian proses sejak membuat dan
mendaftarkan gugatan sampai adanya proses eksekusi bahkan sampai
pelelangan menimbulkan kesulitan bagi pihak-pihak yang berpekara,
terutama pihak pekerja. Bahkan majelis hakim yang memeriksa perkara-
pun merasa kesulitan ketika akan membuat pertimbangan-pertimbangan
putusan jika yang berperkara sama sekali tidak didampingi oleh kuasa
hukum. Disisi lain, penyelesaian perselisihan di PHI pada PN. Kelas I-A
Banjarmasin lebih terasa transparan, putusannya pun cenderung sesuai
dengan peraturan-perundangan (berkaitan dengan uang pesangon),
berbeda dengan P4D yang terasa lebih sederhana tapi tidak transparan
dan putusannya lebih banyak menguntungkan pengusaha.

2. Walaupun penyelesaian perselisihan di PHI pada PN. Kelas I-A


Banjarmasin secara teori dibatasi oleh UU PHI selama 50 hari kerja
sejak sidang pertama harus diputus dan ditingkat MA diputus 30 hari
kerja sejak ada permohonan, namun pada prakteknya masih ada perkara
yang diputus lebih dari 50 hari kerja sejak sidang pertama. Disamping
itu, jika ada upaya hukum, proses administrasi di PHI pada PN. Kelas I-
A Banjarmasin dan MA berkaitan dengan pengiriman dan pendaftaran
berkas perkara memakan waktu lebih lama. Jika perkara sampai pada
upaya Peninjauan Kembali, maka akan memakan waktu bertahun-tahun.
3. Dalam teori untuk nilai gugatan di bawah Rp. 150 juta tidak akan
dikenakan biaya, namun prakteknya masih ada biaya-biaya yang harus
dikeluarkan para pihak. Untuk nilai gugatan diatas Rp. 150 juta, pihak
yang mengajukan akan dikenakan biaya. Untuk menghindari hal ini,
maka biasanya pihak yang mengajukan gugatan akan memecah
gugatannya menjadi 2 atau lebih jika hal tersebut memungkinkan. Hal
ini menandakan bahwa biaya berperkara di Pengadilan bagi sebagian
orang terutama pekerja masih menganggap mahal apalagi jika
menggunakan jasa advokat.
BAB IV

PENUTUP

a. Kesimpulan

1. Perselisihan antara pengusaha dan pekerja disebabkan karena didahului oleh


pelanggaran hukum dan dapat terjadi karena bukan pelanggaran hukum.
Mekanisme Penyelesaian Hubungan Industrial dilakukan dengan upaya
bipartit, jika tidak berhasil maka dilanjutkan dengan upaya mediasi,
konsialiasi atau Arbitrase. Jika upaya mediasidan konsiliasi gagal, maka salah
satu pihak dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial dan
melakukan upaya hukum sampai ke Mahkamah Agung. Dalam praktek di
PHI Banjarmasin, dari empat perselisihan yang menjadi kewenangan
Pengadilan Hubungan Industrial, perkara perselisihan yang dominan adalah
PHK. Dari total 105 kasus yang masuk sejak tahun 2013 hingga tahun 2017,
101 adalah perselisihan PHK, 1 perselisihan kepentingan, 1 perkara
perselisihan hak, 2 perkara perlawanan. Dari 101 kasus tersebut, 2 kasus PHK
yang diminta oleh Pekerja dengan alasan Pengusaha melanggar ketentuan
Pasal 169 Ayat (1) huruf C UU No. 13 tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan.
99 perkara PHK dilakukan oleh Pengusaha secara sepihak dan tanpa ada
penetapan dari lembaga PHI yang berakibat PHK batal demi hukum. PHI
pada PN Kelas I-A Banjarmasin justru terjebak dan menjadi lembaga yang
mensyahkan PHK yang tidak sah;

2. Bahwa efektivitas PHI pada PN Kelas I A Banjarmasin dalam menyelesaikan


perselisihan hubungan industrial belum maksimal karena faktor sumber daya
manusia baik dari pekerja, pengusaha danfungsionaris pengadilan, aturan
hukum yang tidak jelas dan tegas terutama dalam UU No. 2 tahun 2004
tentang PHI;

b. Saran

1. Jika pemutusan hubungan kerja (PHK) tidak dapat lagi dihindarkan, agar
pengusaha dalam mem-PHK pekerja benar-benar menjalankan ketentuan
Pasal 151 ayat 3 UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu
dengan meminta penetapan terlebih dahulu dari Lembaga Penyelesaian
Perselisihan perburuhan. Jika telah ada penetapan, dapat dipastikan tidak akan
terlalu banyak perkara yangakan masuk ke PHI, karena sudah dapat
dipastikan pula penetapan tersebut akan mencantumkan hak dan kewajiban
pengusaha maupun pekerja, termasuk uang pesangon.

2. Keberadaan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) sebagai lembaga yang


memiliki kewenangan sebagai lembaga penyelesaian perselisihan hubungan
industrial perlu dikaji ulang, karena PHI tidak mampu melaksanakan asas
peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan. Untuk itu perlu membuat
mekanisme yang dapat memenuhi asas tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Adrian Sutedi, Hukum Perburuhan, Sinar Grafika, Jakarta, 2016.

Della Feby dkk, Praktek Pengadilan Hubungan Industrial: Panduan BagiSerikat


Buruh, TURC, Jakarta, 2014.

Lalu Husni, Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial MelaluiPengadilan


& Diluar Pengadilan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004.

Libertus Jehani, Hak-hak pekerja Bila di PHK, Visi Media, Jakarta, 2013.

Simanihuruk, MSM, Tanggungjawab Pemerintah dalam MenegakkanPeraturan


dan Menjalankan Pengawasan atas Putusan LembagaPenyelesaian dalam
Perspektif Pengawasan, disampaikan pada FocusGroup Discussion
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta,Hotel Cemara,
tanggal 23-24 November 2012.

Surya Tjandra, Makalah tentang Pengadilan Hubungan Industrial diIndonesia,


Quo Vadis? Beberapa Catatan dari Awal Ruang Sidang,disampaikan pada
Current Issues on Indonesian Laws Conference, School ofLaw, The
University of Washington, Seattle, Amerika Serikat, 28 Februari2014.

Surya Tjandra dan Jafar Suryomenggolo, Makalah tentang SekedarBekerja?


Analisis UU No. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian PerselisihanHubungan
Indusrtial: Perspektif Buruh, Jakarta, 19 Maret 2004.

Majalah Nakertrans Edisi 01-Februari 2013 dalam Agung Hermawan,

Masih Adakah Keadilan Bagi Buruh, LBH Bandung, Fikri Print Production,April
2015, hal. 38.

Zainal Asikin, Pengertian, Sifat dan Hakikat Hukum Perburuhan dalamDasar-


dasar Hukum Perburuhan, PT. Raja Grasindo Persada, 1993.

Website Tempo Interaktif, http://www.tempointeractive.com, terakhir dikunjungi


26 Mei 2013 Pk. 13.15 WIB.

UU No. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan HubunganIndustrial,


Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 6dan Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4356.

UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan


TUGAS MATA KULIAH
SENGKETA BISNIS

PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN


INDUSTRIAL PADA PENGADILAN NEGERI KELAS
I-A BANJARMASIN

Disusun oleh

EMNA AULIA
NIM. 1720215310011

PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2017