You are on page 1of 6

9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

2.1.1 Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Menurut Husni (2006 : 138) ditinjau dari segi keilmuan, keselamatan dan
kesehatan kerja dapat diartikan sebagai sebagai ilmu pengetahuan dan
penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja di tempat kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu pemikiran dan upaya


untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga
kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, serta hasil karya dan
budayanya. Keselamatan dan kesehatan kerja sendiri mempunyai tujuan untuk
memperkecil atau menghilangkan potensi bahaya atau resiko yang dapat
mengakibatkan kesakitan dan kecelakaan dan kerugian yang mungkin terjadi.

Pelaksanaan sistem keselamatan kerja sendiri telah diatur di dalam Undang-


undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, dimana ruang lingkup
pelaksanaannya berhubungan dengan mesin, landasan tempat kerja dan
lingkungan kerja, serta cara mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat
kerja, memberikan perlindungan kepada sumber-sumber produksi sehingga dapat
meningkatkan produktifitas kerja.

Pelaksanaan sistem keselamatan kerja khususnya dalam bidang kegiatan


ketenagalistrikan juga telah diatur di dalam Undang-undang Nomor 30 Tahun
2009 tentang Ketenagalistrikan. Dimana di dalam undang-undang tersebut
ketentuan keselamatan kerja dalam bidang ketenagalistrikan diatur, sebagai
berikut:
1. Setiap usaha ketenagalistrikan wajib memenuhi ketentuan keselamatan
ketenagalistrikan.
2. Keselamatan ketenagalistrikan meliputi :
10

a. standarisasi;
b. pengamanan instalasi dan pemanfaat tenaga listrik untuk mewujudkan
kondisi :
1) handal dan aman bagi instalasi (keselamatan Instalasi)
2) aman dari bahaya bagi manusia:
(a) tenaga kerja (keselamatan kerja)
(b) masyarakat umum (keselamatan umum)
(c) akrab lingkungan (keselamatan lingkungan)
3) sertifikasi:
(a) sertifikasi baik operasi bagi instalasi penyediaan tenaga listrik.
(b) sertifikasi kesesuaian dengan standar PUIL untuk instalasi
pemanfaatan tenaga listrik (instalasi pelanggan).
(c) tanda keselamatan bagi pemanfaat tenaga listrik (alat
kerja/rumah tangga).
(d) sertifikasi kompetensi bagi tenaga teknik ketenagalistrikan.

Sedangkan kesehatan kerja sendiri sangat berperan penting dalam menjaga


kesehatan para karyawan baik fisik maupun mental karyawan agar bisa bekerja
dengan kondisi tubuh sehat, sehingga tidak akan menggangu aktivitas perusahaan.

Sebelum mempelajari lebih lanjut mengenai keselamatan dan kesehatan


kerja, terdapat beberapa pengertian dan istilah penting yang perlu dipahami
(Suma’mur, 2001:76), diantaranya:

a. Potensi bahaya (hazard) adalah suatu keadaan yang memungkinkan


atau dapat menimbulkan kecelakaan/kerugian berupa cedera,
penyakit,kerusakan atau kemampuan melaksanakan fungsi yang telah
ditetapkan.
b. Tingkat bahaya (danger) adalah merupakan ungkapan adanya potensi
bahaya secara relatif. Kondisi yang berbahaya mengkin saja ada, akan
tetapi dapat menjadi tidak begitu berbahaya karena telah
dilakukanbeberapa tindakan pencegahan.
c. Resiko (risk) menyatakan kemungkinan terjadinya
kecelakaan/kerugian pada periode waktu tertentu atau siklus operai
tertentu.
d. Insiden adalah kejadian yang tidak diinginkan yang dapat dan telah
mengadakan kontrak dengan sumber energi melebihi nilai ambang
batasbadan atau struktur.
e. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak diduga semula dan tidak
dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu
aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik korban manusia dan
atau harta benda.
f. Aman/selamat adalah kondisi tiada ada kemungkinan malapetaka
(bebas dari bahaya).
11

g. Tindakan tak aman adalah suatu pelanggaran terhadap suatu prosedur


keselamatan yang memberikan peluang terhadap terjadinya
kecelakaan.
h. Keadaan tak aman adalah suatu kondisi fisik atau keadaan yang
berbahaya yang mungkin dapat langsung mengakibatkan terjadinya
kecelakaan.

Di dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja


juga memberikan beberapa penjelasan yang berkaitan dengan aspek keselamatan
dan kesehatan kerja, diantaranya:
1. Tempat kerja ialah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka,
bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang seringd
imasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat
sumber atau sumber-sumber bahaya sebagaimana diperinci dalam
pasal 2; termasuk tempat kerja ialah semua ruangan, lapangan
halaman dan sekelilingnya yang merupakan bagian-bagian atau yang
berhubungan dengan tempat kerja tersebut
2. Pegawai pengawas adalah pegawai teknis berkeahlian khusus dari
Kementerian Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja
3. Ahli keselamatan kerja adalah tenaga teknis yang berkeahlian khusus
dari luar Kementerian Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri
Tenaga Kerja untuk mengawasi ditaatinya undang-undang ini.
4. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan
pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan dan
pengobatan, dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.
Menurut Sunyoto (2012 : 240) karyawan yang sehat jasmani dan rohani
merupakan aset yang berharga, karena itu diperlukan berbagai fasilitas
pendukung keselamatan dan kesehatan karyawan dan para manajer harus bisa
menentukan sistem keselamatan karyawan yang baik.
Menurut Ardhana, et, al (2012 : 208) keselamatan dan kesehatan kerja dapat
ditinjau dari dua aspek, yaitu dari aspek filosofis dan teknis. Secara aspek
filosofis keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah konsep berfikir dan upaya
nyata untuk menjamin kelestarian tenaga kerja pada khususnya dan setiap insan
12

pada umumnya, beserta hasil-hasil karya dan budayanya dalam upaya membayar
masyarakat adil, makmur, dan sejahtera. Sedangkan secara teknis keselamatan
dan kesehatan kerja(K3) adalah upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga
kerja dan orang lain ditempat kerja/perusahaan selalu dalam keadaan selamat dan
sehat, sehingga setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efesien.
Hanggraeni (2012 : 176) menyatakan bahwa keselamatan dan kesehatan
kerja jika diartikan secara filosofis adalah suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja
pada khususnya dan manusia pada umumnya. Sedangkan secara keilmuan K3
adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapaannya dalam usaha mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit kerja.
Sedangkan menurut Mangkunegara (2009 : 161) “keselamatan kerja
menunjukan kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan, atau
kerugian ditempat kerja, sedangkan kesehatan kerja menunjukan pada kondisi
bebas dari gangguan fisik, mental, emosi atau rasa sakit yang disebabkan
lingkungan kerja. ” Sementara itu Mangkunegara (2009 : 161) menjelaskan
bahwa keselamatan kerja terdiri dari dua aspek, yaitu aspek lingkungan kerja dan
lingkungan fisik. Lingkungan kerja bisa berupa kebakaran, patah tulang, untuk
lingkungan fisik merupakan kebutuhan dari perlengkapan pada tubuh karyawan.

2.2 Tujuan Pelaksanaan Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Sedarmayanti (2011:124) menyatakan bahwa tujuan dari penerapan


manajemen keselamatan dan kesehatan kerja adalah :
1. Sebagai alat mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-
tingginya, baik buruh, petani, nelayan pegawai negeri atau pekerja bebas.
2. Sebagai upaya mencegah dan memberantas penyakit dan kecelakaan akibat
kerja, memelihara dan meningkatkan efisiensi dan daya produktivitas tenaga
manusia, memberantas kelelahan kerja dan melipat gandakan gairah serta
kenikmatan kerja.
3. Memberi perlindungan bagi masyarakat sekitar perusahaan, supaya terhindar
dari bahaya pengotoran bahan proses industrialisasi yang bersangkutan dan
13

perlindungan masyarakat luas dari bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh


produk industri.
2.3 Penyebab-penyebab kecelakaan kerja

Menurut Suma’mur (2009) kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh


dua faktor, yaitu :

1. Faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab kecelakaan meliputi


aturankerja, kemampuan pekerja (usia, masa kerja/pengalaman, kurangnya
kecakapan dan lambatnya mengambil keputusan), disiplin kerja, perbuatan-
perbuatan yang mendatangkan kecelakaan, ketidakcocokan fisik dan mental.
Kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh pekerja dan karena sikap yang
tidak wajar seperti terlalu berani, sembrono, tidak mengindahkan instruksi,
kelalaian, melamun, tidak mau bekerja sama, dan kurang sabar. Kekurangan
kecakapan untuk mengerjakan kecelakaan kerja yang terjadi disebabkan oleh
faktor manusia. Hal ini dikarenakan pekerja itu sendiri (manusia) yang tidak
memenuhi keselamatan seperti lengah, ceroboh, mengantuk, lelah dan
sebagainya.
2. Faktor mekanik dan lingkungan, letak mesin, tidak dilengkapi dengan alat
pelindung, alat pelindung tidak pakai, alat-alat kerja yang telah rusak.
Faktormekanis dan lingkungan dapat pula dikelompokkan menurut
keperluan dengan suatu maksud tertentu. Misalnya di perusahaan penyebab
kecelakaan dapat disusun menurut kelompok pengolahan bahan, mesin
penggerak dan pengangkat, terjatuh di lantai dan tertimpa benda jatuh,
pemakaian alat atau perkakas yang dipegang dengan manual (tangan),
menginjak atau terbentur barang, luka bakar oleh benda pijar dan
transportasi. Kira-kira sepertiga dari kecelakaan yang menyebabkan
kematian dikarenakan terjatuh, baik dari tempat yang tinggi maupun di
tempat datar. Lingkungan kerja berpengaruh besar terhadap moral pekerja.
Faktor-faktor keadaan lingkungan kerja yang penting dalam kecelakaan
kerja terdiri dari pemeliharaan rumah tangga (house keeping), kesalahan
disini terletak pada rencana tempat kerja, cara menyimpan bahan baku dan
14

alat kerja tidak pada tempatnya, lantai yang kotor dan licin. Ventilasi yang
tidak sempurna sehingga ruangan kerja terdapat debu, keadaan lembab yang
tinggi sehingga orang merasa tidak enak kerja. Pencahayaan yang tidak
sempurna misalnya ruangan gelap, terdapat kesilauan dan tidak ada
pencahayaan setempat.