You are on page 1of 20

Makalah Pendidikan Kewarganegaraan

HAM (HAK ASASI MANUSIA)

OLEH:
KELOMPOK : 4 (EMPAT)
KELAS :A
NAMA KELOMPOK:
1. SONY RUBEN F1F1 12 033
2. INES SEPTIANI P. F1F1 12 035
3. ISTAR FEBRIANTI F1F1 12 036
4. MUH. SYAMSUL RIZAL F1F1 12 037

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2013

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya

maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Hak Asasi

Manusia (HAM) “.

Penulisan ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk

menyelesaikan tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Dalam penulisan

makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis

penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk

itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan

pembuatan makalah ini.

Akhirnya kami sebagai penulis berharap semoga Allah memberikan pahala

yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat

menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal’Alamiin.

Penulis

Kendari, 19 September 2013

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................ii

DAFTAR ISI.....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1

A. LATAR BELAKANG...........................................................................................1

B. RUMUSAN MASALAH......................................................................................1

C. TUJUAN...............................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................3

A. Pengertian Hak Asasi Manusia..............................................................................3

B. Tujuan Pelaksanaan HAM.....................................................................................5

C. Perkembangan Pemikiran HAM............................................................................5

D. Landasan HAM.....................................................................................................9

E. Penegakan HAM di Indonesia.............................................................................11

BAB III PENUTUP..........................................................................................................15

A. KESIMPULAN...................................................................................................15

B. SARAN...............................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................17

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia

sejak manusia masih dalam kandungan sampai akhir kematiannya. Di dalamnya

tidak jarang menimbulkan gesekan-gesekan antar individu dalam upaya

pemenuhan HAM pada dirinya sendiri. Hal inilah yang kemudian bisa

memunculkan pelanggaran HAM seorang individu terhadap individu lain,

kelompok terhadap individu, ataupun sebaliknya.

Setelah reformasi tahun 1998, Indonesia mengalami kemajuan dalam

bidang penegakan HAM bagi seluruh warganya. Instrumen-instrumen HAM pun

didirikan sebagai upaya menunjang komitmen penegakan HAM yang lebih

optimal. Namun seiring dengan kemajuan ini, pelanggaran HAM kemudian juga

sering terjadi di sekitar kita.

Hak asasi manusia pada dasarnya bersifat umum atau universal, karena

diyakini bahwa beberapa hak yang dimiliki manusia tidak memandang bangsa,

ras, atau jenis kelamin.

B. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Apa pengertian HAM?

2. Apa tujuan dari pelaksanaan HAM?

3. Bagaimana perkembangan pemikiran HAM?

1
4. Apa saja landasan-landasan HAM?

5. Bagaimana penegakan HAM di Indonesia?

6. Apa saja contoh-contoh pelanggaran HAM

C. TUJUAN

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui pengertian HAM.

2. Untuk mengetahui tujuan dari pelaksanaan HAM.

3. Untuk mengetahui perkembangan pemikiran HAM.

4. Untuk mengetahui landasan-landasan HAM.

5. Untuk mengetahui penegakan HAM di Indonesia.

6. Untuk mengetahui contoh-contoh pelanggaran HAM.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Hak Asasi Manusia

Pengertian hak asasi manusia menurut Tilaar (2001) adalah hak-hak yang

melekat pada diri manusia, dan tanpa hak-hak tersebut manusia tidak dapat hidup

layak sebagai manusia. Hak tersebut diperolah bersama dengan kelahirannya atau

kehadirannya di dalam kehidupan masyarakat. HAM merupakan hak yang

melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu

anugerah Tuhan yang harus dihormati dan dijaga serta dilindungi oleh setiap

individu , masyarakat, dan Negara.

Menurut pendapat Jan Materson (dari komisi HAM PBB), dalam Teaching

Human Rights, United Nations sebagaimana dikutip Baharuddin Lopa

menegaskan bahwa HAM adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang

tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia. Dalam pasal 1 Undang-

Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa Hak Asasi

Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan

manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya

yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum,

pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan

martabat manusia.

Semua hak asasi manusia adalah universal, tidak dapat dipisahkan, saling

bergantung dan berkait. Masyarakat internasional secara umum harus

3
memperlakukan hak asasi manusia di seluruh dunia secara adil dan seimbang,

dengan menggunakan dasar dan penekanan yang sama.

Hakikat penghormatan dan perlindungan terhadap HAM ialah menjaga

keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan, yaitu

keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta keseimbangan antara kepentingan

perseorangan dengan kepentingan umum. Upaya menghormati, melindungi, dan

menjunjung tinggi HAM, menjadi kewajiban dan tanggungjawab antara individu,

pemerintah (aparatur pemerintah baik sipil maupun militer), bahkan Negara.

Beberapa pokok hakikat HAM,yaitu :

 HAM tidak perlu diberikan, dibeli, ataupun diwarisi. HAM adalah bagian dari

manusia secara otomatis.

 HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras

agama, pandangan politik, ataupun asal-usul sosial bangsa.

 HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk

membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM

walaupun sebuah Negara membuat hokum yang tidak melindungi atau

melanggar HAM.

Ruang lingkup HAM meliputi :

1) Hak sosial politik (hak alamiah), yang dibawa oleh manusia sejak ia

dilahirkan. Contohnya adalah hak hidup, hak milik, dan hak untuk

mengusahakan kebahagiaan.

2) Hak sosial ekonomi sosial budaya, yaitu hak yang diperoleh manusia dari

masyarakatnya. Contohnya adalah hak mendapat pekerjaan, hak menerima

4
upah yang layak, hak berserikat atau berorganisasi, hak mengemukakan

pendapat (lisan atau tulisan), hak mendapatkan pendidikan, dan hak

mendapatkan pelayanan kesehatan. Hak ini bersifat non-universal.

B. Tujuan Pelaksanaan HAM

Pelaksanaan HAM bertujuan untuk mempertahankan hak-hak warga

Negara dari tindakan sewenang-wenang aparat Negara, dan mendorong tumbuh

serta berkembangnya pribadi manusia yang multidimensional.

C. Perkembangan Pemikiran HAM

1. Magna Charta

Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya

HAM di kawasan Eropa dimulai dengan lahirnya Magna Charta yang antara

lain memuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan

absolute (raja yang menciptakan hukum, tetapi ia sendiri tidak terikat dengan

hukum yang dibuatnya), menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat

diminta pertanggung jawabannya dimuka hokum (Mansyur Effendi,1994).

2. The American declaration

Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The

American Declaration of Independence yang lahir dari paham Rousseau dan

Montesquuieu. Mulailah dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di

dalam perut ibunya, sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir ia harus

dibelenggu.

3. The French declaration


5
Selanjutnya, pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration

(Deklarasi Perancis), dimana ketentuan tentang hak lebih dirinci lagi

sebagaimana dimuat dalam The Rule of Law yang antara lain berbunyi tidak

boleh ada penangkapan tanpa alasan yang sah. Dalam kaitan itu berlaku

prinsip presumption of innocent, artinya orang-orang yang ditangkap,

kemudian ditahan dan dituduh, berhak dinyatakan tidak bersalah, sampai ada

keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia

bersalah.

4. The four freedom

Ada empat hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, hak

kebebasan memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang

diperlukannya, hak kebebasan dari kemiskinan dalam Pengertian setiap

bangsa berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi

penduduknya, hak kebebasan dari ketakutan, yang meliputi usaha,

pengurangan persenjataan, sehingga tidak satupun bangsa berada dalam posisi

berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap Negara lain ( Mansyur

Effendi,1994).

5. Di Indonesia

a. Periode sebelum kemerdekaan (1908-1945)

Perkembangan pemikiran HAM dalam periode ini dapat dijumpai

dalam organisasi pergerakan sebagai berikut:

 Budi Oetomo, pemikirannya, “hak kebebasan berserikat dan

mengeluarkan pendapat”

6
 Perhimpunan Indonesia. Pemikirannya, “hak untuk menentukan

nasib sendiri”

 Serekat Islam, pemikirannya, “hak penghidupan yang layak dan

bebas dari penindasan dan diskriminasi rasial”

 Partai komunis Indonesia, pemikirannya, “hak social dan berkaitan

dengan alat-alat produksi”

 Indische Party, pemikirannya, “hak untuk mendapatkan

kemerdekaan dan perlakuan yang sama”.

b. Periode setelah kemerdekaan (1945-sekarang)

 Periode 1945-1950, menekankan hal-hal berikut:

1) Hak-hak untuk merdeka

2) Hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang

didirikan

3) Hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama

diparlemen.

 Periode 1950-1959. Pemikiran HAM pada periode ini lebih

menekankan pada semangat kebebasan demokrasi liberal yang

berintikan kebebasan individu. Implementasi pemikiran HAM pada

periode ini lebih memberi ruang hidup bagi tumbuhnya lembaga

demokrasi yang antara lain:

1) Partai politik dengan beragam ideologinya

2) Kebebasan pers yang bersifat liberal

7
3) Pemilu dengan system multipartai

4) Parlemen sebagai lembaga control pemerintah

5) Wacana pemikiran HAM yang kondusif karena pemerintah

memberi kebebasan.

 Periode 1959-1966. Pada periode ini peikiran HAM tidak mendapat

ruang kebebasan dari pemerintah atau dengan kata lain pemerintah

melakukan pemasungan HAM, yaitu hak sipil, seperti hak untuk

berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pikiran dengan tulisan.

Sikap pemerintah bersifat restriktif (pembatasan yang ketat oleh

kekuasaan) terhadap hak sipil dan hak warga Negara.

 Periode 1966-1998. Dalam periode ini, pemikiran HAM dapat

dilihat dalam tiga kurun waktu yang berbeda:

1) 1967 (awal pemerintahan Presiden Soeharto), berusaha

melindungi kebebasan dasar manusian yang ditandai dengan

adanya hak uji materil yang diberikan kepada Mahkamah

Agung.

2) 1970-1980. Pemerintah melakukan pemasungan HAM dengan

sikap defensive (bertahan), represif (kekerasan) yang

dicerminkan dengan produk hukum yang bersifat restriktif

(membatasi terhadap HAM).

3) 1990-an. Pemikiran HAM tidak lagi hanya bersifat wacana

saja, melainkan sudah dibentuk lembaga pengakan HAM.

8
 Periode 1998-sekarang. Pada periode ini, HAM mendapat perhatian

yang resmi dari pemerintah dengan melakukan amandemen UUD

1945 guna menjamin HAM dan menetapkan Undang-Undang

Nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia. Artinya,

pemerintah member perlindugan yang signifikan terhadap

kebebasan HAM dalam semua aspek.

D. Landasan HAM
Yang melandasi HAM terdiri dari:

1. Landasan Filosofis HAM

Landasan filosofis HAM adalah pemahaman dan pelaksanaan HAM

dikembangkan dan dijiwai oleh system filsafat hidup yang merupakan

pokok kaedah Negara yang fundamental.

2. Landasan Ideologis HAM

Pemahaman dan pelaksanaan HAM dijiwai dengan system idea yang

memandang manusia dalam kedudukan harkat dan martabat serta derajat

yang tinggi. HAM tidak lagi diterjemahkan sebagai kebebasan individu

atau kebebasan kolektif tetapi kebebasan yang dapat

dipertanggungjawabkan kepada sesam manusia, Tuhan, masyarakat, dan

Negara.

3. Landasan Yuridis Konstitusional HAM

UUD 1945 menjadi landasan konstitusional bagi bangsa dan Negara

Indonesia dalam memberikan penghormatan , pengakuan, perlindungan,

9
serta pengakuan HAM di Indonesia. Landasan konstitusional (UUD 1945)

yakni:

 Pembukaan UUD 1945 alenia ke-1 dan ke-4.

 Pasal 27, pasal 28, pasal 28 A sampai pasal 28 J, pasal 29, pasal 30,

pasal 31, pasal 32, pasal 33, dan pasal 34 UUD 1945.

4. Landasan moral

Pemahaman dan pelaksanaan HAM bersesuaian/dilandasi dengan perilaku

atau system moral dan norma dalam masyarakat, sehingga apabila terjadi

pelanggaran HAM yang dilakukan seseorang/ sekelompok orang yang

melakukan sanksi moral. System moral/ norma yang melandasi HAM,

yaitu:

 Kesusilaan

 Kesopanan

 Agama

 Hukum

5. Landasan Sosial-Kultural

Pemahaman dan untuk mewujudkan pelaksanaan HAM perlu

memperhatikan system social budaya yang berlaku dalam masyarakat.

6. Landasan Religius

Pemahaman HAM sangat dipengaruhi oleh system nilai religious. HAM

yang bertentangan dan tidak sesuai dengan ajaran agama yang dianut akan

10
merendahkan derajat dan martabat manusia dihadapan Tuhan dan sesame

manusia. HAM adalah anugerah Tuhan. Menegakkan HAM berarti

meningkatkan keimanan dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

HAM pada dasarnya dilandasi oleh system nilai yang berdasarkan

pandangan hidup bangsa. System nilai tersebut ada yang berifat universal

(secara umum) dan local (spesifik).

 Nilai Universal: nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan,

nilai kerakyatan, dan nilai keadilan.

 Nilai Lokal: ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan

beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikamt

kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan keadilan

sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

E. Penegakan HAM di Indonesia


Akhir-akhir ini, perhatian bangsa Indonesia terhadap HAM semakin

besar. Hal ini disebabkan karena timbulnya kasus-kasus internal berupa

pelanggaran HAM yang mendapat kritik tajam dari dunia Internasional.

Untuk memecahkan hambatan dan tantangan dala penegakan HAM di

Indonesia dilakukan beberapa cara, diantaranya Majelis Permusyawaratan Rakyat

Republik Indonesia memutuskan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat

Republik Indonesia (Tap MPR No. XVII/MPR/1998) tentang hak asasi manusia

(HAM), yang menugaskan kepada lembaga-lembaga tinggi Negara dan seluruh

aparatur pemerintah untuk menghormati, menegakkan, dan menyebarluaskan

pemahaman mengenai hak asasi manusia kepada seluruh masyarakat, serta

11
meratifikasi berbagai instrument Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang hak asasi

manusia sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.

Keberhasilan perlindungan dan penghargaan terhadap hak asasi manusia

merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, lembaga HAM, dan kita

sebagai warga masyarakat. Sebagai warga Negara, kita harus menjunjung tinggi

HAM. Upaya yang dapat dilakukan sebagai warga Negara adalah:

1. Menyampaikan laporan terjadi pelanggaran HAM kepada KOMNAS HAM

atau lembaga lain yang berwenang dalam rangka perlindungan dan pemajuan

HAM.

2. Mengajukan usulan mengenai perumusan dan kebijakan yang berkaiatan

dengan HAM kepada KOMNAS HAM dan atau lembaga lain yang relevan.

3. Dengan cara sendiri maupun bekerja sama dengan Komnas HAM

melaksanakan penelitian, pendidikan, dan penyebarluasan informasi

mengenai HAM.

Bagi pemerintah, perlindungan HAM yang di maksud adalah pembelaan


terhadap HAM, artinya pemerintah harus menjaga agar HAM tidak di langgar
oleh orang lain. Pemerintah telah melakukan upaya perlindungan HAM dengan
cara sebagai berikut
1. Memasukkan HAM ke dalam berbagai perundang-undangan nasional sesuai
yang tercantum dalam instrument nasional. Dengan demikian. Eksistensi
HAM di dalam sistem hukum, politik, maupun ketatanegaraan Indonesia
memiliki landasan hukum yang cukup kuat.
2. Meratifikasi dan mengadopsi instrumen-instrumen HAM internasional, yang
berarti perjanjian itu masuk dan berlaku sebagai hukum (positif) nasional.

12
3. Memberdayakan masyarakat terhadap masalah HAM dengan mengadakan
sosialisasi sehingga HAM menjadi bagian dari setiap individu warga Negara
Indonesia.
4. Membentuk berbagai lembaga yang menangani HAM, seperti Komisi
Nasional HAM, Pengadilan HAM, Lembaga Bantuan Hukuk (LBH), Komisi
Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR), dan Komisi Perlindungan Anak
Indonesia

F. Contoh-contoh Pelanggaran HAM


Berikut ini contoh-contoh pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia:

1. Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih

pembinaan yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun

2003.

2. Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada

suatu mata kuliah kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan

kepada setiap mahasiswa.

3. Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM

terhadap para pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki

berjalan di pinggir jalan sehingga sangat rentan terjadi kecelakaan.

4. Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu

jurusan tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap

anak, sehingga seorang anak tidak bisa memilih jurusan yang sesuai

dengan minat dan bakatnya.

5. Kasus Babe yang telah membunuh anak-anak yang berusia di atas 12

tahun, yang artinya hak untuk hidup anak-anak tersebut pun hilang

13
6. Masyarakat kelas bawah mendapat perlakuan hukum kurang adil, bukti

nya jika masyarakat bawah membuat suatu kesalahan misalkan mencuri

sendal proses hukum nya sangat cepat, akan tetapi jika masyarakat kelas

atas melakukan kesalahan misalkan korupsi, proses hukum nya sangatlah

lama

7. Kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri mendapat

penganiayaan dari majikannya

8. Kasus pengguran anak yang banyak dilakukan oleh kalangan muda mudi

yang kawin diluar nikah

14
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. HAM merupakan hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat

kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Tuhan yang harus

dihormati dan dijaga serta dilindungi oleh setiap individu , masyarakat,

dan Negara.

2. Pelaksanaan HAM bertujuan untuk mempertahankan hak-hak warga

Negara dari tindakan sewenang-wenang aparat Negara, dan mendorong

tumbuh serta berkembangnya pribadi manusia yang multidimensional.

3. Perkembangan pemikiran HAM ditandai dengan banyaknya ideology-

ideologi yang lahir tentang HAM, seperti : Magna Charta, The American

declaration, The French declaration, The four freedom. Selain diluar

negeri, perkembangan HAM juga terjadi di Indonesia dimulai sebelum

masa kemerdekaan

4. Landasan-landasan HAM diantaranya:

a. Landasan Filosofis HAM

b. Landasan Ideologis HAM

c. Landasan Yuridis Konstitusional HAM

d. Landasan moral

e. Landasan Sosial-Kultural

f. Landasan Religius

15
5. Penegakan HAM di Indonesia dilakukan dengan berbagai cara,

diantaranya melalui keputuan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik

Indonesia pada Tap MPR No. XVII/MPR/1998 tentang hak asasi manusia

(HAM).

6. Berikut ini contoh-contoh pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia:

a. Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan

dalih pembinaan yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada

tahun 2003.

b. Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada

suatu jurusan tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM

terhadap anak, sehingga seorang anak tidak bisa memilih jurusan yang

sesuai dengan minat dan bakatnya.

c. Kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri

mendapat penganiayaan dari majikannya

d. Kasus pengguran anak yang banyak dilakukan oleh kalangan muda

mudi yang kawin diluar nikah

B. SARAN

Walaupun setiap orang memiliki HAM, HAM yang dimilikinya tersebut

tidak boleh disalahgunakan. Jadilah orang yang memiliki kebebasan yang

bertanggungjawab tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain.

16
DAFTAR PUSTAKA

Abdulkarim A., 2006, Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Ilmu Sosial, Grafindo


Media Pratama, Bandung.

Fadri, Iza, 2011, HAM dan POLRI Dalam Penegakkan Hukum HAM di
Indonesia, Jurnal Hak Asasi Manusia Vol. VII No. 1 ISSN 1693-3559,
Universitas Nasiolanl Jakarta.

Gea, A. A., Antonina P. Y. W., dan Yohanes B., 2002, Relasi Dengan Sesama
Character Building II, PT. Gramedia, Jakarta.

Nasution, A. B dan A. Patra M. Zen., 2006, Instrumen Internasional Pokok Hak


Asasi Manusia, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Srijanti, A. Rahman H. I., dan Purwanto S. K., 2008, Etika Berwarga Negara
Edisi 2 Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi, Penerbit
Salemba Empat, Jakarta.

Yuliarso, Kurniawan Kunto, Nunung P., 2005, Hak Asasi Manusia (HAM) di
Indonesia Menuju Democratic Governances, Jurnal Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Vol.8 No. 3 ISSN 1410-4946 .

17