You are on page 1of 32

FIQIH SHALAT GERHANA

Oleh : Hidayatullah Asy-Syirbuniy
DAFTAR ISI

1. SEJARAH SIKAP MANUSIA MENGHADAPI GERHANA
2. RESPON ISLAM ATAS PERISTIWA GERHANA
3. HUKUM MELAKSANAKAN SHALAT GERHANA
4. TATACARA SHALAT GERHANA
5. HUKUM & JUMLAH KHUTBAH SETELAH SHALAT GERHANA
6. HAL – HAL TERKAIT GERHANA
- Waktu Shalat Gerhana
- Gerhana Tertutup Mendung
- Makmum Masbuq
1
SEJARAH SIKAP MANUSIA
MENGHADAPI GERHANA
1. Di negeri Cina, dahulu orang percaya bahwa gerhana terjadi
karena seekor naga langit membanjiri sungai dengan darah lalu
menelannya. Itu sebabnya orang Cina menyebut gerhana sebagai
“chih” yang artinya “memakan”.

2. Di Jepang, dahulu orang percaya bahwa gerhana terjadi karena
ada racun yang disebarkan ke bumi. Untuk menghindari air di
bumi terkontaminasi oleh racun tersebut, maka orang-orang
menutupi sumur-sumur mereka
3. Di Indonesia, khususnya Jawa, dahulu orang-orang menganggap
bahwa gerhana bulan terjadi karena Batara Kala alias raksasa jahat,
memakan bulan. Mereka kemudian beramai-ramai memukul
kentongan pada saat gerhana untuk menakut-nakuti dan mengusir
Batara Kala.

4. Bagi orang-orang suku Quraisy Arab dahulu, gerhana bulan
dikaitkan dengan kejadian-kejadian tertentu, seperti adanya
kematian atau kelahiran seseorang.
Di zaman Rasulullah pun, ketika terjadi gerhana matahari yang bersamaan
dengan meninggalnya putra Rasul yang bernama Ibrahim, sebagian orang
masih menganggap terjadinya gerhana itu karena kematian putra beliau.

Semua kepercayaan itu tak lain adalah mitos atau takhayul yang karena
pengetahuan masyarakat tentang alam, khusunya bumi, matahari dan
rembulan belum cukup memadai. Sebagian dari mereka bahkan masih
memgang kepercayaan yang disebut animisme dan dinamisme. Lalu
bagaimanakah Islam memandang fenomena gerhana ini ???
2
RESPON ISLAM ATAS
PERISTIWA GERHANA
Kepercayaan-kepercayaan yang disebutkan sebelum ini diluruskan oleh
Rasulullah. Dalam Islam, gerhana bulan atau matahari adalah bentuk keagungan
Allah sebagai Maha Pencipta, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah :
، ‫الل‬ ِ ‫ان ِم َّن آي‬
َِّ َّ‫ات‬ ِ ‫ت احدَّ ولَّ ِِلياتَِِّه و‬
ِ ‫لكن هما آي ت‬
َّ َّ ِ ‫اِنَّ الشمسَّ واْلقم َّر لَّ َيْ ِسف‬
ِ ‫ان لِمو‬
َّ
ْ ُ ْ ْ
‫وُها فصلُّوا‬ُ ‫فِإذا رأيْتُ ُم‬
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda Allah.
Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika
kalian melihat gerhana tersebut, maka lakukanlah shalat gerhana.” (Shahih
Bukhari, 1042).
Rasulullah bersabda dalam hadits lain :

ِ ِ ِ ِ
‫ فإذا رأيْتُ َّْم‬، ‫ت اح َّد ولَّ ِليَّات َّه‬ ِ ِ ِ
َّ ‫ان لم ْو‬ ِ
َّ ‫الل لَّ يَّْنخسف‬ِ
َّ ‫ات‬ ِ ِ
َّ ‫ان م َّْن آي‬ِ
َّ ‫انَّ الش ْمسَّ واْلقمرَّ آي ت‬ ِ
َّ ِ‫ٰذل‬
.‫ وَّ تَّصدُ ْوا‬، ‫ وصلُّ ْوا‬،‫ وَّ كبِّ ُرْوا‬، َّ‫ك ؛ فا ذْ ُك ُرْوا الل‬

“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena terkait
kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut,
maka berdzikirlah, bertakbirlah, lakukanlah shalat dan bersedekahlah.” (Shahih
Bukhari, 1044).
3
HUKUM MELAKSANAKAN
SHALAT GERHANA
1. Mayoritas Ulama : SUNNAH MU’AKKADAH

2. Madzhab Hanafi & Maliki : SUNNAH MANDUBAH unuk
gerhana bulan & SUNNAH MU’AKKADAH untuk gerhana
matahari

3. Sebagian Ulama : FARDHU KIFAYAH
shalat gerhana baru disyariatkan 6 tahun 2 bulan setelah Isra' dan Mi’raj. Shalat
gerhana disyariatkan pertama kali pada tahun ke-5 hijrah, yakni ketika terjadi
gerhana bulan total pada malam Rabu 14 Jumadal Akhirah 4 H, bertepatan dengan 20
November 625 M.

Sejak disyariatkannya shalat gerhana, 14 Jumadal Akhirah 4 H/20 November 625 M
sampai Rasulullah wafat pada hari Senin, 14 Rabi’ul Awal 11 H/8 Juni 632 M terjadi 3
kali gerhana matahari dan 5 kali gerhana bulan. Menurut riwayat, Rasulullah
wafat tanggal 12 Rabi’ul Awal. Lebih detalinya gerhana yang terjadi dalam kurun
waktu tersebut berdasarkan perhitungan hisab tadqiqi, lihat tabel berikut :
Sejak disyariatkannya shalat gerhana sampai beliau wafat, Rasulullah melakukan
shalat gerhana hanya dua kali.
Yang pertama saat gerhana bulan, 14 Jumadal Akhirah 4 H yang bertepatan
dengan 20 November 625 M;
Yang kedua saat gerhana matahari, 29 Syawal 10 H yang bertepatan dengan 27
Januari 632 M. Namun di dalam kitab Syarah Shahihul Bukhari Li ibni al-
Baththal disebutkan bahwa Rasulullah shalat gerhana beberapa kali.
padahal setelah disyariatkannya shalat gerhana, menurut hisab masih terjadi 4 kali
gerhana bulan dan 3 kali gerhan matahari
Dari penelusuran hisab, sejak tahun 8 (tahun lahirnya sayyid Ibrohim)
sampai 10 hijriyah hanya terjadi satu kali gerhana matahari, yaitu gerhana
cincin yang terjadi pada hari Senin, 29 Syawal 10 H, bertepatan
dengan 27 Januari 632 M, terjadi pada pagi hari jam 07:15 dan
berakhir pada jam 09:53. waktu Madinah. Dengan demikian maka
kemungkinan besar wafatnya sayyid Ibrohim adalah malam Senin, 29
Syawwal 10 H.
Refensi : http://www.nu.or.id/post/read/66061/penjelasan-seputar-sejarah-
dan-fiqih-gerhana
Lalu bagaimana dengan riwayat yang menyebutkan terjadi pada tanggal 10
Rabi’ul Awwal 10 H ?
Riwayat tersebut tidaklah salah karena saat itu masyarakat Arab belum
mempunyai kalender baku yang menjadi patokan syar’i secara umum. Saat
itu sistem kalender masih sering berubah, kabilah Arab seringkali menambah
atau mengurangi bilangan bulan dalam setahun untuk kepentingan perang,
kadang dalam setahun ada 13 bulan. Kalender qomariyah mulai tertib
setelah nabi menyampaikan ayat ke 36 surat At-Taubah pada waktu
khutbah hari Tasyrik di Mina.
4
TATACARA SHALAT
GERHANA
‫‪Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:‬‬
‫ب صل ى‬ ‫ف حَّي َِّاة النِ َِّّ‬ ‫س ِ َّ‬
‫ت الش ْم َُّ‬ ‫ت ‪ ” :‬خسف َّْ‬ ‫ب صلى الل َّهُ علْي َِّه وسَّلمَّ ُال َّْ‬ ‫ج النِ َِّّ‬‫ع َّْن عائِشةَّ زْو َِّ‬
‫ول الل َِّه صلى الل َُّه‬ ‫الل َّهُ علْي َِّه وسلمَّ فخرجَّ إِلَّ الْم ْس ِج َِّد فصفَّ الن َُّ‬
‫اس وراءَّهُ ‪ ،‬فكب رَّ ‪ ،‬فاُْ ت رأَّ ر ُس َُّ‬
‫َحدَّهُ‪ .‬ف قامَّ وَّْل‬ ‫علي َِّه وسلمَّ ُِراءةَّ ط ِويلةَّ ‪َُّ ،‬ث كب رَّ ف ركعَّ رُكوعا ط ِويلَّ ‪َُّ ،‬ث ُالَّ ‪َِ :‬سعَّ الل َّه َّلِم َّن ِ‬
‫ُ ْ‬ ‫ُ‬ ‫ْ‬
‫ي ْس ُج َّْد ‪ ،‬وُ رأَّ ُِراءةَّ ط ِويلةَّ ‪ِ ،‬هيَّ أ ْدنَّ ِم َّْن الْ ِقَّراءَِّة ْاْلُولَّ ‪َُّ .‬ث كب رَّ ورك َّع ُرَُّكوعا ط ِويلَّ ‪ ،‬وُهوَّ أ ْدنَّ‬
‫ف الرْكع َِّة‬
‫اِل ْم َُّد‪َُّ .‬ث سجَّدَّ ‪َُّ ،‬ث ُالَّ ِ َّ‬ ‫َحدَّهُ رب نا ولكَّ ْ‬‫وع ْاْلوَِّل ‪َُّ .‬ث ُالَّ ‪َِ :‬سعَّ الل َّهُ لِم َّْن َِّ‬ ‫الرُك َِّ‬
‫ْ ُّ‬ ‫َّ‬
‫ن‬ ‫م‬ ‫ِ‬
‫ف أ ْرب َِّع سجداتَّ‬‫است ْكملَّ أ ْربعَّ ركعاتَّ ‪َّ ِ ،‬‬ ‫ف‬ ‫‪.‬‬ ‫ك‬
‫َّ‬ ‫ْاْل ِخرَِّة ِمثْلَّ ذلِ‬
‫ْ‬
“Terjadi gerhana matahari pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup,
kemudian Beliau keluar menuju masjid untuk melaksanakan sholat, dan para sahabat
berdiri dibelakang Beliau membuat barisan shof sholat, lalu Beliau bertakbir dan
membaca surat yang panjang, kemudian bertakbir dan ruku’ dengan ruku’ yang lama,
lalu bangun dan mengucapkan : ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian bangkit dari
ruku’ dan tidak dilanjutkan dengan sujud, lalu membaca lagi dengan surat yang panjang
yang bacaannya lebih singkat dari bacaan yang pertama tadi. Kemudian bertakbir, lantas
ruku’ sambil memanjangkannya, yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ yang pertama.
Lalu mengucapkan : ‘sami’allahu liman hamidah, Rabbanaa wa lakal hamd’, kemudian
sujud. Beliau melakukan pada raka’at yang terakhir seperti itu pula maka sempurnalah
empat kali ruku’ pada empat kali sujud” (HR. Bukhori no. 1046, Muslim no. 2129)
1. Takbiratul ihram
2. Membaca do’a istiftah kemudian berta’awudz, dan membaca surat Al Fatihah dilanjutkan
membaca surat yang panjang.
3. Kemudian ruku’, dengan memanjangkan ruku’nya.
4. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah,
rabbanaa wa lakal hamd’.
5. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat
Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang
pertama.
6. Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ yang
pertama.
7. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allahu liman
hamidah, rabbanaa wa lakal hamd’, kemudian berhenti dengan lama.
8. Kemudian melakukan dua kali sujud dengan memanjangkannya, diantara keduanya
melakukan duduk antara dua sujud sambil memanjangkannya.
9. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at
pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
10. Tasyahud, kemudian Salam.
(Kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah, Juz. 3 Hal. 313, dan al-Majmu’ karya Imam
Nawawi, Juz. 5 Hal. 48)
Madzhab Hanafi berpendapat shalat gerhana sama seperti shalat biasa
5
HUKUM & JUMLAH KHUTBAH
SETELAH SHALAT GERHANA
1. TIDAK SUNNAH : Madzhab Hanafi, Maliki & salah satu pendapat Imam
Ahmad (Kitab al-Mughni, Juz. 2, Hal. 144)

2. Madzhab Maliki menganjurkan adanya nasehat setelah shalat (Kiatab
Bulghatus Salik, Juz. 1 Hal. 350)

3. SUNNAH 2x : Madzhab Syafi’i (Kitab al-Umm, Juz. 1 Hal. 280)

4. SUNNAH 1x : Sebagian pendapat dalam madzhab Hanbali (kitab al-Inshaf,
Juz.2 Hal. 448)
Imam An-Nawawi ketika menyebutkan pendapat yang menganjurkan
khutbah, beliau mengatakan,

‫ ونقله ابن املنذر عن اجلمهور‬، ‫وبه ُال مجهور السلف‬

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama dan dikutip oleh imam Ibnul
Mundzir dari mayoritas ulama. (al-Majmu’, Juz. 5 Hal. 59)
Dari Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda,
َّ‫اْلُطْبة‬
ْ ‫ص ُروا‬ ُ
ْ ‫ا‬
‫و‬ َّ ‫ة‬
َّ ‫ل‬ ‫الص‬ ‫ا‬
‫و‬ ‫ل‬
ُ ‫ي‬ ِ
‫ط‬ ‫أ‬ ‫ف‬ ِ
َّ
‫ه‬ ِ
‫ه‬ ‫ق‬
ْ ِ
‫ف‬ َّ
‫ن‬ ِ
‫م‬ ‫ة‬
َّ ‫ن‬ِ
َّ‫ئ‬ ‫م‬ ِ
َّ
‫ه‬ ِ
‫ت‬ ‫ب‬ْ‫ط‬‫خ‬ ‫ر‬
َّ ‫ص‬ُِ‫و‬ ِ
َّ
‫ل‬ ‫ج‬ ‫الر‬ ِ
َّ
‫ة‬ ‫ل‬ ‫ص‬ ‫ول‬
َّ ‫ط‬
ُ ‫ن‬
َّ ِ
‫إ‬
ُ ْ ُ ُ
Panjangnya shalat imam, dan pendeknya khutbahnya menunjukkan pemahaman dia
terhadap agama. Karena itu, perpanjang shalat dan perpendek khutbah. (HR. Muslim
2046)

Kita bisa lihat, redaksi khutbah gerhana yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Sangat ringkas, bersifat indotrinasi, meluruskan pemahaman yang keliru di
masyarakat, dan penjelasan amalan yang harus dilakukan oleh seorang muslim ketika
gerhana.
Khuthbah shalat gerhana sama dengan khuthbah shalat jum'at dalam rukun
dan sunahnya, sedangkan dalam syaratnya tidak sama, dalam khuthbah
shalat gerhana tidak harus berdiri, menutup aurat, suci dan duduk
di antara dua khuthbah. (Kitab Nihayatuz Zain, Syaikh Nawawi al-
Bantani, hal. 100)
‫ويسن لإلمام أن يخطب ( بخطبتين ) للجماعة دون المنفرد ( بعدهما ) أي بعد السالم من صالة‬
‫العيدين والكسوفين وتكون خطبتا العيدين كخطبتي الجمعة في األركان والسنن ال في الشروط كالقيام‬
‫والستر والطهارة والجلوس بينهما‬
6
HAL – HAL TERKAIT
GERHANA
WAKTU SHALAT GERHANA

1. Waktu shalat gerhana berlaku ketika proses gerhana mulai terjadi hingga
gerhana selesai.
2. Jika ketika melaksanakan shalat, gerhananya selesai, maka lanjutkan shalat
dengan mempercepat shalatnya.
3. Jika selesai shalat gerhana, proses gerhana masih berlangsung, tidak perlu
melanjutkan shalat lagi, cukup membaca doa dan istigfhar yang banyak.
4. Jika tidak sempat shalat saat terjadi gerhana, maka tidak disunahkan
melakukan qodho atasnya.
5. Masuknya waktu shalat gerhana, baik gerhana bulan maupun matahari adalah sejak
tertutupnya piringan bulan atau matahari.
6. Batas akhir waktu shalat gerhana matahari adalah pulihnya kembali gerhana secara
penuh atau terbenamnya matahari walaupun terbenam masih dalam keadaan gerhana.
sedangkan batas akhir gerhana bulan adalah pulihnya kembali gerhana secara penuh
atau terbitnya matahari walaupun bulan masih dalam keadaan gerhana.
7. Menurut imam Syafi'I dan imam Malik, shalat gerhana boleh dilakukan pada
waktu-waktu makruh, karena termasuk shalat yang ada sebabnya. Menurut imam
Hanafi dan Imam Ahmad tidak boleh, namun cukup dengan membaca tasbih sebagai
gantinya.
GERHANA TERTUTUP MENDUNG

Imam Ibnu Hajar al-Haitami di dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj terkait shalat gerhana
mengatakan bahwa:
1. Jika bulan atau matahari terhalang oleh mendung sebelum gerhana terlihat tetapi
menurut ahli hisab terjadi gerhana maka tidak sunnah shalat gerhana, karena hukum
asalnya tidak terjadinya gerhana.
2. Jika bulan atau matahari terlihat gerhana lalu kemudian mendung dan bimbang
gerhana sudah selesai atau belum walaupun menurut ahli hisab gerhana sudah selesai
maka tetep sunnah shalat gerhana karena hukum asalnya terlihatnya gerhana.
3. Tidak ada tempat bagi ahli hisab dalam hal ini, yakni tidak boleh berdasarkan hisab
semata walaupun hisab yang qoth'i sekalipun.
MAKMUM MASBUQ

1. Madzhab Maliki : Makmum terhitung dapat roka’at jika makmum bisa
mendapati rukuk yang kedua bersama imam dengan thuma'ninah. Walaupun
tidak mendapati rukuk yang pertama bersama imam tetap terhitung dapat rokaat
karena rukuk dan berdiri yang pertama adalah sunnah.

2. Menurut madzhab Syafi'i dan Hambali : Makmum terhitung dapat roka’at jika
makmum bisa mendapati rukuk yang pertama bersama imam dengan
thuma'ninah, sehingga jika hanya mendapati imam di dalam rukuk yang kedua
saja maka tidak terhitung dapat rokaat bersama imam.
‫واهلل أعلم بالصواب‬